Anda di halaman 1dari 22

AR - 500 TUGAS AKHIR ARSITEKTUR

SINOPSIS TUGAS AKHIR


ARSITEKTUR
Tema :
Bangunan Modern (High Tech)
Judul :
Stasiun Kota Bandung

Disusun oleh :
Agus Sopian / 21 – 2013 – 072

Jurusan Teknik Arsitektur


Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan
Institut Teknologi Nasional
Bandung 2015
SINOPSIS TUGAS AKHIR

1. Judul Proyek
Stasiun Kereta Api

2. Pengertian Judul
2.1 Stasiun Kereta Api
Bedasarkan KBBI Nasional adalah tempat menunggu bagi calon penumpang
kereta api dan sebagainya; tempat perhentian kereta api dan sebagainya.
Selain stasiun, pada masa lalu dikenal juga dengan halte kereta api yang
memiliki fungsi nyaris sama dengan stasiun kereta api. Untuk daerah/kota yang baru
dibangun mungkin stasiun portabel dapat dipergunakan sebagai halte kereta.

2.2 Fungsi Stasiun


Moda angkutan kereta api sebagai salah satu moda transportasi darat pilihan
masyarakat memiliki keunggulan dan kelemahan dalam melakukan fungsinya sebagai salah
satu moda angkutan untuk barang dan atau orang. Adapun tujuan dari perencanaan stasiun,
antara lain :

 Penampilan untuk kebutuhan penumpan


 Aman keadaan darurat
 Aman penyebaran orang banyak
 Operasi handal layanan KA
 Interaksi antara layanan kereta dan stasiun itu sendiri (baik dalam kondisi
normal atau abnormal)
 Hubungan antara kecepatan dan arus pejalan kaki
 Penyediaan ruang yang memadai akan memaksimalkan kecepatan berjalan dan
meminimalkan kemacetan.
 Area dimana penumpang dapat menghentikan langkah atau ragu, sehingga
penumpang lain tidak terhambat.
 Service gangguan, kegagalan eskalator atau peristiwa yang tidak biasa,
penumpang harus aman dari kelambatan.
Fungsi utama stasiun yang disebutkan dalam UU No.23 Tahun 2007 stasiun berfungsi
sebagai tempat kereta api berangkat atau berhenti untuk melayani :

 Naik turun penumpang


 Bongkar muat barang
 Keperluan operasi kereta api

2.3 Jenis - jenis Museum


Stasiun kereta api sebagai salah satu faktor terpenting dalam penyelenggaraan
transportasi perkeretaapian memiliki banyak tipe dan jenis dikelompokkan menurut beberapa
klasifikasinya. Jenis dan tipe stasiun ini akan menentukan kapasitas, pengelolaan, hingga jenis
kereta yang akan singgah. Menurut (Subarkah, 1981) Stasiun Kereta Api dapat dibedakan
berdasarkan besarnya, tujuannya, letaknya dan bentuknya.

 Jenis Stasiun Berdasarkan Besarnya


Macam stasiun kereta api berdasarkan besarnya dapat dibedakan menjadi :

a. Stasiun Kecil

Sering disebut juga stasiun pemberhentian, khusus untuk menaikan dan


menurunkan penumpang dan tidak ada kesempatan kereta api bersilang atau
bersusulan, serta hanya di lewati begitu saja oleh kereta api cepat (ekspres). Pada
stasiun ini ada dua sampai tiga sepur persilangan atau sepur penyusulan, hal ini
digunakan untuk bersilang kereta api. Stasiun ini bisa melayani penumpang ± 1.000-
2000 orang/hari.

Skematik Stasiun Kecil


Sumber : (Utomo, 2009)

b. Stasiun Sedang

Stasiun sedang umumnya berada di kota kecil. Kereta api cepat berhenti di
stasiun ini serta kadang-kadang kereta api kilat. Pada stasiun ini letak sepur hampir
sama dengan stasiun kecil akan tetapi letak sepur yang bukan sepur kereta api (sepur
gudang barang, sepur langsir, sepur simpan) harus di isolasi sedemikan rupa
sehingga tidak mengganggu sepur kereta api. Stasiun ini bisa melayani penumpang
± 8.000 orang/hari.

Skematik Stasiun Kecil


Sumber : (Utomo, 2009)

c. Stasiun Besar

Stasiun besar umumnya ada di kota-kota besar serta kota pelabuhan dan
disinggahi semua kereta api. Pada stasiun ini sepur-sepur langsir harus dibuat jauh
dari sepur kereta api, melainkan dapat dicapai dengan memasang sepur-sepur
isolasi. Stasiun ini bisa melayani penumpang ± 20.000 orang/hari.

Skematik Stasiun Besar


Sumber : (Utomo, 2009)

 Jenis Stasiun Berdasarkan Tujuannya


Macam stasiun kereta api berdasarkan tujuannya adalah sebagai berikut:

a. Stasiun Penumpang
Stasiun yang berfungsi menurunkan dan menaikan penumpang serta
membongkar barang yang dibawa oleh penumpang.

b. Stasiun Barang
Stasiun yang berfungsi untuk membongkar dan memuat barang-barang
muatan.
c. Stasiun Langsiran
Stasiun yang berfungsi untuk menyusun dan mengumpulkan gerbong-
gerbong yang mempunyai tujuan yang berbeda-beda.

 Jenis Stasiun Berdasarkan Tujuannya


Berdasarkan letaknya stasiun dapat dibedakan menjadi:
a. Stasiun Akhir, yaitu kereta api memulai dan mengakhiri Perjalanannya
b. Stasiun Antara, terletak pada jalan terusan.
c. Stasiun Pertemuan atau Junctions, yaitu yang menghubungkan 3 jurusan,
tempat penumpang dapat melanjutkan perjalanan ke tujuan lain memakai
kereta lain.\
d. Stasiun silang, yaitu dua jalan terusan bersilangan.

 Jenis Stasiun Berdasarkan Bentuk


Berdasarkan bentuknya dapat dibedakan menjadi:
a. Stasiun siku-siku (kopstasion)
Biasanya pada gedung stasiunnya siku-siku pada sepur-sepur yang
berakhir disitu. Peron siku-siku disebut juga peron ujung dan peron sejajar.

Skematik Stasiun Siku–Siku/Kopstasion


Sumber : (Subarkah, 1981)

b. Stasiun Paralel
Biasanya pada stasiun ini gedungnya sejajar dengan sepursepur.
Skematik Stasiun Pararel
Sumber : (Subarkah, 1981)

c. Stasiun Pulau
Biasanya gedung stasiun ini terletak ditengah-tengah jalur kereta api.

Skematik Stasiun Pulau


Sumber : (Subarkah, 1981)

d. Stasiun Semenanjung
Biasanya gedung stasiun ini terletak di sudut antara dua sepur yang
bergandengan

Skematik Stasiun Semenanjung


Sumber : (Subarkah, 1981)

3. Tema Perancangan
Tema perancangan yang diambil adalah Penerapan Ornamentasi Struktur bangunan dilihat
dari struktur atap bangunan. (Arsitektur Metafora)

Ornamentasi Struktur

Menurut Angus Jhon Mcdonald didalam bukunya struktur dan arsitektur, “Estetika dan
Struktur adalah 2 hal yang bergerak bersama dan saling mengikuti. Hubungan antara struktur dan
arsitektur yang dikelompokan dalam kategori struktur sebagai ornament meliputi manipulasi pada
elemen struktur dengan kriteria visual sebagai kriteria utama. Hubungan antara struktur dan
arsitektur ini adalah fenomena yang sangat menonjol pada abad kedua puluh. Seperti halnya dalam
kategori ornamentasi pada struktur, kategori struktur sebagai ornament juga mementingkan efek
visual akan tetapi tidak seperti dalam ornamentasi pada struktur, proses desain pada kategori ini
lebih dikendalikan oleh pertimbangan visual dibandingkan pertimbangang teknis.
Struktur sebagai ornament dapat dibedakan dalam tiga versi. Pertama, pada awalnya,
struktur digunakan secara simbolik. Struktur digunakan sebagai pembedaharaan visual yang
dimaksudkan untuk menyampaikan ide tentang kemajuan dan dominasi teknologi di masa depan.
Gambaran yang berhubungan dengan teknologi maju dimanipulasi dengan bebas untuk
menghasilkan arsitektur dengan teknologi tekemuka. Seringkali, konteksnya tidak tepat dan
struktur yang dihasilkan menjadi kurang baik secara teknis.

Dalam versi yang kedua, struktur ekspos yang mengagumkan direncanakan sebagai respon
terhadap keadaan buatan yang diciptakan. Pada bangunan jenis ini, bentuk struktur yang diekspos
dibenarkan secara teknis, tetapi hanya sebagai solusi untuk permasalahan teknis yang tidak perlu
diciptakan oleh para perencana bangunan.

Dalam versi yang ketiga, struktur sebagai ornament meliputi penggunaan pendekatan
diaman struktur diekspresikan untuk menghasilkan bangunan yang menarik dengan teknologi
terkenal, tetapi dimana tujuan visual tidak cocok dengan logika structural.

Penerapan tema “Ornamentasi Struktur” pada museum ini akan lenih menonjolkan pada
struktur atap yang menggunakan bentang lebar sehingga kontruksi atap yang ada pun tidak hanya
sebagai struktur kekuatan atap melainkan menjadi suatu elemen estetika yang ada di dalam ruangan
maupun diluar ruangan. Bagian struktur bangunan yang lain pun seperti balok dan kolom akan
dirubah menjadi satu elemen estetika, sehingga bagian terpenting dari struktur bangunan ini pun
tidak hanya menjadi struktur semata. Pendekatan Metafora pun digunakan melihat fungsi bangunan
sebagai museum burung air, sehingga bentuk bangunan pun akan mengikuti bentuk dari burung.
Diterapkan sebagai konsep bangunan, arsitektur metafora menurut Anthony C. Antoniades dalam
buku Poetics of Architecture: Suatu cara memahami suatu hal, seolah hal tersebut sebagai suatu hal
yang lain sehingga dapat mempelajari pemahaman yang lebih baik dari suatu topik dalam
pembahasan. Dengan kata lain menerangkan suatu subyek dengan subyek lain, mencoba untuk
melihat suatu subyek sebagai suatu yang lain.

4. Latar Belakang
Alasan Judul
Kota Bandung telah berkembang menjadi kota yang modern, khususnya di
lokasi perencanaan yang merupakan daerah pusat kota dan dikelilingi bangunan-
bangunan tinggi menjadikan desain yang direncakan berorientasi dengan bangunan
sekitar yang memiliki sifat high tech baik dari segi struktur maupun material yang
digunakan.
5. Tujuan Proyek
Tujuan Umum:

- Memeberikan sarana untuk interaksi antara penumpang dan pelayanan stasiun itu
sendiri.
- Penyediaan ruang yang memadai untuk aktifitas penumpang dan pengelola.

Tujuan khusus :
- Terciptanya desain yang baik, tepat dan efisien serta berkesinambungan baik dengan
lingkungan sekitar maupun secara fungsi stasiun dengan wujud bangunan yang
berkonteks high tech.

6. Misi Proyek
Visi : “Mampu mewadahi fasilitas transpotasi umum yang mampu mewujudkan
keamanan dan kenyaman bagi penumpang maupun pengelola sehingga menjadikan suasana
yang harmonis dan stabil.”
Misi :
- Memenuhi kebutuhan sarana transportasi bagi masyarakat.
- Memberikan tingkat kepuasan dengan desain yang diberikan.
- Meningkatkan rasa kebanggaan para pengunjung stasiun.
- Memberikan desain yang mampu mengurangi tingkat keterlambatan
penumpang.

7. Deskripsi Proyek
- Nama proyek : Stasiun Kereta Api Bandung
- Sifat proyek : Fiktif
- Owner : Pemerintah Kota Bandung
- Sumber dana : Anggaran pemerintah provinsi
- Lokasi : Kebon Jeruk, Kota Bandung, Jawa Barat
- Iklim : Tropis
- Luas lahan : m2

8. Pengenalan / Pemahaman Proyek


8.1 Karakteristik Proyek
Stasiun Kereta Api Bandung merupakan salah satu stasiun kereta apai yang
berada di kota Kota Bandung. Proyek ini bersifat fiktif dan terletak, di Kota Bandung.
Dengan adanya Stasiun Kereta Api di Kota Bandung ini, diharapkan dapat
memudahkan masyarakat untuk menggunakan fasilitas transfortasi khususnya kereta
api untuk berpergian baik dalam maupun luar kota. Selain itu diharapkan mampu
menekan tingkat kemacetan yang terjadi dikota bandung dengan mengajak masyarakat
menggunakan transfortasi kereta api yang nyaman dan modern.

8.2 Aktifitas
Kegiatan di stasiun kereta api meliputi:

a) Kegiatan Pokok
Kegiatan pokok di stasiun meliputi:

1) Melakukan pengaturan perjalanan kereta api;


2) Memberikan pelayanan kepada pengguna jasa kereta api;
3) Menjaga keamanan dan ketertiban; dan
4) Menjaga kebersihan lingkungan.

b) Kegiatan Usaha Penunjang


Kegiatan usaha penunjang penyelenggaraan stasiun dilakukan untuk
mendukung penyelenggaraan perkeretaapian. Kegiatan usaha penunjang dapat
dilakukan oleh pihak lain denga persetujuan penyelenggara prasarana
perkeretaapian. Kegiatan usaha penunjang di stasiun dapat dilakukan oleh
penyelenggara prasarana perkeretaapian dengan ketentuan:
1) Tidak mengganggu pergerakan kereta api;
2) Tidak mengganggu pergerakan penumpang dan/atau barang;
3) Menjaga ketertiban dan keamanan; dan
4) Menjaga kebersihan lingkungan.
Penyelenggara prasarana perkeretaapian dalam melaksanakan kegiatan
usaha penunjang harus mengutamakan pemanfaatan ruang untuk keperluan
kegiatan pokok stasiun.

c) Kegiatan Jasa Pelayanan Khusus


Kegiatan jasa pelayanan khusus di stasiun dapat dilakukan oleh pihak lain
dengan persetujuan penyelenggara prasarana perkeretaapian yang berupa jasa
pelayanan:
1) Ruang tunggu penumpang;
2) Bongkar muat barang;
3) Pergudangan;
4) Parkir kendaraan; dan/atau
5) Penitipan barang.
Penyelenggara prasarana perkeretapian dapat mengenakan tariff kepada
pengguna jasa pelayanan khusus. Persetujuan dapat diberikan oleh penyelenggara
prasarana perkeretaapian apabila fasilitas stasiun, keselamatan dan operasional
kereta api terpenuhi.

8.3 Fasilitas
Fasilitas di stasiun kereta api meliputi:
 Sarana Transit
 Administrasi dan Manajemen
 Operasional
 Bagian Pelayanan Penumpang Kereta
 Restaurant
 Café
 Retail
 ATM Center

9. Studi Banding
9.1 The Flinders Street Station – Zaha Hadid Architect
A. Deskripsi Bangunan
Proyek ini merupakan sebuah proyek pengembangan dari Stasiun bersejarah
di Melbourne yang bertujuan untuk menambah pelayanan Stasiun dan menciptakan
ruang public baru bagi para warga. Bangunan ini didesain dengan pola
pengembangan restorasi dan adaptive reuse dari bangunan Stasiun Lama dengan
menyuntikkan fungsi baru seperti kantor, hotel dan ruang publik sedangkan Stasiun
lama difungsikan sebagai lobby hotel dan restaurant. Bangunan pengembangan
seolah-olah mengikuti skala awal bangunan existing kemudian membesar sebagai
bentuk penghargaan terhadap bangunan lama.
Enterance Stasiun Lama dan Baru
Sumber : (www.archdaily.com/the-flinders-street-station-shortlisted-proposalzaha-
hadid-architects-bvn-architecture/)

Fungsi transportasi ditingkatkan dengan meningkat akses ke stasiun dan dengan


menyediakan akses tanpa tiket. Akses stasiun ditingkatkan dengan meningkatkan
permeabilitas melalui Gedung Administrasi. Sebuah terowongan pejalan kaki
dibuat di bawah semua platform dan menghubungkan mereka ke Melbourne Metro
Rail Tunnel untuk membuat suasana yang lebih terbuka, aman, dengan visibilitas
yang jelas.

B. Pembagian Ruang Dalam Bangunan


Secara garis besar ruang dalam bangunan dibagi menjadi dua bagian,
bangunan existing digunakan sebagai lobby hotel dan retail sedangkan bangunan
pengembangan digunakan sebagai bangunan utama stasiun, hotel dan kantor.
Sebuah jembatan di tengah bangunan menjadi separasi sekaligus penyatu fungsi
primer dan sekunder.

Potongan Melintang Bangunan Stasiun Baru


Sumber : (www.archdaily.com/the-flinders-street-station-shortlisted-proposalzaha-
hadid-architects-bvn-architecture/)
Potongan Membujur Kantor dan Retail
Sumber : (www.archdaily.com/the-flinders-street-station-shortlisted-proposalzaha-
hadid-architects-bvn-architecture/)

Potongan Membujur Hotel


Sumber : (www.archdaily.com/the-flinders-street-station-shortlisted-proposalzaha-
hadid-architects-bvn-architecture/)

Potongan Membujur Stasiun Lama dan Baru


Sumber : (www.archdaily.com/the-flinders-street-station-shortlisted-proposalzaha-
hadid-architects-bvn-architecture/)
Potongan Membujur Retail
Sumber : (www.archdaily.com/the-flinders-street-station-shortlisted-proposalzaha-
hadid-architects-bvn-architecture/)

Pembagian fungsi ruang pada bangunan memperhitungkan permainan


skala ruang sehingga kesan yang ditangkap oleh pengunjung jadi beragam. Ruang
peron yang dibuat sangat tinggi memberi kesan megah dan besar pada bangunan
sedangkan untuk ruang-ruang dengan privasi tinggi dibuat lebih intim dengan
skala yang lebih rendah.

C. Penataan Ruang Luar & Tampilan Bangunan


Sebuah plaza melintasi site dibuat untuk menghubungkan kota ke
Southbank di Sandridge Bridge, mengoneksikan ruang ditingkatkan dengan
menciptakan tangga, landai, eskalator dan lift. Sebuah amphitheater juga jembatan
dibuat di tengah site untuk node aktivitas para warga kota. Jalur sepeda dan pejalan
kaki di sepanjang sungai dibuat sebagai penjelas perbatasan zona.

Skema Sirkulasi pada Bangunan dan Lingkungan


Sumber : (www.archdaily.com/the-flinders-street-station-shortlisted-proposalzaha-
hadid-architects-bvn-architecture/)

Tampilan bangunan memilih untuk berbeda dengan bangunan existing


yang merupakan bangunan heritage. Tampilan luar bangunanb menggunakan warna
dasar putih dan transparent dengan harapan bias menjadi background dari bangunan
existing yang lebih kaya dengan ornament. Material yang dipilih juga merupakan
material yang terkesan ringan seperti alumunium dan kaca.

Tampak Bangunan Baru Terkesan Polos dan Ringan


Sumber : (www.archdaily.com/the-flinders-street-station-shortlisted-proposalzaha-
hadid-architects-bvn-architecture/)

9.2 Utrecht Central Station / Benthem Crouwel Architects


A. Deskripsi Bangunan
Stasiun kereta terbesar dan tersibuk di Belanda. Utrecht Central Station
pernah dibangun untuk sekitar 35 juta penumpang per tahun. Saat ini 88 juta orang
menggunakan stasiun ini setiap tahunnya. Jumlah ini terus meningkat dan
diperkirakan mencapai seratus juta penumpang pada 2030. Arsitek Benthem
Crouwel telah terlibat dalam pengembangan stasiun kereta api sejak 2003. Tiga
belas tahun kemudian, terminal angkutan umum baru yang akan menampung kereta
api, bus dan trem Platform di bawah satu atap bergelombang, telah dibuka.

Peron Stasiun
Sumber : (https://www.archdaily.com/801731/utrecht-central-station-
benthem-crouwel-architects)
B. Data Proyek
Arsitek : Benthem Crouwel Architects

Lokasi : Utrecht,The Netherlands

Arsitek Pembiayaan : Jan Benthem

Luas : 26030.0 m2

Tahun Perancangan : 2016

Pengembang : Metaglas

Peron Stasiun Malam Hari


Sumber : (https://www.archdaily.com/801731/utrecht-central-station-
benthem-crouwel-architects)

Selama fase desain Jan Benthem dan Mels Crouwel memiliki ide untuk
merancang atap datar asli Utrecht Central Station sebagai gelombang yang
memancarkan gerakan dinamis dan juga berfungsi sebagai pencari jalan alami.
Melintas ke jalur, dalam arah membujur aula, gelombang mengacu pada pintu
masuk dan pintu keluar. Gelombang ini memiliki tiga 'undulasi': yang tertinggi di
atas stasiun kereta api, yang terendah di masing-masing sisi berisi stasiun trem dan
bus. Gelombang juga mewakili distribusi logis fungsi di stasiun. Untuk
mendapatkan lebih banyak cahaya alami di terminal, kaca skylight dirancang, yang
juga berfungsi sebagai hatches asap. Gerakan bergelombang ditekankan oleh lampu
LED terus menerus di langit-langit. Berkat bentuk atap baja bergelombang yang
signifikan - dan bangunan bertingkat rendah relatif (setinggi 18 meter) - stasiun ini
dapat dikenali dengan jelas di antara bangunan dan kantor
Bird Eye View
Sumber : (https://www.archdaily.com/801731/utrecht-central-station-
benthem-crouwel-architects)

C. Konsep Lively Station


Terletak di satu sisi stasiun, ada stasiun pejalan kaki, jalan umum, yang
melintasi jalur kereta api. Orang yang melewati bisa berpindah dari barat ke timur
tanpa harus menggunakan 'kartu chip'. Restoran, pertokoan, dan pasar yang
memungkinkan memberikan suasana jalan kota yang nyata. Melalui dinding kaca
besar, berfungsi sebagai gorden yang menggantung dari atap 235 kali 85 meter,
stasiun ini menawarkan berbagai macam perawatan yang menakjubkan, kereta api,
trek dan pemandangan kota yang luas. Interior yaang memiliki daya tarik dan daya
tarik tersendiri. Orang-orang, papan nama, kendaraan dan tambahan khas lainnya
yang membuat stasiun ini hidup dan bersemangat, dan memberi warna dan suasana.

Suasana Ruang Tunggu


Sumber : (https://www.archdaily.com/801731/utrecht-central-station-
benthem-crouwel-architects)
Potongan Perspektif
Sumber : (https://www.archdaily.com/801731/utrecht-central-station-
benthem-crouwel-architects)

Uraian Bentuk Stasiun


Sumber : (https://www.archdaily.com/801731/utrecht-central-station-
benthem-crouwel-architects)

10. Tinjauan Tapak


10.1 Data Tapak
Kota Bandung merupakan kota metropolitan terbesar di Provinsi Jawa Barat,
sekaligus menjadi ibu kota provinsi tersebut. Kota ini terletak 140 km sebelah tenggara
Jakarta, dan merupakan kota terbesar di wilayah Pulau Jawa bagian selatan. Sedangkan
wilayah Bandung Raya (Wilayah Metropolitan Bandung) merupakan metropolitan
terbesar kedua di Indonesia setelah Jabodetabek.
Kota Bandung dikelilingi oleh pegunungan, sehingga bentuk morfologi
wilayahnya bagaikan sebuah mangkok raksasa, secara geografis kota ini terletak di
tengah-tengah provinsi Jawa Barat, serta berada pada ketinggian ±768 m di atas
permukaan laut, dengan titik tertinggi di berada di sebelah utara dengan ketinggian
1.050 meter di atas permukaan laut dan sebelah selatan merupakan kawasan rendah
dengan ketinggian 675 meter di atas permukaan laut.
Kota Bandung dialiri dua sungai utama, yaitu Sungai Cikapundung dan Sungai
Citarum beserta anak-anak sungainya yang pada umumnya mengalir ke arah selatan
dan bertemu di Sungai Citarum. Dengan kondisi yang demikian, Bandung selatan
sangat rentan terhadap masalah banjir terutama pada musim hujan.
Keadaan geologis dan tanah yang ada di kota Bandung dan sekitarnya terbentuk
pada zaman kwartier dan mempunyai lapisan tanah alluvial hasil letusan Gunung
Tangkuban Parahu. Jenis material di bagian utara umumnya merupakan jenis andosol
begitu juga pada kawasan dibagian tengah dan barat, sedangkan kawasan dibagian
selatan serta timur terdiri atas sebaran jenis alluvial kelabu dengan bahan endapan tanah
liat.
Semetara iklim kota Bandung dipengaruhi oleh iklim pegunungan yang lembab
dan sejuk, dengan suhu rata-rata 23.5 °C, curah hujan rata-rata 200.4 mm dan jumlah
hari hujan rata-rata 21.3 hari per bulan.

Peta Kota Bandung


Sumber : (http://www.indotravelers.com/bandung/peta_bdg/
bandung_jalan_bandung.jpg)
Lokasi Stasiun Kereta Api Kota Bandung
Sumber : (http://www.indotravelers.com/bandung/peta_bdg/
bandung_jalan_bandung.jpg)

10.2 Letak Geografis


Berada di Jl. Stasiun Barat, Kb. Jeruk, Andir, Kota Bandung, Jawa Barat
(40181 6,9142638°LS 107,6023507°BT).
 Batas Utara : rel kereta api
 Batas Selatan : jalan Kebon Jati
 Batas Timur : jalan Otto Iskandardinata
 Batas Barat : jalan Pasir Kaliki

11. Pernyataan Persoalan Arsitektur


11.1 Aspek Perancangan
 Mengikuti ketentuan regulasi yang berlaku di daerah Pantai Indah Kapuk 2, Jakarta
 Desain urban dan dinamis yang menyesuaikan dengan lingkungan yang beriklim
panas dan kelembaban yang tinggi dikarenakan berdekatan dengan pantai.
 Menciptakan kenyamanan pada area sekitar site yang merupakan pesisir pantai.
 Mendesain Bangunan Museum semenarik mungkin, dan menggunakan konsep
struktur metafora agar bangunan menjadi suatu icon di tempat tersebut.

11.2 Aspek Bangunan


 Penerapan tema dan konsep desain bangunan yang dapat menciptakan sebuah
sarana pengenalan yang sesuai dengan kebutuhan gedung museum fauna burung
air dunia di kota Jakarta.
 Memperhatikan estetika bangunan yang menanut konsep metafora tanpa
mengabaikan aspek struktur.
 Memiliki potensi dari segi ekonomis dan komersil.

11.3 Aspek Lingkungan dan Tapak


 Desain menyikapi potensi dan kendala yang ada pada site, seperti iklim yang panas
dan juga kelembaban yang tinggi.
 Memperhatikan hubungan antara sirkulasi dalam bangunan dan sirkulasi luar
bangunan, sehingga tercipta suatu harmonisasi ruang yang seirama.
 Memperhatikan penataan lansekap agar menarik untuk pengunjung yang datang.
 Memperhatikan dampak bangunan terhadap lingkungan agar tidak berdampak
negative terhadap banguann sekitar.

12. Metoda Pendekatan Perancangan


Berdasarkan persoalan di atas, maka metoda pendekatan perancangan yang
digunakan dalam merancang Stasiun Kereta Api Bandung ini adalah sebagai berikut:
 Menciptakan alur sirkulasi dalam maupun luar stasiun yang nyaman bagi pengguna
calon penumpang maupun pengelola setempat.
 Membangun stasiun dengan konsep modern diharapkan dapat menjadi daya tarik
tersendiri pada bangunan.
 Menganalisa kondisi site sehingga dapat diketahui kendala dan potensi yang dapat
dijadikan bahan pertimbangan untuk memperoleh usulan desain yang baik.
 Penerapan Zoning (privat, publik, servis) pada site dan dalam bangunan. Dengan
demikian, pembagian ruang pun akan lebih teratur dan tidak aka nada ruang yang
menjadi ruang negative.
Pengumpulan data yang dilakukan meliputi data primer dan skunder dengan cara:

Data primer

 Pengamatan secara langsung di lapangan


 Studi banding, dengan mempelajari bangunan lain yang memiliki fungsi yang sama
sebagai referensi dalam mendesain

Data Sekunder

 Pengumpulan data sekunder dilakukan dengan cara mempelajari buku - buku yang
berkaitan dengan teori, konsep, standar perencanaan dan perancangan fasilitas
museum berskala nasional.
 Pencarian online dilakukan dengan mencari referensi, kajian teori, jurnal dengan
masing – masing keyword yang diperlukan, mencari peta digital melalui google
maps, google earth, dan sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA

[1] Peraturan Menteri Perhubungan Nomor: Pm. 33 Tahun 2011.


[2] Utomo, S. H. T., 2009. Jalan Rel. Yogyakarta: Beta Offset.
[3] Subarkah Iman Ir., 1981. Jalan Kerata Api. Bandung: Idea Dharma.
[4] https://id.wikipedia.org/wiki/Stasiun_kereta_api
[5] https://id.wikipedia.org/wiki/Stasiun_Bandung
[6] http://repository.umy.ac.id
[7] http://digilib.itb.ac.id
[8] https://www.archdaily.com/801731/utrecht-central-station-benthem-crouwel-architects

Anda mungkin juga menyukai