Anda di halaman 1dari 38

Prosedur Operasi Standar Penjarangan Hutan Tanaman Jati

PROSEDUR OPERASI STANDAR


PENJARANGAN HUTAN TANAMAN JATI

I. TUJUAN
Pengurangan jumlah batang per satuan luas untuk mengatur kembali ruang tumbuh pohon
dalam rangka mengurangi persaingan antar pohon dan memperoleh tegakan tinggal yang sehat
serta kualitas kayu yang baik pada akhir daur.

II. PENAGGUNGJAWAB
1. Mandor : Bertanggung jawab dalam pengaturan
pelaksanaan kerja di lapangan, maupun dalam
administrasi (pelaporan).

2. Kepala Resort : Bertanggung jawab dalam pengaturan


pelaksanaan kerja dan hasil kerja dari Mandor,
baik hasil kerja di lapangan maupun
administratif.

3. Kasie Tata Hutan dan Pengelolaan Hutan : Bertanggung jawab dalam pengendalian kerja
(biaya, peralatan, waktu dan sasaran) untuk
memenuhi target yang telah ditetapkan.

III. WAKTU PELAKSANAAN


Kegiatan penjarangan dilaksanakan setelah kegiatan-kegiatan pendukung pelaksanaan
penjarangan sudah selesai, antara lain: penataan areal kerja serta penyiapan peralatan dan
perlengkapan yang akan digunakan dalam kegiatan penjarangan. Proses dan tahapan
kegiatannya dilakukan selama 3 tahun.

KPHP-BATULANTEH 1 of 42
Prosedur Operasi Standar Penjarangan Hutan Tanaman Jati

IV. URUTAN KERJA


Urutan kerja kegiatan penjarangan sebagaimana tahapan berikut ini.

TAHAPAN-TAHAPAN KEGIATAN PENJARANGAN

Orientasi

Pembuatan Batas Blok

Pembuatan Batas Petak

Inventarisasi Tegakan Jati

Analisa Metode

Klem

Peneresan

Penebangan (Felling, Topping,


Bucking & Trimming)

Penyaradan (Skidding)

Pengangkutan (Loading,
Hauling dan un-Loading)

TAHAPAN WAKTU KEGIATAN PENJARANGAN


T-0 (bulan)
No. Jenis Kegiatan T-2 T-1
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 Orientasi
2 Pembuatan Batas Blok
3 Pembuatan Batas Petak
4 Petak Coba Penjarangan (PCP)
5 Analisa Metode
6 Klem
7 Peneresan
8 Penebangan
9 Penyaradan
10 Pengangkutan

KPHP-BATULANTEH 2 of 42
Prosedur Operasi Standar Penjarangan Hutan Tanaman Jati

ORIENTASI

1. PENGERTIAN
Orientasi : Kegiatan pengenalan dan pemahaman kondisi yang ada di dalam
suatu areal atau kawasan.

2. TUJUAN & SASARAN


Mengetahui dan mendata kondisi lapang atau hutan tanaman jati baik berupa batas kawasan,
topografi lahan dan tegakan jati yang terdapat di dalamnya.

3. PELAKSANAAN
Tempat : Kawasan atau blok hutan tanaman jati.
Waktu : Orientasi dilakukan setelah peta kerja disiapkan.
Pelaksana : Tim Orientasi

4. URUTAN KERJA

Persiapan

Menuju blok

Membuat jalur rintisan

Dokumentasi dan pengumpulan


data

KPHP-BATULANTEH 3 of 42
Prosedur Operasi Standar Penjarangan Hutan Tanaman Jati

5. INSTRUKSI KERJA

a. Persiapan tenaga kerja


Dalam satu tim orientasi terdiri dari :
 3 orang penelusur keliling blok
 3 orang penelusur bagian dalam blok

b. Persiapan peralatan kerja


Perlengkapan kerja yang dibutuhkan antara lain :
 Peta Kerja
 GPS dan Kompas
 Parang
 Buku cacatan
 Alat tulis
 Kamera
 Logistik

c. Perencanaan keberangkatan.
 Membaca peta kerja skala 1:10.000 yang memuat blok hutan tanaman jati.
 Regu penelusur keliling dan penelusur bagian dalam melakukan orientasi secara terpisah

d. Menuju blok
 Regu penelusur keliling blok langsung menuju batas blok dan regu penelusur dalam blok
langsung menuju ke tengah blok.
 Regu penelusur keliling blok menghidupkan atau mulai merekam track saat pertama kali
berada di batas blok yang didatangi sampai kembali lagi menuju titik batas blok itu setelah
mengelilingi batas blok.
 Regu penelusur bagian tengah blok menghidupkan atau mulai merekam track saat
pertama kali berada dalam blok menuju jalur rintisan sampai meninggalkan blok.

e. Membuat jalur rintisan


 Regu penelusur keliling blok berjalan mengelili batas blok.
 Regu penelusur dalam blok berjalan membelah dan memotong blok ke arah utara-
selatan dan timur-barat atau sebaliknya.

Keterangan:

= Batas blok
= Arah rintisan

Gambar 1 Arah rintisan

KPHP-BATULANTEH 4 of 42
Prosedur Operasi Standar Penjarangan Hutan Tanaman Jati

 Saat perjalanan rintisan mengikuti keliling batas blok tidak dapat dilalui, perjalanan
rintisan dapat dilakukan pada jalur yang mudah dilalui dengan memberi titik awal jalur
keliling yang ditinggalkan dan titik awal jalur keliling yang didatangi lagi pada GPS.

f. Dokumentasi dan pengumpulan data


 Pengambilan gambar (dokumentasi) berupa foto kondisi lahan, tegakan jati ataupun
kerusakan hutan (longsor, tanaman pokok rusak atau mati areal bekas perambahan,
kebakaran dll).
 Pendokumenatasian disertakan dengan perekaman titik atau waypoint pada GPS.
 Perekaman atau penyimpanan data track atau rute perjalanan setelah selesai atau
meninggalkan jalur rintisan.
 Semua data (foto, waypoint dan track rute rintisan) dikumpulkan dan disimpan.

KPHP-BATULANTEH 5 of 42
Prosedur Operasi Standar Penjarangan Hutan Tanaman Jati

PEMBUATAN BATAS BLOK

1. PENGERTIAN
Blok : Areal atau kawasan yang sudah terbagi-bagi luasannya dalam
kawasan hutan tanaman jati.

2. TUJUAN & SASARAN


Penandaan kepastian batas atau keliling blok atau kawasan pada hutan tanaman jati baik secara
fisik maupun spasial.

3. PELAKSANAAN
Tempat : Seluruh blok atau kawasan hutan tanaman jati.
Waktu : Pembuatan batas blok dilakukan setelah peta areal kerja beserta
titik-titik pal batasnya dalam peta areal kerja disiapkan.
Pelaksana : Tim Pembuat Batas Blok

4. URUTAN KERJA

Persiapan

Menuju blok

Pemasangan pal batas

Dokumentasi dan pengumpulan


data

KPHP-BATULANTEH 6 of 42
Prosedur Operasi Standar Penjarangan Hutan Tanaman Jati

5. INSTRUKSI KERJA
a. Persiapan tenaga kerja
Dalam satu tim pembuat pal batas blok terdiri dari :
 1 orang perintis jalur dan penunjuk arah keliling batas blok
 1 orang pendata dan pendokumentasi kegiatan
 5 orang pembawa alat dan bahan pembuatan pal batas blok
 1 orang helper.

b. Persiapan peralatan kerja


Perlengkapan kerja yang dibutuhkan antara lain :
 Peta Kerja
 GPS dan Kompas
 Pal Batas
 Parang
 Cangkul
 Linggis
 Tally sheet
 Alat tulis (spidol, pulpen, dll.)
 Kamera
 Logistik

Pal batas yang dipersiapkan oleh tim pembuat pal batas blok berupa pal batas yang telah
dibentuk atau dibuat sebelumnya. Pal batas yang dibuat dibentuk dengan kuat agar awet dan
ditancapkan secara permanen saat pembuatan pal batas blok.

Pal batas yang akan dipasang berukuran panjang 25 cm, lebar 25 cm dan tinggi 120 cm.

c. Perencanaan keberangkatan.
 Membaca peta kerja skala 1:10.000 yang minimal memuat batas blok serta titik-titik
penandaan pal batas blok.
 Jarak datar antar pal batas blok 100 meter yang telah ter-upload dalam GPS.

d. Menuju blok
 Lokasi atau titik-titik pemasangan pal batas yang didatangi ditentukan oleh koordinat yang
tercantum pada GPS dan peta.
 Perekaman data track dimulai saat pertama kali berada pada titik pertama pal batas yang
didatangi sampai kembali lagi menuju pal batas awal.
 Titik awal pal batas blok yang akan didatangi tergantung kondisi lapang yang sudah
dipahami oleh tim pembuatan pal batas.
 Satu orang helper berada di mobil pick up yang memuat alat dan bahan pembutan pal
batas blok untuk menunggu arahan selanjutnya dari ketua tim.
 Helper menempatkan mobil pick up di tempat yang strategis atau terdekat dari jalur
rintisan agar mudah dan cepat diakses oleh regu pembawa alat dan bahan pal batas saat
kekurangan bahan pal batas.
 Setiap perjalanan menuju titik-titik pemasangan pal batas mengikuti keliling batas blok
dengan bantuan GPS.
 Saat perjalanan rintisan mengikuti keliling batas blok tidak dapat dilalui, perjalanan
rintisan dapat dilakukan pada jalur yang mudah dilalui dengan memberi titik awal jalur
keliling yang ditinggalkan dan titik awal jalur keliling yang didatangi lagi pada GPS.

KPHP-BATULANTEH 7 of 42
Prosedur Operasi Standar Penjarangan Hutan Tanaman Jati

e. Pemasangan pal batas


 Arah atau jalur rintisan dan pemasangan pal batas searah jarum jam (selatan-timur-utara-
barat).
 Pal batas dipendam dalam tanah setinggi 20 cm.

25 cm

Nomor Blok A
HM
Nomor/urutan pal batas
01

100 cm

20 cm

Gambar 1 Pal batas blok

 Pemasangan pal batas dicatat dalam tally sheet secara berurutan dan diambil waypoint
(titik nyata pemasangan) dalam GPS.
 Pemindahan titik atau lokasi pemasangan pal batas jika titik pada GPS menunjukkan titik
pemasangan berada di batu besar, akar tanaman pokok dan lahan yang berlumpur.
 Pemindahan lokasi titik nyata atau pemasangan pal batas ke lahan yang dapat dipasang
pada titik atau lokasi terdekat searah menuju titik pal batas berikutnya dengan tetap
berada pada jalur keliling batas blok.

f. Dokumentasi dan pengumpulan data


 Pengambilan gambar (dokumentasi) berupa foto pemasangan pal batas, pal batas yang
yang sudah terpasang dan keadaan sekitar pal batas pada setiap pemasangan pal batas.
 Perekaman data track atau rute perjalanan dengan GPS dimatikan atau dihentikan ketika
berada pada titik awal pemasangan pal batas blok setelah mengelilingi batas blok.
 Semua data titik nyata pemasangan pal batas, track dan dokumentasi dikumpulkan dan
disimpan.

KPHP-BATULANTEH 8 of 42
Prosedur Operasi Standar Penjarangan Hutan Tanaman Jati

PEMBUATAN BATAS PETAK

1. PENGERTIAN
Petak : Areal atau kawasan yang sudah terbagi-bagi luasannya di dalam
blok kawasan hutan tanaman jati.

2. TUJUAN & SASARAN


Memberikan kepastian kapasitas pengelolaan dengan pembagian blok hutan tanaman jati
dalam beberapa petak dengan penandaan secara fisik dan spasial.

3. PELAKSANAAN
Tempat : Seluruh blok hutan tanaman jati.
Waktu : Pembuatan batas petak dilakukan setelah penataan blok hutan
tanaman jati dan peta areal kerja beserta koordinat batas petak
disiapkan.
Pelaksana : Tim Pembuat Batas Petak

4. URUTAN KERJA

Persiapan

Menuju blok

Pemasangan petak

Pemasangan pal batas

Dokumentasi dan pengumpulan


data

KPHP-BATULANTEH 9 of 42
Prosedur Operasi Standar Penjarangan Hutan Tanaman Jati

5. INSTRUKSI KERJA
a. Persiapan tenaga kerja
Dalam satu tim pembuat pal batas blok terdiri dari :
 1 orang perintis jalur dan penunjuk arah petak
 1 orang pendata dan pendokumentasi kegiatan
 5 orang pembawa alat dan bahan pembuatan pal batas blok
 1 orang helper.

b. Persiapan peralatan kerja


Perlengkapan kerja yang dibutuhkan antara lain :
 Peta Kerja
 GPS dan Kompas
 Pal Batas
 Parang
 Cangkul
 Linggis
 Tally sheet
 Alat tulis (spidol, pulpen, dll.)
 Kamera
 Logistik

Pal batas yang dipersiapkan oleh tim pembuat batas petak berupa pal batas yang telah
dibentuk atau dibuat sebelumnya. Pal batas yang dibuat dibentuk dari kayu yang kuat dan
kuat awet.

Pal batas petak yang akan dipasang berukuran panjang 25 cm, lebar 25 cm dan tinggi 120 cm.

c. Perencanaan keberangkatan.
 Membaca peta kerja skala 1:10.000 dan peta 1:5.000 yang minimal memuat batas petak
serta titik-titik penandaan pal batas petak.
 Petak-petak berbentuk bujur sangkar yang luasnya 4 hektar dan/atau luasnya tergantung
kondisi lapang yang dibatasi tanda alam.
 Petak-petak yang sisinya berada pada batas blok luasnya menyesuiakan dengan sisi
lainnya yang masuk ke dalam blok
 Jarak utara-selatan dan timur-barat antar pal batas petak 200 meter yang telah ter-upload
dalam GPS.

d. Menuju blok
 Lokasi, batas dan titik-titik pemasangan pal batas yang akan didatangi ditentukan oleh
koordinat yang tercantum pada GPS dan peta.
 Petak pertama yang didatangi merupakan petak yang paling mudah diakses.
 Satu orang helper berada di mobil pick up yang memuat alat dan bahan pembutan pal
batas blok untuk menunggu arahan selanjutnya dari ketua tim.
 Helper menempatkan mobil pick up di tempat yang strategis atau terdekat dari jalur
rintisan petak agar mudah dan cepat diakses oleh regu pembawa alat dan bahan pal batas
saat kekurangan bahan pal batas.
 Perekaman data track dimulai saat pertama kali menuju petak pertama yang didatangi
sampai petak terakhir yang didatangi tiap harinya.

e. Pemasangan pal batas


 Penandaan batas petak berupa pemasangan pal batas petak yang terletak pada setiap
pojok petak.

KPHP-BATULANTEH 10 of 42
Prosedur Operasi Standar Penjarangan Hutan Tanaman Jati

 Pal batas dipendam dalam tanah setinggi 20 cm.

25 cm

Nomor Petak (Sub-blok) A1


Nomor urut pal batas dalam 1 petak 01

100 cm

20 cm

Gambar 1 Pal batas petak

 Pemasangan pal batas dicatat dalam tally sheet secara berurutan dan diambil waypoint
(titik pemasangan) nyatanya dalam GPS.

f. Dokumentasi dan pengumpulan data


 Pengambilan gambar (dokumentasi) berupa pal batas yang yang sudah terpasang.
 Perekaman data track atau rute perjalanan dengan GPS dimatikan atau dihentikan ketika
selesai melakukan kegiatan pembutan pal batas petak tiap harinya.
 Semua data titik nyata pemasangan pal batas, track dan dokumentasi dikumpulkan dan
disimpan.

KPHP-BATULANTEH 11 of 42
Prosedur Operasi Standar Penjarangan Hutan Tanaman Jati

PETAK COBA PENJARANGAN (PCP)

1. PENGERTIAN
a. Petak Coba Penjarangan (PCP) : Petak berbentuk lingkaran yang luasnya 0,1 ha (jari-jari
lingkaran 17,8 m), diletakkan sistematis dalam areal
penjarangan dengan jarak antar PCP 200 m yang
menggambarkan kondisi tegakan dalam petak dan
mewakili keluasan 4 ha.
b. Intensitas Sampling : Banyaknya (luas) sampel contoh yang diambil atau
digunakan dalam kegiatan pengambilan data terhadap
seluruh luas areal.

2. TUJUAN & SASARAN


Mengetahui kualitas dan kuantitas (jumlah, tinggi, diameter, volume dan kondisi fisiknya) serta
potensi pohon atau tegakan jati (tegakan tinggal maupun tegakan penjarangan) dalam blok
hutan tanaman jati dengan intensitas sampling 2,5%.

3. PELAKSANAAN
Tempat : Petak ukur yang telah terpilih dalam blok hutan tanaman jati.
Waktu : Pengukuran dilakukan setelah peta areal kerja dan titik lokasi petak
ukur disiapkan.
Pelaksana : Tim PCP

4. URUTAN KERJA

Persiapan

Menuju PCP

Penandaan titik tengah


PCP

Membuat PCP

Pengukuran dan pendataan


pohon

Perekapan data

KPHP-BATULANTEH 12 of 42
Prosedur Operasi Standar Penjarangan Hutan Tanaman Jati

5. INSTRUKSI KERJA
a. Persiapan tenaga kerja
Dalam satu tim PCP terdiri dari :
 1 orang perintis jalur dan penunjuk arah ke petak ukur
 1 orang pengukur keliling pohon
 1 orang pengukur tinggi pohon
 1 orang pemberi label pohon
 1 orang pencatat data ke dalam tally sheet

b. Persiapan peralatan kerja


Perlengkapan kerja yang dibutuhkan antara lain :
 Peta Kerja
 GPS dan Kompas
 Parang
 Tambang
 Pita ukur
 Hagameter/vertex
 Tally sheet
 Cat
 Label pohon
 Hekter pohon
 Alat tulis (spidol, pulpen, dll.)
 Kamera
 Logistik

Hal yang perlu dipersiapkan oleh tim PCP selain yang telah disebutkan diatas, yaitu tim PCP
(minimal salah satu orang) harus paham tentang lokasi dan kondisi petak ukur.

Semua orang dalam satu tim PCP harus diberangkatkan atau menuju petak ukur secara
bersamaan.

c. Perencanaan keberangkatan.
 Membaca peta kerja skala 1:10.000 yang minimal memuat titik tengah PCP.
 Jarak antar titik tengah petak ukur 200 meter ke Utara-Selatan dan Timur-Barat.
 Strategi titik awal dan titik selanjutnya petak ukur yang akan didatangi tergantung kondisi
lapang yang sudah dipahami oleh salah satu orang dalam tim PCP.

d. Menuju PCP
 Titik tengah atau waypoint petak ukur yang akan didatangi dapat dilihat dengan bantuan
GPS.
 Merekam data track atau rute perjalanan dengan bantuan GPS pada saat menuju ke titik
tengah PCP.
 Perekaman data track dimulai saat pertama kali berada dalam kawasan hutan sebelum
menuju titik tengah PCP.
 Perekaman data track dimatikan atau dihentikan ketika berada dalam batas kawasan
setelah meninggalkan PCP yang terakhir.
 Jalur rintisan dibuat jika jalur yang menuju ke titik tengah petak ukur banyak semak
belukar yang menggangu tim PCP menuju lokasi.
 Pembuatan jalur rintisan tidak melukai pohon atau tegakan jati beserta tunasnya.

KPHP-BATULANTEH 13 of 42
Prosedur Operasi Standar Penjarangan Hutan Tanaman Jati

e. Penandaan titik tengah PCP


 Pohon yang tertinggi dalam radius 8,9 meter dalam petak ukur dijadikan sebagai titik ikat
pusat nyata atau pohon tengah petak ukur.
 Perekaman titik pohon tengah dalam petak ukur dengan GPS.
 Penandaan pohon dilakukan pada batang tegakan setinggi 160 cm dari permukaan tanah.
 Pohon tengah ditandai dengan cat warna merah selebar 20 cm dengan mengelilingi
batang pohon.
 Pohon tengah diberi label yang ditempel setinggi 130 cm dari permukaan tanah (di bawah
tanda (cat) pada batang pohon).

Pewarnaan cat 20 cm

10 cm

Label pohon

130 cm

Gambar 1 Letak pengecatan dan label pada pohon tengah

T
1
Petak : …………………… Nn : …………………ph
PCP No. : …………………… Np : …………………ph
Umur : ……………….th. Nmn : …………………ph
Peninggi : …………………m Nmp : …………………ph
Tanggal : ……/.…/……….. Jn : …….……………m
Nama Mandor : …………………… Jp : …….……………m

Gambar 1 Data label pohon

Keterangan:
T : Menandakan pohon sebagai pohon tengah PCP
1 : Menandakan pohon urutan pertama dalam pengukuran
Petak : Lokasi petak pengukuran PCP
PCP No. : Nomor PCP

KPHP-BATULANTEH 14 of 42
Prosedur Operasi Standar Penjarangan Hutan Tanaman Jati

Umur : Umur tegakan jati dalam petak pengukuran (tahun)


Peninggi : Tinggi rata-rata 10 pohon tertinggi dalam petak ukur (meter)
Tanggal : Tanggal pelaksanaan pengukuran
Nama Mandor : Nama mandor pelaksanaan pengukuran
Nn : Banyaknya pohon normal
Np : Banyaknya pohon dalam PCP
Nmn : Banyaknya pohon penjarangan normal
Nmp : Banyaknya pohon penjarangan dalam PCP
Jn : Jarak antar pohon normal
Jp : Jarak antar pohon normal dalam PCP

f. Pembuatan petak ukur


 Petak ukur PCP berbentuk lingkaran dengan Ø 17,8 meter.
 Tambang diikat dan ditarik ke arah utara-selatan dan timur-barat untuk mengetahui ujung
jari-jari lingkaran petak ukur.
 Pohon-pohon yang terletak pada batas tepi keliling lingkaran petak ukur diberi tandai
dengan cat warna merah selebar 10 cm setinggi 160 cm dari permukaan tanah.

g. Pengukuran dan pendataan pohon


 Pohon jati yang masuk dalam PCP diukur, didata dan diberikan nomor urut pohon dengan
menggunakan pita bernomor secara berurutan. (gambar)
 Penomoran pohon dalam tally sheet disesuaikan dengan nomor pohon dalam petak ukur.
 Pengukuran keliling pohon dengan menggunakan pita ukur yang mengelilingi batang
pohon setinggi dada (dbh) 130 meter dari permukaan tanah. (gambar)
 Pengukuran keliling pohon dilakukan untuk mengetahui diameter batang pohon.
 Tinggi pohon diukur dengan menggunakan hagameter atau vertex. (gambar)
 Peninggi pada setiap PCP diketahui dari rata 10 pohon tertinggi dalam petak ukur
tersebut.
 Pencatatan data pohon (keliling, tinggi pohon, kondisi pohon, dll.) ke dalam tally sheet.
(tally sheet)
 Pendokumentasian petak ukur dengan memfoto kondisi petak ukur dan sekitarnya.
 Setelah pengukuran selesai pada semua tegakan dalam petak ukur, data pada label pohon
tengah diisi.
 Perlakuan dalam petak ukur selanjutnya sama.

h. Perekapan data
 Dari hasil penghitungan pohon dalam petak ukur akan diperoleh: jumlah pohon (N), rata-
rata diameter, rata-rata tinggi, peninggi, persentase tumbuh dan volume taksasi tegakan
dan penjarangan.
 Data yang hasil PCP pohon atau tegakan jati serta kondisinya di semua petak ukur
dikumpulkan dan direkap oleh ketua tim sebelum diserahkan kepada tim analisa.

KPHP-BATULANTEH 15 of 42
Prosedur Operasi Standar Penjarangan Hutan Tanaman Jati

ANALISA DATA

1. PENGERTIAN
Bonita : Kelas atau tingkat pertumbuhan tanaman terhadap kesuburan
tanah tempat tumbuh tanaman.

2. TUJUAN & SASARAN


Menentukan jumlah pohon atau tegakan jati yang optimum dalam suatu luasan serta jumlah
pohon yang akan ditebang berdasarkan bonita tanaman atau pohon jati.

3. PELAKSANAAN
Tempat : Kantor KPH.
Waktu : Analisa data dilakukan setelah pohon atau tegakan jati dalam
kawasan hutan tanaman jati sudah dilakukan pengukuran dalam
PCP
Pelaksana : Tim Analisa Data

4. URUTAN KERJA

Persiapan

Pengolahan data

Penentuan bonita

Penentuan pelaksanaan
penjarangan

Penaksiran volume kayu


penjarangan

KPHP-BATULANTEH 16 of 42
Prosedur Operasi Standar Penjarangan Hutan Tanaman Jati

5. INSTRUKSI KERJA
a. Persiapan tenaga kerja
Dalam satu tim analisa metode penjarangan terdiri dari :
 1 orang pemeriksa kesesuain data hasil pengukuran di PCP pada tally sheet/register
dengan data yang telah direkap pada Excel.
 1 orang penganalisa atau pengolah data.

b. Persiapan peralatan kerja


Perlengkapan kerja yang dibutuhkan antara lain :
 Register (tally sheet) data pengukaran pada PCP.
 Komputer dengan program Excel-nya.

Tim analisa metode penjarangan harus paham dan mengetahui metode penghitungan
penjarangan pohon atau tegakan jati.

Data dari tim PCP terlebih dahulu diperiksa kesesuaiannya antara data pada tally sheet
dengan data pada Excel (softcopy).

c. Pengolahan data.
 Diameter pohon dihitung dengan menggunakan rumus:

𝐷𝑏ℎ = 𝐾⁄𝜋

Keterangan:
Dbh = Diameter setinggi dada (meter)
K = Keliling pohon (meter)
π = 3,14

 Luas bidang dasar pohon dihitung dengan menggunakan rumus:

𝐿𝑑𝑏𝑠 = 1⁄4 . 𝜋 . 𝐷𝑏ℎ2

Keterangan:
Ldbs = Luas bidang dasar (meter2)

 Volume pohon dihitung dengan menggunakan rumus:

𝑉 = 𝐿𝐷𝐵𝑆 . 𝐻 . 𝐹

Keterangan:
H = Tinggi pohon (meter)
F = Faktor koreksi (0,7)

 Kerapatan dihitung dengan menggunakan rumus:

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑜ℎ𝑜𝑛 𝑗𝑎𝑡𝑖 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑒𝑢𝑚𝑢𝑟


𝐾=
𝐿𝑢𝑎𝑠 𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝑝𝑒𝑡𝑎𝑘 𝑢𝑘𝑢𝑟 (𝐻𝑎)

Keterangan:
K = Kerapatan jati yang seumur

KPHP-BATULANTEH 17 of 42
Prosedur Operasi Standar Penjarangan Hutan Tanaman Jati

 Kerapatan relatif dihitung dengan menggunakan rumus:

𝐾𝑒𝑟𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑗𝑎𝑡𝑖 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑒𝑢𝑚𝑢𝑟


𝐾𝑅 =
𝐾𝑒𝑟𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑠𝑒𝑚𝑢𝑎 𝑘𝑒𝑙𝑎𝑠 𝑢𝑚𝑢𝑟 𝑗𝑎𝑡𝑖

Keterangan:
KR = Kerapatan Relatif (%)

 Jarak rata-rata antar pohon dalam petak ukur dihitung dengan menggunakan rumus:

100
𝐽𝑑 =
√𝑁𝑝⁄
𝐻𝑎

Keterangan:
Jd = Jarak rata-rata antar pohon dalam petak ukur (m)

𝑁𝑝⁄
𝐻𝑎 = Jumlah pohon normal dalam petak ukur per hektar-nya ( /m2 )

 Derajat kekerasan penjarangan dihitung dengan menggunakan rumus:

𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑎𝑛𝑡𝑎𝑟 𝑝𝑜ℎ𝑜𝑛 (𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟)


𝑆% = 𝑥 100%
𝑅𝑎𝑡𝑎 − 𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑝𝑒𝑛𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 𝑝𝑜ℎ𝑜𝑛 (𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟)

Keterangan:
S% = Derajat kekerasan penjarangan (%)

d. Penentuan bonita.
 Hasil perhitungan dari …………….. disesuaikan dengan tabel Wolf von Wulsing. (tabel)
 Jumlah pohon yang aka dijarangi merupakan hasil pengurangan dari N nyata dengan N
normal pada tabel.

e. Penentuan pelaksanaan penjarangan (pohon yang akan ditebang)


 Hasil PCP rata-rata pertumbuhan peninggi dibandingkan dengan peninggi pada Tabel
Normal jati.
 Apabila hasil pertumbuhan rata-rata peninggi pada PCP lebih besar atau sama dari
Tabel Normal jati maka dapat dilakukan penjarangan.
 Apabila hasil pertumbuhan rata-rata peninggi pada PCP lebih kecil dari Tabel Normal
jati maka penjarangan ditunda, tetapi jika terdapat pohon-pohon terlalu
rapat/bergerombol (Jp < Jn), tertekan (tinggi kurang dari 2/3 peninggi), mati dan cacat
serta terserang hama/penyakit, maka penjarangan tetap dilakukan terhadap pohon-
pohon tersebut maksimal 5 % dari N Tabel Normal jati.
 Apabila lebih dari 5% dari N Tabel Normal jati, harus dibuat Berita Acara Pemeriksaan
(BAP) oleh Mandor yang melakukan penjarangan.
 Pelaksanaan penjarangan berdasarkan hasil PCP dengan ketentuan sebagai berikut:
- PCP penjarangan pertama (1) umur 10 tahun : peninggi antara ….. – …… m.
: metode penjarangan ………., jumlah pohon tinggal setelah penjarangan ……….
pohon.
- PCP penjarangan kedua (2) umur 15 tahun : peninggi antara ….. – …… m.
: metode penjarangan ………., jumlah pohon tinggal setelah penjarangan ……….
pohon.
 Perhitungan pohon yang akan dijarangi sebagai berikut :
1. Penjarangan pertama umur 10 tahun dengan rumus sebagai berikut:
- Peninggi : …..……………………… m

KPHP-BATULANTEH 18 of 42
Prosedur Operasi Standar Penjarangan Hutan Tanaman Jati

- Keliling : …………………………… cm
- N PCP : …………… ph/PU 0,1 ha
- N Normal : 554 ph/ha
- N dijarangi / ha : (N PCP – N Normal)
2. Penjarangan kedua umur 15 tahun dengan rumus sebagai berikut:
- Peninggi : …..…………………………m
- Keliling : …………………………… cm
- N PCP : …………… ph/PU 0,1 ha
- N Normal : 448 ph/ha
- N dijarangi / ha : (N PCP – N Normal)

f. Penaksiran volume kayu penjarangan dengan menggunakan Tabel Volume Lokal (TVL)
penjarangan.
 Volume PCP dihitung dengan menjumlahkan volume pohon penjarangan, dengan
rumus:

Vpcp = Vp1 + Vp2 + ...............+ Vpn

Keterangan :
Vpcp = volume PCP (m3).
Vp1,…. Vpn = volume pohon penjarangan dalam PCP yang ke-1 sampai dengan
ke-n (m3).
 Perhitungan banyaknya pohon dan volume untuk tegakan dan areal penjarangan
adalah sebagai berikut:
1. Banyaknya pohon dan volume tegakan:

𝑁𝑝1 + 𝑁𝑝2 + … . . 𝑁𝑝𝑚


𝑁𝑡 =
0.10𝑚

𝑉𝑝1 + 𝑉𝑝2 + … . . 𝑉𝑝𝑚


𝑉𝑡 =
0.10𝑚

2. Banyaknya pohon dan volume areal penjarangan:

𝑁𝑝1 + 𝑁𝑝2 + … . . 𝑁𝑝𝑚


𝑁𝑡 =
0.10𝑛

𝑉𝑝1 + 𝑉𝑝2 + … . . 𝑉𝑝𝑚


𝑉𝑡 =
0.10𝑛

Keterangan:
Np1, Np2, ..….Npm : Banyaknya pohon dalam PCP ke-1, ke-2, dst.
Vp1, Vp2, …….Vpm : Volume pohon penjarangan dalam PCP ke-1, ke-2,dst.
m dan n : Banyaknya PCP dalam tegakan dan dalam areal
penjarangan

KPHP-BATULANTEH 19 of 42
Prosedur Operasi Standar Penjarangan Hutan Tanaman Jati

KLEM

1. PENGERTIAN
Klem : Penandaan pohon dengan tabel pohon atau pun cat pada pohon
yang akan ditebang.

2. TUJUAN & SASARAN


Memudahkan pengenalan pohon penjarangan atau yang akan ditebang di semua petak dalam
blok hutan tanaman jati.

3. PELAKSANAAN
Tempat : Semua petak dalam blok hutan tanaman jati.
Waktu : Klem dilakukan setelah peta areal kerja dan data pohon yang akan
dijarangi atau ditebang sudah ada.
Pelaksana : Tim Klem

4. URUTAN KERJA

Persiapan

Menuju petak

Identifikasi pohon

Penandaan pohon

Pendataan dan perekapan data

KPHP-BATULANTEH 20 of 42
Prosedur Operasi Standar Penjarangan Hutan Tanaman Jati

5. INSTRUKSI KERJA
a. Persiapan tenaga kerja
Dalam satu tim klem terdiri dari :
 1 orang perintis jalur dan penunjuk arah ke petak ukur
 1 orang pengidentifikasi pohon penjarangan
 2 orang pemberi label tebang

b. Persiapan peralatan kerja


Perlengkapan kerja yang dibutuhkan antara lain :
 Peta Kerja
 GPS dan Kompas
 Parang
 Pita ukur
 Tally sheet
 Cat
 Label pohon
 Hekter pohon
 Alat tulis (spidol, pulpen, dll.)
 Kamera
 Logistik

Hal yang perlu dipersiapkan oleh tim klem selain yang telah disebutkan di atas, yaitu paham
kriteria pohon yang akan dijarangkan dan mengetahui jumlah pohon yang akan ditebang
dalam persatuan luasnya (hektar) dalam tabel penjarangan.

Semua orang dalam satu tim klem harus diberangkatkan atau menuju petak ukur secara
bersamaan.

c. Perencanaan keberangkatan.
 Membaca peta kerja skala 1:10.000 yang minimal memuat batas petak dan titik tengah
petak.
 Strategi pertama yang didatangi tergantung kondisi lapang yang sudah dipahami oleh
salah satu orang dalam tim klem.

d. Menuju petak
 Merekam data track atau rute perjalanan dengan bantuan GPS pada saat menuju petak
pertama sampai keluar dari petak yang terakhir di-klem.
 Batas petak dan waypoint titik tengah petak yang dapat dilihat dengan bantuan GPS.

e. Identifikasi pohon
 Melihat kondisi pohon satu persatu baik kondisi pertumbuhannya maupun kondisi pohon
di lahan tersebut.
 Pohon-pohon yang hendak menjadi pohon tinggal/akhir, yaitu pohon-pohon yang normal,
sehat dan tersebar merata di lapangan.
 Menentukan pohon yang akan ditebang dalam kegiatan penjarangan berdasarkan kriteria
prioritasnya.
 Kriteria pohon yang akan ditebang dalam kegiatan penjarangan yaitu pohon yang sakit,
terkena hama dan penyakit, cacat atau rusak berat.
 Penentuan jumlah pohon yang akan ditebang disesuaikan dengan tabel penjarangan.

KPHP-BATULANTEH 21 of 42
Prosedur Operasi Standar Penjarangan Hutan Tanaman Jati

f. Penandaan pohon
 Menandai pohon yang akan tebang dengan cat berupa tanda silang (X) dan nomor urut.
(gambar)
 Pemberian tanda silang (X) menghadap arah mata angin yang sama (timur) pada setiap
pohon yang diberi tanda.
 Kelilingnya diukur dan ditulis pada pohon setinggi 1,3 meter dari permukaan tanah.
 Pohon yang telah ditandai didata dalam tally sheet. (tabel)

g. Pendataan dan perekapan data


 Data pohon yang akan ditebang direkap
 pendataan difoto kondisi petak ukur dan sekitarnya.
 Perlakuan dalam petak ukur selanjutnya sama.

KPHP-BATULANTEH 22 of 42
Prosedur Operasi Standar Penjarangan Hutan Tanaman Jati

PENERESAN

1. PENGERTIAN
a. Teres : Pengupasan kulit batang.
b. Peneresan : Kegiatan pengupasan atau membuang kulit batang pohon yang
mengelilingi beberapa bagian batang pohon tersebut.

2. TUJUAN & SASARAN


Mengurangi kadar air pohon yang akan ditebang pada petak hutan tanaman jati yang akan
dilakukan kegiatan penjarangan.

3. PELAKSANAAN
Tempat : Petak ukur yang telah yang akan dilakukan penjarangan.
Waktu : Peneresan dilakukan setelah peta areal kerja dan pohon yang akan
ditebang sudah ditandai (klem).
Pelaksana : Tim Peneres

4. URUTAN KERJA

Persiapan

Menuju petak

Menuju pohon yang diklem

Mencacak pangkal pohon


klem

Mengupas kulit pohon klem

Penandaan pohon
logs

Perekapan data
logs

KPHP-BATULANTEH 23 of 42
Prosedur Operasi Standar Penjarangan Hutan Tanaman Jati

5. INSTRUKSI KERJA
a. Persiapan tenaga kerja
Dalam satu tim peneresan terdiri dari :
 1 orang pencari pohon dan pencatat data
 2 orang pencacak pangkal pohon
 2 orang pengupas kulit pohon

b. Persiapan peralatan kerja


Perlengkapan kerja yang dibutuhkan antara lain :
 Peta Kerja
 GPS dan Kompas
 Parang
 Kapak
 Label pohon/cat
 Tally sheet
 Alat tulis (spidol, pulpen, dll.)
 Kamera
 Logistik

c. Perencanaan keberangkatan.
Semua orang dalam satu tim peneresan harus diberangkatkan atau menuju petak secara
bersamaan.

d. Menuju petak
 Petak yang pertama yang akan didatangi pertama kali adalah petak mudah dijangkau.
 Merekam data track atau rute perjalanan dengan bantuan GPS saat menuju petak.
 Perekaman data track dimulai saat pertama kali berada dalam kawasan hutan sebelum
menuju pohon yang akan diteres.
 Perekaman data track dimatikan atau dihentikan ketika meninggalkan blok.

e. Menuju pohon yang diklem


Pohon yang akan diteres adalah pohon yang sudah diklem pada tahapan kegiatan
sebelumnya.

f. Mencacak pangkal pohon


 Pencacakan pohon dilakukan pada pangkal pohon setinggi 25 cm dari tanah. (gambar)
 Pangkal dicacak mengelilingi pangkal pohon dengan menggunakan kampak.
 Lebar pencacak 10 cm dengan bentuk menyiku ke dalam bagian pangkal pohon.

g. Pengupasan kulit
 Letak pengupasan kulit pohon pada batang setinggi 1,3 meter dari permukaan tanah.
(gambar)
 Pengupasan kulit dilakukan mengelili batang pohon dengan menggunakan parang.
 Lebar kulit pohon yang dikupas 20 cm termasuk kayu gubal sedalam 1 cm secara bersih
sehingga tidak ada kambium yang tertinggal.

h. Penandaan pohon
 Penandaan pohon dilakukan di batang pohon yang telah terbuang kulitnya (batang yang
dikupas kulitnya). (gambar)
 Penulisan tanda pohon dengan menggunakan cat berwarna merah.
 Penulisan dalam penandaan pohon teresan berupa, nomor pohon, petak, blok. (gambar)

KPHP-BATULANTEH 24 of 42
Prosedur Operasi Standar Penjarangan Hutan Tanaman Jati

 Pohon yang sudah ditandai kemudian dicatat titik koordianatnya dalam GPS dan difoto.

i. Perekapan data
Data dan dokumentasi pohon yang telah diteres dikumpulkan dan direkap oleh ketua tim.

KPHP-BATULANTEH 25 of 42
Prosedur Operasi Standar Penjarangan Hutan Tanaman Jati

PENEBANGAN

1. PENGERTIAN
Felling : Kegiatan menebang pohon yang ada dalam blok tebangan, dari
masih berdiri menjadi rebah.
Topping : Pemangkasan tajuk pohon yang telah rebah untuk memudahkan
dalam penyaradan.
Bucking : Pembagian batang dari pohon yang telah ditebang, dan kegiatan ini
dilakukan apabila batang terlalu panjang sehingga menyulitkan saat
penyaradan logs maupun pengangkutan.
Trimming : Pemotongan pada sisi-sisi bontos batang yang masih belum rapi
Jalan Sarad : Jalan atau lorong yang dapat dipergunakan untuk kegiatan
penyaradan kayu bulat (log) dari petak tebangan.
TPn : Tempat Pengumpulan Kayu sementara dengan tujuan untuk
menumpuk kayu hasil penyadaran dari petak tebangan sebelum
kayu tersebut siap untuk diangkut ke tujuan akhirnya.
Takik Rebah : Pemotongan bagian bawah sekitar pangkal untuk menentukan arah
rebah atau jatuhnya tegakan jati.
Takik Balas : Pemotongan bagian bawah sekitar pangkal untuk memastikan
pohon rebah atau jatuh.

2. TUJUAN & SASARAN


Pengurangan jumlah pohon dan pohon dapat ditebang sesuai metode penebangan yang benar
(penentuan arah rebah, dan lain-lain) dengan mempertimbangkan dampak penebangan yang
sekecil mungkin dalam hutan tanaman jati.

3. PELAKSANAAN
Tempat : Petak-petak yang terdapat pohon tebangan.
Waktu : Penebangan dilakukan setelah peta areal kerja, titik koordinat lokasi
pohon disiapkan serta peneresan telah dilakukan.
Pelaksana : Tim Penebangan.

KPHP-BATULANTEH 26 of 42
Prosedur Operasi Standar Penjarangan Hutan Tanaman Jati

4. URUTAN KERJA

Penentuan arah Sobek Tag Plate


Persiapan rebah bag “B & C”

Pembukaan Membuat jalur


Felling
TPn & jl.sarad penyelamatan

Menuju petak Menuju pohon Pohon rebah


tebangan siap tebang (topping, bucking
dan trimming)

5. INSTRUKSI KERJA

a. Persiapan tenaga kerja


Dalam satu regu tebang terdiri dari :
 1 orang penebang/chainsawman
 1 orang pembantu penebang/helper

b. Persiapan peralatan kerja


Perlengkapan kerja yang dibutuhkan antara lain :
 Chainsaw dan peralatannya (kikir dll.)
 Parang
 BBM dan minyak pelumas
 Logistik

Hal yang perlu dipersiapkan oleh penebang selain yang telah disebutkan diatas adalah
penebang harus paham tentang lokasi dan kondisi petak tebangan.

Regu penebang merupakan prioritas pertama yang harus diberangkatkan menuju petak
tebangan bersama dengan regu penyarad.

c. Pembukaan TPn dan jalan sarad


 Lokasi TPn dipilih pada lokasi yang luas dan cukup datar dengan kemiringan maksimum 60,
dan diusahakan berada di punggung bukit/pematang.
 Lokasi TPn tidak boleh berada didalam areal kawasan lindung/konservasi dan zona inti
dan tidak berdekatan dengan sungai.
 Pembukaan TPn dan jalan sarad dilakukan sebelum kegiatan penebangan dimulai untuk
blok tertentu.
 Pembukaan TPn dan jalan sarad tidak mengganggu pohon induk (jati) yang ada di petak.
 Jalan sarad didesain selurus mungkin mengikuti kontur.

KPHP-BATULANTEH 27 of 42
Prosedur Operasi Standar Penjarangan Hutan Tanaman Jati

 Jalan sarad harus menghindari daerah curam, jurang, daerah lembab/paya dan tanah yang
labil.
 Jalan sarad harus menghindari sungai/kali/alur, jika terpaksa harus dibuatkan jembatan
penyeberangan sementara/gorong-gorong.
 Jalan sarad didesain untuk digunakan seintensif mungkin.
 Kemiringan jalan sarad maksimum 45 %.
 Jalan sarad tidak boleh masuk areal areal kawasan lindung dan kawasan inti.
 Jarak/panjang jalan sarad dibuat seminim mungkin dengan lebar jalan sarad maksimum 4
meter.

d. Menuju petak tebangan


Perhatian utama dalam penjarangan ditujukan pada pohon-pohon yang hendak menjadi
pohon tinggal/akhir, yaitu pohon-pohon yang normal, sehat dan tersebar merata di
lapangan.

e. Menuju pohon siap tebang


 Pohon yang ditebang adalah pohon yang telah telah diteres dan berlabel/tag plate warna
merah.
 Jumlah pohon yang akan ditebang selain terlihat pada penandaan teresan dan label
tebang, juga terdapat pada data jumlah pohon yang akan ditebang yang dibawa oleh
penebang.

f. Membuat jalur penyelamatan


 Jalur penyelamatan dibuat untuk tempat penyelamatan dari rebahan pohon dan keluar
dari zona bahaya.
 Penentuan zona bahaya adalah dalam radius 2 kali tinggi total pohon yang akan ditebang
(sampai dengan tajuk).
 Jalur penyelamatan dibuat berlawanan arah dengan arah rebah pohon.

g. Menentukan arah rebah.


 Arah rebah yang terbaik adalah yang mendekati atau menjauhi jalan sarad dengan
membentuk sudut 30º - 45º (pola sirip ikan) atau arah rebah dalam posisi sejajar diatas
jalan sarad dengan arah berlawanan dengan arah penyaradan.
 Bila memungkinkan, arah rebah pohon diarahkan ke tempat kosong dan pada tajuk pohon
yang sudah ditebang sebelumnya (maksimal 3).
 Pada areal curam, arah rebah menyerong ke samping lereng (sepanjang kontur).
 Penentuan arah rebah juga harus mempertimbangkan bentukan tajuk pohon, arah
matahari, dan potensi permudaan sekitarnya.
Label/tag plate merah yang ditempelkan di batang pohon (hasil ITSP) terdiri dari tiga bagian,
yaitu A, B, dan C. Sebelum pohon ditebang label tersebut disobek diambil untuk bagian B
dan C, sedangkan bagian A masih ditinggalkan di tunggak pohon.

h. Felling
Teknik menebang pohon normal tahapannya adalah sebagai berikut:
 Pembuatan takik rebah dengan cara membuat potongan datar sedalam 1⁄4 hingga 1⁄3 Ø
pohon pada ketinggian maksimum 50 cm dan kemudian membuat potongan atap/miring
dengan sudut 45º terhadap potongan datar sebelumnya.
 Pembuatan takik balas dengan cara membuat potongan datar dari belakang takik rebah
setinggi 5 hingga 10 cm dari potongan datar takik rebah.
 Membuat engsel dengan cara meninggalkan bagian selebar 1⁄10 – 1⁄6 Ø pohon.

KPHP-BATULANTEH 28 of 42
Prosedur Operasi Standar Penjarangan Hutan Tanaman Jati

Jalur penyelamatan
Arah rebah
45º
5 – 10 cm

≤ 50 cm

Takik Rebah Takik Balas

engsel

Gambar 2 Metode felling pada pohon

i. Pohon rebah
 Melakukan topping dengan cara memotong bagian tajuk pohon mulai cabang pertama
atau batas cacat pohon (cacat tajuk) guna mendapatkan volume batang komersial.
 Apabila batang yang ditebang sangat panjang atau kemungkinan dapat menyulitkan saat
skidding, maka batang tersebut perlu dipotong (bucking).
 Dalam pemotongan/pembagian batang harus tetap memperhitungkan pada ukuran logs
komersial sehingga logs tersebut nilai jualnya dapat meningkat.
 Pemotongan batang harus tegak lurus sumbu batang, tidak boleh miring melebihi 10º
terhadap sumbu vertikal.
 Apabila memotong batang yang melengkung, pertama kali yang dipotong adalah bagian
yang mengalami tekanan kemudian baru memotong bagian yang mengalami regangan.
 Apabila sisi-sisi bontos pada batang masih belum rapi, maka perlu dilakukan trimming
untuk merapikannya.
 Untuk indentitas logs yang telah ditebang, maka pada bontos logs tersebut ditempelkan
label/tag plate Bagian ‘B’, sedangkan tag plate bagian ‘C’ diserahkan kepada pengawas
penebangan untuk dasar pengupahan.

KPHP-BATULANTEH 29 of 42
Prosedur Operasi Standar Penjarangan Hutan Tanaman Jati

PENYARADAN

1. PENGERTIAN
Skidding : Kegiatan menarik/menyarad batang pohon yang telah ditebang dari
lokasi/petak tebangan menuju tempat pengumpulan sementara
(TPn).

2. TUJUAN & SASARAN


Batang pohon dapat ditarik menuju TPn sesuai metode yang benar dan menekan sekecil
mungkin dampak penyaradan terhadap lingkungan.

3. PELAKSANAAN

Tempat : Petak tebangan dan TPn yang telah ditunjuk dan disetujui oleh
Kepala Resort KPH dan Kepala KPH .
Waktu : Penyaradan dilakukan setelah pohon tersebut ditebang dan sudah
tersedia jalan sarad yang menghubungkan logs tersebut ke TPn.
Pelaksana : Tim Penyaradan

4. URUTAN KERJA

Persiapan

Pembuatan TPn & jalan sarad

Menuju logs di lokasi tebangan

Pengangkutan

Penumpukan logs di TPn

KPHP-BATULANTEH 30 of 42
Prosedur Operasi Standar Penjarangan Hutan Tanaman Jati

5. INSTRUKSI KERJA
a. Persiapan tenaga kerja
Satu regu kerja skidding/penyaradan terdiri dari:
 5 orang pengangkut kayu
 1 ekor kerbau
 1 orang pembantu (helper)

b. Persiapan perlengkapan kerja


Perlengkapan kerja yang dibutuhkan untuk kegiatan penyaradan antara lain :
 1 ekor kerbau
 Tambang
 2 buah balok
 Safety (topi, sarung tangan, sepatu lapangan, dll)
 Logistik

Sebelum masuk ke lokasi tebangan, regu skidding harus sudah mengetahui & paham tentang
kondisi petak tebangan serta melakukan koordinasi dengan operator chainsaw (regu
penebang).

Regu penyarad merupakan prioritas pertama yang harus diberangkatkan menuju blok
tebangan bersama dengan regu penebang.

c. Pembuatan TPn dan jalan sarad


 TPn dibuat di tepi jalan angkutan (di petak).
 Lokasi ideal untuk TPn adalah berada di tengah-tengah pengelompokan poteni tebangan
akibat penjarangan, sehingga dalam satu lokasi TPn dapat menampung logs dalam jumlah
yang banyak dan mengurangi intensitas keterbukaan lahan.
 Ukuran TPn ± 100 m2.
 Bila diperlukan saluran drainase, buat dan alirkan ke areal yang stabil dan bervegetasi.
 Penentuan dan pemilihan jalan sarad ditentukan oleh tim penyarad dengan
memanfaatkan sela-sela baris tanam.
 Pembuatan jalan sarad sedapat mungkin menghindari resiko gangguang terhadap
tanaman induk (jati).
 Kayu kecil/ranting dan cabang-cabang pohon yang tidak dikeluarkan sedapat mungkin
digunakan untuk melindungi permukaan jalan sarad.

d. Menuju logs di lokasi tebangan


 Operasi penyaradan dari petak tebangan dimulai setelah pembuatan jalan sarad selesai.
 Penyaradan dimulai dari batang kayu/log terdekat.
 Operasi penyaradan dari petak tebangan dimulai setelah pembuatan jalan sarad selesai.
 Penyaradan dimulai dari batang kayu/log terdekat.

e. Pengangkutan
 Helper membantu mengangkat kayu agar dapat dipikul oleh tim pengangkut kayu.
 Log yang besar atau berat yang tidak dapat dipikul oleh satu orang dapat dipukul oleh
beberapa orang atau ditarik dengan kerbau.
 Log yang disarad dengan kerbau diarahkan oleh penarik kerbau untuk berjalan mengikuti
kontur lahan dan tidak merusak pohon jati yang masih tertanam.
 Penarik kerbau mengawasi log jati yang dibawa kerbau agar log yang ditarik kerbau tidak
rusak.
 Log yang diangkut atau ditarik dibawa menuju ke TPn.

KPHP-BATULANTEH 31 of 42
Prosedur Operasi Standar Penjarangan Hutan Tanaman Jati

 Setelah selesai menyarad satu logs, kemudian mencari logs lain sesuai petunjuk/informasi
dari helper.
 Langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk meminimalkan kerusakan akibat kegiatan
skidding adalah:
- Menggunakan lengkungannya (arch) untuk menaikkan ujung kayu yang disarad.
- Menghindari penyaradan pada waktu hujan dan tanah masih basah.
- Menghindari jalan berbatu saat log disarad dengan kerbau.
- Menghindari kerbau menyarad bergerak ke luar jalan sarad.
- Menghindari kerbau menyentuh dan/atau melukai pohon di kiri-kanan jalan sarad
sewaktu menyarad.

f. Penumpukan di TPn
Logs yang sudah sampai di TPn ditumpuk pada sisi pinggir TPn dengan pertimbangan
memudahkan saat pemuatan ke atas logging truck.

KPHP-BATULANTEH 32 of 42
Prosedur Operasi Standar Penjarangan Hutan Tanaman Jati

PENGANGKUTAN

1. PENGERTIAN
a. Loading : Kegiatan pemuatan logs ke atas logging truck.
b. Hauling : Kegiatan pengangkutan logs, untuk memindahkan logs dari TPn
menuju TPk atau dari satu TPk ke TPk lainnya.
c. Unloading : Kegiatan pembongkaran muatan/logs dari atas logging truck.
d. TPK : Tempat Penimbunan Kayu atau tempat untuk menyimpan kayu
sebelum diangkut, kayu dirakit atau diolah.

2. TUJUAN
Memindahkan logs dari hutan tanaman menuju ke tempat pengumpulan logs (TPk) untuk
menghindari kerusakan logs karena terlalu lama di dalam hutan tanaman jati.

3. PELAKSANAAN
Tempat : TPn dan TPK/logsyard yang telah ditunjuk dan di setujui oleh Kepala
RPH dan Kepala KPH.
Waktu : - Loading dilakukan setelah pohon tersebut sudah berada di TPn
dan terdapat dalam jumlah yang cukup.
- Hauling dilakukan setelah logs sudah dimuat ke atas logging
truck dan volumenya sudah sesuai dengan kapasitas muatan
logging truck.
- Unloading dilakukan setelah logs yang diangkut sudah tiba
TPk/logyard tujuan.
Pelaksana : Tim Pengangkutan

4. URUTAN KERJA

Persiapan

Menuju ke TPn

Penentuan tempat parkir

Pemuatan logs

Pengangkutan ke TPk

Pembongkaran logs
logs

KPHP-BATULANTEH 33 of 42
Prosedur Operasi Standar Penjarangan Hutan Tanaman Jati

5. INSTRUKSI KERJA
a. Persiapan tenaga kerja
Satu tim pengangkutan (loading, hauling & unloading) terdiri dari :
- 1 orang operator wheel/truck loader (untuk di TPn)
- 1 orang operator wheel loader (untuk di TPk/logyard)
- 3 orang pengangkat log ke atas truck.
- 2 orang penyusun log di atas truck
- 1 orang driver logging truck
- 1 orang pencatat bon trip/angkutan

b. Persiapan perlengkapan kerja


Perlengkapan kerja yang dibutuhkan untuk kegiatan pengangkutan antara lain :
 Unit logging truck
 Unit wheel loader
 Safety (topi, sarung tangan, sepatu lapangan, dll.)
 Logistik
 Alat tulis

Sebelum tim pengangkutan masuk ke TPn untuk pemuatan logs, maka terlebih dahulu
Mandor melakukan inspeksi terhadap kondisi jalan angkutan, untuk menentukan dapat atau
tidaknya dilakukan kegiatan pengangkutan/hauling.

c. Penentuan tempat untuk parkir logging truck sebagai berikut:


 Logging truck diparkir dengan posisi searah dengan arah pengangkutan (tidak berlawanan
dengan arah pengangkutan).
 Di tempat yang realtif datar dan tidak terlalu jauh dari tempat logs yang akan dimuat (± 10
s/d 20 meter).
 Tidak menggangu manuver loader saat loading/pemuatan logs.

d. Pemuatan logs
 Terlebih dahulu memuat beberapa logs yang panjang untuk dijadikan sebagai alas.
 Logs disusun ke atas logging truck dengan bagian pangkal mengarah ke depan dan unjung
menghadap ke bagian belakang.
 Logs disusun dengan bentuk kerucut, dan logs ukuran paling pendek diletakkan pada
bagian paling atas.
 Setelah muatan dianggap cukup, driver logging memasang chain blok/sabuk untuk
mengikat logs agar tidak jatuh/tercecer saat pengangkutan.
 Pada saat yang bersamaan, pencatat bon trip melakukan pengecekan terhadap jumlah
logs dan mencatat nomor logs ke dalam bon trip.
 Bon trip dibuat (minimal) rangkap dua, 1 lembar dibawa untuk diberikan kepada petugas
tata usaha kayu di TPk dan 1 lembar lagi untuk arsip.

e. Pengangkutan logs
 Saat mengangkut logs perlu memperhatikan rambu-rambu yang dipasang di sepanjang
jalan angkutan.
 Gunakan alat komunikasi/handy talkie untuk menghindari tabrakan dengan unit lain yang
melintas.
 Hindari pengangkutan logs jika terjadi hujan/gerimis atau tanah masih basah agar jalan
angkutan tidak rusak.
 Apabila jarak angkutan sangat jauh, maka tidak menutup kemungkinan dibuat logyard
transit.

KPHP-BATULANTEH 34 of 42
Prosedur Operasi Standar Penjarangan Hutan Tanaman Jati

 Setelah sampai di TPk/logyard, logging truck diparkir mendekati ke tempat pengupasan


dan kemudian driver logging menyerahkan bon trip kepada petugas Tata Usaha Kayu
(TUK) yang berada di logyard.

f. Pembongkaran Logs
 Sebelum muatan logs dibongkar, terlebih dahulu driver logging membuka chain blok.
 Pembongkaran logs dimulai dari tumpukan yang paling atas dan selanjutnya hingga
tumpukan paling bawah.
 Logs yang sudah dibongkar kemudian dihampar sejajar untuk masing-masing logs, di
tempat penghamparan yang dijadikan tempat untuk pengupasan.
 Hindari pembongkaran logs tanpa menggunakan loader.

KPHP-BATULANTEH 35 of 42
Prosedur Operasi Standar Penjarangan Hutan Tanaman Jati

LAMPIRAN

KPHP-BATULANTEH 36 of 42
Prosedur Operasi Standar Penjarangan Hutan Tanaman Jati

Keterangan:
T D =
H =
1 P =
M =
D = ………………… H = …………………..

P = ………………… M= …………………..

Tanggal: …………………………………………….

Paraf

Gambar 1 Tabel Tegakan Normal Jati

KPHP-BATULANTEH 37 of 42
Prosedur Operasi Standar Penjarangan Hutan Tanaman Jati

KPHP-BATULANTEH 38 of 42