Anda di halaman 1dari 35

FISIKA TEKNIK

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
FISIKA TEKNIK

Yang diampu oleh Bapak Wakidi

Disusun Oleh :

Vicko A. (150513601093)
Yogi Bekti Prasetyo (150513601676)
Yulius Lyan (150513602605)
Didik Leo Santoso (150513608026)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK MESIN
Desember 2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Berkat-Nya
penulis dapat mengerjakan tugas makalah dengan lancar dan berkat
izin-Nya penulis bisa menyelesaikan tugas makalah dalam waktu yang
cukup singkat.
Makalah ini dibuat agar pembaca bisa mengetahui bahwa
manusia hidup di dunia ini tidak jauh dari penerapan fisika, Dalam
makalah ini terdapat materi yang membahas tentang suhu dan
pemuaian, serta sifat thermal materi
Penulis menyadari bahwa makalah ini dibuat masih jauh dari
sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan adanya saran
ataupun kritik yang membangun demi sempurnanya makalah ini.
Penulis mohon maaf apabila dalam pembuatan makalah ini
terdapat kesalahan baik itu penulis maupun penyusunan yang telah
penulis lakukan dan semoga makalah ini dapat bermanfaat.

Malang, 02 Desember 2015

Penulis

i|FISIKA TEKNIK
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................................... i
DAFTAR ISI .................................................................................................. ii
PENDAHULUAN ........................................................................................ iii
Latar Belakang ............................................................................ iii
Rumusan Masalah ....................................................................... iv
Tujuan Penulsan ........................................................................... v

PEMBAHASAN ............................................................................................ 1
1. Konsep dari Suhu dalam Fisika ................................................... 1
2. Konsep Pembentukan Skala Suhu ................................. 3
3. Pemuaian zat padat dan cair serta
proses tegangan thermalnya ........................................................ 7
4. Persamaan keadaan dan konsep
dari Gas Sempurna....................................................... 13
5. Konsep tentang permukaan gas Pvt
dari gas sempurna dan gas sejati ................................. 17
6. Titik kritis dan titik triple dalam
konsep sifat thermal materi......................................... 20
7. Pengaruh zat larut terhadap
titik beku dan titik didih............................................... 23
8. Kelembaban dalam sifat thermal materi ...................... 24

PENUTUP ................................................................................... 28
1. Kesimpulan .................................................................. 28
2. Saran ............................................................................ 28

DAFTAR PUSTAKA ................................................................. 29

ii | F I S I K A T E K N I K
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Fisika Teknik adalah suatu cabang ilmu yang mempelajari tentang sifat-
sifat perubahan benda yang ada di bumi serta bentuk dan proses perubahannya.
Menurut Wikipedia (https://id.wikipedia.org/wiki/Fisika) ilmu fisika merupakan
sains atau ilmu yang mempelajari tentang alam dalam makna yang luas yang
meliputi perilaku dan sifat materi dalam bidang yang beragam. Dalam ilmu fisika
banyak yang akan dipelajari contohnya adalah suhu dan pemuaian serta sifat
therma materi. Kedua sub dalam pelajaran fisika tersebut merupakan bagian kecil
dari ilmu fisika.
Dalam kehidupan sehari-hari penerapan ilmu fisika sangatlah banyak
contoh kecilnya yaitu pengukuran suhu, yang dimana pengukuran tersebut
berdasarkan konsep suhu dari cabang ilmu fisika. Sebagian besar masyarakat
menganggap ilmu fisika merupakan ilmu yang sulit dipelajari dan masyarakat
beranggapan bahwa ilmu fisika kurang begitu penting dalam kehidupan mereka,
padahal jika dilihat secara cermat fisika merupakan ilmu yang banyak penerapan
dalam mengembangkan kehidupan yang lebih baik.
Dalam pembahasan makalah fisika teknik ini, penulis mengusung tema
suhu dan pemuaian serta sifat thermal materi, agar pembaca dapat lebih
memahami tentang konsep suhu yang rata-rata dari masyarakat belum begitu bisa
membedakakan beberapa konsep suhu yang memiliki percabangannya sendiri-
sendiri.

iii | F I S I K A T E K N I K
2. Rumusan Masalah

Dari latar belakanh yang telah dipaparkan di atas, maka dapat


dituliskan beberapa rumusan masalah sebagai berikut.
1. Bagaimanakah konsep dari suhu tersebut ?
2. Bagaimanakah konsep pembentukan skala suhu?
3. Bagaimanakah konsep pemuaian zat padat dan cair serta proses
tegangan thermalnya?
4. Bagaimanakah persamaan keadaan dan konsep dari Gas Sempurna
itu?
5. Bagaimana konsep tentang permukaan gas Pvt dari gas sempurna
dan gas sejati?
6. Bagaimanakah titik kritis dan titik triple dalam konsep sifat thermal
materi?
7. bagaimanakah pengaruh zat larut terhadap titik beku dan titik didih?
8. bagaimanakah kosep dasar tentang kelembaban dalam sifat thermal
materi?
3. Tujuan penulisan
Dari rumusan masalah yang telah dipaparkan di atas, dapat
ditarik beberapa tujuan penulisan sebagai berikut.
1. mengidentifikasi konsep dari suhu dalam fisika
2. mengidentifikasi konsep pembentukan skala suhu
3. memaparkan kosep pemuaian zat padat dan cair serta proses
tegangan thermalnya
4. memaparkan persamaan keadaan dan konsep dari Gas Sempurna
5. memaparkan konsep tentang permukaan gas Pvt dari gas sempurna
dan gas sejati
6. menjelaskan titik kritis dan titik triple dalam konsep sifat thermal
materi

iv | F I S I K A T E K N I K
7. menjelaskan tentang pengaruh zat larut terhadap titik beku dan titik
didih
8. memaparkan tentang kosep dasar tentang kelembaban dalam sifat
thermal materi

v|FISIKA TEKNIK
PEMBAHASAN
Berdasarkan masalah yang telah dirumuskan di atas, pembahasan masalah
akan menyajikan tentang konsep dari suhu dalam fisika, konsep pembentukan
skala suhu, kosep pemuaian zat padat dan cair serta proses tegangan thermalnya,
persamaan keadaan dan konsep dari Gas Sempurna, konsep tentang permukaan
gas Pvt dari gas sempurna dan gas sejati, titik kritis dan titik triple dalam konsep
sifat thermal materi, tentang kosep dasar tentang kelembaban dalam sifat thermal
materi, dan pengaruh zat larut terhadap titik beku dan titik didih.
1. Konsep dari Suhu dalam Fisika

suhu adalah suatu besaran yang menunjukkan derajat panas dari suatu
benda. Benda yang memiliki panas akan menunjukkan suhu yang tinggi dari pada
benda dingin. Sering kita menyebutkan suatu benda panas atau dingin dengan cara
menyentuh benda tersebut dengan alat indra kita. Walau kita tidak dapat
menyimpulkan berapa derajat panas dari benda tersebut. Untuk mengetahui
seberapa besar suhu benda tersebut maka digunakanlah termometer.
1. Pengertian Termometer
Termometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur suhu atau alat yang
digunakan untuk menyatakan drajat panas atau dingin suatu benda. Istilah
termometer berasal dari bahasa latin thermo yang berarti panas dan meter yang
berarti untuk mengukur. Prinsip kerja termometer ada bermacam-macam, yang
paling umum digunakan adalah termometer air raksa. Isi zat cair pada termometer
biasanya adalah air raksa, karena air raksa mempunyai sifat cepat menyerap
panas, mudah dilihat ditabung kaca, daerah ukurannya besar yaitu air raksa baru
akan membeku pada suhu-39 derajat celcius dan baru akan mendidih pada suhu
375 derajat elcius. Termometer mempinyai beberapa jenis antara lain,
2. Termometer celcius
Termometer celcius ini berisi air raksa, setiap 1 sekala itu menunjukkan suhu 1
derajat celcius. Jadi jika terlihat kenaikan 5 skala maka itu menunjukkan kenaikan
5 derajat celcius dan seterusnya. Titik bawah temometer celcius adalah 0 derajat
celcius (00C) dan titik atasnya adalah 100 derajat celcius (1000C). Celcius itu
sendiri digunakan untuk menetapkan satuan suhu oleh ilmuan dari swedia

1|FISIKA TEKNIK
bernama Andres Celcius. Jadi istilah celcius ini diambil dari nama Andres Celcius
itu sendiri.
3. Termometer fahrenheit
Melihat kata Fahrenheit, sudah pasti nama ini bukan orang indonesia. Nama
Fahrenheit ini adalah nama seorang ilmuwan dari Jerman yang bernama lengkap
Daniel Gabriel Fahrenheit, beliau ini pada tahun 1706 membuat sebuah
termometer dengan isi air raksa dengan titik bawah termometer 32 derajat
Fahrenheit (320F) dan titik atasnya 212 derajat Fahrenheit (2120F).
4. Termometer Reamur
Nama Reamur diambil dari nama seorng ilmuwan berkebangsaan prancis yaitu
Rene Antonie Ferchault de Reaumur.nah Rene Antonie Ferchault de Reaumur
inilah penemuan dan pencipta skala Termometer Reamur. Isi dari Termometer
reamur ini juga dari air raksa dengan titik bawah 0 derajat reamur(00R) dan titik
atasnya 80 derajat reamur (800R).
5. Termometer kelvin
Nama Kelvin diambil dari nama seorang ilmuwan berkebangsaan Inggris yaitu
Lord William Thomson Kelvin. Jadi penemu skala Kelvin adalah Lord William
Thomson Kelvin. Titik bawah dari Termometer Kelvin ini adalah 273 Kelvin
(273k) dan titik atas Termometer 373 Kelvin (373k).
Jenis Zat Cair Yang Digunakan Pada Termometer
Termometer memanfaatkan sifat termometrik dari suatu zat, yaitu perubahan dari
sifat-sifat zat disebabkan perubahan suhu dari zat tersebut. Adapun jenis zat cair
yang digunakan pada termometer diantaranya sebagai berikut:
1. Termometer raksa
Termometer yang biasanya digunakan saat ini adalah termometer air raksa. Fungsi
dari air raksa sebagai penunjuk suhu suatu benda yang diukur. Beberapa
keunggulan dari air raksa:
• Sangat peka terhadap perubahan dari suhu.
• Dapat dipakai untuk mengukur suhu yang tinggi maupun yang rendah.
• Mengkilap seperti perak sehingga mudah sekali untuk dilihat.
• Tidak akan membasahi dinding kaca.
• Mengembang dan memuai secara teratur.

2|FISIKA TEKNIK
Raksa juga memiliki kelemahan:
• Harganya mahal dan susah diperoleh.
• Raksa tidak bisa mengukur suhu yang sangat rendah.
• Raksa termasuk kedalam zat beracun sehingga berbahaya apabila
tabungnya bocor atau pecah.
2. Termometer Alkohol
Selain cairan raksa, alkohol juga bisa digunakan untuk mengisi pipa termometer.
Tetapi penggunaan alkohol pada termometer tidak sebanyak penggunaan air
raksa. Alkohol dapat digunakan sebagai pengisi pipa termometer sebab
alkoholmempunyai beberapa keunggulan diantaranya sebagai berikut:
• Mempunyai titik beku yang rendah.
• Harga yang relatif murah.
• Dan mudah memuai.
Alkohol juga mempunyai beberapa kelemahan:
• Alkohol dapat membasahi dinding kaca dari termometer.
• Alkohol tidak bisa digunakan untuk mengukur suhu yang tinggi.
• Dan alkohol tidak berwarna, sehingga perlu diberi warna supaya mudah
untuk dilihat.
2. Konsep Pembentukan Skala Suhu
A. Skala Thermometer
Untuk menentukan skala sebuah termometer diperlukan dua titik tetap: titik
lebur es sebagai titik tetap bawah dan titik didih air sebagai titik tetap atas.
Seorang astronom Swedia, Anders Celsius (1701-1744), adalah orang yang
pertama kali menetapkan skala suhu berdasarkan titik lebur es dan titik didih air.
Sesuai dengan penemunya, termometer yang ditemukan oleh Anders Celsius
dinamakan termometer skala Celsius. Skala thermometer dibedakan menjadi 4
macam umumnya yaitu skala celcius, reamur, fahrenheit, dan kelvin ditambah
satu yaitu rankine. Berikut ini ulasan skala tersebut.
1. Thermometer skala celcius
Skala Celcius merupakan skala yang paling banyak digunakan dalam
kehidupan sehari-hari. Skala ini ditetapkan oleh
seorang ahli fisika berkebangsaan Swedia

3|FISIKA TEKNIK
bernama Anders Celcius (1701 – 1744). Ia menetapkan titik beku air sama
dengan 0 derajat sebagai titik tetap bahwa, dan titik didih air sama dengan
100 derajat sebagai titik tetap atas. Di antara jarak kedua titik tersebut dibagi
menjadi 100 satuan derajat. Skala Celcius memiliki satuan derajat Celcius
yang ditulis 0C.
2. Thermometer skala fahrenheit
Skala Fahrenheit ditetapkan oleh Gabriel Daniel Fahrenheit (1686 –
1736), seorang ilmuwan fisika
berkebangsaan Jerman. Ia menetapkan titik
beku air sama dengan 320 dan titik didih air
sama dengan 2120 . Di antara jarak kedua
titik tetap tersebut dibagi menjadi 180
satuan derajat. Penulisan nilai suhu,
misalnya 100 derajat fahrenheit, cukup ditulis 100 0F. Skala Fahrenheit
banyak dipakai dinegara-negara Eropa dan Amerika.
3. Thermometer skala reamur
Skala Reamur adalah skala suhu yang dinamakan oleh Rene Antoine
Ferchault de Reamur, yang pertama
mengusulkannnya pada 1731. Titik beku air
adalah 0 derajat Reamur, titik didih air 80
derajat, serta memiliki 80 satuan derajat,
penulisan nilai suhu skala Reamur, misalnya
40 dejarat Reamur, ditulis 400R skala ini
mulanya dibuat dengan alkohol, jadi termometer Reamur yang dibuat
dengan raksa sebenarnya bukan termometer Reamur sejati. Skala Reamur
digunakan secara luas di Eropa, terutama di Perancis dan Jerman, tapi
kemudian digantikan oleh Celcius. Saat ini skala Reamur jarang digunakan
kecuali di Industri permen dan keju.
4. Thermometer skala kelvin
Lord Kelvin (1824 – 1907) adalah ilmuwan berkebangsaan Inggris
yang menetapkan skala Kelvin. Skala Kelvin
ditetapkan berdasarkan perhitungan bahwa

4|FISIKA TEKNIK
ada suhu minimal di alam ini. Hal tersebut didukung oleh teori kinetik
partikel bahwa pada suhu nol mutlak, partikel-partikel semua zat praktis
tidak bergerak. Suhu nol mutlak tersebut sama dengan -273,15 0C, biasanya
dibulatkan menjadi -273 0C. Pada skala Kelvin, titik beku air adalah 273 K
dan titik didihnya 373 K. Skala kelvin memiliki satuan Kelvin, ditulis 0K.
5. Thermometer skala rankine
Skala Rankine adalah skala suhu termodinamis yang dinamai
menurut insinyur Skotlandia William John
Macquorn Rankine, yang mengusulkannya
pada 1850. Lambangnya
adalah °R(atau °Ra untuk membedakannya
dari Rømer dan Réaumur). Seperti skala
Kelvin, titik nol pada skala Rankine adalah
nol absolut, tapi satu derajat Rankine didefinisikan sama dengan satu derajat
Fahrenheit. 459.67 °R sama dengan 0 °F.

B. Perbandingan Skala Celcius, Fahrenheit, Reamur, Kelvin, dan Rankine


Berikut perbandingan skala suhu dalam thermometer.

5|FISIKA TEKNIK
Gambar 1 Perbandingan Skala Titik Beku dan Titik Didih Thermometer
Perbandingan skala suhu tersebut dapat dijelaskan sebgai tabel sebagai berikut.
No Skala Selisih Pembagi Hasil Titik Beku
1 Celcius 100 20 5 0º
2 Fahrenheit 180 20 9 0º
3 Reamur 80 20 4 32º
4 Kelvin 100 20 5 273º
5 Rankine 180 20 9 492º
Gambar 2 Tabel Perbandingan
Rumus penyelesaian dapat diuraikan sebagai berikut.
Contoh:
Diketahui: TºC = t
Ditanya: TºF, TºR, TºK, dan TºRa
T°F 9 9
Jawab:1. = → T℉ = × T℃ + 32
T°C 5 5
T°R 4 4
2. = → T°R = × T°C
T°C 5 5
T°K 5 5
3. = → T°K = × T℃ + 273
T℃ 5 5
T°Ra 9 9
4. = → T°Ra = × T℃ + 492
T°C 5 5
Diketahui: TºF = t
Ditanya: TºC, TºR, TºK, dan TºRa
5
Jawab: T℃ = 9 × (T℉ − 32)
4
T°R = 9 × (T℉ − 32)
5
T°K = 9 × (T°F − 32) + 32
9
T°Ra = 9 × (T℉ − 32) + 492

Diketahui: TºR = t
Ditanya: TºC, TºF, TºK, dan TºRa
5
Jawab: T°C = × T°R
4
9
T℉ = 4 × T°R + 32
5
T°K = 4 × T°R + 273

6|FISIKA TEKNIK
9
T°Ra = 4 × T°R + 492

Diketahui: TºK = t
Ditanya: TºC, TºF, TºR, dan TºRa
9
Jawab: T°F = 5 × (T°K − 273) + 32
4
T°K = 5 × (T°K − 273)
9
T°Ra = 5 × (T°K − 273) + 492

3. Pemuaian pada Zat Padat dan Zat Cair

Pemuaian Zat Padat Coba kamu amati bingkai kaca jendela di ruang kelasmu!
Adakah bingkai jendela yang melengkung? Tahukah kamu apa sebabnya? Bingkai
jendela tersebut melengkung tidak lain karena mengalami pemuaian. Pemuaian
yang terjadi pada benda, sebenarnya terjadi pada seluruh bagian benda tersebut.
Namun demikian, untuk mempermudah pemahaman maka pemuaian dibedakan

tiga macam, yaitu pemuaian panjang, pemuaian luas, dan pemuaian volume.
1. Pemuaian Panjang Pernahkah kamu mengamati kabel jaringan listrik pada pagi
hari dan siang hari? Kabel jaringan akan tampak kencang pada pagi hari dan
tampak kendor pada siang hari. Kabel tersebut mengalami pemuaian panjang
akibat terkena panas sinar matahari. Alat yang digunakan untuk menyelidiki
pemuaian panjang berbagai jenis zat padat adalah musschenbroek. Pemuaian
panjang suatu benda dipengaruhi oleh panjang mula-mula benda, besar kenaikan
suhu, dan tergantung dari jenis benda.
Alat Musschenbroek

7|FISIKA TEKNIK
Besarnya panjang logam setelah dipanaskan adalah sebesar.

Besarnya panjang zat padat untuk setiap kenaikan 1ºC pada zat sepanjang 1 m
disebut koefisien muai panjang (α). Hubungan antara panjang benda, suhu, dan
koefisien muai panjang dinyatakan dengan persamaan.

Keterangan:
L = Panjang akhir (m)
L0 = Panjang mula-mula (m)
ΔL = Pertambahan panjang (m)
α = Koefisien muai panjang (/ºC)
Δt = kenaikan suhu (ºC)
Beberapa Koefisien Muai Panjang Benda

2. Pemuaian Luas
Jika yang dipanaskan adalah suatu lempeng atau plat tipis maka plat tersebut akan
mengalami pemuaian pada panjang dan lebarnya. Dengan demikian lempeng akan
mengalami pemuaian luas atau pemuaian bidang. Pertambahan luas zat padat
untuk setiap kenaikan 1ºC pada zat seluas 1 m^2 disebut koefisien muai luas (β).
Hubungan antara luas benda, pertambahan luas suhu, dan koefisien muai luas
suatu zat adalah

8|FISIKA TEKNIK
Keterangan:
A = Luas akhir (m2)
Δ0 = Pertambahan luas (m2)
A0 = Luas mula-mula (m2)
β = Koefisien muai luas zat (/º C)
Δt = Kenaikan suhu (ºC)
Besarnya β dapat dinyatakan dalam persamaan berikut.

3. Pemuaian Volume
Jika suatu balok mula-mula memiliki panjang P0, lebar L0, dan tinggi h0
dipanaskan hingga suhunya bertambah Δt, maka berdasarkan pada pemikiran
muai panjang dan luas diperoleh harga volume balok tersebut sebesar

dimana

Keterangan:
V = Volume akhir (m^3)
V0 = Volume mula-mula (m^3)
ΔV = Pertambahan volume (m^3)
γ = Koefisien muai volume (/ºC)
Δt = Kenaikan suhu (ºC)
Pemuaian Zat Cair

9|FISIKA TEKNIK
Pada zat cair tidak melibatkan muai panjang ataupun muai luas, tetapi hanya
dikenal muai ruang atau muai volume saja. Semakin tinggi suhu yang diberikan
pada zat cair itu maka semakin besar muai volumenya. Pemuaian zat cair untuk
masing-masing jenis zat cair berbeda-beda, akibatnya walaupun mula-mula
volume zat cair sama tetapi setelah dipanaskan volumenya menjadi berbeda-beda.
Pemuaian volume zat cair terkait dengan pemuaian tekanan karena peningkatan
suhu. Titik pertemuan antara wujud cair, padat dan gas disebut titik tripel.

Anomali Air
Khusus untuk air, pada kenaikan suhu dari 0º C sampai 4º C volumenya tidak
bertambah, akan tetapi justru menyusut. Pengecualian ini disebut dengan anomali
air. Oleh karena itu, pada suhu 4ºC air mempunyai volume terendah. Hubungan
volume dengan suhu pada air dapat digambarkan pada grafik berikut.

Pada suhu 4ºC, air menempati


posisi terkecil sehingga pada suhu itu air memiliki massa jenis terbesar. Jadi air
bila suhunya dinaikkan dari 0ºC – 4ºC akan menyusut, dan bila suhunya dinaikkan
dari 4ºC ke atas akan memuai. Biasanya pada setiap benda bila suhunya
bertambah pasti mengalami pemuaian. Peristiwa yang terjadi pada air itu disebut

10 | F I S I K A T E K N I K
anomali air. Hal yang sama juga terjadi pada bismuth dengan suhu yang berbeda.
Lakukan kegiatan berikut untuk menyelidiki kecepatan pemuaian pada berbagai
macam zat cair.
Tegangan Thermal
Tegangan thermal adalah tegangan yang diakibatkan oleh pemuaian atau
penyusutan sebatang logam yang mengalami perubahan temperatur
(Suparto,1974:135). Tegangan thermal yang terjadi terkadang melampaui batas
yang terjadi pada tempat-tempat yang temperaturnya besar, hal tersebut terkadang
dapat melampaui titik patah dari benda tersebut. Misal dalam penerapan tegangan
thermal ini adalah pada pemasangan rel kereta api dimana jarak antara rel satu ke
rel yang lain harus diperhitungkan karena jika tidak tegangaan thermal yang
terjadi pada rel terlampau batas maka tidak menutup kemungkinan rel akan
bertabrakan dan bengkok.

Penyebab terjadinya tegangan thermal ini adalah adanya reganagan yang


diakibatkan oleh perubahan panjang karena temperatur. Dari persamaan
pemuaian linier dapat dituliskan : ∆𝐿 = ∝. 𝐿𝑜 . ∆𝑡 maka regangan yang terjadi
∆𝐿
sama dengan = ∝. ∆𝑡. selanjutnya menurut definisi dari modulus
𝐿𝑜

𝑅𝑒𝑔𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝐹⁄
𝐴
elastisitas linier, maka 𝑌 = = ∆𝐿⁄
𝑇𝑒𝑔𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝐿
𝑜

Dari sini dapat disimpulkan bahwa, besarnya teganagan thermis


yang dapat diukur adalah dengan persamaan sebagai berikut :

𝐹⁄ = 𝑌. ∆𝐿⁄ = 𝑌. ∝. ∆𝑡
𝐴 𝐿𝑂

Regangan termal terjadi bila struktur dalam keadaan tak terkekang

Bila struktur diberi kekangan:

11 | F I S I K A T E K N I K
Batang tidak bisa meregang, sehingga timbul tegangan termal

Denganadanyapeningkatantemperatur,makaakanterjadipertambahanpa
njangbatang.PertambahaniniditahankeduatumpuanAdanB,sehinggatim
bulreaksiRAdanRB.
I.PersamaankeseimbanganΣH = 0 ; RA–RB = 0
(persamaan mengandung Struktur statis takn tentu)
II.Persamaan keserasian Berhubung tumpuan tidak bergerak, maka
perubahan panjang batang sama dengan nol

Contoh soal 1:
Luas penampang batang baja adalah 20 cm², angka muai liniernya
adalah 12 x 10ˉ⁶ (c®)⁻¹ dan modulus youngnya 2 x 10¹² dyne/cm².
berapa gaya terkecil untuk menghalangi batang ini untuk memuai bila
mengalami perubahan temperatur dari 20® C ke 40® C ?

12 | F I S I K A T E K N I K
Jawab :
Diketahui :
A= 20 cm² to = 20® C
α = 12 x 10ˉ⁶ (c®)⁻¹ ta = 40® C
Y = 2 x 10¹² dyne/cm²
Ditanya : F yang menghalangi untuk memuai jika temperature
berubah dari 20® C ke 40® C ?
Jawab :
Tegangan yang terjadi adalah 𝐹⁄𝐴 = 𝑌. ∝. ∆𝑡 jadi:
Catatan: ∆𝑡 = 𝑡𝑎 − 𝑡𝑜
𝐹⁄ = 2 x 10¹² dyne/cm² . 12 x 10ˉ⁶ (c®)⁻¹ . (40® C- 20® C)
𝐴
𝐹⁄ = 2 x 10¹² dyne/cm² . 12 x 10ˉ⁶ (c®)⁻¹ . 20® C
𝐴
𝐹⁄ = 24 x 10⁷ dyne/cm²
𝐴
𝐹⁄ = 24 x 10⁷ dyne/cm²
20 cm²
F = 24 x 10⁷ dyne. cm⁻². 20 cm²
F = 28 X 10⁸ Dyne

4. Persamaan Keadaan gas


a. Asumsi Gas ideal
Gas ideal adalah gas yang memenuhi kriteria berikut
Terdiri dari molekul-molekul yang sangat banyak jumlahnya, molekul-molekul
memenuhi hukum Newton tentang gerak sebuah molekul bergarak secara acak
dengan kecepatan tetap. Dalam ruang tiga dimensi sebuah molekul bergerak ke
arah sumbu X,Y dan Z dimana 𝑣𝑥 =𝑣𝑦 = 𝑣𝑧 , molekul-molekul gas tidak
seluruhnya bergerak dengan kecepatan yang sama, molekul-molekul tersebar
merata dalam ruang yang sempit tidak ada gaya tarik menarik atau tolak menolak
antar molekul. Yang ada hanya gaya tumbukan, tumbukan antar molekul atau

13 | F I S I K A T E K N I K
molekul dengan dinding adalah tumbukan lenting sempurna jarak antar molekul
jauh lebih besar daripada ukuran molekul. Dalam keadaan nyata tidak ada gas
ideal tetapi gas mendekati keadaan ideal, jika tekanan sangat rendah dan suhunya
tidak dekat dengan titik cair gas tersebut.
b. Ukuran jumlah molekul dan berat gas
Suatu mol adalah banyaknya zat yang mengandung 6,023x10²³
molekul dimana 𝑁𝐴 = 6,023𝑋1023 adalah bilangan avogadro. Massa atom
atau massa molar (M) adalah massa (gr) dari 1 mol gas dan satuannya
adalah gr/mol atau kg/kmol.
Massa m untuk n mol gas adalah: m= n x m
c. Persaamaan Keadaan Gas
Keadaan makroskropis suatu gas pada ruang tertutup ditentukan oleh
tekanan 𝑃(𝑃𝑎), volume V(𝑚3 ), suhu T(k) dan jumlah molekul n (mol),
berdasakan percobaan dan pengamatan yang dilakukan oleh beberapa
ilmiwan ditentukan Hukum yang menerangkan hubungan variabel
keadaan suatu gas
Hukum Boyle
Jika suhu gas didalam ruang tertutup dijaga tetap(proses isoterm)
maka tekanan gas berbanding terbalik dengan volmenya secara matematis
ditulis
𝑃𝑉 = 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑡𝑎𝑛 atau 𝑃1 𝑉1 = 𝑃2 𝑉2
Hukum Charles
Jika tekanan gas didalam ruang tertutup dijaga tetap (proses isobar)
maka volume gas berbanding lurus dengan suhunya secara matematis
ditulis
𝑉 𝑉1 𝑉2
= 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑡𝑎𝑛 atau =
𝑇 𝑇1 𝑇2

Hukum Gray Lussac

14 | F I S I K A T E K N I K
Jika volume gas didalam ruang tertutup dijaga tetap (proses isokhrik),
maka tekanan gas berbanding lurus dengan suhunya. Secara matematis
ditulis 𝑃 𝑃1 𝑃2
= 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑡𝑎𝑛 atau =
𝑇 𝑇1 𝑇2

Persamaan keadaan gas secara umum adalah PV= nRT


Dimana
P adalah tekanan satuanya 𝑃𝑎
V adalah volume satuannya 𝑚3
T adalah suhu mutlak satuannya K
R adalah konstanta besar dan satuannya 8,314 𝑗𝑜𝑢𝑙𝑒 𝑚𝑜𝑙 −1 𝐾 −1
n adalah jumlah molekul satuannya mol
𝑁
jika N adalah jumlah molekul dalam suatu ruang tertutup maka n=𝑁
𝐴

sehingga,
𝑃𝑉 = 𝑛𝑅𝑇
𝑁
𝑃𝑉 = 𝑇
𝑁𝐴
𝑅
𝑃𝑉 = 𝑁 𝑇
𝑁𝐴
𝑃𝑉 = 𝑁. 𝑘. 𝑇
Dalam bentuk lain persamaan keadaan gas ideal adalah PV=NkT dimana K
adalah konstanta Boltzman besar dan satuannya 1,38𝑋10−23 𝑗𝑜𝑢𝑙𝑒 𝑘 −1
Persamaan keadaan van der Waals
Gas yang mengikuti hukum Boyle dan hukum Charles, yakni hukum gas
ideal (persamaan (6.5)), disebut gas ideal. Namun, didapatkan, bahwa gas yang
kita jumpai, yakni gas nyata, tidak secara ketat mengikuti hukum gas ideal.
Semakin rendah tekanan gas pada temperatur tetap, semakin kecil deviasinya dari
perilaku ideal. Semakin tinggi tekanan gas, atau dengan kata lain, semakin kecil
jarak intermolekulnya, semakin besar deviasinya. Paling tidak ada dua alasan
yang menjelaskan hal ini. Peratama, definisi temperatur absolut didasarkan asumsi
bahwa volume gas real sangat kecil sehingga bisa diabaikan. Molekul gas pasti

15 | F I S I K A T E K N I K
memiliki volume nyata walaupun mungkin sangat kecil. Selain itu, ketika jarak
antarmolekul semakin kecil, beberapa jenis interaksi antarmolekul akan muncul.
Fisikawan Belanda Johannes Diderik van der Waals (1837-1923)
mengusulkan persamaan keadaan gas nyata, yang dinyatakan sebagai persamaan
keadaan van der Waals atau persamaan van der Waals. Ia memodifikasi
persamaan gas ideal (persamaaan 6.5) dengan cara sebagai berikut: dengan
menambahkan koreksi pada P untuk mengkompensasi interaksi antarmolekul;
mengurango dari suku V yang menjelaskan volume real molekul gas. Sehingga
didapat:
[P + (n2a/V2)] (V – nb) = nRT (6.12)
a dan b adalah nilai yang ditentukan secara eksperimen untuk setiap gas
dan disebut dengan tetapan van der Waals (Tabel 6.1). Semakin kecil nilai a dan b
menunjukkan bahwa perilaku gas semakin mendekati perilaku gas ideal. Besarnya
nilai tetapan ini juga berhbungan denagn kemudahan gas tersebut dicairkan. Suatu
sampel 10,0 mol karbon dioksida dimasukkan dalam wadah 20 dm3 dan diuapkan
pada temperatur 47 °C. Hitung tekanan karbon dioksida (a) sebagai gas ideal dan
(b) sebagai gas nyata. Nilai hasil percobaan adalah 82 atm. Bandingkan dengan
nilai yang Anda dapat.
Jawab: Tekanan menurut anggapan gas ideal dan gas nyata adalah sbb:
P = nRT/V = [10,0 (mol) 0,082(dm3 atm mol-1 K-1) 320(K)]/(2,0 dm3) = 131
atm
Nilai yang didapatkan dengan menggunakan persamaan 6.11 adalah 82 atm yang
identik dengan hasil percobaan.
Hasil ini nampaknya menunjukkan bahwa gas polar semacam karbon dioksida
tidak akan berperilaku ideal pada tekanan tinggi.

Gas sempurna
Hubungan antara temperatur, tekanan dan rapat massa semua gas adalah tidak
sederhana. Tetapi untuk kebanyakan gas terdapat hubungan yang pasti dan sifat-
sifat gas semacam inidisebut dengan gas sempurna (ideal).Gas sempurna
didefenisikan sebagai zat yang memenuhi persamaan berikut ini :
P = ρ . R . T 2.22

16 | F I S I K A T E K N I K
Persamaan tersebut dikenal dengan persamaan keadaan gas sempurna. Beberapa
gas nyata mengikuti hukum di atas kecuali pada temperatur dan tekanan sangat
tinggi. Dari persamaan diatas terlihat bahwa perubahan rapat massa zat tergantung
pada perubahan temperatur atau tekanan atau terhadap keduanya. Apabila
perubahan rapat massa zat terjadi pada temperatur konstan maka proses tersebut
dikenal dengan isotermis, dan hubungan antara tekanan dan rapat massa
mempunyai bentuk seperti berikut :
P / ρ = konstan 2.23
Sedangkan jika tekanan konstan, persamaan diatas menjadi :
T . ρ = konstan 2.24
Apabila perubahan rapat massa terjadi tanpa adanya perpindahan panas ke dan
dari gas, maka proses tersebut dikenal dengan adiabatik. Selain itu apabila tidak
terjadi panas yang ditimbulkan di dalam gas karena adanya gesekan, maka dapat
ditunjukkan bahwa hubungan.

5. Permukaan p-V-T dari Gas Ideal

Apabila peubah p, V, T digambarkan pada tiga buah sumbu yang saling


tegak lurus, akan menggambarkan suatu permukaan yang disebut permukaan gas
ideal. Seperti gambar dibawah ini.

 Pada proses isoterm

Pv = RT =Konstan
Sering disebut sebagai “Hukum Boyle”
P1 V1 = P2 V2

17 | F I S I K A T E K N I K
 Pada proses isovolume
p2 𝑛𝑅
𝑝= 𝑇 = 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑡𝑎𝑛 × 𝑇
𝑉
Sering disebut sebagai “Hukum Gay Lussac”

p1 P1 / T1 = P2 / T 2

 Pada proses isobaris


𝑛𝑅
𝑉= 𝑇 = 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑡𝑎𝑛 × 𝑇
𝑝
Sering disebut sebagai “Hukum Charles”
V1 / T1 = V2 / T2

V1 V2
Gas sempurna memiliki tekanan 1 atsmosfer, suhu 0ºC. Harga bilangan R
bergantung pada satuan p, v, n dan T
𝑃. 𝑉
𝑅= → 𝑃. 𝑉 = 𝑛. 𝑅. 𝑇
𝑛. 𝑇
𝑅 = 8,3149 × 107 𝑒𝑟𝑔. 𝑚𝑜𝑙 −1 °𝐾 −1
1 𝐽𝑜𝑢𝑙𝑒 = 107

Permukaan p-V-T dari zat riil atau nyata


Untuk zat riil, fase gas hanya ada pada temperatur yang cukup tinggi dan
tekanan rendah. Diasumsikan gambar sebagai berikut.
 Temperatur rendah

18 | F I S I K A T E K N I K
 Temperatur tinggi

 Persamaan keadaan Van Der Walls


Fisikawan Belanda Johannes Diderik van der Waals (1837-1923)
mengusulkan persamaan keadaan gas nyata, yang dinyatakan sebagai persamaan
keadaan van der Waals. Persamaan ini adalah modifikasi persamaan gas ideal
dengan cara menambahkan koreksi pada P untuk mengkompensasi interaksi
antarmolekul; mengurangi dari suku V yang menjelaskan volume real molekul
gas. Menurut persamaan:
[P + (n2a/V2)] (V - nb) = nRT
Keterangan :
 a dan b adalah nilai yang ditentukan secara eksperimen untuk setiap gas
dan disebut dengan tetapan van der Waals.
 Semakin kecil nilai a dan b menunjukkan bahwa perilaku gas semakin
mendekati perilaku gas ideal.
Gas ideal dan nyata/riil memililki perbedaan sebagai berikut.

Sifat Gas ideal Gas nyata

Volume Volume molekul gas diabaikan Volume molekul gas


sejati ada
Interaksi Tidak terdapat interaksi antar Terdapat interaksi antar
molekul gas molekul gas
Fase Selalu dalam fase gas Dapat menjadi cair dan
padat (titik kritis)
Persamaan Persamaan gas ideal Persamaan keadaan

19 | F I S I K A T E K N I K
Van der waals

Deviasi Tidak terjadi penyimpangan Penyimpangan terjadi


karena P  T (sebanding) pada P tinggi dan T
rendah

6. Titik Kritis dan Titik Triple dalam Konsep Sifat Thermal Materi
a. Titik Kritis pada Konsep Sifat Thermal Materi
Jika suatu gas ideal dimampatkan secar isothermik maka gas itu akan tetap berupa
gas walau bagaimapun besar tekanan yang dikerjakan. Volum ga terssebut akan
terus menerus menyusut bila tekanannya ditambah sesuai dengan hukum boyle ( p
. V = C ). Akan tetapi untuk gas riil (gas sejati) akan menjadikan cair bila
tekanannya diperbesar sedemikian, asalkan temperaturnya di bawah suatu
temperature tertentu yang disebut temperature kritis gas tersebut.
Untuk suatu macam gas riil tertentu akan mempunyai temperatur batas
tertentu, dimana di atas temperatur batas ini gas sudah tidak mungkin lagi bisa
mencair. Temperatur batas ini disebut temperature kritik, sedangkan titik dimana
fase gas dan cair bersamaan dalam keadaan setimbang disebut titik kritis (Kr) (
Suparto, 1974: 179). Volume dan tekanan yang berhubungan dengan titik kritis ini
masing-masing disebut volume kritik dan tekanan kritik gas tersebut.
Keadaan gas yang masih di bawah temperature kritik biasanya dalam
keadaa masih menjadi uap. Sedangkan bila gas dan zat cairnya dalam keadaan
bersama atau dalam keadaan setimbang, disebut uap jenuh. Adapun tekanan pada
uap jenuh ini disebut dengan tekanan uap jenuh atau tekanan maksimum Uap
tersebut untuk temperature tertentu. Disebut tekanan maksimal karena temperatur
itu dalam penyusutan volume tidak mengakibatkan kenaikan tekanan, akan tetapi
dipergunakan untuk mengubah uap gas tersebut berubah menjadi zat cair.

b. Titik Triple pada Konsep Sifat Thermal Materi

Telah disebutkan di atas bahwa suatu zat cair mempunyai tekanan uap yang
tertentu yang besarnya tergantung pada temperaturnya. Ini berarti bahwa zat cair
tersebut akan menguap pada temperatur kamar, asalkan ada kesempatan bagi
uapnya untuk pergi meninggalkan permukaan zat cair tersebut.

20 | F I S I K A T E K N I K
Dalam termodinamika, titik tripel sebuah zat merupakan temperatur dan
tekanan di mana ketiga-tiga fase (gas, cair, dan padat) zat tersebut berada dalam
keadaan kesetimbangan termodinamika. Sebagai contoh, titik tripel raksa terdapat
pada suhu −38,8344 °C dan tekanan 0,2 mPa (Wikipedia, 2015)

Selain titik tripel antara zat padat, cair, dan gas, terdapat pula titik-titik tripel
yang melibatkan lebih dari satu fase padat untuk zat yang memiliki banyak
polimorf. Helium-4 merupakan contoh kasus khusus di mana titik tripelnya
melibatkan dua fase cair yang berbeda (lihat pula titik lambda). Secara umum,
sebuah sistem dengan kemungkinan jumlah fase p, terdapat titik tripel.

Titik tripel air digunakan untuk mendefinisikan Kelvin, satuan SI untuk


temperatur termodinamika. Angka yang diberikan untuk temperatur titik tripel air
adalah definisi eksak dan bukanlah hasil pengukuran. Titik tripel beberapa zat
digunakan sebagai titik acuan pada skala temperatur internasional ITS-90,
berkisar dari titik tripel hidrogen (13,8033 K) sampai dengan titik tripel air
(273,16 K).

Berikut tabel yang menunjukkan temperature kritik, tekanan kritik dan volume
kritik.

Nama Gas t- kritik p- kritik v- kritik


Amoniak 132º C 112 atm 4,25 cc/gr
Argon -122º C 48 atm 1,88 cc/gr
Karbon dioksida 31º C 73 atm 2,17 cc/gr
Helium -268º C 2,26 atm 14,4 cc/gr
Hidrogen -240º C 12,8 atm 32,3 cc/gr
Gas Zat Asam -119º C 49,7 atm 2,33 cc/gr
Belerang 157º C 77,7 atm 1,92 cc/gr
Air 374º C 218 atm 3,14 cc/gr

21 | F I S I K A T E K N I K
Diagram titik triple

Kombinasi tunggal antara tekanan dan temperatur di mana air, es, dan uap air
dapat berada bersama-sama dalam keadaan kesetimbangan yang stabil adalah
tepat 273,16 K (0,01 °C) dan tekanan parsial 611,73 pascal (sekitar
6,1173 milibar, 0,0060373057 atm). Pada titik tersebut, adalah mungkin untuk
mengubah semua zat menjadi es, air, atau uap air hanya dengan membuat
perubahan yang cukup kecil pada tekanan dan suhu sistem. Perlu diperhatikan
bahwa, bahkan jika tekanan total sistem di atas 611,73 pascal, apabila tekanan uap
air tetap 611,73 pascal, kita masih dapat membuat air berada dalam titik tripel.

Air memiliki diagram fase yang tidak wajar dan kompleks, walaupun hal ini tidak
memengaruhi pembahasan titik tripelnya. Pada temperatur yang tinggi,
penambahan tekanan akan menghasilkan zat cair terlebih dahulu, barulah
kemudian zat padat. (Di atas 109 Pa bentuk kristal es yang terbentuk lebih padat
daripada zat cair.) Pada temperatur yang rendah dan kompresi, fase cair
menghilang, dan air akan langsung berubah dari gas menjadi padat.

Pada tekanan konstan di atas titik tripel, pemanasan es akan menyebabkannya


berubah dari bentuk pada menjadi cair, kemudian gas (atau uap). Pada tekanan di
bawah titik tripel (biasa terjadi pada luar angkasa), bentuk cair air tidak akan ada,
sehingga ketika dipanaskan, es akan langsung menyublim menjadi gas.

22 | F I S I K A T E K N I K
Tabel yang menunjukkan titik triple temperatur dan titik triple tekananan

7. Pengaruh Zat Terhadap Titik Didih dan Titik Beku

Titik didih adalah suhu (temperatur) ketika tekanan uap sebuah zat cair sama
dengan tekanan eksternal yang dialami oleh cairan. Sebuah cairan di dalam
vacuum akan memiliki titik didih yang rendah dibandingkan jika cairan itu berada
di dalam tekanan atmosfer. Cairan yang berada di dalam tekanan tinggi akan
memiliki titik didih lebih tinggi jika dibandingkan dari titik didihnya di dalam
tekanan atmosfer.
Titik didih normal (juga disebut titik didih atmospheris) dari sebuah cairan
merupakan kasus istimewa ketika tekanan uap cairan sama dengan tekanan
atmosfer di permukaan laut, satu atmosphere. Pada suhu ini, tekanan uap cairan
bisa mengatasi tekanan atmosfer dan membentuk gelembung di dalam massa cair.
Pada saat ini (per 1982) Standar Titik Didih yang ditetapkan oleh IUPAC adalah
suhu ketika pendidihan terjadi pada tekanan 1 bar.
Pada tekanan dan temperatur udara standar (76 cmHg, 25 °C) titik didih air
sebesar 100 °C.

Saturation Temperature

23 | F I S I K A T E K N I K
Jika 'heat of vaporization' dan tekanan uap dari sebuah cairan pada temperatur
tertentu diketahui, maka titik didih normal bisa dikalkulasi dengan menggunakan
persamaan Clausius-Clapeyron :

where:

= the normal boiling point, K

= the ideal gas constant, 8.314 J · K-1 · mol-1

= is the vapor pressure at a given temperature, kPa

= atmospheric pressure, kPa

= the heat of vaporization of the liquid, J/mol

= the given temperature, K

= the natural logarithm to the base e

8. Kelembaban
Kelembapan adalah konsentrasi uap air di udara. Angka konsentasi ini
dapat diekspresikan dalam kelembapan absolut, kelembapan spesifik atau
kelembapan relatif (Wikipedia, 2015). Alat untuk mengukur kelembapan disebut
higrometer. Sebuah humidistat digunakan untuk mengatur tingkat kelembapan
udara dalam sebuah bangunan dengan sebuah pengawalembap (dehumidifier).
Dapat dianalogikan dengan sebuah termometer dan termostat untuk suhu udara.
Perubahan tekanan sebagian uap air di udara berhubungan dengan perubahan
suhu. Konsentrasi air di udara pada tingkat permukaan laut dapat mencapai 3%
pada 30 °C (86 °F), dan tidak melebihi 0,5% pada 0 °C (32 °F).

24 | F I S I K A T E K N I K
Macam–macam kelembapan
Kelembaban Relatif (Relative Humidity, RH)
Perbandingan tekanan uap air terhadap tekanan uap air jenuh pada suhu konstan.
Kelembaban relatif merupakan hasil perbandingan antara massa aktual uap air
dari campuran udara terhadap massa uap air yang menjadi jenuh pada suhu
konstan yang dinyatakan dalam satuan persen. Pendugaan kelembaban relatif
dapat didekati dengan persamaan .

Keterangan :
RH = kelembaban relatif (%)
Pv = tekanan uap air (kPa)
Pvs = tekanan uap air jenuh (kPa)
Kelembaban Mutlak (Humidity Ratio, W)
Massa uap air (mu) yang terkandung dalam udara lembab per-satuan massa udara
kering (ma) yang dapat didekati dengan persamaan berikut (Zain et al.., 2005):

25 | F I S I K A T E K N I K
Keterangan :
W = kelembaban mutlak (kg/kg udara kering)
Pv = tekanan parsial uap air (kPa)
Pvs = tekanan uap jenuh (kPa)
Selain dengan metode persamaan, sifat-sifat termodinamika udara juga dapat
dicari dengan diagram psikrometrik (Gambar 1). Diagram psikrometrik adalah
suatu pendekatan terhadap sifat-sifat termodinamika udara melalui bentuk grafis.
Untuk menentukan sifat-sifat termodinamika udara menggunakan diagram
psikrometrik, minimal dua parameter harus diketahui. Aplikasi metode ini relatif
mudah dan sederhana, namun metode ini memiliki kekurangan yaitu pemetaan
secara manual menyebabkan terjadinya salah pembacaan (paralaks). Seiring
dengan kemajuan teknologi, saat ini diagram psikrometrik tak terbatas pada
selembar kertas, tapi sudah banyak bermunculan software yang memiliki prinsip
yang sama.

Gambar 1 Diagram Psikrometrik


Psikrometrik merupakan kajian tentang sifat-sifat campuran udara dan uap air.
Psikrometrik mempunyai arti penting dalam pengkondisian udara atau penyegaran
udara karena atmosfir merupakan campuran antara udara dan uap air (Yani, 2007).

26 | F I S I K A T E K N I K
Selain untuk mengetahui sifat-sifat termodinamika udara, diagram psikrometrik
juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi proses fisik yang terjadi di
lingkungan.

27 | F I S I K A T E K N I K
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah dipaparkan di atas, maka dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut. Dalam memahami tentang suhu dan pemuaian serta
sifat thermal materi yang memiliki beberapa subbab maka tidak lepas terhadap
penerapannya dikehidupan sehari-hari selain menerapkannya ke dalam soal-soal
fisika pada umumnya.
Saran
Berdasarkan kesimpulan yang telah dipaparkan di atas, maka dapat ditulis
beberapa saran sebagai berikut. Ilmu fisika tentang suhu dan pemuaian serta sifat
thermal materi harusnya lebih dapat diterpakan ke dalam kehidupan sehari-hari
yang digunakan sebagai pemecahan masalah yang ada.

28 | F I S I K A T E K N I K
DAFTAR RUJUKAN
Suparto, Hadi. 1974. Fisika Dasar 1. Malang: IKIP Malang
Wikipedia. 2015. Persamaan Keadaan. (Online),
(https://id.wikipedia.org/wiki/Persamaan_keadaan#Hukum_gas_ideal_k
lasik), diakses 18 November 2015.
Bangun, Egen Ardyansah. 2015. Gas Semurna. (Online),
(http://documents.tips/documents/gas-sempurna.html), diakses 18
November 2015.
Yunita. 2011. Hukum Gas Ideal. (Online),
(https://yunitasa.wordpress.com/2011/04/14/hukum-gas-ideal) Diakses,
14 April 2011
Anonim. 2015. Titik Triple, (online),(https://id.wikipedia.org/wiki/Titik_tripel)
diakses 30 november 215
Prakoso. 2012. Thermometer, (online,(http://prasko17.blogspot.co.id
/2012/05/pengertian-termometer-dan-jenis.htm) diakses 01 desember
2015
Zella. 2013. pengaruh zat terlarut terhadap titik beku dan didih. (Online)
(http://montzella.blogspot.co.id/2013/09/turun-titik-beku.html),
diakses 30 November2015.
Wikipedia. 2012. sifat-sifat termodika udara. (Online)
(https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Relative_humidity.jpg),
Diakses 1 Desember 2015.
Alleson. 2008. Pemuaian pada Zat Padat, cair, dan gas , (online),
(https://alllessonhere.wordpress.com/fisika/kelas-7/pemuaian-pada-zat-
padat-cair-dan-gas/Pemuaian pada zat padat, cair dan gas) diakses 01
Desember 2015

29 | F I S I K A T E K N I K