Anda di halaman 1dari 4

Hordeolum

No. Dokumen :
S
No. Revisi :
O
TanggalTerbit : /6/2017
P
Halaman : ¼
PUSKESMAS dr.Maria I. Husni
ALAK Nip: 19610121 198802 2 001
1. Pengertian Peradangan supuratif kelenjar kelopak mata. Biasanya
merupakan infeksi Staphylococcus pada kelenjar sebasea
kelopak. Dikenal dua bentuk hordeolum internum dan
eksternum.
2. Tujuan Dapat menangani hordeolum pada pelayanan primer.
3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas Alak nomor xxxx tentang hordeolum.
4. Referensi PERMENKES No 5 Tahun 2014 tentang Panduan Praktik
Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer.
5. Prosedur a. Alat :
a. Pen Light
6. Langkah 1. Melakukan Anamnesa (Subjective)
-
a. kelopak mata bengkak disertai rasa sakit.
Langkah
b. Rasa mengganjal dan merah
c. Nyeri bila kelopak mata ditekan serta perasaan tidak
nyaman
d. sensasi terbakar pada kelopak mata

Faktor Risiko
1. Higiene personal yang buruk

2. Melakukan Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang


Sederhana (Objective)
a. kelopak mata bengkak, merah, dan nyeri pada
perabaan.
b. Nanah dapat keluar dari pangkal rambut (hordeolum
eksternum).
c. Apabila terjadi abses dapat timbul undulasi.

3. Penegakkan Diagnosa (Assessment)


Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang bila
diperlukan.

Diagnosis Banding:
1. Selulitis preseptal
2. Kalazion
3. Granuloma piogenik

Komplikasi
a. Abses palpebra
b. Selulitis palpebra

4. Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)


 Mata dikompres hangat 4-6 kali sehari selama
15 menit.
 Kelopak mata dibersihkan dengan air bersih
atau pun dengan sabun atau sampo yang tidak
menimbulkan iritasi, seperti sabun bayi.
Tindakan dilakukan dengan mata tertutup.
 Jangan menekan atau menusuk hordeolum, hal
ini dapat menimbulkan infeksi yang lebih
serius.
 Hindari pemakaian make-up pada mata, karena
kemungkinan hal itu menjadi penyebab infeksi.
 Jangan memakai lensa kontak karena dapat
menyebarkan infeksi ke kornea.
 Pemberian terapi topikal dengan Oxytetrasiklin
salep mata atau kloramfenikol salep mata
setiap 8 jam. atau kloramfenikol tetes mata
sebanyak 1 tetes tiap 2 jam.
 Pemberian terapi oral sistemik dengan
eritromisin 500 mg pada dewasa dan anak
sesuai dengan berat badan selama 3 hari.

Konseling dan Edukasi


Memberitahu pasien dan keluarga untuk:
a. Hordeolum dapat berulang, karena itu harus dijaga
kebersihan tangan.
b. Menjaga kebersihan lingkungan rumah dan sekitar.

Kriteria Rujukan
1. Hordeolum berulang.
2. Bila tidak ada respon perbaikan terhadap pengobatan
yang diberikan.

7. Unit Terkait 1. Poli MTBS


2. Poli Dewasa
3. Poli Lansia