Anda di halaman 1dari 23

REFERAT BEDAH

LUKA BAKAR

Diajukan guna melengkapi tugas Kepaniteraan Senior Bagian Ilmu Bedah Fakultas
Kedokteran Universitas Diponegoro

Disusun oleh:
TIKA FATIKHAH
22010116210046

Pembimbing:
dr. Muryanto, Msi. Med, Sp.B

KEPANITERAAN SENIOR ILMU BEDAH


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2018

1
BAB I

PENDAHULUAN

Luka bakar adalah suatu trauma yang disebabkan oleh panas, arus listrik, bahan
kimia, maupun radiasi yang mengenai kulit, mukosa dan jaringan yang lebih dalam.1 Luka
bakar dapat berpotensi menyebabkan kematian dan menyebabkan cedera sepanjang hidup
pada pasien yang terkena luka bakar. Hal ini disebabkan karena pada luka bakar terdapat
keadaan sebagai berikut: terdapat kuman dengan patogenitas tinggi, terdapat banyak jaringan
mati, mengeluarkan banyak air, serum dan darah, terbuka untuk waktu yang lama (mudah
terinfeksi dan terkena trauma), dan memerlukan jaringan untuk menutup. Manifestasi klinis
secara umum yang dialami oleh pasien luka bakar meliputi nyeri, pembengkakan, dan
lepuhan.2

Pada tahun 2014, World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa terdapat
265.000 kematian yang terjadi setiap tahunnya di seluruh dunia akibat luka bakar.3 Di
Indonesia, prevalensi luka bakar pada tahun 2013 adalah sebesar 0.7% dan telah mengalami
penurunan sebesar 1.5% dibandingkan pada tahun 2008 (2.2%). Provinsi dengan prevalensi
tertinggi adalah Papua (2.0%) dan Bangka Belitung (1.4%).4 Data epidemiologi dari unit luka
bakar RSCM pada tahun 2011-2012 melaporkan jumlah pasien luka bakar sebanyak 257
pasien. Rasio laki- laki : perempuan adalah 2,7 : 1. Luka bakar api adalah etiologi terbanyak
(54,9 %), diikuti air panas (29,2%), luka bakar listrik (12,8%), dan luka bakar kimia (3,1%).
Rerata luas luka bakar adalah 26%, dengan rerata lama perawatan adalah 13,2 hari. Angka
mortalitas sebanyak 36,6% pada pasien dengan rerata luas luka bakar 44,5%, dengan luas
luka bakar > 60 % semuanya mengalami kematian.2

Luka bakar merupakan suatu jenis trauma dengan morbiditas dan mortalitas yang
tinggi yang memerlukan penatalaksanaan khusus sejak awal sampai fase lanjut. Luka bakar
juga dapat menyebabkan koagulasi nekrosis pada kulit dan terpaparnya jaringan hingga
lapisan dalam, termasuk efek terhadap sistem organ lainnya.5

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Histologi Kulit


Kulit adalah organ tubuh terluas yang menutupi otot dan mempunyai peranan dalam
homeostasis. Kulit merupakan organ terberat dan terbesar dari tubuh. Seluruh kulit beratnya
sekitar 16 % berat tubuh, pada orang dewasa sekitar 2,7 – 3,6 kg dan luasnya sekitar 1,5 – 1,9
meter persegi. Tebalnya kulit bervariasi mulai 0,5 mm sampai 6 mm tergantung dari letak,
umur dan jenis kelamin. Kulit tipis terletak pada kelopak mata, penis, labium minus dan kulit
bagian medial lengan atas. Sedangkan kulit tebal terdapat pada telapak tangan, telapak kaki,
punggung, bahu dan bokong. Secara embriologis kulit berasal dari dua lapis yang berbeda,
lapisan luar adalah epidermis yang merupakan lapisan epitel berasal dari ektoderm sedangkan
lapisan dalam yang berasal dari mesoderm adalah dermis atau korium yang merupakan suatu
lapisan jaringan ikat.6,7

2.1.1 Epidermis

Epidermis adalah lapisan luar kulit yang tipis dan avaskuler. Terdiri dari epitel
berlapis gepeng bertanduk, mengandung sel melanosit, Langerhans dan Merkel.
Tebal epidermis berbeda-beda pada berbagai tempat di tubuh, paling tebal pada telapak
tangan dan kaki. Ketebalan epidermis hanya sekitar 5 % dari seluruh ketebalan kulit. Terjadi
regenerasi setiap 4-6 minggu. Fungsi epidermis meliputi barier proteksi, organisasi sel,
sintesis vitamin D dan sitokin, pembelahan dan mobilisasi sel, pigmentasi (melanosit) dan
pengenalan alergen (sel Langerhans). Epidermis terdiri atas lima lapisan (dari lapisan yang
paling atas sampai yang terdalam) :
1. Stratum Korneum : Terdiri dari sel keratinosit yang bisa mengelupas dan berganti.
2. Stratum Lusidum : Berupa garis translusen, biasanya terdapat pada kulit tebal telapak kaki
dan telapak tangan. Tidak tampak pada kulit tipis.
3. Stratum Granulosum : Ditandai oleh 3-5 lapis sel polygonal gepeng yang intinya ditengah
dan sitoplasma terisi oleh granula basofilik kasar yang dinamakan granula keratohialin
yang mengandung protein kaya akan histidin. Terdapat sel Langerhans.
4. Stratum Spinosum : Terdapat berkas-berkas filament yang dinamakan tonofibril, dianggap
filamen-filamen tersebut memegang peranan penting untuk mempertahankan kohesi sel

3
dan melindungi terhadap efek abrasi. Epidermis pada tempat yang terus mengalami
gesekan dan tekanan mempunyai stratum spinosum dengan lebih banyak tonofibril.
Stratum basale dan stratum spinosum disebut sebagai lapisan Malfigi. Terdapat sel
Langerhans.
5. Stratum Basale (Stratum Germinativum) : Terdapat aktifitas mitosis yang hebat dan
bertanggung jawab dalam pembaharuan sel epidermis secara konstan. Epidermis
diperbaharui setiap 28 hari untuk migrasi ke permukaan, hal ini tergantung letak, usia dan
faktor lain. Merupakan satu lapis sel yang mengandung melanosit.6,7

2.1.2 Dermis
Terdiri atas jaringan ikat yang menyokong epidermis dan menghubungkannya
dengan jaringan subkutis. Tebalnya bervariasi, yang paling tebal pada telapak kaki sekitar 3
mm. Dermis terdiri dari dua lapisan :
 Lapisan papiler: tipis, mengandung jaringan ikat jarang.
 Lapisan retikuler: tebal, terdiri dari jaringan ikat padat.
Serabut-serabut kolagen menebal dan sintesa kolagen berkurang dengan
bertambahnya usia. Serabut elastin jumlahnya terus meningkat dan menebal, kandungan
elastin kulit manusia meningkat kira-kira 5 kali dari fetus sampai dewasa. Pada usia lanjut
kolagen saling bersilangan dalam jumlah besar dan serabut elastin berkurang. Hal ini
menyebabkan kulit terjadi kehilangan kelemasannya dan tampak mempunyai banyak keriput.
Dermis mempunyai banyak jaringan pembuluh darah. Dermis juga mengandung beberapa
derivat epidermis yaitu folikel rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar keringat. Kualitas kulit
tergantung banyak tidaknya derivat epidermis di dalam dermis. Fungsi dermis adalah sebagai
struktur penunjang, mechanical strength, suplai nutrisi, menahan shearing forces dan respon
inflamasi.6,7

2.1.3 Subkutis
Merupakan lapisan di bawah dermis atau hipodermis yang terdiri dari lapisan lemak.
Lapisan ini terdapat jaringan ikat yang menghubungkan kulit secara longgar dengan jaringan
di bawahnya. Jumlah dan ukurannya berbeda-beda menurut daerah di tubuh dan keadaan
nutrisi individu. Berfungsi menunjang suplai darah ke dermis untuk regenerasi.
Fungsi Subkutis / hipodermis adalah perlekatan ke struktur dasar, isolasi panas,
cadangan kalori, kontrol bentuk tubuh dan mechanical shock absorber .6,7

4
Gambar 1. Anatomi Kulit

2.2 Luka Bakar

2.2.1 Definisi

Luka bakar (combustio/burn) adalah cedera (injuri) sebagai akibat kontak langsung
atau terpapar dengan sumber-sumber panas (thermal), listrik (electrict), zat kimia (chemical),
atau radiasi (radiation).1

2.2.2 Epidemiologi
Menurut the National Institutes of General Medical Sciences, sekitar 1,1 juta luka-
luka bakar membutuhkan perawatan medis setiap tahun di Amerika Serikat. Di antara
mereka yang terluka, sekitar 50.000 memerlukan rawat inap dan sekitar 4.500 meninggal
setiap tahun dari luka bakar. Ketahanan hidup setelah cedera luka bakar telah meningkat
pesat selama abad kedua puluh. Perbaikan resusitasi, pengenalan agen antimikroba topikal
dan, yang lebih penting, praktek eksisi dini luka bakar memberikan kontribusi terhadap hasil
yang lebih baik.8
Pada tahun 2014, World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa terdapat
265.000 kematian yang terjadi setiap tahunnya di seluruh dunia akibat luka bakar.3 Di India,
sekitar 2,4 juta luka bakar dilaporkan per tahun. Sekitar 650.000 dari cedera ditangani oleh
pusat-pusat perawatan luka bakar, 75.000 dirawat di rumah sakit. Dari mereka yang dirawat
di rumah sakit, 20.000 yang mengalami luka bakar besar telah melibatkan paling sedikit 25%

5
dari total permukaan tubuh mereka. Antara 8.000 dan 12.000 pasien dengan luka bakar
meninggal, dan sekitar satu juta akan mempertahankan cacat substansial atau permanen yang
dihasilkan dari luka bakar mereka.8
Di Indonesia, prevalensi luka bakar pada tahun 2013 adalah sebesar 0.7% dan telah
mengalami penurunan sebesar 1.5% dibandingkan pada tahun 2008 (2.2%). Provinsi dengan
prevalensi tertinggi adalah Papua (2.0%) dan Bangka Belitung (1.4%).4 Angka mortalitas
penderita luka bakar di Indonesia masih cukup tinggi. Data epidemiologi dari unit luka bakar
RSCM pada tahun 2011-2012 melaporkan jumlah pasien luka bakar sebanyak 257 pasien,
dengan rerata usia adalah 28 tahun) dan rasio laki- laki : perempuan adalah 2,7 : 1. Luka
bakar api adalah etiologi terbanyak (54,9 %), diikuti air panas (29,2%), luka bakar listrik
(12,8%), dan luka bakar kimia (3,1%). Rerata luas luka bakar adalah 26% dan rerata lama
rawatan adalah 13,2 hari. Angka mortalitas sebanyak 36,6% pada pasien dengan rerata luas
luka bakar 44,5%, dengan luas luka bakar > 60 % semuanya mengalami kematian.2

2.2.3 Klasifikasi
Luka bakar dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa hal, antara lain: penyebab,
luasnya luka, dan keparahan luka bakar.
a. Klasifikasi Berdasarkan Mekanisme dan Penyebab
 Luka Bakar Termal
Luka bakar thermal (panas) disebabkan oleh karena terpapar atau kontak dengan api,
cairan panas atau objek-objek panas lainnya.
 Luka Bakar Kimia
Luka bakar chemical (kimia) disebabkan oleh kontaknya jaringan kulit dengan asam
atau basa kuat. Konsentrasi zat kimia, lamanya kontak dan banyaknya jaringan yang
terpapar menentukan luasnya injuri karena zat kimia ini. Luka bakar kimia dapat
terjadi misalnya karena kontak dengan zat – zat pembersih yang sering dipergunakan
untuk keperluan rumah tangga dan berbagai zat kimia yang digunakan dalam bidang
industri, pertanian dan militer. Lebih dari 25.000 produk zat kimia diketahui dapat
menyebabkan luka bakar kimia.
 Luka Bakar Elektrik
Luka bakar elektrik (listrik) disebabkan oleh panas yang digerakan dari energi listrik
yang dihantarkan melalui tubuh. Berat ringannya luka dipengaruhi oleh lamanya
kontak, tingginya voltage dan cara gelombang elektrik itu sampai mengenai tubuh.

6
 Luka Bakar Radiasi
Luka bakar radiasi disebabkan oleh terpapar dengan sumber radioaktif. Tipe injuri ini
seringkali berhubungan dengan penggunaan radiasi ion pada industri atau dari sumber
radiasi untuk keperluan terapeutik pada dunia kedokteran. Terbakar oleh sinar
matahari akibat terpapar yang terlalu lama juga merupakan salah satu tipe luka bakar
radiasi.1
b. Klasifikasi Berdasarkan Kedalaman Luka Bakar

c. Klasifikasi Berdasarkan Luas Luka


Sedangkan berdasarkan luas lesi dapat diklasifikasikan menjadi 3 yakni:
1. Luka Bakar Ringan.
- Luka bakar derajat II <15 %
- Luka bakar derajat II < 10 % pada anak – anak
- Luka bakar derajat III < 2 %
2. Luka bakar sedang
- Luka bakar derajat II 15-25 % pada orang dewasa
- Luka bakar derajat II 10 – 20% pada anak – anak
- Luka bakar derajat III < 10 %
3. Luka bakar berat
- Luka bakar derajat II 25 % atau lebih pada orang dewasa
- Luka bakar derajat II 20 % atau lebih pada anak – anak.
- Luka bakar derajat III 10 % atau lebih
- Luka bakar mengenai tangan, wajah, telinga, mata, kaki dan genitalia/perineum.
- Luka bakar dengan cedera inhalasi, listrik, disertai trauma lain.6,10,11

7
Untuk menilai luas luka menggunakan metode “Rule of Nine” berdasarkan LPTT
(Luas Permukaan Tubuh Total). Luas luka bakar ditentukan untuk menentukan kebutuhan
cairan, dosis obat dan prognosis. Persentase pada orang dewasa dan anak-anak berbeda. Pada
dewasa, kepala memiliki nilai 9% dan untuk ektremitas atas memiliki nilai masing-masing
9%. Untuk bagian tubuh anterior dan posterior serta ekstremitas bawah memiliki nilai
masing-masing 18%, yang termasuk adalah toraks, abdomen dan punggung. Serta alat genital
1%. Sedangkan pada anak-anak persentasenya berbeda pada kepala memiliki nilai 18% dan
ektremitas bawah 14%.12

Gambar 3. Rule of Nine

Gambar 3. Rule of Nine

2.2.4 Fase Luka Bakar

Berdasarkan perjalanan penyakitnya, luka bakar dibagi menjadi fase akut, fase
subakut dan fase lanjut.

a. Fase akut
Pada fase ini, terjadi gangguan keseimbangan sirkulasi cairan dan elektrolit akibat
cedera termis bersifat sistemik yang dapat mengakibatkan terjadinya syok
hipovolemik.

8
b. Fase sub akut
Fase ini berlangsung setelah syok berakhir yang ditandai dengan keadaan
hipermetabolisme, infeksi hingga sepsis serta inflamasi dalam bentuk SIRS
(Systemic Inflamatory Respon Syndrome). Luka terbuka akibat kerusakan
jaringan (kulit dan jaringan di bawahnya) menimbulkan inflamasi, sepsis dan
penguapan cairan tubuh disertai panas/energi. Masalah yang terjadi adalah
kerusakan atau kehilangan jaringan akibat kontak denga sumber panas. Luka yang
terjadi menyebabkan proses inflamasi dan infeksi, problem penutupan luka pada
luka telanjang atau tidak berepitel luas dan atau pada struktur atau organ – organ
fungsional, dan keadaan hipermetabolisme.
c. Fase lanjut
Fase ini berlangsung setelah fase subakut hingga pasien sembuh. Penyulit pada
fase ini adalah parut yang hipertrofik, keloid, gangguan pigmentasi, deformitas
dan timbulnya kontraktur.7,13

2.2.5 Patofisiologi

Luka bakar disebabkan oleh perpindahan energi dari sumber panas ke tubuh. Panas
tersebut dapat dipindahkan melalui konduksi atau radiasi elektromagnetik. Perubahan
patofisiologik yang terjadi pada kulit segera setelah luka bakar tergantung pada luas dan
ukuran luka bakar. Untuk luka bakar yang kecil (smaller burns), respon tubuh bersifat lokal
yaitu terbatas pada area yang mengalami injuri. Sedangkan pada luka bakar yang lebih luas
misalnya 25 % dari total permukaan tubuh (TBSA : total body surface area) atau lebih besar,
maka respon tubuh terhadap injuri dapat bersifat sistemik dan sesuai dengan luasnya injuri.
Segera setelah injuri luka bakar, dilepaskan substansi vasoaktif (catecholamine,
histamin, serotonin, leukotrienes, dan prostaglandin) dari jaringan yang mengalami injuri.
Substansi – substansi ini menyebabkan meningkatnya permeabilitas kapiler sehingga plasma
merembes kedalam sekitar jaringan. Secara keseluruhan akan menimbulkan tingginya
tekanan osmotik yang menyebabkan meningkatnya cairan intracellular dan interstitial dan
yang dalam keadaan lebih lanjut menyebabkan kekurangan volume cairan intravaskuler.
Luka bakar yang luas menyebabkan edema tubuh general baik pada area yang mengalami
luka maupun jaringan yang tidak mengalami luka bakar dan terjadi penurunan sirkulasi
volume darah intravaskuler. Disamping itu pengeluaran cairan secara evaporasi melalui luka
terjadi 4-20 kali lebih besar dari normal. Sedangkan pengeluaran cairan yang normal pada
orang dewasa dengan suhu tubuh normal perhari adalah 350 ml.1

9
Apabila hal ini terjadi terus menerus dapat mengakibatkan syok hipovolemik dan
hemokonsentrasi yang mengakibatkan terjadinya gangguan perfusi jaringan. Apabila sudah
terjadi gangguan perkusi jaringan maka akan mengakibatkan gangguan sirkulasi makro yang
menyuplai sirkulasi orang-organ organ penting seperti : otak, kardiovaskuler, hepar, traktus
gastrointestinal, traktus urinarius dan neurologi yang dapat mengakibatkan kegagalan organ
multi sistem.
Sebagai contoh, saat perfusi jaringan menurun, terjadi penurunan darah ke ginjal dan
menurunnya GFR (glomerular filtration rate), yang menyebabkan oliguri. Aliran darah
menuju usus juga berkurang, yang pada akhirnya dapat terjadi ileus intestinal dan disfungsi
gastrointestinal pada pasien dengan luka bakar yang lebih dari 25 %.
Fungsi sistem immune mengalami depresi. Depresi pada aktivitas lymphocyte, suatu
penurunan dalam produksi immunoglobulin, supresi aktivitas complement dan
perubahan/gangguan pada fungsi neutropil dan macrophage dapat terjadi pada pasien yang
mengalami luka bakar yang luas. Perubahan-perubahan ini meningkatkan resiko terjadinya
infeksi dan sepsis yang mengancam kelangsungan hidup pasien.1,14
Pada sistem respirasi, dapat terjadi trauma inhalasi. Trauma inhalasi mengganggu
persediaan oksigen ke tubuh dengan cara menginisiasi pembengkakan dari saluran napas
bagian atas, iritasi kimia pada saluran napas bagian bawah, serta iritasi langsung dari gas
seperti CO. Dengan terhirupnya CO, maka molekul oksigen digantikan dan CO secara
reversibel berikatan dengan hemoglobin sehingga membentuk carboxyhemoglobin (COHb).
Hipoksia jaringan dapat terjadi akibat penurunan secara menyeluruh pada kemampuan
pengantaran oksigen dalam darah.
Manifestasi klinik yang dapat diduga dari injuri inhalasi meliputi adanya luka bakar
yang mengenai wajah, kemerahan dan pembengkakan pada oropharynx atau nasopharynx,
rambut hidung yang gosong, agitasi atau kecemasan, takipneu, kemerahan pada selaput
hidung, stridor, wheezing, dyspnea, suara serak, terdapat carbon dalam sputum, dan batuk.
Manifestasi klinis dari trauma inhalasi meliputi obstruksi saluran napas atas, bronkospasme,
infeksi paru, dan kegagalan respirasi.14
Kadar CO (%) Manifestasi Klinik
5 – 10 Gangguan tajam penglihatan
11 – 20 Nyeri kepala
21 – 30 Mual, gangguan ketangkasan
31 – 40 Muntah, dizines, sincope

10
41 – 50 Tachypnea, tachicardia
> 50 Coma, mati

Tabel 1. Manifestasi klinik keracunan CO (Carbon Monoxida)


Proses kegagalan organ multi sistem ini terangkum dalam bagan berikut:

11
Luka bakar dikelompokkan menjadi tiga zona berdasarkan derajat kerusakan jaringan
dan perubahan pada aliran darah. Pada bagian pusat atau tengah luka disebut sebagai zona
koagulasi, yaitu zona yang paling banyak terpapar panas dan mengalami kerusakan terberat.
Protein akan mengalami denaturasi pada suhu diatas 410 C, sehingga panas yang berlebih
pada tempat luka akan mengakibatkan denaturasi protein, degradasi, dan koagulasi yang
mampu menyebakan nekrosis jaringan.
Diluar zona koagulasi terdapat zona stasis atau zona iskemik yang ditandai dengan
menurunnya perfusi jaringan. Zona stasis merupakan zona yang berpotensi untuk dilakukan
penyelamatan jaringan. Pada zona stasis, hipoksia dan iskemik dapat menyebabkan nekrosis
jaringan dalam 48 jam bila tidak dilakukan pertolongan. Penjelasan mengenai terjadinya
mekanisme apoptosis dan nekrosis yang terjadi belum dapat dijelaskan secara detail, tetapi
proses autofagus akan terjadi dalam 24 jam pertama luka dan apoptosis onset lambat pada 24
hingga 48 jam pasca trauma luka bakar.
Pada daerah paling luar luka yaitu zona hiperemis, merupakan zona yang menerima
peningkatan aliran darah melalui vasodilatasi inflamasi.5

Gambar 5. Zona luka bakar

12
2.2.6 Penanganan Awal Luka Bakar

2.2.6.1 Menghilangkan kontak dengan sumber panas


Penangan pertama pasien luka bakar ialah menghentikan kontak dengan
sumber panas, dengan cara:
1. Memadamkan maupun melepas semua pakaian yang terbakar, luka bakar kimia
lakukan irigasi dengan air.
2. Lepaskan jam tangan, cincin, ikat pinggang yang menempel di tubuh.
3. Dinginkan bagian tubuh yang terbakar dengan air mengalir paling tidak 30 menit,
kemudian keringkan.
4. Selimuti pasien dengan penutup atau selimut bersih untuk mencegah hipotermi.15

2.2.6.2 Primary survey


 Airway.
Adanya riwayat terkurung api atau terdapat tanda-tanda trauma jalan nafas,
memerlukan pemeriksaan jalan nafas dan tindakan pemasangan jalan nafas definitive,
misalnya dengan melakukan intubasi.
Adanya cedera inhalasi dicurigai pada kasus-kasus :
1.Riwayat terbakar di dalam ruang tertutup
2.Riwayat terpapar pada ledakan
3.Luka bakar mengenai muka
4.Bulu hidung dan alis terbakar
5.Dijumpai deposit karbon dan tanda radang akut daerah orofaring
6.Sputum mengandung karbon
Cedera inhalasi menyebabkan edema hebat jalan nafas bagian atas, sehingga biasa
didapatkan suara serak, snoring, maupun gargling. Hal ini memerlukan pembebasan
jalan nafas segera. Pada pasien dengan oedem laring dapat dilakukan pemasangan pipa
endotrakea ataupun trakeostomi. Bila didapatkan gejala terbakarnya jalan nafas maka
diberikan udara lembab dan oksigen.
 Breathing.
Penanganan awalnya didasarkan atas tanda dan gejala yang timbul akibat trauma,
sebagai berikut:
 Trauma bakar langsung, menyebabkan edema dan / atau obstruksi jalan nafas bagian
atas.

13
 Inhalasi hasil pembakaran (partikel karbon) dan asap beracun menyebabkan
tracheobronkhitis kimiawi, edema, dan pneumonia.
 Keracunan karbon monoksida.
 Luka bakar derajat III yang mengenai dinding dada anterior dan lateral dapat
menyebabkan terbatasnya pergerakan dinding dada, meskipun tidak meliputi
keseluruhan dinding dada, perlu dilakukan eskarotomi.
 Circulation.
Selain itu, dilakukan resusitasi cairan untuk mengatasi syok yang umumnya terjadi
pada pasien luka bakar. Tekanan darah sering kali sulit diukur dan hasilnya kurang
dapat dipercaya. Pengukuran produksi urine tiap jam merupakan alat monitor yang baik
untuk menilai volume sirkulasi darah, sehingga perlu dilakukan pemasangan kateter
urin untuk mengukur produksi urine. Pemberian cairan cukup untuk dapat
mempertahankan produksi urine 1,0 mL/KgBB/jam pada anak-anak dengan berat badan
≤30 Kg, dan 0,5-1,0 mL/KgBB/jam pada orang dewasa.
 Disability
Kesadaran pasien harus dinilai menggunakan Glasgow Coma Scale.
 Environment
Melepaskan semua pakaian yang digunakan pasien, kemudian periksa luas luka bakar
yang dialami pasien menggunakan Rules of Nine serta kedalamannya.
 Penentuan Derajat Luka
Luasnya daerah permukaan tubuh total yang terbakar menentukan kebutuhan
cairan, dosis obat dan prognosis. Ukuran luka bakar dapat ditentukan dengan
mempergunakan rule of nine. Luasnya cedera lebih penting dibandingkan dalamnya
luka dalam penentuan perawatan pada hari-hari pertama dirawat. Kedalaman luka
menjadi hal berikutnya yang diperhatikan, yaitu saat eveluasi pasien untuk melakukan
prosedur pembedahan dan perawatan rehabilitasi jangka panjang.2,6,15,16

2.2.6.3 Secondary survey


 Anamnesis
Anamnesis secara singkat diperlukan untuk penatalaksanaan awal. Hal yang
harus diketahui meliputi tanggal, jam, dan lokasi geografis dari cedera, dan
pengobatan resusitasi apa yang telah dilakukan pada tempat kejadian jika pasien
ditemukan dalam keadaan henti jatung. Penyakit kronis yang sudah ada sebelumnya,

14
misalnya seperti diabetes melitus, penyakit paru kronis, penyakit serebrovaskular dan
AIDS, memperburuk prognosis dan perlu dicatat. .
 Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik pada pasien luka bakar harus dinilai berdasarkan advanced
trauma life support dari american college of surgeons. Penyebab ketidakstabilan
yang paling dini yang timbul pada pasien luka bakar adalah cedera inhalasi yang
berat, yang menimbulkan kerusakan jalan nafas atas dan obstruksi, atau keracunan
monoksida yang mendekati letal. Pengamatan pertama sesuai dengan a-b-c-d-e. pada
pengamatan kedua dapat dideteksi adanya cedera-cedera lain yang mnyertai.
Perubahan status neurologik dapat menunjukkan adanya cedera kepala tertutup.
 Pemeriksaan Laboratorium
Hitung darah lengkap, elektrolit dan profil biokimia standar perlu diperoleh
segera setelah pasien tiba di fasilitas perawatan. Konsentrasi gas darah dan
karboksihemoglobin perlu segera diukur oleh karena pemberian oksigen dapat
menutupi keparahan keracunan karbon monoksida yang dialami penderita. Jika ada
trauma lain yang menyertai mungkin perlu dilakukan foto rontgen.
 Lab darah
 Hitung jenis
 Kimia darah
 Analisa gas darah dengan carboxyhemoglobin
 Analisis urin
 Creatinin Phosphokinase dan myoglobin urin ( Luka bakar akibat listrik)
 Pemeriksaan factor pembekuan darah ( BT, CT)
 Radiologi
 Foto thoraks : untuk mengetahui apakah ada kerusakan akibat luka bakar
inhalasi atau adanya trauma dan indikasi pemasangan intubasi
 CT scan : mengetahui adanya trauma
 Tes lain : dengan fiberoptic bronchoscopy untuk pasien dengan luka bakar
inhalasi.6,9,16

2.2.6.4 Resusitasi Cairan


Tujuan resusitasi cairan adalah memperbaiki sirkulasi dan mempertahankannya.
Tidak semua jenis luka bakar membutuhkan resusitasi cairan. Resusitasi diberikan
pada luka bakar derajat II-III >25%.

15
 BAXTER formula
Hari Pertama :
Ringer Laktat 3 cc x berat badan x % luas luka bakar per 24 jam
50% jumlah cairan diberikan dalam 8 jam pertama.
50% diberikan 16 jam berikutnya.

2.2.7 Penanganan Lanjut Luka Bakar


2.2.7.1 Perawatan Luka Bakar
Setelah keadaan umum membaik dan telah dilakukan resusitasi cairan dilakukan
perawatan luka. Perawatan tergantung pada karakteristik dan ukuran dari luka. Tujuan dari
semua perawatan luka bakar agar luka segera sembuh rasa sakit yang minimal.
Setelah luka dibersihkan dan di debridement, luka ditutup. Penutupan luka ini
memiliki beberapa fungsi: pertama dengan penutupan luka akan melindungi luka dari
kerusakan epitel dan meminimalkan timbulnya koloni bakteri atau jamur. Kedua, luka harus
benar-benar tertutup untuk mencegah evaporasi. Ketiga, penutupan luka diusahakan
semaksimal mungkin agar pasien merasa nyaman dan meminimalkan timbulnya rasa sakit
Pilihan penutupan luka sesuai dengan derajat luka bakar.
 Luka bakar derajat I, merupakan luka ringan dengan sedikit hilangnya barier
pertahanan kulit. Luka seperti ini tidak perlu di balut, cukup dengan pemberian
salep antibiotik untuk mengurangi rasa sakit dan melembabkan kulit. Bila perlu
dapat diberi NSAID (Ibuprofen, Acetaminophen) untuk mengatasi rasa sakit dan
pembengkakan
 Luka bakar derajat II (superfisial ), perlu perawatan luka setiap harinya, pertama-
tama luka diolesi dengan salep antibiotik, kemudian dibalut dengan perban katun
dan dibalut lagi dengan perban elastik.
 Luka derajat II ( dalam ) dan luka derajat III, perlu dilakukan eksisi awal dan
cangkok kulit (early exicision and grafting )19

2.2.7.2 Nutrisi
Penderita luka bakar membutuhkan kuantitas dan kualitas yang berbeda dari orang
normal karena umumnya penderita luka bakar mengalami keadaan hipermetabolik. Kondisi
yang berpengaruh dan dapat memperberat kondisi hipermetabolik yang ada adalah:
 Umur, jenis kelamin, status gizi penderita, luas permukaan tubuh, massa bebas lemak.

16
 Riwayat penyakit sebelumnya seperti DM, penyakit hepar berat, penyakit ginjal dan
lain-lain.
 Luas dan derajat luka bakar
 Suhu dan kelembaban ruangan ( memepngaruhi kehilangan panas melalui evaporasi)
 Aktivitas fisik dan fisioterapi
 Penggantian balutan
 Rasa sakit dan kecemasan
 Penggunaan obat-obat tertentu dan pembedahan.
Yang sering di rekomendasikan adalah perhitungan kebutuhan kalori basal dengan
formula HARRIS BENEDICK :
Kebutuhan Kalori 24 jam = (25 kkal x kgBB) + (40 kkal x %TBSA)
Protein : 2,5 – 3 g/kgBB per hari
Sedangkan untuk kebutuhan kalori total perlu dilakukan modifikasi formula dengan
menambahkan faktor aktifitas fisik dan faktor stress.
Pria : 66,5 + (13,7 X BB) + (5 X TB) – (6.8 X U) X AF X FS
Wanita : 65,6 + (9,6 X BB) + (1,8 X TB)- (4,7 X U) X AF X FS
Perhitungan kebutuhan kalori pada penderita luka bakar perlu perhatian khusus
karena kurangnya asupan kalori akan berakibat penyembuhan luka yang lama dan juga
meningkatkan resiko morbiditas dan mortalitas. Disisi lain, kelebihan asupan kalori dapat
menyebabkan hiperglikemi, perlemakan hati. Penatalaksanaan nutrisi pada luka bakar dapat
dilakukan dengan beberapa metode yaitu : oral, enteral dan parenteral.5,16

2.2.7.3 Antimikroba
Dengan terjadinya luka mengakibatkan hilangnya barier pertahanan kulit sehingga
memudahkan timbulnya koloni bakteri atau jamur pada luka. Bila jumlah kuman sudah
mencapai 105 organisme jaringan, kuman tersebut dapat menembus ke dalam jaringan yang
lebih dalam kemudian menginvasi ke pembuluh darah dan mengakibatkan infeksi sistemik
yang dapat menyebabkan kematian. Pemberian antimikroba ini dapat secara topikal atau
sistemik. Pemberian secara topikal dapat dalam bentuk salep atau cairan untuk merendam.
Contoh antibiotik yang sering dipakai :
Salep : Silver sulfadiazine, Mafenide acetate, Silver nitrate, Povidone-iodine, Bacitracin
(biasanya untuk luka bakar grade I), Neomycin, Polymiyxin B, Nysatatin, Mupirocin ,
Mebo.9

17
2.2.7.4 Kontrol Rasa Sakit
Rasa sakit merupakan masalah yang signifikan untuk pasien yang mengalami luka
bakar untuk melalui masa pengobatan. Pada luka bakar yang mengenai jaringan epidermis
akan menghasilkan rasa sakit dan perasaan tidak nyaman. Dengan tidak terdapatnya jaringan
epidermis (jaringan pelindung kulit), ujung saraf bebas akan lebih mudah tersensitasi oleh
rangsangan. Pada luka bakar derajat II yang dirasakan paling nyeri, sedangkan luka bakar
derajat III atau IV yang lebih dalam, sudah tidak dirasakan nyeri atau hanya sedikit sekali.
Saat timbul rasa nyeri terjadi peningkatan katekolamin yang mengakibatkan peningkatan
denyut nadi, tekanan darah dan respirasi, penurunan saturasi oksigen, tangan menjadi
berkeringat, flush pada wajah dan dilatasi pupil.
Pasien akan mengalami nyeri terutama saat ganti balut, prosedur operasi, atau saat
terapi rehabilitasi. Dalam kontrol rasa sakit digunakan terapi farmakologi dan non
farmakologi. Terapi farmakologi yang digunakan biasanya dari golongan opioid dan NSAID.
Zat anestesi seperti ketamin, N2O (nitrous oxide) digunakan pada prosedur yang dirasakan
sangat sakit seperti saat ganti balut. Dapat juga digunakan obat psikotropik sepeti anxiolitik,
tranquilizer dan anti depresan. Penggunaan benzodiazepin dbersama opioid dapat
menyebabkan ketergantungan dan mengurangi efek dari opioid.9

2.2.7.5 Escharotomy
Luka bakar grade III yang melingkar pada ekstremitas dapat menyebabkan iskemik
distal yang progresif. Iskemi dapat menyebabkan gangguan vaskuler pada jari-jari tangan dan
kaki. Tanda dini iskemi adalah nyeri, kemudian kehilangan daya rasa sampai baal pada
ujung-ujung distal. Juga luka bakar menyeluruh pada bagian thorax atau abdomen dapat
menyebabkan gangguan respirasi, dan hal ini dapat dihilangkan dengan escharotomy.19

2.2.8 Permasalahan Pasca Luka Bakar


Permasalahan-permasalahan yang sering ditakuti pada luka bakar:
 Syok hipovolemik
Pada luka bakar yang berat akan mengakibatkan koagulasi disertai dengan
nekrosis jaringan yang akan menimbulkan respon fisiologis pada setiap system
organ, tergantung pada ukuran luka bakar yang terjadi. Destruksi jaringan akan
disertai dengan peningkatan permebilitas kapiler sehingga cairan intravena akan
keluar ke interstisial. Hal ini akan disertai dengan proses evaporasi pada bagian kulit

18
yang rusak sehingga cairan tidak akan bertahan lama. Keadaan ini selanjutnya akan
mengakibatkan terjadinya syok hipovolemik.
 SIRS dan MODS
SIRS adalah suatu bentuk respon klinik yang bersifat sistemik terhadap
berbagai stimulus klinik berat akibat infeksi ataupun noninfeksi seperti trauma, luka
bakar, reaksi autoimun, sirosis, pankreatitis, dan lain-lain. Ini merupakan dampak
dari pelepasan mediator-mediator inflamasi (proinflamasi) yang mulanya bersifat
fisiologik dalam proses penyembuhan luka, namun oleh karena pengaruh beberapa
faktor predisposisi dan faktor pencetus, respon ini berubah secara berlebihan
(mengalami eksagregasi) dan menyebabkan kerusakan pada organ-organ sistemik,
menyebabkan disfungsi dan berakhir dengan kegagalan organ terkena menjalankan
fungsinya; MODS (Multi-system Organ Disfunction Syndrome) bahkan sampai
kegagalan berbagai organ (Multi-system Organ Failure/MOF).
SIRS dan MODS merupakan penyebab utama tingginya angka mortalitas
pada pasien luka bakar maupun trauma berat lainnya. Dalam penelitian dilaporkan
SIRS dan MODS keduanya menjadi penyebab 81% kematian pasca trauma; dan
dapat dibuktikan pula bahwa SIRS sendiri mengantarkan pasien pada MODS.
 Kontraktur
Merupakan komplikasi serius pada luka bakar yang terjadi akibat reorganisasi
kolagen. Terjadi saat skar telah matang, menebal, dan akan mengencang dan
menahan gerakan sehingga pasien mungkin akan mengalami gangguan pergerakan
sendi. Penyebab munculnya kontaktur adalah adanya jaringan parut yang sudah
mengering tapi belum matang. Akibat gerakan sendi maupun gravitasi, kapiler baru
pecah sehingga timbul perdarahan dan penyembuhan luka yang mulai dari awal lagi,
dan menyebabkan jaringan fibrosa akan tebal lalu mengkerut.5,20

2.2.9 Prognosis
Prognosis pada luka bakar tergantung dari derajat luka bakar, luas permukaan badan
yang terkena luka bakar, adanya komplikasi seperti infeksi, dan kecepatan pengobatan
medikamentosa. Luka bakar ringan dapat sembuh 5-10 hari tanpa adanya jaringan parut.
Luka bakar sedang dapat sembuh dalam 10-14 hari dan mungkin menimbulkan luka parut.
Luka bakar berat membutuhkan lebih dari 14 hari untuk sembuh dan akan membentuk

19
jaringan parut. Jaringan parut akan membatasi gerakan dan fungsi. Dalam beberapa kasus,
pembedahan diperlukan untuk membuang jaringan parut.11

20
BAB III

KESIMPULAN

Luka bakar (combustio/burn) adalah cedera (injuri) sebagai akibat kontak langsung
atau terpapar dengan sumber-sumber panas (thermal), listrik (electrict), zat kimia (chemycal),
atau radiasi (radiation). Berdasarkan kedalaman luka, luka bakar dibagi menjadi 3 yaitu
derajat I (superficial), derajat II (partial thickness), dan derajat III (full thickness), sedangkan
berdasarkan luasnya dibagi menjadi luka bakar ringan, sedang, dan berat. Penentuan luas luka
bakar dapat menggunakan Rule of Nine.
Segera setelah injuri luka bakar, dilepaskan substansi vasoaktif, yang menyebabkan
meningkatnya permeabilitas kapiler sehingga plasma merembes kedalam sekitar jaringan.
Apabila hal ini terjadi terus menerus dapat mengakibatkan syok hipovolemik dan
hemokonsentrasi yang mengakibatkan terjadinya gangguan perfusi jaringan. Jika resusitasi
cairan tidak segera dilakukan, maka dapat menimbulkan kegagalan organ multi sistem.
Dalam menangani luka bakar, primary survey yang meliputi airway, breathing,
circulation, disability, dan environment perlu dievaluasi terlebih dahulu. Pada luka bakar
dalam ruang tertutup perlu dicurigai terjadinya trauma inhalasi. Luka bakar derajat II-III
>25% membutuhkan penggantian cairan dengan menggunakan formula Baxter atau Evans.
Penanganan luka bakar secara lanjut dapat berupa penggantian darah, perawatan luka
bakar, pemberian antimikroba serta analgetik, perbaikan nutrisi sampai tindakan pembedahan
seperti Early Exicision and Grafting (E&G) dan escharotomy.
Komplikasi yang sering ditemui pada kasus luka bakar meliputi syok hipovolemik,
SIRS dan MODS, serta kontraktur.
Prognosis pada luka bakar tergantung dari derajat luka bakar, luas permukaan badan
yang terkena luka bakar, adanya komplikasi seperti infeksi dan kecepatan pengobatan
medikamentosa.

21
DAFTAR PUSTAKA

1. Rahayuningsih T. Penatalaksanaan Luka Bakar (Combustio). PROFESI. 2012


2. Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Luka Bakar. Dalam: Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin.
Edisi 5. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta, 2012.
3. Kwei J, Halstead FD, Dretzke J, Oppenheim BA, Moiemen NS. Protocol for a systematic
review of quantitative burn wound microbiology in the management of burns patients.
Syst Rev. 2015;4(1):150.
4. Riset Kesehatan Dasar. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian
Kesehatan Indonesia, 2013.
5. Sudjatmiko G. Petunjuk Praktis Ilmu Bedah Plastik Rekonstruksi Edisi III. Yayasan
Khasanah Kebazikan Jakarta, 2013.
6. Junqueira LC, Carneiro J. Histologi Dasar: Teks Dan Atlas. Edisi 10. Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Jakarta, 2010.
7. Sjamsuhidajat R, de Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2. Penerbit Buku Kedokteran
EGC. Jakarta, 2009.
8. Greenhalgh DG, Saffle JR, Holmes JH 4th, Gamelli RL, Palmieri TL, Horton JW, et al.
American Burns Association Consensus Conference to define sepsis and infection in
burns. J Burn Care Res 2007;28:776-90.
9. Dewi Y. Luka Bakar: Konsep Umum Dan Investigasi Berbasis Klinis Luka Antemortem
Dan Postmortem. Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Denpasar, 2012.
10. Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. Edisi 5. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta, 2007.
11. Brusselaers et.al. Severe Burn Injury in Europe: a systematic review of the incidency,
etiology, morbidity and mortality. Department of General Internal Medicine, Infectious
Diseases and Psychosomatic Medicine, Ghent University Hospital, De Pintelaan 185,
Ghent 9000, Belgium, 2010.
th
12. Hendon D. Total Burn Care. 4 edition. Saunders El. London, 2012.
13. Moenajat Y. Luka Bakar : Pengetahuan Klinis Praktis. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Jakarta, 2003.
14. Nielson C et al. Burns: Pathophysiology of Systemic Complications and Current
Management. Journal of Burn Care and Research. 2017.

22
15. Stander M, Wallis L. The Emergency Management and Treatment of Severe Burns.
Emergency Medicine International, 2011.
16. Gupta A.K. et.al. A Clinico EidemiologicStudy of 892 Patients with Burn Injuries at a
Tertiary Care Hospital in unjab India’. Journalof Emergencies, Trauma and Shock Vol.4.
2011:7-11.
17. St. John Ambulance. First Aid: First on The Scene: Activity Book, Chapter 19.
18. Azhari N. Hubungan Body Image Dengan Mekanisme Koping Yang Digunakan
Penderita Luka Bakar Yang Dirawat Di Ruang Khusus Luka Bakar Bangsal Bedah
RSUP M.Djamil Padang. Fakultas Kedokteran Universitas Padang, 2012.
19. Holmes J. Burns, Dalam: Schwartz’s Principles of Surgery. 18th ed. McGraw-Hill New
York, 2005: 189-216.
20. Febrianto R, Farhanah N, Sari E. Hubungan Luka Bakar Derajat Sedang dan Berat
Menurut Kategori American Burn Association dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Kejadian Sepsis di RSUP DR.Kariadi. JKD. Vol 5, No 4, Okt 2016: 1526-1534.

23