Anda di halaman 1dari 3

KOMUNISME

Komunisme (bahasa Latin: communis, bahasa Inggris: common,


universal) adalah ideologi yang berkenaan dengan filosofi, politik, sosial, dan ekonomi yang
tujuan utamanya terciptanya masyarakat komunis dengan aturan sosial
ekonomi berdasarkan kepemilikan bersama alat produksi dan tidak adanya kelas
sosial, uang, dan negara.

Dasar Ideologi

Istilah komunisme sering dicampuradukkan dengan komunis internasional. Komunisme


atau Marxisme adalah ideologi dasar yang umumnya digunakan oleh partai komunis di
seluruh dunia. sedangkan komunis internasional merupakan racikan ideologi ini berasal dari
pemikiran Lenin sehingga dapat pula disebut "Marxisme-Leninisme".

Dalam komunisme, perubahan sosial harus dimulai dari pengambil alihan alat-alat produksi
melalui peran Partai Komunis. Logika secara ringkasnya, perubahan sosial dimulai dari buruh
atau yang lebih dikenal dengan proletar (lihat: The Holy Family [7]), namun pengorganisasian
Buruh hanya dapat berhasil dengan melalui perjuangan partai. Partai membutuhkan
peran Politbiro sebagai think-tank. Dapat diringkas perubahan sosial hanya bisa berhasil jika
dicetuskan oleh Politbiro.
Komunisme sebagai anti-kapitalisme menggunakan sistem partai komunis sebagai alat
pengambil alihan kekuasaan dan sangat menentang kepemilikan akumulasi modal pada
individu. pada prinsipnya semua adalah direpresentasikan sebagai milik rakyat dan oleh
karena itu, seluruh alat-alat produksi harus dikuasai oleh negara guna kemakmuran rakyat
secara merata, Komunisme memperkenalkan penggunaan sistem demokrasi keterwakilan
yang dilakukan oleh elit-elit partai komunis oleh karena itu sangat membatasi
langsung demokrasi pada rakyat yang bukan merupakan anggota partai komunis karenanya
dalam paham komunisme tidak dikenal hak perorangan sebagaimana terdapat pada
paham liberalisme.
Secara umum komunisme berlandasan pada teori Materialisme Dialektika dan Materialisme
Historis oleh karenanya tidak bersandarkan pada kepercayaan mitos, takhayul dan agama
dengan demikian tidak ada pemberian doktrin pada rakyatnya, dengan prinsip bahwa "agama
dianggap candu" yang membuat orang berangan-angan yang membatasi rakyatnya dari
pemikiran ideologi lain karena dianggap tidak rasional serta keluar dari hal yang nyata
(kebenaran materi).
Komunisme di Indonesia

Era praperang kemerdekaan


Kelahiran Komunisme di Indonesia tak bisa dilepaskan dari hadirnya orang-orang buangan
politik dari Belanda dan mahasiswa-mahasiswa lulusannya yang berpandangan kiri. Beberapa
di antaranya adalah Sneevliet, Bregsma, dan Tan Malaka yang masuk setelah Sarekat
Islam (SI) Semarang sudah terbentuk.
Gerakan Komunis di Indonesia diawali di Surabaya, yakni di dalam diskusi intern para
pekerja buruh kereta api Surabaya yang dikenal dengan nama VSTP. Awalnya VSTP hanya
berisikan anggota orang Eropa dan Indo Eropa saja, namun setelah berkembangnya waktu,
kaum pribumi juga banyak yang bergabung. Salah satu anggota yang menjadi besar
adalah Semaoen kemudian menjadi ketua SI Semarang.
Komunisme kemudian juga aktif di Semarang, atau sering disebut dengan "Kota Merah"
setelah menjadi basis PKI di era tersebut. Hadirnya ISDV dan masuknya para pribumi
berhaluan kiri ke dalam Sarekat Islam menjadikan komunis sebagai bagian cabangnya, yang
nantinya disebut sebagai "SI Merah". ISDV sendiri sering menjadi salah satu organisasi yang
bertanggung jawab atas banyaknya pemogokan buruh di Jawa.
Konflik antara SI Semarang (SI Merah) dengan SI pusat di Yogyakarta (SI Putih) mendorong
diselenggarakannya kongres. Atas usulan Haji Agus Salim, yang disahkan oleh pusat SI, baik
SI Merah maupun SI Putih menyepakati bahwa personel SI Merah keluar dari SI. Mantan
personel SI Merah kemudian bersama ISDV berganti nama menjadi PKI.
Kehancuran PKI fase awal bermula dengan adanya Persetujuan Prambanan yang
memutuskan akan ada pemberontakan besar-besaran di seluruh Hindia Belanda. Tan
Malakayang tidak setuju karena Komunisme di Indonesia kurang kuat mencoba
menghentikan, namun para tokoh PKI lainnya tidak menggubris usulan tersebut, kecuali
mereka yang ada di pihak Tan Malaka. Pemberontakan terjadi pada tahun 1926-1927 yang
berakhir dengan kekalahan PKI. Para tokoh PKI menyalahkan Tan Malaka atas kegagalan
tersebut, karena telah mencoba menghentikan pemberontakan dan memengaruhi cabang-
cabang PKI.
Era perang kemerdekaan
Gerakan PKI bangkit kembali pada masa Perang Kemerdekaan Indonesia, diawali oleh
kedatangan Muso secara misterius dari Uni Soviet ke Negara Republik (Saat itu masih beribu
kota di Yogyakarta). Sama seperti Soekarno dan tokoh pergerakan lain, Muso berpidato
dengan lantang di Yogyakarta dengan pandangannya yang murni Komunisme. Di
Yogyakarta, Muso juga mendidik calon-calon pemimpin PKI seperti D.N. Aidit.
Muso dan pendukungnya kemudian menuju ke Madiun, di sana ia dikabarkan mendirikan
Negara Indonesia sendiri yang berhalauan komunis. Gerakan ini didukung oleh salah satu
menteri Soekarno, Amir Syarifuddin. Divisi Siliwangi akhirnya maju dan mengakhiri
pemberontakan Muso ini.[8]
Era pascaperang kemerdekaan RI
Pasca Perang Kemerdekaan Indonesia tersebut, PKI menyusun kekuatannya kembali.
Didukung oleh Soekarno yang ingin menyatukan semua aspek masyarakat Indonesia saat itu,
di mana antar ideologi menjadi musuh masing-masing, PKI menjadi salah satu kekuatan baru
dalam politik Indonesia. Ketegangan itu tidak hanya terjadi di tingkat atas saja, melainkan
juga di tingkat bawah di mana tingkat ketegangan banyak terjadi antara tuan tanah dan para
buruh tani.[9]
Soekarno sendiri yang cenderung ke kiri, lebih dekat kepada PKI. Terutama setelah Dekrit
Presiden pada 5 Juli 1959, politik luar negeri Indonesia semakin condong ke Blok
Timur(Blok Komunis Uni Soviet). Indonesia lebih banyak melakukan kerja sama dengan
negara komunis seperti Uni Soviet, Kamboja, Vietnam, RRT, maupun Korea Utara. Beberapa
langkah-langkah politik luar negeri yang dianggap ke kiri-kirian itu antara lain:

 Presiden Soekarno menyampaikan pandangan politik dunia yang berlawanan dengan


barat, yaitu OLDEFO (Old Established Forces) dan NEFO (New Emerging Forces)
 Indonesia membentuk Poros Jakarta-Peking dan Poros Jakarta-Phnompenh-Hanoi-
Peking-Pyongyang yang membuat Indonesia terkesan ada di pihak Blok Timur
 Konfrontasi dengan Malaysia yang berujung dengan keluarnya Indonesia dari PBB.
Di sisi lain, konflik dalam negeri semakin memanas dikarenakan krisis moneter, selain itu
juga terdengar desas-desus bahwa PKI dan militer yang bermusuhan akan melakukan kudeta.
Militer mencurigai PKI karena mengusulkan Angkatan Kelima (setelah AURI, ALRI, ADRI
dan Kepolisian), sementara PKI mencurigai TNI hendak melakukan kudeta atas Presiden
Soekarno yang sedang sakit, tepat saat ulang tahun TNI. Kecurigaan satu dengan yang lain
tersebut kemudian dipercaya menjadi sebab insiden yang dikenal sebagai Gerakan 30
September, namun beberapa ilmuwan menduga, bahwa ini sebenarnya hanyalah konflik
intern militer waktu itu.[10]
Pasca Gerakan 30 September, terjadi pengambinghitaman kepada orang-orang komunis oleh
pemerintah Orde Baru. Terjadi "pembersihan" besar-besaran atas warga dan anggota keluarga
yang dituduh komunis meskipun belum tentu kebenarannya. Diperkirakan antara limaratus
ribu sampai duajuta jiwa meninggal di Jawa dan Bali setelah peristiwa Gerakan 30
September, para "tertuduh komunis" ini yang ditangkap kebanyakan dieksekusi tanpa proses
pengadilan. Sementara bagi "para tertuduh komunis" yang tetap hidup, setelah selesai masa
hukuman, baik di Pulau Buru atau di penjara, tetap diawasi dan dibatasi ruang geraknya
dengan penamaan Eks Tapol.[11]
Era pascareformasi
Semenjak jatuhnya Presiden Soeharto, aktivitas kelompok-kelompok sosialis, marxis, dan
haluan kiri lainnya, mulai kembali aktif di lapangan politik Indonesia, walaupun secara
hukum masih dilarang oleh pemerintahan, dan komunisme sendiri termasuk dalam paham
terlarang sebagaimana dijelaskan dalam TAP MPRS.

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Komunisme
Farhan Azhar Fuadi
170410160064