Anda di halaman 1dari 44

PANDUAN PEMBELAJARAN

MATEMATIKA DAN
PENDIDIKAN JASMANI, OLAHRAGA
DAN KESEHATAN (PJOK)

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH DASAR
TAHUN 2016
PANDUAN PEMBELAJARAN
MATEMATIKA DAN
PENDIDIKAN JASMANI, OLAHRAGA
DAN KESEHATAN (PJOK)

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH DASAR
TAHUN 2016
Panduan Pembelajaran Matematika dan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

iv
KATA PENGANTAR
Salah satu keberhasilan pendidikan ditentukan oleh kurikulum pendidikan yang
disusun berdasarkan kebutuhan zaman. Pada era abad 21 ini dibutuhkan kurikulum
yang dapat mendorong pembelajaran yang menghasilkan siswa yang dapat
memiliki kemampuan untuk mempertahankan hidupnya serta mampu menghadapi
tantangan era globalisasi tanpa kehilangan nilai-nilai kepribadian dan budaya
bangsa.Kurikulum 2013 menjawab kebutuhan zaman tersebut.

Penerapan Kurikulum 2013 pada proses pembelajaran di Sekolah Dasar


menggunakan pendekatan tematik terpadu. Pada perkembangannya, untuk kelas
tinggi (IV, V, dan VI) mata pelajaran Matematika dan Pendidikan Jasmani, Olahraga
dan Kesehatan (PJOK) dipisahkan dari Buku Tematik Terpadu. Pemisahan tersebut
dikarenakan perubahan muatan pelajaran matematika serasa dangkal sehingga
siswa tidak mendapatkan konsep matematika secara mendalam dan PJOK memiliki
karakteristik objek kajian dan metode yang berbeda dengan mata pelajaran lain.
Objek kajian PJOK berupa gerak, pembelajaran PJOK banyak dilakukan melalui
observasi, mencontoh/menirukan, melatihkan secara berulang.

Berdasarkan beberapa alasan tersebut, maka Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar


Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah bersama Pusat Kurikulum
Balitbang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyusun Panduan
Pelaksanaan Pembelajaran Matematika dan PJOK.

Panduan ini sebagai acuan bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran


Matematika dan PJOK serta dapat membantu dalam memecahkan beberapa
permasalahan dalam pembelajaran.

Kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan panduan ini kami
mengucapkan terima kasih atas kerjasamanya.

Jakarta, Oktober 2016

Direktur Pembinaan Sekolah Dasar

Drs. Wowon Widaryat, M.Si.


Nip.

v
Panduan Pembelajaran Matematika dan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

vi
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................................... v

DAFTAR ISI ........................................................................................................................ vii

BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................. 1

A. Latar Belakang
............................................................................................... 1

B. Tujuan
............................................................................................................ 3

C.
Sasaran
.......................................................................................................... 4

BAB II KARAKTERISTIK MATA PELAJARAN MATEMATIKA DAN PENDIDIKAN

JASMANI, OLAHRAGA DAN KESEHATAN DI SEKOLAH DASAR (SD) ......... 5

A. Karakteristik dan Kompetensi Mata Pelajaran Matematika pada

Kurikulum 2013
.............................................................................................. 5

B. Karakteristik dan Kompetensi Mata Pelajaran PJOK pada

Kurikulum 2013
.............................................................................................. 6

BAB III PEMBELAJARAN MATEMATIKA DAN PENDIDIKAN JASMANI,

OLAHRAGA DAN KESEHATAN DI SEKOLAH DASAR (SD) ............................ 9

A. Pembelajaran Matematika untuk Mencapai Keterampilan Abad 21 ............... 9

B. Pembelajaran PJOK untuk mencapai keterampilan abad 21 ........................ 23

C. Penjadwalan Pembelajaran Matematika dan PJOK ..................................... 31

BAB IV PENUTUP .............................................................................................................. 33

vii
Panduan Pembelajaran Matematika dan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

viii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keberhasilan pendidikan salah satunya ditentukan oleh kurikulum pendidikan yang
disusun berdasarkan kebutuhan zaman. Era abad ke-21 merupakan era globalisasi.
Pada era ini dibutuhkan kurikulum yang dapat mendorong pembelajaran yang
menghasilkan siswa yang tangguh. Artinya, siswa yang dapat memiliki kemampuan
untuk mempertahankan hidupnya (human survival). Selain itu, pendidikan juga
harus menyiapkan sumberdaya manusia yang mampu menghadapi tantangan era
globalisasi tanpa kehilangan nilai-nilai kepribadian dan budaya bangsa.

Kurikulum 2013 disusun untuk menjawab kebutuhan zaman. Kurikulum 2013


dikembangkan dalam bentuk Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar. Kompetensi
Inti terdiri atas empat dimensi yang terkait satu sama lain. Keempat dimensi
tersebut adalah: sikap spiritual (KI 1), sikap sosial (KI 2), pengetahuan (KI 3), dan
keterampilan (KI 4). Pengembangan Kompetensi Dasar untuk KI 1 dan KI 2 hanya
terdapat pada mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti serta PPKn. 


Kurikulum yang mengedepankan pencapaian kompetensi tersebut membawa


konsekuensi bahwa pembelajaran harus berpusat pada siswa. Siswa didorong
untuk terlibat aktif dan komprehensif dalam pembelajaran. Keterlibatan siswa
secara aktif dan komprehensif tersebut akan memberikan pemahaman mendalam
dan peluang besar pada pengalaman belajar yang berada di long term memory.

Penerapan Kurikulum 2013 pada proses pembelajaran di sekolah dasar


menggunakan pendekatan tematik terpadu. Salah satu pendukung proses
pembelajaran adalah buku Tematik Terpadu yang diterbitkan oleh Pemerintah.
Mata pelajaran yang dapat dipadukan adalah PPKn, Bahasa Indonesia, Matematika,
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), Seni Budaya dan
Prakarya (SBdP), dan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan (PJOK).

Pada perkembangannya, untuk kelas tinggi (IV, V, dan VI) mata pelajaran
Matematika dan PJOK dipisahkan dari Buku Tematik Terpadu. Keputusan
pemisahan mata pelajaran tersebut ada berbagai alas an, diantaranya adalah
materi/pembahasan muatan Matematika pada buku tersebut terasa dangkal. Oleh

1
Panduan Pembelajaran Matematika dan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

karena itu, siswa tidak mendapatkan pemahaman konsep matematika secara


mendalam. Dengan demikian, perlu digunakan buku Matematika secara terpisah.
Alasan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

a. Matematika memiliki karakteristik objek kajian dan metode yang berbeda


dengan mata pelajaran lain. Objek kajian matematika bersifat abstrak, metode
untuk melakukan kajian terhadap objek matematika bersifat deduktif, tentunya
dengan tidak mengabaikan pengembangan kecakapan 4 C (Critical, Creative,
Colaboratif, Dan Communication).
b. Kebermaknaan pembelajaran matematika di SD/MI salah satunya dapat
ditingkatkan melalui pembelajaran matematika dalam konteks dunia nyata
siswa. Pembelajaran dengan mengambil konteks kehidupan nyata tersebut
dapat dicapai melalui pembelajaran tematik terpadu.
c. Kebermaknaan pembelajaran merupakan energi bagi peningkatan motivasi
belajar siswa, ketika motivasi sudah dimiliki pembelajaran tidak harus selalu
dikaitkan dengan dunia nyata/tema, karena pembelajaran matematika dengan
tema memiliki keterbatasan dalam mengakomodir struktur dan konten
matematika secara utuh. Oleh karena itu, ketika konteks sudah diperoleh,
pembelajaran Matematika dapat dilakukan dengan pemahaman konsep
matematika secara utuh.
Demikian juga alasan yang serupa diambil untuk menjelaskan mengapa mata
pelajaran PJOK harus diajarkan dengan buku terpisah. Alasan tersebut adalah
sebagai berikut:

a. PJOK memiliki karakteristik objek kajian dan metode yang berbeda dengan
mata pelajaran lain. Objek kajian PJOK berupa gerak, pembelajaran PJOK
banyak dilakukan melalui mengobservasi dan mencontoh, kemudian
melatihkannya secara berulang, tentunya dengan tidak mengabaikan
pengembangan kecakapan 4C (Critical, Creative, Colaboratif, Dan
Communication).
b. Kebermaknaan pembelajaran PJOK di SD/MI salah satunya dapat ditingkatkan
melalui pembelajaran PJOK dalam konteks dunia nyata siswa, hal ini salah
satunya dapat dilakukan melalui pembelajaran tematik.
c. Kebermaknaan pembelajaran merupakan energi bagi peningkatan motivasi
belajar siswa. Namun ketika dikaitkan dengan tema, terdapat beberapa materi

2
pembelajaran PJOK yang memiliki keterbatasan dalam mengakomodir struktur
dan konten PJOK secara utuh. Oleh karena itu, tidak semua materi yang
berkaitan dengan KD dapat diakomodir secara cukup oleh buku tematik.
d. Pembelajaran PJOK banyak dilakukan dengan gerakan anggota tubuh yang
harus dimulai dengan pemanasan terlebih dahulu, sehingga membutuhkan
waktu yang relatif lama.
e. Banyak gerakan-gerakan dalam pembelajaran PJOK yang tidak dipahami
sepenuhnya oleh guru kelas, sehingga dapat mengakibatkan cedera bagi siswa.
f. Pada umumnya pembelajaran PJOK mengakibatkan siswa berkeringat,
sehingga mengganggu proses pembelajaran lain bila terintegrasi.
g. Untuk memberdayakan keberadaan guru mata pelajaran PJOK yang tersedia
hampir di semua SD.
Berdasarkan alasan-alasan tersebut maka Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan sudah menetapkan buku teks pelajaran yang layak digunakan dalam
proses pembelajaran untuk mata pelajaran Matematika dan PJOK yang disajikan
secara terpisah dari Buku Tematik Terpadu. Oleh karena itu, diperlukan panduan
pelaksanaan pembelajaran matematika dan PJOK untuk SD/MI di kelas IV, V dan VI.

Panduan ini secara keseluruhan memuat penjelasan tentang latar belakang, tujuan,
dan sasaran diterbitkannya panduan ini; karakteristik mata pelajaran Matematika
dan PJOK; perancangan dan pembelajaran Matematika dan PJOK.

B. Tujuan
Panduan Pembelajaran Matematika dan PJOK ini bertujuan untuk

a. Membantu guru dalam mengatur alokasi waktu Matematika dan PJOK dalam
pembelajaran agar sesuai dengan struktur kurikulum;
b. Membantu guru dalam merancang pembelajaran Matematika dan PJOK yang
terpisah dari Tematik Terpadu agar tetap bermakna;
c. Membantu guru dalam proses pembelajaran Matematika dan PJOK yang
terpisah dari Tematik Terpadu agar berpusat pada siswa, kontekstual, dan
bermakna.

3
Panduan Pembelajaran Matematika dan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

d. Membantu kepala sekolah, pengawas dan pihak lain yang terkait dalam
mendukung proses pembelajaran Matematika dan PJOK yang terpisah dari
Tematik Terpadu agar berpusat pada siswa, kontekstual, dan bermakna.

C. Sasaran
Buku Panduan ini disusun agar proses pembelajaran di sekolah dasar dapat berjalan
sesuai dengan harapan. Oleh karena itu, sasaran pengguna buku ini adalah unsur-
unsur yang terlibat pada proses pembelajaran di sekolah dasar. Sasarannya adalah

a. Guru kelas yang mengampu pembelajaran di kelas tinggi (kelas IV, V, dan VI);
b. Guru PJOK
c. Kepala Sekolah Dasar;
d. Pengawas Sekolah Dasar
e. Dinas Pendidikan.

4
BAB II
KARAKTERISTIK MATA PELAJARAN MATEMATIKA DAN
PENDIDIKAN JASMANI, OLAHRAGA DAN KESEHATAN
DI SEKOLAH DASAR (SD)

A. Karakteristik dan Kompetensi Mata Pelajaran Matematika pada Kurikulum


2013
Matematika merupakan ilmu universal yang berguna bagi kehidupan manusia dan
juga mendasari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, serta
mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin untuk meningkatkan dan
mengembangkan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi
informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di
bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang, dan matematika diskrit.
Untuk menguasai dan menciptakan teknologi di masa depan, diperlukan
penguasaan dan pemahaman atas matematika yang kuat sejak dini. Objek kajian
matematika bersifat asbtrak, metode untuk melakukan kajian terhadap objek
matematika bersifat deduktif, sehingga kebermaknaan pembelajaran matematika
di SD salah satunya dapat ditingkatkan melalui pembelajaran matematika dalam
konteks dunia nyata siswa.
Pengembangan kompetensi matematika diarahkan untuk meningkatkan kecakapan
hidup (life skill), terutama dalam membangun kreatifitas, kemampuan berpikir
kritis, berkolaborasi atau bekerjasama dan keterampilan berkomunikasi yang
menjadi tuntutan keterampilan abad 21. Selain itu, pengembangan kompetensi
matematika juga menekankan kemahiran atau keterampilan menggunakan
perangkat teknologi untuk melakukan perhitungan teknis (komputasi) dan
penyajian dalam bentuk gambar dan grafik (visualisasi), yang penting untuk
mendukung keterampilan lainnya yang bersifat keterampilan lintas disiplin ilmu dan
keterampilan yang bersifat nonkognitif serta pengembangan nilai, norma dan etika
(soft skill).
Dukungan pembelajaran matematika dalam kaitan pengembangan sikap spiritual
dan sikap sosial dilaksanakan melalui kegiatan pembelajaran tidak
langsung/indirect teaching, berupa pembiasaan-pembiasaan perilaku baik,
keteladanan, dan tindakan perbaikan secara langsung untuk mengembangkan,
membangun atau meningkatkan perilaku positif siswa.

5
Panduan Pembelajaran Matematika dan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

Cakupan materi matematika di SD meliputi bilangan asli, bulat, dan pecahan,


geometri dan pengukuran sederhana, dan statistika sederhana. Pendidikan
matematika di sekolah diharapkan memberikan kontribusi dalam mendukung
pencapaian kompetensi lulusan pendidikan dasar dan pendidikan menengah
melalui pengalaman belajar, agar mampu:
1. Memahami konsep dan menerapkan prosedur matematika dalam kehidupan
sehari-hari;
2. Melakukan operasi matematika dalam bentuk operasi hitung, menganalisis
komponen atau sifat dari suatu ekspresi atau kalimat matematika serta
menyederhanakan ekspresi matematika untuk menyelesaikan masalah.
3. Berpikir kritis melalui penalaran matematis yang meliputi membuat
generalisasi berdasarkan pola, fakta, fenomena atau data yang ada, membuat
dugaan dan memverifikasinya, menjelaskan alasan dalam mengklasifikasi
berbagai benda berdasar bentuk, warna, kemiripan, dan perbedaan berdasar
kriteria tertentu
4. Memecahkan masalah dan mengomunikasikan gagasan melalui simbol, tabel,
diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah;
5. Menumbuhkan sikap positif seperti sikap logis, kritis, cermat, teliti, dan tidak
mudah menyerah dalam memecahkan masalah, sebagai wujud implementasi
kebiasaan dalam inkuiri dan eksplorasi matematika
6. Memiliki rasa ingin tahu, percaya diri, dan ketertarikan pada matematika, yang
terbentuk melalui pengalaman belajar

B. Karakteristik dan Kompetensi Mata Pelajaran PJOK pada Kurikulum 2013

Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) pada hakikatnya adalah


proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan
perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik, mental, serta
emosional. PJOK memperlakukan anak sebagai sebuah kesatuan utuh, makhluk
total, daripada hanya menganggapnya sebagai seseorang yang terpisah kualitas
fisik dan mentalnya.

PJOK membantu siswa mengembangkan pemahaman tentang apa yang mereka


perlukan untuk membuat komitmen seumur hidup tentang arti penting hidup sehat

6
dan aktif mengembangkan kapasitas untuk menjalani kehidupan yang memuaskan
dan produktif. Hal ini berdampak pada meningkatkan produktivitas dan kesiapan
untuk belajar, meningkatkan semangat, mengurangi ketidakhadiran, mengurangi
biaya perawatan kesehatan, penurunan kelakuan anti-sosial seperti bullying dan
kekerasan, mempromosikan hubungan yang aman dan sehat, dan meningkatkan
kepuasan pribadi.
1. Karakteristik Perkembangan Gerak Anak Usia SD
Karakteristik perkembangan gerak anak turut mempengaruhi penentuan
kompetensi mata pelajaran PJOK. Karakteristik gerak tersebut dibedakan
menurut usia anak, seperti berikut.
a. Pada usia antara 7-8 tahun, anak sedang memasuki perkembangan gerak
dasar dan memasuki tahap awal perkembangan gerak spesifik. Karakteristik
awal perkembangan gerak spesifik dapat diidentifikasi dengan makin
sempurnanya kemampuan melakukan berbagai kemampuan gerak dasar
yang menuntut kemampuan koordinasi dan keseimbangan agak kompleks.
Oleh karenanya, keterampilan gerak yang dimiliki anak telah dapat
diorientasikan pada berbagai bentuk, jenis dan tingkat permainan yang
lebih kompleks.

b. Pada anak berusia antara 9 s.d 10 tahun, anak telah dapat


mengunjukkerjakan rangkaian gerak yang multipleks-kompleks dengan
tingkat koordinasi yang makin baik. Kualitas kemampuan pada tahap ini
dipengaruhi oleh ketepatan rekayasa dan stimulasi lingkungan yang
diberikan kepada anak pada usia sebelumnya. Pada tahap ini, anak laki-laki
dan perempuan telah memasuki masa awal masa remaja. Dengan pengaruh
perkembangan hormonal pada usia ini, mereka akan mengalami
pertumbuhan fisik dan perkembangan fungsi motorik yang sangat cepat.

2. Ruang Lingkup Materi Mata Pelajaran PJOK Kelas IV, V, dan VI adalah Sebagai
Berikut:
a. Pola Gerak Dasar, meliputi: a) pola gerak dasar lokomotor atau gerakan
berpindah tempat, misalnya; berjalan, berlari, melompat, berguling, b) pola
gerak non-lokomotor atau bergerak di tempat, misalnya; membungkuk,
meregang, berputar, mengayun, mengelak, berhenti, c) Pola gerak
manipulatif atau mengendalikan/mengontrol objek, misalnya; melempar

7
Panduan Pembelajaran Matematika dan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

bola, menangkap bola, memukul bola menggunakan tongkat, menendang


bola.
b. Aktivitas Permainan Bola Besar misalnya: sepakbola, bolavoli, bolabasket,
bolatangan dan/atau permainan tradisonal dan sederhana lainnya.
c. Aktivitas Permainan Bola Kecil misalnya: rounders, kasti, softball, dan/atau
permainan tradisonal dan sederhana lainnya.
d. Aktivitas Atletik misalnya: jalan, lari, lompat, dan lempar, dan/atau
permainan tradisonal dan sederhana lainnya.
e. Aktivitas Beladiri misalnya: seni beladiri pencak silat, karate, taekwondo,
dan/atau beladiri lainnya.
f. Aktivitas Pengembangan Kebugaran Jasmani, meliputi sikap tubuh,
pengembangan komponen kebugaran berkaitan dengan kesehatan dan
keterampilan, serta pengukurannya secara sederhana.
g. Aktivitas Senam meliputi: pola gerak dominan dengan dan tanpa alat.
h. Aktivitas Gerak Berirama meliputi: pola gerak dasar langkah, gerak dan
ayunan lengan, musikalitas serta apresiasi terhadap kualitas estetika
gerakan.
i. Aktivitas Air, meliputi: pengenalan air, keselamatan dan pertolongan di air,
dan beberapa gaya renang.
j. Kesehatan, meliputi; bagian-bagian tubuh, manfaat pemanasan dan
pendinginan, kebersihan lingkungan, manfaat istirahat dan pengisian waktu
luang, makanan bergizi dan jajanan sehat, jenis cidera dan cara
penanggulangannya, perilaku terpuji, kebersihan alat reproduksi, NAPZA,
pemeliharaan diri dan orang lain dari penyakit menular dan tidak menular.

8
BAB III
PEMBELAJARAN MATEMATIKA DAN PENDIDIKAN JASMANI,
OLAHRAGA DAN KESEHATAN DI SEKOLAH DASAR (SD)

A. Pembelajaran Matematika untuk Mencapai Keterampilan Abad 21


Kemampuan dan keterampilan yang perlu dikembangkan dalam proses
pembelajaran matematika dalam rangka mencapai keterampilan abad 21 adalah:
1. Kreativitas dan inovasi.
a. Membandingkan beberapa cara dalam menyelesaikan masalah
matematika, untuk mendapatkan solusi inovatif dengan menggunakan
contoh-contoh praktis yang sesuai. Dalam konteks ini siswa dimungkinkan
untuk mencari solusi tersebut melalui berbagai media termasuk internet,
b. Memperhatikan dan mengevaluasi argumen dari rekannya untuk koreksi
dan perbaikan untuk menghasilkan argumen yang mendukung. Mereka
menerima umpan balik untuk terus menemukan pemecahan masalah,
c. Secara kreatif menemukan pola, menyederhanakan, dan mengeneralisasi
untuk memecahkan masalah,
d. Mengembangkan wawasan dan mampu mengomunikasikan hasilnya bagi
pemahamam matematika sebagai upaya kreatif yang dibangun
pengetahuan sebelumnya.
2. Berpikir kritis dan memecahkan masalah.
a. Menemukan struktur logis untuk menghadapi tantangan matematika serta
mampu membuat beberapa alternatif dan membangun argumen untuk
mempertahankan pilihannya,
b. Mengidentifikasi dan mengajukan pertanyaan penting tentang matematika
serta menganalisis jawaban yang diajukan,
c. Memahami masalah matematika terapan melalui analisis dan sintesis untuk
menemukan solusinya,
d. Mmenganalisis bagian-bagian dari suatu sistem matematika yang saling
berinteraksi.
3. Komunikasi dan kolaborasi.

9
Panduan Pembelajaran Matematika dan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

a. Mengartikulasikan ide dan pemikiran matematika secara lisan dan tertulis


dengan menggunakan abstraksi dan penalaran kuantitatif untuk
membangun argumen yang layak,
b. Mmenyimak argumen secara efektif serta menjelaskan ulang dalam rangka
menjelaskan solusi dari suatu permasalahan matematika,
c. Bekerja sama dalam tim yang berbeda, saling menghargai, mengungkapkan
ide dan pemikiran matematik secara efektif,
d. Mmengomunikasikan baik secara lisan, tulisan, atau mendemonstrasikan
kegunaan matematika dalam permasalahan secara luas.
4. Pengetahuan informasi.
a. Mengidentifikasi, mengakses, mengevaluasi, serta mengeksplorasi sumber-
sumber untuk menjawab pertanyaan penting terkait permasalahan
keseharian,
b. Mengeksplorasi topik-topik matematika yang baru dan aplikasinya, serta
mampu berbagi pengetahuan yang diperolehnya,
c. Siswa belajar tentang matematika melalui sumber-sumber informasi yang
terpercaya serta mampu berbagi pengetahuan yang diperolehnya.
5. Pengetahuan media.
a. Memahami statistika, peluang dan pesan media yang dihasilkan bagi
kegunaan sosial, dan dapat diinterpretasikan secara berbeda oleh individu,
b. Memeriksa tujuan, alat, karakteristik dan kaidah statistika yang digunakan,
serta implikasi media yang mempengaruhi keyakinan dan perilaku,
c. Mendapatkan pemahaman yang mendasar tentang masalah aturan dan
etika mengenai akses, penggunaan, dan potensi dari distorsi informasi
matematika,
d. Menyajikan informasi statistik untuk mendukung suatu pandangan atau
membantu individu lain dalam memahami suatu informasi.
6. Menggunakan teknologi, informasi dan komunikasi.
a. Menggunakan peralatan elektronik seperti kalkulator, komputer, gawai
(gadget), dan sumber daya online secara tepat dan efektif,

10
b. Menggunakan teknologi untuk mengkomunikasikan wawasan matematika
dengan menggunakan representasi grafis dari fungsi dan data.
7. Fleksibilitas dan kemampuan adaptasi.
Menghadapi tantangan matematika berkaitan dengan peran dan
tanggungjawab dalam perubahan iklim dan perubahan prioritas, secara
individu dan berkelompok.
8. Inisiatif dan pengarahan diri.
a. Memahami permasalah, mendefinisikan, memprioritaskan, dan
menyelesaikan tugas secara mandiri dengan menyeimbangkan antara taktik
dan tujuan strategis dalam menyelesaikan, memecahkan masalah
matematika,
b. Secara kritis mampu melakukan refleksi terhadap pengalaman
memecahkan masalah matematika di masa lalu serta mengaitkan untuk
menyelesaikan tantangan matematika mendatang.
9. Ketrampilan sosial dan lintas budaya.
a. Menggunakan matematika dalam berbagai lingkup budaya, seperti
penggunaan ukuran panjang atau ukuran berat yang berbeda-beda antara
daerah atau negara,
b. Menerapkan matematika sebagai alat untuk menganalisis data statitika
untuk memahami permasalahan antar budaya.
10. Produktivitas dan akuntabilitas.
Menetapkan tujuan, prioritas, penjadwalan dan bekerja sesuai dengan jadwal
yang telah dibuat.
11. Kepemimpinan dan tanggung jawab.
a. Menggunakan kemampuan interpersonal dan penyelesaian masalah untuk
menyakinkan pentingnya kebersamaan dan memecahkan masalah penting
di masyarakat,
b. Mempertimbangkan implikasi etis dalam pengambilan keputusan secara
matematis.

11
Panduan Pembelajaran Matematika dan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

Pembelajaran matematika bertujuan agar siswa memiliki kecakapan atau


kemahiran matematika, sebagai bagian dari kecakapan hidup yang harus dimiliki
siswa dalam mencapai keterampilan abad 21 terutama dalam pengembangan
berpikir kritis melalui penalaran yang masuk akal dalam menyusun,
mengungkapkan, menganalisis, dan menyelesaikan masalah; peningkatan
kreatifitas untuk mengembangkan, melaksanakan, dan menyampaikan gagasan-
gagasan baru, bersikap terbuka dan responsif terhadap perspektif baru dan
berbeda; keterampilan memahami, mengelola, dan menciptakan komunikasi yang
efektif dalam berbagai bentuk dan isi secara lisan, tulisan, dan multimedia;
bekerjasama berkelompok dan kepemimpinan, beradaptasi dalam berbagai peran
dan tanggungjawab, bekerja secara produktif, berempati, dan menghormati
perbedaan perspektif.
Semua bidang studi memerlukan keterampilan matematika yang sesuai,
merupakan sarana komunikasi yang logis, singkat dan jelas, dapat digunakan untuk
menyajikan informasi dalam berbagai cara, meningkatkan kemampuan berpikir
logis, ketelitian dan kesadaran keruangan, memberikan kepuasan terhadap usaha
memecahkan masalah yang menantang, mengembangkan kreativitas, dan sarana
untuk meningkatkan kesadaran terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi.
Dengan belajar matematika siswa diharapkan akan memperoleh manfaat sebagai
berikut.
1. Mampu berpikir secara sistematis melalui urutan-urutan yang teratur dan
tertentu, terbiasa untuk memecahkan masalah secara sistematis, sehingga
dapat menerapkannya dalam kehidupan nyata, dan bisa menyelesaikan setiap
masalah dengan lebih mudah.
2. Mampu berpikir secara deduktif dan induktif untuk membangun dan
mengembangkan penalaran matematika yang bersifat deduktif.
3. Mampu membentuk sikap yang lebih teliti, cermat, akurat dalam bertindak,
taat pada aturan dan prosedur.
4. Mampu menggunakan dan mengaplikasikan matematika dalam kehidupan
nyata.
Pendekatan saintifik disesuaikan dengan materi yang ada pada mata pelajaran
matematika dimana siswa mengembangkan pengetahuan, kemampuan berpikir
dan keterampilan psikomotorik melalui interaksi langsung dengan sumber belajar

12
yang dirancang dalam Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
berupa kegiatan-kegiatan pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran
saintifik, yaitu:
a. Kegiatan mengamati kejadian, peristwa, situasi, pola, fenomena yang terkait
dengan matematika dan mulai dikenalkan pemodelan matematika dalam
berbagai bentuk;
b. Menanya atau mempertanyakan mengapa atau bagaimana fenomena bisa
terjadi;
c. Mengumpulkan atau menggali informasi melalui mencoba, percobaan,
mengkaji, mendiskusikan untuk mendalami konsep yang terkait dengan
fenomena tersebut;
d. Melakukan asosiasi atau menganalisis secara kritis dalam menjelaskan
keterkaitan antar konsep dan menggunakan, memanfaatkan dan memilih
prosedur/algoritma yang sesuai, menyusun penalaran dan generalisasi; dan
e. Mengomunikasikan apa yang sudah ditemukannya dalam kegiatan analisis.
Selain menggunakan pendekatan saintifik, guru dapat menggunakan model
pembelajaran lain seperti: model pembelajaran kooperatif; pembelajaran
kontekstual; model pembelajaran penemuan terbimbing; pembelajaran berbasis
proyek; dan pembelajaran berbasis masalah. Dalam pembelajaran matematika hal
yang perlu ditekankan:
a. Aktivitas belajar di bawah bimbingan guru maupun mandiri dengan
menggunakan konsep dan prosedur secara benar dan sistematis.
b. Melatih kemampuan berpikir untuk membuat generalisasi dari fakta, data,
fenomena yang ada.
c. Melatih keterampilan melakukan operasi atau manipulasi matematika untuk
menyederhanakan model atau kalimat matematika dalam rangka
menyelesaikan masalah.
d. Pembelajaran berbasis pemecahan masalah.
Pembelajaran matematika hendaknya berangkat dari hal-hal yang bersifat konkret
menuju abstrak. Berdasarkan hal tersebut, dalam pelaksanaan kegiatan belajar
mengajar guru dituntut lebih banyak menggunakan benda kongkrit, media dan alat
peraga yang menarik yang sesuai dengan tuntutan kompetensi, atau dimulai

13
Panduan Pembelajaran Matematika dan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

dengan pemecahan masalah sederhana sehari-hari dan menantang untuk


membangun pola berpikir kritis siswa. Beberapa teknik untuk meningkatkan
efektifitas pembelajaran :
1. Teknik menjelaskan, teknik ini sangat perlu dikuasai guru, namun perlu dibatasi
untuk lebih fokus pada aktifitas utama siswa dalam kegiatan pembelajaran.
Teknik menjelaskan diterapkan terutama pada saat mengatur urutan dan
aktifitas belajar dan melakukan konfirmasi.
a. Gunakan bahasa yang sederhana, jelas dan mudah dimengerti serta
komunikatif
b. Ucapan hendaknya terdengar dengan jelas , lengkap tertentu, dengan
intonasi yang tepat
c. Bahan disiapkan dengan sistematis mengarah ke tujuan
d. Penampilan guru hendaknya menarik diselingi dengan gerak dan humor
sehat
e. Adanya variasi atau selingan dengan metode lain, misalnya tanya jawab,
menggunakan alat bantu seperti lembar peraga(chart)
2. Teknik bertanya, untuk menggunakan tanya-jawab, perlu diketahui tujuan
mengajukan pertanyaan, jenis dan tingkat pertanyaan, serta teknik mengajukan
pertanyaan. Pertanyaan tertutup (bersifat konvergen) memiliki jawaban
tertentu, hanya ada satu jawaban. Pertanyaan terbuka (bersifat divergen)
memiliki jawaban terbuka dan diharapkan menghasilkan banyak cara untuk
menjawabnya dan jawabnya lebih dari satu. Pertanyaan tingkat rendah hanya
mengukur ingatan saja, sedangkan pertanyaan tingkat tinggi setidak-tidaknya
menuntut pemahaman atau pemikiran siswa, misalnya dalam memberikan
alasan atau dalam membuat suatu kesimpulan. Pertanyaan tingkat tinggi
seperti inilah yang diharapkan lebih dikembangkan guru. Tujuan pertanyaan
adalah:
a. Memotivasi siswa
b. Menyegarkan memori/ingatan siswa
c. Mengawali diskusi
d. Mendorong siswa agar berpikir
e. Mengarahkan perhatian siswa

14
f. Menggalakkan penyelidikan (inkuiri, investigasi)
g. Mendiagnosis/memeriksa tanggapan siswa
h. Menarik perhatian siswa
i. Mengundang pertanyaan siswa
3. Teknik peragaan /demonstrasi, yaitu menunjukkan atau memperlihatkan suatu
model atau suatu proses. Teknik ini hanya efektif bila digunakan hanya sebagai
bagian dari kegiatan lain yang memberikan kemungkinan kepada siswa untuk
berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. Misalnya teknik bertanya perlu
merupakan bagian integral dari demonstrasi guru. Demonstrasi digunakan
utamanya bila (1) siswa tidak terampil menggunakannya, atau alat itu dapat
“membahayakan” siswa atau (2) karena keterbatasan banyaknya alat. Namun
ukuran bahan atau alat demonstrasi seharusnya memungkinkan siswa untuk
melihat apa yang guru demonstrasikan.
4. Percobaan (eksperimen) dengan alat secara individual atau kelompok. Di sini
siswa lebih aktif dan diharapkan mereka menemukan berbagai hal yang terkait
dengan pembelajaran baik kognitif, psikomotorik maupun afektif. Kegiatan lain
yang melibatkan kegiatan praktik atau eksperimen adalah hands on
mathematics (matematika dengan sentuhan tangan atau pengutak-atikan
obyek dengan tangan). Ini merupakan kegiatan “pengalaman belajar” dalam
rangka penemuan konsep atau prinsip matematika melalui kegiatan eksplorasi,
investigasi, dan konklusi yang melibatkan aktivitas fisik, mental dan emosional
dengan melibatkan ada aktivitas fisik.
5. Teknik pemecahan masalah, yaitu pertanyaan yang harus dijawab atau direspon
namun jawaban atau strategi untuk menyelesaikannya tidak segera diketahui.
Suatu pertanyaan akan menjadi masalah hanya jika pertanyaan itu dipandang
merupakan suatu tantangan yang tidak dapat dipecahkan oleh suatu prosedur
rutin yang sudah diketahui dan perlu diselesaikan. Cara yang sering digunakan
orang dan sering berhasil pada proses pemecahan masalah inilah yang disebut
dengan Strategi pemecahan masalah. Strategi ini akan sangat bermanfaat jika
dipelajari para siswa maupun guru agar dapat digunakan dalam kehidupan
nyata mereka didalam mereka menyelesaikan masalah yang mereka hadapi.
Beberapa strategi yang sering digunakan adalah:
a. Membuat diagram, strategi ini berkait dengan pembuatan sketsa atau
gambar corat-coret yang membantu/mempermudah pemahaman terhadap

15
Panduan Pembelajaran Matematika dan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

masalahnya dan mempermudah mendapatkan gambaran umum


penyelesaiannya.
b. Mencobakan pada soal yang lebih sederhana, strategi ini berkait dengan
penggunaan contoh khusus tertentu pada masalah tersebut agar lebih
mudah dipelajari, sehingga gambaran umum penyelesaian yang sebenarnya
dapat ditemukan.
c. Membuat tabel, strategi ini digunakan untuk membantu menganalisis
permasalahan atau jalan pikiran kita, sehingga segala sesuatunya tidak
dibayangkan hanya oleh otak yang kemampuannya sangat terbatas, dan
dapat terlihat berbagai kecenderungan yang terdapat dalam table itu.
d. Menemukan pola, strategi ini berkaitan dengan keteraturan yang terlihat
dalam suatu situasi (misalnya susunan sekumpulan bilangan) dilanjutkan
dengan pencarian aturan-aturan itu. Keteraturan tersebut akan
memudahkan kita menemukan penyelesainnya dan bukan tidak mungkin
untuk kita memunculembarkerjaan adanya aturan lainnya.
e. Memecah tujuan, strategi ini berkait dengan pemecahan tujuan umum yang
hendak kita capai menjadi satu atau beberapa tujuan bagian. Tujuan bagian
ini dapat digunakan sebagai batu loncatan untuk mencapai tujuan yang
sesungguhnya. Hal ini dikarenakan bahwa seringkali suatu situasi yang amat
kompleks dan permasalahannya juga tidak sederhana.
f. Memperhitungkan setiap kemungkinan, strategi ini berkait dengan
penggunaan aturan-aturan yang dibuat sendiri oleh si pelaku selama proses
pemecahan masalah sehingga tidak akan ada satupun alternatif yang
terabaikan.
g. Berpikir logis, strategi ini berkaitan dengan penggunaan penalaran maupun
penarikan kesimpulan yang sah atau valid dari berbagai informasi atau data
yang ada.
h. Bergerak dari belakang, strategi ini dimulai dengan menganalisis bagaimana
cara mendapatkan tujuan yang hendak dicapai. Dengan strategi ini, kita
bergerak dari yang diinginkan lalu menyesuaikannya dengan yang diketahui.
i. Mengabaikan (mengelimiasi) hal yang tidak mungkin, dari berbagai alternatif
yang ada, alternatif yang sudah jelas-jelas tidak mungkin hendaknya
dicoret/diabaikan sehingga perhatian dapat tercurah sepenuhnya untuk

16
hal-hal yang tersisa dan masih mungkin saja.
j. Mencoba-coba, strategi ini biasanya digunakan untuk mendapatkan
gambaran umum pemecahan masalahnya dengan mencoba-coba
berdasarkan informasi yang diketahui.
6. Teknik penemuan terbimbing, dalam teknik ini, peranan guru adalah:
menyatakan persoalan, kemudian membimbing siswa untuk menemukan
penyelesaian dari persoalan itu dengan perintah-perintah atau dengan
penggunaan lembar kerja (LK). Siswa mengikuti pertunjuk yang tersedia dalam
lembar kerja dan menemukan sendiri penyelesaiannya. Penemuan terbimbing
biasanya dilakukan berkaitan dengan bahan ajar yang pembelajarannya
dikembangkan secara induktif. Guru harus yakin benar bahwa bahan “yang
ditemukan” sungguh secara matematis dapat dipertanggungjawabkan
kebenarannya.
Kedalaman tingkat pemikiran yang harus digunakan untuk isian atau jawaban
siswa, tergantung dari keadaan kelas secara umum atau tingkat kemampuan
siswa yang akan mengerjakannya. Jika siswanya berkemampuan tinggi,
pertanyaannya juga berbobot untuk memberikan rangsangan yang masih
terjangkau siswa dan tidak sangat mudah bagi mereka. Jika siswanya
berkemampuan kurang, pertanyan atau tempat kosong yang harus diisi siswa
cenderung pada hal-hal yang memerlukan tingkat pemikiran tidak terlalu tinggi.
Jika LK digunakan secara klasikal, maka pertanyaan atau tugas isian yang
bervariasi, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah tingkat kesukarannya
sehingga dapat dikerjakan oleh sebagian besar siswa. Untuk sebuah kelas dapat
disusun beberapa jenis tingkat kesukaran LK dengan muatan yang bertujuan
sama di titik akhirnya. Perbedaannya adalah terutama pada tingkat dan
banyaknya isian atau jawaban yang dituntut atas pertanyaannya. Setiap
kelompok siswa mengerjakan LK yang berbeda sesuai tingkat kemampuan
masing-masing.

17
Panduan Pembelajaran Matematika dan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

Mekanisme pelaksanaan pembelajaran mencakup perencanaan, pelaksanaan


(termasuk didalamnya kegiatan evaluasi), dan pertimbangan daya dukung. Tahap
pertama, perencanaan pembelajaran yang diwujudkan dengan kegiatan
penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Pengembangan RPP dapat
dilakukan oleh guru secara mandiri dan/atau berkelompok di sekolah dikoordinasi,
difasilitasi, dan disupervisi oleh kepala sekolah. Pengembangan RPP dapat juga
dilakukan oleh guru secara berkelompok antarsekolah atau antarwilayah
dikoordinasi, difasilitasi, dan disupervisi oleh dinas pendidikan setempat.
Pelaksanaan pembelajaran didahului dengan penyiapan RPP yang dikembangkan
oleh guru baik secara individual maupun kelompok yang mengacu pada silabus.
Guru dalam merancang pembelajaran dan menyediakan sumber belajar seperti
sarana dan prasarana pembelajaran, alat peraga, bahan, media, sumber belajar
lingkungan sosial dan alam, maupun sumber belajar lainnya, hendaknya
memperhatikan: (1) kondisi, kebutuhan, kapasitas dan karakteristik sekolah dan
masyarakatnya, dan (2) mengelola beban dan pelaksanaan pembelajaran
Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, Matematika, dan Pendidikan Jasmani,
Olahraga dan Kesehatan dan pembelajaran tematik terpadu yang efektif dan
berkualitas.
Prinsip penyusunan RPP adalah sebagai berikut:
1. Setiap RPP harus secara utuh memuat kompetensi pengetahuan dan

18
keterampilan dalam proses pembelajaran serta membangun,
mengembangkan, meningkatkan sikap spiritual dan sikap sosial.
2. Satu RPP dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih.
3. Memperhatikan perbedaan individu siswa. RPP disusun dengan memperhatikan
perbedaan kemampuan awal, tingkat intelektual, minat, motivasi belajar, bakat,
potensi, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan
belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan siswa.
4. Berpusat pada siswa. Proses pembelajaran dirancang dengan berpusat pada
siswa untuk mendorong motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi,
kemandirian, dan semangat belajar, menggunakan berbagai
pendekatan/model.
5. Berbasis konteks yang menekankan pada proses pembelajaran yang menjadikan
lingkungan sekitarnya sebagai sumber belajar.
6. Berorientasi kekinian. Pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi, dan nilai-nilai kehidupan masa kini.
7. Mengembangkan kemandirian belajar. Pembelajaran yang memfasilitasi siswa
untuk belajar secara mandiri.
8. Memberikan umpan balik dan tindak lanjut pembelajaran. RPP memuat
rancangan program pemberian umpan balik positif, penguatan, pengayaan, dan
remedi. Pembelajaran pengayaan dan remidi dilakukan setelah evaluasi
terhadap hasil belajar siswa dilakukan.
9. Memiliki keterkaitan dan keterpaduan antarkompetensi dan/atau antarmuatan.
RPP disusun dengan memperhatikan keterkaitan dan keterpaduan antara KI,
KD, indikator pencapaian kompetensi, materi pembelajaran, kegiatan
pembelajaran, penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman
belajar. RPP disusun dengan mengakomodasikan pembelajaran tematik,
keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya.
10. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. RPP disusun dengan
mempertimbangkan penerapan teknologi informasidan komunikasisecara
terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi.
Saat ini, pemerintah bersama penerbit swasta telah menghasilkan buku guru dan
buku teks untuk pembelajaran tematik, buku teks pelajaran untuk pendidikan

19
Panduan Pembelajaran Matematika dan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

agama, matematika dan pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan yang dapat
diperkaya, dilengkapi dan disesuaikan dengan kebutuhan satuan pendidikan.
Untuk merancang pembelajaran yang efektif, guru perlu melakukan tahapan
analisis kompetensi dalam kurikulum, KTSP, silabus dan buku teks pelajaran sebagai
berikut:
1. Mengkaji dokumen I KTSP meliputi kajian visi, misi, dan tujuan satuan pendidikan
pendidikan, alokasi waktu dan beban belajar, kalender pendidikan untuk
merancang RPP yang proporsional sesuai dengan alokasi tersedia.
2. Mengkaji dokumen II KTSP yang berisi silabus
Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu mata pelajaran atau tema
tertentu dalam pelaksanaan kurikulum. Kajian secara kontekstual, faktual dan
aktual dilakukan untuk diperkaya, dilengkapi, disesuaikan atau ditata ulang
secara kontekstual karakteristik tiap daerah, satuan pendidikan dan siswa.
3. Menentukan dan membuat pemetaan beban belajar dan alokasi waktu untuk
pembelajaran tematik terpadu, pendidikan agama dan budi pekerti, matematika
dan pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan untuk tiap minggu, semester
dan satu tahun pelajaran.
4. Materi pembelajaran dari silabus matematika dirinci ke dalam materi-materi
pembelajaran pada masing-masing RPP. Tujuannya agar keseluruhan materi dan
kompetensi dasar terbagi habis ke RPP dalam satu semester atau satu tahun
pembelajaran.
5. Mengkaji buku guru untuk diperkaya, dilengkapi, disesuaikan atau ditata ulang
secara kontekstual, faktual dan aktual sesuai kondisi, kebutuhan, potensi,
situasi, sosial ekonomi dan budaya serta karakteristik siswa, satuan pendidikan
dan daerah.
Buku guru berisi pedoman yang memuat strategi pembelajaran, metode
pembelajaran, teknik pembelajaran, dan penilaian untuk setiap mata pelajaran
dan/atau tema pembelajaran. Materi pembelajaran matematika yang terdapat
dalam buku tematik terpadu digunakan sebagai konteks pembelajaran dengan
mengikuti struktur materi yang terdapat dalam buku teks pelajaran matematika.
6. Mengkaji buku teks pelajaran untuk siswa untuk diperkaya, dilengkapi,
disesuaikan atau ditata ulang secara kontekstual, faktual dan aktual sesuai

20
kondisi, kebutuhan, potensi, situasi, sosial ekonomi dan budaya serta
karakteristik siswa, satuan pendidikan dan daerah.
Buku siswa memuat rencana pembelajaran berbasis aktivitas. Didalamnya
memuat urutan pembelajaran yang dinyatakan dalam kegiatan-kegiatan yang
harus dilakukan siswa. Buku ini mengarahkan yang harus dilakukan siswa
bersama guru untuk mencapai kompetensi tertentu, bukan buku yang materinya
dibaca, diisi, atau dihafal.
Buku siswa merupakan buku panduan sekaligus buku aktivitas yang akan
memudahkan para siswa terlibat aktif dalam pembelajaran. Kegiatan
pembelajaran yang ada di buku siswa lebih merupakan contoh kegiatan yang
dapat dipilih guru dalam melaksanakan pembelajaran untuk mencapai
kompetensi tertentu. Guru diharapkan mampu mengembangkan ide-ide kreatif
lebih lanjut dengan memanfaatkan alternatif kegiatan yang ditawarkan di dalam
buku guru, atau mengembangkan ide-ide pembelajaran sendiri.
7. Menyusun RPP dan lampiran RPP yang meliputi: alat dan rubrik penilaian, bahan
ajar, lembar kerja, dan perangkat sumber belajar
Prinsip tersebut diwujudkan dan diimplementasikan baik dalam bentuk
pembelajaran reguler, pengayaan, maupun remedial. RPP paling sedikit memuat:
a. Identitas sekolah/madrasah, mata pelajaran atau tema, kelas/semester, dan
alokasi waktu;
b. Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar, dan indikator pencapaian kompetensi;
Indikator pencapaian kompetensi merupakan kemampuan berpikir, bertindak,
atau berperilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk menunjukkan
ketercapaian kompetensi dasar (KD) tertentu dan digunakan sebagai acuan
penilaian untuk mengarahkan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran
dan penilaian yang lebih spesifik. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
merumuskan indikator kompetensi adalah sebagai berikut.
1) Untuk satu KD dirumuskan minimal ke dalam dua indikator kompetensi.
Banyak dan variasi rumusan indikator disesuaikan dengan karakteristik,
kedalaman, dan keluasan KD, serta disesuaikan dengan karakteristik siswa,
tema, dan satuan pendidikan/kelompok belajar.
2) Perumusan indikator dalam bentuk kata kerja operasional yang dapat
diukur atau diamati kinerjanya melalui penilaian

21
Panduan Pembelajaran Matematika dan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

3) Rumusan indikator hendaknya relevan dan merinci kompetensi dasar


sehingga dapat digunakan sebagai acuan pembelajaran dan penilaian dalam
mencapai kompetensi
Indikator memiliki kedudukan yang sangat strategis dalam mengembangkan
pencapaian kompetensi dan berfungsi sebagai acuan dalam: (1)
mengembangkan bahan pembelajaran; (2) mendesain kegiatan pembelajaran
yang efektif; (3) merancang bentuk dan jenis penilaian yang akurat dan dapat
diterapkan dalam proses penilaian yang efektif sesuai kondisi, kebutuhan, dan
kapasitas kelompok belajar.
c. Materi pembelajaran, yang memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang
relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator
ketercapaian kompetensi, yang berasal dari buku teks pelajaran dan buku
panduan guru, sumber belajar lain berupa muatan lokal, materi kekinian,
konteks pembelajaran dari lingkungan sekitar yang dikelompokkan menjadi
materi untuk pembelajaran reguler, pengayaan, dan remedial.
d. Kegiatan pembelajaran yang meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan
kegiatan penutup;
e. Penilaian, pembelajaran remedial, dan pengayaan
Pembelajaran remedial dirancang dengan waktu tersendiri dengan metode dan
media yang berbeda, belajar mandiri atau bimbingan khusus, pemberian
tugas/latihan, atau belajar kelompok dengan bimbingan alumni atau tutor
sebaya, dan diakhiri dengan penilaian. Diagnosis yang harus dilakukan untuk
membuat program remedial adalah: (1) Identifikasi siswa berkesulitan belajar,
(2) lokalisir jenis dan sifat kesulitan, jenis factor dan sifat kesulitan, (3) rancang
kemungkinan bantuan, cara mengatasi dan buatkan program tindak lanjut.
Pembelajaran pengayaan dirancang untuk siswa yang memiliki kemampuan
belajar lebih tinggi berupa pemecahan masalah nyata dengan menggunakan
pendekatan investigatif. Pelaksanaannya dapat dilakukan dalam bentuk kerja
kelompok mengerjakan tugas sesuai dengan minat kelompok atau tema
tertentu, kerja mandiri, atau pemberian pembelajaran untuk kompetensi
tertentu yang belum dipelajari, dan diakhiri dengan penilaian
f. Media, alat, bahan, dan sumber belajar.

22
B. Pembelajaran PJOK untuk mencapai keterampilan abad 21

1. Pendekatan dan Model Pembelajaran


Kurikulum 2013 menerapkan pendekatan dan model pembelajaran yang
bervariasi sesuai karakteristik mata pelajaran PJOK. Pendekatan dan model
pembelajaran yang digunakan diharapkan dapat melatih kemampuan
belajar:mengamati,menanya,mengumpulkan informasi/mencoba,
menalar/mengasosiasi, dan mengomunikasikan. Melalui kemampuan belajar,
diharapkan pelajaran yang diikuti siswa mampu mengembangkan tiga ranah,
yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Hasil akhirnya adalah
peningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia
yang baik (soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan
untuk hidup secara layak (hard skills) dari siswa.
Model-model pembelajaran yang dapat melatih kemampuan belajar, di
antaranya adalah model pembelajaran berbasis masalah (problem-based
learning), pembelajaran berbasis projek (project-based learning),
pembelajaran kontekstual (contextual learning), pembelajaran penemuan
terbimbing (guided discovery learning), sampai pada pembelajaran individual
(individual learning).
Dalam pembelajaran PJOK sendiri terdapat beberapa model pembelajaran
yang sudah dikembangkan. Beberapa di antaranya adalah model pendidikan
gerak (movement education), model pengembangan tanggung jawab
(teaching personal and social responsbility/Hellison’s model), model
pendidikan petualangan (adventure education model), model kebugaran
(fitness education model), model perkembangan (developmental model),
bahkan termasuk model Teaching Games for Understanding (TGfU model)
serta model pembelajaran kooperatif (cooperative learning model).

2. Strategi dan Metode Pembelajaran


a. Strategi Pembelajaran
Strategi pembelajaran dalam PJOK meliputi:
1) Pengajaran Interaktif (Interactive Teaching)
Pengajaran interaktif mempunyai makna guru memberitahukan,
menunjukkan, atau mengarahkan sekelompok anak tentang apa

23
Panduan Pembelajaran Matematika dan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

yang harus dilakukan; lalu siswa melakukannya; dan guru


mengevaluasi seberapa baik hal itu dilakukan dan mengembangkan
isi pelajaran lebih jauh, guru mengontrol proses pengajaran.
Biasanya seluruh kelas bekerja pada tugas yang sama atau dalam
kerangka tugas yang sama. Bandingkan strategi ini dengan gaya
komando; keduanya memiliki perangkat ciri yang sama.
2) Pengajaran Berpangkalan (Station Teaching)
Pengajaran berpangkalan menata lingkungan sehingga dua atau
lebih tugas bisa berlangsung dalam ruangan secara bersamaan.
Biasanya, setiap tugas harus dilakukan dalam pangkalan yang
berbeda dengan tugas lainnya, sehingga setiap tugas memiliki
pangkalannya masing-masing. Siswa berputar dari satu pangkalan
ke pangkalan lain. Kadang-kadang, pengajaran berpangkalan ini
disebut juga pengajaran tugas. Strategi ini dalam tataran gaya
mengajar, serupa dengan gaya latihan (practice style).
3) Pengajaran Sesama Teman (Peer Teaching)
Pengajaran sesama teman adalah strategi pengajaran yang
mengalihkan tanggung jawab guru dalam fungsi pengajarannya
kepada siswa. Strategi ini biasanya digunakan bersamaan dengan
strategi lain tetapi berharga untuk dieksplorasi secara terpisah.
Strategi ini tidak jauh berbeda dengan gaya berbalasan (reciprocal
style), dalam hal siswa sendiri memberikan pengarahan kepada
siswa lainnya. Bedanya, dalam pengajaran sesama teman, siswa
yang bertindak sebagai pengajar tidak hanya berhadapan dengan
satu siswa, tetapi bisa dengan sekelompok siswa.
4) Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
Dalam pembelajaran kooperatif, sekelompok siswa diberi tugas
pembelajaran atau proyek untuk diselesaikan oleh kelompoknya.
Siswa dikelompokkan secara heterogen menurut faktor yang
berbeda seperti kemampuan atau kebutuhan sosialnya.
Keberhasilan kelompok dalam pembelajaran dinilai sesuai dengan
seberapa baik mereka mampu menyelesaikan tugasnya, di samping
dari cara mereka bekerja sama dengan yang lain.
5) Strategi Pembelajaran Sendiri (Self-instructional Strategies)

24
Strategi pembelajaran sendiri melibatkan program yang ditetapkan
oleh siswa sendiri dan mengurangi peran guru sebagai penyampai
informasi. Strategi pembelajaran sendiri menyandarkan diri
sepenuhnya pada materi tertulis, media, dan prosedur evaluasi
yang ditetapkan sebelumnya. Strategi ini dapat dipakai untuk
memenuhi satu atau lebih, terkadang seluruhnya, fungsi
pengajaran.
6) Strategi Kognitif (Cognitive Strategies)
Strategi kognitif adalah strategi pembelajaran yang dirancang
untuk melibatkan siswa secara kognitif dalam isi pelajaran melalui
penyajian tugasnya. Strategi ini meliputi gaya pemecahan masalah,
penemuan terbimbing, dan gaya lain yang memerlukan fungsi
kognitif anak, seperti pembelajaran penemuan (inquiry learning).
Semua model ini menggambarkan pendekatan yang melibatkan
siswa dalam merumuskan respons sendiri tanpa meniru apa yang
sudah diperlihatkan guru sebelumnya.
Tingkat keterlibatan siswa bervariasi sesuai dengan tingkat respons
kognitifnya.Ketika guru mengetengahkan masalah yang
memerlukan jawaban benar yang tunggal, pemecahan masalah itu
biasanya disebut convergent problem solving. Ketika masalah
tersebut bersifat terbuka dan tidak memerlukan satu jawaban
terbaik, maka pemecahan masalah tersebut disebut divergent
problem solving.
7) Pengajaran Beregu (Team teaching)
Pengajaran beregu adalah strategi pembelajaran yang melibatkan
lebih dari satu orang guru yang bertanggung jawab untuk
menyajikan pelajaran kepada sekelompok siswa iswa. Ketika
pelajaran pendidikan jasmani bersifat co-educational (melibatkan
siswa putra dan putri), banyak pendidik melihat bahwa team
teaching sebagai cara untuk memenuhi kebutuhan baik putra
maupun putri yang terkelompokan secara heterogen dengan
mendapat guru pria dan wanita di saat bersamaan.

25
Panduan Pembelajaran Matematika dan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

b. Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran, secara umum meliputi keseluruhan cara atau
teknik dalam menyajikan bahan pelajaran kepada siswa serta bagaimana
siswa diperlakukan selama pembelajaran tersebut. Oleh karena itu, secara
umum, pembahasan tentang metode mengajar bukan hanya
bersinggungan dengan apakah pelajaran perlu diberikan secara
keseluruhan (whole method) ataukah sebagian-sebagian (part method),
tetapi juga tentang cara memperlakukan siswa dan pengaturan waktu.
1) Latihan Terbimbing
Metode latihan terbimbing adalah teknik yang paling umum dalam
proses pembelajaran PJOK, di mana siswa dituntun dengan berbagai
cara melalui pemberian variasi gerak. Dalam penggunaannya latihan ini
mempunyai beberapa tujuan, dan yang paling utama adalah untuk
mengurangi kesalahan serta memastikan bahwa pola gerak yang tepat
sudah dilakukan.

Penggunaan latihan terbimbing amat penting terutama dalam cabang


olahraga yang berbahaya seperti senam dan renang. Di sini siswa perlu
dibantu, baik secara langsung oleh guru atau dengan pemakaian alat.

2) Latihan Padat dan Terdistribusi


Guru PJOK harus membuat keputusan berkaitan dengan berapa lama
waktu latihan yang digunakan dalam satu episode pembelajaran, dan
bagaimana waktu yang tersedia ini dimanfaatkan, apakah langsung
dihabiskan sekaligus atau diselingi istirahat.

Umumnya, unit pembelajaran dalam PJOK menghabiskan waktu latihan


hanya untuk menguasai satu keterampilan, misalnya hari pertama
pasing bawah pada permainan bola voli, kemudian di hari berikutnya
berganti menjadi pasing atas. Jika ini yang dilakukan, guru mempunyai
pilihan apakah keterampilan akan dilatih oleh anak secara terus
menerus sampai waktu habis atau menetapkannya dalam satuan waktu
tertentu diselingi istirahat. Pilihan yang pertama disebut latihan padat
(massed practice), sedangkan pilihan kedua disebut latihan terdistribusi

26
(distributed practice). Contoh lain dari metode ini adalah latihan dengan
interval (interval training).

3) Latihan Terpusat dan Acak


Latihan disebut terpusat jika dua atau tiga keterampilan yang dilatih
dilaksanakan satu persatu hingga jumlah ulangan atau waktu yang
ditentukan terselesaikan sebelum dilanjutkan ke keterampilan lain.
Contohnya dalam pembelajaran bulutangkis yang berisi servis, smes,
dan dropshot. Guru akan meminta siswa melatih dulu servis, misalnya
20 kali kemudian dilanjutkan smes 20 kali dan dropshot 20 kali. Intinya,
latihan terpusat dilaksanakan dengan mendahulukan satu tugas hingga
selesai sebelum berpindah ke tugas lain.
Latihan acak dilakukan dengan melakukan latihan beberapa
keterampilan secara berselang-seling. Dengan latihan acak, siswa
diminta melakukan gerakan servis 1 kali dilanjutkan smes1 kali, dan
dropshot 1 kali kemudian kembali ke servis lagi, smes, dan ke dropshot
lagi, dan seterusnya hingga jatah waktu atau jumlah ulangan yang
ditetapkan diselesaikan.

Latihan yang bervariasi pada dasarnya melatih banyak kemungkinan


variasi gerak. Latihan dapat divariasikan berdasarkan pada perubahan
kecepatan, jarak, tingkatan gerak, dan tujuan latihan. Jika dalam satu
pertemuan latihan kondisi-kondisi tersebut divariasikan sedemikian
rupa, siswa akan mengambil banyak keuntungan berupa pemantapan
kemampuan penyesuaian keterampilan, maupun proses kognitifnya.

4) Keseluruhan dan Bagian per Bagian


Beberapa keterampilan terdiri dari beberapa gerakan yang sangat
kompleks (keterampilan serial) sehingga guru harus mampu
menyesuaikan prosedur dan pendekatan yang tepat. Untuk
menghadapi gerakan tersebut guru akan membagi tugas menjadi
bagian-bagian kecil (sesuai teknik dasarnya). Setiap bagian tersebut
dilatih satu persatu sesuai urutannya untuk kemudian disatukan setelah
semua bagian terkuasai agar menjadi satu keterampilan yang utuh. Jika

27
Panduan Pembelajaran Matematika dan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

ini yang ditempuh guru, maka ia sedang menerapkan metode bagian


(part method).

Jika suatu keterampilan merupakan suatu keterampilan yang utuh


(keterampilan diskrit) dimana hubungan antara satu bagian dengan
bagian yang lain demikian erat maka lebih baik diajarkan secara utuh.
Irama dan timing dari keterampilan itu akan terjaga dengan lebih baik
jika guru memilih metode keseluruhan atau whole method.

Guru dapat memadukan kedua cara tersebut jika tidak mengganggu


keselamatan. Siswa harus diberi kesempatan untuk merasakan
keterampilan secara keseluruhan sebelum keterampilan itu dipecah
menjadi bagian. Jika ini yang dilakukan guru maka ia sedang
menggunakan metode campuran yang disebut metode keseluruhan-
bagian (whole-part method).

Selain ketiga metode tersebut (bagian, keseluruhan, dan keseluruhan-


bagian juga dikenal satu metode mengajar yang lain yang disebut
metode progresif (progressive method). Metode ini dikenal sebagai
metode yang berada dalam satu gugus dengan metode bagian, tetapi
diciptakan dengan maksud menutupi kekurangan dari metode tersebut.

Pada prinsipnya metode progresif mengikuti urutan sebagai berikut.


Pada tahap pertama, latihan hanya melibatkan satu bagian
keterampilan yang dianggap penting (inti) yang selalu ditekankan dan
diulang-ulang. Pada tahap kedua, bagian pertama digabung dengan
bagian kedua sehingga menampilkan pola gerak yang lebih besar. Pada
tahap ketiga, bagian satu dan bagian dua digabung lagi dengan bagian
tiga, yang menunjukkan pola keterampilan yang semakin lengkap.
Demikian seterusnya sehingga keseluruhan bagian yang tersisa
akhirnya tergabung secara keseluruhan.

28
3. Model-model Pembelajaran
Berikut beberapa model pembelajaran yang dapat menginspirasi:

a. Model Pembelajaran Penemuan (Inquiry Learning)


Contoh tahapan model pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan
Kesehatan dengan model ini adalah:
Pendahuluan
 Siswa mempersiapkan peralatan yang akan dipakai dalam
pembelajaran.
 Guru menunjuk siswa untuk membariskan dan memimpin doa
sebelum dimulai pembelajaran.
Inti
 Siswa melakukan gerakan senam irama sesuai dengan instruksi guru
sebelum pembelajaran dimulai.
 Guru membuka dan menjelaskan pembelajaran senam irama bagi
kesehatan dan kebugaran jasmani.
 Siswa melakukan gerakan senam irama sesuai dengan penjelasan
guru secara individu maupun kelompok, dan menyampaikan arti
penting kerjasama dalam gerak senam berirama.
 Seluruh gerakan senam irama siswa diawasi dan diberikan koreksi
oleh guru apabila ada kesalahan gerakan.
 Siswa secara individu dan atau kelompok melakukan gerakan senam
irama dengan menunjukkan sikap kerjasama sesuai dengan koreksi
oleh guru.
 Guru mengamati seluruh aktifitas siswa dalam melakukan gerakan
senam irama secara seksama.
Penutup
 Guru menyampaikan tingkat pencapaian kompetensi sikap,
pengetahuan, dan keterampilan yang diperoleh oleh siswa,
menyampaikan siswa yang mendapatkan hasil yang terbaik, dan
memberikan motivasi pada yang belum.
 Siswa merapikan dan mengembalikan peralatan yang telah digunakan.
 Berdoa bersama.

29
Panduan Pembelajaran Matematika dan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

b. Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning/PBL)


Contoh tahapan model pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan
Kesehatan dengan model ini adalah:
Pendahuluan
 Siswa mempersiapkan perlalatan yang akan dipakai dalam
pembelajaran.
 Guru menunjuk siswa untuk membariskan dan memimpin doa sebelum
dimulai pembelajaran.

 Siswa diminta untuk mempersiapkan pertanyaan gerakan-gerakan yang
tidak mampu.
Inti
 Siswa melakukan gerakan senam irama yang tidak mampu dilakukan
pada saat gerakan.
 Guru mengamati seluruh gerakan senam irama siswa secara individu
maupun kelompok.
 Seluruh gerakan senam irama siswa diawasi dan diberikan koreksi oleh
guru apabila ada kesalahan gerakan.
 Siswa secara individu dan atau kelompok melakukan gerakan senam
irama sesuai dengan koreksi oleh guru.
 Seluruh gerakan siswa setelah diberikan umpan balik diamati oleh guru
secara individu maupun kelompok.
 Siswa melakukan gerakan senam irama secara individu secara
bergantian.
Penutup
 Secara klasikal siswa diberikan penghargaan dan motivasi berdasarkan
hasil penilaian.
 Siswa merapihkan dan mengembalikan peralatan yang telah digunakan
 Berdoa bersama.

c. Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)


Contoh tahapan model pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan
Kesehatan dengan model ini adalah:

30
Pendahuluan
 Siswa mempersiapkan perlalatan yang akan dipakai dalam
pembelajaran.
 Guru menunjuk siswa untuk membariskan dan memimpin doa sebelum
dimulai pembelajaran
 Siswa dibagi dalam beberapa kelompok sesuai dengan teknik gerakan,
misalnya: teknik bermain sepakbola maka siswa dibagi menjadi
kelompok mengoper, menggiring, menendang, menangkap bola,
melempar ke dalam.
Inti
 Siswa melakukan gerakan teknik sepakbola sesuai dengan pembagian
kelompok instruksi guru sebelum pembelajaran dimulai
 Guru menjelaskan keterkaitannya teknik sepakbola bagi kebugaran
jasmani
 Siswa yang memiliki keterampilan lebih baik dapat dijadikan sebagai
mediator bagi siswa lain dalam kelompok tersebut.
 Secara kelompok siswa berganti tempat untuk mempelajari gerakan
teknik yang berbeda dari kelompok asal.
 Seluruh gerakan teknik sepakbola diawasi dan diberikan koreksi oleh
guru apabila ada kesalahan gerakan.
 Siswa secara individu dan atau kelompok melakukan gerakan teknik
sepakbola sesuai dengan koreksi oleh guru.
Penutup
 Secara klasikal siswa diberikan penghargaan dan motivasi berdasarkan
hasil penilaian.
 Siswa merapihkan dan mengembalikan peralatan yang telah digunakan.
 Berdoa bersama.

C. Penjadwalan Pembelajaran Matematika dan PJOK

Langkah pembuatan jadwal pelaksanaan pembelajaran matematika dan PJOK


dilakukan dengan:

a. Menyesuaikan alokasi waktu mata pelajaran berdasarkan Struktur


Kurikulum.

31
Panduan Pembelajaran Matematika dan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

Contoh : Kelas IV.


Alokasi Waktu
No Mata Pelajaran
per Minggu
1. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti 4 JP
2. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 5 JP
3. Bahasa Indonesia 7 JP
4. Matematika 6 JP
5. Ilmu Pengetahuan Alam 3 JP
6. Ilmu Pengetahuan Sosial 3 JP
7. Seni Budaya dan Prakarya 4 JP
8. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan 4 JP

Dari tabel tersebut, terlihat bahwa alokasi waktunya per minggu untuk
Matematika adalah 6 jam pelajaran. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan
Kesehatan (PJOK) 4 jam pelajaran. Karena Matematika dan PJOK terpisah
dari tematik terpadu, maka pembelajarannya dibuatkan jadwal tersendiri
dengan alokasi waktu tersebut.

b. Menyusun jadwal pelajaran


Sekolah dapat menyusun jadwal pelajaran sesuai kebutuhan dengan
memperhatikan alokasi waktu pelajaran Matematika 6 jam pelajaran dan
PJOK 4 jam pelajaran per minggu @ 35 menit.

Contoh Jadwal Pelajaran Kelas IV.


Jam
Senin Selasa Rabu Kamis Jum’at Sabtu
ke
1 Pendidikan Matematika PJOK Pendidikan Matematika PJOK
Agama dan Agama dan
Budi Budi Pekerti
Pekerti
2 Pendidikan Matematika PJOK Pendidikan Matematika PJOK
Agama dan Agama dan
Budi Budi Pekerti
Pekerti
3 Tematik Tematik Tematik Matematika Tematik Tematik
4 Tematik Tematik Tematik Matematika Tematik Tematik
5 Tematik Tematik Tematik Tematik Tematik Tematik
6 Tematik Tematik Tematik Tematik Tematik Tematik

32
BAB IV
PENUTUP

Panduan Pelaksanaan Pembelajaran Matematika dan PJOK merupakan acuan bagi


guru kelas dan guru dalam melaksanakan pembelajaran di kelas tinggi (IV, V, dan
VI), guru dapat mengembangkan model dan pendekatan pembelajaran sesuai
kebutuhan, karakteristik, dan materi yang akan diajarkan kepada siswa. Semoga
panduan ini bermanfaat.

33
Panduan Pembelajaran Matematika dan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

34
35
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH DASAR
TAHUN 2016