Anda di halaman 1dari 16

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

“ANEMIA”

OLEH KELOMPOK 2 :

ANNISA NURSA FITRI Y RAHMINDA


AZMI MAYDELVI RENDA FAUZANA
DIANA SUSANTI RENI ASTUTI
DILA NOFRIANTI RESKI RAMADHANI
HADIA PUTRI SARI RUCCI FEBRINAL
LUCI ANGGELA SRI RAHMAWATI
NADYA RINANDA WIKA MAYETRI
NOVFANDRO CHANIAGO WIWIL SRI WAHYUNI

KELAS 2B

DOSEN PEMBIMBING:
Ns. VELGA YAZIA, S.Kep

S1 Keperawatan
STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG
2014
SATUAN ACARA PENYULUHAN
(SAP)

Pokok Pembahasan : ANEMIA


Sasaran : Dewasa (masyarakat / komunitas)
Hari/Tanggal : Sabtu, 19 Desember 2014
Waktu : 09:00 s/d 09.35 WIB
Tempat : Di balai pertemuan kelurahan surau
gadangpondok kopi siteba
Penyuluh : Mahasiswa tingkat IIb
STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang

A. Latar belakang
Anemia merupakan masalah kesehatan dalam masyarakat di dunia baik negara miskin
maupun negara berkembang. Prevalensi anemia pada anak prasekolah di Indonesia,
menurut World Health Organisation (WH0) pada tahun 1993 sampai 2005 didapati
sekitar 44.4%. Anemia dapat mempengaruhi fungsi miokardium, hal ini berhubungan
dengan beratnya anemia.
Saat ini anemia berat berhubungan dengan tingginya insidens pembesaran jantung dan
komplikasi terhadap gagal jantung. Kardiomegali adalah suatu keadaan dimana terjadi
pembesaran pada jantung.
Beberapa penyebab kardiomegali pada anak antara lain penyakit miokardium, penyakit
arteri koroner, defek jantung kongenital dengan gagal jantung ataupun beberapa
keadaan lain seperti tumor jantung, anemia berat, kelainan endokrin, malnutrisi, distrofi
muskular dan gagal jantung akibat penyakit paru.
Suatu penelitian yang dilakukan pada anak sehat dengan hemoglobin di bawah 6 gr/dL
akibat defisiensi besi menunjukkan terjadinya peningkatan preload dan penurunan
afterload dari ventrikel kiri jantung dibandingkan dengan kelompok kontrol, serta
terjadi peningkatan kardiak indeks secara signifikan pada pasien dengan anemia berat.
Pada keadaan anemia dapat terjadi hipertrofi ventrikel kiri dengan miofibril jantung
yang memanjang dan dilatasi ventrikel kiri yang mengakibatkan pembesaran isi
sekuncup sesuai dengan mekanisme Starling.Pembesaran jantung pada penderita
anemia berat kronis pernah dilaporkan. Suatu penelitian melaporkan hasil foto toraks
yang menunjukkan pembesaran jantung kemudian menghilang setelah dilakukan
perbaikan terhadapan anemia.
Meskipun foto toraks sering digunakan untuk menilai pembesaran jantung, tetapi
penelitian yang menunjukkan adanya hubungan kadar hemoglobin dengan nilai rasio
jantung toraks pada anak penderita anemia berat kronis masih sedikit dilaporkan.

B. Tujuan
1. Tujuan umum
Setelah diberikan penyuluhan ini diharapkan kepada semua yang ada di
balai pertemuan kelurahan surau gadang pondok kopi siteba mengetahui
penyakit anemia.

2. Tujuan khusus
Setelah diberikan penyuluhan diharapkkan masyarakat mampu :
a. Klien memahami tentang pengertian anemia
b. Klien memahami tentang penyebab anemia
c. Klien memahami tentang tanda dan gejala anemia
d. Klien memahami akibat anemia
e. Klien mengetahui cara pencegahan dan pengobatan anemia
C. Manfaat
Bagi Audients
Agar masyarakat lebih mengetahui apa itu penyakit anemia dan apa saja tanda
dan gejala dari penyakit anemia itu sendiri.

D. Materi (Terlampir)
E. Media Penyuluhan
1. LCD
2. Leaflet
F. Metode Penyuluhan
1. Ceramah
2. Tanya jawab
G. Setting Tempat

: Moderator

: LCD

: Penyuluh

: Peserta

: Fasilitator

: Observer

H. Pengorganisasian
a) Moderator : Reni Astuti
b) Penyuluh : Dila Nofrianti
c) Fasilitator : Sri Rahmawati
d) Observer : Diana Susanti

I. Pembagian Tugas
1. Peran Moderator
a. Membuka dan menutup acara
b. Memperkenalkan diri
c. Menata tertibkan acara penyuluhan
d. Menjaga kelancaran acara
e. Memimpin diskusi
f. Menyimpulkan hasil penyuluhan bersama audience
2. Peran Presenter
a. Menyajikan materi penyuluhan
b. Bersama fasilitaror menjalin kerja sama dalam penyuluhan
3. Peran Observer
a. Mengamati jalannya acara
b. Mengevaluasi kegiatan
c. Mencatat prilaku verbal dan non verbal peserta penyuluhan
4. Peran Fasilitator
a. Memotivasi peserta penyuluhan
b. Menjadi contoh dalam kegiatan
c. Membagikan leaflet
d. Menjalankan absensi penyuluhan
J. Kegiatan Penyuluhan

Kegiatan
No Waktu Pokok kegiatan
Penyuluh Audiens
1. 5 menit Pembukaan a. Mengucapkan a. Menjawab salam
salam b. Memperhatikan
b. Memperkenalkan c. Mendengarkan
diri, nama dan
kelompok dan memperhatikan
pembimbing
c. Menjelaskan
kontrak waktu
d. Menjelaskan
tujuan umum dan
khusus

2. 15 menit Penyampaian a. Menggali Menjawab


materi pengetahuan klien
tentang
pengertian anemia Mendengarkan
b. Memberikan
reinforcement
positif Mendengar dan
c. Menjelaskan memperhatikan
anemia Menjawab
d. Menggali
pengetahuan klien
tentang penyebab
anemia
e. Memberi Mendengar
reinforcement
positif atas Mendengar dan
kemampuan klien memperhatikan
f. Menjelaskan
patofisiologi Menjawab
tentang anemia
g. Menggali
pengetahuan klien
tentang anemia Mendengarkan
h. Manifestasi klinis
anemia
i. Memberi
reimforcement Mendengarkan
positif atas dan
kemampuan klien memperhatikan
j. Menjelaskan Menjawab
manifestasi klinis a. Menjawab
dari anemia
k. Menggali
pengetahuan klien
akibat lanjut dari
anemia b. Mendengarkan
l. Memberi
reimforcement
positif atas
kemampuan klien c. Mendengarkan
m. Menjelaskan dan
akibat lanjut dari memperhatikan
anemia Menjawab
n. Menggali
pengetuhuan klien
cara perawatan
dari anemia
o. Memberi Mendengarkan
reimforcement
positif atas
kemampuan klien
p. Menjelaskan cara Mendengarkan
perawatan dari dan
anemia pada klien memperhatikan
q. Menggali Menjawab
pengetahuan klien
tentang
pencegahan dari
anemia
r. Memberi Mendengarkan
reimforcement
positif atas
kemampuan klien
s. Menjelaskan mendengarkan
pencegahan dari dan
anemia pada klien memperhatikan
3. 10 menit Sesi tanya a. Sesi tanya jawab, a. Klien bertanya
jawab memberikan
kesempatan
kepada klien
untuk bertanya
yang dipimpin
oleh moderator
b. Memberikan b. Mendengar dan
reinforcement memperhatikan
c. Menjawab c. Mendengar dan
pertanyaan memperhatikan
audiens
4. 5 menit Penutup a. Mengevaluasi a. Mendengar dan
kepada audiens memperhatikan
materi
penyuluhan b. Mendengar dan
b. Memberikan memperhatikan
reinforcement
positif c. Mengemukakan
c. Bersama audience pendapat
menyimpulkan
meteri d. Menjawab salam
penyuluhan
d. Menutup
penyuluhan dan
memberi salam

K. Evaluasi
a. Struktur
1. 10 % masyarakat yang hadir mengidap penyakit anemia
2. Diharapkan Pengorganisasian sesuai dengan perencanaan
b. Evaluasi Proses
1. Diharapkan Acara di mulai tepat waktu
2. Diharapkan Materi diberikan sesuai dengan rencana kegiatan
3. Diharapkan 60% peserta berpartisipasi dalam bertanya ataupun menjawab
pertanyaan
c. Evaluasi Hasil
70% audience mampu :
1. Diharapkan Menyebutkan pengertian anemia dengan tepat.
2. Diharapkan Dapat menyebutkan penyebab anemia
3. Diharapkan Dapat menyebutkan tanda dan gejala anemia
4. Diharapkan dapat menyebutkan akibat anemia
5. Diharapkan Dapat menyebutkan cara pencegahan anemia
LAMPIRAN

TINJAUAN TEORITIS
A. DEFENISI
Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar Hb dan atau hitung eritrosit
lebih rendah dari normal.
Anemia adalah berkurangnya jumlah eritrosit serta jumlah Hb dalam
1mm3 darah atau berkurangnya volume sel yang didapatkan (packed red cells
volume) dalam 100 ml darah. (Ngastiyah.1997).
Anemia adalah gejala dari kondisi yang mendasari, seperti kehilangan
komponen darah, elemen tak adekuat atau kurangnya nutrisi yang dibutuhkan
untuk pembentukan sel darah merah, yang mengakibatkan penurunan kapasitas
pengangkut oksigen darah (Doenges,1999).
Anemia adalah istilah yang menunjukan rendahnya hitungan sel darah
merah dan kadar hemoglobin dan hematokrit di bawah normal (Smeltzer, 2002 :
935).
Anemia adalah berkurangnya hingga di bawah nilai normal sel darah
merah, kualitas hemoglobin dan volume packed red bloods cells (hematokrit)
per 100 ml darah (Price, 2006 : 256).

B. ETIOLOGI
Penyebab tersering dari anemia adalah kekurangan zat gizi yang
diperlukan untuk sintesis eritrosit, antara lain besi, vitamin B12 dan asam folat.
Selebihnya merupakan akibat dari beragam kondisi seperti perdarahan, kelainan
genetik, penyakit kronik, keracunan obat, dan sebagainya.
Penyebab umum dari anemia :
1. Perdarahan hebat
2. Akut (mendadak
3. Kecelakaan
4. Pembedahan
5. Persalinan
6. Pecah pembuluh darah
7. Penyakit Kronik (menahun)
8. Perdarahan hidung
9. Wasir (hemoroid)
10. Ulkus peptikum
11. Kanker atau polip di saluran pencernaan
12. Tumor ginjal atau kandung kemih
13. Perdarahan menstruasi yang sangat banyak
14. Berkurangnya pembentukan sel darah merah
15. Kekurangan zat besi
16. Kekurangan vitamin B12
17. Kekurangan asam folat
18. Kekurangan vitamin C
19. Penyakit kronik
20. Meningkatnya penghancuran sel darah merah
21. Pembesaran limpa
22. Kerusakan mekanik pada sel darah merah
23. Reaksi autoimun terhadap sel darah merah
24. Hemoglobinuria nokturnal paroksismal
25. Sferositosis herediter
26. Elliptositosis herediter
27. Kekurangan G6PD
28. Penyakit sel sabit
29. Penyakit hemoglobin C
30. Penyakit hemoglobin S-C
31. Penyakit hemoglobin E
32. Thalasemia

C. MANIFESTASI KLINIS ATAU TANDA DAN GEJALA


a. Tanda-tanda umum anemia :
 Kelemahan
 Kelelahan
 Lekas merah
 Pucat
 Sakit kepala
 Perubahan nafsu makan
 Perubahan warna kulit pucat atau kebiruan
 Sesak nafas
b. Manifestasi khusus pada anemia:
 Anemia aplastik: ptekie, ekimosis, epistaksis, ulserasi oral, infeksi
bakteri, demam, anemis, pucat, lelah, takikardi.
 Anemia defisiensi: konjungtiva pucat (Hb 6-10 gr/dl), telapak tangan
pucat (Hb < 8 gr/dl), iritabilitas, anoreksia, takikardi, murmur sistolik,
letargi, tidur meningkat, kehilangan minat bermain atau aktivitas
bermain. Anak tampak lemas, sering berdebar-debar, lekas lelah, pucat,
sakit kepala, anak tak tampak sakit, tampak pucat pada mukosa bibir,
farink,telapak tangan dan dasar kuku. Jantung agak membesar dan
terdengar bising sistolik yang fungsional.
 Anemia aplastik : ikterus, hepatosplenomegali.
(Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran UI, 1985)

D. KOMPLIKASI
1. Cardiomegaly
2. Congestive heart failure
3. Gastritis
4. Paralysis
5. Paranoia
6. Hallucination and delusion
7. Infeksi genoturia

E. PENCEGAHAN DAN PENGOBATAN


Anemia dapat diobati dengan 2 cara yaitu :
a. Menormalkan jumlah sel darah merah dan hemoglobin didalam darah
sehingga tubuh mendapat cukup asupan oksigen.
b. Mengobati penyakit yang menyebabkan anemia
Pengobatan yang diresepkan dokter akan tergantung dari penyebab anemia.
Misalnya, pengobatan untuk anemia sel bulan sabit berbeda dengan pengobatan
anemia yang disebabkan kekurangan zat besi dan asam folat. Pengobatan
mungkin akan termasuk perubahan pada makanan yang dimakan,
menambahkan suplemen pada makanan sehari – hari (seperti pil vitamin atau pil
yang mengandung zat besi), mengubah obat yang dikonsumsi, atau jika anemia
sudah parah dapat dilakukan transfusi darah atau operasi.
pencegahan sederhana yang dapat dilakukan agar terhindar dari sakit anemia ;
1. Meningkatkan asupan makanan yang banyak mengandung zat besi.
2. Mengkonsumsi makanan yang dapat membantu penyerapan zat besi.
3. Membatasi minuman yang dapat memperlambat penyerapan zat besi.
4. Lakukan penanganan dan pengobatan jika menderita fybroids.
5. Periksa kondisi kesehatan.

F. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan anemia aplastik terdiri dari terapi utama, terapi suportif
untuk menangani gejala yang timbul akibat bisitopenia atau pansitopenia, dan
terapi jangka panjang untuk memberikan kesembuhan pada sumsum tulang.
Terapi utama adalah hindari pemaparan lebih lanjut terhadap agen
penyebab. Tetapi sering sulit untuk mengetahui penyebab karena etiologinya
yang tidak jelas atau idiopatik. Terapi suportif diberikan sesuai gejala yang dapat
dijelaskan sebagai berikut :
1. Anemia
2. neutropenia, dan
3. trombositopenia.
Pada anemia berikan tranfusi packed red cell jika hemoglobin kurang dar 7g/dl,
berikan sampai hb 9-10 g/dl. Pada pasien yang lebih muda mempunyai toleransi
kadar hemogoblin sampai 7-8g/dl untuk pasien yang lebih tua kadar hemoglobin
dijaga diatas 8g/dl.
Pada neutropenia jauhi buah-buahan segar dan sayur, fokus dalam
menjaga perawatan higienis mulut dan gigi cuci tangan yang sering. Jika terjadi
infeksi maka identifikasi sumbernya, serta berikan antibiotik spektrum luas
sebelum mendapatkan kultur untuk mengetahui bakteri gram positif atau
negatif. Tranfusi granulosit diberikan pada keadaan sepsis berat kuman gram
negatif, dengan netropenia berat yang tidak memberikan respon terhadap
pemberian antibiotik. Pada trombositopenia berikan tranfusi trombosit jika
terdapat pendarahan aktif atau trombosit kurang dari <20.000/mm
Terapi jangka panjang terdiri dari Terapi imunosupresif dan terapi transplantasi
sumsum tulang.
a) Terapi transplantasi sumsum tulang lebih direkomendasikan sebagai
terapi pertama, dengan donor keluarga yang sesuai. Maka karena itu,
terapi imunosupresif direkomendasikan pada pasien :
1. Lebih tua dari 40 tahun, walaupun rekomendasi berdasarkan dokter
dan faktor pasiennya
2. Tidak mampu mentoleransi transplantasi sumsum tulang karena
masalah penyakit atau usia tua
3. Tida mempunyai donor yang sesuai
4. Akan diterapi tranplantasi sumsum tulang, tetapi sedang menunggu
untuk donor yang sesuai
5. Memilih terapi imunosupresif setelah menimbang faktor resiko dan
manfaat dari semua pilihan terapi.
b) Terapi imunosupresif adalah dengan pemberian anti lymphocyte
globuline (ALG) atau anti thymocyteglobulin (ATG), kortikosteroid,
siklosporin yang bertujuan untuk menekan proses imunologik. ALG dapat
bekerja meningkatkan pelepasan haemopoetic growth factor. Sekitar
40%- 70% dari kasus memberi respon terhadap pemberian ALG. Terapi
ATG dapat menyebabkan reaksi alergi, dengan pasien mengalami demam,
athralgia, dan skin rash sehingga sering diberikan bersamaan dengan
kortikosteroid. Siklosporin menghambat produksi interleukin-2 oleh sel-
T serta menghambat ploriferasi sel-T dari respon oleh interleukin-2.
Pasien yang diterapi dengan siklosporin membutuhkan perawatan
khusus karena obat dapat menyebabkan disfungsi ginjal dan hipertensi
serta perlu diawasi hubungan interaksi dengan obat lainnya. Terapi
imunosupresif merupakan pilihan utama untuk pasien diatas 40 tahun.

Pada 227 pasien dengan anemia aplastik berat yang diterapi


imunosupresif selama 23 tahun (1978 sampai 1991), 78 pasien merespon penuh
pengobatan, 23 pasien merespon kecil, 122 pasien tidak merespon, dan 4 pasien
tidak teruji. Dari 122 yang tidak merespon meninggal dalam waktu 3 bulan
setelah dimulainya terapi
Terapi transplantasi tulang merupakan terapi yang memberikan harapan
kesembuhan, tetapi biayanya sangat mahal, dan mempunyai efek samping yang
mengancam jiwa. Human Leukocyte Antigen (HLA) harus segera dicocokkan
antara pasien dan donor ketika terapi transplantasi tulang dipilih.

Transplantasi sumsum tulang dapat dipertimbangkan menurut :


1. Donor yang terbaik biasanya berasal dari keluarga
2. Transplantasi sumsum tulang denganpencocokan HLA keluarga
merupakan pilihan untuk pasien dengan umur dibawah 60 tahun
3. Jika tidak ada HLA yang cocok dari keluarga, pasien dengan umur di
bawah 40 tahun dapat melakukan transplantasi sumsum tulang dengan
donor bukan keluarga. Jika pasien berumur lebih dari 40 tahun maka
diberikan terapi imunosupresif
4. Adanya resiko graft rejection atau graft failure (ketika sumsum tulang
yang ditransplantasi tidak tumbuh dan membuat sel darah untuk tubuh).
Menerima banyak tranfusi meningkatkan resiko graft rejection karena
kekebalan tubuh pasien membuat antibodi untuk melawan sel sumsum
tulang yang ditransplantasi. Dokter harus meminimalisasi pemberian
tranfusi darah
5. Diberikan siklosporin A1 atau dosis tinggi cyclophosphamide untuk
mengatasi adanya GvHD (graft versus Host Disease). Pemberian obat-
obatan tersebut meningkatkan resiko timbulnya infeksi
6. Memberikan kesembuhan 70%-90% dari kasus
7. Anak-anak mempunyai angka kesembuhan yang lebih tinggi
dibandingkan orang dewasa.
DAFTAR PUSTAKA
Baughman, C. Diane, Keperawatan Medikal Bedah, Jakarta EGC : 2000
Marylin. E. Doengus, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 3 Jakarta EGC :1999
Mansjoer, Arief dkk, Kapita Selekta Kedokteran Jilid 3, Jakarta Media
Aesculapius : 2001
Price, A & Wilson, M, 2005, Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6,
Terjemahan, Jakarta : EGC.
NANDA, 2005, Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006, Alih Bahasa :
Budi Santosa, Prima Medika, Jakarta
Smeltzer, S & Bare, B 2001, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Jakarta : EGC.