Anda di halaman 1dari 19

PROMOSI KESEHATAN PADA KEPERAWATAN JIWA KELOMPOK

REMAJA
YUNUS ADI WIJAYA
PROGRAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2018

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak ke
dewasa. Batas usia remaja menurut WHO (2007) adalah 12 sampai 24 tahun.
Namun pada usia remaja seseorang sudah menikah, maka dia tergolong dalam
dewasa dan bukan lagi remaja. Sebaliknya, jika usia sudah bukan lagi remaja
tetapi masih tergantung pada orang tua (tidak mandiri), maka msih
dikelompokkan dalam kelompok remaja. Remaja merupakan tahap seseorang
dimana ia berada pada fase anak dan dewasa yang ditandai dengan perubahan
fisik, perilaku, kognitif, biologis dan emosi. Untuk mendeskripsikan remaja dari
waktu ke waktu berubah sesuai dengan perkembangan zaman. Ditinjai dari segi
pubertas, 100 tahun usia remaja putri mendapatkan haid pertama semakin
berkurang dari 17,5 tahun menjadi 12 tahun, demikian juga remaja pria.
Kebanyakan orang menggolongkan remaja dari usia 12 sampai 24 tahun dan
beberapa literature yang menyebutkan 15-24 tahun. Hal yang penting adalah
seseorang yang mengalami perubahan pesat dalam hidupnya di berbagai aspek
(Allender, 2005). Promosi kesehatan menurut WHO adalah suatu proses yang
memungkinkan individu untuk meningkatkan kontrol dan mengembangkan
kesehatan mereka. Promosi kesehatan (Pender, 1996) adalah pemberian motivasi
untuk meningkatkan kesehatan individu dan mewujudkan potensi kesehatan
individu. Promosi kesehatan menggunakan pendekatan pada klien sebagai pusat
dalam pemberian pelayanan dan membantu mereka untuk membuat pilihan dan
keputusan.
Proyek integrasi kesehatan jiwa di Puskesmas dan rumah sakit
menunjukkan adanya kebutuhan pelayanan kesehatan jiwa yang lebih
terkoordinasi dengan baik di semua unsur kesehatan. Hakekat pembangunan
kesehatan merujuk pada penyelengaraan pelayanan kesehatan untuk mencapai
kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk (Depkes, 2006). Pravelensi
penderita Skizofrenia di Indonesia adalah 0,3 – 1 persen dan biasanya timbul pada
usia sekitar 18-45 tahun namun ada juga yang baru berusia 11-12 tahun sudah
menderita Skizofrenia. Apabila penduduk Indonesia sekitar 200 juta jiwa maka
diperkirakan sekitar 2 juta jiwa menderita Skizofrenia, dimana sekitar 99% pasien
di RS jiwa di Indonesia adalah penderita Skizofrenia. Gejala-gejala Skizofrenia
mengalami penurunan fungsi / ketidakmampuan dalam menjalani hidupnya,
sangat terlambat produktifitasnya dan nyaris terputus relasinya dengan orang lain.
(Arif, 2006)
Masalah keperawatan yang paling sering ditemukan di RS. Jiwa adalah
perilaku kekerasan, halusinasi, menarik diri, harga diri rendah, waham, bunuh diri,
ketergantungan napza, dan defisit perawatan diri. Dari delapan masalah
keperawatan diatas akan mempunyai manifestasi yang berbeda, proses terjadinya
masalah yang berbeda dan sehingga dibutuhkan penanganan yang berbeda pula.
Ketujuh masalah itu dipandang sama pentingnya, antara masalah satu dengan
lainnya. (Depkes, 2006). Sedangkan perilaku kekerasan sendiri adalah suatu
keadaan dimanan seorang individu mengalami perilaku yang dapat melukai secara
fisik baik terhadap diri / orang lain. (Townsend, 1998) Walau demikian meskipun
perilaku kekerasan kadang bernilai negative tapi tetap ada karena sebenarnya
marah juga berguna yaitu untuk meningkatkan energi dan membuat seseorang
lebih berfokus/bersemangat mencapai tujuan. Kamarahan yang ditekan atau pura-
pura tidak marah akan akan mempersulit diri sendiri dan mengganggu hubungan
intra personal (Harnawati, 2008).

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang di maksud dengan konsep promosi kesehatan pada keperawatan
jiwa kelompok remaja, dewasa awal, dewasa tengah, dan lansia ?
2. Apa tata laksana terapi kelompok terapeutik keperawatan jiwa pada
kelompok remaja, dewasa awal, dewasa tengah, dan lansia ?

1.3 Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui konsep konsep promosi kesehatan dan tata laksana terapi
kelompok terapeutik keperawatan jiwa pada kelompok reamaja, dewasa awal,
dewasa tengah, dan lansia

2. Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui konsep promosi kesehatan pada keperawatan jiwa


kelompok remaja ?
2. Untuk mengetahui konsep promosi kesehatan pada keperawatan jiwa
kelompok dewasa awal?
3. Untuk mengetahui konsep promosi kesehatan pada keperawatan jiwa
kelompok dewasa tengah ?
4. Untuk mengetahui konsep promosi kesehatan pada keperawatan jiwa
kelompok lansia?
5. Untuk mengetahui tata laksana terapi kelompok terapeutik keperawatan
jiwa pada kelompok reamaja, dewasa awal, dewasa tengah, dan lansia ?
TINJAUAN PUSTAKA

1. Konsep Tumbuh Kembang


Konsep Tumbuh Kembang Pertumbuhan (growth) adalah
merupakan peningkatan jumlah dan besar sel di seluruh bagian tubuh
selama sel-sel tersebut membelah diri dan mensintesis protein-protein
baru, menghasilkan penambahan jumlah dan berat secara keseluruhan atau
sebagian. Dalam pertumbuhan manusia juga terjadi perubahan ukuran,
berat badan, tinggi badan, ukuran tulang dan gigi, serta perubahan secara
kuantitatif dan perubahan fisik pada diri manusia itu. Dalam pertumbuhan
manusia terdapat peristiwa percepatan dan perlambatan. Peristiwa ini
merupakan kejadian yang ada dalam setiap organ tubuh. Pertumbuhan
adalah suatu proses alamiah yang terjadi pada individu,yaitu secara
bertahap,berat dan tinggi anak semakin bertambah dan secara simultan
mengalami peningkatan untuk berfungsi baik secara kognitif, psikososial
maupun spiritual (Supartini, 2004)
Perkembangan (development) adalah perubahan secara berangsur-
angsur dan bertambah sempurnanya fungsi alat tubuh, meningkatkan dan
meluasnya kapasitas seseorang melalui pertumbuhan, kematangan atau
kedewasaan (maturation), dan pembelajaran (learning). Perkembangan
manusia berjalan secara progresif, sistematis dan berkesinambungan
dengan perkembangan di waktu yang lalu. Perkembangan terjadi
perubahan dalam bentuk dan fungsi kematangan organ mulai dari aspek
fisik, intelektual, dan emosional. Perkembangan secara fisik yang terjadi
adalah dengan bertambahnya sempurna fungsi organ. Perkembangan
intelektual ditunjukan dengan kemampuan secara simbol maupun abstrak
seperti berbicara, bermain, berhitung. Perkembangan emosional dapat
dilihat dari perilaku sosial lingkungan anak (Potter, 2005).
2. Faktor yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang
Setiap manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang
berbeda-beda antara satu dengan manusia lainnya, bisa dengan cepat
bahkan lambat, tergantung pada individu dan lingkungannya. Proses
tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor di antaranya (Supartini,
2004) :
a. Faktor heriditer/ genetik Faktor heriditer
Pertumbuhan adalah suatu proses alamiah yang terjadi pada individu,
yaitu secara bertahap, berat dan tinggi anak semakin bertambah dan
secara simultan mengalami peningkatan untuk berfungsi baik secara
kognitif, psikososial maupun spiritual (Supartini, 2004). Merupakan
faktor keturunan secara genetik dari orang tua kepada anaknya. Faktor
ini tidak dapat berubah sepanjang hidup manusia, dapat menentukan
beberapa karkteristik seperti jenis kelamin, ras, rambut, warna mata,
pertumbuhan fisik, dan beberapa keunikan sifat dan sikap tubuh seperti
temperamen.
b. Faktor Lingkungan/ eksternal
Lingkungan merupakan faktor yang mempengaruhi individu setiap
hari mulai lahir sampai akhir hayatnya, dan sangat mempengaruhi
tercapinya atau tidak potensi yang sudah ada dalam diri manusia
tersebut sesuai dengan genetiknya.
c. Faktor Status Sosial ekonomi
Status sosial ekonomi dapat berpengaruh pada tumbuh kembang anak.
Anak yang lahir dan dibesarkan dalam lingkungan status sosial yang
tinggi cenderung lebih dapat tercukupi kebutuhan gizinya
dibandingkan dengan anak yang lahir dan dibesarkan dalam status
ekonomi yang rendah.
d. Faktor nutrisi
Nutrisi adalah salah satu komponen penting dalam menunjang
kelangsungan proses tumbuh kembang. Selama masa tumbuh
kembang, anak sangat membutuhkan zat gizi seperti protein,
karbohidrat, lemak, mineral, vitamin, dan air. Apabila kebutuhan
tersebut tidak di penuhi maka proses tumbuh kembang selanjutnya
dapat terhambat.

e. Faktor kesehatan
Status kesehatan dapat berpengaruh pada pencapaian tumbuh
kembang. Pada anak dengan kondisi tubuh yang sehat, percepatan
untuk tumbuh kembang sangat mudah. Namun sebaliknya, apabila
kondisi status kesehatan kurang baik, akan terjadi perlambatan
3. Ciri Proses Tumbuh Kembang
Menurut Soetjiningsih, tumbuh kembang anak dimulai dari masa konsepsi
sampai dewasa memiliki ciri-ciri tersendiri yaitu (Supartini, 2004) :
a. Tumbuh kembang adalah proses yang kontinyu sejak konsepsi sampai
maturitas (dewasa) yang dipengaruhi oleh faktor bawaan daan
lingkungan.
b. Dalam periode tertentu terdapat percepatan dan perlambatan dalam
proses tumbuh kembang pada setiap organ tubuh berbeda.
c. Pola perkembangan anak adalah sama, tetapi kecepatannya berbeda
antara anak satu dengan lainnya.
d. Aktivitas seluruh tubuh diganti dengan respon tubuh yang khas oleh
setiap organ.
Secara garis besar menurut Markum (1994) tumbuh kembang
dibagi menjadi 3 yaitu:
a. Tumbuh kembang fisis
Tumbuh kembang fisis meliputi perubahan dalam ukuran besar dan
fungsi organisme atau individu. Perubahan ini bervariasi dari fungsi
tingkat molekuler yang sederhana seperti aktifasi enzim terhadap
diferensi sel, sampai kepada proses metabolisme yang kompleks dan
perubahan bentuk fisik di masa pubertas.
b. Tumbuh kembang intelektual
Tumbuh kembang intelektual berkaitan dengan kepandaian
berkomunikasi dan kemampuan menangani materi yang bersifat
abstrak dan simbolik, seperti bermain, berbicara, berhitung, atau
membaca.
c. Tumbuh kembang emosional
Proses tumbuh kembang emosional bergantung pada kemampuan bayi
umtuk membentuk ikatan batin, kemampuan untuk bercinta kasih.
4. Tahap – Tahap Tumbuh Kembang Manusia
Tahap-tahap tumbuh kembang pada manusia adalah sebagai berikut
(Supartini, 2004) :
a. Neonatus (bayi lahir sampai usia 28 hari)
Dalam tahap neonatus ini bayi memiliki kemungkinan yang sangat
besar tumbuh dan kembang sesuai dengan tindakan yang dilakukan
oleh orang tuanya. Sedangkan perawat membantu orang tua dalam
memenuhi kebutuhan tumbuh kembang bayi yang masih belum
diketahui oleh orang tuanya.
b. Bayi (1 bulan sampai 1 tahun)
Dalam tahap ini bayi memiliki kemajuan tumbuh kembang yang
sangat pesat. Bayi pada usia 1-3 bulan mulai bisa mengangkat
kepala,mengikuti objek pada mata, melihat dengan tersenyum dll.
Bayi pada usia 3-6 bulan mulai bisa mengangkat kepala 90°, mulai
bisa mencari benda-benda yang ada di depan mata dll. Bayi usia 6-9
bulan mulai bisa duduk tanpa di topang, bisa tengkurap dan berbalik
sendiri bahkan bisa berpartisipasi dalam bertepuk tangan dll. Bayi usia
9-12 bulan mulai bisa berdiri sendiri tanpa dibantu, berjalan dengan
dtuntun, menirukan suara dll. Perawat disini membantu orang tua
dalam memberikan pengetahuan dalam mengontrol perkembangan
lingkungan sekitar bayi agar pertumbuhan psikologis dan sosialnya
bisa berkembang dengan baik.
c. Todler (usia 1-3 tahun)
Anak usia toddler ( 1 – 3 th ) mempunyai sistem kontrol tubuh yang
mulai membaik, hampir setiap organ mengalami maturitas maksimal.
Pengalaman dan perilaku mereka mulai dipengaruhi oleh lingkungan
diluar keluarga terdekat, mereka mulai berinteraksi dengan teman,
mengembangkan perilaku/moral secara simbolis, kemampuan
berbahasa yang minimal. Sebagai sumber pelayanan kesehatan,
perawat berkepentingan untuk mengetahui konsep tumbuh kembang
anak usia toddler guna memberikan asuhan keperawatan anak dengan
optimal.
d. Pra Sekolah (3-6 tahun)
Anak usia pra sekolah adalah anak yang berusia antara 3-6 tahun (
Wong, 2000), anak usia prasekolah memiliki karakteristik tersendiri
dalam segi pertumbuhan dan perkembangannya. Dalam hal
pertumbuhan, secara fisik anak pada tahun ketiga terjadi penambahan
BB 1,8 s/d 2,7 kg dan rata-rata BB 14,6 kg.penambahan TB berkisar
antara 7,5 cm dan TB rata-rata 95 cm. Kecepatan pertumbuhan pada
tahun keempat hampir sama dengan tahun sebelumnya.BB mencapai
16,7 kg dan TB 103 cm sehingga TB sudah mencapai dua kali lipat
dari TB saat lahir. Frekuensi nadi dan pernafasan turun sedikit demi
sedikit. Pertumbuhan pada tahun kelima sampai akhir masa pra
sekolah BB ratarata mencapai 18,7 kg dan TB 110 cm, yang mulai ada
perubahan adalah pada gigi yaitu kemungkinan munculnya gigi
permanent ssudah dapat terjadi.
e. Usia sekolah (6-12 tahun)
Kelompok usia sekolah sangat dipengaruhi oleh teman sebayanya.
Perkembangan fisik, psikososial, mental anak meningkat. Perawat
disini membantu memberikan waktu dan energi agar anak dapat
mengejar hoby yang sesuai dengan bakat yang ada dalam diri anak
tersebut.
f. Remaja ( 12-18/20 tahun)
Perawat membantu para remaja untuk pengendalian emosi dan
pengendalian koping pada jiwa mereka saat ini dalam menghadapi
konflik.
g. Dewasa muda (20-40 tahun)
Perawat disini membantu remaja dalam menerima gaya hidup yang
mereka pilih, membantu dalam penyesuaian diri, menerima komitmen
dan kompetensi mereka, dukung perubahan yang penting untuk
kesehatan.
h. Dewasa menengah (40-65 tahun)
Perawat membantu individu membuat perencanaan sebagai antisipasi
terhadap perubahan hidup, untuk menerima faktor-faktor risiko yang
berhubungan dengan kesehatan dan fokuskan perhatian individu pada
kekuatan, bukan pada kelemahan.
i. Dewasa tua
Perawat membantu individu untuk menghadapi kehilangan
(pendengaran, penglihatan, kematian orang tercinta).
5. Konsep Promosi Kesehatan Pada Keperawatan Jiwa Kelompok Anak
Remaja
Masalah masalah psikologis yang dialami pada masa kanak –
kanak dan remaja merujuk pada usia dan kebudayaan. Dimana perilaku
yang dianggap normal pada anak –anak bisa saja tidak normal pada orang
dewasa, contohnya malu dan takut pada sesuatu hal. Takut terhadap
tempat gelap akan dirasa wajar bila itu yang mengalami pada anak anak
namun akan tidak wajar bila itu yang mengalami seseorang yang telah
dewasa. Keyakinan keyakinan budaya membantu menentukan apakah
orang – orang melihat perilaku tertentu sebagai normal atau abnormal.
Orang – orang yang hanya mendasarkan pada normalitas pada standart
yang berlaku pada budaya mereka saja akan beresiko menjadi etnocentris
ketika mereka memandang tingkah laku orang lain dalam budaya yang
berbeda sebagai abnormal. Perilaku abnormal pada anak – anak
bergantung pada definisi orang tua mereka yang dipandang dari kacamata
budaya tertentu (Supartini, 2004).
Gangguan perilaku juga ditandai dengan pola tingkah laku yang
berulang dimana hak dasar orang lain terganggu. Meskipun beberapa anak
lebih bertingkah laku baik dibandingkan dengan yang lainnya, anak yang
berulangkali dan terus-menerus melanggar peraturan dan hak orang lain
dimana dengan cara yang tidak sesuai dengan usia mereka memiliki
gangguan perilaku. Masalah tersebut biasanya dimulai pada masa kanak-
kanak akhir atau awal remaja dan lebih sering terjadi pada anak laki-laki
daripada anak perempuan. Penilaian pada perilaku harus melibatkan
lingkungan sosial anak tersebut ke dalam catatan. Penyimpangan perilaku
terjadi oleh anak sewaktu adaptasi dengan kehidupan di daerah
peperangan, tempat kerusuhan, atau lingkungan lain dengan stress tinggi
bukan gangguan perilaku.
Gangguan perilaku juga ditandai dengan pola tingkah laku yang
berulang dimana hak dasar orang lain terganggu. Meskipun beberapa anak
lebih bertingkah laku baik dibandingkan dengan yang lainnya, anak yang
berulangkali dan terus-menerus melanggar peraturan dan hak orang lain
dimana dengan cara yang tidak sesuai dengan usia mereka memiliki
gangguan perilaku. Masalah tersebut biasanya dimulai pada masa kanak-
kanak akhir atau awal remaja dan lebih sering terjadi pada anak laki-laki
daripada anak perempuan. Penilaian pada perilaku harus melibatkan
lingkungan sosial anak tersebut ke dalam catatan. Penyimpangan perilaku
terjadi oleh anak sewaktu adaptasi dengan kehidupan di daerah
peperangan, tempat kerusuhan, atau lingkungan lain dengan stress tinggi
bukan gangguan perilaku.
Gangguan perilaku ditandai dengan pola tingkah laku yang
berulang dimana hak dasar orang lain terganggu. Meskipun beberapa anak
lebih bertingkah laku baik dibandingkan dengan yang lainnya, anak yang
berulangkali dan terus menerus melanggar peraturan dan hak orang lain
dimana dengan cara yang tidak sesuai dengan usia mereka memiliki
gangguan prilaku. Masalah tersebut biasanya dimulai pada masa
kanakkanak akhir atau awal remaja dan lebih sering terjadi pada anak laki-
laki daripada anak perempuan. Penilaian pada prilaku harus melibatkan
lingkungan sosial anak tersebut ke dalam catatan. Penyimpangan prilaku
terjadi oleh anak sewaktu adaptasi dengan kehidupan di daerah
peperangan, tempat kerusuhan, atau lingkungan lain dengan stress tinggi
bukan gangguan perilaku.
5.1 Gejala
Pada umumnya, anak dengan gangguan prilaku adalah egois,
tidak berhubungan baik dengan orang lain, dan kurang merasa
bersalah. Mereka cenderung salah mengartikan perilaku orang lain
sebagai ancaman dan bereaksi agresif. Mereka bisa terlibat dalam
pengintimidasian, ancaman, dan sering berkelahi dan kemungkinan
kejam terhadap binatang. Anak lain dengan gangguan prilaku merusak
barang, khususnya dengan membakar. Mereka mungkin berdusta atau
terlibat dalam pencurian. Melanggar peraturan dengan serius adalah
biasa dan termasuk lari dari rumah dan sering bolos dari sekolah.
Anak perempuan dengan gangguan prilaku lebih sedikit mungkin
dibandingkan anak laki-laki untuk menjadi agresif secara fisik;
mereka biasanya kabur, berbohong, penyalahgunaan obat-obatan
terlarang, dan kadangkala terlibat dalam pelacuran.
Sekitar separuh dari anak dengan gangguan prilaku
menghentikan prilakunya ketika dewasa. Anak yang lebih kecil ketika
gangguan prilaku mulai, lebih mungkin akan melanjutkan prilakunya.
Orang dewasa yang tetap berprilaku seperti itu seringkali menghadapi
masalah hukum , secara kronis mengganggu hak orang lain, dan
seringkali didiagnosa dengan gangguan kepribadian anti sosial
(BKKBN, 2010).
5.2 Klasifikasi Gangguan Perilaku
Gangguan Perkembangan Pervasif
Ditandai dengan masalah awal pada tiga area perkembangan utama :
perilaku, interaksi sosial, dan komunikasi. Gangguan ini terdiri dari
(Keliat, 2005) :
1) Autisme Adalah kecenderungan untuk memandang diri sendiri
sebagai pusat dari dunia, percaya bahwa kejadian – kejadian eksternal
mengacu pada diri sendiri. Dicirikan dengan gangguan yang nyata
dalam interaksi sosial dan komunikasi, serta aktivitas dan minat yang
terbatas (Johnson, 1997). Gejala - gejalanya meliputi kurangnya
respon terhadap orang lain, menarik diri dari hubungan sosial, dan
respon yang aneh terhadap lingkungan seperti mengepakkan tangan,
bergoyang-goyang, dan memukul-mukulkan kepala.
2) Reterdasi Mental Muncul sebelum usia 18 tahun dan dicirikan dengan
keterbatasan fungsi intelektual secara signifikan berada dibawah rata-
rata (mis., IQ dibawah 70) dan keterbatasan terkait dalam dua bidang
keterampilan adaptasi atau lebih (mis., komunikasi, perawatan diri,
aktivitas hidup sehari-hari, keterampilan sosial, fungsi dalam
masyarakat, pengarahan diri, kesehatan dan keselamatan, fungsi
akademis, dan bekerja.
3) Gangguan perkembangan spesifik dicirikan dengan keterlambatan
perkembangan yang mengarah pada kerusakan fungsional pada
bidang-bidang dan mempengaruhi tahap perkembangan selanjutnya,
5.3 Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Konsep Promosi Kesehatan
Pada Keperawatan Jiwa Kelompok Anak Remaja
a. Faktor-faktor psikobiologik.
Faktor-faktor psikobilogik biasanya akibat :
1. Riwayat genetika keluarga yang terjadi pada kasus retardasi
mental, autisme, skizofrenia kanak-kanak, gangguan perilaku,
gangguan bipolar, dan gangguan ansietas atau kecemasan.
2. Struktur otak yang tidak normal. Penelitian menemukan adanya
abnormalitas struktur otak dan perubahan neurotransmitter pada
pasien yang menderita autisme, skizofrenia kanak - kanak, dan
ADHD.
3. Pengaruh pranatal, seperti infeksi pada saat di kandungan ibu,
kurangnya perawatan pada masa bayi dalam kandungan, dan ibu
yang menyalahgunakan zat, semuanya dapat menyebabkan
perkembangan saraf yang abnormal yang berkaitan dengan
gangguan jiwa. Trauma kelahiran yang berhubungan dengan
berkurangnya suplai oksigen pada janin saat dalam kandungan
yang sangat signifikan dan menyebabkan terjadinya retardasi
mental dan gangguan perkembangan saraf lainnya.
4. Penyakit kronis atau kecacatan dapat menyebabkan kesulitan
koping bagi remaja
b. Dinamika keluarga.
Dinamika keluarga yang tidak sehat dapat mengakibatkan perilaku
menyimpang yang dapat digambarkan sebagai berikut :
1. Penganiayaan anak remaja yang terus menerus dianiaya pada masa
kanak kanak awal, perkembangan otaknya menjadi terhambat
(terutama otak kiri). Penganiayaan dan efeknya pada
perkembangan otak berkaitan dengan berbagai masalah psikologis,
seperti depresi, masalah memori, kesulitan belajar, impulsivitas,
dan kesulitan dalam membina hubungan (Glod, 1998).
2. Disfungsi sistem keluarga (misal kurangnya sifat pengasuhan orang
tua pada anak, komunikasi yang buruk) disertai dengan
keterampilan koping yang tidak baik antaranggota keluarga dan
model peran yang buruk dari orang tua. Sehingga menyebabkan
gangguan pada perkembangan anak dan remaja.
c. Faktor lingkungan.
Lingkungan dan kehidupan sosial yang tidak menguntungkan akan
menjadi penyebab utama pula, seperti :
1. Kemiskinan.
Perawatan pranatal yang buruk, nutrisi yang buruk, dan kurang
terpenuhinya kebutuhan akibat pendapatan yang tidak mencukupi
dapat memberi pengaruh buruk pada pertumbuhan dan
perkembangan normal anak.
2. Tunawisma.
Anak dan remaja tunawisma memiliki berbagai kebutuhan
kesehatan yang memengaruhi perkembangan emosi dan psikologi
mereka. Berbagai penelitian menunjukkan adanya peningkatan
angka penyakit ringan kanakkanak, keterlambatan perkembangan
dan masalah psikologis diantara anak tunawisma ini bila
dibandingkan dengan sampel kontrol (Townsend, 1999).
3. Budaya keluarga.
Perilaku orang tua yang secara dramatis berbeda dengan budaya
sekitar dapat mengakibatkan kurang diterimanya anak-anak dan
remaja oleh teman sebaya dan masalah psikologik. (Keliat, 2005)

6. Hal - Hal Yang Lazim Terjadi Pada Remaja


Remaja didefinisikan sebagai, (Potter, 2005) :
a. Masa peralihan dari anak – anak menuju dewasa
b. Umumnya antara usia 10-19 tahun
c. Merupakan periode kematangan seksual yang merubah anak secara
biologi menjadi dewasa yang memiliki kemampuan bereproduksi.
d. Merupakan perkembangan psikologi dan sosio-ekonomi.
e. Dengan kata lain merupakan periode transisi, tumbuh, kembang dan
“kesempatan”
A. Perkembangan seksual pada remaja (Potter, 2005) :

a. Perubahan fisik pertama.


b. Perubahanpsikologis/emosi.
c. Perkembangan Psikologi dan Kognitif Selama Remaja
Pertama-tama piaget menggambarkan transisi dari konkrit ke
pemikiran oparasional formal sebagai peristiwa pada tahun awal
dan pertengahan remaja. Walaupun ada variasi besar,sebagian
perkembangan bakat anak muda untuk berfikir abstrak antara usia
12 – 16 tahun. Sebelum bakat ini tumbuh ,anak muda mempunyai
kesulitan untuk mengaplikasikan prinsip umum untuk membedakan
situasi dan menilai kenyataan dan rencana untuk masa depan. Ini
kontras,pemikiran operasional formal termasuk kapasitas untuk
berfikir abstrak,misalnya ide dan pemikiran. Tugas perkembangan
ini adalah masa transisi dari pemikiran yang konkrit. Akhirnya
,tugas-tugas psikososial remaja menjadi harus betul-betul
dipertimbangkan.
B. Masalah kesehatan pada remaja (Potter, 2005) :

1. Masalah jerawat 85% dialami remaja dan diketahui merupakan


masalah kesehatan yang serius yang menyertai remaja.
2. Rokok
3. Penggunaan obat dan kekerasan (penggunaan obat-obat medis,
perangsang, obat tidur, dan penenang)
4. Penggunaan psikotropika
5. Nutrisi (kekurangan nutrisi atau kegemukan)
6. Gangguan makan (anoreksia nervosa,bulimia nervosa,fitnes dan
latihan fisik)
7. Stress (gejala fisik yang dapat mempengaruhi pada keadaan kronik
atau stress yang extrem. Gejala psikologik misalnya
cemas,sedih,gangguan makan,depresi,insomnia,)
8. Pelaksanaan aktivitas seksual.
Remaja melaporkan beberapa alasan untuk melakukan aktivitas
seksual yang mana berasal dari dorongan kelompoknya,untuk
mencintai dan dicintai,coba-coba serta bersenang-senang (Murray
& Zentner,1997). Bagaimanapun juga beberapa remaja tidak dapat
mengambil keputusan atau nilai ,keahlian yang dibutuhkan untuk
mengklarifikasi untuk sesuatu hal yang penting di usia muda dan
juga menambah pengetahuan dasar tentang kontrasepsi dan PMS.
C. Promosi kesehatan dan pencegahan penyakit pada anak dan remaja
perempuan
Anak dan remaja membutuhkan edukasi akurat dan komprehensif
tentang seksualitas untuk praktik perilaku seksual sebagai orang
dewasa. Kini, eksploitasi atau risiko aktivitas seksual mungkin
menjadi masalah kesehatan dan social seperti kehamilan yang tidak
diinginkan dan penyakit menular seksual meliputi HIV/AIDS. Survey
terbaru departemen kesehatan dan pelayanan sosial menemukan
penurunan aktivitas seksual pada remaja usia 15-19 di USA. Anak
lebih banyak melakukan aktivitas seksual dini meliputi anak dengan
masalah belajar atau rendah secara akademik, anak dengan soaisl
lainnya, masalah perilaku atau emosional (mencakup kelainan mental
dan kekerasan substance) biasanya ini berasal dari keluarga golongan
ekonomi lemah. Sumber, isi dan efektifitas program pendidikan
seksual (Chayatin, 2008)

7. Masalah Kesehatan Yang Terjadi Pada Remaja (BKKBN, 2010)


a. Narkotika
Adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman,
baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menimbulkan pengaruh-
pengaruh tertentu bagi mereka yang menggunakan dengan
memasukkannya ke dalam tubuh manusia. Pengaruh tersebut berupa
pembiusan, hilangnya rasa sakit, rangsangan semangat , halusinasi
atau timbulnya khayalan-khayalan yang menyebabkan efek
ketergantungan bagi pemakainya.
b. Aborsi
Aborsi adalah berakhirnya atau gugurnya kehamilan sebelum
kandungan mencapai usia 20 minggu, yaitu sebelum janin dapat hidup
diluar secara mandiri ( Munajat, N.,2000). Aborsi atau pengguguran
berbeda dengan keguguran atau keluron (bahasa jawa). Aborsi adalah
terminasi (penghentian) kehamilan yang disengaja ( abortus
provokatus ), yakni kehamilan yang diprovokasi dengan berbagai
macam cara sehingga terjadi pengguguran. Sedangkan keguguran
adalah kehamilan yang berhenti karena faktor – faktor alamiah atau
disebut abortus spontaneous (Hawari, D., 2006).
c. Ada 2 macam risiko kesehatan terhadap wanita yang melakukan
aborsi:
1) Risiko kesehatan fisik dan mental.
2) Risiko gangguan aborsi dan setelah melakukan aborsi ada
beberapa resiko yang akan dihadapi seorang wanita, seperti yang
dijelaskan dalam buku Facts of Life.
Art of State

No Judul Jurnal Methode Hasil

1 Adolescent Health-Risk Remaja dengan risiko Studi saat ini


Sexual Behaviors: Effects of tinggi perilaku sexual membandingkan
a Drug Abuse bebas dirujuk ke keefektifan dua
Intervention klinik untuk remaja dengan
perawatan rawat jalan pengobatan akibat
Hyman Hops • Timothy J. akibat penyalahgunaan
Ozechowski • penyalahgunaan zat. narkoba (CBT dan
Holly B. Waldron • Betsy Sumber rujukan utama IBFT) mengenai
Davis • Charles W. Turner • mencakup sistem pra risiko HIV
Janet L. Brody • Manuel peradilan tentang perilaku, dan dalam
anak-anak, sistem desain quasi
Barrera yang ada di sekolah eksperimental,
umum, penyedia diperiksa
Published online: 11 August layanan berbasis dampak tambahan dari
2011 masyarakat (misalnya modul risiko HIV
_ Springer Rumah sakit, klinik, singkat yang
dan layanan sosial). disematkan
Science+Business Media,
Kriteria kelayakan dalam masing-masing
LLC 2011 untuk responden intervensi utama.
remaja dalam Meskipun tidak
penelitian ini adanya efek intervensi
adalah spesifik HIV modul,
(a) usia 13-19, efek signifikan dicatat
(b) kriteria diagnostik untuk kedua intervensi
DSM-IV untuk terhadap perilaku
penyalahgunaan zat berisiko HIV dengan
atau ketergantungan, efek tergantung
dan apakah peserta :
(c) tinggal dengan (a) kelompok berisiko
setidaknya satu orang tinggi dengan
tua atau wali sah yang kelompok berisiko
bersedia berpartisipasi rendah
dalam prosedur klinis (b) anggota Anglo
dan penelitian. dengan Hispanik
kelompok remaja.
Secara khusus,
hasilnya menunjukkan
bahwa CBT lebih
manjur dibanding
IBFT dalam menekan
risiko HIV pada
perilaku responden
berisiko tinggi dan
rendah.
Perilaku seks tanpa
kondom, berhubungan
seks dengan teman
dekat dan beberapa
pasangan seks dari pra
sampai pasca
perawatan dengan
efek berkelanjutan
hingga penilaian 18
bulan untuk yang
pertama kedua.
2 Investigating Adherence Subyek yang Mayoritas (76%) dari
Promoters in Evidence- memenuhi syarat 46 penelitian
Based Mental dalam penelitian ini menyelidiki CBT
Health Interventions with adalah peneliti yang dengan sebagian besar
Children and Adolescents mempublikasikan perawatan berbasis
dalam jurnal peer- bukti menargetkan
Robin E. Gearing • Craig S. review RCT mereka internalisasi gangguan
Schwalbe • terhadap intervensi seperti kegelisahan
Pauline Dweck • Jessica psikososial di bidang dan gangguan mood
Berkowitz kesehatan mental anak yang bercermin
dan remaja. Tiga masalah internal.
Received: 8 September pendekatan berbasis Sembilan penelitian
2009 / Accepted: 28 bukti yang valid (20%) diselidiki lebih
February 2011 / Published adalah dari satu intervensi
online: 11 March 2011 memenuhi syarat dengan terapi.
_ Springer untuk dimasukkan Intervensi berbasis
Science+Business Media, dalam penelitian ini: keluarga adalah terapi
LLC 2011 Terapi Perilaku modalitas yang paling
Kognitif (CBT); umum (41%) diikuti
Terapi Interpersonal oleh intervensi
(IPT); dan Psikososial kelompok (37%) dan
Edukasi (PE). individu terapi (17%).
Intervensi berbasis Intervensi termasuk
bukti ini dipilih karena rata-rata 13,4 sesi (SD
panduan tersebut = 7,77, kisaran = 2-
dibuat secara manual 40) mencakup median
berbasis intervensi durasi 5 bulan (kisaran
yang biasa digunakan = 2 sampai lebih dari
pada anak dan 12 bulan).
kesehatan mental
remaja.
Daftar Pustaka

ALLENDER, J. A. 2005. Community Health Nursing: Promoting And Protecting


The Public’s health, United States, Lippincott Williams & Wilkins.
ARIF, I. S. 2006. Skizofrenia : Memahami Dinamika Keluarga Pasien, Bandung,
Rafika Aditama.
BKKBN. 2010. Pembinaan Pra Nikah Bersama Iip Wijayanto.
www.kemenag.go.id [Online]. [Accessed 16 2018].
CHAYATIN, M. D. 2008. Kebutuhan Dasar Manusia Teori dan Aplikasi dalam
Praktik, Jakarta, EGC.
DEPKES 2006. Laporan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Jakarta:
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
HARNAWATI 2008. Gaya Hidup Sehat, Jakarta, EGC.
KELIAT, B. A. 2005. Peran serta keluarga dalam perawatan klien gangguan
jiwa, Jakarta, EGC.
POTTER, P. A. A. P., A.G 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan :
Konsep,. Proses, dan Praktik, Jakarta, EGC.
SUPARTINI, Y. 2004. Konsep Dasar Keperawatan Anak, Jakarta, EGC.