Anda di halaman 1dari 10

julukan infraspesifik (julukan infraspesifik jamak) (botani) Kata ketiga dalam nama

ilmiah takson infraspesifik, mengikuti nama spesies. Hal ini hanya berlaku untuk
nama formal tanaman dan jamur, dan tidak untuk nama-nama resmi bakteri atau
hewan. Dalam nama "Cannabis sativa subsp. Indica", yang indica kata adalah julukan
infraspesifik.
dalam dua bagian
Acacia subg. Phyllodineae (pial)
Gossypium barbadense (kapas Mesir)
dalam tiga bahagian
Theobroma cacao subsp. koko (coklat kriolo)

Satu nama dalam tiga bahagian, iaitu nama untuk takson infraspesies (di bawah aras
spesies) memerlukan "istilah penghubung" untuk menunjukkan arasnya. Dalam
contohTheobroam di atas, istilan penghubungnya ialah "subsp." (untuk subspesies).
Dalam bidang botani, terdapat banyak aras di bawah aras spesies (dalam
bidang zoologi, terdapat hanya satu aras, iaitu subspesies dan oleh itu, "istilah
penghubung" tidak diperlukan). Nama untuk "subdivisi genus" juga memerlukan istilah
penghubung (dalam contoh Acaciadi atas, istilah penghubungnya ialah "subg.",
subgenus). Istilah penghubung tidak merupakan sebagian nama botani.

Sesuatu nama takson boleh mengambil bentuk melebihi tiga bagian: "Saxifraga
aizoon var. aizoon subvar. brevifolia f. multicaulis subf. surculosa Engl. & Irmsch." tetapi
ini merupakan pengelasan, bukan nama botaninya yang formal. Nama botaninya
ialah Saxifraga aizoon subf. surculosa Engl. & Irmsch. (ICBN, Perkara 24, Ex 1)

Nama-nama botani sering ditulis dengan huruf miring. Gaya yang diberikan
oleh ICBN ialah untuk menggunakan huruf miring untuk semua nama botani.
Bagaimanapun, secara amalan, banyak gaya dalaman yang berbeda telah digunakan
untuk mengatur huruf nama botani, dan banyak terbitan tidak menggunakan huruf
miring untuk nama-nama aras yang lebih tinggi daripada genus

Autonym:
Nama yang ditetapkan secara otomatis di mana nama generik atau julukan tertentu diulang
sebagai final julukan atas nama subdivisi genus atau takson tak berwujud yang mencakup jenis
yang diadopsi, nama yang sah dari genus atau spesies; julukan terakhir dari nama samaran
tidak diikuti oleh seorang penulis kutipan (Pasal 22.1 dan 26.1). [Autonim tidak ada di atas
pangkat genus.] tersedia. [Tidak didefinisikan] - diterapkan pada julukan dengan nama (Pasal
11.5 dan 15.5), jenis yang termasuk dalam keterbatasan takson dalam pertimbangan dan di
mana penggunaan julukan tidak akan bertentangan dengan aturan (lihat juga nama yang
tersedia)
taksonomi tumbuhan rendah
Diposkan pada 21 Januari 2015 oleh antorusdi392
MAKALAH

TAKSONOMI TUMBUHAN RENDAH


MENJELASKAN DAN MEMBEDAKAN TAKSON, KATAGORI DAN KONSEP-KONSEP
LAIN DALAM TAKSONOMI TUMBUHAN

PURNAWATI : 151.135.143
IDA ROYANTI : 151.135.151
HASNITA : 151.135.141
RUSDIANTO : 151.135.139

JURUSAN PENDIDIKAN IPA BIOLOGI


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) MATARAM
2014

KATA PENGANTAR

Segala puji hanya bagi Allah SWT. Tuhan semesta alam, shalawat beserta salam semoga
tercurahkan kepada Nabi Muhamad SAW. Karena atas karunia dan hidayah-Nya kami dapat
menyelesaikan makalah ini. Kami mengucapkan terimakasih kepada Dosen Mata Kuliah
TAKSONOMI TUMBUHAN RENDAH yang telah membimbing dan mencurahkan ilmu kepada
kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini, walaupun dalam proses penyusunannya,
kami mengalami berbagai kesulitan.
Makalah ini akan membahas tentang Penjelasan dan Perbedaan Takson, Katagori dan Konsep-
konsep lain dalam taksonomi. Tetapi sangat dimungkinkan dalam penyusunannya masih banyak
kekurangan, baik dalam penyajian materi maupun dalam penulisan, untuk itu kritik dan saran
yang membangun dari berbagai pihak sangat kami harapkan, demi lebih baiknya Makalah kami
yang selanjutnya.
Kami berharap, mudah-mudahan makalah ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Amiin.
Mataram, 30 Oktober 2014

Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 1
C. Tujuan 2
BAB II PEMBAHASAN 2
A. Takson dan Katagori 2
B. Takson (unit) Dasar Dalam Taksonomi Tumbuhan 2
C. Tingkat-tingkat Takson (katagori) Di bawah Jenis 3
D. Tingkat-tingkat Takson Di Atas Jenis 5
E. Konsep-konsep lain dalam taksonomi tumbuhan 8
BAB III PENUTUP 10
A. Kesimpulan 10
DAFTAR PUSTAKA 11

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Setiap jenis tumbuhan maupun hewan terdiri atas sejumlah individu, sehingga seluruh jenis itu
terdiri atas berjuta-juta individu. Antara satu jenis dengan jenis yang lain terdapat perbedaan-
perbedaan sehingga secara keseluruhan tampak adanya keanekaragaman yang sangat besar.
Ditambah lagi dalam setiap jenis terdapat variasi yang meliputi perbedaan ukuran, umur, bentuk
tubuh (perawakan), pola warna, jenis kelamin, dan lain lain. Dalam setiap keanekaragaman
tumbuhan, para ahli botani selalu menghadapi persoalan dalam menentukan tingkat takson
golongan tumbuhan yang dihadapi. Tingkat takson sangat penting karena tampa adanya
tingkatan takson, maka manfaat sistem klasifikasi tidak dapat diperoleh. Menurut kesepakatan
internasional, istilah-istilah untuk menyebut masing-masing takson bagi tumbuhan itu tempatnya
tidak boleh diubah sehingga masing-masing istilah itu menunjukkan kedudukan atau tingkat
dalam hierarki atau menunjukkan kategorinya dalam sistem klasifikasi. Dalam taksonomi
tumbuhan istilah yang digunakan untuk menyebutkan suatu takson sekaligus mencerminkan pula
di mana posisi dan seberapa tinggi tingkatnya dalam hierarki klasifikasi. Oleh karena itu makalah
ini membahas tentang takson, katagori maupun konsep lain dalam taksonomi tumbuhan.
B. Rumusan masalah
1. Apa yang dimaksud dengan katagori, takson dan konsep dalam taksonomi tumbuhan?
2. Apa perbedaan antara takson dan katagori dalam taksonomi tumbuhan?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui katagori, takson dan konsep lain dalai taksonomi tumbuhan.
2. Untuk mengetahui perbedaan antara takson dan katagori dalam taksonomi tumbuhan.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Takson dan katagori


Takson adalah setiap golongan (unit) taksonomi tingkat yang mana pun. Takson-takson
dibedakan dalam tingkat yang berbeda-beda, yang berarti pula bahwa takson dapat ditata
menurut urutan-urutan tingkatnya. Hal itu terbukti dari bunyi pasal 2 dalam bab dan bagian
KITT (Kode internasional Tatanama Tumbuhan) yang menyatakan bahwa setiap tumbuhan
(setiap individu) dapat dianggap tergolong dalam sejumlah takson yang berurutan dari bawah ke
atas menurut tingkatnya. Pasal berikutnya KITT menyebutkan bahwa ada 7 tingkat takson yang
utama yang berturut-turut dari bawah ke atas disebut dengan istilah jenis (Species), marga
(genus), suku (famili), bangsa (ordo), kelas (classis), divisi (divisio), dan dunia (regnum). Istilah
takson tumbuhan disebut dengan istilah yang berbeda-beda menurut tingkatnya, bahwa jumlah
takson utama hanyalah 7, tetapi jumlah itu dapat diperluas sampai 24.
B. Takson (unit) dasar dalam taksonomi tumbuhan
Di masa yang lampau yang dijadikan unit dasar dalam klasifikasinya dasarnya tidak sama
dengan unit dasar yang dipakai sekarang. Unit dasar yang mereka pakai adalah marga (genus),
terbukti dari judul karya mereka yang semua hampir sama, ialah Genre Plantarum (Marga-marga
tumbuhan). Pada waktu sekarang keadaan telah berubah. KITT bagian II, ab I pasal 2
menyebutkan secara ekplisit, bahwa takson jenis (species), adalah merupakan unit dasar.
Taksonomi tumbuhan “jenis” sebagai unit dasar merupakan suatu yang benar-benar ada di dalam
alam, dan telah banyak ahli-ahli ilmu tumbuhan yang telah berusaha untuk menjelaskan apakah
yang dimaksud dengan jenis. Menurut Du Rietz, suatu jenis merupaan unit terkecil populasi
alami yang tetap terpisahkan dari unit lain karena adanya diskontinuitas yang nyata dalam
rentetan biotype-iotypenya). Wettstein dalam bukunya menyebutkan bahwa dalam “Jenis
termasuk semua individu, yang ciri-ciri utamanya yang tampak bagi pengamat sama satu sama
lain dan sama pula dengan ciri-ciri utama keturunannya”. Mayr dalam bukunya principles of
Systematic Zoology menyebutkan bawah “suatu jenis adalah kelompok populasi alami yang
dapat saling mengawini dan secara refroduktif terasing dari kelompok serupa yang lain)”, setiap
upaya untuk memecahkan masalah jenis, tidak boleh lepas dari pandangan para ahli masa
sekarang yang lazim diberlakukan dalam dunia ilmu hayat, misalnya:
1. Setiap populasi cendrung untuk mengadakan variasi dan bahwa dengan demikian tidak ada
dua individu yang benar-benar identik, sekalipun keduanya termasuk dalam satu jenis.
2. Variasi itu dapat merupakan akibat penyesuaian terhadap kondisi dan situasi tertentu, dapat
pula diarahkan ke upaya untuk dapat menyelamatkan diri dalam menghadapi perubahan-
perubahan lingkungan .
3. Lingkungan individu tidak boleh statik, agar jalannya evolusi tidak terhenti oleh kekuatan
seleksi alam.
Spesies adalah kata dalam bahasa latin yang berarti “jenis”, Linnaeus pendiri taksonomi modern
menjelaskan spesies individual berdasarkan bentuk fisiknya: kajian mengenai struktur atau
bentuk yang paling sering digunakan untuk mengelompokkan spesies.
C. Tingkat-tingkat takson (katagori) di bawah jenis
Menurut kesepakatan internasional, dalam suatu jenis dapat dibedakan beberapa katagori yang
berturut-turut disebut dengan istilah: anak jenis (subspecies), varietas (varietas), anak varietas
(subvarietas), forma (forma), dan anak forma (subforma). Pada dasarnya setiap katagori
infraspesifik (dibawah tingkat jenis) adalah suatu varian jenis, dalam arti merupakan suatu
kelompok dalam populasi jenis yang mempunyai ciri-ciri yang menyimpang dari ciri-ciri
esensial bagi jenis dan oleh karena itu dapat dipilih menjadi kelompok yang terpisahkan dari
jenis populasi. Konsep katagori infrasfesifik, yaitu anak jenis (subspesies), varietas (varietas),
dan forma (forma). ada beberapa batasan yang berkaitan dengan pangkal tolak yang dijadikan
dasar pemikiran untuk menentukan yang dimaksud dengan anak jenis tersebut, diantara:
1. Anak jenis dapat dianggap sebagai jenis ukuran kecil yang terpisahkan oleh ciri-ciri morfologi
yang tidak begitu nyata dibandingkan ciri-ciri yang digunakan untuk menentukan lain-lain jenis
dalai marga yang sama, sehingga kelompok (anak jenis) itu hanya dianggap sebagai suatu variasi
dari salah satu jenis yang telah ditentukan.
2. Anak jenis itu merupakan variasi morfologi suatu jenis yang mempunyai daerah distribusi
geografis tersendiri, tidak ditemukan bersama-sama dengan anggota-anggota populasi lain
sejenis.
3. Anak jenis adalah suatu katagori yang didalamnya termasuk unsur-unsur yang dengan
memiliki ciri-ciri morfologi, geografi, dan ekologi tertentu yang memberikan pembenaran untuk
dipisahkan dari sisa populasi dalam suatu jenis.
Varietas merupakan suatu katagori dibawah tingkat jenis yang banyak digunakan dalam dunia
pertanian. Bagi para ahli taksonomi tumbuhan istilah varietas diberi konotasi, antara lain:
a) Setiap varian morfologi suatu jenis tanpa mengaitkan dengan masalah distribusinya.
b) Varian morfologi dalam suatu jenis yang mempunyai daerah distribusi sendiri
c) Varian morfologi dalam suatu jenis yang bersama-sama dengan varietas lain dalam jenis yang
sama menempati daerah distribusi yang sama.
Forma lazimnya dianggap sebagai takson terendah atau katagori paling kecil, biasanya istilah
forma digunakan untuk menempatkan variasi dalam jenis yang tak begitu penting. variasi yang
dimaksud misalnya menyangkut warna mahkota bunga, warna buah tanggapan terhadap habitat
tertentu.
D. Tingkat-tingkat takson di atas jenis
Katagori tingkat takson diatas jenis terdiri dari:
Marga, merupakan tingkat takson yang telah sejak lama diterapkan. Di antara kaum herbalis Otto
Brunfels dianggap sebagai perumus konsep marga yang paling jelas. Kira-kira seabad kemudian
(1716) terbit karya monumental Joseph Pitton de Tournefort yang berjudul Institutiones Rei
Herbariae yang di dalamnya termuat teori bahwa marga-lah yang merupakan katagori dasar
dalam klasifikasi tumbuhan, yang terdiri atas tumbuh-tumbuhan dengan dua atau tiga kesamaan
ciri mengenai susunan alat reproduksinya. Konsep marga yang dianut oleh Linnaeus dan ahli-
ahli taksonomi kemudian terutama didasarkan atas anggapan, bahwa”suatu marga terdiri atas
jenis-jenis yang satu sama lain menunjukkan kesamaan yang lebih banyak daripada jenis-jenis
yang menjadi komponen marga lain dalam suku yang sama. Konsep ini banyak mendapat
dukungan dari para ahli taksonomi sekarang.
Katagori yang tingkatnya lebih tingi dari marga adalah suku (familia). Tiap suku dapat
mencakup satu marga atau lebih, dan biasanya di dalam alam merupakan unit yang bersifat
natural, dan demikian mudah dikenal, karena warganya menunjukkan ciri-ciri yang memberikan
indikasi adanya pertalian yang erat, yang bagi orang awam pun mudah dipahami mengapa suatu
tumbuhan ditempatkan dalam satu unit seperti kita lihat pada rumput (Gramineae). Umumnya
suku bersifat natural itu dianggap terdiri atas anggota-anggota yang berasal dari nenek moyang
yang sama jadi mempunyai warga yang bersifat monofiletik.
Suku merupakan suatu katagori yang ukurannya sangat bervariasi, dari yang sangat kecil hanya
terdiri atas satu marga dan beberapa jenis saja, ada yang sangat besar terdiri ats puluhan marga
dan ratusan jenis atau bahkan lebih besar lagi. Suku Ginkoceae dan Gnetaceae merupakan suku
yang kecil berlainan dengan Gramineae yang merupakan contoh-contoh suku yang sangat besar
jumlah anggotanya. Satu suku atau lebih dapat membentuk suatu katagori yang lebih tinggi yaitu
bangsa (Ordo), sebagai unit yang lebih besar daripada suku suatu bangsa merupakan katagori
yang semakin sukar dikenali sebagai unit yang bersifat natural. Ordo adalah tingkat takson yang
menghimpun beberapa famili. Famili Canidae (kelompok anjing) bersama-sama dengan famili
felidae (kelompok kucing) membentuk ordo Carnivora (bangsa pemakan daging). Katagori yang
lebih tinggi daripada bangsa adalah kelas (classis). Suatu kelas terdiri atas sejumlah bangsa, dan
karena merupakan takson yang besar lebih sukar lagi untuk dilihat sebagai suatu unit yang
bersifat natural. Beberapa ordo yang memiliki persamaan ciri yang dimasukkan dalam satu kelas.
Ordo Carnivora bersama-sama ordo Rodentia (binatang pengerat, misalnya tikus). Memiliki ciri-
cir yang sama, yaitu adanya kelenjar susu dan menyusui anaknya sehingga dimasukkan dalam
satu kelas, yaitu mamalia. Setingkat yang lebih tinggi adalah divisi (diviso) yang terdiri atas
sejumlah kelas dan seluruh warganya menunjukkan ciri morfologi yang sama atau mempunyai
cara refroduksi yang sama, seperti terciermin dari nama-nama divisi Spermatophyta (tumbuhan
biji), Thallophyta (tumbuhan talus). Konsep dunia (regnum) digunakan untuk menujukkan
keseluruhan tumbuhan yang disebut dengan dunia tumbuhan. Divisi digunakan untuk menunjuk
suatu kelompok mahluk hidup yang sebagian besar cirinya sama.
Kategori adalah tingkat-tingkat atau struktur-struktur atau hirarki taksonomi dari yang tertinggi
sampai yang terendah. Dalam menuliskan klasifikasi tumbuhan, kategori merupakan
kerangkanya dan kemudian nama-nama kelompok tumbuhan dituliskan. Kategori sesungguhnya
adalah pengaturan yang dilakukan oleh para ahli botani untuk memudahkan mempelajari
klasifikasi tumbuhan. Oleh karena itu, seluruh kategori itu artifisial dan tidak dapat secara riil
dilapangan. Sedangkan takson adalah kesatuan atau kelompok tumbuhan pada tingkat manapun.
Dalam Kode Internasional Tanaman Tumbuhan (KITT), telah diatur penulisan nama setiap
takson pada kategori tertentu. Aturan penulisan nama takson pada setiap kategori ditetapkan
pada pemberian akhirnya untuk masing-masing kategori dengan ketentuan sebagai berikut :
Kategori Takson
Devisi -phyta
Anak Devisi -phytina
Kelas -opsida
Anak Kelas -idea
Bangsa -ales
Anak Bangsa -ineae
Suku -aceae
Anak Suku -oideae

Kategori bila dituliskan secara lengkap sesungguhnya ada 24 kategori. Dari 24 kategori tersebut
dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu :
a. Kategori mayor (kategori besar) yaitu kategori yang dimulai dari dunia/kingdom/kerajaan
sampai pada kategori diatas marga/genus. Secara lengkap dituliskan berikut :
Dunia (regnum) Anak dunia (sub regnum)
Devisi (divisio) Anak devisi (sub divisio)
Kelas (classis) Anak kelas (sub classis)
Bangsa (ordo) Anak bangsa (sub ordo)
Suku (familia) Anak suku (sub familia)
Rumpun (tribus) Anak rumpun (sub tribus)

b. Kategori minor (kategori kecil) yang dimulai dari marga sampai kategori jenis. Secara lengkap
dituliskan sebagai berikut :
Marga (genus) Anak marga (sub genus)
Seksi (sectio) Anak seksi (sub sectio)
Seri (series) Anak seri (sub series)
Jenis (spesies)
c. Kategori infraspesifik (kategori dibawah jenis) yang dimulai dari anak jenis sampai anak
forma dan terdiri dari :
Anak Jenis (sub spesies)
Varietas (varietas) Anak varietas (sub varietas)
Forma (forma) Anak forma (sub forma)

Menurut Carolus Linnaeus, ahli botani Swedia, yang mengembangkan sistem dua bagian atau
binomial untuk menamai organisme menurut genus dan spesies yang masih tetap digunakan
sampai sekarang. Linnaeus juga memakai sistem untuk pengelompokan spesies yang mirip ke
dalam suatu jenjang katagori yang semakin umum. Sebagai contohnya spesies yang mirip
dikelompokkan ke dalam genus yang sama, genus yang mirip dikelompokkan ke dalam famili
yang sama, dan demikian selanjutnya. Menurut Linnaeus pengelompokan spesies yang mirip
dalam satu kelompok tidak mengimplikasikan adanya pertalian keluarga menurut garis evolusi.
E. Konsep-konsep lain dalam taksonomi tumbuhan
Sejak munculnya karya Lamarck Philosophi Zoologique (1809) dan karya Darwin On the origin
of species by means of natural selection (1859), yaitu teori evolusi yang dikenal pula sebagai
teori desenden atau teori keturunan. Lahirnya teori ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap
taksonomi tumbuhan, khususnya terhadap klasifikasi yang seperti telah disebut terdahulu
menjadi sebab timbulnya aliran dalam sistem klasifikasi yaitu aliran filogenetik. Evolusi adalah
proses perkembangan gradual suatu organisme dari organisme yang mendahuluinya yang
berjalan sejak munculnya mahluk hidup yang pertama hingga sekarang tetap berlangsung tidak
henti-hentinya. Teori evolusi disebut juga teori keturuna, pengertian keturunan di sini hendaknya
tidak diinterprestasikan dengan geneologis tetapi filogenetik evolusioner. Istilah filogeni dan
kata sifat filogenetik yang dijabarkan dari kata benda filogeni berasal dari kata yunani “Phylon”
(atau latin “phylu” yang berarti golongan, kelompok, atau unit, yang dalam taksonomi sama
dengan pengertian takson) dan kata genetis (pembentukan, kejadian). Oleh karena itu dalam
taksonomi filogeni biasanya didefinisikan sebagai sejarah evolusi suatu takson, yang sekaligus
merupakan upaya untuk memberikan pertanggungjawaban dan perkembangan mengenai sejarah
terjadinya takson itu, istilah “filogeni” biasanya ditempatkan berlawanan “ontogeni”, yang
biasanya diartikan sebagai sejarah perkembangan suatu organ atau organisme dari bentuk
sebagai primordium (calon organ) menjadi organ-organ yang sempurna (untuk suatu organ) atau
dari zigot menjadi individu baru. Phylum adalah istilah “filetik” yang mempunyai konotasi asal
seperti pada kalimat “suatu suku yang bersifat natural seperti Umbelliferase dan Compositae
dianggap bersifat “monofiletik” (mempunyai satu nenek moyang). Sedang suatu suku yang
bersifat terlalu heterogen seperti Polypodiciae dikatakan bersifat “polyfilotik” (berasal dari nenek
moyang yang banyak). Biasanya dalam dunia tumbuhan konsep “maju” digunakan bagi
tumbuhan yang ditandai dengan adanya struktur yang lebih rumit serta diferensiasi dan
pembagian pekerjaan yang lebih mendalam. Sel tumbuhan yang belum dapat dibedakan yang
mana dinding, inti dan bagian-bagian lain dianggap lebih sederhana daripada sel-sel yang telah
menunjukkan adanya diferensiasi dan memperlihatkan bagian-bagian tadi. tumbuhan yang
berupa talus dianggap lebih sederhana dibandingkan dengan yang berupa kormus.
Monocotyledoneae adalah golongan tumbuhan paling tinggi filogenetiknya seperti dianut oleh
ahli-ahli jerman Wettstein, Karsten dan lain-lain. namun ada pula yang berpendapat bahwa
Dicotyledonea yang mempunyai tingkat perkembangan paling tinggi (Pulle, Lawrence).

BAB III
PENUTUP

a. Kesimpulan
Takson adalah setiap golongan (unit) taksonomi tingkat yang mana pun. Takson-takson
dibedakan dalam tingkat yang berbeda-beda, yang berarti pula bahwa takson dapat ditata
menurut urutan-urutan tingkatnya. Kategori adalah tingkat-tingkat atau struktur-struktur atau
hirarki taksonomi dari yang tertinggi sampai yang terendah. Kategori sesungguhnya adalah
pengaturan yang dilakukan oleh para ahli botani untuk memudahkan mempelajari klasifikasi
tumbuhan. Lahirnya teori evolusi (teori desenden) ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap
taksonomi tumbuhan, khususnya terhadap klasifikasi. Di masa yang lampau yang dijadikan unit
dasar dalam klasifikasinya dasarnya tidak sama dengan unit dasar yang dipakai sekarang. Unit
dasar yang mereka pakai adalah marga. Namun pada masa sekarang berubah. KITT bagian II, ab
I pasal 2 menyebutkan secara ekplisit, bahwa takson jenis (species), adalah merupakan unit
dasar.

DAFTAR PUSTAKA

Campbell Neil A, dkk. 2003. Biologi Edisi Kelima Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Lumowo, V. T, Sonja. 2012. Bahan Ajar Botani Tingkat Tinggi. Samarinda: Universitas
Mulawarman.
Syamsuri, Istamar, dkk. 2006. Biologi. Jakarta: Erlangga.
Tjitrosoepomo, Gembong. 2005 Taksonomi Umum Dasar-dasar Taksonomi Tumbuhan.
Yokyakarta: Gajah Mada University Press