Anda di halaman 1dari 10

ANALISIS SEBARAN OKSIGEN TERLARUT PADA SUNGAI RAYA

Anita Saputri 1) ; Johnny MTS 2) , Dian Rahayu 3)

1 Program Studi Teknik Lingkungan, Universitas Tanjungpura, Pontianak


2 Program Studi Teknik Sipil, Universitas Tanjungpura, Pontianak
3 Program Studi Teknik Lingkungan, Universitas Tanjungpura, Pontianak

Email : Anitasaputri85@yahoo.com

ABSTRAK

Daerah aliran Sungai Raya merupakan kawasan yang saat ini berkembang dan mempunyai panjang sungai
±4,93 km yang bermuara di Sungai Kapuas, kondisi aliran Sugai Raya dipengaruhi juga oleh aliran pasang surut
air laut. Sebagian besar penduduknya bemukim dan berusaha dibantaran sungai serta langsung membuang
limbah kedalam sungai. Badan air Sungai Raya juga masih digunakan oleh masyarakat sebagai sumber air
bersih dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa
besar buangan limbah organik masyarakat Sungai Raya akibat banyaknya pemukiman dan perdagangan
disepanjang Sungai Raya dan untuk mengetahui kondisi kualitas air Sungai Raya serta hubungannya terhadap
oksigen terlarut serta parameter lain seperti BOD, Suhu, pH, Kekeruhan dan Salinitas, sehingga air tersebut
masih layak atau tidak diperuntukkan bagi masyarakat sekitar. Tahap penelitian dimulai dengan penentuan titik
sampel yang berada di 10 titik lokasi sepanjang Sungai Raya, penentuan titik lokasi dilihat berdasarkan tata
guna lahan serta aktivitas yang berlangsung disepanjang aliran. Hasil analisis kualitas air Sungai Raya yang
dilakukan di Laboratorium Fakultas Pertanian diketahui bahwa konsentrasi DO didalam Sungai Raya berkisar
antara 1,3 – 3,6 mg/l ketika pasang dan 1,4 – 2,3 mg/l ketika surut, ini berarti nilai DO pada Sungai Raya hanya
memenuhi standar baku mutu kualitas air kelas IV menurut PP NO 82 Tahun 2001 , yang mana kualitas air kelas
IV hanya dapat diperuntukkan untuk mengairi pertanaman dan untuk peruntukkan lainnya. Serta nilai BOD
didalam Sungai Raya berkisar antara 6,1 mg/l dilokasi simpang Sudarso – 20,0 mg/l dilokasi pasar Swadaya
untuk kondisi pasang dan 9,9 mg/l dilokasi griya permata – 25,2 mg/l dilokasi Simpang Sudarso pada kondisi
surut, dimana nilai pH yaitu berkisar antara 5,4 – 6,7 untuk kondisi pasang maupun surut, sedangkan untuk
kekeruhan nilainya berkisar antara 11,0 – 22,6 NTU pada kondisi pasang maupun surut serta salinitas dengan
nilai berkisar antara 0,2 – 0,5 0/00. Dilihat dari hasil analisis tersebut, kondisi kualitas air Sungai Raya telah
mengalami pencemaran sehingga tidak layak diperuntukkan bagi masyarakat sekitar sebagai sarana air bersih.

Kata Kunci : Kualitas Air, Pencemaran Air, Sungai Raya Kota Pontianak

ABSTRACT

Sungai Raya watershed is an area that is growing and has a ± 4,93 km long river that empties into the Sungai
Kapuas , flow conditions Sungai Raya is influenced also by the flow of the tide . Most of the population and
trying in edge river and dumping waste directly into the river .Water body Sungai Raya is also still used by
people as a source of clean water to meet their daily needs . The purpose of this study is to determine how much
organic waste disposal Sungai Raya due to the many communities and trade settlements along the Sungai Raya
and to determine the condition of water quality in Sungai Raya and its relation of dissolved oxygen and other
parameters such as BOD , temperature , pH , turbidity and salinity , so that the water is still viable or not
destined for the local community . Phase of the study began with the determination of sample points that are in
10 point locations along the Sungai Raya , the determination of the location of the point of views based on land
use and activities that take place along the stream . Analysis results of water quality conducted in Sungai Raya
Laboratory Faculty of Agriculture knew that the DO concentration in the Sungai Raya ranged from 1,3 to 3,6 mg
/ l when the tide and 1,4 to 2,3 mg / l when the downs , the mean value DO on the Sungai Raya only meet
quality standards of water quality class IV according to PP NO 82 of 2001 , which is a class IV water quality can
only be intended to irrigate the crop and for other designation . And the value of BOD in Sungai Raya ranged
from 6,1 mg / l in the location Simpang Soedarso – 20,0 mg / l in the location Pasar Swadaya for tidal conditions
and 9,9 mg / l in the location Griya Permata – 25,2 mg / l in the location Simpang Sudarso at low tide conditions
, where the pH value ranging from 5.4 to 6.7 for the tide and low tide conditions , while for the turbidity values
ranged from 11,0 to 22,6 NTU on tide and low tide conditions and salinity with values ranging between 0,2 to
1
0,5 0 / 00 . Judging from the results of this analysis , the condition of water quality in Sungai Raya has
experienced pollution so it is not feasible intended for the local community as a means of clean water .

Key words: Water Quality, Water Pollution, Sungai Raya of Pontianak City

1. Pendahuluan
Salah satu kebutuhan manusia yang paling pokok adalah air. Air merupakan sarana yang dapat
memenuhi kebutuhan untuk air minum, mandi-cuci, pertanian serta industri yang pada prinsipnya
semua adalah untuk kebutuhan manusia sepanjang masa. Kota Pontianak merupakan salah satu
contoh kota yang perkembangan penduduknya cukup pesat dengan berbagai aktivitas penduduk
yang ramai, sangat berpengaruh terhadap buangan limbah domestik terhadap saluran buangannya.
Dimana saluran ini dapat masuk ke perairan seperti sungai dan parit. Sungai Raya merupakan
kawasan yang saat ini berkembang menjadi dua wilayah yaitu Kecamatan Pontianak Tenggara dan
Kabupaten Kubu Raya. Dulunya kawasan ini merupakan kawasan perkebunan, namun semakin lama
kawasan ini semakin berkembang. Banyaknya pemukiman penduduk di wilayah aliran Sungai Raya
sangat mempengaruhi kualitas air pada saluran di wilayah tersebut. Aktifitas buangan domestik oleh
masyarakat sekitar yang masuk kedalam parit tersebut akan sangat mempengaruhi kualitas air
didalamnya, sehingga akan terjadinya penurunan kualitas air, dimana polutan biologi yang terurai
akan memakai oksigen selama penguraian, hal ini akan mengurangi tingkat DO dalam air.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar sebaran oksigen terlarut pada
Sungai Raya akibat banyaknya pemukiman dan perdagangan disepanjang aliran Sungai Raya serta
mengetahui kondisi kualitas air sehingga air tersebut masih layak atau tidaknya diperuntukkan bagi
masyarakat sekitar dan sesuai dengan standar Baku Mutu Air Berdasarkan PP.NO.82 Tahun 2001 dan
untuk mengetahui hubungannya parameter lain seperti BOD, Suhu, pH, Kekeruhan dan Salinitas
terhadap oksigen terlarut.

2. Metode Penelitian
Penelitian dilakukan di Sungai Raya yang terletak di Kabupaten Kubu Raya. Dengan panjang
sungai ±4,93 km, sampel diambil pada 10 titik lokasi (Tabel 1). Parameter sampel yang diuji yaitu DO,
BOD, Suhu, dan pH berdasarkan PP NO.82 Tahun 2001, Kekeruhan berdasarkan KEPMENKES RI NO:
416/MENKES/PER/IX/1990 dan Salinitas menurut Effendi (2003). Waktu yang diperlukan dalam
penelitian ini dimulai pada bulan Juni 2013 sampai dengan bulan Januari 2014. Penelitian ini dimulai
dari survey awal (lokasi) terlebih dahulu, persiapan literatur dan dilanjutkan dengan pengujian
kualitas air (meliputi penentuan lokasi sampling, pengambilan sampel dan perlakuan sampel),
analisis, kesimpulan. Adapun data yang diperoleh dilapangan yaitu pengukuran jarak antar lokasi dan
lebar sungai dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Pengukuran Jarak Antar Lokasi, Lebar Sungai Pertitik


Jarak Lebar Sungai
No Lokasi Penelitian Koordinat
(km) (m)
1 0,00 Korpri 00°05'53,50''LS; 109°20'35,45''BT 11,25
2 0,60 Griya Permata 00°05'37,61''LS; 109°20'47,07''BT 10,15
3 1,23 Hotel Harmoni 00°05'20,47''LS; 109°20'57,19''BT 11,10
4 1,84 Griya Husada 00°05'03,44''LS; 109°21'81,07''BT 11,12
5 2,42 Mitra Indah Utama 00°04'47,67''LS; 109°21'19,01''BT 11,15
6 2,97 Pasar Swadaya 00°04'32,68''LS; 109°21'27,87''BT 10,80
7 3,62 Masjid Ikhwanul Muslimin 00°04'14,47''LS; 109°21'39,24''BT 11,70
8 4,00 Jembatan Polda 00°04'03,95''LS; 109°21'45,51''BT 12,20
9 4,40 Jembatan Sudarso 00°03'51,91''LS; 109°21'51,31''BT 12,22
10 4,93 Simpang Sudarso 00°03'37,18''LS; 109°21'58,29''BT 12,25

2
Berdasarkan tabel 1, dapat dilihat lebar sungai terbesar terdapat pada titik lokasi Simpang
Soedarso dengan jarak 4,93 km memiliki lebar sungai sebesar 12,25 m yang berada dekat dengan
aliran Sungai Kapuas. Sedangkan pada titik lokasi Griya Permata dengan jarak 0,60 dari simpang
Korpri memiliki lebar sungai terkecil dengan nilai 10,15 m, hal ini dipengaruhi tata guna lahan.
Selanjutnya yang dilakukan pada penelitian ini yaitu :
A. Pengumpulan Data
 Data Primer
Berupa observasi daerah penelitian dan data bahan pencemar Sungai Raya dari hasil
pemeriksaan uji di Laboratorium. Pengukuran dilakukan pada saat air pasang tertinggi pada
tanggal 15 juni 2013 yang terjadi dimulai pada jam 22:00 – 24:00 WIB, sedangkan pada
surut terendah pada tanggal 16 juni 2013 yang terjadi dimulai pada jam 06:00 – 08:00 WIB.
 Data Sekunder
Data pasang surut sungai, peta Sungai Raya dan data statistik (data kependudukan dan
gambaran umum lokasi studi).

Sebelum melakukan pengambilan sampel dan uji kualitas air, maka perlu kita ketahui terlebih
dahulu cara atau prosedur pengambilan sampel yang baik dan benar. Adapun prosedur pengambilan
sampel yang dilakukan pada penelitian di Sungai Raya sebagai berikut :

B. Prosedur Pengambilan Sampel


 Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel untuk DO, BOD, Suhu, pH, Kekeruhan
dan Salinitas adalah Metode Grab Sample (sampel sesaat).
 Pengukuran DO, BOD, Suhu, pH, Kekeruhan dan Salinitas dilakukan pada kondisi pasang dan
surut Sungai Raya.
 Parameter salinitas (kadar garam), DO, BOD, Kekeruhan, pH dan suhu dilakukan
pengambilan masing-masing sampel pada titik kedalaman 0,6 dari kedalaman sungai.
Pengambilan sampel pada kedalaman ini dikarenakan, pada kedalaman 0,6 terjadi
kecepatan yang maksimum dimana pencampuran diair mendekati sempurna.

Setelah mengetahui prosedur pengambilan sampel, maka sampel air yang telah diambil
selanjutnya perlu dilakukan analisis, yang mana analisis tersebut disebut dengan analisis data.

C. Analisis Data
Analisis data yang dilakukan dalam penulisan skripsi ini adalah untuk menganalisis kualitas air
disungai, dimana diperlukan data kualitas air Sungai Raya yang didapatkan dari hasil pengamatan dan
pengujian air untuk menghubungan beberapa parameter seperti BOD, Suhu, pH, Kekeruhan dan
Salinitas terhadap DO, serta analisis regresi untuk membandingkan antara persamaan dengan
keadaan parameter dilapangan (Sungai Raya).

3. Hasil dan Pembahasan


A. Analisis Kualitas Air Sungai Raya Serta Hubungannya Terhadap Oksigen Terlarut
Pencemaran air diindikasikan dengan turunnya kualitas air ketingkat tertentu yang
menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai peruntukkannya. BOD merupakan salah satu
parameter kunci yang digunakan untuk mengevaluasi kualitas air sungai, sedangkan DO adalah salah
satu parameter yang biasa digunakan untuk mengukur kualitas suatu perairan.
Dalam pemeriksaan kualitas air banyak sekali parameter – parameter penguji kualitas air.
parameter pencemaran biasanya terkait antara satu parameter dengan parameter lainnya. Dalam
pembahasan ini akan disampaikan hubungan antara parameter BOD, Suhu, Kekeruhan, pH serta
Salinitas. BOD merupakan salah satu variabel kunci yang digunakan untuk mengevaluasi kualitas air

3
sungai, sedangkan DO adalah salah satu parameter yang biasa digunakan untuk mengukur kualitas
suatu perairan.
Oleh karena itu, akan dibahas hasil analisis kualitas air Sungai Raya berdasarkan parameter DO,
BOD, Suhu, pH, Kekeruhan dan Salinitas serta perlu dilakukannya perbandingan parameter kualitas
air seperti : BOD, Suhu, Kekeruhan, pH serta Salinitas terhadap DO untuk melihat keterkaitan
parameter – parameter tersebut pada kualitas air Sungai Raya.

1. Parameter BOD serta hubungannya terhadap parameter DO


BOD atau Biochemical Oksigen Demand merupakan salah satu parameter untuk mengetahui
kualitas air atau parameter penting yang diukur untuk menentukan seberapa sungai atau air telah
tercemar, khususnya pencemaran buangan bahan organik yang tidak mudah terurai. BOD
menunjukkan jumlah oksigen yang dikonsumsi oleh respirasi mikro aerob. Banyaknya oksigen yang
diperlukan oleh bakteri untuk menguraikan polutan dikenal dengan Biochemical Oxygen Demand
(BOD). Pemantauan BOD adalah dengan mengukur jumlah zat organik yang kemungkinan akan
dioksidasi oleh kegiatan-kegiatan bakteri aerobik pada masa inkubasi 5 hari dan pada suhu 20 0C.
Untuk melihat keterkaitan antara nilai BOD dan DO pada daerah Sungai Raya pada kodisi pasang
maupun surut dapat dilihat pada grafik 1 dan grafik 2.

25.0 4.0
3.5
20.0
Nilai BOD (mg/l)

Nilai DO (mg/l)
3.0
15.0 2.5
2.0
10.0 1.5
1.0
5.0
0.5
0.0 0.0
0.0 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0

korpri Jarak Titik Sampel (km) Sungai


BOD Pasang DO Pasang Kapuas
Poly. (BOD Pasang) Poly. (DO Pasang)

Gambar 1. Grafik data keterkaitan BOD dan DO pada kondisi pasang

30.0 3.0
25.0 2.5
Nilai BOD (mg/l)

Nilai DO (mg/l)

20.0 2.0
15.0 1.5
10.0 1.0
5.0 0.5
0.0 0.0
0.0 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0

korpri Jarak Titik Sampel (km) Sungai


Kapuas
BOD Surut DO Surut Poly. (BOD Surut) Poly. (DO Surut)

Gambar 2. Grafik data keterkaitan BOD dan DO pada kondisi surut

4
Dari grafik diatas terlihat bahwa pada daerah Sungai Raya memiliki keterkaitan antara BOD dan
DO yang baik pada saat pasang maupun pada saat surut. Pada saat pasang pada grfik terlihat nilai
BOD cenderung mengalami penurunan kemuara akan tetapi nilai DO cenderung meningkat. Seperti
yang termuat oleh ( Boyd, 1982 ), nilai BOD berbanding terbalik dengan nilai DO. Pada air yang bersih
mempunyai nilai DO yang tinggi dan nilai BOD yang rendah. Pada saat surut terlihat dari grafik nilai
BOD dan DO berbanding terbalik dimana pada saat surut DO cenderung menurun dan nilai BOD
cenderung meningkat.

2. Parameter Suhu serta hubungannya terhadap parameter DO


Suhu air mempunyai peranan penting dalam mengatur kehidupan biota perairan, terutama
dalam proses metabolisme. Kenaikan suhu menyebabkan terjadinya peningkatan konsumsi oksigen,
namun dipihak lain akan mengakibatkan turunnya kelarutan oksigen didalam air. Oleh karena itu,
maka pada kondisi tersebut organisme akuatik seringkali tidak mampu memenuhi kadar oksigen
terlarut untuk keperluan proses metabolisme dan respirasi. Suhu air pada lapisan permukaan lebih
panas daripada dibawahnya, sehingga air dipermukaan lebih tinggi suhunya dibandingkan dengan air
dibawahnya.
Pencemaran pada air dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor eksternal
diantaranya adalah suhu dan DO. Dissolved Oxygen (DO) adalah jumlah oksigen yang terkandung
didalam air. DO dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk pernafasan, proses metabolisme atau
pertukaran zat yang kemudian menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan pembiakkan. Disamping
itu, oksigen juga dibutuhkan untuk oksidasi bahan – bahan organik dan anorganik dalam proses
aerobik. Sumber utama oksigen dalam suatu perairan berasal dari suatu proses difusi dari udara
bebas dan hasil fotosintesis organisme yang hidup dalam perairan tersebut. Kecepatan difusi oksigen
dari udara, tergantung dari beberapa faktor, seperti kekeruhan air, suhu, salinitas, pergerakkan
massa air dan udara seperti arus, gelombang dan pasang surut.
Untuk melihat keterkaitan antara nilai suhu dan DO pada daerah Sungai Raya pada kodisi pasang dan
surut dapat dilihat pada grafik 3 dan grafik 4.

26.5 4.0

3.5
26.0
3.0 Nilai DO (mg/l)
Nilai Suhu (0C)

25.5
2.5

25.0 2.0

1.5
24.5
1.0
24.0
0.5

23.5 0.0
0.0 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0
korpri Jarak Titik Sampel (km) Sungai
Kapuas
Suhu Pasang DO Pasang Poly. (Suhu Pasang) Poly. (DO Pasang)

Gambar 3. Grafik data keterkaitan suhu dan DO pada kondisi pasang

5
28.5 3.0

28.0 2.5

Nilai DO (mg/l)
Nilai Suhu (0C)
27.5 2.0

27.0 1.5

26.5 1.0

26.0 0.5

25.5 0.0
0.0 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0
korpri Jarak Titik Sampel (km) Sungai
Kapuas
Suhu Surut DO Surut Poly. (Suhu Surut) Poly. (DO Surut)

Gambar 4. Grafik data keterkaitan suhu dan DO pada kondisi surut


Berdasarkan pada grafik 3 dan 4, terlihat disemua titik lokasi sampel untuk kondisi pasang
maupun kondisi surut berkisar antara 24 – 28 0C, sehingga jika dikaitkan dengan baku mutu kelas air
suhu disemua lokasi sampel masih memenuhi syarat baku mutu air kelas I,II,III maupun IV. Pada saat
surut suhu air lebih tinggi dibandingkan pada saat pasang, ini karena pada saat surut pengambilan
sampel dilakukan pada siang hari, sehingga menyebabkan temperatur air meningkat dan pada saat
pasang pengambilan sampel dilakukan pada malam hari sehingga temperatur sedikit menurun dan
dingin. Penggunaan lahan juga berpengaruh pada temperatur air dimana pada lokasi sampel dibagian
hilir terdapat banyak pemukiman dibandingkan dibagian hulu yang masih banyak terdapat vegetasi
tumbuhan disekitar lokasi.
Pada grafik keterkaitan DO dan Suhu terlihat pada saat pasang maupun surut terlihat adanya
hubungan. Dimana pada saat pasang nilai DO mengalami kenaikan maka suhu cenderung mengalami
penurunan, sebaliknya pada saat surut nilai DO cenderung menurun akan tetapi nilai suhu
mengalami kenaikan (Effendi, 2003).

3. Parameter pH serta hubungannya terhadap parameter DO


pH adalah tingkatan yang menunjukkan asam atau basanya suatu larutan yang diukur pada
skala 0 – 14. pH berkaitan tinggi atau rendahnya pH air dipengaruhi oleh senyawa / kandungan dalam
air tersebut. Faktor yang mempengaruhi pH air yaitu sisa – sisa pakan dan kotoran yang mengendap.
pH biasanya berfluktuasi setiap hari, pH berkaitan dengan fotosintesis dan respirasi oleh makhluk
hidup. Dipagi hari, karbon dioksida mengalami peningkatan dan pH rendah dikarenakan hasil dari
respirasi pada malam hari ( karbon dioksida membentuk asam ringan ketika dilarutkan dalam air ).
Setelah matahari terbit, ganggang dan tanaman hijau lainnya menghasilkan karbohidrat dan oksigen
dari karbon dioksida dan air oleh fotosintesis. Karbon dioksida akan dihapus di air, yang
meningkatkan pH. pH terendah biasanya terkait dengan tingkat oksigen terlarut yang rendah. pH
tertinggi biasanya terkait dengan tingkat tertinggi oksigen terlarut. pH yang rendah mengakibatkan
penurunan oksigen terlarut, jika ditinjau secara kimia bahwa kehidupan dan pertumbuhan organisme
perairan dipengaruhi oleh pH, DO, BOD, Suhu, Salinitas dan Alkalinitas.
Untuk melihat keterkaitan antara nilai pH dan DO pada daerah Sungai Raya pada kodisi pasang dan
surut dapat dilihat pada grafik 5 dan grafik 6.

6
4.0 6.8

3.5 6.7

6.6
3.0
6.5

Nilai DO (mg/l)
2.5

Nilai pH
6.4
2.0
6.3
1.5
6.2
1.0
6.1
0.5 6.0

0.0 5.9
0.0 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0
korpri Jarak Titik Sampel (km) Sungai
Kapuas
DO Pasang pH Pasang Poly. (DO Pasang) Poly. (pH Pasang)

Gambar 5. Grafik data keterkaitan pH dan DO pada kondisi pasang

6.6 3.0

6.4 2.5
6.2

Nilai DO (mg/l)
2.0
Nilai pH

6.0
1.5
5.8
1.0
5.6

5.4 0.5

5.2 0.0
0.0 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0

korpri Jarak Titik Sampel (km) Sungai


Kapuas
pH Surut DO Surut Poly. (pH Surut) Poly. (DO Surut)

Gambar 6. Grafik data keterkaitan pH dan DO pada kondisi surut

Buangan limbah kedalam air dapat mengubah ion hidrogen (pH) didalam air menjadi lebih
asam atau pun lebih basa tergantung dari jenis limbah dan zat kimia yang terkandung didalamnya
(Wardhana WA 2001). Oleh karena adanya buangan limbah tersebut maka akan sedikit menurunkan
nilai pH dititik Korpri dan Griya Husada, serta letak titik sampel keduanya yang terletak dihulu sungai
juga menyebabkan pH dititik tersebut hanya memenuhi baku mutu air kelas IV.
Jika dilihat dari grafik diatas, terlihat bahwa saat kondisi pasang maupun pada saat kondisi
surut tidak terlihat keterkaitan antara pH dan DO dimana nilai DO cenderung mengalami penurunan
akan tetapi nilai pH cenderung semakin mengalami peningkatan. Seharusnya, pH terendah biasanya
terkait dengan tingkat oksigen terlarut yang rendah sebaliknya pada kondisi pH tertinggi biasanya
7
terkait dengan tingkat tertinggi oksigen terlarut. Akan tetapi DO tidak berhubungan langsung dengan
pH. Keberadaan oksigen terlarut erat hubungannya dengan proses respirasi dan fotosintesa. Dimana
proses respirasi menghasilkan CO2 sedangkan proses fotosintesa membutuhkan CO2 . Senyawa ini
yang secara langsung mempengaruhi pH ( Effendi,2003 ).

4. Parameter Kekeruhan serta hubungannya terhadap parameter DO


Kekeruhan digunakan untuk menyatakan derajat kegelapan didalam air yang disebabkan oleh
bahan – bahan yang melayang. Kekeruhan mempengaruhi penetrasi cahaya matahari yang masuk
kebadan perairan, sehingga akan menghalangi proses fotosintesis dan produksi primer perairan.
Kekeruhan biasanya terdiri dari partikel anorganik yang berasal dari erosi dari DAS dan resuspensi
sedimentasi didasar sungai. Berdasarkan KEPMENKES RI No : 416/MENKES/PER/IX/1990 untuk
kualitas air bersih, kadar kekeruhan maksimum yang diperbolehkan adalah 25 NTU.
Untuk melihat keterkaitan antara nilai kekeruhan dan DO pada daerah Sungai Raya pada kodisi
pasang dan surut dapat dilihat pada grafik 7 dan grafik 8.

20.0 4.0
Nilai Kekeruhan (NTU)

3.5

Nilai DO (mg/l)
15.0 3.0
2.5
10.0 2.0
1.5
5.0 1.0
0.5
0.0 0.0
0.0 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0
Jarak Titik Sampel (km)
korpri Sungai
Kapuas
Kekeruhan Pasang DO Pasang
Poly. (Kekeruhan Pasang) Poly. (DO Pasang)

Gambar 7. Grafik data keterkaitan kekeruhan dan DO pada kondisi pasang

3.0 25.0
Nilai Kekeruhan (NTU)

2.5 20.0
Nilai DO (mg/l)

2.0
15.0
1.5
10.0
1.0

0.5 5.0

0.0 0.0
0.0 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0
Jarak Titik Sampel (km)
korpri Sungai
DO Surut Kekeruhan Surut Kapuas
Poly. (DO Surut) Poly. (Kekeruhan Surut)

Gambar 8. Grafik data keterkaitan suhu dan DO pada kondisi surut


8
Pada grafik 7 dan 8 dapat dilihat pada saat pasang dan pada saat surut disepanjang aliran
Sungai Raya nilai kekeruhan masih didalam kadar maksimum yang diperbolehkan berdasarkan
KEPMENKES RI No : 416/MENKES/PER/IX/1990 untuk kualitas air bersih, kadar kekeruhan maksimum
yang diperbolehkan adalah 25 NTU. Hal ini disebabkan pada proses pengambilan sampel sangat
memperhatikan keadaan sedimentasi diperairan agar tidak tergerus naik kepermukaan dan ikut
masuk terbawa kedalam sampel air tersebut.
Terlihat pada grafik diatas pada saat pasang dan pada saat kondisi surut terdapat hubungan
keterkaitan antara Kekeruhan dan DO dimana terlihat saat DO cenderung mengalami penurunan
kekeruhan mengalami peningkatan hal ini dikarenakan terjadinya akumulasi bahan – bahan buangan
organik dari masyarakat sekitar Sungai Raya yang membuang sampah kedalam sungai tersebut
(Nybakken, 1992).

5. Parameter Salinitas serta hubungannya terhadap parameter DO


Pada penelitian ini sebenarnya tidak terdapat adanya hubungan keterkaitan antara salinitas
dan DO, akan tetapi mengapa dilakukan uji salinitas disini hanyalah untuk melihat seberapa besar
kandungan kadar garam atau salinitas yang masuk ke badan Sungai Raya akibat proses pasang surut
yang masuk dari muara Sungai Kapuas, sehingga dapat diketahui kualitas air sungai tersebut berada
pada keadaan air tawar, air payau atau asin dan pengaruh terhadap penggunaan kebutuhan
masyarakat sekitar Sungai Raya.
Menurut Effendi (2003), salinitas adalah total konsentrasi ion-ion terlarut yang terdapat
diperairan. Salinitas dinyatakan dalam satuan promil (0/00). Kandungan garam pada sebagian danau,
sungai dan saluran air alami sangat kecil sehingga air ditempat ini dikategorikan sebagai air tawar.
Nilai salinitas perairan tawar biasanya kurang dari 0,05 0/00, perairan payau antara 0,5 0/00 – 30 0/00,
dan perairan laut 30 0/00 – 40 0/00. Pada perairan pesisir, nilai salinitas sangat dipengaruhi oleh
masukan air tawar dari sungai. Sedangkan menurut (Nontji, 2007), Salinitas adalah tingkat keasinan
atau kadar garam terlarut dalam air. Salinitas juga dapat mengacu pada kandungan garam dalam
tanah. Kandungan garam pada sebagian besar danau, sungai, dan saluran air alami sangat kecil
sehingga air di tempat ini dikategorikan sebagai air tawar. Kandungan garam sebenarnya pada air ini,
secara definisi kurang dari 0,05%. Jika lebih dari itu, air dikategorikan sebagai air payau atau menjadi
saline bila konsentrasinya 3 sampai 5% sedangkan jika lebih dari 5%, ia disebut brine.
Perubahan salinitas dipengaruhi oleh pasang surut dan musim. Ke arah darat, salinitas muara
cenderung lebih rendah. Tetapi selama musim kemarau pada saat aliran air sungai berkurang, air laut
dapat masuk lebih jauh ke arah darat sehingga salinitas muara meningkat. Sebaliknya pada musim
hujan, air tawar mengalir dari sungai ke laut dalam jumlah yang lebih besar sehingga salinitas air di
muara menurun.
Perbedaan salinitas dapat mengakibatkan terjadinya badan air tawar dan pergerakan massa di
muara. Perbedaan salinitas air laut dengan air sungai yang bertemu di muara menyebabkan
keduanya bercampur membentuk air payau. Karena kadar garam air laut lebih besar, maka air laut
cenderung bergerak di dasar perairan sedangkan air tawar di bagian permukaan. Keadaan ini
mengakibatkan terjadinya sirkulasi air di muara. Aliran air tawar yang terjadi terus - menerus dari
hulu sungai membawa mineral, bahan organik, dan sedimen ke perairan muara. Di samping itu,
unsur hara terangkut dari laut ke daerah muara oleh adanya gerakan air akibat arus dan pasang
surut. Unsur-unsur hara yang terbawa ke muara merupakan bahan dasar yang diperlukan untuk
fotosintesis yang menunjang produktifitas perairan. Itulah sebabnya produktifitas muara melebihi
produktifitas ekosistem laut lepas dan perairan tawar.

Faktor – faktor yang mempengaruhi salinitas :


1. Penguapan, makin besar tingkat penguapan air laut di suatu wilayah, maka salinitasnya tinggi
dan sebaliknya pada daerah yang rendah tingkat penguapan air lautnya, maka daerah itu
rendah kadar garamnya.
2. Curah hujan, makin besar/banyak curah hujan di suatu wilayah laut maka salinitas air laut itu
akan rendah dan sebaliknya makin sedikit/kecil curah hujan yang turun salinitas akan tinggi.

9
3. Banyak sedikitnya sungai yang bermuara di laut tersebut (pasang surut sungai), makin banyak
sungai yang bermuara ke laut tersebut maka salinitas laut tersebut akan rendah, dan
sebaliknya makin sedikit sungai yang bermuara ke laut tersebut maka salinitasnya akan tinggi.

4. Kesimpulan
Dari hasil studi penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan dapat disimpulkan beberapa
hal, yaitu :
1. Kondisi kualitas air Sungai Raya untuk nilai parameter DO (Dissolved Oxygen) didalam Sungai
Raya berkisar antara 1,3 – 3,6 mg/l ketika pasang dan 1,4 – 2,3 mg/l ketika surut, ini berarti
nilai DO pada Sungai Raya hanya memenuhi standar baku mutu kualitas air kelas IV menurut
PP NO 82 Tahun 2001 , yang mana kualitas air kelas IV hanya dapat diperuntukkan untuk
mengairi pertanaman dan untuk peruntukkan lainnya. Serta nilai BOD didalam Sungai Raya
berkisar antara 6,1 mg/l dilokasi simpang Sudarso – 20,0 mg/l dilokasi pasar Swadaya untuk
kondisi pasang dan 9,9 mg/l dilokasi griya permata – 25,2 mg/l dilokasi Simpang Sudarso pada
kondisi surut, dimana nilai pH yaitu berkisar antara 5,4 – 6,7 untuk kondisi pasang maupun
surut, sedangkan untuk kekeruhan nilainya berkisar antara 11,0 – 22,6 NTU pada kondisi
pasang maupun surut serta salinitas dengan nilai berkisar antara 0,2 – 0,5 0/00. Berdasarkan
penelitian yang dilakukan dan melihat hasil yang diperoleh, Sungai Raya merupakan sungai
yang telah mengalami pencemaran sehingga tidak layak diperuntukkan bagi masyarakat
sekitar sebagai sarana air bersih.

2. Adanya hubungan keterkaitan antara nilai parameter BOD, Suhu, Kekeruhan dengan nilai
parameter DO baik pada kondisi pasang maupun pada kondisi surut, akan tetapi untuk nilai
parameter pH tidak terdapat hubungan keterkaitan terhadap parameter DO sendiri sedangkan
untuk parameter salinitas pada penelitian ini hanya melihat seberapa besar kandungan kadar
garam yang masuk kebadan Sungai Raya akibat proses pasang surut yang masuk dari muara
Sungai Kapuas.

Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : Bapak Dr.Ir. Johnny MTS,
M.Sc selaku pembimbing utama dan ibu Dian Rahayu Jati ST,M.Si selaku dosen pembimbing
pendamping serta bapak Ir. Nasrullah CH.ST.MT dan ibu Isna Apriani ST.M.Si selaku dosen penguji
dalam penelitian ini. Tidak lupa pula ucapan terima kasih kepada teman-teman atas partisipasinya
kepada penulis dalam penyelesaian penelitian ini.

Daftar Pustaka

Badan Pusat Statistik. 2011. Kabupaten Kubu Raya Dalam Angka Tahun 2011.
Boyd, C.E. 1982. Water Quality in Warmwater Fish Ponds. USA : Introduction to Environmental
Engineering.
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengolahan Sumberdaya Hayati Lingkungan Perairan.
Yogyakarta : Kanisius.
KEPMENKES Republik Indonesia Nomor : 416/MENKES/PER/IX/1990. Tentang Syarat-Syarat dan
Pengawasan Kualitas Air.
Nybakken JW. 1992. Biologi Laut: Suatu Pendekatan Ekologi. PT. Gramedia. Jakarta.
Nontji. 2007. Laut Nusantara. Jakarta: Penerbit Djambatan.
Nybakken JW. 1992. Biologi Laut: Suatu Pendekatan Ekologi. PT. Gramedia. Jakarta.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001. Tentang Pengelolaan Kualitas Air
dan Pengendalian Pencemaran Air.

10