Anda di halaman 1dari 12

SAMUDERA INDONESIA

EKSPANSI ATAU FOKUS DI BISNIS INTI

MANAJEMEN KEUANGAN
Dr. Zaenal Arifin, M.Si.

Disusun Oleh
Toni Hartadi : 16919043
Ema Khairunnisa A. : 16919050
Gazian Hazazi N. : 16919037
Bhayu Andreawan : 16919047

PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI


PROGRAM PASCASARJANA
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2017
1. PENDAHULUAN

PT. Samudera Indonesia adalah perusahaan Indonesia yang bergerak di bidang


pelayaran,transportasi dan logistik. Perusahaan yang didirikan oleh Soedarpo
Sastrosatomo pada tahun 1964 ini awalnya merupakan gabungan perusahaan keagenan
pelayaran dan perusahaan bongkar muat (stevedoring). Pada tahun 1988 dilaksanakan
rapat bersama Direksi Samudera Indonesia, namun Direktur Keuangan Randy Effendi
tengah berfikir mengenai isi laporan yang harus disampaikan dalam rapat tersebut.
Sebuah bisnis baru yang dikerjakan bersama dengan Soebagjo Windoe, Kepala Divisi
Pemasaran, dan Helman Sembiring Kepala Cabang Tanjung Priok sudah merugi dua
bulan berturut-turut, bisnis tersebut adalah pembayaran pengumpan (feeder service).
Apakah Rendy akan merekomendasikan agar bisnis ini dihentikan saja ditengah jalan
atau diteruskan dengan harapan para manajer akan mampu mengatasi kesulitan-kesulitan
mereka dan berbalik mencatatkan keuntungan.

1.1. Lahirnya Samudera Indonesia


Samudera Indonesia berdiri tahun 1964 atas gabungan perusahaan keagenan
pelayaran dan perusahaan bongkar muat (stevedoring). Pada awalnya Soedarpo tidak
memahami bisnis tersebut, namun karena merasa hutang budi dengan teman di Amerika
yang meminta mendirikan agen pelayaran maka Soedarpo terjun ke bisnis tersebut.
Teman Soedapo bekerja untuk Ishmian Lines, yang dimiliki oleh perusahaan US Steel.
Pada periode waktu antara bulan Oktober 1952 sampai bulan Februari 1953 Soedarpo
terlibat dalam perundingan pengambilalihan saham dengan seorang warga Negara
Belanda yang memegang hak keagenan pelayaran di Indonesia. Soedarpo mengambil alih
75% saham International Shipping and Transport Agency (ISTA) pemegang hak
keagenan pelayaran di Indonesia. Soedarpo melakukan perubahan penting dalam ISTA :
keharusan para karyawan yang bekerja adalah berkewarganegaraan Indonesia, kemudian
Indonesianisasi seluruh staf. Tahun 1954, ISTA berkembang menjadi agen untuk Hapag
Llyoid (perusahaan pelayaran Jerman), dan Tokyo Senpaku Kaisha dari Jepang.
Soedarpo mengelola dua perusahaan yaitu : Soedarpo Corporation (berbisnis impor
peralatan kantor dan kertas) dan ISTA, sehingga Soedarpo merasa kekurangan waktu
untuk mengelola kedua kantor tersebut.
1.2. Perkembangan Samudera Indonesia
Pada tahun 1964, ISTA dan sejumlah perusahaan keagenan serta bongkar muat
lainnya melakukan merger menjadi satu perusahaan Samudera Indonesia, kemudian
dimulai bisnis baru pelayaran kapal (shipping) dengan fokus pelayaran internasional.
Lima belas tahun kemudian perusahaan membeli 11 kapal layanan kargo internasional.
Pada tahun 1979 omzet perusahaan mencapai Rp. 1 miliar per bulan, dan uang asing yang
diubah ke rupiah setiap bulannya sekitar $750.000 AS, kemudian pada tahun 1970 an
perusahaan masuk ke bisnis pelayaran regional dengan membeli 3 kapal pengangkut
barang untuk keperluan pengangkutan antar pulau di Indonesia dan sejumlah kapal untuk
pengangkutan logistik lepas pantai (tugs, barges) untuk melayani kalangan industry
minyak dan gas. Kemudian diikuti dengan didirikan Tanker (perusahaan khusus
pengangkutan barang cair).
Samudera Indonesia memiliki dua anak perusahaan lain, yaitu : PT Panurjwan untuk
pelayaran internal domestik, dan PT Cumawis untuk pengapalan komoditas yang
membutuhkan pelayanan khusus karena rentan (fragile).
Armada yang dimiliki Samudera Indonesia berjumlah sembilan unit kapal ditambah satu
kapal lain dalam kerjasama dengan perusahaan Jepang untuk kepentingan ekspor impor
kayu. PT Panurjwan mengoperasikan enam kapal, dan PT Cumawis memiliki enam kapal
tunda (tug boats), delapan landing crafts, sebelas flat top barges, dan empat oil barges.
Untuk keperluan angkutan darat PT Samudera Indonesia memiliki 100 truk dan 80 trailer.
Soedarpo makin hari makin pesimis oleh perkembangan bisnis pelayaran, ia berpendapat
tidak ada cukup perhatian dari pemerintah terhadap industri perkapalan, khususnya dalam
hal modal untuk melakukan ekspansi.
Pada tahun 1979 mulai memasuki kecenderungan pengangkutan dengan kontainer, pada
saat itu jalur kontainer antar dua kota di Indonesia belum tersedia. Kebutuhan kontainer
sudah tidak terhindarkan, karena jika tidak menggunakan Kontainer biaya bongkar muat
akan terlalu mahal. Untuk mengatasi hal tersebut PT Samudera Indonesia membeli satu
unit kapal di Korea, kapal yang semula pengangkut kayu yang diubah menjadi kapal
kontainer berukuran 250 TEU (Twenty-foot Equivalent Unit). Namun kemudian kapal
tersebut tidak bisa beroperasi di Indonesia karena terbentur Surat Keagenan Umum
(SKU), PT Samudera Indonesia tidak mendapatkan izin SKU.
Selain itu, perusahaan juga berusaha menyesuaikan diri dengan kebutuhan khusus,
misalnya ketika membawa peralatan stasiun bumi untuk keperluan proyek satelit Palapa
ke lokasi di mana tidak ada pelabuhan untuk itu. Dibutuhkan biaya yang mahal, seperti
crane dan truk untuk mengangkut ke lokasi.

1.3 Masuknya Randy Effendi


Tahun 1981 Randy Effendi bergabung sebagai Asisten Khusus, sebelumnya bekerja
sebagai akuntan dan konsultan di perusahaan konsultasi SGV Utomo di Jakarta, Randy
Effendi yang juga merupakan anak dari mantan salah satu Direktur di Samudera
Indonesia. Randy menjalankan perusahaan dengan memusatkan pada empat hal yakni :
manajemen yang berpusatkan pada sumber daya manusia, dukungan teknologi informasi,
prinsip kehati-hatian (prudent), dan transparansi.
Pada tahun 1984, Randy Effendi menemukan keganjilan dalam laporan keuangan
perusahaan selama dua tahun terakhir dalam struktur pendapatan perusahaan. Sebagai
perusahaan dengan bisnis utama perkapalan, justru membukukan kerugian besar pada
divisi pelayaran.
Kala itu, perusahaan memiliki tiga jenis bisnis utama (core business) yang tetap
diperahankan sampai dengan tahun 2003, yaitu : Pelayaran, Keagenan dan Terminal, serta
Pengantaran dan Gudang.
1. Bisnis pelayaran (shipping): terdiri atas beberapa fokus bisnis yaitu : pengapalan
container regional, container domestic, pelayaran lepas pantai, pengapalan barang
khusus cair dan kering, tanker, breakbulk, perantara barang kargo dan breakbulk,
serta manajemen pelayaran. Semula PT Samudera Indonesia beroperasi sebagai
perusahaan pelayaran yang menyediakan jasa pengangkutan breakbulk dan kargo
umum dari dan ke Eropa serta Jepang. Tahun 1964 (setahun setelah merger)
perusahaan membeli dan memiliki 11 kapal untuk pengangkutan breakbulk
internasional. Namun sejak tahun 1980 an pendapatan dari bisnis Pelayaran
Internasional terus menurun, bahkan merugi karena beberapa sebab, antara lain
karena tingginya tingkat persaingan, terutama dengan perusahaan internasional
main line carrier yang memiliki kapal dengan teknologi kontainer serta didukung
oleh struktur modal kerja.
2. Bisnis Keagenan dan Terminal (Agency and Terminal): terdiri atas keagenan
umum, pengurusan cabang-cabang, dan bongkar muat di pelabuhan. Bisnis
Keagenan dan Terminal justru mendatangkan keuntungan yang cukup baik.
Fokus bisnis ini adalah menjadi agen dari 4 perusahaan main line operators
(MLO).
Pada tahun 1988 MLO tersebut adalah :
a. Tokyo Senpaku Kaisha (TSK) untuk lini Jepang sejak tahun 1953;
b. Happag Lloyd untuk Eropa dan Amerika Utara sejak tahun 1953;
c. United Arab Shipping Company untuk Timur Tengah sejak tahun 1980;
d. American President Lines (APL) untuk Amerika Utara sejak tahun 1975.
Dengan menjadi agen, perusahaan menjadi perwakilan mereka dalam hal
pemesanan ruang muatan dan pengurusan kapal, mengurus pemesanan kargo
ekspor dan impor untuk jalur internasional, serta mengurus penerimaan uang
tambang (freight) dan transfer. Samudera Indonesia memiliki Keagenen di
pelabuhan-pelabuhan utama di Asia, selain di belasan cabang di Indonesia sendiri
untuk menyokong kegiatan operasional, administrasi, dan pemasaran. Sedangkan
jasa Terminal yang diberikan pada 4 MLO ini adalah layanan bongkar muat
(stevedoring), mengambil kargo dari dank e pelabuhan, serta penyimpanan kargo
di pelabuhan selama menunggu waktu bongkar muat (husbandry).
3. Bisnis Pengantaran dan Gudang (Forwarding and Worehousing): merupakan jasa
pengurusan angkutan pintu ke pintu yang meliputi pengurusan dokumen
pengepakan dan pengangkutan barang melalui darat, laut, dan udara. Bisnis
Pengantaran dan Gudang meliputi pengantaran umum dan khusus seperti mesin-
mesin pabrik, perawatan dan pengantaran lanjutan melalui udara. Bisnis ini
cenderung membukukan pendapatan yang naik turun di sekitar titik impas (break
even).

Tahun (1984 – 1985) secara keseluruhan, ketiga bisnis itu secara bersama-sama
menyebabkan perusahaan menghasilkan laba yang kecil.
Kemudian perusahaan mengambil keputusan:
1. Mengurangi secara drastis bisnis kargo breakbulk internasional.
2. Pengurangan sedikit demi sedikit untuk jasa Pengantaran dan Gudang.

Diikuti langkah-langkah divestasi untuk kedua jenis bisnis tersebut (tahun 1985 sampai
awal tahun 1988). Namun divestasi tersebut tidak sampai meninggalkan sama sekali
Pelayaran Internasional dan Jasa Pengantaran dan Gudang, namun hanya diminimalkan.
Untuk kebutuhan pelayaran breakbulk internasional perusahaan mempertahankan 2 kapal.

1.4 Dilema Direksi Samudera Indonesia


Dilema Direksi Samudera Indonesia:
1. Jika perusahaan hanya menggantungkan sebagian besar penghasilan dari usaha
keagenan saja, maka dampaknya akan tidak baik dalam jangka panjang.
2. Kemampuan ekspansi yang terbatas oleh kondisi alami dari bisnis keagenan, sulit
untuk menambah jumlah principal yang diageni tanpa kehilangan perusahaan
yang terlebih dahulu diageni. (misalkan karena alas an rute yang tumpang tindih).

Karena alasan tersebut Direksi kemudian memutuskan untuk melanjutkan proses


divestasi serta focusing tadi dengan langkah ketiga, yakni diversifikasi usaha, demi
menjamin masa depan penghasilan perusahaan agar tidak semata-mata bergantung pada
bisnis keagenan saja. Keputusan tersebut juga disebabkan karena adanya kecenderungan
perusahaan-perusahaan perkapalan asing hanya mau berkonsentrasi pada jasa pelayaran
dari pelabuhan besar ke pelabuhan besar lainnya.
Sementara itu keputusan dari regulasi pemerintah di tahun 1985 dan 1988 secara
signifikan mempengaruhi perkembangan industri pelayaran, jasa pelayaran terbuka bebas
bagi siapa saja dan Surat Keagenen Umum (SKU) tidak diberlakukan lagi. Sehingga
seluruh perusahaan jasa pelayaran di Indonesia di izinkan melayani jasa pelayaran pendek
dari berbagai pelabuhan Indonesia ke Singapura, yang secara teknis diistilahkan sebagai
feeder.
Pada tahun-tahun yang bersamaan terjadi lonjakan ekspor nonmigas di Indonesia yang
memunculkan kebutuhan kapal pengangkut untuk keperluan kargo umum ke Singapura.
Sementara itu PT Samudera Indonesia menghadapi naiknya permintaan untuk pengapalan
barang-barang ke benua lain. Kontainer juga menjadi alat yang semakin lazim bagi para
pengusaha ekspor sehingga barang-barang untuk keperluan ekspor ke seluruh penjuru
dunia itu dikumpulkan dalam kontainer-kontainer besar dan menggunakan kapal-kapal
khusus untuk kontainer.
Pada sisi lain kapal-kapal kontainer semakin hari kian berukuran raksasa guna menaikkan
skala ekonomi, keadaan tersebut menyebabkan kapal-kapal kontainer raksasa antarbenua
tidak bisa singgah di semua pelabuhan lokal, kapal-kapal antarbenua (mothership)
tersebut hanya menggunakan Singapura saja sebagai satu-satunya hub di Asia Tenggara.
Hal ini menciptakan kebutuhan khusus layanan pelayaran pengumpan (spoke) dari kota-
kota pelabuhan di Indonesia ke Singapura.

2. IDENTIFIKASI MASALAH
2.1. Rumusan Masalah
1. Apakah feeder service merupakan bisnis yang menarik dan memiliki masa depan
untuk Samudera Indonesia?
2. Bagaimana kecenderungan kenaikan permintaan “kontainerisasi” untuk
komoditas ekspor, dan seberapa mampu Samudera Indonesia melayani kebutuhan
tersebut?

3. ANALISIS

3.1. Pengambilan Keputusan Samudera Indonesia


Perusahaan Samudera Indonesia didirikan dengan salah satu pendirinya yang sama
sekali tidak mengerti tentang bisnis pelayaran, Soedarpo salah satu pendiri Samudera
Indonesia adalah orang awam dalam bisnis pelayaran ini, selain itu beliau terjun ke dalam
Samudera Indonesia kurang mempertimbangkan konsekuensi dari bisnis ini, tetapi hanya
berdasarkan hutang budi dengan temannya, hal ini tanpa disadari merupakan titik awal
sebuah perusahaan mengalami kebangkrutan, dikarenakan hutang budi membuat pendiri
atau pimpinan perusahaan tidak memikirkan lagi dampak, resiko dan konsekuensi yang
akan didapat dengan membantu temannya dalam sebuah bisnis yang sebenarnya
Soedarpo sendiri belum pernah menjalaninya.
Pembelian saham ISTA oleh Soedarpo, tidak mempertimbangkan apakah usaha tersebut
strategis atau tidak dan sekali lagi terlalu spekulatif dalam sebuah bisnis. Meskipun ISTA
dan Samudera Indonesia mulai berkembang, namun Soedarpo sendiri makin hari makin
pesimis dengan bisnis pelayaran ini, ia berpendapat tak ada cukup perhatian dari
pemerintah terhadap industri perkapalan, bahkan untuk mendapatkan modal Soedarpo
merasa kesulitan, masalah kembali muncul ketika Soedarpo memutuskan membeli kapal
yang mampu untuk mengangkut kontainer-kontainer besar namun ia sendiri tidak
melakukan pertimbangan yang matang, bahkan kapalnya tidak mendapatkan SKU atau
ijin untuk masuk di pelabuhan-pelabuhan Indonesia, selain itu fasilitas bongkar muat
untuk kapal besar seperti itu belum memadai di Indonesia.
Randy Effendi sebagai Direktur Keuangan beserta jajaran Direksi Samudera Indonesia
terlalu spekulatif dan buru - buru dalam memutuskan langkah-langkah yang akan diambil
ketika perusahaan mengalami kerugian besar pada Divisi Pelayaran, dengan mengurangi
secara drastis bisnis kargo breakbulk internasional dan Pengurangan sedikit demi sedikit
untuk jasa pengantaran dan gudang. Dengan fokus pada bisnis keagenan dan terminal
yang menghasilkan laba yang cukup besar.
Menurut pendapat kami, dalam proses pengambilan keputusan Samudera Indonesia harus
dilakukan dengan cermat dan pertimbangan yang matang, terlebih dahulu dilakukan
analisa keputusan yang akan diambil. Sebagaimana teori yang disampaikan oleh Herbert
Simon yang menyatakan bahwa : terdapat dua jenis perbedaan pengambilan keputusan
secara umum:
1. Keputusan yang terprogram (programmed decision) : Keputusan yang terprogram
adalah keputusan yang terstruktur atau yang muncul berulang – ulang.
2. Keputusan yang tidak terprogram (non-progrmmed decision) : Keputusan yang
tidak terprogram apabila keputusan baru pertama kali muncul dan tidak tersusun
tersusun (unstructured). Keputusan semacam itu memerlukan penanganan khusus,
untuk memecahkan masalah, karena belum ada pedoman khusus dalam menangani
masalah tersebut.
Dalam beberapa kasus pengambilan keputusan Samudera Indonesia sebagaimana tersebut
di atas, merupakan keputusan yang tidak terprogram (non-programed decision) sehingga
memerlukan penanganan khusus dalam menangani masalah tersebut, sebagai salah satu
contoh ketika Samudera Indonesia memutuskan untuk mengurangi secara drastis bisnis
kargo breakbulk internasional dan pengurangan sedikit demi sedikit untuk jasa
pengantaran dan gudang, hendaknya terlebih dahulu dilakukan pendefinisian jenis
kerugian, dan ekspektasi kerugian, untuk kemudian dilakukan analisis peluang potensi
bisnis tersebut dengan memperhatikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi, seperti
perkembangan bisnis perusahaan sejenis dan perkembangan regulasi dari pemerintah.

3.2. Feeder Service


Untuk mengetahui apakah feeder service merupakan bisnis yang menarik dan memiliki
masa depan untuk Samudera Indonesia? Menurut pendapat kami, perlu dilakukan upaya
untuk menganalisi study kelayakan feeder service.

Layak atau tidak perluasan usaha tersebut didasarkan pada 4 aspek, yaitu :
1. Aspek pasar : perluasan diterima apabila ada kecenderungan peningkatan dan
stabilnya permintaan pasar.
2. Aspek Keuangan : perluasan diterima apabila NPV bernilai positif.
3. Aspek Manajerial : perluasan diterima apabila pihak manajemen siap, ditinjau
segi perencanaan , pengorganisasian, penyusunan personalia, pengarahan dan
pengendalian.
4. Aspek Teknis : perluasan diterima apabila tehnik yang digunakan untuk standar
mutu yang dikehendaki pasar, teknik yang cocok dengan persyaratan yang
diperlukan untuk mencapai kapasitas yang diinginkan.
Dalam analisis study kelayakan feeder service kami mengesampinghkan aspek keuangan,
karena perluasan usaha dengan feeder service belum memperhatikan adanya aliran
investasi untuk kegiatan tersebut.
1. Aspek pasar : sebagaimana keputusan deregulasi pemerintah yang di terbitkan
pada tahun 1985 dan tahun 1988 yang signifikan mempengaruhi industri
pelayaran di Indonesia, jasa pelayaran terbuka bebas bagi perusahaan jasa
pelayaran untuk melayani jasa pelayaran pendek dari berbagai pelabuhan di
Indonesia ke Singapura, yang secara teknis diistilahkan feeder. Pada tahun-tahun
yang kurang lebih bersamaan terjadi lonjakan ekspor nonmigas di Indonesia yang
memunculkan kebutuhan kapal pengangkut untuk keperluan kargo umum ke
Singapura. Artinya potensi permintaan feeder service akan meningkat seiring
berjalannya waktu, sehingga aspek pasar terpenuhi untuk menjalankan feeder
service.
2. Aspek manajerial : sebagai perusahaan jasa pelayaran yang sudah
berpengalaman, Samudera Indonesia tentu mampu menyiapkan manajemen
ditinjau segi perencanaan , pengorganisasian, penyusunan personalia, pengarahan
dan pengendalian, karena feeder service merupakan jasa pelayaran yang bisa di
penuhi oleh Samudera Indonesia.
3. Aspek teknis : secara kompetensi Samudera Indonesia tidak akan mengalami
kesulitan dalam tehnik yang digunakan untuk standar mutu yang dikehendaki
pasar, teknik yang cocok dengan persyaratan yang diperlukan untuk mencapai
kapasitas yang diinginkan.
Berdasarkan analisis tersebut, feeder service merupakan jasa pelayaran yang memiliki
masa depan yang baik untuk Samudera Indonesia selain potensi pasar yang meningkat,
secara manajerial dan teknis Samudera Indonesia mampu memenuhi jasa pelayaran
feeder service. Meski sudah mengalami kerugian selama dua bulan berturut-turut, kami
memberikan rekomendasi kepada Samudera Indonesia untuk meneruskan feeder service
sebagai diversifikasi usaha, demi menjamin masa depan perusahaan.

3.3. Kecenderungan Permintaan Kontainerisasi


Untuk mengetahui kecenderungan permintaan kontainerisasi, kami melakukan
analisis trend dengan metode least square kemudian dilanjutkan dengan proyeksi atau
perkiraan secara teknis permintaan konterisasi. Data yang kami gunakan untuk
menganalisis trend tersebut adalah tabel ekspor Samudera Indonesia menurut negara
tujuan dan ekspor menurut pelabuhan-pelabuhan penting pada tahun (1988 sampai
dengan 1993). Sebagaimana diketahui, bahwa lonjakan naiknya permintaan untuk
pengapalan barang-barang ke benua lain sehingga kontainer menjadi alat yang sangat
dibutuhkan terjadi pada tahun 1988 setelah keluarnya regulasi pemerintah. Kami
mengasumsikan data yang tersaji dalam tabel dari tahun 1988 sampai dengan 1993
merupakan data proyeksi perkiraan ekspor, karena informasi yang dihasilkan akan
digunakan jajaran Direksi Samudera Indonesia pada tahun 1988 untuk mengetahui
kecenderungan kenaikan “kontainerisasi” untuk komoditas ekspor, dan seberapa mampu
Samudera Indonesia melayani kebutuhan tersebut.

Tabel 3.1. Ekspor Indonesia menurut negara tujuan. 1988 - 1993 (dalam miliaran dolar
AS) (ambilkan figure 3)
(KOTAK TABEL)

Tabel 3.2. Ekspor menurut Pelabuhan-pelabuhan penting. 1988 - 1993 (dalam miliaran
dolar AS) (ambilkan figure 4)
(KOTAK TABEL)

Analisis Trend dengan metode least square :


Tabel 3.3. Least square Ekspor Indonesia menurut negara tujuan. 1988 - 1993 (dalam
miliaran dolar AS) (ambilkan table di sheet kontainerisasi excel)
(KOTAK TABEL)

Dari tabel tersebut diatas diperoleh a = 27.830,8 dan b = 1.813,1 sehingga didapat
persamaan Y = 27.830,8 + 1.813,1 X
Proyeksi espor dari tahun 1994 sampai dengan 1999 adalah sebagai berikut :
Tabel 3.4. Proyeksi Ekspor Indonesia menurut negara tujuan. 1994 - 1999 (dalam
miliaran dolar AS) (ambilkan shhet kontainerisasi)
(KOTAK TABEL)

Tabel 3.3. Least square Ekspor Indonesia Pelabuhan-pelabuhan penting. 1988 - 1993
(dalam miliaran dolar AS) (ambilkan table di sheet kontainerisasi excel)
(KOTAK TABEL)
Dari tabel tersebut diatas diperoleh a = 27.619,5 dan b = 1.805,4 sehingga didapat
persamaan Y = 27.619,5 + 1.805,4 X
Proyeksi espor dari tahun 1994 sampai dengan 1999 adalah sebagai berikut :
Tabel 3.4. Proyeksi Ekspor Indonesia menurut pelabuhan-pelabuhan penting. 1994 - 1999
(dalam miliaran dolar AS) (ambilkan shhet kontainerisasi)
(KOTAK TABEL)

Berdasarkan analisis trend dengan menggunakan metode least square didapati bahwa
kecenderungan ekspor ke luar negeri mengalami kenaikan dari tahun ke tahun, hal
tersebut tentunya berdampak pada penggunaan kontainer dalam rangka pengapalan
komoditas ekspor, penggunaan kontainer dimaksudkan untuk menekan biaya bongkar
muat.
Kemampuan Samudera Indonesia untuk melayani kebutuhan pengapalan komoditas
ekspor terkendala pada keterbatasan sarana prasarana yang dimiliki, namun demikian
kebutuhan kapal kontainer menjadi prioritas utama Samudera Indonesia, mengingat
naiknya permintaan untuk pengapalan barang-barang ke benua lain sehingga pembelian
kapal kontainer harus segera direalisasi.
Cara yang dapat ditempuh oleh Samudera Indonesia guna mengupayakan pengadaan
kontainer yaitu;
1. Hutang, dengan nama besar Samudera Indonesia diharapkan mampu memberikan
reputasi yang baik kepada lembaga keuangan untuk memberikan fresh money
guna pengadaan kapal kontainer.
2. Menerbitkan saham, dengan cara go public diharapkan ada pemasukan dari
penerbitan saham Samudera Indonesia, yang bisa digunakan untuk pengadaan
kapal kontainer.

DAFTAR PUSTAKA
http://imogiri.blogspot.co.id/2013/01/metode-kuadrat-kecil-least-square-
method.html.
http://www.library.usd.ac.id/Data%20PDF/F.%20Ekonomi/Akuntansi/942114151.pdf
https://noviananuryan.wordpress.com/2012/10/12/model-proses-pengambilan-keputusan/ .