Anda di halaman 1dari 7

Portofolio Bahasa Indonesia:

Laporan Hasil Kunjungan Museum

Nama : Cahyani Citra Febriyanti


Kelas : VII – D
Nomor absen : 7

SMP Negeri 139 Jakarta


Jl. Bunga Rampai X RT.012/RW.003 Jakarta Timur
Tujuan Kegiatan : Untuk mencari informasi tentang sejarah Museum Bank
Indonesia, Museum Keramik dan Seni Rupa, Museum
Wayang, dan Museum Sejarah Jakarta serta mengamati benda
benda bersejarah di dalam museum-museum tersebut.

Lokasi Kegiatan : Museum Bank Indonesia, Museum Keramik dan Seni Rupa,
Museum Wayang, dan Museum Sejarah Jakarta

Waktu Pelaksanaan Kegiatan: Selasa, 13 Februari 2018, 09:00-13.00 WIB

Isi Laporan Kegiatan:

1. Museum Bank Indonesia


 Sejarah Berdirinya Museum Bank Indonesia

Museum Bank Indonesia adalah sebuah museum di Jakarta, Indonesia yang


terletak di Jl. Pintu Besar Utara No.3, Jakarta Barat (di depan stasiun Beos Kota).
Gedung Bank Indonesia Kota merupakan gedung kantor pertama yang digunakan
oleh Bank Indonesia. Gedung Bank Indonesia Kota adalah sebuah bangunan monu-
mental yang sarat dengan nilai sejarah serta keindahan arsitektural. Sebagai sebu-ah
bangunan yang monumental, Gedung Bank Indonesia Kota menjadi aset seja-rah
yang harus dilestarikan. Berdasarkan UU Cagar Budaya No.5/1992, Pemerin-tah
Daerah DKI Jakarta telah menetapkan Gedung Bank Indonesia Kota sebagai
bangunan cagar budaya.

Museum Bank Indonesia merupakan museum yang menempati area bekas


gedung Bank Indonesia Kota yang merupakan cagar budaya peninggalan De
Javasche Bank yang beraliran neo-klasikal, dipadu dengan pengaruh lokal, dan
dibangun pertama kali pada tahun 1828. Pada tahun 1625, di tempat ini pernah
dibangun sebuah gereja sederhana untuk umat Protestan. Pada tahun 1628, gereja
ini dibongkar karena digunakan untuk tempat meriam besar ketika puluhan ribu
tentara Sultan Agung menyerang Batavia untuk pertama kali.

Museum ini menyajikan informasi peran Bank Indonesia dalam perjalanan


sejarah bangsa yang dimulai sejak sebelum kedatangan bangsa barat di Nusantara
hingga terbentuknya Bank Indonesia pada tahun 1953 dan kebijakan kebijakan
Bank Indonesia, meliputi pula latar belakang dan dampak kebijakan Bank Indo-
nesia bagi masyarakat sampai dengan tahun 2005. Penyajiannya dikemas sedemi-
kian rupa dengan memanfaatkan teknologi modern dan multi media, seperti display
elektronik, panel statik, televisi plasma, dan diorama sehingga menciptakan kenya-
manan pengunjung dalam menikmati Museum Bank Indonesia. Selain itu terdapat
pula fakta dan koleksi benda bersejarah pada masa sebelum terbentuknya Bank In-
donesia, seperti pada masa kerajaan-kerajaan Nusantara, antara lain berupa ko-leksi
uang numismatik yang ditampilkan juga secara menarik.

Peresmian Museum Bank Indonesia dilakukan melalui dua tahap, yaitu


peresmian tahap I dan mulai dibuka untuk masyarakat (soft opening) pada
tanggal 15 Desember 2006 oleh Gubernur Bank Indonesia saat itu, Burhanuddin
Abdullah, dan peresmian tahap II (grand opening) oleh Presiden RI Susilo
Bambang Yudhoyono, pada tanggal 21 Juli 2009.
 Penjelajah yang pernah berkunjung ke Indonesia

Portugis: Batholomeus Diaz, Alfonso de Albuquerque, Vasco da Gama, Franciscus


Xaverius, dan Cabral.

Spanyol: Christophorus Columbus, Amerigo Vespucci, Juan Sebastian, Ferdinand


Cortez, Ferdinand Magellan, dan Pizaro.

Belanda: Barents, Abel J. Tasman, Willem Jans, dan Cornelis de Houtman.

Inggris: William Dampier, James Cook, Sir Francis Drake, dan Matthew Flinders.

 Koleksi Uang

Uang Jaman Dahulu: Uang kerajaan mataram kuno tahun 850M, Uang kerajaan
Majapahit tahun 1293, Uang kerajaan jenggala tahun 1042-
1130, Uang kerajaan Buton, Uang kesultanan Banten tahun
1550-1596M, Uang Kerajaan Samudra Pasai tahun 1297,
Uang kerajaan Gowa, dan Uang kesultanan Sumenep.

Uang masa penjajahan: Uang belanda, dan Uang Jepang


Uang orde baru: Uang yang digunakan pada saat ini.
2. Museum Keramik dan Seni Rupa

 Sejarah berdirinya Museum Keramik dan Seni Rupa

Museum keramik dan seni rupa terletak di Jalan Pos Kota No 2,


Kotamadya Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta, Indonesia. Museum yang tepatnya
berada di seberang Museum Sejarah Jakarta itu memajang keramik lokal dari
berbagai daerah di Tanah Air, dari era Kerajaan Majapahit abad ke-14, dan dari
berbagai negara di dunia.

Gedung ini diresmikan pada 12 Januari 1870 itu awalnya digunakan oleh
Pemerintah Hindia Belanda untuk Kantor Dewan Kehakiman pada Benteng Batavia
(Ordinaris Raad van Justitie Binnen Het Kasteel Batavia). Saat
pendudukan Jepang dan perjuangan kemerdekaan sekitar tahun 1944, tempat itu
dimanfaatkan oleh tentara KNIL dan selanjutnya untuk asrama militer TNI.
Pada 10 Januari 1972, gedung dengan delapan tiang besar di bagian depan itu
dijadikan bangunan bersejarah serta cagar budaya yang dilindungi. Tahun 1967-
1973, gedung tersebut digunakan untuk Kantor Walikota Jakarta Barat.[1] Dan
tahun 1976 diresmikan oleh Presiden (saat itu) Soeharto sebagai Balai Seni Rupa
Jakarta. Pada 1990 bangunan itu akhirnya digunakan sebagai Museum Seni Rupa
dan Keramik yang dirawat oleh Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta.
 Pelukis terkenal di Museum Keramik dan Seni Rupa

 Raden Saleh = Romantisme

 S. Sudjojono = Realisme

 Afandi = Expresionisme

 Basoeki Abdullah = Naturalisme

 Delsy Syamsumar = Neoklasik

 Koleksi yang terdapat di Museum Keramik dan Seni Rupa

 Koleksi Seni Rupa: Lukisan pengantin revolusi, Lukisan Bupati Cianjur, Lukisan
Seiko, Lukisan Ibu Menyusui, Lukisan Potret diri, Lukisan Rapat igada, Gera-
bah, Patung patung, dll.

 Koleksi Keramik: (a) Keramik lokal berasal dari sentral industry daerah antara
lain Aceh, Medan, Palembang, Jakarta, Lampung Bandung, Purwakarta,
Yogyakarta, Malang, Bali, Lombok, dll. (b) Keramik dari Majapahit abad ke-14.
(c) Keramik asing berasal dari Cina, Jepang, Thailang, dan Eropa.