Anda di halaman 1dari 27

Keselamatan Kerja di Laboratorium

&
Kecelakaan Yang Sering Terjadi di Laboratorium

DISUSUN OLEH:

Kelompok 14

AFAF LAUDITTA (06101381419048)

DAHLIA (06101381419044)

TYSA DWINTA (06101381419051)

Dosen Pengasuh:

Dra. Bety Lesmini, M. Sc

Desi, S.Pd., M.T.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas terselesaikannya
makalah yang berjudul “Keselamatan Kerja di Laboratorium & Kecelakaan Yang Sering
Terjadi di Laboratorium”. Penulisan makalah ini merupakan salah satu tugas yang diberikan
dalam mata kuliah Pengelolaan Laboratorium Kimia Sekolah.

Dalam penulisan makalah ini tentunya kami merasa banyak kekurangan baik pada
teknik penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang kami miliki. Untuk itu,
kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan
makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini,
khususnya kepada Dosen kami yang telah memberikan tugas dan petunjuk kepada
kami,sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini.

Palembang, April 2017

penulis
BAB I

PENDAHULUAN

 Latar Belakang

Laboratorium adalah suatu tempat dimana mahasiswa atau Praktikan, dosen, dan
peneliti melakukan percobaan. Bekerja di laboratorium kimia tak akan lepas dari
berbagai kemungkinan terjadinya bahaya dari berbagai jenis bahan kimia baik yang
bersifat sangat berbahaya maupun yang bersifat berbahaya. Selain itu, peralatan yang ada
di dalam Laboratorium juga dapat mengakibatkan bahaya yang tak jarang berisiko tinggi
bagi Praktikan yang sedang melakukan praktikum jika tidak mengetahui cara dan
prosedur penggunaan alat yang akan digunakan . Oleh karena itu, diperlukan pemahaman
dan kesadaran terhadap keselamatan dan bahaya kerja di laboratorium.Telah banyak
terjadi kecelakaan ataupun menderita luka baik yang bersifat luka permanen, luka ringan,
maupun gangguan kesehatan dalam yang dapat menyebabkan penyakit kronis maupun
akut, serta kerusakan terhadap fasilitas - fasilitas dan peralatan penunjang Praktikum
yang sangat mahal harganya. Semua kejadian ataupun kecelakaan kerja di laboratorium
sebenarnya dapat dihindari dan diantisipasi jika para Praktikan mengetahui dan selalu
mengikuti prosedur kerja yang aman di laboratorium.

Suatu Percobaan yang dilakukan sering kali menggunakan berbagai bahan kimia baik
yang berbahaya maupun yang tidak berbahaya, peralatan gelas yang mudah pecah, dan
instrumen khusus yang kesemuanya itu dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja
bila dilakukan dengan cara yang tidak tepat ataupun terjadi kesalahan pada saat
peracikan bahan yang akan digunakan. Kecelakaan itu dapat juga terjadi karena kelalaian
atau kecerobohan Praktikan, tentu saja hal ini dapat membuat orang tersebut cedera, dan
bahkan dapat mencelakai orang yang berada disekitarnya. Keselamatan kerja
dilaboratorium merupakan dambaan bagi setiap individu yang sadar akan kepentingan
kesehatan, keamanan dan kenyamanan dalam bekerja, dan ini berlaku dalam semua
aspek pekerjaan. Bekerja dengan selamat dan aman berarti menurunkan resiko
kecelakaan kerja yang sangat ingin kita hindari dalam melakukkan praktik di
laboratorium, berikut beberapa jenis kecelakaan kerja di laboratorium dan beberapa cara
mengantisipasi kecelakaan kerja tersebut.
 Rumusan Masalah

Bagaimana Penerapan Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) pada saat
melakukan pratikum di Laboratorium?

 Tujuan

Agar tidak terjadi kecelakaan kerja di Laboratorium dan dapat mengantisipasi berbagai
jenis kecelakaan kerja di Laboratorium dengan menerapkan Kesehatan dan Keselamatan
Kerja (K3).
BAB II
PEMBAHASAN
ALAT KESELAMATAN KERJA DI LABORATORIUM
(PINTU DARURAT & PERALATAN P3K)

Seiring dengan perkembangan teknologi, peralatan kerja di laboratorium sebagai


sarana research and development-pun juga semakin berkembang. Artinya kita harus semakin
hati-hati bekerja di laboratorium, termasuk selalu memperhatikan keselamatan bagi diri kita
dan orang lain yang bekerja di laboratorium. Dengan keselamatan dan kesehatan kerja maka
para pengguna diharapkan dapat melakukan pekerjaan dengan aman dan nyaman.
Laboratorium yang baik harus dilengkapi dengan peralatan keselamatan kerja yang
memadai untuk dapat melindungi dan menjamin keselamatan pekerja. Fasilitas alat untuk
melengkapi ruang kerja di laboratorium antara lain pintu darurat dan peralatan P3K.

1.1. Pintu Darurat

Laboratorium sebaiknya dilengkapi


juga dengan pintu keluar untuk
mengantisipasi keadaan darurat, misalnya
gempa bumi dan kebakaran. Pintu ini
khusus untuk digunakan untuk keadaan
darurat saja dan tidak boleh digunakan
untuk keperluan umum. Oleh karena itu,
pintu tersebut biasanya didesain untuk
tidak bisa dibuka dari luar laboratorium.
Selain itu, pintu tersebut dilengkapi juga
dengan alarm sehingga bila dibuka akan
menghasilkan bunyi khusus. Bunyi ini
terintegrasi dengan bagian keamanan
sehingga bila semakin sering dibuka, pihak
keamanan akan memeriksa keadaan di
sekitar pintu tersebut.
Berikut merupakan syarat pintu darurat :
 Pintu darurat tidak terkunci
 Terdapat tanda yang jelas, lancar
(tidak ada penghalang / barang
yang menghalangi)
 Terhubung langsung dengan tangga
darurat (apabila ada tangga
darurat),
 Ada lampu darurat
 Dilengkapi dengan informasi arah
menuju pintu keluar terdekat

1.2. Peralatan P3K Dalam Laboratorium


Laboratorium yang baik harus dilengkapi dengan fasilitas untuk menunjang kerja
laboran seperti Eye washer, water shower, tempat sampah kimia, dan saluran sanitasi yang
bagus. Untuk keadaan darurat yang mungkin saja bisa terjadi, Laboratorium harus memiliki
peralatan pendukung seperti Alat pemadam api ringan, kotak P3K (kotak pertolongan
pertama pada kecelakaan), pakaian pelindung beserta respirator, peralatan dekontaminasi,
disinfektan serta cairan pembersin, dan peralatan umum lainnya seperti palu, obeng, tali dan
sebagainya. Berikut merupakan contoh peralatan darurat yang diperlukan pada saat
kecelakaan :

1.2.1 Alat pemadam kebakaran (fire extinguisher).

Fire extinguisher digunakan untuk


memadamkan api jika terjadi kebakaran.
Alat pemadam api ringan (fire
extinguisher) atau APAR adalah alat yang
sangat penting. Itu karena APAR berfungsi
mematikan api pada saat pertama kali
muncul. Penggunaan APAR yang efektif
akan mampu mencegah terjadinya bahaya
kebakaran.
Alat Pemadam Api Ringan ( APAR ) harus ditempatkan di tempat-tempat yang memenuhi
syarat sebagai berikut :

1. Ditempat yang mudah di jangkau dan dilihat.


2. Pada jalur keluar arah refleks pelarian.
3. Memperlihatkan suhu sekitarnya.
4. Tidak terkunci.
5. Memperhatikan jenis dan sifat bahanyang dapat terbakar.
6. Intensitas kebakaran yang mungkin terjadi seperti jumlah bahan bakar, ukurannya,
kecepatan menjalarnya.
7. Orang yang akan menggunakannya.
8. Kemungkinan yang mungkin timbulnya reaksi kimia.
9. Efek terhadap keselamatan dan kesehatan orang yang menggunakannya.

Gambar 1.2.1 Fire Extinguisher

PERLU DIKETAHUI

Alat Pemadam Api Ringan ( APAR ) hanya sebatas untuk memadamkan api
kebakaran dengan ukuran relatif kecil untuk bahan cair dan gas dalam waktu
tidak lebih dari 3 menit sedangkan untuk bahan padat tidak lebih dari 10 menit.
1.2.2 Pancuran Keselamatan (shower)

Pancuran Keselamatan (shower) digunakan dalam keadaan darurat, jika seseorang mengalami
kecelakaan saat berada di laboratorium maupun di tempat kerja. Shower digunakan untuk
mandi jika badan terkena tumpahan zat berbahaya. Kecelakaan yang dialami dapat berupa,
terbakarnya pakaian atau anggota tubuh saat berada di lokasi kerja, maupun kecelakaan yang
diakibatkan oleh bahan-bahan kimia berbahaya dll.

Penggunaan
Pada beberapa jenis shower,
menggunakannya hanya dengan menarik
tuas yang tergantung pada shower, namun
ada juga yang penggunaannya dengan
membuka keran.

Biasanya, pada emergency shower ini, dilengkapi dengan pembersih mata (eyewash).
Penggunaan eye wash adalah untuk membersihkan mata dari iritasi, baik karena asap bahan
kimia maupun karenakontak mata dengan bahan kimia secara langsung.
Pada umumnya, penempatan emergency shower ini berada pada pintu keluar, serta tidak
mendapat halangan apapun untuk menuju shower ini, sehingga pertolongan cepat dapat
dilakukan.
Persyaratan Emergency Shower

 Air yang mengalir dari emergency


shower memiliki golongan A, atau
standar air minum
 Debit 30 liter/menit
 Aliran air tidak berhenti dengan
otomatis
 Secara periodik dilakukan
pemeriksaan (2 minggu
sekali/sebulan sekali) untuk
mencegah alat yang rusak saat akan
digunakan
 Memiliki warna yang cerah untuk
memudahkan pengelihatan saat
keadaan darurat
 Memiliki batas ukuran tertentu dari
tinggi atau syarat jarak lain yang
efektif digunakan
Gambar 1.2.2 Shower

1.2.3. Kotak P3K (kid aid)

Harap dipahami bahwa penggunaan standar isi kotak P3K tak bisa dilakukan
sembarangan. Meskipun isinya sudah sangat memadai dan terbilang lengkap, pemiliki kotak
P3K harus memahami panduan atau prinsip dasar pemakaian. Itulah alasan pentingnya
menyediakan buku panduan pemakaian isi kotak P3K supaya bisa dipahami oleh siapa saja
yang membawanya. Satu hal lagi adalah prinsip pertolongan pertama yang dilakukan. Supaya
tidak gegabah akibat gugup selama melakukan tindakan pertolongan, sebaiknya Anda
mempelajari buku panduan di kala senggang. Pahamilah langkah-langkah dasar menolong
korban, dan hapalkan penggunaan secara tepat. Khusus untuk obat-obatan juga harus
memastikan dari resep dokter untuk menghindari risiko komplikasi atau gangguan penyakit
lain.
INGAT!

Penggunaan standar isi kotak P3K bertujuan melakukan


tindakan pertama bagi korban. Jadi tujuannya bukan
kesembuhan total, melainkan pencegahan risiko yang lebih
parah selama menderita kecelakaan atau penyakit.
Tindakan penyelamatan pertama juga harus dilakukan
dengan sigap namun tenang.

Tersedianya kotak P3K di laboratorium akan menjamin perlindungan kesehatan. Tapi


kotak tersebut harus dirawat dengan baik alias selalu terjaga kebersihannya dan steril.
Periksalah setiap daftar isi di dalam kotak supaya stok tidak kurang atau bahkan kosong.
Catatlah setiap kebutuhan baru sebagai antisipasi dari pencegahan penyakit atau
penyelamatan kecelakaan. Untuk beberapa isi seperti obat atau cairan, perhatikan
kadaluwarsanya. Sebab obat yang tersimpan terlalu lama juga bisa sangat berbahaya. Apalagi
kalau pemiliknya tidak teliti dan sembarangan mengonsumsi obat di dalam kotak P3K.
Periksalah dengan cermat dan buanglah stok yang tersimpan lama dan segera ganti dengan
yang baru. Nah, itulah beberapa hal yang wajib diketahui tentang standar isi kotak P3K.

Gambar Kotak P3K


Persyaratan kotak P3k sebagaimana yang telah diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja
dan Transmigrasi Republik Indonesia No. PER.15 / MEN / VIII / 2008 adalah sebagai
berikut:

1. Terbuat dari bahan yang kuat dan mudah dibawa, berwarna dasar putih dengan
lambang P3K berwarna hijau.
2. Isi kotak P3K sebagamana tercantum dalam lampiran II Peraturan Menteri ini (lihat di
bawah) dan tidak boleh diisi bahan atau alat selain yang dibutuhkan untuk
pelaksanaan P3K di tempat kerja.

Penempatan Kotak P3K, yaitu ditempatkan pada :

1. Pada tempat yang mudah dilihat dan dijangkau, diberi tanda arah yang jelas, cukup
cahaya serta mudah diangkat apabila digunakan.
2. Dalam hal tempat kerja dengan unit kerja berjarak 500 meter atau lebih masing-
masing unit kerja harus menyediakan kotak P3K sesuai jumlah pekerja / buruh.
3. Dalam hal tempat kerja pada lantai yang berbeda di gedung bertingkat, maka masing-
masing unit kerja harus menyediakan kotak P3K sesuai jumlah pekerja / buruh.
4. Disesuaikan dengan jumlah pekerja / buruh, jenis dan jumlah kotak P3K.
KECELAKAAN YANG SERING TERJADI DI
LABORATORIUM

2.1. Pengertian Kecelakaan

Kecelakaan merujuk kepada peristiwa yang terjadi secara tidak sengaja. Sebagai
contoh kecelakaan lalu lintas, kecelakaan tertusuk benda tajam dan sebagainya. Secara teknis,
"kecelakaan" tidak termasuk dalam kejadian yang disebabkan oleh kesalahan seseorang,
contohnya jika dia lengah dan gagal mengambil langkah berjaga-jaga. Jika yang akan terjadi
diketahui akibat kelengahannya, peristiwa itu bukanlah "kecelakaan" pada peringkat itu, dan
orang yang lengah tersebut harus bertanggung jawab atas kerugian dan kecelakaan orang lain.
Dalam "kecelakaan" yang sebenarnya, tak satupun pihak yang dapat dipersalahkan, karena
peristiwa tersebut tidak dapat diperkirakan atau kemungkinan terjadinya amat rendah.
Contohnya, seorang ahli farmasi salah memberi label obat dan pasien yang memakannya
keracunan. Kecelakaan kerja adalah kejadian yang tidak terduga dan tidak diharapkan.
Biasanya kecelakaan menyebabkan, kerugian material dan penderitaan dari yang paling
ringan sampai kepada yang paling berat.
2.2. Pengertian Laboratorium

Laboratorium adalah suatu tempat dimana mahasiswa atau Praktikan, dosen, dan
peneliti melakukan percobaan. Bekerja di laboratorium kimia tak akan lepas dari
berbagai kemungkinan terjadinya bahaya dari berbagai jenis bahan kimia baik yang
bersifat sangat berbahaya maupun yang bersifat berbahaya. Selain itu, peralatan yang ada
di dalam Laboratorium juga dapat mengakibatkan bahaya yang tak jarang berisiko tinggi
bagi Praktikan yang sedang melakukan praktikum jika tidak mengetahui cara dan
prosedur penggunaan alat yang akan digunakan . Oleh karena itu, diperlukan pemahaman
dan kesadaran terhadap keselamatan dan bahaya kerja di laboratorium.Telah banyak
terjadi kecelakaan ataupun menderita luka baik yang bersifat luka permanen, luka ringan,
maupun gangguan kesehatan dalam yang dapat menyebabkan penyakit kronis maupun
akut, serta kerusakan terhadap fasilitas - fasilitas dan peralatan penunjang Praktikum
yang sangat mahal harganya. Semua kejadian ataupun kecelakaan kerja di laboratorium
sebenarnya dapat dihindari dan diantisipasi jika para Praktikan mengetahui dan selalu
mengikuti prosedur kerja yang aman di laboratorium.

Suatu Percobaan yang dilakukan sering kali menggunakan berbagai bahan kimia baik
yang berbahaya maupun yang tidak berbahaya, peralatan gelas yang mudah pecah, dan
instrumen khusus yang kesemuanya itu dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja
bila dilakukan dengan cara yang tidak tepat ataupun terjadi kesalahan pada saat
peracikan bahan yang akan digunakan. Kecelakaan itu dapat juga terjadi karena kelalaian
atau kecerobohan Praktikan, tentu saja hal ini dapat membuat orang tersebut cedera, dan
bahkan dapat mencelakai orang yang berada disekitarnya.
2.3. Jenis – Jenis Kecelakaan Yang Dapat Terjadi di Laboratorium

Berbagai jenis kecelakaan dapat terjadi dilaboratorium sekolah. Jenis-jenis kecelakaan


yang dapat terjadi di laboratorium sekolah diantaranya:

 Terluka,disebabkan oleh pecahan kaca dan/atau tertusuk benda-benda tajam yang lain.
 Terbakar,disebabkan tersentuh api atau benda panas lain, dan oleh bahan kimia
tertentu seperti fosfor.
 Terkena Racun (Keracunan),keracunan ini terjadi karena bekerja menggunakan zat
beracun yang secara tidak sengaja dan/atau kecerobohan masuk ke dalam tubuh. Perlu
diketahui bahwa beberapa jenis zat beracun dapat masuk ke dalam tubuh melalui
kulit.
 Terkena Zat Korosif,seperti berbagai jenis asam. Misalnya asam siliat pekat, asam
format, atau berbagai jenis basa seperti natrium hidroxida, kalium hidroksida dan
‘0,880’ larutan amonia dalam air.
 Terkena Radiasi, radiasi sifatnya sangat berbahaya jika terkena ke tubuh manusia,
misalnua sinar dari zat radioaktif (jika disekolah tersedia zat seperti ini), sinar X dan
sinar Ultraviolet.
 Terkena Kejutan Listrik, pada waktu menggunakan listrik bertegangan tinggi.

PERLU DIKETAHUI

Kecelakaan di laboratorium dapat terjadi karena hal-hal berikut:

 Kurang pengetahuan dan pemahaman terhadap bahan-bahan, proses, dan


alat yang digunakan.
 Kurang cukup instruksi atau supervisi oleh pengelola laboratorium.
 Tidak menggunakan alat pelindung atau alat yang tepat.
 Tidak memperhatikan instruksi atau aturan.
 Tidak memperhatikan sikap yang baik waktu bekerja di laboratorium.
2.4. Penanganan Kecelakaan Kerja di Laboratorium

Laboratorium merupakan tempat kerja yang berpotensi timbul kecelakaan. Meski


kecelakaan kecil dan ringan, tetaplah merupakan kecelakaan yang bisa jadi menimbulkan
efek yang lebih besar.
Sumber bahaya yang berpotensi menimbulkan kecelakaan bisa dari bahan kimia,
bahan biologis, radiasi, aliran listrik, dan lainnya. Semua itu bisa membuat efek yang tidak
diinginkan seperti keracunan, iritasi, ledakan hingga kebakaran.
Berikut ini merupakan tips cara penanganan awal sebagai pertolongan pertama (P3K)
pada kecelakaan di Laboratorium kimia :

Luka bakar akibat zat kimia

Terkena larutan asam

1. kulit segera dihapuskan dengan kapas atau lap halus


2. dicuci dengan air mengalir sebanyak-banyaknya
3. Selanjutnya cuci dengan 1% Na2CO3
4. kemudian cuci lagi dengan air
5. Keringkan dan olesi dengan salep levertran.

Terkena logam natrium atau kalium

1. Logam yang nempel segera diambil


2. Kulit dicuci dengan air mengalir kira-kira selama 15-20 menit
3. Netralkan dengan larutan 1% asam asetat
4. Dikeringkan dan olesi dengan salep levertran atau luka ditutup dengan kapas steril
atau kapas yang telah dibasahi asam pikrat.

Terkena bromin

1. Segera dicuci dengan larutan amonia encer


2. Luka tersebut ditutup dengan pasta Na2CO3.

Terkena phospor
1. Kulit yang terkena segera dicuci dengan air sebanyak-banyaknya
2. Kemudian cuci dengan larutan 3% CuSO4.

Luka bakar akibat benda panas

1. Diolesi dengan salep minyak ikan atau levertran


2. Mencelupkan ke dalam air es secepat mungkin atau dikompres sampai rasa nyeri agak
berkurang.

Luka pada mata

Terkena percikan larutan asam

• Jika terkena percikan asam encer,


• Mata dapat dicuci dengan air bersih kira-kira 15 menit terus-menerus
• Dicuci dengan larutan 1% Na2C3

Terkena percikan larutan basa


• Dicuci dengan air bersih kira-kira 15 menit terus-menerus
• Dicuci dengan larutan 1% asam borat dengan gelas pencuci mata

Keracunan

Cara mengatasi keracunan bahan kimia jika bahan racun masuk melalui mulut :

 Berilah minum berupa air atau susu 2 hingga 4 gelas.


 Jika korban keracunan sedang dalam keadaan pingsan, jangan memasukkan sesuatu
(berupa makanan/minuman) melalui mulutnya
 Masukkan jari telunjuk ke dalam mulut korban sambil menggerak-gerakkan jari di
bagian pangkal lidah dengan tujuan agar si korban muntah
 Jangan melakukan poin di atas jika korban keracunan minyak tanah, bensin, alkali
atau asam
 Berilah 1 sendok antidote dan segelas air hangat kepada korban Antidote itu dalam
keadaan serbuk dan terbuat dari 2 bagian arang aktif, 1 bagian magnesium oksida dan
1 bagian asam tannat.
Cara mengatasi keracunan bahan kimia jika bahan racun melalui kulit :

 Cucilah bagian tubuh yang terkena dengan air bersih sedikitnya selama 15 menit.
 Lepaskan pakaian yang terkena bahan kimia
 Jangan mengoleskan minyak, mentega atau pasta natrium bikarbonat, kecuali untuk
keracunan yang lebih tinggi/tertentu lainnya

Cara mengatasi keracunan bahan kimia jika bahan racun masuk melalui pernapasan :

 Menghindarkan korban dari lingkungan zat tersebut, kemudian pindahkan korban ke


tempat yang berudara segar.
 Jika korban tidak bernafas, segera berikan pernafasan buatan dengan cara menekan
bagian dada atau pemberian pernafasan buatan dari mulut ke mulut korban

Tersengat Listrik
Berikut ini yang harus dilakukan untuk menangani korban yang tersengat listrik adalah :
1. Lihat keadaan sekitar dan kondisi korban
Perhatikan terlebih dahulu kondisi sikorban dan sekitarnya. Lihat apakah korban
masih terhubung dengan aliran listrik atau tidak. Jangan terburu-buru langsung
menyentuh atau memegangsi korban. Jika korban masih terhubung dengan listrik,
biasa jadi kita akan ikut kesetrum, walhasil kita jadi ikut menjadi korban.
2. Matikan sumber rlisrik
Cari sumber listriknya dan matikan. Jika tidak bisa, singkirkan sumber listrik dari
tubuh korban menggunakan benda yang tidak mengantarkan listrik, semisal kayu,
plastik, atau karet.
3. Pindahkan korban
Jika lokasi kejadian tidak aman, pindahkan korban ketempat lain, lalu segera bawa
korban kepusat layanan medis terdekat. Bisa juga dengan menghubungi nomor
darurat agar sikorban dijemput.

4. Lakukan perawatan
Sambil menuju atau menunggu bantuan medis datang, baringkan korban dalam
posisi telentang. Posisi kaki diatur agar lebih tinggi dari kepala untuk mencegah
terjadinya shock. Periksa pula pernapasan dan denyut jantungnya. Jika jantung atau
napas korban terhenti, Anda biasa melakukan tindakan cardio pulmonal
resuscitation (CPR), dengan catatan anda menguasai teknik ini.

2.5. Langkah – Langkah Menghindari Kecelakaan

Kecelakaan dalam laboratorium dapat dihindari dengan bekerja secara disiplin,


memperhatikan dan mewaspadai hal-hal yang dapat menimbulkan bahaya atau kecelakaan,
dan mempelajari serta mengikuti aturan-aturan yang dibuat untuk menghindari atau
mengurangi terjadinya kecelakaan. Aturan-aturan ini biasanya dibuat berdasarkan
pengalaman banyak orang.

Aturan-aturan yang Perlu Diperhatikan dan Ditaati


Untuk meningkatkan taraf keselamatan dan keamanan di dalam laboratorium di sekolah pada
umumnya, sejumlah peraturan perlu dibuat, diketahui, dan dipelajari, dan ditaati oleh seluruh
yang terlibat pekerjaan di dalam laboratorium.

1. Semua yang terlibat dalam kegiatan laboratorium harus mengetahui letak keran utama
gas, keran utama air, dan saklar utama listrik.
2. Semua yang terlibat dalam kegiatan laboratorium harus mengetahui letak alat-alat
pemadam kebakaran, seperti tabung pemadan kebakaran, selimut tahan api, pancuran
hujan (shower) dan pasir untuk memadamkan kebakaran.
3. Jika tidak ada petugas laboratorium atau guru sains, semua laboratorium harus berada
dalam keadaan terkunci.
4. Bekerja dengan zat-zat beracun dan karsinogen harus selalu dilakukan di dalam
lemari asap.
5. Gunakan tirai pengaman, pakaian pelindung, dan/atau kaca pelindung muka jika
bekerja dengan zat-zat yang dapat meledak atau menyembur.
6. Gunakan penutup hidung dan mulut jika sedang menggerus zat kimia.
7. Gunakan sarung tangan khusus anti panas dan peralatan yang tepat saat menempatkan
dan mengambil benda-benda dan otoklaf.
8. Jika memindahkan pipa gelas panjang dari satu tempat ketempat lain didalam
laboratorium atau koridor laboratorium, pegang pipa pada posisi berdiri. Jangan
memegangnya pada posisi mendatar atau miring.
9. Jagalah agar bak air dan tempat sampah selalu dalam keadaan bersih, dan dicuci
secara teratur.
10. Botol besar selalu harus selalu dipindahkan dengan menggunakan alat pengangkut,
misalnya meja dorong. Ketika memindahkan dari tempatnya kealat pengangkut.
Janganlah memegang botol hanya pada lehernya. Peganglah pada badannya atau
pangku lah badan botol itu.
11. Zat yang mudah terbakar hanya dibawa secukupnya kedalam ruang laboratorium,
tidak lebih daripada 500ml. Sisanya harus tersimpan ditempat khusus untuk zat-zat
mudah terbakar.
12. Botol berisi larutan amonia di dalam air (aqueans ammonia), yang kerapatannya
selalu harus berada dalam keadaan dingin. Botol berisi larutan amonia baru harus
selalu dibuka di dalam lemari asap dan yang membuka selalu harus menggunakan
pelindung mata.
13. Botol-botol kosong yang tidak dipakai harus disingkirkan di tempat penyimpanan
bahan.
14. Janganlah meletakkan reagen di tempat yang langsung terkena cahaya matahari.
15. Usahakan selalu mengenakan pakaian pelindung jika bekerja di dalam laboratorium,
terutama jika bekas dengan zat-zat korasif. Jika mengenakan jas laboratorium, jangan
mengenakan laboratorium yang terlalu longgar dan berlengan panjang, sebab tanpa
disadari bagian jas yang menjurai dapat mengenai zat kimia berbahaya, menyentuh
nyala pembakaran atau menyentuh alat yang sedang berputar.
16. Janganlah mencoba menghentikan putaran pemusing (centrifuge) dengan menahan
ujung-ujungnya! Pemusing yang panjang lengannya !0cm dan diputar dengan
kecepatan 5000 putaran per menit memiliki kecepatan linier sebesar 180 km j pada
ujung-ujungnya! Ini sangat berbahaya jika mengenai jari atau bagian tubuh yang lain.
17. Janganlah mengisi (mencharge) batere di eekat nyala api. Pengisiannya menghasilkan
hidrogen yang jika bercampur dengan oksigen di udara dapat meledak jika terkena
api.
18. Ketika mengencerkan asam sulfat pekat. Janganlah memasukkan air ke dalam asam
sulfat pekat tersebut. Lakukan sebaliknya, memasukkan asam sulfat ke dalam air
sedikit demi sedikit.
19. Jangan makan dan minum di dalam laboratorium. Jadi jangan membawa makanan ke
dalam laboratorium. Jangan menggunakan wadah di dalam laboratorium untuk minum
atau makan!
20. Jangan berlari di dalam ruangan laboratorium dan koridor laboratorium.
21. Jangan bekerja sendirian di dalam laboratorium. Sekurang-kurangnya harus ada
seorang petugas laboratorium menyertai.
22. Tumpukan bahan kimia apapun, termasuk air harus segera dibersihkan kerana dapat
menimbukan kecelakaan. Misalnya, air yang tumpah di latai dapat menyebabkan
orang terpeleset. Tumbahan cairan atau padatan di atas meja harus segera dibersihkan
untuk mehindari kontak dengan kulit ataupun pakaian.
23. Jangan menggunakan perhiasan saat bekerja di laboratorium, sebab banyak bahan
kimia yang dapat merusak bahan-bahan yang dapat digunakan untuk membuat
perhiasan.
24. Jangan menggunakan sandal atau sepatu terbuka atau sepatu hak tinggi selama
bekerja di laboratorium.
25. Bila kulit terkena bahan kimia, segera cuci dengan air sebanyak-banyaknya sampai
bersih. Jangan digaruk agar zat tersebut tidak menyebar atau masuk ke dalam badan
melalui kulit.
26. Jangan sengaja menghirup bahan kimia. Jika harus melakukannya, lakukan dengan
hati-hati. Jangan dihirup langsung melainkan dengan cara mengkibas-kibaskan tangan
sehingga uap zat hanya sedikit yang masuk kehidung.
27. Jangan mengambil zat cair menggunakan pipet dengan jalan menghisapnya dengan
mulut. Gunakan dengan alat pengisi (filter).

Butir-butir aturan yang ada di atas perlu “disosialisasikan” kepada semua yang
bertugas di dalam laboratorium dan siswa yang akan menggunakan laboratorium. Agar lebih
efektif, aturan-aturan ini atau sebagian dari butir-butir dianggap penting dan perlu dicetak
dengan huruf-huruf berukuran relatif besar (12-15 pt) dan ditempelkan pada tempat yang
strategis dalam laboratorium.
Evaluasi terhadap evaluasi pintu darurat dan peralatan P3K di laboratorium dan
kecelakaan yang sering terjadi di laboratorium.

Setelah melaksanakan survei di laboratorium PSB FKIP Unsri, LDB unsri dan di
laboratorium SMA Srijaya Negara.

A. Evaluasi pintu darurat dan peralatan P3K di laboratorium

1. Laboratorium LDB UNSRI


Informasi yang kami peroleh pada LDB unsri tidak memiliki pintu darurat, hanya
memiliki pintu masuk saja.

Dan untuk peralatan P3K di LDB UNSRI, laboratorium memiliki peralatan P3K.
2. Laboratorium PSB FKIP UNSRI
Pada laboratorium di PSB FKIP UNSRI belum memiliki pintu darurat yang ada di
laboratorium, hanya memiliki dua pintu seperti pada gambar

Dan untuk peralatan P3K, laboratorium di PSB FKIP UNSRI telah memiliki peralatan
P3K, tetapi hanya fire extinguisher.

3. Laboratorium SMA Srijaya Negara


Pada laboratorium SMA Srijaya Negara belum memiliki pintu darurat namun
hanya memiliki pintu masuk dan keluar saja
Dan untuk peralatan P3K, laboratorium SMA Srijaya Negara memiliki peralatan
P3K

B. Evaluasi kecelakaan yang sering terjadi di laboratorium

Laboratorium LDB UNSRI, PSB FKIP UNSRI, dan SMA Srijaya Negara

Pada ketiga laboratorium yang kami observasi, kecelakaan yang terjadi yaitu
pada saat praktikum praktikan sering mengalami percikan dari larutan atau tumpahnya
larutan ke arah bagian tangan praktikan yang digunakan pada saat melakukan
praktikum.
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Dari hasil observasi yang telah kami laksanakan di 3 tempat yang berbeda , maka
kami dapat menyimpulkan bahwa :

• Semuanya telah memadai peralatan P3K standar untuk di Laboratorium Pendidikan,


namun dari semua ketiga tempat yang kami observasi tidak terdapat Pintu Darurat
seperti yang telah dianjurkan
• Bahwa kecelakaan yang sering terjadi di dalam Laboratorium ialah tumpah nya
larutan (umum nya tidak berbahaya) ke area kulit praktikan, dan segera di ambil
tindakan pengobatan.
Daftar Pustaka

Decaprio, Richard. 2013. Tips mengelola Laboratorium Sekolah IPA, Bahasa, Komputer, dan
Kimia. Yogyakarta: Diva Press.

Kartiasa, Nyoman. 2006. Laboratorium Sekolah dan pengelolaannya. Pudak Scientific:


Bandung.

Sunarto. 2008. Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Laboratorium Kimia. (Online).


http://www.sunarto.wordpress.com/KeselamatanDanKesehatanKerjaLaboratoriumKi
mia.pdf (Di akses pada tanggal 14 april 2017)

Tandra, Rian R. 2012. Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di Laboratorium. (Online).
http://riantandra.wordpress.com/Kesehatan-dan-Keselamatan-Kerja-(K3)-di-
laboratorium.html (Di akses pada tanggal 14 april 2017)

Anda mungkin juga menyukai