Anda di halaman 1dari 32

Practice Business Plan Apotek JM FARMA

Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 104

BAB III
KERANGKA KONSEPTUAL DAN OPERASIONAL
PRAKTIK PELAYANAN

3.1 Skema Konsep Pelayanan


3.1.1 Pelayanan Obat dengan Resep Dokter dan Turunan Resep
Pelayanan resep adalah suatu proses pelayanan terhadap permintaan
tertulis dokter, dokter gigi, dokter hewan kepada apoteker untuk menyediakan dan
menyerahkan obat bagi pasien sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Dalam
hal ini, pasien datang ke apotek dengan membawa resep dari dokter yang
kemudian akan ditebus untuk memperoleh obat.
Prosedur pelayanan resep di Apotek JM FARMA adalah sebagai berikut:
A. Penerimaan Resep
Alur penerimaan resep adalah sebagai berikut :
 Melakukan skrining resep meliputi :
1. Persyaratan Administratif :
- Nama, SIP yang masih berlaku, dan alamat dokter
- Tanggal penulisan resep
- Tanda tangan/paraf dokter penulis resep
- Nama, alamat, umur, jenis kelamin dan berat badan pasien
- Cara pemakaian yang jelas
- Informasi lainnya
2. Kesesuaian farmasetik:
- bentuk sediaan
- dosis
- potensi
- stabilitas
- inkompatibilitas
- cara pemakaian
- lama pemberian
3. Pertimbangan klinis:
- adanya alergi
- efek samping
- interaksi
- kesesuaian (dosis, durasi, jumlah obat dan lain-lain), pertimbangan dan
alternatif bila perlu.
 Melakukan Patient Assessment dan History Taking untuk pengisian
PMR, meliputi:

40
Practice Business Plan Apotek JM FARMA
Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 104

- Identitas pasien (nama, tanggal lahir, alamat, dan telepon)


- Riwayat alergi
- Riwayat penyakit
- Riwayat pengobatan
 Memeriksa ketersediaan obat, meliputi:
- Mengecek item obat yang tertera pada resep
- Mengecek jumlah obat yang dibutuhkan
Bila obat tidak tersedia di apotek, maka dapat ditawarkan beberapa
alternatif obat lain kepada pasien dengan:
- Meminta persetujuan dokter/pasien terhadap penggantian dengan obat
generik bila merek obat yang diminta memiliki satu kandungan bahan aktif
dan kekuatan obat yang sama, dan penggantian dengan obat dari pabrik lain
yang komposisi serta kekuatannya sama.
- Pengambilan obat hanya yang tersedia di apotek dan membuat salinan resep.
 Menetapkan harga
Melakukan perhitungan harga pada tiap item obat berdasarkan jumlah
yang diresepkan dan jasa serta biaya lainnya. Kemudian dilakukan
penyampaian total harga kepada pasien. Melakukan penyiapan/peracikan obat
sesuai persetujuan pasien dalam kemampuannya menebus resep. Bila pasien
tidak mampu membayar keseluruhan resep, dilakukan alternatif:
- Diganti dengan obat generik atau obat dari pabrik lain yang komposisi serta
kekuatannya sama dan harga lebih murah dengan persetujuan pasien dan
bila perlu berkonsultasi dengan dokter penulis resep.
- Dilayani sebagian dari resep tersebut sesuai dengan kemampuan pasien dan
pasien disarankan untuk mengambil sisanya, terutama untuk resep yang
mengandung antibiotika.
B. Penyiapan obat.
 Pengambilan dan Peracikan obat
Pada obat racikan, maka pengambilan dan peracikan obat dilakukan oleh
AA/apoteker dan dibantu oleh karyawan. Sedangkan jika obat bukan racikan
maka obat perlu diambil saja sesuai resep dan harus dihitung dengan benar.
Setiap pengambilan obat dicatat di kartu stok meliputi tanggal, nomor resep,
jumlah obat yang di ambil, sisa obat, dan paraf.
Peracikan obat dapat dilakukan oleh asisten apoteker di bawah pengawasan
apoteker dan memperhatikan dosis, jenis dan jumlah obat pada resep.
Peracikan obat yang disertai dengan perubahan bentuk (misalnya puyer/kapsul)

41
Practice Business Plan Apotek JM FARMA
Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 104

dikerjakan oleh asisten apoteker di bawah pengawasan apoteker. Untuk obat


racikan (puyer, kapsul) pada belakang etiketnya tertulis komposisi serta jumlah
kapsul atau puyer yang harus di buat.
 Penyiapan etiket dan kemasan.
Penulisan tiket (etiket putih untuk obat per-oral dan etiket biru untuk obat luar)
harus jelas dan dapat dibaca serta sesuai aturan penggunaan obat yang tertulis
di resep. Obat hendaknya dikemas dengan rapi dalam kemasan yang sesuai
sehingga terjaga kualitasnya. Dan tidak lupa menyertakan etiket pada tiap obat.
 Pembuatan salinan resep dan kuitansi
Pembuatan salinan resep dilakukan untuk resep yang membutuhkan
pengulangan, resep yang diambil sebagian, atau apabila pasien meminta
salinan resep sebagai bukti klaim. Salinan harus ditandatangani oleh apoteker.
Sedangkan pembuatan kuitansi hanya dilakukan bila pasien menginginkannya
dan rincian obat ditulis dibalik kuitansi.
C. Penyerahan Obat
Sebelum obat diserahkan pada pasien harus dilakukan pemeriksaan akhir
terhadap kesesuaian antara obat dengan resep. Penyerahan obat dilakukan oleh
apoteker dengan tindakan berikut:
1. Pasien dipanggil sesuai nama dan alamat/nomor resepnya, hal ini untuk
menghindari terjadinya kesalahan penyerahan obat jika kebetulan ada
pasien dengan nama yang sama.
2. Penyerahan obat disertai dengan pemberian informasi yang benar, jelas,
mudah dimengerti, akurat, tidak bias, etis, bijaksana, dan terkini. Informasi
obat pada pasien sekurang-kurangnya meliputi: nama dan jumlah obat,
cara pemakaian obat, cara penyimpanan obat, efek samping obat, jangka
waktu pengobatan, aktivitas serta makanan dan minuman yang harus
dihindari selama terapi. Untuk obat-obat dengan cara penggunaan khusus
(misalnya supossitoria, inhaler, obat tetes), perlu dijelaskan secara khusus
cara penggunaannya dengan untuk mendukung keberhasilan terapi.
3. Rekam Pengobatan Pasien (Patient Medication Record atau PMR)
Dilakukan pencatatan meliputi nama pasien, jenis kelamin, tanggal lahir,
alamat, telepon, riwayat alergi, dan riwayat penyakit. Lembar catatan
pengobatan pasien memuat tanggal dan nomor resep, keterangan dokter

42
Practice Business Plan Apotek JM FARMA
Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 104

penulis resep, nama obat, aturan pakai, dan membubuhkan paraf. Pada
lembar pengobatan pasien juga memuat catatan pertanyaan yang dapat
ditanyakan oleh pasien pada kunjungan ke apotek berikutnya.
D. Konseling.
Apoteker harus memberikan konseling, mengenai sediaan farmasi,
pengobatan dan perbekalan kesehatan lainnya, sehingga dapat memperbaiki
kualitas hidup pasien atau yang bersangkutan terhindar dari bahaya
penyalahgunaan atau penggunaan obat yang salah. Untuk penderita penyakit
tertentu seperti kardiovaskular, diabetes, TBC, asma dan penyakit kronis lainnya,
apoteker harus memberikan konseling secara berkelanjutan.
E. Monitoring Penggunaan Obat.
Setelah penyerahan obat kepada pasien, apoteker harus melaksanakan
Resep
pemantauan penggunaan obat, terutama untuk pasien tertentu seperti
kardiovaskular, diabetes, TBC, asma, dan penyakit kronis lainnya melalui telepon
Pemeriksaan Resep tidak
Tid
atau dengan berkunjung
keabsahan ke rumah
ak
pasien. Apabila
dilayani memerlukan informasi lebih
resep
sah
lanjut atau apabila ada keluhan sehubungan dengan pemakaian obat.
F. Pengumpulan resep untuk didokumentasikan
Resep dikumpulkan
Sah kemudian dipisahkan termasuk resep non narkotika-
psikotropika atau resep narkotika-psikotropika.
Konsultasi
Untuk resep narkotika dan
ke dokter
psikotropika diberi tanda stabilo agar memudahkan
Tetap tidak dalam
Kajian resep, jelas
mendokumentasikan. Resep ditulis setiap hari pada buku resep yang terdiri
meliputi :
Nama obat Bertanya pada
Dosis Tida
dari kolom nomor resep, namak pasien, nama
Usia
pasien :dokter, nama obat (hanya untuk
Keluhan
Komposisi jelas Informasi yang
obat narkotika dan psikotropika)
Aturan Pakai sudah Pasien disarankan
disampaikan
kembali ke dokter
. dokter

jelas

Diganti produk lain


Pemeriksaan Tida dengan komposisi yang
ketersediaan obat k sama (dengan persetujuan
ada pasien dan penulis resep)

Ada
Diambil hanya sediaan yang tersedia
(disertakan turunan resep)

Penetapan Harga Diamb


il
sebagi
ann Pengemasan,
Penyerahan
43
pemeriksaan
Penyiapan dan
Diam Dilayani akhir, etiket,
obat dan pemberian
bil copy resep,
peracikan KIE
semu dan kuitansi
a
Practice Business Plan Apotek JM FARMA
Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 104

Gambar 3.1 Alur pelayanan obat dengan resep.

3.1.2 Pelayanan Obat Non Resep (Swamedikasi)


Perbekalan farmasi yang dapat dilayani tanpa resep dokter adalah obat
bebas dan obat bebas terbatas (OTC), Obat Wajib Apotek (OWA), kosmetika, alat
kesehatan, dan obat tradisional. Pelayanan non resep di apotek JM FARMA
disediakan di bagian etalase depan apotek kecuali OWA disimpan di lemari
penyimpanan obat (di ruang peracikan).
Obat yang dapat diserahkan tanpa resep dokter harus memenuhi kriteria
tertentu sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 919/Menkes/PER/X/
1993 tentang kriteria obat yang dapat diserahkan tanpa resep dokter, pada pasal 2
disebutkan bahwa obat keras yang dapat diserahkan tanpa resep dokter harus
memenuhi kriteria :

44
Practice Business Plan Apotek JM FARMA
Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 104

1. Tidak dikontraindikasikan untuk penggunaan pada wanita hamil, anak di


bawah usia 2 tahun dan orang tua di atas 65 tahun.
2. Pengobatan sendiri dengan obat dimaksud tidak memberikan resiko pada
kelanjutan penyakit.
3. Penggunaannya tidak memerlukan cara dan atau alat khusus yang harus
dilakukan oleh tenaga kesehatan.
4. Penggunaannya diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di
Indonesia.
5. Obat dimaksud memiliki rasio khasiat keamanan yang dapat
dipertanggungjawabkan untuk pengobatan sendiri.
Pada umumnya pembelian obat tanpa resep dokter dilakukan dalam rangka
upaya pengobatan sendiri / swamedikasi (self medication) untuk penyakit ringan
tertentu seperti flu, batuk, dan diare. Pasien / klien yang datang ke apotek untuk
melakukan swamedikasi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu pasien yang datang
dengan keluhan (belum mengetahui obat apa yang ingin dibeli) dan pasien yang
sudah mengetahui obat apa yang ingin dibeli.
Pada pelayanan tanpa resep ini apoteker melakukan patient assessment
dengan menggunakan metode WWHAM (Blenkinsopp & Paxton, 2005), sebagai
berikut:

1. W (Who) : who is the patient?


Pertanyaan ini diajukan untuk mengetahui siapa yang sakit atau siapa yang
akan menggunakan obat tersebut. Hal ini bertujuan untuk memudahkan
pemberian informasi yang akan diberikan, karena terdapat perbedaan antara
pemberian informasi langsung ke pasien dengan pemberian informasi
melalui orang ketiga.
2. W (What) : what are the symptoms?
Pertanyaan ini diajukan untuk mempermudah pemilihan obat yang lebih
tepat untuk gejala (symptom) yang diderita oleh pasien. Oleh karena itu
diperlukan kerja sama dari pasien untuk menceritakan keluhan apa saja yang
sedang dirasakan oleh pasien.

45
Practice Business Plan Apotek JM FARMA
Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 104

3. H (How) : how long have the symptoms been present?


Pertanyaan ini diajukan untuk mengetahui berapa lama pasien merasakan
keluhan tersebut.
4. A (Action) : action taken?
Pertanyaan ini diajukan untuk mengetahui apakah pasien sudah minum obat
untuk mengatasi keluhan yang dirasakan sehingga bisa dijadikan referensi
untuk pemilihan obat berikutnya.
5. M (Medication) : medication being taken?
Pertanyaan ini diajukan untuk mengetahui apakah pasien saat ini sedang
menggunakan obat lain karena dapat mempengaruhi pemilihan obat untuk
pasien.
Pelayanan tanpa resep yang dilakukan di Apotek JM FARMA adalah sebagai
berikut :
 Pasien/klien datang dengan keluhan gejala sakit
dilakukan :
a. Patient assessment oleh apoteker untuk merespon keluhan pasien/klien.
Apabila tidak menunjukkan gejala penyakit yang parah maka apoteker
dapat membantu pasien menentukan obat yang sesuai, namun apabila
gejala penyakit yang dirasakan pasien merupakan gejala penyakit yang
cukup serius maka pasien disarankan untuk periksa ke dokter.
b. Apoteker membantu untuk memilihkan obat yang sesuai dengan
kebutuhan pasien/klien. Dalam menentukan obat, apoteker juga harus
mempertimbangkan keadaan pasien misalnya pasien yang hamil atau
mempunyai penyakit tertentu sehingga obat yang digunakan aman bagi
pasien.
c. Penetapan harga
d. Bila pasien/klien setuju dilakukan pengemasan sesuai dengan
permintaan pasien/klien (jenis dan jumlahnya)
e. Pemberian informasi tentang penggunaan obat tersebut dan informasi
lain yang mendukung pengobatan pasien/klien berkenaan dengan
keluhannya.

 Pasien/klien datang menanyakan obat tertentu

46
Practice Business Plan Apotek JM FARMA
Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 104

dilakukan:
a. Diperiksa apakah termasuk obat keras, OWA, obat bebas dan bebas
terbatas atau perbekalan kesehatan yang lain.
b. Dilakukan patient assessment untuk mengetahui apakah obat yang ingin
dibeli pasien sudah sesuai dengan gejala yang dialami pasien.
c. Dilihat ketersediaan obat di apotek
 Bila obat ada maka ditanyakan jumlahnya.
 Bila obat tidak ada maka ditawarkan obat dengan bahan aktif sama
dari pabrik lain
d. Penetapan harga
e. Bila pasien/klien setuju, maka dilakukan pengemasan sesuai dengan
permintaan pasien/klien (jenis dan jumlahnya)
f. Pemberian informasi tentang penggunaan obat tersebut dan informasi
mengenai nama obat, bentuk sediaan dan jumlah obat; aturan pakai; cara
penggunaan obat; cara penyimpanan; efek samping yang mungkin
terjadi dan cara mengatasinya; serta pantangan yang harus dilakukan
Pasien datang dengan Pasien datang meminta
(jikakeluhan
ada) untuk mendukung keberhasilan terapi. produk

Apabila kondisi pasien tidak dapat ditangani dengan tindakan


swamedikasi atau pasien memerlukan pemeriksaan
Menanyakan keluhan sakitnya
Obat lebih lanjut, maka
Suplemen, Alat
Kesehatan
apoteker dapat merujuk pasien ke dokter. Beberapa gejala pasien yang
Obat yang pernah digunakan

harus langsung dirujuk ke dokter antara lain pembengkakan lutut, terdapat


Apakah sudah pernah ke dokter
Periksa ketersediaan obat
darah pada feses atau saat muntah (mungkin berkaitan dengan pendarahan
Tidak bisa Bisa ditangani
internal),
ditangani dengan anoreksia
dengan(mungkin berkaitan dengan malignansi), sulit menelan
swamedikasi swamedikasi Tersedia Tidak tersedia
(obstruksi), sulit bernafas, gangguan menstruasi, nyeri pada perut, dada,
kepala, dan telinga, persistent atau recurrent pyrexia, pengelupasan kulit
Menyarankan Ditawarkan obat
Ditanyakan
tiba-tiba,
periksa ke malignansi, gejala infeksijumlah
saluran kemih, infeksi
lain dengan bahansaluran kelamin,
dokter aktif yang sama
perubahan warna sputum menjadipembelian
kuning atau hijau, warna kulit menjadi
kuning (jaundice).
Pemilihan Obat (OWA,
obat bebas/ bebas terbatas/
tradisional)

Penetapan Harga

Pengemasan 47

Penyerahan + KIE
Practice Business Plan Apotek JM FARMA
Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 104

Gambar 3.2 Alur Pelayanan Obat Tanpa Resep


3.2 Public Care Initiative
3.2.1 Patient Medication Record
Pelayanan di Apotek JM FARMA dilengkapi dengan pencatatan rekam
pengobatan pasien pada buku rekam pengobatan (Patient Medication Record)
yang berisi tentang identitas pasien, riwayat alergi dan pengobatannya. Buku ini
diberikan pada pasien untuk dibawa bila pasien tersebut membeli obat di apotek
baik dengan resep maupun swamedikasi atau ke dokter untuk berobat sehingga
apoteker atau dokter mengetahui riwayat pengobatan pasien. Prioritas pasien yang
diberi PMR antara lain :
1. Pasien dengan penyakit kronis atau membutuhkan pengobatan dalam waktu
yang lama (misal : diabetes, hipertensi).

48
Practice Business Plan Apotek JM FARMA
Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 104

2. Pasien yang memperoleh atau mengambil 5 macam obat atau lebih dalam 1
resep (polifarmasi).
3. Pasien yang membutuhkan informasi mengenai cara penggunaan obat
khusus.
4. Pasien yang mendapatkan obat dengan indeks terapi sempit.
5. Pasien yang memiliki riwayat alergi terhadap obat-obat tertentu.
6. Pasien anak-anak dan lansia.
3.2.2 Pelayanan KIE
. Apoteker wajib memberikan informasi kepada pasien, sesuai dengan
kebutuhan dan kondisi pasien, serta dituntut untuk memahami tingkat pendidikan
masyarakat yang sangat bervariasi, sehingga informasi ysng disampaikan dapat
diterima dengan jelas kepada pasien.
KIE dapat diberikan kepada dokter, tenaga kesehatan yang lain dan
masyarakat. Pelayanan KIE kepada pasien dapat diberikan secara individual baik
di tempat penyerahan obat maupun dalam ruangan khusus atau dengan poster,
leaflet dan brosur.
Informasi yang diberikan kepada pasien saat melakukan KIE meliputi hal-
hal sebagai berikut :

1. Nama obat, deskripsi fisik dan kekuatan obat


2. Aksi obat yang diharapkan dan interaksi yang mungkin terjadi
3. Bagaimana dan kapan menggunakan
4. Penggunaan khusus dan teknik monitoring yang dapat dilakukan sendiri
5. Efek samping yang biasa terjadi dan cara mengatasinya
6. Apabila obat dihentikan, bagaimana cara menghentikannya dan hubungannya
dengan obat yang baru
7. Cara penyimpanan obat
8. Lama penggunaan dan bagaimana cara mengatasi bila lupa meminum obat.
Informasi yang diberikan kepada pasien pada saat melakukan KIE tersebut
dicatat di dalam suatu lembar informasi (information sheet) untuk lebih
memastikan bahwa terapi obat yang diberikan dapat berlangsung sesuai dengan
yang diinginkan baik oleh pemberi resep (dokter) maupun apoteker, sehingga
tujuan terapi yaitu kesembuhan pasien dapat tercapai dengan lebih optimal.

49
Practice Business Plan Apotek JM FARMA
Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 104

Pemberian KIE diberikan kepada pasien dengan kriteria :


1. Pasien dengan kondisi serius atau dengan
keadaan tidak stabil.
2. Pasien yang memperoleh atau mengambil 5
macam obat atau lebih dalam 1 resep (pengobatan yang kompleks).
3. Pasien yang memperoleh obat dengan indeks
terapi yang sempit (digoksin, fenitoin, teofilin). Hal ini disebabkan dengan
indeks terapinya yang sempit maka kelebihan dosis akan menyebabkan
toksisitas sedangkan kekurangan dosis akan mengakibatkan obat tidak dapat
memberikan efek terapi yang diinginkan.
4. Pasien yang pengobatannya mengalami
perubahan.
5. Pasien anak-anak atau orang tua.
Pasien yang mengalami kesulitan bahasa atau tidak dapat membaca (Seto et
al., 2008).
3.2.3 Pelaksanaan Promosi Kesehatan
Apotek JM FARMA akan membuat beberapa brosur dan poster bertema
promosi kesehatan yang berkaitan dengan pekerjaan kefarmasian untuk dibagikan
ke pasien dan ditempel di tembok apotek, serta digunakan sebagai instrumen
penyuluhan kepada masyarakat di sekitar apotek yang pada akhirnya memiliki
tujuan untuk meningkatkan loyalitas pasien terhadap apotek.
Contoh aplikasi promosi kesehatan di Apotek JM FARMA adalah sebagai
berikut:
 Penempelan brosur di dinding apotek
 Pemberian brosur kepada pasien yang mendapat resep atau membeli sediaan
yang berkaitan dengan brosur tersebut
 Pembagian brosur dan penyuluhan pada acara-acara yang mengumpulkan
masyarakat sekitar pada suatu tempat, misalnya pada acara arisan ibu-ibu
PKK.
3.3 Care Plan
Care plan merupakan salah satu bentuk kepedulian dan tanggung jawab
seorang apoteker dalam membantu pasien menggunakan obat dengan benar

50
Practice Business Plan Apotek JM FARMA
Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 104

sehingga dicapai terapi yang optimal. Care Plan berisikan hasil pemikiran
apoteker yang dituangkan dalam bentuk naskah yang terdokumentasi di apotek
sebagai panduan tindakan apoteker dalam membantu pasien agar mampu
menggunakan obat secara aman dan efektif sehingga pasien mencapai terapi yang
optimal.
3.3.1 Input

Dr. APH, Sp.PK


SIP xxx.xxx/xxxx/xxxx/IP.DS/xxx.x.x/2017

Jl. KALIANYAR No. 51 SURABAYA


TLP. 081-xxx-xxx-xxx

Surabaya, 10 Desember 2019

R/ Diovan 80 mg No. XXX


s. 1-0-0

R/ Bisoprolol No. XXX


s. 0-0-1

R/ Furosemide No. XXX


s. 1-0-0
Sesuai
R/
Peraturan Menteri Kesehatan
Diazepam 5 mg No. V
Nomor 35 tahun 2014 tentang standar
s. 0-0-1/2
pelayanan kefarmasian di apotek, dalam pelayanan resep apoteker melakukan
skrinning Pro
resep yang meliputi
: Ny. :J
Alamat : Jl. xxx Surabaya
1. Persyaratan administratif
Telp : 031-xxxxxxx
- Nama, SIP yang masih berlaku, alamat dokter dan nomor telepon
- Tanggal penulisan resep
- Tanda tangan / paraf dokter penulis resep
- Nama, alamat, nomor telepon, jenis kelamin dan berat badan pasien
2. Kesesuaian farmasetik :
 bentuk sediaan,
 kekuatan,
 stabilitas
 kompatibilitas.
3. Pertimbangan klinis :
 Ketepatan indikasi dan dosis obat

51
Practice Business Plan Apotek JM FARMA
Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 104

 Aturan, cara dan lama penggunaan obat


 Duplikasi/polifarmasi
 Reaksi obat yang tidak diinginkan (alergi, efek samping, manifestasi
klinis lain)
 Kontra indikasi dan interaksi
Jika ada keraguan terhadap resep hendaknya dikonsultasikan kepada dokter
penulis resep dengan memberikan pertimbangan dan alternatif seperlunya bila
perlu menggunakan persetujuan setelah pemberitahuan.
Dari hasil skrining tersebut disimpulkan bahwa resep tersebut legal karena
nama pasien, nama dokter, SIP, alamat, tempat dan tanggal penulisan resep serta
tanda tangan dokter jelas sehingga resep tersebut dapat dilayani.
3.3.2 Tujuan Terapi
Dari jenis obat yang diresepkan dapat diperkirakan hasil diagnosis dokter
yaitu pasien menderita hipertensi. Berdasarkan efek terapi dari obat yang
diresepkan yaitu Diovan ( Valsartan 80 mg), bisoprolol, furosemide dan diazepam
5 mg diperkirakan goal of terapy resep ini adalah untuk mengatasi hipertensi dan
meningkatkan kualitas hidup pasien.
Data penderita
Data penderita diperoleh dari hasil skrining resep sebagai berikut :
a. Nama Pasien : Ny. J
b. Jenis Kelamin : Perempuan
c. Alamat Pasien : Jl. xxx Surabaya
d. No Telp : 031-xxxxxxx
3.3.3 Life Style Factor
Hipertensi adalah salah satu penyakit dengan kondisi medis yang
beragam. Kebanyakan pasien hipertensi etiologi patofisiologinya tidak diketahui
atau yang dikenal sebagai hipertensi primer (Depkes RI, 2006). Penyebabnya
multifaktorial meliputi faktor genetik dan lingkungan. Faktor genetik
mempengaruhi kepekaan terhadap natrium, kepekaan terhadap stres, reaktivitas
pembuluh darah terhadap vasokonstriktor, resistensi insulin dan lain-lain.
Sedangkan yang termasuk faktor lingkungan antara lain diet, kebiasaan merokok,
stres emosi, obesitas dan lain-lain (Gunawan, 2007).

52
Practice Business Plan Apotek JM FARMA
Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 104

Dengan mengubah gaya hidup atau kebiaasan yaitu dengan menghindari


faktor – faktor yang dapat memicu alergi, dapat membantu mencegah terjadinya
hipertensi. Caranya yaitu dengan mengubah gaya hidup dengan gaya hidup sehat.
3.3.4 Disease Factor
Hipertensi merupakan penyakit tekanan darah tinggi di atas batas normal
(120/80 mmHg) (Scanlon, 2007). Klasifikasi tekanan darah menurut JNC (Joint
National Commitee) VIII dapat dilihat pada Tabel 2.1.
Tabel 3.1 Klasifikasi Tekanan Darah (hipertensi) menurut JNC VIII

Klasifikasi tekanan darah yang telah dirilis oleh JNC VIII pada tahun
2013 masih merujuk klasifikasi tekanan darah JNC VII. Tetapi, manajemen terapi
hipertensi dalam JNC VIII lebih berdasarkan Evidence Based Medicine (EBM),
komplikasi penyakit, ras dan riwayat penderita. Target tekanan darah pada
managemen terapi hipertensi dalam JNC VIII bergantung pada komplikasi
penyakit penderita (James, dkk., 2014). Hipertensi dapat di klasifikasikan menjadi
beberapa jenis di antaranya :

53
Practice Business Plan Apotek JM FARMA
Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 104

Gambar 3.3 Bagan Klasifikasi Hipertensi

Lebih dari 90 % kasus hipertensi merupakan hipertensi primer yaitu hipertensi


yang penyebabnya tidak diketahui, biasanya dikaitkan dengan kombinasi faktor
gaya hidup seperti kurang berolah raga dan pola makan (Kemenkes RI, 2014).
Banyak faktor patofisiologi yang telah dihubungkan dalam penyebab
hipertensi seperti meningkatnya aktifitas sistem saraf simpatik, mungkin
berhubungan dengan meningkatnya respons terhadap stress psikososial, produksi
berlebihan hormon yang menahan natrium dan vasokonstriktor, asupan natrium
(garam) berlebihan, tidak cukupnya asupan kalium dan kalsium, meningkatnya
sekresi renin sehingga mengakibatkan meningkatnya produksi angiotensin II dan
aldosteron dan defisiensi vasodilator seperti prostasiklin, nitrik oxida (NO), dan
peptide natriuretik (Depkes RI, 2006).

54
Practice Business Plan Apotek JM FARMA
Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 104

Gambar 3.4 Patofisiologi Hipertensi (Dipiro,dkk, 2008)


Peningkatan konsentrasi insulin mungkin dapat menyebabkan hipertensi
karena peningkatan retensi natrium ginjal dan meningkatkan aktivitas sistem saraf
simpatik. Selain itu, insulin memiliki pertumbuhan hormon-seperti aktivitas yang
dapat menginduksi hipertrofi vaskuler sel otot polos. Insulin juga dapat
meningkatkan tekanan darah dengan meningkatkan intraseluler kalsium, yang
menyebabkan peningkatan resistensi pembuluh darah. Mekanisme yang tepat
dimana resistensi insulin dan hiperinsulinemia terjadi pada hipertensi tidak
diketahui. Namun, asosiasi ini cukup kuat karena banyak dari kriteria yang
digunakan untuk menentukan populasi ini (peningkatan tekanan darah, obesitas,
dislipidemia, dan glukosa darah) yang sering muncul pada pasien hipertensi
(Dipiro,dkk, 2008).
Tujuan umum pengobatan hipertensi adalah menurunkan mortalitas dan
morbiditas yang berhubungan dengan kerusakan organ target seperti gagal
jantung, penyakit jantung koroner, stroke atau penyakit ginjal kronik. Target nilai
tekanan darah yang di rekomendasikan adalah <140/90 mmHg untuk pasien
dengan tanpa komplikasi, <130/80 mmHg untuk pasien dengan penyakit

55
Practice Business Plan Apotek JM FARMA
Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 104

komplikasi (NIH, 2003). Menurut JNC VIII (2013), target penurunan tekanan
darah berbeda-beda pada pasien hipertensi berdasarkan komplikasi penyakit dan
ras penderita hipertensi seperti terlihat pada Gambar 3.5

Gambar 3.5 Alogaritma dan Target Tekanan Darah Pengobatan Hipertensi


(James,dkk.,2014)
Pasien hipertensi memerlukan dua atau lebih obat antihipertensi untuk
mencapai tekanan darah target terapi. Penambahan regimen obat dari kelas yang
berbeda dimulai apabila penggunaan obat tunggal dengan dosis lazim gagal
mencapai target tekanan darah yang diinginkan. Apabila tekanan darah melebihi
20/10 mmHg diatas target, dapat dipertimbangkan untuk memulai terapi dengan
dua obat. Yang harus diperhatikan adalah risiko untuk hipotensi ortostatik,
terutama pada pasien-pasien dengan diabetes, disfungsi autonomik, dan lansia
(Depkes RI,2006).
Dikenal 5 kelompok obat lini pertama dalam pengobatan awal hipertensi,
yaitu: Diuretik, penghambat reseptor beta adrenergik (ß-blocker), penghambat
angiotensin-converting enzyme (ACE-inhibitor), Penghambat reseptor angiotensin
(ARB) dan antagonis kalsium (CaCB) (Gunawan, 2007).

56
Practice Business Plan Apotek JM FARMA
Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 104

 Diuretik
Diuretik dapat digunakan sebagai terapi obat lini pertama untuk hipertensi,
kecuali jika terdapat alasan yang memaksa pemilihan agen lain. Diuretik adalah
obat antihipertensi yang bekerja dengan meningkatkan pengeluaran urin (diuresis)
melalui kerja langsung terhadap ginjal. Diuretik dibagi menjadi lima golongan
obat yaitu:
a. Diuretik tiazid, yaitu obat lini pertama untuk mengobati hipertensi tanpa
komplikasi. Semua obat diuretik oral efektif dalam mengobati hipertensi, tetapi
tiazid ternyata paling luas digunakan. Diuretik ini bekerja dengan cara
menghambat reabsorpsi ion Na+ dan Cl- di tubulus distal. Efeknya lebih lemah
dan lambat tetapi lebih lama dibanding diuretik kuat. Obat-obat dari golongan ini
adalah klorotiazid, klortalidon, hidroklortiazid, indapamin dan metolazon.

b. Diuretik lengkungan (loop diuretic) bekerja segera, bahkan pada pasien dengan
fungsi ginjal yang buruk atau tidak berespon terhadap tiazid atau diuretik lainnya.
Diuretik lengkungan dapat menyebabkan penurunan resistensi vaskuler ginjal dan
peningkatan aliran darah. Golongan obat ini bekerja dengan cara menghambat
reabsorpsi ion Na+, K+ dan Cl- di ansa henle dan tubulus distal, mempengaruhi
sistem co-transport ion Cl- yang menyebabkan meningkatnya ekskresi air. Obat-
obat dari golongan ini adalah bumetanid, asam etakrinik, firosemid dan torsemid.

c. Diuretik hemat kalium, diuretik ini dibagi dua berdasarkan mekanisme kerjanya
yaitu diuretik penghambat aldosteron dan penghambat saluran ion natrium.
Aldosteron menstimulasi reabsorpsi natrium dan eksresi kalium. Proses ini
dihambat oleh diuretik penghambat aldosteron, yaitu: spironolakton dan
eplerenon. Ketika direabsorpsi, natrium akan masuk melalui kanal natrium tetapi
hal ini dihambat oleh penghambat saluran natrium, yaitu: triamteren dan amilorid.
Obat-obat dari golongan ini adalah amilorid, eplerenon, spironolakton dan
triamteren.

d. Diuretik osmotik, yaitu obat yang bekerja pada tiga tempat di nefron ginjal,
yakni tubuli proksimal, ansa henle dan duktus koligentes. Golongan obat ini
bekerja dengan menghambat reabsorpsi natrium dan air melalui daya osmotiknya.
Obat-obat dari golongan ini adalah manitol dan urea

57
Practice Business Plan Apotek JM FARMA
Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 104

e. Diuretik penghambat enzim karbonik anhidrase, golongan obat ini bekerja pada
tubuli proksimal dengan menghambat reabsopsi bikarbonat melalui penghambatan
enzim karbonik anhidrase. Enzim ini berfungsi meningkatkan ion hidrogen pada
tubulus proksimal yang akan bertukar dengan ion natrium di lumen.
Penghambatan enzim ini akan meningkatkan ekskresi natrium, kalium, bikarbonat
dan air. Obat dari golongan ini adalah asetazolamid (Harvey, 2009).
 β –Blocker (Penghambat β)
Penghambat β, saat ini, direkomendasikan sebagai terapi lini pertama untuk
hipertensi ketika penyakit penyerta timbul misalnya, pada gagal jantung.
Mekanisme penghambat β adalah menghambat reseptor β1 pada otot jantung
sehingga secara langsung akan menurunkan denyut jantung. Penghambat β
dibedakan menjadi penghambat β selektif dan non selektif. Penghambat beta
selektif hanya memblok reseptor β1 dan tidak memblok reseptor β2. Penghambat
beta non selektif memblok kedua reseptor baik β1 maupun β2. Adrenoreseptor β1
dan β2 terdistribusi di seluruh tubuh, tetapi terkonsentrasi pada organ-organ dan
jaringan tertentu. Reseptor β1 lebih banyak pada jantung dan ginjal, dan reseptor
β2 lebih banyak ditemukan pada paru-paru, liver, pankreas, dan otot halus arteri.
Perangsangan reseptor β1 menaikkan denyut jantung, kontraktilitas, dan pelepasan
renin. Perangsangan reseptor β2 menghasilkan bronkodilatasi dan vasodilatasi.
Atenolol dan metoprolol adalah penyekat β yang kardioselektif; jadi lebih aman
daripada penyekat β yang nonselektif seperti propanolol pada pasien asma, PPOK,
penyakit arteri perifer, dan diabetes (Hervey, 2009).
Penggunaan β blocker non selektif dapat menyebabkan bronkospasme pada
penderita asma karena pada saluran pernafasan terdapat reseptor β2 yang
berfungsi sebagai vasodilator. Pada penderita diabetes, β blocker akan
meningkatkan kadar glukosa darah melalui penghambatan reseptor β2 di hati.
Penghambatan reseptor ini akan menstimulasi proses glukoneogenesis (Fauci,
dkk., 2008).
 Penghambat ACE
Penghambat enzim pengonversi-angiotensin (angiotensin-converting
enzyme/ACE), seperti enalapril atau lisinopril, direkomendasikan ketika agen lini
pertama yang dipilih (diuretik atau penghambat- β) dikontraindikasikan atau tidak

58
Practice Business Plan Apotek JM FARMA
Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 104

efektif. Mekanisme penghambat ACE adalah menurunkan produksi angiotensin II,


meningkatkan kadar bradikinin, dan menurunkan aktivitas sistem saraf simpatis
melalui penurunan curah jantung dan dilatasi pembuluh arteri akibat berkurangnya
jumlah angiotensin II di dalam darah. Golongan obat ini efektif digunakan sebagai
terapi tunggal maupun terapi kombinasi dengan golongan diuretik, penghambat
reseptor alfa dan antagonis kalsium. Efek samping dari golongan obat ini adalah
gangguan fungsi ginjal, batuk kering, dan dapat menyebabkan hiperkalemia pada
pasien dengan gangguan ginjal kronis (Harvey, 2009).
 Antagonis reseptor-angiotensin II (ARB)
Penghambat reseptor-angiotensin II (angiotensin II-receptor blockers/ARB)
merupakan alternatif penghambat ACE. Obat-obat ini menghambat ikatan antara
angiotensin II dengan reseptornya (Harvey, 2009). Golongan obat ini menghambat
secara langsung reseptor angiotensin II tipe 1 (AT1) yang terdapat di jaringan.
AT1 memediasi efek angiotensin II yaitu vasokontriksi, pelepasan aldosteron,
aktivasi simpatetik, pelepasan hormon antidiuretik dan kontriksi arteriol eferen
glomerulus. Penghambat reseptor angiotensin tidak menghambat reseptor
angiotensin II tipe 2 (AT2). Jadi, efek yang menguntungkan dari stimulasi AT2
seperti vasodilatasi, perbaikan jaringan dan penghambatan pertumbuhan sel tetap
utuh selama penggunaan obat ini. ARB mempunyai efek samping paling rendah
dibandingkan dengan ACEi karena tidak mempengaruhi bradikinin, ARB tidak
menyebabkan batuk kering seperti ACEi. Sama halnya dengan ACEi, ARB dapat
menyebabkan insufisiensi ginjal, hiperkalemi, dan hipotensi ortostatik (Depkes
RI, 2006).
 Penghambat kanal kalsium
Antagonis kalsium bekerja menurunkan tahanan vaskular dan menurunkan
kalsium intraseluler. Ion kalsium di jantung mempengaruhi kontraktilitas otot
jantung. Kelebihan ion ini akan menyebabkan kontraksi otot jantung meningkat
sehingga akan meningkatkan tekanan darah. Antagonis kalsium bekerja
menghambat ion kalsium di ekstrasel sehingga kontraktilitas jantung kembali
normal. Obat-obat yang termasuk dalam golongan ini adalah verapamil, diltiazem,
nifedipin dan amlodipin. Penggunaan tunggal maupun kombinasi, obat ini efektif
menurunkan tekanan darah. Untuk terapi hipertensi golongan obat ini sering

59
Practice Business Plan Apotek JM FARMA
Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 104

dikombinasikan dengan ACEi, penyekat beta, dan penyekat alfa (Fauci, dkk.,
2008).

3.3.5 Drug Factor


 Diovan® (Valsartan 80 mg)
Golongan : Angiotensin II reseptor blockers (ARB)
Mekanisme aksi : Menghambat langsung kerja angiotensin II
Indikasi : Untuk pengobatan hipertensi
Dosis : Sehari 1 x 80 mg, bagi pasien yang tekanan darahnya tidak
terkontrol dengan baik maka dosis harian dapat ditingkatkan
sampai dengan 160 mg.
Efek samping : Pada pasien dengan hipertensi, kejadian secara keseluruhan
mengenai efek samping adalah sebanding dengan plasebo dan
secara konsisten dengan farmakologi dari valsartan. Tidak
ditemukan adanya hubungan antara kejadian dari efek samping
dengan dosis atau durasi perawatan dan juga tidak
berhubungan dengan ras, jenis kelamin dan usia.
Kontraindikasi : Hipersensitivitas terhadap valsartan, kehamilan, gangguan
fungsi hati berat, sirosis, obstruksi empedu.
Interaksi : Tidak ditemukan adanya interaksi obat secara bermakna
secara klinis.
Perhatian : Pasien dengan kekurangan sodium. Pada beberapa pasien
dengan kekurangan sodium, seperti pada pengkonsumsi obat
diuretik dengan dosis tinggi, gejala hipotensi dapat terjadi
walau jarang terjadi.
Informasi untuk pasien : Hindari penghentian secara mendadak.
(Tatro, 2003 ; DepKes RI, 2005).

 Bisoprolol

60
Practice Business Plan Apotek JM FARMA
Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 104

Golongan : β blocker
Mekanisme aksi : Menghambat reseptor β terutama yang mempengaruhi sistem
kardiovaskular (menurunkan denyut jangtung, kontraktilitas
jantung dan tekanan darah)
Indikasi : Hipertensi
Dosis : PO 5-20 mg/hari
Efek samping : hipotensi, insomnia, pusing, depresi, mual, muntah,
konstipasi, mulut kering dan halusinasi.
Kontraindikasi : hipersensitif beta blocker, sinus bradikardi, gagal jantung
terbuka.
Interaksi : Clonidin : dapat meningkatkan atau membalikkan efek
antihipertensi dan situasi yang mengancam jiwa dapat terjadi.
NSAID : beberapa obat dapat mengganggu efek antihipertensi
Prazosin : dapat meningkatkan efek hipotensi ortostatik.
Verapamil : dapat mempotensiasi efek kedua obat.
Perhatian : Bronkospasme, pengobatan bersamaan dengan inhalasi
anestesi, diabetes militus dengan fluktuasi besar nilai glukosa
darah, puasa yang ketat, terapi desensitisasi berkelanjutan
Informasi untuk pasien : Hindari penghentian secara mendadak. Obat ini dapat
menyebabkan gangguan GI sehingga diberikan bersama
makanan/sesudah makan.
(Tatro, 2003 ; DepKes RI, 2005)
 Furosemide
Golongan : Diuretik
Mekanisme aksi : menghambat reabsorpsi natrium dan klorida dalam tubulus
proksimal, tubulus distal dan lengkung Henle
Indikasi : pengobatan edema terkait dengan CHF, sirosis hati dan
penyakit ginjal, hipertensi
Dosis : PO 40 mg, dosis maximum 6 mg/kg
Efek samping : Hipotensi, vertigo, sakit kepala, pusing, anoreksia, mual,
muntah, diare, mulut kering, hiperurisemia dan anemia

61
Practice Business Plan Apotek JM FARMA
Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 104

Kontraindikasi : Penderita anuria dan hipersensitif terhadap furosemida dan


sulfonamide, keadaan pre-comatose yang dihubungkan dengan
sirosis hati
Interaksi : Barbiturat : dapat memperberat hipotensi
Aminoglikosida : akan memperberat ototoksisitas
Kortikosteroid : dapat memperberat hipokalemia
Cefalotin dan cefaloridin : dapat memperberat nefrotoksik
Antikonvulsan : mengurangi respon natriuretik
Diazoxide : menimbulkan hiperglikemik.
Perhatian : Dehidrasi, diuresis berlebihan dapat menyebabkan dehidrasi
dan penurunan volume darah dengan kolaps sirkulasi dan
kemungkinan trombosis vaskular dan emboli terutama pada
usia lanjut.
Informasi untuk pasien : Hindari penghentian secara mendadak. Obat ini dapat
menyebabkan gangguan GI sehingga diberikan bersama
makanan/sesudah makan.
(Tatro, 2003 ; DepKes RI, 2005)
 Diazepam 5 mg
Golongan : Benzodiazepin
Mekanisme aksi : Potensiasi inhibisi neuron dengan asam gamma-aminobutirat
(GABA) sebagai mediator pada sistem saraf pusat.
Indikasi : Untuk pengobatan jangka pendek gejala ansietas. Sebagai
terapi tambahan uintuk meringankan spasme otot (kelainan
motorik serebral, paraplegia). Digunakan juga untuk
meringankan gejala-gejala pada penghentian alkohol akut dan
premedikasi anastesi.
Dosis : PO 2-10 mg, 2-4 kali sehari
Efek samping : Mengantuk, ataksia, kelelahan, edema, mual, konstipasi, sakit
kepala, amnesia, hipotensi dan gangguan visual
Kontraindikasi : Hipersensitivitas terhadap benzodiasepin, wanita hail dan
menyusui, depresi pernapasan, gangguan pulmoner akut,
keadaan fobia dan glaukoma sudut sempit.

62
Practice Business Plan Apotek JM FARMA
Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 104

Interaksi : Penggunaan bersama obat-obat depresan SSP (Sistem Saraf


Pusat) atau alkohol dapat meningkatkan efek depresi.
Simetidin dan omeprazole mengurangi bersihan benzodiasepin.
Rifampisin dapat meningkatkan bersihan benzodiasepin.
Perhatian : Dilarang mengemudikan kendaraan bermotor atau
menjalankan mesin selama minum obat ini. Penggunaan
jangka panjang dapat menyebabkan ketergantungan.
Informasi untuk pasien : Minum bersama makan/sesudah makan untuk
menghindari gangguan GI, dapat menimbulkan kantuk.
(Tatro, 2003)

3.3.6 Identifikasi Masalah Obat


Drug related problem yang mungkin dapat terjadi pada terapi obat yang
diberikan kepada Ny. J adalah :
1) Penggunaan obat
Pada penggunaan obat-obat untuk hipertensi terdapat kemungkinan pasien
berhenti minum obat ketika tekanan darah pasien sudah stabil, sehingga perlu di
informasikan kepada pasien apabila obat sudah habis disarankan untuk
melakukan kontrol ke dokter agar mendapatkan resep obat untuk bulan
selanjutnya.
2) Efek samping obat
Sebagian besar bahan aktif memiliki efek samping gangguan pada GI,
sehingga perlu diinformasikan bahwa diminum sesudah makan. Untuk obat
furosemide perlu di informasikan kepada pasien bahwa obat tersebut memiliki
efek samping sering buang air kecil. Dan juga perlu di informasikan kepada
pasien bahwa obat diazepam dapat menyebabkan kantuk sehingga perlu di
informasikan selama minum obat ini tidak boleh mengemudikan kendaraan
bermotor atau menjalankan mesin.
3) Penyimpanan obat
Penyimpanan obat yang baik dan benar harus disampaikan pada pasien yaitu
di tempat yang kering terlindung dari cahaya dan jauhkan dari anak – anak.
Penyimpanan yang salah akan menyebabkan perubahan obat secara kimia atau

63
Practice Business Plan Apotek JM FARMA
Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 104

fisik sehingga menimbulkan efek yang berbahaya bagi pasien, hilangnya khasiat
obat, dan berbahaya bagi lingkungan di sekitarnya, misalnya anak-anak.
4) Tujuan terapi tidak tercapai
Kemungkinan bahwa tujuan terapi tidak tercapai dapat terjadi dikarenakan
pasien yang tidak teratur menggunakan obat dan tidak tepat cara penggunaannya
dan juga penyimpanan obatnya. Meskipun pasien patuh dalam menggunakan obat,
masih ada kemungkinan penyakit tidak membaik yang mungkin dapat disebabkan
karena gaya hidup pasien yang masih kurang sehat seperti kurang menjaga pola
hidup sehat dan lingkungan.
5) Interaksi obat dan makanan
Tidak ditemukan interaksi obat dari tiap-tiap obat yang diresepkan tersebut
dan apabila ada obat lain yang digunakan oleh pasien dan berinteraksi dengan
obat yang dikonsumsi oleh pasien maka apoteker sebaiknya berkonsultasi
dengan dokter tentang pendosisan obat ataupun kemungkinan solusi yang lain
seperti penggantian obat. Sedangkan terhadap makanan tidak ditemukan
terjadinya interaksi.

3.3.7 Develop Care Plan


Tabel 3.2 Jenis Drug Therapy Problem dan Cara Mengatasinya
Jenis Drug Monitoring yang Rencana Keputusan Profesi
No Therapy Problem Dilakukan untuk Mencegah Drug
(DTP) (Mx) Therapy Problem (Ax)

64
Practice Business Plan Apotek JM FARMA
Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 104

1. Penggunaan obat  Dilakukan monitoring  Diberikan lembar informasi


dan kepatuhan terhadap pasien melalui pemakaian obat untuk dibaca
pasien telepon atau bertanya pasien dan keluarganya.
langsung kepada pasien Menginformasikan melalui
ketika pasien datang ke KIE pada saat menyerahkan
apotek untuk menebus obat untuk penggunaan obat
obat tentang apakah Valesco® 80 mg dan
obat telah digunakan furosemide sehari 1 kali 1
dengan benar oleh tablet sesudah makan pada
pasien. pagi hari dan harus
dihabiskan meskipun dirasa
gejala sudah sembuh, untuk
obat bisoprolol diminum
sehari 1 kali 1 tablet sesudah
makan pada malam hari. Dan
untuk obat Valisanbe® 5 mg
diminum sehari 1 kali ½
tablet sesudah makan pada
malam hari sebelum tidur.
2. Efek samping  Menanyakan kepada  Menghubungi dokter untuk
Obat pasien secara langsung meninformasikan kondisi
ketika pasien datang ke pasien serta
apotek untuk menebus mengkonsultasikan tentang
obat tentang apakah penggantian obat
terdapat gejala yang
tidak cocok dengan
obat yang diresepkan.

65
Practice Business Plan Apotek JM FARMA
Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 104

3. Penyimpanan  Menanyakan kepada  Apabila sudah sesuai maka


obat pasien secara langsung penggunaan obat
ketika pasien datang ke dilanjutkan.
apotek untuk menebus  Jika tidak sesuai maka
obat tentang bagaimana pasien diberikan KIE dan
pasien melakukan information sheet tambahan
penyimpanan obat
tersebut.

4.. Tujuan terapi  Menanyakan kepada  Apabila belum, maka


tidak tercapai pasien secara langsung dilakukan assesment kembali
ketika pasien datang ke kepada pasien dan mencoba
apotek untuk menebus mencari penyebabnya.
obat tentang keadaan  Menanyakan kepada pasien
pasien setelah minum untuk segera konsultasi ke
obat dan bertanya dokter.
kepada pasien tentang
tekanan darahnya.

5. Interaksi obat  Menanyakan kepada  Bila ada obat lain yang


pasien secara langsung sedang digunakan oleh pasien
ketika pasien datang ke dan berinteraksi dengan obat
apotek untuk menebus yang dikonsumsi maka
obat tentang ada atau apoteker sebaiknya
tidaknya obat lain yang berkonsultasi dengan dokter
sedang dugunakan oleh baik tentang pendosisan obat
pasien digunakan oleh ataupun rekomendasi solusi
pasien. yang lain seperti penggantian
obat.
 Memberitahukan kepada
pasien bila pasien menerima
obat lain maka sebaiknya

66
Practice Business Plan Apotek JM FARMA
Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 104

berkonsultasi dulu dengan


apoteker maupun dokter
untuk mencegah terjadinya
interaksi obat
3.3.8 Information Sheet
Etiket Obat
Pada etiket harus tercantum dengan jelas aturan dan cara pemakaian obat.
Bagian Depan Etiket
Valesco® 80 (Valsartan 80 mg) Bisoprolol 5 mg

Apotek JM FARMA Apotek JM FARMA


Jl. Soekarno-Hatta d505 Malang. Jl. Soekarno-Hatta d505 Malang.
APA : Retno Parwati, S.Farm., Apt APA : Retno Parwati, S.Farm., Apt
SIPA : 19910509/SIPA-xx.xx/2019/xxxx SIPA : 19910509/SIPA-xx.xx/2019/xxxx
Tgl : 10 /12 /2019 No. 001/1 Tgl : 10 /12 /2019 No. 001/1
Ny. J Ny. J

Sehari..1..X..1.. Sehari..1..X..1..
Tablet/kapsul/bungkus Tablet/kapsul/bungkus
Sebelum/Sesudah makan Sebelum/Sesudah makan
Pagi/siang/sore/malam Pagi/siang/sore/malam

Jangan berhenti minum obat ini secara Jangan berhenti minum obat ini secara
tiba-tiba kecuali atas petunjuk dokter tiba-tiba kecuali atas petunjuk dokter

Furosemide Valisanbe® 5 mg
Apotek JM FARMA Apotek JM FARMA
Jl. Soekarno-Hatta d505 Malang. Jl. Soekarno-Hatta d505 Malang.
APA : Retno Parwati, S.Farm., Apt APA : Retno Parwati, S.Farm., Apt
SIPA : 19910509/SIPA-xx.xx/2019/xxxx SIPA : 19910509/SIPA-xx.xx/2019/xxxx
Tgl : 10 /12 /2019 No. 001/1 Tgl : 10 /12 /2019 No. 001/1
Ny. J Ny. J

Sehari..1..X..1.. Sehari..1..X..1/2.
Tablet/kapsul/bungkus Tablet/kapsul/bungkus
Sebelum/Sesudah makan Sebelum/Sesudah makan
Pagi/siang/sore/malam Pagi/siang/sore/malam

Jangan berhenti minum obat ini secara Obat ini menyebabkan mengantuk,
KIEtiba-tiba kecuali atas petunjuk dokter jangan mengendarai mobil atau
menjalankan mesin
Poin-poin penting yang disampaikan oleh apoteker kepada pasien pada saat
penyerahan obat antara lain :

67
Practice Business Plan Apotek JM FARMA
Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 104

1. Nama dan jumlah obat yang diberikan


Pasien menerima empat macam obat yaitu tablet Diovan® untuk antihipertensi,
dikarenakan Diovan® di apotek stok kosong maka diberikan Valesco® yang
mempunyai kandungan yang sama dengan Diovan yaitu Valsartan 80 mg
sejumlah 30 tablet, tablet Bisoprolol 5 mg untuk antihipertensi sejumlah 30
tablet, tablet Furosemide sebagai deuretik sejumlah 10 mg dan tablet
Valisanbe® 5 mg (Diazepam 5 mg) sejumlah 5 tablet untuk anticemas,
diazepam juga mempunyai efek hipotensi sehingga dapat diberikan untuk
pasien hipertensi.
2. Penggunaan obat
- Valesco® 80 mg (valsartan 80 mg) diminum sehari 1 kali 1 tablet sesudah
makan pada pagi hari.
- Bisoprolol 5 mg diminum sehari 1 kali 1 tablet sesudah makan pada
malam hari.
- Furosemide diminum sehari 1 kali 1 tablet sesudah makan pada pagi hari
- Valisanbe® 5 mg ( Diazepam 5 mg) di minum sehari 1 kali ½ tablet
sesudah makan pada malam hari sebelum tidur
- Bila obatnya telah habis, pasien diharapkan segera kembali ke dokter
karena pada pasien hipertensi pengobatan dilakukan untuk jangka lama
3. Efek samping obat
Memberitahukan pada pasien bahwa kemungkinan setelah minum obat ada
gangguan GI sehingga diberitahukan agar diminum sesudah makan,
diberitahukan juga kepada pasien bahwa kemungkinan juga akan mengalami
sering buang air kecil setelah minum obat. Dan juga terdapat obat yang dapat
menyebabkan mengantuk.
4. Life style
Menjelaskan pentingnya terapi yang bersifat non farmakologi bagi pasien
misalnya menjalani pola hidup sehat, kurangi makanan asin-asin, hindari rokok
dan alkohol, kurangi kopi, sering berolahraga dan kendalikan emosi.
5. Penyimpanan obat
Obat disimpan pada tempat yang sejuk dan terlindung dari cahaya, serta
dijauhkan dari jangkauan anak-anak.
3.3.9 Kesimpulan, Saran dan Kesan
 Kesimpulan

68
Practice Business Plan Apotek JM FARMA
Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 104

1. Perlu dilakukan assesment lengkap terhadap kondisi pasien berkaitan dengan


terapi obat untuk menentukan ketepatan terapi dalam resep.
2. Apoteker sebagai tenaga kesehatan bertanggung jawab terhadap ketepatan
pengobatan pasien dengan dan tanpa resep.
3. Perlu dijelaskan tentang cara penggunaan obat yang benar agar tujuan terapi
dapat tercapai.
 Saran
Sebagai seorang apoteker yang merupakan pusat informasi obat bagi
pasien maupun tenaga kesehatan lain, apoteker seharusnya selalu hadir di apotek
untuk melayani pasien dengan menerapkan care plan antara lain memberikan
konseling tentang penggunaan obat, kemungkinan terjadinya efek samping,
interaksi obat-obat maupun interaksi antar obat-penyakit penyerta, dan pola hidup
yang harus dijaga.
 Kesan
Care plan sebagai salah satu bentuk kepedulian dan tanggung jawab
apoteker untuk membantu pasien menggunakan obat secara benar sehingga
dicapai terapi yang optimal. Care plan merupakan hasil pemikiran apoteker yang
dituangkan dalam bentuk naskah yang terdokumentasi di apotek sebagai panduan
tindakan apoteker dalam membantu pasien agar mampu menggunakan obat secara
aman dan efektif untuk mendapat terapi yang optimal. Selain itu careplan ini
dapat meningkatkan kepercayaan pasien terhadap apoteker sekaligus memotivasi
apoteker menunjukan perannya di bidang kesehatan.
3.4 Public Health
Public health dalam kefarmasian didefinisikan sebagai aplikasi
pengetahuan, skill, dan sumber daya kefarmasian terhadap ilmu pengetahuan dan
usaha untuk mencegah terjadinya penyakit, memperpanjang usia kehidupan,
melindungi, meningkatkan serta mengembangkan kesehatan masyarakat melalui
peran serta masyarakat yang telah terorganisir (Wiedenmayer et al., 2006).
Sehingga public health dapat digunakan sebagai suatu sarana yang dapat
digunakan oleh apoteker untuk mengabdikan diri pada masyarakat guna
meningkatkan kesehatan. Tujuan dari public health ialah memberikan informasi
terkait kefarmasian kepada masyarakat dalam upaya meningkatkan derajat

69
Practice Business Plan Apotek JM FARMA
Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 104

kesehatan masyaraka. Public health dapat disampaikan dalam bentuk brosur,


leaflet, poster, ataupun dalam bentuk layanan home care dan penyuluhan.
Pemilihan topik yang diangkat menjadi topik Public Health didasarkan
pada hal-hal umum yang sering dilakukan masyarakat seperti hipertensi yang
sering terjadi di kalangan masyarakat. Kurangnya kewaspadaan diri terkait
penyakit hipertensi dan bahaya hipertensi perlu diperhatikan. Salah satu cara
untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penyebab dan cara
pengatasan hipertensi adalah dengan memberikan suatu informasi kepada
masyarakat. Suatu sarana pemberian informasi yang dipilih adalah dengan
membagikan leaflet yang berisikan pengertian, penyebab, gejala, pengobatan, dan
pencegahannya, serta menginformasikan kepada masyarakat gaya hidup sehat
terkait pencegahan hipertensi. Manfaat yang diharapkan adalah pengetahuan
masyarakat mengenai hipertensi bertambah dan masyarakat menjadi lebih
waspada dalam melakukan upaya-upaya pengobatan hipertensi.
3.4.1 Leaflet hipertensi

70
Practice Business Plan Apotek JM FARMA
Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 104

3.4.2 Simpulan
Pubilc health dapat dilakukan dengan cara pembagian leaflet disertai
informasi lisan kepada masyarakat mengenai permasalahan kesehatan yang sering
terjadi, sehingga dapat memberikan edukasi kepada masyarakat.
3.5 Research and Development
Research and development dapat dilakukan dengan merancang suatu
penelitian terhadap kondisi dan potensi di lingkungan masyarakat sekitar tempat
berdirinya apotek yang dapat bermanfaat bagi masyarakat maupun dapat
berkontribusi dalam pengembangan apotek.
Salah satu kegiatan research and development yang dapat dilakukan oleh
Apotek JM FARMA sebagai apotek baru adalah melakukan survei penyakit yang
sering diderita pasien di kawasan apotek dan sekitarnya. Survei dapat dilakukan
dengan menentukan sampel beberapa obat tertentu dengan jumlah permintaan
yang tinggi oleh konsumen, kemudian bisa menanyakan obat tersebut untuk siapa
dan penggalian tentang penyebab terkait. Hasil penelitian dapat digunakan sebagai
dasar perencanaan peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat dengan
mengetahui kondisi masyarakat sekitar serta sebagai dasar perencanaan
pengadaan obat untuk selanjutnya sehingga pengembangan apotek dapat berjalan
dengan baik.

71