Anda di halaman 1dari 13

PAPER METODE PENANGKAPAN IKAN

“Pra-industri”

Disusun Oleh:
M.Oka Arizona
Renny Jayanti
Riko
Selly Wulandari
Susilawati
Tama Chandra Halim
Yunita

JURUSAN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN


FAKULTAS PERTANIAN PERIKANAN DAN BIOLOGI
UNIVERSITAS BANGKA BELITUNG
2018

i
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah kami panjatkan kehadiran Allah SWT, karena berkat rahmat
dan karunia-nya kami dapat menyelesaikan tugas ini. Kami menyadari bahwa
tanpa bantuan dari berbagai pihak maka tugas ini tidak akan terselesaikan. Oleh
karena itu, pada kesempatan kali ini kami mengucapkan Terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada :
1. Allah SWT yang memberikan rahmat dan hidayahnya sehingga kami bisa
melaksanakan tugas ini sampai selesai.
2. Orang tua dan keluarga tercinta yang telah memberi dukungan material dan
spiritual selama ini.
3. Bapak Kurniawan, SP.M.Si selaku dosen pengampu mata kuliah Metode
Penangkapan Ikan.
4. Sahabat dan rekan-rekan kelas B.
Akhir kata kami sampaikan semoga paper ini dapat bermanfaat bagi kita
semua dalam belajar dan hasilnya dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Balunijuk, 7 Februari 2018


Penyusun

Kelompok 1

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .........................................................................................ii

DAFTAR ISI ......................................................................................................iii

BAB I. PENDAHULUAN ...................................................................................1

BAB II. ISI .........................................................................................................2


2.1 Definisi Perikanan Tangkap Pra-Industri .................................................2
2.2 Sejarah Perikanan Tangkap era masa Neolithikum Pada Periode-
3000-2000 SM pada Suku Wajak ............................................................2
2.3 Sejarah Perikanan Tangkap era Mesir Kuno ...........................................5
2.4 Sejarah Perikanan Tangkap di Jepang Melalui Tradisi Ukai ...................5
2.5 Sejarah Perdagangan Teripang di Indonesia...........................................7

BAB III. PENUTUP ............................................................................................9


3.1 Kesimpulan .........................................................................................9
3.2 Saran ..................................................................................................9

DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................10

iii
BAB I
PENDAHULUAN

Penangkapan ikan menurut sejarah sekitar 100.000 tahun yang lalu telah
dilakukan oleh manusia Neanderthal, dengan menggunakan tangan yang
kemudian berkembang terrus menerus secara perlahan dengan menggunakan
alat bantuan berupa batu, kayu, tulang dan tanduk.

Dalam beberapa hal perkembangan metode penangkapan sangatlah


lamban, sebagai contoh dari dulu hingga saat ini alat pancing penggunaannya
tidak berbeda jauh mata kail diberi umpan dan ikan ditarik menuju pancingan ,
namun bukan berarti tidak ada perubahan karena semakin teknologi berkembang
dan kebutuhan manusia pun bertambah.

Alat tangkap dan teknik penangkapan ikan di Indonesia pada umumnya


nelayan masih bersifat tradisional. Dilihat dari prinsip penangkapan ikan di
Indonesia para nelayan lebiih memanfaatkn sifat sifat yang dimiliki ikan.

Kini diabad modern perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang


pesat membuat penangkapan ikan menjadi lebih mudah, berbagai negara
melakukan moderenisasi penangkapan . Dan Jepang merupakan negara asia
yang sangat maju dalam hal teknologi.

1
BAB II
ISI
2.1 Definisi Perikanan Tangkap Pra-Industri

Melalui karya berjudul The coming of post industrial 1976, Bell menyebutkan
kekuatan utama masyarakat pra-industri terletak pada sumber daya alam,
terutama lahan. Bell menyebutkan bahwa dalam masyarakat pra-industri,
pekerjaan di sektor pertanian umumnya adalah mata pencaharian yang dominan
dan merupakan tempat masyarakat agraris menggantungkan kehidupannya.
masyarakat pra-industrial yang kehidupannya lebih banyak dikendalikan alam
dan digunakan untuk kepentingan sendiri.
Perikanan tangkap adalah suatu upaya/kegiatan yang menyangkut
pengusahaan suatu sumberdaya di laut atau melalui perairan umum melalui cara
penangkapan baik secara komersial atau tidak. Kegiatan ini meliputi penyediaan
prasarana, sarana, kegiatan penangkapan, penanganan hasil tangkapan,
pengolahan serta pemasaran hasil (Nurhakim, 2006 diacu oleh Pulungan, 2012)
Maka, perikanan tangkap pra industri adalah kegiatan yang menyangkut
suatu sumbedaya di laut atau melalui perairan umum yang terjadi dimasa lampau
saat masyarakat masih tergantung dan memiliki kekuatan utama pada sumber
daya alam.

2.2 Sejarah Perikanan Tangkap era masa Neolithikum Pada Periode 3000-
2000 SM pada Suku Wajak

Di Indonesia sendiri, sebelum terjadinya migrasi sekala besar pada periode


Neolithic (3000-2000 SM), penduduk asli indonesia yang disebut sebagai Wajak
hidup secara primitif dengan cara menangkap ikan dan berburu (anonymous,
1996), selain itu menangkap ikan hiu juga telah dilakukan ribuan tahun silam oleh
penduduk asli indonesia terutama bagi mereka yang berada diwilayah indonesia
bagian timur. Kemudian sekitar pada abad ke 15 dan ke 16 kelompok etnis yang
disebut Bajini, makassar, bugis dan bajo merintis perdagangan tripang dan
trochus untuk di perdagangkan dengan kelompok pedagang asal cina .Mungkin
catatan sejarah inilah yang menimbulkan julukan “Nenek Moyangku Bangsa
Pelaut”.

2
Neolithikum yaitu suatu peradaban pada tingkat atau fase kebudayaan pada
zaman pra-sejarah yang merupakan pada zaman tersebut belum terdapat suatu
peninggalan sejarah berupa tulisan, akan tetapi peninggalan tersebut berupa
batu, selain itu pada zaman ini sudah dikenal adanya pertanian pengelolaan
lahan. Wajakinensis merupakan suatu ras pada zaman Neolithikum yang
teknologi sudah maju yaitu penggunaan alat untuk berburu berupa batu yang
sudah diasah. Pada masa Wajakinesis dikenal dengan masa praaksara. Dimana
pada masa tersebut manusia purba menggunakan alam untuk memenuhi
kebutuhan mereka dengan cara berburu dan mengumpulkan bahan makanan.
Secara spesifik wajakinesis merupakan ras dari homo sapiens dimana
manusia purba maju dengan peradaban yang lebih baik dari masa manusia
purba sebelumnya. Disebutkan oleh beberapa sumber bahwa manusia purba
Wajakinesis merupakan keturunan dari manusia purba Autralia. Pada zaman ini,
di daratan Indonesia terbentuk paparan Sunda dan paparan Sahul, dimana
paparan Sunda menghubungkan Indonesia dengan benua Asia sedangkan
paparan Sahul menghubungkan Indonesia dengan Benua Australia. Paparan
Sunda dan Sahul dikarenakan pada saat itu di Indonesia merupakan zaman
pembentukan pegunungan-pegunungan dan terjadi gerakan-gerakan dari dalam
bumi yang menyebabkan terangkatnya beberapa tempat atau tenggelamnya
beberapa bagian daratan kepulauan kita.
Keadaan pada masa paaksara tersebut sangat dipengaruhi oleh topografi
dan perubahan iklim bumi diamna hal tersebut dapat mempengaruhi dampak
kelimpahan sumber daya alam pada saat itu.
Perubahan iklim atau perubahan topografi itu sendiri diakibatkan adanya
orogenesis yaitu gerakan pengangkatan kulit bumi , erosi yang diakibatkan oleh
pengikisan kulit bumi akibat angin dan aliran air, dan vulkanisme dari aktivasi
gerakan lempeng bumi yang mengakibatkan lahar gunung meletus ke daratan.
Kehidupan manusia purba Wajakinesis selain mengumpulkan makanan dari alam
tetapi juga berburu. Sehingga mereka sangat bergantung terhadap alam dan
ilkim. Khusunya peranan perikanan sebagai suatu kebutuhan pangan. Manusia
Wajakinesis juga sudah mengenal tombak sebagai suatu alat berburu.
Peninggalan pada masa manusia Wajakinesis juga berupa gua gua sebagai
tempat berlindung mereka dari cuaca iklim yang tidak menentu dan serangan
hewan buas. Didapat suatu peninggalan dalam gua tersebut berbagai alat-alat
seperti tulang, batu, tanduk dan erang kerang dari perairan. Sehingga dapat

3
disimpulkan bahwa manusia Wajakinesis pada saat itu sudah mengenal
konsumsi hasil perairan berupa ikan atau kerang-kerangan untuk memenuhi
kebutuhan pangan mereka. Manusia wajak kebanyakan tinggal di daerah selatan
Pulau Jawa dekat dengan khatulistiwa dan bertempat tinggal di dekat pesisir
pantai. Manusia Wajak mengenal sumber daya alam perikanan sebagai mata
pencaharian kebutuhan pangan pada saat itu, mereka mengkonsumsi ikan
kerang-kerangan. Manusia Wajak bertempat tinggal dekat khatulistika
disebabkan pada masa itu tejadi empat kali perubahan zaman es, dan kedaan
Indonesiapada saat itu beriklim hujan yang berkepanjangan.
Gua-gua tempat tinggal semacam itu dari bukti-bukti sejarah terlihat bahwa
letaknya tidak jauh dari pantai atau rawa-rawa. Hal itu wajar karena sewaktu-
waktu penghuni gua itu harus mencari makan berupa kerang atau ikan. Daerah
Wajak relatif tidak jauh dari rawa-rawa yaitu rawa Bening-Bedalem.
Kemungkinan besar memang rawa ini merupkan rawa yang terjadi semasa
dengan terjadinya gunung Gamping di dekatnya.
Manusia purba Wajakinesis memasuki Indonesia pada ± 2000 SM.
Perpindahan ini tidak sekaligus, melainkan secara berurutan, dan dikatakan pada
garis besarnya perpindahan terjadi dalam dua gelombang. Perpindahan ini
berakhir pada ± tahun 500 SM.
Perubahan iklim dan topografi bumi yang terjadi baik diakibatkan karena
erosi, pengangkatan kulit bumi dan vulkanis gunung berapi pada saat itu
mengakibatkan perubahan zaman dan migrasi manusia purba pada saat itu.
Letusan gunung berapi seperti Gunung Toba, Gunung Krakatau dan Gunung
Dompo mengakibatkan permukaan bumi naik baik daratan dan perairan
sehingga menimbulkan tsunami yang sangat besar, sehingga mengakibatkan
kelimpahan dan keanekaragaman perairan terganggu. Persitiwa tersebut
membuat dampak pada tata kehidupan manusia purba,sehingga manusia
Wajinesis melakukan migrasi besar-besaran. Manusia Wajak juga dikenal dikenal
dengan pelaut karena berani mengaruhi samudra luas dengan hanya
menggunakan perahu berupa sampan.

4
2.3 Sejarah Perikanan Tangkap era Mesir Kuno

Ikan sangat berlimpah di Mesir, karena Mesir terletak di Laut Tengah dan
Laut Merah , bersama dengan sungai Nil . Perikanan biasanya dipraktekkan di
sungai Nil, entah dengan jaring dari kapal, menggunakan dragnet dari pantai
atau menggunakan jaring busur di tepi sungai yang sempit. Di sisi lain,
memancing juga dipraktekkan sebagai olahraga untuk kesenangan. Tombak dan
jaring busur adalah dua jenis alat yang digunakan pada masa ini yang
membutuhkan kesabaran dalam penggunaannya. Penangkapan ikan
menggunakan media tombak memerlukan atribut tertentu dan butuh keahlian
khusus untuk membidik sasaran. Dalam sejarahnya, ada tiga jenis tombak yang
digunakan yaitu tombak satu mata, dua mata dan tiga mata tombak. Namun,
pada perkembangannya tombak lebih digemari sebagai olahraga sehingga
banyak digunakan oleh kaum kelas atas pada masa itu. (Touny et al,,1969)
Sejarawan Yunani Polybius ( ca 203 SM-120 SM), dalam Histories - nya ,
menggambarkan berburu ikan todak dengan menggunakan tombak dengan
kepala berduri. Sedangkan dari sejarah belanda, Maysrakat dahulu pada abad ke
17 menangkap ikan menggunakan (polybius,1962)tombak trisula. Berbeda
dengan Belanda, dalam buku tacium sanitatis, masyarakat zaman pra industri
pada abd ke 14 menangkap ikan menggunakan jaring. (David, 2013)

2.4 Sejarah Perikanan Tangkap di Jepang Melalui Tradisi Ukai

Di Jepang, ada sebuah tradisi yang menjadi objek wisata yang selalu
ditunggu-tunggu wisatawan. Ukai adalah metode penangkapan ikan air tawar
yang dilakukan nelayan terlatih. Sebuah tradisi menangkap ikan ayu di Sungai
Nagato Gifu sudah ada sejak tahun 1500-an terutama saat kekuasaan Oda
Nobunaga (kelahiran 23 Juni 1534) dan populer hingga kini bagi para turis dan
kalangan domestik karena menggunakan bantuan burung kormoran
(Phalacrocoracidae).
Sejarah memancing burung kormoran dilakukan para pemancing di
Perfektur Gifu Jepang sejak zaman kuno, namun baru mulai populer setelah Raja
Oda Nobunaga berkuasa di Jepang Tradisi ini telah berlangsung selama 1.300
tahun terakhir. Selama musim panas, para nelayan di sepanjang tepi Sungai

5
Nagara, Sungai Hozu, dan Sungai Uji menangkap ikan dengan bantuan burung
yang sangat terampil.
Memancing dengan burung kormoran berlangsung malam hari. Enam
perahu kayu berlabuh dengan diawaki masing-masing dua nelayan dan dua
awak. Mereka memimpin selusin burung kormoran dengan leher yang dikalungi.
Di setiap kapal terdapat lentera api sebagai penerangan sekaligus menarik
perhatian ikan.selama memancing, para nelayan mengenakan kostum tradisional
yakni kimono hitam, rok dari jerami, dan sandal.Adapun tahapan tradisi
penangkapan ikan ini adalah Para pemancing menggunakan perahu, lalu
menggunakan beberapa burung kormoran yang diikat lehernya agar tak bisa
kabur.
Burung tersebut dipakai untuk memancing (mengambil) ikan ayu yang
berenang di Sungai Nagato.Setelah burung mendapatkan ikan di mulutnya,
langsung tali ditarik dan ikan diambil dari mulut burung tersebut oleh para
pemancingatau nelayan yang ada di daerah itu.
Pada tahun 1564 Oda Nobunaga melihat dari bentengnya di Gifu sebuah
pemandangan Ukai di Sungai Nagato, membuatnya sangat tertarik.Dan dari
sanalah dia mulai mempromosikan hal tersebut sebagai bagian tradisi festival
rakyat setempat.

Banyak sekali kapal dan nelayan berpartisipasi melakukannya sambil


mengumpulkan ikan sebagai bahan makanan sehari-hari rakyat setempat. Ikan
ditusuk seperti sate lalu dibakar berdiri sampai kering, lalu disantaplah dengan
sedap karena ikan ayu memang enak dan berminyak membuatnya semakin
nikmat disantap. Mulai dari Gifu akhirnya hal serupa juga dilakukan dengan
mempekerjakan Kormoran untuk menangkap ikan ayu di Sungai Mukawa di Kota
Ozu, Perfektur Ehime, Jepang pada tahun 1957.
Seorang kormoran atau pejuang moral (cowpea) yang memancing
nelayan kormoran.Kostumnya memakai topi yang dilipat angin, pakaian
memancing, dayung, ikat pinggang.Musim memancing umumnya dari akhir
musim semi hingga awal musim gugur.
Ikan Ayu, yang terkejut dengan cahaya api unggun, gerakannya menjadi aktif,
tertangkap oleh Kormoran.
Setiap kali pemancingan dilakukan memang di depan perahu di gantung
api unggun untuk mengagetkan ikan lalu muncul dan mudah ditangkap

6
Kormoran.Ukai biasanya dilakukan di luar bulan purnama dari pertengahan bulan
Mei sampai pertengahan Oktober. Alasan yang tidak dilakukan pada hari bulan
purnama adalah mencegah agar ayu berkumpul di api unggun karena tertipu
oleh cahaya bulan (api unggun disangka bulan purnama). Sedangkan di bulan
purnama biasanya dibiarkan agar memberi kesempatan bertelur
mengembangbiakkan dirinya lebih banyak lagi. Penangkapan kormoran
dilakukan dua kali setahun pada musim semi dan musim gugur.
Tradisi Ukai juga dilakukan di Sungai Fuefukigawa mengalir melalui
Perfektur Yamanashi.Demikian pula ada yang dilakukan di Perfektur Wakayama,
Shimane dan sebagainya.Ukai adalah tradisi perikanan yang berlangsung
biasanya dari tanggal 11 sampai 15 Oktober setiap tahun.Ada pula upaya
menangkap ikan hiu dnegan menggunakan Kormoran dan ikan hiu yang
tertangkap biasanya dipersembahkan ke Kuil Meiji dan Kuil Ise Jingu yang paling
terkenal di Jepang.

2.5 Sejarah Perdagangan Teripang di Indonesia


Perikanan telah menjadi kegiatan ekonomi pada periode sebelum masehi.
Di Indonesia, sebelum terjadinya migrasi skala besar pada periode Neolithic
(3000 – 2000 SM) , penduduk asli Indonesia yang disebut sebagai Wajak hidup
secara primitif dengan cara menangkap ikan dan berburu (Anonymous, 1996).
Selain itu penangkapan ikan hiu juga telah dilakukan ribuan tahun silam oleh
penduduk asli Indonesia terutama mereka yang berada di wilayah timur
Indonesia. Kemudian pada sekitar ke abad 15 dan ke 16 kelompol etnis yang
disebut Bajini, Makassar, Bugis, dan Bajo merintis perdagangan tripang dan
trochus untuk diperdagangkan dengan kelompok pedagang asal Cina.

Menengok abad 13-17, Nusantara merupakan negara maritim yang


menjadi salah satu pusatperdagangan dunia. Sistem perkotaannya terbentuk di
tepi laut seperti pesisir utara Jawa.Ini memberi kemudahan masyarakat (nelayan)
Nusantara pada zaman itu untuk melakukan kontak dagang hasil laut dengan
dunia internasional. Salah satunya adalah dengan bangsa Cina di abad 16-17
yang diduga mendorong munculnya perikanan teripang Saat Belanda
mengalahkan Makassar di Indonesia (STACY, 1999; HAM, 2002).

Saat Belanda mengalahkan Makassar di Buton tahun 1667, dan membuat


batasan perdagangan bagi orang Makassar, banyak di antara mereka yang

7
melarikan diri ke Teluk Carpentaria di Australia, dan mereka kembali dengan
memuat teripang. Periode ini yang kemudian menjadi perkiraan awal dimulainya
industri teripang di Indonesia (McKNIGHT 1976).
CHEN (2003) memaparkan kembali informasi dari hasil penelitian
terdahulu, bahwasejak dari awal sejarah perikanannya, teripangdikumpulkan
untuk mensuplai kebutuhan bangsa Cina. Di Cina sendiri, sebagai negara
konsumen terbesar hingga saat ini, pengenalan teripang dimulai sejak Dinasti
Ming (1368-1644 BC). Teripang tertulis di buku medis tradisional sebagai tonic
dan obat tradisional, antara lain mengandung banyak protein dan rendah lemak.
Diramu dengan komponen yang lain, teripang dipakai sebagai obat untuk
memelihara kesehatan darah, penyembuh penyakit ginjal dan sistem reproduksi.

8
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan data yang di atas dapat kami simpulkan bahwa di Era Mesir
Kuno Alat tangkap yang dipakai pada saat itu berupa tombak, dragnet, dan
jaring. Sedangkan di Belanda berupa tombak trisula. Di era Neolitikum, peralatan
yang digunakan cukup sederhana berupa tombak yang terbuat dari batuan dan
tulang. Di jepang terdapat tradisi Ukai yaitu dengan cara memanfaatkan burung
komoran yang telah dilatih untuk metode penangkapan ikan. Kemudian di akhir
era Pra-industri, Teripang mulai diperjual belikan, terutama dikirimkan ke china
melalui suku buton dari makassar.

3.2 Saran

Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi maka perlu


memperhatikan jenis alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan, hal ini
dilakukan supaya persediaan ikan di alam tetap lestari.

9
DAFTAR PUSTAKA

AD Touny, dan Steffen Wenig. Olahraga di Mesir Kuno . Leipzig: Edisi Leipzig.
1969.

CHEN, J. 2003. Overview of seacucumber farming and sea ranching practices in


China. SPC Beche-de-mer Info. Bull. 18 : 18-23.

HAM, O.H. 2002. Dari Soal Priyayi sampai NyiBlorong. Refleksi Historis
Nusantara. Penerbit Buku Kompas, Jakarta. 79-89.
Henley, David. 'Tacuinum Sanitatis' di: Kesehatan dan Kesehatan: Panduan
Abad Pertengahan Primitif. Chiang Mai: Buku Cognoscenti, 2013

Http://www.tribunnews.com/internasional/2017/12/03/mengenal-tradisi-ukai-
menangkap-ikan-pakai-bantuan-burung-kormoran-di-jepang?page=3

McKNIGHT, C.C. 1976. The voyage to Marege': Macassan trepangers on


northern Australia. 7. When did the Industry Begin?. Melbourne Univ. Press.
93-99.
(Nurhakim, 2006 diacu oleh Pulungan, 2012) The coming of post industrial 1976
, Bell
Polybius, "Memancing untuk Swordfish" , Histories Book 34.3 ( Evelyn S.
Shuckburgh , translator). London, New York: Macmillan, 1889. Reprint
Bloomington, 1962

STACY, N. 1999. Boat to burn : Bajo fishing activity in the Australian fishing zone.
Ph.D Thesis NTU. 360 pp.

10