Anda di halaman 1dari 9

ANALISIS JURNAL

Nama Mahasiswa : David Edward

NPM : 1706987740

Pembimbing : dr. Zarni Amri, MPH

A. Jurnal Cross Sectional

Judul : Demographic and occupational predictors of stress and fatigue in French


intensive-care registered nurses and nurses’ aides: A cross-sectional study
Peneliti : Gabrielle Jones , Mounia Hocine, Je´rome Salomon, William Dab, Laura Temime
Penerbit : International Journal of Nursing Studies

Tahun : 2014

Latar belakang
- Situasi : Pekerjadengan system jam kerja panjang, overtime, shift malam, dan rotasi shift
selalu ditemukan berhubungan dengan kelelahan dan peningkatan resiko kesalahan
medical atau mendekati salah. Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa tingginya
aktivitas fisik dan mental pada pekerja ICU meningkatkan kelelahan dan stress
pada pekerja ICU. Kurangnya dukungan social dihubungkan dengan peningkatan
resiko kecelakaan, stress, kelelahan, kecemasan dan penurunan angka kesehatan
pekerja. Penelitian lainnya juga mendapatkan pekerja yang bekerja > 8.75 jam
beresiko menurunkan tingkat kepercayaan terhadap rekan sekerja, menurunkan
tingkat kolaborasi dengan supervisor dan meningkatkan resiko infeksi dari pasien.

- Masalah : Pekerja kesehatan yang berkerja di rumah sakit selalu terpapar dengan aktifitas fisik
dan mental yang tinggi, sehingga berdampak pada kelelahan dan tingkat stress
pekerja. Kelelahan dan tingakt stress yang itnggi berdampak pada resiko terjadinya
kesalahan dalam pelayanan kesehatan pasien. Mengurangi stress dan kelelahan
melalui perubahan organisasi diharapkan dapat mengurangi efek negative terhadap
pekerja medis sehingg meningkatkan kesehatan pekerja dan menjamin keamanan
pasien. Meskipun sudah diketahui penyebab kelehahan dan stress pada pekerja
medis akan tetapi hubungan antara beberapa aspek dari kondisi rumah sakit dan
pekerja medis masih kompleks dan belum sepenuhnya dimengerti.

- Pertanyaan : Factor apa saja yang berperan dalam meningkatkan kelelahan pada pekerja terutama
yang berhubungan dengan pengaturan organisasi?

- Respon : Pada penelitian ini ingin melihat pengaturan organisasi yang lebih baik seperti
penerapan jam kerja, lama shift dan shift malam.
Tujuan
- Umum : Mengetahui hubungan pengaturan organisasi terhadap kelalahan dan stress pada
pekerja ICU di perancis.

- Khusus : - Mengetahui hubungan antara rendahnya dukungan social dengan stress dan
kelelahan kerja.
- Mengetahui karakteristik organisasi yang berpotensi sebagai pendukung terjadinya
stress kerja.
Desain studi : Desain observasional bersifat analitik dan menggunakan pendekatan potong lintang
(Cross Sectional)

Waktu dan tempat : 18 januari – 2 april 2013, di ICU paris area hospital of the AP-HP, Paris, Perancis

Populasi
- Target : Semua tenaga medis yang kontak dengan pasien di paris area hospital of the AP-HP,
Paris, Perancis

- Terjangkau : Semua tenaga medis yang kontak dengan pasien ruang ICU di paris area hospital of
the AP-HP, Paris, Perancis

Sampel penelitian
- Teknik sampling : Teknik sampling adalah non-probability sampling dengan metode purposive
sampling karena hanya yang sesuai kriteria inklusi yang diambil dan hanya
tenaga medis ICU yang kontak dengan pasien. S emu a t e n a ga me d i s IC U
d e w a s a di A P -H P d i k o n t a k d e n ga n e ma i l d a n d i f ol l o w u p d e n gan
t e l e p o n , ke mu d i a n d i d at a n gi un t u k w aw a n c a r a . T er d ap a t 2
ku i s i o n er ya n g h a r us d i i si ya n i t u ku i si o n e r p e r t a ma t en t ang
s t r u kt ur or ga n i s as i dan ku i s i o ne r pe r so n al .

- Kriteria inklusi : - Tenaga medis ICU dewasa yang kontak dengan pasien.
- Tenaga kerja harus merupakan tenaga tetap ICU

- Besar sampel : 35 subjek

Instrumen : Kuesioner yang diajukan teridir dari 2 kuisioner:


- Kuisioner umum yang berisi 25 pertanyaan mengenai struktur organisasi pelayanan.
- Kuisioner Individual yang berisi 54 pertanyaan mengenai demografi dan
karakteristik indivisual pekerja ICU.
Variabel
- Kuantitatif : Rata-rata, standar deviasi, dan/atau nilai minimum dan maksimum
- Kualitatif : Frekuensi absolut dan relatif
- Independen : Jenis kelamin, usia, profesi, status karyawan
- Dependen : PSS10 ,NHP-S , NHP-EL, current state
Analisis statistik : Nilai PSS10, NHP-S dan NHP-EL dan keadaan keadaan sekarang dipertimbangkan
sebagai keluaran utama.
Univariat dilakukan dengan unpaired two sample t-test, mann-whitney U test,
krusskall-wallis analysis of variance and chi square
Korelasi anatara keluaran dan variable terjelaskan dianalisa menggunakan pearson or
spearman correlation.
Multivariate analisis dilakukan untuk mengevaluasi hubungan dari seluruh factor
demografi, factor individual, dan factor organisasi.
Hasil yang bermakna dengan memiliki 2 tail dengan nilai α = 0.05
Status kelelahan dan dan nilai NHP dianalisis menggunakan multivariate
menggunakan stata V.12
Hasil Penelitian :Hasil yang didapat 31 dari 35 sample dengan 2 orang menolak dan 2 orang tidak merespon
panggilan.
Dari 31 orang didapatkan 5 orang kerja dengan shift 8 jam, 26 orang bekerja dengan shift 12
jam. 14 orang dengan fixed dan rotasi shift.
Tingkat partisipasi yang rendah adalah dokter dan residen (kisaran 52.2 – 64.3%)
Terdapat perbedaan signifikan antara NHP-S dokter dan resident dimana resident memiliki
nilai kesulitan tidur lebih tinggi dibanding dokter (p= 0.0001)
Dokter dan resident memiliki tingkat kelelahan yang paling tinggi (62,6 %) dibanding
profesi lainnya.
Jenis kelamin perempuan terkait dengan skor PSS10 yang lebih tinggi, merasa lelah saat
bangun tidur, melewatkan beberapa saat dalam tiga shift terakhir dan pekerjaan penuh waktu
secara signifikan terkait dengan tekanan yang dirasakan lebih besar. Variabel yang secara
signifikan terkait dengan tekanan yang dirasakan lebih rendah adalah dukungan sosial yang
lebih besar dari atasan, tugas shift berputar dan tidak pernah bertugas di luar ICU. Berada
dalam shift selama 3-5 jam pada saat wawancara (dibandingkan dengan <3 jam) juga secara
signifikan dikaitkan dengan stres yang lebih rendah.
Karakteristik demografis dan ketenagakerjaan individu yang secara signifikan dikaitkan
dengan kemungkinan pelaporan yang lebih besar adalah keadaan wanita yang lelah,
memiliki anak, dan kehadiran di tempat kerja 2 hari sebelum hari wawancara.
Kesulitan tidur dikaitkan secara signifikan dengan jenis kelamin wanita, pekerjaan shift
malam saat ini dan sesekali perubahan jadwal yang tidak direncanakan (vs. tidak pernah).
Tidur lebih lama dan dukungan sosial supervisor yang lebih besar secara signifikan terkait
dengan melaporkan tidak ada kesulitan tidur.
Faktor organisasi yang secara signifikan terkait dengan pelaporan kesulitan tidur adalah kerja
ICU bedah.
Menggunakan shift 8 jam dikaitkan dengan kemungkinan yang lebih besar untuk melaporkan
tidak ada kesulitan tidur
Limitasi : - Desain cross-sectional, yang tidak memungkinkan kesimpulan hubungan kausal.
- Kuesioner bersifat komprehensif dalam jenis variabel yang termasuk (demografi dan lapangan
kerja), penelitian ini kurang lengkap dalam eksplorasi masing-masing variabel daripada pada studi
serupa yang berfokus pada dimensi tunggal.
- Wawancara orang mungkin telah memyebabkan bias karena ketidaknyamanan karena harus
saling bertatap muka dengan beberapa pertanyaan sensitif; namun memastikan anonimitas para
peserta digunakan untuk meminimalkan bias semacam itu.
- Akhirnya, hanya ICU di rumah sakit umum di Paris yang termasuk dalam penelitian ini,
sehingga hasilnya mungkin tidak dapat digeneralisasikan ke ICU di rumah sakit swasta atau di
luar wilayah Paris.
Kesimpulan : Di lingkungan rumah sakit, petugas kesehatan terkena kondisi kerja yang mencakup lingkungan
dengan tekanan tinggi dan kerja shift, yang keduanya dapat berdampak pada kesehatan fisik dan
mental. Kesehatan pekerja pada gilirannya dapat mempengaruhi keselamatan pasien baik melalui
potensi peningkatan kesalahan dan peningkatan risiko penularan infeksi terkait rumah sakit
Saran : Penelitian lanjutan sebaiknya jumlah sample diperbanyak sehingga bias lebih menggambarkan
hubungan antara orgaisasi kerja di rumah sakit dan kejadian infeksi terkait layanan kesehatan
antara pasien.
ANALISIS JURNAL

Nama Mahasiswa : David Edward

NPM : 1706987740

Pembimbing : dr. Zarni Amri, MPH

B. Jurnal Cohort

Judul : Lung cancer mortality in North Carolina and South Carolina chrysotile
asbestos textile workers
Peneliti : Leslie Elliott, Dana Loomis, John Dement, Misty J Hein, David Richardson,
Leslie Stayner
Penerbit : occup environ med

Tahun : 2012

Latar belakang
- Situasi : Chrysotile Asbestos, dikenal sebagai bahan karsinogen bagi manusia, adalah bentuk
predominan dari asbestos yang digunakan di seluruh dunia, dan satu-satunya bentuk
yang digunakan di AS sejak 2002. Bukti kuat bahwa chrysotile adalah penyebab
kanker paru-paru, mesothelioma dan penyakit pernafasan lainnya telah menyebabkan
penurunan digunakan di beberapa negara selama dekade terakhir; Namun,
diperkirakan 125 juta pekerja terus terpapar dengan asbestos

- Masalah : Studi sebelumnya dari dua kohort telah ditunjukkan risiko kematian yang meningkat
karena asbestosis dan kanker paru-paru dibandingkan dengan populasi umum, serta
hubungan respons paparan positif untuk asbes. Risiko asbestosis dan kanker paru-paru
tampaknya meningkat lebih tajam dengan meningkatnya eksposur asbes kumulatif di
SC kohort dibandingkan dengan kohort NC. Penjelasan yang mungkin untuk
perbedaan tersebut meliputi penggunaan model statistik yang berbeda dan kriteria
inklusi yang berbeda untuk kedua kohort tersebut. Sebagai bagian dari investigasi
yang sedang berlangsung mengenai hubungan antara asbes chrysotile dan penyakit
paru pada para pekerja ini, kita laporkan hasil analisis gabungan pekerja tekstil dari
kohort NC dan SC, dengan menggunakan estimasi paparan PCM yang berasal dari
pengukuran higiene industri dan matriks paparan kerja.
- Pertanyaan : Berapa besar pengaruh chrysotile terhadap resiko kematian pada pekerja textile ?
Berapa besar jumlah paparan yang dapat menyebabkan kanker paru?
Berapa lama paparan yang dapat menyebabkan kanker paru?
- Respon : Penelitian mengenai pengaruh paparan chrysotile terhadap angka mortalitas kanker
paru pada pekerja terpapar asbestos
Tujuan
- Umum : Mengetahui pengaruh asbestos terhadap angka mortalitas kanker paru pada pekerja
textile di North dan South Carolina

- Khusus : mengetahui pengaruh kumulatif jumlah paparan asbestos terhadap insiden rate dari
kanker paru
Desain studi : Desain observasional bersifat analitik dan menggunakan pendekatan kohort
Retrospektif (person – years)

Waktu dan tempat : 1930 – 2003 di 5 pabrik textile di area carolin utara dan selatan

Populasi
- Target : Semua pekerja yang terpapar Chrysotile Asbestos

- Terjangkau : Pekerja yang terpapar Chrysotile Asbestos di kota North Carolina dan South
Carolina
Sampel penelitian
-Teknik sampling :Teknik sampling tidak dijelaskan lebih detail, dikarenakan samping hanya melanjutkan
penelitian sebelumnya.
Sampel diambil dari populasi pekerja yang berada di 3 asbestos textile mills di kota
North Carolina (NC) dan 1 asbestos textile mills di kota South Carolina (SC).
Pemilihan sample pada studi cohort sebelumnya di kota SC dihitung dari 30 hari
setelah dinyatakan masuk perusahaan baik pekerja produksi maupun pekerja non
produksi dari tahun 1940-1965. Sedangkan pemilihan sample pada studi cohort di kota
NC sebelumnya dihitung dari 1 hari setelah dinyatakan masuk perusahaan antara tahun
1950-1973. Pada penelitian ini sample diambil dari jumlah gabungan penelitian
sebelumnya dengan tahun observasi kohort individu (1940 -1965 untuk SC , dan 1950-
1973 untuk NC).
- Kriteria inklusi : Pekerja yang terpapar Chrysotile Asbestos
Memiliki status vital yang melewati tahun 2001 (pekerja di SC dan 2003 di NC)
Pekerja yang masih hidup setelah tahun 1979 sampai penelitian selesai
- Besar sampel : Penelitian ini mengikutsertakan 6136 pekerja, dengan 218631 person –years yang diamati,
dan terdapat 3356 kematian
Instrumen : Penelitian ini melakukan pengolahan data secara statistika multivariable model dengan
menggabungkan estimasi rata-rata jumlah paparan fiber chrysotile asbestos dihubungkan
dengan area kerja, departemen , jenis pekerjaan, waktu kerja dan histori perkerjaan
pekerja. Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan SAS V 9.2 dan StataV10.1.
Variabel
- Kuantitatif : Jumlah paparan chrysotile asbestos menggunakan metode hygiene industry yang diukur
di beberapa area
- Kualitatif : hasil outcome mortalitas observasi individu pekerja yang terpapar chrysotile asbestos
- Independen : Jenis kelamin, usia, profesi, status karyawan, waktu
- Dependen : Paparan fibre asbestos , kanker paru

- Analisis Data : Kohort mortalitas dibandingkan dengan populasi umum dengan menggunakan metode
tabel kehidupan nasional untuk Keselamatan Kerja dan Kesehatan Rumah Sakit untuk memperkirakan rasio
kematian standar (standar SMRs) dan CI 95% yang disesuaikan dengan usia, jenis kelamin, dan tahun
kalender. Resiko seumur hidup diperoleh dari tanggal masuk ke kohort sampai: tanggal terakhir diamati untuk
pekerja yang tidak menindaklanjuti sebelum 1979, tanggal kematian, atau akhir masa tindak lanjut. Kematian
dikodekan oleh penyebab dan tingkat kematian nasional digunakan untuk menghasilkan jumlah kematian yang
diharapkan.
Hasil Penelitian : Gabungan sample mencakup 6136 pekerja, 218630.8 person years yang diamati dan 3356
kematian.
Pria lebih beresiko dibanding wanita (129846,4 : 88784.4 person – years)
Untuk kombinasi kohort, mortalitas pekerja dari semua penyebab (SMR 1,40, 95% CI
1,35-1,45) dan semua kanker (SMR 1,31, 95% CI 1,22 sampai 1,40) lebih tinggi dari yang
diperkirakan relatif terhadap populasi nasional. Di antara kanker yang spesifik, kematian
untuk kanker paru-paru (SMR 1,90, 95% CI 1,70 sampai 2,11) secara signifikan lebih
tinggi dari yang diharapkan.
Kematian akibat mesothelioma terjadi lebih tinggi dari yang diperkirakan (SMR 8,61, 95%
CI 1,78 sampai 25,17), walaupun perkiraan SMR didasarkan pada tiga kematian akibat
penyebab ini. Namun, kode Klasifikasi Internasional Penyakit (ICD) tidak tersedia untuk
mesothelioma sebelum tahun 1999; Oleh karena itu, kematian akibat mesothelioma
sebelum tahun 1999 kemungkinan telah dikelompokkan sebagai kematian akibat kanker
pleura (2 kematian, SMR 4,77, 95% CI 0,58 sampai 17,22) atau kanker di "situs
pernapasan lainnya" (5 kematian, SMR 3,92, 95% CI 1,27 sampai 9,14).
RR untuk kematian kanker paru-paru meningkat sekitar 10% per 100 f-yr / ml (RR¼1.10,
95% CI 1,05 sampai 1,15 untuk lag 0 tahun), terlepas dari periode lag dan tingkat rata-rata
kelebihan linear (ERR) meningkat sekitar 26% per 100 f-thn / ml (ERR ¼.26) untuk
eksposur tertinggal 10 tahun.
Dengan menggunakan data gabungan dari semua tanaman dalam analisis regresi Poisson,
rasio tingkat (RR) untuk kematian kanker paru-paru meningkat sekitar 10% per 100 f-yr /
ml (RR¼1.10, 95% CI 1,05 sampai 1,15 untuk lag 0 tahun), terlepas dari periode lag dan
tingkat rata-rata kelebihan linear (ERR) meningkat sekitar 26% per 100 f-thn / ml (ERR
¼.26) untuk eksposur tertinggal 10 tahun. Pemaparan kumulatif dengan periode lag 10
tahun digunakan pada model berikutnya, karena model model sedikit lebih baik daripada
model lainnya. Untuk semua model gabungan dan stratifikasi, model fit lebih baik untuk
eksponensial daripada model linier.
Hubungan antara kematian asbes dan kanker paru-paru kurang kuat pada pekerja NC
(RR=1.10, 95% CI 1,03-1,16) daripada pekerja SC (RR=1.67, 95% CI 1,44 sampai 1,93)
(nilai p untuk uji rasio kemungkinan untuk interaksi adalah <0,0001). Dalam analisis
sensitivitas yang menghilangkan setiap pabrik NC, perkiraan tidak berubah secara
substansial.
Model stratifikasi Poisson oleh pabrik menghasilkan perkiraan yang tampaknya
heterogen, walaupun hanya perkiraan dari NC3 dan SC (masing-masing 37% dan 54%
dari total person-years) yang mencapai signifikansi statistik. Uji rasio likelihood yang
membandingkan model yang disesuaikan sepenuhnya dengan model interaksi juga
menyarankan heterogenitas pada tanaman (p value = 0.0001).

Limitasi : - 7% data tidak terfollow up


- 5 % kematian tidak dapat diketahui penyebabnya
- Kualitas pengkodean dignosa kematian bervariasi.
Kesimpulan :Singkatnya, analisis kombinasi kohort tekstil asbes dengan metode umum menghasilkan
peningkatan signifikan secara statistik pada kematian akibat kanker paru-paru dengan
paparan asbes.
Perbedaan dalam pemaparan - tanggapan perkiraan dari penelitian sebelumnya tentang
kohort NC dan SC tampaknya tidak terkait dengan kriteria inklusi atau metode analisis.
Penjelasan yang potensial untuk yang Nampak heterogenitas meliputi perbedaan kualitas
data, efek survivor pekerja yang sehat dan perbedaan distribusi eksposur atau efek biologis
dari paparan rendah dan tinggi.
Saran : Perlunya peran perusahaan untuk mencegah paparan asbestos masuk ke tubuh pekerja dengan
melakukan program-program pencegahan terhadap paparan debu asbestos.
ANALISIS JURNAL

Nama Mahasiswa : David Edward

NPM : 1706987740

Pembimbing : Dr. dr. Aria Kekalih , MTI

C. Jurnal Randomize Control Trial

Judul : Efek Suplementasi Serat Chitosan dengan Omega-3 dalam Minyak Ikan
Terhadap Trigliserida Plasma dan Kolesterol Total pada Pekerja Obes
Peneliti : Fatimah Syarief
Penerbit : Jurnal kedokteran Indonesia
Tahun : 2011
Pendahuluan
Latar belakang
- Situasi : Obesitas memiliki hubungan dengan sejumlah manifestasi klinik yang terkait dengan penyakit
jantung koroner (PJK) seperti hipertensi, dilipidemia, dan diabetes mellitus (Kenchaiah,
2002). Prevalensi obesitas di Indonesia berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) tahun 2007 yaitu sejumlah 19.1% (8.8% BB lebih dan 10.3% obese).
- Hipotesis : Penelitian menunjukkan bahwa pemberian 4 g minyak ikan (fish oil) tuna yang mengandung
EPA dan DHA sejumlah 1.4 g per hari selama 3 minggu menurunkan trigliserida darah sebesar
22.3 % (Micallef dan Garg, 2008). Berdasarkan hasil Riskesdas 2007, sejumlah 92.7 %
penduduk Indonesia tergolong kurang konsumsi serat. Hal ini terjadi kemungkinan karena
kurangnya pengetahuan dan pemahaman mengenai pentingnya asupan serat terhadap
kesehatan. Chitosan adalah serat polisakarida yang tersusun lebih dari 5000 unit glukosamin
dan asetilglukosamin dengan berat molekul lebih dari satu juta Dalton. Chitosan diketahui
memiliki efek untuk menurunkan kadar kolesterol dan menurunkan berat badan karena adanya
kation positif pada grup amino pada derajat keasaman yang sama dengan saluran pencernaan.
Minyak ikan (fish oil) mengandung hampir 30% asam lemak tidak jenuh ganda omega-3.
Asam lemak omega-3 mencegah terjadinya aterosklerosis melalui efek anti agregasi
trombosit, yaitu menghambat pembentukan tromboksan-A2 yang dapat menimbulkan
trombosis. Konsumsi omega-3 bermanfaat untuk penderita tekanan darah tinggi (hipertensi),
aterosklerosis dan arthritis. Asam lemak omega-3 dalam bentuk EPA (Eicosa Pentanoic Acid)
dan DHA (Docosa Hexanoic Acid) saat digunakan pada dosis 3-4 g/hari ditemukan telah
memberikan efek terhadap penurunan kadar trigliserid (TG). Mekanisme penurunan TG yaitu
dengan menurunkan produksi dan sekresi partikel VLDL (Ve r y Low Density Lipoprotein)
dan VLDL apolipoprotein B bersama dengan pengaturan aktifitas lipolysis plasma, serta
merangsang oksidasi asam lemak lainnya di dalam hati. Menurut Zimmerman (2001) beberapa
mekanisme serat terhadap metabolisme lemak diantaranya adalah menghambat reaksi enzim
lipase gastrointestin seperti enzim lipase pankreas. Selain itu, serat makanan akan
menghalangi siklus enterohepatik (reabsorbsi empedu dalam usus ke hati).Konsumsi serat
juga diharapkan dapat menimbulkan rasa kenyang lebih lama sengga asupan kalori dapat
diatur sesuai dengan standar diet rendah kalori dan rendah kolesterol. Serat polisakarida
merupakan inhibitor yang kuat dalam menghambat enzim lipase gastrointestinal (Tsujita,
2007). Serat chitosan merupakan polisakarida alami larut air yang dihasilkan dari proses
deasetilasi eksoskeleton kerang- kerangan. Serat chitosan merupakan suplemen makanan yang
efektif menurunkan kadar kolesterol darah menmbantu mengontrol obesitas (Koide,1998).
Chitosan mempengaruhi kadar kolesterol dan berat badan karena memiliki grup amino dengan
derajat keasaman (PH) yang sama dengan PH saluran pencernaan. Grup amino ini dapat
mengikat molekul negatif seperti lemak dan empedu sehingga mencegah penyerapannya
dalam tubuh (Koide, 1998). Pada manusia, suplementasi chitosan secara efektif juga dapat
menur unkan kolesterol. Pada dosis suplementasi 3-6 g per hari selama 8 minggu secara
signifikan menurunkan total serum kolesterol (188 mg/dl menjadi 177 mg/dl) dan kenaikan
yang signifikan pada kolesterol HDL (51 mg/dl menjadi 56 mg/dl).
Tujuan
- Umum : mengetahui pengaruh penambahan serat chitosan pada suplementasi minyak ikan
(fish oil) terhadap kadar trigliserida dan kolesterol total plasma pada karyawan
obesitas.
- Khusus : mengetahui besarnya efek penambahan suplementasi 3 gr Chitosan pada suplementasi
omega 3 terhadap penurunan kadar kolestrol darah
Mengetahui besaran efek pemberian suplementasi chitosan 3 gr selama 21 hari
Desain studi : Jenis penelitian ini adalah eksperimental menggunakan rancangan Randomized
Control Trial (RCT).

Waktu dan tempat : Subjek diberikan intervensi selama 21 hari. Waktu pelaksanaan tidak dijelaskan pada
penelitian ini. Lokasi dilakukan di RSU Muhammadiah Yogyakarta.
Populasi
- Target : Semua karyawan Obesitas
- Terjangkau : Pekerja obesitas yang berada di RSU Muhamadiah Yogyakarta.
Sampel penelitian
-Teknik sampling :Teknik pengambilan sample tidak dijelaskan secara detail.
Populasi sasaran penelitian adalah karyawan yang masih aktif bekerja di RS PKU
Muhammadiyah Jogjakarta yang berusia 20-54 tahun dengan status gizi obesitas
dengan Indeks Massa Tubuh 25 kg/ m2. Sebanyak 22 karyawan obesitas mendapat
suplementasi 3 g omega-3 dan 16 karyawan obesitas mendapatkan suplementasi 3 g
omega-3 dan 3 g chitosan selama 21 hari.
- Kriteria inklusi : Karyawan tetap RS PKU Muhamadiyah usia 20-54 tahun.
Status Gizi obesitas (IMT >25 kg/m2)
Kadar kolesterol dan trigliserida yang masuk kriteria penelitian.
- Besar sampel : sample awal 65 orang dengan 19 drop out (7 dari kel control dan 12 dari kel intervensi) 8
orang dikeluarkan dari peelitian karena kadar trigliserida dan kolestrol tidak mewakili
pada umumnya.
- Intervensi : pemberian suplemen minyak ikan dengan dosis 3 gr omega3 per hari dengan bentuk sediaan
2 kapsul lunak per sajian, dengan frekuensi pemberian 3 kali sehari. (total 6 kapsul / hari).
Penambahan serat chitosan pada suplementasi minyak ikan yaitu dengan memberikan
produk yang mengandung chitosan 300 mg sejumlah 3 gram per hari dengan bentuk
sediaan 3 (tiga) kapsul lunak per sajian sebelum makan pagi dan makan siang dan 4
(empat) kapsul lunak per sajian sebelum makan malam.

Instrumen : Kadar trigliserida darah adalah kadar yang dihasilkan dari pemeriksaan laboratorium untuk
menetapkan kadar Trigliserida dalam bahan pemeriksaan darah secara otomatis dengan
metode enzimatik GPO - PAP menggunakan alat TMS 1024i , untuk kadar kolesterol
dalam bahan pemeriksaan darah secara automatic dengan metode enzimatik CHOD - PAP
menggunakan alat Hitachi 902 di Laboratorium Klinik RS PKU Muhammadiyah
Uji regresi linier ganda dilakukan untuk mengetahui perbedaan kadar trigiserida dan
kolesterol total kedua kelompok dengan mengontrol variable perancu dengan
menggunakan program statistik SPSS versi 17. Efek penambahan serat chitosan terhadap
kadar kolesterol ditunjukkan oleh koefisien regresi b1. Kemaknaan statistik koefisien
regresi diuji dengan menggunakan uji t.
Variabel outcome
- Kuantitatif : kadar trigliserida dan kadar kolesterol total darah yang diukur sebelum dan sesudah
perlakuan.
Hasil Penelitian : Pemberian 3 g chitosan pada suplementasi 3 g omega-3 tidak berpengaruh signifikan
terhadap kadar trigliserida darah sebesar (b= 13.04; p= 0.594 ; CI 95 % -3.77 hingga -
3.37).
Pengaruh penambahan 3 g chitosan pada suplementasi omega-3 terhadap kadar kolesterol
darah. Analisis data uji regresi linier ganda yang mengontrol variable kolesterol awal dan
asupan serat menunjukkan bahwa pemberian 3 g chitosan pada suplementasi 3 g omega-3
mampu menurunkan kadar kolesterol darah sebesar 13.954 mg/dl lebih rendah
dibandingkan dengan omega-3 saja. Penurunan kolesterol darah tersebut secara statistic
signifikan (b= -13.95; p= 0.038; CI 95 % -27.11 hingga -0.80).
Taksiran koefisien kolesterol awal sebesar 0.76 menunjukkan bahwa kadar kolesterol
awal berpengaruh signifikan terhadap kadar kolesterol akhir (p=0.000). Sementara itu,
asupan serat secara statistik tidak berpengaruh signifikan terhadap kadar kolesterol darah
akhir dalam data penelitian ini. Statistik R2 = 64.5% menjelaskan bahwa kolesterol awal
mampu menerangkan variasi kadar kolesterol sebesar 64.5 %.
Hasil uji t independen menunjukkan bahwa perbedaan rata-rata konsumsi gizi antara
kelompok 3 g omega-3 dan kelompok 3 g omega-3 dan 3 g chitosan secara statistik tidak
signifikan (p>0.05) kecuali pada asupan serat (p=0.024). Asupan serat kelompok omega 3
lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok omega 3 dan chitosan. Karena itu pada
analisis regesi linear ganda, asupan serat dimasukkan sebagai salah satu variabel yang
akan dikontrol pengaruhnya terhadap kadar kolesterol akhir dan kadar trigliserida akhir.
Limitasi : - penelitian ini tidak melakukan pemeriksaan kolestrol LDL dan HDL
- Jangka waktu penelitian yang pendek (21 hari dari seharusnya minimal 8 minggu)
- Kelompok control dan intervensi terdapat sampel yang drop out.
Kesimpulan : Penelitian ini menyimpulkan, penambahan 3 g chitosan pada suplementasi 3 g omega-3 selama
21 hari pada karyawan obesitas tidak berpengaruh terhadap kadar trigliserida darah.
Trigliserida darah dapat diturunkan hanya dengan suplementasi omega-3 saja. Penambahan 3 g
chitosan pada suplementasi 3 g omega-3 selama 21 hari pada karyawan obesitas berpengaruh
terhadap kadar kolesterol darah.
Saran : Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan jangka waktu pemberian suplementasi yang lebih
lama untuk melihat pengaruh suplementasi yang lebih signifikan.
Agar penelitian selanjutnya memeriksanakan kadar kolestrol HDL dan LDL agar data plasma
lipid lebih lengkap.