Anda di halaman 1dari 105

ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN

BALITA GIZI KURANG DI WILAYAH KERJA


PUSKESMAS CEBONGAN

SKRIPSI

“Untuk memenuhi salah satu syarat ujian guna mencapai Gelar Sarjana Keperawatan”

Oleh :
Lastanto
NIM. ST13045

PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN


STIKES KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2015
ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN
BALITA GIZI KURANG DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS CEBONGAN

SKRIPSI

“Untuk memenuhi salah satu syarat ujian guna mencapai Gelar Sarjana Keperawatan”

Oleh :
Lastanto
NIM. ST13045

PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN


STIKES KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2015

i
ii
iii
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Penulis mengucapkan syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT, atas


segala rahmat, karunia, hidayah serta petunjuk yang telah dilimpahkan-Nya.
Sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “ANALISIS
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN BALITA GIZI
KURANG DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS CEBONGAN” sebagai
salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar kesarjanaan ini dengan lancar.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan dan penulisan skripsi ini,
masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna untuk
memperbaiki dan menyempurnakan penulisan skripsi selanjutnya. Ucapan rasa
terima kasih yang tidak terhingga kepada semua pihak yang telah membantu
penulis dalam penyelesaian penyusunan skripsi ini, sehingga dalam kesempatan
ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada yang
terhormat:
1. Dra. Agnes Sri Harti, M. Si selaku Ketua STIKes Kusuma Husada
Surakarta.
2. Wahyu Rima Agustin, S.Kep.,Ns.,M. Kep, selaku Ketua Program Studi S1
Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta
3. Happy Indri H, S. Kep., Ns., M. Kep.,selaku pembimbing I yang banyak
memberi saran dan petunjuk dalam pembuatan skripsi ini.
4. Anissa Cindy.N.A,S. Kep., Ns., M. Kep., selaku pembimbing II yang
banyak memberi saran dan petunjuk dalam pembuatan skripsi ini.
5. S. Dwi Sulisetyawati S. Kep., Ns., M. Kep, selaku Penguji skripsi yang
telah memberi masukan dan saran.
6. Kepada kedua orang tua penulis, Bapak dan Ibu yang telah mengajarkan
kepada penulis akan arti sebuah perjuangan dalam hidup.

iv
7. Kakak - kakakku yang tersayang. Terima kasih atas dukungan yang telah
kalian berikan dalam lembar kehidupan ini.
8. Kepala Puskesmas Cebongan Kota Salatiga yang telah memberikan ijin
lahan untuk melakukan penelitian.
9. Seluruh Responden di Wilayah Kerja Puskesmas Cebongan yang telah
berpartisipasi dalam penelitian ini.
10. Seluruh rekan - rekan di Puskesmas Cebongan Kota Salatiga yang telah
memberikan dukungan dan kerjasamanya dalam melakukan penelitian.
11. Sahabat seperjuanganku, kelompok V. Semoga kesabaran, ketekukan serta
keyakinan kita tidak sia-sia.
12. Seluruh Dosen dan Staf STIKes Kusuma Husada Surakarta.
13. Seluruh rekan se-angkatan STIKes Kusuma Husada Surakarta.
14. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu. Yang telah
memberikan dukungan baik secara langsung maupun tidak langsung dalam
penyusunan skripsi ini.
Akhir kata penulis berharap semoga dengan doa, dukungan, dan nasehat
yang telah diberikan, dapat bermanfaat bagi penulis untuk menjadi orang yang
lebih baik, dan semoga dengan disusunnya skripsi ini dapat memberikan manfaat
kepada penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.

Wassalamualaikum Wr. Wb.


Surakarta, 27 Juli 2015

Penulis

v
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i

LEMBAR PENGESAHAN ii

SURAT PERNYATAAN iii

KATA PENGANTAR iv

DAFTAR ISI vi

DAFTAR TABEL viii

DAFTAR GAMBAR x

DAFTAR LAMPIRAN xi

Abstrak xii

Abstrak xii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang 1

1.2 Rumusan Masalah 6

1.3 Tujuan Penelitian 6

1.4 Manfaat Penelitian 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Teori 10

2.2 Keaslian Penelitian 24

2.3 Kerangka Teori 31

2.4 Kerangka Konsep 32

2.5 Hipotesis Penelitian 32

vi
BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian 34

3.2 Populasi dan Sampel 35

3.3 Tempat dan Waktu Penelitian 37

3.4 Variabel, Definisi Operasional, dan Skala Pengukuran 37

3.5 Alat Penelitian dan Cara Pengumpula Data 40

3.6 Pengolahan dan Analisa Data 41

3.7 Validitas dan Reliabilitas………………………………...…….…44

3.8 Etika Penelitian 47

BAB IV HASIL PENELITIAN

4.1 Analisis Univariat 48

4.2 Analisis Bivariat 52

BAB V PEMBAHASAN

5.1 Analisis Univariat 57

5.2 Analisis Bivariat 67

BAB VI PENUTUP

6.1 Kesimpulan 82

6.2 Saran 83

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

vii
DAFTAR TABEL

Nomor Tabel Judul Tabel Halaman

2.1. Pengukuran Status Gizi Balita Berdasarkan Z-Score ..................... 12

2.2. Keaslian Penelitian ......................................................................... 24

3.1. Definisi Operasional ........................................................................ 37

3.2. Kisi-kisi Jawaban Tingkat Pengetahuan.......................................... 41

3.3. Uji Kai Kuadrat. .............................................................................. 43

4.1. Distribusi Sampel Berdasarkan Status Pekerjaan ............................ 48

4.2. Distribusi Sampel Berdasarkan Jenis Kelamin................................ 49

4.3. Distribusi Sampel Berdasarkan Umur ............................................. 49

4.4. Distribusi Sampel Berdasarkan Tingkat Pengetahuan .................... 49

4.5. Distribusi Sampel Berdasarkan Tingkat Pendidikan ....................... 50

4.6. Distribusi Sampel Berdasarkan Tingkat Pendapatan ...................... 50

4.7. Distribusi Sampel Berdasarkan Pemberian ASI .............................. 51

4.8. Distribusi Sampel Berdasarkan Pemberian Imunisasi ..................... 51

4.9. Distribusi Sampel Berdasarkan Berat Balita Saat Lahir.................. 51

4.10. Hubungan antara Pengetahuan Ibu Dengan Kejadian Balita

viii
Gizi Kurang di Puskesmas Cebongan Tahun 2015 ........................ 52

4.11. Hubungan Antara Tingkat Pendidikan Ibu Dengan Kejadian

Balita Gizi Kurang di Puskesmas Cebongan Tahun 2015............. 53

4.12. Hubungan Antara Tingkat Pendapatan Keluarga Dengan Kejadian

Balita Gizi Kurang di Puskesmas Cebongan Tahun 2015............... 53

4.13. Hubungan Antara Pemberian ASI Dengan Kejadian Balita Gizi

Kurang di Puskesmas Cebongan Tahun 2015 ................................ 54

4.14. Hubungan Antara Kelengkapan Imunisasi Dengan Kejadian Balita

Gizi Kurang di Puskesmas Cebongan Tahun 2015 ........................ 55

4.15. Hubungan Antara Berat Badan Balita Saat Lahir Dengan Kejadian

Balita Gizi Kurang di Puskesmas Cebongan Tahun 2015 .............. 56

ix
DAFTAR GAMBAR

Nomor Gambar Judul Gambar Halaman

2.1 Kerangka Teori .............................................. 31

2.2 Kerangka Konsep ........................................... 32

3.1 Bagan Desain Korelasi .................................. 34

x
DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Lampiran Judul Lampiran

1 Lembar Permohonan Ijin Studi Pendahuluan

2 Lembar Balasan Ijin Studi Pendahuluan

3 Lembar Permohonan Ijin Validitas

4 Lembar Balasan Ijin Validitas

5 Lembar Permohonan Ijin Penelitian

6 Lembar Balasan Ijin Penelitian

7 Lembar Permohonan Menjadi Responden

8 Lembar Persetujuan Responden

9 Kuesioner

10 Lembar Hasil Uji Validitas

11 Lembar Hasil Uji Reliabilitas

12 Hasil Penelitian

13 Hasil Out put SPSS

14 Foto Penelitian

15 Lembar Konsultasi

16 Jadwal Penelitian

xi
PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN
STIKES KUSUMA HUSADA SURAKARTA
2015

Lastanto

Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian


Balita Gizi Kurang Di Wilayah Kerja
Puskesmas Cebongan

Abstrak

Kekurangan gizi dapat memberikan konsekuensi buruk yang tak


terelakkan, dimana manifestasi terburuk dapat menyebabkan kematian. Tujuan
penelitian ini untuk untuk menganalisis hubungan antara faktor resiko terhadap
kejadian balita gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Cebongan.
Metode penelitian ini adalah analitik observasional dengan desain Cross
Sectional Study. Teknik sampling menggunakan purposive sampling dengan
jumlah sampel sebanyak 30 balita gizi kurang dan 30 balita gizi baik. Teknik
pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner. Teknik analisis data
menggunakan analisis chi square.
Hasil uji statistik dengan menggunakan chi square untuk tingkat
pengetahuan hasil ρ-value (0,021) < 0,05. Tingkat pendidikan ibu dengan hasil ρ-
value (1,000) > 0,05. Tingkat pendapatan keluarga dengan hasil ρ-value (0,010) <
0,05. Pemberian ASI dengan hasil ρ-value (0,038) < 0,05. Kelengkapan imunisasi
dengan hasil ρ-value (-). BBLR dengan hasil ρ-value (0,002) < 0,05.
Kesimpulan penelitian ini adalah Faktor yang mempengaruhi kejadian
balita gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Cebongan adalah tingkat
pengetahuan ibu, tingkat pendapatan keluarga, pemberian ASI, dan BBLR.
Sedangkan tingkat pendidikan ibu dan kelengkapan imunisasi tidak
mempengaruhi secara signifikan terhadap kejadian balita gizi kurang di wilayah
kerja Puskesmas Cebongan.
Bagi tenaga kesehatan diharapkan dapat lebih efektif melakukan
penyuluhan pendidikan kesehatan di posyandu-posyandu kepada ibu hamil dan
ibu yang mempunyai anak balita tentang pemberian asupan gizi.

Kata Kunci : Balita gizi kurang, tingkat pengetahuan ibu, tingkat pendidikan ibu,
tingkat pendapatan keluarga, pemberian ASI, kelengkapan
imunisasi, BBLR.

Daftar Pustaka : 36 (2002-2014)

xii
BACHELOR PROGRAM IN NURSING SCIENCE
KUSUMA HUSADA HEALTH SCIENCE COLLEGE OF SURAKARTA
2015

Lastanto

Analysis of Factors Affecting the Malnutrition Incidence in the Toddlers at


the Working Region of Community Health Center of Cebongan

ABSTRACT

Malnutrition may induce unavoidable bad consequences and even cause


death. The objective of this research is to analyze the correlation between the risk
factors and the malnutrition incidence at the working region of Community Health
Center of Cebongan.
This research used the analytical observational method with the cross-
sectional design. The samples of research consisted of 60 toddlers with
malnutrition and 30 toddlers with a good nutritional status. The data of research
were collected through questionnaire and analyzed by using the Chi-square Test.
The result of the statistical test with the Chi-square test shows that the p-value of
the mothers’ knowledge level was 0.029 which was less than 0.05; the p-value of
the mothers’ education level was 1.000 which was greater than 0.05; the p-value
of the family income was 0.010 which was less than 0.05; the p-value of the
breast milk administration was 0.038 which was less than 0.05; and the p-value of
immunization completeness was absent (-); and the p-value of the newborn low
birth weight was 0.002 which was smaller than 0.05.
The factors which affected the malnutrition incidence in the working
region of Community Health Center of Cebongan were mothers’ knowledge level,
households’ income level, breast milk administration, and infants’ low birth.
Meanwhile, the mothers’ education level and the immunization completeness did
not have a significant effect on the malnutrition incidence at the working region of
Community Health Center of Cebongan.
Thus, health workers are expected to more effectively conduct health
education extensions of nutritional intakes at Integrated Health Posts to
gestational mothers and those with toddlers.

Keywords: toddlers with malnutrition, mothers’ education level, family’s


income level, breast milk administration, immunization
completeness, and newborn low birth weight

References : 36 (2002-2014)

xiii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Balita merupakan kelompok umur yang paling sering menderita

kekurangan gizi dan gizi buruk (Notoatmodjo, 2010). Kebutuhan gizi untuk

anak pada awal masa kehidupannya merupakan hal yang sangat penting.

Kekurangan gizi dapat memberikan konsekuensi buruk yang tak terelakkan,

dimana manifestasi terburuk dapat menyebabkan kematian. Menurut

UNICEF (2013) tercatat ratusan juta anak di dunia menderita kekurangan

gizi yang artinya permasalahan ini terjadi dalam populasi yang jumlahnya

sangat besar.

Rencana pembangunan jangka menengah nasional (RJMN) tahun

2010-2014 menyebutkan bahwa perbaikan status gizi masyarakat

merupakan salah satu prioritas dengan menurunkan prevalensi gizi kurang

menjadi 15% dan prevalensi balita pendek menjadi 32% pada tahun 2014.

Permasalahan gizi juga dimasukan kedalam Millennium Development Goals

(MDGs) dengan tujuan pertama yaitu mengatasi masalah kekurangan gizi,

meningkatkan kesehatan anak dan menekan angka kematian anak dimana

salah satu faktornya disebabkan oleh gizi buruk. Masalah gizi buruk dan

gizi kurang nampaknya belum bisa teratasi dengan baik dalam skala

internasional maupun nasional, tercatat 101 juta anak di dunia dibawah lima

tahun menderita kekurangan gizi (Unicef, 2013).

1
2

Riset Kesehatan Dasar (2013) menunjukan prevalensi berat badan

kurang pada tahun 2013 di Indonesia adalah 19,6 %, terdiri dari 5,7 %

gizi buruk dan 13,9 % gizi kurang. Angka prevalensi secara nasional jika

dibandingkan pada tahun 2007 (18,4 %) dan tahun 2010 (17,9 %) terlihat

meningkat. Perubahan terutama pada prevalensi gizi buruk yaitu dari 5,4

% pada tahun 2007, 4,9 % pada tahun 2010, dan 5,7 % pada tahun 2013.

Hal ini menunjukan bahwa adanya peningkatan jumlah gizi kurang dan

gizi buruk setiap tahunnya dari tahun 2010 hingga 2013 (Litbang Depkes,

2013). Enam belas provinsi di Indonesia menunjukkan prevalensi berat

badan kurang. Nusa Tenggara Barat memiliki presentase prevalensi

tertinggi melebihi 30%, sedangkan prevalansi gizi kurang dan gizi buruk

di Jawa Tengah meningkat dari 15 % pada tahun 2010 menjadi 17,5 %

pada 2013 (UNICEF Indonesia, 2013). Untuk mencapai target sasaran

MDGs pada tahun 2015 harus diturunkan menjadi 15,5 %.

Permasalahan kekurangan gizi mikro seperti kurang vitamin A

(KVA), anemia gizi pada balita, serta kekurangan yodium sudah dapat

dikendalikan, sehingga tidak lagi menjadi masalah kesehatan di

masyarakat (DINKES Prov Jateng, 2013). Tingkat status gizi optimal akan

tercapai apabila kebutuhan zat gizi optimal terpenuhi. Namun demikian,

perlu diketahui bahwa keadaan gizi seseorang dalam suatu masa bukan

saja ditentukan oleh konsumsi zat gizi pada saat itu saja, tetapi lebih

banyak ditentukan oleh konsumsi zat gizi pada masa yang telah lampau,

bahkan jauh sebelum masa itu. Ini berarti bahwa konsumsi zat gizi masa
3

kanak-kanak memberi andil terhadap status gizi setelah dewasa (DINKES

Prov Jateng, 2013).

Banyak faktor yang menjadi penyebab terjadinya angka gizi buruk

dan gizi kurang, antara lain faktor kemiskinan, pendidikan dan

pengetahuan orang tua, pola asuh orang tua, makanan pendamping, infeksi

dan penyakit penyerta seperti HIV/aids, kondisi psikologi anak, keamanan

negara, terbatasnya fasilitas kesehatan, tidak diberikannya ASI ekslusif,

Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR), nutrisi pada masa kehamilan ( Jamra &

Bankar, 2013; Pei, Ren & Yan, 2013; Ghazi, Musta, Isa & Mohhamed,

2011; McDonald, Kupka, Manji, Okuma, Bosch, Aboud, 2012; Kumar &

Singh, 2013).

Dampak kekurangan gizi sangat kompleks, anak dapat mengalami

gangguan pada perkembangan mental, sosial, kognitif dan pertumbuhan

yaitu berupa keidakmatangan fungsi organ, dimana manifestasinya dapat

berupa kekebalan tubuh yang rendah yang menyebabkan kerentanan

terhadap penyakit penyakit seperti infeksi saluran pernafasan, diare,

demam. (Supartini.Y, 2004; Feinstorm, Uauy & Arroyo, 2005; World

Food Progam, 2007). Permasalahan gizi kurang dan gizi buruk merupakan

permasalahan yang multikompleks. Dalam usaha pemutusan rantai

kekurangan gizi ini tentunya dibutuhkan pemetaan yang tepat untuk dapat

mengetahui permasalahan utama yang menyebabkan terjadinya gizi

kurang dan gizi buruk.


4

Setiap daerah tentunya memiliki penyebab potensial gizi buruk

dan gizi kurang yang berbeda-beda, sehingga penting untuk mengetahui

permasalahan utamanya. Pemerintah dalam usahanya memerangi gizi

buruk dan gizi kurang sudah cukup baik. Pemerintah sudah melakukan

banyak progam untuk menekan angka gizi buruk maupun gizi kurang,

antara lain melalui revitalisasi Posyandu dalam meningkatkan cakupan

penimbangan balita, penyuluhan dan pendampingan, Pemberian Makanan

Pendamping ASI (MP-ASI) atau Pemberian Makanan Tambahan (PMT),

peningkatan akses dan pelayanan kesehatan gratis, penanggulangan

penyakit menular dan pemberdayaan masyarakat melalui keluarga sadar

gizi (Kadarzi), tetapi angka gizi kurang dan gizi buruk masih tetap ada

(Kemenkes, 2012).

Puskesmas Cebongan merupakan salah satu Puskesmas yang

berada di daerah cekungan kaki gunung Merbabu, berbatasan dengan

kabupaten Semarang yang terletak di kecamatan Argomulyo, Kota

Salatiga. Puskesmas Cebongan memiliki 3 wilayah kerja yaitu Kelurahan

Cebongan, Kelurahan Ledok, dan Kelurahan Noborejo dengan mayoritas

penduduk bekerja sebagai buruh industri dan latar belakang pendidikan

SD. Adanya fasilitas kesehatan gratis, dan progam pemerintah seperti

pemberian susu gratis, Posyandu, imunisasi, pendidikan kesehatan,

pengobatan gratis, pemberian makanan tambahan (PMT), Makanan

Pendamping ASI (MPASI) seharusnya menjadikan Puskesmas Cebongan

memiliki potensi yang baik untuk menekan ataupun menghilangkan angka


5

kekurangan gizi. Namun kenyataannya, berdasarkan data Puskesmas

Cebongan dari bulan Januari – Juni tahun 2014 masih terdapat anak yang

mengalami kekurangan gizi sejumlah 50 anak yang tersebar di tiga desa

wilayah kerja Puskesmas Cebongan.

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan terhadap 3 orang tua

balita dengan gizi kurang didapatkan data bahwa orang tua balita

mengetahui program yang dilakukan oleh Puskesmas Cebongan seperti:

Pemberian Makanan Tambahan atau Makanan Pendamping ASI (MPASI)

. Orang tua menyatakan bahwa MPASI yang diberikan kepada balita yang

mengalami gizi kurang tidak bisa diberikan 100%, dikarenakan di dalam

keluarganya terdapat anak lebih dari satu, sehingga terjadi ketidakefektifan

pemberian makanan dengan gizi yang seimbang terhadap balita. Kurang

pengetahuan orang tua tentang penerapan MPASI didukung dengan

pengetahuan dan pendidikan yang rendah menyebabkan MPASI yang

merupakan salah satu progam Puskesmas belum tepat sasaran dalam

meningkatkan status gizi anak di Puskesmas Cebongan.

Berdasarkan fenomena yang terjadi maka peneliti tertarik untuk

menganalisis faktor yang mempengaruhi kejadian balita gizi kurang di

Wilayah Kerja Puskesmas Cebongan.


6

1.2. Rumusan Masalah

Angka kekurangan gizi, dalam skala global maupun regional

terjadi dalam populasi yang jumlahnya sangat besar. Penyebab kekurangan

gizi pun sangat kompleks dengan potensial penyebab setiap daerah yang

berbeda-beda, sehingga diperlukan pemetaan yang tepat untuk mengetahui

permasalahan utamanya. Puskesmas Cebongan sebenarnya memiliki

potensi yang baik untuk menuntaskan angka balita gizi kurang melalui

progam-progamnya seperti pembagian makanan pendamping asi,

Posyandu, pemberian makanan tambahan dan progam lainnya, melihat

hal-hal tersebut peneliti tertarik untuk meneliti faktor apa saja yang

berhubungan terhadap kejadian balita gizi kurang di wilayah kerja

Puskesmas Cebongan?

1.3. Tujuan Penelitian

1.3.1. Tujuan Umum

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan

antara faktor resiko dengan kejadian balita gizi kurang di wilayah

kerja Puskesmas Cebongan.

1.3.2. Tujuan Khusus

1. Mengetahui karakteristik responden.


7

2. Mengetahui gambaran tentang tingkat pengetahuan ibu, tingkat

pendidikan, pendapatan, kelengkapan imunisasi, pemberian asi

eksklusif dan berat bayi saat lahir terhadap kejadian balita gizi

kurang.

3. Menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan ibu

dengan kejadian balita gizi kurang.

4. Menganalisis hubungan antara tingkat pendidikan ibu dengan

kejadian balita gizi kurang.

5. Menganalisis hubungan antara tingkat pendapatan keluarga

dengan kejadian balita gizi kurang.

6. Menganalisis hubungan antara berat bayi saat lahir dengan

kejadian balita gizi kurang.

7. Menganalisis hubungan antara kelengkapan imunisasi dengan

kejadian balita gizi kurang.

8. Menganalisis hubungan antara pemberian ASI eksklusif

dengan kejadian balita gizi kurang.

1.4. Manfaat

1.4.1. Manfaat Bagi Masyarakat

1) Dapat menambah pengetahuan masyarakat tentang gizi kurang.

2) Dapat menambah pengetahuan masyarakat tentang faktor yang

mempengaruhi kejadian balita gizi kurang.


8

1.4.2. Bagi Puskesmas

1) Dapat mengetahui hubungan faktor resiko yang mempengaruhi

kejadian balita gizi kurang di wilayah kerja puskesmas

cebongan.

2) Sebagai bahan acuan dan evaluasi untuk melakukan intervensi

yang lebih baik lagi dalam meningkatkan status gizi balita

melalui program – programnya.

1.4.3. Manfaat Bagi Institusi Pendidikan

1) Memberikan informasi tentang faktor yang mempengaruhi

kejadian balita gizi kurang.

2) Dapat menjadi bahan kajian pengembangan penelitian tentang

gizi kurang.

3) Dapat menjadi referensi dan bahan pembelajaran tentang gizi

kurang.

1.4.4. Manfaat Bagi Peneliti lain

1) Memotivasi peneliti lain untuk mengembangkan penelitian

tentang faktor yang mempengaruhi balita gizi kurang.

2) Memberikan referensi penelitian tentang gizi bagi peneliti lain.


9

1.4.5. Manfaat Bagi Peneliti

1) Menyumbangankan ilmu pengetahuan sebagai bahan atau

referensi pembelajaran mengenai gizi kurang.

2) Dapat mengetahui hubungan antara faktor resiko yang

mempengaruhi kejadian balita gizi kurang di Wilayah Kerja

Puskesmas Cebongan.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Teori

2.1.1. Balita

Bawah lima tahun (Balita) didefinisikan sebagai anak di

bawah lima tahun dan merupakan periode usia setelah bayi dengan

rentang 0-5 tahun (Gibney, 2009). Anak balita adalah anak yang

telah menginjak usia di atas satu tahun atau lebih popular dengan

pengertian usia anak di bawah lima tahun (Muaris, 2006). Menurut

Sutomo dan Anggraeni (2010), balita adalah istilah umum bagi

anak usia 1-3 tahun (batita) dan anak prasekolah (3-5tahun).

2.1.2. Gizi Kurang

Gizi kurang merupakan kondisi dimana seseorang tidak

memiliki nutrien yang dibutuhkan tubuh akibat kesalahan atau

kekurangan asupan makanan. Secara sederhana kondisi ini terjadi

akibat kekurangan zat gizi secara terus menerus dan menumpuk

dalam derajat ketidakseimbangan yang absolute dan bersifat

immaterial. Ketidakseimbangan tersebut menyebabkan terjadinya

defisiensi atau defisit energi dan protein dan sering disebut dengan

KKP (kekurangan Kalori Protein). Dalam standar yang ditetapkan

10
11

oleh Pemerintah, balita gizi kurang apabila indeks berat badan

menurut umur (BB/U) –3 s/d <-2 SD (Wong, 2008; Departemen

Gizi dan Kesehatan Msyarakat, 2007).

2.1.3. Definisi Status Gizi dan Cara Pengukurannya

Status gizi merupakan gambaran kesehatan sebagai refleksi

penggunaan konsumsi pangan yang dikonsumsi oleh seseorang

dan penggunaannya oleh tubuh (Jonny, 2005; Sunarti,

2004).Penilaian status gizi balita dengan standar nasional yang di

terbitkan oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia hanya

menggunakan pengukuran antropometri (penilaian gizi secara

langsung) yaitu berdasarkan BB/U (berat badan/umur) dengan

klasifikasi gizi kurang, gizi buruk, gizi baik, gizi lebih.

Berdasarkan TB/U (tinggi badan/umur) diklasifikasikan menjadi

sangat pendek, pendek, normal, tinggi, dan berdasarkan BB/TB

(berat badan/tinggi badan) dengan klasifikasi sangat kurus, kurus,

gemuk (DEPKES RI, 2011). Pengukuran langsung selain

antropometri adalah pengukuran secara klinis, biokimia, dan

biofisik. Sedangkan pengukuran secara tidak langsung adalah

dengan survei konsumsi makanan dan statistik vital (Supariasa,

Bakhri & Fajar, 2013).


12

Tabel 2.1
Pengukuran Status Gizi Balita Berdasarkan Z- Score

Batas
Sebutan Status Gizi
Pengelompokan

BB/U < -3 SD Gizi buruk

- 3 s/d <-2 SD Gizi kurang

- 2 s/d +2 SD Gizi baik

> +2 SD Gizi lebih

TB/U < -3 SD Sangat Pendek

- 3 s/d <-2 SD Pendek

- 2 s/d +2 SD Normal

> +2 SD Tinggi

BB/TB < -3 SD Sangat Kurus

- 3 s/d <-2 SD Kurus

- 2 s/d +2 SD Normal

> +2 SD Gemuk

Sumber : DEPKES RI, 2012

2.1.4. Faktor Resiko Gizi Buruk dan Kurang

Penyebab gizi Penyebab gizi buruk secara mendasar terdiri

dari dua hal yakni sumber daya potensial dan sumber daya

manusia. Sumber daya potensial seperti politik, ideology,

suprastruktur, struktur ekonomi dan sumber daya manusia seperti


13

pengawasan, ekonomi, pendidikan/pengetahuan dan penyakit

(Priharsiwi, dkk.,2006).

Sumber lain menjelaskan beberapa penyebab gizi kurang

dan buruk adalah asupan makanan, penyakit penyerta, infeksi,

sosial ekonomi, pendidikan, persediaan makanan, perawatan anak

dan kesehatan ibu pada masa kehamilan (Supariasa, dkk, 2013) :

a. Asupan makanan

Kondisi gizi seseorang dipengaruhi oleh masuknya zat

makanan dan kemampuan tubuh manusia untuk menggunakan

zat makanan tersebut. Sedangkan masuknya zat makanan

kedalam tubuh manusia ditentukan oleh perilaku berupa sikap

seseorang memilih makanan, daya seseorang dalam

memperoleh makanan dan persediaan makanan yang ada.

Kemampuan tubuh untuk menggunakan zat makanan

ditentukan oleh kesehatan tubuh orang atau manusia yang

bersangkutan (Wise, dkk,. 2004).

Jansen (2013) melakukan penelitian di Belanda dengan

melibatkan 4987 partisipan anak. Peneliti menggunakan

metode Cross-Sectional study dengan menggunakan

instrument penelitian berupa kuisioner, kuisioner berisi tentang

jenis makanan apa yang disukai anak, tingkat kekenyangan

anak, pola minum anak, pengawasan orang tua, pembatasan


14

makanan oleh orang tua, nafsu makan anak dan jenis makanan.

Hasil yang diperoleh adalah bahwa pola asuh, perilaku makan

anak, dan praktek pemberian makan orang tua sangat

mempengaruhi status gizi anak.

b. Status sosial ekonomi

Salah satu faktor yang mempengaruhi rantai tak

terputus gizi buruk adalah status ekonomi yang buruk, secara

langsung ataupun tidak keadaan financial mempengaruhi

kemampuan seseorang untuk memperoleh kelayakan pangan

dan fasilitas untuk menunjang kesehatannya (Gibney, dkk,

2009).

Saputra dan Nurizka (2012) melakukan penelitian di

Sumatra Barat dengan jumlah sampel sebanyak 572 yang

merefleksikan situasi rumah tangga di Sumatera Barat yang

bercirikan masyarakat nelayan, masyarakat pertanian dan

perkebunan, dan masyarakat perkotaan. Penarikan sampel

dilakukan secara sitematical random sampling. Hasil penelitian

tersebut menunjukan bahwa terjadi prevalensi gizi buruk

sekitar 17,6 persen dan gizi kurang sekitar 14 persen, dengan

faktor penyebab kemiskinan dan tingkat pendidikan orang tua

yang merupakan faktor utama penyebab balita menderita gizi

buruk dan gizi kurang.


15

Perbedaan pelayanan kesehatan dan fasilitas kesehatan

antara orang miskin dengan orang tidak miskin juga sangat

mempengaruhi kesehatan dan gizi anak. Berdasarkan

penelitian Singhn dan Kumar (2013) di India kesenjangan

yang terjadi antara orang miskin dan kaya mempengaruhi

pelayanan kesehatan yang diberikan dan hal ini secara

langsung ataupun tidak langsung dan secara bertahap

menyebabkan terjadinya gizi buruk.

c. Pendidikan ibu

Tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap status

kesehatan, dalam hal ini gizi buruk dan gizi kurang karena

orang yang memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi cenderung

lebih berpeluang terpapar informasi kesehatan dan tingkat

pemahaman mengenai informasi kesehatan juga lebih baik

(Ismail, dkk. 2007).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Jamra dan

Banwar (2013) di salah satu daerah perkumuhan di India,

dengan melibatkan 281 partisipan menunjukan hasil 22,1%

anak menderita kekurangan gizi yang disebabkan oleh

berbagai faktor status sosial ekonomi seperti kemiskinan dan

berlakunya sistem kasta, pengetahuan/pendidikan orang tua

yang rendah, urutan kelahiran, dan kelengkapan imunisasi.

Setelah memperoleh data mengenai status gizi anak di wilayah


16

tersebut peneliti melakukan intervensi dengan memberikan

pendidikan kesehatan selama enam bulan dan diperoleh hasil

41 anak mengalami kenaikan berat badan. Hal ini menunjukan

bahwa pendidikan untuk meningkatkan pengetahuan orang tua

sangat memiliki pengaruh yang signifikan untuk meningkatkan

status gizi anak.

d. Penyakit penyerta dan infeksi

Antara status gizi kurang atau status gizi buruk dan

infeksi atau penyakit penyerta terdapat interaksi bolak-balik

yang dapat menyebabakan gizi kurang dan gizi buruk melalui

berbagai mekanisme fisiologis dan biologis. Yang terpenting

ialah efek langsung dari infeksi sistemik pada katabolisme

jaringan. Walaupun hanya terjadi infeksi ringan sudah dapat

mempengruhi status gizi (Suhardjo ,2005).

e. Pengetahuan ibu

Tingkat pengetahuan yang rendah dapat menyebabkan

kesalahan dalam pemahaman , kebenaran yang tidak lengkap

dan tidak terstruktur dimana manifestasinya berupa kesalahan

manusia atau individu dalam melakukan praktek kehidupannya

karena dilandasi pengetahuan yang salah. Pengetahuan yang

salah, dalam hal ini mengenai kesehatan tentunya juga akan

mempengaruhi perilaku dan kualitas kesehatan orang tersebut

(Watloly, 2002).
17

Pengetahuan berkaitan erat dengan tingkat pemahaman

seseorang tentang suatu hal dalam hal ini adalah mengenai

kesehatan. Berdasarkan Riskesdas tahun 2010, sebagian besar

rumah tangga di Indonesia masih menggunakan air yang tidak

bersih (45 %) dan sarana pembuangan kotoran yang tidak

aman (49 %) hal ini berkaitan dengan tingkat pengetahuan dan

kesadaran yang rendah dari masyarakat. Minimal satu dari

setiap empat rumah tangga dalam dua kuintil termiskin masih

melakukan buang air besar di tempat terbuka.Perilaku tersebut

berhubungan dengan penyakit diare, yang selanjutnya

berkontribusi terhadap gizi kurang. Diare merupakan salah

satu penyebab kematian yang berkontribusi besar di Indonesia

tercatat 31 persen anak usia 1 sampai 11 bulan meninggal

akibat diare dan 25 persen kematian pada anak-anak antara

usia satu sampai empat tahun (UNICEF Indonesia 2012).

Menurut Notoatmojo, 2007 membagi kategori

pengetahuan menjadi 3 tingkatan:

1. Pengetahuan rendah, jika skor < 56%

2. Pengetahuan sedang, jika skor 56-75%

3. Pengetahuan rendah, jika skor >75%


18

f. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)

Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi yang

ketika dilahirkan mempunyai berat badan kurang dari 2500

gram. Berat lahir yang rendah disebabkan oleh kelahiran

premature atau retardasi pertumbuhan intrauteri. Bayi

prematur mempunyai organ dan alat tubuh yang belum

berfungsi normal untuk bertahan hidup di luar rahim sehingga

semakin muda umur kehamilan, fungsi organ menjadi

semakin kurang berfungsi dan prognosanya juga semakin

kurang baik. Kelompok BBLR sering mendapatkan komplikasi

akibat kurang matangnya organ karena kelahiran prematur

(Wong, dkk,. 2008).

Multikompleksitas penyebab gizi buruk memiliki

keterikatan antara BBLR, penyakit penyerta dan infeksi.

Mcdonald, dkk., (2012) dengan metode multivariate

didapatkan hasil bahwa ada hubungan antara infeksi, penyakit

seperti HIV aids, bayi prematur, dan BBLR dengan status gizi

anak.

g. Kelengkapan Imunisasi

Imunisasi adalah pemberian vaksin (bibit penyakit

menular yang telah dilemahkan atau dimatikan) kepada bayi

atau anak-anak, vaksin ini pada awalnya berasal dari penyakit

menular yang menyebabkan kecacatan atau kematian yang


19

telah dimatikan.Dengan pemberian vaksin, tubuh bayi atau

anak akan membentuk antibody, sehingga tubuh bayi atau

anak telah siap (telah kebal) bila terinfeksi oleh penyakit

menular tersebut. Dengan kata lain terhindarnya bayi atau anak

dari berbagai penyakit dapat memperbaiki status gizi anak

tersebut (Wise, 2004).

Sedangkan Pei dkk., (2012) melakukan penelitian pada

suatu daerah pedesaan di China dengan sampel sebanyak

13.532 anak di 45 kabupaten dan menunjukan hasil bahwa ada

pengaruh yang siginifikan antara gizi anak dengan

kelengkapan imunisasi, pemberian ASI, kemiskinan, etnis

minoritas dan pendidikan orang tua.

h. Air Susu Ibu (ASI)

Wanita menyusui mempunyai air susu yang bersifat

spesifik, sesuai dengan kebutuhan laju pertumbuhan dan

kebiasaan menyusui bayinya yang tidak bisa didapatkan dari

susu atau sumber lainya (Wise, 2004). Pemberian ASI ekslusif

merupakan salah satu cara efektif yang dapat dilakukan untuk

mencegah terjadinya kekurangan gizi dan kematian pada bayi,

pemberian ASI ekslusif dapat memberikan manfaat bagi ibu

maupun bayinya, dengan pemberian ASI ekslusif dapat

memberikan kekebalan bagi bayi dan secara emotional


20

kedekatan ibu dan anaknya akan semakin terjalin dengan baik

(Kahleen, 2009).

ASI merupakan hal yang sangat penting dalam

pemenuhan nutrisi anak. Tidak ada sumber nutrisi lain yang

lebih baik dari ASI. Hassiotao dkk.,(2013) dalam penelitiannya

menyimpulkan bahwa ASI adalah komponen nutrisi yang

penting bagi bayi karena dapat memberikan kekebalan atau

anti body sehingga anak dapat terhindar dari infeksi, hal ini

dapat mempengaruhi dalam pemenuhan zat gizi anak. Dalam

penelitian lainnya, hanya 14% ibu di Indonesia yang

memberikan ASI eksklusif kepada bayinya sampai enam

bulan. Rata-rata bayi di Indonesia hanya menerima ASI

eksklusif kurang dari dua bulan. Hasil yang dikeluarkan Survei

Demografi dan Kesehatan Indonesia cukup memprihatinkan

yaitu bayi yang mendapatkan ASI eksklusif sangat rendah.

Sebanyak 86% bayi mendapatkan makanan berupa susu

formula, makanan padat, atau campuran antara ASI dan susu

formula(Kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan dan

Perlindungan Anak, 2008).

i. Keamanan Lingkungan

Lingkungan yang aman juga merupakan salah satu

faktor yang dapat mempengaruhi status gizi anak. Hal ini

ditunjukan berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ghazi,


21

dkk., (2013) dari hasil penelitian yang dilakukan dengan

sampel sejumlah 220 anak berusia 3 sampai 5 tahun

menunjukan bahwa daerah konflik memiliki pengaruh yang

siginifikan terhadap status gizi anak. Hal yang cukup menarik

adalah di daerah tersebut tidak ada hubungan yang bermakna

antara pendidikan orang tua dengan gizi anak.

j. Kebudayaan

Kebudayaan juga merupakan salah satu faktor yang menjadi

penyebab terjadinya angka gizi buruk. Evans, dkk., (2011)

dalam penelitiannya dengan menggunakan total sample 721

orang tua dengan anak berusia 1-5 tahun di bagian selatan

Amerika Serikat. Dengan menggunakan cross-sectional study

menemukan bahwa ada perbedaan cara pemberian makan dan

pemilihan jenis makanan pada etnis dan ras tertentu. Praktek

pemberian makanan dapat menentukan pola perilaku anak

dalam makan, terutama bagi anak untuk dapat memiliki isyarat

lapar yang normal.

Dari hasil penelitian-penelitian tersebut dapat dilihat bahwa

gizi buruk dan gizi kurang merupakan permasalahan yang

multikompleks dan memiliki kesinambungan antar faktor

penyebab. Berdasarkan metode cross-sectional study maupun

multivariate yang digunakan dalam penelitian tersebut

menunjukan bahwa faktor kemiskinan, pendidikan dan


22

pengetahuan orang tua, makanan pendamping, kebudayaan,

infeksi dan penyakit penyerta seperti HIV aids, kondisi

psikologi anak, keamanan negara, terbatasnya fasilitas

kesehatan, BBLR dan nutrisi pada masa kehamilan

berpengaruh dan memiliki hubungan yang bermakna dengan

gizi buruk dan gizi kurang. Dari hasil penelitian juga

menunjukan bahwa faktor ekonomi, pendidikan, dan

pengetahuan yang selama ini menjadi salah faktor utama

penyebab gizi buruk dan gizi kurang tidak dapat diberlakukan

secara universal terhadap seluruh wilayah dan lapisan

masyarakat yang ada.

2.1.5. Dampak Kekurangan Gizi

Dampak kekurangan gizi sangatlah kompleks. Pada anak,

hal ini dapat menyebabkan gangguan pada perkembangan mental,

sosial, kognitif ,pertumbuhan dan keluarga.

1. Perkembangan mental dan Kognitif

Anak dapat mengalami gangguan pada perkembangan

mental sejak dalam kandungan ataupun setelah kelahiran

akibat kekurangan nutrisi yang dibutuhkan otak untuk dapat

bekerja dengan baik. Kekurangan gizi yang parah dapat

menghambat perkembangan anak pada fase oral hingga fase

laten. Untuk gangguan kognitif anak dapat mengalami

penurunan IQ.
23

2. Perkembangan sosial

Kekurangan gizi dapat membatasi aktivitas anak untuk

dapat bermain dengan teman sebaya, sehingga secara langsung

ataupun tidak akan mempengaruhi interaksi sosial anak

tersebut.

3. Gangguan pertumbuhan

Yaitu berupa keidakmatangan fungsi organ dimana

manifestasinya dapat berupa kekebalan tubuh yang rendah

yang menyebabkan kerentanan terhadap penyakit penyakit

seperti infeksi saluran pernafasan, diare, demam dan lain-lain,

dengan bentuk terparah menyebabkan marasmus, kwashiokor,

marasmik-kwashiokor dan kematian.

4. Keluarga

Pada keluarga, bentuk terparah akibat kekurangan gizi

dapat mengambat produktivitas keluarga dalam mencukupi

kebutuhan keluarga, bentuk perhatian akan terfokus pada

perawatan anak sakit akibat kekurangan gizi dan hal itu dapat

mengganggu keseimbangan pemenuhan kebutuhan keluarga.

(Supartini, 2004; Feinstorm, Uauy & Arroyo. 2001; World

Food Progam of UK, 2007).


24

2.2. Keaslian Penelitian

Beberapa penelitian yang terkait dengan penelitian yang akan diteliti

yaitu :

Tabel 2.2 Keaslian Penelitian

No Peneliti / Variabel/Tujuan Metode/Sampel Hasil


Judul Penelitian
Penelitian

1. Vishal Jamra, Untuk Dengan Hasil 22,1%


Vishal mengetauhi menggunakan anak
Bankwar faktor-faktor cross sectional kekurangan
penyebab gizi study dan case gizi
Effect of short buruk pada control, di daerah disebabkan
term daerah perkumuhan di oleh Berbagai
community perkumuhan dan India selama 6 faktor seperti
based untuk bulan. Penilaian usia anak, jenis
intervention mengetahui status gizi kelamin, status
to reduce the pengaruh dilakukan dari sosial
intervensi rumah ke rumah / ekonomi,
prevalenceof pendidikan door to door utk pendidikan
under jangka pendek. untuk mengetahui orang tua,
nutrition in penyebab gizi urutan
under-five (India) buruk. kelahiran,
children. imunisasi.
Sampel: 281 anak
2013

2. Leilei pei, lin Untuk Dengan Menunjukkan


ren, hong yan mengetahui menggunakan bahwa ada
faktor penyebab cross-sectional hubungan/peng
A survey of terjadinya gizi study, dengan aruh yang
undernutritio buruk pada sampel anak signifikan
n in children daerah pedesaan berusia dibawah 3 antara usia
under three di china tahun dengan anak-anak,
years of age jenis kelamin,
25

No Peneliti / Variabel/Tujuan Metode/Sampel Hasil


Judul Penelitian
Penelitian

In rural jumlah sample etnis, ASI


13.532 anak dari yang
Western 45 kabupaten. diberikan,
China pendidikan
2013 ibu, dan
ekonomi.

3. Hasanain Untuk Cross-sectional Terdapat


Faisal mengetahui design hubungan
Ghazi,Jamsia pengaruh socio- antara socio-
h Musta, demografi Dengan sample demografi
Syed Aljunid, terhadap nutrisi 220 anak umur 3- dengan status
Zaleha Md. anak. 5 tahun nutrisi anak,
Isa, penemuan lain
Mohammed yang
A. (Baghdad , irak) ditemukan
adalah ada
Malnutrition hubungan
among 3 to 5 bermakna
Years antara
Old Children keamanan
in lingkungan
dengan status
Baghdad nutrisi anak.
City, Iraq: A
Cross-
sectional
Study

2011

4. Alexandra Tujuan dari Cros-sectional Dorongan


Evans, penelitian ini study, dengan makan oleh
Jennifer adalah untuk total sample 721 orang tua,
Greenberg, menguji orang tua dengan pemilihan jenis
Seth,Shanna perbedaan anak berusia 1-5 makanan dan
Smith, Karol dalam praktik tahun. adanya
26

No Peneliti / Variabel/Tujuan Metode/Sampel Hasil


Judul Penelitian
Penelitian

Kaye Harris, pemberian perbedaan


Jennifer makan orang tua budaya sangat
Loyo,Carol menurut ethnic- berpengaruh
Spaulding ity/race, terhadap pola
Mary Van pendapatan pemberian
Eck, Nell rumah tangga, makan anak.
Gottlieb tingkat Pola
pendidikan pemberian
Parental orang tua, dan makan anak
Feeding partisipasi oleh orang tua
Practices and dalam Program juga penyebab
Concerns Nutrisi terjadinya
Related to Tambahan malnutrisi.
Child Khusus untuk
Wanita, Bayi,
Underweig dan Anak
Program (WIC)
ht, Picky
di antara
Eating, and
orang tua yang
Using Food
tinggal di negara
to Calm
bagian selatan di
Differ
Amerika Serikat
According to
Ethnicity/Rac
e,
Acculturation
, and Income

2011

5. CM Tujuan dari Multivariat Cox Jenis kelamin


McDonald, R penelitian ini metode laki-laki,
Kupka, KP adalah untuk proportional kelahiran
Manji, J mengidentifikasi hazards premature, dan
Okuma, RJ kehamilan ibu digunakan untuk HIV aids
Bosch, S dgn HIV, menilai hubungan sangat
27

No Peneliti / Variabel/Tujuan Metode/Sampel Hasil


Judul Penelitian
Penelitian

Aboud prediktor sosial antara penyebab berpengaruh


Predictors of ekonomi dan potensial stunting, secara
stunting, anak pendek, wasting dan signifikan
wasting and kurus dan pada underweight terhadap gizi
underweight anak-anak buruk.
among Tanzania yang
Tanzanian terlahir dg
terinfeksi HIV .
Children
born to HIV-
infected
women Tanzania

2012

6. Abhishek Penelitian ini Data cross- Menunjukan


Kumar, bertujuan untuk sectional dari bahwa terjadi
Aditya Singh menjelaskan putaran ketiga kesenjangan
bagaimana gap Survei Kesehatan yang
Decomposing antara Keluarga menyebabkan
the Gap in kemiskinan dan Nasional perbedaan
Childhood ketidakmiskinan dilakukan selama secara
Undernutritio berkontribusi 2005-2006. signifikan
n between terhadap gizi terhadap status
Poor and anak. (India) Statistik deskriptif gizi, indikator
digunakan untuk tersebut antara
Non–Poor in memahami
Urban India, lain pelayanan
kesenjangan gizi Kesehatan,
2013 anak antara kemiskinan
masyarakat yang juga
miskin perkotaan berkontribusi
dan non-miskin,. pada
Teknik pendidikan.
dekomposisi
Blinder-Oaxaca
digunakan untuk
28

No Peneliti / Variabel/Tujuan Metode/Sampel Hasil


Judul Penelitian
Penelitian

menjelaskan
faktor-faktor
berkontribusi
terhadap
kesenjangan gizi
antara anak-anak
miskin dan non-
miskin di
perkotaan India.

7. Wiko Pengaruh Sosio- Kajian ini Masih banyak


Saputra*, demografi mengunakan data anak balita
Rahmah Hida terhadap risiko melalui studi yang memiliki
Nurrizka anak balita lapangan yang gizi buruk di
menderita gizi dilaksanakan pada Sumatera
Faktor Sosial- buruk di tiga tahun 2010 pada Barat dimana
Demografi komunitas di tiga Komunitas prevalensi gizi
yang Sumatera Barat. di Sumatera buruk sekitar
Barat. Jumlah
Sumatera Barat sampel ditetapkan 17,6 persen.
yang merupakan sebanyak 572 Kemiskinan
provinsi basis yang akan dan tingkat
pangan di merefleksikan pendidikan
kawasan situasi rumah orang tua
sumatera tangga di merupakan
seharusnya Sumatera Barat faktor utama
merupakan penyebab
daerah yang yang bercirikan balita
memiliki masyarakat menderita gizi
prevalensi nelayan, buruk dan gizi
masyarakat kurang.
penderita gizi pertanian dan
buruk yang lebih perkebunan, dan
rendah. masyarakat
(Sumatra) perkotaan.
29

No Peneliti / Variabel/Tujuan Metode/Sampel Hasil


Judul Penelitian
Penelitian

Penarikan

sampel dilakukan
secara
systematical
random sampling

8. Pauline W Penelitian ini Menggunakan Menunjukan


Jansen, bertujuan untuk cross-sectional bahwa praktek
Sabine J mengetahui study dengan pemberian
Roza, hubungan menggunakan makan orang
Vincent WV perilaku makan quisioner tentang tua dan pola /
Jaddo, anak dan kebiasaan makan perilaku
Joreintje D praktek anak dan praktek makan anak
Mackenba-ch, pemberiaan pemberian makan berkaitan erat
Hein makanan orang orang tua di dengan berat
Raat,Albert tua terhadap Belanda dengan badan anak ,
Hofma, Frank permasalahan participant terdapat pula
C Verhulst berat badan anak sejumlah 4987. perbedaan
and (Belanda). pola makan
Lalu diukur anak dengan
Henning secara objektif underweight
Tiemeier dengan BMI dan overweight
Children's (body massa
eating index)
behavior,
feeding
practices of

parents and
weight
problems in
early
childhood:

results from
the
30

No Peneliti / Variabel/Tujuan Metode/Sampel Hasil


Judul Penelitian
Penelitian

population-

based
Generation R

Study

2012
31

2.3. Kerangka Teori

Faktor Dampak

● Pendidikan ibu ● Penurunan IQ

● Pemberian ASI ekslusif ● Kerentanan terhadap


penyakit (diare, demam,
● Pengetahuan ibu ISPA. dll.)

● Kemiskinan / Pendapatan ● Ketdakmatangan fungsi


rendah organ

● Pola asuh ● Gangguan sosial

● Berat bayi saat lahir rendah ● Kwashiorkor

● Nutrisi masa Kehamilan ● Marasmus

● Praktek Pemberian Makan Gizi Kurang ● Marasmik-kwashiorkor

● Keamanan lingkungan ● Edema

● Kondisi psikologi anak ● Tubuh Kurus

●Penyakit penyerta ● Kematian

● Keterbatasan fasiltas ● Gangguan Pertumbuhan


kesehatan dan perkembangan

● Kebudayaan Bagi keluarga :

● Kelengkapan Imunisasi ● Stigma negatif dari


masyarakat
● Perbedaan pelayanan
kesehatan ● menciptakan kualitas
SDM keluarga yang rendah
● Sanitasi dan higenitas
● menghambat produktivitas
keluarga

Gambar 2.1 Kerangka Teori

Sumber : Jamra & Bankar, 2013; Pei, Ren & Yan, 2013; Ghazi, Musta, Isa &
Mohhamed, 2011; McDonald, Kupka, Manji, Okuma, Bosch, & Aboud, 2012;
Kumar & Singh, 2013;Supartini, 2004; Supariasa, 2013; Feinstorm, Uauy, &
Arroyo. 2001; World Food Progam of UK, 2007.
32

2.4 Kerangka Konsep

Pengetahuan Ibu

Pendidikan Ibu

Pendapatan
Gizi Kurang

Kelengkapan
Imunisasi

Pemberian ASI
Ekslusif

BBLR

Gambar 2.2 Kerangka Konseptual

2.5. Hipotesis Penelitian

Hipotesis pada penelitian ini adalah:

Ho1 : Tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu terhadap kejadian

balita gizi kurang.

Ho2 : Tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan ibu terhadap kejadian

balita gizi kurang.


33

Ho3 : Tidak ada hubungan antara tingkat pendapatan terhadap kejadian balita

gizi kurang.

Ho4 : Tidak ada hubungan antara kelengkapan imunisasi terhadap kejadian

balita gizi kurang.

Ho5 : Tidak ada hubungan antara tingkat pemberian asi eksklusif terhadap

kejadian balita gizi kurang.

Ho6 : Tidak ada hubungan antara bayi berat lahir rendah terhadap kejadian

balita gizi kurang.

Ha1 : Ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu terhadap kejadian balita

gizi kurang.

Ha2 : Ada hubungan antara tingkat pendidikan ibu terhadap kejadian balita

gizi kurang.

Ha3 : Ada hubungan antara tingkat pendapatan terhadap kejadian balita gizi

kurang.

Ha4 : Ada hubungan antara kelengkapan imunisasi terhadap kejadian balita

gizi kurang.

Ha5 : Ada hubungan antara tingkat pemberian asi eksklusif terhadap kejadian

balita gizi kurang.

Ha6 : Ada hubungan antara bayi berat lahir rendah terhadap kejadian balita

gizi kurang.
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis dan Rancangan Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik observasional dengan

desain Cross Sectional Study atau penelitian dengan pengambilan data satu

waktu. Penelitian kuantitatif yaitu penelitian yang dimaksudkan untuk

mendeskripsikan hasil analisis berdasarkan permasalahan yang diteliti dalam

area populasi yang sudah ditentukan sehingga hasil yang ditemukan dapat

mengetahui hubungan antara kejadian balita gizi kurang dengan faktor-

faktor resiko (Dharma, 2011). Rancangan penelitian ini dapat dilihat melalui

skema dibawah ini memiliki makna dari sebuah pendeskripsian tersebut.

Faktor Resiko (+)

Efek (+) Efek (-)

Faktor Resiko (-)

Efek (+) Efek (-)

Gambar 3.1 Bagan Desain Korelasi

34
35

Keterangan :

Faktor Resiko : Variabel Independen

Efek (+) dan (-) : Variabel dependen

3.2 Populasi, Sampel dan Tehnik Sampling

3.2.1 Populasi

Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian yang akan

diteliti. (Notoatmodjo, 2010). Populasi pada penelitian ini adalah 70

balita di Pustu Noborejo yang merupakam wilayah kerja Puskesmas

Cebongan. Berdasarkan data bulan Juli – Desember 2014.

3.2.2 Sampel

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti

(Notoatmojo, 2010). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini

adalah 60 balita yang terdiri dari 30 balita gizi kurang dan 30 balita

gizi baik di Wilayah Kerja Puskesmas Cebongan.

3.2.3 Tehnik Sampling

Sampel penelitian ditentukan dengan model purposive

sampling, yaitu menetapkan sampel dengan berdasarkan

pertimbangan tertentu. Menurut Notoatmojo (2010) untuk populasi


36

kecil lebih kecil dari 10.000 dapat menggunakan formula yang lebih

sederhana sebagai berikut:

N
n=
1 + N (d 2 )

Keterangan :

N: Besar pupulasi = 70 balita

n : besarnya sampel

d 2 : Tingkat kepercayaan/ketetapan yang diinginkan = 0,05.

70 70
n= 2
= = 59,57 dibulatkan menjadi 60
1 + 70(0,05 ) 1,175

Berdasarkan penghitungan tersebut maka jumlah sampel

adalah 60 balita yang terdiri dari 30 balita dengan gizi kurang dan

30 balita dengan gizi baik. Dengan kriteria inklusi sebagai berikut:

1. Orang tua yang memiliki balita Gizi Kurang

2. Orang tua yang memiliki balita Gizi Baik

3. Balita yang berumur diatas 12 Bulan

4. Orang tua yang bersedia menjadi responden

Kriteria eksklusi adalah anggota populasi yang tidak dapat

dijadikan sebagai sampel. Kriteria eksklusi dalam penelitian ini

sebagai berikut :

1. Orang tua yang tidak pernah sekolah


37

2. Balita yang dalam keadaan sakit saat dilakukan

penelitian

3. Orang tua yang tidak bekerja

3.3 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Cebongan.

Waktu penelitian bulan September 2014 sampai dengan Mei 2015.

3.4 Variabel Penelitian, Definisi Operasional, dan Skala Pengukuran

Tabel 3.1 Definisi Operasional


No Variabel Definisi Alat Ukur Parameter/ Skala
Operasional Indikator Ukur
Penilaian
1 Status Gizi Keadaan tubuh Catatan 1 : Gizi kurang Skala
balita yang medis di (-3SD sampai Ordinal
dinilai puskesmas ‹-2SD)
menggunakan
indeks 2 : Gizi baik (-
antropometri 2SD sampai
berat badan 2SD)
menurut umur.

2. Pengetahu-an Seberapa Kuisioner Hasil pengukuran Skala


Ibu mengerti dan dengan tersebut Ordinal
seberapa banyak pertanyaan menggunakan
dan benar orang mengenai parameter untuk
tua balita terpapar pengetahu- data berdistribusi
informasi dan an Ibu tidak normal
mengetahui tentang gizi, pengelompokan
tentang hal-hal jumlah soal berdasarkan nilai
berkaitan dengan 27 median yaitu:
gizi kurang dn Pernyataan 1. Tinggi x ≥
gizi buruk dan Negatif Median
hal-hal apa saja berada pada
yang dapat no: 2, 7, 9, 2. Rendah
bermanifestasi 10, 12, 13, x.˂
14, 19, 22, Median
25, 26.
38

No Variabel Definisi Alat Ukur Parameter/ Skala


Operasional Indikator Ukur
Penilaian
menjadi gizi Cara
kurang dan gizi Skoring
buruk. N:∑B

3. Tingkat Tingkatan Kuisioner Pada hasil ukur Ordinal


pendidikan pendidikan yang dengan tingkat
Ibu diperoleh Ibu pertanyaan pendidikan Ibu di
balita melalui mengenai gunakan skor:
lembaga formal tingkat
pendidikan 1 = Dasar(Wajib
ibu belajar 9 th)
2 = Menengah
dan Tinggi
(SMA/SMK) dan
(Diploma -
Sarjana)

4. Tingkat Tingkat Kuisioner Hasil Ordinal


Pendapatan Pendapatan dengan pengukuran
diartikan sebagai pertanyaan tersebut
kemampuan mengenai menggunakan
keluarga dalam Tingkat parameter UMR
memperoleh Pendapatan di Salatiga.
penghasilan (Disnakertrans,
secara materil dan 2015)
financial untuk yaitu:
diproyeksikan 1= <Rp.1.287.000
dalam kecukupan
kebutuhan 2= ≥Rp.1.287.000
keluarga.

5. Kelengkapan Seberapa lengkap Kuisioner Pada hasil ukur Ordinal


Imunisasi atau kurang anak dengan kelengkapan
diberikan pertanyaan imunisasi di
imunisasi. mengenai gunakan skor:
kelengkap
an 1 = Kurang
imunisasi lengkap(< 5
anak. imunisasi dasar)

2 = Lengkap(5
imunisasi dasar)
39

No Variabel Definisi Alat Ukur Parameter/ Skala


Operasional Indikator Ukur
Penilaian

Lima Imunisasi
Dasar Lengkap:
- BCG
- DPT
- Polio
- Campak
- Hepatitis B

6. Pemberian Pemberian ASI Kuisioner Standard yang Nominal


ASI eksklusif selama 6 bulan dengan digunakan
tanpa diberikan pertanyaan adalah :
tambahan mengenai
pendamping pemberian 1 = Eksklusif
apapun. ASI 2 = Tidak
eksklusif eksklusif

7. Berat bayi Berat bayi saat Kuisioner Standard yang Ordinal


saat lahir lahir diartikan dengan digunakan
sebagai berat pertanyaan adalah :
anak saat mengenai 1.Bayi dengan
dilahirkan berat bayi berat badan lahir
saat lahir rendah (BBLR),
yaitu 1500-
2500gram.
2.Bayi dengan
berat badan lahir
Normal, yaitu
2500-4000gram
(Sinclair,2009)
40

3.5. Alat Penelitian dan Cara Pengumpulan Data

3.5.1 Jenis Data

3.5.1.1 Data Primer

Data variabel independen (pengetahuan ibu, pendidikan

ibu, status ekonomi, pemberian ASI eksklusif, kelengkapan

imunisasi, berat bayi saat lahir) diperoleh dengan cara survei

menggunakan kuesioner. Survei adalah suatu rancangan yang

digunakan untuk menyediakan informasi berhubungan dengan

prevalensi, distribusi dan hubungan antar variabel dalam suatu

populasi merupakan metode pengumpulan data dengan

menggunakan instrument yang diberikan kepada koresponden

untuk dimintai tanggapannya mengenai sampel (Gulo, 2007).

Sedangkan kuesioner adalah daftar pertanyaan yang telah

disusun untuk memperoleh data sesuai yang diinginkan

peneliti. Skala yang digunakan adalah dengan menggunakan

skala ukur nominal dan skala ukur Ordinal (Wasis, 2007).

Dalam penggunaan kuisioner pengetahuan digunakan

alternative jawaban Favorable dan Unfavorable. Untuk

Pernyataan Favorable benar nilainya 1, salah nilainya 0,

sedangkan Pernyataan Unfavorable benar nilainya 0, Salah

nilainya 1.
41

3.5.1.2 Data Sekunder

Data Sekunder adalah data yang didapatkan dari suatu

lembaga atau instrumen (Arikunto, 2006). Data sekunder

dalam penelitian ini adalah data literatur yang terkait dengan

penelitian. Pengambilan subjek penelitian sebagai variabel

dependen dengan klasifikasi Status gizi balita (gizi kurang

dan gizi baik) didapatkan dengan melihat catatan medis yang

terdapat pada catatan medis Puskesmas Cebongan.

Tabel 3.2
Kisi-kisi jawaban

Pernyataan Nomor Soal

Positif (Favorable) 1, 3, 4, 5, 6, 8, 11, 15, 16, 17, 18, 20, 21,


23, 24, 27

Negatif (Unfavorable) 2, 7, 9, 10, 12, 13, 14, 19, 22, 25, 26

3.6. Pengolahan Data dan Analisa Data

3.6.1. Pengolahan Data

Setelah mempelajari jawaban dari seluruh pertanyaan yang

diajukan dalam kuisioner, perlu dilakukan proses editing, coding,

tabulasi, dan entry data sehingga lebih memudahkan dalam

pembacaan data dan meningkatkan kredibilitas analisa (Efendi,

2012).
42

1) Editing data

Memastikan kelengkapan dan kejelasan setiap aspek yang

diteliti, yaitu dengan melakukan pengecekan terhadap kuisioner

untuk memastikan bahwa kuisioner telah lengkap.

2) Coding data

Teknik coding ini digunakan untuk memudahkan dalam

proses analisis data. Penggunaan kode yang sudah ditetapkan

atau dirumuskan sebelumnya digunakan untuk mempermudah

dalam melakukan tabulasi dan analisis data.

3) Tabulasi

Memasukan data kedalam diagram atau tabel-tabel sesuai

dengan kriteria agar lebih mudah dalam entery data.

4) Entery data

Data dari kuisioner diolah dengan menggunakan bantuan

progam komputer untuk mempermudah proses analisis data.

3.6.2. Analisa Data

1. Analisis Univariat

Analisa Univariat adalah analisis yang dilakukan

terhadap tiap jenis variabel dari hasil penelitian. Pada

umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi dan

frekuensi dari variabel bebas.


43

2. Analisis Bivariat

Analisa bivariat adalah analis yang digunakan untuk

mengetahui hubungan antara variabel dependen dengan

variabel independen. Data yang terkumpul di analisis dengan

uji statistik bivariat dengan menggunakan uji kai kuadrat (chi

square).

Tabel. 3.3 Uji Kai Kuadrat


Variabel Variabel Independen Uji Statistik
Dependen

Status Gizi Tingkat Pengetahuan Kai Kuadrat

Status Gizi Tingkat Pendidikan Kai Kuadrat

Status Gizi Tingkat Pendapatan Kai Kuadrat

Status Gizi Kelengkapan Imunisasi Kai Kuadrat

Status Gizi ASI Eksklusif Kai Kuadrat

Status Gizi Berat bayi saat lahir Kai Kuadrat

Intepretasi hasil:

Dari hasil uji Kai Kuadrat hanya dapat menyimpulkan

ada/tidaknya hubungan dua variabel katagorik, yang

selanjutnya untuk menentukan kekuatan hubungan

menggunakan uji Odds Ratio (OR).


44

Dengan nilai α 0,05 Chi square menguji hipotesis apakah ada

hubungan antara variabel dependen dengan variabel

independen.

a. Bila P < α, berarti secara statistik ada hubungan yang

signifikan antara variabel dependen dengan variabel

independen. Sehingga kesimpulan Ho ditolak dan Ha

diterima (Dharma, 2011).

b. Bila P > α, berarti secara statistic tidak ada hubungan yang

signifikan antara variable dependen dengan variable

independen. Sehingga kesimpulan Ho diterima dan Ha

ditolak. (Dharma, 2011).

3.7 Validitas dan Reliabilitas

Untuk menetapkan keabsahan data, maka peneliti menggunakan uji

validitas (konstruk dan isi) dan reliabilitas.

1. Tahap pertama

Pada tahap pertama dilakukan penyusunan pertanyaan dalam

pembuatan kuesioner. Kuesioner yang telah tersusun dilakukan uji

validitas isi dengan meminta pendapat pakar keperawatan anak STIKes

Kusuma Husada.
45

2. Tahap kedua

Pada tahap kedua adalah melakukan validitas konstruk yaitu

menguji konstruk pertanyaan dari sebuah instrument penelitian dengan

menggunakan statistika melalui aplikasi komputer untuk diuji ke-validan

dan realibitasnya. Dalam melakukan uji validitas digunakan metode

pearson correlation. Data dianggap valid jika nilai korelasi > 0,361

(Priyatno, 2010).

Dari hasil analisis validitas untuk pengetahuan tentang kejadian

balita gizi kurang yang dilakukan di Puskesmas Sidorejo Kidul Kota

Salatiga yang mempunyai karakteristik sama, dari 30 item soal hanya 27

item soal saja yang dinyatakan valid dengan rhitung (0,474 – 0,849) > rtabel

(0,361). Sedangkan ketiga item soal dinyatakan tidak valid yaitu item

nomor 6 dengan nilai rhitung (0,324) < rtabel (0,361), nomor item 7 dengan

nilai rhitung (-0,129) < rtabel (0,361), dan item nomor 30 dengan nilai rhitung (-

0,667) < rtabel (0,361).

3. Tahap ketiga

Pada tahap ketiga yaitu melakukan uji reliabilitas merupakan

kemampuan data untuk memberikan hasil yang sama sekalipun dilakukan

pengukuran secara berulang. Reliabilitas merupakan alat ukur yang

penting untuk menjamin pengumpulan data yang akurat (Assaf, 2003).


46

Untuk mencari reliabilitas angket digunakan rumus Alpha

Croncbach :

r11= (k) (1- ∑ σ b2)

(k-1) σ 2t

Keterangan :

r11 : realibilitas instrument

k : banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal


σ b2 : jumlah varians butir

σ2 t : varians total

Jika hasil rhitung > rtabel maka item dikatakan signifikan, dan

sebaliknya jika rhitung < rtabel maka item dikatakan tidak signifikan. Jika

nilai koefisien > 0,7 maka instrument dikatakan reliable (Arikunto,

2006).

Dari hasil uji reliabilitas diperoleh nilai r11 cronbach alpha sebesar

0,949) > 0,7. Hal ini berarti ke-27 item pertanyaan dinyatakan reliabel

dan dapat digunakan sebagai alat pengumpul data penelitian.


47

3.8 Etika Penelitian

Dalam melakukan penelitian, peneliti memandang perlu adanya

rekomendasi dari pihak lain dengan mengajukan permohonan izin kepada

instansi tempat penelitian dalam hal ini Puskesmas Cebongan salatiga.

Setelah mendapat persetujuan barulah dilakukan penelitian dengan

menekankan masalah etika yang meliputi :

1. Informed Concent

Lembar persetujuan ini diberikan kepada responden yang diteliti

yang memenuhi kriteria inklusi dan disertai judul penelitian, bila

responden menolak maka peneliti tidak memaksa dan tetap

menghormati hak-hak responden.

2. Anonimity

Untuk menjaga kerahasiaan peneliti tidak mencantumkan nama

responden, tetapi lembaran tersebut diberikan kode.

3. Confidentiality

Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti. Hanya

kelompok data tertentu yang dilaporkan sebagai hasil peneliti.


BAB IV

HASIL PENELITIAN

Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara faktor resiko terhadap

kejadian balita gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Cebongan. Faktor resiko

terdiri dari tingkat pengetahuan ibu, tingkat pendidikan, pendapatan, kelengkapan

imunisasi, pemberian ASI eksklusif dan berat balita saat lahir. Sampel penelitian

adalah 30 orang balita dengan gizi kurang dan 30 orang balita gizi baik di

Wilayah Kerja Puskesmas Cebongan Kota Salatiga. Berikut hasil penelitian yang

dilakukan mulai bulan Februari sampai dengan April 2015.

4.1. Analisis Univariat

4.1.1 Karakteristik Responden

a. Status Pekerjaan Ibu Balita

Tabel 4.1
Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Status Pekerjaan
(n = 30)
Status Pekerjaan Balita gizi baik Balita gizi kurang
Ibu f % f %
Buruh 19 63.3 23 76.6
Pedagang 1 3.4 3 10.0
PNS 0 0 2 6.7
Swasta 10 33.3 2 6.7
Jumlah 30 100 30 100

Berdasarkan tabel 4.1 diketahui sebagian besar pekerjaan ibu

balita gizi baik dan balita gizi kurang adalah buruh.

48
49

b. Jenis Kelamin Balita

Tabel 4.2
Distribusi Karakteristik Jenis Kelamin Balita
(n = 30)
Jenis Kelamin Balita gizi baik Balita gizi kurang
f % f %
Laki –laki 19 63.3 9 30.0
Perempuan 11 36.7 21 70.0
Jumlah 30 100 30 100

Berdasarkan tabel 4.2 diketahui sebagian besar jenis kelamin

balita dengan gizi baik adalah laki-laki dan balita dengan gizi kurang

adalah perempuan.

c. Umur Balita

Tabel 4.3
Distribusi Karakteristik balita berdasarkan umur
(n = 30)

Umur Balita Balita gizi baik Balita gizi kurang


f % f %
12-24 bulan 9 30 5 16.6
25-36 bulan 9 30 11 36.7
37-50 bulan 12 40 14 46.7
Jumlah 30 100 30 100

Berdasarkan tabel 4.3 diketahui sebagian besar umur balita

antara 37-50 bulan baik pada balita gizi baik dan gizi kurang.

4.1.2 Tingkat Pengetahuan Ibu tentang Status Gizi

Tabel 4.4
Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Orang Tua Balita Tentang
Gizi
(n = 30)
Pengetahuan Balita gizi baik Balita gizi kurang
f % f %
Tinggi 24 20 15 50
Rendah 6 80 15 50
Jumlah 30 100 30 100
50

Berdasarkan tabel 4.4 diketahui sebagian besar orang tua pada

balita gizi baik mempunyai pengetahuan tinggi dan orang tua balita

gizi kurang mempunyai pengetahuan yang sama antara rendah dan

tinggi tentang gizi.

4.1.3 Tingkat Pendidikan Ibu

Tabel 4.5
Distribusi Frekuensi Tingkat Pendidikan Ibu Balita
(n = 30)
Pendidikan Ibu Balita gizi baik Balita gizi kurang
f % f %
Dasar 16 53.3 17 56.7
Menengah dan tinggi 14 46.7 13 43.3
Jumlah 30 100 30 100

Berdasarkan tabel 4.5 diketahui sebagian besar tingkat

pendidikan ibu balita adalah berpendidikan dasar, baik pada balita gizi

baik dan balita gizi kurang.

4.1.4 Tingkat Pendapatan Keluarga

Tabel 4.6
Distribusi Frekuensi Tingkat Pendapatan Keluarga
(n = 30)
Pendapatan Balita gizi baik Balita gizi kurang
f % f %
≥UMR 26 86.7 16 53.3
< UMR 4 13.3 14 46.7
Jumlah 30 100 30 100

Berdasarkan tabel 4.6 diketahui sebagian besar pendapatan orang

tua lebih dari upah UMR sebesar Rp. 1.287.000,- baik pada balita gizi

baik dan balita gizi kurang.


51

4.1.5 Pemberian ASI

Tabel 4.7
Distribusi Frekuensi Pemberian ASI
(n = 30)
Pemberian ASI Balita gizi baik Balita gizi kurang
f % f %
Eksklusif 15 50.0 11 36.7
Tidak eksklusif 15 50.0 19 63.3
Jumlah 30 100 30 100

Berdasarkan tabel 4.7 diketahui ibu pada balita gizi baik antara

yang memberikan ASI eksklusif dengan tidak memberikan ASI secara

eksklusif adalah sama besar, sementara ibu dari balita gizi kurang

mayoritas memberikan ASI secara tidak ekslusif.

4.1.6 Imunisasi

Tabel 4.8
Distribusi Frekuensi Pemberian Imunisasi pada Balita
(n = 30)
Pemberian Balita gizi baik Balita gizi kurang
Imunisasi f % f %
Lengkap 30 100 30 100
Tidak lengkap 0 0 0 0
Jumlah 30 100 30 100

Berdasarkan tabel 4.8 diketahui bahwa semua balita telah

diberikan imunisasi secara lengkap.

4.1.7 Berat Balita Saat Lahir

Tabel 4.9
Distribusi Frekuensi Berat Balita Saat Lahir
(n = 30)
Berat Balita Saat Gizi Baik Gizi Kurang
Lahir f % f %
Normal 30 100 21 70.0
Rendah 0 0 9 30.0
Jumlah 30 100 30 100
52

Berdasarkan tabel 4.9 diketahui bahwa pada balita gizi baik

semuanya memiliki berat badan lahir normal, sementara pada balita gizi

kurang mayoritas saat lahir memiliki berat badan normal.

4.2. Analisis Bivariat

4.2.1. Hubungan antara Pengetahuan ibu dengan Kejadian Balita Gizi

Kurang

Tabel 4.10
Hubungan antara Pengetahuan Ibu dengan kejadian Balita Gizi
Kurang
(n = 30)

Pengetahuan Gizi Baik Gizi Kurang Jumlah


p OR
f % f % f %
Tinggi 24 40 15 25 39 100 0,029 4,000
Rendah 6 10 15 25 21 100

Berdasarkan tabel 4.10 diketahui ibu dengan pengetahuan tinggi

menjadikan balita mempunyai gizi yang baik sebesar 40%.

Pengetahuan ibu balita yang rendah menjadikan balita mempunyai

gizi yang kurang sebesar 25%. Hasil uji bivariat diketahui nilai p

sebesar 0,029 < 0,05; sehingga keputusan Ho ditolak, yang artinya

ada hubungan antara pengetahuan orang tua dengan kejadian balita

gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Cebongan. Nilai Odd Ratio

(OR) sebesar 4,00 mempunyai makna bahwa pengetahuan ibu yang

tinggi mempunyai peluang 4 kali lebih besar menjadikan balita


53

memiliki gizi baik daripada ibu dengan pengetahuan yang rendah

tentang gizi.

4.2.2. Hubungan antara Tingkat Pendidikan Ibu dengan Kejadian

Balita Gizi Kurang

Tabel 4.11
Hubungan antara Tingkat Pendidikan Ibu dengan Kejadian
Balita Gizi Kurang
Pendidikan Gizi baik Gizi kurang Jumlah
p OR
ibu f % f % f %
Dasar 16 48,5 17 51,5 33 100 1,000 0,874
Menengah 14 51,9 13 48,1 27 100
dan Tinggi

Berdasarkan tabel 4.11 diketahui ibu balita dengan pendikan

dasar lebih banyak menjadikan balita dengan gizi kurang sebesar

51,5% dan ibu balita dengan pendidikan menengah dan tinggi

menjadikan balita memiliki gizi baik sebesar 51,9%. Hasil uji bivariat

diketahui nilai p sebesar 1,000 > 0,05 sehingga keputusan Ho

diterima, yang artinya tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan

ibu dengan kejadian balita gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas

Cebongan.

4.2.3. Hubungan antara Tingkat Pendapatan Keluarga dengan

Kejadian Balita Gizi Kurang

Tabel 4.12
Hubungan antara Tingkat Pendapatan Keluarga dengan Kejadian
Balita Gizi Kurang

Pendapatan Gizi baik Gizi kurang Jumlah


p OR
keluarga f % f % f %
≥ UMR 26 61,9 16 38,1 42 100 0,010 5,688
< UMR 4 22,2 14 77,8 18 100
54

Berdasarkan tabel 4.12 diketahui orang tua balita dengan

pendapatan lebih dari UMR lebih banyak menjadikan balita dengan

gizi baik. Orang tua balita dengan pendapatan kurang dari UMR lebih

banyak menjadikan balita dengan gizi kurang. Hasil uji bivariat

diketahui nilai p sebesar 0,010 < 0,05 sehingga keputusan Ho ditolak

yang artinya ada hubungan antara tingkat pendapatan keluarga dengan

kejadian balita gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Cebongan.

Nilai Odd Ratio (OR) sebesar 5,688 mempunyai makna tingkat

pendapatan keluarga lebih dari UMR mempunyai peluang 5,688 kali

lebih besar menjadikan balita dengan gizi baik daripada tingkat

pendapatan keluarga kurang dari UMR.

4.2.4. Hubungan antara Pemberian ASI dengan Kejadian Balita Gizi

Kurang

Tabel 4.13
Hubungan antara Pemberian ASI dengan Kejadian Balita Gizi Kurang

Pemberian Gizi Baik Gizi Kurang Jumlah


p OR
ASI f % f % f %
Ekslusif 20 64,5 11 35,5 31 100 0,038 3,455
Tidak 10 34,5 19 65.5 29 100
eksklusif

Berdasarkan tabel 4.13 diketahui balita yang mendapat ASI

eksklusif menjadikan balita memiliki gizi baik, sementara balita yang

mendapat ASI tidak eksklusif menjadikan balita memiliki gizi kurang.

Hasil uji bivariat diketahui nilai p sebesar 0,038 < 0,05 sehingga

keputusan Ho ditolak yang artinya ada hubungan antara pemberian


55

ASI dengan kejadian balita gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas

Cebongan. Nilai Odd Ratio (OR) sebsar 3,455 mempunyai makna

balita yang mendapat ASI ekslusif mempunyai peluang 3,455 kali

lebih besar menjadikan balita mempunyai gizi baik daripada balita

yang tidak diberikan ASI secara ekslusif.

4.2.5. Hubungan antara Kelengkapan Imunisasi dengan Kejadian

Balita Gizi Kurang

Tabel 4.14
Hubungan antara Kelengkapan Imunisasi dengan Kejadian
Balita Gizi Kurang

Kelengkapan Gizi baik Gizi kurang Jumlah


p OR
Imuniasasi f % f % f %
Lengkap 30 100 30 100 60 100 - -
Belum 0 0 0 0 0 0
lengkap

Berdasarkan tabel 4.14 diketahui semua balita baik pada balita

gizi baik dan balita gizi kurang semuanya secara lengkap telah

mendapat imunisasi (100%). Hasil uji statistik diketahui nilai p dan

nilai OR tidak dapat dihitung, karena tidak ada balita pembanding.

Syarat tabulasi 2 x 2 tidak terpenuhi.


56

4.2.6. Hubungan antara Berat Badan Balita Saat Lahir dengan

Kejadian Balita Gizi Kurang

Tabel 4.15
Hubungan antara Berat Badan Balita saat Lahir dengan Kejadian
Balita Gizi Kurang

Berat Badan Gizi Gizi Jumlah


Balita Saat baik kurang p OR
Lahir f % f % f %
Normal 30 50,8 21 41,2 51 100 0.002 2,429
Rendah 0 0 9 100 9 100

Berdasarkan tabel 4.15 diketahui balita dengan berat badan

saat lahir normal lebih banyak menjadikan balita memiliki gizi baik

sementara balita dengan berat badan saat lahir rendah cenderung

menjadikan balita mempunyai gizi kurang. Hasil uji bivariat diketahui

nilai p sebesar 0,002 < 0,05 sehingga keputusan Ho ditolak yang

artinya ada hubungan antara berat badan bayi saat lahir dengan

kejadian balita gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Cebongan.

Nilai Odd Ratio (OR) sebsar 2,429 mempunyai makna balita saat

lahir dengan berat badan normal mempunyai peluang 2,429 kali lebih

besar menjadikan balita dengan gizi baik daripada balita dengan berat

badan lahir rendah.


BAB V

PEMBAHASAN

5.1 Analisis Univariat

5.1.1 Pekerjaan Ibu

Berdasarkan hasil penelitian diketahui sebagian besar pekerjaan

orang tua responden sebagai buruh, dimana pada balita gizi baik

sebanyak 19 orang (63,3%) sementara pada balita gizi kurang sebanyak

23 orang (76,6%). Penduduk di sekitar wilayah kerja Puskesmas

Cebongan banyak yang bekerja sebagai buruh. Hal ini disebabkan di

Kota Salatiga terdapat beberapa pabrik yang berdiri seperti pabrik

tekstil, pabrik garmen, pabrik rokok yang lebih banyak menggunakan

tenaga kerja perempuan. Ibu yang bekerja sebagai buruh bekerja selama

delapan jam dalam sehari dari jam 07.00 – 15.00 WIB.

Mubarak (2007) menyatakan lingkungan pekerjaan dapat

menjadikan seseorang memperoleh pengalaman dan pengetahuan baik

secara langsung maupun secara tidak langsung termasuk masalah gizi

balita. Ibu yang mendapat pengetahuan tentang gizi balita tentu akan

lebih berusaha untuk memberikan gizi yang baik kepada balita mereka.

5.1.2 Jenis Kelamin Balita

Berdasarkan hasil penelitian diketahui sebagian besar jenis

kelamin pada balita gizi baik adalah laki-laki sebanyak 19 balita

(63,3%) dan jenis kelamin balita gizi kurang adalah perempuan

57
58

sebanyak 21 orang (70%). Banyaknya balita perempuan dikarenakan

berdasarkan data yang ada di Puskesmas Pembantu Noborejo yang

merupakan wilayah kerja Puskesmas Cebongan diketahui dari 70 balita,

sebanyak 42 balita berjenis kelamin perempuan. Oleh karena itu dalam

penelitian ini mayoritas balita adalah berjenis kelamin perempuan.

5.1.3 Tingkat Pengetahuan Ibu tentang Status Gizi

Berdasarkan hasil penelitian tingkat pengetahuan orang tua

terutama ibu tentang status gizi masih ditemukan pegetahuan yang

rendah, untuk kelompok gizi baik sebanyak 6 orang (20%) sementara

kelompok gizi kurang sebanyak 15 orang (50%). Hal ini wajar dengan

tingkat pengetahuan ibu yang rendah tentang status gizi balita menjadi

kurang status gizinya. Rendahnya pengetahuan orang tua tentang status

gizi ini dapat disebabkan masih banyak ibu balita berpendidikan dasar.

Dengan adanya pendidikan dasar setidaknya akan mempengaruhi

tingkat pengetahuan, termasuk pengetahuan yang baik tentang status

gizi. Selain itu dapat disebabkan ibu belum pernah mendapatkan

pendidikan kesehatan tentang status gizi bagi bayi dan balita. Meskipun

saat kegiatan posyandu di wilayah kerja Puskesmas Cebongan, namun

informasi yang diberikan ternyata kurang intensif sehingga

menyebabkan ibu kurang paham tentang pemberian status gizi yang

baik bagi balita.

Dengan banyaknya pengetahuan yang rendah pada ibu dapat

berdampak pada sikap dan perilaku ibu dalam memberikan makanan


59

kepada balita, yang menimbulkan ketidakseimbangnya makanan bergizi

yang dibutuhkan balita yang sangat penting dalam masa pertumbuhan,

sehingga menyebabkan balita mempunyai status gizi kurang. Namun

pada balita yang mempunyai gizi baik pun ibu juga memiliki tingkat

pengetahuan yang rendah tentang status gizi. Hal ini mungkin

dikarenakan balita sering diasuh oleh nenek atau pengasuhnya yang

jauh memiliki pengetahuan yang lebih baik tentang gizi dibandingkan

ibu, sehingga balita tetap dapat terpenuhi gizi dengan baik meskipun

ibunya sendiri rendah pengetahuannya tentang gizi.

Seperti halnya Watloly (2002) mengutarakan bahwa tingkat

pengetahuan yang rendah dapat menyebabkan kesalahan dalam

pemahaman, kebenaran yang tidak lengkap dan tidak terstruktur dimana

manifestasinya berupa kesalahan manusia atau individu dalam

melakukan praktek kehidupannya karena dilandasi pengetahuan yang

salah. Hal ini didukung oleh pendapat dari Ihsan (2012), bahwa tingkat

pendidikan turut menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan

memahami pengetahuan yang mereka peroleh, semakin tinggi

pendidikan seseorang maka semakin baik pula pengetahuannya. Ihsan

juga menambahkan bahwa tingkat pengetahuan ibu memang sangat

mempengaruhi status gizi balita karena kebutuhan dan kecukupan gizi

anak balita tergantung dari pengetahuan ibu mengenai jenis makanan

yang diberikan oleh ibu.


60

5.1.4 Tingkat Pendidikan Ibu

Berdasarkan hasil penelitian diketahui sebagian besar responden

masuk dalam pendidikan dasar yaitu lulus SD dan lulus SMP. Balita

gizi baik sebanyak 16 orang (53,3%) dan Balita gizi kurang sebanyak

17 orang (56,7%). Warga di sekitar wilayah kerja Puskesmas Cebongan

banyak yang berpendidikan dasar yaitu hanya lulusan SD dan SMP,

meskipun tempat tinggal responden yang tidak jauh dari kota Salatiga.

Hal ini tidak terlepas dari karakteristik wilayah Desa Noborejo yang

masih menganggap bahwa seorang wanita hanya dengan berpendidikan

SMP sudah dianggap cukup atau wajar dan siap untuk bekerja atau

justru menikah. Meskipun ibu memiliki pendidikan rendah tetapi

dengan pengalaman yang lebih banyak menjadikan ibu mampu

memberikan gizi seimbang kepada balitanya sehingga balita memiliki

status gizi yang baik.

Mubarok (2007) menyatakan bahwa pendidikan mempengaruhi

kesempatan memperoleh informasi mengenai penatalaksanaan

kesehatan. Tingkat pendidikan orang tua ini dapat mempengaruhi

tingkat pengetahuan, termasuk permberian makanan yang bergizi untuk

balitanya. Namun pendidikan dasar pada responden tidak menutup

untuk menerima informasi pengetahuan di luar pendidikan formal.

Informasi pengetahuan dapat diperoleh dari petugas kesehatan seperti

dalam kegiatan posyandu ataupun saat pemeriksaan kesehatan balita di

puskesmas.
61

5.1.5 Tingkat Pendapatan

Berdasarkan hasil penelitian diketahui sebagian besar responden

mempunyai tingkat pendapatan sesuai upah minimal regional (UMR).

Kelompok pada balita gizi baik sebanyak 26 orang (86,7%) dan

kelompok balita gizi kurang sebanyak 17 orang (53,3%). Meskipun

pendapatan responden mayoritas sesuai UMR dari hasil penelitian

masih ditemukan balita dengan status gizi kurang. Hal ini dipengaruhi

oleh faktor lain seperti jumlah anggota keluarga yang ditanggung lebih

besar, artinya semakin banyak anggota keluarga yang ditanggung maka

semakin banyak pengeluaran biaya untuk mencukupi kebutuhan gizi

keluarga, sedangkan disisi lain pendapatan keluarga per bulan dapat

dianggap tetap namun harga bahan makanan yang cenderung semakin

mahal. Faktor-faktor lain diatas yang perlu harus diperhatikan oleh

pemerintah daerah.

Kondisi ini dapat berpengaruh pada status gizi balita. Selain itu

ibu juga memiliki pengetahuan yang rendah sehingga meskipun tingkat

pendapatan sesuai UMR ibu belum mengetahui menu seimbang yang

baik diberikan kepada balita sehingga balita tetap dalam kondisi gizi

buruk.

Notoatmodjo (2007) berpendapat bahwa salah satu faktor

presdisposisi yang mempengaruhi perilaku adalah status ekonomi,

artinya perilaku kebutuhan hidup sehat dipengaruhi oleh kemampuan

keluarga secara ekonomi. Sihadi (2006) menambahkan bahwa tingkat


62

pendapatan ikut menentukan jenis pangan apa yang akan dibeli dengan

adanya tambahan uang, semakin tinggi pendapatan, semakin besar pula

persentase dari penghasilan tersebut dipergunakan untuk membeli

berbagai jenis bahan pangan.

Pendapatan merupakan faktor penting bagi kuantitas dan

kualitas makan dalam keluarga. Perubahan pendapatan dapat

mempengaruhi perubahan pola asuh gizi yang secara langsung

mempengaruhi konsumsi pangan pada balita. Meningkatnya

pendapatan berarti memperbesar peluang untuk membeli pangan

dengan kualitas dan kuantitas yang lebih baik.

Sebaliknya, pendapatan yang rendah akan menyebabkan

penurunan dalam hal kualitas dan penurunan kuantitas pangan yang

dibeli dan makanan yang dikonsumsi tidak mempertimbangkan nilai

gizi, tetapi nilai materi lebih menjadi pertimbangan. Terdapat dua

peubah ekonomi yang cukup dominan sebagai determinan pola asuh

gizi yaitu pendapatan keluarga dan harga pangan.

5.1.6 Pemberian ASI

Berdasarkan hasil penelitian diketahui pada balita gizi baik ibu

memberikan ASI ekslusif sebanyak 15 orang (50%), sementara ibu pada

balita gizi kurang mayoritas memberi ASI secara tidak ekslusif

sebanyak 19 orang (63,3%).

Menurut peneliti bagi ibu yang bekerja sebagai buruh pabrik

atau yang lain, maka kesempatan untuk memberikan ASI ekslusif

hingga bayi usia 6 bulan adalah sulit. Kondisi ini terjadi karena ibu

yang sudah habis masa cuti selama 2 bulan tidak dapat memberikan
63

ASI secara langsung, meskipun ibu memerah ASI dan dimasukkan

dalam botol ASI, namun kebutuhan bayi selama ditinggal bekerja masih

kurang, sehingga memungkinkan kecenderungan bayi ditambah dengan

susu formula selama ibu bekerja.

Menurut Henderson dan Jone (2006), kandungan susu formula

masih sangat rendah dibandingkan kandungan ASI. ASI ekslusif

mengandung sel darah putih, zat kekebalan, hormon, faktor

pertumbuhan, vitamin, air, protein, bahkan zat yang dapat membunuh

bakteri dan virus. Anak yang sehat karena ASI lebih tahan terhadap

penyakit.

Brown et al (2005) menambahkan bahwa ASI lebih unggul

dibandingkan makanan lain untuk bayi seperti susu formula, karena

kandungan protein pada ASI lebih rendah dibandingkan pada susu sapi

sehingga tidak memberatkan kerja ginjal, jenis proteinnya pun mudah

dicerna. Selain itu, ASI mengandung lemak dalam bentuk asam amino

esensial, asam lemak jenuh, trigliserida rantai sedang, dan kolesterol

dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan bayi.

Roesli (2005) menyatakan pemberian ASI secara eksklusif ini

dianjurkan untuk jangka waktu sampai 6 bulan, jika usia anak sudah

lebih dari 6 bulan, maka harus mulai diperkenalkan dengan makanan

padat. Dengan demikian bahwa balita yang telah berumur diatas 6 bulan

sudah dapat mendapat asupan gizi di luar ASI ekslusif. Pemberian

makanan kepada balita dengan kandungan gizi yang seimbang sangat

tergantung dari pengetahuan dan kemampuan orang tua. Orang tua yang

memahami kebutuhan gizi balita akan berusaha memberikan asupan


64

makanan yang seimbang yang dibutuhkan oleh balita mengingat balita

sudah tidak mendapat ASI ekslusif lagi dimana pada saat penelitian usia

balita diatas 24 bulan.

Pemberian ASI eksklusif dipengaruhi banyak faktor, diantaranya

sosial budaya, pengaruh promosi susu formula, dukungan petugas

kesehatan, kesehatan ibu, kesehatan bayi, status pekerjaan ibu, tingkat

pendidikan ibu dan pengetahuan serta sikap ibu. Pendidikan pada satu

sisi mempunyai dampak positif yaitu ibu mengerti akan pentingnya

pemeliharaan kesehatan termasuk pemberian ASI eksklusif. Namun

pendidikan yang semakin tinggi juga akan berdampak adanya

perubahan nilai sosial seperti anggapan bahwa menyusui dianggap tidak

modern dan dapat mempengaruhi bentuk payudara ibu.

Pemberian ASI pada bayi dianggap tidak modern dan

menempatkan ibu pada kedudukan lebih rendah dibandingkan dengan

ibu golongan atas. Pengetahuan dan sikap petugas kesehatan dalam

memberikan penyuluhan tentang ASI sangat berpengaruh pada

keberhasilan menyusui. Bayi yang sehat, tidak menderita kelainan atau

penyakit tertentu lebih mudah untuk menyusu. Kondisi ibu yang tidak

dianjurkan untuk menyusui bayi seacara permanen adalah ibu yang

terinfeksi HIV. Hal ini untuk mencegah penularan ibu-anak melalui

ASI. Tekanan ekonomi memaksa ibu bekerja untuk mencari

penghasilan sehingga tidak mempunyai kesempatan memberikan ASI

secara ekslusif (Syarif dkk, 2011).


65

5.1.7 Pemberian Imunisasi

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa seluruh responden

penelitian diketahui telah diberikan imunisasi secara lengkap (100%)

baik pada balita yang menderita gizi buruk dan pada balita gizi baik.

Pemberian imuniasasi kepada balita dilakukan pada saat kegiatan

posyandu ataupun sesuai dengan jadwal imunisasi di puskesmas.

Puskesmas Cebongan yang terletak di pinggir jalan raya, memudahkan

ibu untuk imunisasi balitanya secara lengkap di Puskesmas Cebongan

karena mudah dijangkau.

Seperti yang dilaporkan Riskesdas 2013 menyebutkan bahwa

cakupan imunisasi balita diIndonesia secara lengkap angkanya

mengalami peningkatan mulai dari 41,6 persen pada tahun 2007

menjadi 53,8% pada tahun 2010 dan 59,2 persen pada tahun 2013,

termasuk di Puskesmas Cebongan Kota Salatiga sebagai bagian dari

wilayah Propinsi Jawa Tengah.

. Wise (2004) berpendapat bahwa dengan pemberian vaksin,

tubuh bayi atau anak akan membentuk antibody, sehingga tubuh bayi

atau balita telah siap (telah kebal) bila terinfeksi oleh penyakit menular

tersebut. Dengan kata lain terhindarnya bayi atau anak dari berbagai

penyakit dapat memperbaiki status gizi anak tersebut.


66

5.1.8 Berat Badan Saat Bayi Lahir

Berdasarkan hasil penelitian diketahui sebesar 100% balita

dengan gizi baik saat lahir memiliki berat badan normal sedangkan

sebanyak 21 balita (70%) pada saat lahir memiliki berat badan normal

namun saat ini mengalami gizi kurang. Hal ini mungkin disebabkan

saat masa tumbuh kembang anak tidak diberikan asupan gizi secara

seimbang meskipun selama 6 bulan penuh sudah diberikan ASI secara

ekslusif, namun tidak diberikannya asupan gizi secara seimbang. Hal

ini disebabkan ibu memiliki pengetahuan yang rendah, sehingga ibu

tidak memahami pola asuh gizi yang secara langsung dapat

mempengaruhi konsumsi pangan pada balita yang berpengaruh ada

pemberian pangan dengan kualitas dan kuantitas yang lebih baik.

Joeharno (2008) menyatakan kejadian berat badan lahir rendah

(BBLR) pada dasarnya berhubungan dengan kurangnya pemenuhan

nutrisi pada masa kehamilan ibu dan hal ini berhubungan dengan

banyak faktor dan lebih utama pada masalah perekonomian keluarga

sehingga pemenuhan kebutuhan konsumsi makanan pun kurang.

Hal ini sesuai dengan pendapat dari Wibowo (2008), dia

berpendapat bahwa bayi yang lahir dengan BB rendah akan lebih cepat

bertambah berat badanya seakan-akan mengejar ketertinggalanya

sedangkan bayi non BBLR umumnya sering tumbuh lambat hal ini

diperkirakan oleh kualitas dan kuantitas makanan serta gangguan

pencernaan yang dialami selama masa tumbuh kembang balita.


67

Tonda (2012) juga menambahkan bahwa balita usia 2-5 tahun

merupakan kelompok yang rentan atau rawan terhadap status gizi.

Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi status gizi kurang atau

buruk pada balita adalah berat lahirnya yang kurang (BBLR). Bayi

dengan berat lahir rendah mengalami pertumbuhan dan perkembangan

lebih lambat pada organ-organ tubuhnya. Keadaan ini menjadi lebih

buruk lagi jika BBLR kurang mendapat asupan energi dan zat gizi,

mendapat pola asuh yang kurang baik, dan sering menderita penyakit

infeksi.

5.2 Analisis Bivariat

5.2.1 Hubungan antara Pengetahuan Ibu dengan Kejadian Balita Gizi

Kurang

Berdasarkan hasil penelitian diketahui ada hubungan antara

pengetahuan ibu dengan kejadian balita gizi kurang. Pengetahuan ibu

yang tinggi tentang gizi balita menjadikan lebih memahami kebutuhan

gizi balita dibandingkan ibu dengan pengetahuan yang masih rendah.

Ibu dapat memberikan menu yang bervariasi sehingga balita tidak

bosan dengan menu yang disediakan dan tercukupuinya kebutuhan

akan gizi seimbang bagi balita.

Dengan pengetahuan yang tinggi maka ibu mempunyai dasar

untuk bertindak dalam memilih dan memberikan asupan gizi yang

sesuai dengan usia bayi. Pemberian makanan bergizi seperti

memberikan sayur mayur dan buah yang sangat dibutuhkan oleh bayi
68

dalam masa pertumbuhan dan perkembangan sesuai usia bayi. Dalam

penelitian ini mayoritas ibu memiliki pengetahuan yang rendah baik

pada balita dengan gizi baik maupun balita dengan gizi kurang. Pada

balita gizi kurang terjadi karena itu ibu berpengetahuan rendah tentang

gizi sehingga belum memahami pemberian gizi seimbang bagi

balitanya sehingga menyebabkan balita gizi kurang. Sedangkan pada

balita gizi baik dengan ibu mempunyai pengetahuan rendah

disebabkan ibu bekerja dan lebih banyak diasuh oleh nenek atau

pengasuh yang jauh lebih mengetahui gizi seimbang yang baik bagi

tumbuh kembang balita. Dengan ibu mempunyai pengetahuan yang

tinggi maka ibu lebih banyak memahami asupan gizi seimbang yang

baik tumbuh kembang balita sehingga balita dapat tumbuh dengan

baik.

Dalam penelitian ini ada ibu dengan pengetahuan tinggi namun

balita mempunyai gizi kurang, hal ini seperti yang diungkapkan oleh

Pormes (2014) bahwa kejadian ini dipengaruhi oleh faktor-faktor

seperti besarnya keluarga dimana jarak kelahiran antar anak amat dekat

akan menimbulkan lebih banyak masalah. Apabila pendapatan

keluarga pas-pasan sedangkan jumlah anak pada keluarga tersebut

banyak maka, pemerataan dan kecukupan makanan dalam keluarga

kurang bisa dijamin. Penyakit infeksi juga menjadi salah satu faktor

penyebab stunting, dimana infeksi sendiri mengakibatkan balita

kehilangan bahan makanan melalui muntah-muntah dan diare.


69

Notoadmojo (2010) berpendapat bahwa pengetahuan seseorang

dapat mempengaruhi sikap dan perilaku. Pengetahuan yang tinggi

dapat mempengaruhi sikap positif dan perilaku yang baik termasuk

dalam memberikan asupan gizi balita dengan baik. Pengetahuan

tentang gizi pada orang tua dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu

diantaranya adalah umur diamana semakin tua umur sesorang maka

proses perkembangan mentalnya menjadi baik, intelegensi atau

kemampuan untuk belajar dan berpikir abstrak guna, menyesuaikan

diri dalam situasi baru, kemudian lingkungan dimana seseorang dapat

mempelajari hal-hal baik juga buruk tergantung pada sifat

kelompoknya, budaya yang memegang peran penting dalam

pengetahuan, pendidikan merupakan hal yang mendasar untuk

mengembangkan pengetahuan, dan pengalaman yang merupakan guru

terbaik dalam mengasah pengetahuan.

Seperti halnya sesuai dengan pendapat dari Fatimah (2008),

dimana pengetahuan orangtua terutama ibu tentang gizi sangat

berpengaruh terhadap tingkat kecukupan gizi yang diperoleh oleh

balita. Orangtua perlu memahami pengetahuan tentang gizi, terutama

yang berkaitan dengan zat-zat yang dikandung dalam makanan, cara

mengolah makanan, menjaga kebersihan makanan, waktu pemberian

makan dan lain-lain, sehingga pengetahuan yang baik akan membantu

ibu atau orangtua dalam menentukan pilihan kualitas dan kuantitas

makanan.
70

Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian dari Turnip

(2014) diketahui terdapat hubungan yang bermakna antara

pengetahuan ibu dengan status gizi balita di wilayah kerja Puskesmas

Glugur Darat tahun 2014, begitu juga mendukung hasil penelitian dari

Rachmawati, dkk (2015) dimana responden yang berpengetahuan

kurang tentang gizi hal ini dikarenakan responden tidak aktif bertanya

pada tenaga kesehatan, juga disebabkan responden baru mempunyai

anak sehingga kurang mendapatkan pengalaman tentang pemberian

gizi seimbang kepada balita agar tidak terjadi gizi buruk pada balita.

5.2.2 Hubungan antara Tingkat Pendidikan Ibu dengan Kejadian Balita

Gizi Kurang

Berdasarkan hasil penelitian diketahui tidak ada hubungan

antara tingkat pendidikan ibu dengan kejadian balita gizi kurang

dengan p value sebesar 1,00. Berdasarkan hasil penelitian sebagian

besar responden berpendidikan dasar yaitu SD dan SMP. Hal ini

berkaitan dengan sosiodemografi dimana di wilayah Puskesmas

Cebongan sebagian besar bekerja sebagai petani dan buruh pabrik

khususnya penduduk perempuan.

Menurut peneliti bahwa tidak selama pendidikan seseorang

yang tinggi akan diikuti dengan kondisi gizi yang baik pada bayi. Hal

ini terjadi karena orang yang berpendidikan tinggi dan lebih banyak

sibuk bekerja di luar rumah, maka memungkinan tidak adanya waktu

untuk memasak bagi kebutuan makan bayi secara sehat. Meskipun ibu
71

hanya berpendidikan rendah tetapi mempunyai kesempatan mengasuh

bayi secara penuh, sehingga ibu dapat memberi asupan gizi yang baik

bagi balita dimana ibu berbelanja di pasar dan memilih sayur dan buah

yang baik bagi bayinya.

Menurut pendapat Notoadmojo (2010) bahwa semakin tinggi

pendidikan seseorang maka tingkat pengetahuan seseorang juga

semakin tinggi. Pendidikan seseorang yang meningkat mengajarkan

individu mengambil keputusan yang terbaik untuk dirinya, termasuk

dalam memberikan asupan gizi kepada balita.

Ulfah dan Fransiska (2014) berpendapat bahwa tingkat

pendidikan turut pula menentukan mudah tidaknya seseorang

menyerap dan memahami pengetahuan gizi yang mereka peroleh.

Tingkat pendidikan ibu dapat mempengaruhi pengetahuan tentang

perawatan kesehatan seperti apabila balita sakit ibu tidak segera

membawa balita ke fasilitas pelayanan kesehatan. Selain itu

pendidikan juga dapat mempengaruhi pengetahuan tentang gizi yang

baik untuk pertumbuhan dan perkembangan balita sehingga asupan

gizi yang dikonsumsi balita juga kurang. Dengan adanya anak yang

mengalami status gizi kurus dan sangat kurus ini harus mendapat

perhatian yang serius agar keadaan tidak menjadi hal yang buruk. Hal

ini jika dibiarkan berlarut – larut maka dapat menurunkan derajat

kesehatan anak dan menghambat perkembangan fisik dan mental

anak.
72

Nilakesuma (2015) dalam penelitiannya juga menunjukkan

tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara tingkat

pendidikan ibu dengan status gizi. Seseorang yang hanya tamat

sekolah dasar akan berbeda pengetahuan gizinya dibanding dengan

yang pendidikannya lebih tinggi. Namun, belum berarti seseorang

yang hanya tamat sekolah dasar kurang mampu menyusun makanan

yang memenuhi persyaratan gizi. Hal ini dikarenakan jika orang

tersebut rajin membaca informasi tentang gizi atau turut serta dalam

penyuluhan gizi bukan mustahil pengetahuan gizinya akan lebih baik.

Hanya saja perlu dipertimbangkan, seseorang yang memiliki tingkat

pendidikan yang tinggi akan lebih mudah dalam menerima pesan dan

informasi gizi. Pendidikan pada satu sisi mempunyai dampak positif

yaitu ibu semakin mengerti akan pentingnya pemeliharaan kesehatan,

tetapi di sisi lain pendidikan yang semakin tinggi juga akan

berdampak adanya perubahan nilai sosial.

5.2.3 Hubungan antara Tingkat Pendapatan dengan Kejadian Balita

Gizi Kurang

Berdasarkan hasil penelitian diketahui adanya hubungan antara

pendapatan orang tua dengan kejadian balita gizi kurang dengan p

value sebesar 0,010. Peningkatan pendapatan dalam rumah tangga

memberikan kesempatan kepada ibu untuk memperbaiki dan

meningkatkan mutu jumlah dan keragaman pangan yang dapat dibeli.

Tingkat pendapatan yang cukup, maka ibu lebih leluasa untuk memilih
73

dan membeli kebutuhan bayi seperti membeli daging sapi, ikan, buah

meskipun harga dipasar cukup mahal. Namun sebaliknya, ibu yang

tidak mempunyai pendapatan yang cukup, maka akan kesulitan

memberikan asupan gizi yang baik kepada bayi dimana ibu hanya

memberikan sayur dan lauk dengan menu yang jarang bervariasi

sehingga menjadikan bayi dengan gizi kurang meskipun tingkat

pendapatan keluarga di atas UMR namun, masih ditemukan balita

dengan gizi buruk.

Hal ini dapat dipengaruhi faktor lain seperti jumlah anggota

keluarga yang ditanggung lebih besar, artinya semakin banyak anggota

keluarga yang ditanggung maka semakin banyak pengeluaran biaya

untuk mencukupi kebutuhan gizi keluarga, sementara disisi lain

pendapatan keluarga per bulan dapat dianggap tetap namun harga

bahan makanan yang cenderung semakin mahal. Faktor – faktor

tersebut harus menjadi perhatian oleh pemerintah.

Hal ini sesuai dengan pendapat dari Sihadi (2006) bahwa

tingkat pendapatan ikut menentukan jenis pangan apa yang akan dibeli

dengan adanya tambahan uang, semakin tinggi pendapatan, semakin

besar pula persentase dari penghasilan tersebut dipergunakan untuk

membeli berbagai jenis bahan pangan. Jadi pendapatan merupakan

faktor penting bagi kuantitas dan kualitas makan dalam keluarga.

Perubahan pendapatan dapat mempengaruhi perubahan pola asuh gizi

yang secara langsung mempengaruhi konsumsi pangan pada balita.


74

Meningkatnya pendapatan berarti memperbesar peluang untuk

membeli pangan dengan kualitas dan kuantitas yang lebih baik.

Sebaliknya, pendapatan yang rendah akan menyebabkan penurunan

dalam hal kualitas dan penurunan kuantitas pangan yang dibeli dan

makanan yang dikonsumsi tidak mempertimbangkan nilai gizi, tetapi

nilai materi lebih menjadi pertimbangan. Terdapat dua peubah

ekonomi yang cukup dominan sebagai determinan pola asuh gizi yaitu

pendapatan keluarga dan harga pangan

Namun berbeda dengan pendapat dari Soetjiningsih (2007)

yang menyatakan bahwa pendapatan keluarga yang baik dapat

menunjang tumbuh kembang anak. Hal ini dikarenakan orang tua

menyediakan semua kebutuhan anak-anaknya. Rendahnya pendapatan

merupakan rintangan lain yang menyebabkan orang tidak mampu

membeli pangan dalam jumlah yang diperlukan, sehingga tinggi

rendahnya pendapatan sangat mempengaruhi daya beli keluarga

terhadap bahan pangan yang akhirnya berpengaruh terhadap status gizi

seseorang terutama anak balita karena pada masa itu diperlukan

banyak zat gzi untuk pertumbuhan dan perkembangannya.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Sarah (2008)

yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara

pendapatan keluarga dengan status gizi balita, begitu juga mendukung

hasil penelitian dari Turnip (2014) yang menunjukkan bahwa terdapat


75

hubungan yang bermakna antara pendapatan keluarga dengan status

gizi balita di wilayah kerja Puskesmas Glugur Darat tahun 2014.

5.2.4 Hubungan antara Pemberian ASI dengan Kejadian Balita Gizi

Kurang

Berdasarkan hasil penelitian diketahui ada hubungan

pemberian ASI dengan kejadian balita gizi kurang. Hasil observasi

diperoleh bahwa ibu yang memberikan ASI tidak eksklusif ternyata

menjadikan bayi lebih sering sakit dibandingkan bayi yang diberi ASI

esksklusif. Sehingga dengan diberi ASI ekslusif maka berat bayi lebih

seimbang dengan usianya dibanding pada bayi yang tidak diberi ASI

tidak ekslusif. Dalam penelitian ini juga masih ditemukan meskipun

ibu memberikan ASI secara ekslusif pada 6 bulan pertama dalam

kehidupan bayi tetapi saat ini balita mengalami gizi kurang.

Gibney et al (2005) disebabkan karena komposisi ASI akan

berubah sejalan dengan kebutuhan bayi. Semakin besar tumbuh

kembang balita akan membutuhkan nutrisi yang lebih seimbang,

sehingga setelah 6 bulan pertama bayi tidak cukup hanya dengan

diberikan ASI saja tetapi juga diberikan nutrisi makanan tambahan

secara seimbang agar kebutuhan nutrisi bayi tercukupi dan balita

memiliki status gizi baik.

Roesli (2005) menyatakan anak yang baru lahir secara alamiah

mendapat immunoglobulin dari ibunya melalui ari-ari. Namun, kadar

zat ini akan cepat sekali menurun segera setelah anak lahir. Badan
76

anak sendiri baru membuat zat kekebalan cukup banyak sehingga

mencapai kadar protektif pada waktu berusia 9-12 bulan. Berdasarkan

hasil penelitian ini diketahui bahwa balita dengan status gizi baik

ternyata tidak semuanya menerima ASI eksklusif, demikian halnya

dengan balita dengan status gizi kurang diketahui ada yang mendapat

ASI ekslusif. Meskipun jumlah balita yang mendapat ASI tidak

ekslusif lebih banyak.

Pujiyanti (2008) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa

terdapat pengaruh pemberian air susu ibu (ASI) terhadap status gizi

bayi. Hasil penelitian dari Giri, dkk (2013) juga menujukkan bahwa

ada hubungan antara pemberian ASI Eksklusif dengan status gizi balita

usia 6-24 bulan di Kampung Kajanan Buleleng. ASI memiliki semua

unsur-unsur yang memenuhi kebutuhan bayi akan gizi selama periode

sekitar 6 bulan, kecuali jika ibu megalami keadaan gizi kurang yang

berat atau gangguan kesehatan lain.

Begitu juga mendukung hasil penelitian dari Mastin dan

Roosita (2015) yang menunjukkan bayi yang mendapat ASI eksklusif

cenderung memiliki frekuensi sakit dan periode lama sakit yang lebih

rendah dibandingkan dengan bayi yang tidak diberi ASI eksklusif pada

enam bulan pertama kehidupan bayi. Dengan frekuensi sakit dan

periode lama sakit yang rendah maka bayi dapat sehat sehingga nutrisi

dapat terserap dengan baik ke dalam tubuhnya, sehingga balita


77

memiliki status gizi yang baik dimana seimbang antara berat badan

dan tinggi badannya.

5.2.5 Hubungan antara Pemberian Imunisasi dengan Kejadian Balita

Gizi Kurang

Berdasarkan hasil penelitian diketahui tidak terdapat hubungan

antara pemberian imunisasi dengan kejadian balita gizi kurang.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa baik balita dengan gizi

baik dan balita gizi kurang semuanya telah diimunisasi secara lengkap.

Seperti yang dilaporkan Riskesdas 2013 menyebutkan bahwa cakupan

imunisasi balita diIndonesia secara lengkap angkanya mengalami

peningkatan mulai dari 41,6 persen pada tahun 2007 menjadi 53,8%

pada tahun 2010 dan 59,2 persen pada tahun 2013, termasuk di

Puskesmas Cebongan Kota Salatiga sebagai bagian dari wilayah

Propinsi Jawa Tengah.

Mastin dan Roosita (2015) berpendapat bahwa tidak

ditemukan kecenderungan bahwa semakin baik kelengkapan imunisasi

bayi maka frekuensi sakit bayi semakin rendah dan lama sakit bayi

semakin singkat. Namun hal ini tidak sejalan dengan hasil penelitian

yang dilakukan oleh Vindriana (2012), dimana ada hubungan yang

bermakna antara Kelengkapan Imunisasi dengan Status Gizi di

Kelurahan Watonea wilayah kerja Puskesmas Katobu Kabupaten

Muna. Imunisasi merupakan domain yang sangat penting untuk


78

memiliki status gizi yang baik. Imunisasi yang lengkap biasanya

menghasilkan status gizi yang baik. Sebagai contoh adalah dengan

imunisasi seorang anak tidak mudah terserang penyakit yang

berbahaya, sehingga anak lebih sehat, dengan tubuh/status sehat

asupan makanan dapat masuk dengan baik, nutrisipun terserap dengan

baik. Nutrisi yang terserap oleh tubuh balita dimanfaatkan untuk

pertumbuhannya, sehingga menghasilkan status gizi yang baik.

5.2.6 Hubungan antara Berat Badan Bayi Saat Lahir dengan Kejadian

Balita Gizi Kurang

Berdasarkan hasil penelitian diketahui adanya hubungan antara

berat badan bayi saat lahir dengan kejadian balita gizi kurang dengan p

= 0,002. Menurut peneliti bayi yang lahir dengan berat badan rendah

akan lebih lama untuk menjadikan berat badan normal. Berbeda

dengan bayi yang sudah lahir dengan berat badan normal, maka bayi

akan lebih mudah untuk mempertahakan berat badan sesuai usia

ataupun meningkatkan berat badannya dengan mengkonsumsi seperti

ASI ekslusif. Dalam penelitian ini masih ditemukan balita pada saat

lahir memiliki berat badan normal namun saat sekarang balita justru

memiliki status gizi kurang. Hal ini dikarenakan ibu memiliki

pengetahuan yang rendah tentang gizi sehingga ibu belum begitu

memahami secara benar asupan nutrisi yang seimbang yang

dibutuhkan bayi untuk mendukung masa pertumbuhan dan


79

perkembangannya, sehingga membuat balita tumbuh dengan status gizi

kurang.

Tonda (2012) menjelaskan bahwa BBLR terjadi karena (1)

Faktor ibu, seperti penyakit malaria, anemia, infeksi dan komplikasi

pada kehamilan. Komplikasi yang terjadi pada kehamilan ibu seperti

perdarahan antepartum, pre-eklamsia berat, eklamsia, dan kelahiran

preterm. Angka kejadian BBLR tertinggi ditemukan pada bayi yang

dilahirkan oleh ibu-ibu dengan usia muda. Faktor kebiasaan ibu juga

berpengaruh seperti ibu perokok, pecandu alkohol dan pengguna

narkotika. (2) Faktor janin Prematur, hidramion, kehamilan

kembar/ganda (gemeli). (3) Faktor lingkungan yang dapat berpengaruh

antara lain: tempat tinggal di daratan tinggi, radiasi, sosio-ekonomi dan

paparan zat-zat racun. Sebagian besar bayi lahir dengan BB normal

dikarenakan ibu balita selalu memantau pertumbuhan dan

perkembangan janin, mengenali bahaya selama kehamilan serta

mengkonsumsi diet gizi seimbang. Selain itu, juga berkaitan dengan

pendidikan ibu yang tinggi karena ia dapat mengetahui berbagai

informasi dan pengetahuan tentang perkembangan janin.

Wibowo (2008) menambahkan bahwa bayi yang lahir dengan

BB rendah akan lebih cepat bertambah berat badanya seakan-akan

mengejar ketertinggalanya sedangkan bayi non BBLR umumnya

sering tumbuh lambat hal ini diperkirakan oleh kualitas dan kuantitas
80

makanan serta adanya gangguan pencernaan yang diderita bayi selama

masa pertumbuhan dan perkembangannya.

Sukmawati (2011) menjelaskan dalam penelitiannya bahwa

bayi usia 6-12 bulan kejadian stunting berhubungan signifikan dengan

kejadian BBLR. Percepatan pertumbuhan bayi dengan BBLR terjadi

pada 3-6 bulan postnatal, selanjutnya sesudah umur 6 bulan kurva

pertumbuhan bayi berat lahir rendah tampak lebih mendatar. Bayi yang

lahir dengan BBLR mempunyai risiko untuk mengalami stunting pada

usia 6-12 bulan sebesar 3,6 kali dibandingkan dengan bayi yang lahir

dengan berat badan normal. Terjadi perubahan status stunting pada

usia 3-4 tahun dibandingkan dengan usia 6-12 bulan yaitu meningkat

sebanyak 6,3%.

Muqni (2012) menambahkan bahwa ada tiga hal yang

mendasari terjadinya pemberian makanan yang tidak adequat (cukup)

dan timbulnya penyakit infeksi yaitu rendahnya akses memperoleh

makanan dalam rumah tangga, rendahnya pelayanan kesehatan dan

lingkungan yang tidak sehat, serta rendahnya perhatian kepada anak

dan ibu. Anak balita dari keluarga sosial ekonomi yang tinggi

cenderung mengkonsumsi makanan kecil dengan kalori tinggi,

sementara anak balita dari kelompok ekonomi rendah cenderung

membeli makanan kecil dengan kalori rendah.

Srikandi (2011) dalam penelitiannya menunjukkan hasil

terdapat hubungan yang bermakna antara riwayat berat bayi lahir


81

rendah dengan status gizi pada balita di wilayah kerja Puskesmas

Gondosari Kabupaten Kudus pada tahun 2011. Mcdonald, dkk., (2012)

dalam penelitiannya menunjukkan hasil dengan metode multivariate

didapatkan hasil bahwa ada hubungan antara BBLR dengan status gizi

anak. Begitu juga dengan hasil penelitian Saputra (2012) yang

menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara BBLR dengan

kejadian gizi buruk di Kelurahan Pringgokusuman Yogyakarta tahun

2012. Namun ada korelasi yang positif atau searah antara berat lahir

dan status gizi. Artinya, semakin besar nilai berat lahir semakin besar

pula nilai status gizi. Anak usia 2-3 tahun dengan riwayat berat lahir

rendah dan kecil masa kehamilan akan mengalami tumbuh kejar. Hal

ini dikarenakan ada faktor lain yang dapat mempengaruhi status gizi

anak antara lain : status sosial-ekonomi yang baik, pendidikan ibu

sedang-tinggi, tempat tinggal di perkotaan, episode infeksi yang

rendah (khususnya diare dan penyakit pernapasan), status menyusui

yang baik (misalnya pemberian ASI eksklusif), status kelahiran (bayi

bukan dengan kelahiran kembar), interval kelahiran >2 tahun,

pemberian makanan pendamping sejak dini, imunisasi yang lengkap

dan perawatan kesehatan yang cepat dan tepat waktu memiliki efek

positif yang signifikan pada kesehatan anak. Selain itu status gizi dan

kesehatan ibu juga genetika memainkan peran penting dalam

pertumbuhan.
82
BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

1. Mayoritas orang tua khususnya ibu bekerja sebagai buruh pabrik,

mayoritas balita berjenis kelamin perempuan, berumur antara 37-

50 bulan.

2. Mayoritas pengetahuan orang tua, khususnya ibu tentang gizi

masih rendah, mempunyai tingkat pendidikan rendah karena hanya

berpendidikan dasar, mempunyai tingkat pendapatan keluarga lebih

dari UMR, mayoritas ibu memberikan ASI eksklusif mempunyai

balita dengan gizi baik dan ibu tidak memberikan ASI eksklusif

mempunyai balita dengan gizi kurang, semua responden telah

diberikan imunisasi secara lengkap dan mayoritas balita pada saat

lahir mempunyai berat badan normal.

3. Ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu dengan kejadian

balita gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Cebongan.

4. Tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan ibu dengan kejadian

balita gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Cebongan.

5. Ada hubungan antara tingkat pendapatan keluarga dengan kejadian

balita gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Cebongan.

6. Ada hubungan antara pemberian ASI dengan kejadian balita gizi

kurang di wilayah kerja Puskesmas Cebongan.

82
83

7. Tidak ada hubungan antara kelengkapan imunisasi dengan kejadian

balita gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Cebongan.

8. Ada hubungan antara berat badan bayi saat lahir dengan kejadian

balita gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Cebongan.

6.2. Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan keterbatasan penelitan, maka peneliti

memberikan saran sebagai berikut:

6.2.1. Kepada orang tua balita

Diharapkan untuk terus meningkatkan pengetahuan tentang

pentingnya kebutuhan asupan gizi bagi balita sehingga kesehatannya

tetap terjaga serta dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan

usianya secara normal. Pengetahuan dapat diperoleh dengan tetap

aktif mengikuti kegiatan posyandu balita sehingga informasi tentang

gizi balita mudah diperoleh dari kader poyandu dan petugas

kesehatan dari puskesmas.

6.2.2. Bagi Masyarakat

Masyakarat diharapkan lebih peduli dan kooperatif serta

memberikan dukungan secara penuh terhadap pemberian ASI

eksklusif kepada bayi usia 0-6 bulan agar bayi dapat tumbuh dan

berkembang secara normal dan terjaga status gizinya secara baik.

6.2.3. Bagi Puskesmas

Diharapkan pihak Puskesmas dapat lebih efektif melakukan

penyuluhan dan pemberian pendidikan kesehatan di posyandu-


84

posyandu kepada ibu hamil dan ibu yang mempunyai anak balita

tentang pemberian asupan gizi dan pentingnya memberikan ASI

secara eksklusif terutama selama 6 bulan pertama dalam kehidupan

bayi setelah lahir, sehingga jumlah balita dengan gizi kurang dapat

berkurang.

6.2.4. Bagi Peneliti lain

Diharapkan peneliti selanjutnya dapat lebih care agar

responden dapat bersikap lebih terbuka untuk menjawab kuesioner

atau dibantu dengan sesepuh masyarakat setempat agar responden

lebih percaya kepada peneliti dan mau bekerjasama, sehingga

kualitas pengisian kuesioner dapat lebih dipertanggungjawabkan.

Selain itu diharapkan peneliti selanjutnya dapat kontrak waktu yang

tepat saat ibu memiliki waktu luang dimana pada saat anak sedang

tidur sehingga responden dapat lebih fokus mengisi kuesioner secara

lebih real dan jujur, dengan cara peneliti mengunjungi rumah

responden satu per satu.


DAFTAR PUSTAKA

Al-Assaf, A.F. (2003). Health Care Quality : International Perspektif. Jakarta :


EGC.
Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:
Rineka Cipta.

Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat. (2007). Gizi dan Kesehatan


Masyarakat. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Departemen Kesehatan RI. (2013). Laporan Nasional: Riset Kesehatan Dasar


(Riskesdas) 2013. Jakarta: Badan Penelitian Dan Pengembangan
Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.

Depkes RI. (2008). Pedoman Respon Cepat Penanggulangan Gizi Buruk, Jakarta:
Departemen Kesehatan.

Depkes RI. (2011). Bagan Tatalaksana Anak Gizi Buruk. Jakarta: Departemen
Kesehatan.

DINKES Prov Jateng. (2013). Data informasi kesehatan jawa tengah 2013.

Efendi, Sofyan. (2012). Metode Penelitian Survei. Jakarta : LP3ES.


Evans, A., Seth, J.G., Smith, S., Harris, L. &Gothieb, N. (2011). Parental Feeding
Practice Concern Related to Child Underweight , Picky Eating and Using
Food to Calm Differ Acording to Etnicity/Race, Aculturation, and Income.
Springer Science &Bussnes Media, 15: 899-909.

Fatimah, Sari. 2008. Faktor-Faktor Yang Berkontribusi Terhadap Status Gizi


Pada Balita Di Kecamatan Ciawi Kabupaten Tasikmalaya. Jurnal
Kesehatan Vol 10 No. XVIII Maret 2008 – September 2008 Hal 37-51.

Feinstorm.J.D.,Uauy.R. &Arroyo.P.(2005). Nutrition and Brain. Center for


international child health: institute of child health/University of London
UK.

Ghazi, H., Mustafa, J., Isa, J. &Abdalqader, A. (2013). Malnutrition Among 3 to 5


Years old in Baghdad City, Iraq: A Cross Sectionl Study. International
Center for Diarhoeal Disease Recsearch. 31(3): 350-355.

Gibney MJ, Barrie MM, John MK, and Leonore A. 2005. Public Health Nutrition.
Oxford: Blackwell Publishing Ltd.

Gibney, J., Michael, Barnie, M., Margarets, John, M.K. & Lenore, A. (2009). Gizi
Kesehatan Masyarakat. Jakarta: EGC.
Gulo,W. (2007). Metodelogi Penelitian. Jakarta: Grasindo.

Hassiotao, Underhill.J. & Hepworth. (2013). Immune Cells in Breast Milk


Increase During Infections Of The Mother And Infant. Australian Medical
Journal.AMJ. 2013, 6 (11) : 580-685.

Henderson, C., Jones, K. (2006). Buku Ajar Konsep Kebidanan. Jakarta. EGC.

http://www.indonesia.go.id/in/kementerian/kementerian/kementerian-negara-
pemberdayaan-perempuan-dan-perlindungan-anak/1596-kesehatan/2319-
86-bayi-di-indonesia-tidak-diberi-asi-eksklusif. Diakses 27 Nopember
2014. Pukul:22.00 WIB.

Ihsan M. (2012). Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Status Gizi Anak Balita
di Desa Teluk Rumbia Kecamatan Singkil Kabupaten Aceh Singkil. Jurnal
Gizi Indonesia. 2012; 22(3): 44-54.

Jamra, V. &Bankwar, V. (2013). Effect of Short Term Comunnity Based


Intervention to Reduce The Prevalence of Under Nutrition In Under Five
Childern. Niatjl Community Med, 4(3): 413-417.

Jansen, W., Sabin, J.R., Vincent, W.,Heinraat., Hofman, A. &Henning,T (2011).


Childern’s Eating Behaviour, Feeding Practice of Parents and Weight
Problems In Early Childhood: Result from the Population-Based
Generation R Study. BMC Public Health, 9: 130.

Joeharno, (2008). Beberapa Faktor Risiko Kejadian BBLR di Rumah Sakital


Fatah Ambon Periode Januari – Desember Tahun 2006. Skripsi. Tidak
diterbitkan. FIK , Universitas Negeri Ambon.

Jonny, P. (2005). Pengelolaan Lingkungan Sosial. Jakarta: Yayasan Obor


Indonesia.

Kahleen, R.M. (2009). Investigasidan Pengendalian Wabah di Pelayanan


Fasilitas Kesehatan. Jakarta: EGC.

Kelana Kusuma Dharma (2011). Metodologi Penelitian Keperawatan. Jakarta:


Trans Info Media.

Kemenkes RI. (2012). Petunjuk Pelaksanaan Surveilans Gizi. Jakarta:Kementrian


Kesehatan RI.

Kemenkes RI. (2010). Rencana Aksi Pembinaan Gizi Masyarakat 2010-2014.


Jakarta:Kementrian Kesehatan RI.

Kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. (2008).


Diakses pada 20 Oktober 2014. Pukul: 16.00WIB.
Kumar, A. & Sighn, A. (2013). Decomposing The Gap in Childhood
Undernutrition In Under Five Childern. Plus One, 8(5): e64972.

Mastin, Masruroh dan Katrin Roosita. (2015). Kecukupan Vitamin A dan Praktek
Pemberian Air Susu Ibu serta Kelengkapan Imunisasi Dasar dan
Morbiditas Bayi. Jurnal Gizi Pangan, Maret 2015, 10(1): 49-56.

Mc Donald, Kupka, R.,Bosch, R., Spiegelman, D. & Duggan, L.P. (2012).


Predictors of Stunting, Wasting, and Underweight Among Tanzanian
Childern Born to HIV-Infected Woman. Europan Journal of Clinical
Nutriion, 66: 1265-1276.

Muaris. H. (2006). Sarapan Sehat Untuk Anak Balita. Jakarta : PT Gramedia


Pustaka Utama.

Mubarak. Wahid Iqbal. (2007). Promosi Kesehatan. Jogjakarta : Graha ilmu.

Muqni, Asry Dwi. (2012). Hubungan Berat Badan Lahir dan Pelayanan KIA
terhadap Status Gizi Anak Balita di Kelurahan Tamamaung Makassar.
Media Gizi Masyarakat Indonesia, Vol.1,No.2, Februari 2012 :109-116.

Nilakesuma, Aisyah. (2015). Hubungan Status Gizi Bayi dengan Pemberian ASI
Ekslusif, Tingkat Pendidikan Ibu dan Status Ekonomi Keluarga di Wilayah
Kerja Puskesmas Padang Pasir. Artikel Penelitian Jurnal Kesehatan
Andalas. 2015; 4(1) hal37-44 diakses dari http://jurnal.fk.unand.ac.id
tanggal 6 Juni 2015. Pukul: 15.30 WIB.

Notoatmojo, Soekidjo. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka


Cipta.

Notoatmojo, Soekidjo. (2007). Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: :


Rineka Cipta.

Notoatmodjo, S. (2010). Promosi Kesehatan : Teori dan Aplikasidan. Jakarta: PT


Rineka Cipta.

Pei, L., Ren. & Yan, H. (2014). A Survey of Undernutrition in Childern Under
Three Years of Age in Rural Western China.BMC Public Health ,14 : 121.

Pormes, Wellem Elseus. (2014). Hubungan Pengetahuan Orang Tua Tentang Gizi
Dengan Stunting Pada Anak Usia 4-5 Tahun di TK Malaekat Pelindung
Manado. Jurnal Keperawatan vol 2 no 2 2014.

Priharsiwi. (2006). Potret Buram Anak Indonesia di-Era Otonomi Daerah


‘’Busung Lapar’’. Yogyakarta: Media Pasindo.
Priyatno, D. (2010). Teknik Mudah dan Cepat Melakukan Analisis Data
Penelitian dengan SPSS dan Tanya Jawab Ujian Pendadaran.
Yogyakarta: Gava Media.

Proverawati, A. (2010). Imunisasi dan Vaksinasi. Yogyakarta:Nuha Offset.

Pujiyanti, Suci. (2008). Pengaruh Pemberian Air Susu Ibu (ASI), Konsumsi Zat
Gizi, dan Kelengkapan Kartu Menuju Sehat (KMS) terhadap Status Gizi
Bayi. Jurnal Gizi dan Pangan, Maret 2008 3(1): 7 – 11.

Rahmawati, NA; I Novi Anding Suciati dan Istichhomah. (2015). Hubungan


Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Gizi Kurang Pada Balita Terhadap
Kejadian Gizi Kurang Di Desa Penusupan Tahun. SIKLUS 2015 -
ejournal.poltektegal.ac.id. diakses tanggal 6 Juni 2015. Pukul:16.00 WIB.

Roesli, Utami. (2005). Mengenal ASI Eksklusif. Jakarta: Trubus Agriwidya.

Saputra & Nurizka. (2012). Faktor Demografi dan Resiko Gizi Buruk dan Gizi
Kurang. Tanjung Biru Research Institute, 16(2): 95-101.

Saputra. ( 2012). Menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara BBLR


dengan kejadian gizi buruk. di Kelurahan Pringgokusuman Yogyakarta
tahun 2012.

Sarah. (2008). Penelitian yang berjudul hubungan antara pendapatan keluarga


dengan status gizi balita di wilayah kerja Puskesmas Pantai Cermin
Kecamatan Tanjung Pura Kabupaten Langkat.

Sihadi. (2006). Kurang Energi Protein pada Anak Balita. Jurnal Epidemiologi
Indonesia. Vol. 8 Edisi 3.

Sinclair, C. (2009). Buku Saku Kebidanan. Jakarta : EGC.

Soetjiningsih. (2007). Buku Ajar Tumbuh Kembang Remaja dan


Permasalahannya. Jakarta : Sagung Seto.

Srikandi, G. (2011). Hubungan Riwayat Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)


Terhadap Status Gizi Anak Balita Di Puskesmas Gondosari Kabupaten
Kudus. Artikel Penelitian. Yogyakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
Islam Indonesia.

Suhardjo. (2005). Perencanaan Pangan dan Gizi. Jakarta: Bumi Aksara.

Sukmawati, Yohana. (2011). Pengaruh BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) dan
Pemberian ASI Eksklusif terhadap Perubahan Status Stunting Pada Balita
di Kota dan Kabupaten Tangerang Provinsi Banten. Prosiding Seminar
Nasional “Peran Kesehatan Masyarakat dalam Pencapaian MDG’s di
Indonesia” 12 April 2011 161-169.

Sunarti, E. (2004). Mengasuh Dengan Hati. Jakarta: Elex Media Kompetindo.

Supariasa, N., Bakhri,B. & Fajar,I. (2013). Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC.

Supartini, Y., (2004). Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan anak. Jakarta: EGC.

Sutomo, B & Anggraini, D. Y., (2010), Makanan Sehat Pendamping ASI.


Demedia.Jakarta.

Syarif DR, Lestari ED, Mexitalia M, Nasar SS. (2011). Buku Ajar Nutrisi
Pediatrik dan Penyakit Metabolik. Jilid I. Jakarta: Badan Penerbit Ikatan
Dokter Anak Indonesia.

Tonda, Mikhael. (2012). Hubungan Status Gizi Saat Lahir dengan Pertumbuhan
Balita Saat Ini di Desa Caturtunggal Kecamatan Depok Sleman
Yogyakarta. Artikel Penelitian. Yogyakarta: Prodi Gizi Universitas
Respati Yogyakarta.

Turnip, Olivia. (2014). Hubungan Pendapatan, Penyakit Infeksi dan Pengetahuan


Ibu dengan Kejadian Gizi Kurang pada Balita di Wilayah Puskesmas
Glugur Darat Tahun 2014. Gizi, Kesehatan Reproduksi dan Epidemiologi
vol 1 no 4 2014.

Ulfah, Maria dan Septya Ayu Fransiska. (2014). Analisis Faktor Penyebab
Langsung Dan Tidak Langsung Status Gizi Anak Balita Di Desa
Tanahbaya Kecamatan Randudongkal Kabupaten Pemalang Tahun 2014.
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 2, No 2 Agustus 2014 hal 70-77.

UNICEF Indonesia. (2012). Ringkasan Kajian. Di akses pada 2 Oktober 2014 dari
www.Unicef.or.id. Pukul: 16.00WIB.

UNICEF. (2013). Improving Child Nutrition. New York: Division of


Comunication UNICEF.

Vindriana Vidya. (2012). Hubungan Kelengkapan Imunisasi dengan Status Gizi


pada Balita Usia 1-5 Tahun di Kelurahan Watonea Wilayah Kerja
Puskesmas Katobu Kabupaten Muna. Jurnal Kesehatan Volume 1 Nomor
2 Tahun 2012: 1-8.

Wasis. (2007). Pedoman riset praktis untuk profesi perawat. Jakarta: EGC.

Watloly, A. (2002). Tanggung Jawab Pengetahuan. Penerbit Kanisius: Jogjakarta.

Wibowo. (2008). Ilmu Kebidanan. Jakarta : YBP-SP.


Wise, P. (2004). Panduan Kesehatan Masyarakat. Surakarta :Yayasan Indonesia
Sejahtera.

Wong, D. (2002). Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta: EGC.

Wong, D., Merylin, H., David, W., Merylin, L. & Patricia, S. (2008). Buku Ajar
Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC.

World Food Progam. (2007). Hunger and Health. WFP: UK.