Anda di halaman 1dari 140

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN

PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI WILAYAH KERJA


PUSKESMAS BANDARHARJO SEMARANG TAHUN 2016

SKRIPSI

Disusun guna memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana
Kesehatan Masyarakat dengan Peminatan Manajemen Kesehatan

MARDIAH NURMEI NISTI


NIM.D11.2012.01568

PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO
SEMARANG
2016
© 2016

Hak Cipta Skripsi Ada Pada Penulis

ii
iii
PERNYATAN KEASLIAN SKRIPSI

Saya bertanda tangan dibawah ini :

Nama Pelaksana : Mardiah Nurmei Nisti

NIM : D11.2012.01568

Program Studi : S1 Kesehatan Masyarakat

Fakultas : Kesehatan

Judul Tugas Akhir : Faktor-Faktor yang Dengan Berhubungan Pemberian ASI

Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Bandaharjo

Semarang Tahun 2016

Menyatakan bahwa skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri, dan apabila

dikemudian hari ditemukan adanya bukti plagiat, dan / atau pemalsuan data

maupun bentuk kecurangan lain, saya bersedia untuk menerima sanksi dari

Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro Semarang menurut aturan

yang berlaku.

Semarang, 5 Agustus 2016

Mardiah Nurmei Nisti


PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH

UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIK

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Mardiah Nurmei Nisti

NIM : D11.2012.01568

Fakultas : Kesehatan

Program Studi : Kesehatan Masyarakat

Demi mengembangkan Ilmu Pengetahuan, menyetujui untuk memberikan


kepada Universitas Dian Nuswantoro Hak Bebas Royalti Non-Eksklusif (Non-
exlcusive Royalty-Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul Faktor-Faktor
yang Berhubungan Dengan Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Kerja
Puskesmas Bandarharjo Semarang Tahun 2016 Beserta perangkat yang
diperlukan (bila ada). Dengan Hak Bebas Royalti Non-Eksklusif ini Uniersitas
Dian Nuswantoro berhak untuk menyimpan, meng-copy ulang (memperbanyak).
Menggunakan, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data (database),
mendistribusikannya dan menampilkan/mempublikasikannya di internet atau
media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya
selama tetap mencantumkan nama saya sebagai peneliti/pencipta dan nama
pembimbing saya.

Saya bersedia untuk menanggung segala bentuk tuntutan hukum yang timbul
atas pelanggaran Hak Cipta dalam karya ilmiah saya ini.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Semarang, 5 Agustus2016

(Mardiah Nurmei Nisti)

vi
HALAMAN PERSEMBAHAN

ほんとうにありがとうおかあさんとおにいちんとおねえちゃん
とこいちびです。とってもすごいねえ

みんなはさいこ。
(Ku ucapkan terimakasih teruntuk ibu, Kakak-kakakku, serta
Koichibi. Kalianlah yang terhebat)

Terimakasih untuk Nila, Nining, Dan AFA

みんなほうんとうにありがとうねえ。。。

vii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : MARDIAH NURMEI NISTI

Tempat, Tanggal Lahir : Padang, 10 Mei 1992

Agama : Islam

Alamat :Jl.Abdul Majid Gg. Langgar 05/05 Cipete Selatan


Cilandank Jaksel

Riwayat Pendidikan :

1. SD SWASTA YAPI 1999 - 2005

2. MTS SWASTA PAINGAN 2005 - 2007

3. SMA NEGERI 5 KARAWANG 2007- 2010

4. Diterima di Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat Universitas Dian

Nuswantoro Semarang tahun 2012.

viii
PRAKATA

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan
karunia-Nya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan penyusunan skripsi dengan
judul Faktor-Faktor yang Berhubungan Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Kerja
Puskesmas Bandarharjo Semarang Tahun 2016.

Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi salah satu syarat meraih
gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat di Fakultas Universitas Dian Nuswantoro
Semarang.

Dalam kesempatan ini peneliti ingin mengucapkan terima kasih kepada :

1. Dr. Ir. Edi Noersasongko. M.kom selaku Rektor Universitas Dian

Nuswantoro.

2. Dr. dr. Sri Andarini Indraswari , M.kes selaku Dekan Fakultas Kesehatan

Universitas Dian Nuswantoro Semarang.

3. Kepala Puskesmas Bandarharjo dan beserta stafnya yang telah

membantu memberikan data dan izin penelitian.

4. Dr. MGC Yuantari, M.kes selaku Ketua Program Studi S1 Kesehatan

Masyarakat.

5. Ibu Vilda Ana Veria S. M.gizi selaku pembimbing skripsi atas segala

bimbingan, masukan, motivasi, dan bantuannya demi terselesaikannya

skripsi ini.

6. Semua dosen dan staf Program Studi Kesehatan Masyarakat yang telah

memberikan banyak ilmu dan pengalaman yang berharga.

7. Pihak-pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu-persatu yang telah

mendukung dan membantu dalam menyusun skripsi ini.

ix
Semoga Allah SWT memberikan balasan atas segala kebaikan dan

bantuan yang telah diberikan kepada peneliti.

Dalam penyusunan skripsi ini masih banyak terdapat kekurangan, hal

itu disebabkan keterbatasan peneliti. Sehingga kritik dan saran dari pembaca

sangat diharapkan untuk kesempurnaannya. Akhir kata peneliti berharap

semoga Skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Semarang, 5 Agustus 2016

Peneliti

x
Program Studi S1 kesehatan Masyarakat
Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro
Semarang
2016
ABSTRAK

Mardiah Nurmei Nisti


FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI
EKSKLUSIF
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BANDARHARJO
SEMARANG TAHUN 2016

Xix + 75 hal + 32 tabel + 2 gambar + 4 lampiran

ASI merupakan gizi yang paling sempurna dan penting untuk bayi. Di kota
Semarang Puskesmas Bandarharjo merupakan salah satu Puskesmas dengan
cakupan pemberian ASI Eksklusif rendah tiap tahunnya, pada tahun 2015
sebesar 33% saja. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor
yang berhubungan dengan pemberian ASI Eksklusif bayi usia 6-12 bulan pada
ibu di wilayah kerja Puskesmas Bandarharjo Semarang.
Jenis penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif dan
pendekatan propotional sampling. Populasi dalam penelitian ini adalah semua
ibu yang memiliki bayi usia 6-12 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Bandarharjo
Semarang sebanyak 75 ibu.
Hasil penelitian penunjukan bahwa 30,7% ibu memberikan ASI Eksklusif.
Tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu (p=0,83), sikap
(p=0,38), sedangkan ada hubungan yang signifikan antara pekerjaan (p=0,00),
psikologi (p=0,01), tenaga kesehatan (p=0,00), dukungan keluarga (p=0,00),
promosi susu formula (p=0,00), dengan faktor inisiasi menyusui dini (p=0,00)
dengan pemberian ASI Eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Bandarharjo
Semarang.
Disarankan bagi bagi petugas untuk lebih persuasif dalam mengajak ibu
untuk mengikuti pelayanan konseling laktasi untuk meningkatkan kesadaran ibu
untuk memberikan ASI secara Eksklusif.

Kata kunci : ASI Eksklusif, Puskesmas, bayi


Kepustakaan : 32 pustaka, 2003-201

xi
UNDERGRADUATE PROGRAM OF PUBLIC HEALTH
FACULTY OF HEALTH SCIENS DIAN NUSWANTORO UNIVERSITY
SEMARANG
2016

ABSTRACT

Mardiah Nurmei Nisti

FACTORS ASSOCIATED TO EXCLUSIVE BREASTFEEDING


IN WORK AREA OF BANDARHARJO PRIMARY HEALTH CARE
SEMARANG YEAR 2016

Xix + 75 Pages + 32 Tables + 2 Figures + 4 Appendices

Breastfeeding is the most perfect nutrition and important to babies.


Bandarharjo primary health care is one of the health centers with low exclusive
breastfeeding coverage each year, in 2015 that was only 33%. The purpose of
this study was to analyze factors associated to exclusive breastfeeding in the
working area Bandarharjo Semarang Primary health care semarang.
The study was the study was quantitative research methods and
approaches of the proportional sampling. The population in this study was all
mothers with babies aged 6-12 months of Bandarharjo primary health care
Semarang by 75 mothers.
The results of the study showed that 30.7% of mothers breastfeed
exclusively. There was no significant relationship between mother knowledge (p
= 0.83), attitude (p = 0.38), whereas no significant relationship between work (p =
0.00), psychology (p = 0.01), energy health (p = 0.00), family support (p = 0.00),
promotion of infant formula (p = 0.00), by a factor of early initiation of
breastfeeding (p = 0.00) with exclusive breastfeeding in PHC Bandarharjo
Semarang.
It is advisable for the officers to be more persuasive in urging mothers to
follow lactation counseling services to raise awareness of mothers to breastfeed
exclusively.

Keywords : Exclusive breastfeeding, Primary Health Care, baby


Bibliography : 32 libraries, 2003-20

xii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ........................................................................... i

HALAMAN HAK CIPTA .................................................................... ii

HALAMAN PERSETUJUAN LAPORAN AKHIR .............................. iii

HALAMAN PENGESAHAN DEWAN PENGUJI ............................... iv

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN ............................................ v

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ................ vi

HALAMAN PERSEMBAHAN ........................................................... vii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ............................................................. viii

PRAKATA ........................................................................................ xi

ABSTRAK ........................................................................................ xii

DAFTAR ISI ..................................................................................... xiii

DAFTAR TABEL .............................................................................. xvi

DAFTAR GAMBAR .......................................................................... xvii

DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................... xviii

BAB I. PENDAHULUAN ............................................................. 1

A. Latar Belakang ............................................................................. 1

B. Perumusan Masalah .................................................................... 4

C. Tujuan Penelitian ......................................................................... 4

D. Manfaat Penelitian .............................................................. 6

E. Keaslian Penelitian ....................................................................... 6

F. Lingkup Penelitian ........................................................................ 8

xiii
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...................................................... 9

A. Air Susu Ibu ................................................................................. 9

B. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Pemberian ASI

Eksklusif ....................................................................................... 14

C. Kebijakan Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif ................................ 20

D. Peran Pemerintah Dalam Meningkatkan Pemberian ASI ............. 22

E. Strategi Peningkatan Cakupan ASI Ekslusif ................................. 24

F. Puskesmas ................................................................................. 25

G. Faktor – Faktor Perilaku Kesehatan Menurut Lawrence Green .... 27

H. Kerangka Teori .................................................................. 27

BAB III METODE PENELITIAN ................................................... 29

A. Kerangka Konsep......................................................................... 29

B. Hipotesis ...................................................................................... 30

C. Jenis Penelitian ............................................................................ 31

D. Variabel Penelitian ....................................................................... 32

E. Populasi dan Sampel ................................................................... 34

F. Pengumpulan Data ...................................................................... 35

G. Pengolahan Data ......................................................................... 41

H. Analisis Dsta ................................................................................ 42

BAB IV HASIL PENELITIAN ....................................................... 43

A. Gambaran Umum Puskesmas Bandarharjo ................................. 43

B. Karakteristik Responden .............................................................. 44

C. Analisis Univariat .......................................................................... 47

D. Analisis Bivariat ............................................................................ 57

E. Ringkasan Hasil Uji Bivariat ......................................................... 63

xiv
BAB V PEMBAHASAN .................................................................... 64

A. Keterbatasan Penelitian ............................................................... 64

B. Pembahasan ................................................................................ 65

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ........................................... 74

A. Kesimpulan .................................................................................. 74

B. Saran ........................................................................................... 76

DAFTAR PUSTAKA

xv
DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Tabel Keaslian Penelitian ........................................................ 6

Tabel 3.1 Definisi Operasional ................................................................. 32

Tabel 3.2 Validitas Kuesioner Pengetahuan ............................................ 37

Tabel 3.3. Validitas Kuesioner Sikap........................................................ 38

Tabel 3.4 Validitas Kuesioner Psikologis Ibu............................................ 39

Tabel 3.5 Validitas Kuesioner Tenaga Kesehatan.................................... 39

Tabel 3.6 Validitas Kuesioner Dukungan Keluarga .................................. 39

Tabel 3.7 Validitas Kuesioner Promosi Susu Formula ............................. 39

Tabel 3.8 Validitas Kuesioner Inisiasi Menyusui Dini ............................... 40

Tabel 3.9 Reliabilitas Kuesioner Variabel Bebas ...................................... 40

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Menurut Umur Ibu .................................... 44

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Menurut Pendidikan Ibu ........................... 45

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Menurut Pekerjaan ................................... 45

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Menurut Bayi Dalam Bulan ....................... 46

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Menurut Jenis Kelamin Bayi ..................... 46

Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Menurut Psikologis Responden ................ 46

Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Menurut Pengetahuan .............................. 47

Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Tentang Pengetahuan

................................................................................................................ 48

Tabel 4.9 Distribusi Frekuensi Menurut Sikap .......................................... 51

Tabel 4.10 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Tentang Sikap ......

................................................................................................................ 50

Tabel 4.11 Distribusi Frekuensi Menurut Tenaga Kesehatan ................... 54

xvi
Tabel 4.12 Distribusi Frekuensi Menurut Dukungan Keluarga.................. 55

Tabel 4.13 Distribusi Frekuensi Menurut Iklan Susus Formula................. 55

Tabel 4.14 Distribusi Frekuensi Inisiasi Menyusui Dini (IMD) ................... 56

Tabel 4.15 Distribusi Frekuensi Pemberian ASI Eksklusif ........................ 57

Tabel 4.16 Hubungan Antara Pengetahuan Dengan Pemberian ASI Eksklusif

................................................................................................................ 57

Tabel 4.17 Hubungan Antara Sikap Dengan Pemberian ASI Eksklusif .... 58

Tabel 4.18 Hubungan Antara Pekerjaan Dengan Pemberian ASI Eksklusif

................................................................................................................ 58

Tabel 4.19 Hubungan Antara Psikologis Ibu Dengan Pemberian ASI Eksklusif

................................................................................................................ 59

Tabel 4.20 Hubungan Antara Tenaga Kesehatan Dengan Pemberian ASI

Eksklusif .................................................................................................. 60

Tabel 4.21 Hubungan Antara Dukungan Keluarga Dengan Pemberian ASI

Eksklusif .................................................................................................. 60

Tabel 4.22 Hubungan Antara Promosi Susu Formula Dengan Pemberian ASI

Eksklusif .................................................................................................. 61

Tabel 4.23 Hubungan Antara Antara IMD Dengan Pemberian ASI Eksklusif

................................................................................................................ 62

Tabel 4.24 Ringkasan Hasil Uji Chi-Square Antara Variabel Bebas Dan Variabel

Terikat ..................................................................................................... 63

xvii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kerangka Teori Lawrence Health Promotion Planning and

Educational and Environment Approach dan modifikasinya ..................... 27

Gambar 3.1 Kerangka Konsep................................................................. 29

xviii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Izin Penelitian

Lampiran 2 Kuesioner Penelitian

Lampiran 3 Data Lengkap Hasil Penelitian

Lampiran 4 Dokumentasi Penelitian

xix
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

ASI merupakan satu jenis makanan yang mencukupi seluruh unsur

kebutuhan bayi baik fisik maupun psikologi sosial. ASI mengandung nutrisi,

hormon, unsur kekebalan pertumbuhan, anti alergi, serta anti inflamasi.

Nutrisi dalam ASI mencakup hampir 200 unsur zat makanan.(1)

Di Negara-negara berkembang malnutrisi merupakan masalah

kesehatan. Hampir 800 juta orang dengan sebagian besar dari negara-

negara berkembang. Proporsinya 70% di Asia, 26% di Afrika dan 4% di

Amerika Latin dan Caribbean. Diperkirakan 80% dari jumlah ibu yang

melahirkan mampu untuk menghasilkan air susu ibu dalam jumlah yang

cukup untuk keperluan bayinya secara penuh tanpa makanan tambahan

bahkan ibu yang gizinya kurang baikpun dapat menghasilkan ASI cukup

tanpa makanan tambahan. Kementerian Kesehatan RI menargetkan

cakupan ASI eksklusif 6 bulan sebesar 80%. Demikian sangat sulit untuk

dicapai bahkan tren prevalensi ASI eksklusif masih jauh dari target(1)(2).

Kebijakan pemerintah menurunkan angka kematian bayi di Indonesia

adalah meningkatkan pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif, yang diatur di

dalam Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian Air

Susu Ibu Eksklusif. Menyusui eksklusif selama enam bulan serta tetap

memberikan ASI sampai 6 bulan, dapat menurunkan kematian balita

sekitar 13%. Sekitar 16% kematian neonatal dapat dicegah apabila bayi

disusui sejak hari pertama kelahiran dan bayi yang menyusu dalam satu

1
2

jam pertama dapat menurunkan risiko kematian sekitar 22%. Namun angka

cakupan pemberian ASI Eksklusif di Indonesia berfluktuasi cenderung

menurun(2).

Cakupan keberhasilan pemberian ASI secara ekskusif di Jawa

tengah tahun 2014 masih rendah. Kendala informasi menjadi faktor

pertama penyebabnya. Informasi pentingnya ASI ekslusif belum

tersampaikan pada masyarakat utamanya di wilayah pedesaan. Informasi

rata-rata bisa diterima melalui komunitas dan media sosial. Capaian

pemberian ASI ekslusif di Jateng dari 57,6 persen dari jumlah ibu

menyusui(3).

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang tahun

2011 cakupan ASI Eksklusif di Kota Semarang tahun 2011 yaitu 14,09%

terjadi peningkatan sebesar 7,83% dibandingkan pada tahun 2010 yaitu

7,26%, tetapi pada kenyataannya masih banyak bayi usia 0-6 bulan yang

tidak diberi ASI Eksklusif sampai usia 6 bulan(26). Karena ketersediaan data

ini dan sebelumnya telah melakukan program magang serta sosialisasi

tentang pentingnya pemberian ASI di Puskesmas Bandarharjo akhirnya

peneliti melakukan penelitian di Wilayah Kerja Puskesmas Bandarharjo.

Dilihat dari cakupan pemberian ASI Eksklusif tahun 2015 pada bayi

usia 0-6 hannya 5 bayi perempuan dan 3 bayi laki-laki dengan total 8 bayi

dari 24 bayi yang ada di wilayah kerja Puskesmas Bandarharjo. Dari ke 4

(empat) kelurahan yang ada. Masih banyak ibu tidak memberikan ASI

Eksklusif ditambah dengan permasalahan kesehatan yang kompleks dan

letak geografis lingkungan tempat tinggal. Target Puskesmas untuk

program ASI Eksklusif adalah 80% dengan realisasi hanya 33% saja.(4)
3

Ada banyak kendala dalam pencapaian target untuk cakupan ASI

Eksklusif tidak hannya kendala dari Puskesmas saja juga dari masyarakat

khususnya pengetahuan ibu menyusui dan juga ditambah faktor-faktor

lingkungan tempat tinggal. Dilihat dari banyaknya fakto-faktor yang ada

maka dilakukanlah uji hubungan pada setiap faktor yang mempengaruhi

pemberian ASI Eksklusif. Di harapkan dapat diketahui hubungan yang

memberi dampak besar untuk peningkatan pemberian ASI Eksklusif oleh

ibu dan juga bagi pencapaian target untuk wilayah kerja Puskesmas

Bandarharjo.(4)

Berdasarkan latar belakang yang telah peneliti uraikan diatas maka

peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai faktor-faktor yang

berhubungan dengan pemberian ASI Eksklusif. Banyaknya faktor yang

menjadi pengaruh gagalnya pemberian ASI Eksklusif pada penelitian yang

dijadikan referensi membuat peneliti hanya mengambil hal – hal yang

dianggap penting. Diantaranya adalah, pengetahuan, sikap, pekerjaan,

dukungan keluarga, promosi susu formula, inisiasi menyusui dini dan

tenaga kesehatan. Pengambilan variabel tersebut untuk dilakukan

pengujian hubungan dengan pemberian ASI Eksklusif. Sebagaimana

dieperkuat oleh penalitian sebelumnya menyatakan bahwa Lebih dari

separuh responden (66,0%) memiliki pengetahuan yang cukup tentang ASI

Eksklusif. Separuh dari responden (50,9%) merupakan ibu pekerja. Lebih

dari separuh responden (52,8%) memiliki sikap yang positif tentang ASI

Eksklusif. Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan

dengan sikap ibu menyusukan tentang ASI Eksklusif (p= 0,000). Terdapat
4

hubungan yang signifikan antara pekerjaan dengan sikap ibu menyusui

tentang ASI Eksklusif (p= 0,013).(5)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan dari uraian latar belakang, maka dirumuskan permasalahan

sebagai berikut : Faktor-faktor apakah yang berhubungan dengan

pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas Bandarharjo kota Semarang

tahun 2016?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI

Eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Bandarharjo kota Semarang tahun

2016.

2. Tujuan Khusus

a. Mendeskripsikan karakteristik responden meliputi umur, pendidikan

dan pekerjaan.

b. Mendeskripsikan hubungan pengetahuan ibu dengan pemberian

ASI Eksklusif.

c. Mendeskripsikan hubungan sikap ibu dengan pemberian ASI

Eksklusif.

d. Mendeskripsikan hubungan psikologis ibu dengan pemberian ASI

Eksklusif.

e. Mendeskripsikan hubungan tenaga kesehatan dengan pemberian

ASI Eksklusif.

f. Mendeskripsikan hubungan dukungan keluarga dengan pemberian

ASI Eksklusif.
5

g. Mendeskripsikan hubungan promosi susu formula dengan

pemberian ASI Eksklusif

h. Mendeskripsikan hubungan inisiasi menyusui dini dengan

pemberian ASI Eksklusif.

i. Menganalisis karakteristik responden yang berhubungan dengan

pemberian ASI Eksklusif

j. Menganalisis hubungan pengetahuan ibu dengan pemberian ASI

Eksklusif.

k. Menganalisis hubungan sikap ibu dengan pemberian ASI Eksklusif.

l. Menganalisis hubungan psikologis ibu dengan pemberian ASI

Eksklusif.

m. Menganalisis hubungan tenaga kesehatan dengan pemberian ASI

Eksklusif

n. Menganalisis hubungan dukungan keluarga dengan pemberian ASI

Eksklusif.

o. Menganalisis hubungan promosi susu formula dengan pemberian

ASI Eksklusif

p. Menganalisis hubungan inisiasi menyusui dini dengan pemberian

ASI Eksklusif.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Peneliti

Sebagai sarana untuk memperluas dan memperdalam wawasan, serta

mendapatkan pengalaman.

2. Bagi Institusi Pendidikan


6

Sebagai masukan dalam perkembangan keilmuan kesehatan

masyarakat khususnya peminatan manajemen kesehatan.

3. Bagi Masyarakat

Sebagai informasi tambahan kepada ibu hamil dan menyusui tentang

pentingnya pemeberian ASI Eksklusif pada bayi.

E. Keaslian Penelitian

Tabel 1. 1

Tabel Keaslian Penelitian

Nama Judul Jenis Penelitian Hasil


Ratna Novita sari, Hubungan Jenis penelitian Hasil penelitian
2011 Pengetahuan dan ini merupakan diperoleh ada
Motivasi Ibu jenis penelitian hubungan
Menyusui di Studi Deskriptif pengetahuan
Wilayah Kerja korelasi melalui dengan praktik
Puskesmas metode pemberian ASI di
Kendal pendekatan cross Puskesmas Kendal
sectional study. Kab.Kendal.
Kristin Setyawati, Hubungan Penelitian Hasil penelitian
2012 Pengetahuan Ibu korelasi dengan terdapat hubungan
Menyusui pendekatan cross antara
Tentang ASI sectional study pengetahuan
Eksklusif Dengan metode tentang ASI
Pemberian ASI pengambilan Eksklusif dengan
Eksklusif di Desa sampel dengan pemberian ASI
Tajuk Kecamatan purposive Eksklusif.
Getasan sampling.
Kabupaten
Semarang
Khrist Gafriel Faktor-Faktor ang Desain penelitian Hasil penelitian
Josefa, 2011 yang ini adalah studi yang diperoleh
Mempengaruhi cross sectional Tempat persalinan,
Perilaku yang dilakukan status pekerjaan
Pemberian ASI dengan dan pengetahuan
pada Ibu di pendekatan ibu tidak memiliki
Wilayah kerja kuantitatif dan hubungan
Puskesmas kualitatif. bermakna dengan
Manyaran purposive perilaku pemberian
Kecamatan sampling. ASI eksklusif.
Semarang Barat
7

Tabel 1. 1
Tabel Keaslian Penelitian (lanjutan)

Nama Judul Jenis Penelitian Hasil


Yarani Kriselly, Studi kualitatif Metode kualitatif Pengetahuan
2012 terhadap cakupan dengan tentang ASI
ASI Eksklusif di wawancara Eksklusif masih
wilayah kerja mendalam dan kurang, budaya
Puskesmas FGD (Focus memberikan
Kereng Pangi Group makanan dan
Kecamatan Discussion) minuman selain
Katingan Hilir ASI kepada bayi
Kabupaten yang baru lahir
Katingan Propinsi masih sangat
Kalimantan tinggi, penyuluhan
Tengah tentang ASI
Eksklusif belum
dilakukan oleh
petugas
kesehatan,
dukungan keluarga
terutama suami
masih belum ada
kepada ibu yang
menyusui

Perbedaan penelitian yang dilakukan peneliti dengan penelitian

pertama, kedua dan keempat adalah terletak pada variabel bebas,

perbedaan lingkup lokasi, lingkup judul dan tahun dilakukannya penelitian

dengan menggunakan pendekatan kuantitatif saja. Sedangkan perbedaan

terhadap penelitian ketiga adalah pada variabel tempat persalinan dan

perilaku.

F. Lingkup Penelitian

1. Lingkup Keilmuan

Untuk memberikan sumbangan terhadap perkembangan ilmu kesehatan

masyarakat, khususnya Manajemen Kesehatan tentang pengetahuan

ibu menyusui.
8

2. Lingkup Materi

Materi dibatasi pada pengetahuan, sikap ibu menyusui, motiasi

lingkungan sekitar dan peran kader dalam promosi pemberian ASI

Eksklusif.

3. Lingkup Lokasi

Lokasi penelitian ini adalah Wilayah Kerja Puskesmas Bandarharjo Kota

Semarang.

4. Lingkup Metode

Metode yang digunakan yaitu survei dengan menggunakan kuesioner

dan wawancara.

5. Lingkup Sasaran

Sasaran penelitian adalah ibu menyusui yang memiliki bayi usia 6-12

bulan karena ibu telah melewati masa pemberian ASI Eksklusif

sehingga dapat diteliti.

6. Lingkup Waktu

Pelaksanaan penelitian ini pada bulan Februari – Agustus tahun 2016


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Air Susu Ibu

1. Definisi Air Susu Ibu

Air Susu Ibu (ASI) adalah cairan air susu hasil sekresi dari

payudara setelah ibu melahirkan. ASI merupakan makanan yang fleksibel

dan mudah didapat, siap diminum tanpa persiapan khusus dengan

temperatur yang sesuai dengan bayi, susunya segar dan bebas dari

kontaminasi bakteri sehingga mengurangi resiko gangguan

gastrointestinal. Selain itu, ASI memiliki kandungan zat gizi yang lengkap

dan sempurna untuk keperluan bayi. Hal-hal tersebut menjadikan ASI

sebagai satu-satunya makanan terbaik dan paling cocok untuk bayi(6).(7).

2. Komposisi Gizi dalam Air Susu Ibu

Komposisi ASI dibedakan menjadi 3 macam menurut waktunya(7).

a. Kolostrum

Kolostrum adalah cairan yang dikeluarkan oleh payudara di hari

hari pertama kelahiran bayi, kolostrum lebih kental bewarna

kekuning-kuningan, karena banyak mengandung komposisi lemak

dan sel-sel hidup. Kolostrum juga mengandung mengandung zat-

zat gizi yang pas untuk bayi antara lain protein 8,5%, lemak 2,5%,

sedikit karbohidrat 3,5%, garam dan mineral 0,4%, air 85,1 %,

antibodi serta kandungan imunoglobulin lebih tinggi jika

dibandingkan dengan ASI matur yang mengakibatkan bayi tidak

10
11

mudah terserang diare. Sekresi kolostrum hanya berlangsung

sekitar 5 hari, diakibatkan oleh hilangnya estrogen dan progesteron

oleh plasenta yang tiba-tiba menyebabkan laktogenik prolaktin

memegang peranan tiba tiba dalam memproduksi air susu.

Kemudian, kelenjar payudara mulai progresif menyekresikan air

susu dalam jumlah yang besar. Manfaat besar dari kolostrum masih

banyak tidak diketahui oleh ibu-ibu setelah melahirkan, sehingga

mereka masih ragu untuk melakukan inisiasi dini. Kebanyakan

mereka takut memberikan kolostrum karena kepercayaan yang

menganggap kolostrum sebagai ASI basi atau ASI kotor sehingga

harus dibuang. Padahal manfaat kolostrum tersebut sudah

seringkali diberitakan melalui media, ataupun melalui penyuluhan.

b. ASI Masa Transisi

ASI masa transisi terjadi pada hari ke-4 sampai hari ke-10,

dimana pengeluaran ASI oleh payudara sudah mulai stabil. Pada

masa ini, terjadi peningkatan hidrat arang dan volume ASI, serta

adanya penurunan komposisi protein. Akibat adanya penurunan

komposisi protein ini diharapkan ibu menambahkan protein dalam

asupan makanannnya.

c. ASI Matur

ASI matur disekresi dari hari ke-10 sampai seterusnya. Kadar

karbohidrat dalam kolostrum tidak terlalu tinggi,tetapi jumlahnya

meningkat terutama laktosa pada ASI transisi. Setelah melewatri

masa transisi kemudian menjadi ASI matur maka kadar karbohidrat

ASI relatif stabil.Komponen laktosa (karbohidrat) adalah kandungan


12

utama dalam ASI sebagai sumber energi untuk otak. Konsentrasi

laktosa pada air susu manusia kira-kira 50% lebih banyak jika

dibandingkan dengan kadar aktosa dalam susu sapi . Walaupun

demikian, angka kejadian diare karena intoleransi laktosa jarang

ditemukan pada bayi yang mendapatkan ASI. Hal ini disebabkan

karena penyerapan laktosa ASI lebih baik jika dibandingkan dengan

laktosa yang terdapat pada susu sapi. Namun sebaliknya,

kandungan protein yang terdapat pada susu sapi biasanya dua kali

lebih besar jika dibandingkan dengan protein pada ASI. Protein

dalam susu terbagi menjadi protein wheydan casein . Protein whey

banyak terdapat pada ASI, sifatnya lebih mudah diserap oleh usus

bayi. Sedangkan susu sapi lebih banyak mengandung protein

casein dengan presentase kira-kira 80% yang sulit dicerna olehh

usus bayi. Kadar lemak omega 3 dan omega 6 berperan dalam

perkembangan otak bayi. Disamping itu terdapat asam lemak rantai

panjang diantaranya asam Dokosaheksonik (DHA) dan asam

arakidonat (ARA) yang penting bagi perkembangan jaringan syaraf

serta retina mata. Jika kekurangan asam lemak omega-3 berpotensi

menimbulkan gangguan syaraf dan penglihatan. Kadar lemak baik

tersebut lebih banyak ditemukan pada ASI dibanding susu sapi.

Bayi yang mendapatkan ASI tidak akan kekurangan asam linolenat

karena 6-9% kandungan energi total ASI adalah asam linolenat.


13

3. Manfaat Air Susu Ibu


(7),(8),(9)
Manfaat ASI sangat banyak sekali diantaranya yaitu:

a. Membantu mencegah konstipasi/sembelit

ASI sangat mudah dicerna oleh tubuh bayi dan membantu

mencegah pup yang keras akibat kekurangan cairan pada tubuh bayi.

b. Mengurangi resiko kegemukan dan diabetes

ASI dapat mengurangi resiko anak mengalami kegemukan atau

obesitas serta diabetes tipe 2 di kemudian hari.

c. Mengurangi resiko berbagai infeksi

Manfaat menyusui lainnya adalah mengurangi resiko bayi

terkena berbagai infeksi, misalnya infeksi pada kuping, pernafasan,

dan pencernaan.

d. Membantu mencegah alergi dan asma

Daya tahan tubuh bayi yang diciptakan oleh ASI membantu

mencegah alergi dan asma.

e. Membantu mencegah SIDS (Sudden Infant Death Syndrome)

Kematian mendadak pada bayi atau Sudden Infant Death

Syndrome (SIDS) kadang terjadi pada bayi berusia di bawah 1

tahun. Penyebab kematiannya tidak jelas, cacat biologis membuat

bayi rentan selama periode kritis. Dalam pengembangannya

terhadap beberapa pengalaman yang memicu SIDS, seperti terkena

asap rokok, terkena kafein saat prenatal atau tidur dengan posisi

tengkurap. Pemberian ASI secara eksklusif dapat membantu

mencegah terjadinya SIDS.


14

f. Membantu mencegah kerusakan gigi

ASI lebih baik dari susu formula yang pada umumnya

mengandung gula, sehingga membantu mencegah kerusakan gigi.

g. Bayi lebih cerdas

Menurut penelitian, bayi yang meminum ASI secara rutin

selama minimal 6 bulan pada umumnya lebih cerdas karena memiliki

perkembangan otak yang baik.

h. Menciptakan kedekatan dan ikatan antara ibu dan bayi

Menyusui bayi akan meningkatkan kedekatan ibu dan bayi,

terutama bila dilakukan dengan skin to skin contact. Metode ini

umumnya diterapkan pada bayi yang baru lahir, di mana kulit bayi

dan ibu disengaja bersentuhan secara langsung supaya ikatan

emosional tersebut tercipta.

i. Membantu rahim kembali ke ukuran normal

Secara alami pemberian ASI membantu mengembalikan

kondisi hormon ibu ke kondisi awal, sehingga mempercepat rahim

kembali ke ukuran normal setelah melahirkan.

j. Membantu tubuh mengontrol pendarahan

Berkaitan dengan hormon, manfaat menyusui lainnya adalah

membantu tubuh ibu dalam mengontrol pendarahan setelah

melahirkan.

k. Mengurangi resiko kanker payudara dan rahim

Pemberian ASI dapat mencegah resiko ibu terkena kanker

payudara dan kanker rahim di kemudian hari.


15

l. Membantu diet setelah melahirkan

Selain mengembalikan kondisi hormon ibu, menyusui akan

menghabiskan kalori yang cukup banyak, sehingga membantu diet

ibu setelah melahirkan.

m. Mengurangi biaya pembelian susu formula

Dari sisi ekonomis, ASI tidak membutuhkan biaya dan dapat

membantu penghematan keuangan keluarga dengan manfaat yang

besar.

n. Hemat waktu

Menyusui dengan ASI tidak membutuhkan persiapan dan selalu

tersedia dalam kondisi segar serta terbaik untuk bayi.

B. Faktor-faktor yang mempengaruhui keberhasilan pemberian ASI

Eksklusif

Pemberian ASI esklusif selama enam bulan pada kenyataannya tidak

sesederhana yang dibayangkan. Berbagai kendala dapat timbul dalam

upaya memberikan ASI esklusif selama enam bulan pertama kehidupan

bayi. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kegagalan pemberian ASI

eksklusif, bisa dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal.(10),(11)

1. Faktor Internal, yaitu faktor-faktor yang terdapat di dalam diri individu

itu sendiri meliputi :

a. Faktor Pendidikan

Makin tinggi pendidikan seseorang, maka makin mudah untuk

menerima informasi sehingga semakin banyak pula pengetahuan

yang dimiliki. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan


16

menghambat sikap terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan,

termasuk mengenai ASI Ekslusif.

b. Faktor Pengetahuan

Pengetahuan yang rendah tentang manfaat dan tujuan

pemberian ASI Eksklusif bisa menjadi penyebab gagalnya

pemberian ASI Eksklusif pada bayi. Kemungkinan pada saat

pemeriksaan kehamilan (Ante Natal Care), mereka tidak

memperoleh penyuluhan intensif tentang ASI Eksklusif, kandungan

dan manfaat ASI, teknik menyusui, dan kerugian jika tidak

memberikan ASI Eksklusif.

c. Faktor Sikap/Perilaku

Sikap yang positif mengenai ASI dan menyusui dapat

meningkatkan keberhasilan pemberian ASI secara esklusif.(1)

d. Faktor Psikologis

1). Takut kehilangan daya tarik sebagai seorang wanita (estetika).

Adanya anggapan para ibu bahwa menyusui akan merusak

penampilan, dan khawatir dengan menyusui akan tampak

menjadi tua.

2). Tekanan batin.

Ada sebagian kecil ibu mengalami tekanan batin di saat

menyusui bayi sehingga dapat mendesak si ibu untuk

mengurangi frekuensi dan lama menyusui bayinya, bahkan

mengurangi menyusui.

3). Emosional
17

Faktor emosi mampu mempengaruhi produksi air susu ibu.

Aktifitas sekresi kelenjar-kelenjar susu itu senantiasa berubah-

ubah oleh pengaruh psikis/kejiwaan yang dialami oleh ibu.

Perasaan ibu dapat menghambat /meningkatkan pengeluaran

oksitosin. Perasaan takut, gelisah, marah, sedih, cemas, kesal,

malu atau nyeri hebat akan mempengaruhi refleks oksitosin,

yang akhirnya menekan pengeluaran ASI. Sebaliknya, perasaan

ibu yang berbahagia, senang, perasaan menyayangi bayi;

memeluk, mencium, dan mendengar bayinya yang menangis,

perasaan bangga menyusui bayinya akan meningkatkan

pengeluaran ASI.

2. Faktor Ekternal, yaitu faktor-faktor yang dipengaruhi oleh lingkungan,


(11),(12),(13)
maupun dari luar individu itu sendiri, meliputi:

a. Faktor Peranan Keluarga

Dari semua dukungan bagi ibu menyusui dukungan sang

ayah adalah dukungan yang paling berati bagi ibu. Ayah dapat

berperan aktif dalam keberhasilan pemberian ASI khususnya ASI

eksklusif dengan cara memberikan dukungan secara emosional

dan bantuan-bantuan yang praktis. Untuk membesarkan seorang

bayi, masih banyak yang dibutuhkan selain menyusui seperti

menyendawakan bayi, menggendong dan menenangkan bayi

yang gelisah, mengganti popok, memandikan bayi, membawa bayi

jalan-jalan di taman, memberikan ASI perah, dan memijat bayi.

Kecuali menyusui semua tugas tadi dapat dikerjakan oleh ayah.


18

Dukungan ayah sangat penting dalam suksesnya

menyusui, terutama untuk ASI eksklusif. Dukungan emosional

suami sangat berarti dalam menghadapi tekanan luar yang

meragukan perlunya ASI. Ayahlah yang menjadi benteng pertama

saat ibu mendapat godaan yang datang dari keluarga terdekat,

orangtua atau mertua. Ayah yang berperan mendukung ibu agar

menyusui sering disebut breastfeeding father. Pada dasarnya

seribu ibu menyusui mungkin tidak lebih dari sepuluh orang

diantaranya tidak dapat menyusui bayinya karena alasan

fisiologis. Jadi, sebagian besar ibu dapat menyusui dengan baik.

Hanya saja ketaatan mereka untuk menyusui ekslusif 4-6 bulan

dan dilanjutkan hingga dua tahun yang mungkin tidak dapat

dipenuhi secara menyeluruh. Itulah sebabnya dorongan ayah dan

kerabat lain diperlukan untuk meningkatkan kepercayaan diri ibu

akan kemampuan menyusui secara sempurna.

b. Perubahan sosial budaya

1). Ibu-ibu bekerja atau kesibukan sosial lainnya.

Khusus pada ibu-ibu yang bekerja, dengan singkatnya

masa cuti hamil dan melahirkan bahkan sebelum pemberian ASI

Eksklusif berakhir, ibu sudah harus kembali bekerja meninggalkan

bayinya. Keadaan ini juga mengganggu pemberian ASI Eksklusif.

Pekerjaan terkadang mempengaruhi keterlambatan ibu

untuk memberikan ASI secara eksklusif. Secara teknis hal itu

dikarenakan kesibukan ibu sehingga tidak cukup untuk

memperhatikan kebutuhan ASI. Pada hakekatnya pekerjaan tidak


19

boleh menjadi alasan ibu untuk berhenti memberikan ASI secara

eksklusif. Untuk menyiasati pekerjaan maka selama ibu tidak

dirumah, bayi mendapatkan ASI perah yang telah diperoleh satu

hari sebelumnya.

2). Meniru teman, tetangga atau orang terkemuka yang

memberikan susu botol.

Persepsi masyarakat akan gaya hidup mewah, membawa

dampak terhadap kesediaan ibu untuk menyusui. Bahkan adanya

pandangan bagi kalangan tertentu, bahwa susu botol sangat

cocok buat bayi dan merupakan makanan yang terbaik. Hal ini

dipengaruhi oleh gaya hidup yang selalu berkeinginan untuk

meniru orang lain, atau prestise.

3). Merasa ketinggalan zaman jika menyusui bayinya.

Budaya modern dan perilaku masyarakat yang meniru

negara barat, mendesak para ibu untuk segera menyapih anaknya

dan memilih air susu buatan sebagai jalan keluarnya.

c. Faktor kurangnya petugas kesehatan

Kurangnya petugas kesehatan didalam memberikan

informasi kesehatan, menyebabkan masyarakat kurang

mendapatkan informasi atau dorongan tentang manfaat pemberian

ASI. Penyuluhan kepada masyarakat mengenai manfaat dan cara

pemanfaatannya.

d. Meningkatnya promosi susu kaleng sebagai pengganti ASI.

Peningkatan sarana komunikasi dan transportasi yang

memudahkan periklanan distribusi susu buatan menimbulkan


20

pergeseran perilaku dari pemberian ASI ke pemberian Susu

formula baik di desa maupun perkotaan. Distibusi, iklan dan

promosi susu buatan berlangsung terus, dan bahkan meningkat

tidak hanya di televisi, radio dan surat kabar melainkan juga

ditempat-tempat praktek swasta dan klinik-klinik kesehatan

masyarakat di Indonesia. Iklan menyesatkan yang

mempromosikan bahwa susu suatu pabrik sama baiknya dengan

ASI, sering dapat menggoyahkan keyakinan ibu, sehingga tertarik

untuk coba menggunakan susu instan itu sebagai makanan bayi.

Semakin cepat memberi tambahan susu pada bayi, menyebabkan

daya hisap berkurang, karena bayi mudah merasa kenyang, maka

bayi akan malas menghisap putting susu, dan akibatnya produksi

prolactin dan oksitosin akan berkurang.

e. Pemberian informasi yang salah

Pemberian informasi yang salah, justru datangnya dari

petugas kesehatan sendiri yang menganjurkan penggantian ASI

dengan susu kaleng. Penyediaan susu bubuk di Puskesmas

disertai pandangan untuk meningkatkan gizi bayi, seringkali

menyebabkan salah arah dan meningkatkan pemberian susu

botol. Promosi ASI yang efektif haruslah dimulai pada profesi

kedokteran, meliputi pendidikan di sekolah-sekolah kedokteran

yang menekankan pentingnya ASI dan nilai ASI pada umur 2

tahun atau lebih.


21

f. Pengelolaan laktasi di ruang bersalin

Untuk menunjang keberhasilan laktasi, bayi hendaknya

disusui segera atau sedini mungkin setelah lahir. Namun tidak

semua persalinan berjalan normal dan tidak semua dapat

dilaksanakan menyusui dini. IMD disebut early initation atau

permulaan menyusu dini, yaitu bayi mulai menyusui sendiri segera

setelah lahir. Keberhasilan praktik IMD, dapat membantu agar

proses pemberian ASI eksklusif berhasil, sebaliknya jika IMD

gagal dilakukan, akan menjadi penyebab pula terhadap gagalnya

pemberian ASI Eksklusif.

g. Faktor-faktor lain

Ada keadaan yang tidak memungkinkan ibu untuk

menyusui bayinya walaupun produksinya cukup, seperti(12) :

1). Berhubungan dengan kesehatan seperti adanya penyakit yang

diderita sehingga dilarang oleh dokter untuk menyusui, yang

dianggap baik untuk kepentingan ibu (seperti: gagal jantung, Hb

rendah).

2). Masih seringnya dijumpai di rumah sakit (rumah sakit bersalin)

pada hari pertama kelahiran oleh perawat atau tenaga kesehatan

lainnya, walaupun sebagian besar daripada ibu-ibu yang

melahirkan di kamar mereka sendiri, hampir setengah dari bayi

mereka diberi susu buatan atau larutan glukosa.

C. Kebijakan Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif

Salah satu tujuan Pembangunan Milenium atau Millenium

Development Goals (MDGs) pada tahun 2015, menurunkan angka


22

kematian anak balita dua per-tiga dari 68 menjadi 23 per 1.000 kelahiran

hidup. Namun, sampai tahun 2007, angka kematian bayi di Indonesia

adalah 34 per 1.000 kelahiran hidup. angka pemberian ASI eksklusif di

Indonesia berfluktuasi dan cenderung menurun. Salah satu penyebab

pemberian ASI eksklusif di Indonesia yang rendah adalah fasilitasi Inisiasi

Menyusu Dini (IMD) yang kurang optimal. Kebijakan ASI ek-sklusif belum

lengkap dan komprehensif dan IMD belum secara eksplisit masuk dalam

kebijakan. Cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi sampai enam bulan

pada tahun 2010 adalah 15,3%. Padahal, sasaran Pembinaan Gizi

Masyarakat berdasarkan Rencana Strategis Kemen-terian Kesehatan,

tahun 2010-2014, adalah 80% bayi usia 0-6 bulan mendapatkan ASI

eksklusif. Dalam Kepmenkes RI nomor 369/Menkes/SK/III/2007, konselor

ASI adalah orang yang telah mengikuti pelatihan konseling menyusui

dengan modul pelatihan standar WHO/UNICEF 40 jam. Sejak tahun 2007

sampai awal tahun 2013(13),(14).

Peraturan Pemerintah Indonesia nomor 33 Tahun 2012

menyatakan pemberian ASI eksklusif adalah wajib, kecuali dalam 3

kondisi, yaitu Ibu tidak ada, indikasi medis tidak mungkin dilaksanakan

karena terdapat kelainan atau penyakit, baik pada ibu maupun dari

bayinya, karena ibu dan bayi terpisah. Keberhasilan implementasi

kebijakan ditentukan oleh banyak faktor yang saling berhubungan antara

satu dengan yang lain. Berbagai faktor yang diduga memengaruhi

keberhasilan implementasi kebijakan adalah komunikasi, ketersediaan

sumber daya, disposisi, dan struktur birokrasi(15),(16).


23

D. Peran Pemerintah dalam Meningkatkan Pemberian ASI

Pemerintah Indonesia telah melakukan upaya peningkatan

pemberian ASI eksklusif dengan berbagai cara. Menerbitkan peraturan dan

perundang-undangan mengenai pemberian ASI eksklusif pun sudah

dilakukan. Kepmenkes RI No.450/MENKES/IV/2004, merupakan salah satu

upaya kementrian kesehatan dalam rangka meningkatkan pemberian ASI

eksklusif, dalam undang-undang ini diatur agar semua tenaga kesehatan

yang bekerja di sarana pelayanan kesehatan agar menginformasikan

kepada semua Ibu yang baru melahirkan untuk memberikan ASI Eksklusif.

Dalam Keputusan Mentri Kesehatan ini diputuskan Sepuluh Langkah

Menuju Keberhasilan Menyusui (LMKM). Strategi untuk pemberian ASI

pada pekerja wanita. Isi strategi tersebut adalah: (16),(17),(18)

1. Sarana Pelayanan Kesehatan (SPK) mempunyai kebijakan

Peningkatan Pemberian Air Susu Ibu (PP-ASI) tertulis yang secara

rutin dikomunikasikan kepada semua petugas.

2. Melakukan pelatihan bagi petugas dalam hal pengetahuan dan

keterampilan untuk menerapkan kebijakan.

3. Menjelaskan kepada semua ibu hamil tentang manfaat menyusui dan

penatalaksanaannya dimulai sejak masa kehamilan, masa bayi lahir

sampai umur 2 tahun termasuk cara mengatasi kesulitan menyusui.

4. Membantu ibu mulai menyusui bayinya dalam 30 menit setelah

melahirkan, yang dilakukan di ruang bersalin. Apabila ibu mendapat

operasi Caesar, bayi disusui setelah 30 menit ibu sadar.


24

5. Membantu ibu bagaimana cara menyusui yang benar dan cara

mempertahankan menyusui meski ibu dipisah dari bayi atas indikasi

medis.

6. Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran pihak manajemen untuk

meningkatkan status kesehatan ibu pekerja dan bayinya.

7. Memantapkan tanggung jawab dan kerjasama dengan berbagai

instansi pemerintah yang terkait , asosiasi pengusaha, serikat pekerja,

LSM dalam program pemberian ASI di tempat kerja dan meningkatkan

produktivitas kerja

8. Mengupayakan agar setiap petugas dan sarana pelayanan kesehatan

di tempat kerja mendukung perilaku menyusui yang optimal melalui

penerapan 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui yang

merupakan standar internasional.

9. Mengupayakan fasilitas yang mendukung PP-ASI bagi ibu yang

menyusui di tempat kerja dengan :

a. Menyediakan sarana ruang memerah ASI

b. Menyediakan perlengkapan untuk memerah dan menyimpan ASI.

c. Menyediakan materi penyuluhan ASI

d. Memberikan penyuluhan

10. Mengembangkan dan memantapkan pelaksanaan ASI eksklusif bagi

pekerja wanita melalui pembinaan dan dukungan penuh dari pihak

pengusaha.
25

E. Strategi Peningkatan Cakupan ASI Eksklusif

a. Konselor ASI

Konselor ASI di fasilitas pelayanan kesehatan dapat

meningkatkan keberhasilan pemberian ASI. Konselor ASI adalah tenaga

terlatih yang memiliki sertifikat pelatihan konseling menyusui.

Kementerian kesehatan mengupayakan agar setiap pelayanan

kesehatan terutama di Puskesmas dan RS tersedia konselor ASI

sehingga dapatmembantu para ibu yang memiliki kendala memberikan

ASI.(19),(20),(21)

b. Fasilitas Laktasi

Penyediaan fasilitas khusus laktasi di tempat kerja dan tempat

sarana umum diatur dalam UU No.36/2009 tentang kesehatan Pasal

128 ayat 2. Didukung oleh Undang-undang Nomor 13 tahun 2003

tentang ketenagakerjaan pasal 83 menyebutkan bahwa pekerja

perempuan yang anaknya masih menyusui harus diberi kesempatan

sepatutnya untuk menyusui anaknya jika hal itu harus dilaksanakan

selama waktu kerja. atau menyediakan ruang dan sarana prasarana

untuk memerah ASI dan menyimpan ASI ditempat kerja, agar ibu

selama bekerja tetap dapat memerah ASI ntuk selanjutnya dibawa

pulang setelah selesai bekerja.(19),(20),(21)

c. Penegakan Peraturan Pemasaran Susu Formula Bayi

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 39 Th 2013 tentang

susu formula bayi. Dalam Permenkes tersebut susu formula bayi hanya

dapat diiklankan produsen melalui media cetak khusus kesehatan.

Materi iklan harus terdapat keterangan bahwa susu formula bayi hanya
26

diberikan atas keadaan tertentu sesuai pasal 6 serta keterangan bahwa

ASI adalah makanan terbaik untuk bayi.(19),(20),(21)

d. Peran dari Tenaga Kesehatan

Tujuan nasional adalah membangun Sumber Daya Manusia (SDM)

yang berkualitas agar dapat melanjutkan perjuangan pembangunan

nasional untuk menuju keluarga yang sejahtera, adil, dan makmur.

Dalam rangka sumber daya manusia yang handal pemerintah indonesia

melaksanakan berbagai program diantaranya adalah pemenuhan gizi

bagi bayi yang baru lahir dengan program pemberian ASI

Eksklusif.(18),(27)

Petugas kesehatan termasuk bidan memegang peran penting dalam

berjalannya program ASI Eksklusif. Kurangnya tenaga kesehatan dalam

mendukung ASI Eksklusif merupakan penyebab utama penurunan

pemberian ASI Eksklusif. Pemberian ASI setelah bayi lahir merupakan

titik awal yang penting apakah bayi nanti akan cukup mendapatkan ASI

atau tidak. Bayi yang disusui selama 30 menit pertama setelah lahir

akan memungkinkan untuk tidak memberikan makanan prelaktal pada

bayi sebaiknya 30 menit pertama tenaga kesehatan harus berada

disamping ibu bayi karena hal ini sangat menentukan keberhasilan

pemberian ASI Eksklusif.(16),(27)

F. Puskesmas

Puskesmas adalah unit pelaksana dinas kesehatan kabupaten / kota

yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di

suatu wilayah kerja(16).


27

1. Tugas Puskesmas

Melaksanakan pelayanan kesehatan strata pertama yang

bertanggung jawab menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan

dan upaya kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya.

2. Fungsi Puskesmas

Puskesmas harus berperan sebagai motor penggerak serta

motivator bagi terselenggaranya pembangunan yang mengacu dan

berorientasi serta dilandasi oleh kesehatan sebagai faktor pertimbangan

utama, sehingga pembangunan yang dilaksanakan di wilayah

kecamatan akan berdampak positif bagi lingkungan sehat dan perilaku

sehat, yang akan bermuara pada peningkatan kesehatan masyarakat.

Upaya fasilitasi non instruktif guna peningkatan pengetahuan keluarga

dan masyarakat agar mampu mengidentifikasi masalah dan mrlakukan

pemecahannya dengan memanfaatkan potensi setempat dan fasilitas

yang ada, baik dari instansi lintas sektoral maupun LSM, swasta serta

tokoh masyarakat. pelayanan kesehatan yang mutlak perlu yang sangat

dibutuhkan sebagian besar masyarakat, serta mempunyai nilai strategis

untuk meningkat derajat kesehatan masyarakat, dilaksanakan secara

holistik, terpadu dan berkesinambungan. Kegiatan ini terdiri dari

program kesehatan dasar, yang harus dilaksanakan oleh seluruh

Puskesmas, dan program kesehatan pengembangan.

3. Tujuan Puskesmas

Tujuan pelayanan kesehatan diantaranya meliputi :

a. Promotif (memlihara dan meningkatkan kesehatan)


28

b. Preventif (pencegahan terhadaporang yang beresiko terhadap

penyakit)

c. Kuratif (penyembuhan penyakit)

d. Rehabilitatif (pemulihan)

G. Faktor-Faktor Perilaku Kesehatan Menurut Lawrence Green

Faktor ini merupakan cakupan dari pengetahuan dan sikap

masyarakat terhadap kesehatan, tradisi dan kepercayaan terhadap hal-hal

yang berkaitan dengan kesehatan, sistem nilai yang dianut masyarakat,

tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi dan sebagainya(22).

Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dimulai sejak

janin dalam kandungan, masa bayi, balita, anak-anak sampai dewasa.

Pemberian Air Susu Ibu (ASI) pada bayi merupakan cara terbaik bagi

peningkatan kualitas SDM sejak dini yang akan menjadi penerus bangsa

dan tidak hannya SDM petugas kesehatan semata(20),(27).

Sehingga dapat disimpulkan bahwa Keberhasilan implementasi

kebijakan ditentukan oleh banyak faktor yang saling berhubungan antara

satu dengan yang lain. Berbagai faktor yang diduga memengaruhi

keberhasilan implementasi kebijakan adalah komunikasi, ketersediaan

sumber daya, disposisi, dan struktur birokrasi. Tidak hannya peran

pemerintah semata dalam meningkatkan kualitas sumberdaya manusia

namun akan lebih baik diawali dari dalam masyarakat kecil yaitu keluarga.

H. Kerangka Teori

Dari banyaknya teori perubahan perilaku, dalam penelitian ini

menggunakan kerangka teori Lawrence Green menjelaskan bahwa


29

perilaku dipengaruhi oleh faktor pemungkin, pemudah, dan penguat. Dari

penjelasan dapat digambarkan sebagai berikut.

Variabel Independent Variabel Dependent

Faktor
Pemudah/predisposisi
1. Pengetahuan
2. Sikap
3. Kepercayaan
4. Nilai : Psikologis
5. Variabel demografik : jenis
kelamin, umur, pekerjaan,
dll

Faktor Pemungkin/enabling
1. Kesedian sumber daya
kesehatan
2. Aksesbilitas sumber daya
kesehatan Perilaku Spesifik
3. Prioritas
masyarakat/pemerintah
dan komitmen terhadap
kesehatan
4. Keterampilan yang terkait
dengan Kesehatan

Faktor penguat/reinforcing
1. Keluarga
2. Teman
3. Guru
4. Pimpinan Lingkungan
5. Penyedia layanan

Gambar 2. 1 kerangka teori Lawrence Green(22)


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Kerangka Konsep

Variabel Independen Variabel Dependen

Faktor Pemudah/predisposisi

1. Pengetahuan Ibu tentang


ASI Eksklusif
2. Sikap Ibu terhadap pembrian
ASI Eksklusif
3. Pekerjaan Ibu
4. Psikologis

Faktor Pemungkin/enabling
Pemberian ASI
1. Tenaga Kesehatan Eksklusif
2. Promosi susu formula
3. Inisiasi Menyusui Dini

Faktor penguat/reinforcing

1. Dukungan keluarga

Gambar 3. 1

Kerangka konsep

29
30

B. Hipotesis

1. Ada hubungan antara pengetahuan ibu tentang ASI dengan pemberian

ASI Eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Bandarharjo Semarang tahun

2016.

2. Ada hubungan antara sikap ibu dengan pemberian ASI Eksklusif di

wilayah kerja Puskesmas Bandarharjo Semarang tahun 2016.

3. Ada hubungan antara ibu bekerja dengan pemberian ASI Eksklusif di

wilayah kerja Puskesmas Bandarharjo Semarang tahun 2016.

4. Ada hubungan antara psikologis ibu dengan dengan pemberian ASI

Eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Bandarharjo Semarang tahun

2016.

5. Ada hubungan antara tenaga kesehatan dengan pemberian ASI

Eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Bandarharjo Semarang tahun

2016.

6. Ada hubungan antara peran suami atau nenek dengan pemberian ASI

Eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Bandarharjo Semarang tahun

2016.

7. Ada hubungan antara promosi susu formula dengan pemberian ASI

Eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Bandarharjo Semarang tahun

2016.

8. Ada hubungan antara Inisiasi Menyusui Dini dengan pemberian ASI

Eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Bandarharjo Semarang tahun

2016.
31
32

C. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian analisis

observasional dengan metode kuantitatif dengan menggunakan

proportional sampling dengan tujuan untuk mengetahui hubungan antara

variabel bebas yaitu pengetahuan, sikap, pekerjaan, psikologis, tenaga

kesehatan, dukungan keluarga, promosi susu formula,dan kebijakan yang

berlaku melalui pengukuran sesaat.


33

D. Variabel Penelitian
Tabel 3.1 Definisi Operasional

Variabel Definisi Operasional Alat ukur Kategori Skala


Variabel Independen
1. Pengetahuan Ibu Segala sesuatu yang diketahui dengan Wawancara 1=Pengetahuan Kurang Ordinal
tentang ASI ASI Eksklusif diantaranya : dengan panduan ; median < 10
Eksklusif - Manfaat ASI untuk ibu kuesioner 2=Pengetahuan baik ;
- Manfaat ASI untuk Bayi median ≥ 10

2. Sikap Ibu Segala sesuatu yang berhubungan Wawancara 1= Kurang ; Ordinal


terhadap dengan perilaku Ibu Memberikan ASI dengan panduan median < 69
pemberian ASI Eksklusif kuesioner 2= Baik ;
Eksklusif median ≥ 69

3. Pekerjaan Ibu Kegiatan yang dilakukan didalam atau Wawancara 0 = Tidak Bekerja Nominal
diluar rumah untuk membantu dengan panduan 1 = Bekerja
penghasilan keluarga kuesioner
4. Psikologis Berapa kali ibu melahirkan, perasaan Wawancara 0 = Kurang ; Nominal
stress, dan perasaan takut untuk dengan panduan Median < 2
menyusui kuesioner 1= Baik ;
median ≥ 2

Variabel Definisi Operasional Alat ukur Kategori Skala


34

5. Peran Tenaga Apakah peran petugas kesehatan Wawancara 0 = Tidak memberikan Nominal
Kesehatan memberi pengaruh pada ibu dalam dengan panduan pengaruh ; Median < 1
pemberian ASI Eksklusif kuesioner 1 = Memberikan
pengaruh ; Median ≥ 1
6. Dukungan Dukungan dari keluarga terdekat Wawancara 0 = Tidak ada dukungan Nominal
keluarga dengan ibu perihal pemberian ASI dengan panduan ; median < 1
Eksklusif kuesioner 1 = Ada dukungan ;
median ≥ 1
7. Promosi Susu Peranan perkembangan iklan Sufor Wawancara 1= Tenaga Kesehatan Nominal
Formula yang bekerja sama dengan tenaga dengan panduan 2= Media Massa
persalinan / kesehatan kuesioner
8. Inisiasi menyusui Peran pemerintah dalam pemeberian Wawancara 0 = Kurang ; median <1 Nominal
dini informasi Inisiasi Menyusui Dini pada dengan panduan 1 = Baik ; median ≥ 1
ibu hamil kuesioner
Variabel Dependen
1. Pemberian ASI Kegiatan Ibu dalam pemberian ASI Wawancara 0 = Tidak memberikan Nominal
Eksklusif Eksklusif pada bayinya mulai saat dengan panduan ASI Eksklusif
melahirkan sampai umur 6 bulan tanpa kuesioner 1 = Memberikan Asi
memeberikan makanan tambahan lain Eksklusif
E. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah seluruh data dalam suatu ruang lingkup dan

waktu yang kita tentukan. Jadi populasi berhubungan dengan data,

bukan manusianya. Kalau setiap manusia memberikan suatu data

maka, banyaknya atau ukuran populasi adalah keseluruhan subyek

penelitian.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang

mempunyai bayi usia 6-12 bulan yang berjumlah 310 bayi dari data

posyandu yang menerima pemberian vitamin A di Wilayah Kerja

Puskesmas Bandarharjo pada bulan februari tahun 2016.

2. Sampel

Sampel adalah sebagian dari populasi atau sebagain dari

jumlah dan karakteristik yang dimiliki populasi. Pada penelitian ini dalam

menentukan jumlah sampel, peneliti menggunakan semua sampel yang

ada atau jumlah populasi yang digunakan dalam penelitian dengan

menggunakan rumus slovin :

Keterangan
N = Besar populasi
n = Besar sempel
d = Batas derjat kesalahan/tingkat penyimpangan(0,1)
= 75,40

31
32

Jadi jumlah sampel yang dibulatkan menjadi 75 orang

responden. Metode pengambilan sampel dengan menggunakan

proportional sampling. Dengan kriteria inklusi dan eksklusi :

Inklusi

a. Ibu dengan bayi berusia ≥ 6 bulan

b. Ibu bayi berdomisili di wilayah kerja Puskesmas Bandarharjo

c. Ibu bersedia melakukan wawancara sebagai responden

d. Bayi dalam keadaan sehat

eksklusi :

a. Bayi dalam kondisi sakit

b. Ibu dengan bayi < 6 bulan

c. Ibu tidak bersedia

F. Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data primer dan

data sekunder.(23)

1. Jenis dan sumber data

a. Data primer

Data primer adalah data yang diambil dengan wawancara dan

observasi langsung dari responden melalui kuesioner yang diisi oleh

responden. Data ini berupa pengetahuan, sikap, pekerjaan,

psikologis, tenaga kesehatan, dukungan keluarga, promosi susu

formula, IMD, dan pemberian ASI Eksklusif.

Data diperoleh melalui wawancara dengan petugas program

gizi di peroleh data bahwa masih banyak ibu tidak memberikan ASI

Eksklusif yaitu hannya 33% saja, dan observasi langsung di wilayah


33

tempat tinggal penduduk di Kelurahan Kuningan, Dadapsari, Tanjung

Mas dan Bandarharjo. Dilihat dari kondisi lingkungan Kelurahan

Bandarharjo dan Tanjung Mas masih banyak tempat tinggal kumuh

dengan rumah yang jauh dari sehat karena masih banyak sampah

yang dibuang sembarangan dan bau yang ditimbulkan dari sampah

dan genangan air. Sedangan untuk kelurahan Dadapsari dan

Kuningan tempat tinggal masyarakatnya cukup baik dengan adanya

jarak di setiap rumah, hannya beberapa rumah saja yang sampahnya

tidak dibuang pada tempatnya.

b. Data sekunder

Data sekunder merupakan data yang didapat dari pihak kedua

yaitu dari Puskesmas Bandarharjo Kota Semarang Tahun 2014-2015.

2. Instrumen penelitian

Instrumen penelitian adalah alat bantu pengumpulan dan

pengolahan data tentang variabel-variabel yang diteliti. Instrumen dalam

pengumpulan data ini adalah kuesioner. Maka perlu dilakukan

pengukuran agar instrument tersebut dikatakan valid dan reliabel.(18)

a. Uji Validitas

Mengetahui sejauh mana kesamaan antara yang diukur peneliti

dengan kondisi yang sebenarnya dilapangan. Agar data yang

diperoleh bisa relevan dengan tujuan pengukuran tersebut. Jika nilai

pengukuran setiap variabel menunjukan angka signifikan p ≤ 0,05

maka dinyatakan valid atau apabila r-hitung lebih besar dari pada r-

tabel, maka butir pertanyaan itu dikatakan valid dan dapat digunakan

sebagai instrumen penelitian. Hasil uji validitas setiap pertanyaan


34

pada kuesioner dinyatakan valid jika nilai p ≤ 0,05. Pada variabel

bebas didapatkan item pertanyaan yang valid sebagai berikut :

Tabel 3.2 Validitas Kuesioner Pengetahuan

No. Pertanyaan Valid Tidak Valid


1. Apa pengertian ASI eksklusif menurut ibu ? 0,065
2. Menurut ibu kapankah seorang bayi harus 0,002
segera diberikan ASI pertamanya?
3. Menurut ibu, apakah pemberian ASI penting 0,922
bagi tumbuh kembang bayi ?
4. Manfaat apa saja yang didapat dari 0,913
pemberian ASI ?
5. ASI yang pertama keluar disebut kolostrum? 0,000
6. Apa kandungan yang dapat menjaga bayi 0,604
dari serangan bibit penyakit yang terdapat di
dalam ASI?
7. Menurut ibu apa keunggulan bayi yang 0,879
diberikan ASI ekslusif dibandingkan dengan
bayi yang tidak mendapat ASI eksklusif?
8. Manfaat ASI Eksklusif bagi bayi dapat 0,750
melindungi bayi dari diare?
9. ASI saja dapat memenuhi kebutuhan zat gizi 0,000
bayi umur 0-6 bulan.
10. Keuntungan pemberian ASI adalah bayi 0,631
sehat, lincah, cerdas, dan tidak cengeng?
11. Salah satu manfaat memberikan ASI bagi ibu 0,000
adalah mengurangi pendarahan setelah
persalinan?
12. Menurut ibu berapa usia bayi yang tepat 0,922
untuk diberikan makanan pengganti ASI ?
13. ASI dapat diberikan 30 menit hingga 1 jam 0,000
setelah bayi lahir.
14. Apakah memberikan pisang, air, dan madu 0,181
pada usia 0-6 bulan baik untuk bayi?
15. Susu Formula tidak mengganggu pada 0,054
sistem pencernaan Bayi.
16. Dibawah ini yang merupakan pernyataan 0,000
yang benar mengenai ASI Eksklusif adalah:
17. Apakah Ibu mempercayai pesan-pesan 0,382
mengenai susu formula yang ada di iklan?
18. Apa yang ibu fikirkan, setelah melihat atau 0,000
mendapatkan iklan susu formula untuk bayi?
19. Menurut ibu manakah pernyataan yang 0,000
benar.
20. Apakah ASI yang di perah akan basi setelah 0,017
1 jam di ruang terbuka?
Sumber : hasil uji validitas
35

Tabel 3.3 Validitas Kuesioner sikap


No. Pertanyaan Valid Tidak Valid
1. ASI merupakan makanan yang baik untuk 0,248
anak
2. ASI dapat memenuhi kebutuhan zat gizi 0,007
anak, menjadikan anak pintar, dan
menjadikan ibu semakin sayang kepada
anaknya
3. Dengan memberikan ASI, ibu dapat 0,282
menghemat biaya pengeluaran keluarga
4. Nitrisi dalam ASI sudah dapat mencukupi 0,000
kebutuhan asuapan makanan pada Bayi
5. Kandungan zat gizi susu formula lebih baik 0,000
daripada ASI
6. Dengan memberikan ASI dapat mempererat 0,193
hubungan batin antara ibu dengan anak
7. Pada usia 0-6 bulan, ketika anak merasa 0,000
lapar, ibu langsung memberikan ASI
8. Kegiatan sehari-hari ibu tidak menjadi 0,000
penghambat ibu dalam memberikan ASI
9. Ibu merasa sangat penting petugas 0,010
kesehatan memberikan informasi tentang
ASI Eksklusif
10. Ibu medapat dukungan dari suami dan 0,000
keluarga untuk memberikan ASI Eksklusif
11. Ibu merasa lebih mudah memberikan susu 0,000
formula dibandingkan memberikan ASI
12. Susu formula adalah makanan yang baik 0,000
untuk anak berusia 0-6 bulan
13. Kandungan nutrisi dalam susu formula sudah 0,000
cukup untuk Bayi
14. Jika ibu sedang bekerja, ASI dapat diganti 0,670
dengan susu formula
15. Ibu merasa tidak membutuhkan peran kader 0,241
dalam penyuluhan ASI Eksklusif
16. Air Susu Ibu sering membuat bayi mencret 0,000
17. Bila dalam perjalanan sebaiknya ibu tidak 0,000
menyusui bayinya karena malu
18. Jika ibu bekerja maka ASI yang tidak 0,004
diberikan pada bayi harus dibuang
19. Air Susu Ibu hanya diberikan sampai 2 bulan 0,000
20. Ibu ingin sekali memberikan susu formula 0,010
yang mahal seperti di iklan
Sumber : hasil uji validitas
36

Tabel 3.4 Validitas Kuesioner Psikologis Ibu


No. Pertanyaan Valid Tidak Valid
1. Berapa kali ibu melahirkan? 0,079
2 Apakah ibu merasa perasaan stress saat 0,000
menyusui?
3 Pada saat hamil Apakah ibu merasa takut 0,346
untuk memberikan ASI?
Sumber : hasil uji validitas

Tabel 3.5 Validitas Kuesioner Tenaga Kesehatan


No. Pertanyaan Valid Tidak Valid
1. Apakah petugas kesehatan memberikan 0,000
pengaruh besar bagi ibu dalam pemberian
ASI Eksklusif?
2. Apakah terdapat dukungan dari petugas 0,000
kesehatan untuk mengajak ibu memberikan
ASI Eksklusif?
Sumber : hasil uji validitas

Tabel 3.6 Validitas Kuesioner Dukungan Keluarga


No. Pertanyaan Valid Tidak Valid
1. Apakah dukungan dari keluarga terdekat - -
memotivasi ibu memberikan ASI Eksklusif?
2. Siapakah yang memberi dukungan dukung? 0,000
Sumber : hasil uji validitas

Tabel 3.7 Validitas Kuesioner Promosi Susu Formula


No. Pertanyaan Valid Tidak Valid
1. Apakah iklan Susu formula memberi 0,000
pengaruh untuk ibu?
2. Dari manakah ibu mendapatkan informasi 0,002
tentang susu formula?
Sumber : hasil uji validitas

Tabel 3.8 Validitas Kuesioner Inisiasi Menyusui Dini


No. Pertanyaan Valid Tidak Valid
1. Apakah sudah Pernah mendapatkan Inisiasi 0,000
Menyusui Dini ?
2. Apakah ibu mengikuti penyuluhan tentang 0,000
Manfaat ASI Eksklusif dari kader / petugas
kesehatan?
Sumber : hasil uji validitas
37

b. Uji Reliabilitas

Reliabilitas adalah serangkaian pengukuran atau serangkaian alat

ukur yang memiliki konsistensi bila pengukuran yang dilakukan dengan

alat ukur itu dilakukan secara berulang. Instrument dikatakan reliabel

jika hasil pengukuran dengan alat tersebut konsisten stabil secara terus

menerus. Tiap butir pertanyaan dinyatakan reliabel jika mempunyai

alpha (α) sebesar 0,5 atau lebih.(23)

Hasil uji reliabilitas pada setiap variabel bebas pada kuesioner

dinyatakan reliabel jika nilai α ≥ 0,7. Hasil penelitian dari seluruh variabel

bebas pada kuesioner penelitian sebagai berikut :

. Tabel 3.9 Reliabilitas Kuesioner Variabel Bebas

No. Variabel Bebas Cronbach’s Alpha


1. Pengetahuan Ibu tentang ASI Eksklusif 0,641
2. Sikap Ibu terhadap Pemberian ASI Eksklusif 0,235
3. Pekerjaan Ibu 1,000
4. Psikologis Ibu 0,700
5. Tenaga Kesehatan 0,860

Tabel 3.9 Reliabilitas Kuesioner Variabel Bebas


No. Variabel Bebas Cronbach’s Alpha
6. Dukungan Keluarga -1,183
7. Promosi Susu Formula 0,464
8. Inisiasi Menyusui Dini 0,891
Sumber : hasil uji reliabilitas

G. Pengolahan Data

1. Editing

Langkah ini dilakukan untuk memeriksa data hasil dari observasi

langsung, wawacara dan jawaban dari kuesioner yang diberikan. serta

meneliti kelengkapan, kejelasan, konsistensi dan kesinambungan data.


38

2. Koding

Memberi tanda atau simbol pada variabel peneliatian untuk

memudahkan dalam analisa data pretest – posttest dari jawaban

responden.

3. Skoring

Memberikan skor atau nilai pada setiap jawaban yang diberikan oleh

responden.

4. Entri

Entri merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memasukan data-data

kedalam program komputer.

5. Tabulating

Mengelompokan data sesuai dengan tujuan penelitian uji hubungan.

Kemudian direkap dan disusun dalam bentuk tabel agar dapat dibaca

dan mudah untuk dilakukan analisis lebih lanjut untuk pengambilan

kesimpulan.

H. Analisis Data

Analisis data dilakukan secara deskriptif kuantitatif. Setelah

melakukan pengambilan dan pengumpulan data kemudian data dengan

kuesioner, maka dilakukan dianalisa menggunakan analisis uniariat dan

bivariat. Untuk melihat hubungan variabel bebas dengan variabel terikat,

dengan uji statistik chi square.(25)

1. Analisis Univariat

Dilakukan untuk mendeskripsikan seluruh variabel baik

variabel bebas maupun terikat. Analisis univariat digunakan untuk

mendeskripsikan tiap-tiap variabel yaitu pengetahuan ibu, sikap ibu


39

dan pemberian ASI eksklusif yang disajikan dalam bentuk tabel

distribusi frekuensi.

2. Analisis Bivariat

Analisis bivariat dilakukan terhadap semua variabel. Karena

skala data pada penelitian ini berbentuk ordinal dan nominal maka

menggunakan uji Chi square.

a. Jika p > 0,05 maka Ho diterima artinya tidak ada hubungan yang

signifikan antara variabel bebas dan variabel terikat.

b. Jika p < 0,05 maka Ho ditolak yang artinya ada hubungan yang

signifikan antara variabel bebas dengan variabel terikat.


BAB IV

HASIL PENELITIAN

G. Gambaran Umum Puskesmas Bandarharjo

1. Pelayanan Kesehatan

Pelayanan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Bandarharjo

mempunyai 2 Puskesmas pembantu dengan 1 pos pelayanan

kesehatan dengan 4 kelurahan binaan yaitu, Kelurahan Bandarharjo,

Tanjungmas, Kuningan, dan Dadapsari. Jumlah penduduk di wilayah

kerja Puskesmas Bandarharjo sebanyak 78.394 jiwa.(4)

2. Program Pelayanan

a. Pada program KIA ( Kesehatan Ibu dan Anak) meliputi

1) Pelayanan tes bagi bumil sesuai standar untuk kunjungan

lengkap (K4 / empat kali kunjungan, dengan distribusi sekali

pada trimester pertama, sekali pada trimester dua dan dua kali

pada trimester ketiga)

2) Pelayanan persalinan oleh tenaga kesehatan

3) Pelayanan nifas lengkap (ibu dan neonatus) sesuai standar

(KN / Kunjungan Neonatal)

4) Pelayanan KN (Kunjungan Neonatal)

5) Kunjungan ibu nifas

b. Pada program gizi

1) Melakukan pemantauan hasil penimbangan seluruh balita

menggunakan Kartu Menuju Sehat ( KMS ) atau buku KIA.

43
44

2) Pemberian PMT (Pemberian Makanan Tambahan) pemulihan

pada balita gizi buruk.

3) Pemberian kapsul vitamin A pada anak 6 – 11 bulan.

4) Pemberian kapsul vitamin A pada balita 1 – 5 tahun.

5) Pemberian Tablet Zat Besi (Fe 120) pada Ibu Hamil

6) Pemberian kapsul vitamin A pada ibu masa nifas

H. Karakteristik Responden

1. Umur Ibu

Hasil uji statistik Kolomogorov-Smirnovfrekuensi pada data umur

ibu dengan nilai p = 0,20 (p > 0,05) yang berarti data variabel tersebut

berdistribusi normal. Dengan nilai mean = 30,07.

Tabel 4.1
Distribusi Frekuensi Menurut Umur Ibu

Distribusi Frekuensi
Umur Ibu (Tahun)
Jumlah %
17 – 30 40 54,4
31 - 40 32 41,6
41 – 55 3 4
Total 75 100
Sumber : data primer 2016

Dari hasil penelitian diketahui bahwa paling banyak responden

berusia dewasa awal 54,4% lebih banyak dibandingkan dengan

responden yang berusia dewasa tengah 31 tahun hingga 40 tahun

sebanyak 41,6%. Dan responden yang berusia dewasa akhir 41 tahun

hingga 55 tahun sebanyak 4%.


45

2. Pendidikan Ibu

Tabel 4.2
Distribusi Frekuensi Menurut Pendidikan Ibu

Distribusi Frekuensi
Pendidikan Ibu
Jumlah %
Sekolah Dasar 22 29,3
Sekolah Menengah Pertama 37 49,3
Sekolah Menengah Atas 16 21,3
Total 75 100
Sumber : data primer 2016

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar

pendidikan responden adalah tamatan Sekolah Menengah Pertama

(SMP) sebanyak 49,3%.

3. Pekerjaan Ibu

Hasil uji statistik Kolomogorov-Smirnovfrekuensi pada data umur

ibu dengan nilai p = 0,00 (p > 0,05) yang berarti data variabel tersebut

berdistribusi tidak normal. Dengan nilai median 1.

Tabel 4.3
Distribusi Frekuensi Menurut Pekerjaan Ibu
Distribusi Frekuensi
Pekerjaan Ibu
Jumlah %
Tidak Bekerja 35 46,7
Bekerja 40 53,3
Total 75 100
Sumber : data primer 2016

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa banyak ibu

memilih untuk bekerja sebanyak 53,3%, sedangkan ibu memilih untuk

tidak bekerja sebanyak 46,7%.

4. Umur Bayi

Hasil uji statistik frekuensi pada data umur bayi dengan nilai p =

0,000 (p > 0,05) yang berarti data variabel tersebut berdistribusi tidak
46

normal. Dengan nilai median = 10, nilai minimum = 6 dan nilai

maksimum 12 didapatkan kategori sebagai berikut :

Tabel 4.4
Distribusi Frekuensi Menurut Umur Bayi Dalam Bulan
Distribusi Frekuensi
Umur Bayi (Bulan)
Jumlah %
< 12 Bulan 40 53,4
≥ 12 Bulan 35 46,6
Total 75 100
Sumber : data primer 2016

Berdasarkan hasil penilitian didapatkan bahwa paling banyak

bayi responden berumur < 12 bulan (53,4%).

5. Jenis Kelamin Bayi

Tabel 4.5
Distribusi Frekuensi Menurut Jenis Kelamin Bayi
Distribusi Frekuensi
Jenis Kelamin Bayi
Jumlah %
Laki-Laki 40 53,3
Perempuan 35 46,7
Total 75 100
Sumber : data primer 2016

Berdasarkan hasil penelitian pada jenis kelamin bayi responden

didapatkan dengan jumlah paling banyak adalah jenis kelamin laki-laki

(53,3%).

6. Psikologis responden

Tabel 4.6
Distribusi Frekuensi Psikologis Responden
Distribusi Frekuensi
Psikologis Ibu
Jumlah %
Kurang 28 37,3%
Baik 47 62,7%
Total 75 100
Sumber : data primer 2016
47

Berdasarkan hasil psikologis yang berhubungan dengan berapa

kali ibu melahirkan maka didapatkan bahwa responden yang memiliki

psikologis dalam keadaan kurang sebanyak 37,3% lebih banyak

responden yang memiliki psikologis yang baik sebanyak 62,7%.

I. Analisis Univariat

1. Pengetahuan

Hasil uji statistik Kolomogorov-Smirnov data pengetahuan

dengan nilai p = 0,000 (p > 0,05) yang berarti data tersebut tidak normal.

Dengan menggunakan skala data ordinal didapatkan nilai median =

10,00, Nilai minimum = 5, Nilai maksimum = 15. Dengan menggunakan

nilai median di dapatkan kategori sebagai berikut :

Kurang Baik : Apabila total skor < 10

Baik : Apabila total skor ≥ 10

Tabel 4.7
Distribusi frekuensi Menurut Pengetahuan

Distribusi Frekuensi
Pengetahuan
∑ %
Kurang 34 45,3
Baik 41 54,7
Total 75 100
Sumber : data primer 2016

Dari hasil penelitian diketahui bahwa paling banyak responden

mempunyai pengetahuan baik (54,7%) dibandingkan responden yang

mempunyai pengetahuan kurang baik (45,3%).

Dibawah ini adalah jawaban responden dari kuesioner tentang

pengetahuan:
48

Tabel 4.8
Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Tentang
Pengetahuan
NO Pertanyaan ∑ %
1. Apa pengertian ASI eksklusif menurut ibu ?
a. Makanan alamiah bagi bayi sampai usia 2 tahun 12 16,0
b. Pemberian ASI ditambah susu formula sampai usia 6 40 53,3
bulan
c. Pemberian ASI saja tanpa tambahan cairan lain atau 23 30,7
makanan padat sampai usia 6 bulan
2. Menurut ibu kapankah seorang bayi harus segera diberikan
ASI pertamanya?
a. Segera setelah bayi lahir / maksimal 1 jam setelah 57 76,0
lahir 10 13,3
b. Menunggu ibu untuk benar-benar siap memberikan 8 10,7
ASI
c. Setelah bayi diberikan susu formula untuk latihan
menghisap, barulah diberikan ASI pertama
3. Menurut ibu, apakah pemberian ASI penting bagi tumbuh
kembang bayi ?
a. Penting, karena bayi mendapatkan nutrisi terbaik yang 73 97,3
dibutuhkan
b. Penting, karena bayi akan tumbuh jika ditambah 2 2,7
dengan susu bantu
c. Penting, karena bayi tumbuh kembang apabila ibu 0 0,0
makan banyak
4. Manfaat apa saja yang didapat dari pemberian ASI ?
a. Memberi nutrisi 7 9,3
b. Untuk pertumbuhan dan perkembangan anak 51 68,0
c. Meningkatkan daya tahan tubuh bayi 17 22,7
5. ASI yang pertama keluar disebut kolostrum?
a. Berupa cairan kuning yang harus segera diberikan 45 60,0
kepada bayi
b. Berupa cairan kuning yang harus dibuang 30 40,0
c. Berupa cairan kuning yang harus dipanaskan 0 0,0
49

Tabel 4.8
Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Tentang Pengetahuan
(Lanjutan)
NO Pertanyaan ∑ %
6. Apa kandungan yang dapat menjaga bayi dari serangan
bibit penyakit yang terdapat di dalam ASI?
a. Kolostrum 71 94,7
b. Glukosa, dan karbohidrat 0 0,0
c. Protein susu, taurin, karbohidrat ,lemak 4 5,3

7. Menurut ibu apa keunggulan bayi yang diberikan ASI


ekslusif dibandingkan dengan bayi yang tidak mendapat
ASI eksklusif?
a. ASI Eksklusif membuat anak sehat, cerdas dan 15 20,0
mandiri
b. ASI Eksklusif menekan angka kematian dan angka 39 52,0
kesakitan bayi 21 28,0
c. ASI Eksklusif merupakan harga yang sangat murah
8 Manfaat ASI Eksklusif bagi bayi dapat melindungi bayi dari
. diare?
a. Karena ASI mengandung antibodi yang menjaga 5 6,7
kesehatan bayi
b. ASI dan Teh membantu penyembuhan dieare pada 28 37,3
bayi
c. Karena ASI sama dengan nutrisi susu sapi 42 56,0
9. ASI saja dapat memenuhi kebutuhan zat gizi bayi umur 0-6
bulan.
a. Karena ASI mengandung nutrisi yang lengkap 20 26,7
b. Karena ASI saja tidak cukup untuk kebutuhan gizi bayi 31 41,3
c. Karena ASI dan makanan tambahan akan mencukupi 24 32,0
kebutuhan gizi pada bayi
10. Keuntungan pemberian ASI adalah bayi sehat, lincah,
cerdas, dan tidak cengeng?
a. Karena ASI memiliki nutrisi kompleks 67 89,3
b. Karena ASI tidak memberikan pengaruh pada bayi 0 0,0
c. Karena ASI tidak membuat bayi jadi lincah 8 10,7
11. Salah satu manfaat memberikan ASI bagi ibu adalah
mengurangi pendarahan setelah persalinan?
a. Karena hisapan bayi dan hormon penenang yang 20 26,7
dihasilkan dari ASI
b. Karena tidak ada hubungannya ASI dengan Nifas Ibu 55 73,3
c. Karena pendarahan setelah persalinan akan berhenti 0 0,0
dengan sendirinya
12. Menurut ibu berapa usia bayi yang tepat untuk diberikan
makanan pengganti ASI ?
a. 1 bulan 0 0,0
b. 3 bulan 2 2,7
c. 6 bulan 73 97,3
50

Tabel 4.8
Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Tentang Pengetahuan
(Lanjutan)
NO Pertanyaan ∑ %
13. ASI dapat diberikan 30 menit hingga 1 jam setelah bayi
lahir.
a. Karena merupakan ASI pertama yang sangat penting 47 62,7
b. Karena dianggap tidak penting 0,0 0,0
c. Karena ASI yang baik 2 jam setelah persalinan 28 37,3
14. Apakah memberikan pisang, air, dan madu pada usia 0-6
bulan baik untuk bayi?
a. Baik, karena menambah gizi untuk pertumbuhan bayi 36 48,0
b. Tidak baik, karena mengganggu pencernaan bayi 2 2,7
c. Tidak baik, karena gigi bayi belum tumbuh sempurna 37 49,3
15. Susu Formula tidak mengganggu pada sistem pencernaan
Bayi.
a. Benar, karena berasal dari susu sapi pilihan 60 80,0
b. Salah, karena susu formula tidak sebaik ASI 15 20,0
c. Salah, karena susu kambing lebih baik 0 0,0
16. Dibawah ini yang merupakan pernyataan yang benar
mengenai ASI Eksklusif adalah :
a. Bayi yang diberikan ASI eksklusif lebih jarang terkena 45 60,0
sakit di bandingkan dengan bayi yang tidak diberikan
ASI eksklusif
b. Memberikan ASI merupakan kegiatan yang tidak 15 20,0
praktis dan tidak mudah
c. Bayi yang diberi ASI juga dapat di ganti dengan 15 20,0
pemberian susu formula jika ASI yang keluar sedikit
17. Apakah Ibu mempercayai pesan-pesan mengenai susu
formula yang ada di iklan?
a. Media cetak atau elektronik selalu benar 43 57,3
b. Tidak semua iklan susu formula selalu benar 7 9,3
c. Percaya karena pengaruh dari orang sekitar 25 33,3
18. Apa yang ibu fikirkan, setelah melihat atau mendapatkan
iklan susu formula untuk bayi?
a. Ingin mencoba memberikan susu formula tersebut 31 41,3
b. Tidak mempunyai pikiran untuk mencoba 44 58,7
c. Ingin mencoba tapi harganya mahal 0 0,0
19. Menurut ibu manakah pernyataan yang benar.
a. Susu formula juga berasal dari bahan yang alami 32 42,7
b. Susu fomula juga mengandung tambahan bahan kimia 43 57,3
c. Susu formula tidak mengganggu pencernaan bayi 0 0,0
20. Apakah ASI yang di perah akan basi setelah 1 jam di ruang
terbuka?
a. Benar, karena ASI mudah basi 39 52,0
b. Salah, karena ASI akan tahan kurang dari 3 jam 35 46,7
c. Benar, karena ASI akan terkontaminasi jika di perah 1 1,3
Sumber : data primer 2016

Berdasarkan tabel diatas beberapa responden belum

memahami mengenai pemberian ASI secara Eksklusif seperti terlihat


51

pada jawaban responden tentang pengertian ASI Eksklusif yaitu

30,7% responden yang memahami. Sebagian besar pengetahuan

responden sudah baik 54,7%.

2. Sikap

Hasil uji statistik Kolomogorov-Smirnov data sikap dengan nilai

p = 0,000 (p > 0,05) yang berarti data variabel tersebut tidak normal.

Dengan menggunakan skala ordinal didapatkan nilai median = 69

nilai minimum 53, dan nilai maksimum = 82 dengan menggunakan

nilai median didapatkan kategori sebagai berikut :

Kurang : Apabila total skor < 69

Baik : Apabila total skor ≥ 69

Tabel 4.9
Distribusi Frekuensi Menurut Sikap
Distribusi Frekuensi
Sikap
∑ %
Kurang 35 46,7
Baik 40 53,3
Total 75 100
Sumber : data primer 2016

Dari hasil penelitian diketahui bahwa sebagian besar sikap

responden tentang pemberian ASI Eksklusif adalah baik (53,3%).

Dibawah ini adalah jawaban responden dari kuesioner sikap sebagai

berikut :
52

Tabel 4.10
Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Tentang Sikap

SS S T TS STS
No Pertanyaan ∑ % ∑ % ∑ % ∑ % ∑ %
1. ASI merupakan makanan yang baik untuk anak 0 0,0 69 92,0 6 8,0 00 00,0 2 0,0
2. ASI dapat memenuhi kebutuhan zat gizi anak, menjadikan anak pintar, dan 0 0,0 0 0,0 6 8,0 69 92,0 0 0,0
menjadikan ibu semakin sayang kepada anaknya
3. Dengan memberikan ASI, ibu dapat menghemat biaya pengeluaran keluarga 0 0,0 23 30,7 9 12,0 43 57,3 0 0,0
4. Nitrisi dalam ASI sudah dapat mencukupi kebutuhan asuapan makanan pada Bayi 0 0,0 12 16,0 6 8,0 57 76,0 0 0,0
5. Kandungan zat gizi susu formula lebih baik daripada ASI 0 0,0 23 30,7 21 28,0 30 40,0 1 1,3
6. Dengan memberikan ASI dapat mempererat hubungan batin antara ibu dengan anak 3 4,0 24 32,0 13 17,3 34 45,3 1 1,3
7. Pada usia 0-6 bulan, ketika anak merasa lapar, ibu langsung memberikan ASI 0 0,0 22 29,3 1 1,3 51 68,0 1 1,3
8. Kegiatan sehari-hari ibu tidak menjadi penghambat ibu dalam memberikan ASI 0 0,0 34 45,3 0 0,0 41 54,7 0 0,0
9. Ibu merasa sangat penting petugas kesehatan memberikan informasi tentang ASI 0 0,0 16 21,3 28 37,3 31 41,3 0 0,0
Eksklusif
10. Ibu medapat dukungan dari suami dan keluarga untuk memberikan ASI Eksklusif 0 0,0 4 5,3 19 25,3 52 69,3 0 0,0
11. Ibu merasa lebih mudah memberikan susu formula dibandingkan memberikan ASI 0 0,0 27 36,0 2 2,7 45 60,0 1 1,3
12. Susu formula adalah makanan yang baik untuk anak berusia 0-6 bulan 2 2,7 25 33,3 13 17,3 35 46,7 0 0,0
13. Kandungan nutrisi dalam susu formula sudah cukup untuk Bayi 0 0,0 20 26,7 9 12,0 46 61,3 0 0,0
Sumber : data primer 2016
53

Tabel 4.10
Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Tentang Sikap (lanjutan)

SS S T TS STS
No Pertanyaan ∑ % ∑ % ∑ % ∑ % ∑ %
14. Jika ibu sedang bekerja, ASI dapat diganti dengan susu formula 0 0,0 53 70,7 2 2,7 20 26,7 0 0,0
15. Ibu merasa tidak membutuhkan peran kader dalam penyuluhan ASI Eksklusif 1 1,3 12 16,0 62 82,7 0 0,0 0 0,0
16. Air Susu Ibu sering membuat bayi mencret 1 1,3 53 70,7 8 10,7 13 17,3 0 0,0
17. Bila dalam perjalanan sebaiknya ibu tidak menyusui bayinya karena malu 0 0,0 26 34,7 36 48,0 13 17,3 0 0,0
18. Jika ibu bekerja maka ASI yang tidak diberikan pada bayi harus dibuang 0 0,0 14 18,7 1 1,3 57 76,0 3 4,0
19. Air Susu Ibu hanya diberikan sampai 2 bulan 1 1,3 35 46,7 7 9,3 32 42,7 0 0,0
20. Ibu ingin sekali memberikan susu formula yang mahal seperti di iklan 1 1,3 20 26,7 16 21,3 28 37,3 10 13,3
Sumber : data primer 2016
3. Tenaga Kesehatan Dalam Pemberian ASI Eksklusif

Hasil uji statistik Kolomogorov-Smirnovfrekuensi pada data

pengaruh tenaga kesehatan dalam pemberian ASI Eksklusif dengan

nilai p = 0,00 (p > 0,05) yang berarti data variabel tersebut

berdistribusi tidak normal. Didapatkan kategori sebagai berikut :

Tabel 4.11
Distribusi Frekuensi Tenaga Kesehatan
Distribusi Frekuensi
Pengaruh Tenaga Kesehatan
∑ %
Kurang 32 42,7
Baik 43 57,3
Total 75 100
Sumber : data primer 2016

Dari hasil penelitian data yang didapatkan bahwa tidak adanya

pengaruh dari tenaga kesehatan sebesar (42,7%) dalam pemberian

ASI Eksklusif. Beberapa responden tidak mendapatkan penyuluhan

tentang ASI Eksklusif baik itu dari kader maupun tenaga kesehatan

dari Puskesmas. Adapun alasan responden tidak ikut dalam promosi

ASI Eksklusif dikarenakan responden yang sedang bekerja, lokasi

yang jauh dari tempat tinggal responden, dan ketidak inginan

responden untuk ikut serta dalam penyuluhan atau promosi tentang

ASI Eksklusif.

4. Dukungan Keluarga Dalam Pemberian ASI Eksklusif

Hasil uji statistik Kolomogorov-Smirnovfrekuensi pada data

umur ibu dengan nilai p = 0,00 (p < 0,05) yang berarti data variabel

tersebut berdistribusi tidak normal. Didapatkan kategori sebagai

berikut :

42
43

Tabel 4.12
Distribusi Frekuensi Dukungan Keluarga
Distribusi Frekuensi
Dukungan Keluarga
∑ %
Tidak ada dukungan 34 45,3
Ada dukungan 41 54,7
Total 75 100
Sumber : data primer 2016

Dari hasil yang didapatkan responden lebih banyak

mendapatkan dukungan dari keluarga sebesar 54,7%. Adapun

beberapa alasan responden tidak mendapat dukungan dari suami

sebesar 45,3% dalam pemberian ASI Eksklusif dikarenakan

pekerjaan dan kebebasan memilih untuk tidak memberikan ASI

Eksklusif serta ditambah dengan kemudahan dalam memberikan

susu formula, dengan pilihan yang banyak sesuai keinginan

responden hingga harga yang terjangkau membuat ibu untuk tidak

memberikan ASI.

5. Iklan Susu Formula Dalam Pemberian ASI Esklusif

Hasil uji statistik Kolomogorov-Smirnovfrekuensi pada data

pengaruh iklan susu formula dalam pemberian ASI Eksklusif dengan

nilai p = 0,00 (p > 0,05) yang berarti data variabel tersebut

berdistribusi tidak normal. Didapatkan kategori sebagai berikut :

43
44

Tabel 4.13
Distribusi Frekuensi Iklan Susu Formula
Distribusi Frekuensi
Iklan Susu formula
∑ %
Tenaga kesehatan 19 25,3
Media massa 56 74,7
Total 75 100
Sumber : data primer 2016

Hasil data yang didapatkan bahwa pengaruh iklan susu formula

banyak didapatkan dari media massa sebanyak 74,7% dengan

alasan responden menyatakan mudahnya terpengaruh dari iklan-

iklan yang ada di media elektronik dan brosur serta iklan yang

dipajang dengan kata-kata yang dapat mendorong responden untuk

mencoba memberikan susu formula tersebut. Tenaga kesehatan

hannya 25,3% memberikan pilihan susu formula dengan alasan sakit

yang responden derita, puting yang lecet atau masuk kedalam dan

tidak keluarnya ASI saat pasca persalinan.

6. Inisiasi menyusui dini ( IMD)

Hasil uji statistik Kolomogorov-Smirnovfrekuensi pada data

inisiasi menyusui dini (IMD) dengan nilai p = 0,00 (p > 0,05) yang

berarti data variabel terikat tersebut berdistribusi tidak normal.

Didapatkan kategori sebagai berikut :

Tabel 4.14
Distribusi frekuensi inisiasi menyusui dini ( IMD)
Distribusi Frekuensi
Inisiasi Menyusui Dini
∑ %
Kurang 32 42,7%
Baik 43 57,3%
Total 75 100
Sumber : data primer 2016

44
45

Hasil uji dari data diatas didapatkan bahwa banyak ibu

melakukan inisiasi menyusi dini 57,3% dibandingan dengan yang

tidak melakukan inisiasi menyusui dini sebanyak 42,7%. Responden

yang melakukan IMD tidak sepenuhnya memberikan ASI Eksklusif.

7. Pemberian ASI Eksklusif

Hasil uji statistik Kolomogorov-Smirnov frekuensi pada data

pemberian ASI Eksklusif dengan nilai p = 0,00 (p > 0,05) yang berarti

data variabel terikat tersebut berdistribusi tidak normal. Didapatkan

kategori sebagai berikut :

Tabel 4.15
Distribusi Frekuensi Pemberian ASI Eksklusif
Distribusi Frekuensi
Pemberian ASI Eksklusif
∑ %
Tidak ASI Eksklusif 52 69,3
ASI Eksklusif 23 30,7
Total 75 100
Sumber : data primer 2016

Dari hasil uji data diatas didapatkan bahwa sebagian besar

responden tidak memberikan ASI Eksklusif sebanyak 69,3%.

J. Analisis Bivariat

1. Hubungan antara Pengetahuan Responden dengan Pemberian ASI

Eksklusif.

Tabel 4.16
Hubungan Antara Pengetahuan dengan Pemberian ASI Eksklusif
Pemberian ASI Eksklusif Total
Pengetahuan Tidak ASI Eksklusif ASI Eksklusif
∑ % ∑ % ∑ %
Baik 28 68,3 13 31,7 41 100,0
Kurang 24 70,6 10 29,4 34 100,0
Sumber : hasil Uji Chi-square

45
46

Berdasarkan tabel diatas persentase pemberian ASI Eksklusif,

responden tidak memberikan ASI Eksklusif dengan pengetahuan

yang kurang baik (70,6%) lebih besar dari pada yang baik (68,3%).

Dari hasil uji Chi-Square antara pengetahuan ibu dengan

pemberian ASI Eksklusif didapatkan nilai p-value = 0,83 (<0,05).

Sehingga H0 ditolak dan Ha diterima. Itu menunjukkan bahwa tidak

ada hubungan antara pengetahuan tentang ASI Eksklusif dengan

pemberian ASI Eksklusif.

2. Hubungan antara Sikap dengan Pemberian ASI Eksklusif

Tabel 4.17
Hubungan Antara Sikap dengan Pemberian ASI Eksklusif
Pemberian ASI Eksklusif Total
Sikap Tidak ASI Eksklusif ASI Eksklusif
∑ % ∑ % ∑ %
Baik 26 65,0 14 35,0 40 100,0
Kurang Baik 26 74,3 9 25,7 35 100,0
Sumber : hasil Uji Chi-square

Berdasarkan tabel diatas persentase pemberian ASI Eksklusif

pada sikap kurang baik (74,3%) lebih besar dari sikap yang baik

(65,0%).

Dari hasil uji korelasi Chi-Square didapatkan nilai p-value =

0,38 (<0,05). Sehingga H0 diterima dan Ha ditolak. Itu menunjukan

bahwa tidak ada hubungan antara sikap responden dengan

pemberian ASI Eksklusif.

3. Pekerjaan Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif

46
47

Tabel 4.18
Hubungan Antara Pekerjaan dengan Pemberian ASI Eksklusif
Pemberian ASI Eksklusif Total
Pekerjaan Ibu Tidak ASI Eksklusif ASI Eksklusif
∑ % ∑ % ∑ %
Tidak Bekerja 19 54,3 16 45,7 35 100,0
Bekerja 33 82,5 7 17,5 40 100,0
Sumber : hasil Uji Chi-square

Berdasarkan tabel diatas persentase pemberian ASI Eksklusif

pada pekerjaan ibu yang bekerja sebanyak 82,5% lebih besar dari

yang tidak bekerja dan tidak memberikan ASI Eksklusif sebanyak

45,7%.

Dari hasil uji korelasi Chi-Square didapatkan nilai p-value =

0,008 (<0,050). Sehingga H0 ditolak dan Ha diterima. Itu menunjukan

bahwa ada hubungan antara pekerjaan ibu dengan pemberian ASI

Eksklusif.

4. Psikologis ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif

Tabel 4.19
Hubungan Antara Psikologis Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif
Pemberian ASI Eksklusif Total
Psikologis Tidak ASI Eksklusif ASI Eksklusif
∑ % ∑ % ∑ %
Kurang 24 85,7 4 14,3 28 100,0
Baik 28 59,5 19 40,5 47 100,0
Sumber : hasil Uji Chi-square

Berdasarkan tabel diatas persentase pemberian ASI Eksklusif

pada psikologis kurang, ibu tidak memberikan ASI Ekslusif sebanyak

85,7% lebih besar dari yang baik dan memberikan ASI Eksklusif

sebanyak 40,5%.

47
48

Dari hasil uji korelasi Chi-Square didapatkan nilai p-value =

0,018 (<0,050). Sehingga H0 ditolak dan Ha diterima. Itu menunjukan

bahwa ada hubungan antara psikologis ibu dengan pemberian ASI

Eksklusif.

5. Tenaga Kesehatan dengan Pemberian ASI Eksklusif

Tabel 4.20
Hubungan Antara Tenaga Kesehatan dengan Pemberian ASI
Eksklusif
Pemberian ASI Eksklusif Total
NAKES Tidak ASI Eksklusif ASI Eksklusif
∑ % ∑ % ∑ %
Kurang 32 100 0 0 32 100,0
Baik 20 46,5 23 53,5 43 100,0
Sumber : hasil Uji Chi-square

Berdasarkan tabel diatas persentase tenaga kesehatan dan

tidak memberikan ASI Eksklusif kurang sebesar 100% sedangkan

nilai pada tenaga kesehatan baik dan memberikan ASI Eksklusif

lebih sedikit sebanyak 53,5%.

Dari hasil uji korelasi Chi-Square didapatkan nilai p-value =

0,000 (<0,050). Sehingga H0 ditolak dan Ha diterima. Itu menunjukan

bahwa ada hubungan antara tenaga kesehatan dengan pemberian

ASI Eksklusif.

6. Dukungan Keluarga dengan Pemberian ASI Eksklusif

Tabel 4.21
Hubungan Antara Dukungan Keluarga dengan Pemberian ASI
Eksklusif
Pemberian ASI Eksklusif Total
Keluarga Tidak ASI Eksklusif ASI Eksklusif
∑ % ∑ % ∑ %

48
49

Tidak ada 32 94,1 2 5,9 34 100,0


dukungan
Ada dukungan 20 48,7 21 51,3 41 100,0
Sumber : hasil Uji Chi-square

Berdasarkan tabel diatas persentase dukungan keluarga pada

pemberian ASI Eksklusif tidak ada dukungan keluarga sebanyak

5,9%. Sedangkan pada dukungan keluarga yang memberikan ASI

Eksklusif sebanyak 51,3%.

Dari hasil uji korelasi Chi-Square didapatkan nilai p-value =

0,000 (<0,050). Sehingga H0 ditolak dan Ha diterima. Itu menunjukan

bahwa ada hubungan antara dukungan keluarga dengan pemberian

ASI Eksklusif.

7. Promosi Susu Formula dengan Pemberian ASI Eksklusif

Tabel 4.22
Hubungan Antara Promosi Susu Formula dengan Pemberian ASI
Eksklusif
Pemberian ASI Eksklusif Total
Sufor Tidak ASI Eksklusif ASI Eksklusif
∑ % ∑ % ∑ %
Tenaga 18 94,7 1 5,3 19 100,0
Kesehatan
Media Massa 34 60,7 22 39.3 56 100,0
Sumber : hasil Uji Chi-square

Berdasarkan tabel diatas persentase pada promosi susu

formula dan tidak memberikan ASI Eksklusif sebanyak 94,7%

dilakukan oleh tenaga kesehatan. Sedangkan pada media massa

lebih sedikit untuk tidak memberikan ASI Eksklusif sebanyak 60,7%.

Dari hasil uji korelasi Chi-Square didapatkan nilai p-value =

0,005 (<0,050). Sehingga H0 ditolak dan Ha diterima. Itu menunjukan

49
50

bahwa ada hubungan antara promosi susu formula dengan

pemberian ASI Eksklusif.

8. Inisiasi Menyusui Dini dengan Pemberian ASI Eksklusif

Tabel 4.23
Hubungan Antara IMD dengan Pemberian ASI Eksklusif
Pemberian ASI Eksklusif Total
IMD Tidak ASI Eksklusif ASI Eksklusif
∑ % ∑ % ∑ %
IMD 29 90,6 3 9,4 32 100,0
Tidak IMD 23 53,4 20 46,6 43 100,0
Sumber : hasil Uji Chi-square

Berdasarkan tabel diatas persentase inisiasi menyusui dini

pada pemberian ASI Eksklusif sebanyak 9,4% saja. Sedangkan pada

pemberian ASI Eksklusif dan tidak melakukan inisiasi menyusui dini

lebih banyak sebesar 46,6%. Banyak responden melakukan inisiasi

menyusui dini akan tetapi tidak memberikan ASI Eksklusif sebanyak

90,6% dikarenakan ibu yang merasa ASI saja tidak memenuhi

kebutuhan bayi. Dan adanya kepercayaan ibu untuk memberikan

makanan tambahan agar mencukupi kebutuhan tumbuh kembang

bayi mereka.

Dari hasil uji korelasi Chi-Square didapatkan nilai p-value =

0,001 (<0,05). Sehingga H0 ditolak dan Ha diterima. Itu menunjukan

bahwa ada hubungan antara inisiasi menyusui dini dengan

pemberian ASI Eksklusif.

K. Ringkasan Hasil Uji Bivariat

Tabel 4.24

50
51

Ringkasan Hasil Uji Chi-square antara Variabel Bebas Dan Variabel

Terikat

Uji Hubungan P value Keterangan


Hubungan antara 0,830 > 0,050 Tidak ada hubungan
pengetahuan ibu
tentang ASI Eksklusif
dengan pemberian ASI
Eksklusif
Hubungan antara 0,384 > 0,050 Tidak ada hubungan
Sikap ibu terhadap
pemberian ASI
Eksklusif dengan
Pemberian ASI
Eksklusif
Pekerjaan Ibu dengan 0,008 > 0,050 Ada hubungan
Pemberian ASI
Eksklusif dengan
Pemberian ASI
Eksklusif
Psikologis ibu dengan 0,018 > 0,050 Ada hubungan
Pemberian ASI
Eksklusif
Peran Tenaga 0,001 < 0,050 Ada hubungan
Kesehatan dengan
Pemberian ASI
Eksklusif
Dukungan Keluarga 0,001 < 0,050 Ada hubungan
dengan Pemberian ASI
Eksklusif
Promosi Susu Formula 0,005 < 0,050 Ada hubungan
dengan Pemberian ASI
Eksklusif
Inisiasi Menyusui Dini 0,001 < 0,050 Ada hubungan
dengan Pemberian ASI
Eksklusif
Sumber : hasil pengolahan data primer

51
BAB V

PEMBAHASAN

A. Keterbatasan Penelitian

Dalam penelitan ini ada keterbatasan peneliti yang dilakukan pada

responden 75 ibu yang memiliki bayi usia 6-12 bulan yang bersedia untuk

melakukan wawancara dengan panduan kuesioner dalam melakukan

penelitian diantaranya adalah :

1. Pada uji validitas pertanyaan didapatkan tidak semua data valid. Karena

uji dilakukan setelah pengambilan data pada responden.

2. Ada kemungkinan para responden menjawab pertanyaan yang tidak

sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.

B. Pembahasan

1. Hubungan antara Pengetahuan Responden dengan Pemberian

ASI Eksklusif di Wilayah kerja Puskesmas Bandarharjo.

Dari hasil analisis dari setiap butir pertanyaan bernilai negatif pada

pengetahuan didapatkan 40 (53,3%) reseponden memilih memberikan

ASI Eksklusif ditambah dengan susu formula, 42 (56,0%) responden

beranggapan bahwa ASI sama dengan susu sapi, 31 (41,3%) responden

merasa ASI saja tidak cukup untuk kebutuhan gizi bayi, 55 ( 73,3%) ibu

merasa tidak ada hubungan ASI dengan mengurangi pendarahan saat

nifas ibu, 60 (80,0%) ibu memilih susu formula tidak mengganggu pada

sistem pencernaan bayi karena berasal dari susu sapi pilihan, 43


(57,3%) ibu mempercayai media cetak atau elektronik selalu benar, 32

( 42,7%) ibu menurut ibu susu formula juga bersal dari bahan alami, dan

39 (52,0%) ibu beranggapan bahwa ASI akan basi setelah 1 jam druang

terbuka. Secara keseluruhan didapatkan hasil pertanyaan pengetahuan

dengan pengetahuan baik sebanyak 41 responden (54,7%)

dibandingkan responden yang mempunyai pengetahuan kurang baik

sebanyak 34 (45,3%).

Berdasarkan hasil uji statistik, antara pengetahuan ibu dengan

pemberian ASI Eksklusif di peroleh nilai p = 0,83 (>0,05) yang artinya

tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu dengan

pemberian ASI Eksklusif diwilayah kerja Puskesmas Bandarharjo.

Hal ini bertentangan dengan teori Utami Roesli, yang menjelaskan

bahwa hambatan utama tercapainya ASI Ekslusif karena kurangnya

pengetahuan yang benar tentang ASI Eksklusif pada para ibu(1).

Namun hal ini sejalan dengan penelitian Ramla Hakim, yang menunjukan

tidak ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan

perilaku pemberian ASI Eksklusif di Wilayah kerja Puskesmas Nabire

Kota (p=0,73)(27). Hal ini juga tidak sejalan dengan penelitian Luwis

Megawati yang menyatakan ada hubungan tingkat pengetahuan ibu

hamil dengan pemberian ASI Eksklusif yang dipengaruhi oleh informasi

yang didapat baik dari media cetak maupun media elektronik,

pengalaman ibu yang sudah pernahmenyusui, serta pendidikan

kesehatan dari bidan maupun tenaga kesehatan(33).


2. Hubungan antara Sikap dengan Pemberian ASI Eksklusif

Dari hasil analisis dari setiap butir pertanyaan bernilai negatif pada

sikap didapatkan ASI dapat memenuhi kebutuhan zat gizi anak,

menjadikan anak pintar, dan menjadikan ibu semakin sayang kepada

anaknya tidak setuju sebanyak 69 responden 92,0%, Dengan

memberikan ASI ibu dapat menghemat biaya pengeluaran keluarga tidak

setuju sebanyak 43 responden 57,3%, Nitrisi dalam ASI sudah dapat

mencukupi kebutuhan asuapan makanan pada Bayi responden memilih

tidak setuju sebanyak 57 (76,0%), Dengan memberikan ASI dapat

mempererat hubungan batin antara ibu dengan anak sebanyak 34

responden 45,3%, Pada usia 0-6 bulan, ketika anak merasa lapar ibu

langsung memberikan ASI sebanyak 51 reseponden tidak setuju 68,0%,

Ibu medapat dukungan dari suami dan keluarga untuk memberikan ASI

Eksklusif sebanyak 52 responden tidak setuju 69,3%, Jika ibu sedang

bekerja ASI dapat diganti dengan susu formula sebanyak 53 responden

setuju 70,7%.

Berdasarkan hasil uji statistik, antara sikap ibu dengan pemberian

ASI Eksklusif di peroleh nilai p = 0,38 (>0,05) yang artinya tidak ada

hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu dengan pemberian

ASI Eksklusif diwilayah kerja Puskesmas Bandarharjo.

Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan teori perilaku Lawrence

Green bahwa sikap adalah faktor yang memudahkan (faktor

predisposing) yang mempengaruhi untuk terwujudnya perilaku

seseorang. Dalam teori dinyatakan bahwa sikap itu merupakan reaksi

tertutup dan sebagai prediposisi terhadaptindakan atau perilaku. Sikap


secara nyata menunjukan kondisi adanya kesesuaian reaksi terhadap

stimulus tertentu dalam kehidupan sehari-hari berupa reaksi yang

bersifat emosional pada kehidupan sosial(22).

3. Hubungan antara Pekerjaan Ibu dengan Pemberian ASI

Eksklusif

Dari hasil penelitian didapatkan bahwa dari 75 orang ibu, 40 orang

yang bekerja sebesar 53,3%. Sedangkan ibu yang tidak bekerja

sebanyak 35 orang responden atau 46,7%. Ibu yang tidak bekerja dan

tidak memberikan ASI Ekskluif sebesar 54,2%. Ibu yang bekerja dan

tidak memberika ASI Eksklusif sebesar 82,5% dengan alasan bayi

mereka dijaga oleh saudara atau keluarga terdekat lainnya. Ibu yang

bekerja dan memberikan ASI Eksklusif sangat sedikit hannya 17,5%

karena mereka berpendapat bahwa memberikan ASI Eksklusif sangat

penting meskipun mereka bekerja. Meskipun pada hasil penelitian

menunjukan bahwa masih ada tempat kerja yang tidak menyediakan

fasilitas dan waktu khusus bagi ibu untuk memberikan ASI Eksklusif

pada bayinya.

Berdasarkan uji statistik uji hubungan dengan didapatkan bahwa

ada hunbungan antara pekerjaan ibu dengan pemberian ASI Eksklusif

diperoleh p = 0,008 (<0,050) yang artinya ada hubungan yang signifikan

antara pekerjaan ibu dengan pemberian ASI Eksklusif di wilayah kerja

Puskesmas Bandarharjo.

Hal ini sejalan dengan teori Utami Roesli sebelumnya, yang

menjelaskan bahwa ibu bekerja tetap dapat memberikan ASI secara

Eksklusif pada bayinya dengan mempersiapkan ASI perah dan


memberikannya pada bayi(1). Hal ini juga sejalan dengan penelitian

Arvina Dahlan yang menyatakan bahwa ada hubungan antara status

pekerjaan dengan pemberian ASI Eksklusif (35). Dan hal ini juga sejalan

dengan penelitian Haryani menyatakan alasan ibu bekerja tidak

memberikan ASI Eksklusif karena rasa malas, beban kerja, waktu cuti

terbatas, sarana dan prasarana kurang dan tuntutan ekonomi(38).

4. Hubungan antara Psikologis ibu dengan Pemberian ASI

Eksklusif

Dari hasil penelitianyang telah dilakukan dengan uji hubungan

diketahui bahwa ada 47 responden 62,7% memiliki keadaan psikologis

yang dikategorikan baik berdasarkan dari jawaban pada kuesioner. Dan

hannya 28 responden yaitu 37,3% yang memiliki keadaan psikologis yang

kurang, diantaranya banyaknya jumlah anak, rasa stres saat ibu

menyusui dan rasa takut saat hamil untuk memberikan ASI pada bayi

mereka. Akan tetapi sebagian besar responden sudah memiliki keadaan

psikologis yang cukup baik, dikarenakan pengalaman melahirkan yang

lebih dari sekali dan usia beberapa responden yang cukup matang.

Berdasarkan hasil uji statistik Chi-square didapatkan ada

hubungan antara psikologis ibu dengan pemberian ASI Eksklusif dengan

p = 0,008 (<0,050) yang artinya ada hubungan antara faktor psikologis ibu

dengan pemberian ASI Eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Bandarharjo

Semarang.

Hal ini sejalan dengan teori William Sears, yang menjelaskan

bahwa persiapan psikologis seorang ibu sangat menentukan keberhasilan

menyusui. Semakin baik keadaan psikologis ibu maka semakin baik


praktik pemberian ASI Eksklusif.(28) Hal ini sejalan dengan penelitian Diya

lestari yang menunjukana bahwa saat ibu menyusui harus berada dalam

keadaan relaks dan tidak stress. Beban fikiran seringkali dapat

memperlambat hormon oksitosin sehingga prodiksi ASI tidak Lancar.

Berdasarkan hasil keseluruhan, ibu merasa sedikit ketakutan karena

puting lecet dan rasa sakit ketika memberikan ASI(12).

5. Tenaga Kesehatan dengan Pemberian ASI Eksklusif

Dari hasil penelitian dapat di ketahui bahwa dari 43 responden

menyatakan bahwa dukungan petugas kesehatan di Puskesmas sudah

baik sebesar 57,3%. Sedangkan sisanya 24 responden merasa kurang

dukungan dari petugas kesehatan sebesar 42,7%. Sedangkan

kurangnya dukungan dari petugas kesehatan dan tidak memberikan ASI

Eksklusif sebesar 100% dan adanya dukungan petugas kesehtan serta

memberikan ASI Eksklusif sbesar 53,5%. Secara keseluruhan peran

petugas kesehatan berdampak memberi pengaruh yang besar terhadap

pemberian ASI Ekskluif pada ibu di wilayah kerja Puskesmas

Bandarharjo.

Berdasarkan hasil uji statistik anatara hubungan dukungan

petugas kesehatan dengan pemberian ASI Eksklusif diperoleh p = 0,000

(<0,050) yang artinya ada hubungan yang signifikan antara dukungan

petugas kesehatan dengan pemberian ASI Eksklusif. Dikarenakan sikap

dan perilaku para kader dan petugas kesehatan yang sudah baik dalam

mendukung program pemberian ASI Ekskluif, seperti dengan melakukan

penyuluhan serta konseling yang dapat memotiasi ibu dan adanya kelas
ibu hamil untuk meningkatkan pengetahuan ibu tentang manfaat

pemberian ASI Eksklusif.

Hal ini sejalan dengan teori Utami Roesli menyatakan bahwa perlu

adanya dukungan dari petugas kesehatan setempat untuk tercapainya

pemberian ASI Eksklusi(1). Sebagaimana diperkuat dengan penelitian

sebelumnya oleh Yessica S yang menyatakan bahwa ada hubungan

antara penolong persalinan dengan pemberian ASI eksklusif dengan p

value 0,214(31). Dan penelitian oleh Mina Santi yang menyatakan

implementasi kebijakan pemberian ASI melalui konseling ASI di

Puskesmas belum berjalan optimal(18).

6. Dukungan Keluarga dengan Pemberian ASI Eksklusif

Dari hasil penelitian, didapatkan bahwa 41 responden

mendapatkan dukungan dari keluarga dalam memberikan ASI Eksklusif

sebanyak 54,7%. Diantaranya dukungan dari suami sebesar 32,0%,

dukungan ibu mertua atau nenek sebesar 22,7%. Sedangkan sebanyak

45,3% responden tidak mendapatkan dukungan dalam memberikan ASI

Eksklusif dikarenakan alasan responden diberi kebebasan dalam

memelih untuk memberikan ASI Eksklusif atau tidak oleh keluarga. Untuk

ada dukungan tapi ibu tidak memberikan ASI Eksklusif sebesar 48,7%

dikarenakan ibu yang berkerja dan ibu yang merasa ASI yang keluar

tidak mencukupi kebutuhan bayinya, serta tidak ada paksaan yang

begitu berarti kepada ibu. Sedangkan adanya dukungan dari keluarga

dan memberikan ASI Eksklusif sebanyak 51,3%. Sehingga dapat

disimpulakan bahwa ibu yang mendapatakan dukungan keluarga lebih

banyak untuk memberikan ASI Eksklusif.


Berdasarkan hasil uji hubungan dengan menggunakan chi-square

didapatkan p = 0,000 (<0,050) yang artinya ada hubungan antara

dukungan keluarga dengan pemberian ASI Eksklusif.

Hal ini sejalan dengan penelitian Merry dan Ella, yang

menunjukan bahwa ada hubungan antara dukungan suami dengan

pemberian ASI Eksklusif (p = 0,0005).() keluarga (suami, oarang tua,

mertua, ipar dan sebagainya) perlu diinformasikan bahwa seorang ibu

perlu dukungan dari bantuan keluarga agar ibu berhasil menyusui secara

Eksklusif(29).

7. Promosi Susu Formula dengan Pemberian ASI Eksklusif

Dari hasil penelitian diperoleh sebanyak 56 responden

memperoleh promosi susu formula dari media massa sebanyak 74,7%,

sedangakan untuk promosi dari petugas kesehatan sebanyak 19 orang

responden atau 25,3%. Untuk tenaga kesehatan dan tidak memberikan

ASI Eksklusif sebanyak 18 responden atau 94,7%. Dan adanya media

massa yang membuat responden tetap memberikan ASI Eksklusif

sebanyak 22 orang atau sebesar 39,3%.

Berdasarkan hasil uji statistik, uji hubungan antara promosi susu

formula dengan pemberian ASI Eksklusif didapatkan nilai p = 0,005

(<0,050) artinya ada hubungan yang signifikan antara promosi susu

formula dengan pemberian ASI Eksklusif dikarenakan para responden

lebih mempercayai iklan yang mereka lihat setiap harinya sehingga

membuat ibu untuk mencoba memberikan pada bayi mereka.

Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Diya Lestari sebelumnya

yang menyatakan bahwa ada pengaruh antara terpaan iklan susu


formula lanjutan untuk pertumbuhan terhadap tingkat pemberian susu

formula oleh ibu-ibu rumah tangga(30). Hal ini sejalan dengan penelitian

Nuraini Rahmawati yang mengatakan ada hubungan yang bermakna

antara ketertarikan iklan susu formula dengan pemberian ASI

Eksklusif(37). Dan hal ini juga sejalan dengan penelitian Nuriza Astari

yang menunjukan sebesar 92,5% bayi terdapat hubungan yang

bermakna. Sehingga ada hububungan pemberian susu formula dengan

kejadian diare(34).

8. Inisiasi Menyusui Dini dengan Pemberian ASI Eksklusif

Dari hasil penelitian didapatkan bahwa 43 responden melakukan

inisiasi menyusui dini sebanyak 57,3%. Untuk reponden yang tidak

melakukan inisiasi menyusui dini sebanyak 32 responden atau 42,7%.

Sedangkan untuk yang melakukan inisiasi menyusui dini dan tidak

memberikan ASI Ekskluisf sebanyak 29 responden atau 90,6%. Untuk

yang inisiasi menyusui dini dan memberikan ASI Ekskluisf sebanyak 20

reponden atau sebesar 46,5%. Sejauh ini program IMD dari pemerintah

sudah ditepakan dengan baik oleh tenaga kesehatan sebelum dan

pasca melahirkan. Akan tetapi keberhasilan ini juga didukung oleh ibu

dan keluarga untuk memotivasi ibu melakukan IMD dan adanya faktor

kegagalan disebabkan karena orang tua, termasuk ibu khawatir dengan

bayinya karena ASI dari ibu tidak langsung keluar secara sempurna.

Biasanya orang tua akan menggantikan ASI dengan susu formula, air

teh, atau madu supaya bayi mereka tidak kekurangan asupan gizi.

Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan Chi-square

menguji hubungan maka didapatkan hasil yang signifikan dimana p =


0,001 (<0,050) yang artinya ada hubungan antara inisiasi menyusui dini

dengan pemberian ASI Ekskluif di wilayah kerja Puskesmas

Bandarharjo.

Hal sejalan dengan teori Utami Roesli sebelumnya yang

menyatakan bahwa bayi setelah dilahirkan bisa bertahan selama 72 jam

tanpa diberi makanan apapun.(1) Hal juga diperkuat oleh penelitian

Retno Sari Pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) memberikan

pengaruh yang besar terhadap kelangsungan pemberian ASI ekslusif.

Bayi yang mendapatkan IMD dalam waktu lebih dari satu jam setelah

kelahiran memiliki risiko 1,661 kali lebih besar untuk tidak menyusui

secara eksklusif dibandingkan dengan bayi yang diberi ASI pertama

dalam waktu satu jam setelah kelahiran(32). Dan didukung penelitian

yang dilakukan oleh Ike Soraya berdasarkan pembahasan pada

pelaksaan tahapan, ketepatan tujuan, dan kinerja program, dapat

disimpulkan bahwa sejauh ini sejauh ini implemtasi ASI Eksklusif belum

berjalan baik(36).
BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

C. Kesimpulan

1. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan persentase responden yang

mempunyai pengetahuan yang kurang baik sebesar 45,3%.

2. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan persentase responden yang

mempunyai sikap yang kurang baik sebesar 46,7%.

3. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan persentase responden yang

bekerja sebesar 53,3%.

4. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan persentase responden yang

dalam keadaan psikologi baik sebesar 62,7%.

5. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan persentase responden yang

memberikan pengaruh baik pada tenaga kesehatan sebesar 57,3%.

6. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan persentase responden yang

mendapat dukungan keluarga sebanyak 54,7%.

7. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan persentase responden yang

mendapatkan pengaruh susu formula dari media massa sebanyak 74,7%.

8. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan persentase responden yang

mendapatkan inisiasi menyusui dini kurang sebanyak 42,7%.

9. Tidak ada hubungan antara pengetahuan ibu dengan pemberian ASI

Eksklusif, nilai p = 0,830 (≤ 0,05)

10. Tidak ada hubungan antara sikap ibu dengan pemberian ASI Eksklusif,

nilai p = 0,384 (≤ 0,05)


11. Ada hubungan antara pekerjaan ibu dengan pemberian ASI Eksklusif,

nilai p = 0,008 (≤ 0,05).

12. Ada hubungan antara psikologis ibu dengan pemberian ASI Eksklusif,

nilai p = 0,018 (≤ 0,05).

13. Ada hubungan antara peran tenaga kesehatan dengan pemberian ASI

Eksklusif, nilai p = 0,000 (≤ 0,05).

14. Ada hubungan antara dukungan keluarga dengan pemberian ASI

Eksklusif, nilai p = 0,000 (≤ 0,05).

15. Ada hubungan antara promosi susu formula dengan pemberian ASI

Eksklusif, nilai p = 0,005 (≤ 0,05).

16. Ada hubungan antara inisiasi menyusui dini dengan pemberian ASI

Eksklusif, nilai p = 0,001 (≤ 0,05).

D. SARAN

1. Kepada Pemimpin Puskesmas

Diharapkan kepada pemegang program gizi dan KIA Puskesmas

menjadi kunci peningkatan pengetahuan dan sikap ibu dalam

memberikan ASI Eksklusif pada bayi mereka, dengan ditambah

dukungan dari petugas kesehatan untuk meningkatkan inisiasi

menyusui dini dengan cara memberikan motivasi terutama pada ibu

yang baru melahirkan untuk pertama kalinya.

2. Kader dan Ibu

a. Diharapkan ibu – ibu pada pertemuan PKK untuk menambah

wawasan melalui promosi, seminar, dan media lainnya untuk

dapat menyadari bahwa pentingnya memberikan ASI Eksklusif


tanpa tambahan makanan apapun pada bayi selama 6 bulan

untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak bayi.

3. Bagi Peneliti Lain

Perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh tempat

tinggal, serta faktor-faktor lain yang berhubungan dengan kegagalan

cakupan pemberian ASI Eksklusif. Dengan desain penelitian kulitatif

yang lain, penambahan waktu, dan jumlah responden.


DAFTAR PUSTAKA

1. Roesli, Utami. Inisiasi Menyusu Dini Plus ASI Eksklusif. Pustaka

Bunda.Jakart. 2008

2. Minarto. Rencana aksi pembinaan gizi masyarakat

(RAPGM).Kementerian Kesehatan Republik.Jakarta.2010-2014 Diunduh

dalam: http://www. gizikia.depkes.go.id/archives/658. Diakses tanggal 20

november 2015.

3. Hidayati, Lina. Kontribusi Persepsi dan Motivasi ibu dalam meningkatkan

Keberhasilan dalam Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Pedesaan.

Jurnal Kesehatan Komunitas Indonesia Vol. 10. No. 1 Maret 2014

4. Data januari-agustus 2015 di Puskesmas Bandarharjo

5. Yuliarti, Iin. Hubungan pengetahuan dan sikap ibu dengan perilaku

pemberian ASi eksklusif. Surakarta. 2009.

http://core.ac.uk/download/pdf/16507994.pdf. Diakses tanggal 29

November 2015.

6. Giri, Widiastuti. Hubungan Pengetahuan dan Sikap Ibu Tentang

Pemeberian ASI Serta Pemberian ASI Eksklusif dengan Status Gizi Balita

Usia 6-24 Bulan di Kelurahan Kajanan Kecamatan Buleleng. Jurnal

Magister Kedokteran Keluarga Vol 1, No 1, 2013 (hal 24-37)

http://jurnal.pasca.uns.ac.id

7. Ratnaningsih, Ester. Hubungan Pemberian ASI Eksklusif dan Makanan

Pendamping ASI terhadap Status Gizi Bayi 6-12 bulan. Jurnal Kebidanan

Panti Wilasa, Vol. 2 No. 1, Oktober 2011


8. Supartini. Hubungan Pemberian ASI Eksklusif Dengan Perkembangan

Motorik Kasar Pada Anak Usia 6-36 Bulan. Embrio, Jurnal Kebidanan Vol.

V, Maret 2015

9. Astuti, Isroni. Determinan Pemberian ASI Eksklusif pada Ibu Menyusui.

Jurnal Health Quality Vol. 4 No. 1, Nopember 2013, Hal. 1 - 76

10. Baskoro, Anto. ASI Panduan Praktis Ibu Menyusui.Yogyakarta:

Banyumedia.2008

11. Rahmawati, Meiyana. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemberian ASI

Eksklusif Pada Ibu Menyusui di Kelurahan Pedalangan Kecamatan

Banyumanik Kota Semarang. Jurnal KesMaDaSka, Vol 1 No. 1, Juli 2010

(8-17) ISSN 2087-5002

12. Lestari, Diya. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Ibu dalam

Pemberian ASI Eksklusif di BPJS PIPIN HERRIYANTI Kota Yogyakarta.

Juranal. http://opac.say.ac.id/1591/. Diakses tanggal 28 November 2015

13. Wulandari, Fitria. Karakteristik Ibu Menyusui yang Tidak Memberikan ASI

Eksklusif di UPT Puskesmas Banyudono I Kabupaten Boyolali. INFOKES,

VOL. 3 NO. 2 Agustus 2013. ISSN : 2086 - 2628

14. Setino. Analisis Faktor yang Mempengaruhi Pemberian ASI Eksklusif

pada Ibu Primipara di Kota Surakarta. Jurnal Terpadu Ilmu Kesehatan,

Volume 3, No 2, November 2014, hlm 106-214

15. Oktara, Resti. Gambaran Pemberian ASI Eksklusif pada Ibu Bekerja di

Desa Serua Indah, Kecamatan Jombang, TanggerangSelatan. Jurnal

Kesehatan Reproduksi Vol. 4 No 1, April 2013 : 30-40


16. Fikawati S, Syafiq A. Kajian implementasi dan kebijakan air susu ibu ek-

sklusif dan inisiasi menyusu dini di Indonesia. Jurnal Makara seri

Kesehatan. 2010; 14 (1): 17-24

17. Winarto B. Kebijakan publik teori dan proses. Edisi revisi.Media Pressindo.

Yogyakarta.2008.

18. Santi, Mina. Implementasi Kebijakan Pemberian ASI Eksklusif Melalui

Konseling Oleh Bidan Konselor. Kesmas, Jurnal Kesehatan Masyarakat

Nasional Vol. 8, No. 8, Mei 2014

19. Widodo Y, dkk. Strategi Peningkatan Praktik Pemberian ASI Eksklusif.

Panel Gizi Makan 2003, 26(1):31-36.

20. (Kemenkes) Kementerian Kesehatan RI. 2011. Konselor Menyusui Bantu

Tingkatkan Keberhasilan Pemberian ASI. www.depkes.go.id. Diakses 24

November 2015

21. Afriyanti, mulik. Hubungan Perilaku Pemberian MPASI Dengan Kejadian

Diare pada Bayi Usia 6-1 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Mangkang

Tahun 2013. Udinus

22. Notoatmodjo, S. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Rineka Cipta.

Jakarta. 2003

23. Sugiono. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.AFABETA cv.

Bandung.2011

24. Riwidikdo, Handoko. Statistik Kesehatan.Nuha Medika.Yogyakarta.2012

25. Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang.Profil Kesehatan Kabupaten

Semarang Tahun 2011

26. Purwanti, S. Konsep Penerapan ASI Eksklusif. Buku Kedokteran. ECG.

Jakarta.2003
27. Ramla, Hakim. Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Pemberian ASI

Eksklusif pada Bayi 6-12 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Nabire Kota

Kabupaten Nabire Tahun 2012.

28. William, Sears. The Baby Book 2. PT. Serambi Ilmu Semesta. Jakarta.

2007

29. Merry, Ella. Dukungan Suami dan Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah

Kerja Puskesmas Air Tawar Kota Padang. 2009.

http://jurnalkesmas.ui.ac.id/index.php/kesmas/article/view/166 diakses

pada tanggal 30 mei 2016 jam 14:22 Wib

30. Rahayu, Sri. Faktor-faktor yang berhubungan Pemberian ASI Ekskluisf

pada Karyawati UNSIKA. Jurnal Ilmiah Solusi Vol. 1 No.1 Januari – Maret

2014: 55-63

31. Yesica siallagan dkk. faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI

eksklusif Pada bayi di kelurahan bantan Kecamatan Medan Tembung

Tahun 2013. Tesis

32. Sari, Retno. Pengaruh Inisiasi menyusui Dini (IMD) dan Faktor Sosial

Demografi Terhadap ketahanan Pemberian ASI Eksklusif. E-Journal

WIDYA Kesehatan Dan Lingkungan. Volume 1 Nomor 2 April 2016. ISSN

2338-7793

33. Megawati, Luwis. Tingkat pengetahuan Ibu Hamil Tentang ASI Eksklusif

Di desa Ngrambe Kecamatan Ngrambe Kabupaten Ngawi Tahun 2012.

Skripsi

34. Astari, Nurriza. Hubungan Pemberian Susu Formula Dengan Kejadian

Diare pada bayi Usia 0-6 Bulan Wilayah Kerja Puskesmas Mangkang

Tahun 2013.Skripsi
35. Dahlan, Arvina, dkk. Hubungan Status Pekerjaan Dengan Pemberian ASI

Eksklusif Di Kelurahan Palebon Kecamatan Pedurungan Kota Semarang.

2011

36. Soraya, Ike. Implementasi Program Pemberian ASI Eksklusif di Kota

Salatiga.2012

37. Rahmawati, Nuraini. Hubungan Ketertarikan Iklan Susu Formula Dengan

Pemberian ASI Eksklusif di Posyandu Desa Kemudo Prambanan Klaten.

Jurnal Involusi Kebidanan, Vol. 1, No. 1, Januari 2011, 61-72

38. Haryani. Alasan Tidak Memberikan ASI Eksklusif Oleh Ibu Bekerja di Kota

Mataram, Nusa Tenggara Barat (Thesis).2014


KUESIONER VARIABEL

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI


EKSKLUSIF DI PUSKESMAS BANDARHARJO

TAHUN 2016

A. Karakteristik responden
Nama Ibu :
Umur :
Pendidikan :
Pekerjaan :
B. Pemberian ASI Eksklusif
1. Apakah ibu memberikan ASI Eksklusif?
a. Ya
b. Tidak
2. Apakah selama memberikan ASI Ekslusif ibu memberikan makanan
tambahan?
a. Ya
b. Tidak
C. Psikologis IBU
1. Berapa kali ibu melahirkan
a. Melahirkan 1 kali
b. Melahirkan >2 kali
2. Apakah ibu merasa perasaan stress saat menyusui?
a. Ya
b. Tidak
3. Pada saat hamil Apakah ibu merasa takut untuk memberikan ASI?
a. Ya
b. Tidak
D. INISIASI MENYUSUI DINI

1. Apakah sudah Pernah mendapatkan Inisiasi Menyusui Dini ?


a. Sudah Pernah
b. Belum Pernah
2. Apakah ibu mengikuti penyuluhan tentang Manfaat ASI Eksklusif dari
kader / petugas kesehatan?
a. Ya
b. Tidak
E. Tenaga kesehatan
1. Apakah petugas kesehatan memberikan pengaruh besar bagi ibu
dalam pemberian ASI Eksklusif?
a. Tidak
b. Iya
2. Apakah terdapat dukungan dari petugas kesehatan untuk mengajak
ibu memberikan ASI Eksklusif?
a. Ya
b. Tidak
F. Dukungan keluarga
1. Apakah dukungan dari keluarga terdekat memotivasi ibu memberikan
ASI Eksklusif?
a. Tidak
b. Iya
2. Siapakah yang memberi dukungan dukung?
a. Nenek
b. Suami
G. Iklan sufor
1. Apakah iklan Susu formula memberi pengaruh untuk ibu?
a. memberikan mempengaruhi
b. Tidak memberikan pengaruh
2. Dari manakah ibu mendapatkan informasi tentang susu formula?
a. Tenaga kesehatan
b. Media Massa
F. Pengetahuan tentang ASI Eksklusif
1. Apa pengertian ASI eksklusif menurut ibu ?
a. Makanan alamiah bagi bayi sampai usia 2 tahun
b. Pemberian ASI ditambah susu formula sampai usia 6 bulan
c. Pemberian ASI saja tanpa tambahan cairan lain atau makanan
padat sampai usia 6 bulan
2. Menurut ibu kapankah seorang bayi harus segera diberikan ASI
pertamanya?
a. Segera setelah bayi lahir atau maksimal 1 jam setelah lahir
b. Menunggu ibu untuk benar-benar siap memberikan ASI
c. Setelah bayi diberikan susu formula untuk latihan menghisap,
barulah diberikan ASI pertama
3. Menurut ibu, apakah pemberian ASI penting bagi tumbuh kembang
bayi ?
a. Penting, karena bayi mendapatkan nutrisi terbaik yang dibutuhkan
b. Penting, karena bayi akan tumbuh jika ditambah dengan susu
bantu
c. Penting, karena bayi tumbuh kembang apabila ibu makan banyak
4. Manfaat apa saja yang didapat dari pemberian ASI ?
a. Memberi nutrisi
b. Untuk pertumbuhan dan perkembangan anak
c. Meningkatkan daya tahan tubuh bayi
5. ASI yang pertama keluar disebut kolostrum?
a. Berupa cairan kuning yang harus segera diberikan kepada bayi
b. Berupa cairan kuning yang harus dibuang
c. Berupa cairan kuning yang harus dipanaskan
6. Apa kandungan yang dapat menjaga bayi dari serangan bibit penyakit
yang terdapat di dalam ASI?
a. Kolostrum
b. Glukosa, dan karbohidrat
c. Protein susu, taurin, karbohidrat ,lemak
7. Menurut ibu apa keunggulan bayi yang diberikan ASI ekslusif
dibandingkan dengan bayi yang tidak mendapat ASI eksklusif?
a. ASI Eksklusif membuat anak sehat, cerdas dan mandiri
b. ASI Eksklusif menekan angka kematian dan angka kesakitan bayi
c. ASI Eksklusif merupakan harga yang sangat murah
8. Manfaat ASI Eksklusif bagi bayi dapat melindungi bayi dari diare?
a. Karena ASI mengandung antibodi yang menjaga kesehatan bayi
b. ASI dan Teh membantu penyembuhan dieare pada bayi
c. Karena ASI sama dengan nutrisi susu sapi
9. ASI saja dapat memenuhi kebutuhan zat gizi bayi umur 0-6 bulan.
a. Karena ASI mengandung nutrisi yang lengkap
b. Karena ASI saja tidak cukup untuk kebutuhan gizi bayi
c. Karena ASI dan makanan tambahan akan mencukupi kebutuhan
gizi pada bayi
10. Keuntungan pemberian ASI adalah bayi sehat, lincah, cerdas, dan
tidak cengeng?
a. Karena ASI memiliki nutrisi kompleks
b. Karena ASI tidak memberikan pengaruh pada bayi
c. Karena ASI tidak membuat bayi jadi lincah
11. Salah satu manfaat memberikan ASI bagi ibu adalah mengurangi
pendarahan setelah persalinan?
a. Karena hisapan bayi dan hormon penenang yang dihasilkan dari
ASI
b. Karena tidak ada hubungannya ASI dengan Nifas Ibu
c. Karena pendarahan setelah persalinan akan berhenti dengan
sendirinya
12. Menurut ibu berapa usia bayi yang tepat untuk diberikan makanan
pengganti ASI ?
a. 1 bulan
b. 3 bulan
c. 6 bulan
13. ASI dapat diberikan 30 menit hingga 1 jam setelah bayi lahir.
a. Karena merupakan ASI pertama yang sangat penting
b. Karena dianggap tidak penting
c. Karena ASI yang baik 2 jam setelah persalinan
14. Apakah memberikan pisang, air, dan madu pada usia 0-6 bulan baik
untuk bayi?
a. Baik, karena menambah gizi untuk pertumbuhan bayi
b. Tidak baik, karena mengganggu pencernaan bayi
c. Tidak baik, karena gigi bayi belum tumbuh sempurna
15. Susu Formula tidak mengganggu pada sistem pencernaan Bayi.
a. Benar, karena berasal dari susu sapi pilihan
b. Salah, karena susu formula tidak sebaik ASI
c. Salah, karena susu kambing lebih baik

16. Dibawah ini yang merupakan pernyataan yang benar mengenai ASI
Eksklusif adalah :

a. Bayi yang diberikan ASI eksklusif lebih jarang terkena sakit di


bandingkan dengan bayi yang tidak diberikan ASI eksklusif
b. Memberikan ASI merupakan kegiatan yang tidak praktis dan tidak
mudah
c. Bayi yang diberi ASI juga dapat di ganti dengan pemberian susu
formula jika ASI yang keluar sedikit
17. Apakah Ibu mempercayai pesan-pesan mengenai susu formula yang
ada di iklan?
a. Media cetak atau elektronik selalu benar
b. Tidak semua iklan susu formula selalu benar
c. Percaya karena pengaruh dari orang sekitar
18. Apa yang ibu fikirkan, setelah melihat atau mendapatkan iklan susu
formula untuk bayi?
a. Ingin mencoba memberikan susu formula tersebut
b. Tidak mempunyai fikiran untuk mencoba
c. Ingin mencoba tapi harganya mahal
19. Menurut ibu manakah pernyataan yang benar.
a. Susu formula juga berasal dari bahan yang alami
b. Susu fomula juga mengandung tambahan bahan kimia
c. Susu formula tidak mengganggu pencernaan bayi
20. Apakah ASI yang di perah akan basi setelah 1 jam di ruang terbuka?
a. Benar, karena ASI mudah basi
b. Salah, Karena ASI akan tahan kurang dari 3 jam
c. Benar, karena ASI akan terkontaminasi jika di perah
H. Sikap tentang pemberian ASI Eksklusif

Petunjuk : Pilihlah salah satu jawaban yang


dianggap paling benar sesuai dengan
responden dengan memberikan tanda
(√) pada jawaban yang dipilih.
Keterangan : 5. Sangat setuju (SS)
4. Setuju (S)
3. Ragu-ragu (T)
2. Tidak setuju (TS)
1. Sangat tidak setuju (STS)

No Pertanyaan SS S T TS STS
1 ASI merupakan makanan yang baik untuk
anak
2 ASI dapat memenuhi kebutuhan zat gizi
anak, menjadikan anak pintar, dan
menjadikan ibu semakin sayang kepada
anaknya
3 Dengan memberikan ASI, ibu dapat
menghemat biaya pengeluaran keluarga
4 Nitrisi dalam ASI sudah dapat mencukupi
kebutuhan asuapan makanan pada Bayi
5 Kandungan zat gizi susu formula lebih baik
daripada ASI
6 Dengan memberikan ASI dapat mempererat
hubungan batin antara ibu dengan anak
7 Pada usia 0-6 bulan, ketika anak merasa
lapar, ibu langsung memberikan ASI
8 Kegiatan sehari-hari ibu tidak menjadi
penghambat ibu dalam memberikan ASI
9 Ibu merasa sangat penting petugas
kesehatan memberikan informasi tentang
ASI Eksklusif
No Pertanyaan SS S T TS STS
10 Ibu medapat dukungan dari suami dan
keluarga untuk memberikan ASI Eksklusif
11 Ibu merasa lebih mudah memberikan susu
formula dibandingkan memberikan ASI
12 Susu formula adalah makanan yang baik
untuk anak berusia 0-6 bulan
13 Kandungan nutrisi dalam susu formula
sudah cukup untuk Bayi
14 Jika ibu sedang bekerja, ASI dapat diganti
dengan susu formula
15 Ibu merasa tidak membutuhkan peran kader
dalam penyuluhan ASI Eksklusif
16 Air Susu Ibu sering membuat bayi mencret
17 Bila dalam perjalanan sebaiknya ibu tidak
menyusui bayinya karena malu
18 Jika ibu bekerja maka ASI yang tidak
diberikan pada bayi harus dibuang
19 Air Susu Ibu hanya diberikan sampai 2
bulan
20 Ibu ingin sekali memberikan susu formula
yang mahal seperti di iklan
DOKUMENTASI PENELITIAN
Hasil Uji Validitas

1. Karakteristik responden

Tests of Normality
a
Kolmogorov-Smirnov Shapiro-Wilk
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
*
UMUR_IBU .078 75 .200 .982 75 .376

PENDIDIKAN IBU

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent


Valid SD 22 29.3 29.3 29.3
SMP 37 49.3 49.3 78.7
SMA 16 21.3 21.3 100.0
Total 75 100.0 100.0

PEKERJAAN IIBU

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent


Valid Tidak Bekerja 36 48.0 48.0 48.0
Bekerja 39 52.0 52.0 100.0
Total 75 100.0 100.0

UMUR_BAYI

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent


Valid 6 17 22.7 22.7 22.7
7 9 12.0 12.0 34.7
8 4 5.3 5.3 40.0
9 5 6.7 6.7 46.7
10 5 6.7 6.7 53.3
11 8 10.7 10.7 64.0
12 27 36.0 36.0 100.0
Total 75 100.0 100.0

JENIS_KELAMIN

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Laki-Laki 40 53.3 53.3 53.3

Perempuan 35 46.7 46.7 100.0

Total 75 100.0 100.0


Tests of Normality
a
Kolmogorov-Smirnov Shapiro-Wilk

Statistic df Sig. Statistic df Sig.

DUKUNGAN KELUARGA
DALAM PEMBERIAN ASI .310 75 .000 .755 75 .000
EKSKLUSIF

Tests of Normality
a
Kolmogorov-Smirnov Shapiro-Wilk

Statistic df Sig. Statistic df Sig.

PENGARUH TENAGA
KESEHATAN DALAM ASI .432 75 .000 .588 75 .000
EKSKLUSIF

SUFOR DARI TENAGA


.465 75 .000 .541 75 .000
KESEHATAN

PENGARUH TENAGA KESEHATAN DALAM ASI EKSKLUSIF

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid TIDAK ADA PENGARUH 51 68.0 68.0 68.0

ADA PENGARUH 24 32.0 32.0 100.0

Total 75 100.0 100.0

PROMOSI SUSU FORMULA

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid TENAGA KESEHATAN 19 25.3 25.3 25.3

MEDIA MASSA 56 74.7 74.7 100.0

Total 75 100.0 100.0

Hasil Pengetahuan Responden

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid baik 41 54.7 54.7 54.7

kurang 34 45.3 45.3 100.0


Hasil Pengetahuan Responden

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid baik 41 54.7 54.7 54.7

kurang 34 45.3 45.3 100.0

Total 75 100.0 100.0

umur responden

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 17 1 1.3 1.3 1.3

18 2 2.7 2.7 4.0

21 3 4.0 4.0 8.0

22 4 5.3 5.3 13.3

23 6 8.0 8.0 21.3

24 1 1.3 1.3 22.7

25 4 5.3 5.3 28.0

26 4 5.3 5.3 33.3

28 4 5.3 5.3 38.7

29 4 5.3 5.3 44.0

30 7 9.3 9.3 53.3

31 7 9.3 9.3 62.7

32 5 6.7 6.7 69.3

33 1 1.3 1.3 70.7

34 3 4.0 4.0 74.7

35 3 4.0 4.0 78.7

36 3 4.0 4.0 82.7

37 2 2.7 2.7 85.3

38 3 4.0 4.0 89.3

39 2 2.7 2.7 92.0

40 3 4.0 4.0 96.0

42 1 1.3 1.3 97.3

46 1 1.3 1.3 98.7

48 1 1.3 1.3 100.0


umur responden

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 17 1 1.3 1.3 1.3

18 2 2.7 2.7 4.0

21 3 4.0 4.0 8.0

22 4 5.3 5.3 13.3

23 6 8.0 8.0 21.3

24 1 1.3 1.3 22.7

25 4 5.3 5.3 28.0

26 4 5.3 5.3 33.3

28 4 5.3 5.3 38.7

29 4 5.3 5.3 44.0

30 7 9.3 9.3 53.3

31 7 9.3 9.3 62.7

32 5 6.7 6.7 69.3

33 1 1.3 1.3 70.7

34 3 4.0 4.0 74.7

35 3 4.0 4.0 78.7

36 3 4.0 4.0 82.7

37 2 2.7 2.7 85.3

38 3 4.0 4.0 89.3

39 2 2.7 2.7 92.0

40 3 4.0 4.0 96.0

42 1 1.3 1.3 97.3

46 1 1.3 1.3 98.7

48 1 1.3 1.3 100.0

Total 75 100.0 100.0


2. Test pengetahuan
Tests of Normality
a
Kolmogorov-Smirnov Shapiro-Wilk

Statistic df Sig. Statistic df Sig.

Apa pengertian ASI eksklusif


.439 75 .000 .580 75 .000
menurut ibu ?

Menurut ibu kapankah


seorang bayi harus segera .472 75 .000 .530 75 .000
diberikan ASI pertamanya?

Menurut ibu, apakah


pemberian ASI penting bagi .539 75 .000 .150 75 .000
tumbuh kembang bayi ?

Manfaat apa saja yang


.532 75 .000 .330 75 .000
didapat dari pemberian ASI ?

ASI yang pertama keluar


.391 75 .000 .622 75 .000
disebut kolostrum?

Apa kandungan yang dapat


menjaga bayi dari serangan
.540 75 .000 .235 75 .000
bibit penyakit yang terdapat di
dalam ASI?

Menurut ibu apa keunggulan


bayi yang diberikan ASI
ekslusif dibandingkan dengan .490 75 .000 .490 75 .000
bayi yang tidak mendapat ASI
eksklusif?

Manfaat ASI Eksklusif bagi


bayi dapat melindungi bayi .538 75 .000 .270 75 .000
dari diare?

ASI saja dapat memenuhi


kebutuhan zat gizi bayi umur .459 75 .000 .552 75 .000
0-6 bulan.

Keuntungan pemberian ASI


adalah bayi sehat, lincah, .528 75 .000 .355 75 .000
cerdas, dan tidak cengeng?

Salah satu manfaat


memberikan ASI bagi ibu
adalah mengurangi .459 75 .000 .552 75 .000
pendarahan setelah
persalinan?
Menurut ibu berapa usia bayi
yang tepat untuk diberikan .539 75 .000 .150 75 .000
makanan pengganti ASI ?

ASI dapat diberikan 30 menit


hingga 1 jam setelah bayi .405 75 .000 .613 75 .000
lahir.

Apakah memberikan pisang,


air, dan madu pada usia 0-6 .539 75 .000 .150 75 .000
bulan baik untuk bayi?

Susu Formula tidak


mengganggu pada sistem .490 75 .000 .490 75 .000
pencernaan Bayi.

Dibawah ini yang merupakan


pernyataan yang benar
.391 75 .000 .622 75 .000
mengenai ASI Eksklusif
adalah :

Apakah Ibu mempercayai


pesan-pesan mengenai susu .532 75 .000 .330 75 .000
formula yang ada di iklan?

Apa yang ibu fikirkan, setelah


melihat atau mendapatkan
.384 75 .000 .625 75 .000
iklan susu formula untuk bayi?

Menurut ibu manakah


.378 75 .000 .629 75 .000
pernyataan yang benar.

Apakah ASI yang di perah


akan basi setelah 1 jam di .275 75 .000 .508 75 .000
ruang terbuka?

a. Lilliefors Significance Correction

Reliability Statistics

Cronbach's
Alpha N of Items

.516 20
Correlations

P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8 P9 P10 P11 P12 P13 P14 P15 P16 P17 P18 P19 P20 TOTAL

Spearm Apa pengertian Correlat


-
an's rho ASI eksklusif ion - * * ** *
1.000 -.032 .110 .283 -.100 .029 .054 -.205 .136 -.205 .110 -.264 .069 -.116 -.283 -.114 -.323 -.245 -.124 -.214
menurut ibu ? Coeffici .015 *

ent

Sig. (2-
. .782 .347 .901 .014 .396 .805 .645 .078 .244 .078 .347 .022 .554 .323 .014 .330 .005 .034 .288 .065
tailed)

N 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75

Menurut ibu Correlat


kapankah ion *
- * **
-.032 1.000 .295 .178 -.133 -.187 .150 .127 -.093 .127 .295 .147 -.101 -.031 .178 .073 -.028 .146 .078 .353
seorang bayi Coeffici .034
harus segera ent
diberikan ASI
Sig. (2-
pertamanya? .782 . .010 .770 .126 .254 .108 .198 .277 .427 .277 .010 .208 .390 .790 .126 .534 .812 .210 .507 .002
tailed)

N 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75
Menurut ibu, Correlat
*
apakah ion *
- 1.000
.110 .295 1.000 .053 -.039 -.124 .044 -.087 -.057 -.087 *
-.128 .027 .083 -.135 .053 -.139 -.143 -.004 .012
pemberian ASI Coeffici .135
penting bagi ent
tumbuh
Sig. (2-
kembang bayi ? .347 .010 . .651 .248 .738 .289 .706 .456 .626 .456 . .275 .816 .480 .248 .651 .235 .222 .970 .922
tailed)

N 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75

Manfaat apa Correlat


saja yang ion 1.00 -
-.015 -.034 .053 .076 -.046 -.086 -.090 -.186 -.090 .053 -.037 -.053 -.046 -.019 .055 -.010 -.001 -.216 .013
didapat dari Coeffici 0 .019
pemberian ASI ? ent

Sig. (2-
.901 .770 .651 . .873 .516 .696 .464 .443 .110 .443 .651 .755 .651 .696 .873 .642 .933 .992 .062 .913
tailed)

N 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75

ASI yang Correlat


pertama keluar ion *
- 1.00 ** ** ** ** **
-.283 .178 -.135 .170 -.136 -.109 .062 -.018 .062 -.135 .945 -.203 .068 1.000 -.019 .696 .946 -.101 .757
disebut Coeffici .019 0
kolostrum? ent

Sig. (2-
.014 .126 .248 .873 . .146 .244 .351 .600 .881 .600 .248 .000 .081 .562 . .873 .000 .000 .388 .000
tailed)

N 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75
Apa kandungan Correlat
yang dapat ion ** **
-.100 -.133 -.039 .076 .170 1.000 .119 -.412 .009 -.082 .009 -.039 .062 -.329 -.030 .170 -.128 .042 .155 -.006 .061
menjaga bayi Coeffici
dari serangan ent
bibit penyakit
Sig. (2-
yang terdapat di .396 .254 .738 .516 .146 . .311 .000 .939 .484 .939 .738 .596 .004 .801 .146 .274 .722 .184 .957 .604
tailed)
dalam ASI?
N 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75

Menurut ibu apa Correlat


keunggulan bayi ion - - ** **
.029 -.187 -.124 .119 1.000 -.134 .302 -.043 .302 -.124 -.165 .124 .000 -.136 -.160 -.190 -.108 .046 .018
yang diberikan Coeffici .046 .136
ASI ekslusif ent
dibandingkan
Sig. (2-
dengan bayi .805 .108 .289 .696 .244 .311 . .253 .009 .713 .009 .289 .156 .289 1.000 .244 .169 .103 .357 .695 .879
tailed)
yang tidak
N
mendapat ASI
75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75
eksklusif?

Manfaat ASI Correlat


Eksklusif bagi ion - - ** * **
.054 .150 .044 -.412 -.134 1.000 -.040 -.081 -.040 .044 -.015 .288 .000 -.109 .649 -.101 -.094 -.150 .037
bayi dapat Coeffici .086 .109
melindungi bayi ent
dari diare?
Sig. (2-
.645 .198 .706 .464 .351 .000 .253 . .731 .491 .731 .706 .900 .012 1.000 .351 .000 .387 .424 .198 .750
tailed)

N 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75
ASI saja dapat Correlat
*
memenuhi ion - **
1.000 ** **
-.205 .127 -.087 .062 .009 .302 -.040 1.000 .013 *
-.087 .029 -.100 .000 .062 .014 .016 -.028 .608 .498
kebutuhan zat Coeffici .090
gizi bayi umur 0- ent
6 bulan.
Sig. (2-
.078 .277 .456 .443 .600 .939 .009 .731 . .912 . .456 .804 .394 1.000 .600 .906 .889 .809 .000 .000
tailed)

N 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75

Keuntungan Correlat
pemberian ASI ion - - **
.136 -.093 -.057 -.082 -.043 -.081 .013 1.000 .013 -.057 .001 .057 -.043 -.018 -.335 .149 -.036 -.009 .056
adalah bayi Coeffici .186 .018
sehat, lincah, ent
cerdas, dan
Sig. (2-
tidak cengeng? .244 .427 .626 .110 .881 .484 .713 .491 .912 . .912 .626 .992 .626 .713 .881 .003 .203 .758 .938 .631
tailed)

N 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75

Salah satu Correlat


*
manfaat ion - **
1.000 ** **
-.205 .127 -.087 .062 .009 .302 -.040 *
.013 1.000 -.087 .029 -.100 .000 .062 .014 .016 -.028 .608 .498
memberikan ASI Coeffici .090
bagi ibu adalah ent
mengurangi
Sig. (2-
pendarahan .078 .277 .456 .443 .600 .939 .009 .731 . .912 . .456 .804 .394 1.000 .600 .906 .889 .809 .000 .000
tailed)
setelah
N 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75
persalinan?
Menurut ibu Correlat
*
berapa usia bayi ion *
1.000 -
.110 .295 *
.053 -.039 -.124 .044 -.087 -.057 -.087 1.000 -.128 .027 .083 -.135 .053 -.139 -.143 -.004 .012
yang tepat untuk Coeffici .135
diberikan ent
makanan
Sig. (2-
pengganti ASI ? .347 .010 . .651 .248 .738 .289 .706 .456 .626 .456 . .275 .816 .480 .248 .651 .235 .222 .970 .922
tailed)

N 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75

ASI dapat Correlat


diberikan 30 ion *
- .945 ** ** ** **
-.264 .147 -.128 **
.062 -.165 -.015 .029 .001 .029 -.128 1.000 -.043 .041 .945 -.037 .696 .895 -.075 .725
menit hingga 1 Coeffici .037
jam setelah bayi ent
lahir.
Sig. (2-
.022 .208 .275 .755 .000 .596 .156 .900 .804 .992 .804 .275 . .712 .725 .000 .755 .000 .000 .525 .000
tailed)

N 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75

Apakah Correlat
memberikan ion - - ** *
.069 -.101 .027 -.329 .124 .288 -.100 .057 -.100 .027 -.043 1.000 -.083 -.203 -.053 -.197 -.192 -.158 -.156
pisang, air, dan Coeffici .053 .203
madu pada usia ent
0-6 bulan baik
Sig. (2-
untuk bayi? .554 .390 .816 .651 .081 .004 .289 .012 .394 .626 .394 .816 .712 . .480 .081 .651 .090 .099 .176 .181
tailed)

N 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75
Susu Formula Correlat
tidak ion -
-.116 -.031 .083 .068 -.030 .000 .000 .000 -.043 .000 .083 .041 -.083 1.000 .068 .183 .081 .027 -.085 .224
mengganggu Coeffici .046
pada sistem ent
pencernaan
Sig. (2-
Bayi. .323 .790 .480 .696 .562 .801 1.000 1.000 1.000 .713 1.000 .480 .725 .480 . .562 .115 .488 .818 .469 .054
tailed)

N 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75

Dibawah ini Correlat


yang merupakan ion *
- 1.00 ** ** ** **
-.283 .178 -.135 **
.170 -.136 -.109 .062 -.018 .062 -.135 .945 -.203 .068 1.000 -.019 .696 .946 -.101 .757
pernyataan yang Coeffici .019 0
benar mengenai ent
ASI Eksklusif
Sig. (2-
adalah : .014 .126 .248 .873 . .146 .244 .351 .600 .881 .600 .248 .000 .081 .562 . .873 .000 .000 .388 .000
tailed)

N 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75

Apakah Ibu Correlat


mempercayai ion - ** **
-.114 .073 .053 .055 -.128 -.160 .649 .014 -.335 .014 .053 -.037 -.053 .183 -.019 1.000 -.103 -.094 -.036 .102
pesan-pesan Coeffici .019
mengenai susu ent
formula yang
Sig. (2-
ada di iklan? .330 .534 .651 .642 .873 .274 .169 .000 .906 .003 .906 .651 .755 .651 .115 .873 . .379 .423 .756 .382
tailed)

N 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75
Apa yang ibu Correlat
fikirkan, setelah ion **
- .696 ** ** ** **
-.323 -.028 -.139 **
.042 -.190 -.101 .016 .149 .016 -.139 .696 -.197 .081 .696 -.103 1.000 .645 -.049 .557
melihat atau Coeffici .010
mendapatkan ent
iklan susu
Sig. (2-
formula untuk .005 .812 .235 .933 .000 .722 .103 .387 .889 .203 .889 .235 .000 .090 .488 .000 .379 . .000 .677 .000
tailed)
bayi?
N 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75

Menurut ibu Correlat


manakah ion *
- .946 ** ** ** **
-.245 .146 -.143 **
.155 -.108 -.094 -.028 -.036 -.028 -.143 .895 -.192 .027 .946 -.094 .645 1.000 -.154 .674
pernyataan yang Coeffici .001
benar. ent

Sig. (2-
.034 .210 .222 .992 .000 .184 .357 .424 .809 .758 .809 .222 .000 .099 .818 .000 .423 .000 . .186 .000
tailed)

N 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75

Apakah ASI Correlat


yang di perah ion - - ** ** *
-.124 .078 -.004 -.006 .046 -.150 .608 -.009 .608 -.004 -.075 -.158 -.085 -.101 -.036 -.049 -.154 1.000 .274
akan basi Coeffici .216 .101
setelah 1 jam di ent
ruang terbuka?
Sig. (2-
.288 .507 .970 .062 .388 .957 .695 .198 .000 .938 .000 .970 .525 .176 .469 .388 .756 .677 .186 . .017
tailed)

N 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75
TOTAL HASIL Correlat
PENGETAHUA ion **
.757 ** ** ** ** ** ** *
-.214 .353 .012 .013 **
.061 .018 .037 .498 .056 .498 .012 .725 -.156 .224 .757 .102 .557 .674 .274 1.000
N YANG Coeffici
DIDAPATKAN ent
RESPONDEN
Sig. (2-
.065 .002 .922 .913 .000 .604 .879 .750 .000 .631 .000 .922 .000 .181 .054 .000 .382 .000 .000 .017 .
tailed)

N 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-


tailed).

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-


tailed).
Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square .046 1 .830
b
Continuity Correction .000 1 1.000

Likelihood Ratio .046 1 .830

Fisher's Exact Test 1.000 .516

Linear-by-Linear Association .045 1 .831


b
N of Valid Cases 75

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 10,43.

b. Computed only for a 2x2 table

3. Test sikap

Tests of Normality
a
Kolmogorov-Smirnov Shapiro-Wilk

Statistic df Sig. Statistic df Sig.

ASI merupakan makanan


.539 75 .000 .150 75 .000
yang baik untuk anak

ASI dapat memenuhi


kebutuhan zat gizi anak,
menjadikan anak pintar, dan .535 75 .000 .301 75 .000
menjadikan ibu semakin
sayang kepada anaknya

Dengan memberikan ASI,


ibu dapat menghemat biaya .526 75 .000 .335 75 .000
pengeluaran keluarga

Nitrisi dalam ASI sudah


dapat mencukupi kebutuhan .426 75 .000 .616 75 .000
asuapan makanan pada Bayi

Kandungan zat gizi susu


formula lebih baik daripada .258 75 .000 .807 75 .000
ASI

Dengan memberikan ASI


dapat mempererat
.495 75 .000 .474 75 .000
hubungan batin antara ibu
dengan anak
Pada usia 0-6 bulan, ketika
anak merasa lapar, ibu .429 75 .000 .623 75 .000
langsung memberikan ASI

Kegiatan sehari-hari ibu tidak


menjadi penghambat ibu .364 75 .000 .633 75 .000
dalam memberikan ASI

Ibu merasa sangat penting


petugas kesehatan
.353 75 .000 .716 75 .000
memberikan informasi
tentang ASI Eksklusif

Ibu medapat dukungan dari


suami dan keluarga untuk .424 75 .000 .628 75 .000
memberikan ASI Eksklusif

Ibu merasa lebih mudah


memberikan susu formula
.387 75 .000 .665 75 .000
dibandingkan memberikan
ASI

Susu formula adalah


makanan yang baik untuk .299 75 .000 .773 75 .000
anak berusia 0-6 bulan

Kandungan nutrisi dalam


susu formula sudah cukup .385 75 .000 .666 75 .000
untuk Bayi

Jika ibu sedang bekerja, ASI


dapat diganti dengan susu .532 75 .000 .135 75 .000
formula

Ibu merasa tidak


membutuhkan peran kader
.496 75 .000 .475 75 .000
dalam penyuluhan ASI
Eksklusif

Air Susu Ibu sering membuat


.431 75 .000 .636 75 .000
bayi mencret

Bila dalam perjalanan


sebaiknya ibu tidak
.250 75 .000 .798 75 .000
menyusui bayinya karena
malu

Jika ibu bekerja maka ASI


yang tidak diberikan pada .462 75 .000 .593 75 .000
bayi harus dibuang

Air Susu Ibu hanya diberikan


.310 75 .000 .723 75 .000
sampai 2 bulan
Ibu ingin sekali memberikan
susu formula yang mahal .337 75 .000 .769 75 .000
seperti di iklan

TOTAL JUMLAH SIKAP


.186 75 .000 .868 75 .000
RESPONDEN

a. Lilliefors Significance Correction

Hasil Perhitungan Sikap Responden

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid Baik 40 53.3 53.3 53.3

Kurang 35 46.7 46.7 100.0

Total 75 100.0 100.0

Reliability Statistics

Cronbach's
Alpha N of Items

.452 20

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square .757 1 .384
b
Continuity Correction .383 1 .536

Likelihood Ratio .762 1 .383

Fisher's Exact Test .456 .269

Linear-by-Linear Association .747 1 .387


b
N of Valid Cases 75

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 10,73.

b. Computed only for a 2x2 table


Correlations

P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8 P9 P10 P11 P12 P13 P14 P15 P16 P17 P18 P19 P20 TOTAL

Spearman ASI Correlation * *


1.000 -.293 -.055 .076 .135 .213 -.057 -.028 .052 -.238 -.003 .071 -.064 .079 -.143 .129 .004 .113 .079 -.075 .135
's rho merupakan Coefficient
makanan
Sig. (2-
yang baik . .011 .641 .520 .248 .066 .626 .814 .655 .040 .982 .544 .584 .502 .219 .270 .975 .335 .501 .524 .248
tailed)
untuk anak
N 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75

ASI dapat Correlation - - - - - -


* * ** ** **
memenuhi Coefficient 2.928E- 1.000 .152 .290 -.165 .169 .266 .316 .026 .321 2.424 3.655 -.209 -.058 -.169 2.146 2.275 .048 2.576 -.125 -.308
* * ** * *
kebutuhan zat 1 E-1 E-1 E-1 E-1 E-1
gizi anak,
Sig. (2-
menjadikan .011 . .192 .011 .156 .147 .021 .006 .827 .005 .036 .001 .072 .621 .146 .065 .050 .686 .026 .284 .007
tailed)
anak pintar,
N
dan
menjadikan
ibu semakin
75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75
sayang
kepada
anaknya

Dengan Correlation - - -
**
memberikan Coefficient -.055 .152 1.000 8.882 .045 -.138 .220 .142 .072 .312 -.104 -.149 -.057 .079 -.153 .077 4.515 .095 6.368 -.055 -.126
ASI, ibu dapat E-2 E-2 E-2
menghemat
Sig. (2-
biaya .641 .192 . .449 .704 .237 .058 .225 .539 .006 .374 .202 .630 .503 .191 .509 .701 .416 .587 .636 .282
tailed)
pengeluaran N
75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75
keluarga

Nitrisi dalam Correlation - - - - - - - - -


*
1.000 * ** * * **
ASI sudah Coefficient .076 .290 -.089 7.085 .141 .257 .719 .269 .205 5.216 6.535 5.067 .082 2.993 3.620 4.424 -.244 5.680 4.368 -.555
E0 ** ** ** ** ** ** ** ** **
dapat E-1 E-1 E-1 E-1 E-1 E-1 E-1 E-1 E-1
mencukupi
Sig. (2-
kebutuhan .520 .011 .449 . .000 .228 .026 .000 .020 .078 .000 .000 .000 .486 .009 .001 .000 .035 .000 .000 .000
tailed)
asuapan
N
makanan
75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75
pada Bayi

Kandungan Correlation - - - - -
** ** ** ** ** ** ** ** ** ** **
zat gizi susu Coefficient .135 -.165 .045 7.085 1.000 -.077 4.677 7.468 3.045 -.428 .694 .735 .636 2.529 .341 .584 .709 .560 .773 .353 .598
** ** ** ** *
formula lebih E-1 E-1 E-1 E-1 E-1
baik daripada
Sig. (2-
ASI .248 .156 .704 .000 . .512 .000 .000 .008 .000 .000 .000 .000 .029 .003 .000 .000 .000 .000 .002 .000
tailed)

N 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75

Dengan Correlation - - - - -
* *
memberikan Coefficient .213 .169 -.138 .141 -.077 1.000 .178 .224 .082 .071 2.594 -.258 2.495 -.117 -.261 7.150 2.090 .088 1.560 .005 -.152
* *
ASI dapat E-1 E-1 E-2 E-1 E-1
mempererat
Sig. (2-
hubungan .066 .147 .237 .228 .512 . .127 .054 .485 .542 .025 .025 .031 .319 .024 .542 .072 .455 .181 .966 .193
tailed)
batin antara
N
ibu dengan
75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75
anak
Pada usia 0-6 Correlation - - - - - - - -
* * ** ** * **
bulan, ketika Coefficient -.057 .266 .220 .257 4.677 .178 1.000 .726 .189 .894 4.957 6.478 5.282 .197 3.462 6.768 6.557 -.233 6.118 -.058 -.694
** ** ** ** ** ** ** **
anak merasa E-1 E-1 E-1 E-1 E-1 E-1 E-1 E-1
lapar, ibu
Sig. (2-
langsung .626 .021 .058 .026 .000 .127 . .000 .104 .000 .000 .000 .000 .090 .002 .000 .000 .045 .000 .621 .000
tailed)
memberikan
N 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75
ASI

Kegiatan Correlation - - - - - - - - - -
** ** ** ** ** **
sehari-hari ibu Coefficient -.028 .316 .142 .719 7.468 .224 .726 1.000 .309 .669 7.189 9.092 7.049 .163 4.165 4.235 6.941 3.389 8.389 3.966 -.869
** ** ** ** ** ** ** ** ** **
tidak menjadi E-1 E-1 E-1 E-1 E-1 E-1 E-1 E-1 E-1 E-1
penghambat
Sig. (2-
ibu dalam .814 .006 .225 .000 .000 .054 .000 . .007 .000 .000 .000 .000 .162 .000 .000 .000 .003 .000 .000 .000
tailed)
memberikan
N 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75
ASI

Ibu merasa Correlation - - - -


* **
1.000 *
sangat Coefficient .052 .026 .072 .269 3.045 .082 .189 .309 .087 -.098 -.181 -.031 .022 -.144 1.639 6.001 -.134 3.476 -.171 -.295
**
E0 **
penting E-1 E-1 E-2 E-1
petugas
Sig. (2-
kesehatan .655 .827 .539 .020 .008 .485 .104 .007 . .458 .403 .121 .792 .850 .217 .160 .609 .253 .002 .142 .010
tailed)
memberikan
N
informasi
tentang ASI 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75

Eksklusif

Ibu medapat Correlation - - - - - - - -


** ** ** ** * **
dukungan dari Coefficient 2.379E- .321 .312 .205 4.284 .071 .894 .669 .087 1.000 4.618 6.251 4.491 .177 -.218 6.000 6.175 -.245 5.336 -.003 -.610
* ** ** ** ** ** ** **
suami dan 1 E-1 E-1 E-1 E-1 E-1 E-1 E-1
keluarga Sig. (2-
.040 .005 .006 .078 .000 .542 .000 .000 .458 . .000 .000 .000 .130 .060 .000 .000 .034 .000 .977 .000
untuk tailed)
memberikan
N
75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75
ASI Eksklusif

Ibu merasa Correlation - - - - -


* ** * ** ** ** ** * ** ** ** ** **
lebih mudah Coefficient -.003 -.242 -.104 5.216 .694 -.259 4.957 7.189 9.807 -.462 1.000 .905 .961 3.051 .488 .287 .843 .462 .576 .310 .464
** ** ** **
memberikan E-1 E-1 E-1 E-2 E-1
susu formula
Sig. (2-
dibandingkan .982 .036 .374 .000 .000 .025 .000 .000 .403 .000 . .000 .000 .008 .000 .012 .000 .000 .000 .007 .000
tailed)
memberikan
N 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75
ASI

Susu formula Correlation - - - - -


** * ** ** ** ** ** ** ** ** ** **
adalah Coefficient .071 3.655E- -.149 6.535 .735 -.258 6.478 9.092 1.806 -.625 .905 1.000 .882 -.202 .412 .422 .814 .405 .788 .350 .744
** ** ** **
makanan 1 E-1 E-1 E-1 E-1
yang baik
Sig. (2-
untuk anak .544 .001 .202 .000 .000 .025 .000 .000 .121 .000 .000 . .000 .082 .000 .000 .000 .000 .000 .002 .000
tailed)
berusia 0-6
N 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75
bulan

Kandungan Correlation - - - - -
** * ** ** **
1.000 ** ** ** ** ** ** **
nutrisi dalam Coefficient -.064 -.209 -.057 5.067 .636 -.249 5.282 7.049 3.101 -.449 .961 .882 2.722 .379 .301 .830 .528 .571 .358 .497
** ** **
E0 *
susu formula E-1 E-1 E-1 E-2 E-1
sudah cukup
Sig. (2-
untuk Bayi .584 .072 .630 .000 .000 .031 .000 .000 .792 .000 .000 .000 . .018 .001 .009 .000 .000 .000 .002 .000
tailed)

N 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75
Jika ibu Correlation - - - - -
*
1.000 *
sedang Coefficient .079 -.058 .079 .082 -.253 -.117 .197 .163 .022 .177 3.051 -.202 2.722 -.239 1.006 2.263 -.206 1.831 -.054 -.050
** *
E0
bekerja, ASI E-1 E-1 E-1 E-1 E-1
dapat diganti
Sig. (2-
dengan susu .502 .621 .503 .486 .029 .319 .090 .162 .850 .130 .008 .082 .018 . .039 .390 .051 .076 .116 .645 .670
tailed)
formula
N 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75

Ibu merasa Correlation - - - - - -


** * ** ** ** ** *
tidak Coefficient -.143 -.169 -.153 2.993 .341 -.261 3.462 4.165 1.443 -.218 .488 .412 .379 2.395 1.000 .062 .467 3.640 .194 .270 .137
** ** ** * **
membutuhkan E-1 E-1 E-1 E-1 E-1 E-1
peran kader
Sig. (2-
dalam .219 .146 .191 .009 .003 .024 .002 .000 .217 .060 .000 .000 .001 .039 . .597 .000 .001 .096 .019 .241
tailed)
penyuluhan
N 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75
ASI Eksklusif

Air Susu Ibu Correlation - - - -


** ** * ** **
1.000 ** ** ** **
sering Coefficient .129 -.215 .077 3.620 .584 -.072 6.768 4.235 1.639 -.600 .287 .422 .301 -.101 .062 .577 .304 .546 -.072 .448
** ** **
E0
membuat bayi E-1 E-1 E-1 E-1
mencret
Sig. (2-
.270 .065 .509 .001 .000 .542 .000 .000 .160 .000 .012 .000 .009 .390 .597 . .000 .008 .000 .538 .000
tailed)

N 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75

Bila dalam Correlation - - - -


* ** ** ** ** ** ** **
1.000 ** ** * **
perjalanan Coefficient .004 -.228 -.045 4.424 .709 -.209 6.557 6.941 6.001 -.618 .843 .814 .830 -.226 .467 .577 .421 .649 .261 .422
** ** **
E0
sebaiknya ibu E-1 E-1 E-1 E-2
tidak
Sig. (2-
menyusui .975 .050 .701 .000 .000 .072 .000 .000 .609 .000 .000 .000 .000 .051 .000 .000 . .000 .000 .024 .000
tailed)
bayinya N
75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75
karena malu

Jika ibu Correlation - - - -


** * * ** ** ** ** ** ** **
bekerja maka Coefficient .113 .048 .095 2.436 .560 .088 -.233 3.389 1.336 -.245 .462 .405 .528 -.206 3.640 .304 .421 1.000 .489 .162 .325
* ** **
ASI yang E-1 E-1 E-1 E-1
tidak
Sig. (2-
diberikan .335 .686 .416 .035 .000 .455 .045 .003 .253 .034 .000 .000 .000 .076 .001 .008 .000 . .000 .165 .004
tailed)
pada bayi
N 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75
harus dibuang

Air Susu Ibu Correlation - - - -


* ** ** ** ** ** ** ** **
1.000 ** **
hanya Coefficient .079 -.258 -.064 5.680 .773 -.156 6.118 8.389 3.476 -.534 .576 .788 .571 -.183 .194 .546 .649 .489 .387 .813
** ** ** **
E0
diberikan E-1 E-1 E-1 E-1
sampai 2
Sig. (2-
bulan .501 .026 .587 .000 .000 .181 .000 .000 .002 .000 .000 .000 .000 .116 .096 .000 .000 .000 . .001 .000
tailed)

N 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75

Ibu ingin Correlation - - - -


** ** ** ** * * ** **
sekali Coefficient -.075 -.125 -.055 4.368 .353 .005 -.058 3.966 1.711 -.003 .310 .350 .358 -.054 .270 7.216 .261 .162 .387 1.000 .298
** **
memberikan E-1 E-1 E-1 E-2
susu formula
Sig. (2-
yang mahal .524 .284 .636 .000 .002 .966 .621 .000 .142 .977 .007 .002 .002 .645 .019 .538 .024 .165 .001 . .010
tailed)
seperti di
N 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75
iklan

TOTAL Correlation - - - - -
** ** ** ** ** ** ** ** ** **
JUMLAH Coefficient .135 3.084E- -.126 5.553 .598 -.152 6.942 8.690 2.950 -.610 .464 .744 .497 -.050 .137 .448 .422 .325 .813 .298 1.000
** ** ** ** *
SIKAP 1 E-1 E-1 E-1 E-1
RESPONDEN Sig. (2-
.248 .007 .282 .000 .000 .193 .000 .000 .010 .000 .000 .000 .000 .670 .241 .000 .000 .004 .000 .010 .
tailed)

N 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).


4. Pekerjaan ibu dengan pemberian ASI Eksklusif

PEKERJAAN IIBU * IBU MEMBERIKAN ASI EKSKLUSIF Crosstabulation

Count

IBU MEMBERIKAN ASI


EKSKLUSIF

TIDAK ASI
EKSKLUSIF ASI EKSKLUSIF Total

PEKERJAAN IIBU Tidak Bekerja 19 16 35

Bekerja 33 7 40

Total 52 23 75

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square 6.989 1 .008
b
Continuity Correction 5.725 1 .017

Likelihood Ratio 7.100 1 .008

Fisher's Exact Test .012 .008

Linear-by-Linear Association 6.896 1 .009


b
N of Valid Cases 75

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 10,73.

b. Computed only for a 2x2 table

Tests of Normality
a
Kolmogorov-Smirnov Shapiro-Wilk

Statistic df Sig. Statistic df Sig.

PEKERJAAN IIBU .357 75 .000 .635 75 .000

a. Lilliefors Significance Correction

Reliability Statistics

Cronbach's
Alpha N of Items

1.000 2

102
5. Psikologis ibu

SKOR PSIKOLOGIS * IBU MEMBERIKAN ASI EKSKLUSIF Crosstabulation

Count

IBU MEMBERIKAN ASI


EKSKLUSIF

TIDAK ASI
EKSKLUSIF ASI EKSKLUSIF Total

SKOR PSIKOLOGIS KURANG 24 4 28

BAIK 28 19 47

Total 52 23 75

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square 5.639 1 .018
b
Continuity Correction 4.476 1 .034

Likelihood Ratio 6.073 1 .014

Fisher's Exact Test .021 .015

Linear-by-Linear Association 5.564 1 .018


b
N of Valid Cases 75

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 8,59.

b. Computed only for a 2x2 table

Reliability Statistics

Cronbach's
Alpha N of Items

.661 4
6. Tenaga kesehatan dengan pemberian ASI Eksklusif

skor petugas kesehatan * IBU MEMBERIKAN ASI EKSKLUSIF Crosstabulation

Count

IBU MEMBERIKAN ASI


EKSKLUSIF

TIDAK ASI
EKSKLUSIF ASI EKSKLUSIF Total

skor petugas kesehatan Kurang 32 0 32

Baik 20 23 43

Total 52 23 75

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square 24.687 1 .000
b
Continuity Correction 22.235 1 .000

Likelihood Ratio 33.060 1 .000

Fisher's Exact Test .000 .000

Linear-by-Linear Association 24.358 1 .000


b
N of Valid Cases 75

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 9,81.

b. Computed only for a 2x2 table

Reliability Statistics

Cronbach's
Alpha N of Items

.860 3
7. Dukungan keluarga

Skor_dukungan_keluarga * IBU MEMBERIKAN ASI EKSKLUSIF Crosstabulation

Count

IBU MEMBERIKAN ASI


EKSKLUSIF

TIDAK ASI
EKSKLUSIF ASI EKSKLUSIF Total

Skor_dukungan_keluarga Tidak Ada dukungan 32 2 34

Ada Dukungan 20 21 41

Total 52 23 75

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square 17.968 1 .000
b
Continuity Correction 15.899 1 .000

Likelihood Ratio 20.435 1 .000

Fisher's Exact Test .000 .000

Linear-by-Linear Association 17.728 1 .000


b
N of Valid Cases 75

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 10,43.

b. Computed only for a 2x2 table

Siapakah yang memberi dukungan dukung?

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid TIDAK ADA 34 45.3 45.3 45.3

SUAMI 24 32.0 32.0 77.3

NENEK 17 22.7 22.7 100.0

Total 75 100.0 100.0

Reliability Statistics
Cronbach's
a
Alpha N of Items

-1.183 3

8. Promosi susu formula dengan pemberian ASI Eksklusif

Dari manakah ibu mendapatkan informasi tentang susu formula? * IBU MEMBERIKAN ASI
EKSKLUSIF Crosstabulation

Count

IBU MEMBERIKAN ASI


EKSKLUSIF

TIDAK ASI
EKSKLUSIF ASI EKSKLUSIF Total

Dari manakah ibu TENAGA KESEHATAN 18 1 19


mendapatkan informasi
MEDIA MASSA
34 22 56
tentang susu formula?

Total 52 23 75

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square 7.723 1 .005
b
Continuity Correction 6.206 1 .013

Likelihood Ratio 9.585 1 .002

Fisher's Exact Test .004 .004

Linear-by-Linear Association 7.620 1 .006


b
N of Valid Cases 75

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 5,83.

b. Computed only for a 2x2 table

Reliability Statistics

Cronbach's
Alpha N of Items

.464 3
Tests of Normality
a
Kolmogorov-Smirnov Shapiro-Wilk

Statistic df Sig. Statistic df Sig.

Apakah iklan Susu formula


.364 75 .000 .633 75 .000
memberi pengaruh untuk ibu

Dari manakah ibu


mendapatkan informasi .465 75 .000 .541 75 .000
tentang susu formula?

Skor Susu Formula .459 75 .000 .552 75 .000

9. Inisiasi menyusui dini

Skor_IMD * IBU MEMBERIKAN ASI EKSKLUSIF Crosstabulation

Count

IBU MEMBERIKAN ASI


EKSKLUSIF

TIDAK ASI
EKSKLUSIF ASI EKSKLUSIF Total

Skor_IMD Kurang 29 3 32

Baik 23 20 43

Total 52 23 75

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square 11.900 1 .001
b
Continuity Correction 10.218 1 .001

Likelihood Ratio 13.148 1 .000

Fisher's Exact Test .001 .000

Linear-by-Linear Association 11.742 1 .001


b
N of Valid Cases 75

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 9,81.
Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square 11.900 1 .001
b
Continuity Correction 10.218 1 .001

Likelihood Ratio 13.148 1 .000

Fisher's Exact Test .001 .000

Linear-by-Linear Association 11.742 1 .001


b
N of Valid Cases 75

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 9,81.

b. Computed only for a 2x2 table

Reliability Statistics

Cronbach's
Alpha N of Items

.891 3