Anda di halaman 1dari 518

JILID SATU

KALKULUS DASAR
Dilengkapi Perintah Maple

I W. SUDARSANA

CETAKAN PERTAMA
i

JILID SATU

Dilengkapi Perintah Maple

I W. SUDARSANA

PENERBIT
ii

Perpustakaan Nasional RI. Katalog Dalam Terbitan (KDT)


KALKULUS DASAR
Dilengkapi Perintah Maple
I W. Sudarsana. Palu: Untad Press, 2015
510 Halaman; 19,0 x 24,5 cm

ISBN:

© Hak Cipta 2015, pada penulis

Judul Buku:
KALKULUS DASAR
Dilengkapi Perintah Maple
Penulis : I W. Sudarsana
Cetakan : Pertama
Jilid : Satu

1. Non Fiksi I. Judul


Dilarang keras mengutip atau memperbanyak
Sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis
dari penulis dan penerbit

Penerbit:
UNTAD Press
Jl. Soekarno Hatta KM. 9 Palu. Phone : (0451) 422611-422355. Fax : (0451)
422844. Sulawesi Tengah 94118
iii

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Tuhan Maha Kuasa, yang telah melimpahkan kesehatan
kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan penulisan buku ini. Buku
Kalkulus Dasar ini dapat dijadikan sumber rujukkan materi bagi dosen yang
mengajar matakuliah Kalkulus 1 dan buku sumber belajar bagi mahasiswa dari
program studi Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Farmasi, Statistika, Teknik,
Pertanian dan bidang studi sains lainnya. Buku Kalkulus Dasar dibuat untuk
memenuhi kebutuhan sumber belajar bagi mahasiswa di mana buku referensi
dengan materi sama keberadaan jumlah eksemplarnya yang terbatas.
Buku Kalkulus Dasar ini memuat lima bab, yang terdiri dari bab
pertama adalah Sistem Bilangan Riil, bab ke dua memuat Fungsi, bab ke tiga
mencakup Limit dan Kekontinuan Fungsi, bab ke empat berisikan Turunan,
dan bab ke lima dibahas Penerapan Turunan. Semua materi dalam setiap bab
disajikan secara komprehensif yang dalam setiap subabnya memuat contoh
dan latihan soal bentuk teori dan aplikasinya. Latihan soal komprehensif setiap
bab juga tersaji dalam setiap bab untuk melatih keterampilan yang lebih tinggi.
Sebagai penutup dalam setiap bab disajikan uji telaah ulang konsep yang
dilengkapi kunci jawaban untuk mengukur tingkat penguasaan materi pada
bab terkait. Subbab terakhir pada semua bab diberikan sintak Maple sederhana
untuk mencari solusi masalah terkait dalam setiap babnya. Tambahan sintak
Maple pada setiap akhir bab tentunya akan membuat mahasiswa lebih mudah
untuk memahami dan mengeksplorasi sediri pengetahuan yang lebih lanjut.
Uraian materi dalam buku Kalkulus Dasar merupakan kumpulan paraprase
tulisan dari isi buku yang dirujuk dari daftar pustaka.
iv

Penulis menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak atas segala


bantuan dan dukungannya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan
buku ini. Penulis juga menyadari bahwa buku Kalkulus Dasar ini masih
memiliki kelemahan, oleh karena itu diharapkan segala masukan yang
konstruktif untuk menuju kesempunaan dari buku ini.

Palu, 27 Oktober 2015

Penulis
v

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN SAMPUL i
KATALOG DALAM TERBITAN ii
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI v

BAB I SISTEM BILANGAN RIIL


1.1. Sistem Bilangan Riil, Selang dan
6
Ketaksamaan
1.2. Nilai Mutlak 27
1.3. Bidang Koordinat 36
1.4. Jarak dan Persamaan Lingkaran 41
1.5. Mencari Solusi Suatu Persamaan dan
55
Pertidaksamaan Menggunakan Maple
Daftar Pustaka 61

BAB II FUNGSI
2.1. Fungsi dan Grafiknya 67
2.2. Macam-Macam Fungsi 109
2.3. Fungsi dalam Koordinat Kutub 164
2.4. Fungsi Parameter 178
2.5. Menggambar Grafik dengan Maple 192
Daftar Pustaka 201

BAB III LIMIT DAN KEKONTINUAN FUNGSI


3.1. Limit dan Lingkup Permasalahannya 206
3.2. Penghitungan Limit 226
3.3. Konsep Limit 259
3.4. Kekontinuan Fungsi 270
3.5. Menghitung Limit dan Kekontinuan Fungsi 288
Menggunakan Maple
Daftar Pustaka 297

BAB IV TURUNAN
4.1. Garis Singgung dan Laju Perubahan 302
4.2. Turunan 309
4.3. Teknik Diferensiasi 322
vi

4.4. Aturan Rantai 343


4.5. Diferensiasi Implisit 353
4.6. Notasi-Δ; Diferensial 364
4.7. Turunan Fungsi Invers Trigonometri 376
4.8. Turunan Fungsi Logaritmik dan Eksponsial 381
4.9. Turunan Fungsi Hiperbolik dan Invers
391
Hiperbolik
4.10. Menghitung Turunan Fungsi Menggunakan
395
Maple
Daftar Pustaka 402

BAB V PENERAPAN TURUNAN


5.1. Laju yang Berkaitan 409
5.2. Selang Naik dan Selang Turun 415
5.3. Ekstrim Relatif; Uji Turunan Pertama dan
427
Kedua
5.4. Grafik Polinominal dan Fungsi Rasional 436
5.5. Masalah Grafik yang Lain 450
5.6. Nilai Maksimum dan Nilai Minimum Fungsi 455
5.7. Aplikasi Masalah Maksimum dan Minimum 469
5.8. Teorema Rolle dan Teorema Nilai Tengah 490
5.9. Menghitung Nilai Ekstrim Suatu Fungsi
500
dengan Menggunakan Maple
Daftar Pustaka 510
BAB
Sistem Bilangan
1 Riil
Kata Kunci

Bilangan Asli
Bilangan Bulat
Bilangan Cacah
Bilangan Irasional
Bilangan Kompleks
Bilangan Rasional
Bilangan Riil
Desimal
Himpunan
Himpunan Penyelesaian
Kartesius
Ketaksamaan
Koordinat
Kuadran
Nilai Mutlak
Persamaan
Lingkaran
Selang
Selang Terbuka Sumber:
Selang Tertutup http://www.maths.usyd.edu.au/
res/AppMaths.html
2

PETUNJUK

[1]. Sebelum Anda mempelajari Bab ini lebih lanjut, diharapkan lebih
dahulu menelaah standar kompetensi dan kompetensi dasar serta
kerangka isi (epitomi) Bab 1. Setelah itu, pelajarilah uraian
pembahasan buku ini dengan baik dan sungguh-sungguh sehingga
Anda dapat memahami isinya

[2]. Untuk memudahkan Anda menelaah isi uraian pada Bab ini dan
sebagai kontrol belajar, harap diperhatikan uraian yang tercetak
tebal, miring, tebal dan miring sebagai pengertian penting.
Kemudian bacalah uraian pembahasan secara keseluruhan dan
baca berulang-ulang sesuai kebutuhan sehingga Anda dapat
memahami isinya.

[3]. Pada setiap sub pokok bahasan terdapat contoh soal dan latihan,
pahamilah contoh soal tersebut, kemudian kerjakan latihan yang
ada. Setelah Anda mengerjakan latihan per sub bab tersebut
kemudian pada bagian akhir bab terdapat latihan telaah ulang
konsep, cocokkan jawaban Anda dengan kunci jawaban latihan
telaah ulang konsep yang disediakan pada akhir bab bahan ajar ini.
Bila Anda mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda
dapat meneruskan dengan Bab 2. Tetapi bila tingkat penguasaan
Anda kurang dari 80% maka Anda harus mempelajari kembali Bab
ini dengan penekanan pada bagian yang belum Anda kuasai.

[4]. Setelah Anda mempelajari isi Bab 1 sampai selesai, Anda


diharapkan memiliki kemampuan yang dikemukakan dalam
Indikator (I)
3

STANDAR KOMPETENSI (SK)

1. Memahami konsep sistem bilangan riil, koordinat kartesius, nilai


mutlak, pertidaksamaan beserta himpunan penyelesaiannya, dan
persamaan lingkaran serta penerapannya dalam bidang terkait
lainnya dengan menyelesaikannya secara prosedural maupun
komputasi dengan Maple. (SK 1)

KOMPETENSI DASAR (KD) INDIKATOR (I)

1. Mahasiswa mahir
mengidentifikasi bilangan
1.1. Mahasiswa mahir mengidentifikasi bulat, rasional dan irasional.
bilangan bulat, rasional, irasional dan 2. Mahasiswa mampu
dapat menentukan himpunan mengidentifikasi dan
penyelesaian pertidaksamaan linier, menentukan himpunan
rasional, kuadrat maupun mutlak penyelesaian pertidaksamaan
dalam bentuk selang riil maupun linier, kuadratik, dan
koordinat secara prosedural maupun rasional dalam bentuk selang
komputasi dengan Maple. (KD 1.1) riil maupun koordinat secara
prosedural maupun
komputasi dengan Maple.

3. Mahasiswa mahir
membuktikan sifat-sifat nilai
mutlak.
1.2. Mahasiswa dapat membuktikan sifat-
sifat nilai mutlak dan menganalisis 4. Mahasiswa dapat
hubungan dengan akar kuadrat beserta menentukan himpunan
arti geometrisnya. (KD 1.2) penyelesaian pertidaksamaan
nilai mutlak secara
prosedural maupun
komputasi dengan Maple.

1.3. Mahasiswa dapat mendeskripsikan 5. Mahasiswa mampu


konsep bidang koordinat dan menjelaskan konsep sistem
memetakan pasangan dua bilangan riil koordinat.
dalam sistem koordinat kartesius. (KD 6. Mahasiswa dapat
4

1.3) memetakan pasangan dua


bilangan riil pada bidang
koordinat kartesius.

7. Mahasiswa mahir
membuktikan rumus titik
1.4. Mahasiswa dapat membuktikan rumus tengah dari.jarak dua titik
koordinat titik tengah dari jarak antara koordinat.
dua titik dan mengidentifikasi 8. Mahasiswa mampu
persamaan lingkaran beserta pusat dan mengidentifikasi persamaan
jari-jarinya. (KD 1.4) lingkaran (baku maupun
tidak) beserta pusat dan jari-
jarinya.
5

EPITOMI BAB 1

STANDAR KOMPETENSI (SK)

Memahami konsep sistem bilangan riil, koordinat kartesius, nilai mutlak, pertidaksamaan beserta himpunan penyelesaiannya, dan
persamaan lingkaran serta penerapannya dalam bidang terkait lainnya dengan menyelesaikannya secara prosedural maupun komputasi
dengan Maple. (SK 1)

KOMPETENSI DASAR (KD)

Mahasiswa mahir mengidentifikasi


bilangan bulat, rasional, irasional dan Mahasiswa dapat membuktikan
Mahasiswa dapat membuktikan Mahasiswa dapat mendeskripsikan
dapat menentukan himpunan rumus koordinat titik tengah dari
sifat-sifat nilai mutlak dan konsep bidang koordinat dan
penyelesaian pertidaksamaan linier, jarak antara dua titik dan
menganalisis hubungan dengan memetakan pasangan dua bilangan
rasional, kuadrat maupun mutlak mengidentifikasi persamaan
akar kuadrat beserta arti riil dalam sistem koordinat
dalam bentuk selang riil maupun lingkaran beserta pusat dan jari-
geometrisnya. (KD 1.2) kartesius. (KD 1.3)
koordinat secara procedural maupun jarinya. (KD 1.4)
komputasi dengan Maple. (KD 1.1)

Pokok/Sub Pokok Bahasan Pokok/Sub Pokok Bahasan Pokok/Sub Pokok Bahasan Pokok/Sub Pokok Bahasan
1.1. Sistem Bilangan Riil, Selang dan
Ketaksamaan
1.4. Jarak dan Persamaan
1.5. Mencari Solusi Suatu Persamaan 1.2. Nilai Mutlak 1.3. Bidang Koordinat
Lingkaran
dan Pertidaksamaan
Menggunakan Maple
6

Sistem bilangan merupakan dasar kalkulus. Karena itu, penting untuk mengenal berbagai
jenis bilangan dan perbedaan diantaranya. Dalam sub-bab ini dikaji ulang mengenai dasar
dan istilah yang berkaitan dengan bilangan, khususnya bilangan riil.

1.1. BILANGAN RIIL, SELANG DAN KETAKSAMAAN

Bilangan Riil
Bilangan yang paling sederhana adalah bilangan asli yang biasanya
ditulis dengan lambang N:
1, 2, 3, 4, 5, …

Bilangan asli merupakan himpunan bagian dari kelas himpunan bilangan yang
lebih besar yaitu himpunan bilangan bulat:
..., -4, -3, -2, -1, 0, 1, 2, 3, 4, …

Himpunan bilangan bulat biasanya ditulis dengan notasi Z. Himpunan


bilangan bulat masih merupakan himpunan bagian dari kelas himpunan yang
lebih besar lagi yaitu himpunan bilangan rasional, biasanya dinotasikan
dengan Q. Bilangan rasional dibentuk oleh pembagian bilangan bulat m/n
dengan n  0. Sebagai contoh adalah

2 7 6 0 5 5 5 
, , , ,  ,   dan lainnya.
3 5 1 9 2  2  2

Perhatikan bahwa setiap bilangan bulat juga merupakan bilangan rasional


karena setiap bilangan bulat m dapat ditulis sebagai pembagian m = n/1.
Bangsa Yunani kuno percaya bahwa ukuran besaran fisika, dalam teori,
dapat disajikan dengan bilangan rasional. gagasan ini dipecahkan pada abad
kelima S.M. oleh Hippasus – seorang filosof Yunani aliran Pythgoras dari
Metapontum yang menunjukkan adanya bilangan irasional, yaitu bilangan-
bilangan yang tidak dapat dinyatakan sebagai pembagian bilangan bulat.
Dengan menggunakan cara geometri, dia menunjukkan bahwa sisi miring
(hypotenuse) dari segitiga siku-siku dalam Gambar 1.1.1 tidak dapat
dinyatakan sebagai pembagian bilangan bulat, ini membuktikan bahwa 2
merupakan bilangan irasional. Bilangan irasional yang lain adalah
7

3, 5, 1 2, 3
7 ,  , cos 19

Gabungan bilangan rasional dan irasional membentuk suatu kelas bilangan


yang lebih besar yang disebut bilangan riil atau kadang disebut sistem
bilangan riil, umumnya dinotasikan dengan R.

2 1

Gambar 1.1.1 : Konstruksi bilangan irasional 2

Pembagian dengan Nol


Perlu diingat bahwa dalam perhitungan bilangan riil pembagian dengan
nol tidak pernah diperkenankan, karena hubungan dalam bentuk y = p/0
mengakibatkan
0y= p

Jika p tidak nol, maka persamaan ini mengakibatkan kontradiksi; Sementara


itu, jika p sama dengan nol, maka persamaan ini dipenuhi oleh sebarang
bilangan y, dengan demikian pembagian 0/0 tidak mempunyai nilai tunggal
suatu (keadaan yang secara matematik tidak bermakna). Oleh karena itu,
simbol-simbol seperti p/0 dan 0/0 tidak menyatakan suatu nilai dan dikatakan
tak terdefinisi.

Sekilas Tentang Bilangan Kompleks


Karena kuadrat suatu bilangan riil selalu tak negatif, maka persamaan x2 = -1
tidak mempunyai penyelesaian dalam sistem bilangan riil. Pada abad ke 18
para matematikawan memperbaiki masalah ini dengan memperkenalkan
bilangan baru, yang dinotasikan dengan
8

i= 1
dan didefinisikan dengan sifat i2 = -1. Definisi ini selanjutnya mengarah pada
perkembangan bilangan kompleks, yaitu bilangan-bilangan yang berbentuk
a + bi
dengan a dan b bilangan riil. Contoh bilangan kompleks antara lain adalah

3
1 i 2  3i  7i
5
3
(a = 1, b = 1) (a = 2, b = -3) (a = 0, b = -7) (a = , b = 0)
5

Perhatikan bahawa setiap bilangan riil a juga merupakan bilangan kompleks


karena dapat ditulis sebgai

a = a + 0i

Oleh karena itu, bilangan riil adalah himpunan bagian dari bilangan kompleks.
Bilangan kompleks yang bukan bilangan riil disebut bilangan imajiner.
Pembahasan dalam buku ini selanjutnya hanya difokuskan pada bilangan riil;
akan tetapi, bilangan kompleks akan muncul dalam pembahasan penyelesaian
persamaan kuadrat

ax2 + bx + c = 0

diberikan dengan rumus kuadrat

 b  b  4ac
x =
2a

adalah imajiner jika nilai b2 – 4ac [disebut diskriminan dari persamaan


kuadrat] negatif.

Susunan klasifikasi bilangan dapat diringkas dalam gambar berikut:


9

bilangan kompleks: a + bi, dengan a dan b bilangan riil dan i = 1

bilangan riil, yaitu gabungan semua bilangan rasional dengan semua


bilangan irasional, seperti , 2 , 3, 7 , 7  3

2 7 9 0 3 2
bilangan rasional, seperti: , , , , ,
3 5 1 3 7 11

bilangan bulat: …, -3, -2, -1, 0, 1, 2, 3, …

bilangan asli: 1, 2, 3, …

Gambar 1.1.2: Susunan klasifikasi bilangan

Betuk Desimal Bilangan Riil


Semua bilangan riil dapat ditulis dalam bentuk desimal. Bilangan rasional dan
bilangan irasional mempunyai bentuk desimal yang berbeda. Bilangan rasional
mempunyai bentuk desimal berulang, yakni terdapat beberapa kelompok
bilangan bulat tertentu dibelakang tanda koma yang secara bersama-sama
diulang berkali-kali. Sebagai contoh,

4 3
1,333... 1, 3  0,272727 ...  0, 27
3 11
157 5
 0,3171717...  0, 317  0,714285714285714285 ...  0, 714285
495 7

Tanda garis atas menunjukkan bilangan yang di bawah garis tersebut berulang
terus menerus. Apabila kelompok angka berulang dibelakang tanda desimal
adalah nol, biasanya tidak ditulis. Sebagaimana contoh berikut,
10

1 8
 0,50000 ...  0,50  0,5  0,320000 ...  0,320  0,32
2 25

Bilangan rasional dapat disajikan dalam desimal berulang dan sebaliknya


setiap bentuk desimal berulang adalah bilangan rasional. Dengan demikian,
bilangan irasional dapat dipandang sebagai bilangan riil yang disajikan dalam
bentuk desimal tak berulang. Sebagai contoh, desimal

0,010020003000040000050000006 …

tidak berulang sebab banyaknya nol diantara angka-angka tak nol terus
bertambah dan demikian pula angka-angka tak nol terus meningkat nilainya.
Jadi, bilangan tersebit menunjukkan suatu bilangan irasional.
Dalam notasi desimal, bilangan irasional tidak dapat disajikan dengan
ketepatan yang sempurna. Sebagai contoh,  hanya dihampiri dengan desimal
3.14. Berapapun banyaknya tempat desimal yang digunakan, bahkan jika 
ditulis sampai 2000 tempat desimal, itu masih merupakan hapiran pada , dan
bukan nilai  yang sebenarnya. Semakin banyak tempat desimal yang
disediakan untuk menulis bilangan irasional, akan semakin mendekati nilai
sebenarnya.

Catatan: Mahasiswa matematika tingkat awal kadang-kadang diajari untuk


22
menghampiri  dengan akan tetapi, perhatikan bahwa
7
22
 3,142857
7
merupakan bilangan rasional yang mempunyai bentuk desimal yang berbeda
dari  mulai tempat desimal ke-tiga

Garis Koordinat
Pada tahun 1637 Rene Descartes menerbitkan suatu karya filsafat yang
berjudul “Discourse on the Method of Rightly Conducting the Reason”. Pada
lampiran buku tersebut, filosof Inggris Jhon Stuart Mill menggambarkannya
sebagai “suatu langkah terbesar pernah dihasilkan untuk kemajuan ilmu pasti”.
Dalam lampiran tersebut Rene Descartes menghubungkan aljabar dengan
geometri, yang merupakan kreasi baru dan disebut geometri analitik; suatu
11

cara untuk menjelaskan rumus aljabar dengan kurva geometrik dan sebaliknya,
kurva geometri dengan rumus aljabar.
Dalam geometri analitik, langkah kuncinya adalah menyatakan bilangan
riil dengan titik pada suatu garis, hal ini dilakukan dengan menandai salah satu
dari dua arah sepanjang garis sebagai arah pisitif dan yang lain arah
negative. Arah positif biassanya ditandai arah panah seperti pada Gambar
1.1.3; untuk garis horizontal arah positif biasanya dipilih arah kekanan.
Kemudian dipilih sebarang titik acuan 0 pada garis tersebut, titik asal, yang
berkaitan dengaan bilangan riil 0. Sebarang satuan pengukuran akan lebih
memudahkan, setiap bilang riil positif r dinyatakan dengan suatu titik yang
berjarak r satuan ke arah kanan titik asal 0, dan setiap bilangan riil negative –r
dinyatakan dengan titik yang berjarak r satuan kearah kiri titik asal 0. Garis,
titik asal, arah positif, dan satuan ukuran mendefinisikan garis koordinat atau
kadang disebut garis riil.

- Titik Asal (0) +


Gambar 1.1.3: Garis Bilangan Riil

Bilangan riil yang bersesuaian dengan titik pada garis disebut koordinat
dari titik tersebut.
Contoh: Berikut diberikan tanda tempat titik-titik dengan koordinat -4, -3, -
1
2,75, - , 2 , , dan 4. Tempat dari  dan 2 merupakan hampiran yang
2
diperoleh dari hampiran desimalnya yaitu   3,14 dan 2  1,41.

1
-4 -3 -1,75  2  4
2
• • • • • • •
-4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4

Berdasarkan cara di atas jelas bahwa semua bilangan riil dan titik pada garis
koordinat berhubungan yaitu setiap bilangan riil dikawankan dengan satu titik
tunggal dan setiap titik dikawankan dengan satu bilangan riil. Kenyataan ini
12

dikatakan bahwa bilangan riil dan titik pada garis koordinat berada dalam
korespondensi satu-satu.

Sifat-Sifat Urutan
Bilangan riil dapat diurutkan berasarkan nilainya sebagai berikut: dikatakan
b lebih besar dari a atau a lebih kecil dari b ditulis a < b, b – a positif.
Ketidaksamaan a < b dapat ditulis dengan b > a apabila hal itu dirasa
memudahkan. Ketidaksamaan a  b didefinisikan dengan makna a < b atau a
= b, dan pernyataan a < b < c didefinisikan dengan makna a < b dan b < c.
Dengan mengikuti gerak pada garis riil pada arah positif, bilangan-
bilangan riil bertambah nilainya, sehingga pada garis koordinat horizontal
ketidaksamaan a < b berarti a disebelah kiri b, dan ketidaksamaan a < b < c
berakibat a di sebelah kiri b dan b di sebelah kiri c (Tabel 1.1).

Tabel 1.1 Ketidaksamaan pada garis koordinat

Ketidaksamaan Makna Geometri Ilustrasi


• •
a < b atau b > a a sebelah kiri b
a b
• •
a sebelah kiri b atau a b
a  b atau b  a
berimpit dengan b •
ab
• •
0 < a atau a > 0 a sebelah kanan titik asal
0 a
• •
a < 0 atau 0 > a a sebelah kiri titik asal
a 0
a sebelah kiri b dan b • • •
a<b<c a b c
sebelah kiri c

Lambang a < b  c artinya a < b dan b  c. Diserahkan pada para pembaca


untuk menyimpulkan arti lambang-lambang seperti:
13

a  b < c, a  b  c dan a < b < c < d

Contoh: Ketidaksamaan berikut semuanya benar:

3<8 -7 < 1,5 -12  - 55 024


83 1,5 > -7 - > -12 55 3 > 0 > -1

Catatan: Untuk membedakan antara bilangan yang memenuhi a  0 dan yang


memenuhi a > 0, akan digunakan istilah tak negatif jika a  0, dan positif jika
a > 0. Jadi bilangan tak negatif merupakan bilangan positif atau nol.

Sifat-sifat ketidaksamaan berikut sering digunakan dalam kalkulus.


Buktinya silakan untuk latihan.

TEOREMA 1.1: Misal a, b, c, dan d bilangan riil


(a) Jika a < b dan b < c, maka a < c
(b) Jika a < b, maka a + c < b + c dan a – c < b - c
(c) Jika a < b, maka ac < bc untuk c positif dan ac > bc untuk c negatif
(d) Jika a < b dan c < d, maka a + c < b + d
(e) Jika a dan b keduanya positif atau keduanya negatif dan a<b, maka 1/a >
1/b

Catatan: Kelima sifat tersebut tetap benar jika “< dan >” diganti dengan “
dan ”.

Jika arah suatu ketidaksamaan menyatakan maknanya, maka bagian (b)–


(e) teorema di atas dapat diungkapkan secara informal dalam kalimat-kalimat
sebagai berikut:

(b). Ketidaksamaan tidak berubah jika kedua sisinya ditambah atau dikurangi
dengan bilangan yang sama.
(c). Ketidaksamaan tidak berubah jika kedua sisinya dikalikan dengan
bilangan positif yang sama, tetapi ketidaksamaan berbalik arah jika kedua
sisinya dikalikan dengan bilangan negatif yang sama.
(d). Ketidaksamaan dengan tanda yang sama dapat dijumlahkan.
(e). Jika kedua sisi ketidaksamaan mempunyai tanda yang sama, maka tanda
ketidaksamaannya akan berbalik arahnya dengan meletakkan tanda yang
berlawanan pada setiap sisinya.
14

Pernyataan-pernyataan dalam Teorema 1.1 dapat diilustrasikan seperti tersaji


seperti berikut:

KETIDAKSAMAAN KETIDAKSAMAAN
OPERASI
AWAL HASIL
-2 < 6 kedua sisinya ditambah dengan 7 5 < 13
-2 < 6 kedua sisinya dikurangi dengan 8 -10 < -2
-2 < 6 kedua sisinya dikalikan dengan 3 -6 < 18
-2 < 6 kedua sisinya dikalikan dengan -3 6 > -18
3<7 kedua sisinya dikalikan dengan 4 12 < 28
3<7 kedua sisinya dikalikan dengan -4 -12 > -28
3<7 kedua sisinya jadikan kebalikannya 1/3 > 1/7
-8 < -6 kedua sisinya jadikan kebalikannya 1/8 > -1/6
4 < 5, -7 < 8 tambahkan pada sisi yang bersesuaian -3 < 13

Selang
Untuk pembahasan berikut ini, diasumsikan pembaca telah mengerti
konsep himpunan dan pengertian-pengertian seperti a  A, a  A, (Ø notasi
himpunan kosong), A  B, A  B, A = B, dan A  B dengan A dan B
himpunan. Himpunan umumnya disajikan dengan mendaftar anggota-
anggotanya diantara kurung kurawal. Misalnya himpunan semua bilangan bulat
positif yang lebih kecil dari 7 ditulis sebagai

{1, 2, 3, 4, 5, 6}

dan himpunan bilangan bulat genap positif ditulis sebagai,

{2, 4, 6, …}

dengan titik-titik dalam penulisan di atas untuk menunjukan bahwa hanya


beberapa anggota saja yang dituliskan dan anggota yang lain dapat diperoleh
dengan pola yang sama secara terus menerus.
Jika sulit atau tidak mungkin mendaftar (mencacah) semua anggota
himpunan, maka cara lain yang dapat digunakan adalah dengan notasi
pembangun himpunan
15

{ x : ________}

dibaca “himpunan semua x sedemikian sehingga ________” dengan garis


tersebut menyatakan sifat yang menggambarkan himpunan itu. Dengan
demikian,

{x : x adalah bilangan riil dan 2 < x < 3}

dibaca “himpunan semua x bilangan riil dan 2 < x < 3.”

Jika telah jelas bahwa anggota-anggota himpunan merupakan bilangan riil,


maka dapat diabaikan acuannya. Jadi himpunan sebelumnya dapat ditulis lebih
singkat sebagai

{x : 2 < x < 3 }

Himpunan tertentu yang menarik dan sering muncul dalam kalkulus


adalah himpunan bilangan riil yang disebut selang (internal). Secara geometri
selang merupakan sepotong garis pada garis koordinat. Jika a dan b bilangan
riil dengan a < b, maka selang tertutup dari a ke b ditulis dengan [a,b] dan
didefinisikan dengan:

[a,b] = {x: a  x  b}

dan selang terbuka dari a ke b ditulis dengan (a,b) dan didefinisikan dengan:

(a,b) = {x: a < x < b}

Kurung siku menunjukkan titik ujungnya termasuk pada selang, sedang kurung
biasa menunjukkan titik ujungnya tidak termasuk pada selang.

Gambar geometrik (koordinat) merupakan titik-titik padat untuk menunjukkan


titik ujung yang termasuk pada selang dan titik-titik berlubang untuk
menunjukkan titik ujung yang tidak termasuk dalam selang. Seperti yang
ditunjukkan dalam tabel tersebut, suatu selang dapat diperluas sampai tak
berhingga dalam arah positif, arah negatif atau keduanya. Selang yang
diperluas sampai tak berhingga disebut selang tak berhingga dan selang yang
16

titik-titik uungnya berhingga disebut selang berhingga. Notasi-notasi tersebut


dipertegas seperti berikut.

NOTASI NOTASI GAMBAR


KLASIFIKASI
SELANG HIMPUNAN GEOMETRI
[a,b] {x: a  x  b} • • Berhingga; tertutup
a b

(a,b) {x: a < x < b} • • Berhingga; terbuka


a b
setengah-terbuka
[a,b) {x: a  x < b} • • Berhingga;
a b setengah-tertutup

setengah-terbuka
(a,b] {x : a < x  b} • • Berhingga;
a b setengah-tertutup

(-,b] {x : x  b } • Tak-hingga; tertutup


b
(-,b) {x : x < b } • Tak-hingga; terbuka
b
[a,+) {x : x  a} • Tak-hingga; tertutup
a
(a,+) • Tak-hingga; terbuka
{x : x > a}
a
(-,+) {x : x bilangan riil} Tak-hingga; terbuka dan
tertutup

Selang berhingga yang memuat satu titik ujung tetapi tidak memuat titik ujung
yang lain disebut setengan terbuka (atau setengah tertutup). Simbol -
(dibaca “negatif tak-hingga”) dan + (dibaca “positif tak-hingga”) bukan
merupakan bilangan: + menunjukkan selang yang diperluas tak terhingga
jauhnya dalam arah positif, dan - dan menunjukkan selang yang diperluas tak
terhingga jauhnya dalam arah negatif.
17

Selang tak hingga berbentuk [a,) atau (-,b] dianggap tertutup karena
memut titik ujung sedang bentuk dari (a, +) atau (-,b) dianggap terbuka
karena tidak memut titik ujung. Selang (-, + ) tidak mempunyai titik ujung;
ini dapat dipandang sebagai selang terbuka sekaligus tertutup.

Pertidaksamaan
Penyelesaian pertidaksamaan dalam x yang tidak diketahui adalah nilai-
nilai x yang menjadikan pertidaksamaan itu sebgai pernyataan yang benar.
Sebagai contoh x = 1 merupakan penyelesaian dari pertidaksamaan x < 5,
tetapi x = 7 bukan penyelesaiannya. Himpunan semua penyelesaian dari suatu
pertidaksamaan disebut Himpunan Penyelesaian. Dapat ditunjukkan bahwa jika
kedua sisi pertidaksamaan tidak dikalikan dengan nol atau ekspresi yang
memuat suatu nilai yag dicari, maka operasi dalam Teorema 1.1 tidak akan
mengubah himpunan penyelesaian dari pertidaksamaan tersebut. Proses
mendapatkan himpunan penyelesaian suatu pertidaksamaan disebut
menyelesaikan pertidaksamaan.

Contoh: Tentukan himpunan penyelesaian dari pertidaksamaan


3  7 x  2x  9 .

Penyelesaian: Akan digunakan operasi dalam Teorema 1.1 dengan


mengumpulkan x pada satu sisi pertidaksamaan.

3  7 x  2x  9 diberikan
7 x  2 x  12 kedua sisi dikurangi 3
5x  12 kedua sisi dikurangi 2x
12 1
x kedua sisi dikalikan
5 5

Karena sudah tidak dapat dikalikan dengan sebarang ekspresi yang


mengandung x, pertidaksamaan terakhir tersebut mempunyai himpunan
penyelesaian yang sama dengan pertidaksamaan pertama.

Selang berhingga yang memuat satu titik ujung tetapi tidak memuat titik ujung
yang lain disebut setengah terbuka (atau setengah tertutup). Simbol -∞
(dibaca “negative tak-hingga”).
18

12
Jadi himpunan penyelesaiannya berupa selang (  , ).
5

Contoh: Selesaikan 7 x  2  5x  9

Penyelesaian: Pertidaksamaan yang diberikan merupakan kombinasi dua


pertidaksamaan. Dua pertidaksamaan tersebut dapat diselesaikan secara
terpisah, kemudian ditentukan nilai x yang memenuhi keduannya dengan
mengambil irisan dua himpunan penyelesaiannya. Akan tetapi, juga
dimungkinkan untuk menggabungkan kedua pertidaksamaan pada masalah ini.

7  2  5x  9 diberikan
5  5x  7
Setiap bagian dikurangi 2
7
1  x   Dikalikan dengan -1/5 dan tanda
5 pertidaksamaannya dibalik

7 Untuk lebih jelasnya ditulis kembali


  x  -1 pertidasamaan tersebut dengan notasi
5
bilangan yang lebih kecil

,1  .
7
Jadi,himpunan penyelesaiannya berupa selang (
5
Contoh: Carilah jimpunan penyelesaian dari pertidaksamaan x 2 - 3x > 10

Penyelesaian: Dengan mengurangkan 10 pada kedua sisi , pertidaksamaan


dapat ditulis kembali sebagai x 2 - 3x - 10 > 0
Sisi kiri difaktorkan menghasilkan (x + 2)(x – 5) > 0
Nilai x untuk x + 2 = 0 atau x – 5 = 0 adalah x = -2 dan x = 5. Titik-titik ini
membagi garis koordinat menjadi tiga selang terbuka,
(-  ,-2), (-2,5), (5, +  )

Pada tiap selang tersebut perkalian (x + 2)(x - 5) mempunyai tanda tetap


(sama) yang bersesuaian dengan pertidaksamaan. Untuk menunjukkan tanda
tersebut dipilih satu titik sebarang dalam tiap selang yang akan ditentukan
19

tandannya; titik ini disebut titik uji. Sebut saja -3,0, dan 6 sebagi titik-titik uji.
Hasilnya disajikan sebagai berikut:

TANDA (x + 2)(x – 5)
SELANG TITIK UJI
DI TITIK UJI
 ,2 -3 ( - )( - ) = +

 2,5 0 ( + )( - ) = -

5, 6 ( + )(+ ) = +

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa himpunan penyelesaian dari


pertidaksamaan x 2 - 3x > 10 adalah (-  -2)  (5, +  ).

2x  5
Contoh: Selesaikan <1
x2

Penyelesaian: Mula-mula gandakan kedua sisi dengan x-2, untuk


menghilangkan pecahan. Akan tetapi, perlu diperhatikan secara khusus x-2 >0
dan x-2 < 0 secara terpisah karena tanda pertidaksamaan akan berbalik jika x-2
< 0 dan untuk x - 2 > 0 tidak berubah. Pendekatan berikut ini lebih sederhana:

2x  5
<1 Diberikan
x2
2x  5
-1 <0 Kedua sisinya dikurangi 1 untuk
x2
Memperoleh 0 pada sisi kanan
(2 x  5)  ( x  2)
<0 Bentuknya dikombinasi
x2
x3
<0 disederhanakan
x2

Nilai dari x-3 akan nol jika x = 3 dan nilai x-2 akan nol jika x = 2. Titik ini
membagi garis koordinat menjadi tiga selang terbuka (-  , 2), ( 2 ,3 ), (3, +  ).
20

Pada tiap selang tersebut hasil bagi (x – 3)/( x-2 ) bertanda tetap. Gunakan 0, 2,
5, dan 4 sebagai titik-titik uji ( Gambar 1.1.4), sehingga diperoleh hasil sebagai
berikut :

TANDA (x - 3)/(x – 2)
SELANG TITIK UJI
DI TITIK UJI

 ,2 0 ( - )( - ) = +
2,3 2,5 ( + )( - ) = -
3, 4 ( + )(+ ) = +

Tanda-tanda dari hasil bagi ditunjukkan pada bagian tengah Gambar 1.1.4, dari
gambar itu dapat dilihat bahwa himpunan penyelesaian terdiri dari semua nilai
riil pada x sedemikian hingga 2 < x < 3 memenuhi. Selang (2, 3) ini
ditunjukkan pada Gambar 1.1.4.

0 4
Titik uji
2 3
Tanda dari
-------------- x3 
++++++++++++++++ ++++++++++++++++++  x  2  0
2 3  

x3
HP untuk: 0
2 3 x2

x3
Gambar 1.1.4 Ilustrasi penyelesaian  0 dalam selang koordinat
x2

Latihan 1.1
1. Diantara bilangan yang diberikan di bawah ini, selidiki yang mana
merupakan bilangan bulat, rasional, dan irasional?
21

3 24 1
(a). - (b). 0 (c). (d). 0,25 (e). - 16 (f). 2 2 (g). 0,020202...
4 8
(h). 7,000...
2. Diantara bilangan yang diberikan di bawah ini, identifikasi yang mana
merupakan bilangan bulat, rasional, dan irasional ?
(a). 0,3131131113111… (b). 0,729999… (c). 0,376237623762….
4
(d). 17
5
3. Desimal berulang 0,137137137…..dapat dinyatakan sebagai pembagian
bilangan bulat dengan menuliskannya
x = 0,137137137….
1000 x = 137,137137137…..
137
dan keduannya dikurangkan diperoleh 999x = 137 atau x = . Gunakan cara
999
ini, jika perlu, untuk menyajikan bentuk desimal di bawah ini sebagai
pembagian bilangan bulat.
(a). 0,12123123… (b). 12,777… (c). 38,07818181… (d).
0,4296000…
4. Tunjukkan bahwa desimal berulang 0,99999…. Menyatakan bilangan 1.
Karena 1,0000….juga merupakan bentuk decimal dari 1,masalah ini
menunjukkan bahwa suatu bilangan riil dapat mempunyai dua bentuk
desimal yang berbeda. [Petunjuk : Gunakan cara Soal 3].
5. Rhind Papyrus merupakan bagian tulisan matematika Mesir yang ditulis
sekitar tahun 1650 S.M., adalah salah satu contoh tulisan matematika tetua
yang dikenal. Dalam Papyrus tersebut dinyatakan bahwa luas A suatu
lingkaran dihubungkan dengan diameternya D, yaitu
22

2
8 
A =  D
9 
a) Berapakah hampiran  orang Mesir masa itu ?
b) Gunakan kalkulator untuk menunjukkan apakah hampiran tersebut
22
lebih presisi atau kurang presisi dari hampiran .
7
6. Berikut ini merupakan hampiran yang terkenal dari 
333
Adrian Athonizoon, 1583
106
355
Tsu Chung-chi dan yang lain
113

26  17  15 5 
  Ramanujan
25  7  15 5 
 
22
Archimedes
7
223
Archimedes
71
a). Gunakan kalkulator untuk mengurutkan hampiran-hampiran ini sesuai
dengan ukurannya,
b). Hampiran yang mana yang terdekat tetapi lebih besar dari  ?
c). Hampiran yang mana yang terdekat tetapi lebih kecil dari  ?
d). Hampiran yang paling akurat ?
7. Jika a  b maka identifikasi pernyataan berikut ini mana yang selalu benar
?
(a). a – 3  b – 3 (b). – a  - b (c). 3 – a  3 – b
(d). 6a  6b (e). a  ab (f). a2  ab
23

8. Jika a  b maka identifikasi pernyataan berikut ini mana yang selalu benar
?
(a). a + 2  b + 2d (b). a – 2c  b – 2d (c). a – 2c  b – 2d
9. Untuk nilai a yang mana pada pertidaksamaan berikut ini memenuhi ?
(a). a  a (b). a < a
10. Jika x  y dan y  x, apa yang dapat dikatakan tentang x dan y ?
(a). Jika x < y benar, apakah x  y juga benar ?
(b). Jika x  y benar, apakah x < y juga benar ?
11. Daftarkan anggota-anggota himpunan di bawah ini

(a). x : x 2  5x  0 
(b). x : x bilangan bulat yang memenuhi -2 < x <3 
12. Nyatakan himpunan di bawah ini dalam notasi x : ________ 
(a). 1,2,5,7,9,..... (b). Himpunan semua bilangan bulat
genap.
(c). Himpunan bilangan irasional (d). 7,8,9,10
13. Misal A = 1,2,3, himpunan berikut ini mana yang sama dengan A ?

(a). 0,1,3 (b). 3,2,1  


(c). x : ( x  3)( x 2  3x  2)  0
14. Dalam Gambar berikut misalkan
S = himpunan titik-titik dalam bujur sangkar
T = himpunan titik dalam segitiga
C = himpunan titik dalam lingkaran
dan misalkan a, b, dan c titik yang ditunjukan pada gambar tersebut.
Jawablah berikut ini benar atau salah.
24

(a). T  C (b). T  S S
(c). a  T (d). a  S T C
(e). b  T dan b  C c b a
(f). a  C dan a  T
(g). c  T dan c  C

15. Daftarkan semua himpunan bagian dari


(a). {a 1 , a 2 , a 3 } (b). Ø
16. Sketsalah pada garis kordinat semua nilai x yang memenuhi syarat yang
diberikan.
(a). x  4 (b). x  -3 (c). -1  x  7
(d). x 2 = 9 (e). x 2  9 (f). x 2  9
17. Pada bagian (a)-(d), sketsalah pada garis koordinat semua nilai x, jika ada,
yang memenuhi syarat yang diberikan
(a). x > 4 dan x  8 (b). x  2 atau x  5
(c). x > -2 dan x  3 (d). x  5 dan x >7
18. Buatlah sketsa himpunan di bawah ini pada garis koordinat
(a).  3,2  1,4 (b). 4,6  8,11

(c).  4,0   5,1 (d). 2,4   4,7


(e).  2,4  0,5  
(f). 1,2,3   1,4 2 
(g).  ,1   3, (h).  ,5  0,

Untuk soal 19-40, selesaikan pertidaksamaan berikut dan buatlah sketsa


penyelesainnya pada garis koordinat
25

1
19. 3x – 2 < 8 20. x + 6  14
5
21. 4 + 5x  3x – 7 22. 2x – 1 > 11x + 9
23. 3  4 – 2x < 7 24. -2  3 – 8x  -11
x x
25. 4 26. 2
x3 8 x
1
x3
3x  1
27. 1 28. 2 1
x2 4 x
4 3
29. 1 30. 2
2 x x5
31. x 2 > 9 32. x 2  5
33. x  4x  2  0 34. x  3x  4  0

35. x 2 9 x  20  0 36. 2 – 3x + x 2  0
2 3 1 3
37.  38. 
x x4 x 1 x 1
39. x 3  x 2  x  2  0 40. x 3 3x  2  0

Untuk soal 41 dan 42, tentukan semua nilai x pada expresi yang diberikan
dan merupakan bilangan riil.

x2
41. x2  x  6  0 42. 0
x 1

43. Suhu Fahrenheit dan Celcius dihubungkan dengan rumus C =


5
F  32 .
9
Jika suhu dalam derajat Celcius antara selang 25  C  40 pada hari
tertentu. Berapakah suhu tersebut dalam derajat Fahrenheit.
26

44. Setiap bilangan bulat merupakan bilangan genap dan ganjil. Bilangan bulat
genap adalah bilangan yang dapat dibagi dengan 2, jadi n genap jika dan
hanya jika n=2k untuk suatu bilangan bulat k. Setiap bilangan bulat ganjil
merupakan satu satuan lebih besar dari bilangan genap, maka n ganjil jika
dan hanya jika n = 2k + 1 untuk suatu bilangan bulat k. Tunjukkan :
(a). Jika n genap, maka n 2 genap
(b). Jika n ganjil, maka n 2 ganjil.
45. Buktikan hasil jumlahan bilangan-bilangan rasional dan irasional berikut.
(a). rasional + rasional = rasional
(b). rasional + rasional = irasional
46. Buktikan hasil penggandaan bilangan-bilangan rasional dan irasional
berikut.
(a). rasional . rasional = rasional
(b). rasional . irasional = irasional (dengan syarat faktor rasionalnya tidak
nol)
47. Tunjukkan bahwa jumlah dan perkalian dua bilangan irasional dapat
rasional atau irasional.
48. Klasifikasikan sebagai bilangan rasional atau bilangan irasional dan
jelaskan kesimpulan anda.
3
(a). 3 +  (b). 2 (c). 8 2 (d). 
4
(Lihat Soal 46 dan 47)
49. Buktikan : Rata-rata dua bilangan rasional adalah rasional, tetapi rata-rata
dua bilangan irasional dapat rasional atau irasional.
50. Adakah bilangan rasional memenuhi 10 x  3 ?
51. Selesaikan : 8x 3  4 x 2  2 x  1  0
27

52. Selesaikan : 12 x 3  20 x 2  11x  2


53. Buktikan: Jika a, b, c dan d bilangan-bilangan positif sedemikian sehingga
a < b dan c < d, maka ac < bd. (Hasil ini memberikan suatu syarat supaya
dua pertidaksamaan dapat “dikalikan”).

1.2. NILAI MUTLAK

Dalam sub-bab ini dikaji ulang notasi nilai mutlak. Konsep ini berperan penting dalam
perhitungan aljabar yang melibatkan tanda akar dan jarak antara titik-titik pada garis
koordinat

Nilai Mutlak
DEFINISI 1.2. Nilai mutlak atau magnitude suatu bilangan riil a dinotasikan
 a, a  0
dengan a dan didefenisikan dengan a  
 a, a  0

Contoh:
3  3 3
2 2       0 0
5  5 5

Catatan : Pengambilan nilai mutlak pada suatu bilangan berakibat pada


hilangnya tanda minus jika bilangan negatif dan tidak berubah jika bilangan itu
tak negatif. Jadi a merupakan bilangan tak negatif untuk semua nilai a dan
 a a a .

Contoh: Selesaikan x  3  4
Penyelesaian: Bergantung pada apakah x – 3 positif atau negatif, persamaan
x  3  4 dapat ditulis sebagai:
x – 3 = 4 atau x – 3 = -4
Penyelesaian dua persamaan tersebut adalah x = 7 atau x = -1
28

Contoh: Selesaikan 3x  2  5x  4
Penyelesaian: Karena dua bilangan dengan nilai mutlak yang sama dapat
mempunyai tanda yang berbeda, persamaan yang diberikan akan dipenuhi jika
salah satu
3x – 2 = 5x + 4 atau 3x – 2 = - (5x + 4) dipenuhi.
Penyelesaian persamaan pertama menghasilkan x = -3 dan penyelesaian
1
persamaan kedua menghasilakan x = - (buktikan). Jadi, penyelesaian
4
1
persamaan yang diberikan adalah x = -3 atau x = -
4.
Catatan : Simbol seperti + α dan – α seolah-olah + α positif dan α negatif.
Akan tetapi, hal tersebut tidaklah benar, sebab α sendiri dapat menunjukan
salah satu bilangan positif dan negatif. Dengan demikian, jika α negatif, maka
– α positif dan + α negatif.

Hubungan antara Akar Kuadrat dan Nilai Mutlak


Suatu bilangan yang kuadratnya sama dengan α disebut akar kuadrat dari a.
Setiap bilangan riil positif a mempunyai dua akar kuadrat riil, satu positif dan
satu negatif. Akar kuadrat positif dinotasikan dengan a. Sebagai contoh,
bilangan 9 mempunyai dua akar kuadrat -3 dan 3. Karena 3 merupakan akar
kuadrat positif, berarti 9 = 3. Sebagai tambahan didefinisikan 0 = 0

Catatan: Pembaca yang sebelumnya berfikir untuk menulis 9 = ±3,


sebaiknya menghentikan penulisan ini, sebab hal ini tidak benar.
Terdapat kesalahan yang umumnya pada penulisan a 2 = a. Meskipun
persamaan ini benar apabila a tak-negatif, tetapi salah untuk a negatif. Sebagai
contoh jika a = -4, maka

a 2  (4) 2 = 16  4 ≠ a

Hasil yang benat untuk setiap a diberikan dalam teorema berikut ini:

TEOREMA 1.2. Untuk setiap bilangan riil a, maka berlaku a 2 = |a|


29

Bukti: Karena a2 = (+a)2 = (a2) = (-a)2, maka bilangan +a dan –a merupakan


akar kuadrat dari a2. Jika a ≤ 0, maka +a merupakan akar kuadrat tak negatif
dari a2, dan jika a < 0, maka –a akar kuadrat tak-negatif dari a2. Sehingga
diperoleh :
a 2 = +a jika a ≤ 0
a 2 = -a jika a < 0. Jadi a 2 = |a|.

Sifat-Sifat Nilai Mutlak


Teorima berikut ini, menjelaskan beberapa sifat dasar nilai mutlak berdasar
Teorema 1.3 dan sifat-sifat akar kuadrat.

Teorema 1.3. Jika a dan b bilangan riil, maka


(a). |a| ≥ 0 nilai mutlak suatu bilangan seallu tak negatif
(b). | - a | = |a| suatu bilangan dan negatifnya mempunyai nilai mutlak sama
(c). |ab| = |a||b| nilai mutlak dari perkalian merupakan perkalian nilai mutlak
(d). |a/b|
Akan = |a|/|b|bagian
dibuktikan nilai mutlak
(b) dandari
(c) pembagian
saja, yang merupakan pembagian
lain silahkan nilai mutlak
untuk latihan.

Bukti: (b) Dari Terorema 1.2


|a|= (a ) 2 = a 2 = |a|

Bukti: (c). Dari Teorema 1.2 dan dari sifat dasar akar kuadrat
|ab| = (ab) 2 = a 2b 2 = a2 b 2 = |a||b|.
Buktikan yang lain buat latihan.

Catatan: Dalam bagian (d) Teorema 1.3 tidak secara eksplisit menyatakan
bahwa b≠0, tetapi hal ini harus ditegaskan, sebab pembagian dengan nol tidak
dibolehkan.apabila dalam buku teks ini terdapat pembagian, diasumsikan
bahwa penyebutnya tidak nol, meskipun tidak disebutkan secara eksplisit.

Berdasarkan bagian (c) pada Teorema 1.3 dapat dikembangkan untuk tiga
faktor atau lebih. Lebih tepatnya, jika untuk sebarang n bilangan riil,
a1,a2,......,an maka
| a1,a2,......,an| = |a1||a2|....|an|
30

Dalam kejadian khusus dimana a1,a2,......,an semuanya sama dengan a


berdasarkan persamaan di atas diperoleh

|an| = |an|

Interpretasi Geometrik Nilai Mutlak

Notasi nilai mutlak muncul secara alamiah dalam masalah jarak. Pada garis
koordinat, dimisalkan titik-titik A dan B dengan koordinat a dan b. Karena
jaraktak-negatif, maka d jarak antara A dan B adalah

b  a jika ab

d  a  b jika ab
0 ab
 jika

A B B A
a   b  b    a 
ba   ab 
(a) (b)

Gambar 1.2.1. Interpretasi Geometri Nilai Mutlak

(Lihat Gambar 1.2.1). Dalam kasus pertama b - a positif, jadi b - a = | b - a |;


dalam kasus kedua b – a negatif, jadi a – b = | b - a |. Secara umum, diperoleh
hasil yang dirumuskan dalam teorema berikut ini.

TEOREMA 1.4. (Rumus Jarak). Jika A dan B titik-titik pada suatu garis
koordinat yang masing-masing mempunyai koordinat a dan b, maka jarak
d antara A dan B adalah :
d=|b-a|

Teorema di atas memberikan interpretasi geometrik yang berguna untuk


menjelaskan beberapa
31

Ekspresi matematika yang umum dituliskan seperti berikut.

EKSPRESI INTERPRETASI GEOMETRIK PADA GARIS


KOORDINAT
|x - a| Jarak antara x dan a
|x + a| Jarak antara x dan – a (karena) |x + a| = |x – (-a) |)
|x| Jarak antara x dan titik asal (karena |x| = |x-0|)

Ketidaksamaan dalam bentuk |x - a| < k dan |x - a| > k sering muncul, sehingga


dapat diringkas seperti berikut.

BENTUK
KETIDAK - HIMPUNAN
INTERPRETASI ALTERNATIF
SAMAAN GAMBAR PENYELESAIA
GEOMETRIK KETIDAKSAMAA
(k>O) N
N
|x - a| < k x didalam k -k < x – a < k (a – k, a – k )
satuan dari a Satuan Satuan
a-k a x a+k

x - a| > k x lebih dari k  x  a  k (∞, a – k) U


satuan dari a  (a + k, ∞)
Satuan Satuan
atau
a- k a a+k x x  a  k

Catatan: Dalam tabel tersebut < dapat diganti dengan ≤ dan > dengan ≥, yaitu
titik-titik terbuka diganti dengan titik-titik tertutup dalam ilustrasi tersebut.

Contoh: Selesaikan |x - 3| < 4.

Penyelesaian: Ketidaksamaan tersebut ditulis kembali sebagai


-4 < x – 3 < 4
atau dengan menambahkan 3 pada tiap sisi.
-1 < x < 7
Ini dapat ditulis dalam notasi selang sebagai (-1,7).

Contoh: Selesaikan |x + 4| ≥ 2.

Penyelesaian: Ketidaksamaan tersebut dapat ditulis kembali sebagai,


32

x  4  2 atau x  4  2  x  6 atau x  2

yang ditulis dalam notasi himpunan sebagai

(-∞,– 6]  [-2, -∞)

Catatan. Permasalahan dalam dua contoh terakhir diselesaikan secara aljabar.


Akan tetapi, dapat juga diselesaikan secara geometri. Sebagai contoh,
penyelesaian |x -3| < 4 terdiri dari semua x yang jaraknya dari 3 lebih kecil dari
4 satuan dan penyelesaian |x + 4| ≥ 2 yang dapat ditulis sebagai dari semua x
yang jaraknya dari -4 adalah 2 satuan atau lebih. Dalam buku ini
pertidaksamaan, ketaksamaan dan ketidaksamaan dianggap suatu istilah yang
sama.

1
Contoh: Selesaikan > 5.
2x  3
3
Penyelesaian: Pertamakali amati bahwa x 
bukan penyelesaian, sebab nilai
2
x ini menghasilkan pembagian pembagian dengan nol. Selanjutnya, akan
digunakan Teorema 1.1 (e). Dengan membalik pecahan dari tanda
keridaksamaannya, diperoleh
1
2x  3 
5
3 1
2( x  )  Faktorkan koefisien dari x
2 5
3 1
2 x  Teorema 2.2 (c)
2 5
3 1
x  Gandakan kedua sisi dengan 1/|2| = 1/2
2 10
1 3 1
  x  Sifat ketaksamaan mutlak
10 2 10
7 8
x Tambahkan 3/2 seluruhnya
5 5
33

3
Jika seperti yang dikemukakan diatas, nilai x
dieliminasi untuk
2
menghindari pembagian dengan nol, terlihat bahwa penyelesaiannya terdiri
dari semua x yang memenuhi.
7 3 3 8
x atau x
5 2 2 5
7 3 3 8
Himpunan penyelesaian terdiri dari semua x dalam himpunan ( , )  ( , ) .
5 2 2 5

Pertidaksamaan dalam Kalkulus


Ketidaksamaan dalam contoh berikut muncul dalam Kalkulus
Contoh: Selesaikan
0 < |x - a| < δ
Dengan a sembarang bilangan riil dan δ (Yunani ”delta”) adalah bilangan riil
positif.

Penyelesaian: Himpunan penyelesaiannya terdiri dari semua nilai riil x yang


memenuhi ketidaksamaan.
0 - |x - a| dan |x - a| < δ
Penyelesaian dari |x - a| < δ adalah nilai-nilai x sedemikian sehingga
a–δ<x<a+δ

atau dalam notasi selang


(a – δ, a + δ)

Ketidaksamaan 0 < |x - a| tersebut dipenuhi oleh semua nilai riil x kecuali x = a


(kenapa?). Jadi himpunan penyelesaian 0 < |x - a|< δ adalah selang dalam (1.7)
dengan menghilangkan titik a. Himpunan (a, - δ,a)  (a,a+ δ) ini ditunjukkan
dalam ilustrasi berikut.

 
Satuan Satuan
a- a a- 

0 < |x - a| < δ
34

Ketaksamaan Segitiga
Secara umum tidak selalu benar bahwa | a + b | = |a| + |b|. Sebagai contoh, jika
a = 2 dan b = -3, maka a + b = -1, sehingga

|a+b|=|-1|=1
sedangkan
|a| + |b| = |2 + |- 3| = 2 + 3 = 5
Jadi | a + b | ≠ |a| + |b|. Akan tetapi, benar bahwa nilai mutlak suatu jumlahan
selalu lebih kecil atau sama dengan jumlah nilai mutlak. Hal ini merupakan ini
teorema yang sangat penting, yang dikenal dengan pertidaksamaan segitiga.

TEOREMA 1.5. (Pertidaksamaan Segitiga). Jika a dan b sebarang


bilangan riil, maka
| a + b | ≤ |a| + |b|

Bukti: Ingat bahwa


- |a| ≤ a ≤ |a| dan - |b| ≤ b ≤ |b|

Dengan menambahkan kedua ketidaksamaan di atas didapatkan

- (| a + b |) ≤ a + b ≤ (|a| + |b|)

Sekarang pandang kasus a + b ≥ 0 dan a + b < 0. Untuk kasus a + b ≥ 0


mengakibatkan a + b = |a + b|.
Oleh karena itu, menghasilkan ketidaksamaan sisi kanan | a + b | ≤ |a| + |b|.

Sementara itu, untuk kasus a + b < 0 mengakibatkan a + b = - |a + b|. Oleh


karena itu, diperoleh - (|a| + |b|) ≤ - |a+b|

Dengan mengalikan kedua sisi dengan – 1 menghasilkan | a + b | ≤ |a| + |b|.


Bukti teorema selesai.

Catatan : Berbagai penerapan pertidaksamaan segitiga sering muncul pada


bab-bab berikut dalam buku ini.
35

Latihan 1.2

1. Hitunglah (x) jika


(a). x = 7 (b). x = - 2 (c). x = k2 (d). x = -k2
2. Tulis kembali ( x  6) 2 tanpa menggunakan akar kuadrat atau nilai
mutlak.

Pada soal 3 – 10, tentukan semua nilai x yang benar untuk pernyataan yang
diberikan.

3. | a + b | = 3 – x 4. |3 - x| = 3 – x
5. |x2 - 9| = x2 – 9 6. |x2 - 9| = 9 – x2
7. |3x2 + 2x| = x |3x + 2| 8. |6 – 2x| = 2|x - 3|
9. ( x  5)2 = x + 5 10. (3x  2)2 = 2 – 3x
11. Ujilah (a 2  |a| untuk a = 7 dan a = - 5
12. Ujilah ketidaksamaan - |a| ≤ a ≤ |a| untuk a = 2 dan a = -5
13. Misalkan titik A dan B berkoordinat a dan b. Tentukan jarak setiap bagian
di bawah ini:
(a). a = 9, b = 7 (b). a = 2,b = 3 (c). a = -8,b= 6 (d). a = 2 ,
b = -3
(e). a = -11, b = - 4 (f). a = 0, b = -5
14. Apakah persamaan a 4  = a2 valid untuk semua a ?. Jelaskan !
15. Misalkan titik A dan B berkoordinat a dan b, dalam setiap bagian, gunakan
informasi yang diberikan untuk menentukan b.
(a). a = -3, B sebelah kiri A, dan |b - a| = 6
(b). a = -2, B sebelah kanan A, dan |b - a| = 9
(c). a = 5, |b - a| = 7, dan b > 0
16. Misalkan titik E dan F dengan koordinat e dan f, dalam setiap bagian,
tentukan apakah E berada disebelah kiri atau kanan dari F dari garis
koordinat.
(a). f – e = 4 (b). e – f = 4 (c). f – e = -6 (d). e – f = - 7

Untuk soal 17 – 24 carilah penyelesaian untuk x

17. |6x - 2| = 7 18. |3 + 2x | = 11


36

19. |6x – 7| = |3 – 2x| 20. |4x + 5| = |8x - 3|


21. |9x| - 11 = x 22. 2x – 7 = |x + 1|
x5 x3
23. =6 24. 5
2 x x4

Pada soal 25-36, selesaikan untuk x dan nyatakan penyelesaiannya dalam


bentuk selang

25. |x - 6| < 3 26. |7 - x | ≤ 5


27. |2x - 3| ≤ 6 28. |3x - 1| < 4
1
29. |x - 2| > 1 30. | - 1| ≥ 2
2
31. |5x – 2x| ≥ 4 32. |7x - 1| > 3.
1 1
33. 2 34. 5
x 1 3x  1
3 2
35. 4 36. 1
2x  3 x3
37. Untuk nilai x manakah yang memenuhi ( x 2  5x  6)2  x 2  5x  6 ?
38. Selesaikan 3 ≤ |x - 2| ≤ 7.
39. Selesaikan |x - 3|2 - 4|x - 3| = 12. [ petunjuk : Pertama misalkan u = |x - 3|.)
40. Ujilah pertidaksamaan segitiga |a + b| ≥ |a| + |b| (Teorema 1.5) untuk
(a). a = 3,b = 4 (b). a = -7, b = -8 (c). a = -7,b = -8
(d). a = -4, b = 4
41. Buktikan |a - b| ≤ |a| + |b|.
42. Buktikan |a| - |b| ≤ |a - b|
43. Buktikan ||a| - |b|| ≤ |a - b|. [Petunjuk Gunakan soal 42]

1.3. BIDANG KOORDINAT

Sebagaimana halnya titik-titik pada garis yang berkorespondensi satu-satu dengan bilangan
riil, titik-titik pada bidang dapat juga dikaitkan dalam korespondensi satu-satu dengan
pasangan bilangan riil. Hal ini memungkinkan untuk menggambarkan persamaan aljabar
sebagai kurva geometri, dan sebaliknya untuk menyajikan kurva geometri dengan
persamaan aljabar
37

Sistem Koordinat Kartesius


Suatu sistem koordinat siku-siku (juga disebut sistem koordinat Cartesian),
merupakan pasangan garis koordinat yang tegak lurus, yang disebut sumbu-
sumbu koordinat sedemikian sehingga keduanya berpotongan dititik asal.
Biasanya, salah satu garis tersebut horisontal dengan arah positif ke kanan, dan
yang lain vertikal dengan arah positif ke atas (Gambar 1.3.1). Seperti
diilustrasikan dalam gambar tersebut, perpotongan sumbu-sumbu koordinat
disebut titik asal dari sistem koordinat. Sumbu horisontal biasanya sumbu – y.
Bidang dalam suatu sistem koordinat siku-siku disebut bidang koordinat.

y
Sumbu - y

Tit
ik
asa
l
x
-4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4
1
2 Sumbu - x

3
4

Gambar 1.3.1 Sistem Koordinat Siku-Siku

Pemberian label pada sumbu-sumbu dengan huruf x dan y merupakan


kesepakatan yang umum, tetapi sebarang huruf boleh digunakan. Jika huruf x
dan y digunakan untuk memberi label sumbu koordinat, maka bidang yang
dihasilkan disebut bidang-xy. Dalam penerapan, penggunaan huruf selain x dan
y sebagai label sumbu koordinat adalah hal yang umum. Gambar 1.3.2
menunjukkan bidang uv dan bidang –ts. Huruf pertama dalam nama bidang
menacu pada sumbu horisontal dan huruf kedua menunjukkan sumbu vertikal.
38

u s

u t

Bidang - uu Bidang - ts

Gambar 1.3.2. Ilustrasi Bidang Koordinat

Koordinat
Sekarang akan diilustrasikan bagaimana menetapkan suatu korespondensi satu-
satu antara titik-titik dalam bidang koordinat dan “pasangan terurut” dari
bilangan riil. Pasangan terurut pada bilangan riil artinya dua bilangan riil yang
diberikan terurut. Jadi terdapat “bilangan pertama” dan “bilangan kedua”.
Simbol (a,b) digunakan untuk menyatakan pasangan terurut bilangan riil
dengan a sebagai bilangan pertama dan b sebagai bilangan kedua. Karena
urutan yang demikian, pasangan terurut (2, -3 ) dan (-3,2) adalah hal yang
berbeda.

Catatan. Simbol (a,b) juga menunjukkan selang terbuka antara a dan b.


Interpretasi yang tepat biasanya akan jelas dari konteksnya. Dalam hal ini, (a,b)
berarti pasangan terurut bilangan riil a dan b.
39

y y
Garis y = b Garis y = 5
P(a,b) P(3,5)

Garis x = a Garis x = 3

x x

Gambar 1. 3. 3 Gambar 1.3.4

Setiap titik P dalam bidang koordinat dapat dikawankan dengan pasangan


terurut bilangan riil yang tunggal dengan menggambarkan dua garis yang
melalui P yang satu tegak lurus dengan sumbu-x dan satunya tegak lurus
sumbu-x dititik dengan koordinat a dan garis kedua berpotongan dengan
sumbu-y dititik dengan koordinat b, disebut koordinat-x atau absis dari P .
Selanjutnya akan dikatakan bahwa P dan bilangan b disebut koordinat y atau
koordinat dari P. Selanjutnya akan dikatakan bahwa P mempunyai koordinat
(a,b) dan ditulis P (a,b) apabila ingin menegaskan bahwa koordinat P adalah
(a,b).
Sudah jelas bahwa proses pembentukan yang diilustrasikan dalam
Gambar 1.3.3 mengawankan dengan tunggal pasangan terurut bilangan riil
(a,b) dengan titik P dibidang. Sebaliknya, jika dimulai dengan pasangan terurut
bilangan riil (a,b) dan membuat garis tegak lurus sumbu-x dan sumbu-y yang
berturut-turut melalui titik-titik dengan koordinat a dan b, maka garis-garis
tersebut berpotongan disatu titik P dalam bidang dengan koordinat (a,b). Jadi
pasangan terurut bilangan riil dan titik dalam bidang koordinat merupakan
korespondensi satu-satu.
Menggambarkan suatu titik P(a,b) artinya menempatkan titik dengan
koordinat (a,b) dalam bidang koordinat. Sebagai contoh, pada Gambar 1.3.4
digambarkan titik-titik P(3,5).
40

y y
Titik-titik pada sumbu-y
memiliki koordinat-x nol

kuadran II kuadran I (-, +) (+, +)

x x

kuadran III kuadran IV (-, -) (+, -)

Titik-titik pada sumbu-x


memiliki koordinat-y nol

Gambar 1.3.5 Gambar 1.3.6

Dalam sistem koordinat siku-siku sumbu koordinat diabgi menjadi


empat daerah yang disebut kuadran. Penomoran kuadran berlawanan arah
jarum jam dengan angka romawi seperti yang ditunjukan pada Gambar 1.3.5.
sebagai ilustrasi dalam Gambar 1.3.6, mudah untuj menentukan kuadran
tempat terletaknya suatu btitik dari tanda-tanda koordinatnya : suatu titik
dengan dua koordinat posiif (+,+) terletak di kuadran 1 , suatu titik dengan
koordinat –x negatif dan koordinat –y positif (-,+) treletak dikuadran II , dan
seterusnya. Titik-titik dengan koordinat –x nol terletak pada sumbu –y dam
titik-itik dengan koordinat –y nol terletak pada sumbu –x .

Latihan 1.3

1. Gambarkan sistem koordinat siku-siku dan petakan lokasi titik-titik berikut.


(a.). (3,4) (b). (-2,5) (c). (-2.5,-3) (d). (1.7,-2) (e). (0,-6) (f). (4,0)

Untuk soal 2 dan 3 gambarkan sistem koordinat siku-siku dan sketsa


himpunan Titik-titik yang memiliki koordinat (x,y) dan memenuhi syarat
yang diberikan.

2. (a). x = 0 (b). y = 0 (c). y < 0 (d). x ≥ 1 dan y ≤ 2


(e). x =3 (f). x  = 5
41

3. (a). x =2 (b). y = -3 (c). x ≥ 0 (d). x ≥ 1 dan y ≤ 2


(e). y = x (f). x  ≥ 1

Untuk soal-soal 4 dan 5, tentukan apakah titik-titiknya terletak pada garis


horizontal atau tegak.

4. (a). A (9,2), B (7,2) (b). A (2,-6), B (3,-6) (c). A (6,6) B (6,1)


5. (a). A (-4, 2 ), B (-4,-3) (b). A (0,-4) B (3,-4) (c). A (0,0) B (0,-5)
6. Tentukan nilai sudut keempat suatu segi empat, yang tiga titik diantaranya
adalah (-1,4), (6,4), dan (-1,9).

1.4. JARAK DAN PERSAMAAN LINGKARAN

Pada bagian ini diuraikan penurunan rumus jarak antara dua titik dalam suatu bidang
koordinat yang selanjutnya digunakan untuk mempelajari persamaan lingkaran. Selain itu,
dipelajari persamaan dalam bentuk y =ax + by + c. Persamaan ini dibahas sebagai
pengantar bahan yang bersesuaian.

Jarak antara Dua Titik pada Bidang


Bedasarkan sub bab 1.2 bahwa jika A dan B titik-titik pada garis koordinat
berturut-turut dengan koordinat a dan b, maka jarak antara A dan B adalah
b  a . Hasil ini digunakan untuk mendapatkan jarak d untuk sebarang dua
titik P 1 ( x1 , y1 ) dan P 2 ( x 2 , y 2 ) dalam bidang. Seperti pada Gambar 1.4.1, jika
dibentuk suatu segitiga siku-siku dengan titik sudut P 1 dan P 2 , maka panjang
sisi horizontalnya adalah | x 2 - x1 | dan panjang sisi vertikalnya adalah | y 2 - y1 |,
sehingga berdasarkan Teorema Phytagoras

x2  x1  y 2  y1
2 2
d =

Karena untuk setiap bilanagan riil a diperoleh |a| 2 = a 2 maka | x 2 - x1 | 2 = ( x 2 -


x1 ) 2 dan | y 2 - y1 | 2 = ( y 2 - y1 ) 2 , sehingga diperoleh
42

TEOREMA 1.6. Jarak d antara dua titik ( x1 , y1 ) dan ( x 2 , y 2 ) dalam


bidang koordinat diberikan oleh
x2  x1  y 2  y1
2 2
d=

Catatan: Diasumsikan jarak dalam Teorema 1.6 sesuai dengan skala yang
digunakan pada sumbu-sumbu koordinat.

y2 P 1 ( x1 , y1 )

| y 2 - y1 | d
y1 P 2 ( x2 , y2 )

x1 x2 x
| x 2 - x1 |

Gambar 1.4.1. Ilustrasi Jarak Dua Buah Titik

Contoh: Dapatkan jarak antara titik-titik (-2,3) dan (1,7)

Penyelesaian: Jika dipilih (-2,3) sebagai ( x1 , y1 ) dan (1,7) sebagai ( x 2 , y 2 ),


maka (1,10) menghasilkan

d = [1  (2)]2  [7  3]2 = 32  4 2 = 25 = 5

Catatan: Dalam penggunaan rumus jarak, pemilihan titik ( x1 , y1 ) dan ( x 2 , y 2 )


dilakukan bebas. Dengan demikian, pada contoh di atas, jika dipilih (1,7)
sebagai ( x1 , y1 ) dan (-2,3) sebagai ( x 2 , y 2 ), akan diperoleh :
43

d=  2  12  3  72 = (3) 2  (4) 2  25  5

yang mempunyai hasil sama dengan yang telah diperoleh dengan penamaan
sebaliknya.

Selanutnya jarak antara dua titik P 1 dan P 2 dalam koordinat bidang umumnya
dituliskan dengan d(P 1 , P 2 ) atau d(P 2 , P 1 ).

Contoh: Dapat ditunjukkan bahwa kebalikan dari Teorema Phytagoras adalah


benar; yaitu, jika sisi-sisi suatu segitiga memenuhi hubungan a 2 + b 2 = c 2 ,
maka segitiga tersebut haruslah segitiga siku-siku. Gunakan hasil ini untuk
menunjukkan bahwa titik-titik A(4,6), B(1,-3), C(7,5) merupakan titik-titik
sudut suatu segitiga siku-siku.

Penyelesaian: Titik-titik dari segitiga tersebut ditunjukkan dalam Gambar


1.4.2. Dari persamaan (1. 10) panjang sisi-sisi segitiga itu adalah

d(A,B) = (1  4) 2  (3  6) 2  . 9  81 = 90
d(A,C) = (7  1) 2  (5  6) 2 = 10
d(B,C) = (7  1) 2  (5  3) 2 = 10
karena
[d(A,B)] 2 + [d(A,C)] 2 = [d(B,C)] 2

Berarti bahwa Δ ABC adalah segitiga siku-siku dengan sisi miring BC.
y

A(4,6)
C(7,5)

x
B(1,-3)
44

Gambar 1.4.2. Segitiga siku-siku yang dibentuk oleh titik A(4,6), B(1,-3),
C(7,5)

Rumus Titik Tengah


Seringkali diperlukan koordinat titik tengah suatu ruas garis menghubungkan
dua titik pada bidang. Untuk menurunkan rumus titik tengah, diawali dengan
dua titik pada garis koordinat. Jika diasumsikan bahwa titik tersebut
mempunyai koordinat a dan b dengan a ≤ b, maka seperti ditunjukan Gambar
1.4.3a. jarak antara a dan b adalah b-a, dan koordinat titik tengah antara a dan
b adalah

1 1 1 1
a+ (b – a) = a + b = (a + b)
2 2 2 2

yang merupakan rata-rata aritmatik dari a dan b. Dengan menuliskan titik-titik


dengan b ≤ a, akan diperoleh rumus yang sama. Oleh karena itu, titik tengah
dari dua titik pada garis koordinat merupakan rata-rata aritmatik dari
kordinat masing-masing, tampa memperhatikan posisi relatif titik-titik
tersebut.

y
y2 P 2 ( x2 , y2 )
a b–a b
y M(x,y)

ab
y1 P 1 ( x1 , y1 )
2

(a) x1 x x2 x
(b)

Gambar 1.4.3. Ilustrasi Titik Tengah

Jika dimisalkan P 1 ( x1 , y1 ) dan P 2 ( x 2 , y 2 ) sebarang dua titik pada bidang dan


M (x,y) titik tengah dari ruas garis yang menghubungkannya (Gambar 1.4.2b),
maka dapat ditunjukan dengan menggunakan segitiga yang serupa bahwa x
45

merupakan titik tengah dari x1 dan x 2 pada sumbu-x dan y merupakan titik
tengah dari y1 dan y 2 pada sumbu-y sehingga

1 1
x= ( x1 + x 2 ) dan y = ( y1 + y 2 )
2 2
Dengan demikian, diperoleh hasil berikut.

TEOREMA 1.7. (Rumus Titik Tengah). Titik tengah dari sepotong garis
yang menghubungkan dua titik ( x1 , y1 ) dan ( x 2 , y 2 ) dalam bidang
koordinat adalah
1 1 
 ( x1  x2 ), ( y1  y 2 ) 
2 2 

Contoh: Dapatkan titik tengah dari ruas garis yang menghubungkan (3,-4) dan
(7,2)

Penyelesaian:
Dari Teorema 1.7 titik tengah yang dimaksud adalah

1 1 
 (3  7), (4  2)  = (5,-1)
2 2 

Lingkaran
Jika ( x 0 , y 0 ) merupakan titik tetap pada bidang, maka lingkaran dengan jari-
jari r berpusat di ( x 0 , y 0 ) adalah himpunan semua titik pada bidang tersebut
yang mempunyai jarak r dari ( x 0 , y 0 ) (Gambar 1.4.4). Jadi, suatu titik (x, y)
akan terletak pada lingkaran jika dan hanya jika

( x  x0 ) 2  ( y  y 0 ) 2 = r

Atau ekivalen dengan (x - x 0 ) 2 + (y - y 0 ) 2 = r 2 , persamaan ini disebut bentuk


baku persamaan lingkaran.
46

(x,y)
r
( x0 , y 0 )

Gambar 1.4.4. Ilustrasi Lingkaran (x - x 0 ) 2 + (y - y 0 ) 2 = r 2

Contoh: Dapatkan persamaan lingkaran dari jari-jari 4 berpusat di (-5, 3).

Penyelesaian:
Dari persamaan baku lingkaran dengan x 0 = -5, y 0 = 3, dan r = 4 diperoleh
(x + 5) 2 + (y – 3) 2 = 16
Jika dikehendaki, persamaan ini dapat ditulis dalam bentuk panjang dengan
mengkuadratkan suku-sukunya, kemudian menyederhanakannya :
(x 2 + 10x + 25) + (y 2 - 6y + 9) – 16 = 0
x 2 + y 2 + 10x – 6y + 18 = 0
Contoh: Dapatkan persamaan lingkaran dengan pusat (1,-2) yang melalui
(4,2)

Penyelesaian:
Jari-jari r dari lingkaran adalah jarak antara (4,2) dan (1,-2), sehingga
r  (1  4) 2  (2  2) 2 = 5
Sekarang diketahui jari-jari dan pusatnya, sehingga diperoleh persamaan
lingkaran dengan pusat (1,-2) yang melalui (4,2) adalah (x - 1) 2 + (y + 2) 2 = 5

atau x 2 + y 2 - 2x + 4y + 20 = 0.

Menentukan Pusat dan Jari-Jari Lingkaran


Apabila dijumpai suatu persamaan dalam bentuk (1. 12), akan diketahui secara
langsung bahwa persamaan tersebut merupakan persamaan suatu lingkaran:
47

pusat dan jari-jarinya dapat diperoleh dari konstanta yang muncul dalam
persamaan tersebut.

(x - x 0 ) 2 + (y - y 0 ) 2 = r2
Koordinat-x dari Koordinat-y dari Jari-jari
pusatnya adalah x0 pusatnya adalah y0 dikuadratkan

Contoh:

PERSAMAAN LINGKARAN PUSAT ( x 0 , y 0 ) JARI-JARI r


(x - 2) 2 + (y - 5) 2 = 9 (2,5) 3
(x + 7) 2 + (y + 1) 2 = 16 (-7,-1) 4
x 2 + y 2 = 25 (0,0) 5
(x - 4) 2 + y 2 = 5 (4,0) 5

x2 + y2 = 1
1

Lingkaran satuan

Gambar 1.4.5. Ilustrasi Lingkaran x 2 + y 2 = 1

Persamaan x 2 + y 2 = 1 adalah lingkaran yang berpusat di titik asal dan berjari-


jari 1, merupakan salah satu persamaan yang penting yang disebut lingkaran
satuan (Gambar 1.4.5).
48

Bentuk Lain Persamaan Lingkaran


Bentuk lain dari persamaan baku lingkaran dapat diperoleh dengan
mengkuadratkan suku-sukunya dan menyederhanakannya. Ini akan
menghasilkan persamaan dalam bentuk
x 2 + y 2 + dx + ey + f = 0, dengan d, e, dan f konstanta-konstanta.

Bentuk yang lain lagi dari persamaan lingkaran dapat diperoleh dengan
mengalikan kedua sisi dengan suatu konstanta tak nol A. Ini akan
menghasilkan persamaan dalam bentuk
Ax 2 + Ay 2 + Dx + Ey + F = 0, dengan A, D, E, dan F adalah suatu konstanta
dan A  0.

Jika persamaan suatu lingkaran diberikan oleh salah satu persamaan di atas,
maka pusat dan jari-jarinya dapat diperoleh dengan menuliskan terlebih dahulu
persamaannya dalam bentuk baku, kemudian dengan membaca pusat dan jari-
jari dari persamaan tersebut. Contoh berikut ini memberikan cara itu
menggunakan teknik melengkapkan kuadrat.

Contoh: Tentukan pusat dan jari-jari lingkaran dengan persamaan


(a). x 2 + y 2 - 8x + 2y + 8 = 0
(b). 2x 2 + 2y 2 + 24x - 81 = 0

Penyelesaian:
(a). Pertama, kelompokkan suku-suku x, kelompokkan suku-suku y, dan
letakkan konstanta ke ruas kanan sehingga diperoleh (x 2 - 8x) + (y 2 + 2y) = -8.
Selanjutnya, tambahkan konstanta yang sesuai pada masing-masing tanda
kurung untuk melengkapi kuadratnya, dan ditambahkan konstanta yang sama
keruas kanan untuk menjaga kesamaan. Konstanta yang sesuai didapatkan
dengan mengambil setengah koefisien suku derajat pertama dan
mengkuadratkannya.
Ini akan menghasilkan (x 2 - 8x + 16) + (y 2 + 2y + 1) = -8 + 16 + 1. Bentuk
bakunya menjadi (x – 4)2 + (y + 1)2 = 32. Dengan demikian, berdasarkan
persamaan bakulingkaran tersebut mempunyai pusat (4,-1) dan jari-jari 3.

(b). Persamaan yang diberikan adalah dalam bentuk Ax 2 + Ay 2 + Dx + Ey + F =


0. Pertama akan dibagi dengan 2 (koefisien suku-suku kuadrat) untuk
menyederhanakan persamaan menjadi bentuk x 2 + y 2 + dx + ey + f = 0.
49

Kemudian akan dilanjutkan seperti bagian (a) diatas. Perhitungannya seperti


berikut :

81 Dibagi dengan 2
x 2 + y 2 + 12x - =0
2
81
(x 2 + 12x) + y 2 =
2
81 Melengkapkan kuadrat
(x 2 + 12x + 36) + y 2 = + 36
2
153
(x + 6) 2 + y 2 =
2

Dari persamaan baku lingkaran tersebut, didapatkan lingkaran tersebut


mempunyai pusat (-6,0) dan jari-jari 153
2
.

Kasus Degenerasi dari Lingkaran


Tidak ada jaminan suatu persamaan dalam bentuk Ax 2 + Ay 2 + Dx + Ey + F = 0
menyajikan suatu lingkaran. Sebagai contoh, misalkan kedua ruasnya dibagi
dengan A, kemudian lengkapi kuadrat untuk mendapatkan
(x - x 0 ) 2 + (y - y 0 ) 2 = k

Bergantung pada nilai k, keadaan berikut terjadi :


 (k > 0) : persamaan lingkaran dengan pusat ( x 0 , y 0 ) dan jari-jari k
 (k = 0) : kemungkinan satu-satunya adalah x = x 0 , y = y 0 , yang berarti titik
tunggal ( x 0 , y 0 )
 (k < 0) : persamannya tidak mempunyai penyelesaian riil yang berarti
bukan lingkaran.

Contoh: Jelaskan grafik dari persamaan berikut.


(a) (x – 1) 2 + (y + 4) 2 = -9
(b) (x – 1) 2 + (y + 4) 2 = 0

Penyelesaian:
50

(a). Tidak ada nilai riil dari x dan y yang membuat ruas kiri persamaan negatif.
Jadi, himpunan penyelesaian persamaan tersebut kosong dan persamaan itu
tidak mempunyai grafik (lingkaran imajiner).

(b). Nilai-nilai x dan y yang akan membuat ruas kiri persamaan bernilai 0
hanyalah x = 1, y = -4. Jadi, grafik persamaan tersebut berupa titik tunggal (1,-
4).

Teorema berikut merupakan ringkasan pengamatan diatas :

TEOREMA 1.8. Suatu persamaan dalam bentuk


Ax 2 + Ay 2 + Dx + Ey + F = 0
dengan A  0, merupakan suatu lingkaran, atau suatu titik, atau tidak
mempunyai grafik.

Catatan. Dua kasus terakhir dalam Teorema 1.8 disebut kasus-kasus


degenerasi. Karena pada kenyataannya kasus-kasus degenerasi ini dapat
terjadi, maka persamaan teorema ini sering disebut persamaan umum
lingkaran.

Latihan 1.4

1. Dimanakah dalam bagian ini telah digunakan kenyataan bahwa satuan


ukuran yang sama digunakan pada kedua sumbu koordinat ?

Untuk soal 2 – 5, dapatkan


(a) Jarak antara A dan B
(b) Titik tengah ruas garis yang menghubungkan A dan B

2. A (2, 5), B (-1, 1) 3. A (7, 1), B (1, 9)


4. A (2, 0), B (-3, 6) 5. A (-2, -6), B (-7, -4)

Untuk soal 6 – 10, gunakan rumus jarak untuk menyelesaikannya.


51

6. Buktikan bahwa (1,1), (-2,-8), dan (4,10) terletak pada satu garis lurus
7. Buktikan bahwa segitiga dengan titik-titik sudut (5,2), (6,5), dan (2,2)
adalah sama sisi.
8. Buktikan bahwa (1,3), (4,2), dan (-2,-6) adalah titik-titik sudut segitiga
siku-siku dan jelaskan titik yang mana yang merupakan titik sudut siku-
siku.
9. Buktikan bahwa (0,-2), (-4,8), dan (3,1) terletak pada lingkaran dengan
pusat (-2,3)
10. Buktikan bahwa untuk semua nilai t titik (t,2t- 6) berjarak sama dari (0,4)
dan (8,0)
11. Dapatkan k, sehingga (2,k) berjarak sama dari (3,7) dan (9,1)
12. Dapatkan x dan y jika (4,-5) adalah titik tengah ruas garis yang
menghubungkan (-3,2) dan (x,y)

Untuk soal 13 dan 14, dapatkan persamaan garis yang diberikan

13. Garis yang tegak lurus dan memotong ditengah-tengah ruas garis yang
menghubungkan (2,8) dan (-4,6)
14. Garis yang tegak lurus dan memotong ditengah-tengah ruas garis yang
menghubngkan (5,-1) dan (4,8)
15. Dapatkan titik pada garis 4x – 2y + 3 = 0 yang berjarak sama dari (3,3) dan
(7,-3). [Petunjuk : Dapatkan persamaan garis yang tegak lurus dan
memotong ditengah-tengah ruas garis yang menghubungkan (3,3) dan (7,-
3)].
16. Dapatkan jarak dari titik (3,-2) ke garis
(a) y= -4 (b) x = -1
17. Dapatkan jarak dari titik (2,1) kegaris 4x – 3y + 10 = 0. (Petunjuk :
Dapatkan jarak yang diukur tegak lurus dari titik kegaris)
18. Dapatkan jarak dari titik (8,4) kegaris 5x + 12 – 36 = 0 ( Petunjuk : Lihat
petunjuk soal 17.)
19. Gunakan cara yang diuraikan untuk soal 17 untuk membuktikan bahwa
jarak d dari (x o , y o ) ke garis Ax + By + C = 0 adalah
Axo  Byo  C
d=
A2  B 2
20. Gunakan rumus untuk soal 19 untuk menyelesaikan soal no 17.
21. Gunakan rumus untuk soal 19 untuk menyelesaikan soal no 18.
22. Buktikan : Untuk sembarang segitiga, garis tengah sisinya bertemu disatu
titik (Petunjuk : Letakan segitiga dengan satu titik sudut pada sumbu-y dan
52

sisi didepannya pada sumbu-x , sehingga titik sudut itu adalah (0,a),(b,0)
dan (c,0))

Untuk soal 23 dan 24, dapatkan pusat dan jari-jari masing-masing lingkaran

23. (a). x 2 + y 2 = 25 (b). (x-1) 2 + (y-4) 2 = 16


(c). (x-1) 2 + (y+3) 2 = 5 (d). x 2 + (y+2) 2 = 1
24. (a). x 2 + y 2 = 9 (b). (x-3) 2 + (y-5) 2 = 36
(c). (x+4) 2 + (y+1) 2 =8 (d). (x+1) 2 + y 2 = 1

Untuk soal 25-32, dapatkan persamaan baku dari lingkaran yang memenuhi
syarat-syarat yang diberikan

25. Pusat (3,-2); jari-jari = 4


26. Pusat (1,0); garis tengah = 8
27. Pusat (-4,8); lingkaran menyinggung sumbu-x.
28. Pusat (5,8) ; lingkaran menyinggung sumbu-y.
29. Pusat (-3,-4); lingkaran melalui titik pusat.
30. Pusat (4,-5); lingkaran melalui (1,3).
31. Garis tengahnya mempunyai ujung (2,0) dan (0,2).
32. Garis tengahnya mempunyai ujung (6,1) dan (-2,3).

Untuk soal 33-44, jelaskan apakah persamaannya menyajikan suatu


lingkaran, titik atau tidak memiliki grafik. Jika persamaannya menyajikan
suatu lingkaran dapatkan pusat dan jari-jarinya

33. x 2 + y 2 - 2x – 4y – 11 = 0
34. x 2 + y 2 + 8x + 8 = 0
35. 2x 2 + 2y 2 + 4x – 4y = 0
36. 6x 2 + 6y 2 - 6x + 6y = 3.
37. x 2 + y 2 + 2x + 2y +2 = 0
38. 9x 2 + 9y 2 = 1
53

39. x 2 + y 2 - 4x – 6y + 13 = 0
40. x 2 + y 2 + 10y + 26x = 0
41. x 2 / 4 + y 2 /4 =1
42. x 2 + y 2 - 10x – 2y + 29 = 0
43. 16x 2 + 16y 2 + 40x + 16y – 7 = 0
44. 4x 2 + 4y 2 - 16x – 24y = 9
45. Dapatkan persamaan dari
(a). Setengah bagian yang bawah dari lingkaran x 2 + y 2 = 16
(b). Setengah bagian yang atas dari lingkaran x 2 + y 2 + 2x – 4y + 1 = 0
46. Dapatkan persamaan dari
(a). Setengan bagian yang kanan dari lingkaran x 2 + y 2 = 9
(b). Setengah bagian yang kiri dari lingkaran x 2 + y 2 - 4x + 1= 0
47. Gambarkan grafik
(a). y = 25  x 2 (b). y = 5  4x  x 2
48. Gambarkan grafik
(a). x = - 4  y2 (b). x = 3 + 4  y2
49. Dapatkan persamaan garis yang menyinggung lingkaran x 2 + y 2 = 25 dititik
(3,4) pada lingkaran tersebut.
50. Dapatkan persamaan garis yang menyinggung lingkaran dititik P pada
lingkaran
(a). x 2 + y 2 + 2x = 9 ; P(-1,2); (b). x 2 + y 2 - 6x + 4y = 13; P(4,3)
51. Untuk lingkaran x 2 + y 2 = 20 dan titik P (-1,2):
(a). Apakah didalam, diluar atau pada lingkaran ?
(b). Dapatkah jarak tersebar dan terkecil antara P dan titik pada lingkaran.
52. Ikuti langkah-langkah soal 51 untuk lingkaran x 2 + y 2 - 2y -4 = 0 dan titik
5
P(3, ).
2
53. Dengan memperhatikan gambar dibawah, dapatkan koordinat titik-titik T
dan T’, dengan garis-garis L dan L’ yang menyinggung lingkaran berjari-
jari1 dengan pusat dititik asal.
54

L y

1
x

T’

L’

54. Suatu titik (x,y) bergerak sedemikian hingga jaraknya ke (0,2) adalah 2
kali jaraknya ke (0,1)
55. Suatu titik (x,y) bergerak sedemikian hingga jumlah kuadrat jaraknya ke
(4,1) dan (2,-5) adalah 45
(a). Tunjukan bahwa titik tersebut bergerak sepanjang suatu lingkaran
(b). Dapatkan pusat dan jari-jarinya.
56. Dapatkan semua nilai c sehingga sistem persamaan
x  y2  0
( x  c) 2  y 2  1

mempunyai 0,1,2,3 atau 4 penyelesaian [ Petunjuk : Gambarkan sketsa


grafiknya]
57. Suatu lapangan segiempat ditutup dengan 500m pagar sepanjang tiga
sisinya dan dengan satu parit lurus pada sisi keempat. Misalkan x panjang
masing-masing sisi yang tegak lurus parit, dan y panjang sisi yang sejajar
parit.
(a). Nyatakan y dalam suku-suku x
(b). Nyatakan luas A dari lapangan itu dalam suku-suku x.
(c). Berapakah luas terbesar yang dapat ditutup ?
58. Sebidang tanah segiempat akan ditutup dengan dua jenis pagar. Dua sisi
yang berhadapan akan dipagari dengan pagar kuat yang berharga
Rp.3.000,-/m sedangkan dua sisi yang lain akan dipagari dengan pagar
biasa dengan harga Rp.2.000/m. Tersedia Rp.600.000,- untuk pemagaran.
Misalkan x panjang tiap sisi yang akan dipagari dengan pagar kuat, dan y
tiap sisi dengan pagar biasa.
55

(a). Nyatakan y dalam suku-suku x


(b). Dapatkan rumus A dari sebidang tanah teresbut dalam suku-suku x
(c). Berapakah luas maksimum yang dapat ditutup?

1.5. MENCARI SOLUSI SUATU PERSAMAAN DAN


PERTIDAKSAMAAN MENGGUNAKAN MAPLE
Pada bagian akhir dari Bab 1 diberikan pengantar bagaimana mencari
solusi suatu persamaan dan pertidaksamaan dengan memanfatkan kemampuan
Maple. Dengan demikian, kemampuan menghitung bukanlah menjadi suatu
tujuan utama dalam matakuliah Kalkulus 1 karena telah dapat digantikan oleh
software Maple, tetapi lebih pada proses hitung itu sendiri (mengkonstruksi
kemampuan hitung itu sendiri). Oleh karena itu, pada sub Bab ini akan
diberikan sedikit pengetahuan dasar tentang Maple untuk menentukan
himpunan penyelesaian persamaan dan pertidaksamaan baik mutlak, kuadrat
dan polinom sederhana.

Perintah dasar dalam Maple untuk menentukan himpunan penyelesaian


persamaan dan pertidaksamaan baik mutlak, kuadrat dan polinom sederhana
sebagai berikut.

solve(bentuk persamaan);
solve(bentuk pertidaksamaan);

2x  3
Contoh: Tentukan himpunan penyelesaian dari  2.
x2
Penyelesaian: Bila menggunakan perhitungan manual akan diperoleh solusi:
 7
 , 4  . Selanjutnya, pergunakan perintah Maple berikut,
 

restart:
solve(abs((2*x-3)/(x-2))<=2);

 7
Hasil  ,  . Hasil ini memberikan penyelesaian yang sama.
 4

Contoh:
solve(abs(2*x-3)+abs(x+1)=abs(x+2)); hasil {1,2}
56

solve(abs(2*x-3)+abs(x+1)<abs(x+2)); hasil (1,2)


1 
solve((x^2-2*x-3)/(x-3)>=abs(2-x)); hasil  ,   .
2 

LATIHAN KOMPREHENSIF BAB 1

Sebagian besar dari soal-soal ini perlu menggunakan kalkulaor penggambar atau komputer
system aljabar (CAS) seperti Mathematic, Maple atau Derive. Apabila diminta untuk mencari
suatu jawaban atau untuk menyelesaikan suatu persamaan, diijnkan untuk memilih mencari
hasil eksak atau hampir numeric, bergatung pada tegnologi yang digunakan atau imajinasi
pribadi . Bentuk jawaban mungkin berbeda dari mahasiswa yang lain atau dari sub bab
jawaban dalam buku ini, bergantung pada bagaimana cara menyelesaikan masalah dan
ketelitian yang digunakan dalam hampiran numeriknya.

Persamaan dan Ketidaksamaan : Untuk soal 1-10, selesaikan persamaan


atau pertidaksamaan yang diberikan.

1. x 2 = 2 x 3  1 2. x + x = x 2 - x
3. x 2 + 1 = 3 x 4. x 2 - 2x = cos x
x2 sin x
5. 2 < 0,3 6. 2 >0,1
x 3 x 1
7. 3 x > x 3 8. 3 x > x 5
9. x 3  2 x  3 < 5 10. x 3  3x 2  1 > 2
11. Jarak antara suatu titik dan suatu kurva : Tuliskan suatu ekspresi jarak
antara titik P(1,2) dan sebarang titik (x, x ) pada kurva y= x.
Gambarkanlah grafik jarak ini terhadap x, dan gunakan grafik tersebut
untuk mendapatkan koordinat-x dari titik pada kurva yang terdekat ketitik
P.
12. Jarak antara suatu titik dari suatu kurva: Tuliskan suatu ekspresi jarak
antara titik P(1,0) dan sembarang titik ( x,1/x ) pada kurva y =1/x, dengan x
57

> 0. Gambarkan grafik jarak ini terhadap x, dan gunakan grafik tersebut
untuk memperoleh koordinat-x dari titik pada kurva yang terdekat ketitik P.

Pada soal 13 dan 14, gunakan prinsip Archimedes: Suatu benda yang
keseluruhan atau sebagian ditenggelamkan dalam suatu cairan akan
diapungkan oleh suatu gaya yang sama dengan berat cairan ysng dipindahkan.

13. Bola mengapung : suatu logam berbentuk bola berongga mempunyai garis
tengah 50 cm, berat 59 kg dan mengapung dengan sebagian tenggelam
dalam air laut. Dengan mengasumsikan bahwa berat jenis air laut adalah
31,45 kg/cm 3 . Seberapa jauh dari permukaan bagian bawah logam tersebut
? (Petunjuk : jika bola berjari-jari r ditenggelamkan sampai kedalaman h,
maka volume bola V dari bagian yang tenggelam diberikan oleh rumus v =
 h 2 (r-h/3).)
14. Bola mengapung : Suatu logam berbentuk bola berongga mempunyai
garis tengah 50 cm dan berat w kg mengapung dalam air laut. ( lihat soal
13)
a. Gambarkan grafik w terhadap h untuk 0  h  5 .
b. Dapatkan berat bola jika tepat setengah bagian bola tenggelam.

Pada soal 15 dan 16, asumsikan bahwa akibat dari Invers-Kuadrat Hukum
Gaya Tarik Gravitasi Newton dipenuhi : dua benda homogen berbentuk bola
dengan massa m 1 dan m 2 saling tarik menarik dengan gaya sebesar
Gm 1 m2 / d 2 , dengan G suatu konstanta dan d jarak antara pusat dua benda
tersebut.

15. Titik equilibrium antara bumi dan bulan: Misalkan pada saat tertentu
jarak antara pusat bumi dan pusat bulan adalah 3,84x10 8 meter . Pada jarak
berapakah dari pusat bumi, gaya tarik bumi pada suatu benda berbentuk
bola bermassa m akan sama besarnya, tetapi berlawanan arah, dengan gaya
tarik bulan pada benda tersebut ? Gunakan 5,98 x 10 24 kilogram untuk
massa bumi, dan 7,35 x 10 22 kilogram untuk massa bulan.
16. Bumi dan Matahari: Asumsikan bahwa pusat bumi dan pusat matahari
berada dalam sistem koordinat-xy dengan pusat bumi dititik asal dan pusat
matahari dititik (1,49 x 10 11 , 0 ) dengan jarak yang diukur dalam meter.
Tunjukkan bahwa himpunan titik yang bermassa m dalam bidang-xy
58

sehingga gaya tarik gravitasi Bumi sama dengan tarik gravitasi Matahari
akan membentuk suatu lingkaran. Dapatkan pusat dan jaru-jari lingkaran
tersebut. (petunjuk : Gunakan 5,98 x 10 24 kilogram sebagai massa bumi
dan 1,97 x 10 30 kilogram untuk massa matahari.)
17. Manajemen sumberdaya: Suatu peternakan terdiri dari 20 domba
bertanduk besar yang dilepaskan disuatu daerah yang dilindungi. Dengan
manajemen yang hati-hati banyaknya domba, N, setelah t tahun akan
diberikan oleh rumus:
220
N
1  10(0,83) t
Dan populasi domba akan dapat terpelihara dengan sendirinya tanpa
pengawasan lebih lanjut setelah populasi tersebut mencapai jumlah 80.
a. Berapa tahun yang diperlukan untuk melaksanakan program memelihara
domba ?
b. Berapa banyak domba bertanduk besar yang dapat dibantu oleh
lingkungan didaerah yang dilindungi itu. ( Petunjuk : Periksa grafik dari
N terhadap t untuk nilai t besar. )
18. Tabel perubahan air : Misalkan t hari setelah hujan lebat, ketinggian air
bahwa tanah pada suatu lokasi tertentu turun dengan laju r cm per hari,
dengan r diberikan oleh
9
r
t (2,7)1 / t
a. Gambarkan grafik r terhadap t
b. Untuk nilai t berapakah ketinggian air akan turun dengan laju 2 cm per
hari?
c. Kapankah ketinggian air turun paling cepat, dan berapakah laju
penurunannya pada
waktu t itu?.
59

UJI TELAAH ULANG KONSEP

Soal-soal telaah ulang konsep didesain untuk mengukur tingkat berfikir mahasiswa dari aspek
kognitif dan disajikan secara komprehensif diakhir Bab. Mahasiswa sangat dianjurkan untuk
menjawab soal-soal telaah ulang konsep secara cepat dan benar sebagai alat untuk
mengetahui bahwa mahasiswa telah mengerti konsep-konsep pada Bab ini dalam aspek
kognitif dari tingkat C1 sampai C6.

1. Setiap bilangan riil dapat dinyatakan dengan desimal yang takberakhir.


1 1
Angka dapat dinyatakan dalam desimal sebagai .......................; angka
3 5
dapat dinyatakan dalam desimal sebagai ..........................; Bilangan π
dalam desimal yang dimulai dengan ..............................
2. Pernyataan desimal suatu bilangan akan berulang dalam siklus dan hanya
jika bilangan itu adalah .......................................
3. Diantara dua bilangan riil sebarang, selalu dapat dicari baik bilangan
.............................maupun bilangan ......................(dan keduanya tak
berhingga banyak).
4. Beberapa bilangan rasional dapat dinyatakan dengan desimal yang berakhir
1 9
(misalnya, = 0,5, = 1,125). Setiap bilangan ....................dapat
2 8
dihampiri cukup dekat secara sebarang oleh suatu desimal yang
mempunyai akhir.
5. Himpunan penyelesaian dari suatu ketaksamaan secara normal berupa suatu
.................................atau gabungan ............................
6. Himpunan {x: -1 ≤ x < 5} dituliskan dalam notasi selang sebagai
...................... dan himpunan {x: x ≤ -2} dituliskan sebagai
.....................................
7. Jika a/b < 0, maka baik a < 0 dan ......................atau a > 0 dan
........................
8. Ketaksamaan ‫׀‬x -2‫ ≤ ׀‬3 setara dengan .........................≤ x ≤ .........................
9. Manakah dari yang berikut ini selalu benar ?
(a). ‫׀‬-x‫ = ׀‬x
(b). ‫׀‬x‫׀‬2 = x2
(c). ‫׀‬xy‫׀ = ׀‬x‫׀ ׀‬y‫׀‬
(d). x 2 = x
60

10. Agar yakin bahwa ‫׀‬5x - 20‫ < ׀‬0.2 kita memerlukan |x - 4| <
…………………..
11. Titik (-4,2) terletak di kuadran ........................., sedangkan (2,-4) terletak
dikuadran ..............................................
12. Jarak antara titik (-2,3) dan (x, y) adalah ....................................
13. Persamaan lingkaran berjari-jari 5 dan pusat (-4, 2) adalah
..................................
14. Titik tengah dari ruas garis yang menghubungkan (-2,3) dan (5,7)
.................................

KUNCI JAWABAN UJI TELAAH ULANG KONSEP

1. 0.333...; 0,200...; 3.14...


2. Rasional
3. Rasional; Irasional
4. Irasional
5. Selang; Selang
6. [-1, 5); (-∞, 2]
7. B > 0; b < 0
8. -1 ≤ x ≤ 5
9. |x|2 = x2; |xy| = |x| |y|
1
10.
25
11. Dua; Empat
12. d  | x  2 | 2  | y  2 | 2
13. ( x  4) 2  ( y  2) 2  5 2
3
14. ( ,5)
2
61

UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT

Cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban tes telaah ulang


konsep yang terdapat di akhir Bab ini. Hitunglah jumlah jawaban Anda yang
benar, kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat
penguasaan Anda terhadap materi kegiatan belajar Bab 1.

Banyaknya Soal Dijawab dengan Benar


Tingkat Penguasaan  x 100%
14

Arti tingkat penguasaan yang Anda capai:

90 % - 100 % = Baik sekali


80 % - 89 % = baik
70 % - 79 % = cukup
≤ 69 % = kurang

Kalau tingkat penguasaan Anda mencapai 80% ke atas, Anda dapat


meneruskan ke Bab 2. Akan tetapi, bila tingkat penguasaan anda masih di
bawah 80%, Anda perlu mengulangi lagi kegiatan belajar Bab 1, terutama
bagian yang belum Anda kuasai.

Daftar Pustaka
[1]. H. Anton, Calculus, A New Horizon, 6th edition, Jhon Wiley & Sons,
Inc., New York, 1999.
[2]. R. L. Finney, M. D. Weir, F. R. Giordano, Thomas’ Calculus, 10th
edition, Addison Wesley Longman, New York, 2001.
[3]. M. D. Greenberg, Advanced Engineering Mathematics, 2rh edition,
Prentice Hall, New Jersey, 1998.
[4]. E. Kreyszig, Advanced Engineering Mathematics, 6th edition, Jhon Wiley
& Sons, Inc., Singapore, 1988.
[5]. A. Marjuni, Media Pembelajaran Matematika dengan Maplet, edisi
pertama, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2007.
62

[6]. J. E. Purcell, S. E. Rigdon, D. Varberg, Calculus, 9th edition, Prentice


Hall, New Jersey, 2009.
[7]. Tim Dosen Jurusan Matematika ITS, Kalkulus 1, Edisi 3, Jurusan
Matematika FMIPA ITS, Surabaya, 2002.
[8]. http://www.maths.usyd.edu.au/res/AppMaths.html, di
akses tanggal 16 Januari 2014.
BAB
Fungsi
2
Kata Kunci

Dilatasi
Domain
Eksponen
Fungsi Eksplisit
Fungsi Eksponen
Fungsi Hiperbolik
Fungsi Invers
Fungsi Implisit
Fungsi Logaritma
Fungsi Parameter
Fungsi Rasional
Fungsi Transenden
Fungsi Trigonometri
Kardioda
Koordinat Kartesius
Koordinat Kutub
Limacon
Sikloida
Simetris
Translasi
64

PETUNJUK

[1]. Sebelum Anda mempelajari Bab ini lebih lanjut, diharapkan lebih
dahulu menelaah standar kompetensi dan kompetensi dasar serta
kerangka isi (epitomi) Bab 2. Setelah itu, pelajarilah uraian
pembahasan buku ini dengan baik dan sungguh-sungguh sehingga
Anda dapat memahami isinya

[2]. Untuk memudahkan Anda menelaah isi uraian pada Bab ini dan
sebagai kontrol belajar, harap diperhatikan uraian yang tercetak tebal,
miring, tebal dan miring sebagai pengertian penting. Kemudian
bacalah uraian pembahasan secara keseluruhan dan baca berulang-
ulang sesuai kebutuhan sehingga Anda dapat memahami isinya.

[3]. Pada setiap sub pokok bahasan terdapat contoh soal dan latihan,
pahamilah contoh soal tersebut, kemudian kerjakan latihan yang ada.
Setelah Anda mengerjakan latihan per sub bab tersebut kemudian
pada bagian akhir bab terdapat latihan telaah ulang konsep, cocokkan
jawaban Anda dengan kunci jawaban latihan telaah ulang konsep
yang disediakan pada akhir bab bahan ajar ini. Bila Anda mencapai
tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan dengan
Bab 3. Tetapi bila tingkat penguasaan Anda kurang dari 80% maka
Anda harus mempelajari kembali Bab ini dengan penekanan pada
bagian yang belum Anda kuasai.

[4]. Setelah Anda mempelajari isi Bab 2 sampai selesai, Anda diharapkan
memiliki kemampuan yang dikemukakan dalam Indikator (I)
65

STANDAR KOMPETENSI (SK)


2. Mahasiswa dapat memahami konsep fungsi, fungsi invers, operasi
fungsi, koordinat polar, grafik fungsi, bentuk-bentuk fungsi serta
penerapannya dalam bidang terkait lainnya dengan mampu
memberikan penyelesaiannya secara prosedural maupun komputasi
dengan Maple. (SK 2)
KOMPETENSI DASAR (KD) INDIKATOR (I)

1. Mahasiswa mahir
menentukan domain dan
range suatu fungsi.
2.1. Mahasiswa mahir mengidentifikasi
2. Mahasiswa mahir
bentuk-bentuk fungsi dan
menentukan operasi pada
menggambar grafik serta menentukan
fungsi.
domain dan jangkauannya. (KD 2.1)
3. Mahasiswa mahir
menggambar grafik fungsi
secara prosedural.

4. Mahasiswa mahir
2.2. Mahasiswa dapat melakukan
melakukan tranformasi
tranformasi fungsi dalam koordinat
fungsi dalam koordinat
kartesius ke koordinat kutub. (KD 2.2)
kartesius ke koordinat kutub.

5. Mahasiswa mahir
2.3. Mahasiswa dapat memodifikasi fungsi
memodifikasi fungsi dalam
dalam koordinat kartesius ke bentuk
koordinat kartesius ke
parameter. (KD 2.3)
bentuk parameter.

6. Mahasiswa mahir
2.4. Mahasiswa dapat menggunakan Maple menggambar grafik fungsi
untuk mengambar grafik fungsi dalam dalam koordinat kartesius,
koordinat kartesius, kutub dan kutub dan parameter
parameter. (KD 2.4) menggunakan software
Maple.
66

EPITOMI BAB 2

STANDAR KOMPETENSI (SK)


Mahasiswa dapat memahami konsep fungsi, fungsi invers, operasi fungsi, koordinat polar, grafik fungsi, bentuk-bentuk fungsi serta
penerapannya dalam bidang terkait lainnya dengan mampu memberikan penyelesaiannya secara prosedural maupun komputasi dengan
Maple. (SK 2)
KOMPETENSI DASAR (KD)

Mahasiswa mahir mengidentifikasi Mahasiswa dapat melakukan Mahasiswa dapat memodifikasi Mahasiswa mahir menggunakan
bentuk-bentuk fungsi dan tranformasi fungsi dalam koordinat fungsi dalam koordinat kartesius Maple untuk mengambar grafik
menggambar grafik serta menentukan kartesius ke koordinat kutub. (KD dengan ke bentuk parameter. (KD fungsi dalam koordinat kartesius,
domain dan jangkauannya. (KD 2.1) 2.2) 2.3) kutub dan parameter. (KD 2.4)

Pokok/Sub Pokok Bahasan Pokok/Sub Pokok Bahasan Pokok/Sub Pokok Bahasan Pokok/Sub Pokok Bahasan

2.1. Fungsi dan Grafiknya 2.5. Menggambar Grafik dengan


2.3. Fungsi dalam Koordinat Kutub 2.4. Fungsi Parameter Maple
2.2. Macam-Macam Fungsi
67

Pada Bab ini dibahas konsep dasar dalam matematika, yaitu fungsi. Khususnya dibicarakan
macam-macam fungsi. Bahasan ini sangat penting untuk diketahui karena pada bahasan
selanjutnya konteks fungsi yang digunakan adalah fungsi-fungsi yang dibahas dalam Bab
ini.

2.1. FUNGSI DAN GRAFIKNYA


Pada Bab 1, telah dibahas bahwa setiap bilangan riil dapat
direpresentasikan sebagai suatu titik pada garis bilangan. Demikian pula suatu
titik pada garis bilangan menunjukan suatu bilangan tertentu. Oleh karena itu,
setiap pasangan berurutan bilangan riil (x,y) dapat disajikan sebagai suatu titik
pada bidang datar (koordinat kartesius) demikian pula sebaliknya.
Berikut akan dibahas relasi antara bilangan riil yang dapat dijelaskan
sebagai berikut: diberikan dua himpunan bilangan riil E dan R, serta f adalah
suatu aturan perkawanan antara anggota-anggota x  E dengan y  R . Aturan
perkawanan tersebut disebut fungsi bila memenuhi definisi berikut.

DEFINISI 2.1 f disebut fungsi dari himpunan E ke himpunan R jika untuk


setiap x  E menentukan dengan tunggal kawannya y  R , biasa ditulis f(x).
Suatu fungsi f dari himpunan E ke R sering pula didefinisikan sebagai
himpunan semua pasangan bilangan riil berurutan f  ( x, y) : x  E, y  R
sedemikian hingga bila ( x1 , y1 ), ( x2 , y 2 )  f dengan x1  x2 maka y1  y 2 .

Domain Fungsi dengan Pembatasan Khusus


Dalam menyelesaikan suatu persoalan, sering kali suatu fungsi hanya
dievaluasi pada nilai-nilai tertentu sehingga diperlukan pembatasan domain.

Contoh: Suatu relasi f ( x)  x 2 , 0  x  1 . f merupakan fungsi dengan domain


berupa selang [0, 1]. Tanpa pembatasan pada [0, 1] domain f dianggap domain
alami (,) .

Pada fungsi pecahan rasional, apabila pembilang dan penyebut


mempunyai faktor yang sama, maka penyederhanaan dengan pencoretan faktor
– faktor yang sama pada pembilang dan penyebut dapat merubah domain
fungsi semula. Perhatikan contoh berikut:
68

x2  4
Contoh: Suatu relasi h ( x) 
x2
mempunyai nilai riil dimana – mana, kecuali di x  2 yang menyebabkan
penyebut nol. Jadi domain h terdiri dari semua x kecuali x = 2. Sementara itu,
( x  2)( x  2)
jika h(x) dituliskan kembali sebagai h( x) 
x2
maka pencoretan pada faktor yang sama pada pembilang dan penyebut
menghasilkan h( x)  x  2 yang terdefenisi di x = 2, sebab h(2)  2  2  4
Dengan demikian, penyederhanaan secara aljabar telah mengubah domain
fungsi. Agar pencoretan faktor – faktor pada h(x) tidak mengubah domain h,
domain pada h(x) setelah pencoretan faktor (x - 2) harus dibatasi dan ditulis
h( x)  x  2, x  2

Catatan. Contoh ini menunjukkan bahwa pembaca harus memahami dengan


seksama dan menentukan pembatasan yang cocok pada domain fungsi setelah
pencoretan, sehingga domain fungsi sesuai dengan masalah semula (sebelum
dilakukan pencoretan).

Teknik Mendapatkan Range


Sering kali range fungsi diperoleh dengan mudah lewat pengamatan
persamaannya.

Contoh: Dapatkan range dari fungsi dengan persamaan

(a). f ( x)  x 2 (b). g ( x)  2  x  1

Penyelesaian;
(a). Karena domain tidak dinyatakan secara eksplisit, maka domain dari f
adalah domain alami (natural) (,) .
Untuk mendapatkan range f, diperkenalkan peubah tak bebas y  x
2

Untuk nilai x yang berubah – ubah pada domain f, nilai y yang bersesuaian
dengan x (yang tak boleh negatif) berubah – ubah pada selang 0, . Selang
ini adalah range dari f.
69

(b). Karena tidak ada domain yang dinyatakan secara eksplisit, domain dari f
adalah domain alami 1,   . Untuk menentukan range fungsi g, misalkan
.
Untuk x yang berubah – ubah pada 1, , sehingga nilai y  2  x  1
berubah – ubah pada selang 2, . Selang ini adalah range dari g.
Contoh berikut ini mengilustrasikan suatu teknik yang kadang – kadang
dapat digunakan untuk mendapatkan range suatu fungsi yang tidak jelas dari
pengamatan.

x 1
Contoh: Dapatkan range dari fungsi f ( x) 
x 1
Penyelesaian: Domain alami dari f terdiri dari semua x, kecuali x = 1. Seperti
pada contoh sebelumnya, diperkenalkan peubah tak bebas
x 1
y
x 1
Himpunan semua y yang mungkin dapat diperoleh dengan menyatakan x
sebagai fungsi y yaitu
( x  1) y  x  1
xy  y  x  1
xy  x  y  1
x( y  1)  y  1
y 1
x
y 1

Jelas bahwa y = 1 tidak didalam range karena x tidak terdefinisi pada saan y =
1, sehingga range fungsi f adalah y : y  1   ,1  1, .

Contoh: Dapatkan range dari fungsi f ( x)   x 2  5x  6

Penyelesaian: Menyelesaikan masalah ini dapat digunakan teknik mencari


akar-akar persamaan kuadrat, yaitu persamaan kuadrat
ax  bx  c  0 mempunyai akar riil bila Diskriminan D  b  4ac  0 .
2 2

Untuk soal ini diperoleh y  0 dengan y  f ( x)   x 2  5x  6 , dengan


melakukan sedikit manipulasi aljabar diperoleh x 2  5x  ( y 2  6)  0 . Agar x
70

riil maka D  25  4( y 2  6)  0 . Diperoleh 25  4 y 2  24  0  1  4 y 2  0 .


Gunakan cara menyelesaian pertaksamaan kuadrat seperti pada Bab 1
1 1 1 1
diperoleh   y  atau y  [ , ] . Dengan demikian, Range fungsi f
2 2 2 2
1 1 1
adalah: R f  [ , ]  [0, )  [0, ].
2 2 2

Fungsi yang di Defenisikan Sepotong – Sepotong


Contoh berikut menunjukkan bahwa suatu fungsi kadang – kadang
harus di defenisikan dengan bentuk “sepotong – potong” (pieced together).
Contoh: Ongkos taksi di suatu kota metropolitan Rp 1750 untuk jarak sampai
1 Km. Setelah 1 Km penumpang harus membayar ongkos tambahan Rp 500
per Km. Jika f (x) adalah ongkos total dalam rupiah untuk jarak x Km, maka
nilai f (x) adalah:

Rp 1750 untuk jarak


1750 0  x 1 sampai dengan 1 Km

f ( x)   Rp 1750 untuk 1 Km pertama ditambah
1750  500 ( x  1), x  1 Rp 500 untuk setiap Km setelah 1 Km
 pertama.

Contoh: Berdasarkan defenisi nilai mutlak, fungsi f ( x)  x dapat ditulis


dalam bentuk sepotong – sepotong
 x, x  0
f ( x)  
  x, x  0

Operasi – Operasi pada Fungsi

Seperti halnya pada dua bilangan dimana dapat dilakukan operasi –


operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian untuk
menghasilkan suatu bilangan baru, demikian pula dengan dua fungsi, dapat
ditambahkan, dikurangkan, digandakan, dan dibagi untuk menghasilkan suatu
fungsi lain. Pada bagian ini akan dibicarakan operasi – operasi tersebut dan
71

operasi – operasi lainnya yang tidak mempunyai analogi dalam aritmatik biasa.
Sebagai contoh, jika f ( x)  x dan g ( x)  x 2 maka f ( x)  g ( x)  x  x 2
Rumus ini mendefenisikan suatu fungsi baru yang disebut jumlah dari f dan g
dan dituliskan dengan f + g. Jadi ( f  g )( x)  f ( x)  g ( x)  x  x 2 . Secara
umum, dapat didefenisikan sebagai berikut.

DEFENISI 2.2. Jika diberikan fungsi – fungsi f dan g, maka rumus – rumus
untuk jumlah f + g, selisih f – g, hasil kali f.g dan hasil bagi f / g
didefenisikan dengan :

( f  g )( x)  f ( x)  g ( x)
( f  g )( x)  f ( x)  g ( x)
( f .g ) ( x )  f ( x) . g ( x)
( f / g )( x)  f ( x) / g ( x)

Domain fungsi – fungsi f + g, f – g dan f . g adalah irisan dari domain –


damain f dan g, dan domain f/g adalah irisan domain f dan g kecuali titik –
titik yang menghasilkan g(x) = 0

Contoh: Diberikan dua fungsi f ( x)  1 x  2 dan g ( x)  x  1 .


Dapatkan (f + g)(x), (f – g)(x), (f . g)(x), (f / g)(x) dan tentukan domain –
domain f + g, f-g, f .g dan f / g.

Penyelesaian:
Pertama, dapatkan rumus – rumus fungsi tersebut, selanjutnya dapatkan
domainnya, rumus – rumus tersebut adalah
( f  g )( x)  f ( x)  g ( x)  (1  x  2 )  ( x  1)  x  x  2
( f  g )( x)  f ( x)  g ( x)  (1  x  2 )  ( x  1)  2  x  x  2
( f . g )( x)  f ( x) . g ( x)  (1  x  2 ) ( x  1)
(1  x  2)
( f / g )( x)  f ( x) / g ( x) 
( x 1)
72

Domain f adalah selang 2, dan domain g adalah selang  , . Jadi,
Domain f +g, f –g dan f.g adalah irisan dari dua selang yaitu 2, . Tetapi
domain tersebut adalah domain alami dari fungsi-fungsi tersebut sehingga
domain tersebut tidak perlu dinyatakan secara eksplisit. Dengan cara serupa,
domain f / g terdiri dari semua x dalam 2, . Sekali lagi domain ini adalah
domain alami.
Pada contoh sebelumnya rumus – rumus untuk f +g, f –g, f.g dan f / g
menentukan domain yang benar untuk fungsi – fungsi f +g, f –g, f.g dan f / g .
Bagaimanapun contoh berikut menunjukkan bahwa hal ini tidak selalu seperti
kasus di atas.

Contoh: Dapatkan (f . g)(x) dengan


f ( x)  3 x dan g ( x)  x

Penyelesaian:
Dari Defenisi 2.2
( f .g ) ( x)  f ( x) . g ( x)  ( 3 x ). ( x )  3x
Domain alami dari fungsi 3x adalah  , tetapi domain tersebut bukan
domain yang benar dari f . g. Mengapa demikian?, perhatikan bahwa kedua
fungsi f dan g mempunyai domain 0, , sehingga menurut defenisi f . g juga
mempunyai domain 0, , sebab selang ini adalah irisan dari domain f dan g.
Jadi rumus yang benar untuk (f . g )(x) adalah
( f .g ) ( x)  3x, x0
2
Kadang – kadang f dituliskan untuk menyatakan hasil ganda f . f sebagai
contoh, jika f (x) = 8x, maka f 2 ( x)  f ( x). f ( x)  64 x 2 . Secara umum, jika n
adalah bilangan bulat positif, maka di defenisikan
f n ( x)  f1 ( x). f 2 ( x) . f 3 ( x)..... f n ( x)

n faktor

Notasi lazim dipakai khususnya pada fungsi – fungsi trigonometri. Sebagai


contoh, sin x  umumnya ditulis dengan sin 2 x .
2

Komposisi Dua Fungsi


Pada bagian ini di bahas suatu operasi pada fungsi – fungsi yang
disebut komposisi fungsi, yang tidak mempunyai hubungan langsung di dalam
aritmatika biasa. Secara informal dinyatakan bahwa operasi komposisi
73

dibentuk dengan mensubstitusikan beberapa fungsi pada peubah bebas dari


fungsi lainnya. Sebagai contoh, misalkan f ( x)  x 2 dan g ( x)  x  1
Jika g(x) disubstitusikan pada x dalam rumus f, diperoleh fungsi baru
f ( g ( x))  ( g ( x)) 2  ( x  1) 2 dan dituliskan dengan f g maka
( f  g )( x)  f ( g ( x))  ( g ( x)) 2  ( x  1) 2 . Secara umum di defenisikan sebagai
berikut.

DEFENISI 2.3. Jika diberikan fungsi – fungsi f dan g, maka komposisi f


dengan g, di tulis f  g , adalah fungsi yang di defenisikan dengan
( f  g )( x)  f ( g ( x))
Domain dari f  g terdiri dari semua x dalam domain g dengan g(x)
dalam domain f.

Catatan. Meskipun domain f  g sekilas tampak rumit, hal tersebut sangat


alamiah. Untuk menghitung f(g(x)) diperlukan x dalam domain g untuk
menghitung g(x). Kemudian diperlukan g(x) dalam domain f untuk menghitung
f(g(x)).

Contoh: Diberikan dua buah fungsi f ( x)  x 2  3 dan g ( x)  x . Dapatkan


a). ( f  g )( x) b). ( g  f )( x)

Penyelesaian:
(a). Rumus f(g(x)) adalah
2
  2
 
f ( g ( x))  g ( x)  3  x  3  x  3  x  3 .
2

Karena domain g adalah 0, dan domain f adalah  , , maka domain
f  g terdiri dari semua x dalam 0, sedemikian sehingga g ( x)  x
berada dalam  , . Jadi domain f  g adalah 0, .

(b). Rumus g(f(x)) adalah g ( f ( x))  f ( x)  x 2  3


Karena domain f adalah  , , maka domain g  f terdiri dari semua x
dalam  , sedemikian sehingga f ( x)  x 2  3 terletak dalam 0, .
74

Jadi domain g  f adalah  , . Oleh karena itu , ( g  f )( x)  x 2  3


tidak perlu ditunjukkan bahwa domainnya adalah  , , sebab domain ini
adalah domain alami dari x2  3 .

Catatan. Dengan demikian f  g dapat dilakukan (terdefinisi) bila


Rg  D f  Ø, sementara itu g  f terdefinisi bila R f  Dg  Ø.

Menyatakan suatu Fungsi sebagai Komposisi Dua Fungsi


Pada bagian ini akan diberikan cara untuk mendekomposisikan
(menguraikan) fungsi menjadi komposisi dari fungsi – fungsi yang lebih
sederhana. Cara umum untuk mendekomposisikan suatu fungsi h ke dalam
dekomposisi h = f  g

 Pikirkan bahwa mengevaluasi h(x) untuk suatu nilai x tertentu, dengan


mencoba untuk menyelesaikan evaluasi tersebut dalam dua langkah
yang dilakukan secara berurutan.

 Operasi pertama dalam evaluasi tersebut akan menentukan suatu fungsi


g dan yang kedua menentukan fungsi f.

 Rumus h dapat dituliskan dengan h( x)  f ( g ( x))

dalam hal ini, g disebut sebagai “fungsi dalam” dan f sebagai “fungsi luar”.
Fungsi dalam melakukan operasi pertama dan fungsi luar melakukan operasi
kedua.

Contoh: Nyatakan h( x)  ( x  4) 5 sebagai komposisi dua fungsi.

Penyelesaian:
Untuk mengevaluasi h(x) pada suatu nilai x yang diberikan, pertama hitung (x –
4) dan kemudian hasilnya dipangkatkan 5. Oleh karena itu, fungsi dalamnya
(operasi pertama) adalah g ( x)  ( x  4) dan fungsi luarnya (operasi kedua)
adalah f ( x)  x 5 sehingga h( x)  f ( g ( x)) .
Jika diperiksa kembali, maka diperoleh f ( g ( x))  g ( x)  x  4  h( x)
5 5
75

Contoh: Nyatakan sin( x 3 ) sebagai komposisi dua fungsi

Penyelesaian:
Untuk mengevaluasi sin( x 3 ) , pertama dihitung x 3 . Kemudian diambil
sinusnya, sehingga g ( x)  x 3 adalah fungsi dalam dan f ( x)  sin x adalah
fungsi luar. Dengan demikian,

 
sin x 3  f ( g ( x)) , 3
dengan g ( x)  x dan f ( x)  sin x

Contoh: Berikut memberikan beberapa contoh pendekomposisian fungsi ke


dalam komposisi.

g(x) f(x)
Fungsi Komposisi
Dalam Luar
( x 2 1)10 x 1 x10 x 2

1
10
 f ( g ( x))

sin 3 x sin x x2 sin 3 x  f ( g ( x))

tan ( x 5 ) x5 tan x tan( x 5 )  f ( g ( x))

4  3x 4  3x  x 4  3x  f ( g ( x))

8 x x 8 x 8 x  f ( g ( x))
1 1 1
x 1  f ( g ( x))
x 1 x x 1

Catatan. Harus Diperhatikan bahwa selalu adad lebih dari satu cara untuk
menyajikan suatu fungsi sebagai suatu komposisi. Sebagai contoh, ada dua cara

untuk menyajikan x 2  1 
10
sebagai suatu komposisi yang berbeda dari yang
ada dalam contoh di atas.
76

x 2

1
10

 x2  1 
2 5
 f ( g ( x)), g ( x)  ( x 2  1) 2 dan f ( x)  x 5

 
10

x  10 3 3 10
2
1  x 12
 f ( g ( x)), g ( x)  ( x  1) dan f ( x)  x
2 3 3

Grafik Fungsi

Pada bagian ini akan ditunjukkan cara menyajikan suatu fungsi secara geometri
menggunakan grafik. Grafik sangat berguna dalam visualisasi perilaku suatu fungsi. Selain
itu juga akan dikembangkan beberapa teknik dasar penggunaan grafik fungsi sederhana
untuk mengkonstruksi grafk fungsi yang lebih rumit.

Grafik suatu fungsi di defenisikan sebagai berikut:

DEFENISI 2.4 Grafik suatu fungsi dengan persamaan y = f(x) adalah


himpunan semua titik pada bidang-xy yang memenuhi y = f(x), ditulis
dengan G  x, y : y  f ( x) .

Contoh: Buatlah sketsa grafik y  x 2

Penyelesaian:
Himpunan penyelesaian dari y  x 2 mempunyai tak hingga banyak anggota,
sehingga tak mungkin digambarkan semuanya. Akan tetapi beberapa anggota
himpunan penyelesaiannya dapat diperoleh dengan mensubstitusikan sebarang
nilai x ke sisi kanan y  x 2 .

Dalam Gambar 2.1.1, beberapa penyelesaian diperoleh dengan


memasangkan beberapa nilai x. kurva yang bersesuaian di dapat dengan
menggambarkan titik-titik dalam bidang koordinat dan menghubungkannya
dengan suatu kurva mulus. Kurva tersebut merupakan hampiran grafik y  x 2 .
77

10
x y  x2 (x,y)
8
0 0 (0,0)
1 1 (0,1)
6 2 4 (2,4)
4 3 9 (3,9)
-1 1 (-1,1)
2
-2 4 (-2,4)
0 -3 9 (-3,9)
-4 -2 0 2 4

Gambar 2.1.1 Grafik fungsi y  x 2

Catatan. Perlu di ingat bahwa kurva dalam Gambar 2.1.1 hanyalah hamparan
grafik y  x 2 . Apabila suatu grafik diperoleh dengan menggambar beberapa
titik, apakah dengan tangan, kalkulator atau komputer, tidak dijamin bahwa
kurva yang dihasilkan mempunyai bentuk yang benar. Sebagai contoh, dua
kurva dalam Gambar 2.1.2 keduanya melalui titik – titik pada table dalam
Gambar 2.1.1. Selain itu tidak dapat diputuskan secara umum penggambaran
suatu masalah dengan grafik. Sebab tidak akan pernah dipastikan bagaimana
sifat grafiknya diantara titik – titik yang digambarkan. Hanya dengan analisa
kalkulus bentuk grafik yang benar dapat diketahui dengan pasti.

10 10

9 9

8 8

7 7

6 6

5 5

4 4

3 3

2 2

1 1

0 0
-4 -2 0 2 4 -4 -2 0 2 4

Gambar 2.1.2

Contoh: Buatlah sketsa grafik y  x 3

Penyelesaian:
Tabel titik – titik dan grafiknya diberikan dalam Gambar 2.1 3.
78

10

6
4
x y  x3 (x,y)
2
0 0 (0,0)
0
-3 -2 -1
-2
0 1 2 3 1 1 (1,1)
-4 2 8 (2,8)
-6
-1 -1 (-1,-1)
-8

-10
-2 -8 (-2,-8)

Gambar 2.1.3 Grafik fungsi y  x 3

1
Contoh: Buatlah sketsa grafik y  .
x

Penyelasaian:
1
Karena tidak terdefenisi di x = 0, maka hanya dapat digambarkan titik-titik
x
pada x  0 . Hal ini berakibat grafik terpotong di x = 0 (biasanya disebut
diskontinuitas (Gambar 2.1.5).

1
Gambar 2.1.4 Grafik fungsi y 
x
4

1
3 x y  (x,y)
x
2
1 1
3 ( ,3)
1 3 3
0 1 1
2 ( ,2)
-4 -2 0 2 4 2 2
-1
1 1 (1,1)
-2
1 1
2 (2, )
-3 2 2
-4
79

1 1
3 (3, )
3 3
1 1
 -3 (  ,-3)
3 3
1 1
 -2 ( ,-2)
2 2
-1 -1 (-1,-1)

1 1
-2  (-2,  )
2 2
1 1
-3  (-3,  )
3 3

Contoh: Buatlah sketsa grafik y  x

Penyelesaian:
Jika x < 0, maka x merupakan bilangan kompleks. Karena koordinat titik-
titik pada bidang-xy merupakan bilangan riil, maka hanya dapat digambarkan
titik-titik untuk x  0 . Dengan hanya kalkulator diperoleh table dan grafik pada
gambar 2.1.5.

x y= x (x,y)
0 0 (0,0)
1 1 (1,1)
2 2 (2, 2 )  (2, 2, 14)
3 3 (3, 3 )  (3, 3, 17)
4 2 (4, 2)

1
Gambar 2.1.5 Grafik fungsi y 
x
80

Contoh: Sketsa grafik f(x) = x + 2

Penyelesaian:
Berdasarkan definisi grafik f pada bidang-xy, diperoleh suatu grafik berupa
garis dengan kemiringan (slope) 1 dan memotong sumbu-y di y = 2 (Gambar
2.1.6)

Grafik f(x) = x + 2 Grafik f(x) = |x|

Gambar 2.1.6 Gambar 2.1.7

Contoh: Sketsa grafik f(x) = |x|.

Penyelesaian:
Berdasarkan definisi, grafik f pada bidang-xy adalah grafik dari y = |x|,
 x, x  0
atau ekivalen dengan y  
 x, x  0
Grafik fungsi tersebut tepat sama dengan garis y = x untuk x  0 dan
garis y = -x untuk x < 0 (Gambar 2.1.7).

 x  2, x  2
Contoh: Sketsa grafik f ( x)  
 6, x  2
81

Penyelesaian:
Fungsi f identik dengan fungsi f pada contoh 18 kecuali di x = 2 dengan f(2) =
6, sedangkan f(2) = 4. Jadi grafik h identik dengan grafik f pada Gambar 2.1.9,
kecuali di x = 2 grafik f mempunyai satu titik terpisah dari garis (Gambar
2.1.8).

x2  4
Contoh: Sketsa grafik h(x) =
x2
Penyelesaian:
Fungsi ini dapat dituliskan h(x) = x + 2, x  2. Jadi fungsi h pada Gambar
2.1.9 identik dengan fungsi f pada Gambar 2.1.8, kecuali h tak terdefinisi di x =
2. Selanjutnya, grafik h identik dengan grafik f dalam Gambar 2.1.6 kecuali di
x = 2, h mempunyai suatu lubang (Gambar 2.1.9).

Gambar 2.1.8 Gambar 2.1.9

 1, x  2
Contoh: Sketsa grafik g ( x)  
 x  2, x  2
Penyelesaian:
Berdasarkan definisi, grafik g pada bidang-xy adalah grafik dari
 1, x  2
y
 x  2, x  2

Untuk x  2, diperoleh y = 1 dan untuk x > 2 diperoleh y = x + 2. Grafik y = 1


adalah garis datar dan grafik y = x + 2 adalah garis lurus yang terlukis pada
Gambar 2.1.6. Grafik g tampak pada Gambar 2.1.10. dalam gambar tersebut
82

digunakan titik tebal dan lingkaran terbuka diatas x = 2 untuk menegaskan


bahwa nilai g(2) = 1 terletak pada garis datar dan tidak pada garis yang miring.

 1, x  2
Grafik g ( x)  
 x  2, x  2

Gambar 2.1.10

Perpotongan dengan Sumbu Koordinat


Titik-titik tempat suatu grafik memotong sumbu-sumbu koordinat
merupakan hal khusus yang menarik dalam berbagai persoalan. Seperti
diilustrasikan dalam Gambar 2.1.11, perpotongan grafik dengan sumbu-x
berbentuk (a,0) dan perpotongan dengan sumbu-y berbentuk (0,b). bilangan a
tersebut dinamakan perpotongan-x dari grafik dan bilangan b dinamakan
perpotongan-y.
y
Perpotong
an-y
(0,b)

Gambar 2.1.11
(a,0) x

Perpotonga
n-x
83

Contoh: Dapatkan semua perpotongan-x dan perpotongan-y dari

(a). 3x + 2y = 6, (b). x = y2 – 2y, (c). y = 1/x

Penyelesaian:
(a). Untuk mendapatkan perpotongan-x, diambil y = 0 dan diselesaikan untuk
x, diperoleh 3x = 6 atau x=2
Grafik dari 3x + 2y = 6 merupakan garis lurus seperti ditunjukkan dalam
Gambar 2.1.12.

3x + 2y = 6

Gambar 2.1.12

(b). Untuk memperoleh perpotongan-x diambil y = 0 dan dicari


penyelesaiannya untuk x:

x=0

Jadi x = 0 satu-satunya perotongan-x untuk memperoleh perpotongan-y


diambil x = 0 dan dicari penyelesaiannya untuk y:

y2 – 2y = 0
y(y – 2) = 0
84

Sehingga perpotongan-y adalah y = 0 dan y = 2 dan grafiknya


ditunjukkan dalam gambar berikut.

y x = y2 – 2y (x,y)
-2 8 (8,-2)
-1 1 (1,1)
0 0 (0,0)
1 -1 (-1,1)
2 0 (0,2)
3 3 (3,3)
4 8 (8,4)

Gambar 2.1.13

(c). Untuk mendapatkan perpotongan-x, ambil y = 0:

1/x = 0

Persamaan ini tidak mempunyai penyelesaian (mengapa?), sehingga


tidak terdapat perpotongan-x, untuk mendapatkan perpotongan-y ambil x = 0
dan diselesaikan untuk y. tetapi, dengan substitusi x = 0 mengakibatkan
pembagian dengan nol, yang tidak didefinisikan, sehingga juga tidak terdapat
perpotongan-y. grafik persamaan tersebut ditunjukkan dalam Gambar 2.1.4.

Sifat Simetri
Seperti diilustarikan dalam Gambar 2.1.14, titik-titik (x,y), (-x,y), (x,-y),
dan (-x, -y) membentuk sudut-sudut suatu segi empat. Titik-titik (x,y) dan (x,-y)
diakatakan simetris terhadap sumbu-x, titik-titik (x,y) dan (-x,y) dikatakan
simetris terhadap sumbu-y, dan titik-titik (x, y) dan (- x,-y) dikatakan simetris
terhadap titik asal.
85

Simetris terhadap Simetris terhadap Simetris terhadap


Sumbu-x sumbu-y titik asal

Gambar 2.1.14

Dengan cara yang sama, suatu grafik dalam bidang-xy dikatakan


simetris terhadap sumbu-x jika setiap titk (x,y) diganti dengan titik (x,-y), maka
persamaannya tidk berubah (Gambar 2.1.15a). Simetris terhadap sumbu-y jika
setiap titik (x,y) diganti titik-titik (-x,y), maka persamaannya tidak berubah.
(Gambar 2.1.15b). Simetris terhadap titik asal jika setiap titk (x,y) diganti titik
(-x,- y), maka persamaannya tidak berubah (Gambar 2.1.15c).

Simetris terhadap Simetris terhadap Simetris terhadap


sumbu-x sumbu-y titik asal

(a) (b) (c)

Gambar 2.1.15
86

Secara geometri, suatu grafik simetris terhadap sumbu-x jika lipatan


bidang sepanjang sumbu-x berakibat bagian atas dan bagian bawah grafik
berimpit, dan simetris terhadap sumbu-y berakibat bagian kanan dan bagian
kiri grafik berimpit. Grafik simetris terhadap titk asal jika pemutaran grafik
180o terhadap titik asal menghasilkan grafik seperti semula. Sifat simetri dapat
diperiksa dari teorema berikut.

TEOREMA 2.1. (UJI SIMETRIS).


1. Suatu kurva bidang simetri terhadap sumbu-y jika x diganti dengan –
x dalam persamaannya menghasilkan suatu persamaan yang
ekivalen.
2. Suatu kurva bidang simetris terhadap sumbu-x jika y diganti dengan
–y dalam persamaannya menghasilkan suatu persamaan yang
ekivalen.
3. Suatu kurva bidanng simetris terhadap titik asal jika x diganti dengan
–x dan y diganti dnegan –y dalam persamaannya menghasilkan suatu
persaman yang ekivalen.

Contoh: Gambar 2.1.1 menunjukkan bahwa y = x2 simetris terhadap sumbu-y,


tetapi tidak simetris terhadap sumbu-x ataupun titik asal. Gunakan Teorema 2.1
untuk menjelaskan hal tersebut.

Penyelesaian:
Untuk uji simetris terhadap sumbu-y, substitusikan –x untuk x dalam y = x2,
akan menghasilkan y = (-x)2 yang ekivalen dengan persamaan asalnya.

Untuk uji simetris terhadap sumbu-x, substitusi –y untuk y dalam y = x2, akan
menghasilkan -y = x2. Hasil ini tidak ekivalen dengan y = x2, sehingga
grafiknya tidak simetris terhadap sumbu-x.

Untuk uji simetris terhadap titik asal, substitusikan –x untuk x dan –y untuk y
dalam y = x2, akan menghasilkan -y = (-x)2 atau ekivalen dengan –y = x2,
persamaan ini tidak ekivalen dengan y = x2, sehingga grafiknya tidak simetris
terhadap titik asal.
87

Menggambar Grafik dengan Memakai Sifat Simetri


Dengan menggunakan sifat simetri (jika ada), pekerjaan menggambar
grafik dapat lebih disederhanakan.

1 4 2
Contoh: Sketsa grafik y = (x – x )
8

Penyelesaian:
Grafiknya simetris terhadap sumbu-y sebab substitusi – x untuk x
menghasilkan

1
y= (- x)4 – (- x)2, persamaan ini dapat disederhanakan menjadi persamaan
8
semula.

Sebagai akibat sifat simetri ini, hanya perlu menghitung titik-titik pada grafik
yang terletak di sisi kanan bidang-xy, (x  0). Titik-titk di sebelah kiri
diperoleh berdasarkan sifat simetri. Bagian atas dari table dalam Gambar
2.1.16 diperoleh dengan bantuan kalkulator. Bagian bawah diperoleh tanpa
menghitung tetapi menggunakan sifat simetri.

1 4 2
x y= x –x
8
0 0
0,5 -0,24
1 -0,24
1,5 -0,88
2 -1,62
2,5 -2
3 -1,37
3,5 1,12
4 6,51
4,5 16
-4 6,51
-3,5 1,12
3 -1,37
-2,5 -2
-2 -1,62
-1,5 -0,88 1
-1 -0,24 y  (x 4  x 2 )
-0,5 -0,24 8

Gambar 2.1.16
88

Contoh: Sketsa grafik x = y2

Penyelesaian:
Prsamaan grafik dapat ditulis y = x dan y = - x . Grafik y = x merupakan
bagian dari kurva x = y2 yang terletak diatas atau menyinggung sumbu-x
(karena y = x  0). Akan tetapi kurva x = y2 simetris terhadap sumbu-x
sebab substitusi – y untuk y menghasilkan x = (- y )2 yang ekivalen dengan
persamaan asalnya. Jadi, hanya grafik y = x (lihat gambar 2.1.6) kemudian
cerminkan grafik tersebut terhadap sumbu-x untuk melengkapi grafik yang
ditanyakan (Gambar 2.1.17).

Menggambar Grafik Fungsi dengan Geseran (Translasi)


Jika suatu konstanta positif ditambahkan atau dikurangkan pada f(x),
maka efek

y= x

y=- x
2
x=y

Gambar 2.1.17

Geometrinya adalah penggeseran grafik fungsi f ke atas atau ke bawah.


Dengan cara yang sama, jika suatu konstanta positif ditambahkan atau
dikurangkan pada peubah bebas dari fungsi f, dalam hal ini x, maka efek
geometrisnya adalah menggeser grafik fungsi ke kanan atau kekiri.
Pengurangan akan menggeser grafik kekanan dan penambahan menggeser
grafik ke kiri. Hal ini diilustrasikan seperti berikut.
89

Operasi pada Menambahkan Mengurangkan Menambahkan Mengurangkan


y = f(x) konst. Pos. c konst. Pos. c konst. Pos. c konst. Pos. c
pada f(x) dari f(x) pada x dari x
Persamaan y = f(x) + c y = f(x) – c y = f(x + c) y = f(x – c)
Baru
Efek Menggeser grafik Menggeser grafik Menggeser grafik Menggeser grafik
Geometris y = f(x) ke atas y = f(x) ke bawah y = f(x) ke kanan y = f(x) ke kanan
c satuan c satuan c satuan c satuan

Contoh: Sketsa grafik (a). y = x 3 (b). y = x3

Penyelesaian:
Grafik y = x  3 dapat diperoleh dengan menggeser grafik y = x ke kanan
3 satuan,

dan grafik y = x  3 dengan menggeser grafik y = x ke kiri 3 satuan

y= x y= x3 y= x3

Gambar 2.1.18

Contoh: Sketsa grafik y = |x – 3| +2


90

Penyelesaian:
Grafik dapat diperoleh dengan dua pergeseran: pertama geser grafik y = |x| ke
kanan 3 satuan untuk mendapatkan grafik y = |x – 3|, kemudian geser keatas
2 satuan untuk memperoleh grafik y = |x – 3| + 2 (Gambar 2.1.19)

y = |x| y = |x – 3| y = |x – 3| + 2

Gambar 2.1.19

Catatan. Grafik pada contoh diatas dapat juga diperoleh dengan melakukan
pergeseran dalam urutan berlawanan: pertama geser grafik y = |x| ke atas 2
satuan untuk memperoleh grafik y = |x| + 2, kemudian geser grafik ini ke kanan
3 satuan untuk mendapatkan grafik y = |x – 3| + 2

Contoh: Sketsa grafik y = x2 – 4x + 5

Penyelesaian:
Ubahlah persamaan diatas menjadi : y = (x2 – 4x + 4) – 4 + 5 = (x – 2)2 +1.
Grafik yang dicari dapat diperoleh dengan menggeser grafik y = x 2 ke kanan 2
satuan untuk mendapatkan grafik y = (x – 2)2 dan selanjutnya menggeser satu
satuan ke atas untuk mendapatkan grafik y = (x – 2)2 + 1 (Gambar 2.1.20).
91

Gambar 2.1.20

Pencerminan (Refleksi)
Dalam persamaan fungsi jika x diganti dengan – x akan diperoleh
grafik baru dengan mencerminkan grafik semula terhadap sumbu-y dan
sebaliknya jika y diganti dengan -y maka diperoleh grafik bareu dengan
mencerminkan grafik semula terhadap sumbu x. khususnya,
 grafik y = f(x) dan y = f(-x) adalah pencerminan satu dari yang lain
terhadap sumbu-y;
 grafik y = f (x) dan -y = f (x) [atau ekivalen dengan y = -f(x)] adalah
pencerminan satu dari yang lain terhadap sumbu-x.

Sebagai contoh, gambar dan operasinya seperti berikut.

Operasi pada
Ganti x dengan -x Kalikan f(x) dengan -1
y=f(x)
Persamaan Baru y = f(-x) y = -f(x)
Efek Geometris Pencerminan grafik y = Pencerminan grafik y =
f(x) terhadap sb-y f(x) terhadap sb-x
92

f ( x)   x f ( x)  x f ( x)  x

f ( x)   x

Gambar 2.1.20

Contoh: Buatlah sketsa grafik y  3 2  x.

Penyelesaian:
Grafik dapat diperoleh dengan pencerminan dan pergeseran, pertama
cerminkan grafik y  3 x terhadap sumbu-y untuk mendapatkan grafik
y  3  x , selanjutnya geser grafik ini ke kanan 2 satuan untuk mendapatkan
grafik dari persamaan y  3  ( x  2)  3 2  x (Gambar 2.1.21).

Gambar 2.1.21
93

Contoh: Buatlah sketsa grafik y  4  x  2 .

Penyelesaian:
Grafik persamaan tersebut dapat diperoleh dengan suatu pencerminan dan dua
pergeseran: pertama cerminkan grafik y  x terhadap sumbu-x untuk
mendapatkan grafik y=- x ; selanjutnya geser grafik ini ke kanan 2 satuan
untuk mendapatkan grafik dari y=- x  2 , dan kemudian geser grafik ini ke
atas 4 satuan untuk mendapatkan graft dari persamaan y = -
x  2  4  4  x  2 (Gambar 2.1.22)
y x

y  4 x2

y  x2

y x
Gambar 2.1.22

Penskalaan (Dilatasi)
Pergeseraa dan pencerminan disebut transformasi kaku (rigid) yang
tidak merubah bentuk grafik, hanya menggeser posisinya. Selanjutnya
dibicarakan suatu transformasi, disebut penskalaan, yang merubah bentuk
suatu grafik.
Jika f(x) digandakan dengan konstanta positif c, efek geometri, adalah
94

memampatkan atau meregangkan grafik y = f (x) pada arah y; pemampatan.


terjadi apabila 0 < c < 1 dan peregangan terjadi jika c > 1. Operasi ini
disebut pensklaan tegak dengan faktor c (Gambar 2.1.23a). Dengan cara lama
jika x digandakan dengan konstanta positif c, efek geometrinya adalah
memampatkan atau meregangkan grafik y = f(x) pada arah :r: pemampatan
terjadi jika c > 1 dan peregangan terjadi jika 0 < c < 1. Operasi mi disebut
penskalaan datar dengan faktor c (Gambar 2.1.23b)

Gambar 2.1.23

Uji Garis Tegak dan Datar


Semua contoh yang telah diberikan, menggambarkan fungsi-fungsi yang
disajikan oleh fungsi f dengan persamaan y = f(x). Sebaliknya, jika dimulai
dengan suatu grafik, maka timbul pertanyaan yang menarik berikut ini:

PERMASALAHAN: Jika digambarkan sebarang kurva dalam


bidang-xy, apakah dapat dipastikan bahwa kurva tersebut adalah
grafik dari y = f(x) untuk suatu fungsi f?

Jawaban dari pertanyaan ini adalah tidak!. Kurva-kurva pada bidang datar
belum tentu merupakan grafik dari suatu fungsi. Untuk menentukan grafik
suatu fungsi f atau bukan digunakan uji garis tegak. Perhatikan kurva pada
Gambar 2.1.24. yang dipotong garis tegak x = a di titik (a, b) dan (a, c).
Andaikan kurva tersebut merupakan grafik dari y = f(x) maka (a,b) dan (a,c)
adalah dua titik pada kurva sehingga b= f(a) dan c = f(a) yang mengakibatkan
95

kontradiksi, sebab fungsi f tidak dapat mengawankan dua nilai yang berbeda
dengan asal a. Dengan demikian, f bukan suatu fungsi (ingat definisi fungsi)
Oleh sebab itu, tidak ada fungsi dari x yang mempunyai grafik seperti
dalam Gambar 2.1.24. Pembahasan di atas dapat dirumuskan sebagai uji
garis tegak, sebagai berikut :

UJI GARIS TEGAK. Suatu kurva dalam bidang-xy adalah grafik dari y
= f(x) jika dan hanya jika tidak ada garis tegak yang memotong
kurva lebih dari satu titik.

(a,c)

(a,c)

Gambar 2.1.24

Contoh: Apakah grafik persamaan 4x + 3y = 12 adalah grafik dari y = f(x)?

Penyelesaian:
96

Pertanyaan ini dapat dijawab dengan menuliskan kembali soal tersebut dalam
bentuk yang ekivalen
4
y= 4  x
3
sehingga jelas bahwa grafik dari persamaan dalam soal juga merupakan grafik
dari fungsi
4
y= 4  x .
3
Perhatikan bahwa grafik fungsi ini yang tampak pada Gambar 2.1.25
memenuhi uji garis garis tegak.
y

4x + 3y = 12 Gambar 2.1.25

Contoh: Apakah grafik lingkaran x 2  y 2  25 apakah merupakan grafik y =


f(x) untuk suatu fungsi f?

Penyelesaian:
Karena beberapa garis tegak memotong lingkaran pada lebih dari satu titik
(lihat Gambar 2.1.26), maka lingkaran bukan grafik suatu fungsi dari x. Dapat
juga disimpulkan hasil ini secara aljabar dengan mengamati kurva dari
persamaan dalam soal dapat ditulis sebagai y = ± 25  x 2 . Tetapi ruas
kanannya bukan fungsi dari x, karena "bernilai ganda," yaitu terdapat nilai-
nilai x yang memberikan lebih dari satu nilai y. Jadi kurva x 2  y 2  25
tidak ekivalen dengan persamaan berbentuk y= f(x).
y
97

x2 + y2 = 25

Gambar 2.1.26

Selanjutnya, misalkan pada bidang-xy diberikan grafik suatu


persamaan x  g ( y) , untuk suatu fungsi g. Karena g tak dapat
mengawankan dua nilai x yang berbeda dengan satu nilai y, maka grafik
persamaan tersebut tidak dapat dipotong dua kali oleh sebarang garis datar
(Gambar 2.1.27). Jadi diperoleh analogi, dengan uji garis tegak.

UJI GARIS DATAR. Suatu kurva dalam bidang-xy adalah grafik dari x =
g(y) untuk suatu fungsi g jika dan hanya jika tidak ada garis datar yang
memotong kurva lebih dari satu titik.

y
98

(a,5)
(b,5) (c,5)

Kurva ini bukan grafif dari x = g(y)


untuk sebarang fungsi g

Gambar 2.1.27

Kurva ini bukan grafik dari


y = x2 memenuhi uji garis
tegak tetapi tidak memenuhi
uji garis datar

Gambar 2.1.28
99

Contoh: Grafik persamaan y  x 2 (Gambar 2.1.28) memenuhi uji garis tegak,


tetapi tidak memenuhi uji garis datar, karena itu grafik tersebut adalah grafik
fungsi dari x (sebut f(x) = x 2 ), tetapi tidak merupakan grafik sebarang fungsi
dari y. Hal ini dapat pula dilihat secara aljabar dengan menyelesaikan f(x) untuk
x dalam suku-suku dari y.
x y
Ruas kanan dari persamaan ini "bernilai ganda", karena itu x   y bukan
merupakan rumus fungsi untuk y.

Fungsi yang Didefinisikan s ecara Implisit


Suatu persamaan y = f(x) dikatakan mendefinisikan y secara
eksplisit sebagai fungsi x (dengan fungsi f), dan persamaan x = g(y)
dikatakan mendefinisikan x secara eksplisit sebagai fungsi y (dengan
fungsi g). Sebagai contoh, y = 3x2 sin x mendefinisikan y secara eksplisit
sebagai fungsi x dan x = (7y3 - 2y )3/2 mendefinisikan secara eksplisit sebagai
fungsi y.
Suatu persamaan yang tidak berbentuk y = f(x) tetapi grafiknya dalam
bidang-xy memenuhi uji garis tegak dikatakan mendefinisikan y secara
implisit sebagai suatu fungsi x, dan suatu persamaan yang tidak
berbentuk x = g(y) tetapi grafiknya di bidang-xy memenuhi uji garis datar
dikatakan mendefinisikan x secara implisit sebagai fungsi y.
Radang-kadang seseorang dapat menentukan apakah suatu persamaan
mendefinisikan suatu fungsi secara implisit, dengan menyelesaikan persamaan
untuk y dalam suku-suku x atau x dalam suku-suku y.

Sebagai contoh, persamaan y3 - 3y2 + 3y - x 2 = 1 dapat diselesaikan untuk y


dalam suku-suku x sebagai
y3-3y2+3y-1 =x2
(y - 1)3 = x2
y = x2/3 + 1
dan untuk x dalam suku-suku y
x2 = y3-3y2+3y-1
x   y3  3y 2  3y 1
Berdasarkan persamaan di atas menunjukkan y secara implisit sebagai fungsi
dari x dan berdasarkan persamaan terakhir tidak mendefinisikan x secara
implisit sebagai fungsi dari y.
100

Latihan 2.1

Untuk soal 1-18, dapatkan domain alami dari fungsi-fungsi yang diberikan

1 1
1. f ( x)  2. f ( x)  3. g ( x)  x 2  3
x3 5x  7
x 1
4. g ( x)  x 2  3 5. h( x)  6. h( x)  x  3x 2
x2
x
7.  ( x)  8.  ( x)  3  x
x 1

9. f ( x)  x  5  8  x 10. F ( x)  3 x  x 2  4
x2  4
11. G( x)  x 2  2 x  5 12. G ( x) 
x4
x x 1
2
13. f ( x)  14. f ( x)  15. g ( x)  sin x
x x 1
1 1
16. g ( x)  cos 17. h( x) 
x 1  sin x
3
18. h( x) 
2  cos x

Untuk soal 19-21, nyatakan fungsi yang diberikan dalam bentuk


sepotong-sepotong (piecewise) tanpa penggunaan nilai mutlak.

19. f ( x)  x  3x  1 20. f ( x)  3  2 x  5
21. g ( x)  x  x  1 22. g ( x)  3 x  2  x  1
23. Nyatakan luas L dari suatu lingkaran sebagai fungsi dari garis tengahnya.
24. Nyatakan luas L suatu segitiga sama sisi sebagai fungsi dari
(a). panjang sisi s
(b). tinggi h
25. Nyatakan total luas permukaan s dari suatu kubus sebagai fungsi dari :
101

(a). panjang rusuk x


(b). volume kubus V
26. Nyatakan total luas permukaan s dari suatu silinder dengan volume V
sebagai fungsi dari jari-jari silinder r.
27. Suatu kotak terbuka dibuat dari potongan lembaran baja dengan ukuran 8
meter x 15 meter, dengan memotong bujur sangkar dengan sisi-sisi x
pada masing-masing keempat sudut dan melipat tepi-tepinya (lihat
Gambar 2.1.29). Nyatakan V volume dari kotak sebagai fungsi dari x
dan tentukan domain fungsinya.

Gambar 2.1.29

28. Suatu kamera terpasang di titik 3000 meter dari landasan peluncuran
roket. Roket naik secara tegak ketika diluncurkan. Nyatakan jarak x yang
ditempuh roket sebagai fungsi dari sudut elevasi kamera  (Gambar
2.1.30).
29. Suatu pendulum dengan panjang konstan L membuat sudut  dengan
posisi tegak nya (Gambar 2.1.31). Nyatakan tinggi h sebagai fungsi dari
sudut pusat  .

Gambar 2.1.30

Gambar 2.1.31
30. Nyatakan panjang L dari tali busur lingkaran dengan jari-jari 10 cm sebagai
fungsi dari sudut pusat  .
102

31. Perhatikan pernyataan berikut : Fungsi


1  ( 1x)
1  ( 1x)
dapat disederhanakan dengan mengalikan penyebut dan pembilang
dengan x untuk mendapatkan
1  ( 1 x) x  1

1  ( 1 x) x  1
Bagaimana anda menuliskan kembali pernyataan tersebut agar lebih
akurat?

Untuk soal 32-38, sederhanakan fungsi yang diberikan dengan pencoretan


faktorfaktor dan tuliskan domain alami dari fungsi hasil penyederhanaan.

x2  4 ( x  2)( x 2  1)
32. f ( x)  33. f ( x) 
x2 ( x  2)( x  1)
x2  x x 1 x 1
34. f ( x)  35. f ( x) 
x x 1
x 9
2
x  2 x 2  3x
3
36 f ( x)  37. f ( x) 
x3 ( x  1)( x  3)
x x
38. f ( x) 
x

Untuk soal 39-46, dapatkan rumus dari fungsi-fungsi berikut tetapkan


dominan dalam setiap kasus
(a).( f  g )( x) (b).( f  g )( x) (c).( f .g )( x)
(d ).( f / g )( x) (e).( fg )( x) ( f ).( gf )( x)

39. f ( x)  2 x , g ( x)  x 2  1 40. f ( x)  3x, g ( x)  x


x 1
41. f ( x)  x  1, g ( x)  x  2 42. f ( x)  , g ( x) 
1 x 2
x
1
43. f ( x)  x  2, g ( x)  x  3 44. f ( x)  x 3 , g ( x)  3
x
45. f ( x)  1  x 2 , g ( x)  sin 3x 56. f ( x)  sin 2 x, g ( x)  cos x
103

47. Misalkan
4
f ( x)  dan g ( x)  x
x 5 2

Dapatkan fog )(x) dan ( gof )( x).


48. Misalkan f ( x)  2 x  10 dan g ( x)  8x 2  5. Dapatkan ( fog )( x) dan
( gof )( x).
50. Misalkan g ( x)  x 3 dan
 5 x, x  0

f ( x)   x,0  x  8
 x, x  8

Dapatkan ( fog )( x).
51. Misalkan f ( x)  1 .
x
(a). Jika g ( x)  x  1, Tunjukkan bahwa fog terdefinisi untuk semua x
2

walaupun f tak terdefinisi untuk x = 0.


(b). Dapatkan fungsi lain g sedemikian sehingga f o g terdefinisi untuk
semua x.
(c). Sifat apakah yang harus dimiliki fungsi g agar fog terdefinisi untuk
semua x.

52. Apakah selalu benar bahwa f o g = g o f ? Mungkinkah f o g = g o f ?

53. Tunjukkan benar atau salah : Untuk sebarang tiga fungsi f, g, h, berlaku f
o (g o h) = (g o h) o h

Untuk soa1 54-65, nyatakan f sebagai komposisi dua fungsi; yaitu, dapatkan
fungsi g dan h sedemikian sehingga f = g o h. (Tiap soal mempunyai lebih
dari satu penyelesaian yang benar)

54. f ( x)  x 2  1 55. f (x) = z  2 \57.


1 57. f (x) = (x – 5)7
56. f ( x) 
x 3 69. f (x) = |x2 – 3x + 5|
58. f (x) = a + bx 63. f (x) = sin2x
60. f (x) = 3 sin (x2)
104

62. f (x) = cos32x 3


64. f (x) = 3 sin 2 z + 4 sin x 63. f ( x)
5  cos x
3
65. f ( x)
3  tan x

66. Dapatkan fungsi-fungsi f, g dan h sedemikian sehingga


f ( g (h( x)))  sin x 2  3x  7
67. Dapatkan fungsi-fungsi f, g dan h sedemikian sehingga :
f ( g (h( x)))  3  sin 2 x

1 jika x rasional
68. Dapatkan (f o f ) (  ) jika f (x) = 
0 jika x rasional
69. Dapatkan f(x) jika diberikan f(x + 1) = x2 + 3x + 5 [Petunjuk: Misalkan u
= x + 1 dan dapatkan f(u)]
70. Diberikan f(x) = 0 hanya untuk x = 1 dan x = 2, dan g(x) = 2x-1,
dapatkan x sehingga (f o g)(x) = 0
71. Misalkan f(x) = x2, g(x) = sin x, dan h(x) = cos x.
(a). Dapatkan nilai numerik eksak dari f(g(0.3)) + f(h(0.3))
(b). Tunjukkan bahwa f(h(x)) - f(g(x)) = h(2x) untuk semua bilangan riil
x.
72. Jika f(x + y) = f(x) - f(y) untuk semua x dan y, tunjukkan bahwa f(x) = 0
untuk semua bilangan riil x.
73. Jika f(-x) = - f (x) untuk semua x, tunjukkan bahwa f(0) = 0.

Untuk soal 74-101, Buatlah sketsa grafik fungsinya

74. f(x) = 2x + 1 75. f(x) = 3x -3


76. G(x) = x, 1 < x < 2 77. G(x) = x, - 2, - 1 < x < 1
78. h(x) = x2 – 3 79. h(x) = (x – 2)2
80. f (x) = x  1 81. f(x) = 3  x
82. f(x) = 4  x2 83. f(x) = 2 + 9  x2
84. f(x) = 4 x  x 2 85. f(x) = 7  6 x  x 2
86. f(x) = 2 sin x 87. f(x) = 3 sin 2x
105

88. f(x) = 2 cos x 89. f(x) = 1 + cos x


x2  4 2x2  2x
90. f(x) = 91. f(x) =
x2 x
x3  x 2 x  x3
92. g(x) = 93. g(x) =
x 1 x
94.  ( x) 
x x  x3
95.  (x) =
| x| x
x2 , x  4  x  1, x  1
96. g ( x)   97. g(x) = 
0, x  4  3, x 1
 x  2, x  3 x2 , x  1
98. f ( x)   99. f(x) = 
 x,  4, x  3  2, x  1
 
 1, 0  x 1   2,  2  x  1
 
100. h( x)   3, 1 x  2 101. h( x)   1, x0
 1, 2 x3  2, 0  x  1
 
 0, x yang lainnya  0, x yang lainnya

102. Suatu fungsi f dengan domain [-2,5] mempunyai grafik yang tampak dalam
Gambar 2.1.33. Pergunakan grafik ini untuk mendapatkan grafik persamaan
(a). y = f(x+1) (b). y = f(2x)
(c). y = f( - x ) (d). y = - f (x)
y

x Gambar 2.1.33
-2 -1
-1
-2
106

x
-2 -1
-1

-2

Gambar 2.1.34

103. Persamaan y = |f (x| dapat ditulis sebagai


 f ( x), f ( x)  0
y= 
 f ( x), f ( x)  0
yang memperlihatkan bahwa grafik y = |f (x)| dapat diperoleh dari grafik
y = f(x) dengan mengambil bagian yang berada di atas sumbu x dan
mencerminkan terhadap sumbu x untuk bagian yang berada di bawah
sumbu y. Gunakan metode ini untuk mendapatkan grafik,y = |2x - 3| dari
grafik y = 2x - 3.

Untuk soal 104 dan 105, pergunakan metode pada soal 103

104. Buatlah sketsa grafik y = |x - 2|


105. Buatlah sketsa grafik
(a). f(x) = |cos x| (b). f(x) = cos x+ |cos x|
106. Fungsi bilangan bulat terbesar, [x], didefinisikan sebagai bilangan bulat
terbesar yang lebih kecil atau sama dengan x. Sebagai contoh, [2.7] = 2,
[-2, 3] =-3 dan [4] = 4. Buatlah sketsa grafik dari:
(a). f(x) = [x] (b). f(x) = [x2]
(c). f (X) = [x] 2 (d). f(x) = [sin x]
107. Suatu fungsi f disebut fungsi genap jika f(-x) = f(x) untuk setiap x dalam
107

domain f dan disebut fungsi gan,jil jika f(-x) = - f (x) untuk setiap x
dalam domain f. Untuk setiap soal berikut, klasifikasikan apakah fungsi
genap, ganjil atau tidak keduanya.
(a). f(x) = x 2 (b). f(x) = x3
(c). f (X) = [x] (d). f(x) = x + 1
x x
3
(e). f(x) (f). f(x) = 2
1 x
108. Dalam Gambar 2.1.35. telah dilukis sebagian dari grafik fungsi f. Lengkapi
grafik tersebut dengan asumsi
(a). f adalah fungsi genap (b). f adalah fungsi gasal [Lihat Soal 107
untuk terminologi.]
109. Klasisifikasikan fungsi-fungsi yang grafiknya dalam Gambar 2.1.35, apakah
genap, gasal atau tidak keduanya (lihat Soal 107 untuk definisi fungsi
genap dan gasal).

Gambar 2.1.36
Gambar 2.1.35

110. Dapatkah suatu fungsi genap sekaligus gasal? [Lihat soal 107 untuk
terminologi]
111. Buktikan bahwa hasil kali dari.
(a). dua fungsi genap adalah fungsi genap
(b). dua fungsi gasal adalah fungsi genap
(c). fungsi genap dan gasal adalah fungsi gasal [Lihat soal 107 untuk
terminologi)
112. Misalkan a adalah suatu konstanta dan andaikan bahwa f(a - x) = f(a +
x) untuk semua x. Sifat-sifat geometri apakah yang harus dipunyai oleh
grafik f ?
113. Dalam setiap soal berikut ini, apakah suatu persamaan mendefinisikan y
108

sebagai fungsi x, atau x sebagai fungsi y, atau kedua-duanya, atau bukan


kedua-duanya.
(a). 4x + 2y = -8 (b) xy3 = 1
xy
(c). 3x2 + 4y2 = 12 (d) 1
1  xy
114. Dalam setiap bagian nyatakan x secara explisit sebagai fungsi y
xy
(a). xy – x = 1 (b). y =
1 x
2 2
(c). x + 2xy + y = 0
115. Dalam setiap bagian nyatakan y secara eksplisit sebagai fungsi x.
1 y
(a). x2y – 1 = 0 (b). x =
1 y
2 2
(c). y + 2xy + x = 0
116. Tunjukkan bahwa y2 + 3xy + x 2 = 0 tidak mendefinisikan y secara
implisit sebagai fungsi x.
117. Tunjukkan bahwa y2 + 3xy + x2 = 0 tidak mendefinisikan y secara implisit
sebagai fungsi x.
118. Dalam Gambar 2.1.36 tentukan apakah kurva yang dimaksud
merupakan grafik suatu fungsi dari x, suatu fungsi dari y atau tidak
kedua-duanya.

Gambar 2.1.36
109

2.2. MACAM-MACAM FUNGSI

Pada sub-sub sebelumnya telah dibicarakan mengenai pengertian fungsi dan


teknik menggambar grafiknya. Pada sub -sub ini akan dibicarakan macam-
macam fungsi beserta beberapa sifatnya

Fungsi Aljabar
Fungsi-fungsi yang masuk dalam kelas furigsi alajabar adalah fungsi
rasional (terukur), fungsi irasional (tak terukur). Fungsi rasional meliputi fungsi
rasional bulat ( linear, kuadrat, pangkatan) dan fungsi rasional pecah. Fungsi
rasional bulat disebut juga suku banyak (polinom) yang dapat ditulis
y = ao + a1x + a2x + …+anxn , untuk n bilangan asli
Fungsi rasional bulat yang sering dijumpai adalah fungsi rassional bulat linier
(disebut fungsi linear) f(x) = mx + n dan fungsi rasional bulat kuadrat (fungsi
kuadrat) f(x) = ax' + bx + c.

Grafik fungsi linear adalah sebagai berikut :

Gambar 2.2.1 Gambar 2.2.2

Apabila persamaan garis ditulis dalam bentuk y = mx + n, maka


kemiringan garis dan perpotongan dengan y dapat ditentukan dengan
memeriksa persamaannya, sebagai berikut : kerniringan garis adalah koefisien
110

dari x dan perpotongan dengan sumbu-y adalah suku konstan (konstanta), lihat
Gambar 2.2.3.

Gambar 2.2.3

Contoh:

PERSAMAAN KEMIRINGAN PERPOTONGAN -y


y = 3x+7 m =3
n=7
1 m = -1 1
y=-z+ n=
2 2
y=x m=1 n=0
y = 2x  8 m= 2 n= - 8
y=2 m=0 n=2

Kemiringan dapat diinterpretasikan sebagai berikut; misalkan suatu


partikel bergerak dari kiri ke kanan sepanjang ruas garis (tak tegak) dari titik
P1(x 1 , y 1 ) ke titik P2(x2,y2). Seperti ditunjukkan.pada Gambar 2.2.4, partikel
itu bergerak y2 – y1 satuan dalam arah-y dan x 2 – x 1 dalam arah-x positif.
Perubahan tegak y2 – y1 disebut rise, dan perubahan datar x2 – x1 disebut run.
111

Gambar 2.2.4

Dengan menggunakan analogi pengertian pengamat tentang kemiringan di


atas dapat dibuat definisi sebagai berikut:

DEFINISI 2.5 Jika P 1 (x 1 ,y 1 ) dan P 2(x 2,y2) titik-titik pada bidang


koordinat, maka kemiringan m dari garis tersebut didefinisikan dengan
rise y2  y1
m 
run x2  x1

Beberapa pengamatan mengenai Definisi 2.5:


 Definisi 2.5 tidak diterapkan untuk garis tegak. Untuk garis tegak akan
diperoleh x2 = x1, sehingga Teorema 2.5 memuat pembagian dengan
nol. Kemiringan garis tegak tidak didefini'sikun. Secara informal,
dapat dikatakan bahwa garis tegak mempunyai kemiringan tak
hingga
 Jika digunakan Teorema 2.5 untuk menghitung kemiringan suatu
garis yang melalui dua titik, maka pemilihan titik . Pl dan P 2 dapat
dilakukan sebarang, karena pembalikan titik-titik tersebut akan
membalik tanda dari pembilang maupun penyebut pada Teorema 2.5,
oleh karena itu tidak berpengaruh pada perbandingannya.
 Dua titik sebarang yang berbeda pada suatu garis tak tegak dapat
digunakan untuk menghitung kemiringan dari garis tersebut; yaitu,
kemiringan m dihitung dari sepasang titik Pl dan P2 yang berbeda
pada garis itu akan sama dengan kemiringan m' yang dihitung dari
pasangan titik P 1 dan P2 yang lain pada garis yang sama. Walaupun
tidak diberikan bukti formalnya, pembaca dapat mengambil
112

kesimpulan tersebut dari Gambar 2.2.5 dengan menggunakan segitiga


y  y1 y 2'  y1'
yang serupa untuk menunjukkan bahwa : m  2   m'
x2  x1 x2'  x1'

Gambar 2.2.5

Contoh: Pada setiap bagian tentukan kemiringan dari garis yang melalui .
(a) titik (6,2) dan titik (9,8)
(b) titik (2,9) dan titik (4,3)
(c) titik (-2,7) dan titik (5,7

Penyelesaian:
82 6 39 6
(a). m   2 (b). m    3
96 3 42 2
77
(c). m  0
5  (2)
Sekarang perhatikan bagaimana mendapatkan persamaan garis tak tegak l
yang melalui titik P l(x1,y1) dan mempunyai kemiringan m. Jika P(x,y) sebarang
titik pada l, yang berbeda dengan P1, maka kemiringan m dapat diperoleh dari
y  y1
titik P(x, y) dan P 1 (x1,y1 ); sehingga diperoleh m  yang dapat ditulis
x  x1
y – y 1 = m (x - xl)
Jelas bahwa semua titik yang terletak pada garis l memenuhi persamaan
113

y – y 1 = m (x - xl, termasuk x = xl, y = y1. Oleh karena itu, secara ringkas


diperoleh teorema berikut.

TEOREMA 2.6 Garis melalui P t(xl, yl,) dan mempunyai kemiringan m


diberikan oleh persamaan y - yl = m(x - xl)
Persamaan ini disebut bentuk titik-kemiringan suatu garis.

Contoh: Tentukan persamaan garis melalui (4,-3) dengan kemiringan 5.

Penyelesaian:
Dengan substitusi nilai-nilai xl = 4, y l = -3, dan m = 5 pada Teorema 2.6
diperoleh bentuk persamaan garis y + 3 = 5(x - 4).

Selanjutnya akan dibicarakan suatu fungsi aljabar yang disebut fungsi


kuadrat. Suatu fungsi kuadrat dalam x, ditulis dalam persamaan y = ax2 + bx
+ c mempunyai grafik yang disebut parabola dengan salah satu bentuknya
ditunjukkan dalam Gambar 2.2.6 bergantung apakah a positif atau a
negatif. Dalam kedua kasus di atas, parabola simetris terhadap garis tegak
sejajar sumbu-y. Garis simetri ini memotong parabola pada suatu titik yang
disebut puncak. Puncak tecsebut merupakan titik terendah atau tertinggi pada
kurva, jika a > 0 maka y mempunyai terendah. Sementara itu, y mempunyai
titik tertinggi jika a < 0.

Gambar 2.2.6

Dapat ditunjukkan bahwa sumbu simetri dari parabola di atas


b
diberikan oleh rumus x   .
2a
114

Contoh: Buatlah sketsa grafik dari

(a). y = x2 - 2x - 2 (b). y = x 2 + 4x - 5

Penyelesaian:
(a). Bentuk baku persamaan kuadrat y = ax2 + bx + c, memberikan a = 1, b = -
b
2, dan c = -2, sehingga diperoleh koordinat-x dari puncak adalah x  1.
2a
Dengan menggunakan nilai ini dan dua nilai pada tiap sisi, diperoleh

Gambar 2.2.7
(b). Dengan cara yang sama untuk soal (a), diperoleh a = -1, b = 4, dan c = -
5, serta koordinat-x dari puncak adalah
b
x 2
2a
Menggunakan nilai ini dan dua nilai pada tiap sisi, diperoleh tabel dan
grafik dalam Gambar 2.2.8.

Gambar 2.2.8
115

Perpotongan suatu parabola y = ax2 +bx + c dengan sumbu-sumbu


koordinatt perlu untuk diketahui. Perpotongan dengan sumbu-y, y = c, didapat
langsung dengan memberikan x = 0. Untuk mendapatkan perpotongan-x, jika
ada, haruslah diberikan y = 0 dan kemudian menyelesaikan,persamaan
kuadrat yang dihasilkan ax 2 +bx + c = 0.

Contoh: Suatu bola dilempar lurus keatas dari permukaan bumi pada waktu t =
0 detik dengan kecepatan awal 24.5 m/det. Jika gesekan udara diabaikan, dapat
ditunjukkan bahwa jarak s (dalam meter) dari bola itu ketanah setelah t detik
diberikan oleh

s = 24.5t – 4.9t 2

(a). gambarkan grafik s terhadap t, dengan membuat sumbu t datar dan


sumu s tegak.
(b). Berapa tinggi maksimum bola tersebut ?

Penyelesaian:

(a). Persamaan s = 24.5t – 4.9t 2 mempunyai bentuk persamaan kuadrat dengan


a = -4.9, b = 24.5, c = 0, sehingga diperoleh koordinat t dari puncaknya adalah

b 24.5
t=- =- = 2.5 det
2a 2(4.9)

dan akibatnya koordinat s dari puncak tersebut adalah

s = 4.5(2.5) – 4.9(2.5) 2 = 30.625m

Persamaan s dapat dinyatakan

s = 4.9t(5 – t)

Sehingga grafiknya mempunyai perpotongan-t t = 0 dan t = 5. Dari puncak itu


dan perpotongannya diperoleh grafik yang ditunjukkan dalam Gambar 2.2.9.
116

s = 4.9t(5 – t)

Gambar 2.2.9.

(b). Dari koordinat-s puncaknya dapat disimpulakn bahwa bola tersebut naik
30.625 m di atas tanah.

Jika x dan y bertukar posisi pada persamaan kuadrat y = ax2 + bx + c, maka


diperoleh persamaan
x = ay2 + by + c
yang disebut persamaan kuadrat dalam y. Grafik persamaan demikian berupa
parabola dengan garis simetri yang sejajar dengan sumbu-x dan puncaknyadi
titik dengan koordinat-y di y = -b/(2a) (Gambar 2.2.10).

Gambar 2.2.10
117

Fungsi aljabar lainnya adalah fungsi rasional yang mempunyai bentuk

a0  a1 x  ...  am x m
f(x) =
b0  b1 x  ...  an x n
Grafik dari fungsi rasional akan dibicarakan pada bab lain setelah pembaca
paham tentang limit dan turunan fungsi. Sebagai akhir pembicaraan tentang
kurva-kurva fungsi aljabar, dalam Gambar 2.2.11 diberikan bentuk-bentuk
dasar dari grafik fungsi aljabar.

Fungsi Invers

Sebelum lanjut pada jenis-jenis fungsi lainnya, terlebih dahulu akan dibahas pengertian
fungsi invers beserta eksistensi dan cara mendapatkannya.

Konsep dari penyelesaian persamaan y = f(x) untuk x sebagai fungsi dari y,


ditulis x = g(y), merupakan suatu ide yang penting dalam matematika. Kadang-
kadang penyelesaian dengan cara sepeti diatas merupakan proses yang
sangat sederhana.
Sebagai contoh, dengan aljabar elementer, persamaan y = 5x + 1 (y = f(x)).
1
Dapat diselesaikan dengan x sebagai fungsi dari y, y = (y – 1) (x = g(y)).
5
Tidak jarang pula penyelesaian suatu persamaan y = f(x) dengan x dinyatakan
dalam y tidak menghasilkan ekspresi tunggal dari x sebagai fungsi y. Suartu
contoh, dengan aljabar dapat diselesaikan y = x2. Untuk x yang dinyatakan
dalam y sebagai x =  y , yang bukan merupakan fungsi tunggal dari y,
tetapi dapat dipandang sebagai dua fungsi dari y yaitu x = y dan x =
- y . Ada kalanya juga fungsi f cukup rumit, sehingga tidak mungkin
mendapatkan sebanyak berhingga operasi aljabar untuk menghasilkan
sin x  x 3
penyelesaian dari y = . Jika x yang dinyatakan dalam y. Jadi
ex
walaupun tidak terdapat langkah-langkah aljabar yang pasti untuk menulis
kembali y = f(x) dengan x = g(y) tidak berarti bahwa tidak terdapat fungsi g
yang demikian. Kasus seperti ini merupakan merupakan salah satu tujuan
terpenting pembahasan dalam bagian ini. Untuk itu, perhatikan dulu
persamaan-persamaan
118

y = x3 + 1 y = f(x)

x= 3 y 1 x = g(y)

dimana yang satu diperoleh dari yang lainnya lewat aljabar elementer
(buktikan). Fungsi f dan g dalam contoh ini mempunyai sifat bahwa jika
mereka dikomposisikan dengan urutan tertentu, maka dapat menghapus
pengaruh yang lainnya dalam arti bahwa
f(g(y)) = [g(y)]3 +1 =( 3 y  1 )3 + 1 = y
g(f(x)) = 3 f ( x)  1 = 3
( x3  1)  1 = x

x = f(y) = y2 x = f(y) = -y2


f (x) = x2 f (x) = -x2

3
F(x) = x F(x) = x
F(x) =  x F(x) = x3

1 1 1 1
F(x) = F(x) = - F(x) = F(x) = -
x x x2 x2
Gambar 2.2.11
119

Pasangan fungsi-fungsi yang menghapus pengaruh dari yang lainnya menjadi


begitu penting sehingga diperoleh suatu terminologi seperti deinisi berikut ini.

DEFINISI 2.7. Jika fungsi-fungsi f dan g memenuhi dua kondisi.


f(g(x)) = x untuk setiap x dalam domain g
g(f(x)) = x untuk setiap x dalam domain f
maka dapat dikatakan bahwa f invers dari g dan g invers dari f atau secara
singkat dikatakan bahwa f dan g merupakan fungsi-fungsi saling invrers

1
Contoh: Fungsi f(x) = 2x dan g(x) = x adalah fungsi invers sebab:
2
1 1
f(g(x)) = f ( x) = 2( x) = x
2 2
1
f(g(x)) = g(2x) = (2x) = x
2
dengan cara yang sama, f(x) = x 1/3 dan g(x) = x3 adalah fungsi Invers sebab

f(g(x)) = f(x3) = (x3) 1/3 = x


g(f(x)) = g(x 1/3) = (x1/3)3 = x

Dapat di tunjukkan, bahwa suatu fungsi tidak dapat mempunyai dua invers
yang berbeda, itu barrti, jika f mempunyai suatu invers, maka invers itu
tunggal dan di sebut suatu invers dari f. invers dari f biasanya dinotasikan
dengan f -1 (baca,” f invers). Jadi, dari Defenisi 2.7, bahwa

f(f -1(x)) = x untuk setiap x dalam domain dari f -1


f(f -1(x)) = x untuk setiap x dalam domain dari f

1
Peringatan. Simbol f -1 tidak berarti .
f
1
Contoh: Tentukan invers dari fungsi f(x) = x dan g(x) = 2x.
2
1
f -1(x) = 2x dan g -1(x) = x
2
120

Dengan cara yang sama, jika f(x) = x 1/3 dan g(x) = x3, maka

f -1(x) = x3 dan g -1(x) = x 1/3

Domain dan range dari fungsi invers mempunyai hubungan sederhana :


Range dari f -1 = domain dari f
Domain dari f -1 = range dari f

Penyelesaian y = f(x) untuk x sebagai Fungsi dari y


Persoalan mendapatkan invers fungsi f sangat terkait dengan masalah
penyelesaian persamaan y = f(x) untuk x sebagai fungsi dari y. untuk dapat
memahami hal ini, diasumsikan bahwa f mempunyai invers, f-1, dan operasikan
f-1 pada kedua sisi dalam persamaan y = f(x) diperoleh

f -1(y) = f -1
(f(x)) = x

yang menyatakan x sebagai fungsi dari y. hasil ini dapat dituliskan dalam
definisi sebagai berikut.

DEFINISI 2.8. jika fungsi f mempunyai invers, maka dapat dikatakan


bahwa y = f(x) dapat diselesaikan untuk x sebagai fungsi dari y dan x = f -1
(y) disebut penyelesaian dari y = f(x) untuk x sebagai fungsi dari y.

Definisi ini konsisten dengan hasil yang dipelajari dalam aljabar. sebagai
contoh, dalam aljabar penyelesaian y = x -3 untuk x yang dinyatakan dalam y
adalah x = y1/3, tetapi jika dimisalkan f(x) = x3, maka diperoleh f-1(y) =y 1/3,
sehingga penyelesaian untuk x sebagai fungsi dari y menurut definisi
sebelumnya adalah x = y 1/3, yang sesuai dengan hasil aljabar.

Eksistensi dari Fungsi Invers


Selanjutnya dibicaarakan masalah penentuan fungsi-fungsi yang mempunyai
invers atau ekivalensi persamaan-persamaan yang mempunyai bentuk y = f(x)
yang dapat diselesaikan untuk x sebagai fungsi y. teorema beikut merupakan
jawaban dari pernyataan ini.
121

TEOREMA 2.9. (uji garis datar) pernyataan-pernyataan berikut adalah


ekivalen :
(a). Fungsi f mempunyai suatu invers
(b). Grafik f dipotong tepat pada satu titik oleh sebarang garis datar
(c). Fungsi f tidak mempunyai nilai yamng sama pada dua titik yang
berbeda dalam domainnya / yaitu x1  x2, maka f(x1)  f (x2)
Ekifalensi bagian (b) dan (c) cukup jelas, sebab banyak titik potong grafik f
dengan garis datar berkorespondensi dengan titik-titik pada sumbu x dimana f
mempunyai nilai yang sama (Gambar 2.2.12). jadi hanya perlu dibuktikaan
bahwa bagian (a) dan (c) ekivalen.

y
y = f (x)

x
x1 x2

Gambar 2.2.12

Bukti: [ (a)  (c) ] Diasumsikan bahwa f mempunyai invers. Jika x1 dan x2


titik-titik dalam domain f sehingga f(x1) = f(x2) , maka penerapan f -1 pada
kedua sisinya, diperoleh f -1f(x1)) = f -1(f(x2) atau x1 = x2. Jadi jika x1  x2 ,
haruslah f(x1)  f(x2).
[ (c)  (a) ]. Misalkan y = f(x), dan asumsikan bahwa f tidak mempunyai nilai
sama pada dua titik yang berbeda; itu berarti, setiap y dalam range f berasal
dari x yang tunggal dalam domain. Jadi dapat didefinisikan suatu fungsi g
dengan persamaan g(y) = x dengan domain adalah range f; sehingga diperoleh
g(f(x)) = x.
Untuk semua x didalam domain f, jika disubtitusikan x = g(y) kedalam y = f(x),
diperoleh y = f(g(x)) atau ekialen dengan f(g(y)) = y. Dengan demikian, g
adalah invers dari f.
122

Suatu fungsi yang memenuhi sebarang sifat dari ketiga sifat dalam Teorema
2.9 dikatakan fungsi satu-satu. Jadi, untuk mengatrakan f satu-satu sama
dengan mengatakan bahwa f mempunyai invers atau bahwa persamaan y = f(x)
dapat diselesaikan untuk x sebagai fungsi dari y.

y = x3

Gambar 2.2.13

Contoh : Fungsi f(x) = x3 satu-satu sebab dua bilangan berbeda mempunyai


nilai fungsi yang berbeda; yaitu, jika x1  x2, maka (x1)3  (x2)3. Secara
geometri, tidak ada garis datar yang memotong grafik f(x) = x3 mempunyai
invers dan bahwa persamaan y = x3 dapat diselesaikan untuk x sebagai fungsi
dari y adalah x = y1/3, sehingga fungsi invers dari f (dinyatakan dengan y
sebagai peubah bebas) adalah f -1 (y) = y1/3.

y y = x2

Grafik y = x2 memotong
lebih dari satu kali dengan
beberapa garis mendatar

-2 2

Gambar 2.2.14
123

Contoh : Fungsi f(x) = x2 tidak satu-satu sebab terdapat titik-titik yang


berbeda dalam domain f yang mempunyai kuadrat yang sama; contoh, f(-2) = 4
dan f(2) = 4. secara geometri, terdapat gris mendatar yang memotong grafik
grafik y = x2 lebih dari satu kali (Gambar 2.2.14). Ini berarti bahwa f tidak
mempunyai invers dan bahwa persamaan y = x2 tidak dapat diselesaikan untuk
x sebagai fungsi (tunggal) dari y. jadi, seperti dijelaskan sebelumnya bahwa
penyelesaian persamaan ini untuk x yang dinyatakan dalam y menghasilkan
lebih dari satu fungsi dariy, yaitu x = y dan x = - y .

Mendapatkan Rumus f-1


Jika f fungsi satu-satu dan f cukup sederhana, dengan persamaan y = f(x) dapat
diselesaikan ecara aljabar untuk x sebagai fungsi dari y, maka hasil persamaan
x = f-1(y) akan memberikan suatu rumus untuk f-1 dengan y sebagai peubah
bebas. Selanjutnya, dapat dilakukan dengan pembalikan peran x dan y. Jadi,
teknik aljabar jika diperlukan dapat dikerjakan prosedur berikut untuk
menghasilkan rumus untuk f -1(x).

Langkah 1. Tukarkan x dan y dalam persamaan y = f(x) untuk


menghasilkan persamaan x = g(y)
Langkah 2. Selesaikan persamaan x = g(y) untuk y sebagai fungsi dari x.
Langkah 3. Hasil persamaan dalam Langkah 2 adalah y = f -1(x), yang sisi
kanannya merupakan rumus untuk f -1(x).

Contoh : Dapatkan invers dari f(x) = 3x  2

Penyelesaian :
Pertama diperkenalkan peubah tak bebas y = f(x); diperoleh y = 3x  2
Dengan menukarkan x dan y dalam persamaan ini dan kemudian selesaikan
untuk y diperoleh

x = 3y  2
x2= 3y -2
y = 1/3 (x2 + 2)

Selanjutnya dapat diperoleh f -1 (x) = 1/3 (x2 = 2).


124

Sampai disini telah dipeoleh rumus f-1(x); meskipun tidak diselesaikan dengan
lengkap, sebab tidak ada jaminan bahwa domain alami yang terkait dengan
rumus ini merupakan domain yang benar untuk f -1. Diperlukan suatu analisa
terpisah sebagai berikut.
Range dari f(x) = 3x  2 adalah [0,  ], sehingga selang ini juga merupakan
domain f -1. Jadi, invers dri f adalah.
f -1(x) = 1/3 (x2 + 2), x  0.

Grafik dari Fungsi Invers


Sekarang akan diselidiki hubungan antara grafik fungsi satu-satu dan grafik
inversnya. Untuk maksud ini dinyatakan bahwa titik (a,b) dan (b,a) simetris
pada garis y = x, dalam atri garis ini tegak lurus membagi dua ruas garis yang
menghubungkan titik-titik tersebut (Gambar 2.2.15)

y
y=x
(b,a)

Garis y = x tegak lurus


a (a,b) membagi dua ruas garis
yang menghubungkan (a,b)
x dan (b,a)
b
a

Gambar 2.2.15

Dalam kasus ini, bahwa penukaran koordinat x dan y dari suatu titik
mencerminkan titik tersebut pada garis y = x, dan penukaran peubah x dan y
dalam persamaan mencerminkan persamaan itu pada garis y = x. Selanjutnya,
dari sini bahwa grafik y = f-1(x) yang sama dengan grafik x = ƒ(y) merupakan
pencerminan pada garis y = x dari grafik y = ƒ(x), sebagaimana diilustrasikan
dalam gambar 2.2.16 secara singkat, diperoleh teorema berikut ini.
125

TEOREMA 2.10. Jika ƒ fungsi satu-satu, maka grafik y = ƒ(x) dan y = ƒ-1(x)
merupakan pencerminan dari satu dengan lainnya pada garis y = x; itu
berarti, setiap bayangan mencerminkan dari lainnya.

y y=x
y = ƒ-1(x)
(b,a)

(a,b)
y = ƒ(x)
x

Gambar 2.2.16

Contoh : Gambar 2.2.17 mengilustrasikan grafik suatu fungsi dan fungsi


invers
y = 2x
y
y=x
y
y=x
3
y= x
1 1
y= x y = x3
2
x
x
126

y
y=x
1
y = ( x 2 + 2)
3

y= 3x  2

Gambar 2.2.17

Catatan. Terminologi fungsi invers dan invers fungsi adalah dua hal yang
berbeda (Mengapa?, Jelaskan!).

Fungsi Trigonometri dan Invers Fungsi Trigonometri

Pada bagian awal sub-bab ini telah dibicarakan fungsi-fungsi yang termasuk kelas fungsi
aljabar, pada bagian berikutnya akan dibicarakan fungsi-fungsi yang termasuk dalam kelas
fungsi transenden yaitu fungsi-fungsi yang tidak termasuk kelas fungsi aljabar. Fungsi-fungsi
transenden meliputi fungsi Trigonometri, Invers Trigometri (Siklometri), Logaritma,
Eksponensial, Hiperbolik serta Invers Hiperbolik.

Misalkan titik P(x,y) berjarak satu satuan dari titik O(0,0), yaitu x2  y 2 = 1
dan misalkan  adalah sudut X  OP dengan arah positif yaitu arah berlawanan
dengan arah gerakan jarum jam, dengan X  titik pada sumbu-x positif.

sin  = y, cos  = x
127

sebagaimana tampak pada Gambar 2.2.18.

 x

Gambar 2.2.18

Dalam kalkulus, besar sudut selalu dinyatakan atau diukur dengan radian

1800 =  radian

10 = radian
180
1800
1 radian =

 = 3,14159

Didefinisikan :

sin  cot 
tan = , cot  =
cos  sin 
1 1
sec = , csc =
cos  sin 

Kurva fungsi trigonometri ditunjukkan pada Gambar 2.2.19 dan Gambar


2.2.21. Sifat-sifat dari trigonometri :

1. cos 2 x  sin 2 x  1
2. cos( x)  cos x , sin( x)   sin x
3. cos( x  2 )  cos x , sin( x  2 )  sin x
128

4. cos( x  y)  cos x cos y  sin x sin y


5. sin( x  y)  sin x cos y  cos x sinh y
6. 1  tan2 x  sec2 x
7. 1  cot 2 x  csc2 x

y = sin x y

1
x
   

2 -1 2

Gambar 2.2.19

Seperti tampak pada Gambar 2.2.19, kurva y = sin x pada selang [ ,  ]
dipotong oleh suatu garis datar lebih dari satu titik . Hal ini berarti pada selang
[ ,  ] tidak mempunyai invers. Supaya fungsi dengan
persamaan y  sin x mempunyai invers perlu ada pembatasan domainnya, yaitu
pada [ / 2, / 2] sebagaimana tampak pada bagian kurva yang ditebalkan.
Fungsi invers sinus, ditulis sin-1 didefinisikan sebagai invers dari fungsi y = sin
x, untuk x  [ / 2, / 2]. Perlu diperhatikan bahwa, sin-1 x tidak sama dengan
1
. Jika diperlukan,1/sin x dapat dituliskan dengan (sin x)-1 atau csc x.
sin x
Fungsi sin-1 x juga dinamakan fungsi arcsine, yang dalam hal ini dituliskan
dengan arcsin x. Karena sin x,   / 2     /2, mempunyai domain
  2 ,  2 dan range 1,1 , maka diperoleh bahwa
domain untuk sin 1 adalah selang  1,1
range untuk sin 1 x adalah selang   2 ,  2
dan
129

 
sin 1 sin x = x jika  x
2 2

sin sin 1
x =x jika 1  x  1

Selanjutnya, grafik y  sin 1 x dapat diperoleh dengan mencerminkan


grafik y  sin x,   2  x   2 (yang berupa garis tebal dalam Gambar
2.2.19), terhadap
y
 y  sin 1 x
2
x
1 1


 Gambar 2.2.20
2

Garis y = x. Perhatikan bahwa sin 1 x adalah fungsi kontinu karena merupakan


invers dari suatu fungsi kontinu.
Perhatikan persamaan sin y = x dengan  1  x  1 dan   2  y   2 .
Jika diambil sin 1 pada kedua ruasnya diperoleh y  sin 1 x . Hasil inidisajikan
dalam teorema berikut.

TEOREMA 2.11
 1  x  1
y  sin 1 x ekivalen dengan sin y = x jika 
  2  y   2

Jika y dipandang sebagai sudut dalam raian, maka syarat aljabar dalam
Teorema 2.11 agar y terletak pada selang   2,  2 mengakibatkan syarat
gepometri bahwa sin 1 x merupakan sudut yang berada pada kuadran pertama
atau ke-empat atau pada suatu sumbu yang berdampingan dengan kuadran-
kuadran tersebut. Jadi, dari sudut pandang geometri sin 1 x adalah suatu sudut
yang sinusnya adalah x dan berada pada kuadran pertama atau ke-empat (atau
pada sumbu-y yang berdampingan).
130

Contoh: Dapatkan

1
(a). sin 1   
(b). sin 1  1 2  (c). sin 1  1
2

Penyelesaian:
1
(a). Misalkan y = sin 1   . Dari Teorema 2.11 persamaan ini ekivalen dengan
2
1
sin y  ,   2  y   2 . Dengan memandang y sebagai sudut dalam
2
ukuran radian, tampak bahwa y terletak dalam kuadran pertama karena sin y >
0. Jadi, dicari suatu sudut dikuadran pertama yang mempunyai nilai sinus 1/2.
1
Sudut yang dimaksud adalah y   6 , sehingga sin 1     6 .
2

(b). Misalkan y = 
sin 1  1 
2 . Persamaan ini ekivalen dengan
sin y   1 2 ,   2  y   2 . Dengan memandang y sebagai sudut dalam
radian, maka y terletak dalam kuadran ke-empat karena sin y < 0. Jadi, dicari
suatu sudut yang terletak di kuadran ke-empat yang mempunyai nilai sinus
1 2 . Sudut yang diinginkan adalah y   4 , sehingga

sin 1  1 
2   4.

(c). Misalkan y  sin 1  1 . Persamaan ini ekivalen dengan sin y = - 1 dan


diperoleh bahwa y    2 . Jadi sin 1  1    2 .

Sebagaimana didefinisikan dari sin 1 x , invers-invers dari fungsi-


fungsi trigonometri yang dapat didefinisikan dengan pembatasan pada domain
fungsi-fungsi tersebut. Karena invers cotangen dan cosecan dianggap kurang
penting, maka pembicaraan akan difokuskan pada definisi invers cosinus,
tangen dan secan. Invers dari fungsi-fungsi tersebut didefinisikan sebagai
invers dari fungsi-fungsi grafiknya ditunjukkan dengan garis tebal dalam
Gambar 2.2.21.
131

1
x
3    3

2 -1 2 2

y = sec x

y
1
x
    3

2 -1 2 2

y = cos x
y

   
2 2

y = tan x
Gambar 2.2.21
132

Perhatikan bahwa dalam ketiga kasus di atas fungsi-fungsi yang dibatasi


tersebut memenuhi uji garis datar, dan oleh karena itu mempunyai invers.

DEFINISI 2.12

a). Fungsi invers cosinus, ditulis cos 1 , didefinisikan sebagai invers dari
fungsi cos x, 0  x   .
b). Fungsi invers tangen, ditulis tan 1 , didefinisikan sebagai invers dari
fungsi tan x,   2  x   2 .
c). Fungsi invers secan, ditulis sec 1 , didefinisikan sebagai invers dari
fungsi sec x, 0  x   2 atau   x  3 2 .

Grafik-grafik untuk cos 1 x , tan 1 x , dan sec 1 x , pada Gambar 2.2.22,


merupakan pencerminan terhadap garis y = x dari grafik-grafik yang digambar
tebal dalam Gambar 2.2.21.
y y
 
2 x
x
-1 1 

2
y  cos 1 x

y  tan 1 x
3
2



2

-1 1

Gambar 2.2.22
y  sec 1 x
133

Catatan. Tidak ada kesepakatan umum di antara matematikawan tentang


range dari sec1 x . Beberapa penulis mendefinisikan sec1 x dengan
membatasi domain sec x sedemikian sehingga 0 ≤ x < π/2 atau π/2 < x ≤ π.
Pembatasan seperti ini akan bermanfaat pada materi turunan dan integrasi.

Hasil berikut ini merupakan akibat langsung dari Definisi 2.12. Pembaca
sebaiknya memperhatikan bahwa semua domain dan range-nya bersesuain
dengan Gambar 2.2.22.

FUNGSI DOMAIN RANGE HUBUNGAN DASAR

cos 1 x  1,1 0,   cos 1 cos x   x jika 0  x  


 
cos cos 1 x  x jika  1  x  1

tan 1 x  ,   2,  2 tan 1 tan x   x


jika   2 x  2
 
tan tan 1 x  x jika
   x  

sec 1 x  ,1  1, 0,  2   , 3 2 sec 1 sec x  x jika


0 x  2

  x  3 2
 
sec sec 1 x  x
jika x  1 atau x  1

Teorema berikut ini ekuivalen dengan Teorema 2.11.


134

TEOREMA 2.13
1  x  1
y = cos 1 x ekivalen dengan cos y = x jika 

0  y  
    x  
y = tan 1 x ekivalen dengan tan y = x jika 
  2  y   2
 x 1
y = sec1 x ekivalen dengan sec y = x jika 
0  y  3 2
 x  1
atau 
  y  3 2

Jika y dipandang sebagai suatu sudut dalam radien, maka syarat aljabar
dalam bagian pertama Teorema 2.13 agar y terletak pada selang [0,π] akan
menentukan syarat geometri bahwa y adalah sudut yang terletak di kuadran
pertama atau kedua atau pada suatu sumbu yang berdampingan dengan
kuadran-kuadran tersebut. Jadi, dari sudut pandang geometri, cos 1 x suatu
sudut yang mempunyai cosinus x dan terletak di kuadran pertama atau kedua
atau pada suatu sumbu yang berdampingan. Demikian pula, tan 1 x sudutnya x
dan berada di kuadran pertama atau ke-empat atau pada sumbu- x positif, dan
sec1 x adalah sudut yang mempunyai secan x dan terletak di kuadran pertama
atau ke-tiga atau pada sumbu- x .


Contoh: Dapatkan cos 1  3 / 2 . 
Penyelesaian:
 
Misalkan y = cos 1  3 / 2 . Hal ini ekivalen dengan

cos y =  3 / 2

Dengan memandang y sebagai sudut dalam ukuran radian, dapat diperoleh


bahwa y berada dalam kuadran kedua karena cos y < 0. Jadi dicari sudut yang
135

berada pada kuadran kedua yang memiliki cosinus  3 / 2 . Sudut yang



diinginkan adalah y =5π/6, sehingga cos 1  3 / 2 =5π/6 
Sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 2.2.22, grafik dari y = tan 1 x
memiliki dua asimtot datar: y =   2 untuk x mendekati +  dan y =   2
untuk x mendekati -  . Dengan menyatakan pengamatan ini sebagai limit
diperoleh

lim tan 1 x    2 dan lim tan 1 x   2


x  x 

Berikut batasan domain dan range invers fungsi cotangen dan cosecan
beserta beberapa sifatnya.

DOMAIN RANGE PERNYATAAN YANG EKIVALEN


FUNGSI (NILAI x) (NILAI y)

cot 1 x  , 0,   y  cot 1 x dan x  cot y


csc 1 x  ,1  1,   ,   2  0,  2 y  csc 1 x dan x  csc y

Pembaca dipersilahkan untuk menunjukkan bahwa grafik dari y  cot 1 x dan


y  csc 1 x seperti Gambar 2.2.23 dan Gambar 2.2.24.

y
y

2 x

-1 1
 
 
2 2
x


y  cot 1 x y  csc 1 x

Gambar 2.2.23 Gambar 2.2.24


136

Untuk enam fungsi invers trigonometri tersebut di atas, pembatasan


domain tidak hanya untuk menghasilkan fungsi satu-satu, tetapi juga untuk
menjaminan bebas kesamaan “natural” tertentu dipenuhi oleh fungsi-ungsi
invers trigonometri. Sebagai contoh,  dan  adalah sudut lancip
komplementer, maka dari trigonometri dasar, sin  dan cos  adalah sama
(Gambar 2.2.25). Jika x  sin   cos  maka

  sin 1 x dan   cos 1 x

Karena      2 , dapat diperoleh kesamaan


sin 1 x  cos 1 x 
2

sin   cos 

Gambar 2.2.25

Karena  dan  diasumsikan sebagai suut lancip yang tak negatif,


penurununan ini hanya valid untuk 0  x  1; penurunja valid untuk semua x
dalam [-1, 0]. Dengan cara yang sama dapat diperoleh kesamaan

 
tan 1 x  cot 1 x  dan sec 1 x  csc 1 x  .
2 2

Pada bagian berikut fungsi-fungsi yang merupakan campuran fungsi


trigonometri dan fungsi invers trigonometri dan contoh-contoh berikut sebagai
ilustrasi cara menyederhanakan fungsi-fungsi yang dimaksud.
137

Contoh: Sederhanakan fungsi cos sin 1 x 


Penyelesaian:
Ide penyelesaiannya adalah menyatakan cosinus dalam suku-suku sinus agar
 
diperoleh kemudahan dalam penyederhanaan cos sin 1 x yang iawali dengan
kesamaan
cos 2 y  1  sin 2 y

dan subsitusikan y  sin 1 x untuk memperoleh

   
cos 2 sin 1 x  1  sin 2 sin 1 x  1  x 2

selanjutnya dengan mengambil akar kuadratnya didapat

 
cos sin 1 x  1  x 2

Penyelesaian alternatif:
Dalam kasus, dengan 0  x  1 , ada kemungkinan alternatif penyelesaian
secara geometri. Misalkan y  sin 1 x dan dibuat segetiga siku-siku dengan
sudut y seperti ditunjukkan dalam Gambar 2.2.26. Berdasarkan definisi y
bahwa sin y = x, sehingga dapat diasumsikan bahwa sisi di depan sudut y
mempunyai panjang x dan sisi miringnya mempunyai panjang 1, karena nilai-
x
nilai tersebut menghasilkan sin y   x . Dari Teorema Pythagoras, sisi yang
1
terdekat sudut y mempunyai panjang 1   2 . Sehingga

sisi alas 1  2
cos y    1  2
sisi miring 1

atau cos(sin 1  )  1   2

Contoh: Gunakan metode segitiga uintuk menyederhanakan fungsi


1
sec (tan x) .
138

l 1 x2 x
x Gambar 2.2.26 Gambar 2.2.27
y y
1 x 2
1

y  sin 1 x y  tan 1 x

Penyelesaian:
Dalam kasus x  0 dapat dimisalkan y  tan 1 x . Dan dibuat segitiga siku-siku
dengan sudut y seperti yang ditunjukkan oleh gambar 2.2.27.
Berdasarkan definisi dari y tampak bahwa tan y  x , sehingga dapat
diasumsikan bahwa sisi depan sudut y mempunyai panjang x dan sisi alas
mempunyai panjang l karena nilai-nilai tersebut menghasilkan
sisi tegak x
tan y   x.
sisi alas 1
Dengan Teorema Pythagoras sisi miring itu mempunyai panjang
1  x 2 ,sehingga berdasarkan sifat segitiga

1 sisi miring 1 x2
sec(tan x)  sec y    1 x2 .
sisi alas 1
Weskipun hubungan ini diturunkan dengan batasan x  0 , tetapi ini juga valid
untuk x  0 .

Fungsi Logaritma dan Eksponensial

Sudah diketahui bahwa logaritma diperkenalkan pertama kali sebagai alat perhitungan.
Dalam perkembangan selanjutnya logaritma mempunyai aplikasi yang sangat luas dalam
matematika dan ilmu pengetahuan. Pada bagian ini akan dibicarakan logaritma dan
2.2.2.1.1. Ikhtisar Logaritma dan Eksponen
eksponen dari sudut pandang kalkulus.
139

Dalam aljabar, pangkat-pangkat bilangan bulat dan pangkat-pangkat


bilangan rasional dari bilangan positif b didefinisikan sebagai

1
b n  b
 b 

b, b n  , b 0 1
nfaktorr bn , n bilangan asli.

1
b p / q  b p  ( b ) p, b p / q 
q q
, p dan q bilangan asli.
b p/q

Jelas bahwa definisi-definisi ini tidak memberikan arti untuk bx dengan x


bilangan irasional, sehingga pernyataan seperti 2 , 3 2 , dan  7 belum
didefinisikan.

Bergantung pada apakah 0 < b < 1, b = 1, atau b > 1 grafik y = bx akan


mempunyai salah satu bentuk seperti ditunjukkan dalam Gambar 2.2.28.
Karena bx belum didefenisikan untuk nilai-nilai irasional x, setiap grafik
mempunyai titik-titik yang terpisah pada nilai-nilai irasional x. Salah satu dari
tujuan pada bab ini adalah mendefenisikan bx untuk x irasional sehingga bx
menjadi fungsi kontinu (Gambar 2.2.28).

y  bx , 0  b  1 y y  bx , b  1

y  1, b  1

Gambar 2.2.28
140

Catatan. Pembahasan dibatasi untuk bx pada kasus b > 0, sebab nilai b negatif
dapat memberikan bilangan imajiner, sebagai contoh jika b = - 2 dan x = ½,
maka bx = (-2)1/2 =  2 .

Terdapat beberapa metode untuk mendefenisikan pangkat-pangkat


irasional. Salah satu pendekatannya adalah mendefenisikan pangkat-pangkat
irasional dari b sebagai limit pangkat rasional dari b. Contoh, untuk
mendefenisikan 2x dapat dimulai dengan menyatakan desimal dari x, tuliskan
3.1415926...
Dari desimal di atas diperoleh barisan bilangan rasional sebagai penutup
(cover) dari x, yaitu :
3, 3,1, 3,14, 3,141, 3,1415, 3,14159, ........
Sehingga diperoleh barisan pangkat rasional dari 2 sebagai berikut.
23, 23,1, 23,14, 23,141, 23,1415, 23,14159, .....
Jika 2x adalah fungsi kontinu dari x, maka akan kontinu pula pada x,
sehingga pangkat-pangkat rasional dari 2 harus mendekati 2x. Ide ini
mendefenisikan 2x sebagai limit pangkat-pangkat rasional dari 2. Ide ini
diilustrasikan secara numerik, yang diperoleh dari kalkulator dan nilai dari 2x
dibulatkan sampai empat tempat desimal yaitu 8,8250.

x 2x
3 8,000000
3,1 8,574188
3,14 8,815241
3,141 8,821353
3,1415 8,824411
3,14159 8,824962
3,141592 8,824974

Pada bab selanjutnya dapat ditunjukkan bahwa dengan prosedur limit


dihasilkan suatu defenisi bx dengan x irasional yang memenuhi pernyataan-
pernyataan berikut.

* bx fungsi kontinu untuk semua b > 0


* bx fungsi yang dapat dideferensialkan untuk semua b > 0
* Sifat-sifat dasar dari pangkat seperti bx+x = bx.bx tetap berlaku.
141

Pernyataan pertama dari tiga pernyataan di atas konsisten dengan grafik yang
ditunjukkan dalam Gambar 2.2.28.

Dalam aljabar, logaritma didefenisikan sebagai pangkat, yaitu jika b > 0 dan b
≠ 1, maka untuk x positif, didefenisikan blog x (dibaca “logaritma berbasis b
dari x”) sebagai pangkat untuk b yang menghasilkan x. Dengan demikian, 10log
100 = 2, sebab 10 harus berpangkat 2 untuk menghasilkan 100. Dengan cara
yang sama, diperoleh
2
log 8 = 3 karena 23 = 8
10
log 1/1000 = -3 karena 10-3 = 1/1000
10
log 1 = 0 karena 100 = 1
3
log 81 = 4 karena 34 = 81

Secara umum jika y = blog x, maka y merupakan pangkat untuk b yang harus
menghasilkan x. Jadi x = by. Sebaliknya, jika x = by, maka y = blog x, sehingga
pernyataan

y = blog x dan x = by

Adalah ekivalen. Dengan mensubtitusikan setiap persamaan diperoleh

x
b
b
log by = y dan b log x

pada pembicaraan sebelumnya peranan antara x dan y dapat saling ditukar, jadi
persamaan pertama itu juga benar jika y diganti dengan x. Oleh karena itu,,
diperoleh hubungan yang penting berikut ini.

x
b
b
log bx = x dan b log x

Logaritma yang pertama kali dipelajari adalah logaritma dengan basis 10, yang
disebut logaritma biasa (common logarithms). Untuk logaritma seperti itu
biasanya basis tidak dituliskan dan ditulis log bukan 10log. Dengan demikian,
log10x = x dan 10l og x = x

Pembaca akan mengenal sifat-sifat logaritma dalam teorema berikut ini.


142

TEOREMA 2.14
b b
(a). log 1 = 0 (b). log b = 1
b b b b
(c). log ac = log a + log c (d). log a/c = blog a – blog c
b
(e). log a r = r blog a (f). b
log 1/c = – blog c

Bukti:
Akan dibuktikan (a) dan (c), sisanya dibuktikan oleh pembaca sebagai latihan.
(a). Karena b0 = 1, maka blog 1 = 0
(c). Misalkan x = blog a dan y = blog c. Jadi bx = a dan by = c
Oleh karena itu, ac = bx by = b x + y atau ekivalen dengan blog ac = x + y.

Bilangan e dan Logaritma Natural


Dalam aplikasi logaritma dipakai dengan basis irasional tertentu yang
disimbolkan dengan e dan disebut logaritma natural. Pembaca dapat
memeriksa dengan kalkulator bahwa nilai dari e samapai 6 tempat desimal
adalah e ≈ 2,718282, bilangan ini ditemukan oleh seorang ahli matematika dari
swis Leonard Euler yang menunjukan bahwa y = e merupakan asimtot dari
x
 1
grafik y  1   .
 x

Gambar 2.2.29
143

(lihat Gambar 2.2.29). Euler mengusulkan penggunaan e untuk logaritma


dalam suatu makalah yang tidak dipublikasikan, yang ditulis pada tahun 1728.

Pada bab selanjutnya dapat ditunjukan bahwa y = e (garis datar dalam


x
 1
Gambar 2.2.29) merupakan asimtot dasar dari y  1   untuk x menuju +
 x
∞ dan x + ∞, dinyatakan dengan limit-limit.
x x
 1  1
e  lim 1   dan e  lim 1   , serta e  lim 1  x  x .
1

x 
 x x 
 x x 0

Nilai limit ini dapat ditunjukan dari menghitung bentuk-bentu tak tentu limit
menggunakan turunan (dibahas pada bab khusus).
e  lim 1  x  x .
1

x 0
Standar untuk mengartikan logaritma natural dari x adalah ln x (baca “llen
x”) dan bukan loge x. Jadi ln x itu merupakan pangkat untuk e yang harus
menghasilkan x. Sebagai contoh:

ln 1 = 0 ln e = 1 ln 1/e = -1 ln (e 2 )
0 1 -1 2
Karena e =1 Karena e =e Karena e = 1/e Karena e = e2

Secara umum, ekspresi-ekspresi y = ln x dan x = e y ekuivalen.

Selanjutnya untuk kasus dimana basisnya adalah e juga berlaku rumus berikut.

ln e x = x dan e
ln x
=x

Catatan : Perlu diingat bahwa beberapa kalkulator, program-program


komputer dan literatur matematika menggunakan “log” bukan “ln” untuk
menyatakan logaritma natural, sehingga ini merupakan ide yang bagus untuk
koreksi berikutnya.

Grafik ln x dan e x
Gambar 2.2.30 memberikan ilustrasi bahwa grafik y = ln x dan y = e x
simetris pada garis y = x. Kemudian, akan ditunjukan bahwa secara umum
grafik dari y = blog x dan y = bx simetrris pada garis y = x (lihat Gambar 2.2.30
144

b
untuk kasus b = e). Dengan demikian, fungsi log x dan bx saling invers,
demikian juga ln x dan bx.

y = ex

Gambar 2.2.30

Perubahan Basis Logaritma


Teorema berikut memberikan suatu rumusan logaritma dengan basis
yang berbeda. Rumus yang dapat untuk menyatakan logaritma biasa dan
logaritma natural atau sebaliknya.
a
log x
TEOREMA 2. 15 b
log x  a
log b

Bukti :
Misalkan y = blog x  b y = x
a
log b y = alog x (ambil log kedua sisi)
y alog b = alog x dan Teorema 2.14 (e)
a
log x
y= a
log b
b a
log x = log x
a
log b
145

Contoh: Kalkulator secara umum memberikan kunci-kunci untuk menentukan


nilai logaritma biasa dan logaritma natural, tetapi tidak mempunyai kunci-
kunci untuk menentukan nilai laogaritma dengan basis yang lain. Gunakan
kalkulator untuk menentukan nilai 2log 5 dengan menyatakan logaritma
tersebut dengan logaritma natural.

Penyelesaian: Berdasarkan Teorema 2.14 dengan b = 2 dan a = e, diperoleh


2
log 5 = ln≈ 52.321928
ln 2

Penguraian dan Peringkasan Ekspresi Logaritma


Hasil-hasil dari Teorema 2.14 dapat digunakan dalam dua cara :
1. Mengurai logaritma tunggal kedalam penjumlahan, pengurangan dan
perkalian dari logaritma
2. Meringkas penjumlahan, pengurangan dan perkalian dari logaritma
kedalam logaritma tunggal

xy 5
Contoh: Nyatakan log kedalam penjumlahan, pengurangan dan perkalian
z
dari log x, log y dan log z.

Penyelesaian:
xy 5 1
log  log xy 5  log z  log x  log y 5  log z  log x  5 log y  log z
z 2

Contoh: Dalam setiap bagian, tulis kembali pernyataan sebagai logaritma


tunggal.
a). 5log 2 + log 3 – log 8
b). 1/3ln x – ln (x2 – 1) + 2.ln (x + 3)
Penyelesaian:

(a). 5log 2 + log 3 – log 8 = log 25 + log 3 – log 8


= log 32 + log 3 – log 8
= log (32.3) – log 8
= log (32.3)/8 = log 12
146

(b). 1/3ln x – ln (x2 – 1) + 2.ln (x + 3) = ln x1/3 – ln (x2 – 1) + ln (x + 3)2


 3 x ( x  3) 2 
= log .

 x 1 
2

Berdasarkan Teorema 2.15, maka dapat didefinisikan perubahan basis


logaritma sebagai berikut :

TEOREMA 2.16 Untuk b > 0 dan b  1 , fungsilogaritma basis b


ln x
didefinisikan oleh b log x  , x>0
ln b

Dalam kasus khusus di mana b = e,diperoleh bahwa elog x = ln x


Dengan demikian, fungsi logaritma natural adalah sama seperti fungsi
logaritma basisi e.

 x sehingga diperoleh
b
Telah ditunjukan bahwa blog bx = x dan b log x

teorema berikut.

TEOREMA 2.17 Untuk b > 0 dan b  1 , fungsi bx dan blog x saling invers

Bukti:
Untuk latihan tunjukan bahwa

Domain bx = range blog x = (- ∞, + ∞)


Range bx = domian blog x = (0, + ∞)

Sehingga bx dan blog x mempunyai dominan dan range untuk fungsi-fungsi


invers.

ln x
ln b x x ln b ( ) ln b
log b x    x ; b log x  e ( log x ) ln b  e ln b  e ln x  x
b b
b

ln b ln b
147

karena bx dan b log x saling invers, maka grafiknya berupa pencerminan satu
sama lain terhadap garis y = x, terlihat seperti Gambar 2.2.31.

y y=x

y  b log x

y = bx 1
x
1

b>1

y
y=x
y  bx

1
x
1

y  b log x
0<b<1

Gambar 2.2.31

Fungsi Hiperbolik dan Invers Hiperbolik

x
Dalam bagian ini akan dipelajari kombinasi tertentu dari ex dan e , yang disebut fungsi
hiperbolik. Fungsi ini memiliki banyak penerapan dalam bidang teknik dan muncul secara
alami dalam banyak permasalahan metematika. Fungsi hiperbolik memiliki banyak sifat
sebagaimanan sifat-sifat dalam fungsi trigonometri. Kemiripan ini tercermin dalam nama
dari fungsi hiperbolik.
148

DEFINISI 2.18. Fungsi sinus hiperbolik dan cosinus hiperbolik, masing-


masing ditulis sinh dan cosh, dan didefinisikan sebagai:
e x  ex e x  ex
sinh x  dan cosh x 
2 2

Grafik dari cosh x = ½ ex + ½ e- x dapat diperoleh dengan cara membuat


grafik secara terpisah ½ ex dan ½ e- x dan kemudian menjumlahkan koordinat-
y bersama pada tiap titik (Gambar 2.2.32). teknik pembuatan grafis ini disebut
penambahan ordinat, dapat juga untuk digunakan membuat grafik sinh x ½ ex
- ½ e- x (Gambar 2.2.33).

y = cosh (x)
x
y=½e y = ½ e- x

Gambar 2.2.32

y = ½ ex

y = sinh (x)

y = -½ e-x Gambar 2.2.33


149

Sebagai ilustrasi bagaimana fungsi hiperbolik terjadi dalam masalah


fisika, perhatikan suatu kabel fleksibel homogen direntangkan bergantung di
antara dua titik (misal : suatu kabel transmisi listrik membentang diantara dua
kutub). Kabel akan membentuak suatu kurva yang disebut catenary (dari
bahasa latin “catena” yang berarti rantai). Jika (lihat Gambar 2.2.34) suatu
sistem koordinat dipasang sedemikian sehingga titik rendah dari kabel terletak
pada sumbu-y, maka dapat ditunjukan bahwa persamaan kurva yang dibentuk
oleh kabel adalah y = a cosh (x/a) dengan a bergantung pada tegangan dan
sifat-sifat fisik kabel.
Fungsi hiperbolik yang lain, tangen hiperbolik, cotangen hiperbolik,
secen hiperbolik dan cosecen hiperbolik didefinisikan dalam sinh dan cosh
sebagai berikut :

sinh x e x  e  x 1 2
tanh x   ; sec hx   x
cosh x e x  e  x cosh x e  e  x
cosh x e x  e  x 1 2
coth x   ; c sec hx   x
sinh x e x  e  x sinh x e  e  x

 x
y y  a cosh 
a

(0,a)

x Gambar 2.2.34

Grafik dari fungsi-fungsi y = tanh x, y = sech x, y = coth x dan y = csch x


diperlihatkan dalam Gambar 2.2.35.
150

y y y y

1 1 1 1
x x x x
-1 -1 -1 -1

y = tanh x y = coth x y= sech x y = csch x

Gambar 2.2.35

Kesamaan Hiperbolik
Fungsi hiperbolik memenuhi bermacam-mcam kesamaan yang mirip dengan
kesamaan untuk fungsi trigonometri. Kesamaan yang paling dasar adalah :
cosh 2 x  sinh 2 x  1 ,

Yang dapat dibuktikan dengan menulis


2 2
 e x  ex   e x  ex 
cosh x  sinh x  
2 2
   
 2   2 
=

4

1 2x 1
 
e  2e 0  e 2 x  e 2 x  2e 0  e 2 x
4

=1
2
Persamaan ini jika dibagi dengan cosh x , maka diperoleh

1 - tanh 2 x  sec h 2 x ,

Atau jika dibagi dengan sinh 2 x , maka diperoleh

coth 2 x  1  cos ech 2 x

rumus penmbahan untuk sinh dan cosh adalah :

sinh (x+y) = sinh x sinh y + cosh x sinh y


151

cosh (x+y) = cosh x cosh y + sinh x sinh y

Lebih muda untuk membuktikan daripada menghubungkan kesamaan untuk


fungsi trigonometri. Sebagai contoh, untuk membuktikan kedua persamaan di
atas dapat digunakan identitas :
cosh x  sinh x  e x

cosh x  sinh x  e  x

Berdasarkan Defenisi 2.18 diperoleh

e ( x y )  e ( x y ) e x e y  e  x e  y
sinh ( x  y)  
2 2
=
1
(cosh x  sinh y)(cosh y  sinh y)  (cosh x  sinh y)(cosh y  sinh y)
2
= sinh x cosh y  cosh x sinh y

Bukti untuk persamaan ke dua dapat diperoleh dengan cara yang sama.

Jika diambil x  y , maka diperoleh rumus yang analog dengan


penggandaan sudut dalam trigonometri :
Sinh 2 x  2 sinh x cosh x
cosh 2 x  cosh 2 x  sinh 2 x

Dengan demikian dapat ditunjukkan pula bahwa


cosh 2 x  2 sinh 2 x  1
cosh 2 x  2 cosh x  1

Untuk mendapatkan rumus pengurangan untuk sinh dan cosh digunakan rumus
penambahan dan identitas :
cosh( x)  cosh x
sinh( x)   sinh x

Yang sesuai dengan Defenisi 2.18, jika y diganti dengan –y , maka diperoleh :
sinh( x  y)  sinh x cosh y  cosh x sinh y
152

cosh( x  y)  cosh x cosh y  sinh x sinh y

Jika t sebarang bilangan riil, maka titik (cos t, sin t) berada pada
lingkaran x 2  y 2  1 karena : cos 2 t  sin 2 t  1 (lihat Gambar 2.2.36). Oleh
sebab itu, sinus dan cosinus disebut fungsi sirkular. Dengan cara yang sama,
untuk sebarang bilangan riil t titik (cosh t, sinh t) berada pada kurva
x 2  y 2  1 karena cosh 2 t  sinh 2 t  1 .
(lihat Gambar 2.2.37). Sebagaimana diketahui, persamaan tersebut adalah
persamaan hiperbola sehingga sinh dan cosh disebut fungsi hiperbolik.

y y x2  y2 1
x2  y 2  1 . (cost t, sin t) (cosh t, sinh t)
x x

Gambar 2.2.36 Gambar 2.2.37

Fungsi Invers Hiperbolik


Dengan melihat Gambar 2.2.33 dan Gambar 2.2.35, jelas bahwa sinh x,
tanh x, coth x, dan csch x semuanya memenuhi uji garis datar yang berarti
semuanya fungsi satu-satu. Fungsi-fungsi invers dituliskan dengan
sinh 1 x, tanh 1 x, coth 1 x, dan csc h 1 x. Fungsi-fungsi cosh x dan sech x tidak
satu-satu, tetapi dapat dibuat satu-satu dengan membatasi domainnya pada
selang [0,+  ], seperti disajikan dengan kurva tebal dalam Gambar 2.2.39.
Selanjutnya didefenisikan invers dari fungsi-fungsi tersebut dengan
cosh 1 x dan sec h 1 x.

Grafik-grafik untuk fungsi hiperbolik ditunjukkan pada Gambar 2.2.39


semuanya merupakan pencerminan terhadap garis y = x dari grafik-grafik
dalam Gambar 2.2.33, 2.2.35, dan 2.2.38.
153

Teorema 2.19 meringkas beberapa sifat kunci fungsi-fungsi invers hiperbolik.


Pembaca seharusnya memastikan bahwa domain dan range yang ditampilkan
sesuai dengan Gambar 2.2.39.

y y

1 1

x x

cosh x, x  0 sec hx, x  0

Gambar 2.2.38

FUNGSI DOMAIN RANGE HUBUNGAN DASAR


sinh 1 x (,) (,) 1
sinh (sinh x)  x jika
   x  
cosh 1 x [ 1,) [0 ,) cosh 1 (cosh x)  x jika x  0
1
cosh(cosh x)  x jika x  1
tanh 1 x (-1,1) (  ,) tanh 1 (tanh x)  x jika
   x  
tanh(tanh 1 x)  x jika 1
 x 1
coth 1 x (  ,1) (  ,0) coth 1 (coth x)  x jika x  0 atau
 (1,)  (0,) x0
Coth(coth 1 x)  x jika
x  1 atau x  1
Sech 1 x (0,1] [0,  ) sech 1 (sec hx)  x jika x  0
sech(sech 1 x) = x jika 0  x  1
Csch 1 x (  ,0) (  ,0) csch 1 (csc hx)  x jika x  0 atau
 (0,)  (0,) x0
154

csch( csc h 1 x)  x jika x  0 atau


x0

TEOREMA 2.19
y  sinh 1 x ekivalen dengan sinh y  x untuk semua x, y
y  cosh x 1
ekivalen dengan cosh y  x jika  x 1
y 0

y  tanh 1 x ekivalen dengan tanh y  x jika  1 x 1


  y 

y  coth 1 x ekivalen dengan coth y  x jika  x 1


y 0

y  sec h 1 x ekivalen dengan sec hy  x jika 0 x 1


y 0

y  csc h 1 x ekivalen dengan csc hy  x jika  x0


y 0

y y y

x 1 x x -1 1

y  sinh 1 x y  cosh 1 x y  tanh 1 x

y y y

x x x
-1 1 1

y  coth 1 x y  sec h 1 x y  csc h 1 x

Gambar 2.2.39
155

Bentuk Logaritmik Fungsi Invers Hiperbolik


Karena fungsi hiperbolik dapat dinyatakan dalam suku-suku e x , maka
sudah seharusnya fungsi invers hiperbolik dapat dinyatakan dalam suku-suku
logaritma natural sebagaimana ditunjukkan dalam teorema berikut :

TEOREMA 2.20
Hubungan berikut ini berlaku, dengan pembatasan pada x dalam Teorema
2.19.

sinh 1 x  ln x  x 2  1 , 
cosh 1
x  ln x 
x 2
 1
1 1 x 
tanh 1 x  ln  ,
2 1 x 
1  x  1
coth 1 x  ln  
2  x 1
1 1 x2 
sech 1 x  ln  ,
 x 
 
1 1  x 
2
csch 1 x  ln  
x x 

Bukti:
Akan dibuktikan rumus untuk sinh 1 x dan yang lainnya ditinggalkan sebagi
latihan buat pembaca. Bukti dimulai dengan menulis y = sinh 1 x dalam bentuk
alternatif.
e y  e y
x  sinh y  atau e y 2 x  e  y  0
2
Dengan mengalikan persamaan terakhir tersebut dengan e y diperoleh
e 2 y  2 xe y  1  0
Dengan menerapkan rumus kuadrat diperoleh
156

2x  4x 2  4
e  y
 x  x2 1
2
Karena e  0 , maka penyelesaian yang memuat tanda minus harus
y

dihilangkan. Oleh karena itu, e y  x  x 2  1 . Dengan mengambil nilai


logaritma natural di dapat
y  ln( x  x 2  1) atau sinh 1 x  ln( x  x 2  1)

Latihan 2.2

Untuk soal 1 dan 2, dapatkan persamaan garis dari dua titik yang diberikan

1. Garis yang tegak lurus dan memotong di tengah-tengah ruas garis yang
menghubungkan (2,8) dan (-4,6).
2. Garis yang tegak lurus memotong di tengah-tengah ruas garis yang
menghubungkan (5,-1) dan (4,8).
3. Dapatkan titik pada garis 4 x  2 y  3  0 yang berjarak sama dari (3,3)
dan (7,-3) [pentunjuk : Dapatkan persamaan garis yang tegak lurus dan
memotong di tengh-tengah ruas garis yang menghubungkan (3,3) dan (7,-
3).]
4. Dapatkan jarak dari titik (3,-2) ke garis
(a). y  4 (b). x  1
5. Dapatan jarak dari titik (2,1) ke garis 4 x  3 y  10  0 . [Petunjuk :
Dapatkan jarak yang diukur tegak lurus dari titik ke garis].
6. Dapatkan jarak dari titik (8,4) ke garis 5x  12  36  0 . [Petunjuk : Lihat
petunjuk soal no. 5].
7. Gunakan cara yang diuraikan untuk soal 5 untuk membuktikan bahwa
jarak d dari ( x0 , y0 ) ke garis Ax  By  C  0 adalah
Ax 0  By 0  C
d
A2  B 2
8. Gunakan rumus untuk soal 7 untuk menyelesaikan soal 5.
9. Gunakan rumus untuk soal 7 untuk menyelesaikan soal 6.
10. Buktikan : Untuk sebarang segitiga, garis tengah sisi-sisinya bertemu di
atu titik. [Petunjuk : Letakkan segitiga dengan satu titik sudut pada
157

sumbu-y dan sisi di depannya pada sumbu-x, sehingga titik-titik sudut itu
adalah (0,a), (b,0), dan (c,0)].
11. Dapatkan persamaan dari
(a). Setengah bagian yang bawah dari lingkaran x 2  y 2  16
(b). Setengah bagian yang atas dari lingkaran x 2  y 2  2 x  4 y  1  0
12. Dapatkan persamaan dari
(a). setengah bagian yang kanan dari lingkaran x 2  y 2  9
(b). setengah bagian yang kiri dari lingkaran x 2  y 2  4 x  3  0
13. Gambarkan grafik
(a). x   25  x 2 (b). y  5  4 x  x 2
14. Gambarkan grafik
(a). x   4  y 2 (b). x  3  4  y 2

Untuk soal 15-24, gambarkan grafik parabola dan tandai koordinat


puncak dan perpotongannya dengan sumbu kordinat

15. y  x2  2
y  x 3
2
16.
17. y  x 2  2x  3
18. y  x 2  3x  4
19. y  x 2  4x  5
20. y  x 2  x
21. y  ( x  2) 2
22. y  (3  x) 2
23. x 2  2x  y  0
24. x 2  8x  8 y  0
25. Dapatkan persamaan dari
(a). Setengah bagian yang kanan dari parabola y  3  x 2
(b). Setengah bagian yang kiri dari parabola y  x 2  2 x
26. Dapatkan persamaan dari
(a). Setengah bagian yang atas dari parabola x  y 2  5
(b). Setengah bagian yang bawah dari parabola x  y 2  y  2
158

27. Gambarkan grafik


(a). y  x  5 (b). x  4 4  y
28. Gambarkan grafik (a). y  1  4  x (b). x  3  y
29. Jika suatu bola dilemparkan lurus ke atas dengan kecepatan awal 32
m/detik, maka setelah t detik jarak s di atas ketinggian awal, dalam meter,
diberikan oleh s  32t  16t 2 .
(a). Gambarkan persamaan ini dalam koordinat-ts (sumbu-t datar).
(b). Pada waktu t berapakah bola akan berada di titik ketinggiannya, dan
berapa ketinggian di titik tersebut ?
30. Sebidang tanah persegi empat akan dipagari dengan dua jenis pagar. Dua
sisi yang berhadapan akan dipagari dengan pagar kuat yang berharga Rp.
150.000/meter, sedangkan dua sisi yang lain akan dipagari dengan pagar
standar dengan harga Rp. 100.000/meter. Tersedia Rp. 100.000 untuk
pemagaran. Misalkan x panjang tiap sisi yang akan dipagari dengan
pagar kuat, dan y panjang tiap sisi dengan pagar standard.
(a). Nyatakan y dalam suku-suku x.
(b). Dapatkan rumus luas L dari sebidang tanah tersebut dalam suku-suku
x.
(c). Berapakah luas maksimum yang dapat ditutup ?
31. (a). Dengan melengkapi kuadratnya, tunjukkan bahwa persamaan
b   b2 
2

y  ax  bx  c
2
dapat ditulis sebagai y  a x     c   , jika

 2a   4a 
a  0.
(b). Gunakan hasil pada bagian (a) untuk menunjukkan bahwa grafik dari
y  ax 2  bx  c mempunyai titik tertinggi di x  b(2a) jika a < 0 dan
mempunyai titik terendah di titik yang sama jika a > 0.
32. Untuk (a) sampai (d), tentukan apakah f dan g meru[pakan fungsi invers.
1
( a). f ( x)  4 x, g ( x)  x (b). f ( x)  3x  1, g ( x)  3x  1
4
(c). f ( x)  3 x  2, g ( x)  x 3  2 (d). f ( x)  x 4 , g ( x)  4 x

Untuk soal 33-42, tentukan apakah fungsi-fungsi berikut mempunyai


invers
159

33. f ( x)  1  x 38. f ( x)  x 3  x  1
34. f ( x)  3x  2 39. f ( x)  x 3  3 x 2  3 x  1
35. f ()  x 2  2 x  1 40. f ( x)  x 3  3 x 2  3 x  1
36. f ( x)  2  x  x 2 41. f ( x)  x 5  8 x  2 x  1
37. f ( x)  x 3  3 x  2 42. f ( x)  2 x 5  x 3  3 x  2

1
Untuk soal 43-57, dapatkan f ( x)

43. f ( x)  x 5 44. f ( x)  6 x 45. f ( x)  7 x  6


x 1
46. f ( x)  47. f ( x)  3x  5
3

x  12
48. f ( x)  4 x  2
5

49. f ( x)  3 2 x  1 50. f ( x)  5 /( x 2  1), x  0


51. f ( x)  3 / x 2 , x  0
52. f ( x)  e 2 x 1 53. f ( x)  e1 / x
54. f ( x)  4In( x  1)
55. f ( x)  1  In(3x) 56. f ( x)  5 / 2 x , x  2
1 / x , x  2. 57. f ( x)   2 x , x 0
x 2 , x 0

58. Tentukan nilai eksak dari


(a). sin 1 (sin  / 7) (b). sin 1 (sin  )
(c). sin 1 (sin 5 / 7) (d). cos 1 (cos  / 7)
(e). cos 1 (cos  ) (f). cos 1 (cos 12 / 7)

59. Berapakah niali x sehingga berlaku


(a). cos 1 (cos x)  x (b). cos(cos 1 x)  x
(c). tan 1 (tan x)  x (d). tan(tan 1 x)  x
(e). csc 1 (csc x)  x (f). csc(csc 1 x)  x
  3 
(g). sin 2 cos 1   (h). tan 1 sin( / 2)
  5 
  3 
(i). sec sin 1   
  4 
160

 2  1 
(j). sin 1 cot( / 4) (k). sin sin 1    cos 1  
 3  3 
  3 
(l). tan 2 sec 1  
  2 
60. Buktikan :
 x y 
tan 1 x  tan 1 y  tan 1  
 1  xy 
yang dipenuhi untuk -  / 2. [Petunjuk : Gunakan kesamaan untuk
tan(    ) ]
61. Gunakan hasil dari soal 60 untuk menunjukkan bahwa
1 1
(a). tan 1  tan 1   / 4
2 3
1 1
(b). 2 tan 1  tan 1   / 4
3 7
62. Suatu satelit peneliti bumi memiliki sensor datar yang dapat mengukur
sudut  yang ditunjukkan dalam Gambar berikut. Misalkan R jari-jari
bumi (diasumsikan berbentuk bola) dan h jarak antara satelit tersebut
dengan permukaan bumi.
R
(a). Tunjukkan bahwa sin  
Rh
(b). Dapatkan  , pada derajat terdekat, untuk suatu satelit yang berada
10.000 km dari permukaan bumi (gunakan R = 6378 km).

R
 
h

63. Seorang pemain sepak bola menendang bola dengan kecepat5an awal 14
m/det pda sudut  dengan datar seperti gambar berikut bola tersebut
mendarat sejauh 18 m di lapangan. Jika gesekan angin diabaikan, maka
bola akan memiliki trakyektori parabolic, dan range datar R diberikan oleh
161

v2
R sin 2 . Dengan v kecepatan awal dari bola dan g kecepatan
g
gravitasi. Dengan menggunakan g = 9,8 m/det 2 , dapatkan hampiran dua
nilai  , sampai derajat terdekat, pada saat bola dapat ditendang. Sudut
yang mana yang memiliki waktu melayang lebih pendek ? Mengapa ?

| R |

64. Hukum cosinus menyatakan bahwa


c 2  a 2  b 2  2ab cos 
Dengan a,b, dan c panjang sisi-sisi suatu segitiga dan  sudut yang
dibentuk oleh sisi a dan b. Dapatkan  , sampai derajat terdekat, untuk
segitiga dengan a = 2, b = 3, dan c = 4.
65. Suatu pesawat terbang sedang terbang pada ketinggian konstan 300 m di
atas air pada kecepatan 400 m/det. Pilot melepaskan paket bekal
sedemikian sehingga mendarat di air pada suatu titik pandan P. Jika
gesekan udara diabaikan, maka paket tersebut akan mengikuti suatu
trayektori parabilik dengan persamaannya relatif terhadap sistem koordinat
dalam Gambar sebelah kiri berikut, yaitu
g
y = 3000  2 x 2
2v
dengan g kecepatan gravitasi dan v kecepatan pesawat. Dengan
menggunakan g = 10 m/det, dapatkan sudut  “garis pandang”, sampai
derajat terdekat, yang akan menghasilkan paket itu menyentuh titik target.

 a
trajektori parabolik

dari objek b
300 m
garis pandang x
P Kamera x Landasasn
162

66. Suatu kamera diletakkan x meter dari dasar landasan peluncuran suatu
peluru kendali (gambar bagian kanan). Jika peluru kendali dengan panjang
a meter diluncurkan tegak, t unjukkan bahwa pada saat dasar peluru b
meter di atas lensa kamer, sudut  dari peluru yang ditangkap lensa adalah
x x
 = cot-1  cot 1 .
ab b
67. Buktikan:
x  x
(a). sin 1 x  tan 1 (b). cos 1 x   tan 1
1 x2 2 1 x2

Pada soal 68-73, tentukan domain dari f(x)

68. f(x) = ln (3x + 2)


69. f(x) = ln (1 – 2x)
70. f(x) = ln (4 – x2)
71. f(x) = ln (5 – 3x)
72. f(x) = 1 ln x
73. f(x) = ln (ln x)
74. (a). Tentukan domain dari ln(x2)
(b). Untuk nilai x berapakah ln(x2) = 2 ln x?
75. Misal f(x) = e-2x. Tentukan nilai eksak paling sederhana dari f(ln3)
76. Misal f(x) = ex + 3e-x. Tentukan nilai eksak paling sederhana dari f(ln2)
77. Buktikan: Untuk b > 0 dan b  1
Domain bx = range blog x = (–, + )
Range bx = domain blog x = (0, + )
78. Tunjukkan bahwa grafik dari
y = bx dan y = blog x
untuk b > 1 dan 0 < b < 1 adalah bentuk yang ditunjukkan dalam Gambar
2.2.33. [petunjuk: lihat definisi 2.17]

Untuk soal 79-91, buktikan kesamaan yang diberikan

79. cosh (x + y) = cosh x cosh y + sinh x sinh y


80. cosh 2x = 2 sinh2x + 1
163

81. cosh 2x = 2 cosh2x – 1


82. cosh (- x) = cosh x
tanh x  tanh y
83. tanh (x + y) =
1  tanh x tanh y
84. sinh(-x) = sinh x
1
85. tanh (x – y) = (cosh x  1)
2
2 tanh x
86. tanh sx =
1  tanh 2 x
1 1
87. cosh x  (cosh x  1)
2 2
1 1
88. sinh x   (cosh x  1)
2 2
 x y  x y
89. sinh x + sinh y = 2 sinh   cosh 
 2   2 
 x y  x y
90. cosh x + cosh y = 2 cosh   cosh 
 2   2 
91. cosh 3x = 4cosh3 x – 3 cosh x
92. (a). Buktikan: cosh-1x = ln( x  x 2  1) , x  1
1 1 x
(b). Buktikan: anh-1x = ln ,1  x  1.
2 1 x
93. (a). Buktikan:
Sech-1x = cosh-1- (1/x), 0 < x  1.
Coth-1x = tanh-1 (1/x), |x| > 1.
Csch-1-sinh-1 (1/x), x  0.
(b). Gunakan bagian (a) dan bentuk logaritmik untuk sinh-1x, cosh-1x, dan
tanh-1x untuk mendapatkan bentuk logaritmik dari sech-1x, coth-1x, dan
scsh-1x.
94. Tanpa merujuk pada buku, nyatakan domain dari keenam fungsi invers
hiperbilik.

Untuk soal 95 dan 96, dapatkan bentuk logaritmik yang ekivalen dengan
ekspresi yang diberikan
164

95. (a). cosh-1 (3) (b). sinh-1 (-2)


96. (a). tanh-1(3/4) (c). coth-1 (-5/4)

2.3. FUNGSI DALAM KOORDINAT KUTUB

Pada bab terdahulu, telah dibahas suatu sistem koordinat yang disebut Sistem Koordinat
Kartesius. Pada sistem koordinat ini posisi suatu titik P ditentukan oleh obsis dan
ordinatnya. Selanjutnya pada bagian ini akan diperkenalkan sistem koordinat lain yang
disebut Sistem Koordinat Kutub (polar), yang lebih mudah penerapannya pada beberapa
kasus. Pada bagian akhir sub-bab ini, dikemukakan cara lain untuk menyajikan suatu fungsi
yang disebut fungsi parameter.

Koordinat Kutub
Sistem koordinat kutub dalam suatu bidang terdiri dari satu titik tetap,
O, yang disebut titik asal (atau kutub) dan suatu garis sinar yang bermla dari
titik asal O, disebut sumbu kutub. Dalam sistem koordinat kutub, posisi setiap
titik P ditentukan oleh koordinat (r, ), dengan r dan jarak P ke titik asal O dan
tetap adalah suatu sudut antara sumbu kutub dan garis OP yang diukur dari
sumbu kutub berlawanan arah jarum jam (Gambar 2.3.1). Bilangan r disebut
koordinat radial dari P dan bilangan  disebut koordinat angular (atau sudut
kutub) dari P. Dalam Gambar 2.3.2, titik-titik (6, 45o), (5, 120o), (3, 225o), (4,
330o) diplot dalam sistem koordinat kutub. Jika P adalah titik asal, maka r = 0,
sehingga titik P dapat dituliskan P(0, ) untuk setiap .
Koordinat kutub dari suatu titik tidak tunggal. Sebagai contoh,
koordinat-koordinat kutub.

(1, 315o), (1, 45o), (1, 675o)

Semuanya merepresentasikan titik yang sama (Gambar 2.3.3). Secara umum,


jika suatu titik P mempunyai koordinat-koordinat kutub (r, ), maka untuk
setiap bilangan bulan n = 0, 1, 2, …, (r .  + n . 360o) juga merupakan
koordinat-koordinat kutub dari P.
165

P(r,)
r


Titik asal Sumbu kutub

Gambar 2.3.1

o o
(6,45 ) (15,20 )

o o
45 120

o
225

o
330

o o
(3,225 ) (4,330 )

Gambar 2.3.2

Sebagaimana didefinisikan di atas, koordinat radial r dari suatu titik P


adalah nonnegatif, karena menyatakan jarak dari P ke titik asal. Akan lebih
memudahkan apabila diperbolehkan juga nilai negatif untuk r. untuk
menghasilkan definisi yang sesuai, perhatikan titik P dengan koordinat kutub
(3, 225o). Titik ini bisa dijangkau dengan memutar sumbu kutub melalui suatu
sudut 225o dan kemudian bergerak 3 satuan dari titik asal sepanjang sisi
terminal dari sudut tersebut (Gambar 2.3.4a), atau untuk mencapai titik P
dengan memutar sumbu kutub sebesar 45o dan bergerak 3 unit dari titik asal ke
sepanjang perpanjangan sisi terminal (Gambar 2.3.4b). Hal ini mengisyaratkan
bahwa titik (3, 225o) bisa juga dinotasikan (-3, 45o), dengan tanda minus
166

tersebut menunjukkan titik itu ada pada perpanjangan sisi terminal sudut.
Secara umum, sisi terminal sudut  + 180o merupakan perpanjangan sisi
terminal dari , sehingga koordinat radial negatif didefenisikan dengan
memperhatikan bahwa (r, ) dan (r,  + 180o) merupakan koordinat-
koordinat untuk titik yang sama.

315o 675o
45o

1 1 1
(1,315o) (1,-45o) (1,675o)

Gambar 2.3.3

225o
polas aksis
terminal side
o
terminal side 45 Polar sxis

P(3,225o) P(-3,45) Gambar 2.3.4

(a) (b)

Hubungan antara Koordinat dan Koordinat Siku-Siku (Kartesius)


Seringkali, akan sangat membantu apabila digunakan koordinat kutub
dan koordinat siku-siku (kartesius) dalam masalah yang sama. Untuk
melakukan hal ini, letakkan sumbu x positif dari sistem koordinat siku-siku
sebagai sumbu kutub untuk sistem koordinat kutub. Apabila hal ini dilakukan,
tiap titik P mempunyai koordinat (r, ) dan sekaligus koordinat siku-siku (x,y).
Sebagaimana ditunjukkan oleh Gambar 2.3.5 koordinat-koordinat ini
dihubungkan oleh persamaan-persamaan
167

x = r cos  r2 = x2 + y2
dengan
y
y = r sin  tan  =
x

y P y

P (x,y)
r (r, ) r=6
y = sin 
 x x
x = r cos 
Titik P mempunyai koordinat polar (6,135o)
dan koordinat kartesius(-3 2, 3 2 )

Gambar 2.3.5 Gambar 2.3.6

Contoh: Dapatkan koordinat siku-siku dari titik P yang mempunyai koordinat


kutub (6, 135o). (Gambar 2.3.6).

Penyelesaian:
Dengan subtitusi koordinat r = 6 dan  = 135o dalam persamaan r2 = x2 + y2
maka diperoleh:
x = 6 cos 135o = 6( 2 / 2)  3 2
y = 6 sin 135o = 6( 2 / 2)  3 2
Jadi koordinat siku-siku dari P adalah (3 2 , 3 2 ) .

Catatan: Untuk kasus ini tidak menjadi persoalan apakah sudut kutub diukur
dalam derajat atau radian. Akan tetapi, dalam permasalahan yang berkaitan
dengan turunan atau integral ukuran sudut harus dalam radian, karena turunan
dari rumus-rumus untuk fungsi-fungsi trigonometri diturunkan dengan asumsi
satuan sudut adalah radian. Selanjutnya akan digunakan ukuran radian untuk
sudut-sudut kutub.
168

Contoh: Dapatkan koordinat kutub dari titik P yang mempunyai koordinat


siku-siku (2, 2 3 )

Penyelesaian:
Akan dicari koordinat kutub (r, ) dari P sedemikian hingga r > 0 dan 0   <
2. Dari persamaan pertama
r2 = x2 + y2 = (-2)2 + (2 3 ) 2 = 4 + 12 = 16
dengan demikian r = 4. Dari persamaan
y 2 3
tan  =   3
x 2
dari hasil ini dan kenyataan bahwa (2,2 3 ) terletak di kuadran kedua, berarti
bahwa  = 2/3. Jadi, (4, 2/3) adalah koordinat kutub dari P. Semua koordinat
kutub dari P berbentuk
 2   5 
 4,  2n  atau   4,  2n  , di mana n suatu
 3   3 
bilangan bulat.

Koordinat kutub menunjukkan suatu cara lain dalam menggambar grafik


persamaan-persamaan tertentu. Sebagai contoh perhatikah persamaan r = sin 
dengan mensubtitusikan nilai-nilai  pada persamaan tersebut maka diperoleh
nilai-nilai r seperti seperti berikut:

    2 5 7 4 3 5 11
0  2
(radian) 6 3 2 3 6 6 3 2 3 6
1 3 3 1 1 3 3 1
r = sin 0 1 0   –1   0
2 2 2 2 2 2 2 2

Pasangan nilai yang ditampilkan di atas dapat digambarkan dalam dua


cara. Cara pertama dengan memandang  dan r sebagai koordinat siku-siku
dari suatu titik dalam bidang-r. Dengan cara ini diperoleh kurva sinus
(Gambar 2.3.7). Cara kedua, setiap pasangan (r, ) dipandang sebagai
koordinat kutub dari suatu titik dan setiap titik diplot dalam suatu sistem
koordinat kutub (Gambar 2.3.8). Perhatikan bahwa ada 13 pasangan yang
ditampilkan dalam r dan  di atas, tetapi hanya 6 titik yang diplot dalam
169

Gambar 2.3.8. Hal ini disebabkan pasangan-pasangan mulai  =  terletak pada


lokasi yang sama dengan titik-titik sebelumnya. Sebagai contoh, (-1/2, 7/6)
dan (1/2, /6) menyajikan titik yang sama.
Titik-titik dalam Gambar 2.3.8 tampak berada pada suatu lingkaran.
Untuk melihat yang sesungguhnya dapat diperiksa dengan menyatakan
persamaan r = sin  dalam suku-suku x dan y.

r = sin 


 2
(0,0)

Gambar 2.3.7 Gambar 2.3.8

Untuk melakukan hal ini, pertama r = sin  dikalikan dengan r untuk


mendapatkan r2 = r sin , yang dapat ditulis kembali menggunakan persamaan
dalam koordinat kartesius berikut ini.

x2 + y2 = y atau x2 + y2 – y = 0.
1 1
Selanjutnya, dengan melengkapkan kuadrat diperoleh, x 2  ( y  ) 2  , yang
2 4
1 1
merupakan persamaan lingkaran dengan jari-jari berpusat di titik (0, )
2 2
dalam bidang-xoy.

Contoh: Sketsa r = sin 2 dalam koordinat kutub.

Penyelesaian:
Suatu sketsa kasar dari grafik yang dimaksud dapat diperoleh tanpa memplot
titik-titik tetapi dengan mengamati bagaimana perubahan nilai dari r terhadap 
(Gambar 2.3.9).
170

Grafik dalam Koordinat Kutub


Pada bagian ini akan digambar bermacam-macam kurva dalam koordinat
kutub. Karena akan bekerja dengan koordinat kutub dan koordinat siku-siku
sekaligus, maka diasumsikan bahwa sumbu x positif berhimpit dengan sumbu
kutub.

Garis dalam Koordinat Kutub


Persamaan-persamaan kutub dari garis tetak dan garis data dapat diperoleh
dengan mensubtitusikan x = r cos  dan y = sin  dalam persamaan x = a dan y
= b. Hal ini menghasilkan persamaan kutub untuk garis tegak yang melalui (a,
0) dan garis datar melalui (0,b) sebagai berikut:

r cos  = a dan r sin  = b

Sebagaimana ditunjukkan oleh garis putus-putus dalam Gambar 2.3.10


dan 2.3.11, persamaan-persamaan ini mempunyai makna secara geometri,
karena setiap titik P pada garis tegak r cos  memberikan nilai a, dan setiap
titik pada garis datar r sin  memberikan nilai b.

r nik dari 0 sampai 1 r turun dari 1 sampai 0


akibat  naik dari akibat  naik dari /4
0sampai /2 sampai /2 r turundari 0 sampai -1
akibat  naik dari /2
sampai 3/4

analog akibat  naik dari


R naik dari -1 sampai 1  sampai 2
akibat  naik dari 3/4 Gambar 2.3.9
sampai 
171

Suatu garis yang melali titik asal membuat sudut  = o (radian) dengan
sumbu kutub memuat semua titik P(r, 0). Berarti bahwa garis tersebut
mempunyai persamaan:
 = 0
Karena persamaan ini dipenuhi oleh koordinat-koordinat dari P, tanpa
memperhatikan nilai dari r (Gambar 2.3.12). Suatu persamaan kutub untuk
sebarang garis dapat diperoleh dengan mensubtitusikan x = r cos  dan y = r
sin  dalam persamaan Ax + By + C = 0; Sehingga diperoleh bentuk
persamaan umum suatu garis dalam koordinat polar.

r (A cos  + B sin ) + C = 0

Contoh: Sketsalah grafik persamaan-persamaan berikut ini dalam koordinat


kutub.
3
a). r cos  = 3 b). r sin  = -2 c).  =
4
Penyelesaian:
Dari persamaan r cos  = a dan r sin  = b masing-masing grafiknya
berupa suatu garis; ditunjukkan dalam Gambar 2.3.13.

y y y

P (0.b) P

r r o
P(r,  )
b
  
x x
x
r cos  =  r sin  = b  = o

Gambar 2.3.10 Gambar 2.3.11 Gambar 2.3.12


172

y r cos  = 3 y y
3x
= 4 3x
4
x x
x

r sin  = 2

(a) (b) (c)

Gambar 2.3.13

Lingkaran dalam Koordinat Kutub


Suatu lingkaran berjari-jari a yang berpusat di titik asal memuat semua titik
dari P(a, ). Artinya bahwa lingkaran tersebut mempunyai persamaan r = a.
Karena persamaan ini dipenuhi oleh koordinat-koordinat dari P, tanpa
memperhatikan nilai dari  (Gambar 2.3.14). Untuk mendapatkan persamaan
kutub dari lingkaran yang dipusatkan pada sumbu x atau sumbu y dan melalui
titik asal, ingat kembali dari geometri bidang bahwa suatu segitiga yang dibuat
dalam lingkaran dengan diameternya sebagai salah satu sisinya pasti suatu
segitiga yang benar. Jadi dari Gambar 2.3.15 persamaan suatu lingkaran yang
berpusat di sumbu x dan melalui titik asal mempunyai persamaan dalam bentuk

r = 2a cos  atau r = -2a cos 

dimana persamaan pertama dari (2.69) diterapkan pada lingkaran berpusat pada
sumbu x positif dan persamaan kedua diterapkan pada lingkaran berpusat ada
sumbu y negatif. Dengan cara yang sama, dari Gambar 2.3.16 suatu lingaran
yang berpusat pada sumbu y dan melalui titik asal mempunyai persamaan
dalambentuk

r = 2a sin  atau r = -2a sin 


173

P(r,)
A
P(,) r  P(r, )

0 2a r

0

r=a r = 2 cos  r = 2 sin 

Gambar 2.1.14 Gambar 2.3.15 Gambar 2.3.16

Contoh: Sketsa grafik dari persamaan-persamaan berikut dalam koordinat


kutub.
a). r = 3 b). r = 4 cos  c). r = -5 sin 

Penyelesaian:
Persamaan-persamaan tersebut berturut-turut adalah bentuk-bentuk dari
persamaan lingkaran dalam koordinat polar, dengan grafik-grafiknya
ditunjukkan pada Gambar 2.3.17

y y y

x x
r=3 r = 4 cos 
r = 5 sin 

Gambar 2.3.17
174

Uji Simetri
Pengujian dalam teorema berikut akan sangat membantu untuk
menggambarkan persamaan-persamaan dalam koordinat kutub, walaupun tidak
dibuktikan, ilustrasinya diperlihatkan pada Gambar 2.3.18.

y y
(r, ө) (r, π - ө) (r, ө)

x x

(a) (b)
(r, -ө)

y
(r, ө)

(- r, ө)
(c)

Gambar 2.3.18
175

TEOREMA 2.21. (Uji Simetri)


(a) Suatu kurva dalam koordinat kutub adalah simetris terhadap sumbu
x jika dengan mengganti θ dengan – θ dalam persamaannya
menghasilkan suatu persamaan yang ekivalen (Gambar 2.3.18a)
(b) Suatu kurva dalam koordinat kutub adalah simetris dalam sumbu y
jika dengan mengganti θ dengan π – θ dalam persamaannya
menghasilkan suatu persamaan yang ekivalen (Gambar 2.3.18b)
(c) Suatu kurva dalam koordinat kutub adalah simetris terhadap titik
asal juka dengan mengganti r dengan – r dalam persamaannya
menghasilkan suatu persamaan yang ekivalen (Gambar 2.3.18c).

Kardioda dan Limacon


Persamaan dalam bentuk

r = a + b sin θ r = a – b sin θ
r = a + b cos θ r = a – b cos θ

Menghasilkan kurva-kurva kutub yang disebut limacons (dari kata latin “


limax’” yang berarti siput). Ada empat macam bentuk yang mungkin untuk
suatu limacon yang ditentukan dari perbandingan a/b bila a > 0 dan b > 0
(Gambar 2.3.19).

a/b < 1 a/b = 1 1 < a/b < 2 a/b ≥ 2


Limacon dengan Cardioida Dimpled Limacon Limacon Konveks
linggkaran dalam

Gambar 2.3.19
176

Latihan 2.3

1. Gambarkan titik-titik berikut ini dalam koordinat kutub.


(a). (3,π /4) (b). (5,2π / 3) (c). ( 1, π /2)
(d). (4, 7 π /6) (e). ( 2,4 π /3) (f). ( 0,π )
2. Gambarkan titik-titik berikut ini dalam koordinat kutub.
(a). (2,- π /3) (b). (3/2,-7 π /4) (c). (-3,3 π /2)
(d). (-5,- π /6) (e). (-6,-π ) (f). (-1,-9π /4)
3. Dapatkan koordinat siku-siku dari titik-titik yang koordinat kutubnya
diberikan.
(a). (6, π /6) (b). (7,2 π /3) (c). (8,9π /4)
(d). (5,0) (e). (7,17 π /6) (f). (0,π )
4. Dapatkan koordinat siku-siku dari titik-titik yang koordinat kutubnya
diberikan.
(a). (-8, π /4) (b). (7,-π /4) (c). (-6,-5π /6)
(d). (0,-π ) (e). (-2,-3π /2) (f). (-5,0)
5. Titik-titik berikut diberikan dalam koordinat siku-siku. Nyatakan titik-titik
tersebut dalam koordinat kutub dengan r≥0 dan 0≤θ<2π
(a). (-5,0) (b). (2 3 ,-2) (c). (0,-2)
(d). (-8,-8) (e). (-3,3 3 ) (f). (1,1)
6. Nyatakan titik-titik untuk soal no. 5 dalam koordinat kutub dengan r≥0 dan –
π≤θ<π.
7. Nyatakan titik-titik untuk soal no. 5 dalam koordinat kutub dengan r≥0 dan
0≤θ<2π
8. Dalam setiap bagian dapatkan koordinat kutub yang memenuhi syarat yang
dinyatakan untuk titik yang mempunyai koordinat siku-siku ( - 3 ,1).
(a). r≥0 dan 0≤θ<2π (b). r≤0 dan 0 ≤θ<2π (c). r≥0 dan -2π<θ≤0
(d). r≤0 dan -π<θ≤π

Untuk soal 9-20 ,tentukan kurvanya dengan tranformasi kedalam koordinat


siku-siku.

9. r = 2 10. r =3 11. r sin θ = 4


12. r = 5 sec θ 13. r = 3 cos θ 14. r = 2 sin θ
2 2 2
15. r sin 2 θ = 8 16. r sin 2 θ = 9 17. r =
1  sin 
177

6 6
18. r = 19. r = 20. r = sec θ tan θ
2  cos  3 cos   2 sin 

Untuk soal 21-32 , nyatakan persamaannya dalam koordinat kutub.

2

2
21. x =7 22. y = -3 23. x y =9
2 2
x  y =5 25. x  y  6 y  0
2 2
24.
2
26. x  y  4 x  0 27. x  9 y
2 2

2
28. x  y  4
2
29. 4xy =9
2 2
30. ( x  y )  16( x  y )
2 2

2 2 2 2
31. ( x  y )  2 xy 32. x ( x  y )  y
2 2 2

33. Buatlah sketsa grafik r 2  3r  2  0 dalam koordinat kutub.


[Petunjuk: Faktorkan]

Untuk soal 34-37, gunakan cara dalam contoh 3 untuk membuat sketsa
kurva dalam koordinat kutub.

34. r = cos θ 35. r = 2(1+sin θ) 36. r = 4 cos (3θ) 37. r = 1 – cos θ


38. Buktikan jarak antara titik-titik dengan koordinat kutub (r1 ,1 ) dan (r2 , 2 )
adalah
D  r1  r2  2r1r2 cos(1   2 )
2 2

39. Buktikan: Dalam koordinat kutub, persamaan r = a sin θ + b cos θ


menyatakan suatu lingkaran.
40. Buktikan ; Luas suatu segitiga yang titik-titiknya mempunyai koordinat
1
kutub (0,0), (r1 ,1 ) dan (r2 , 2 ) adalah A = A  r1r2 sin( 2  1 )
2
(asumsikan bahwa 0≤  1 <  2 ≤π serta r1 dan r2 keduanya positif).
42. Buktikan bahwa
rr1 sin(  1 )  rr2 sin( 2   )  r1r2 (1   2 )  0
178

adalah persamaan kutub untuk garis yang melalui titik-titik


(r1 ,1 ) dan (r2 , 2 ) .

2.4. FUNGSI PARAMETER

Karena grafik dalam bidang xy dari suatu fungsi f dapat dipotong paling banyak satu kalli
oleh sebarang garis tegak, ada banyak kurva pening dalam bidang xy yang tidak
menggambarkan persamaan-persamaan dalam bentuk y = f(x) (misalnya lingkaran). Dalam
bab ini akan ditunjukan bahwa kurva semacam itu dapat diperoleh dari pasangan fungsi-
fungsi, yang satu digunakan untuk menggambarkan koordinat –x suatu titik pada grafik dan
yang lain digunakan juga untuk menggambarkan koordinat –y.

Persamaan parametrik
Banyangkan suatu partikel yang bergerak sepanjang suatu kurva C dalam
bidang xy (Gambar 2.4.1). koordinat x dan koordinat y dari partikel tersebut
adalah fungsi waktu, misalkan x = f(t) dan y = g(t). Ahli fisika dan insiyur
menyebutnya persamaan gerak dari suatu partikel dari kurva, C adalah
trayektori dari partikel.
y

(x,y)

Gambar 2.4.1

Contoh: Sketsa trayektori pada selang waktu 0≤t≤4 dari partikel yang
bergerak dalam bidang xy dengan persamaan gerak
179

1 3 1 2
 6t
2t 2t
x= y=

Penyelesaian:
Trayektori yang dimaksud, tunjukan dalam Gambar 2.4.2, diperoleh dengan
menghitung koordinat x dan koordinat y dari partikel untuk t = 0,1,2,3,4,
gambarkan titik-titik (x,y) dan hubungkan titik-titik yang berurutan tersebut
dengan suatu kurva mulus. Tanda panah pada kurva menunjukan arah gerak.

Gambar 2.4.2

1 3 1 2
 6t
2t 2t
t x= y= (x, y)
0 0 0 (0, 0)
1 -11/2 ½ (-11/2, ½)
2 -8 2 (-8, 2)
180

3 -9/2 9/2 (-9/2, 9/2)


4 8 8 (8, 8)

Konsep ahli fisika mengenai persamaan gerak telah digunakan oleh


matematikawan untuk menjelaskan kurva dalam bidang xy menggunakan
sepasang persamaan

x = x (t) y = y(t)

yang menyatakan koordinat (x,y) dari suatu titik dalam suatu kurva sebagai
fungsi dari peubah bantu t. Peubah t itu disebut parameter, dan persamaan
tersebut dinamakan persamaan parametrik suatu kurva. Parametrik tidak hanya
mewakili waktu; tetapi seharusnya dipandang sebagai peubah bebas yang
bergerak pada suatu selang bilangan rill. Apabila tidak ada batasan secara
eksplisit pada t atau yang diimplikasikan oleh persamaan-persamaan, dapat
dipahami bahwa t bergerak antara -∞ dan +∞. Untuk menyatakan bahwa t
dibatasi pada suatu selang a, b , akan dituliskan

x = x(t), y = y(t) dengan a ≤ t ≤ b.

Dalam persamaan-persamaan parametrik ini, telah digunakan cara umum untuk


menuliskan persamaan-persamaan sebagau x =x(t) dan y = y(t) daripada x =
f(t) dan y = g(t). Hal ini untuk memudahkan dengan menggunakan sedikit
hurup yang berbeda. Perlu dicatat bahwa bukanlah keharusan menggunakan t
untuk parameter; hurup lain yang tidak digunakan untuk tujuan tertentu dapat
dipakai.

Contoh: Suatu lingkaran dengan jari-jari 2 berpusat dititik asal dapat disajikan
dengan persamaan parametrik x = 2 cos θ dan y = 2 sin θ dengan 0 ≤ θ ≤ 2π.
Dalam hal ini parameter θ dapat dipandang sebagai sudut yang diukur
berlawanan arah jarum jam dari sumbu-x positif ke jari-jari OP dari titik asal ke
suatu titik pada lingkaran dengan koordinat P(x,y) (Gambar 2.4.3). Untuk θ
bergerak dari 0 ke 2π, titik P memuat suatu putaran penuh berlawana arah
jarum jam. Dengan mengubah selang tempat parameter θ bergerak, bagian lain
dari lingkaran dapat diperoleh.
Sebagai contoh, x = 2 cos θ, y = 2 sin θ, 0 ≤ θ ≤ π menyajikan
bagian atas lingkaran (Gambar 2.4.4).
181

(x,y)
y
2
y
θ
x

Gambar 2.4.3

x = 2 cos θ, y = 2 sin θ, 0 ≤ θ ≤ 2π

x = 2 cos θ, y = 2 sin θ, 0 ≤ θ ≤ π

Gambar 2.4.4

Orientasi Kurva Fungsi Parameter


Dalam contoh sebelumnya, lingkaran digambarkan berlawanan arah
jarum jam untuk parameter θ bertambah. Sehingga dapat dikatakan bahwa
persamaan parameter mempunyai orientasi baerlawanan arah jarum jam pada
lingkaran. Secara umum, jika suatu kurva disajikan dengan persamaan
parametrik, dan jika suatu syarat tertentu ditentukan pada persamaan tersebut
untuk memastikan bahwa kurva dapat ditelususri secara kontinu dan dalam
suatu arah tertentu saat parameter bertambah, maka hal ini dinamakan arah
pertambahan parameter atau kadang-kadang disebut orientasi kurva. Arah
182

orientasi ditentukan oleh persamaan-persamaan yang diberikan. Sebagaimana


dalam koordinat kutub, dalam persamaan parametrik orientasi dapat
ditunjukkan oleh tanda panah pada kurva.
Perlu dicatat bahwa orientasi suatu kurva ditentukan oleh persamaan
parametrik dan bahwa persamaan parametrik yang berbeda dapat
menghasilakan orientasi yang berbeda untuk kurva yang sama. Sebagai contoh,
persamaan-persamaan parametrik

x  a cos  , y  a sin  dengan 0  x  2

Menyajikan lingkaran yang berjari-jari a, berpusat di titik asal, dengan


orientasi searah jarum jam, seperti terlihat dalam Gambar 2.4.5 dengan menulis
persamaan-persamaan parametrik ini sebagai:

x  a cos( ), y  a sin( ) dengan 0  x  2

Perlu diingat bahwa parsamaan parametrik yang berbeda-beda dapat


menelusuri kurva yang sama, sebagai contoh, perhatikan kedua persamaan
lingkaran sebelumnya menelusuri lingkaran yang sama, tetapi dengan gerak
yang berlawanan. Jadi harus dibedakan antara suatu kurva, yang merupakan
himpunan titik-titik yang ditelusuri dengan cara tertentu oleh persamaan
perametrik.

Catatan. Tidak semua persamaan parametrik menghasilkan kurva dengan


orientasi. Dengan tidak adanya syarat yang membatasi, kurva tersebut bisa jadi
ditelusuri secara tidak kontiyu, dengan titik (x(t),y(t)) berputar tidak teratur atau
mungkin dengsn titik yang bergerak meju mundur sepanjang kurva dan gagal
menentukan suatu arah yang pasti. Dalam bab berikutnyta akan dibahas
batasan yang dapat menghilangkan prilaku tak tertentu dan menghasilkan
kurva dengan orientasi.
183

x

y
2
(x,y)
y
x = 2 cos (-θ), y = 2 sin (-θ), 0 ≤ θ ≤ 2π
Gambar 2.4.5

Contoh: Misalkan m menyatakan kemiringan garis singgung pada parabola


y  x 2 disebaran titik (x,y). Dapatkan persamaan-persamaan parametrik untuk
parabola dalam suku-suku parameter m, dan tentukan orientasi pada parabola
persamaan-persamaan parametrik tersebut.

Penyelesaian:
Permasalahan disini adalah menyatakan x dan y dalam suku-suku m. Padahal
dy
m=  2x
dx
sehingga
2
1 dy 1 1  1
x=  m dan y = x 2   m   m 2
2 dx 2 2  4
yang mengarah pada persamaan-persamaan perametrik
1 1
x = m, y  m 2
2 4
Arah pertambahan parameter, ditunjukan dalam Gambar 2.4.6, diperoleh
1
dengan memperhatikan bahwa x bertambah saat m bertambah, sebab x = m .
2
184

Gambar 2.4.6

Mengeliminasi Parameter
Kadang-kadang suatu kurva yang diberikan secara parametrik dapat
dikenali dengan cara mengeliminasi parameternya. Hal tersebut dapat
diilustrasikan dengan contoh berikut.

Contoh: Sketsa kurva


x = 2t - 3, y = 6t - 7 dan tentukan orientasinya.

Penyelesaian:
Dengan menyelesaikan persamaan pertama, diperoleh
x3
t=
2
subtitusikan hasil ini kepersamaan 2 diperoleh
185

 x  3
y=6  7 atau y = 3x + 2
 2 
yang berupa garis yang ditunjukan pada Gambar 2.4.7. Proses eliminasi
parameter menghilangkan informasi orientasi, sehingga persamaan parametrik
yang asli perlu dilihat untuk informasi itu. Arah pertambahan t, ditunjukan
dalam Gambar 2.4.7, dapat diperoleh dari persamaan asli dengan
memperhatikan bahwa x bertambah apabila t bertambah (atau bahwa y
bertambah apabila t bertambah).

Gambar 2.4.7 Gambar 2.4.8

Contoh: Sketsa kurva


x = a cos t, y = b sin t 0 ≤ t ≤ 2π
Dimana 0 < b < a, khususnya 2 = 1; b = 3, dan tentukan orientasinya.

Penyelesaian:
x y
Parameter t dapat dieliminasi dengan menulis = cos t dan = sin t , dari
a b
x2 y2
sini tampak bahwa + = 1.
a2 b2
186

Persamaan ini merupakan persamaan ellips yang ditunjukkan oleh Gambar


2.4.8. Orientasinya berlawanan arah jarum jam dapat diperoleh dari persamaan-
persamaan parametrik diatas dengan memperhatikan bahwa x = a cos t
berkurang dari a ke – a untuk 0  t  π, dan kemudian bertambah dari - a ke a
untuk π ≤ t ≤ 2π, sedangkan y = b sin t bertambah untuk 0 ≤ t ≤ π/2, berkurang
untuk π/2 ≤ t ≤ 3π/2, dan bertambah pada selang 3π/2 ≤ t ≤ 2π.

x2 - y2 – 1 = 0

Gambar 2.4.9.

Contoh: Sketsa kurva x = cosh t, y = sinh t

Penyelesaian:
Parameternya dapat dieliminasi dengan menggunakan kesamaan cosh2 t – sinh2
t = 1 untuk mendapatkan x2 - y2 = 1, persamaan ini adalah persamaan
hiperbola yang ditunjukkan dalam Gambar 2.4.9. Akan tetapi, persamaan
parametrik aslinya hanya menyajikan bagian kanan hiperbola ini, karena x =
cosh t ≥ 1 untuk semua t. Orientasi yang ditunjukkan dalam gambar tersebut
dapat diperoleh dengan mengingat bahwa y = sinh t bertambah apabila t
bergerak dari -  ke +  .

Catatan. Contoh-contoh diatas menunjukkan bahwa proses eliminasi


parameter dari persamaan parametrik dapat mengubah perluasan grafiknya,
untuk itu perlu suatu pengamatan yang cermat.
187

Menyajikan Grafik Fungsi secara Parametrik


Meskipun persamaan parametrik merupakan hal yang penting untuk
kurva yang tidak menggambarkan grafik suatu fungsi, kurva berbentuk y = f
(x) dan x = g(y) dapat disajikan secara parametrik dengan mengenalkan suatu
parameter t sebagai peubah bebasnya.

Contoh: Kurva y = 4x2 – 1 dan x = 5y3 – y dapat disajikan secara parametrik


berturut-turut dengan

x = t, y = 4t2 – 1 dan x = 5t2 – t, y=t

Catatan. Suatu kurva selalu dapat disajikan secara parametrik dengan


beberapa cara yang berbeda. Sebagai contoh, penyajian dengan parametrik dari
y = 4x2 – 1 berbeda dengan subtitusi x = s + 1, yang menghasilkan persamaan
parametrik baru berikut ini dengan s sebagai parameternya:

x = s + 1, y = 4(s + 1)2 – 1 = 4s2 + 8s + 3

Subtitusi yang berbeda akan menghasilkan kurva dengan persamaan parametrik


yang berbeda.

(x, y)

x = 4 cos2  , y = 2 sin 2  , 0 ≤  ≤ π

Gambar 2.4.10
188

Contoh: Jika r = f(  ) adalah suatu kurva kutub, maka dapat diperoleh


persamaan parametrik untuk kurva ini dengan  sebagai parameter dengan
cara subtitusi r = f(  ) dalam rumus-rumus
x = r cos  , y = r sin 
yang menghubungkan koordinat siku-siku dan kutub. Sebagai contoh,
lingkaran r = 4 cos  dapat disajikan dengan persamaan parametrik
x = 4 cos2  . y = 4 cos  sin  = 2 sin 2 
Jika diberi batasan 0 ≤  ≤ π, maka titik (x,y) akan menelusuri lingkaran tepat
satu kali pada [0,π]. (Gambar 2.4.10).

Sikloida
Jika suatu roda menggelinding sepanjang garis lurus tanpa tergelincir,
maka suatu titik pada peleg roda membentuk suatu kurva yang dinamakan
sikloida (Gambar 2.4.11). Sikloida merupakan sesuatu yang sangat menarik
karena menyediakan penyelesaian dua masalah matematika yang ternashur:
masalah branchistochrone (dari bahasa Yunani yang berarti ”waktu
terpendek”) dan masalah tautochrone (dari bahasa Yunani yang berarti ”waktu
sama”).

Gambar 2.4.11

Dalam bulan Juni 1696, Johann Bernoulli mengajukan masalah


brachistochrone dalam bentuk suatu tantangan bagi matematikawan lain.
Masalahnya adalah untuk menentukan bentuk dari suatu kawat sepanjang mana
suatu manik-manik meluncur dari suatu titik P ke titik lain Q, tidak secara
langsung dibawah, dalam waktu terpendek.
Pada mulanya, akan diperkirakan bahwa kawat tersebut mestinya
membentuk suatu garis lurus, karena bentuk tersebut menghasilkan jarak
terpendek dari P ke Q. Akan tetapi, jawaban yang benar adalah separuh dari
satu busur dari suatu sikloida. Intinya, mula-mula bentuk ini membolehkan
manik-manik jatuh secara cepat, membentuk suatu kecepatan awal yang cukup
189

untuk menjangkau Q dalam waktu terpendek, sekalipun lintasan tersebut tidak


menunjukkan jarak terpendek dari P ke Q. Masalah ini diselesaikan oleh
Newton, Leibniz, L’Hopital, Johann Bernoulli, dan saudara tuanya Jakob
Bernoulli. Hal itu juga telah dirumuskan dan diselesaikan secara tidak benar
beberapa tahun sebelumnya oleh Galileo, yang memberikan busur dari
lingkaran sebagai jawabannya.
y

P(x,y)
C(h,k)
a  a cos 
P k a sin 
y  k  cos 
x
x  k  sin 

h
Q

Gambar 2.4.12 Gambar 2.4.13

Dalam masalah tautochrone tujuannya adalah mendapatkan bentuk dari suatu


kawat dari P ke Q sedemikian hingga dua manik-manik dimulai dari sebarang
titik pada kawat antara P dan Q mencapai Q dalam jumlah waktu yang sama.
Demikian juga, jawabannya adalah separuh busur dari suatu sikloida.
Sub-bab ini diakhiri dengan menurunkan persamaan parametrik untuk suatu
sikloida.

Contoh: Misalkan P suatu titik tetap pada lingkaran suatu roda yang berjari-
jari a. Anggap bahwa roda menggelinding sepanjang sumbu–x positif dari
suatu sistem koordinat siku-siku dan P mula-mula berada dititik asal. Apabila
roda menggelinding pada jarak yang diketahui, garis radial dari pusat C ke titik
P berputar melalui suatu sudut  (Gambar 2.4.13), yang digunakan sebagai
parameter (biasanya sudut  dipandang sebagai suatu sudut positif, meskipun
dibangun oleh perputaran searah jarum jam). Tujuannya adalah untuk
menyatakan koordinat-koordinat dari P(x,y) dalam suku-suku sudut  .
190

Gambar 2.4.13 menunjukkan bahwa koordinat P(x,y) dan koordinat pusat roda
C(x,y) dihubungkan oleh x = h – a sin  , y = k – a cos 
Karena tinggi pusat roda adalah jari-jari roda, maka k = a; dan karena jarak h
berpindah terhadap pusat sama dengan panjang busur lingkaran dihadapan 
(mengapa?), maka h = a  . Sehingga, dihasilkan x = a  - a sin  , y = a -
cos  0 ≤ Φ ≤ +  yang merupakan persamaan parametrik dari sikloida.

Latihan 2.4

1. (a). Buatlah sketsa kurva x = t, y = t2 dengan membuat plot titik-titik yang


bersesuaian dengan t = -3, -2, -1, 0, 1, 2, 3.
(b). Tunjukkan bahwa kurva tersebut adalah parabola dengan mengeliminasi
parameter . t.
2. Buatlah sketsa kurva x = t3 – 4t, y = 2t, -3 ≤ t ≤ 3 dengan membuat plot
beberapa titik yang sesuai.

Untuk soal 3-15, buatlah sketsa kurva dengan mengeliminasi parameter t,


dan tunjukkan arah pertambahan t.

3. x = cos t, y = sin t, 0≤ t ≤ 2π
4. x = 1 + cos t, y = 3 – sin t, 0 ≤ t ≤ 2π
5. x = 3t – 4 , y = 6t + 2
6. x = t – 3, y = 3t – 7, 0 ≤ t ≤ 3
7. x = 2 cos t, y = 5 sin t, 0 ≤ t ≤ 2π
8. x = 3 + 2 cos t, y = 2 + 4 sin t, 0≤ t t ≤ 2π
9. x = √t, y = 2t + 4,
10. x = 4 sin 2πtc, y = 4 cos 2πt, 0 ≤ t ≤ 1
11. x = 2 cosh t, y = 4 sinh t
12. x = cos 2t, y = sin t, -π/2 ≤ t ≤/2
14. x = 4t + 3, y = 16t2 – 9
14. x = sec t, y = tan t, π≤ t ≤ 3π/2
15. x = t2, y = 2 ln t, t ≥1

Untuk soal 16-25, buatlah sketsa kurva berikut.

16. x = 3e-t – 2, y = 4e-t – 1, t ≥ 0


17. x = sec2 t, y = tan2 t
191

18. x = 3e-2t – 1, y = e-t, t ≥ 0.


19. x = 2 sin2 t, y = 3 cos2 t
20. x = sec t, y = tan t, -π/2 ≥ t ≥ π/2.
21. x = cos t, y = sin2 t
22. x = cos 2t, y = 2 cos t
23. x = sin2 t, y = 1 + cos t
24. x = cos(e-t), y = sin(e-t), t ≥ 0.
25. x = cos 3t, y = 2 sin2 3t – 1.
25. Dapatkan persamaan parametrik bagian atas setengah lingkaran y =
a 2  x 2 (a > 0) dalam suku-suku parameter t, dimana t adalah jarak
antara (-a,0) dan sebarang titik pada setengah lingkaran.
26. Dapatkan persamaan parametrik kurva y = x . Dalam suku-suku
parameter t, Dengan menggunakan tsebagai koordinat –x dari titik dimana
garis singgung pada kurva tersebut memotong sumbu –x.
27. Dapatkan persamaan parametrik untuk rose r = 2 cos 2  dengan
menggunakan  sebagai parameter.
28. Dapatkan persamaan parametrik untuk limacon r = 2 + 3 sin  dengan
menggunakan  sebagai parameter.
29. Hypocycloid adalah kurva yang dijejaki oleh suatu titik P pada keliling
lingkaran yang digelindingkan dalam suatu lingkaran yang lebih besar.
Andaikan lingkaran besar mempunyai jari-jari a, lingkaran yang
menggelinding berjari-jari b, dan lingkaran besar berpusat di titik asal.
Misalkan  adalah sudut yang ditunjukkan dalam gambar berikut, dan
asumsikan bahwa titik P pada (a,0) ketika  = 0. Tunjukkan bahwa
hypocycloid yang terjadi dibangun oleh persamaan parametrik
a b 
x  (a  b) cos   b cos 
 b 
a b 
x  (a  b) sin   b sin 
 b 
192

1
30. Jika b = a untuk soal 29, maka kurva yang dihasilkan disebut
4
hypocycloid empat Patahan.
(a). Buatlah sketsa kurva ini.
(b). Tunjukkan bahwa kurva tersebut diberikan oleh persamaan parametrik
x = cos3  , y = a sin3 
(c). Tunjukkan bahwa kurva tersebut diberikan oleh persamaan
2 2 2
x 3 + y 3 = a 3 dalam koordinat kartesius

2.5. MENGGAMBAR GRAFIK DENGAN MAPLE


Pada bagian akhir dari Bab 2 akan diberikan sedikit materi pengantar
bagaimana menggambar grafik dengan memanfatkan kemampuan software
Maple. Maple memiliki kemampuan menampilkan grafik dalam koordinat
kartesius dua dimensi dan tiga dimensi dengan berbagai variasi, termasuk
menampilkan animasi, serta koordinat polar

Contoh: Menggambar grafik fungsi satu variabel dengan beberapa variasinya,


dapat dilakukan dengan perintah:
restart:
f:=x->sin(x):
plot(f(x),x=-2*Pi..2*Pi);

Dapat juga menentukan warna gambar serta batas koordinat yang ditampilkan
sebagai berikut:
plot(f(x),x=-2*Pi..2*Pi, color=blue, vew=[-7..7,-2..2]);
193

Dua grafik fungsi atau lebih dapat ditampilkan dalam satu bidang koordinat
dengan perintah sebagai berikut:

restart:
f:=x->sin(x):
g:=x->x*cos(x):
plot(f(x),g(x), x=-2*Pi..2*Pi, color=[blue,red], vew=[-7..7,-5..5]);

contoh lain:

restart;
plots[inequal]([-2 < x, x <3, x – 2 < y, y < 3 * x + 4, y < - 2 * x+1, y < - 4 * x
– 3], x = -2.90.. .700, y = -6.50.. 3.50);

Penting diperhatikan akhir pada setiap baris ada tanda “;” dan “:” ini artinya
bahwa tanda ”:” memberi perintah hasil runing perintah tidak ditampilkan,
sedangkan tanda ”;” hasil runing perintah ditampilkan.

Grafik dari suatu fungsi dapat disimpan ke dalam suatu variabel, dengan
perintah:

restart:
f:=x->sin(x):
g:=x->x*cos(x):
grafikf:=plot(f(x), x=-2*Pi..2*Pi, color=blue):
grafikg:=plot(g(x), x=-Pi..Pi, color=red):
with(plots):
display({grafikf,grafikg});

Perintah with(plots) untuk mengaktifkan “library grafik”. Perintah display bisa


divariasikan dengan memberi perintah:

display({grafikf,grafikg},vew=[-8..8,-4..4]);

Menggambar dengan Tambahan Variabel Parameter


Secara umum persamaan suatu kurva/grafik dapat dinyatakan sebagai fungsi
parameter berikut: x = x(t), y = y(t), z = z(t), dst, dengan t bergerak dari nilai
194

tertentu ke nilai tertentu pula, misalkan a, b. Perintah Maple khusus untuk


menampilkan kurva parametrik dalam tiga dimensi diberi perintah:

spacecurve([x(t),y(t),z(t)], t=a..b,option)

Contoh: Dalam soal latihan komprehensip Bab 2 soal no 7 bagian a dapat


ditampilkan 3 dimensi dan 2 dimensi dengan perintah sebagai berikut:
Untuk 3 dimensi:
restart:
with(plots):
spacecurve([t^2-1.8*t-1.2,t,t], t=-
1..3,color=magenta,axes=normal,labels=[x,y,t], numpoints=900);

Untuk 2 dimensi:

restart:
with(plots):
plot([t^2-1.8*t-1.2], t=-1..3,color=magenta,axes=normal,labels=[x,y],
numpoints=900);

Contoh Lain:
restart;
plot3d([4+x*cos((1/2)*y), y, x*sin((1/2)*y)], x = -Pi .. Pi, y = 0 .. 2*Pi, coords
= cylindrical, style = patchnogrid, grid = [60, 60], orientation = [35, 135],
lightmodel = light4, shading = zhue, scaling = constrained, transparency = .3);

Hasil:
195

restart;
plot3d({x+2*y, sin(x*y)}, x = -Pi .. Pi, y = -Pi .. Pi);

Hasil:
restart;
c1 := [cos(x)-2*cos(.4*y), sin(x)-2*sin(.4*y), y];
c2 := [cos(x)+2*cos(.4*y), sin(x)+2*sin(.4*y), y];
c3 := [cos(x)+2*sin(.4*y), sin(x)-2*cos(.4*y), y];
c4 := [cos(x)-2*sin(.4*y), sin(x)+2*cos(.4*y), y];
plot3d({c1, c2, c3, c4}, x = 0 .. 2*Pi, y = 0 .. 10, grid = [25, 15], style = patch,
color = sin(x));

Hasil:
196

plot3d([c1, c2, c3], x = 0 .. 2*Pi, y = 0 .. 10, grid = [25, 15], style = patch, color
= [default, green, yellow], plotlist);

Hasil:

LATIHAN KOMPREHENSIF BAB 2

Sebagian besar dari soal-soal ini perlu menggunakan kalkulartor


penggambar atau komputer sistem aljabar (CAS) seperti Mathematica,
Maple, atau Derive. Apabila diminta untuk mencari suatu jawaban atau
untuk menyelesaikan suatu persamaan, diijinkan untuk memilih mencari
hasil eksak atau hampiran numerik, bergantung pada teknologi yang
digunakan atau imajinasi pribadi. Bentuk jawaban mungkin berbeda dari
mahasiswa yang lain atau dari sub-bab jawaban dalam buku ini, bergantung
pada bagaimana cara menyelesaikan masalah dan ketelitian yang digunakan
dalam hampiran numeriknya.

Pada soal 1 dan 2, gunakan prinsip Archimedes: Suatu benda yang


keseluruhan atau sebagian ditenggelamkan dalam suatu cairan akan
diapungkan oleh suatu gaya yang sama dengan berat cairan yang
dipindahkan.
197

1. Bola mengapung: suatu logam berbentuk bola berongga mempunyai garis


tengah 5 meter berat 108 kilogram dan mengapung dengan sebagian
tenggelam dalam air laut. Dengan mengasumsikan bahwa kepadatan berat
air laut adalah 63.9 kg/m3, seberapa jauh dari permukaan bagian bawah
bola tersebut? [petunjuk: Jika bola berjari-jari r ditenggelamkan sampai
kedalaman h, maka volume V dari bagian yang tenggelam diberikan oleh
rumus V = π h2 (r – h/3)]
2. Bola mengapung: Suatu logam berbentuk bola berongga mempunyai garis
tengah 5 meter dan berat  kilogram mengapung dalam air laut. (Lihat soal
1)
(a). Gambarkan grafik  terhadap h untuk 0≤ h ≤ 5.
(b). Dapatkan berat bola jika tepat setengah bagian bola
ditenggelamkan.

Pada soal 3 dan 4, asumsikan bahwa akibat dari invers-kuadrat Hukum


Gaya Tarik Gravitasi Newton dipenuhi: Dua benda homogen berbentuk
bola dengan massa m 1 dan m 2 saling tarik menarik dengan gaya sebesar g
m 1 m 2 /d2, dengan g suatu konstanta dan d jarak antara pusat dua benda
tersebut.

3. Titik equilibrium antara bumi dan bulan: Misalkan bahwa pada saat
tertentu jarak antara pusat bumi dan pusat bulan adalah 3.84 x 108 meter.
Pada jarak berapakah dari pusat bumi, gaya tarik bumi pada suatu benda
berbentuk bola bermassa m akan sama besarnya, tetapi berlawanan arah,
dengan gaya tarik bulan pada benda tersebut? Gunakan 5.98 x 1024
kilogram untuk massa bumi, dan 7.35 x 1022 kilogram untuk massa bulan.
4. Bumi dan matahari: Asumsikan bahwa pusat bumi dan pusat matahari
berada dalam sistem koordinat-xy dengan pusat bumi di titik asal dan pusat
matahari dititik (1.49 x 1011,0) dengan jarak yang diukur dalam meter.
Tunjukkan bahwa himpunan titik yang bermassa m dalam bidang-xy
sehingga gaya tarik gravitasi bumi sama dengan gaya tarik gravitasi
matahari akan membentuk suatu lingkaran. Dapatkan pusat dan jari-jari
lingkaran tersebut. [Petunjuk: Gunakan 5.98 x 1024 kilogram sebagai massa
bumi dan 1.97 x 1030 kilogram untuk massa matahari].
198

5. Manajemen sumberdaya:Suatu peternakan terdiri dari 20 domba bertanduk


besar yang dilepaskan di suatu daerah yang di lindungi di Colorado.
Diharapkan bahwa dengan manajemen yang hati-hati banyaknya domba, N,
setelah t tahun akan diberikan oleh rumus
220
N (t ) 
1  10(0.83) t
Dan populasi domba akan dapat terpelihara dengan sendiinya tanpa
pengawasan lebih lanjut setelah populasi tersebut mencapai jumlah 80.
(a). Berapa tahun negara bagian Colorado melaksanakan program untuk
memelihara domba?
(b). Berapa banyak domba bertanduk besar yang dapat dibantu oleh
lingkungan di daerah yang dilindungi itu? [petunjuk: periksa grafik dari
N terhadap t untuk nilai t besar]
6. Tabel perubahan air: Misalkan t hari setelah hujan lebat, ketinggian air
bawah tanah pada suatu lokasi tertentu turun dengan laju r cm per hari,
dengan r diberikan oleh
9
r=
t (2.7)1 / t
(a). Gambarkan grafik r terhadap t.
(b). Untuk nilai t berapakah ketinggian air akan turun dengan laju 2 cm per
hari?
(c). Kapankah ketinggian air turun paling cepat, dan berapakah laju
penurunannya waktu itu?
7. Menggambar grafik persamaan: Salah satu metode menggambar grafik
suatu persamaan berbentuk x = ƒ(y) (a≤ y ≤ b)dalam sistem koordinasi-xy
adalah dengan menyelesaikan persamaan itu untuk y sebagai satu fungsi
(atau fungsi-fungsi) dari x dan menggambarkan grafik fungsi-fungsi yang
dihasilkan. Akan tetapi metode ini tidak dapat diterapkan jika
persamaannya tidak dapat diselesaikan secara eksplisit untuk y dalam suku-
suku x. Dalam kasus ini grafiknya dapat diperoleh dengan menyajikan x =
ƒ(y) (a≤ y ≤ b)secara parametrik sebagai x = ƒ(t), y = t (a ≤ t ≤ b) dan
menggambarkan grafik persamaan ini.
(a). Gunakan metode parametrik untuk menggambarkan grafik
x = y2 – 1.8y – 1.2 (-1≤ y ≤3) dalam sistem koordinat-xy.
(b). Jika suatu bola besi berlubang dengan diameter 5 cm dan berat  .gram
melayang dibawah permukaan air ke kedalaman h dalam air laut, maka
 = 63.9πh2(2.5 – h/3), 0≤ h ≤ 5 gunakan metode parametrik untuk
menggambar grafik persamaan ini dalam sistem koordinat- h
199

UJI TELAAH ULANG KONSEP

Soal-soal telaah ulang konsep didesain untuk mengukur tingkat berfikir mahasiswa dari aspek
kognitif dan disajikan secara komprehensif diakhir bab. Mahasiswa sangat dianjurkan untuk
menjawab soal-soal telaah ulang konsep secara cepat dan benar sebagai alat untuk
mengetahui bahwa mahasiswa telah mengerti konsep-konsep pada bab ini sampai pada
tingkat C6 dari aspek cognitifnya.

1. Himpunan masukan (input) yang diperbolehkan untuk suatu fungsi disebut


..............................dari fungsi itu; himpunan keluaran (output) yang
diperoleh disebut ...............................dari fungsi itu.
2. Jika f(x) = 3x2, maka f(2x) =................................dan f(x + h) =
..................................
3. Jika f(x) menjadi semakin dekat ke L ketik x semakin besar, maka garis y =
L adalah .............................untuk grafik f.
4. Jika f(-x) = f(x) untuk semua x dalam daerah asal f, maka f disebut fungsi
......................; jika f(-x) = -f(x) untuk semua daerah asal f, maka f disebut
fungsi .......................... Dalam kasus yang pertama, grafik f simetris
terhadap ......................; dalam kedua, ia simetris terhadap
.....................................
5. Jika f(x) = x2 + 1, maka f 3(x) = ..................................
6. Nilai fungsi komposisi f o g pada x diberikan oleh (f o g)(x) =
...................................
7. Dibandingkan terhadap grafik y = f(x), grafik y = f(x + 2) digeser
..................... satuan ke................................................
8. Suatu fungsi rasional didefinisikan sebagai .............................
9. Daerah asal alami fungsi sinus adalah ...................................... ; daerah
hasilnya ialah ..................................................
10. Periode fungsi kosinus adalah ...................................; periode fungsi sinus
adalah ..................................................; periode fungsi tangen adalah
.......................................
11. Karena sin(-x) = - sin(x), maka fungsi sinus adalah ..................................
dan karena cos (-x) = cos x, fungsi kosinus
adalah....................................................
12. Jika (-4,3) terletak pada sisi akhir suatu sudut  yang diapit garis dari titik
asal ke titik tersebut dan sumbu-x, maka sudut cos  =
...........................................
200

KUNCI JAWABAN UJI TELAAH ULANG KONSEP

1. Domain; Range
2. 12x2; 3(x + h)2 = 3x2 + 6hx + 3h2.
3. Asimtot Datar
4. Genap; Ganjil; sb-y; sb-x
5. (x2 + 1)3
6. f(g(x))
7. 2; ke kiri dalam sb-x
a0  a1 x  ...  am x m
8.
b0  b1 x  ...  an x n
9. (-∞, +∞); [-1, 1]
10. 2π; 2π; π
11. Ganjil; Genap
3
12. .
5

UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT

Cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban tes telaah ulang


konsep yang terdapat di akhir Bab ini. Hitunglah jumlah jawaban Anda yang
benar, kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat
penguasaan Anda terhadap materi kegiatan belajar Bab 2.

BanyaknyaSoal Dijawab dengan Benar


Tingkat Penguasaan  x 100%
12

Arti tingkat penguasaan yang Anda capai:

90 % - 100 % = Baik sekali


80 % - 89 % = baik
70 % - 79 % = cukup
≤ 69 % = kurang

Kalau tingkat penguasaan Anda mencapai 80 % ke atas, Anda dapat


meneruskan ke Bab 3. Akan tetapi, bila tingkat penguasaan anda masih di
201

bawah 80 %, Anda perlu mengulangi lagi kegiatan belajar Bab 2, terutama


bagian yang belum Anda kuasai.

Daftar Pustaka
[1]. H. Anton, Calculus, A New Horizon, 6th edition, Jhon Wiley & Sons,
Inc., New York, 1999.
[2]. R. L. Finney, M. D. Weir, F. R. Giordano, Thomas’ Calculus, 10th
edition, Addison Wesley Longman, New York, 2001.
[3]. M. D. Greenberg, Advanced Engineering Mathematics, 2rh edition,
Prentice Hall, New Jersey, 1998.
[4]. E. Kreyszig, Advanced Engineering Mathematics, 6th edition, Jhon Wiley
& Sons, Inc., Singapore, 1988.
[5]. A. Marjuni, Media Pembelajaran Matematika dengan Maplet, edisi
pertama, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2007.
[6]. J. E. Purcell, S. E. Rigdon, D. Varberg, Calculus, 9th edition, Prentice
Hall, New Jersey, 2009.
[7]. Tim Dosen Jurusan Matematika ITS, Kalkulus 1, Edisi 3, Jurusan
Matematika FMIPA ITS, Surabaya, 2002.
BAB
Limit dan Kekontinuan

3 Fungsi

Kata Kunci

Fungsi Invers
Garis Singgung
Jebakan Numerik
Limit
Limit Kanan
Limit Kiri
Kekontinuan
Kontinu Kanan
Kontinu Kiri
Polinomial
Teorema Apit
Teorema Nilai Antara
Trigonometri
203

PETUNJUK

[1]. Sebelum Anda mempelajari Bab ini lebih lanjut, diharapkan lebih
dahulu menelaah standar kompetensi dan kompetensi dasar serta
kerangka isi (epitomi) Bab 3. Setelah itu, pelajarilah uraian
pembahasan buku ini dengan baik dan sungguh-sungguh sehingga
Anda dapat memahami isinya

[2]. Untuk memudahkan Anda menelaah isi uraian pada Bab ini dan
sebagai kontrol belajar, harap diperhatikan uraian yang tercetak tebal,
miring, tebal dan miring sebagai pengertian penting. Kemudian
bacalah uraian pembahasan secara keseluruhan dan baca berulang-
ulang sesuai kebutuhan sehingga Anda dapat memahami isinya.

[3]. Pada setiap sub pokok bahasan terdapat contoh soal dan latihan,
pahamilah contoh soal tersebut, kemudian kerjakan latihan yang ada.
Setelah Anda mengerjakan latihan per sub bab tersebut kemudian
pada bagian akhir bab terdapat latihan telaah ulang konsep, cocokkan
jawaban Anda dengan kunci jawaban latihan telaah ulang konsep yang
disediakan pada akhir bab bahan ajar ini. Bila Anda mencapai tingkat
penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan dengan Bab 4.
Tetapi bila tingkat penguasaan Anda kurang dari 80% maka Anda
harus mempelajari kembali Bab ini dengan penekanan pada bagian
yang belum Anda kuasai.

[4]. Setelah Anda mempelajari isi Bab 3 sampai selesai, Anda diharapkan
memiliki kemampuan yang dikemukakan dalam Indikator (I)
204

STANDAR KOMPETENSI (SK)

3. Mahasiswa memahami konsep, penghitungan limit serta kekontinuan


fungsi baik secara prosedural maupun komputasi dengan
menggunakan Maple. (SK 3)

KOMPETENSI DASAR (KD) INDIKATOR (I)

3.1. Mahasiswa mampu mengidentifikasi 1. Mahasiswa mahir


ruang lingkup permasalahan limit. mengidentifikasi ruang
(KD 3.1) lingkup permasalahan limit.

2. Mahasiswa mahir
3.2. Mahasiswa mahir menghitung limit
menghitung limit dari
fungsi. (KD 3.2)
berbagai fungsi.

3. Mahasiswa mahir
3.3. Mahasiswa mahir membuktikan limit
membuktikan eksistensi
fungsi dengan menggunakan konsep
limit fungsi menggunakan
ε-δ. (KD 3.3)
konsep ε-δ.

4. Mahasiswa mahir
3.4. Mahasiswa mahir menentukan limit menentukan limit dan
dan kekontinuan fungsi secara kekontinuan fungsi baik
prosedural dan komputasi secara prosedural maupun
menggunakan Maple. (KD 3.4) komputasi menggunakan
Maple.
205

EPITOMI BAB 3

STANDAR KOMPETENSI (SK)

Mahasiswa memahami konsep, penghitungan limit serta kekontinuan fungsi baik secara prosedural maupun komputasi dengan
menggunakan Maple. (SK 3)

KOMPETENSI DASAR (KD)

Mahasiswa mahir menentukan


Mahasiswa mampu mengidentifikasi Mahasiswa mahir membuktikan
Mahasiswa mahir menghitung limit limit dan kekontinuan fungsi
ruang lingkup permasalahan limit. limit fungsi dengan menggunakan
fungsi. (KD 3.2) secara prosedural dan komputasi
(KD 3.1) konsep ε-δ. (KD 3.3)
menggunakan Maple. (KD 3.4)

Pokok/Sub Pokok Bahasan Pokok/Sub Pokok Bahasan Pokok/Sub Pokok Bahasan Pokok/Sub Pokok Bahasan

3.4. Kekontinuan Fungsi


3.1. Limit dan Lingkup 3.5. Menghitung Limit dan
3.2. Penghitungan Limit 3.3. Konsep Limit
Permasalahannya Kekontinuan Fungsi
Menggunakan Maple
206

Perkembangan Kalkulus didorong oleh dua permasalahan geometri yaitu mencari luas daerah
bidang datar dan garis singgung (tangen) kurva. Pada bab ini akan ditunjukkan bahwa
masalah-masalah tersebut berkaitan erat dengan suatu konsep dasar Kalkulus yang disebut ”
limit ”.

3.1. LIMIT DAN LINGKUP PERMASALAHANNYA

Masalah Luas dan Garis Singgung


Kalkulus berpusat pada dua permasalahan dasar, yaitu:

MASALAH GARIS SINGGUNG. Diberikan fungsi f dan titik P x0 , y0  pada


kurva f, dapatkan persamaan garis singgung kurva di P. (Gambar 3.1.1)

dan

MASALAH LUAS. Diberikan fungsi f, dapatkan luas antara kurva f dan suatu
selang a, b pada sumbu  x . (Gambar 3.1.2)

y y
y=f(x)

p x0 , y 0 
y  f (x)

x a b x

Gambar 3.1.1 Gambar 3.1.2

Secara tradisional, bagian kalkulus yang muncul dari masalah garis singgung
disebut kalkulus diferensial dan yang muncul dari masalah luas disebut
207

kalkulus integral. Masalah luas dan garis singgung terkait erat, sehingga
perbedaan antara kalkulus diferensial dan kalkulus integral sering kali sulit
untuk dilihat.
Menyelesaikan masalah garis singgung dan luas diperlukan pengertian
yang lebih dalam tentang konsep “garis singgung” dan “luas”. Kedua konsep
tersebut bersandar pada konsep yang sangat mendasar, yang dikenal sebagai
“limit”.

Garis Singgung dan Limit


Dalam geometri bidang, suatu garis dikatakan menyinggung suatu
lingkaran jika garis tersebut memotong lingkaran tepat disuatu titik (Gambar
3.1.3a). Tetapi, definisi ini tidak berlaku untuk jenis kurva lainnya. Dalam
Gambar 3.1.3b, garis memotong kurva tepat satu kali, namun garis tersebut
bukan garis singgung, dan pada Gambar 3.1.3c garis tersebut adalah garis
singgung namun memotong kurva lebih dari satu kali.

(a) (b) (c)

Gambar 3.1.3

Mendefinisikan konsep garis singgung sedemikian hingga berlaku


untuk kurva seliain lingkaran, haruslah dipandang garis singgung dengan cara
yang lain. Perhatikan titik P pada suatu kurva dalam bidang–xy. Jika Q adalah
sebarang titik pada kurva yang berbeda dengan P, garis yang melalui P dan Q,
disebut garis potong dari kurva. Secara intuitif, jika titik Q digerakkan
sepanjang kurva menuju titik P, garis potong akan berputar menuju ke posisi
batas akhir pergerakan untuk menjadi garis potong kembali, batas ini dinamai
“limit”. Garis dalam keadaan posisi limit ini dipandang sebagai garis singgung
di titik P (Gambar 3.1.4).
208

Garis singgung
y Garis singgung

P
Garis potong
Q P Q

x Garis potong

Gambar 3.1.4 Gambar 3.1.5

Sebagaimana ditunjukkan oleh Gambar 3.1.5,konsep baru tentang garis


singgung ini sesuai dengan konsep tradisional,jika diterapkan pada lingkaran.

Luas Sebagai suatu Limit

A1 A2
A3
A1
A2

Gambar 3.1.6

Seperti halnya pengertian umum tentang garis singgung, pengertian umum


tentang luas juga menuju pada konsep “limit”. Luas suatu daerah bidang datar
dapat dihitung dengan membagi bidang datar tersebut menjadi segiempat atau
segitiga yang banyaknya berhingga, kemudian menjumlahkan luas bagian-
bagian tersebut (Gambar 3.1.6). Namun demikian, untuk banyak daerah
diperlukan pendekatan yang lebih umum. Perhatikan daerah yang diarsir pada
Gambar 3.1.7a luas daerah ini dapat didekati dengan membuat segiempat di
bawah kurva yang lebarnya sama dan menjumlahkan luas segiempat-segiempat
tersebut (Gambar 3.1.7b). Selanjutnya, berdasarkan intuisi, jika proses tersebut
209

diulangi dengan semakin banyak segiempat, maka segiempat-segiempat


tersebut akan mengisi kekosongan dibawah kurva dan penghampirannya akan
“mendekati” luas pasti dari bawah kurva tersebut sebagai suatu “nilai limit”
(Gambar 3.1.7c).

y y y

a b x a b x a b x

Gambar 3.1.7

Limit
Sekarang akan dibahas konsep limit yang sudah diterangkan pada
masalah garis singgung dan luas daerah bidang datar. Pembahasan konsep limit
meliputi 3 hal, yaitu:

a. Limit secara intuitif


b. Metode untuk menghitung limit
c. Limit secara matematis.

Limit dapat digunakan untuk menggambarkan bagaimana perilaku


suatu fungsi jika peubah bebasnya bergerak menuju suatu nilai tertentu.
Sebagai contoh, perhatikan fungsi

sin x
f ( x) 
x

Dengan x dalam radian, meskipun fungsi ini tidak terdefinisi di x = 0, tetapi


perilaku fungsi ini dapat dipertanyakan jika x menuju 0 tanpa benar-benar
sampai pada nilai x = 0 dari sisi kanan (yaitu sepanjang sumbu–x positif) dan
kedua dengan x bergerak menuju x = 0 dari sisi kiri (yaitu sepanjang sumbu x
negatif).
210

x sin x x sin x
(Radian) f ( x)  (Radian) f ( x) 
x x
1,0 0,84147 -1,0 0,84147
0,9 0,87036 -0,9 0,87036
0,8 0,89670 -0,8 0,89670
0,7 0,92031 -0,7 0,92031
0,6 0,94107 -0,6 0,94107
0,5 0,95885 -0,5 0,95885
0,4 0,97335 -0,4 0,97355
0,3 0,98507 -0,3 0,98507
0,2 0,99335 -0,2 0,99335
0,1 0,99833 -0,1 0,99833
0,01 0,99998 -0,01 0,9998

kalkulator pada mode radian menunjukkan nilai berurutan dari


f ( x)  (sin x) / x yang bersesuaian dengan nilai-nilai x yang berurutan dengan
bergerak menuju 0 dari sisi kanan. Hasil pada table tersebut menunjukkan
bahwa nilai f (x) mendekati 1. Nilai satu ini disebut limit dari
f ( x)  (sin x) / x untuk x mendekati 0 dari kanan dan ditulis

sin x
lim 1
x 0 x

Pada ekspresi ini, “lim” menunjukkan bahwa penghitungan suatu limit: notasi
x  0 menunjukkan bahwa x mendekati 0; dan label “+” pada x  0 
menunjukkan bahwa x mendekati 0 dari sisi kanan. Dapat juga dipertanyakan
apa yang terjadi pada nilai f ( x)  (sin x) / x untuk x menuju 0 dari sisi kiri
(lihat nilai tabel kanan) [atau dari kenyataan bahwa f ( x)  f ( x) , ingat fungsi
genap dan ganjil] jelas bahwa nilai f(x) juga mendekati 1. Hal ini dapat ditulis

sin x
lim 1
x 0 x

Label “-“ pada x  0  menunjukkan bahwa perhitungan limit tersebut untuk x


menuju 0 dari sisi kiri.
211

Limit fungsi f ( x)  (sin x) / x dapat digambarkan secara geometri dari grafik


yang dihasilkan computer untuk f ( x)  (sin x) / x seperti tampak pada Gambar
3.1.8. Lubang pada grafik di x = 0 merupakan akibat dari kenyataan bahwa
(sin x) / x tidak terdefinisi di tritik tersebut, walaupun limit dari kiri dan kanan
ada

1
x
x 0 x
sin x
y  f ( x) 
x

x mendekti 0 dari kiri atau


kanan, f(x) mendekati 1

Gambar 3.1.8

Notasi Limit
Limit dari kanan dan dari kiri pada fungsi f ( x)  (sin x) / x adalah
sama, yang dapat dituliskan :

sin x
lim 1
x 0 x

Ekspresi lim f ( x) dan lim f ( x) disebut limit satu sisi dari f(x) di
x  x0 x  x0

x 0 dan ekspresi lim f ( x) disebut limit dua sisi dari f(x) di x 0 .


x0
212

SITUASI MATEMATIS NOTASI CARA MEMBACA


NOTASI
Nilai f (x) mendekati Limit f (x) untuk
bilangan L1 untuk x lim f ( x)  L1 x mendekati x0 dari
x  x0
mendekati x 0 dari sisi sisi kanan sama
kanan dengan L1
Nilai f (x) mendekati Limit f (x) untuk x
bilangan L2 dan x lim f ( x)  L2 mendekati x 0 dari sisi
x  x0
mendekati x 0 dari sisi kiri kiri sam dengan L2
Nilai f (x) mendekati Limit f (x) untuk x
bilangan L untuk x mendekati x 0 sama
mendekati x 0 dari sisi kiri lim f ( x)  L dengan L
x  x0
atau kanan yaitu
lim f ( x)  lim f ( x)  L
x  x0 x  x0

Perangkap Numerik

Penting untuk diingat bahwa limit fungsi f ( x)  (sin x) / x (kiri dan kanan)
adalah benar-benar dugaan tentang perilaku f (x) berdasarkan pada kenyataan
numerik yang diperoleh melalui perhitungan f (x) pada nilai x yang dipilih.
Pemilihan x yang berbeda memungkinkan diperolehnya kesimpulan yang
berbeda tentang limit, ini akan menggiring pada penarikan kesimpulan yang
salah tentang nilai limit (terjebak secara numerik). Sebagai contoh, perhatikan
fungsi


f ( x)  sin
x

Nilai-nilai f (x) dalam tabel berikut memberi keyakinan bahwa

 
lim sin  lim sin 0
x 0 x x 0 x
213

x  x 
(Radian) f ( x)  sin (Radian) f ( x)  sin
x x
1 Sin  = 0 -1 sin(  )  0
0,1 Sin 10  = 0 -0,1 sin( 10 )  0
0,01 Sin 100  = 0 -0,01 sin( 100 )  0
0,001 Sin 1.000  = 0 -0,001 sin( 1000 )  0
0,0001 Sin 10.000  = 0 -0,0001 sin( 10.000 )  0

Akan tetapi, hal ini tidak benar; ’nilai f(x) sesunggungnya berosilasi
antara -1 dan 1 dengan pertambahan kecepatan untuk x mendekati 0 dari kiri
atau kanan. Hal ini diilustrasikan dalam Gambar 3.1.9, yang menunjukkan
suatu grafik dari f(x) yang dihasilkan komputer dengan nilai artistic yang
tinggi. Sebagai contoh, jika x > 0 maka nilai-nilai 1 mubcul jika x sama dengan
2 2 2 2 2 2
, , ,... dan nilai-nilai -1 muncul jika x = , , ,... (Selidiki, kenapa?).
5 9 13 3 7 11
Jadi nilai f(x) tidak mendekati suatu nilai limit untuk x  0  . Dengan cara
yang sama, tidak ada nilai limit untuk x  0  . Dalam hal ini, telah
terperangkap untuk berfikir bahwa limit satu sisi adalah 0 sebab secara
kebetulan nilai x yang terpilih menyebabkan f memotong sumbu–x

Meskipun fakta numerik dapat memberi kesimpulan yang keliru tentang


limit, namun perhitungan numerik merupakan suatu titik awal yang sangat
membantu untuk perncarian limit. Pada bagian-bagian selanjutnya akan
diberikan defenisi matematik yang tepat dari limit dan akan dikembangkan
berbagai alat matematik yang dapat digunakan untuk menentukan limit secara
pasti. Pada akhir bagian ini akan dikembangkan suatu pemahaman geometri
tentang limit.
214

x
-1 1

-1

Gambar 3.1.9

Contoh: Dimisalkan f fungsi yang grafiknya seperti yang terlihat pada Gambar
3.1.10 untuk x mendekati 2 dari kiri terlihat f(x) mendekati 1, dengan demikian
lim f ( x)  1 . Untuk x mendekati 2 dari kanan terlihat f(x) mendekati 3,
x 2

dengan demikian lim f ( x)  3 . Karena f(2 )= 1.5, contoh ini menunjukkan


x 2
bahwa nilai fungsi disuatu titik dapat berlainan dengan limit kiri dan limit
kanannya .

y
3 y  f (x)

1 2 3 4 x
Gambar 3.1.10
215

Contoh: Grafik fungsi f 1 dan f 2 tampak pada Gambar 3.1.11 grafik tersebut
identik dengan fungsi f dalam contoh sebelumnya, kecuali di titik x sama
dengan 2 dari Gambar 3.1.11, yaitu f(2) = 1.5 dan f1 (2)  1 , sedangkan f 2 (2)
tidak terdefinisi. Namun demikian fungsi-fungsi f , f1 , f 2 mempunyai sifat
yang berbeda-beda di x = 2, limit fungsi-fungsi tersebut untuk x mendekati 2
sama seperti pada contoh sebelumnya, yaitu

lim f ( x)  lim f1 ( x)  lim f 2 ( x)  1


x 2  x 2 x 2

dan

lim f ( x)  lim f1 ( x)  lim f 2 ( x)  3 .


x 2  x 2 x 2
Contoh di atas menggambarkan prinsip umum tentang limit yang dapat
dinyatakan secara bebas sebagai berikut :

Limit suatu fungsi untuk peubah bebas mendekati suatu titik tidak
bergantung pada nilai fungsi dititik tersebut.

3 y = f1(x) 3 y=f2(x)

2 2

1 1

1 2 3 4 1 2 3 4

Gambar 3.1.11

Jadi, jika nilai fungsi f diubah hanya di x  x0 maka tidak mempengaruhi nilai
216

lim f ( x), lim f ( x), atau lim f ( x)


x  x0 x  x0 x x0

Fungsi f 2 dalam contoh di atas menggambarkan gagasan lain: yaitu, limit kiri
dan kanan dapat mempunyai nilai disuatu titik yang disuatu titik tersebut fungsi
itu sendiri tak terdefenisi.

Contoh: Dimisalkan f adalah fungsi yang grafiknya seperti pada Gambar


3.1.12. dari grafik tersebut terlihat bahwa

lim f ( x)  2 dan lim f ( x)  2


x 3 x 3

Sehingga lim f ( x)  2
x 3

y y  f (x)
3

2 f(3) = 2

1
x
1 2 3 4

Gambar 3.1.12

Grafik tersebut juga menunjukkan bahwa f(3 )= 2. Jadi, nilai fungsi disuatu
titik dan limit satu sisi dan dua sisi untuk x mendekati titik tersebut mungkin
sama.

Eksistensi Limit
Secara umum, tidak ada jaminan bahwa fungsi f(x) benar-benar mempunyai
limit untuk x  x0 , x  x0 atau x  x0 . Jika tidak mempunyai limit, maka
dikatakan limit tersebut tidak ada. Limit-limit dikatakan tidak ada mempunyai
berbagai kriteria, tetapi dua penyebab yang lazim adalah:

1. Osilasi
2. Naik atau turun tak terbatas
217

 
Sebagai contoh, telah diselidiki sebelumnya bahwa fungsi f ( x)  sin  tidak
x
mempunyai limit untuk x mendekati nol dari kiri maupun dari kanan sebab
nilai fungsi berosilasi antara -1 dan 1 tanpa mendekati nilai tertentu. (Gambar
3.1.9). Contoh berikut menggambarkan tidak adanya limit yang disebabkan
oleh fungsi tersebut naik atau turun tak terbatas.

y  f (x)

x0

x0

(a) (b)
y  f (x)

Gambar 3.1.13

Contoh: Dimisalkan f fungsi yang grafiknya seperti pada Gambar 3.1.13a.


Untuk x mendekati x0 dari sisi kiri atau kanan, nilainya f(x) semakin besar
tanpa batas dan akibatnya tidak mendekati nilai berhingga tertentu. Jadi limit-
limit

lim  f ( x) dan lim  f ( x)


x  x0 x  x0

tidak ada. Untuk menyatakan limit-limit ini ditulis

lim  f ( x) = +  dan lim  f ( x) = + 


x  x0 x  x0
218

Dua ekspresi ini biasanya dinyatakan dalam bentuk limit dua-sisi dengan
menuliskan

lim f ( x) = + 
x  x0

Sekali lagi, ini hanyalah suatu notasi untuk jenis limit yang tidak ada.

Contoh: Dimisalkan f fungsi yang grafiknya seperti pada Gambar 3.1.13b.


Untuk x mendekati x0 dari sisi kiri atau kanan, nilainya f(x) semakin kecil tanpa
batas dan akibatnya tidak mendekati nilai berhingga tertentu. Jadi limit-limit

lim  f ( x) dan lim  f ( x) tidak ada.


x  x0 x  x0

Untuk menyatakan limit-limit ini ditulis

lim  f ( x) = -  dan lim  f ( x) = - 


x  x0 x  x0

Dua ekspresi ini biasanya dinyatakan dalam bentuk limit dua sisi dengan
menuliskan

lim f ( x) = - 
x  x0

Catatan. Harus diingat bahwa simbol-simbol +  dan -  , seperti yang


digunakan dalam contoh-contoh diatas merupakan penyederhanaan gambaran
limit yang tidak ada. Simbol-simbol ini tidak menyajikan bilangan-bilangan riil
dan akibatnya simbol-simbol tersebut tidak dapat dimanipulasi dengan aturan.
Sebagai contoh, tidak benar menuliskan +  -  = 0.

Contoh: Dimisalkan f adalah fungsi yang grafiknya tampak pada Gambar


3.1.14. Didapat

lim  f ( x) = -  dan lim  f ( x) = + 


x  x0 x  x0
219

Akan tetapi, dua ekpresi ini mempunyai dua tanda berlainan, tidak ada notasi
khusus untuk menggabungkan keduanya dalam bentuk dua sisi.

Gambar 3.1.14

Menuliskan lim f ( x) = L haruslah lim  f ( x) = lim  f ( x) = L


x  x0 x  x0 x  x0
Jika salah satu limit satu-sisi ini tidak ada, atau jika limit-limit satu sisi
keduanya ada tetapi nilainya berbeda, maka disimpulkan bahwa limit dua sisi
tidak ada dan ditulis
lim f ( x) tidak ada
x  x0
Sebagai contoh, jika f adalah fungsi yang grafiknya dalam Gambar 3.1.10,
maka limit dua-sisi
lim f ( x)
x 2
tidak ada, sebab limit-limit satu-sisi di x = 2 mempunyai nilai yang berbeda.

Limit di Tak-Hingga
Sampai sejauh ini limit telah digunakan untuk menggambarkan bagaimana
perilaku suatu fungsi jika peubah bebas mendekati suatu titijk tertentu pada
sumbu-x. Akan tetapi, limit dapat juga digunakan untuk menggambarkan
bagaimana perilaku fungsi jika peubah bebas bergerak “jauh tak berhingga”
dari titik asal sepanjang sumbu x. Jika x naik tanpa batas, maka ditulis x  
(baca, “x mendekati plus tak hingga”), dan jika x turun tanpa batas, maka
ditulis x   (baca, “x mendekati minus tak-hingga”).
220

Contoh: Dimisalkan f adalah fungsi dengan grafik seperti yang ditunjukkan


dalam Gambar 3.1.15. Untuk x   grafik f mendekati garis y = 4 sehingga
nilai f(x) mendekati 6. Hal ini dinyatakan dengan

y = f(x)
y=6

y = -1

Gambar 3.1.15

Untuk x   grafik f cemderung menuju y = - 1, sehingga nilai f(x)


mendekati - 1 dan dituliskan.

lim f ( x) = -1
x  

Contoh: Dimisalkan f adalah fungsi dengan grafik seperti dalam Gambar


3.1.16.

Gambar 3.1.16
221

Untuk x mendekati -  , nilai f(x) naik tak terbatas dan akibatnya tidak
mendekati suatu nilai tertentu. Jadi
lim f ( x) tidak ada.
x  
Dalam kasus ini ditulis
lim f ( x) = + 
x  
Untuk menyatakan bahwa limit tidak ada sebab f(x) naik tanpa batas.

Untuk x mendekati +  , garafik f berisolasi tetapi mendekati garis y = -2. Jadi,


nilai f(x) mendekati -2 untuk x mendekati +  dan ditulis
lim f ( x) = -2
x  

Contoh: Dimisalkan f fungsi dengan grafik seperti ditunjukan dalam Gambar


3.1.17. Untuk x mendekati -  , nilai f(x) turun tanpa batas dan akibatnya tidak
mendekati suatu nilai berhingga tertentu. Jadi,

lim f ( x) tidak ada.


x  
Dalam kasus ini, dituliskan
lim f ( x) = - 
x  

Gambar 3.1.17

Untuk menyatakan bahwa limit tidak ada oleh karena f(x) turun tanpa batas.
222

Untuk x mendekati +  , nilai f(x) berosilasi antara -3 dan +3 dan akibatnya


tidak mendekati suatu nilai tertentu. Jadi,
lim f ( x) tidak ada.
x  
Tidak ada notasi khusus yang digunakan untuk menggambarkan limit-limit
yang tidak ada yang disebabkan oleh osilasi.

Latihan 3.1

1. Untuk fungsi f dengan grafik dibawah ini, dapatkan


(a). lim f ( x) (b). lim f ( x) (d). lim f ( x)

x 3  
x 3  x 3
(b). f(3) (c). lim f ( x) (e). lim f ( x)
x   x  

Gambar Soal 1 Gambar Soal 2

2. Untuk fungsi f dengan grafik diatas, dapatkan.


(a). lim  f ( x) (b). lim  f ( x) (c). lim f ( x)
x 2 x 2 x 2
(d). f(2) (e). lim f ( x) (f). lim f ( x)
x   x  

3. Untuk fungsi g dengan grafik dibawah, dapatkan


(a). lim  g ( x) (b). lim  g ( x) (c). lim f ( x)
x 4 x 4 x 4
223

(d). g(4) (e). lim g ( x) (f). lim g ( x)


x   x  

Gambar Soal 3 Gambar Soal 4

4. Untuk fungsi g dengan grafik diatas, dapatkan.


(a). lim  g ( x) (b). lim  g ( x) (c). lim g ( x)
x 0 x 0 x 0
(d). g(0) (e). lim g ( x) (f). lim g ( x)
x   x  
5. Untuk fungsi F dengan grafik di bawah, dapatkan.
(a). lim  F ( x) (b). lim  F ( x) (c). lim F ( x)
x 2 x 2 x 2
(d). F(-2) (e). lim F ( x) (f). lim F ( x)
x   x  

Gambar Soal 5 Gambar Soal 6

6. Untuk fungsi F dengan grafik diatas, dapatkan.


(a). lim  F ( x) (b). lim  F ( x) (c). lim F ( x)
x 3 x 3 x 3
224

(d). F(3) (e). lim F ( x) (f). lim F ( x)


x   x  
7. Untuk fungsi  dengan grafik di atas, dapatkan.
(a). lim   ( x) (b). lim   ( x) (c). lim  ( x)
x 2 x 2 x 2
(d).  (2) (e). lim  ( x) (f). lim  ( x)
x   x  

Gambar Soal 7 Gambar Soal 8

8. Untuk fungsi  dengan grafik diatas, dapatkan.


(a). lim   ( x) (b). lim   ( x) (c). lim  ( x)
x 4 x 4 x 4
(d).  (4) (e). lim  ( x) (f). lim  ( x)
x   x  
9. Untuk fungsi f dengan grafik dibawah, dapatkan.
(a). lim  f ( x) (b). lim  f ( x) (c). lim f ( x)
x 3 x 3 x 3
(d). f(3) (e). lim f ( x) (f). lim f ( x)
x   x  

Gambar Soal 9 Gambar Soal 10


225

10. Untuk fungsi f dengan grafik diatas, dapatkan.


(a). lim  f ( x) (b). lim  f ( x) (c). lim f ( x)
x 0 x 0 x 0
(d). f(0) (e). lim f ( x) (f). lim f ( x)
x   x  

11. Untuk fungsi G dengan grafik dibawah, dapatkan.


(a). lim  G( x) (b). lim  G( x) (c). lim G( x)
x 0 x 0 x 0
(d). G(0) (e). lim G( x) (f). lim G( x)
x   x  

Gambar Soal 11 Gambar Soal 12

12. Untuk fungsi G dengan Grafik diatas, dapatkan.


(a). lim  G( x) (b). lim  G( x) (c). lim G( x)
x 0 x 0 x 0
(d). G(0) (e). lim G( x) (f). lim G( x)
x   x  
13. Perhatikan fungsi g pada grafik dibawah ini. Berapakah nilai xo sehingga
nilai
lim g ( x) ada ?
x x0

14. Perhatikan fungsi f pada grafik dibawah. Berapakah nilai xo sehingga nilai
lim f ( x) ada ?
x x0
226

Gambar Soal 13 Gambar Soal 14

3.2. PENGHITUNGAN LIMIT

Pada sub bab sebelumnya pembahasan ditekankan pada interpretasi grafik dari limit. Pada
bagian ini akan dibicarakan teknik-teknik untuk mendapatkan limit secara langsung dari rumus
suatu fungsi. Sekali lagi hasil tersebut didasarkan pada intuisi. Bukti-bukti matematika yang
diperoleh disini akan digunakan sampai didapatkan definisi secara matematis dari limit yang
sesungguhnya.

Beberapa Limit Dasar

Berikut adalah daftar enam limit dasar yang dipakai sebagai dasar untuk
mendapatkan beberapa limit yang lebih kompleks. Limit-limit di sebelah kiri
dalam tabel tersebut memperlihatkan kenyataan bahwa fungsi konstan f(x) = k
mempunyai nilai limit k untuk semua nilai x. Lihat Gambar 3.2.1. Limit-limit
disebelah kanan dalam tabel ditunjukkan lewat grafik f(x) = x (Gambar 3.2.2)

Limit Contoh
lim k  k lim 3  3 lim 3  3
x a x 2 x  2
lim k  k lim 3  3 lim 0  0
x   x   x  
lim k  k lim 3  3 lim 0  0
x   x   x  
227

lim x  a lim x  5 lim x  0 lim x  2


x a x 5 x 0 x  2
lim x   Gambar 3.2.2.b
x  
lim x   Gambar 5.2.2.c
x  

Limit yang telah dipelajari sejauh ini, bersama sifat-sifat dasarnya yang
diberikan dalam teorema berikut, dapat digunakan untuk membantu
menyelesaikan beberapa masalah limit yang sulit.

Gambar 3.2.1

(a) (b) (c)

Gambar 3.2.2
228

TEOREMA 3.1. Disesuaikan lim disini berarti satu dari limit-limit lim ,
x a
lim  , lim  , lim atau lim . Jika L1 = lim f(x) dan L2 = lim g(x)
x  a x  a x   x  
keduanya ada, maka
(a). lim [f(x) + g(x)] = lim f(x) + lim g(x) = L1 + L2
(b). lim [f(x) -g(x)] = lim f(x) - lim g(x) = L1 - L2
(c). lim [(f(x)g(x)] = lim f(x)lim g(x) = L1L2
f ( x) lim f ( x) L1
(d). lim   Jika L2  0
g ( x) lim g ( x) L2
(e). n f ( x)  n lim f ( x)  n L1 untuk L1  0 jika n genap.

Dengan kalimat, teorema diatas dapat dinyatakan.

(a). Limit dari jumlahan suatu fungsi adalah jumlah dari limit-limtnya.
(b). Limit dari selisih suatu fungsi adalah selisih dari limit-limitnya.
(c). Limit dari perkalian suatu fungsi adalah perkalian dari limit-limitnya.
(d). Limit dari hasil bagi suatu fungsi adalah hasil bagi dari limit-limitnya,
asalkan nilai limit penyebutnya tidak nol.
(e). Limit dari suatu akar n adalah akar ke-n dari limitnya.

Catatan. Walaupun hasil (a) dan (c) dinyatakan untuk dua fungsi f dan g,
hasil-hasil tersebut juga dipenuhi untuk sembarang fungsi yang banyaknya
berhingga; yaitu jika limit-limit: lim f1(x), lim f2(x), lim f3(x),…,lim fn(x)
semuanya ada maka

lim[f1(x) + f2(x) + …+fn(x)] = lim f1(x) + lim f2(x) +…+ lim fn(x)

lim[f1(x).f2(x)…fn(x)] = lim f1(x).lim f2(x)…lim fn(x)

Khususnya, jika f = f1, f2, f3,…,fn maka diperoleh

lim[f(x)]n = [lim f(x)]n


229

Dengan demikian, diperoleh hasil yang berguna

lim x n  lim x  a n
n
x a x a

Sebagai contoh

lim x 4  34  81
x 3

Dari Teorema 3.1. bagian (c) diperoleh hasil yang dapat digunakan pada
kasus khusus dengan salah satu dari faktor-faktornya adalah suatu konstanta k.

lim kf(x) = lim k lim f(x) = k lim f(x)

Dengan perkataan lain, ekspresi awal dan akhir dalam persamaan di atas
menyatakan :

Suatu faktor konstanta dapat dipindahkan keluar dari tanda limit.

Limit dari Polinomial untuk x  a

Contoh: Dapatkan lim x 2  4 x  3 dan jelaskan tiap langkahnya.


x 5

Penyelesaian:

x 5
2

lim x  4x  3  = lim x  lim 4x  lim 3
x 5
2

x 5 x 5
Teorema 3.1(a),(b)

lim x  4 lim x  lim 3


2
= Sifat Perkalian Konstanta
x 5 x 5 x 5

= 5  4(5)  3
2
Teorema 3.1 (c)
= 8

Teorema 3.2 berikut berguna untuk menyederhanakan perhitungan limit


polinominal. Teorema tersebut menunjukkan bahwa limit suatu polinominal
230

p(x) untuk x mendekati a dapat diperoleh dengan menghitung polinominal


tersebut di x = a.

TEOREMA 3.2. Untuk sembarang polinominal


p( x)  c0  c1 x  ...  cn x n
dan sembarang bilangan real a
lim p( x)  lim (c0  c1 x  ...  cn x )  p(a)
n

x a x a

Bukti:
lim (c0  c1 x  ...  cn x )
n
lim p( x) =
x a x a

lim c0  lim c1 x  ...  lim cn x


n
=
x a x a x a

lim c0  c1 lim x  ...  cn lim x


n
=
x a x a x a

= c0  c1a  ...  cn a  p(a)


n

Contoh: Jika Teorema 3.2 diterapkan pada persoalan limit polinom maka
beberapa langkah dapat dilewati dan secara langsung dituliskan
lim x  4 x  3  5  4(5)  3  8
2 2

x 5

Limit yang Memuat 1/x

Limit-limit yang diilhami oleh grafik f(x) = 1/x (Gambar 3.2.3) atau dari
perhitungan numerik pada tabel di bawah ini.

1 1 1 1
lim   , lim   , lim  0, lim 0
x 0 x x 0 x x  x x   x
231

y y
1 1
y= y=
x x

1
x x x x
x 1
x

1 1
lim   lim  
x 0 x x 0 x

y
y 1
1 y= x
y=
x

1
x x x x
x
1
x

1 1
lim 0 lim 0
x   x x   x

Gambar 3.2.3

Untuk bilangan riil a pada grafik fungsi 1/(x – a) merupakan fungsi translasi
(pergeseran) dari grafik 1/x (Gambar 3.2.4), jadi limit-limit berikut dapat
disimpulkan dengan menganalisis secara mudah hasil dari limit fungsi dasar
1
.
x

1 1
lim   lim  
x a xa x a xa
232

1 1
lim 0 lim 0
x  xa x  xa

NILAI KESIMPULAN
x 1 10 100 1000 10,000 ... Untuk x   nilai dari 1/x
1/x 1 .1 .01 .001 .0001 ... turun menuju nol
x -1 -10 -100 -1000 -10,000 ... Untuk x   nilai dari 1/x
1/x -1 -.1 -.01 -.001 -.0001 ... bertambah/naik menuju nol
x 1 .1 .01 .001 .0001 ... Untuk x   nilai dari 1/x
1/x 1 10 100 1000 10,000 ... naik menuju tanpa batas
x -1 -.1 -.01 -.001 -.0001 ... Untuk x   nilai dari 1/x
1/x -1 -10 -100 -1000 -10,000 ... turun menuju tanpa batas

Limit dari Polinomial untuk x    atau x   

Pada Gambar 3.2.5 dilukiskan grafik dari pilinomial berbentuk x n untuk n = 1,


2, 3 dan 4 ; dan dibawah setiap gambar ditunjukkan limit untuk x   
dan x    . Hasil pada gambar tersebut adalah kasus khusus dari hasil-hasil
umum berikut ini :
lim x n    n = 1, 2, 3 …
x  

x
a

1
y
xa

Gambar 3.2.4
233

lim x n 
x  

  n  2, 4, 6,...
  n 1, 3, 5, ...

Perkalian xn dengan suatu bilangan riil positif tidak mempengaruhi limit-


limitnya, tetapi perkalian xn dengan suatu bilangan riil negatif menghasilkan
tanda yang berlawanan.

Contoh:
lim 2 x    lim 2 x   
5 5

x  x  

lim  7 x    lim  7 x   
6 6

x   x 
Limit-limit berikut adalah akibat dari limit xn untuk n bilangan positif; ini juga
dipengaruhi oleh grafik pada Gambar 3.2.6 :

y y=x y y y=x3 y y=x4

8 8 8 8
x x x x
-4 4 -4 4 -4 4 -4 4

-8 -8 -8 -8

lim x    lim x   
2
lim x   
3
lim x   
4
x x x  x  
lim x    lim x   
2
lim x   
3
lim x   
4
x
x x  x  

Gambar 3.2.5

n n n n
1  1 1  1
lim     lim   0 , lim     lim   0 .
x   x   x  x  x   x   x  x 
234

Prinsip penting tentang limit suatu polinomial yang dinyatakan secara informal,
yaitu bahwa suatu polinomial mempunyai perilaku seperti. suku tingkat
tertingginya untuk x    dan x    . Lebih tepatnya, cn  0 , maka

lim (c0  c1x  ...  cn x ) = lim cn x


n n

x   x  

lim (c0  c1x  ...  cn x ) = lim cn x


n n

x   x  

Hasil ini dimotivasi dengan mengeluarkan faktor x pangkat tertinggi dari


polinomial tersebut dan menghitung limit dari ekspresi yang difaktorkan. Jadi

c c 
c0  c1x  ...  cn xn = x n  0n  n11  ...  cn 
x x 

Untuk bilangan n positif, maka limit dari polinom dapat dihitung dengan
melihat suku dengan pangkat tertinggi.

Contoh:
lim (7 x  4 x  2 x)  lim 7 x  
5 3 5

x  x  

lim (4 x  17 x  5x  1)  lim  4 x  


8 3 8

x  x 

y 1 y1
x n n bilangan bulat positif xn n bilangan bulat
genap positif ganjil

x x

Gambar 3.2.6
235

Limit dari Fungsi Rasional untuk x  a


Fungsi rasional merupakan pembagian dari dua polinomial. Teorema 3.2 dan
Teorema 3.1(d) dapat digunakan sebagai kombinasi untuk menghitung limit
dari fungsi-fungsi rasional.

5 x3  4
Contoh: Dapatkan lim
x2 x  3

Penyelesaian:
5 x3  4 lim
x 2
 
5 x3  4 5.23  4
lim = = = - 44
x2 x  3 lim x  3 23
x2

Metode yang disajikan pada contoh di atas tidak dapat digunakan jika
penyebutnya adalah nol, sebab; Teorema 3.1(d) tidak dapat diterapkan pada
situasi ini. Meskipun demikian, jika pembilang dan penyebut keduanya
mendekati nol untuk x mendekati a, maka pembilang dan penyebut akan
mempunyai suatu faktor persekutuan x – a dan limitnya dapat diperoleh
dengan mencoret faktor persekutuan tersebut. Contoh berikut mengilustrasikan
cara ini.

x2  4
Contoh: Dapatkan lim
x2 x  2

Penyelesaian:
Pembilang dan penyebut mempunyai limit mendekati nol untuk x mendekati 2,
jadi pembilang dan penyebut mempunyai suatu faktor persekutuan (x - 2).
Limit tersebut dapat diperoleh sebagai berikut:

x2  4 ( x  2)( x  2)
lim  lim  lim ( x  2)  4
x 2 x  2 x 2 x2 x 2
236

x2  4
y
x2

Gambar 3.2.7

Catatan. Meskipun benar, persamaan kedua pada perhitungan di atas


memerlukan beberapa penjelasan. Seperti dinyatakan pada Contoh 3, Sub-bab
2.1 fungsi-fungsi
( x  2) ( x  2)
dan x  2
x2
adalah identik, kecuali di titik x = 2. dimana fungsi pertama tak terdefinisi
tetapi fungsi kedua terdefinisi. Bagaimanapun juga, perbedaan ini tidak
mempunyai pengaruh pada limitnya untuk x mendekati 2, karena x tidak sama
dengan 2.

Contoh: Dapatkan
x2  6  9 2x  8
(a). lim (b). lim
x3 x3 x4 x  x  12
2

Penyelesaian:
(a). Pembilang dan penyebut keduanya mempunyai nilai limit mendekati nol
untuk x mendekati 3, jadi ada faktor persekutuan x – 3. Kemudian dilanjutkan
sebagai berikut:

lim
x2  6  9
= lim
x  32  lim ( x  3)  0
x3 x3 x3 x  3 x3
237

(b). Pembilang dan penyebut keduanya mempunyai nilai limit mendekati nol
untuk x mendekati - 4, jadi ada faktor persekutuan x - (- 4) = x + 4.
Kemudian dilanjutkan sebagai berikut:

2x  8 2( x  4) 2 2
lim = lim  lim 
x4 x  x  12
2 x4 ( x  4) ( x  3) x4 x  3 7

Jika limit penyebutnya nol, tetapi limit pembilangnya tidak nol, maka ada 3
kemungkinan untuk limit fungsi rasional untuk x → a
 Limit mungkin  
 Limit mungkin  
 Limit mungkin   dan satu sisi dan   dan sisi yang lain.

Contoh:
2 x 2 x
(a). lim (b). lim (c).
x4 ( x  4) ( x  2) x4 ( x  4) ( x  2)
2 x
lim
x  4 ( x  4) ( x  2)

Penyelesaian:
Ketiga bagian di atas limit pembilangnya adalah -2 dan limit penyebutnya
adalah nol, jadi limit dan pembagian itu tidak ada. Lebih khusus lagi,
diperlukan analisa tanda dan pembagian itu. Dengan menggunakan metode uji
titik-titik yang dibicarakan pada sub-bab 1.1, pembaca seharusnya dapat
memperoleh hasilnya tersebut terlihat bahwa untuk x mendekati 4 dan kanan
pembagian tersebut selalu negatif, dan untuk x mendekati 4 dan kiri tanda
pembagian akhirnya positif (setelah x rnelewati 4), jadi

2 x 2 x
lim   dan lim  
x4 ( x  4) ( x  2) x4 ( x  4) ( x  2)

Karena limit satu-sisi mempunyai tanda berlawanan, maka dapat disimpulkan


bahwa limit dua-sisinya tidak ada (Uji titi dapat dilihat dalam ilustrasi berikut).
238

+++ --------++ ---


-2 2 4

2 x
Tanda dari
( x  4) ( x  2)

Limit Fungsi Rasional untuk x   atau x  

Jika pembilang dan penyebut dari fungsi rasional dibagi dengan x pangkat
tertinggi dari penyebutnya, maka semua pangkatan dari x pada penyebutnya
1
menjadi konstan atau pangkatan dari . Contoh berikut memperlihatkan
x
bagaimana pengamatan ini bersama-sama dengan ketentuan sebelumnya dapat
digunakan untuk mendapatkan limit dari fungsi rasional untuk x  
atau x   .

3x  5
Contoh: Dapatkan lim it
x  6x  8

Penyelesaian:
Pembilang dan penyebut dibagi dengan x pangkat tertinggi dari penyebut ;
yaitu x1  x . Didapatkan:
3x  5 3  5 / x xlim 3 5/ x 3 0 1
lim  lim    
x  6 x  8 x  6  8 / x lim 6  8 / x 6  0 2
x 

4x 2  x 5x 3  2 x 2  1
Contoh: Dapatkan (a). lim (b). lim
x  4 x 3  5 x  3x  5
Penyelesaian:

(a). Pembilang dan penyebut dibagi dengan x pangkat tertinggi dari penyebut ;
yaitu x 3 . Didapatkan
4x 2  x 4 / x  1 / x 2 4.0  0 0
lim  lim   0
x  2 x 3  5 x  2  5 / x 3 20 2
239

(b). Pembilang dan penyebut dibagi dengan x. Didapatkan

5x 3  2 x 2  1 5x 2  2 x  1 / x
lim  lim   , ini dapat dibenarkan karena
x  3x  5 x  3 5/ x
1 5
kenyataan bahwa 5 x 2  2 x  ,  0, dan 3   3 untuk x   .
x x

Metode Cepat Mendapatkan Limit Fungsi Rasional untuk


x   atau x  
Dapat ditunjukan bahwa limit fungsi rasional untuk x   atau x  
tidak terpengaruh bila semua suku dalam pembilang dan penyebut dihilangkan
kecuali suku pangkat tertinggi, yaitu cn  0 dan d m  0 , maka

c0  c1 x    cn x n cn x n
lim  lim
x  d  d x    d x m x  d x m
0 1 m m
dan

c0  c1 x    cn x n cn x n
lim  lim
x  d  d x    d x m x  d x m
0 1 m m

Contoh: Gunakan ke dua rumus di atas untuk mendapatkan

3x  5 4x 2  x 3  4x 4
(a). lim (b). lim (c). lim
x  6 x  8 x  4 x 3  5 x  x  1

Penyelesaian:
3x  5 3x 3 1
(a). lim  lim  
x  6 x  8 x  6 x 6 2
4x  x
2
4x 2
2
(b). lim  lim  lim  0
x  2 x  5
3 x  2 x 3 x  x

3  4x 4
 4x 4
(c). lim  lim  lim  4 x 3   .
x  x  1 x  x x 
240

Catatan. Perlu diperhatikan bahwa ke dua rumus di atas hanya dapat


digunakan jika x   atau x   ; rumus tersebut tidak dapat digunakan
untuk limit-limit dengan x mendekati suatu bilangan hingga c.

Limit yang memuat Akar

3x  5
Contoh: Dapatkan lim 3
x  6x  8

Penyelesaian:

3x  5 3 3x  5 3 1
lim 3  lim 
x  6x  8 x  6 x  8 2

Teorema 3.1 (e)

x2  2 x2  2
Contoh: Dapatkan (a). lim (b). lim
x  3 x  6 x  3 x  6

Pada kedua kasus di atas akan sangat membantu untuk memanipulasi fungsinya
1
sedemikian hingga perpangkatan dari x menjadi perpangkatan dari . Ini dapat
x
dicapai pada kedua kasus di atas dengan membagi pembilang dan penyebutnya
dengan |x| dan digunakan kenyataan bahwa x 2 | x | .

Penyelesaian:
(a). Untuk x   nilai-nilai dari x selalu positif, jadi |x| dapat diganti
denagan x jika diperlukan. Oleh karena itu,

lim
x2 2
= lim  
x2  2 / | x | = lim
x2  2 / x2
x   3x  6 x   (3x  6) / | x | x   (3x  6) / x
241

lim 1 2 / x2
= lim 1 2 / x 2 = x  
x  
(3 x  6 / x) lim (3  6 / x)
x  

lim 1  2 / x 2 lim 1  lim 2 / x 2


= x   = x   x  

lim (3  6 / x) lim 3  6 lim 1 / x


x   x   x  

1  (2  0) 1
= =
3  (6  0) 3

(b). Untuk x  -  nilai dari x selalu negatif, jadi dapat mengganti |x| dengan –
x dimana. Perlu. Didapat

x2 2 x2  2 / x2
= lim 1  2 / x
2
lim = lim x2  2 / | x | = lim =
x   3x  6 x   (3 x  6) / | x | x   (3x  6) /(  x) x   (6 / x )  3

1
.
3

Limit Fungsi yang Didefenisikan Sepotong-Sepotong


Cara terbaik untuk mendapatkan limit dari fungsi yngdidefenisikan sepotong-
sepotong adalah mendapatkan limit sisinya terlebih dahulu.

x 2 5 x 3
Contoh: Dapatkan lim f(x) untuk f(x) =
x  
{ x 13 x 3

Penyelesaian:
Untuk x mendekati 3 dari kiri, rumus untuk f adalah f(x) = x 2 - 5
Sehingga
lim f(x) = lim (x 2 - 5) = 3 2 - 5 = 4
x 3 x 3
Untuk x mendekati 3 kanan, rumus untuk f adalah
f(x) = x  13
Sehingga
lim f(x) = lim x  13 = lim ( x  13) = 16 = 4
x 3 x 3 x 3
242

Karena limit-limit satu sisinya sama, maka didapatkan


lim f(x) = 4
x 3

Limit Fungsi Trigonometri


Sebelum pembahasan trignometri perlu di ingat kembali bahwa ekspresi sin x,
tan x, cos x, sec x, dan csc x, perubah x di interpretasikan sebagai sudut yang
diukur dalam radian. Pada Gambar 3.2.8, titik P yang bergerak sepanjang
lingkaran satuan menuju titik B(1,0). Karena lingkaran itu mempunyai jari-jari
1, koordinat titik P adalah (cos h, sin h) dengan h adalah sudut (dalam radian)
yang ditunjukkan pada gambar tersebut(atau mungkin dengan sudut negatif).
Jelas secara intuitif bahwa jika h mendekati 0, koordinat P mendekati kordinat
B ; yaitu
lim sin h = 0 dan lim cos h = 1
x 0 x 0

P(cos h, sin h)
1
h x
0 B(1,0)

Gambar 3.2.8

Tujuan selanjutnya dari sub –bab ini adalah menentukan limit dasar:

sin h 1  cos h
lim = 1 dan lim =0
x 0 h x 0 h
243

Kedua limit diatas tidak jelas, walaupan kebenarannya sangat jelas ditunjukkan
oleh grafik yang dihasilkan komputer seperti ditunjukkan dalam Gambar 3.2.9
dan Gambar 3.2.10. kesulitan untuk menarik kesimpulan hasil limit tersebut
disebabkan dari kenyataan bahwa masing-masing pembilang dan penyebut dari
kedua limit tersebut menuju 0 untuk h  0. akibatnya, terdapat dua
pertentangan dalam pembagian tersebut. Pembilang menuju 0 mempengaruhi
nilai pembagian menuju 0. sedangkan penyebut menuju 0 mempengaruhi nilai
pembagi menuju +  . Cara yang tepat agar pengaruh-pengaruh saling
mengimbangi satu dengan yang lainnya adalah dengan menunjukkan apakah
limit tersebut ada dan berapa nilainya.

y
y

1
x
x
- 2 2 - 2 2
sin x 1 sin x
y y
x x

Gambar 3.2.9 Gambar 4.2.10

Pada suatu persoalan limit dengan pembilang dan penyebut keduanya


mendekati 0, kadang-kadang dimungkinkan untuk menghindari kesulitan
tersebut menggunakan manipulasi aljabar dengan menulis limit itu dengan
dalam bentuk yang lain. Salah satu metode yang demikian adalah mendapatkan
limit dengan “pengapitan” (squeezing) fungsinya diantara funsi-fungsi yang
lebih sederhana dan limitnya diketahui. Sebagai contoh, tidak dapat
menunjukkan bahwa lim f(x) = L secara langsung, tetapi dapat memperoleh
x a

dua fungsi, g dan h, yang mempunyai limit sama yaitu L untuk x  a


sedemikian hingga f “diapit” diantaranya g dan h dengan makna ketidak
samaan g(x)  f(x)  h(x), secara geometris jelas bahwa f(x) juga harus
mendekati L untuk x  a karena grafik f terletak antara grafik g dan h
(Gambar 3.2.11)
244

y=h(x)
y

L y=f(x)

y=g(x)
x
a

Gambar 3.2.11

Gagasan ini secara formal dituliskan dalam Teorema 3.3, yang disebut
Teorema Pengapitan atau kadang disebut Teorema Penjepitan

TEOREMA 3.3. (TEOREMA PENGAPITAN). Misalkan f, g, dan h adalah


fungsi-fungsi yang memenuhi g(x)  f ( x)  h( x) untuk semua x pada suatu
selang terbuka yang memuat titik a, dengan pengecualian bahwa mungkin
ketidak samaan tersebut tidak berlaku di a. Jika g dan h mempunyai limit yang
sama untuk x mendekati a, katakan lim g ( x) = lim h(x) = L maka f juga
xa x a

mempunyai limit tersebut untuk x mendekatio a, yaitu lim f(x) = L


x a

Catatan. Teorema pengapitan tetap benar lika lim selain itu untuk lim asal
x a x a
syarat g(x)  f(x)  h(x) hanya perlu dipenuhi pada selang terbuka yang
diperpanjang kekanan dari a dan untuk limit lim syarat tersebut hanya perlu
x a
dipenuhi pada selang terbuka yang diperpanjang ke kiri dari a. Teorema
pengapitan dapat juga di perluas untuk limit-limit dalam bentuk lim dan
x  

lim .
x  

Contoh: Gunakan teorema pengapitan untuk menghitung


1
lim x 2 sin 2
x 0 x
245

Penyelesaian:
Jika x  0, maka dapat ditulis
1
0  sin 2  1
x
Semua sisi dikalikan dengan x 2 didapat
1
0  x 2 sin 2  x2
x
Tetapi lim 0 = lim x 2 = 0 sehingga berdasarkan teorema pengapitan
x 0 x 0

1
lim x 2 sin 2
=0
x 0 x
Selanjutnya, akan digunakan teorema pengapitan untuk pembuktian bahwa

sin h 1  cos h
lim = 1 dan lim = 0 adalah benar.
x 0 h x 0 h

Tetapi akan membantu apabila lebih dahulu diulang rumus luas L untuk semua
tembereng denga jari-jari r dan sudut pusat  radian (Gambar 3.2.13). Jika  =
2  maka tembereng tersebut merupakan seluruh lingkaran danluas  r 2 .
Untuk tembereng yang luasnya L berbanding lurus dengan sudut pusat  ,
sehingga dapat ditulis

  luas tembereng sudut pusat tembereng 


 luas lingkaran  sudut pusat lingkaran 
l

r 2 2  

Dengan demikian diperoleh


L = ½ r2  1 2
L r 
2

Luas L


r

Gambar 3.2.12
246

Catatan. Penting untuk diingat bahwa sudut  pada rumus diatas diukur
dalam radian. Pada panulisan selanjutnya dalam buku teks ini banyak dijumpai
rumus kalkulus yang dibangun berdasarkan sudut radian.

TEOREMA 3.4

sin h
lim 1
x 0 h

Bukti:.

Diasumsikan h memenuhi 0  h  dan bentuklah sudut h pada posisi baku.
2
Sisi akhir dari h memotong lingkaran satuan pada P (cos h, sin h) dan
memotong garis vertikal yang melalui B(1,0) dititik Q(1, tan h) (Gambar
3.2.13). dari gambar tersebut didapat

0 luasOBPluastemberengOBPluasOBP

Tetapi

1 1 1
Luas OBP  alas  tinggi  1  sinh  sinh
2 2 2
1 2 1
Luas tembereng OBP = (1)  h  tanh
2 2
1 1 1
Luas OBQ  alas  tinggi   1  tanh  tanh
2 2 2

Oleh karena itu,


1 1 1
0 sinh  h  tan h
2 2 2

Dengan demikian keseluruhan dengan 2/sin h menghasilkan

h 1
1 
sin h cosh h
247

Q(1, tan h)
P(cos h, sin h)
P(cos h, sin h) P

h h h
B(1,0) B(1,0) B(1,0)

Gambar 3.2.13

sin h
dan kemudian dengan mengambil kebalikannya didapat cos h   1 . Ini
h

diperoleh dengan asumsi bahwa 0  h  . akan tetapi juga benar jika
2
  
  h  0 . Jadi memenuhi untuk semua h pada selang ( , ) kecuali h =
2 2 2
0, gunakan
lim cos h = 1 dan lim 1 = 1
x 0 x 0

sin h
Jadi, lim  1.
x 0 h

AKIBAT 3.5

1  cosh
lim 0
x 0 h

Bukti:
Dengan bantuan kesamaan trigonometri sin 2 h = 1 - cos 2 h diperoleh
1  cos h 1  cos h 1  cos h  sin 2 h
lim  lim    lim
x 0 h x 0
 h 1  cos h  x0 h(1  cos h)
248

 sin h  sin h   0 
=  lim  lim   (1) 0
 h0 h  h0 1  cos h  1 1

Contoh berikut ini mengilustrasikan bagaimana limit yang didapat pada sub-
bab ini dapat untuk menghitung limit-limit lain termasuk fungsi trigonometri.

tan x
Contoh: Carilah lim
x 0 x

Penyelesaian:
tan x  sin x 1 
lim = lim    = (1)(1) = 1
x 0 x x  0
 x cos x 

sin 2
Contoh: Dapatkan lim
x 0 

Penyelesaian:
Dengan mengalihkan dan membagi dengan dua , menghasilkan penyebut yang
sama dengan ekspresi di dalam fungsi sinus pada pembilang. Didapat
Penyelesaian: Dengan mengalikan dan membagi dengan 2, menghasilkan
penyebutan yang sama dengan eksprsi di dalam fungsi sinus pd pembilang.
Didapat

sin2θ sin2θ sin t


lim  lim2  2 lim  2(1)  2
 0 θ  0 2θ t 0 t

sin 3
Contoh: Didaptkan lim
 0 sin 5

Penyelesaian:
sin 3 sin 3
3.
sin3 χ  3 3.1 3
lim  lim  lim  
 0 sin5   0 sin 5   0 sin 5 5.1 5
5.
 5
249

Untuk x    atau x   , nilai sin x dan cos x berosilasi antara –1 dan 1


tanpa mendekati sebarang nilai riil yang tetap. Jadi limit – limit,
lim sin x, lim sin x, lim cos x, lim cos x tidak ada.
x  x  x  x 
Dikatakan bahwa limit-limit tersebut tidak ada kerena osilasi.

Limit Fungsi Logaritma dan Eksponensial


Limit-limit berikut konsisten dengan Gambar 3.2.14, yang akan dibuktikan
kemudian.
lim e x   dan lim e x  0
x  x 

lim ln x   dan lim ln x  


x  x 0 

y y = ex
y =x

y = ln x

(1,e)

(0,1)
(e, 1)
(1,0)

Gambar 3.2.14

Grafik y = ln x naik secara lambat, bahwa Gambar 3.2.15 tidak cukup memadai
untuk menunujukan bahwa
lim ln x  
x 
Walaupun ini dibuktikan kemudian, lebih lanjut, karena grafik ex merupakan
refleksi dari grafik ln x pada garis y = x, pertumbuhan (growath) yang lambat
dari ln x berkorenpodensi dengan pertumbuhan yang cepat dari ex. Tabel
berikut dihasilkan dari kalkulator, mengilustrasikan perkembangan yang
lambat dari ln x dari perkembangan yang cepat dari ex.
250

x ex ln x
1 2,718282 0
2 7,289056 0,693147
3 20,08554 1,098612
4 54,59815 1,386294
5 148,4132 1,609438
6 403,4288 1,791759
7 1096,633 1,945910
8 2980,958 2,079442
9 8103,084 2,197225
10 22026,47 2,302585

Perkembangan Eksponsial dan Logaritma


Para ahli metematika seringkali menggunakan pangkat-pangkat dari x sebagai
“tolak ukur” unutk menggambarkan bagaimana cepatnya suatu fungsi itu
berkembang. Contoh, akan dibuktikan kemudian bahwa jika n sembarang
bilangan bulat, maka
ex
lim n  
x  x

ln x
lim n  0
x  x

Iimit bagian pertama di atas menunjukan bahwa ex naik secara cepat, yang
tidak mempersoalkan bagaimana besar pengambilan bilangan bulat n.
pembagian dengan xn tidak menghambat perkembangan menuju + . Jadi,
dapat dikatakan bahwa ex naik lebih cepat daripada setiap pangkat bilngan
bulat positif dari x. Sedangkan limit bagian ke dua di atas menunjukan bahwa
ln x naik secara lambat, bahwa pembangian dengan pangkat bilangan bulat
positif dari x menghmbat perkembangan menuju +  dan hasil secara limit
sama dengan nol. Jadi, dapat dikatakan bahwa ln x naik labih lambat dari setiap
pangkat bilangan bulat positif dari x.
Berikut ini, bentuk alternatif dari dua limit di atas yang dapat diperoleh
dengan pengambilan kebalikannya :
xn
lim x  0
x   e
251

xn
lim  
x  ln x

Lebih lanjut, limit berikut dapat diperoleh dari limit di atas, yaitu
lim x n ln x  0 .
x 0

Latihan 3.2

Dapatkan Limit-Limit dari Soal 1 – 56

1. lim 7 2. lim (-3) 3. lim 


x 8 x  - x  0
3. lim 3x 5. lim 3y 6. lim (-2h)
x  2 x  3 h  

7. lim x 3  3x  1 8. lim ( x  12 x  17 x  2)
2

x 5 x  0
lim ( y  12  1)
6 y
9.
y  1
x 2  16 t3  8 x4 1
10. lim 11. lim 12. lim
X 4 x4 t  2 t  2 x 1 x  1

x 2  2x ( y  1)( y  2)
13. lim 14. lim
x 3 x 1 
y 2 y 1
6x  9
15. lim 3
x 0 x  12r  3

x 2  4x  4 x 2  6x  5
16. lim 2 17. lim 2
x 2 x  x  6 x 1 x  3 x  4

t 3  t 2  5t  3
18. lim
t 1 t 3  3t  2
5x 2  7 x2
19. lim 20. lim 2
x  3 x  x x  x  2 x  1
2
252

3s 7  4s 5
21. lim
x  2s 7  1
5x 2  2 5x 2  2
22. lim 23. lim
x   x3 x   x3
2 y
24. lim
y   7  6y2
2 y 3x 4  x
25. lim 26. lim
y   7  6y2 x   x2  8

3x 4  x
27. lim
x   x2  8
x x x
28. lim  x  3 29. lim 30. lim
x  3 x 3 x  3 x 3 x  3
x x x
31. lim  x 2  4 32. lim 2 33. lim 2
x 2 x 2  x  4 x  2 x  4

y6 y6 y6


34. lim  y 2  36 35. lim 2 36. lim 2
y 6 y 6  y  36 y 6 y  36

3 x 3 x
37. lim  x 2  2 x  8 38. lim 2
x 4 x 4  x  2 x  8
3 x
39. lim x 2  2 x  8
x 4
x x 1
40. lim  | x | 41. lim 42. lim
x 0 x 0  | x | x 3 | x  3 |
x9 4 y
43. lim 44. lim 45. lim x
x 9 x3 y4 2  y x  

46. lim 5 x 47. lim (3  x) 48. lim (3  x 2 )


x  x  x 

49. lim (1  2 x  3r ) 5
50. lim (2 x  100 x  5)
3

x  x 
x
51. Dapatkan lim dengan a sebarang konstanta. [Petunjuk. Pandan
x a x  a
kasus-kasus a  0 dan a = 0 secara terpisah].
253

x3  1
52. Misalkan f (x) =
x 1
(a). Dapatkan lim f ( x) (b). Sketsa grafik y = f (x)
xa
53. Misalkan f (x) =  x  1, x  3
3 x  7, x  3
dapatkan
(a). lim f ( x) (b). lim f ( x) (c). lim f ( x)
x  3 x  3 x 3

54. Misalkan g (t) =  tt , 2,


2 t 0
t 0 dapatkan

(a). lim g (t ) (b). lim g (t ) (c). lim g (t )
t  0 t  0 t 0

55. Dapatkan lim h ( x) jika diketahui h (x) =  7x,  2 x  1, xx  33


2

x 3 
 x2  9
, x  3
 x  3
56. Misalkan F (x) =  k, x  3


(a). Dapatkan k sedemikian hingga F (-3) = lim F ( x)
x  3
(b). Dengan memberi k nilai dari lim lim F ( x) , tunjukkan bahwa F (x)
x  3
dapat dinyatakan sebagai polinomial.

57. (a). Jelaskan, mengapa perhitungan dibawah ini tidak benar


1 1  1 1
lim    = lim  lim
 x x2

x  0 x x  0 x
2
x0  
= +   ()  0
1 1 
(b). Tunjukkan bahwa lim    = 
 x x2

x0  
1 1 
58. Dapatkan lim   
 
x  0  x x2 

Untuk soal 59-62, pertama rasionalisasikan pembilang, kemudian dapatkan


limitnya.
254

x42 x2  4  2
59. lim 60. lim
x 0 x x 0 x
5x  9  3 1 x2
61. lim 62. lim
x 0 x x 3 x3

Dapatkan limit-limit pada Soal 63-68

63. lim  x 2  3  x  64. lim  2 x 2  5  x 


x     x  

65. lim  x 2  5 x  x  66. lim  x 2  3x  x 


x   x  

67. lim   2  a    68.


x    

lim   2  a   2  b 
x    
69. Misalkann r (  ) fungsi rasional. Apakah syaratnya agar
lim r    r a  benar ?
x a
70. Dapatkan
c0  c1   ...  c n  n
lim
x    d  d   ...  d  m
0 1 m
dengan cn  0 dan dm  0. [Petunjuk : Jawaban akan bergantung pada
apakah m < n, m = n, atau m > n].

Dapatkan limit-limit pada Soal 71-85

sin x sin 2 x sin x


71. lim 72. lim 73. lim
x0 x x  0 3x 2 x0 5 x
sin 6 x tan 7 x sin 2 
74. lim 75. lim 76. lim
x  0 sin 8 x x  0 sin 3 x  0 
h sin h
77. lim 78. lim
h  0 tan h h  0 1  cos h
255

2
79. lim
  0 1  cos 
x 
80. lim 81. lim
x0 1    0 cos 
cos    x 
2 
t2
82. lim
t 0 1  cos 2 t
1  cos 5h 1
83. lim 84. lim sin  
h 0 cos 7h  1  0 
1
85. lim cos  
  0 
86. Pada tiap bagian, dapatkan limitnya dengan menggunakan substitusi yang
diberikan.
1  1
(a). lim  sin Misalkan t  
     
 1  1
(b). lim  1  cos  Misalkan t  
     
 
(c). lim Misalkan t     
   sin 
cos  / x 
87. Dapatkan lim
x2 x 1
tan x  1
88. Dapatkan lim
x  / 4 x   / 4

90. Dengan menggunakan Teorema Pengapitan, dapatkan limit-limit berikut :


sin  cos 
(a). lim (b). lim
     
91. Dengan menggunakan Teorema Pengapitan, dapatkan :
lim  sin 1 /  
  0
92. Misalkan f fungsi yang memenuhi
1 -  2  f (  )  cos 
untuk semua x pada (- /2, /2). Apakah lim f   ada ? Jika ada,
 0
dapatkan limitnya. Jika tidak, jelaskan !
256

93. Misal f     1 jika χ bilanganrasional


0 jika  bilanganirasional

Gunakan Teorema Pengapitan untuk membuktikan bahwa lim  f    0


 0
94. Buktikan. Jika terdapat konstanta L dan M sedemikian sehingga L  f (  )
 M untuk semua  pada selang terbuka yang memuat 0, dengan
pengecualian mungkin ketidaksamaan tersebut tidak berlaku di 0, maka
lim  f    0 .
 0

95. (a). Buktikan bahwa lim sin h  0 [Petunjuk : Dapatkan 0 < sin h < h
h 0
untuk 0 < h < /2 dan gunakan Teorema Pengapitan untuk
menunjukkan bahwa lim sin h  0 kemudian tunjukkan bahwa
h  0

lim sin h  0
  0

(b). Gunakan hasil dari (a) untuk membuktikan bahwa lim cos h  1 .
h 0
2 2
[Petunjuk : Selesaikan kesamaan sin h + cos h = 1 untuk cos h
dengan asumsi - /2 < h < /2].
96. Berdasarkan Teorema 3.4 bahwa jika  kecil (mendekati nol) dan diukur
dalam radian, maka diharapkan hampiran sin    adalah baik.
(a). Dapatkan sin 100 menggunakan kalkulator
(b). Dapatkan sin 100 menggunakan hampiran di atas.
97. Dengan merujuk pada Gambar 3.2.15, misalkan bahwa sudut elevasi suatu
bagian atas puncak suatu bangunan, yang diukur dari suatu titik sejauh L
meter dari dasarnya, adalah  derajat.
(a). Gunakan hubungan h = L tan  untuk menghitung tinggi suatu
bangunan dengan L = 500 m dan  = 60.
(b). Tunjukkan bahwa jika L cukup besar dibanding dengan tinggi
bangunan h, maka diharapkan hasil yang baik dalam hampiran h
dengan h   L /180.
(c). Gunakan hasil pada bagian (b) untuk mendapatkan hampiran tinggi
gedung h pada bagian (a).

h
Gambar 3.2.15 L
257

Untuk Soal 98 – 106, dapatkan limit-limitnya

98. (a). lim 4e 3 (b). lim 4e 3


 → ∞  →∞

99. (a). lim 3e - 2  (b). lim 3e - 2 


 → ∞  →∞

100. (a). lim


 → ∞
e   e   
(b). lim
 →∞
e   e  

101. (a). lim


 → ∞
e   e   
(b). lim
 →∞
e   e  

 2  2
102. (a). lim 1  e    (b). lim 1  e   
 →∞    →∞  

103. (a). lim e1/  (b). lim e1/ 


 → ∞  →∞

105. (a). lim e1/  (b). lim e1/ 


 →0   → 0

2 2
106. (a). lim e 1/  (b). lim e 1/ 
 →0   →0 

e   e  e   e 
107. lim 108. lim
 →  e   →  e 
e e

2  e  
109. lim 110. lim e e
 →   1  3e   →

111. Satu dari fungsi fundamental pada Statistika Matematika adalah


1 1    2 
f () = ep [-  
2 2   
 
dimana  dan  adalah konstanta sehingga  > 0 dan - < < +
(a). Tentukan tempat titik belok dan titik ekstrim relatifnya.
(b). Dapatkan lim f   dan lim f  
 →  →
258

112. Buktikan bahwa


eh  1
lim 1
h →0 h
dengan menyatakan turunan dari e di  = 0 sebagai limit.

Untuk Soal 113 – 116, gunakan metode dari Latihan 112 untuk mendapatkan
limit-limitnya

e 2  e  1  e 
113. lim 114. lim
 →0   →0 

 

e e a
115. lim 116. lim  e1/   1
 →a  a  → 

Untuk Soal 117 – 121, Rumus (3.25) dan (3.27) sangat membantu

117. (a). Dapatkan lim e 2  dan lim e 2 


 →  →
(b). Sketsa grafik y = e-2 dan berilah tanda (label) semua ekstrim
relatif dan titik-titik belok

118. (a). Dapatkan lim e  dan lim e 


 →  →

(b). Sketsa grafik y = e dan berilah tanda (label) semua ekstrim
relatif dan titik-titik belok.

119. (a). Dapatkan lim  2 e 2  dan lim  2 e 2 


 →  →
(b). Sketsa grafik y =  e dan berilah tanda (label) semua ekstrim
2 2

relatif dan titik-titik belok.


120. (a). Dapatkan lim  2 / e 2  dan lim  2 / e 2 
 →  →
(b). Sketsa grafik y =  /e dan berilah tanda (label) semua ekstrim
2 2

relatif dan titik-titik belok.


259

121. (a). Dapatkan lim e  /  , lim e  /  , lim e  /  dan lim e  / 


 →  →  →0  →0

(b). Sketsa grafik y = e / dan berilah tanda (label) semua ekstrim
relatif dan titik-titik belok.

3.3. KONSEP LIMIT

Definisi Limit
Pada bagian sebelumnya, telah dibicarakan limit secara informal, dengan
menginterpretasikan lim f (  ) yaitu nilai-nilai dari f (x) mendekati L, untuk x
 →a
mendekati a dari salah satu sisi (tetapi tetap berbeda dari a). Tanpa definisi
matematika yang tepat, “f (x) mendekati L” dan “x mendekati a” merupakan
gagasan intuitif (Geomeris). Pada bagian ini akan diberikan dua definisi
pendahuluan dari limit dan kemudian diberikan definisi umum yang sering
digunakan (secara matematis).

y y

L+ y = f (x) L+


f (x)
L L
L- L-
 
 
0 a  1 0 a 1
a- a+

Gambar 3.3.1 Gambar 3.3.2

Sebagai motivasi untuk mendapatkan definisi limit secara tepat, perhatikan


fungsi f yang ditunjukkan pada Gambar 3.3.1. Lubang di x = a grafik fungsi f
memang disengaja untuk menekankan bahwa fungsi f tidak perlu terdefinisi di
titik a, dalam pembahasan ini. Untuk grafik fungsi pada gambar di atas,
pemahaman intuitif tentang limit memberikan kesan bahwa f (x) mendekati L
jika x mendekati a. Ini berarti, jika diambil sebarang bilangan positif, sebut ,
dan dibentuk selang terbuka pada sumbu-y yang memperpanjang  satuan ke
atas dan ke bawah L (Gambar 3.3.2), maka nilai dari f (x) akhirnya berada di
260

dalam selang (L - , L + ) jika x mendekati a dari salah satu sisinya. Pada


Gambar 3.3.1, x terletak diantara x0 dan a di sebelah kiri atau x terletak diantara
a dan x1 di sebelah kanan. Hal ini mengilhami definisi limit dua sisi berikut.

DEFINISI 3.6 LIMIT (DEFINISI PERTAMA) Misalkan f(x) terdefinisi untuk


semua x pada suatu selang terbuka yang memuat bilangan a, kecuali mungkin
f(x) tidak terdefinisi di x = a. lim f ( x)  L untuk sebarang bilangan  > 0,
 →a
maka dapat ditemukan suatu selang terbuka (x0, x1) yang memuat titik a
sedemikian hingga f (x) memenuhi
L -  < f (x) < L + 
untuk setiap x pada selang (x0, x1), kecuali mungkin x = a.

Dalam Definisi 3.6 perlu dicatat bahwa  benar-benar sebarang, kecuali untuk
pembatasan bahwa  adalah positif. Khususnya, jika dipilih  kecil dan jika x
berada pada selang L -  < f (x) < L + , maka akibat pembatasan x memaksa
nilai f (x) mendekati L. Jadi, definisi tersebut dapat diutarakan kembali secara
informal sebagai berikut :

Limit f (x) untuk x mendekati a adalah L jika dan hanya jika nilai-nilai
dari f(x) dapat dipaksa sedekat mungkin ke L sesuai keinginan dengan
membatasi x cukup dekat ke a (tetapi tidak sama dengan a)
Selanjutnya, akan ditulisi kembali definisi limit dalam bentuk alternatif
yang lebih mudah untuk digunakan. Dimulai dengan beberapa observasi
tentang Definisi 3.6.

 Untuk mengatakan bahwa


L -  < f (x) < L + 
dipenuhi untuk semua x pada selang (x0,x1) kecuali di titik x = a adalah
ekivalen dengan mengatakan bahwa pertaksamaan di atas dipenuhi untuk
semua x pada himpunan :
(x0,a)  (a, x1)
 Jika ketidaksamaan di atas dipenuhi untuk semua x pada himpunan (x0,a)
 (a,x1), maka ketidaksamaan ini juga dipenuhi untuk semua x pada
sebarang himpunan bagian dari (x0,a)  (a, x1). Khususnya, jika
dimisalkan  adalah sebarang bilangan positif yang lebih kecil dari a – x0
dan x1 dan x1 – a, maka
261

(a - , a)  (a, a + )
akan menjadi suatu himpunan bagian dari (x0,a)  (a, x1) yang dipenuhi
untuk semua x yang memenuhi L -  < f (x) < L +  (Gambar 3.3.2).

Bentuk alternatif yang lain dari definisi limit adalah sebagai berikut :

DEFINISI 3.7 LIMIT (DEFINISI KEDUA) Misalkan f(x) terdefinisi untuk


semua x pada suatu selang terbuka yang memuat bilangan a, kecuali mungkin
f(x) tidak terdefinisi di x = a. lim f ( x)  L untuk sebarang bilangan  > 0
 →a
dapat ditemukan suatu bilangan  > 0 sedemikian hingga f (x) memenuhi L - 
< f (x) < L +  untuk setiap x pada himpunan (a - , a)  (a, a + .

Dalam persiapan untuk bentuk akhir dari definisi limit, dibuat observasi
sebagai berikut:

 Ketidaksamaan pada L -  < f (x) < L +  dapat dinyatakan dalam bentuk


nilai mutlak, yaitu :
f (x) - L < 

 Himpunan dalam (a - , a)  (a, a + ) dapat dinyatakan dalam suku-suku


nilai mutlak sebagai himpunan dari semua x sedemikian hingga.
0 < x - a < 

DEFINISI 3.8 LIMIT (DEFINISI FORMAL) Misalkan f (x) terdefinisi untuk


semua x pada suatu selang terbuka yang memuat bilangan a, kecuali mungkin
f(x) tidak terdefinisi di x = a. lim f ( x)  L untuk sebarang bilangan  > 0
 →a
dapat ditemukan suatu bilangan  > 0 sedemikian hingga jika x memenuhi 0
< x - a <  maka berlaku f (x) – L  < 

Pada sub-sub yang lalu diilustrasikan bermacam-macam metode numerik


dan geometri untuk menduga limit. Sekarang, dengan adanya definisi limit
yang tepat sehingga dapat diputuskan apakah suatu dugaan nilai limit itu benar.
Contoh berikut mengilustrasikan suatu metode untuk mengerjakannya.
262

Contoh: Gunakan Definisi 3.8 untuk membuktikan bahwa lim 3  5  1


 →2

Penyelesaian:
Harus diperlihatkan bahwa jika diberikan sebarang bilangan positif , maka
dapat ditemukan suatu bilangan positif , sedemikian hingga



3  5   
 
1  jika  memenuhi 0    
2 
f   L a

Tetapi “pernyataan jika” tersebut dapat ditulis kembali sebagai

3  - 6<  jika 0 <   - 2 < 


3  - 2<  jika 0 <   - 2 < 
  - 2< /3 jika 0 <   - 2 < 

Satu pilihan untuk  agar “pernyataan jika” pada 0 <   - 2 <  benar untuk
sebarang  > 0 adalah  = /3, karena dengan pilihan  ini, sisi kanan dari
pernyataan menjadi

0 <   - 2< /3

yang mengakibatkan bahwa  - 2< /3 diperlukan untuk sisi kiri dari
pernyataan tersebut. Ini membuktikan bahwa lim 3  5 1 .
 →2

Catatan. Contoh ilustrasi di atas adalah bentuk umum dari bukti suatu limit :
Diasumsikan bahwa bila diberikan sebarang bilangan positif , dan dicoba
untuk menunjukkan bahwa dengan sebarang nilai  terdapat bilangan positif 
sedemikian hingga “pernyataan jika” pada Definisi 3.8 adalah benar. Hal ini
telah dilakukan pada contoh di atas dengan mendapatkan suatu rumus (katakan,
 = /3) untuk suatu bilangan  yang tidak diketahui dalam suku-suku bilangan
 yang diberikan; rumus tersebut diperoleh dengan memanipulasi “pernyataan
jika” ke suatu bentuk sehingga rumus tersebut menjadi lebih mudah dengan
sendirinya. Contoh sebelumnya menekankan tentang bukti limit yang mudah
diperoleh; kebanyakan bukti llimit memerlukan sedikit aljabar dan kepandaian
logika. Pembaca yang merasakan pembahasan tentang  -  sangat berat,
263

jangan menjadi kecil hati; konsep dan tekniknya memang sulit. Pada
kenyataannya suatu pengertian yang tepat tentang limit dihindari pemikir
matematika selama berabad-abad.
Nilai  Tidak Tunggal
Perlu dicatat bahwa nilai  pada Definisi 3.8 tidak tunggal. Jika satu nilai 
ditemukan memenuhi syarat-syarat dari definisi, maka sebarang nilai positif
yang lebih kecil dari  juga memenuhi syarat-syarat tersebut. Untuk melihat
mengapa demikian, diasumsikan bahwa telah didapatkan suatu nilai 
sedemikian hingga
f (x) - L<  jika 0 < x–a<
dan misalkan 1 adalah sebarang bilangan positif yang lebih kecil dari . Jika x
memenuhi :
0 <  x – a  < 1
maka
0 <  x – a  < 1 < 
Jadi f (x) – L <  untuk x tersebut, karena x memenuhi syarat 0 < x – a< .
Sebagai contoh, didapat pada contoh sebelumnya bahwa  = /3 memenuhi
syarat dari Definisi 3.8. Akibatnya, sebarang nilai  yang lebih kecil, seperti 
= /4,  = /5, atau  = /6 juga memenuhi syarat Definisi 3.8.

Contoh :Buktikan bahwa lim x 2  9


x →3

Penyelesaian:
Harus ditunjukkan, bahwa bila diberikan sebarang bilangan positif  dapat
ditemukan suatu bilangan positif  sedemikian hingga
x2 – 9 <  jika 0 < x – 3 < 

Karena x – 3 terjadi pada sisi kanan dari “pernyataan jika” pada 0 < x – 3
< , maka akan sangat membantu dengan memfaktorkan sisi kiri untuk
memunculkan |x – 3|. Karena :
x2 – 9 = (x + 3) (x – 3) = x + 3 x - 3

Diperoleh:

x + 3 x - 3 <  jika 0 < x - 3 < 


264

Jika ada suatu cara untuk mendapatkan suatu konstanta positif k sedemikian
hingga

x + 3 < k

maka dapat ditulis :

x + 3 < k  x - 3  (jika x  3)

Akibatnya

x + 3  x - 3  <  jika k x - 3 < 

yang memungkiknkan ditulis kembali menjadi


k x - 3 <  jika 0 < x - 3 < 

Seperti pada contoh sebelumnya, selanjutnya pertaksamaan di atas dapat


dituliskan kembali menjadi

k x - 3 <  jika 0 < x - 3 < 

dari sini terlihat bahwa dipenuhi jika dipilih  kurang dari /k

Untuk mendapatkan nilai k yang memenuhi x + 3 < k, perhatikan kembali


pengamatan sebelumnya bahwa sekali nilai  ditemukan, maka sebarang nilai
positif  dapat digunakan untuk menggantikannya. Hal ini memungkinkan
untuk mengasumsikan secara bebas bahwa   1, sebab jika  > 1, maka
bebas menggunakan nilai  yang labih kecil missal  = 1. Jadi persoalan
untuk menunjukan bahwa ada nilai  yang memenuhi x + 3 < k adalah
ekivalen dengan menunjukan bahwa ada nilai  yang tidak melebihi 1 dan
sedemikian hingga

x  3 x  3  jika 0< x  3    1

Selanjutnya,berdasarkan pembatasan pada  diperoleh


265

x  3  1 atau ekivalen 2 < x < 4

Hal ini mengakibatkan bahwa 5 < x + 3 < 7, yang selanjutnya berakibat bahwa

x3  7

Kesimpulannya diberikan  0, dapat dipilih   / 7 tidak melewbihi 1. Jika


 / 7 melebihi 1, pilih   1. Untuk lebih singkatnya, ambil  minimum dari
bilangan  / 7 dan 1. Hal ini kadang-kadang ditulis
 = min (  / 7,1 )

Oleh karena itu, untuk menjawab contoh soal ini, pilih  = min (  / k ,1 )
berlaku
x2 – 9= x  3 x  3  k | x  3 | k  k. / k =

Catatan. Pada contoh diatas, pembaca mungkin mempunyai keraguan


bagaimana dapat membuat pembatasan   1 dibandingkan dengan beberapa
pembatasan yang lain seperti   12 atau   5 . Sesungguhnya, pemilihan
tersebut benar-benar sebarang; sebarang pembatasan yang lain berbentuk
  c akan dapat digunakan sama baiknya.

1
Contoh: Buktikan bahwa lim 2
x 1 / 2 x

Penyelesaian:
Harus diunjukan bahwa jika diberikan  0, terdapat   0 sedemikian hingga
(1 / x)  2  jika 0< x  12  

Karena x  12 terjadi di 0< x  12   , ini akan membantu jika


0< x  12   dituliskan kembali sedmikian hingga x  12 muncul sebagai faktor
pada sisi kiri. Hal ini dikerjakan sebagai berikut :

(1 / x)  2  (2 / x)( 12  x)  2 / x 12  x  2 / x x  12
266

Ini ekivalen dengan

2 / x x  12  jika 0< x  12  

Gambar 3.3.3

Mulai dari sini prosedurnya serupa dengan yang digunakan pada contoh
terakhir diatas. Dengan membatasi  akan dicoba menemukan suatu konstanta
positif k sehingga

2/ x  k

Pada Gambar 3.3.3 telah dibuat sketsa grafik dari 2 / x dan ditandai
himpinan nilai yang memenhi 2 / x  k . Pada bagian (a) dari gambar diambil
 = 12 dan pada bagian (b) diambil   12 . Pada bagian (a) dari gambar tersebut
terlihat jelas bahwa jika   2 (atau  > 12 , maka nilai dari 2 / x idak
mempunyai batas atas yang menyebabkan 2 / x  k tidak mungkin memenuhi.
Bagian (b) memperlihatkan bahwa bila   1
2 maka batas atas k untuk nilai
2 / x ada. Oleh karena itu, pembatasan sebarang   1
4 akan memastikan
bahwa 2 / x mempunyai batas atas. Jadi dengan menunjukan bahwa terdapat
sutu nili dari  yang memenuhi 2 / x  k ekivalen dengan menunjukan
adanya satu nilai  yang tidak melebihi 14 , sehingga
267

2 / x x  12  jika 0< x  12    1
4

Tetapi, dari pembatasan  pada   1


4
terlihat bahwa
x 1
2  1
4 atau ekivalen dengan, 1
4 x 3
4

Untuk mendapatkan batas untuk nilai 2 / x , himpunan terakhir dari


ketidaksamaan tersebut dikalikan dengan 12 dan diambil kebalikannya,
menghasilkan
8>2/x>8/3
Ini mengakibatkan bahwa 2 / x  8, jadi jika x  12 diperoleh
2 / x x  12  jika 8 x  12 
Atau
2 / x x  12  jika x  12  / 8
Jadi
  / 8
Kesimpulannya,diberikan  0 dapat dipilih   / 8, dengan pemilihan ini
tidak melanggar   41. . Jika hal ini terjadi, pilih nilai   14 . Lebih singkatnya
1
  min( / 8, )
4

Contoh berikut mengilustrasikan suatu teknik untuk membuktikan bahwa limit


dua sisi tidak ada pada kasus

Contoh: Grafik dari  1, x  0


f ( x)  
 1, x  0

diperlihatkan pada Gambar 3.3.4. Karena limit-limit satu sisi

lim f ( x)  1 dan lim f ( x)  1


x0 x0

tidak sama, maka limit dua sisinya lim f ( x) tidak ada. Buktikan hal di atas
x0

dengan menggunakan Definisi 3.8.


268

Gambar 3.3.4

Penyelesaian:
Andaikan bahwa limit diatas ada dan didapatkan suatu kontradiksi. Andaikan
ada bilangan L sedemikian hingga
f ( x)  L  jika 0< x  0  
Khusunya, jika diambil  1 terdapat   0 sehingga
f ( x)  L  1 jika 0< x  0  

Tetapi x =  / 2 dan x = -  / 2 keduanya memenuhi syarat-syarat untuk


ketaksamaan di atas, jadi

f ( / 2)  L  1 jika 0< f ( / 2)  L  1


Bagaimanapun juga,  /2 positif dan -  / 2 negative sehingga

f(  / 2)  1 dan f(-  / 2)  1
Dengan demikian diperoleh,
1 L  1 dan 1 L  1

Atau ekivalen dengan


0L2 dan 2 L 0

Tetapi ini kontradiksi, karena tidak ada bilangan L yang dapat memenuhi
kedua syarat tersebut.
269

Latihan 3.3

Pada soal 1-10 ,dikatakan bahwa lim f ( x)  L dan diberikan suatu nilai  .
x0

Pada setiap soal, dapatkan suatu bilangan  sedemikian hingga


f ( x)  L   jika 0  x  a   .

1
1. lim 2 x  8; 0.1 2. lim x   1;  0,1
x4 x  2 2

3. lim 7 x  5   2 ;  0,001
x  1

4. lim (5x  2) 13;  0,01


x 3

x2  4
5. lim  4;  0.05
x2 x  2

x 2 1
6. lim   2;  0,05
x  1 x  1

7. lim x 2 16;  0.001 8. lim x  3;  0,001


x4 x 9

1 1
9. lim  ;  0,05 10. lim x  0;  0,05
x 5 x 5 x 0

Pada soal 11-24, gunakan Defenisi 3.8 untuk membuktikan bahwa


pernyataan limit yang diberikan adalah benar.

11. lim 3x 15 12. lim (4 x  5)  7


x 5 x 3

13. lim (2 x  7)   3 14. lim (2  3x)  5


x2 x  1

x x 2
x2 9
15. lim 1 16. lim  6
x 0 x x  3 x  3

17. lim 2 x 2  2 18. lim ( x 2  5 )  4


x 1 x 3

1 1
19. lim 3 20. lim  1
x 1 / 3 x x  2 x 1
270

21. lim x  2 22. lim x  3  3


x4 x 6

 x  2, x  1
23. lim f ( x)  3 dengan f x    24. lim ( x 2  3x 1)  9
x 1
10, x 1 x2

 1
 8 , x  0
25. Misalkan f(x) = 
 1 , x  0
 8

Gunakan metode    untuk membuktikan bahwa lim f ( x) tidak ada


x 0

1  x, x  0
26. Misalkan g(x) = 
 x 1, x 1
Buktikan bahwa lim g ( x) tidak ada.
x 0

1
27. Buktikan bahwa lim tidak ada
x 1 x  1

28. (a). Pada definisi 2.6.3. ada syarat memerlukan f(x) terdefinisi untuk setiap
x pada selang terbuka yang memuat a, kecuali mungkin di a sendiri.
Apakah tujuan dari persyaratan tersebut.
(b). Mengapa lim x  0 adalah pernyataan yang benar?
x 0

(c). Apakah lim x  0,1 adalah pernyataan yang benar?


x  0, 01

3.4. KEKONTIUAN FUNGSI


Suatu obyek yang bergerak secara fisik tidak dapat menghilang di suatu titik
dan kemudian muncul kembali di titik yang lain untuk melanjutkan
gerakannya. Dengan demikian, haruslah dapat dibayangkan lintasan obyek
yang bergerak tersebut.

Defenisi Kekontinuan
Sebelum diberikan beberapa definisi yang formal, perhatikan beberapa cara
yang berakibat kurva “diskontinu.” Pada Gambar 3.4.1 digambar grafik
dibeberapa kurva, yang karena perilakunya di titik c, tidak kontinu di c. Kurva
271

pada Gambar 3.4.1a mempunyai satu lubang di titik c, karena fungsi f tidak
terdefinisi di titik c, tetapi

lim f ( x) tidak ada,


x c

karena itu terjadi suatu patahan pada grafiknya. Untuk kurva pada Gambar
3.4.1d, fungsi f terdefinisi pada c dan lim f ( x) ada, tetapi grafiknya masih
x c

mempunyai patahan di titik c karena lim f ( x)  f (c)


x c

Berdasarkan pada pembahasan di atas, terlihat adanya suatu patahan atau


diskontinuitas pada grafik dari y  f (x) di titik x  c jika kondisi-kondisi
berikut ini terjadi :

 Fungsi f tidak terdefinisi di c.


 Limit lim f ( x) tidak ada
x c

 Fungsi f terdefinisi di c dan lim f ( x) ada tetapi nilai dari fungsi f (x) di c
x c

dengan nilai dali limit di c berbeda.

Gambar 3.4.1

Hal ini mengilhami defenisi berikut ini :


272

DEFENISI 3.9 Suatu fungsi f dikatakan kontinu di titik c jika syarat-syarat


berikut dipenuhi :

1. f (c) terdefinisi
2. lim f ( x) ada
x c

3. lim f ( x)  f (c)
x c

Jika satu atau lebih syarat-syarat pada Defenisi 3.9 di atas tidak dipenuhi, maka
f dikatakan diskontinu di c dan c disebut titik diskontinue dari f. Jika f kontinu
di semua titik pada selang terbuka (a,b) maka f dikatakan kontinu pada (a,b).
suatu fungsi yang kontinu pada (,) dikatakan kontinu dimana-mana atau
sederhananya dikatakan kontinu.

Contoh: Dimisalkan
x2  4 x  4 2

f ( x)  dan g ( x)   ,x  2
 x2
x 2 
3, x 2
Penyelesaian:
Kedua fungsi f dan g diskontinu di x  2 (Gambar 3.4.2), untuk fungsi f
disebabkan f (2) tidak terdefinisi, untuk fungsi g disebabkan g (2)  3 , dan
x2  4
lim g ( x)  lim  lim ( x  2)  4
x 2 x  2 x 2
Sehingga
lim g ( x)  g (2)
x 2

Gambar 3.4.2
273

Catatan. Beberapa pengarang mendefenisikan suatu fungsi kontinu di titik c


jika hanya syarat 3 pada Defenisi 3.9 dipenuhi. Ini sebenarnya ekivalen dengan
Defenisi 3.9 sebab jika syarat 3 dipenuhi, maka dengan sendirinya syarat 1 dan
2 terpenuhi. (Mengapa?). Tiga syarat tersebut dinyatakan untuk kejelasan.
Akan tetapi, jika akan menunjukan bahwa suatu fungsi kontinu disuatu titik,
maka hanya akan ditunjukan bahwa syarat 3 terpenuhi.

Contoh: Tunjukan bahwa f ( x)  x 2  2 x  1 adalah fungsi kontinu.

Penyelesaian:
Harus ditunjukan bahwa syarat ketiga pada Defenisi 3.9 dipenuhi untuk semua
bilangan riil c. Tetapi dengan Teorema 3.2
lim f ( x)  lim ( x 2  2 x  1)  c 2  2c  1  f (c)
x c x c
menunjukan bahwa syarat ketiga tersebut dipenuhi, contoh di atas merupakan
kasus khusus dari hasil yang umum seperti berikut.

Kekontinuan Polinominal

TEOREMA 3.10 Setiap polynomial merupakan fungsi kontinu

Bukti.
Jika p suatu polynomial, dan c sembarang bilangan real, maka berdasarkan
Teorema 3.2
lim p( x)  p(c)
x c
yang membuktikan kontinuitas p di c sebarang bilangan riil, maka p kontinu
dimana-mana.

Contoh: Tunjukan bahwa f ( x)  x adalah fungsi kontinu

Penyelesaian:
Dapat ditulis f (x) sebagai
274

 x, jika x  0

f ( x)  x   0, jika x  0
 x, jika x  0

Selanjutnya, dari Teorema 3.10 bahwa f ( x)  x kontinu jika x  0 atau
x  0 sebab x identik dengan polynomial x pada x > 0 dan identik dengan
polynomial –x pada x  0 . Jadi, x  0 satu-satunya titik yang perlu
diperhatikan. Di titik ini diperoleh f (0)  0  0, jadi tinggal ditunjukan bahwa
:
lim  lim x  0
x 0 x 0

Karena rumus dari f berubah di 0, akan berguna jika diperhatikan limit-limit


satu sisi. Didapatkan
lim x  lim x  0 dan lim x  lim ( x)  0
x 0 x 0 x 0 x 0

Jadi x kontinu di x  0 .

Beberapa Sifat Fungsi Kontinu


Hasil dasar berikut ini merupakan akibat langsung dari Teorema 3.1

TEOREMA 3.11 Jika fungsi f dan g kontinu di c, maka

(a) f + g kontinu di c
(b) f – g kontinu di c
(c) f . g kontinu di c
(d) f / g kontinu di c jika g(c) ≠ 0 dan diskontinu di c jika g(c) = 0

akan dibuktikan bagian d dan bukti sisanya ditinggalkan untuk latihan


Bukti:
(d). Jika g(c) = 0 maka f/g kontinu di c karena f(c)/g(c) tidak teridentifikasi.
Diasumsikan bahwa g(c) ≠ 0. Harus dibuktikan bahwa
f ( x ) f (c )
lim 
x c g ( x ) g (c )
Karena f dan g kontinu di c,
lim f ( x)  f (c) dan lim g ( x)  g (c)
x c x c
275

Jadi dengan Teorema 3.1 (d)


f ( x) lim f ( x ) f (c )
lim  x c  kontinu, karena g(c) ≠ 0.
x c g ( x ) lim g ( x) g (c)
x c

Kekontinuan Fungsi Rasional


x2  9
Contoh: Di manakah h( x)  kontinu?
x 2  5x  6

Penyelesaian:
Pembilang dan penyebut dari h adalah polinomial sehingga menurut Teorema
3.10 masing-masing kontinu di setiap titik. Jadi dengan Teorema 3.11,
pembagian itu juga kontinu disetiap titik kecuali yang menyebabkan penyebut
menjadi nol. Karena penyelesaian dari
x 2  5x  6  0
adalah x = 2 atau x = 3,h(x) kontinu disetiap titik kecuali pada dua titik ini.
Hasil contoh di atas adalah kasus khusus dari teorema umum berikut yang
pembuktiannya diberikan sebagai latihan.

TEOREMA 3.12. Suatu fungsi rasional kontinu di setiap titik kecuali di


titik yang penyebutnya nol.

Kekontinuan Fungsi Komposisi


Teorema berikut digunakan untuk menghitung limit dari suatu fungsi
komposisi.

TEOREMA 3.13 Dimisalkan lim menyatakan salah satu dari limit-limit


lim , lim , lim , lim , atau lim . Jika lim g ( x)  l dan fungsi f kontinu di l
xc xc xc x   x  

maka lim f ( g ( x))  f (l ) . Jadi lim f ( g ( x))  f (lim g ( x)).


276

Catatan. Dengan kalimat, teorema di atas dinyatakan bahwa symbol limit


dapat dipindahkan melalui tanda fungsi asalkan limit fungsi “dalam” dan
fungsi “luar” kontinu di limit ini.

Contoh: Telah ditunjukkan pada contoh sebelumnya bahwa x kontinu


disetiap titik, jadi Teorema 3.13 mengakibatkan bahwa :
lim g x   lim g x 
Jika lim g(x) ada. Sebagai contoh,
 
lim 5  x 2  lim 5  x 2   4  4
x 3 x 3

Selanjutnya, akibat dari Teorema 3.13 mengatakan bahwa komposisi dari


fungsi kontinu adalah kontinu juga.

TEOREMA 3.14 Jika fungsi g kontinu dititik c dan fungsi f kontinu dititik
g(c), maka komposisi f o g kontinu di c.

Bukti:
Harus ditunjukkan bahwa f o g memenuhi syarat ketiga Definisi 3.9 di c. Tetapi
memang demikian karena dapat dituliskan

lim  f o g ( x)  lim f g x   f g c    f o g c 


x c  x c 

Teorema 3.13 G kontinu di c

Contoh: Fungsi 5  x 3 kontinu karena fungsi ini merupakan komposisi dari


x dengan yang kedua-duanya kontinu.

Kekontinuan dari Kanan dan Kiri


Gambar 3.4.3. menunjukkan grafik-grafik dari tiga fungsi yang didefinisikan
hanya pada suatu selang tertutup a, b . Tampak bahwa fungsi pada Gambar
3.4.3a haruslah dianggap diskontinu di titik ujung sebelah kanan a, fungsi pada
Gambar 3.4.3b haruslah dianggap diskontinu diujung sebelah kiri b dan fungsi
pada Gambar 3.4.3c haruslah dianggap kontinu di kedua titik ujungnya. Akan
277

tetapi, definisi kontinuitas (Definisi 3.9) tidak dapat diterapkan dititik-titik


ujungnya, karena limit-limit dua sisi yang muncul pada bagian 2 dan 3 dari
definisi diatas tidak mempunyai pengertian apapun. Di titik-titik sebelah kiri
limit yang mempunyai arti hanya limit satu sisi
lim f x 
x a
Dan di titik ujung sebelah kanan limit yang mempunyai arti adalah limit satu
sisi
lim f x 
x b
Hal ini memberi motivasi definisi-definisi berikut.

y y y

x x x
a b a b a b

(a) (b) (c)

Gambar 3.4.3

DEFINISI 3.15. Suatu fungsi f dikatakan kontinu dari sebelah kiri titik c jika
syarat-syarat pada kolom kiri berikut dipenuhi, dan dikatakan kontinu dari
sebelah kanan titik c jika syarat-syarat pada kolom kanan berikut dipenuhi.
1. f(c) terdefinisi 1’. f(c) terdefinisi
2. lim f x  ada 2’. lim f x  ada
x c x c

3. lim f x   f c  3’. lim f x   f c 


x c x c
278

TEOREMA 3.16. Suatu fungsi f dikatakan kontinu pada suatu selang


tertutup a, b jika syarat-syarat berikut ini dipenuhi :
1. f kontinu di (a,b).
2. f kontinu dari kanan di a.
3. f kontinu dari kiri di b.

Pembaca seharusnya tidak akan menemui kesulitan membuat definisi


kontinuitas yang sesuai pada selang-selang dalam bentuk
 ,  ,  , b, a, b dan a, b.
Contoh: Jika f menyatakan fungsi yang grafiknya pada Gambar 3.4.3a, maka

f a   lim f x  dan f b  lim f x 


x a x b
Jadi, f kontinu dari sebelah kiri titik b tetapi tidak kontinu dari sebelah kanan
titik a.

Contoh: Tunjukkan bahwa f x   9  x 2 kontinu pada selang tertutup


 3,3
Penyelesaian:
Perhatikan bahwa domain f adalah selang  3,3 . Untuk c di pada selang (-3,3)
berdasarkan Teorema 3.1(e) diperoleh

 
lim f x   lim 9  x 2  lim 9  x 2  9  c 2  f c 
x c x c x c
Sehingga f kontinu pada (-3,3). Juga,

x 3 x 3 x 3
 
lim f x   lim 9  x 2  lim 9  x 2  0  f 3
Dan

x 3 x 3 x 3
 
lim f x   lim 9  x 2  lim 9  x 2  0  f  3
279

Sehingga f kontinu pada  3, 3 .

Teorema Nilai Antara


Jika f kontinu pada selang tertutup dan digambar suatu garis datar yang
memotong sumbu y antara bilangan f(a) dan f(b) (Gambar 3.4.4), maka secara
geometri jelas bahwa garis tersebut akan memotong kurva y = f(x) paling
sedikit sekali pada selang a, b . Dengan kata lain, suatu fungsi kontinu harus
mengasumsikan setiap nilai yang mungkin antara f(a) dan f(b) untuk x yang
berubah – ubah dari a ke b. Gagasan ini dituangkan dalam teorema berikut :

TEOREMA 3.17. (Teorema Nilai Antara) Jika f kontinu pada selang


tertutup a, b dan C adalah sebarang bilangan di antara f(a) dan f(b),
termasuk f(a) dan f(b), maka ada paling sedikit satu bilangan x pada selang
a, b .sedemikian sehingga f(x) = C

Teorema 3.17 secara intuitif cukup jelas, tetapi pembuktiannya tergantung pada
pemahaman matematika yang tepat untuk sistem bilangan riil, yang diluar
jangkauan buku ini. Bukti dapat ditemukan pada buku-buku kalkulus lanjut.
Hasil yang berguna berikut adalah akibat langsung dari Teorema Nilai Antara.

TEOREMA 3.18 Jika f kotinu pada a, b dan jika f(a) dan f(b) mempunyai
tanda yag berlawanan, maka ada paling sedikit satu peyelesaian f(x) = 0 di
pada selang (a,b).

Buktinya sebagai latihan, tetapi hasilnya diilistrasikan pada Gambar 3.4.5


untu kasus f(a) > 0 dan f(b) < 0. Teorema 3.18 meriupakan dasar berbagai cara
numerik untuk mendapatkan hampiran penyelesaian persamaan berbentuk f(x)
= 0.

Contoh: Persamaan x 3  x  1  0 ,
280
y

y
y
x
f(b) f(a)>0

x
a f(x) =0
f(a) f(b)<0 y  x3  x  1
x
a x
b
Gambar 3.4.6
Gambar 3.4.5
Gambar 3.4.4

Tidak dapat diselesaikan secara langsung dengan pemfaktoran karena sisi


kiri tidak mempunyai faktor yang sederhana. Akan tetapi Gambar 3.4.6 yang
dihasilkan oleh komputer, dapat dilihat bahwa ada suatu penyelesaian pada
selang (1,2). Ini dapat dilihat dari Teorema 3.18 dengan mengambil f(x) =
x 3  x  1  0 dan dengan memperhatikan bahwa f(0) = -1 dan f(2) = 5
mempunyai tanda yang berlawanan.

Untuk menunjukkan penyelesaian tersebut dengan lebih eksak, selang (1,2)


dibagi menjadi 10 bagian yang sama dan mengevalausi f(x) pada tiap titik
pembagian dengan menggunakan kalkulator dalam tabel di bawah. dari tabel
terlihat bahwa f(1.3) dan f(1.4) mempunyai tanda yang berlawanan, jadi ada
suatu penyelesaian pada sub selang (1.3,1.4). Jika digunakan titik tengah 1.35
sebagai pendekatan dari penyelesaian maka kesalahan (galat) paling banyak
setengah dari panjang sub selang atau 0.05. Jika diinginkan, kesalahan dapat
dikurangi sampai paling banyak 0.005 dengan membagi sub selang (1.3, 1.4)
menjadi 10 bagian dan mengulang kembali proses analiasa data. Dengan
pembagian yang memadai, penyelesaian dapat ditentukan dengan sebarang
tingkat keakuratan.

x 1 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 1.6 1.7 1.8 1.9 2


f(x) -1 -0.77 -0.47 -0.10 0.34 0.88 1.5 2.2 3.0 3.9 5
281

Kesimpulan untuk sub-bab ini dibuat dengan menyatakan suatu bentuk


alternatif definisi kontinuitas yang akan berguna pada sub-bab berikutnya. Jika
diambil h = x – c pada Definisi 3.9, maka syarat bahwa xc ekivalen dengan
h0. Dengan demikian, Definisi 3.9 dapat dinyatakan kembali sebagai
berikut.
Definisi lain dari kekontinuan suatu fungsi dapat pula dikatakan seperti berikut:

DEFINISI 3.19. Suatu fungsi f dikatakan kontinu dititik c jika syarat-syarat


berikut ini dipenuhi:
1. f(c) terdefinisi.
2. lim f c  h ada.
h 0

3. lim f c  h  f c 
h 0

Catatan. Seperti halnya dengan Definisi 3.9, syarat 1 dan 2 dipenuhi dengan
sendirinya jika syarat 3 dipenuhi. Jadi, untuk membuktikan bahwa suatu fungsi
kontinu disuatu titik, cukup hanya ditunjukkan bahwa syarat 3 dipenuhi.

Kekontinuan Fungsi Trigonometri


Grafik fungsi trigonometri y = sin x dan y = cos x digambarkan sebagai kurva
kontinu (Gambar 3.4.7 dan Gambar 3.4.8). Tujuan pertama dari sub-bab ini
adalah menunjukkan bahwa fungsi-fungsi sin x dan cos x memang fungsi
kontinu.

1
I
-2Л -3/2Л -Л/2 Л/2 Л 3/2Л 2Л
grafik y = sin x

Gambar 3.4.7
282

y
grafik y = cos x

Л
-2Л -3/2Л -Л -Л/2 Л/2 3/2Л 2Л

Gambar 3.4.8

Pada Gambar 3.4.9, titik p yang bergerak sepanjang lingkaran satuan


menuju titik B(1,0). Karena lingkaran itu mempunyai jari-jari 1, koordinat titik
P adalah (cos h, sin h) dengan h adalah sudut dalam radian yang ditunjukkan
dalam gambar tersebut atau mungkin dengan sudut negatif. Jelas secara intuitif
bahwa jika h mendekati 0, koordinat p mendekati koordinat B; yaitu
lim sin h  0 lim cos h 1
h 0 h 0
Limit-limit ini, yang bukti-bukti dibahas Untuk soal, mengatakan bahwa f(x) =
sin x dan g(x) = cos x kontinu di x=0. Sebagai contoh, f(0) = sin 0 = 0 dan
lim f x   lim sin x  0 . Teorema berikut menunjukkan bahwa fungsi-fungsi y
x 0 x 0
= sin x dan y = cos x pada kenyataannya kontinu disetiap titik.

P(cos h, sin h)

1 x
h
0 B(1,0)

Gambar 3.4.9
283

TEOREMA 3.20 Fungsi-fungsi sin x dan cos x adalah kontinu

Bukti :
Akan dibuktikan hasil untuk sin x. Bukti untuk cos x adalah serupa dan akan
ditinggalkan sebagai latihan. Cukup ditunjukkan lim sinc  h  sin c
h 0
Dipenuhi untuk setiap c. dengan menggunakan rumus penjumlahan dari fungsi
sinus diperoleh

lim sin c  h   lim sin c cos h  cos c sin h 


h 0 h 0

 lim sin c cos h   lim cos c sin h 


h 0 h 0

Kekontinuan Fungsi Trigonometri yang lain


Sifat-sifat kontinuitas dari tan x, cot x dan csc x dapat disimpulkan dengan
mengekspresikan fungsi-fungsi tersebut dalam suku-suku sin x dan cos x.
Sebagai contoh, tan x = sin x / cos x. jadi dengan Teorema 3.11 bagian (d)
fungsi tan x kontinu disetiap titik kecuali dititik-titik dimana cos x = 0. titik-
titik diskontinuitas ini adalah x =   2 ,  3 2 ,  5 2 ,....

Contoh: Karena fungsi sin x dan cos x kontinu disetiap titik dan berdasarkan
Teorema 3.13 maka dapat ditulis limsing x  sinlim g x dan
limcosg x  coslim g x jika lim g(x) ada. Sebagai contoh,

  x 2    x 2  
lim sin   sin lim    sin  1
    x      x 
x x  2
  x 2  1    x 2  1 
lim cos 2   cos lim  2 
  x  3    x  3 
x  x 

   1 x2
 cos lim 
   cos    1
  1  3 x
x  
2
 

Kekontinuan dari Fungsi Invers


284

Karena grafik f dan f-1 merupakan refleksi dari satu dengan lainnya pada garis y
= x, secara intuitif jelas bahwa jika grafik f tidak patah-patah maka grafik f-1
juga demikian. Ide ini menghasilkan teorema berikut (tanpa bukti) :

TEOREMA 3.21 Jika f fungsi kontinu dan mempunyai invers, maka f-1 juga
kontinu

Contoh: Pada Bab 2 telah ditunjukkan bahwa fungsi f x   x 5  7 x 3  4 x  1


mempunyai invers meskipun f-1 sulit diperoleh. Oleh karena itu, meskipun
tidak dapat dihasilkan suatu rumus f-1, kontinuitas dari
f x   x  7 x  4 x  1 menjamin bahwa f merupakan fungsi kontinu.
5 3 -1

Latihan 3.4

Pada soal 1 - 4, dimisalkan f adalah fungsi yang grafiknya diperlihatkan


dibawah.
Pada selang-selang yang mana f kontinu, jika ada?
(a). 1,3 (b). (1,3) (c) 1,2
(d). (1,2) (e). 2,3 (f) (2,3).
Pada selang yang mana f diskontinu, nyatakan dimana terjadi diskontinu.

1. 2.
y y

x x
1 2 3 1 2 3
285

3. 4.

kurva ini osilasi


tak terbatas beberapa
kali

x
1 2 3 x
1 2 3

Pada Soal 5 - 16, dapatkan titik-titik diskontinu, jika ada.

5. f x   x 3  2 x  3 6. f x   x  5 7
1

7. f x   2 8. f x   2
x x
x 1 x 1
x4 3x  1
9. f x   2 10. f x   2
x  16 x  7x  2
11. f x   12. f x   
x 5 2x
x 3 x x4
x3
13. f x   x 3  2x 2 14. f x   2
x  3x
2 x  3, x  4  3
  , x 1
15. f x    16 16. f x    x  1
7  x , x  4 3, x 1
17. Dapatkan nilai konstanta k, jika mungkin, yang membuat fungsi-fungsi
berikut ini kontinu.
7 x  2, x  1 kx 2 , x  2
(a). f x    2 (b). f x   
kx , x 1 2 x  k , x  2
18. Pada selang-selang yang manakah berikut ini sehingga fungsi
f x  
1
kontinu?
x2
(a). 2, (b)  ,
286

(c). 2, (d) 1,2


19. (a). Buktikan bahwa f x   x kontinu pada 0,
(b). Buktikan bahwa jika g(x) kontinu dan tak negative maka g x 
kontinu.
20. Buktikan jika g(x) kontinu, maka g x  kontinu.
21. Dapatkan semua titik diskontinuitas dari fungsi bilangan bulat terbesar.
f x   x. (Lihat Soal butir 48, sub-bab 2.3. untuk definisi dari x  )
22. Suatu fungsi f dikatakan mempunyai diskontinuitas yang dapat dihilangkan
di x = c jika lim f x  ada, tetapi f c   lim f x 
xc xc
Karena f(c) tidak terdefinisi atau nilai f(c) berbeda dengan nilai limitnya.
a. Tunjukkan bahwa fungsi berikut mempunyai diskontinu yang dapat
dihilangkan di x = 1 dan buatlah sketsa grafiknya.
b. Istilah ”diskontinuitas yang dapat dihilangkan” digunakan karena suatu
fungsi dengan diskontinuitas yang dapat dihilangkan di x = c dapat
dijadikan kontinu di x = c dengan mendefinisikan (atau mendefinidikan
ulang) nilai fungsi tersebut di x = c secara tepat. Kerjakan hal ini untuk
fungsi f dan g pada bagian (a).

Pada Soal 23 dan 24, dapatkan semua titik diskontinuitas dari fungsinya dan
tunjukkan apakah diskontinuitas tersebut dapat dihilangkan atau tidak.
(Mengenai istilahnya lihat soal 22)

x x 2  3x x2
23. (a). f x   (b). f x   (c). f x  
x x3 x 2
x2  4 2 x  3, x  2
24. (a). f x   (b). f x    2
x3  8 x , x2
3x 2  5, x  1
(c). f x   
6, x  1
25. Buktikan Teorema 3.12.
26. Misalkan f dan g kontinu di c. Berikan contoh-contoh untuk menunjukkan
(a). f + g dapat kontinu atau diskontinu di c.
(b). f.g dapat kontinu atau diskontinu di c.
287

27. Misalkan f terdefinisi di c. Buktikn bahwa f kontnu di c jika dan hanya jika
diberikan  0, ada   0 sedemikian hingga f x   f c   bila
x  c 
28. Gunakan Teorema 3.17 untuk membuktikan Teorema 3.18.

Pada Soal 29 dan 30, tunjukkan bahwa persamaannya mempunyai paling


sedikit satu penyelesaian pada selang yang diberikan

29. x3 – 4x +1; [1,2].


30. x3 – x2 - 2x; [-1,1].
31. Gambar 3.4.10 menunjukkan grafik dari y = x4 – x – 1 yang dihasilkan
oleh komputer. Gunakan metode contoh sebelumnya (membagi selang)
untuk mendapatkan hampiran penyelesaian riil dari x4 + x – 1 = 0 dengan
galat tidak melebihi 0.05.
32. Gambar 3.4.11 menunjukkan grafik y = 5 – x – x-4 yang dihasilkan oleh
komputer. Gunakan metode pada contoh 40 untuk mendapatkan
hampiran penyelesaian real dari 5 – x – x4 = 0 dengan galat melebihi
0.05.

y = x4 + x – 1

y x y y = 5 – x – x4

Gambar 3.4.10 Gambar 3.4.11


288

33. Untuk persamaan x3 – x – 1 = 0 yang dibahas pada contoh sebelumnya,


tunjukkan bahwa penyelesaian riilnya mendekati 1.325, dengan galat
tidak melebihi 0,05.
34. Gunakan kenyataan bahwa 5 adalah suatu penyelesaian dari x2 – 5 = 0
untuk menghampiri 5 dengan galat tidak melebihi:
a). 0.05 b). 0.005
35. Buktikan jika: f dan g kontinu pada [a,b] f(a) > g(a), f(b) < g(b), maka
paling sedikit terdapat satu penyelesaian dari persamaan f(x) = g(x)
dalam (a,b). [petunbjuk perhatikan f(x) – g(x)].
36. Buatlah satu contoh fungsi f yang terdefinisi di setiap titik dalam suatu
selang tertutup, dan yang memiliki nilai di titik-titik ujungnya
berlawanan tanda, tetapi untuk f(x) = 0 tidak mempunyai penyelesaian
pada selang tersebut.
37. Buktikan bahwa jika a dan b positif, maka persamaan:
a b
 0
x 1 x  3
Mempunyai paling sedikit satu penyelesaian pada selang (1,3)
38. Buktikan: Jika p(x) adalah polinominal bederajat ganjil, maka persamaan
p(x) = 0 tersebut mempunyai paling sedikit satu penyelesaian riil.
39. Buktikan bahwa sin (g(x)) kontonu di setiap titik dimana g(x) kontinu.
40. Gunakan Teorema 3.14 untuk membuktikan fungsi-fungsi berkut
kontinu.
a). Sin(x3 + 7x + 1) b. |sinx|
3
c). cos (x + 1) d. 3  sin(2 x)

3.5. MENGHITUNG LIMIT DAN KEKONTINUAN FUNGSI


MENGGUNAKAN MAPLE
Pada bagian akhir dari Bab 3 akan diberikan pengantar bagaimana
menghitung limit suatu fungsi dengan memanfatkan kemampuan software
Maple. Maple memiliki kemampuan menampilkan hasil perhitungan limit
termasuk animasinya.

Perintah maple untuk menghitung limit sebagai berikut:


limit(fungsi, x=a, arah)
Limit(fungsi, x=a, arah)
289

Keterangan:
f = ekspresi aljabar fungsi
x = variabel
a = limit dititik a (limit point) yang nilainya bisa tahhingga dan negatif
takhingga
arah = (sifatnya pilihan) menyatakan pilihan arah (kanan, kiri, riil atau
kompleks).

Maple adalah program matematika yang sensitif terhadap huruf besar dan
kecil, bila diberikan perintah limit(fungsi,x=a) ini artinya menampilkan hasil
perhitungan limit suatu fungsi dititik a. Sedangkan Limit(fungsi,x=a) adalah
untuk menampilkan tulisan lim ( fungsi) .
xa

Contoh: Berikut diberikan beberapa contoh:


limit(sin(x)/x, x=0); hasil 1
limit(exp(x), x=infinity); hasil takhingga
limit(exp(x), x=-infinity); hasil 0
limit(1/x, x=0, real); hasil takterdefinisi
limit(exp(x^2)*(1-erf(x)), x=infinity); hasil 0
Limit(sin(x), x=0); hasil lim sin x
x 0

Animasi Limit Menggunakan Maple


Membuat animasi limit menggunakan Maple dibutuhkan sedikit kemampuan
logika pemrograman sederhana. Berikut diberikan contoh sederhana animasi
limit pada fungsi f ( x)  x 2 mendekati titik 0.

restart:
f:=x->x^2:
L:=limit(f(x),x=a):
gr:=plot(f(x),x=0..2,thickness=1):
n:=50:a:=0:lebar:=2:
g1:=array(1..n+1):
for i from 0 to n-1 do
titik:=a+lebar-lebar*i/n:
ling1:=plottools[circle]([titik,0],0.04,color=blue, thickness=3):
290

ling2:= plottools[circle]([0,f(titik)],0.04,color=blue,thickness=3 ):
g[i+1]:=plots[display]({gr,ling1,ling2}):
od:
plots[display](seq(g[i],i=1..n), insequence=true);

(Silahkan dicoba dalam Maple, sebagai latihan).

Menguji Kekontinuan Fungsi Menggunakan Maple


Maple memiliki kemampuan menampilkan hasil pengujian kekontinuan suatu
fungsi dititik mana fungsi tersebut tidak kontinu, dengan perintah Maple
sebagai berikut:

discont(f, x )

Keterangan:
f = ekspresi aljabar fungsi
x = variabel

Contoh: Berikut diberikan adalah uji diskontinu untuk fungsi f(x) = 1/x.

discont(1/x,x); hasil di 0

LATIHAN KOMPREHENSIF BAB 3

Sebagian besar dari soal-soal berikut memerlukan kalkulator grafik atau computer algebra
system (CAS), Maple, seperti mathematica, maple, atau derive. Jika Anda ditanya untuk
mencari jawaban atau untuk menyelesaikan suatu persamaan, Anda diperbolehkan memilih
mencari hasil eksak atau hampir numerik, bergantung pada teknologi khusus yang sedang
Anda gunakan dan imajinasi Anda sendiri. Bentuk jawaban Anda bisa berbeda dari mahasiswa
yang lain atau dari jabawan dalam buku ini, bergantung pada bagaimana Anda menyelesaikan
masalah dan keakuratan yang anda gunakan pada hampiran numeriknya.
291

LIMIT: Pada soal-soal 1 - 6, dapatkan limit fungsinya dengan melihat


grafiknya dan menghitung nilai untuk beberapa pemilihan nilai x yang sesuai.
Jika Anda menggunakan suatu CAS (Maple), dibandingkan jawaban Anda
dengan nilai yang dihasilkan sistem tersebut.

1. lim (1  x)1 / x
x 0

2x  8
2. lim
x 3 x  3

sin x  sin 1
3. lim
x1 x 1
1

2 x
4. lim x (1.001)
x 0 

5. lim ( x  x  x )
x
1

6. lim (3 x  5 x ) x
x 

7. Domain dan range: Dapatkan domain dan range dari fungsi


f ( x)  x 2  1  x  x 4
8. Domain dan range: Dapatkan domain dan range dari fungsi
sin x
f ( x)  4
x  x3  5
sin x
9. Ilustrasi dari defenisi limit: lim = 1 menjamin bahwa terdapat suatu
x0 x
sin x
bilangan  sedemikian hingga  1  0.001 jika 0< |x| < . Dapatkan
x
nilai terbesar .
10. Compound intersets (bunga berganda): Jika $ 1000 diinvestasikan pada
suatu rekening yang memberikan 7% bunga berganda n kali tiap tahun,
maka dalam 10 tahun akan ada 1000(1 + 0.07/n)10n dollar dalam rekening
tersebut. Berapa banyak uang dalam rekening tersebut dalam 10 tahun jika
bunga bergandanya dihitung kuartalan (n = 4)? Bulanan (n = 12)? Harian (n
= 365)?, berapa banyaknya uang dalam rekening tersebut dalam 10 tahun
jika bunganya digandakan secara kontinu (n  )?
292

11. Pengantaran persediaan dengan Parasut: Andaikan suatu paket persediaan


obat-obatan dijatuhkan dari helikopter lurus ke bawah dengan parasut ke
suatu daerah terpencil. Kecepatan  (dalam meter per detik) dari patek t
detik setelah paket tersebut dilepaskan diberikan oleh  = 24,61(1 –
(0,273t)).
(a). Buatlah grafik  terhadap T.
(b). Berapakah kecepatak akhir dari paket akhir tersebut? (kecepatan
akhir didefenisikan sebagai limit dari  untuk t )
(c). Berapa lama waktu yang ditempuh paket tersebut untuk
mencapai 98% dari kecepatan akhirnya?
12. Variasi suhu: Suatu oven dipanaskan terlebih dahulu, kemudian
dipertahankan pada suatu suhu konstan. Satu kentang dimasukkan dalam
oven untuk dipanggang. Misalkan suhu T (dalamoF) dari kentang setelah t
menit diberikan oleh T = 400 – 325 (0,97)t. Kentang dianggap matang jika
suhu diantara 2600F dan 280oF.
13. Penyelesaian persamaan: Terdapat beberapa macam metode numerik untuk
mendapatkan hampiran suatu penyelesaian suatu persamaan dalam bentuk
f(x) = 0. Salah satu metode demikian memerlukan persamaan yang dapat
dinyatkaan dalam bentuk x = g(x), sehingga suatu penyelesaian x = c dapat
diinterpretasikan sebagai nilai dari x dimana garis y = x memotong kurva y
= g(x), seperti ditunjukkan pada gambar di bawah ini. Jika x1 adalah
hampiran awal dari c dan grafik y = g(x) tidak terlalu curam di sekitar c,
maka hampiran yang lebih baik dapat diperoleh dari x2 = g(x1) (lihat
gambar). Suatu hampiran yang lebih baik lagi dapat diperoleh dari x3 =
g(x2), dan seterusnya. Rumus xn + 1 = g(xn) untuk n = 1, 2, 3, ….
Membangun hampiran berturut-turut x2, x3, x4,…. yang semakin dekat ke c.
(a). Persamaan x3 – x – 1 = 0 hanya mempunyai satu penyelesaian riil.
Tunjukkan bahwa persamaan di atas dapat ditulis sebagai x = g(x) =
3
x 1
(b). Gambarkan grafik dari y = x dan y = g(x) dalam sistem koordinat
yang sama untuk -1  x  3.
(c). Dimulai dari seberang titik x1, buatlah sketsa yang mengilustrasikan
lolasi dari iterasi-iterasi yang berikutnya x2 = g(x1), x3 = g(x2)….
(d). Gunakan x1 = 1 dan dihitung x2, x3, x4….diteruskan sampai dapat 2
nilai berurutan yang selisih keduanya kurang dari 10-4. Telitilah
dengan nilai awal yang lain, seperti x1 = 2 atau x1 = 1.5.
293

y=x
y = g(x)

x
c x x x
3 2 1

14. Penyelesaian Persamaan: metode yang diuraikan untuk soal 15 tidak selalu
dapat digunakan.
(a). Persamaan x3 – x – 1 = 0 dapat dinyatakan sebagai x = g(x) = x3 – 1.
Gambarkan grafik y = x dan y = g(x) dalam sistem koordinat yang
sama. Dimulai dengan seberang titik x1, buatlah suatu sketsa yang
mengilustrasikan lokasi interasi yang berurutan x2 = g(x1), x3 =
g(x2),……
(b). Gunakan x1 = 1 dan dihitung iterasi yang berurutan xn untuk n =
2,3,4,5,6.

Penyelesaian persamaan: Untuk soal 15 dan 16 gunakan metode dari soal 13


untuk meyelesaikan persamaan yang diberikan.

15. x5 – x – 2 = 0
16. x – cos x = 0

UJI TELAAH ULANG KONSEP

Soal-soal telaah ulang konsep didesain untuk mengukur tingkat berfikir mahasiswa dari aspek
kognitif dan disajikan secara komprehensif diakhir bab. Mahasiswa sangat dianjurkan untuk
menjawab soal-soal telaah ulang konsep secara cepat dan benar sebagai tolak ukur untuk
mengetahui bahwa mahasiswa telah mengerti konsep-konsep pada bab ini sampai pada
tingkat C6 dari aspek kognitifnya.
294

1. lim f ( x)  L berarti bahwa f(x) menjadi dekat ke.........................bilamana


x c
x menjadi cukup dekat ke (tetapi berlainan) dari
.............................................
2. Andaikan f(x) = ( x 2  9) /( x  3) dan perhatikan bahwa f(3) tidak
terdefinisi. meskipun demikian, lim f ( x) =
x3
.......................................................
3. lim f ( x)  L berarti bahwa f(x) menjadi dekat ke .........................
x c
bilamana x mendekati c dari ...................................................
4. Jika lim f ( x)  M dan lim f ( x)  M , maka .....................................
x c x c

5. Ketaksamaan f ( x)  L)   setara dengan ................< f(x) <


..........................
6. Makna yang tepat dari lim f ( x)  L adalah : Diberikan sebarang bilangan
x a

positif  , terdapat suatu bilangan positif  yang berpadanan sedemikian


rupa sehingga ...............................mengimplikasikan ..............................
7. Agar yakin bahwa 3x  3   , kita seharusnya mensyaratkan bahwa
x 1  ……………………………
8. lim (mx  b) = ……………………………….
x a

9. Jika lim f ( x)  4 , maka lim ( x 2  3) f ( x)  …………………………….


x 3 x 3

10. Jika lim g ( x)   2 , maka lim g 2 ( x) 12 =


x 2 x 2
……………………………….
11. Jika lim f ( x)  4 dan lim g ( x)   2 , maka
x c x c

f 2 ( x)
Lim  ………………………….
x c g ( x)
dan lim g ( x) f ( x)  5x  ……………………………..
x c

12. Jika lim f ( x)  L dan lim g ( x)  M , maka


x c x c

lim  f ( x)  L  g ( x) = ……………………………
x c
295

f 2 ( x)  g 2 ( x)
lim  ………………………………
x c f ( x)  g ( x)
f 2 ( x)  g 2 ( x)
lim = ………………………………..
x c f ( x)  g ( x)
13. lim sin t  ..........................................
t 0

14. lim tan t  …………………………..


t x / 4

s it n
15. lim tidak dapat dihitung dengan substitusi karena
t 0t
...................................
sin t
16. lim  …………………………………..
t 0 t
17. Jika lim f ( x)  6 , maka garis....................................adalah asimtot
x 
............................. Grafik y = f(x).
18. Jika lim f ( x)   , maka garis...............................................adalah sebuah
x 6
asimtot .......................................................Grafik y = f(x).
19. Fungsi f kontinu di c jika .........................................= f(c)
20. Fungsi f (x) = [x] tak kontinu di ..........................................
21. Fungsi f dikatakan kontinu pada selang tertutup [a,b] jika f kontinu
disetiap titik (a,b) dan jika .........................................dan
...........................................
22. Teorima Nilai Antara mengatakan bahwa jika fungsi f kontinu pada [a,b]
diantara f(a) dan f(b), maka terdapat suatu bilangan c di antara
.................... dan ………………sedemikian rupa sehingga
……………………………………......

KUNCI JAWABAN UJI TELAAH ULANG KONSEP

1. L; c
2. 6
3. L; Kanan
4. lim f ( x)  M
x c

5. L    f ( x)  L  
6. 0  x  a   ; f ( x)  L  
296


7.
3
8. ma  b
9. 48
10. 4
11. -8; 5c  4
L2  M 2 L2  M 2
12. 0; ;
LM LM
13. 0
14. 1
15. sin t dan t sama-sama menuju 0
16. 1
17. y = 6; Datar
18. x = 6; Tegak
19. lim f ( x)
xc
20. Himpuanan Bilangan Bulat (Z)
21. f kontinu kanan di a; f kontinu kiri di b
22. f(a); f(b); terdapat x di [a,b] yang berakibat f(x) = c.

UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT

Cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban tes telaah ulang


konsep yang terdapat di akhir Bab ini. Hitunglah banyaknya jawaban Anda
yang benar, kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat
penguasaan Anda terhadap materi kegiatan belajar Bab 3.

BanyaknyaSoal Dijawab dengan Benar


Tingkat Penguasaan  x 100%
22

Arti tingkat penguasaan yang Anda capai:

90 % - 100 % = Baik sekali


80 % - 89 % = baik
70 % - 79 % = cukup
≤ 69 % = kurang
297

Kalau tingkat penguasaan Anda mencapai 80 % ke atas, Anda dapat


meneruskan ke Bab 4. Akan tetapi, bila tingkat penguasaan anda masih di
bawah 80 %, Anda perlu mengulangi lagi kegiatan belajar Bab 3, terutama
bagian yang belum Anda kuasai.

Daftar Pustaka
[1]. H. Anton, Calculus, A New Horizon, 6th edition, Jhon Wiley & Sons,
Inc., New York, 1999.
[2]. R. L. Finney, M. D. Weir, F. R. Giordano, Thomas’ Calculus, 10th
edition, Addison Wesley Longman, New York, 2001.
[3]. M. D. Greenberg, Advanced Engineering Mathematics, 2rh edition,
Prentice Hall, New Jersey, 1998.
[4]. E. Kreyszig, Advanced Engineering Mathematics, 6th edition, Jhon Wiley
& Sons, Inc., Singapore, 1988.
[5]. A. Marjuni, Media Pembelajaran Matematika dengan Maplet, edisi
pertama, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2007.
[6]. J. E. Purcell, S. E. Rigdon, D. Varberg, Calculus, 9th edition, Prentice
Hall, New Jersey, 2009.
[7]. Tim Dosen Jurusan Matematika ITS, Kalkulus 1, Edisi 3, Jurusan
Matematika FMIPA ITS, Surabaya, 2002.
BAB
Turunan Fungsi
4
Kata Kunci

Diferensial
Diferensiasi
Fungsi Eksponen
Fungsi Hiperbolik
Fungsi Invers
Fungsi Invers Trigonometri
Fungsi Implisit
Fungsi Logaritma
Fungsi Rasional
Fungsi Trigonometri
Garis Singgung
Hampiran
Kecepatan Rata-Rata
Kecepatan Sesaat
Kontinu
Turunan
Turunan Kanan
Turunan Kiri
Turunan Tingkat Tinggi
299

PETUNJUK

[1]. Sebelum Anda mempelajari Bab ini lebih lanjut, diharapkan lebih
dahulu menelaah standar kompetensi dan kompetensi dasar serta
kerangka isi (epitomi) Bab 4. Setelah itu, pelajarilah uraian
pembahasan buku ini dengan baik dan sungguh-sungguh sehingga
Anda dapat memahami isinya

[2]. Untuk memudahkan Anda menelaah isi uraian pada Bab ini dan
sebagai kontrol belajar, harap diperhatikan uraian yang tercetak
tebal, miring, tebal dan miring sebagai pengertian penting.
Kemudian bacalah uraian pembahasan secara keseluruhan dan baca
berulang-ulang sesuai kebutuhan sehingga Anda dapat memahami
isinya.

[3]. Pada setiap sub pokok bahasan terdapat contoh soal dan latihan,
pahamilah contoh soal tersebut, kemudian kerjakan latihan yang
ada. Setelah Anda mengerjakan latihan per sub bab tersebut
kemudian pada bagian akhir bab terdapat latihan telaah ulang
konsep, cocokkan jawaban Anda dengan kunci jawaban latihan
telaah ulang konsep yang disediakan pada akhir bab bahan ajar ini.
Bila Anda mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat
meneruskan dengan Bab 5. Tetapi bila tingkat penguasaan Anda
kurang dari 80% maka Anda harus mempelajari kembali Bab ini
dengan penekanan pada bagian yang belum Anda kuasai.

[4]. Setelah Anda mempelajari isi Bab 4 sampai selesai, Anda


diharapkan memiliki kemampuan yang dikemukakan dalam
Indikator (I).

[5].
300

STANDAR KOMPETENSI (SK)


4. Mahasiswa memahami konsep dan cara mencari turunan fungsi dan
invers fungsi, serta turunan berbagai bentuk fungsi lainnya baik
secara prosedural maupun komputasi dengan menggunakan Maple.
(SK 4)
KOMPETENSI DASAR (KD) INDIKATOR (I)
1. Mahasiswa mahir
4.1. Mahasiswa mampu mengidentifikasi
mengidentifikasi konsep dan
konsep dan arti geometris turunan dan
arti geometris turunan dan
diferensiasi dalam persamaan garis
diferensiasi dalam
singgung dan laju perubahan. (KD
persamaan garis singgung
4.1)
dan laju perubahan.
2. Mahasiswa mahir
4.2. Mahasiswa dapat membuktikan dan membuktikan dan
menerapkan rumus-rumus turunan, menerapkan rumus-rumus
aturan rantai dan diferensiasi fungsi turunan, aturan rantai dan
implisit dalam menentukan turunan diferensiasi fungsi implisit
tingkat pertama dan tinggi. (KD 4.2) dalam menentukan turunan
tingkat pertama dan tinggi.
3. Mahasiswa mahir
4.3. Mahasiswa dapat mengidentifikasi
mengidentifikasi notasi
notasi nabla dan diferensial serta
nabla dan diferensial serta
mampu menentukan turunan fungsi
mampu menentukan turunan
trigonometri, invers fungsi
fungsi trigonometri, invers
trigonometri, fungsi logaritma dan
fungsi trigonometri, fungsi
eksponen. (KD 4.3)
logaritma dan eksponen.
4. Mahasiswa mahir
4.4. Mahasiswa dapat menentukan turunan menentukan turunan fungsi
fungsi hiperbolik dan invernya serta hiperbolik dan invernya serta
fungsi-fungsi lainnya baik secara fungsi-fungsi lainnya baik
prosedural maupun komputasi dengan secara prosedural maupun
menggunakan Maple. (KD 4.4) komputasi dengan
menggunakan Maple.
301

EPITOMI BAB 4
STANDAR KOMPETENSI (SK)

Mahasiswa memahami konsep dan cara mencari turunan fungsi, invers fungsi, dan berbagai bentuk fungsi lainnya baik secara prosedural
maupun komputasi dengan menggunakan Maple. (SK 4)

KOMPETENSI DASAR (KD)

Mahasiswa dapat membuktikan dan Mahasiswa dapat mengidentifikasi Mahasiswa dapat menentukan
Mahasiswa mampu mengidentifikasi
menerapkan rumus-rumus turunan, notasi nabla dan diferensial serta turunan fungsi hiperbolik dan
konsep dan arti geometris turunan dan
aturan rantai dan diferensiasi fungsi mampu menentukan turunan invernya serta fungsi-fungsi
diferensiasi dalam persamaan garis
implisit dalam menentukan turunan fungsi trigonometri, invers fungsi lainnya baik secara prosedural
singgung dan laju perubahan. (KD
tingkat pertama dan tinggi. (KD trigonometri, fungsi logaritma dan maupun komputasi dengan
4.1)
4.2) eksponen. (KD 4.3) menggunakan Maple. (KD 4.4)

Pokok dan sub Pokok Bahasan Pokok dan sub Pokok Bahasan Pokok dan sub Pokok Bahasan Pokok dan sub Pokok Bahasan
4.6. Notasi-Δ; Diferensial 4.9. Turunan Fungsi Hiperbolik
4.1. Garis Singgung dan Laju
4.7. Turunan Fungsi Invers dan Invers Hiperbolik
Perubahan 4.4. Aturan Rantai
Trigonometri 4.10. Menghitung Turunan
4.2. Turunan 4.5. Diferensiasi Implisit
4.8. Turunan Fungsi Logaritmik Fungsi Menggunakan
4.3. Teknik Diferensiasi
dan Eksponsial Maple
302

Pokok kajian Kalkulus Dasar adalah masalah turunan fungsi dan ruang lingkupnya. Pada
bab ini akan ditunjukkan bahwa turunan berkaitan erat dengan suatu konsep dasar Kalkulus
yang disebut ” limit ” seperti yang telah dibahas dalam Bab 3.

4.1. GARIS SINGGUNG DAN LAJU PERUBAHAN

Garis Singgung dan Penerapannya


Pada bagian ini dibahas tentang konsep garis singgung pada suatu
kurva. Jika garis l memotong kurva y = f(x) di titik p(x0, y0) dan Q(x1,y1) maka
garis potong yang menghubungkan P dan Q mempunyai kemiringan:

f ( x1 )  f ( x0 )
mp =
x1  x0

jika diambil x1 mendekati x0 seperti ditunjukkan Gambar 4.1.1 maka Q


mendekati P sepanjang grafik f sehingga garis l akan menghampiri garis
singgung.

garis singgung garis potongan


Q y = f(x)

P f(x1) – f(x0)
l x1 – xo

x
x0 x1

Gambar 4.1.1

Jadi kemiringan mp dari garis singgung di titik p adalah

f x1   f x0 
mp= lim
x1  x2 x1  x0
303

Kecepatan Rata-Rata dan Kecepatan Sesaat


Banyak masalah dari objek yang bergerak dengan kecepatan berubah-
ubah dapat di reduksi menjadi masalah yang melibatkan garis singgung. Dua
konsep fisis yang sering muncul adalah kecepatan rata-rata dan kecepatan
sesaat.
Kecepatan rata-rata dari suatu objek yang bergerak dalam satu arah
garis adalah

jarak temp uh
Kecepatan rata-rata = V rata-rata =
waktu tempuh

Jika suatu mobil bergerak dengan kecepatan rata-rata 100 km/jam selama 2
jam, berarti mobil tersebut bergerak lebih cepat atau lebih lambat dari
kecepatan 100 km/jam. Jika pada saat t0 posisi mobil adalah s0 = f(t0) dan posisi
s1 = f(t1) pada saat t1, posisi mobil s1-s0 di bagi waktu tempuh yaitu t1-t0
merupakan

s1  s0 f (t1 )  f (t 0 )
Vrata-rata = 
t1  t 0 t1  t 0

Sering kali di perlukan kecepatan pada saat tertentu. Untuk ini di


defenisikan kecepatan sesaat. Misalkan di tinjau kecepatan objek pada wakti t
– t0. secara intuitif pada selang waktu pendek kecepatan objek tidak akan
banyak berubah, sehingga jika t1 mendekati t0, maka kecepatan rata-rata mobil
pada selang dari t0 ke t1 akan mendekati kecepatan sesaat dari objek pada
waktu t =t0. Jadi jika kecepatan sesaat dari objek pada waktu t0 di nyatakan
dengan Vsaat, di peroleh

f (t1 )  f (t 0 )
Vsaat = lim Vrata  lim
t1 t0 t1 t0 t1  t 0

Jika kecepatan rata-rata pada selang waktu dari t0 sampai t1 adalah


kemiringan dari garis potong yang menghubungkan (t0 – s1) dan (t0 – s1) pada
kurva posisi terhadap waktu (Gambar 4.1.2), maka kemiringan ini mendekati
garis singgung di titik (t0 – s0) (Gambar 4.1.3).
304

kemiringan =
V rata-rata
(t1,s1)
kemiringan =
s = f(t) V sesaat

s1 – s0
(to,so) t t
1, 0

to t1 t to

Gambar 4.1.2 Gambar 4.1.3

Interpretasi geometri untuk kecepatan rata-rata


Untuk suatu objek yang bergerak pada arah positif sepanjang suatu garis
koordinat, kecepatan rata-rata objek tersebut antara waktu t0 dan waktu t1
disajikan secara geometri oleh kemiringan garis potong yang
menghubungkan (t0 – s0) dan (t1 – s1) pada kurva posisi terhadap waktu.

Interpretasi geometri untuk kecepatan sesaat


Untuk suatu objek yang bergerak pada arah positif sepanjang suatu garis
koordinat, kecepatan sesaat objek pada saat t0 dinyatakan secara geometri
oleh kemiringan garis singgung di (t0 – s0) pada kurva posisi terhadap
waktu.

Laju Perubahan Rata-Rata dan Sesaat


Kecepatan dapat dipandang sebagai laju perubahan yaitu laju perubahan posisi
terhadap waktu. Dengan demikian, dapat dibedakan antara laju perubahan rata-
rata yang dinyatakan dengan kemiringan garis potongnya dan laju perubahan
sesaat yang dinyatakan oleh kemiringan gair singgungnya.
305

DEFENISI 4.1 Jika y = f(x), maka laju perubahan rata-rata dari y tershadap x
pada selang (x0, x1) adalah kemiringan mp dari garis potong yang
menghubungkan titik (x0, f(x)) dan (x1.f(x)) pada grafik f (Gambar 4.1.4 kiri)
yaitu:
f ( x1y)  f ( x0 ) y
mp 
x1  x0

f(x1) mp mp y =
f(x)
y = f(x)

f(xo)

x
x mp adalah nilai rata-rata dari mp adalah nilai rata-rata dari
perubahan
xo y terhadap xx1pada perubahan
x0 y terhadap xxpada 1
selang (x0, x1) selang (x0, x1)

Gambar 4.1.4

DEFENISI 4.2 Jika y = f(x), maka laju perubahan sesaat dari y terhadap x di
titik x0, adalah kemiringan ms dari garis singgung untuk grafik f di titik x0
f ( x1 )  f ( x0 )
(Gambar 4.1.4 kanan) yaitu: ms  lim
x1  x0 x1  x0

Contoh: Diberikan y = x2 + 1.
(a). Dapatkan laju perubahan rata-rata dari y pada selang [3.5]
(b). Dapatkan laju perubahan sesaat dari y terhadap x di titik x = -4
306

(c). Dapatkan laju perubahan sesaat dari y terhadap x di titik x = x0

Penyelesaian:
(a). Digunakan rumus kecepatan rata rata dengan f(x) = x2 + 1, x0 = 3 dan x1
= 5.

f ( x1 )  f ( x0 ) f (5)  f (3) 26  10
mp    8
x1  x0 53 2

Jadi y, bertambah rata-rata 8 satuan jika x bertambah satu satuan pada [3,5]

(b). Menggunkan rumus kecepatan sesaat dengan f(x) = x2+1 dan x0 = - 4, di


peroleh

f ( x1 )  f ( x0 )
ms  lim
x1  x0 x1  x0
( x12  16)
= lim  lim ( x1  4)  8
x1 4 x1  4 x1 4

Jadi, di titik x = –4, setiap x naik satu satuan maka y turun 8 satuan

(c). Sebagaimana penyelesaian (b)

f ( x1 )  f ( x0 ) f ( x12  1)  f ( x 02  1)
ms  lim  lim =
x1  x0 x1  x0 x1  x0 x1  x0
( x12  x 02 )
= lim  lim ( x1  x0 )  2 x0
x1  x0 x1  x0 x1  x0

Jadi, laju perubahan sesaat untuk y terhadap x = x0 adalah 2x0.

Contoh: Faktor pembatas kekuatan olahraga atletik adalah keluaran denyut


jantung. Gambar 4.1.5 menunjukkan suatu grafik uji-tekanan dari denyut
jantung (diukur dalam liter/menit dari darah) terhadap beban kerja (dalam kg-
m/menit). Grafik tersebut menggambarkan kenyataan medis bahwa denyut
307

jantung naik sesuai dengan beban kerja, tetapi setelah mencapai suatu nilai
puncak akan mulai turun pada beban kerja yang sangat tinggi.

Denyut 25
jantung 20
(liter/10
15
menit)
10
5

300 600 900 1200 1500

Gambar 4.1.5

(a). Taksirlah laju perubahan rata-rata denyut jantung terhadap beban kerja
untuk beban kerja naik dari 300 sampai 1200 kg.m/menit.
(b). Taksirlah laju perubahan sesaat dari denyut jantung terhadap beban
kerja di suatu titik dimana beban kerja 300 kg.m/menit.

Penyelesaian:
(a). Dengan menggunakan titik taksiran (300,13) dan (1200,19), kemiringan
garis potong kedua titik tersebut adalah

19  13 liter / menit
mp   0.0067
1200  300 kg  m / menit

Dengan penyederhanaan ekspresi untuk satuan dapat disimpulkan bahwa laju


poerubahan rata-rata denyut jantung terhadap beban kerja kira-kira 0.0067
liter/kg·m.

(b). Dengan menggunakan taksiran garis singgung dan titik taksiran (0,7) dan
(900,25) pada garis singgung ini, diperoleh
25  7 liter / menit
mp   0.02
950  0 kg  m / menit
Jadi, laju perubahan sesaat untuk denyut jantung terhadap beban kerja
mendekati 0.02 liter/kg·m.
308

Latihan 4.1

Untuk Soal 1-2, diberikan fungsi y = f(x) dan nilai-nilai x0 dan x1.
(a). Dapatkan laju perubahan rata-rata untuk y terhadap x pada selang [x0,x1].
(b). Dapatkan laju perubahan sesaat untuk y terhadap x di titik x0 yang
diberikan.
(c). Dapatkan laju perubahan sesaat untuk y terhadap x di titik x0 yang umum.
(d). Buatlah sketsa grafik untuk y = f(x) beserta garis potong dan garis
singgungnya dengan kemiringan yang diberkan oleh hasil (a) dan (b).
1. y = x3; x0 = 1, x1 = 2
2. y = 1/x2; x0 = 1, x1 = 2

Untuk Soal 3-4, diberikan fungsi y = f(x) dan nilai x0.


(a). Dapatkan kemiringan garis singgung grafik f di seberang titik x0.
(b). Gunakan hasil pada bagian (a) untuk dapatkan kemiringan garis singgung di
x0 yang diberikan.

3. f(x) = x ; x0 = 1
1
4. f(x) = ; x0 = 4
x
5. Jika suatu partikel bergerak dengan kecepatan konstan, apa yang dapat
Anda katakan tentang kurva posisi terhadap waktunya?
6. Gambar 4.1.6 menunjukkan kurva posisi terhadap waktu untuk empat
partikel berbeda yang sedang bergerak pada suatu garis lurus. Untuk setiap
partikel, tentukan dimana kecepatan sesaatnya sedang naik atau sedang
turun.

Gambar 4.1.6
309

7. Suatu batu dijatuhkan dari ketinggian 576m dan jatuh ke arah bumi
membentuk garis lurus. Dalam t detik batu jatuh sejauh s = 16t2 m.
(a). Berapa detik batu tersebut menyentuh tanah setelah dilepaskan?
(b). Berapakah kecepatan rata-rata batu tersebut selama waktu jatuh?
(c). Berapakah kecepatan rata-rata batu selama 3 detik pertama?
(d). Berapakah kecepatan sesaat dari batu pada saat menyentuh tanah?
8. Suatu mobil berjalan pada suatu jalan lurus yang panjangnya 120 km.
Untuk 100 km pertama mobil berjalan pada kecepatan rata-rata 50 km/jam.
Tunjukkan bahwa berapapun kecepatan mobil tersebut berjalan pada 20 km
terakhir tidak akan dapat menaikkan kecepatan rata-ratanya sampai 60
km/jam selama seluruh perjalanan.
9. Gunakan rumus luas lingkaran A = πr2 untuk mendapatkan:
(a). laju rata-rata dimana luas lingkaran berubah terhadap r sehingga jari-
jarinya naik dari r = 1 sampai dengan r = 2.
(b). Laju sesaat dimana luas berubah terhadap r pada saat r = 2.
10. Gunakan rumus volume kubus V = t3 dengan sisi l untuk mendapatkan:
(a). laju rata-rata dimana volume kubus berubah terhadap l untuk l naik dari
l = 2 sampai dengan l = 4.
(b). Laju sesaat dimana volume kubus berubah terhadap l pada saat l = 5.
11. Ambil f(x) = x2. Jika kemiringan garis singgung di titik (x0, f(x0)) didekati
oleh kemiringan garis potong antara (x0, f(x0)) dan (x1, f(x1)), tunjukan
bahwa galatnya adalah |x1 – x0|. (Dengan galat yang dimaksud adalah |ms-
mp|, dimana ms adalah kemiringan garis singgung dan mp adalah kemiringan
garis potong).

4.2. TURUNAN

Definisi Turunan
Pada Sub-bab 4.1 sudah dibahas bahwa kemiringan garis singgung pada kurva
y = f(x) di titik x0 dibeirkan oleh

f ( x1 )  f ( x0 )
ms = lim
x1  x 0 x1  x0

Jika didefinisikan h = x1 – x0, sehingga untuk x1  x0 berakibat h  0, maka


(4.6) dapat ditulis
310

f ( x0  h )  f ( x0 )
ms = lim
h 0 h

Lihat Gambar 4.2.1.

Gambar 4.2.1 Gambar 4.2.2

DEFINISI 4.3 Jika P (x0, y0) adalah suatu titik pada grafik suatu fungsi f,
maka garis singgung untuk grafik f di P didefinisikan sebagai garis
melewati P dengan kemiringan
f ( x0  h )  f ( x0 )
ms = lim
h 0 h
asalkan limit ini ada.

Berdasarkan rumus kemiringan garis singgung (definisi di atas), persamaan


garis singgung di P(x0, y0) adalah y – y0 = ms(x – x0)
Karena kemiringan garis singgung bergantung di titik x = x0 disepanjang kurva
y = f(x), maka ms merupakan fungsi x0.
Sebagai contoh, jika f(x) = 2x2 – 1 maka kemiringan garis singgung di titik x =
x0 disepanjang kurva f(x) = 2x2 – 1; ms= 4x0
Bila indeks 0 dihilangkan maka ms= 4x
Jadi dalam hal ini kaitan antara fungsi f(x) = 2x2 – 1 dengan fungsi kedua f1(x)
= 4x.
311

Contoh: Dapatkan kemiringan dan suatu persamaan garis singgung pada


grafik f(x) = x2 di titik P(3,9). (Lihat Gambar 4.2.2.)

Penyelesaian:
Diketahui x0 = 3 dan y0 = 9, jadi dari
f (3  h)  f (3) (3  h) 2  9
ms = lim = lim
h0 h h0 h
(9  6h  h )  9
2
6h  h 2
= lim = lim
h0 h h0 h
= lim 6  h  6
h0

Jadi garis singgungnya adalah y – 9 = 6(x – 3) atau y = 6x – 9.

DEFINISI 4.4 Fungsi f ' yang didefiniskan oleh rumus

f ( x  h)  f ( x )
f ' ( x)  lim
h 0 h
disebut turunan terhadap x dari fungsi f. Dominan untuk f’ terdiri dari
semua x sehingga limit di atas ada.

Dengan demikian fungsi f ' mempunyai dua interpretasi yaitu :

Interpretasi Geometri untuk Turunan


f ’dan fungsi yang nilainya di x merupakan kemiringan garis singgung pada
grafik f di x

Interpretasi Laju Perubahan untuk Turunan


f’ dan fungsi yang nilainya di x merupakan laju perubahan sesaat dari y
terhadap x di titik x.

Contoh: Tentukan
(a). turunan terhadap x untuk f(x) = x
312

(b). kemiringan garis singgung pada grafik dari y = x di x = 9.


(c). Laju perubahan sesaat untuk y = x terhadap x di x = 5

(a). Dari Definisi 4.4,


f ( x  h)  f ( x ) xh x
f ' (x) = lim = lim
h0 h h0 h
( x  h  x )( x  h  x ) ( x  h)  x
= lim = lim
h0
h( x  h  x ) h0
h( x  h  x
h 1
= lim = lim
h0
h( x  h  x ) h0
( x  h  x)
1 1
= 
x x 2 x

(b). Kemiringan garis singgung di x = 9 adalah f ' (9), dan dari bagian (a)
diperoleh f ' (9) = 1/(2 9 ) = 1/6

(c). Laju perubahan sesaat di x = 5 adalah f ' (5) dan dari bagian (a) diperoleh
f ' (5) = 1/(2 5 )

Grafik fungsi
1
f(x) = x dan f ' (x) =
2 x

dari contoh sebelumnya ditunjukkan dalam Gambar 4.2.3. Perhatikan bahwa


1
lim  
x 0
2 x

Hal ini berakibat bahwa kemiringan garis singgung dari grafik f naik tanpa
batas untuk x mendekati nol dari kanan. (Dapatkan anda melihat bahwa
memang demikian dari grafik dan f?)
313

Gambar 4.2.3

Notasi Turunan
Keragaman notasi turunan masing-masing memiliki tujuan sendiri dan
semuanya digunakan, sehingga penting sekali untuk mengenal semuanya.
Proses mendapatkan turunan disebut diferensiasi. Untuk memudahkan, dapat
dibayangkan diferensiasi sebagai suatu operasi yang apabila diterapkan pada
suatu fungsi f menghasilkan f ' . Bila x pebah bebasnya, operasi diferensiasi
dinotasikan dengan lambang.
d
[ f ( x)]
dx
yang dibaca, “turunan f(x) terhadap x.” Jadi,
d
[ f ( x)]  f ' ( x)
dx
Jika terdapat peubah tak bebas y = f(x), maka bentuk lainya adalah
d
[ y ]  f ' ( x)
dx
Seringkali tanda kurung dihilangkan sehingga cukup ditulis
dy
 f ' ( x)
dx
Jika peubah bebasnya bukan x, maka pengaturan sesuai dengan notasi yang
dibuat. Misalnya y = f(u), maka masing-masing menjadi
d dy
[ f (u )]  f ' (u ) atau  f ' (u )
dx dx
Jika y = f(x) maka nilai turunan di x = x0 dengan notasi berubah menjadi
314

d d
[ f ( x)] x  x0  f ' ( x0 ) atau x  x0  f ' ( x0 )
dx dx

Keberadaan Turunan
Turunan suatu fungsi f didefinisikan di titik dimana

f ( x  h)  f ( x )
f ' ( x)  lim ada.
h 0 h

Jika f’(x) ada untuk x = x0 maka dikatakan f dapat diturunkan di x0 atau f


mempunyai turunan di x0. Jika untuk setiap x  (a, b), f ' ada maka
dikatakan bahwa f dapat diturunkan pada suatu selang terbuka (a, b).
Fungsi f dikatakan fungsi yang dapat diturunkan jika f dapat diturunkan pada
(-, +). Apabila f tidak dapat diturunkan di suatu titik, maka dikatakan bahwa
turunan f tidak ada di titik tersebut.

Klasifikasi titik-titik dimana fungsi f tidak dapat diturunkan adalah : titik


yang memuat sudut tajam, titik yang memuat garis singgung tegak, atau
titik-titik diskontinuitas. (Lihat Gambar 4.2.4)

Gambar 4.2.4
315

Gambar 4.2.5

Grafik fungsi f memiliki “sudut” di sutu titik P(x0), f(x0)) jika f kontinu di P
tetapi
f ( x  h)  f ( x )
f ' ( x)  lim
h 0 h
tidak ada untuk x = x0. Hal ini berakibat grafik y = f(x) tidak mempunyai garis
singgung di x = x0 sebab kemiringan garis potongannya tidak mempunyi limit
(Gambar 4.2.5).

Jika kemiringan garis potong yang menghubungkan titik P dan Q menuju


+ atau - untuk Q mendekati P, maka f tidak dapat diturunkan di x0. Secara
geometri, titik seperti itu ada jika garis singgungnya tegak (Gambar 4.2.6).

Gambar 4.2.6
316

Di titik-titik diskontinuitas, setiap garis potong menuju ke arah + untuk x


mendekati x0 dari kanan. Karena kemiringan garis potong tidak memiliki limit
dua arah, fungsi pada Gambar 4.2.7 tidak dapat diturunkan di x0.

Kemiringan menuju 0

Kemiringan menuju +∞

Gambar 4.2.7

Hubungan antara Dapat Diturunkan dan Kontinuitas


Teorema utama berikut ini menunjukkan hubungan antara diferensiabilitas dan
kontinuitas suatu fungsi.

TEOREMA 4.5 Jika f dapat diturunkan di titik x0, maka f juga kontinu di x0.

Bukti:
Akan ditunjukkan bahwa jika f’ (x0) ada, maka lim f ( x0  h)  f x0 
h 0

 f x0  h   f x0  
lim [ f ( x0  h)  f x0 ] =lim  .h 
h 0 h0  h 
 f x0  h   f x0  
= lim   . hlim h
h0  h  0
= f ' (x0) . 0 = 0
317

Terbukti lim f ( x0  h)  f x0 


h0

Beberapa hal penting dari Teorema 4.5 adalah :


a. Di titik-titik dimana fungsi f diskontinu maka fungsi f tidak dapat
diturunkan di titik-titik tersebut.
b. Dapat diturunkan fungsi di suatu titik mengakibatkan kontinuitas di titik
tersebut.
c. Suatu fungsi f yang kontinu di suatu titik belum tentu mempunyai turunan.

Contoh: Fungsi f (x) = |x| adalah kontinu untuk semua x dan akibatnya
kontinu di x = 0.
(a) Tunjukkan bahwa f (x) = |x| tak dapat diturunkan di x = 0
(b) Dapatkan f ' (x)

Penyelesaian:
(a). Hasil ini secara geometris jelas, karena grafik dari |x| memiliki suatu sudut
di x = 0 (Gambar 4.2.8). Tetapi, penjelasan analitik dapat diberikan sebagai
berikut. Dari definisi 4.4.
f ' (0) =
f (0  h)  f (0) f (h)  f (0) h  0 h
lim  lim  lim  lim
h0 h h0 h h0 h h 0 h

Tetapi
h  1, h  0
 
h  1, h  0

sehingga
h
lim f ( x0  h)  f x0  dan lim  1
h 0 h0 h

Jadi

h
f ' (0) = lim
h0 h

tidak ada, sebab limit-limit satu sisinya tidak sama. Akibatnya, f (x) = x tidak
dapat diturunkan di x = 0.
318

y y
1
z

-1
z

y = z
d
 x = 
 1 x 0

dx  1 x  0

Gambar 4.2.8
Gambar 4.2.8 Gambar4.2.9
Gambar 4.2.9

(b). Jika x > 0, maka f (x) = |x|= x, sehingga f ' (x) = 1, dan jika x < 0, maka f
(x) = |x| = - x, sehingga f ' (x) = - 1. Dengan menggabungkan hasil-hasil
menjadi satu rumus yang dinyatakan sebagai fungsi sepotong-sepotong,
diperoleh :
f ' (x) =
d
 x = 
 1, x  0

dx  1, x  0

Grafik dari f ' ditunjukkan pada Gambar 4.2.9. Perhatikan bahwa f ' bukan
fungsi kontinu, sehingga contoh ini menunjukkan bahwa suatu fungsi kontinu
dapat memiliki turunan yang tidak kontinu.
Hubungan antara kekontinuan dan dapat diturunkan merupakan sejarah
besar yang penting dalam perkembangan kalkulus. Pada awal abad 19 para
matematikawan percaya bahwa grafik suatu fungsi kontinu tidak memiliki
terlalu banyak titik tak dapat diturunkan. Mereka merasa bahwa jika suatu
fungsi kontinu memiliki banyak titik dimana fungsi itu tak dapat diturunkan,
titik-titik itu seperti ujung-ujung suatu mata pisau gergaji, seharusnya
dipisahkan satu sama lain dan dihubungkan oleh potongan-potongan kurva
mulus. Kesalahpahaman ini telah dihancurkan oleh sederetan penemuan-
penemuan mulai tahun 1834. Pada tahun tersebut seorang pendeta Bohemian
ahli filsafat dan matematikawan yang bernama Bernhard Bolzano yang
menghasilkan rumus pertama untuk fungsi yang demikian. Grafik fungsi
semacam itu tidak mungkin digambarkan, hal itu seolah-olah sudutnya begitu
banyak sekali sehingga sebarang potongan dari kurva bila diperlebar
sedemikian rupa, menghasilkan lebih banyak sudut. Penemuan dari fungsi
patologis ini penting yang dapat membuat matematikawan tidak percaya
319

terhadap intuisi geometri mereka dan lebih menaruh kepercayaan pada bukti
matematik yang benar. Tetapi hal itu hanyalah sebagai keingintahuan
matematika sampai awal 1980-an, ketika penerapannya mulai muncul. Selama
10 tahun yang lalu ia mulai memainkan peran fundamental dalam studi obyek
geometris yang disebut fractal. Fractal telah menghasilkan suatu susunan
fenomena alam yang pada awalnya menghilang secara acak dan tak teratur
(choatic).

Turunan di Titik Ujung suatu Selang


Pada bagian ini akan diperkenalkan konsep turunan dari kiri dan kanan.
Turunan kiri f ' dan turunan kanan f ' masing-masing didefinisikan oleh :
f ( x  h)  f ( x ) f ( x  h)  f ( x )
f ' ( x)  lim dan f ' ( x)  lim
h 0 h h 0 h
'
Di titik-titik dimana f  (x) ada dikatakan bahwa fungsi f dapat diturunkan
'
dari arah kanan dan di titik-titik dimana f  (x) ada dikatakan bahwa f dapat
'
diturunkan dari arah kiri. Secara geometris, f  (x) merupakan nilai limit dari
'
kemiringan garis potong jika x didekati dari sebelah kanan dan f  (x)
kemiringan garis potong jika x didekati dari sebelah kiri.
Selanjutnya dapat dipahami bahwa :
f ( x  h)  f ( x )
f ' (x) = lim
h 0 h
' '
ada jika turunan kiri f  dan turunan kanan f  ada dan mempunyai nilai yang
sama. Karena itu suatu fungsi f yang didefinisikan pada selang tertutup [a, b]
dan tidak terdefinisi di luar selang tersebut tidak mempunyai turunan di x = a
dan di x = b.

DEFINISI 4.6 Suatu fungsi f dikatakan dapat diturunkan pada suatu selang
tertutup [a, b] jika syarat-syarat berikut dipenuhi :
1. f dapat diturunkan pada (a, b)
2. f dapat diturunkan dari kanan di a
3. f dapat diturunkan dari kiri di b
320

Pembaca diharapkan tidak menemui kesulitan untuk merumuskan definisi


diferensiabilitas yang sesuai pada selang-selang [a, + ], (-, b), dan (a, b].

Latihan 4.2

Untuk soal 1-4, gunakan Definisi 4.4 untuk mendapatkan f ' (x)

1
1. f (x) = xa 2. f (x) =
x2
1
3. f (x) = 4. f (x) = x1/3
x

Untuk Soal 5-7, dapatkan f ' (a) dan persamaan garis singgung pada titik f di
titik dimana x = a

5. f fungsi untuk Soal 1 ; a = 8


6. Diberikan f (3) = -1 dan f’ (3) = 5, dapatkan persamaan garis singgung pada
grafik y = f (x) di titik dimana x = 3.
7. Misal y = (5/x) + 1. Dapatkan:
(a). dy/dx (b). dy/dxx=-2

Untuk Soal 8-9, gunakan Definisi 4.2.2 (dengan perubahan notasi yang
sesuai) untuk mendapatkan turunan yang diinginkan.

8. Dapatkan dA/d jika A = 32 - 


4 3
9. Dapatkan dV/dr jika V = r .
3
12. Berdasarkan The World Almanac and Book of Facts (1987), perkiraan
penduduk dunia, N, dalam jutaan untuk tahun-tahun 1850, 1900, 1950, dan
1985 berturut-turut adalah 1175, 1600, 2490, dan 4843. Meskipun
pertambahan penduduk bukan merupakan fungsi kontinu dalam waktu t,
gagasan pada bagian ini dapat diterapkan jika akan menghampiri grafik dari
N terhadap t dengan suatu kurva kontinu, seperti ditunjukkan dalam
Gambar 4.2.13.
321

(a). Gunakan taksiran garis singgung yang ditunjukkan dalam gambar


tersebut di titik dengan t = 1950 untuk mendapatkan hampiran dN/dt di
titik tersebut. Uraikan hasil Anda sebagai suatu laju perubahan.
(b). Pada suatu saat, laju pertumbuhan didefinisikan sebagia :
dN / dt
N
Gunakan jawaban Anda pada bagian (a) untuk mendapatkan hampiran
laju pertumbuhan dalam tahun 1950. Nyatakan hasilnya sebagai
persentasi dan sertakan satuan-satuan yang tepat.
13. Suatu kenyataan bahwa jika seutas tali lentur dililitkan pada sekeliling
suatu silinder kasar, suatu gaya kecil sebesar F0 pada salah satu ujungnya
dapat menahan suatu gaya yang besar sebesar F pada ujung yang lain.
(Gambar 4.2.10 (a))

Gambar 4.2.10

Besarnya F bergantung pada sudut  dimana tali dililitkan di sekitar


silinder (Gambar 4.2.10 (b)). Gaya F (dalam pon) terhadap  (dalam
radian), dimana F adalah besarnya gaya yang dapat ditahan oleh suatu gaya
sebesar F0 = 10 lb untuk suatu tali dan silinder tertentu.
(a) Taksirlah nilai-nilai dari F dan dF/d apabila  = 10 radian.
(b) Dapat ditunjukkan bahwa F memenuhi persamaan dF/d = F,
dimana konstanta  disebut koefisien gesekan. Gunakan hasil dari
bagian (a) untuk menaksir nilai ..
14. Berdasarkan hukum pendinginan Newton, laju perubahan suhu suatu
benda sebanding dengan selisih antara suhu benda tersebut dan suhu
medium di sekitarnya. Grafik suhu T (dalam derajat Fahrenheit) terhadap
322

waktu (dalam menit) untuk suatu cangkir kopi, yang mula-mula dengan
suhu 200 0F, yang dibiarkan mendingin dalam suatu ruangan dengan suhu
kosntan 750F.
(a). Taksirlah T dan dT/dt ketika t = 10 menit.
(b). Hukum pendinginan Newton dapat dinyatakan sebagai :
dT
 k (T  T0 )
dt
dengan k konstanta kesebandingan dan T0 adalah suhu (diasumsikan
konstan) medium sekitarnya). Gunakan hasil pada bagian (a) untuk
menaksir nilai k.
15. Tunjukkan bahwa f (x) = 3 ( x  2) 2 kontinu di x = 2 tetapi tidak dapat
diturunkan di x = 2. Buatlah sketsa grafik dari f.
16. Tunjukkan bahwa :
 x2  2 , x 1
f (x) = 
 x  2 ,x 1

kontinu tetapi tidak dapat diturunkan di x = 1. Buatlah sketsa grafik dari f.


f (1 h)
17. Misalkan suatu fungsi f dapat diturunkan di x = 1 dan lim 5 .
h0 h
Dapatkan f (1) dan f ' (1).

18. Misalkan f fungsi yang dapat diturunkan dan mempunyai sifat :


f ( h)
f(x + y) = f(x) + f(y) + 5xy dan lim  3 . Dapatkan f ' (0) dan f ' (x).
h0 h
19. Misalkan fungsi f memiliki sifat f(x + y) = f(x) f(y) untuk semua nilai x dan
y dan f(0) = f ' (0) = 1. Tunjukkan bahwa f dapat diturunkan dan f ' (x) =
f(x). [Petunjuk : Mulailah dengan menyatakan f ' (x) sebagai suatu limit]

4.3. TEKNIK DIFERENSIASI


Rumus-Rumus Turunan

TEOREMA 4.7 Jika f suatu fungsi konstan, sebut f (x) = c untuk setiap x,
d
maka f ' (x) = 0, yaitu : [c ]  0
dx
323

Bukti:
f ( x  h)  f  x  cc
f ' (x) = lim  lim  lim 0  0
h0 h h 0 h h0

Contoh: Jika f (x) = -7 untuk semua x, maka f’ (x) = 0 untuk semua x, yaitu :
d
 7  0
dx

TEOREMA 4.8 (Aturan Pangkat). Jika n bilangan bulat positif, maka :


d n
dx
 
x  nxn  1

Bukti:
Misalkan f ( x)  x n
f ( x  h)  f ( x ) ( x  h) n  x n
f ' ( x)  lim  lim
h 0 h h 0 h

Menggunakan sifat binomial ( x  h) n diperoleh:

n(n  1) n 2 2
x n  nx n 1 h  x h    nxh n 1  h n  x n
f ' ( x)  lim 2
h 0 h
n(n  1) n  2 2
nx n 1 h  x h    nxh n 1  h n
 lim 2
h 0 h
n(n  1) n  2 1
 lim nx n 1  x h    nxh n  2  h n 1  nx n 1
h 0 2

d 3 d d 100
Contoh: [x ]  2x 2 , [ x]  1.x 0  1 , [ x ]  100 x 99
dx dx dx
324

TEOREMA 4.9 Misalkan c suatu konstanta riil dan fungsi f dapat diturunkan di
x, maka cf juga dapat diturunkaan di x sehingga
d d
[cf ( x)]  c [ f ( x)]
dx dx

Bukti:
Misalkan f ( x)  x n
d (cf )( x  h)  (c) f ( x)
[cf ( x)]  (cf ) ' ( x)  lim
dx h 0 h
f ( x  h)  f ( x ) f ( x  h)  f ( x ) d
 lim c  c lim  cf ' ( x)  c [ f ( x)]
h 0 h h 0 h dx

Faktor konstan dapat


dikeluarkan berdasar
sifat limit

d d
Contoh: [4 x 2 ]  4 [ x 2 ]  7.2 x  14 x
dx dx

TEOREMA 4.10 Jika f dan g dapat diturunkan di x, maka f + g juga dapat


diturunkaan di x sehingga
d d d
[ f ( x)  g ( x)]  [ f ( x)]  [ g ( x)]]
dx dx dx

Bukti:
d [ f ( x  h)  g ( x  h)]  [ f ( x)  g ( x)]
[ f ( x)  g ( x)] = lim
dx h 0 h
[ f ( x  h)  f ( x)  [ g ( x  h)]  g ( x)]
= lim
h 0 h
Limit suatu jumlahan
f ( x  h) f ( x) g ( x  h)  g ( x)
= lim  lim adalah jumlahan limit-
h 0 h h 0 h limit
325

d d
= [ f ( x)]  [ g ( x)]
dx dx

Teorema 4.10 dapat dituliskan dalam notasi fungsi sebagai :


( f  g )'  f ' g '

Contoh:
d 4 d 4 d
[x  x 2 ] = [ x ]  [ x 2 ]  4x 3  2x
dx dx dx
d d d
[6 x 11  9] = [6 x 11 ]  [9]  66 x 10  0  66 x 10
dx dx dx

Teorema 4.9 dan teorema 4.10 dapat diperluas sehingga diperoleh :


d d d d
a. [ f 1( x)  f 2 ( x)  ...  f n ( x)]  [ f 1 ( x)]  [ f 2 ( x)]  ...  [ f n ( x)]
dx dx dx dx
dengan fungsi-fungsi f 1 , f 2 ,..., f n semuanya dapat diturunkan di x.
b. Jika c1 , c 2 ,..., c n konstanta f 1 , f 2 ,..., f n dapat diturunkan di x maka
c1 f1 ,c 2 f 2 ,..., c n f n juga dapat diturunkan sehingga
d d d d
c. [c1 f 1 ( x)  c 2 f 2 ( x)  ...  c n f n ( x)]  c1 [ f 1 ( x)]  c 2 [ f 2 ( x)]  ...  c n [ f n ( x)]
dx dx dx dx

Contoh:
d d d d d
[3x 8  2 x 5  6 x  1] = [3x 8 ]  [2 x 5 ]  [6 x]  [1]
dx dx dx dx dx
= 24 x  10 x  6
7 4

TEOREMA 4.11 Aturan Perkalian. Jika f dan g dapat diturunkan di x, maka f


. g juga dapat diturunkaan di x, dan
d d d
[ f ( x) g ( x)]  [ g ( x)]  [ f ( x)]
dx dx dx
326

Bukti:
d [ f ( x  h).g ( x  h)]  [ f ( x) g ( x)]
[ f ( x) g ( x)] = lim
dx h 0 h
jika ditambah dan dikurangi f ( x  h).g ( x) pada pembilangnya, diperoleh

d
[ f ( x) g ( x)] =
dx
[ f ( x  h).g ( x  h)]  [ f ( x) g ( x)  f ( x  h) g ( x)  f ( x) g ( x)]
lim
h 0 h
 g ( x  h)  g ( x) f ( x  h)  f ( x) 
= lim  f ( x  h)  g ( x) 
h 0
 h h 
=

 g ( x  h)  g ( x) f ( x  h)  f ( x) 
lim  f ( x  h). lim  lim g ( x). lim 
h 0
 h 0 h h 0 h 0 h 

h 0
d
dx h

= lim f ( x  h) [ g ( x)]  lim g ( x)
 0
 d
dx
[ f ( x)]

Karena lim f ( x  h)  f ( x) dan lim g ( x)  g ( x) diperoleh


h 0 h 0

d d d
[ f ( x) g ( x)]  f ( x) [ g ( x)]  g ( x) [ f ( x)]
dx dx dx
Aturan perkalian dapat dituliskan dalam notasi fungsi sebagai

( f .g )'  f .g ' g. f '

d
Contoh: Dapatkan jika jika y  (4 x 2  1)(7 x 3  x)
dx

Penyelesaian:
Ada dua cara yang dapat digunakan untuk mendapatkan dy/dx: Dapat
digunakan aturan perkalian atau dapat dengan mengalikan faktor-faktor dalam
y dan kemudian menurunkannya. Berikut ini diberikan kedua cara tersebut.

Cara I. (Menggunakan aturan perkalian)


dy d
= [(4 x 2  1)(7 x 3  x)]
dx dx
327

d d
= (4 x 2  1) [7 x 3  x]  (7 x 3  x) [4 x 2  1]
dx dx
= (4 x  1)(21x  1]  (7 x  x)(8x)  140 x 4  9 x 2  1
2 2 3

Cara II. (Dengan mengalihkan lebih dahulu)


y  (4 x 2  1)(7 x 3  x)  28x 5  3x 3  x
jadi,
dy d
 [28 x 5  3x 3  x]  140 x 4  9 x 2  1
dx dx
yang sesuai hasilnya dengan yang diperoleh menggunakan aturan
perkalian

TEOREMA 4.12 (Aturan Pembagian). Jika f dan g dapat diturunkan di x dan


g(x) ≠ 0, maka f/g juga dapat diturunkan di x, sehingga
d d
g ( x) [ f ( x)  f ( x) [ g ( x)]
d  f ( x)  dx dx

dx  g ( x)  [ g ( x)] 2

Bukti:
f ( x  h) f ( x )

d  f ( x)  g ( x  h) g ( x ) f ( x  h).g ( x)  f ( x).g ( x  h)
   lim  lim
dx  g ( x)  h0 h h 0 h.g ( x).g ( x  h)
Dengan menambahkan dan mengurangkan f(x).g(x) pada pembilang diperoleh
d  f ( x)  f ( x  h).g ( x)  f ( x).g ( x)  f ( x).g ( x  h)  f ( x).g ( x)
 
dx  g ( x) 
= lim
h 0 h.g ( x).g ( x  h)
 f ( x  h)  f ( x )   g ( x  h)  g ( x ) 
 g ( x).    f ( x). 
=  h   h 
lim
h 0 g ( x).g ( x  h)
328

f ( x  h)  f ( x ) g ( x  h)  g ( x )
 lim f ( x). lim
h h  0 h  0 h
= lim g ( x). lim
h 0 h 0 lim g ( x). lim g ( x  h)
h 0 h 0

d d
lim g ( x). [ f ( x)]  [lim f ( x)]. [ g ( x)]
h 0 dx h 0 dx
=
lim g ( x). lim g ( x  h)
h 0 h 0

Jika lim g ( x), lim f ( x)  f ( x) dan lim g ( x  h)  g ( x) maka


h 0 h 0 h 0

d d
g ( x) [ f ( x)]  f ( x) [ g ( x)]
d  f ( x)  dx dx
   2
dx  g ( x)  [ g ( x)]
Aturan pembagian dapat dituliskan dalam notasi fungsi sebagai
'
 f  g. f ' f .g '
  
g g2

x2 1
Contoh: Misalkan y 
x4 1
(a) Dapatkan dy/dx.
(b) Di titik manakah grafik persamaan ini memiliki garis singgung datar?

Penyelesaian:
(a).
d d
( x 4  1) [ x 2  1]  ( x 2  1) [ x 4  1]
dy 
d x 1
2
 dx dx
=  4 
dx dx  x  1 ( x  1)
4 2

( x  1)(2 x)  ( x  1)(4 x )
4 2 3
Proses diferensiasi sudah lengkap
=
( x  1)
4 2 sisanya adalah penyederhanaan
 2 x 5  4 x 3  2 x 2 x( x 4  2 x 2  1)
= 
( x 4  1) 2 ( x 4  1) 2
(b). Karena dy/dx dapat dipandang sebagai kemiringan garis singgung dari
garfik, dan suatu garis singgung datar memiliki kemiringan 0, maka titik-titik
dimana garis singgungnya datar dapat diperoleh dengan menyelesaikan
petsamaan dy/dx =0, atau dari bagian (a)
329

2 x( x 4  2 x 2  1)
 0
( x 4  1)
Penyelesaian dari persamaan ini adalah nilai-nilai x yang menjadikan
pembilangnya nol:
2 x( x 4  2 x 2  1)  0
Faktor yang pertama menghasilkan penyelesaian x = 0, penyelesaian yang lain
dapat diperoleh dengan menyelesaikan persamaan.
x 4  2x 2 1  0
Persamaan ini dapat dipandang sebagai persamaan kuadrat dalam x2 dan
diselesaikan dengan rumus kuadratik. Ini menghasilkan
2 8
x2  1 2
2
Tanda minus menghasilkan nilai imajiner untuk x (mengapa?); penyelesaian-
penyelesaian ini tidak relevan dengan permasalahan di sini, jadi diabaikan.
Tanda plus menghasilkan penyelsaian x   1  2 . Secara ringkas, garis
singgung datar terjadi di
x  0, x  1  2  1.55, dan x   1  2  1.55
Jika fungsi f pada teorema 4.12 dipilih f(x) = 1 untuk setiap x maka ini
merupakan keadaan khusus dari Teorema 4.12. Berdasarkan Teorema 4.12,
bila g(x) dapat diturunkan di x dan g(x) dapat diturunkan di x sehingga :
d
[ g ( x)]
d  1  dx

dx  g ( x)  [ g ( x)] 2

Contoh:
d
[ x]
d  1  dx 1
    2
dx  x  x 2
x
d 3
[ x  2 x  3]
d  1  dx 3x 2  2
 
dx  x 3  2 x  3  ( x 3  2 x  3) 2 ( x 3  2 x  3) 2

Pada Teorema 4.8 sudah dibuktikan rumus


330

d n
[ x ]  nx n 1
dx

berlaku untuk n bilangan bulat positif. Sekarang dibuktikan bahwa rumus


tersebut berlaku untuk sebarang bilangan bulat.

TEOREMA 4.13. Jika n sebarang bulangan bulat, maka


d n
[ x ]  nx n 1
dx

Bukti :
Telah dibuktikan untuk n ≥ 0. Jika n < 0, dimisalkan m = -n sehingga
1
f ( x)  x  m  m
x
Dari Teorema 4.12, diperoleh
d m
[x ]
d  1  dx
f ' ( x)   m 2
dx  x m  (x )
Karena n < 0, maka m > 0, sehingga dengan menggunakan Teorema 4.8
diperoleh
mx m1
f ' ( x)   2 m  mx m1 2 m  mx  m1  nx n 1
x

Contoh:
d 9
[ x ] =  9 x 91  9 x 10
dx
d 1 d 1 1
  = [ x ]  (1) x 11   x  2   2
dx  x  dx x
Perhatikan bahwa hasil di atas sesuai hasil dalam contoh sebelumnya.

Turunan Fungsi Trigonometri


Berikut ini dicari rumus turnan untuk fungsi trigonometri. Untuk mendapatkan
turunan fungsi trigonometri sin x, cos x, tan x, cot x, sec x dan csc x, sudut x
dinyatakan dalam radian serta mengingat bahwa
331

sin h 1  cos h
lim  1 dan lim 0
h 0 h h 0 h
Perhatikan persoalan penurunan sin x, dengan x sebarang bilangan real. Dari
definisi turunan,
d sin ( x  h)  sin x
[sin x] = lim
dx h  0 h
sin x cos h  cos x sin h  sin x
= lim
h 0 h
  cos h  1 sin h 
= lim sin x )  cos x( 
h 0
  h h 
  sin h   1  cos h 
= lim cos x   sin x 
h 0
  h   h 
Karena sin x dan cos x tidak mengandung h, maka keduanya tetap konstan
untuk h  0, jadi lim (sin x)  sin x dan lim (cos x)  cos x
h 0 h 0
Akibatnya,
d sin h 1  cos h
[sin x] = cos x. lim ( )  sin x lim ( )
dx h0 h h0 h
= cos x.(1)  sin x.(0)  cos x
Jadi, telah ditunjukkan bahwa
d
[sin x]  cos x
dx
Dengan cara yang sama, diperoleh
d
[cos x]   sin x
dx
Untuk fungsi-fungsi trigonometri, rumus turunan dapat dicari dengan cara yang
sama dengan memanfaatkan teorema-teorema yang sudah dibahas sebelumnya
.
Turunan fungsi-fungsi trigonometri yang lain dapat diperoleh dengan
menggunakan hubungan
sin x cos x 1 1
tan x  , cot x  , sec x  , csc x 
cos x sin x cos x sin x
Sebagai contoh
332

d d
cos x. [sin x]  sin x. [cos x]
d d  sin x  dx dx
[tan x] =   2
dx dx  cos x  cos x
cos x. cos x  sin x.( sin x) cos x 2  sin 2 x
= 
cos 2 x cos 2 x
1
= 2
 sec 2 x
cos x
Rumus-rumus di bawah ini sebagai latihan
d
[cot x]   csc 2 x
dx
d
[sec x]  sec x tan x
dx
d
[csc x]   csc x cot x
dx

Contoh: Dapatkan f’(x) jika f ( x)  x 2 tan x

Penyelesaian:
Dengan menggunakan aturan perkalian dan rumus turunan fungsi trigonometri
diperoleh :
d d
f ' ( x)  x 2 . [tan x]  tan x. [ x 2 ]  x 2 sec 2 x  tan x
dx dx

sin x
Contoh: Dapatkan dy/dx jika y 
1  cos x

Penyelesaian:
Dengan menggunakan pembagian bersama-sama dengan rumus turunan fungsi
trigonometri diperoleh
d d
(1  cos x). [sin x]  sin x. [1  cos x]
dy dx dx
=
dx (1  cos x) 2
333

(1  cos x)(cos x).  sin x( sin x)


=
(1  cos x) 2
cos x  cos 2 x  sin 2 x cos x  1 1
=  
(1  cos x) 2
(1  cos x) 2
1  cos x

Contoh: Dapatkan y n ( / 4) jika y( x)  sec x

Penyeleesaian:
y ' ( x) = sec x tan x
d d
y' ' ( x) = sec x. [tan x]  tan [sec x]
dx dx
= sec x. sec x  tan x. sec x tan x
2

= sec 3 x  sec x tan 2 x


Jadi
y' ' ( / 4) = sec 3 ( / 4)  sec( / 4) tan 2 ( / 4)
= ( 2 ) 3  ( 2 (1) 2  3 2

Contoh: Misalkan cahaya matahari terbit mengenai suatu gedung yang


tingginya 100 meter secara langsung dan misalkan  adalah sudut elevasi
matahari (Gambar 4.3.2). dapatkan laju perubahan panjang bayangan gedung x
terhadap  ketika  = 450. Nyatakan jawabannya dalam satuan meter / derajat.

100 kaki

Gambar 4.3.2

Gambar .4.3.2

Penyelesaian:
334

Peubah x dan  dikaitkan oleh tan  = 100/x, atau ekivalen dengan


x  100 cot 
Jika  diukur dalam radian, maka menghasilkan
dx
 100 csc 2 
d
Yang merupakan laju perubahan dari panjang bayangan terhadap sudut elevasi
 dalam satuan meter/radian. Pada saat  = 450. (atau ekivalen dengan  = /4
radian), diperoleh
dx
 100 csc 2 ( / 4) = -100 meter/derajat
d   
4
Dengan mengubah radian ke derajat menghasilkan
meter π meter 10
 200 .   π  3,49 meter/radian
radian 180 radian 9
Jadi, saat  = 450, panjang bayangan berkurang (dikarenakan tanda minus)
pada laju kira-kira 3,49 meter/derajat bertambahnya sudut elevasi.

Turunan Tingkat Tinggi


Jika f ' menyatakan turunan fungsi f, maka turunan dari f ' dinotasikan
dengan f ' ' . Dengan demikian turunan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya
dari fungsi f dinotasikan dengan
f ' , f ' '  ( f ' )' , f ' ' '  ( f ' ' )' , f ( 4)  ( f ' ' ' )' , f (5)  f ( 4) ' ,...
Notasi sederhana untuk menyatakan turunan tingkat n, dengan n bilangan bulat
positif adalah :
f(n) Turunan ke-n dari f
Dalam hal ini,
d
f ' ( x) = [ f ( x)]
dx
d d  d
2
f ' ' ( x) = [ f ( x)]  2 [ f ( x)]
dx  dx  dx
d d 2
 d3
f ' ' ' ( x) =  [ f ( x)]  3 [ f ( x)]
dx  dx 2  dx
Secara umum, dituliskan
Yang dibaca turunan ke-n dari f terhadap x
335

Contoh: Jika f ( x)  3x 4  2 x 3  x 2  4 x  2, maka


f ' ( x)  12 x 3  6 x 2  2 x  4
f n ( x)  36 x 2  12 x  2
f m
( x)  72 x  12
f ( 4)
( x)  72
f ( 5)
( x)  0


f ( n)
( x)  0(n  5) 

Bila melibatkan peubah tak bebas, misalkan y  f (x), maka notasi turunan
ditulis

dy d 2 y d 3 y d 4 y dny
, 2 , 3 , 4 ,..., n
dx dx dx dx dx

Atau

y ' , y '' y I ''' , y ( 4) ,..... .... y ( n) ,...... ....

Simbol-simbol berikut ini menyatakan nilai turunan di suatu titik x 0


tertentu; arti masing-masing notasi tersebut seharusnya jelas dengan
sendirinya.

y' ' ( x0 ), f ( 4) ( x0 )
d3y
dx 3
x  xo , ,
d2 7
dx 2

x  x x  xo 

Contoh:

d2 5
 
x 
d d 5 

dx  dx
x  
d
5 x 4  20 x 3  

2
dx dx
Jadi,
d2 5
dx 2
 
x x 2  20.8  160
336

Latihan 4.3

Untuk soal 1 - 7, gunakan hasil dari sub-bab ini untuk mendapatkan dy / dx

1 2 1 
1. y   x  x  c  ( a,b,c, Konstan ).
a b 
1
2. y  x 
x
  
3. y  x  7 x 2  8 2 x 3  x 4 .
3

1 1 

4. y    2  3x 3  27 . 
x x 

5. y  x 5  2x 
2

2x  1
6. y 
x3
 x 1

7. y  2 x 7  x 2   
 x  1
Jika f (2) = -3. f'(2) = 4, g'(2) =1, dan q'(2) = -.5. dapatkan F'(2).
(a). F(x) =5f (x) + 2q(x) (b). F(x) = f (x) – 3q(x)
(c). F(x) = f(x)q(x) (d). F' (x) = f(x)/q(x).
9. Jika f(- 1) = 2, f'(-1) = 3, q(-1) = -5, dan g'(-1) = 4, dapatkan F'(-1).
(a) F(x) = 2f(x)-q(x). (b) F(x) = 4f(x) – 5q(x)
(c) F(x) = f(x)q(x) (d) F(r) = f(x)/q(x)

Soal-soal 10-11, fungsi-fungsinya melibatkan peubah bebas selain x. Gunakan


hasil dalam sub-bab ini untuk mendapatkan turunan yang diinginkan.

t ds
10. s  ; dapatkan
t 7 3
dt
d   0  6 
11. Daptkan   (0 konstan )
d  2  0 
337

12. Hukum gravitasi Newton menyatakan bahwa besarnya gaya F yang


dipengaruhi oleh snafu titik dengan massa M di suatu titik dengan
GmM
massa m adalah F
r2
Dengan G suatu konstanta dan r adalah jarak antara kedua benda tersebut.
Dengan mengasumsikan bahwa titik-titik tersebut bergerak, dapatkan
rumus untuk laju perubahan sesaat dari F terhadap r.
3
13. Volume suatu bola adalah V = r 3 . Dengan mengasumsikan bahwa jari-
4
jarinya berubah, dapatkan suatu rumus untuk laju perubahan sesaat dari V
terhadap r.
14. Dapatkan
(a). f "'(2). dengan f (x) = 3x2 – 2
d2y
(b). 2 x1 dengan y  6 x 5  4 x 2
dx
d4
 
(c). 4 x 3 x 1
dx
15. Dapatkan
(a). y'"(0), dengan y = 4x 4 + 2x3 + 3
d4y 6
(b). 4 x 1
dengan y  4
dx x
3
16. Tunjukkan bahwa y = x + 3x + 1 memenuhi y"' + xy" - 2y' = 0.
17. Dapatkan rumus umum untuk F"(x) jika F(x) = x f (z) dan f serta f’
dapat diturunkan di x.
18. Pada suhu berkisar antara 0oC dan 700oC tahapan R [dalam ohm () ] dari
suatu thermometer tahanan platinum diberikan oleh
R = 10 + 0.041234T - 1.779 x 10-5T2
Dengan T adalah suhu dalam derajat Celcius. Pada selang dari 0oC sampai
700oC dimanakah tahanan thermometer paling sensitive dan paling kurang
sensitive terhadap perubahan suhu? ( Petunjuk: Perhatikan nilai dR / dT
pada selang 0  T  700 ).
x
19. Di titik yang manakah grafik dari fungsi y  2 mempunyai garis
x 9
singgung datar?
20. Dapatkan persamaan garis singgung pada grafik y = f (x) di titik dengan x =
- 3 jika f (- 3) = 2 dan f’(- 3) = 5
338

21. Dapatkan persamaan garis yang menyinggung y = (1 – x) / (1 + x) di titik


dengan x = 2.
22. Dapatkan suatu fungsi y = ax2 + bx + c yang grafiknya memotong sumbu-x
di 1, dan memotong sumbu-y di – 2, dan garis singgungnya mempunyai
kemiringan -1 di perpotingannya dengan sumbu-y.
23. Dapatkan koordinat-x dari titik pada grafik y  x . dengan garis
singgungnya sejajar dengan garis yang memotong kurva tersebut di x =
1 dan x = 4.
24. Dapatkan koordinat-x dari titik pada grafik y = 1 - x2 dengan garis
singgungnya di titik tersebut melalui titik (2,0).
25. Tunjukan bahwa sebarang dua garis singgung pada parabola y = ax2, a
≠ 0, berpotongan di satu titik singgungnya.
26. Misalkan L garis singgung di x = x0 pada geafik persamaan kubik y =
ax3 + bx. Dapatkan koordinat-x dari titik dimana L memotong grafik
tersebut yang kedua kalinya.
27. Tunjukan bahwa ruas garis singgung pada grafik y = 1/x yang terpotong
oleh sumbu-sumbu koordinat terbagi dua bagian yang sama oleh titik
singgungnya.
28. Tunjukan bahwa suatu segitiga yang dibentuk oleh sebarang garis
singgung pada grafik y =1/x, x > 0, dan sumbu-sumbu koordinat
mempunyai luas 2 satuan luas.
29. Dapatkan syarat-syarat untuk a,b,c dan d sedemikian sehingga dari
polynomial f ( x)  ax 3  bx 2  cx  d memiliki
(a). tepat dua garis singgung datar
(b). tepat satu garis singgung datar
(c). tak satupun garis singgung datar
30.Buktikan: Jika grafik-grafik dari y  f (x) dan y  g (x) mempunyai garis
singgung yang sejajar di x  c, maka grafik dari
y  f ( x)  g ( x) mempunyai garis singgung datar x  c,
31.(a). Misalkan fungsi-fungsi f, g, dan h dapat diturunkan di x. Dengan
menerapkan teorema 4.3.5 dua kali, tunjukkan bahwa hasil kali f.g.h
dapat diturunkan di x
dan ( f .g.h) ' ( x)  f ' ( x) g ( x)h( x)  f ( x) g ' ( x)h( x)  f ( x) g ( x)h' ( x)
(b). Nyatakan rumus turunan dari hasil kali n fungsi.
32.Gunakan hasil pada soal 31 untuk mendapatkan
d 5 2
(a). [ x ( x  2 x)(4  3x)(2 x 9  1)]
dx
339

d
(b). [( x 7  2 x  3) 3 ]
dx
33. Buktikan: Jika fungsi f dapat diturunkan di x, maka
d
[ f 2 ( x)]  2 f ( x) f 2 ( x)] .
dx
[Petunjuk : Gunakan aturan hasil kali.]

Untuk soal 34-35, jelaskan apakah fungsi f dapat diturunkan di suatu titik x0
dimana rumus untuk f berubah. Gunakan hasil berikut ini:
Teorema. Diberikan f kontinu di x0 dan

lim f ' ( x) dan lim f ' ( x) Ada.


x  x0 x  x0

Fungsi f dapat diturunkan di x0 jika dan hanya jika limit-limit tersebut sama
yaitu.
f ' ( x0 )  lim f ' ( x) = lim f ' ( x)
x  x0 x  x0

3x 2 , x  1
34. Misalkan f ( x)  
ax  b, x  1
Dapatkan nilai-nilai a dan b sedemikian sehingga f dapat diturunkan di x =
1.
35.Dapatkan semua titik dimana f tidak dapat diturunkan. Jelaskan jawaban
anda
(a). f ( x)  3x  2 (b). f ( x)  x 2 .  4
36.Buktikan: Jika f dapat diturunkan di x dan f (x)  0, maka 1 / f (x) dapat
d  1  f ' ( x)
diturunkan di x dan   
dx  f ( x)   f ( x)2
37. (a). Dapatkan f ( n ) ( x) jika f ( x)  x n
(b). Dapatkan f ( n ) ( x) jika f ( x)  x k dan >k, dimana k bilangan bulat
positif
(c). Dapatkan f ( n ) ( x) jika f ( x)  a0  a1 x  a2 x 2  ....  an x n
340

38.Pada tiap bagian hitunglah f ' , f '' , f ''' dan kemudian tuliskan rumus untuk
f (n )
(a). f ( x)  1 / x (b). f ( x)  1 / x 2
[Petunjuk: Ekspresi (-1)n mempunyai nilai 1 jika n genap dan -1 jika n
ganjil. Gunakan ekspresi ini dalam jawaban anda].
39. (a). Buktikan :
d2 d2
[ cf ( x )]  c [ f ( x)]
dx 2 dx 2
d2 d2 d2
[ f ( x )  g ( x )]  [ f ( x )]  [ g ( x)
dx 2 dx 2 dx 2
(b). Apakah hasil bagian (a) dapat diperluas untuk turunan ke-n? Jelaskan!
40.Buktikan :
( f  g ) '' ( x)  f '' ( x) g ( x)  2 f ' ( x) g ' ( x)  f ( x) g '' ( x)
41.(a). Pada bukti Teorema 4.11, digunakan kenyataan bahwa
lim f ( x  h)  f ( x). Argumentasi yang diberikan menggunakan
h0
hipotesis bahwa f dapat diturunkan di x. Dapatkan kesalahan dalam
bukti berikut yang tidak membuat asumsi untuk f: Untuk h mendekati 0,
besaran x + h mendekati x; akibatnya lim f ( x  h)  f ( x).
h0
(b). Misalkan
 x, x  1
f ( x)   .
3, x  1
Tunjukkan bahwa lim f ( x  h)  f ( x) jika x  1.
h0

42. Misalkan f ( x)  x  2 x  3 dan x0  2; dapatkan


8

f ' ( x 0  h)  f ' ( x 0 )
lim
h 0 h
''
43. (a). Buktikan: Jika f ( x) ada untuk setiap x di (a,b), maka f dan f ' )
keduanya kontinu pada (a,b).
(b). Apa yang dapat dikatakan tentang kontinuitas dari f dan turunan-
turunannya jika f ( n ) ( x) ada untuk setiap x pada (a,b)?

Untuk soal 44-47, dapatkan f (1) ( x)


341

sec x sec x
44. f ( x)  45. f ( x) 
1  x tan x tan x
sin x sec x ( x 2  1) cot x
46. f ( x)  47. f ( x) 
1  x tan x 3  cos x csc x

Untuk soal 48-49, dapatkan d2y / dx2.

48. f (x) = x sin x – 3 cos x 49. f (x) = sin x cos x

Untuk soal 50 dan 51, dapatka semua titik dimana grafik dari f mempunyai
garis singgung datar

50. (a). f (x) = sin x (b). f (x) = tan x (c). f (x) = sec x.
51. (a). f (x) = cos x (b). f (x) = cot x (c). f (x) = csc x.
52. Dapatkan persamaan garis singgung untuk grafik tan x dititik dimana
(a). x = 0 (b). x =  / 4 (c). x =   / 4
53. (a). Buktikan bahwa y = cos x dan y = sin x merupakan penyelesaian dari
persamaan yn + y = 0.
(b). Buktikan bahwa y = A sin x + B cos x merupakan penyelesaian untuk
semua konstanta A dan B.
54. Suatu tangga 10 meter disandarkan didinding dengan sudut  terhadap
lantai seperti ditunjukkan dalam Gambar 4.3.3. Bagian atas tangga adalah x
meter di atas lantai. Jika ujung bawah tangga didorong kea rah dinding,
dapatkan laju perubahan x terhadap  pada saat  = 60o. Nyatakanlah
jawabannya dalam satuan meter/derajat.

Gambar 4.3.3 Gambar 4.3.4


342

55. Suatu pesawat terbang sedang terbang pada lintasan datar pada ketinggian
3800 meter, seperti ditunjukkan pada Gambar 4.3.4. Berapakah laju
perubahan jarak s antara pesawat tersebut dengan titik tetap P terhadap 
pada saat  = 30? Nyatakan jawabannya dalam satuan meter/derajat.
56. Suatu lampu senter ditempatkan 50 meter dari dinding tegak (Gambar
4.3.5) Dapatkan laju perubahan jarak D terhadap  pada saat  = 45o.
Nyatakan jawabannya dalam satuan meter/derajat.

Gambar 4.3.5 Gambar 4.3.6

57. Suatu satelit pengamatan bumi dapat melihat hanya sebagian dari
permukaan bumi. Satelit tersebut mempunyai sensor datar yang dapat
mendeteksi dengan sudut  seperti ditunjukkan pada Gambar 4.3.6.
Misalkan r jari-jari bumi (asumsikan berbentuk bola) dan h jarak satelit
dari permukaan bumi.
(a). Buktikan bahwa h  r (csc  1)
(b). Gunakan r = 6378 kilometer, dan asumsikan bahwa satelit makin
mendekati bumi, dapatkan laju perubahan h terhadap  jika  = 30o.
Nyatakan jawabannya dalam satuan kilometer/derajat.
58. Pada tiap bagian, jelaskan dimana f dapat diturunkan.
(a). f ( x)  sin x (b). f ( x)  cos x (c).
f ( x)  tan x
(d). f ( x)  cot x (e). f ( x)  sec x
(f). f ( x)  csc x
1 1
(g). f ( x)  (h). f ( x) 
1  cos x sin x cos x
cos r
(i). f ( x) 
2  sin x
343

59.Misalkan f (x) = cos x. Dapatkan semua bilangan positif n sehingga


f ( n) ( x)  sin x
60.Tanpa menggunakan kesamaan trigonometri, dapatkan
tan( x  y)  tan y
lim 
x 0 x
[Petunjuk: Hubungkan limit yang diberikan dengan definisi turunan fungsi
dari y yang sesuai.]
61.Misalkan disepakati fungsi-fungsi cos x, cot x, dan csc x berturut-turut
disebut kofungsi (cofunction) dari sin x, tan x, dan sec x. Yakinkan bahwa
turunan dari setiap kofungsi dapat diperoleh dari turunan fungsi yang
bersesuaian dengan menambahkan tanda minus dan dengan mengganti
setiap fungsi dalam turunan tersebut dengan kofungsinya. Ingat turunan
dari sin x, tan x, dan sec x dan gunakan pengamatan diatas untuk
menyimpulkan turunan-turunan dari kofungsi-kofungsi tersebut.
62.Rumus-rumus turunan untuk sin x, cos x, tan x, cot x, sec x, dan csc x
diperoleh dengan mengasumsikan bahwa x diukur dalam radian. Lathan
berikut ini menunjukkan perbedaan rumus (yang lebih rumit) yang
dihasilkan jika x diukur dalam derajat. Buktikan bahwa jika h dan x
ukurannya derajat, maka
cos h  1 sin h  d 
(a). lim 0 (b). lim  (c). [sin x]  cos x
h 0 h h  0 h 180 dx 180

4.4. ATURAN RANTAI

Turunan Komposisi
Diberikan f dan g fungsi-fungsi yang dapat diturunkan, dengan
komposisi fungsi
y  ( f  g )( x)  f ( g ( x)) . Jika diambil u = g (x) maka y = f (u) dan turunannya

du dy
 g ' ( x) dan  f ' (u )
dx du

Permasalahannya adalah bagaimana menentukan dy/dx bila diketahui dy/du dan


du/dx.
344

TEOREMA 4.14 (Aturan Rantai). Jika g dapat diturunkan dititk x dan f dapat
diturunkan di titik g (x), maka komposisi f  g dapat diturunkan dititik x dan
rumus turunannya adalah
dy dy du
 
dx du dx
Dengan y = f (u) dan u = g (x)

Contoh: Dapatkan dy / dx jika y = 4 cos(x3).

Penyelesaian:
Misal u = x3 maka y = cos u
Dengan aturan rantai,
dy dy du d d
   [4 cos u ]  [ x 3 ]
dx du dx du dx
 (4 sin u )  (3x )  (4 sin( x 3 )  (3x 2 )  12 x 2 sin( x 3 )
2

Contoh: Dapatkan dw/dt jika w  tan x dan x  4t 4  t.

Penyelesaian:
Dalam kasus ini, aturan rantai berbentuk

dw dw dx d d
   [tan x]  [4t 3  t ]
dt dx dt dx dt
 (sec x)(12t  1)  (12t 2  1) sec 2 (4t 3  t )
2 2

Rumus-Rumus Turunan Umum


Bentuk lebih sederhana dari aturan rantai dapat diperoleh dengan
memperhatikan y = f (u) sehingga

df (u ) du du
   f ' (u ) 
du dx dx
345

Rumus ini sangat berguna dan penggunaannya sangat luas dalam


diferensiasi. Sebagai contoh, untuk mencari turunan fungsi
f ( x)  ( x 2  x  1) 23 , Dapat dimisalkan u  x 2  x  1 , sehingga f (u)  u 23 ,
kemudian gunakan aturan rantai untuk mendapatkan
d d 22 du d
[{x 2  x  1) 23 ]  [u 23 ]23
  u  23( x 2  x  1) 22 [ x 2  x  1]
dx dx f 1 (u )
dx dx
 23( x 2  x  1) 22  (2 x  1)
Dengan demikian untuk fungsi-fungsi lain dapat diperoleh dengan cara
yang sama. Sebagai contoh
d n du
[u ]  nu n1
dx dx
d du
[sin u ]  cos u
dx dx

Contoh: Dapatkan
d d
(a). [sin(2 x)] (b). [tan(x 2  1)]
dx dx

Penyelesaian:
(a). Dengan mengambil u = 2x pada rumus turunan yang diperumum untuk
sin (u) menghasilkan

d d du d
[sin(2 x)] = [sin u ]  cos u = cos 2 x  [2 x]  cos 2x  2  2 cos 2 x
dx dx dx dx

(b). Dengan mengambil u = x2 + 1 pada rumus turunan yang diperumum untuk


tan u, menghasilkan

d
dx
 
tan x 2  1  =
d
dx
tan u   sec 2 u du
dx
= sec2 (x2 + 1) .
d
dx
 
x 2  1  sec (x + 1) . 2x
2 2

= 2x sec2 (x2 + 1)
346

Contoh: Dapatkan

d 
(a). x 3  csx x 
dx  

(b).
d
dx

1  x 5 cot x 8  

Penyelesaian:
(a). Dengan mengambil u = x3 + csc x pada rumus turunan yang diperumum
untuk u , menghasilkan

d 
x 3  csx x  =
dx  

d
dx
 u   2 1 u du
dx

1 d
.
dx

x 3  csc x 
2 x  csc x
3

1
 
. 3x 2  csc x cot x 
3x 2  csc x cot x
2 x 3  csc x 2 x 3  csc x

(b). Dengan mengambil u = 1 + x5 cot x pada rumus turunan yang diperumum


untuk u-8, menghasilkan

d
dx

1  x 5 cot x   8
=
d
dx
 
u 8   8u 9
du
dx
= -8 (1 + x5 cot x)-9 .
d
dx

1  x 5 cot x 
= -8 (1 + x5 cot x)-9 . (x5 (- csc2 x) + 5x4 cot x)
= (8x5 csc2 x – 40x4 cot x) (1 + x5 cot x)-9
Seperti ditunjukkan dalam contoh berikut ini, bahwa kadang-kadang
perlu menetapkan aturan rantai lebih dari satu kali untuk mendapatkan suatu
turunan.
347

Contoh: Dapatkan
(a).
d
dx

cos2 x  (b).
d
dx
  1  cos x 
sin

Penyelesaian:
(a). Dengan mengambil u = cos x pada rumus turunan yang diperumum untuk
u2 menghasilkan
d
dx

cos2 x  =
d
dx
 
u 2  2u
du
dx
= 2cos x .
d
 cosx
dx Digunakan rumus turunan
= 2cos x . (-  sin x) yang diperumum untuk
= - 2 sin x cos x cos u dengan u = x

(b). Dengan mengambil u = 1 cos x pada rumus turunan yang diperumum


untuk sin u menghasilkan
d
dx
  1  cos x 
sin =
d
dx
sin u   cos u du
dx
= 
cos 1  cos x .  du
dx

1  cos x 
= 
cos 1  cos x .   sin x Digunakan rumus turunan
2 1  cos x yang diperumum untuk

= -

sin x cos 1  cos x  u dengan u = 1 + cos x

2 1  cos x

Contoh: Dapatkan d/dt jika  = t2 sec t , dengan  suatu konstanta

Penyelesaian:
Karena perubah bebasnya adalah t dan bukan x, maka harus dilakukan
penyesuaian dalam notasinya.
Digunakan rumus turunan
d
dt
=
d 2
dt

t sec t  t 2
d
dt
 
sec t  sec t . 2t   yang diperumum untuk sec
u dengan u = t
= t2 sec t tan t
d
dt
 
t  2t sec t
Digunakan rumus turunan
yang diperumum untuk u
dengan u = t
348


= t2 sec t tan t  2t sec t
2 t

Setelah terbiasa dengan aturan rantai maka kita dapat mencari turunan
tanpa menggunakan aturan rantai secara langsung. Untuk tujuan ini pada u
dipandang sebagai fungsi dalam dan f sebagai fungsi luar. Selanjutnya rumus
dapat dinyatakan. Turunan dari f(u) adalah turunan dari fungsi luar dikalikan
turunan dari fungsi dalam

Sebagai contoh,
d
dx
  

cos x 2  9   sin x 2  9 .
  
  2x

Turunan fungsi Turunan fungsi
luar dalam

d
dx

tan2 x =  d
dx

tan x 2  = 

2 tan x 
 
sec 2 x = 2 tan x

Turunan fungsi Turunan fungsi
sec2 x luar dalam

Pada umumnya, jika f (g (x)) suatu komposisi dari fungsi-fungsi dengan fungsi
dalam g dan fungsi luar f keduanya dapat diturunkan, maka

 f g x  = f ' g x  g ' x 


d
dx   
Turunan fungsi Turunan fungsi
luar dalam

Latihan 4.4

Untuk Soal-soal 1-39, dapatkan f ' (x)

1. f (x) = (x3 + 2x)37 2. f (x) = (3x2 + 2x - 1)6


2 1
 7 4. f (x) =
3. f (x) =  x 3  
 x x  x  1) 9
5
349

4 6. f (x) = x 3  2x  5
5. f (x) =
3x 2
 2x 1 
3
8. f (x) = sin3 x
7. f (x) = 43 x 10. f (x) =  
cos2 3 x
9. f (x) = sin (x3) 12. f (x) = 3 cot4 x
11. f (x) = tan (4x2) 14. f (x) = csc (x3)
13. f (x) = 4 cos5 x 16. f (x) = tan4 (x3)
 1   x 
15. f (x) = sin   18. f (x) = cos3  
 x2   x  1
17. f (x) = 2 sec2 (x7) 20. f (x) = 3x  sin 2 4 x 
19. f (x) = cos 5x  22. f (x) = [x4 – sec (4x2 – 2)]-4
21. f (x) = [x + csc (x3 + 3)]-3 x
24. f (x) =
23. f (x) = 2
x 5x 2
1  x2
25. f (x) = x3 sin2 (5x) 26. f (x) = x tan3 x  
27. f (x) = x5 sec (1/x) sin x
29. f (x) = cos (cos x) 28. f (x) =
sec (3x  1)
31. f (x) = cos3 (sin 2x)
30. f (x) = sin (tan 3x)
(5x + 8)13(x3 + 7x)12
 
33. f (x) =
3 1  csc x 2
 x5
1  cot x 
32. f (x) =
35. f (x) =   2
 2x  1 
34. f (x) = (2x – 5)2 ( x2 + 4)3
2 x  3 3
17
37. f (x) = 1  x2 
4 x 2
1  5
36. f (x) = 
 1  x

2 

39. f (x) = [x sin 2x + tan4 (x7)]5
38. f (x) = [1 + sin3 (x5)]12

Untuk Soal 40-42, dapatkan d2y/dx2

40. y = sin (3x2) 41. y = x cos (5x) – sin2 x


1
42. y = x tan  
 x

Untuk Soal 43-46, dapatkan persamaan garis singgung pada grafik di titik
yang disebutkan

43. y = x cos 3x, x =  44. y = sin (1 + x3), x = -3


350

3
    1
45. y = sec3   x , x   46. y = x   , x  2
 2  2  x

Untuk Soal 47-50, dapatkan turunan yang ditunjukkan.

dy
47. y = x cos3 ( - ) ; dapatkan
d
6
 au  b  d
48.  =   ; dapatkan (a, b, c, d konstan)
 cu  d  du

49.
d
d
 
a cos 2   b sin 2  (a, b konstan)

  dx
50. x = csc2   y  ; dapatkan
3  dy
51. Jika suatu benda digantung pada suatu pegas ditarik ke atas sedikit dari
posisi setimbangnya dan kemudian dilepaskan, dan jika gesekan udara dan
massa pegas diabaikan, maka terjadi osilasi dari benda obyek tersebut
yang dinamakan gerak harmonik sederhana. Untuk gerak yang demikian
simpangan y dari keadaan setimbang dalam suku-suku waktu t diberikan
oleh :
y = A cos t
dengan A simpangan awal pada waktu t = 0, dan  adalah suatu konstanta
yang bergantung pada massa benda dan kekakuan pegas. Konstanta A
disebut amplitudo dari gerakan dan  adalah frekuensi angular.
(a). Tunjukkan bahwa
d 2y
2
  2 y
dt
(b). Periode T adalah waktu yang diperlukan untuk membuat satu osilasi
lengkap. Tunjukkan bahwa T = 2/
(c). Frekuensi f dari vibrasi adalah banyaknya osilasi per satuan waktu.
Dapatkan f dalam suku-suku periode T.
(d). Dapatkan amplitudo, periode dan frekuensi dari benda yang
mengalami gerak harmonik sederhana yang diberikan oleh :
y = 0.6 cos 15t
dengan t dalam detik dan y dalam sentimeter
52. Dapatkan nilai dari konstanta A sehingga y = A sin t memenuhi persamaan
351

d2y
 2 y  4 sin 3t
dt 2

Untuk Soal 53-56, dapatkan turunan yang ditunjukkan dalam suku-suku dari
x, y, dan dy/dx, dengan mengasumsikan bahwa y fungsi dari x yang dapat
diturunkan.

53.
d
dx

x2 y3  54.
d
dx
 x

 y2



 
d  2 2 
55.
d
sin xy  56.  x  y 
dx dx  

Untuk Soal 57-60, dapatkan turunan yang ditunjukkan dalam suku-suku dari
x, y, dx/dt, dan dy/dt, dengan mengasumsikan bahwa x dan y fungsi dari t
yang dapat diturunkan.

57.
d
dx

x2  y2  58.
d
dx
 xy 
tan 3

59.
d
dx

x2 y  60.
d  y 2
dx  x




61. Perhatikan kembali bahwa
 1, x  0
d
x  
dx   1, x  0

Gunakan hasil ini dan aturan rantai untuk mendapatkan


d
sin x
dx
untuk x tak nol pada selang (-x, )
62. Gunakan rumus turunan untuk sin x dan persamaan
 
cos x  sin   x 
2 
untuk memperoleh rumus turunan cos x
63. Misalkan
352

 1
x sin , x  0
f (x) =  x
x 0
 0,

(a). Dapatkan f’ (x) untuk x  0.


(b). Tunjukkan bahwa f kontinu di x = 0.
(c). Gunakan Definisi 3.2.2. untuk menunjukkan bahwa f’ (x) tidak ada.
64. Misalkan
 1
x 2 sin , x  0
f (x) =  x
x 0
 0,

(a) Dapatkan f’ (x) untuk x  0.


(b) Tunjukkan bahwa f kontinu di x = 0.
(c) Gunakan Definisi 3.2.2. untuk mendapatkan f’ (0)
(d) Tunjukkan bahwa f’ tidak kontinue di x = 0

67. Diberikan tabel nilai berikut ini, dapatkan turunan-turunan yang ditunjuk
dalam bagian (a) dan (b)
x f (x) f’ (x) (a). g ' (2) , dengan g (x) = [f (x)]3
2 8 7
8 5 -3 (b). h ' (2) , dengan h (x) = f (x3)

68. Diberikan tabel nilai berikut ini, dapatkan turunan-turunan yang ditunjuk
dalam bagian (a) dan (b)

x f (x) f’ (x) g (x) g’(x)


-1 2 3 2 -3
-2 0 4 1 -5

(a). F’ (-1), dengan F (x) = f (g (x))


(b). G’ (-1), dengan G (x) = g (f (x))
69. Diberikan f (0) = 2, g(0) = 0, dan g’(0) = 3, dapatkan (f o g)’ (0)
70. Diberikan f’(x) = 3x  4 dan g (x) = x2 – 1, dapatkan F’(x) jika f (x) = f
(g(x)).
x
71. Diberikan f’(x) = dan g (x) = 3x  1 , dapatkan f’(x) jika f (x) = f
x 12

(g(x))
353

d
72. Dapatkan f’(x2) = jika [ f (x2) ] = x2.
dx
d d
73. Dapatkan [ f (x) jika [ f (3x)] = 6x.
dx dx
74. Fungsi f dikatakan genap jika f (-x) dan f (x) dan ganjil jika f (-x) = -f (x),
untuk semua x dalam domain dari f, dengan mengasumsikan bahwa f dapat
diturunkan, buktikan :
(a). f’ ganjil jika f genap
(b). f’ genap jika f ganjil
d
75. Dapatkan rumus untuk [f (g(h(x)))]
dx
76. Misalkan y = f1 (u), u = fz (v), v = f3 (w), w = f4 (x). Nyatakan dy/dx dalam
suku-suku dy/du, dw/dx, du/dv, dan dv/dw.

4.5. DIFERENSIASI IMPLISIT

Metode Diferensiasi Implisit


Seringkali peubah tak bebas dan peubah bebas tak dapat dipisahkan
sehingga dapat dinyatakan dalam bentuk y = f (x). Fungsi yang demikian
disebut fungsi implisit. Untuk fungsi implisit, diferensiasi atau proses
mendapatkan turunan dilakukan pada kedua sisi sebelum menyelesaikan y
dalam suku-suku x, dengan memandang y sebagai fungsi dari x.

Contoh: Dengan diferensiasi implisit, dapatkan dy/dx, jika 6y3 + cos y = x3

Penyelesaian:
Dengan menurunkan kedua sisi terhadap x dan memperlakukan y sebagai
fungsi dari x yang dapat diturunkan, diperoleh
d d
[6y3 + cos y] = [x3]
dx dx
d d
6 [y3] + [cos y] = 3x2
dx dx
 dy  dy Aturan rantai digunakan di
6  3 y 2  + (- sin y) = 3x2 sini karena y fungsi dari x
 dx  dx
dy dy
18y2 - (sin y) = 3x2
dx dx
354

Diselesaikan untuk dy/dx, diperoleh


dy 3x 2
=
dx 18 y 2  sin y
Pada contoh di atas, dy/dx memuat peubah x dan y sekaligus. Untuk
memperoleh dy/dx dalam peubah x saja maka harus diselesaikan persamaan asli
untuk y dalam suku-suku x. Tetapi, hal ini tidak dapat dilakukan sehingga dy/dx
tetap dibiarkan seperti contoh di atas.
Pada penggunaannya dy/dx biasanya dicari di suatu titik (x, y) yang telah
diketahu, sehingga dy/dx dapat ditentukan.

Contoh: Dapatkan kemiringan garis singgung di titik (4, 0) pada grafik


7y4 + x3y + x = 4

Penyelesaian:
Karena sulit menyelesaikan untuk y dalam suku-suku x, sehingga akan dicari
turunannya secara implisit. Diperoleh :
d d
[7y4 + x3y + x] = [4]
dx dx
d d d
[7y4] + [x3y] + [x] = 0
dx dx dx
d  dy d 3 d
[7y4] +  x 3  y [x   [ x]  0
dx  dx dx  dx
dy dy
28y3 + x3 + 3yx2 + 1 = 0 Perhatikan penggunaan aturan
dx dx rantai pada suku pertama

dengan menyelesaikan untuk dy/dx, diperoleh :


dy 3y 2  1
= 
dx 28 y 3  x 3
Di titik (4,0) diperoleh x = 4 dan y = 0, menghasilkan
dy 1
ms = x4 
dx y 0 64

Contoh: Dapatkan kemiringan garis singgung di (2, -1) pada y2 – x + 1 = 0


(Gambar 4.5.1)
355

Penyelesaian:
Dengan diferensiasi secara implisit, dihasilkan
d d
[ y 2  x  1]  [0]
dx dx
d d d
[y2 ]  [ x]  [1]  [0]
dx dx dx
dy
2y - 1 = 0
dx
dy 1
=
dx 2y

y y2  x 1  0
x

(2, - 1)

Gambar 4.5.1

Di (2, - 1 ) didapat y = -1, sehingga kemiringan garis singgung di titik tersebut


adalah
dy 1
ms = =-
dx x=2 2
y=-1

Penyelesaian alternatif:
Jika diselesaikan untuk y dalam suku-suku x, diperoleh

y= x 1

y=- x 1

Gambar 4.5.2
356

Seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.5.2, grafik dari persamaan pertama
adalah setengah bagian yang atas dari kurva y2 – x + 1 = 0 (karena y  0 ), dan
grafik dari persamaan kedua adalah setengah bagian yang bawah ( karena
y  0).
Karenan titik (2,-1) berada pada setengah bagian kurva yang bawah,
kemiringan ms dari garis singgung di titik itu dapat diperoleh dengan
menghitung nilai turunan dari y = - x  1 untuk x = 2 ; jadi,

dy d 1 d 1
= [- x 1 ] = - . [ x  1] = -
dx dx 2 x  1 dx 2 x 1
dan

ms = dy 1

dx x=2 2

Hasil ini sama dengan yang diperoleh dengan diferensiasi secara implisit:

Contoh: Gunakan diferensiasi implisit untuk mendapatkan d2y / dx2 jika


4x2 – 2y2 = 9.

Penyelesaian:
Dengan diferensiasi paa kedua sisi dari 4x2 – 2y2 = 9 secara implisit
dy dy 2 x
menghasilkan 8 x  4 y  0 , dari hasil ini diperoleh 
dx dx y
Dengan mencari turunan dari kedua sisinya menghasilkan
dy
2 2 y  2 x.
d y dx
2
 2
dx y
d 2 y 2 y 2  4x 2
Substitusikan dan disederhanakan, diperoleh 
dx 2 y3
Dengan demikian, dengan menggunakan persamaan asli untuk penyerdehanaan
d2y 9 9
lebih lanjut, diperoleh 2
 3  3 .
dx y y
357

Turunan Fungsi Implisit


Pada saat dilakukan penurunan secara implisit, asumsi yang digunakan
adalah y sebagai fungsi dari x. Jika tidak demikian, hasil perhitungannya
mungkin tidak benar. Sebagai contoh, jika diturunkan fungsi implisit

x2 + y2 + 4 = 0

diperoleh
dy
2x + 2y =0
dx

atau dy x
=
dx y

Turunan ini tidak mempunyai arti sebab tidak ada fungsi yang memenuhi x2 +
y2 + 4 = 0. (Sisi kiri dari persamaan x2 + y2 + 4 = 0 selalu lebih besar dari nol).
Sayangnya, sulit untuk menentukan apakah suatu persamaan y merupakan
fungsi dari x dan jika benar, apakah fungsi tersebut dapat diturunkan.

Contoh: Persamaan lingkaran satuan x2 + y2 = 1 tidak mendefinisikan y


sebagai fungsi dari x di sekitar titik P(1,0), karena bagian lingkaran yang
berada pada sebarang segiempat dengan pusat di P dipotong garis tegak dua
kali (Gambar 4.5.3(a)). Walaupun demikian, persamaan tersebut
mendefinisikan y sebagai fungsi dari x yang dapat diturunkan di sekitar titik
(1/ 2,1 / 2 (Gambar 4.5.3(b)).

Grafik dari persamaan x2/3 + y2/3 = 1, disebut hypocycloid empat


patahan (Gambar 4.5.3.(c)), mendefinisikan y sebagai suatu fungsi dari x di
sekitar titik (0,1); walaupun demikian, fungsi tersebut tidak dapat diturunkan di
x = 0, disebabkan adanya sudut atau “patahan” di (0,1).
358

Gambar 4.5.3

Turunan Perpangkatan Rasional dari x

Pada Sub-bab 3.3 telah ditunjukan bahwa rumus


d
[xn] = n x n-1
dx
Berlaku untuk nilai bulat n. Dengan menggunakan diferensiasi implisit akan
ditunjukan bahwa rumus ini berlaku untuk sebarang pangkat rasional untuk x.
Bila xr dan xr-1 dapat diturunkan akan ditunjukan bahwa

d
[xr] = r x r-1
dx
Dengan r bilangan rasional.
Misalkan y = xr. Karena r bilangan rasional, maka dapat ditulis r = m/n,
dengan m,n bilangan bulat dan n  0, sehingga y = xr = x m/n. Jadi

d d
yn = xm dan dx
[yn] = [xm]
dx

Dengan diferensiasi implisit terhadap x, diperoleh

dy
ny n1  mxm1
dx
359

Tetapi y n-1 = [xm/n]n-1 = xm-(m/n)

Sehingga dperoleh

dy
nx m( m / n )  m.x m1
dx
atau dy m m / n1
 x  r.x r 1
dx n
Contoh: Dari aturan pencarian turunan di atas diperoleh

dx
 
d 4 / 5 4 4 / 51 4 1/ 5
x  x
5
 x
5

dx
x 
d ( 7 / 8 7
 7
  x ( 7 / 8)1   x 15/ 8
8 8

d
dx
 x   dxd x   13 x
3 1/ 3 2 / 3

1
3 x2
3

Jika u adalah fungsi yang dapat diturunkan dari x dan r bilangan rasional,
maka aturan menghasilkan generalisasi berikut ini :

d r
dx
 
u  ru r 1.
du
dx
Contoh:
d 2
dx
 3/ 4 3
4

x  x  s  x 2  x  2
( 1/ 4 ). d

dx
x2  x  2  
 
3 2
4
x  x  2
( 1/ 4 )
2 x  1
d
dx
 
sec x 4 / 5   4 sec x 9 / 5. d sec x
5 dx
  sec x  sec x tan x.
4 9 / 5.

5
360

4
 sec x 4 / 5. tan x
5

Latihan 4.5

Untuk soal 1-10, dapatkan dy/dx

1. y = 3
2x  5 2. y = 3
2  tan( x 2 )
 x 1 
3/ 2
x2  1
3. y =   4. y =
 x  2 x2  5
5. y = x3 (5x2 + 1)-2/3 6. y = (3 – 2x)4/3
x2
7. y = [sin(3/x)]5/2 8. y = [cos(x3)]-1/2

9. y = tan [(2x – 1)-1/3] 10. y = [tan(2x – 1)] -1/3

Untuk soal 11 dan 12, dapatkan semua nilai rasional dari r sehingga y = xr
memenuhi persamaan yang diberikan.

11. 3x2y11 + 4xy1 – 2y = 0 12. 16x2y11 + 24xy1 + y = 0

Untuk soal 13-29, dapatkan dy / dx dengan diferensiasi implisit.

13. x2 + y2 = 100 14. x4 – y3 = 6xy


15. x2y + 3xy3 – x = 3 16. x3y2 – 5x2y + x = 1
1 1 x y
17.   1 18. x2 =
y x x y
19. x+ y=8 20. xy + 1 = y
361

21. (x2 + 3y2)35 = x 22. xy2/3yx2/3 = x2


23. 3xy = (x3 + y2)3/2 24. cos xy = y
cot y
25. sin (x2y2) = x 26. x2 =
1  csc y
xy 3
27. tan3 (xy2 + y) = x 28. = 1 + y4
1  sec y
29. 1  sin 3 ( xy 2 )  y

Untuk soal 30-34, gunakan diferensiasi implisit untuk mendapatkan kemiringan


garis singgung kurva yang diberikan di titik yang ditentukan.

30. x2y – 5xy2 + 6 = 0; (3,1) 31. x3y + y3x = 10; (1,2)


32. sin xy = y; (/2,1) 33. x2/3 – y2/3 – y = 1; (1,1)
34. 3  tan xy - 2 = 0; (/12,3)

Untuk soal 35-39, dapatkan nilai dy / dx di titik yang diberikan dalam dua cara :
pertama dengan menyelesaikan y dalam suku-suku x dan kemudian dengan
diferensiasi implisit. (Lihat contoh 3.)

35. xy = 8; (2,4) 36. y2 – x + 1 = 0; (10,3)


1 y
37. x2 + y2 = 1; (1/ 2 ,- 1 2 ) 38.  x ; (0,1)
1 y
39. y2 – 3xy + 2x2 = 4; (3,2)

Untuk soal 40-45, dapatkan d2y / dx2 dengan diferensiasi implisit.

40. 3x2 – 4y2 = 7 41. x3 + y3 = 1


42. x3y3 – 4 = 0 43. 2xy – y2 = 3
44. y + sin y = x 45. x cos y = y
362

Untuk soal 46-49, gunakan diferensiasi implisit untuk mendapatkan turunan


yang ditentukan.

46. u + u = 5; du/dv 47. a4 – t4 = 6a2t; da/dt


48. y = sin x; dx/dy 49. a2  2 + b2 2 = 1 (a,b konstan); d  /d 
50. Gunakan diferensiasi implisit untuk menunjukkan persamaan garis
1
singgung pada kurva y2 = kx di (x0,y0) adalah y0y = k(x + x0).
2
51. dapatkan dy / dx jika
dt 1
2y3t + t3y = 1 dan 
dx cos t

Untuk soal 52 dan 53, dapatkan dy/dx dalam x, y, dan dx/dt, dengan
mengamsumsikan bahwa x dan y fungsi-fungsi dari t yang dapat diturunkan.
[Petunjuk : Kedua sisi dari persamaan yang diberikan diturunkan terhadap t]

52. x3y2 + u = 3 53. xy2 = sin 3x


54. Di titik manakah garis yang tegak lurus ke garis 4x – 3y + 1 = 0
menyinggung kurva y2 = 2x3 ?
55. Dapatkan nilai a dan b untuk kurva x2y + ay2 = b jika titik (1,1) terletak
pada grafiknya dan garis singgung di (1,1) mempunyai persamaan 4x + 3y
= 7.
56. Dapatkan koordinat suatu titik di kuadran pertama yang di titik tersebut
garis singgung pada kurva x3 – xy + y3 = 0 sejajar sumbu x.
57. Dapatkan persamaan-persamaan dua garis yang melalui titik asal dan
menyinggung kurva x2 – 4x + y2 + 3 = 0.
58. (a). Gunakan diferensiasi implisit untuk mendapatkan kemiringan garis
singgung pada hypocycloid empat-patahan x2/3 + y2/3 = 1 di P (-
1 1
2, 2 ). (Lihat Gambar 4.5.3 (c).)
4 4
(b). Kerjakan bagian (a) dengan menyelesaikan secara implisit untuk y
sebagai fungsi dari x dan kemudian carilah turunannya.
(c). Telusurilah kurva dalam Gambar 4.5.3 (c) dan buatlah sketsa garis
singgung di P.
363

(d). Dimanakah x2/3 + y2/3 = 1 tidak mendefinisikan y sebagai fungsi


implisit dari r ?

59. Grafik dari 8(r2 + y2)2 = 100(x2 – y2), yang ditunjukkan dalam Gambar
4.5.4, disebut Lemniscate.
(a). Dimanakah x2/3 + y2/3 = 1 tidak mendefinisikan y sebagai fungsi
implisit dari x ?
(b). Gunakan diferensiasi implisit untuk mendapatkan persamaan garis
singgung pada
kurva tersebut di titik (3,1).
(c). Telusuri kurva dalam Gambar 4.5.4 dan buatlah sketsa garis singgung
di (3,1).

Gambar 4.5.4

60. (a). Tunjukkan bahwa (x) = x4/3 dapat diturunkan di x = 0, tetapi tidak
dapat
diturunkan dua kali di x = 0.
(b). Tunjukkan bahwa (x) = x7/3 dapat diturunkan dua kali di x = 0, tetapi
tidak dapat
diturunkan tiga kali di x = 0.
(c). Dapatkan pangkat k sehingga (x) = xk dapat diturunkan (n – 1) kali di
x = 0, tetapi
tidak dapat diturunkan n kali di x = 0.
364

4.6. NOTASI-; DIFERENSIAL

Pertambahan
Jika nilai suatu peubah berubah dari satu bilangan ke bilangan yang
lain, maka nilai akhir dikurangi nilai awal disebut pertambahan dari peubah
tersebut. Pertambahan peubah x dinotasikan dengan x ( ”delta x” ). Dalam
notasi ini, “x” bukan hasil kali “” dan “x”. Tetapi x seharusnya dipandang
sebagai suatu besaran tunggal yang menyatakan perubahan dalam nilai x.
dengan cara serupa, y, t, dan  menyatakan pertambahan-petambahan
dalam peubah y, t, dan .
Jika y =  (x) dengan x berubah dari nilai awal xo ke nilai akhir x1, maka
pertambahan dari x adalah

y = y1 - xo

Sedangkan pertambahan yang bersesuai untuk peubah y dengan yo =  (xo) dan


y1 =  (x1) adalah

y = y1 – yo = (x1) -  (xo)

Pertambahan dapat positif, negatif, atau nol bergantung pada posisi relatif dari
titik awal dan akhir. Pada Gambar 4.6.1, x positif sebab titik akhir x1
disebelah kanan titik awal xo. Jika titik akhir x1 disebelah kiri xo, maka xo
negatif.

Gambar 4.6.1 Gambar 4.6.2


365

Sekarang jika ditulis x1 = xo + x maka diperoleh


y  f ( x  x)  f ( x0 )
Bila indeks nol pada peubah x dihilangkan maka x dan x + x masing-masing
dapat dipandang sebagai nilai awal dan akhir peubah x. Begitu juga untuk
peubah y

y =  (x + x) -  (x)

Dengan memperhatikan Gambar 4.6.2, kemiringan garis potong yang


menghubungkan titik P dan Q adalah y/x. Untuk  0, Q mendekati P
sepanjang kurva y =  (x), sehingga kemiringan garis potong tersebut
mendekati kemiringan garis singgung di P ; yaitu

dx y  ( x + x ) – f (x)
= lim = lim
dy x 0 x x 0 x

Diperoleh:
 =  (x + x) -  (x)
dan

` (x) = lim
x 0 x

f
f ' ( x)  lim
x 0 x

Diferensial
Dalam notasi turunan dy/dx, symbol “dy” dan “dy” masing-masing
disebut diferensial dari y dan x, yang tidak mempunyai arti jika berdiri sendiri.
Pada sub-bab ini akan diinterpretasikan simbol-simbol dy dan dr sehingga dy /
dx dapat dipandang sebagai hasil bagi dari dy dan dx.
Pandang x tetap dan didefinisikan dx sebagai peubah bebas. Jika  dapat
diturunkan di x, maka definisikan dy dengan rumus

dy = f ' (x) dx
366

Jika dx  0, maka kedua sisi dapat dibagi dengan dx untuk memperoleh


dy
 f ' ( x)
dx

Karena
dy
 f ' ( x)  ms
dx

Dimana ms adalah kemiringan garis singgung pada kurva y = (x) di x,


diferensial-diferensial dy dan dx dapat dipandang sebagai rise dan run yang
bersesuaian dari garis singgung (Gambar 4.6.3).

Gambar 4.6.3 Gambar 4.6.4

Penting untuk mengetahui perbedaan antara pertambahan y dan


diferensial dy. jika peubah bebas dx dan x mempunyai nilai yang sama, maka
y menyatakan perubahan dalam arah y yang terjadi bila perjalanan dilakukan
sepanjang kurva y =  (x) dimulai dari x dan berakhir pada x + x (dalam arah x
terjadi perubahan sebesar x (= dx). Sedangkan dy menyatakan perubahan
dalam arah y bila perjalanan dilakukan sepanjang garis singgung yang dimulai
dari x dan berakhir dari x dan berakhir pada x + x ( dalam arah x terjadi
perubahan sebesar x (= dx). Sedangkan dy menyatakan perubahan dalam arah
367

y bila perjalanan dilakukan sepanjang garis singgung yang dimulai dari x dan
berakhir pada x + x (terjadi perubahan sebesar x pada arah sumbu –x)
(Gambar 4.6.4).

Contoh: Jika y = x2, maka hubungan dy/dx = 2x dapat ditulis dalam bentuk
diferensial dy  2 xdx
Jika x = 3, akan menjadi dy  6dx
Hal ini berarti bahwa jika berjalan sepanjang garis singgung pada kurva y =x2
di x = 3, makaa perubahan dx satuan dalam x menghasilkan perubahan 6 dx
satuan dalam y. Sebagai contoh, jika perubahan x adalah dx = 4, maka
perubahan dalam y sepanjang garis singgung adalah dy  6.4  24 satuan.
Contoh: Misalkan y = x. Dapatkah dy dan y jika x = 4 dan dx = x =3.
Kemudian buatlah sketsa dari y = x, tunjukkan dy dan y dalam gambar.

Penyelesaian:
Pandang  (x) = x,
diperoleh y  x  x  x  7  4  0,65

Karena y = x , maka
dy 1 1 1 3
 ; sehingga dy = dx = (3) = =0.75
dx 2 x 2 x 2 2 4
Gambar 4.6.5 menunjukkan kurva y = x beserta dy dan y.

Gambar 4.6.5
368

Hampiran Garis Singgung


Gambar 4.6.6 menunjukkan bahwa apabila  dapat diturunkan di xo,
maka garis singgung pada kurva y = (x) di x0 merupakan hampiran yang
cukup baik pada kurva y = (x) untuk nilai-nilai di dekat xo . dalam hal ini
persamaan = garis singgung dari kurva y = (x) di titik (x0, ( x0)) adalah :

Gambar 4.6.6

Di sekitar x0 , tinggi garis singgung mendekati kurva y = f(x),


menghasilkan hampiran.

f ( x)  f ( x0 )  f ' ( x0 )( x  x0 )

Jika dimisalkan  x = x – xo, sehingga x = x0 +  x, maka dapat juga ditulis


sebagai:
( x0 +  x)  (x0) +’(x0)  x
yang merupakan hampiran yang baik untuk mendekati nol. Hasil ini disebut
hampiran linier f dan dekat x0
Rumus ini sangat berguna bila (x0 +  x) sulit dihitung. Jika demikian,
untuk menentukan nilai (x0 +  x) cukup digunakan rumus di atas dengan
terlebih dahulu menghitung nilai ( x0 ) dan f ' ( x0 ).

Contoh: Gunakan rumus di atas untuk mendapatkan hampiran 1.1

Penyelesaian:
369

Jika dimisalkan (x) = x , maka persoalannya adalah mencari hampiran untuk


 
(1.1). Pada hal f ' (x) = 1/ 2 x , sehngga f ' (1) dan f ' (1) mudah dihitung.
Jadi, akan diterapkan rumus hampiran di atas dengan
x0 = 1 dan x0 +  x = 1.1
dengan demikian  x = 0,1, sehingga menghasilkan
(1.1)  (1) + ’(1)(0.1)
Atau
1
1.1  1  (0.1)  1.05
2 1

Contoh: Gunakan aturan di atas untuk mendapatkan hampiran cos 62o.

Penyelesaian:
Akan dimanfaatkan kelebihan dari kenyataan bahwa 62o mendekati 60o, yang
di titik-titik tersebut berfungsi trigonometrinya mudah dihitung nilainya.
Namun demikian, untuk menerapkan rumus di atas terlebih dahulu harus
diubah ke ukuran radian sebab rumus-rumus turunan untuk fungsi trigonometri
tersebut didasarkan pada asumsi bahwa x dalam radian. Jika dimisalkan (x) =
cos x dan dengan catatan bahwa 62o = 31  /90 radian dan 60o =  /3 radian,
maka persoalannya adalah menghampiri (31  /90) dengan menggunakan
nilai-nilai (  /3) dan f ' (  /3) yang diketahui. Jadi akan diperoleh
31 
x0 +  x = dan x0 =
90 3
Dengan demikian,  x =  /90, sehingga menghasilkan.
 31      
     f '  
 90  3  3  90
31    
cos  cos -  sin   
90 3  3   90 
31 1 3  
cos  -    0.4697700
90 2 2  90 
Untuk tujuh digit, didapat cos 62o =0.4694716, yang berarti galat dalam
hampiran sebelumnya sedikit lebih kecil dari 0.0003.
Rumus di atas mempunyai bentuk alternatif yang berguna, yang akan
diturunkan sekarang. Kurangkan dengan (xo) pada kedua sisi untuk
memperoleh
370

(xo+  x) - (xo)  f ' (xo)  x


dan gunakan pendekatan untuk menulis kembali hasil ini sebagai  y  dy

Rumusan ini mempunyai kegunaan dalam mempelajari penyebaran galat


(galat propagation). Misalnya seorang peneliti mengukur suatu besaran fisika.
Karena keterbatasan peralatan dan faktor-faktor lain, peneliti tersebut tidak
selalu memperoleh nilai x yang eksak dari besaran yang diukur, tetapi
memperoleh x +  x, dengan  x adalah gelat pengukuran. Nilai yang tercatat
ini dapat digunakan untuk mengukur besaran y yang lain. Dengan cara ini
galat pengukuran  x yang menyebar untuk menghasilkan galat  x dalam
perhitungan nilai dari y.

Contoh: Jari-jari suatu bola diukur 50 mm, dengan kemungkinan galat


pengukuran +0.02 cm. Taksiran kemungkinan galat dalam perhitungan volume
bola.

Penyelesaian:
Volume bola adalah
4 3
V= r
3
Diberikan bahwa galat kesalahan dalam jari-jari adalah  r = + 0,02, dan akan
dihitung galat  V dalam V. Jika dipandang  r kecil dan dimisalkan dr =  r,
maka  V dapat dihampiri dengan dV, diperoleh  V  dV = 4  r2dr
Dengan substitusi r = 50 dan dan dr = + 0,02 maka diperoleh
 V  4  (2500) (+ 0,02)  628,32
Dengan demikian, kemungkinan galat dalam penghitungan volume adalah +
628,32 (mm3).

Catatan : Pada rumus di atas, r menyatakan nilai eksak jari-jari. Karena nilai
eksak dari r tidak diketahui, disubtitusi nilai r = 50 hasil pengukuran untuk
memperoleh  V. Hal ini dibenarkan karena galat  r diasumsikan kecil.

Jika nilai eksak dari suatu besaran adalah q dan hasil pengukuran atau
perhitungan mempunyai galat  q, maka  q/q disebut galat relatif dalam
pengukuran atau penghitungan; apabila dinyatakan dalam persentasi,  q/q
disebut galat persentasi. Dalam praktek, nilai eksak q sering tidak diketahui,
sehingga digunakan nilai hasil pengukuran atau penghitungan dari q; dan galat
relatif dihampiri dengan dq/q.
371

Contoh: Untuk bola dalam contoh di ats


dr 0.02
Galat relatif dalam r  = = + 0.0004
r 50
dV 4r 2 dr dr
Galat relatif dalam V  = = 3 = + 0.0012
V 4 3 r
r
3
Jadi galat persentasi dalam perhitungan jari-jari kira-kira + 0.04%, dan galat
persentasi dalam perhitungan volume kira-kira + 0.12%.

Contoh: Sisi suatu bujur sangkar diukur dengan kemungkinan galat persentasi
+50%. Gunakan diferensial untuk menghampiri kemungkinan kesalahan
persentasi dalam penghitungan luas bujur sangkar.
Penyelesaian:
Luas bujur sangkar dengan sisi x diberikan oleh
L = x2
dan galat relatif dalam L dan x berurut-urut mendekati dA/A dan dx/x. Dengan
demikian,
dL = 2x dx
dL 2 xdx 2 xdx dx
sehingga   2 =2
L L x x
Telah diketahui bahwa dx /x  + 0,05, sehingga
dL
 + 2(0,05) = + 0,1
L
Jadi, galat persentasi yang mungkin dalam perhitungan luas bujur sangkar
adalah + 10%.

Rumus-Rumus Diferensial

Jika
d
  menyatakan turunan ekspresi yang ada di dalam kurung, maka
dx
d 
menyatakan direferensial ekspresi yang ada di dalam kurung. Sebagai contoh,
 
d x 4 = 4x3 dx
d  f x  = f ' ( x)dx
Hubungan antara rumus turunan dan rumus diferensial ditabelkan berikut ini.
372

RUMUSAN TURUNAN RUMUSAN DIFERENSIAL


d c  0
d
c  0
dx d cf   cdf
d
cf   c df d  f  q  df  dq
dx dx d  fq   f dq  q df
d
 f  q  df  dq  f  q.df  f .dq
d  
dx dx dx
q q2
d
 fq   f dq  q df
dx dx dx
df dq
q f
d f
 dx 2 dx
dx  q  q

Contoh: Dapatkan dy jika y = x sin x.

Penyelesaian:
dy = d [x sin x] = x d[sin x] + (sin x) d[x]
= x (cos x) dx + (sin x) dx karena d(x) = 1 . dx = dx
= (cos x +sin x) dx

Latihan 4.6

1. Misalkan y = x 2.
a. Dapatkan  y jika  x = 1 dan nilai mula-mula dari x adalah x = 2.
b. Dapatkan dy jika dx = 1 dan nilai mula-mula dari x adalah x = 2.
c. Buatlah suatu sketsa dari y = x2 dan Tunjukkan  y dalam gambar.
2. Ulangi soal 1 dengan x = 2 sebagai nilai awal lagi, tetapi  x = -1 dan dx =
-1.
3. Misalkan y = 1/x.
a. Dapatkan  y jika  x = 0,5 dan nilai mula-mula dari x adalah x = 1.
b. Dapatkan dy jika dx = 0,5 dan nilai mula-mula dari x adalah x = 1.
1
c. Buatlah sketsa dari y = dan tunjukkan  y dan dalam gambar.
x
4. Ulangi Soal 3 dengan x = 1 sebagai nilai awal lagi, tetapi  r = -0.5 dan dx
= -0.5.
373

Untuk soal 5 – 8, dapatkan rumus umum untuk dy dan  y.


5. y = x3 6. y = 8x – 4
7. y = x2 - 2x + 1 8. y = sin x

Untuk Soal 9-12 dapatkan dy.

1
9. y = 4x3 - 7x2 + 2x – 1 10. y =
x 1
3

1  x3
11. y = x cox x 12. y =
2 x

Untuk Soal 13-16, dapatkan limitnya dengan menyatakan sebagai


turunan.

( x  x) 2  x 2 (3  x) 2  32
13. lim 14. lim
x 0 x x 0 x
sin(  x)  sin x 5(2  x) 4  5(2) 4
15. lim 15. lim
x 0 x x 0 x

Untuk soal 17 – 28, gunakan hampiran linier untuk menaksir nilai


besaran yang diberikan.

17. (3.024)2 18. (1.97)3 19. 65


20. 24 21. 80.9 22. 36.03
23. 3 8.06 24. 3 63.7 25. cos 31o
26. sin 50o 27. sin 44o 28. tan 61o

Untuk soal 29-32, gunakan dy menghampiri  y jika x berubah seperti


yang ditunjukkan

29. y = 3x  2; dari x = 2 sampai x = 2.03


30. y = x 2  8; dari x = 1 sampai x = 0.97
x
31. y = 2 ; dari x = 2 sampai x = 1.96
x 1
32. y = x 8x  1; dari x = 3 sampai x = 3.05.
374

33. Sisa dari suatu bujursnagkar diukur 10 m, dengan kemungkinan galat + 1


cm.
a. Gunakan diferensial untuk menaksir galat dalam penghitungan luas.
b. Taksirlah galat-galat persentasi pada sisi dan luas.

34. Sisa dari suatu kubus diukur 25 m, dengan kemungkinan galat + 1 cm.
a. Gunakan diferensial untuk menaksir galat dalam penghitungan volume.
b. Taksirlah galat persentasi pada sisi dan volume.
35. Sisa miring suatu segitiga siku-siku diketahui 10 cm secara eksak, dan
salah satu sudut lancipnya diukur 30o, dengan kemungkinan galat + 1o.
a. Gunakan diferensial untuk menaksir galat pada sisi yang berhadapan dan
bersebelahan dengan sudut yang diukur.
b. Taksirlah galat persentasi pada sisi-sisinya.
36. Salah satu sisa suatu segitiga siku-siku diketahui 25 cm secara eksak.
Sudut yang berhadapan dengan sisi ini diukur 60o, dengan kemungkinan
galat + 0,5o.
a. Gunakan diferensial untuk menaksir galat pada sisi yang berseblahan dan
sisi miringnya..
b. Taksirlah galat persentasi pada sisi yang berseblahan dan sisi miringnya.
37. Suatu tahanan listrik R dari kawat tertentu diberikan R = k/r2, dengan k
konstan dan r jari-jari kawat. Dengan mengasumsikan bahwa jari-jari r
mempunyai suatu kemungkinan galat + 50%, gunakan diferensial untuk
menaksir galat persentasi dalam R. (Asumsikan bahwa k bernilai eksak).
38. Suatu tanggal sepanjang 12 meter disandarkan miring pada dinding dengan
sudut  dengan lantai. Jika ujung atas tangga adalah h meter di atas
dinding, nyatakan h dalam suku-suku  dan kemudian gunakan dh untuk
menaksirkan perubahan pada h jika  berubah dari 60o ke 59o.
39. Luas suatu segitiga siku-siku dengan sis miring H, dihitung menggunakan
1
rumus A = H 2 sin 2 , dengan  adalah salah satu sudut lanciptnya.
4
Gunakan diferensial untuk menghampiri galat dalam penghitungan A jika
H = 4 cm (secara eksak) dan  = 30o + 15o.
40. Sisi suatu bujursangkar diukur dengan kemungkinan galat persentasi + 1%.
Gunakan diferensial untuk menaksir galat persentasi pada luasnya.
41. Sisi suatu ubus diukur dengan kemungkinan galat persentasi + 2%.
Gunakan diferensial untuk menaksir galat persentasi pada luasnya.
42. Volume dari suatu bola dihitung berdasarkan nilai pengukuran jari-jarinya.
Taksirlah galat persentasi maksimum yang diperbolehkan dalam
375

pengukuran jika galat persentasi pada volumenya harus dipertahankan pada


4
+ 3%. (V = r 3 adalah volume bola dengan jari-jari r).
3
43. Luas suatu lingkaran akan dihitung dari nilai pengukuran diamternya.
Taksirlah galat persentasi maksimum yang diperbolehkan jika galat
persentasi pada luasnya harus dipertahankan + 1%.
44. Suatu kubus baja dengan sisi-sisi 1 cm dilapisi tembaha 0.01 cm. Gunakan
diferensial untuk menaksir volume tembaga dalam pelapisan itu. [petunjuk
: misalkan  V perubahan volume kubus]
45. Suatu batang logam panjangnya 15 cm dan ditutup (kecuali pada ujung-
ujungnya) dengan lapisan isolator yang tebalnya 0,001 cm. Gunakan
diferensial untuk mencari hampiran volume isolator.. [petunjuk : misalkan
 V perubahan volume tongkatan].
46. Waktu yang diperlukan untuk suatu osilasi penuh dari suatu bandul ayunan
(pendulum) disebut periode. Jika panjang pendulum L di ukur dalam cm
dan periode P dalam detik, maka periode P = 2 2 L q , dengan q konstan.
Gunakan diferensial untuk menunjukkan bahwa persentasi pada P
mendekati setengah galat persentasi pada L.
47. Jika suhu T suatu batang logam dengan panjang L berubah sebesar  T,
maka panjangnya akan berubah besar  L= LT dengan  adalah
koefisien mulai linier. Untuk perubahan suhu yang tidak terlalu besar, 
diambil konstan.
a. Misalkan panjang batang 40 cm pada 20oC menjadi 40.006 cm
panjangnya pada saat suhunya naik menjadi 30oC. dapatkan  .
b. Jika suatu tongkat aluminium panjangnya 180 cm pada 15oC, berapakah
panjang tongkat tersebut jika suhunya dinaikkan menjadi menjadi
40oC? [Pilihan  = 2.3  10-5/oC].
48. Jika suhu T dari suatu zat padat atau zat dengan volume V berubah sebesar
 T, maka volumenya akan berubah sebesar  V =  V  T, dengan 
adalah koefisien muai linier. Untuk perubahan temperatur yang tidak
terlalu besar,  diambil konstan. Misalnya truk tangki memuat 4000 galon
etil alkohol pada suhu 35oC dan mengirimkan muatannya beberapa waktu
kemudian pada suhu 15oC. Dengan mengunakan  =7.5  10-4/oC untuk
etil alkohol, dapatkan berapa galon yang dikirimkan.
49. Gunakan difensial untuk menunjukkan bahwa (1+ x)-1  1 - x jika x
mendekati nol. Hitunglah sampai empat tempat decimal, nilai dari (1 + x)-1
dan 1 – x untuk x = 0.1 dan x = - 0.02.
376

1
50. Gunakan difensial untuk menunjukkan bahwa 1  x  1
x jika x
2
mendekati nol. Hitunglah sampai empat tempat decimal, nilai dari
1
1  x dan 1 + x untuk x = 0.1 dan x = - 0.02.
2
51. Misalkan y = xk, di mana k bilangan rasional positif. Tunjukkan bahwa
galat persentasi dalam y mendekati k kali galat persentasi dalam x.

4.7. TURUNAN FUNGSI INVERS TRIGONOMETRI

Pada sub-sub ini akan diuraikan mengenai beberapa rumus turunan fungsi-sungsi invers
trigonometri serta beberapa buktinya.

Rumus Turunan Invers Trigonometri

TEOREMA 4.15
(a).
d
 
sin 1 x 
1
, (b).
d
 
cos 1 x  
1
,
dx 1 x2 dx 1 x2
(c).
d
dx
 
tan 1 x 
1
1 x2
, (d).
d
dx
 
cot 1 x  
1
1 x2
,

(e).
d
 
sec 1 x 
1
, (f).
d
 
csc 1 x  
1
.
dx x 12  1 dx x 1 x2

Bukti:
Pertama ditunjukkan bahwa g(x) = sin-1x dapat dituturunkan pada selang (-1,1),
kemudian akan diturunkan Rumus (a). Fungsi g(x) = sin-1x adalah invers dari
fungsi f(x) = sin x; pada selang -  /2< x <  /2.
Bila x bergerak pada selang (-1,1), nilai g (x) akan berubah-ubah pada selang
(-  /2,  /2) dimana f dapat diturunkan dan mempunyai turunan tak nol
(Mengapa?). Berdasarkan Teorema 4.15 bahwa g(x) dapat diturunkan pada
selang (-1, 1) untuk mendapatkan (a). Misalkan y = sin-1 x atau ekivalen x =
sin y
Dengan menurunkan persamaan kedua secara implisit terhadap x dihasilkan
377

d
x = d sin y
dx dx
dy
1 = cos y.
dx
dy 1 1
= =
dx cos y cos(sin 1 x)

cos (sin-1 x) = 1  x 2

dy 1 1
Dengan demikian, = 1
 .
dx cos(sin x) 1 x2

(c). Sebagaimana pada bukti (a). diferensiabilitas


g(x) = tan-1x berdasarkan Teorema 4.15 (Langkah detailnya diabaikan). Untuk
mendapatkan (c) dimisalkan y = tan-1 x atau ekivalen x = tan y
dengan menurunkan persamaan kedua secara implisit terhadap x dihasilkan
d d
(x) = (tan y)
dx dx
dy
1 = sec2 y .
dx
dy 1 1
= =
dx 2
sec y sec (tan 1 x)
2

sec2(tan-1 x) = 1 + x2
dy 1 1
Dengan demikian, = 1
 .
dx sec (tan x) 1  x 2
2

(e). Seperti pada bukti untuk (a) dan (c). diferensiabilitas


g(x) = sec-1 x berdasarkan Teorema 4.15 (Langkah detailnya diabaikan) untuk
memperoleh (e) misalkan y = sec-1 x atau ekivalen x = sec y dengan
menurunkan persamaan kedua secara implisit terhadap x dihasilkan
dy
1 = sec y tan y .
dx
dy 1 1
= =
dx sec y tan y sec(sec x) tan(sec 1 x)
1
378

Seperti ditunjukkan dalam Gambar 4.7.1, bangunlah suatu segitiga siku-siku


dengan sudut lancip y = sec-1 x. Karena sec y = x, dapat diasumsikan bahwa
sisi yang berdampingan dengan y mempunyai panjang 1 dan sisi miringnya
mempunyai panjang x (x > 1). Berdasarkan Teorema Phytagoras bahwa sisi
yang berhadapan dengan y mempunyai panjang x 2  1 . Dari segitiga tersebut
diperoleh
tan(sec-1 x) = tan y = x 2  1
Jadi, (4.54) dapat disederhanakan menjadi
dy 1 1
= 1 1
 .
dx sec(sec x) tan(sec x) x x 2  1

x
x2 1

y = sec-1 x

Gambar 4.7.1

Bukti rumus-rumus yang lain mengikuti bukti di atas. Sebagai contoh


dy d  d 1
(cos-1 x) = (  sin 1 x) = – (sin 1 x) = –
dx dx 2 dx 1 x2
Detailnya untuk pembaca.

Rumus-Rumus Turunan yang Diperumum


Jika u fungsi dapat diturunkan dari x, maka dengan menerapkan atauran rantai
menghasilkan rumus-rumus turunan yang diperumum berikut ini :
379

d 1 du d 1 du
(a). (sin-1 u) = , (d). (cos-1 u) = –
dx 1  u 2 dx dx 1  u 2 dx
d 1 du d 1 du
(b). (tan-1 u) = , (e). (cot-1 u) = –
dx 1  u 2 dx dx 1  u 2 dx
d 1 du d 1 du
(c). (sec-1 u) = , (f). (csc-1 u) = –
dx u u  1 dx
2 dx u u  1 dx
2

Contoh: Dapatkan dy jika


dx
(1). y = sin-1 (x3) (2). y = sec-1 (ex)

Penyelesaian:
(1). Dari (a)
dy 1 3x 2
= (3x2) =
dx 1  (x3 )2 1 x6
(2). Dari (c)
dy 1 1
= (ex) =
dx e (e )  1
x x 2
e2x  1

Contoh: Jika roket yang ditunjukkan pada Gambar 4.7.2 naik tegak pada 880
m/det saat berada pada ketinggian 4000 m. berapa cepat perubahan sudut
elevasi kamera pada saat itu agar roket tetap dalam pandangan.

Roket

3000 ft

Gambar 4.7.2
380

Penyelesaian:

Dengan mendeferensialkan dua sisi persamaan


x
tan φ =
3000

terhadap waktu t, setelah itu diselesaikan untuk dφ/dt.

x
Dengan menyelesaikan di atas untuk φ diperoleh φ = tan-1 ( )
3000

sehingga
d 1 1 dx
= 2
.
dt  x  3000 dt
1  
 3000 

Diketahui bahwa dx/dt = 880 ketika x = 4000, sehingga diperoleh


d
x 4000 =
1
2
.
880
=
880
 0.11 radian/detik.
dt  4000  3000 625
1  
 3000 

Latihan 4.7

Untuk Soal 1 – 11 dapatkan dy/dx

1. (a). y = sin-1( 13 x) (b). y = cos-1 (2x + 1)


2. (a). y = tan-1 x2 (b). y = cot-1 ( x )
3. (a). y = sec-1 (x7) (b). y = csc-1 (ex)
1
4. (a). y = (tan x)-1 (b). y =
tan 1 x
1
5. (a). y = sin-1   (b). y = cos-1 (cos x)
 x
6. (a). y = ln(cos-1 x) (b). y = cot 1 x
381

7. (a). y = ex sec-1 x (b). y = x2(sin-1 x)3


8. (a). y = sin-1 x + cos-1 x (b). y = sec-1 x + csc-1 x
1 x 
9. (a). y = tan-1   (b). y = (1 + x csc-1 x)10
1 x 
10. (a). y = sin-1(e-3x) (b). y = tan-1(xe2x)
1 x
11. (a). y = tan-1 1  x (b). y = sin-1(x2 ln x)

Untuk Soal 12 dan 13 dapatkan dy/dx dengan diferensiasi implisit.

12. x3 + x tan-1 y = ey 13. sin-1(xy) = cos-1(x –


y)

4.8. TURUNAN FUNGSI LOGARITMIK DAN EKSPONSIAL

Pada Sub-bab ini dibahas mengenai turunan fungsi logaritmik dan eksponsial. Penjabaran pada
bagian ini tidak diberikan secara formal karena fungsi-fungsi tersebut akan diasumsikan sebagai
fungsi yang dapat diturunkan. Pemjabaran yang formal akan dibahas pada bagian akhir bab ini.

Peran Logaritma Natural dalam Kalkulus


Pada Sub-bab ini akan diperlihatkan logaritma dan pangkat dari
sudut pandang fungsi. Untuk b > 0, bx disebut fungsi eksponensial
berbasis b dan blog x disebut fungsi logaritma berbasis b. Dalam kasus
dimana b = e, ex disebut fungsi eksponensial natural dan ln x = elog x
disebut fungsi logaritma natural.
Fungsi logaritma natural mempunyai peran khusus dalam kalkulus.
Yang dapat memotivasi pedifferensialan f(x) = blog x, dimana b sembarang
basis. Maksud dari pembahasan pengantar, akan diasumsikan bahwa fungsi
b
log x dapat diturunkan, oleh karena itu kontinu untuk x > 0. Hal ini akan
dibuktikan pada akhir bab ini. Dari penggunaan definisi turunan diperoleh :
d b x lim b log( x  h) b log x
( log ) =
dx h 0 h
382

lim 1 b  x  h 
= log   Teorema 2.15 (d)
h 0 h  x 
lim 1 b  h 
= log 1  
h 0 h  x
h
lim 1 b
log 1  u 
Misal u = dan u → 0 untuk h → 0
= x
u 0 ux

1
tidak berubah terhadap u, sehingga
x
1 lim 1 b
log 1  u 
1
= dapat dikeluarkan dari limit
x u 0 u x

1 lim b
= log 1  u  1/u Teorema 2.15 (e)
x u 0
1  lim 
= blog  (1  u )1 / u  blog x kontinu, sehingga berlaku Teorema 3.13

x  u  0 
1 b
= log e Rumus 2.43 dari Sub-bab 2.2
x
Jadi,
d b 1
( log x) = blog e, x>0
dx x
Sehingga berdasarkan Teorema 2.16 bentuk di atas dapat ditulis kembali
sebagai (periksa)
d b 1
(1). ( log x) = , x>0
dx x ln b

Dalam kasus khusus dimana b = e, diperoleh ln b = ln e = 1, sehingga rumus ini


menjadi
d b 1
(2). ( log x) = , x>0
dx x

Jadi, antara semua pilihan yang mungkin untuk basis b, satu yang
menghasilkan rumus paling sederhana untuk blog x yaitu b = e. Ini salah satu
alasan yang paling penting, mengapa logaritma natural berperan khusus dalam
kalkulus.
383

Turunan yang Berkaitan dengan ln x


Jika u(x) > 0 dan fungsi u dapat diturunkan di x, maka generalisasi (1)
dan 2) merupakan akibat dari aturan berantai :
d b 1 du d b 1 du
( log u) = . dan ( ln u) = .
dx u ln b dx dx u dx

d
Contoh: Dapatkan (ln(x2 + 1))
dx

Penyelesaian:
Dari rumus generalisasi dengan u = x2 + 1 diperoleh
d 1 d 2 1 2x
(ln(x2 + 1))= 2 . (x + 1) = 2 . 2x = 2
dx x  1 dx x 1 x 1

Jika mungkin, sifat-sifat logaritma dan Teorema 2.15 akan digunakan


mengubah hasil kali, pembagian dan pangkat menjadi penjumlahan,
pengurangan dan perkalian konstanta sebelum pendefferensialan fungsi
didalamnya terdapat logaritma natural.

Contoh:
d   x 2 sin x  d  1 
ln   = 2 ln x  ln(sin x)  ln(1  x)
dx   1  x  
dx  2 
2 cos x 1
= + –
x sin x 2(1  x)
2 1
= + cot x –
x 2  2x

Contoh: Dapatkan
d
ln x 
dx

Penyelesaian:
384

Dipandang kasus x > 0 dan x < 0 secara terpisah. (Kasus tersebut adalah kasus
dimana x = 0 karena ln 0 tidak terdefinisi). Jika x > 0, maka x = x sehingga
d
ln x  = d ln x = 1
dx dx x
Jika x < 0 maka x = –x, sehingga dari (4) dengan u = –x,
d
ln x  = d ln( x) = 1 . d = 1
dx dx  x dx x x
Jadi,
d
ln x  = 1 , jika x ≠ 0
dx x

Contoh: Dari hasil contoh di atas dan aturan rantai, diperoleh


d
ln sin x  = 1 . d sin x  cos x  cot x
dx sin x dx sin x

Diferensiasi Logaritmik
Sekarang dibahas suatu cara yang penting yang disebut diferensiasi
logaritmik, yang dapat dipergunakan untuk mendapat turunan fungsi-fungsi
yang tersusun atas perkalian-perkalian, pembagian-pembagian dan pangkat-
pangkat.

Contoh: Turunan dari

x 2 3 7 x  14
y=
(1  x 2 ) 4
sulit dihitung secara langsung. Walaupun demikian, jika pertama diambil
logaritma natural dari kedua sisinya dan kemudian gunakan sifat-sifatnya,
maka dapat ditulis
1
ln y = 2ln x + ln(7x – 14) – 4 ln(1 + x2)
3
Turunkan kedua sisinya terhadap x, diperoleh
1 dy 2 7/3 8x
  
y dx x 7 x  14 1  x 2
385

Jadi, penyelesaian untuk dy/dx diperoleh


dy x 2 3 7 x  14  2 1 8x 
  
dx (1  x )  x 3x  6 1  x 2 
2 4 
Karena ln y didefinisikan hanya untuk y > 0, dideferensiasi logaritmik y = f(x)
berlaku hanya pada selang dimana f(x) positif. Jadi, turunan yang diperoleh
dalam contoh sebelumnya berlaku pada selang (2, +  ), sebab fungsi yang
diberikan positif untuk x > 0. Walaupun demikian, rumus tersebut sebenarnya
berlaku pada selang (  ,2 ). Ini dapat dilihat dengan mengambil nilai mutlak
sebelum dikerjakan dengan diferensiasi logaritmik dengan catatan, bahwa ln y
terdefinisi untuk semua y kecuali y = 0. Jika hal ini dikerjakan dan
penyederhanaan dengan menggunakan sifat-sifat logaritma dan nilai mutlak,
diperoleh
1
ln y = 2ln x + ln(7x – 14) – 4 ln(1 + x2)
3
turunkan kedua sisinya terhadap x diperoleh juga hasil yang sama dengan di
atas.
Secara umum, jika turunan y = f(x) diperoleh dengan diferensiasi
logaritmik, maka rumus yang sama untuk dy/dx akan diperoleh, tidak peduli
apakah langkah pertamanya mengambil nilai mutlak atau tidak. Jadi, rumus
turunan yang diperoleh dari diferensiasi logaritmik akan benar kecuali
mungkin dititik mana f(x) = 0. Dalam kenyataannya, suatu rumus mungkin
benar di titik-titik itu, tetapi tidak selalu dijamin.

Turunan Pangkat Irasional dari x


Pada Sub-bab 4.3, telah ditunjukkan bahwa rumus

dx
 
dy r
x  rx r 1
Berlaku untuk nilai-nilai rasional r. Dengan menggunakan diferensiasi
logaritmik, akan ditunjukkan bahwa rumus ini berlaku jika r sembarang
bilangan riil (rasional atau irasional). Dalam dalam perhitungan, akan
diasumsikan bahwa xr dapat didiferensialkan dan bahwa aturan standar dari
pangkat digunakan untuk semua pangkat riil; ini akan dibuktikan kebenarannya
kemudian.
Misalnya y = xr, dimana r bilangan rasional. Pengerjaan dengan diferensiasi
logaritmik diperoleh :
ln y = ln xr = r ln x
386

d
ln y  d r ln x
dx dx
1 dy r

y dx x
dy r r
 y  x r  rx r 1
dx x x
yang cocok dengan (r rasional) untuk nilai riil dari r.

d 
Contoh: [ x ]  x  1
dx

Turunan yang Berkaitan dengan bx


Tujuan berikutnya adalah mendapatkan suatu rumus turunan untuk
b (khususnya untuk ex). Untuk tujuan ini, akan diasumsikan bahwa bx dapat
x

diturunkan untuk semua x. Hal ini akan dibuktikan pada akhir bab ini.
Untuk memperoleh turunan dari bx, ambil y = bx dan digunakan diferensiasi
logaritmik:
ln y = ln bx = x ln b
1 dy
 ln b
y dx
dy
 y ln b  b x ln b
dx
Jadi
d x
dx
 
b  b x ln b
Dalam kasus khusus dimana b = e, diperoleh ln e = 1, sehingga menjadi
d x
dx
 
e  ex
Jika u fungsi x yang dapat diturunkan, maka selanjutnya diperoleh
d u
dx
 
b  b u ln b.
du
dx
dan
d u
dx
 
e  eu
du
dx

Contoh: Penting untuk membedakan antara pendiferensialan bx (pangkat


peubah) dan xb (basis peubah). Bandingkan untuk contoh, turunan dari x  yang
387

diperoleh dalam contoh sebelumnya dengan turunan berikut, yang diperoleh


dari rumus di atas.

dx
 
d x
   x ln 

Contoh: Perhitungan berikut menggunakan rumus-rumus di atas.

dx
2 
d sin x

 (2 sin x )(ln 2) sin x  (2 sin x )(ln 2)(cos x)
d
dx

dx
e  
d 2 x
 e 2 x  2 x  2e 2 x
d
dx
d x
dx
3
 
e  ex
3 d 3
dx
 
x  3x 2 e x
3

dx
e 
d cos x

 e cos x cos x  (sin x)e cos x
d
dx

Latihan 4.8

Untuk Soal 1 – 20, dapatkan dy/dx

1. y = ln 2x 2. y = ln(x3)
3. y = (ln x)2 4. y = ln(sin x)
5. y = ln tan x 6. y = ln(2 + x )
 x 
7. y = ln  2 
8. y= ln(ln x)
1 x 
9. y = ln x 3  7 x 2  3 10. y = x3 ln x
11. y = ln x 12. y = cos(ln x)
 5 
13. y = sin   14. y = 1 ln 2 x
 ln x 
15. y = x3 ln(3 – 2x) 
16. y = x ln( x 2  2 x) 
3


17. y = (x2 + 1) ln( x 2  1) 
2
18. y =
ln x
1  ln x
388

x2 1  cos x
19. y = 20. y = ln
1  ln x 1  cos x
20. Dapatkan dy/dx dengan diferensiasi implisit jika y + ln xy = 1
21. Dapatkan dy/dx dengan diferensiasi implisit jika y = ln(x tan y)

Untuk Soal 22 – 25, gunakan metode yang ditunjukkan dalam sebelumnya


untuk membantu mengerjakan diferensiasi yang sesuai.

d  cos x  d  x 1
22. ln  23. ln 
dx  4  3x 2  dx  x 1

24.
d
dx

ln( x 3 x  3 5 3x  2  25.
d   x 3 x  1 
ln  
dx   sin x sec x 

Untuk soal 26-29, dapatkan dy/dx dengan diferensasi logaritmik

26. y  x3 1 2 2
x 1
27. y  5
x 1
1

( x  8) x 3  1
2 3
28. y  x
x6  7x  5
sin x cos x tan 3
29. y  x
x
30. Dapatkan
d d
a). [log x e] b). [log x 2]
dx dx

Untuk soal 31-47, dapatkan dy/dx

31. y  e 7 x
389

32. y  e 5x
2

33. y  e
1
x

34. y  r 3 e x
35. y  sin(e x )
e x  ex
36. y 
e x  ex
ex
37. y 
in x
38. y  e x tan r
39. y  exp( 1  5 x3 )
40. y  e ( xe )
er

41. y  ln(cos e x )
42. y  ln(1  xe  x )
43. y  1  e x
44. y  e ax cos bx (a, b konstan)
a
45. y  (a, b, konstan)
1  be  x
46. y  e ln(x 1)
3

Untuk soal 48-51, dapatkan f’(x) dengan rumus turunan fungsi eksponen dan
kemudian dengan diferensiasi logaritmik

47. f ( x)  2 x
48. f ( x)  3 r
49. f ( x)   sin x
50. f ( x)   x tan x
51. (a). Terangkan mengapa rumus xr tidak dapat digunakan untuk
mendapatkan hasil (d/dx)[xx].
(b). Dapatkan turunan ini dengan diflerensiasi logaritmik.
52. Asumsikan bahwa u dan v fungsi yang dapat diturunkan terhadap x,
gunakan diferensiasi logaritmik untuk menurunkan rumus d(vv)/dx,
nyatakan dalam u, v, du/dx dan dv/dx. Apa yang dihasilkan rumus tersebut,
390

jika pangkat u konstan? Apa yang dihasilkan rumus tersebut, jika pangkat v
konstan?.
53. y  x sin x
54. y  ( x 3  2 x) ln x
55. y  ( x 2  3) ln x
56. y  (ln x) tan x
57. y  (1  x)
1
x

58. y  x ( e )
x

59. Tunjukkan bahwa y = e3x dan y = e-3x keduanya memenuhi persamaan y " -
9y = 0
60. Tunjukkan bahwa uintuk sebarang konstantan A dan B, fungsi y = Ae2x +
Be-4x memenuhi persamaan y " + 2y – 8y = 0.
61. Tunjukkan bahwa untuk sebarang konstanta dan A dan k, fungsi y = Aekt
memenuhi persamaan dy/dt = ky.
62. Misalkan f(x) = ekx dan g(x) = e-kx. Dapatkan:
a). f(n) b). g(n)(x)
63. Dapatkan dy/dt jika y = e-t(A sin t + B cos t) dimana A, B,  dan 
adalah konstanta-konstanta.
1  1  x   2 
64. Dapatkan f’(x) jika f(x) = exp  (   dimana  dan 
2  2    
adalah konstanta-konstanta dan   0.
65. Suatu Partikel bergerak sepanjang sumbu x sehingga koordinat x-nya pada
waktu t diberikan oleh x = aekt + be-kt. Tunjukkan bahwa percepatannya
sebanding dengan x.
66. Dapatkan jika f!(x) jika f(x) = xe.
67. Tunjukkan bahwa:
a. y = xe-x memenuhi persamaan xy! = (1-x) y)
b. y = xe-x 1/2 memenuhi persamaan xy! = (1-x2 y)
68. Konstanta equilibrium k dari kesetimbangan reaksi kimia berubah terhadap
temperatur mutlak T menurut huikum.
 q(T  t 0 ) 
k = k0 exp   
 2ToT 
dimana ko, q dan To adalah konstanta. Dapatkan laju perubahan k terhadap
T.
391

69. Dapatkan nilai minimum dari x2, x > 0.


70. Dapatkan nilai maksimum dari x1/x, x > 0.
71. Misalkan A menunjukkan luas di bawah kurva y = e-2 atas selang [0,b].
Nyatakan A sebagai fungsi dari b, dan kemudian dapatkan nilai b untuk A
1
= .
4
Berapakah nilai limit dari A untuk b  + ?|
72. Pada setiap bagian dapatkan limit yang ditentukan dengan
menginterpretasikan pernyataan tersebut sebagai turunan dan hitung nilai
turunannya.

4.9. TURUNAN FUNGSI HIPERBOLIK DAN INVERS HIPERBOLIK

Turunan Fungsi Hiperbolik


Rumus turunan untuk sinh x dan cosh x dengan mudah diperoleh dari
Defenisi 2.19. sebagai

Contoh:
d d  d x  e x  1  d x d x  d x  e x
[cosh x]      [ d ]  [e ]    sinh x
dx dx  2  2  dx dx  2
d
Dengan cara serupa, [sinh x]  cosh x
dx
Turunan dari fungsi hiperbolik yang lain dapat diperoleh pertama-tama dengan
menyatakannya dalam bentuk sinh dan cosh sebagai contoh:
de d
cosh x [sinh x]  sinh x [cosh x]
d d  sinh x  dx dx
[tan x]    
dx dx  cosh x  cosh x2

cosh 2 x  sinh 2 1
 2
 2
 sec h 2 x
cosh x cosh x

Penurunan dari rumus-rumus diferensiasi untuk fungsi hiperbolik yang lain


sebagai latihan. Untuk referensi diberikan ringkasan rumus turunan.
392

d du d du
[sinh u ]  cosh u , [coth u ]   sec h 2u
dx dx dx dx

d du d du
[cosh u ]  sinh u , [sec hu]   sec hu tanh u
dx dx dx dx

d du d du
[tanh u ]  sec hu 2u , [c sec hu ]   csc hu coth u
dx dx dx dx

Catatan. Kecuali pada berbedaan pola tanda, rumus analog ini terhadap rumus
untuk turunan fungsi trigonometri.

Contoh:
d d 3
[cosh( x 3 )]  sinh( x 3 ). [ x ]  3x 3 sinh( x 3 )
dx dx

d 1 d sec h 2 x
[ln(tanh x]  . [tanh x] 
dx tan x dx tanh x

Turunan Fungsi Invers Hiperbolik


Rumus-rumus turunan untuk fungsi invers hiperbolik dapat diperoleh
dengan menurunkan logaritmik fungsi-fungsi invers hiperbolik (lihat di Bab 2).
Sebagai contoh

d
dx
[sinh 1 x] 
d
dx

ln( x  x 2  1)  
1
x  x 21

1 

x 


x 1 

2

x2 1 x
=
( x  x 2  1) ( x 2  1)

Rumus turunan yang lain diberikan dalam teorema berikut ini sedangkan
cara memperolehnya silakan untuk latihan soal:
393

TEOREMA 4.16
d 1 d 1
[sinh 1 x]  ; [cosh 1 x]  (x  1)
dx 1 x2 dx x 2 1
d 1 d 1
[tanh 1 x]  (| x |  1) ; [coth 1 x]  (| x |  1)
dx 1 x2 dx 1 x2
d 1
[sec h 1 x]   (0  x  1)
dx x 1 x2
d 1
[cos ech 1 x]   (x  0)
dx | x | 1 x2

Latihan 4.9

1. Dalam setiap soal berikut, suatu nilai untuk suatu fungsi hiperbolik
diberikan di titik xo.
2. Dapatkan nilai lima fungsi hiperbilik yang lain di xo.
5
a). sinh x0 = -2 b). cosh x0 = , x0 < 0.
4
4
c). tanhy x0 = 
5
15
d). coth x0 = 2 e). sech x0 = , x0 > 0.
17
f). csch x0 = -1

Untuk soal 2-14 buktikan kesamaan yang diberikan

3. cosh (x + y) cosh x cosh y + sinh x sinh y


4. cosh 2x = 2 sinh2x + 1.
5. cosh 2x = 2 cosh2x – 1.
6. cosh (– x) = cosh x.
7. sinh (- x) = - sinh x.
394

tanh x  tanh y
8. tanh (x + y) =
1  tanh x tanh y
tanh x  tanh y
9. tanh(x – y) =
1  tanh x tanh y
2 tanh x
10. tanah 2x =
1  tanh 2 x
1
11. cosh ½x = (cosh x  1)
2
1
12. sinh ½x = ± (cosh x  1)
2
x y x y
13. sinh x + sinh y = 2 sinh   cosh 
 2   2 
x y x y
14. cosh x + cosh y = 2 sinh   cosh 
 2   2 
15. cosh 3x = 4 cosh3x – 3 cosh x
16. Turunkan rumus turunan untuk:
a). sinh x b). coth x c). sech x d). csch x

dy
Untuk soal 17-26 dapatkan
dx

17. y = cosh (x4)


18. y = sinh (4x – 8)
19. y = ln(tanh 2x)
20. y = coth(ln x)
21. y = sech (e2x)
22. y = csch ((½)x)
23. y = sinh3 (2x)
24. y = 4 x  cosh 2 (5x)
25. y = sinh (cos 3x)
26. y = x3 tanh2( x )
27. (a). Buktikan: cosh-1x= ln ( x  x 2  1), x  1
(b). Gunakan hasil dari (a) untuk mendapatkan turunan dari cosh-1x
395

1 x
28. (a). Buktikan: tanh-1x = ½ ln ,1  x  1.
1 x
(b). Gunakan hasil dari (a) untuk mendapatkan turunan dari tanh-1x.
29. Buktikan:
sinh-1x = cosh-1(1/x), 0 < x  1.
-1 -1
coth x = tanh (1/x), |x| > 1.
cosh-1x = sinh-1(1/x), x  0.

4.10. MENGHITUNG TURUNAN FUNGSI MENGGUNAKAN MAPLE


Pada bagian akhir dari bab 4 akan diberikan sedikit pengantar
bagaimana menghitung turunan fungsi satu variabel dengan memanfaatkan
kemampuan software Maple. Maple memiliki kemampuan menampilkan hasil
perhitungan turunan fungsi satu variabel termasuk sampai dengan n variabel.
Perintah maple untuk menghitung turunan fungsi satu variabel sebagai berikut:

diff(a, x)
Diff(a, x)
Keterangan:
a = ekspresi aljabar suatu fungsi
x = variabel, diturunkan terhadap variabel x.

Maple adalah program matematika yang sensitif terhadap huruf, perintah yang
sama tetapi diawali dengan hurup besar dan kecil dipandang sebagai perintah
yang berbeda. Seperti perintah diff(a, x) akan menampilkan hasil perhitungan
dari turuanan fungsi a terhadap variabel x, sedangkan Diff(a,x) akan
d
menampilkan a.
dx

Contoh:
diff(sin(x),x), hasilnya cos(x)
diff(sin(x),y, hasilnya 0
d
Diff(tan(x),x), hasilnya tan(x)
dx
396

Menghitung Turunan Tingkat Tinggi Menggunakan Maple

Maple juga dapat menghitung turunan tingkat tinggi dari fungsi satu variabel,
dengan perintah:

diff(a, x,$n)

akan menampilkan hasil perhitungan dari turuanan ke-n dari fungsi a terhadap
dn
variabel x, sedangkan Diff(a,x$n) akan menampilkan a . Perintah lain juga
dx n
dapat diberikan seperti diff(a,x,x,x) akan menampilkan hasil perhitungan dari
turuanan ke-3 dari fungsi a terhadap variabel x, sedangkan Diff(a,x,x,x) akan
d3
menampilkan a.
dx 3

Contoh:
restart:
f:=cos(x2);
Diff(f,x$2)=diff(f,x$2);
d2
Hasilnya adalah 2
cos( x 2 )  4 cos( x 2 ) x 2  2 sin( x 2 )
dx

Menghitung Turunan Fungsi Implisit Menggunakan Maple

Maple juga dapat menghitung turunan fungsi implisit satu variabel, dengan
perintah:

implicitdiff(f, y, x)

akan menampilkan hasil perhitungan dari turuanan dari fungsi implisit f(y,x)
terhadap variabel bebas x dan y sebagai variabel tak bebasnya. Turunan tingkat
tinggi dari fungsi implisit juga dapat dihitung dengan menggunakan perintah
Maple. Perhatikan contoh berikut:
397

Contoh:

restart:
implicitdiff(x2 + y2 =10,x)=diff(x2 + y2 =10,y,x);
d 2 x
Hasilnya adalah ( x  y 2  10)  
dx y
restart:
implicitdiff(x2 + y2 =10,x$2)=diff(x2 + y2 =10,y,x$2);
d2 2 x2  y2
Hasilnya adalah ( x  y 2
 10)  
dx 2 y3

LATIHAN KOMPREHENSIF BAB 4

Sebagian besar dari soal-soal berikut memerlukan kalkulator grafik atau computer algebra
system (CAS), seperti mathematica, maple, atau derive. Jika anda ditanya untuk mencari
jawaban atau untuk menyelesaikan suatu persamaan, anda diperbolehkan memilih mencari hasil
eksak atau hampir numerik, bergantung pada teknologi khusus yang sedang anda gunakan dan
imajinasi anda sendiri. Bentuk jawaban anda bisa berbeda dari mahasiswa yang lain atau dari
jabawan dalam buku ini, bergantung pada bagaimana anda menyelesaikan suatu persoalan dan
ketepatan yang anda gunakan dalam hampir numerik.

Kemiringan garis singgung. Untuk soal 1 – 4, perbesarlah grafik dari f pada


selang yang memuat x = x0, sampai gambar terlihat seperti garis lurus.
Taksirlah kemiringan dari garis ini dan kemudian periksalah jawaban anda
dengan mencari nilai eksak dari f! (x0).

1. f(x) = x2 – 1, xo = 1,8.
3 2
2. f(x) = x – x + 1, xo = 2,3
x2
3. f(x) = , xo = 3,5
x2
398

x2
4. f(x) = , xo = –0 ,5
x2 1

Turunan dari definisi: Untuk soal 5-8, gunakan pembagian selisih [f(2 + h) –
f(2)/h dengan nilai h cukup kecil untuk menghampiri f!(2). Jika anda
menggunakan CAS (Maple), maka perhatikan CAS (Maple) tersebut dapat
memperoleh limit eksak dari pembagian selisih tersebut untuk h  0.

5. f(x) = 2x
6. f(x) = 3x
7. f(x) = xx
8. f(x) = xsinx
9. Kecepatan rata-rata dan kecepatan sesaat: pada waktu t = 0, suatu mobil
bergerak menuju jalan raya untuk mendahului suatu truk yang bergerak
lembat. Kecepatan rata-rata mobil dari t = 1 ke t = 1 + h adalah
3(h  1) 2,5  580h  3
vratarata 
10h
10. Terjun bebas. Seorang penerjun melompat dari suatu pesawat terbang.
Misalkan jarak dia terjun selama periode sebelum parasutnya terbuka
adalah s(t) = 986((0,835)t – 1) + 176t, dengan s dalam meter dan t dalam
detik.
(a). Dapatkan kecepatan rata-rata penerjun pada selang [5, 5,01] dan (4,99
.5].
(b). Dapatkan kecepatan sesaat penerjun pada t = 5.
(c). Gambarlah grafik s terhadap t untuk 0 t  20.
11. Garis singgung datar. Dapatkan semua nilai x dimana garis singgung pada
grafik y = x3 – sin x datar.
12. Nondiferensiabilitas: Gambarkan grafik fungsi f(x) = |x4 – x – 1| - x dan
dapatkan nilai-nilai x dimana turunan dari fungsi ini tidak ada.
13. Turunan berdasarkan definisi: gunakan CAS untuk mendapatkan turunan f
dari defenisi:
f ( x  h)  f ( x )
f ' ( x)  lim
h 0 h
Dan periksa hasil dari perhitungan dengan tangan.
a). f(x) = x5 b). f(x) = 1/x c). f(x) = 1 x
399

2x 1
d). f(x) = e). f(x) = 3x 2  5 f). f(x) = sin 3x
x 1

Turunan dengan komputer: untuk soal 13 CAS (Maple) telah digunakan untuk
mendapatkan turunan dari definisi f’(x). CAS (Maple) dapat juga memperoleh
turunan dari berbagai fungsi secara langsung. Untuk soal 14-19.
(a). Gunakan CAS (Maple) untuk mendapatkan f!(x)
(b). Periksalah hasil pada bagian (a) dengan f!(x) yang dihitung dengan tangan.
(c). Gunakan CAS (Maple) untuk mendapatkan f!!(x).

14. f(x) = x2 sin x


15. f(x) = x  cos 2 x
2x2  x  5
16. f(x) =
3x  2
tan x
17. f(x) =
1  x2
1
18. f(x) = sin x
x
x 4  3x  2
19. f(x) =
x(2  cos x)

UJI TELAAH ULANG KONSEP

Soal-soal telaah ulang konsep didesain untuk mengukur tingkat berfikir mahasiswa dari aspek
kognitif dan disajikan secara komprehensif diakhir bab. Mahasiswa sangat dianjurkan untuk
menjawab soal-soal telaah ulang konsep secara cepat dan benar sebagai alat untuk
mengetahui bahwa mahasiswa telah mengerti konsep-konsep pada bab ini sampai pada
tingkat C6 dari aspek cognitifnya.

1. Kemiringan mtan dari garis singgung kurva y = f(x) (di (c, f(c)) diberikan
oleh mtan  lim …………………………………………………..
h 0
400

2. Turunan f diberikan oleh f’(c) = lim ................................serupa dengan


h 0

itu f(c) = lim …………………………………


tc
3. Jika f terdefenisiasikan di c, maka f adalah .................................di c.
Konversnya salah, seperti yang diperlihatkan oleh contoh f(x )=
.....................................................
2 (c  h) 2  2c 2
4. lim adalah turunan f(x) = ...................di x
h 0 h
.......................................
5. Tentukan hasil kali dari fungsi adalah fungsi pertama dikalikan
...............................
ditambah...............................dikalikan turunan fungsi pertama. Dalam
lambang Dx[f(x) g(x)] = ............................................................
6. L disebut suatu operator linear jika L(kf) =................................... dan
L(f+g)= ..........................Operator turunan yang dinyatakan
oleh..............................adalah operator yang demikian.
7. Jika y = f(u), dimana Dt y  Du y ....................Dalam notasi fungsi,
( f  g )' (t ) = ................................
8. Jika w =G(v), dengan v =H(x), maka Dx w  ........................... Dx v .
9. Dx cos[( f ( x)) 2 ] = -sin(……….) . D x ( ………………. )
10. Jika y  (2 x 1) 2 sin( x 2 ) , maka Dx y  (2 x  1) 2 …………..  sin( x 2 ) ….
11. Andaikan y =f(u), dengan u = g(x). Dalam notasi Leibniz, Aturan Rantai
dy
mengatakan bahwa = .......................................
dx
12. Andaikan w  f (t ) , dengan t  g (s ) dan dengan s  h (r ) , dalam
notasi Leibniz, Aturan rantai diterapkan dua kali menghasilkan
dw
 ……………………………
dr
13. Diferensiasi implisit dari y 3  x 3  2 x terhadap x menghasilkan
................................+ 3x 2  2
14. Diferensiasi implisit dari xy 2  y 3  y  x 3 terhadap x memberikan
……………………= ………………………………
15. Aturan Pangkat dengan pangkat rasional mengatakan bahwa
Dx ( x p / q )  ……………………………..Aturan ini, bersama dengan
401

aturan rantai, mengimplikasikan bahwa Dx [( x 2  5x) 5 / 3 ] =


........................................................

KUNCI JAWABAN UJI TELAAH ULANG KONSEP

f ( x  c)  f ( x)
1. lim
h 0 h
f (c  h)  f (c ) f (t )  f (c)
2. lim ; lim
h 0 h t c t c
3. Kontinu;|x|
4. f(x )= 2x2; c
5. Turunan fungsi ke dua; fungsi kedua
6. k L(f); L(f) + L(g); Dx
7. Du y.Dt u ; f ' ( g (t ))..g ' (t )
8. Dv w.Dx v
9. ( f ( x)) 2 ; ( f ( x)) 2
10. 2 x cos( x 2 ); 4(2 x  1)
dy du
11. .
du dx
dw dt ds
12. . .
dt ds dr
dy
13. 3 y 2  3x 2  2
dx
dy dy dy
14. y 2  2 xy  2y2   3x 2  3x 2
dx dx dx
p 2
p q 1 5 2
15. x ; ( x  5 x) 3 (2 x  5)
q 3
402

UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT

Cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban tes telaah ulang


konsep yang terdapat di akhir Bab ini. Hitunglah banyaknya jawaban Anda
yang benar, kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat
penguasaan Anda terhadap materi kegiatan belajar Bab 4.

BanyaknyaSoal Dijawab dengan Benar


Tingkat Penguasaan  x 100%
15

Arti tingkat penguasaan yang Anda capai:

90 % - 100 % = Baik sekali


80 % - 89 % = baik
70 % - 79 % = cukup
≤ 69 % = kurang

Kalau tingkat penguasaan Anda mencapai 80 % ke atas, Anda dapat


meneruskan ke Bab 5. Akan tetapi, bila tingkat penguasaan Anda masih di
bawah 80 %, Anda perlu mengulangi lagi kegiatan belajar Bab 4, terutama
bagian yang belum Anda kuasai.

Daftar Pustaka
[1]. H. Anton, Calculus, A New Horizon, 6th edition, Jhon Wiley & Sons,
Inc., New York, 1999.
[2]. R. L. Finney, M. D. Weir, F. R. Giordano, Thomas’ Calculus, 10th
edition, Addison Wesley Longman, New York, 2001.
[3]. M. D. Greenberg, Advanced Engineering Mathematics, 2rh edition,
Prentice Hall, New Jersey, 1998.
[4]. E. Kreyszig, Advanced Engineering Mathematics, 6th edition, Jhon Wiley
& Sons, Inc., Singapore, 1988.
403

[5]. A. Marjuni, Media Pembelajaran Matematika dengan Maplet, edisi


pertama, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2007.
[6]. J. E. Purcell, S. E. Rigdon, D. Varberg, Calculus, 9th edition, Prentice
Hall, New Jersey, 2009.
[7]. Tim Dosen Jurusan Matematika ITS, Kalkulus 1, Edisi 3, Jurusan
Matematika FMIPA ITS, Surabaya, 2002.
BAB

5
Kata Kunci
Penerapan Turunan

Asimtot Datar
Asimtot Tegak
Cekung ke Atas
Cekung ke Bawah
Maksimum Lokal
Maksimum Global
Minimum Lokal
Minimum Global
Eksktrim
Teorema Nilai Rata-Rata Sumber:
Teorema Role http://www.maths.usyd.edu.au/
Titik Belok res/AppMaths.html
Titik Kritis
Turunan
Selang Naik
Selang Turun
Stasioner
Singular
Optimasi
Uji Turunan
405

PETUNJUK

[1]. Sebelum Anda mempelajari Bab ini lebih lanjut, diharapkan lebih
dahulu menelaah standar kompetensi dan kompetensi dasar serta
kerangka isi (epitomi) Bab 5. Setelah itu, pelajarilah uraian pembahasan
buku ini dengan baik dan sungguh-sungguh sehingga Anda dapat
memahami isinya

[2]. Untuk memudahkan Anda menelaah isi uraian pada Bab ini dan sebagai
kontrol belajar, harap diperhatikan uraian yang tercetak tebal, miring,
tebal dan miring sebagai pengertian penting. Kemudian bacalah uraian
pembahasan secara keseluruhan dan baca berulang-ulang sesuai
kebutuhan sehingga Anda dapat memahami isinya.

[3]. Pada setiap sub pokok bahasan terdapat contoh soal dan latihan,
pahamilah contoh soal tersebut, kemudian kerjakan latihan yang ada.
Setelah Anda mengerjakan latihan per sub bab tersebut kemudian pada
bagian akhir bab terdapat latihan telaah ulang konsep, cocokkan
jawaban Anda dengan kunci jawaban latihan telaah ulang konsep yang
disediakan pada akhir bab bahan ajar ini. Bila Anda mencapai tingkat
penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan materi dalam
Kalkulus 2. Tetapi bila tingkat penguasaan Anda kurang dari 80% maka
Anda harus mempelajari kembali Bab ini dengan penekanan pada
bagian yang belum Anda kuasai.

[4]. Setelah Anda mempelajari isi Bab 5 sampai selesai, Anda diharapkan
memiliki kemampuan yang dikemukakan dalam Indikator (I)
406

STANDAR KOMPETENSI (SK)

5. Mahasiswa mampu menerapkan konsep turunan pada masalah laju


terkait, maksimum/minimum dan membuat grafik fungsi serta
penerapannya dalam bidang terkait lainnya dengan penyelesaian
baik secara prosedural maupun komputasi menggunakan Maple.
(SK 5)

KOMPETENSI DASAR (KD) INDIKATOR (I)

1. Mahasiswa mahir menentukan


5.1. Mahasiswa mahir mengidentifikasi
selang naik dan selang turun
selang naik dan selang turun
menggunakan turunan serta
menggunakan turunan serta mampu
mampu mengaplikasikannya
mengaplikasikannya dalam masalah
dalam masalah laju yang
laju yang berkaitan. (KD 5.1)
berkaitan.

2. Mahasiswa mampu
menentukan ekstrim relatif
5.2. Mahasiswa mahir mengidentifikasi
fungsi menggunakan uji
ekstrim relatif fungsi menggunakan
turunan pertama dan kedua
uji turunan pertama dan kedua serta
serta mampu
mampu mengaplikasikannya dalam
mengaplikasikannya dalam
menggambar grafik fungsi polinom,
menggambar grafik fungsi
rasional dan fungsi lainnya. (KD 5.2)
polinom, rasional dan fungsi
lainnya.

3. Mahasiswa dapat menentukan


5.3. Mahasiswa mahir menentukan nilai penyelesaian
maksimum/minimum fungsi maksimum/minimum fungsi
menggunakan konsep turunan dan menggunakan konsep turunan
mampu mengaplikasikannya pada dan mampu
masalah maksimum/minimum lainnya mengaplikasikannya pada
melalui penyelesaian secara masalah maksimum/minimum
prosedural maupun komputasi dengan lainnya melalui penyelesaian
Maple. (KD 5.3) secara prosedural maupun
komputasi dengan Maple.
407

5.4. Mahasiswa mahir membuktikan 4. Mahasiswa dapat


Teorema Rolle dan Teorema Nilai membuktikan Teorema Rolle
Tengah menggunakan konsep dan Teorema Nilai Tengah
turunan. (KD 5.4) menggunakan konsep turunan.
408

EPITOMI BAB 5

STANDAR KOMPETENSI (SK)

Mahasiswa mampu menerapkan konsep turunan pada masalah laju terkait, maksimum/minimum dan grafik fungsi serta penerapannya
dalam bidang terkait lainnya dengan menyelesaiakannya secara prosedural maupun komputasi dengan Maple. (SK 1)

KOMPETENSI DASAR (KD)

Mahasiswa mahir menentukan


Mahasiswa mahir mengidentifikasi nilai maksimum/minimum fungsi
Mahasiswa mahir mengidentifikasi
ekstrim relatif fungsi menggunakan menggunakan konsep turunan dan
selang naik dan selang turun Mahasiswa mahir membuktikan
uji turunan pertama dan kedua serta mampu mengaplikasikannya pada
menggunakan turunan serta mampu Teorema Rolle dan Teorema Nilai
mampu mengaplikasikannya dalam masalah maksimum/minimum
mengaplikasikannya dalam masalah Tengah menggunakan konsep
menggambar grafik fungsi polinom, lainnya melalui penyelesaian
laju yang berkaitan. turunan. (KD 5.4)
rasional dan fungsi lainnya. (KD secara prosedural maupun
(KD 5.1)
5.2) komputasi dengan Maple. (KD
5.3)

Pokok dan sub Pokok Bahasan Pokok dan sub Pokok Bahasan Pokok dan sub Pokok Bahasan Pokok dan sub Pokok Bahasan
5.6. Nilai Maksimum dan Nilai
5.3. Ekstrim Relatif; Uji Turunan
Minimum Fungsi
Pertama dan Kedua
5.7. Aplikasi Masalah Maksimum
5.1. Laju yang Berkaitan 5.4. Grafik Polinominal dan Fungsi 5.9. Teorema Rolle dan
dan Minimum
5.2. Selang Naik dan Selang Turun Rasional Teorema Nilai Tengah
5.8. Menghitung Nilai Ekstrim
5.5. Masalah Grafik yang Lain
Suatu Fungsi dengan
Menggunakan Maple
409

Pada bab ini dipelajari masalah laju-laju yang berkaitan, yaitu akan ditentukan laju besaran
tertentu yang berhubungan dengan besaran lain dan laju perubahannya diketahui.

5.1. LAJU-LAJU YANG BERKAITAN

Di bawah ini diberikan beberapa contoh aplikasi turunan, yaitu masalah


laju-laju yang berkaitan.

Contoh: Diasumsikan bahwa tumpahan minyak bumi di laut yang berasal dari
tanker pecah menyebar dalam bentuk lingkaran dengan jari-jarinya bertambah
dengan laju konstan 2 m/det. Seberapa cepatkan luas daerah tumpahan
bertambah jika jari-jari pancaran 60 m?

Penyelesaian: Misalkan,
t = waktu (dalam detik) yang diperlukan untuk menumpahkan minyak
r = jari-jari (dalam detik) tumpahan minyak setelah t detik
A = luas daerah tumapahan (dalam meter persegi) setelah t detik.

Jika dr/dt menyatakan laju pertambahan jari-jari terhadap waktu dan dA/dt
menyatakan laju pertambahan luas daerah terhadape waktu, maka dicari:

dA dr
jika diberikan  2 m/det
dt r 60 dt

Rumus luas lingkaran diberikan oleh A = r2.

Bila A dan r adalah fungsi dari t, maka kedua sisi dapat diturunkan terhadap t
untuk memperoleh:

dA dr
 2r
dt dt

Jadi jika r = 60 daerah tumpahan bertambah dengan laju


dA
 2 (60)(2)  240π m 2 /det atau hampiran 754 m2/detik.
dt r 60
410

Teknik untuk menyelesaikan berbagai masalah-masalah yang berkaitan dengan


laju, metode ini terdiri dari 5 langkah, yaitu:

Langkah – 1 :
Lukis suatu gambar dan beri label besaran yang berubah.
Langkah – 2 :
Identifikasi laju-laju yang perubahannya diketahui dan laju perubahan yang
akan dicari.
Langkah – 3 :
Tentukan persamaan yang mengaitkan kuantitas yang laju perubahannya dicari
dengan kuantitas yang laju perubahannya diketahui.
Langkah – 4 :
Turunkan kedua sisi persamaan itu terhadap waktu dan selesaikan terunan yang
akan memberi laju perubahan yang tidak diketahui.
Langkah – 5 :
Evaluasi turunan dititik yang bersesuaian.

Contoh: Suatu tangga panjangnya 5 meter bersandar pada dinding tergelincir


sedemikian hingga bagian bawahnya bergerak menjauhi dinding dengan laju 2
meter/det ketika bagian bawah berjarak 4 meter dari dinding. Berapa cepat
tangga bagian bagian atas turun ke bawah.

Penyelesaian: Misalkan
t = waktu (dalam detik) yang diperlukan setelah tangga mulai
tergelincir
x = jarak (dalam meter) bagian bawah tangga ke dinding
y = jarak (dalam meter) bagian atas tangga ke lantai
dx
Setiap saat laju bawah tangga adalah sedangkan laju bagian atas
dt
dy dy dx
akan dicari . Jika diberikan = 2 m/det, maka berdasarkan
dt dt x  4 dt x  4
Teorema Pythagoras x2 + y2 =25.

Pengunaan aturan berantai ntuk menurunkan kedua sisi persamaan terhadap t


menghasilkan
dx dy dy x dx
2x + 2y = 0 atau =-
dt dt dt y dt
411

Tanda negative menunjukan bahwa y berkurang. Yang secara fisik berarti


dy 4 8
tangga pada dinding bergerak kebawah. Jadi    2   m / det
dt x 4 3 3

Contoh: Sebuah roket meluncur tegak lurus dengan kecepatan 880 m/detik,
ketika mencapai ketinggian 4000 m berapa kecepatan perubahan sudut elevasi
kamera agar roket tetap berada pada jangkauan pandang jika jarak pengamatan
ke titik peluncuran roket sejauh 3000 m?.

Penyelesaian: Andaikan
t = waktu (dalam detik) yang di perlukan setelah peluncuran
 = sudut elevasi kamera (dalam radian) setelah t detik
X = ketinggian roket (dalam m) setelah t detik

d
Jika menyatakan laju perubahan sudut elevasi kamera terhadap waktu, dan
dt
dx/dt menyatakan laju roket yang meluncur naik, maka akan di cari
d dx
, jika di berikan = 880 m/det
dt x  4000 dt x  4000

Diketahui bahwa
x
Tan  =
3000
Karena  dan x fungsi t, maka penurunan kedua sisi terhadap t menghasilkan
d 1 dx d 1 dx
(sec2  ) = atau =
dt 3000 dt dt 3000 sec  dt
2

Jika x = 4000 maka


5000 5
Sec  = =
3000 3
Sedemikian hingga diperoleh
d 1 66
= 2
880 =  0,11 rad / det
dt x  4000 5 625
3000 
3

Jika laju perubahan dihitung dalam derajat per detik, perhitungannya seperti
berikut :
412

d 66 radian 180 derajat


= .  6, 05 derajat/det.
dt x  4000 625 det  radian

Contoh: Suatu cairan pembersih sediment di tuangkan melalui filter berbentuk


kerucut. Diasumsikan ketinggian kerucut 16 cm dan jari-jari dasar kerucut 4
cm. Jika cairan mengalir keluar dari kerucut dengan laju - 2 cm3/menit, ketika
ketinggian 8 cm seberapa cepatkah kedalaman cairan berubah saat itu?

Penyelesaian: Andaikan

t = waktu (dalam detik) yang diperlukan setelah penuangan caira


V= volume cairan (dalam cm3) dalam kerucut
y = kedalaman cairan (dalam cm) dalam kerucut pada saat t
x = jari-jari (dalam cm) permukaan cairan pada saat t

Jika dV/dt merupakan laju perubahan volume cairan dan dy/dt adalah laju
perubahan kedalaman maka akan dicari

dy dV
. Diketahui = - 2 cm3/menit
dt y 8 dt y 8
(tanda minus digunakan karena V berkurang jika t bertambah).

Dari rumus volume kerucut,volume V, jari-jari x dan kedalaman/tinggi y


diberikan oleh:
1
V =  x2 y
3
Jika kedua sisi diturunkan terhadap t, sisi kanan melibatkan besaran dx/dt.
Karena tidak ada informasi langsung tentang dx/dt, x maka perlu dieliminasi
dari persamaan volume ersebut sebelum penurunan. Hal ini dapat dikerjakan
dengan persamaan segitiga. Dengan demikian,
x 4 1
 atau x = y
y 16 4
413


Substitusi ekspresi ini ke persamaan volume kerucut diperoleh V = y 3.
48
dV   dy 
Penurunan kedua sisi terhadap t diperoleh   3 y2  atau
dt 48  dt 
dy 16 dV
 . Subtitusi y = 8 dan dv/dt = - 2 ke dalam persamaan diperoleh
dt y 2 dt
dy

16
 2   1  0,16 cm / menit
dt y 8  8 2
2
Jadi ketika y = 8 cm, kedalaman berkurang dengan laju kira-kira 0,16
cm/menit. (Tanda minus mempunyai arti y berkurang jika t bertambah).

Latihan 5.1

1. Misalkan A luas suatu bujursangkar yang sisi-sisinya x dan asumsikan x


merupakan fungsi waktu.
a). Bagaimana hubungan d A/dt dan dx/dt?
b). Pada keadaan tertentu sisi-sisinya 3 cm dan bertanbah dengan laju 2 m/
menit.Seberapa cepatlah luas bertambah pada saat itu?
2. Misalkan A luas lingkaran dengan jari-jari r dan asumsikan r fungsi dari
waktu.
a). Bagaimana hubungan d A/dt dan dr/dt?
b). Jika jari-jari 5 cm dan bertambah dengan laju 2 cm/det.Berapa cepat
luas bertambah pada saat itu.
3. Suatu pesawat terbang mendatar pada ketinggian konstan 4000 kaki diatas
titik observasi. Pada suatu saat sudut elevasi  adalah 300 dan makin lama
makin berkurang, sedangkan kecepatan pesawat 300 mil/jam.
a). Berapa cepat  berkurang pada saat itu ? Nyatakan hasilnya dalam
satuan detik /detik.
b). Berapa cepat jarak antara pesawat dan titik observasi berubah pada saat
itu?, Nyatakan hasilnya dalam satuan kaki/detik. Gunakan 1 mil =
5280 kaki
4. Suatu tangki air berbentuk kerucut dengan jari-jari alasnya 10 m dan tinggi
kerucut 24 m. Jika air mengalir ke dalam tangki dengan laju 20 m3 /
menit.Berapa cepat kedalaman air bertambah jika air 16 cm?
5. Menuangkan biji-bijian dari luncuran denan laju 8 m3/menit membentuk
suatu tumpukan berbentuk kerucut dengan ketinggian selalu dua kali jari-
414

jarinya.Berapa cepat ketinggian tumbukan bertmbah pada saat itu,jika


ketinggian tumbukan 6 m?
6. Menuangkan pasir dari suatu luncuran akan membentuk suatu tumbukan
berupa kerucut dengan ketinggian selalu sama dengan diameter. Jka
ketinggian bertambah dengan konsrtan 5 m/menit,dengan laju berapa pasir
dituangkan dari peluncuran jika ketinggian tumbukan 10 m?
7. Tepung dituangkan melalui luncuran dengan laju 10 mt3 / menit dan jatuh
membentuk tuimbukan berupa kerucut,dengan jari-jari alasnya selalu sama
dengan setengah tinggi kerucut.Berapa cepat linkaran alas kerucut
bertambah jika ketinggian tumbukan 8 m.?
8. Suatu pesawat naik dengan sudut 300 mendatar.Berapa cepat ketinggian
pesawat naik jika kecepatannya 500 mil/jam?
9. Suatu perahu ditarik ked ok dengan tali yang digantungkan pada kerekan
di dok. Tali digantungkan pada haluan perahu di titik 10 cm di bawah
kerekan. Jika tali ditarik melalui kerekan denan laju 20m/menit,dengan
laju berapa perahu mendekati dok jika tali yang keluar 125m?
10. Untuk perahu pada soal 26,berapa cepat tali ditarik jika dibandingkan
perahu mendekati dok dengan laju 12 m/menit p-ada saat itu jika tali yang
keluar 125 m?
11. Seorang laki-laki tingginya 6m berjalan dengan laju 3 m/det menuju lampu
jalan dengan ketinggian 18 m
a). Berapa laju panjang bayangan bergerak?
b). Berapa cepat ujung bayangannya bergerak?
12. Suatu mercu-suar membuat suatu putaran setiap 10 detik,diletkkan pada
kapal yang jangkaunnya 4 km dari garis pantai lurus. Berapa cepat gerakan
sorotan sepanjang garis pantai jika sudutnya dengan garis pantai 450.
13. Suatau pesawat terbang ketinggian konstan dengan ecepatan 600 mil/jam.
Suatu peluru kendali penangkis pesawat udara ditembakkanpada garis
lurus yang tegak lurus linsan pesawat, sehingga akan menghancurkan
pasawat dititik p. dan peluru terletak 4 mil dari p terbang dengan
kecepatan 1200 mil/jam. Pada saat itu berapa cepat jarak antara pesawat
dan peluru kendali?
14. Selesaikan soal 30 dengan asumsi sudut antara lintasan terbang 1200
sebagai ganti dari asumsi lintasan terbang tegak lurus. (petunjuk : gunakan
hokum cosinus).
15. Suatu helicopter polisi terbang ke utara dengan kecepatan 100 mil/jam dan
1
pada ketinggian konstan mil. Di bawahnya suatu mobil berjalan kebarat
2
415

di jalan raya dengan kecepatan 75 mil/jam. Pada saat helicopter melalui


jalan raya, mobil berada 2 mil di sebelah timur kelikopter.
a). Berapa jarak antara jarak antara mobil dan helicopter berubah pada
saat helicopter menyeberangi jalan raya?
b). Apakah jarak antara mobil dengan helicopter bertambah atau
berkurang pada saat itu?
xy 3 8
16. Suatu partikel bergerak sepanjang kurva dengan persamaan = ,
1 y 2
5
asumsikan x bertambah dengan laju 6 satuan/det, jika partikel di titik (1,
2).
a. Dengan laju berapakah y berubah pada saat itu?
b. Apakah partikel naik atau turun pada saat itu?
17. Suatu titik p bergerak sepanjang garis dengan persamaan y = x3  17 .
Jika p pada (2, 5), y bertambah dengan laju 2 satuan/det. Berapa cepat x
berubah?

5.2. SELANG NAIK DAN SELANG TURUN


Meskipun penggambaran titik-titik sangat berguna untuk mengetahui bentuk
umum suatu grafik, namun penggambaran tersebut hanya memberikan
hampiran karena berapapun titik yang digambar, bentuk grafik antara titik-titik
itu hanya diduga. Pada sub-bab ini ditunjukkan penggunaan turunan untuk
menye1esaikan kerumitan seperti itu.

Fungsi Naik dan Fungsi Turun


Istilah naik, turun dan konstan digunakan untuk menggambarkan sifat fungsi
pada suatu selang dari kiri ke kanan sepanjang grafik. Sebagai contoh grafik
fungsi pada Gambar 5.2.1 naik pada selang (- ∞ ,0], turun pada selang [0,2[,
naik lagi pada selang [2,4] dan konstan pada selang [4, + ∞].

Gambar 5.2.1 contoh kurva naik dan kurva turun


416

Definisi berikut, yang diilustrasikan pada Gambar 5.2.2, menyatakan gagasan


intuitif yang tepat.

DEFINISI 5.1 Dimisalkan f didefinisikan pada suatu selang dan x1, x2


menyatakan titik-titik pada selang itu.

(a). f naik pada selang itu jika f(x1) < f(x2) untuk x1 < x2.
(b). f turun pada selang itu jika f(x1) > f(x2) untuk x1 < x2.
(c). f konstan pada selang itu jika f(x1) = f(x2) untuk semua x1 dan x2.

Gambar 5.2.2 fungsi naik dan fungsi turun

Gambar 5.2.3 menunjukkan suatu fungsi yang dapat diturunkan pada suatu
Selang. Fungsi f akan naik pada selang jika grafiknya mempunyai garis
singgung dengan kemiringan positif dan akan turun pada selang jika grafiknya
mempunyai garis singgung dengan kemiringan negatif dan akan konstan pada
selang dimana grafiknya mempunyai garis singgung dengan kemiringan nol.
Observasi intuitif ini mendorong teorema penting berikut. (Bukti, yang
hasilnya belum dibahas, diberikan pada sub-bab pada bab 4)
417

Gambar 5.2.3 fungsi naik dan turun dilihat dari nilai turunan dari fungsi
tersebut

TEOREMA 5.2 Dimisalkan f suatu fungsi kontinu pada selang tertutup [a,b]
dan dapat diturunkan pada selang terbuka (a, b).
(a). Jika f’(x) > 0 untuk setiap nilai x dalam (a,b) maka f naik pada [a,b].
(b). Jika f’(x) < 0 untuk setiap nilai x dalam (a,b) maka f turun pada [a,b].
(c). Jika f’(x) = 0 untuk setiap nilai x dalam (a,b) maka f konstan pada [a,b].

Catatan. Teorema ini berguna untuk meneliti apakah suatu fungsi itu naik,
turun atau konstan pada selang tertutup [a,b]. Bagaimanapun, ada sejumlah
variasi teorema yang dapat digunakan pada jenis selang yang lain. Sebagai
contoh, teorema tersebut tetap benar jika selang tertutup [a,b] diganti oleh
selang hingga atau tak hingga (a,b), [a,b) dan (a,b], jika f yang diberikan dapat
diturunkan pada (a,b) dan kontinu pada semua selang. Lebih jauh, teorema juga
benar jika selang tertutup [a, b] diganti oleh sebarang selang I yang padanya f
dapat diturunkan, karena kontinuitas yang dibutuhkan dalam hipotesis
termasuk dalam asumsi dapat diturunkan.

Contoh: Tentukan selang yang menyebabkan fungsi-fungsi berikut naik dan


se- lang yang menyebabkan fungsi turun (a). f(x) = x2 - 4x + 3; (b). f(x) = x3.

Penyelesaian: (a). Penurunan f akan diperoleh

f‘(x) = 2x - 4 = 2(x -2)


418

Selanjutnya
f‘(x) < 0 jika - ∞ < x < 2
f‘(x) > 0 jika 2 < x < +∞
karena f kontinu di x = 2 menurut Teorema 5.2 maka
f turun pada ( - ∞,2] sementara itu f naik pada [2, +∞)
Perhatikan bahwa f‘(x) = 0 terjadi di x = 2, akan tetapi tidak ada selang yang
menyebabkan f‘(x) = 0, sehingga fungsi itu tidak konstan pada selang
manapun. Untuk fungsi ini di x = 2 terjadi transisi dari fungsi turun ke fungsi
naik. Grafik f ditunjukkan pada Gambar 5.2.4.

Gambar 5.2.4 Gambar 5.2.5

(b). karena f kontinu di x = 0, maka


f naik pada (-∞,0]
f naik pada [0, +∞)

Gabungan hasi1-hasi itu menyatakan bahwa f naik pada selang (-∞, +∞).
Perhatikan bahwa f‘(x) = 0 terjadi di x = 0. Tetapi tidak seperti fungsi pada
bagian (a), titik x = 0 bukan merupakan transisi dari naik ke turun. Grafik f
tersebut ditunjukkan pada Garnbar 5.2.5.

Contoh: Tentukan selang dimana fungsi f(x) = x3 - 3x2 + 1 naik dan selang
dimana turun.

Penyelesaian: Turunan f adalah


419

f‘(x) = 3x2 – 6x = 3x(x - 2)

tanda dari 3x(x - 2)

Dari analisa tanda diperoleh


f‘(x) > 0 jika -∞ < x < 0
f‘(x) < 0 jika 0 < x < 2
f‘(x) > 0 jika 2 < x < +∞
karena f kontinu di x = 0, dan x = 2 maka
f naik pada (-∞,0]
f turun pada [0,2]
f naik pada [2, +∞)

Grafik f tersebut ditunjukkan pada Gambar 5.2.7

Kecekungan
Meskipun turunan dari fungsi f dapat menunjukkan grafik f naik atau turun,
tapi tidak dapat menyatakan dimana grafik tersebut cekung ke bawah (Gambar
5.2.7(a)) atau cekung ke tas (Gambar 5:27(b)) Untuk menjawab pertanyaan ini,
perlu dipelajari perilaku garis singgung yang ditunjukkan pada gambar
tersebut. Kurva pada bagian (a) garis singgungnya melintang ke bawah dan
disebut cekung ke bawah. Bila berjalan dari kiri ke kanan sepanjang kurva,
garis singgung berputar searah jarum jam sehingga kemiringannya berkurang.
Sebaliknya bagian (b) garis singgungnya melintang ke atas dan disebut cekung
ke atas. Bila berjalan dari kiri ke kanan garis singgungnya berputar berlawanan
arah jarum jam sehingga kemiringannya bertambah. Karena f‘ adalah
kemiringan garis singgung grafik f, maka dapat diperoleh definisi berikut :
420

Gambar 5.2.6 Gambar 5.2.7

DEFINISI 5.3 Misal f dapat diturunkan pada suatu selang.


(a). f disebut cekung ke atas pada suatu selang jika f‘ naik pada selang tesebut.
(b). f disebut cekung ke bawah pada suatu selang jika f‘ turun pada selarg
tersebut.

Catatan. Secara informal, suatu kurva yang cekung ke atas ‗menahan air‘ dan
cekung ke bawah ‗menuang air‘ (Gambar 5.2.8).

Gambar 5.2.8
421

Catatan. Definisi 5.3 membutuhkan fungsi f yang dapat diturunkan. Ada


beberapa definisi umum tentang kecekungan tidak membutuhkan sifat dapat
diturunkan. Akan tetapi belum perlu ditambahkan dalam buku ini.

Karena f‖ turunan dari f‘, dari Teorema 5.2 diketahui bahwa f‘ naik pada suatu
selang terbuka (a,b) jika f‖(x) > 0 untuk semua x pada (a, b) dan f‘ turun pada
(a,b) jika f‖(x) <0 untuk semua x pada (a,b). Jadi diperoleh hasil sebagai
berikut :

TEOREMA 5.4
(a). Jika f‖(x) > 0 pada suatu selang terbuka (a, b) maka f cekung ke atas pada
(a, b).
(b). Jika f‖(x) < 0 pada suatu selang terbuka (a, b) maka f cekung ke bawah
pada (a, b).

Contoh: Tentukan selang terbuka yang menyebabkan fungsi-fungsi berikut


cekung ke atas dan selang terbuka yang menyebabkan fungsi cekung ke bawah.
(a). f(x) = x2 - 4x + 3
(b). f(x) = x3
(c). f(x) = x3 - 3x2 + 1

Penyelesaian:
(a). Perhitungan turunan pertama dan turunan kedua akan diperoleh

f‘(x) = 2x - 4 dan f‖(x) = 2

Karena f‖(x) > 0 untuk semua x, maka fungsi f cekung ke atas pada (-∞, +∞)
ini sesuai Gambar 5.2.4.

(b). Perhitungan turunan pertama dan turunan kedua akan diperoleh


f‘(x) = 3x2 dan f‖(x) = 6x
Karena f‘(x) <0 jika x <0 dan f‖(x) > 0 jika x > 0 maka f cekung ke bawah
pada (- ∞, 0) dan cekung ke atas pada (0, +∞) ini sesuai Gambar 5.2.5.

(c). Perhitungan turunan pertama dan turunan kedua akan diperoleh


f‘(x) = 3x2 - 6x dan f‖(x) = 6x - 6
Jadi kurva cekung ke atas jika
6x – 6 > 0
dan cekung ke bawah jika
422

6x – 6 < 0
Karena masing-masing persamaan dipenuhi oleh x > 1 dan x < 1, dapat
disimpulkan bahwa
f cekung ke atas pada (1, +∞)
f cekung ke bawah pada(-∞, 1)
ini sesuai Gambar 5.2.7
Titik-titik pada grafik tempat perubahan dari cekung ke atas ke cekung ke
bawah, atau sebaliknya adalah hal khusus. Perhatikan definisi berikut.

DEFINISI 5.5
Jika f kontinu pada suatu selang terbuka yang memuat x0 dan jika f mengubah
arah kecekungannya pada xo maka titik (x0, f(x0)) pada grafik f disebut titik
belok dan dikatakan f mempunyai titik belok pada xo. (Lihat Gambar 5.2.9)

Gambar 5.2.9

Kembali pada contoh sebelumnya, fungsi f(x) = x2- 4x + 3 cekung ke atas pada
seluruh selang (-∞, +∞) dan tidak mempunyai titik belok, karena tidak ada
perubahan kecekungan. Fungsi f(x) = x3 berubah dari cekung ke atas ke cekung
ke bawah di x = 0, jadi titik belok terjadi di x = 0. Karena f(0) = 0 maka titik
beloknya adalah (0, 0) (Gambar 5.2.10). Dengan cara yang sama fungsi f(x) =
x3 - 3x2 + 1 mempunyai titik belok di x = 1 (Gambar 5.2.11).
423

Garnbar 5.2.10 Gambar 5.2.11

Teorema 5.4 tak dapat diterapkan pada selang yang beberapa titiknya berlaku
f‖(x) = 0. Untuk selang demikian arah kecekungannya paling baik ditentukan
dengan menggunakan Definisi 5.3 secara langsung

Contoh: Tentukan dimana fungsi f(x) = x4 cekung ke atas dan cekung ke


bawah.

Penyelesaian:
Penurunan fungsi f(x) = x4 menghasilkan f‘(x) = 4x3 dan f‖(x) = 12x2
Karena f‖(x) > 0 jika x < 0 dan f‖(x) > 0 jika x > 0, berdasarkan Teorema 5.4
maka fungsi cekung ke atas pada selang terbuka (-∞, 0) dan cekung ke atas
pada selang terbuka (0, +∞). Akan tetapi Teorema 5.4 tak dapat diterapkan
pada seluruh selang (-∞, +∞) karena f‖(0) = 0. Tetapi f‘(x) = 4x3 naik pada (-∞,
+∞) sehingga dari Definisi 5.3 bahwa f cekung ke atas pada (-∞, +∞).(Lihat
Gambar 5.2.12)
424

Gambar 5.2.12

Latihan 5.2

Soal 1 dan 2 merujuk pada grafik fungsi pada Gambar 5.2.13

1. Tentukan selang terbukã paling panjang yang fungsinya:


(a). naik
(b). turun
(c). cekung ke atas
(d). cekung ke bawah

2. Tentukan semua nilai x dimana fungsi mempunyai suatu titik balik.

3. Tentukan tanda dy/dx dan d2y/dx2 di setiap titik-titik A, B. C pada Gambar


5.2.14.

Gambar 5.2.13 Gambar 5.2.14 Gambar 5.2.15


425

4. Grafik turunan dari fungsi f, f‘, ditunjukkan pada Gambar 5.2.15. Pada (a) -
(f), gantikan tanda‘?‘ dengan <, = atau >.
(a). f(0) ? f(1)
(b). f(1) ? f(2)
(c). f‘(0) ? 0
(d). f‘(l) ? 0
(e). f‖(0) ? 0
(f). f‖(2) ? 0

Untuk Soal 5-20, tentukan selang terpanjang di mana f


(a). Naik,
(b). Turun; tentukan selang terbuka terpanjang di mana f
(c). Cekung ke bawah
(d). Cekung ke atas
(e). Tentukan nilai x untuk semua titik belok.

5. f(x) = x2 - 5x+6
6. f(x) = 4 – 3x - x2
7. f(x) = (x + 2)3
8. f(x) = 5 + 12x - x3
9. f(x) = 3x3 – 4x + 3
10. f(x) = x4 - 8x2 - 16
11. f(x) = 3x4 + 3
x
12. f ( x)  2
x 2
13. f(x) = cos x , 0 < x < 2π
14. f(x) = sin2 2x, 0 < x < π
15. f(x) = tan x, -π/2 < x < π/2
16. f(x) = x 2/3
17. f(x) = 3√ (x+2)
18. f(x) = x4/3 – x1/3
19. f(x) = x1/3(x + 4)
1
 x, x  0
20. f(x) =  2
 x 2 , x  0
21. Tentukan dimana f(x) = x + sin x naik.
a b
22. Tunjukkan bahwa 2  2
a 9 b 9
426

jika 3 ≤ a < b. (Petunjuk: Tunjukkan bahwa x/(x2 + 9) turun pada (3, +∞).

1
23. Tunjukkan bahwa  + > 2 jika  > 1. petunjuk : Tunjukkan bahwa ()

1
=+ naik pada [1, +  

24. Tunjukkan bahwa  < tan  jika 0 <  < /2. [Petunjuk: Tunjukkan bahwa
() = tan  -  naik pada [0, /2
1
25. Tunjukkan bahwa 3 1   < 1 +  jika  > 0. [Petunjuk: Tunjukan
3
1
bahwa () = 1 + 1 +  - 3 1   naik pada [0, + )].
3
26. Pada setiap bagian sketsalah kurva kontinu y = f() dengan syarat yang
ditetapkan
(a) (2) = 4, (2) = 0,  () < 0 untuk semua 
(b) (2) = 4, (2) = 0,  () < 0 untuk  < 2 semua  () < 0 untuk > 2
(c) (2) = 4, () < 0 untuk   2 dan lim  ' (  )  , lim   ' (  )   
 2   22

27. Pada setiap bagian sketsalah kurva kontinu y = f() dengan syarat yang
ditetapkan.
(a) (2) = 4, (2) = 0, () > 0 untuk semua 
(b) (2) = 4, (2) = 0, () < 0 untuk  < 2, () < 0 untuk  > 2
(c) (2) = 4, () < 0 untuk  ≠ 2 dan
lim  (  )  , lim 2  (  )   
' '
 2  2

28. Pada bagian (a)-(c) sketsalah kurva kontinu y = f() dengan syarat yang
ditetapkan.
(a) (2) = 4, (2) = 1, () < 0 untuk semua () > untuk  > 2
(b) (2) = 4, () > 0 untuk  < 3, () < 0 untuk > 2 dan
lim  ' (  )  , lim2  ' (  )   
 2  2

(c) (2) = 4, () < 0 untuk  ≠ 2 dan lim  ' (  )  1, lim2  ' (  )   1
 2  2

29. Pada bagian (a)-(c) sketsalah kurva kontinu y = f(x) dengan syarat yang
ditetapkan.
(a) (2) = 4, (x) < 0 untuk x ≠ 2 dan lim  ' ( x)  0, lim2  ' ( x)   
 2  2
427

(b) (0) =0, (2) = 4, (x) = 0 untuk semua x.


30. Tentukan titik belok, jika ada, dan () = ( - a)3 dengan a konstan.
31. Tentukan titik belok, jika ada, dan () = ( - a)4 dengan a konstan.
32. Tentukan titik belok, jika ada, dan () = (a2 + b + c), (a ≠ 0).
33. () = 2 naik pada [1, + ).
34. () = 2 - 2 turun pada (- 1, .

35. () =  naik pada [1, + ).

36. () = 1
 turun pada [0, - ).
37. Jika  dan g naik pada selang I maka  + g naik pada selang I.
38. Jika  dan g positif dan naik pada selang I maka perkalian .g naik pada
selang I.
39. Berikan suatu contoh fungsi  dan g yang naik pada selang I, tetapi  - g
turun
pada I.
40. Untuk polinoinial umum pangkat-3
ax3 + bx2 + cx + d , (a ≠ 0)
Tentukan kondisi pada a, b, c dan d untuk menjamin bahwa  selalu naik
atau turun pada (- 1, + )
41. Buktikan bahwa polinornial derajat tiga
a0x3 + bx2 + cx + d , (a ≠ 0)
mempunyai hanya satu titik belok.
42. Buktikan bahwa polinoinial derajat n
a0xn + a1xn – 1 + …. + an, (a0 ≠ 0)
mempunyai paling banyak (n - 2) titik belok.
43. Buktikan
(a) Jika  naik pada selang (a, c dan [c, b), maka  naik pada (a, c)
(b) Jika  naik pada selang (a, c dan [c, b), maka  naik pada (a, b).

5.3. EKSTRIM RELATIF; UJI TURUNAN PERTAMA DAN KEDUA

Pada sub-bab mi akan dibahas mengenai teknik mendapatkan titik-titik paling tinggi dan paling
rendah pada grafik fungsi atau ekuivalen dengan nilai terbesar dan terkecil fungsi. Metode yang
dikembangkan pada bagian mi mempunyai penerapan yang penting pada bagian-bagian
berikutnya.
428

Banyak fungsi. fungsi yang grafiknya membentuk bukit dan lembah.


Puncak dan bukit disebut maksimum relatif (maksimum lokal) dan dasar
lembah disebut minimum relatif (minimum lokal) (Gambar 5.3.1). Seperti
puncak bukit di bumi tidak perlu merupakan titik tertinggi dan bumi, demikian
juga maksimum relatif tidak perlu merupakan titik tertinggi pada seluruh grafik
tersebut. Akan tetapi, maksimum relatif, seperti puncak bukit, adalah titik
tertinggi pada daerah sekitar dan minimum relatif, seperti dasar lembah, adalah
titik terendah pada daerah sekitarnya. Gagasan mm di cakup pada definisi-
definisi berikut :

Gambar 5.3.1

Maksimum Relatif (Maksimum Lokal) dan Minimum Relatif (Minimum


Lokal)

DEFINISI 5.6 Suatu fungsi  dikatakan mempunyai maksimum relatif di x0, jika
(x0)   (x) untuk semua x pada selang terbuka I yang memuat x0.

DEFINISI 5.7 Suatu fungsi  dikatakan mempunyai minimum relatif di x0, jika
(x0)   (x) untuk semua x pada selang terbuka I yang memuat x0.

DEFINISI 5.8 Suatu fungsi  dikatakan mempunyai ekstrim relatif di x0, jika
fungsi tersebut mempunyai maksimum relatif atau minimum relatif.

Contoh: Fungsi  pada Gambar 5.3.2 mempunyai maksimum relatif pada x0


sebab ada selang terbuka yang memuat x0 sehingga (x0)  (x). [Lihat selang
(a, b) pada Gambar 5.3.2.
429

Gambar 5.3.2 Gambar 5.3.3

Titik Kritis

Ekstrim relatif (ekstrim lokal) dapat dipandang sebagai titik transisi


yang memisahkan daerah yang grafiknya menaik dan daerah yang grafiknya
menurun. Berdasarkan Gambar 5.3.3 ekstrim relatif dan suatu fungsi f terjadi
baik di titik di mana grafik  mempunyai garis singgung datar atau titik dimana
 tidak dapat diturunkan.
Hal ini adalah isi dari teorema berikut (yang pembuktiannya diberikan
di akhir sub-bab)

TEOREMA. 5.9 Jika  mempunyai suatu ekstrim di a0, maka (x0) = 0 atau
 tidak dapat diturunkan di x0.

Dengan terininologi ini, Teorema 5.9 menyatakan bahwa

DEFINISI. 5.10 Titik kritis untuk  adalah nilai x dalam domain  di mana
(x) = 0 atau dimana  tidak dapat diturunkan; titik kritis dimana  (x) disebut
titik stasioner .

Dengan terminologi ini Teorema 5.9 menyatakan bahwa Ekstrim relatif suatu
fungsi terjadi di titik kritis.

Contoh: Untuk setiap fungsi pada Gambar 5.3.4, x0 adalah titik kritis. Pada
bagian (a), (b), (c) dan (d), x0 adalah titik stasioner sebab ada garis singgung
datar di x0 dan pada bagian lain, x0 adalah titik kritis tetapi bukan titik
stasioner, sebab turunannya di titik x0 tidak ada.
430

Uji Turunan Pertama dan Kedua


Meskipun ekstrim relatif suatu fungsi harus terjadi di titik kritis, suatu
ekstrim relatif tidak perlu terjadi pada setiap titik kritis. Sebagai contoh, bagian
(c), (d), (g) dan (h) dari Gambar 5.3.4, ada suatu titik kritis tetapi bukan
ekstrim relatif di x0. Bagaimanapun, apa yang membedakan empat kasus ini
dengan yang lainnya adalah tidak adanya tanda perubahan turunan pertama di
x0 supaya lebih spesifik.

Gambar 5.3.4

 Maksimum relatif terjadi di titik kritis yang tanda turunan pertama


berubah dan positif ke negatif berjalan dalam arah  positif (Gambar
5.3.4a, e);
 Minimum relatif terjadi di titik kritis yang tanda turunan pertama berubah
dan negatif ke positif berjalan dalam arah  positif (Gambar 5.3.4b, f);
 Tidak terdapat ekstrim relatif di titik kritis apabila tanda turunan pertama
tidak berubah sepanjang arah  positif (Gambar 5.3.4c, d, g, h);

Gagasan ini dinyatakan lebih tepat pada teorema berikut yang


pernbuktiannya tidak diberikan.
431

TEOREMA 5.11 ( Turunan Pertama). Misalkan  kontinu di titik kritis x


a). Jika (x) > 0 pada selang terbuka di sebelah kiri dari xo dan(x)) < 0 pada
selang terbuka di sebelah kanan dari x0 maka  mempunyai suatu
maksimum relatif di x0.
b). Jika (x) < 0 pada selang terbuka di sebelah kiri dari xo dan (x) > 0 pada
selang terbuka di sebelah kanan dari x0 maka  mempunyai suatu minimum
relatif di x0.
c). Jika (x) mempunyai tanda sama baik [(x) > 0 maupun (x) < 0] pada
selang terbuka di sebelah kiri dari x0 pada selang terbuka di sebelah kanan
dari x0 maka  tidak mempunyai maksimum relatif di x0

Berdasarkan teorema ini didapat:

Jika pada selang terbuka terdapat ekstrim relatif, maka ekstrim relatif terjadi di
titik-titik kritisnya yang di kanan dan kiri titik ekstrim  berubah tanda dengan
syarat  kontinu dan tidak konstan.

Contoh: Tentukan relatif dari () = 35/3 - 152/3

Penyelesaian:
(x) = 3x5/3 – 10x-1/3 = 5x-1/3 (x - 2)

Karena (x) tidak ada jika x = 0 dan (x) = 0 jika x = 2 maka titik kritis 
adalah x = 0 dan x = 2 .

Seperti ditunjukkan pada Gambar 5.3.5(a). tanda (x) berubah dari


positif ke negatif di x = 0 dan dari negatif ke positif di (x) = 2. Jadi terdapat
maksimum relatif di x = 0 dan minimum relatif x = 2. Meskipun tidak
diperlukan dalam penyelesaian, grafik  tersebut ditunjukkan pada Gambar
5.3.5(b).
432

Gambar 5.3.5

Contoh: Tentukan ekstrim relatif (x) = x3 - 3x2 - 3x -1

Penyelesaian: Karena f dapat diturunkan dimana-mana maka titik-titik kritis


adalah titik-titik stasioner. Penurunan (x) menghasilkan

(x) = 3x2 - 6x - 3 = 3(x - 1)2

Penyelesaian (x) = 0 menghasilkan x = 1 sebagai titik kritisnya. Karena 3 (x


- 1)2  untuk semua x, (x) tidak berubah tanda di x = 1, sehingga (x) tidak
mempunyai ekstrim relatif di x = 1. Jadi  tidak mempunyai ekstrim relatif.

Ada uji untuk ekstrim relatif yang lain, yang seringkali lebih mudah
diaplikasikan daripada uji turunan pertama tersebut. Uji ini didasarkan pada
pengamatan geometrik, yaitu bahwa fungsi mempunyai. maksimum relatif
apabila grafiknya mempunyai garis singgung datar dan cekung ke bawah
(Gambar 5.3.6), dan mempunyai minimum relatif apabila grafiknya
mempunyai garis singgung yang datar dan cekung ke atas (Gambar 5.3.6).

TEOREMA 5.12 (Uji Turunan Kedua). Misalkan  dapat diturunkan dua kali di
titik stasioner x0.
(a) Jika (x0) > 0 maka  mempunyai suatu minimum relatif di x0.
(b) Jika (x0) < 0 maka  mempunyai suatu maksimum relatif di x0
433

Gambar 5.3.6 Gambar 5.3.7

Contoh: Tentukan dan gambarkan ekstrim relatif (x) = x4 – 2x2

Penyelesaian:
(x) = 4x3 – 4x = 4x (x – 1) (x + 1)
(x) = 12x2 - 4
Penyelesaian (x) = 0 menghasilkan titik stasioner x = 0, x = 1 dan x = – 1
karena
(0) = 4 < 0
(l) = 8 > 0
(-1) = 8 > 0
Maka terdapat suatu maksimum relatif di x = 0 dan minimum relatif di x = 1
dan x = – 1 (Lihat Gambar 5.3.7).

Catatan. Jika  tidak dapat diturunkan dua kali di titik kritis x0, atau jika (x0)
= 0, maka harus didasarkan pada uji turunan pertama atau menemukan teknik
yang lebih imajinatif yang sesuai dengan permasalahan tersebut.

Catatan Pada beberapa masalah uji turunan pertama lebih mudah diterapkan,
dan pada masalah yang lain uji turunan kedua lebih mudah. Jadi, pada setiap
masalah terlebih dahulu harus diberikan uji yang sesuai. yaitu uji yang
mempunyai jumlah perhitungan sedikit.

Bukti Teorema 5.9 Akan dibuktikan untuk kasus maksimum relatif di x0. Bukti
untuk kasus minimum relatif adalah identik dan diserahkan pembaca.
434

Ada dua kemungkinan  dapat diturunkan di x0 atau tidak. Jika  tidak


dapat diturunkan di x0, maka x0 titik kritis untuk  dan bukti selesai. Jika 
dapat
diturunkan di x0 akan ditunjukkan bahwa (x) = 0. Jadi hams ditunjukkan
(x)  0 dan (x)  0 yang menghasilkan (x) = 0, dan definisi turunan
diperoleh

f ( x 0  h)  f ( x 0 )
(x) = lim
h 0 h

Sehingga
f ( x 0  h)  f ( x 0 )
(x) = lim
h 0 h

dan
f ( x 0  h)  f ( x 0 )
(x) = lim
h 0 h

Karena  mempunyai maksimum relatif di x0, maka ada selang terbuka (a, b)
yang memuat x0 sehingga  (x)   (x0) untuk semua x dalam (a,b).
Diasumsikan h cukup kecil sehingga x0 + h terletak pada selang (a, b). Jadi
(x0 + h)   (x0) atau ekuivalen (x0 + h) - (x0) 0
f ( x 0  h)  f ( x 0 )
Jadi jika h negatif, 0
h

f ( x 0  h)  f ( x 0 )
dan jika h positif, 0
h
Tetapi ekspresi itu tidak pernah mengasumsikan nilai negatif tidak dapat
mendekati suatu limit negatif dan nilai positif tidak dapat mendekati suatu limit
positif, sehingga

f ( x 0  h)  f ( x 0 )
(x) = lim 0
h 0 h

dan
435

f ( x 0  h)  f ( x 0 )
(x) = lim 0
h 0 h

Karena (x0)  0 dan (x0)  0, tentulah (x0) = 0

Latihan 5.3

Untuk Soal 1 - 18 tentukan titik kritis dan klasifikasikan titik tersebut sebagai
titik-titik stasioner atau titik-titik yang tak dapat diturunkan.

1.  () = 2 – 5 + 6
2.  () = 42 + 2 - 5
3.  () = 3 + 32 - 9 +1
4.  () = 23 – 6 +7
5.  () = 4 – 62 - 3
6.  () = 34 – 43

7.  () =
 2
2

2  3
8.  () =
 2 1
x2
9. f (x) =
x2 1
x
10. f (x) =
x2
11. f(x) = |x 2 – 4|
12. 
f (x) = 9x2 x3, x, x33
13. f(x) = cos2x
14. f(x) = 3x + 2 sin x, 0< x < 2 
15. f(x) = tan (x2 + 1)
sin x
16. f(x) = 0 < x < 2
2  cos x,
17. f(x) = |sin2x|, 0 < x < 2 
18. f(x) = cos 4x + 2sin 2x, 0 < x < 
436

k
19. Tentukan nilai k sedemikian sehingga x2 + mempunyai ekstrim relatif
x
di x = 3
x
20. Tentukan nilai k sedemikian sehingga x2 + mempunyai ekstrim
x k
2

relatif di x = 2,5.
"
21. Turunan kedua (teorema 5.12) tidak dapat diaplikasikan jika f (x) = 0.
berikan contoh untuk menunjukan bahwa suatu fungsi f dapat mempunyai
suatu maksimum relatif di x0, minimum relatif di x0, atau tidak keduanya
jika f"(x)= 0 [Petunjuk: Coba fungsi-fungsi dalam bentuk f (x) = xn].
22. Andaikan h dan g mempunyai maksimum relatif di x0. tunjukan benar
atau salah:
(a). h + g mempunyai suatu maksimum relatif di x0.
(b). h – g mempunyai suatu minimum relatif di x0
23. Sketsa beberapa kurva yang menunjukan tiga bagian dari uji turunan
pertama (Teorema 5.11) dapat menjadi salah tanpa asumsi bahwa f
kontinu di x0
24. Buktikan: jika f kontinu pada selang terbuka I yang mempunyai titik
'
belok di x0 dan jika f ada dimana-mana dalam I kecuali mungkin x0,
" '
maka f (x0) = 0 atau f tidak dapat diturunkan di x0. [Petunjuk: modifikasi
' " '
bukti Teorema 5.9 menggunakan f dan f sebagai f dan f ]

5.4. GRAFIK POLINOMINAL DAN FUNGSI RASIONAL

Grafik fungsi digunakan untuk banyak tujuan dalam matematika, sains, teknik, dan bidang
terapan yang lainnya. Pada penerapan yang memerlukan pembacaan nilai numerik grafik,
menggambarkan titik-titik yang akurat sangat dibutuhkan. Grafik seperti dapat dihasilkan
dengan alat Bantu komputer. Akan tetapi, pada banyak aplikasi matematika, penggambaran
titik-titik seperti ini tidak dibutuhkan; yang dibutuhkan adalah tempat bagian utama grafik yang
tepat, seperti titik kritis, titik belok, selang naik dan selang turun, titik diskontinu dan sebagainya.
Pada sub-bab ini, digunakan alat-alat yang dikembangkan pada sub-bab terdahulu untuk
meneliti bagian utama grafik fungsi dan fungsi rasional.
437

Grafik Polinominal

Polinominal adalah fungsi-fungsi yang mudah untuk dibuat grafiknya;


fungsi kontinu, sehingga grafiknya tidak ada yang patah atau berlubang dan
fungsinya dapat diturunkan sehingga grafiknya tidak mempunyai sudut yang
tajam. Langkah-langkah berikut biasanya cocok untuk mendapatkan bagian-
bagian utama dari grafik polinominal. Metode untuk membuat grafik
polinominal P(x).
Langkah 1 : Hitung P'(x) dan P"(x)
Langkah 2 : Dari P'(x) tentukan titik stasioner dan selang dimana P naik
dan turun
Langkah 3 : Dari P"(x) tentukan titik belok dan selang dimana P cekung
keatas dan cekung kebawah.
Langkah 4 : Plot irisan dengan sumbu y, titik-titik stasioner, titik belok
dan jika mungkin, irisannya dengan sumbu x. akhirnya, plot
titik-titik tambahan yang diperlukan untuk memperoleh
akurasi yang diinginkan dalam grafik.

Contoh: Buatlah sketsa grafik y = x3 – 3x + 2

Penyelesaian:
dy d2y
= 3x2 – 3 = 3(x – 1)(x + 1) dan = 6x
dx dx 2

Gambar 5.4 1 memperlihatkan suatu tahapan analisis yang tepat. Bagian


pertama gambar memperlihatkan pola tanda dy/dx, yang dapat diperoleh
dengan menggunakan metode uji titik. Panah ke atas menyatakan selang
dimana grafik naik, panah ke bawah menyatakan selang dimana grafik turun,
dan panah horizontal menandai titik-titikdimana garis singgung horisontal.
Bagian kedua gambar memperlihatkan pola tanda d2y/dx2. Bagian bawah
gambar mengkombinasikan informasi pada bagian pertama untuk
menghasilkan bentuk umum grafik.

     0           0     
dy/dx=3(x-1)(x+1)
 1  1 
 

   0
Belok Cekung Kebawah d 2 y / dx 2  6 x
438

Gambar 5.4.1
Cekung Keatas

-1 0 1

Semua yang tersisa digunakan untuk menghasilkan sketsa


penggambaran titik-titik stasioner, titik belok, dan irisan dengan sumbu
koordinat. Pada masalah ini, juga digambarkan titik-titik dimana x = 2 untuk
presesi tambahan (Gambar 5.4.2 ) sebagai catatan terakhir, garafik pada
gambar 5.4.2 digambar seakan-seakan garafik naik tanpa batas x  +  . Ini
konsisten dengan limit-limit.

Lim (x3 -3x + 2) = +  dan lim (x3 -3x + 2) = - 


x +  x- 

[ lihat rumus (8), (9), (11), (12) dan contoh 3 pada sub bab 2.5]

x y = x3 – 3x + 2 y
5
-1, 4 2, 4
-2 0 3
-1 4 0, 2
0 2 1
x -2, 0 1, 0
1 0
-3 -2 -1 -1 0 1 2 3
2 4
2
y = x – 3x + 2

Gambar 5.4.2

Grafik Fungsi Rasional

Jika P(x) dan Q(x) polinominal, maka rasio


439

p( x)
f(x) =
Q( x)
disebut fungsi rasional x. Penggambaran grafik fungsi rasional lebih sukar
x
akibat diskontinu terjadi dititik-titik yang Q(x) =
x2

y=1

x=2
Gambar 5.4.3

f x  
x
x2
Gambar ini mengilustrasikan sebagian besar karakteristik fungsi-fungsi
rasional. Di x = 2 pembagi f(x) adalah nol, terjadi diskontinuitas grafik dititik
ini. Pendekatan titik x = 2, diperoleh
x x
lim = +  dan lim = -
x 2 x2 x 2 x2
Garis x = 2 disebut asimtot tegak. Juga untuk
x
lim = 1 dan lim = 1
x   x  2 x  

Sehingga grafik mendekati garis y = 1 jika x → +∞ atau x → - ∞. Garis y = 1


disebut asimtot datar untuk grafik tersebut. Lebih tepatnya, dibuat definisi
berikut:
untuk fungsi rasioanal dimana pembilang dan penyebut tidak mempuyai faktor
yang sama, asimtot tegak terjadi di titik dimana penyebut sama dengan nol.
440

Catatan. Grafik fungsi rasional mungkin memotong asimtot datar (soal 25-28)
tetapi tidak dapat memotong asimtot tegak.

DEFENISI 5.13 Garis x = x0 disebut asimtot tegak dari grafik suatu fungsi f
jika f(x) → +∞ atau f(x) → -∞ maka x mendekati x0 dari kanan atau kiri. Garis
y = y0 disebut asimtot datar dari f jika
lim f (x) = y0 atau lim f (x) = y0
x   x  

.
Contoh: Tentukan semua asimtot tegak dan datar dari

a. f (x) = x2 + 2x b. f (x) = x3 + 1
x2 – 1 x–2

Penyelesaian: (a). asimtot tegak terjadi pada titik-titik x2 – 1 = 0, yaitu titik x


x 2  2 x2
= -1 dan x = 1. karena lim f (x) = lim = lim =1
x   x   x2 1 x   x 2

x 2  2 x2
lim f(x) = lim = = 1.
x   x   x2 1 x2
Dengan demikian y = 1 adalah asimtot datar. (Grafik f yang diperlihatkan oleh
komputer diperlihatkan pada Gambar 5.4.4 (a).

y y

25
x
1
x
 25
1 1

(a) (b)

x 2  2x x3  2x
y= y=
x2 1 x2  2
Gambar 5.4.4
441

(b). Penyebut sama dengan nol di x = 2, sehingga asimtot tegak terjadi di titik
ini. Karena
x3  1 x3
lim f(x) = lim = lim = lim x2 = + 
x   x   x  2 x   x x  

x3  1 x3
lim f(x) = lim = lim = lim x2 = + 
x   x   x  2 x   x x  

Sehingga tiadak ada asimtot datar. (Grafik f yang dibuat oleh komputer
diperlihatkan pada Gambar 5.4.4(b).)

Sifat-sifat yang menarik dari grafik fungsi rasional adalah:


1. Simetri 5. Selang naik dan selang turun
2. Perpotongan dengan sumbu x 6. Titik-titik stasioner
3. Perpotongan dengan sumbu y 7. Kecekungan
4. Asimtot 8. Titik-titik belok

Satu urutan untuk penyusunan komputasi adalah mendapatkan kesimetrian.


Perpotongan dan asimtot. Setelah ini diperoleh sketsalah grafik pendahuluan
yang dibuat dengan evaluasi fungsi dibeberapa titik yang dipilih dengan benar.
Sketsa pendahuluan diperbaiki dengan menhitung turunan pertama dan kedua
dan memakainya untuk menghubungkan informasi yang belum ada tentang
titik-titik stasioner, titik-titik belok dan seterusnya.

2x 2  8
Contoh: Buatlah sketsa grafik y =
x 2  16

Penyelesaian:
 Siketris: penggantian x dengan –x tidak mengubah persamaan, maka
grafik simetri terhadap sumbu y.
 Perpotongan dengan sumbu x: Diambil y = 0 menghasilkan
perpotongan dengan sumbu x di x = -2 dan x = 2
 Perpotongan dengan sumbu y: Diambil x = 0 menghasilkan
perpotongan dengan sumbu y di y = ½.
 Asimtot tegak: diambi x2 – 16 = 0 maka asimtoto tegak x = -4 dan x = 4
 Asimtoto datar: Limit x menuju takhingga, yaitu
2x 2  8 2x 2
lim 2  lim 2  2
x  x  16 x  x
442

2x 2  8 2x 2
lim  lim 2
x  x 2  16 x  x 2

Menghasilkan asimtot datar y = 2

Himpunan titik-titik yang merupakan perpotongan dengan sumbu x atau


asimtot tegak adlah {-4, -2, 2, 4}. Titik-titik ini membagi sumbu x menjadi
selang terbuka (-∞, -4), (-4, -2), (-2, 2), (2, 4), (4,+∞).
Pada setiap selang tersebut, y,tidak dapat berubah tanda (mengapa?). Tanda y
pada saetiap selang diperoleh dengan memilih sembarang titik uji dan
mengevaluasi y = f(x) di titik-titik uji (Lihat Tabel di bawah).
Dengan menggunakan informasi dalam table, segmen kecil kurva dapat
digambarkan pada perpotongan dan titik-titik uji, penggunaan tanda y adalah
untuk meletakan segmen kurva yang tepat di atas atau di bawah sumbu-x;
segmen-segmen ini merupakan petunjuk awal dari bentuk kurva disekitar
asimtototegak dan datar, dengan segmen kurva disekitar asimtot dapat
digambar dengan baik (Gambar 5.4.5(a)).Segmen kurva tersebut adalah bentuk
kasar grafik. Tentu saja, kemungkinan beberapa titik stasioner hilang dan
cekungan terletak pada tempat yang salah, tetapi ini akan dibenarkan dengan
penggunaan informasi turunan pertama dan kedua.

 Turunan:
dy x 2  16  2 x 2  82 x  48 x
 
dx x 2  16 2
x 2  162

d 2 y 48 16  3x 2


dx 2 
x 2  16 
3

2x 2  8
SELANG TITIK UJI y= TANDA y
x 2  16
(-∞, -4) x  5 y  14 / 3 +
(-4, -2) x  3 y  10 / 7 -
(-2, 2) x0 y  1/ 2 +
(2, 4) x3 y  10 / 7 -
(4, +∞) x5 y  14 / 3 +
443

y y
8

4
2
x
4 4

x
8 4 4 8

(a) (b) 4

4 x 2  16 8
y
x 2  16

Gambar 5.4.5

 Selang naik dan turun; Analisa tanda dy/dx menghasilkan

           0          
Tanda dy / dx
 4    4 

Grafik naik pada selang (-∞, -4) dan (-4, 0); dan turunan pada selang (0, 4)
dan (4, +∞). Terdapat titik stasioner di x = 0.

 Kecekungan: Analisa tanda d2y/dx2 menghasilkan

                     
Tanda d 2 y / dx 2
4 4
Cekung Cekung Cekung
Keatas Kebawah Keatas

Ada perubahan pada kecekungan di asimtot tegak, x = -4 dan x = 4 tapi tidak


ada titik belok. Informasi turunan digunakan untuk memperbaiki sketsa kasar
pada Gambar 5.4.5(a) menghasilkan grafik pada Gambar 5.4.5(b)

x2 1
Contoh: Buatlah sketsa grafik y 
x3
444

Penyelesaian:
 Simetri: Penggantian x dengan –x dan ydengan –y menghasilkan
persamaan yang serupa dengan persamaan semula. Jadi grafik simetri
terhadap titik asal.
 Perpotongan dengan sumbu x: Diambil y = 0 menghasilkan perpotongan
dengan sumbu-x di x = -1 dan x = 1
 Perpotongan dengan sumbu y: diambil x = 0 menghasilkan penyebut nol,
jadi tidak ada perpotongandengan sumbu y.
 Asimtot tegak: Diambil x3 = 0 menghasilkan x = 0
 Asimtot datar:

x2 1 x2 1
lim  lim  lim  0
x  x 3 x   x 3 x   x
x 1
2 x 2 1
lim  lim  lim  0
x  x 3 x   x 3 x   x
Menghasilkan asoimtot datar y = 0.

Himpunan titik-titik dimana terjadi perpotongan dengan sumbu–x atau asimtot


tegak yaitu -1,0,1, membagi sumbu-x menjadi selang terbuka
(-∞, -1), (-1,0), (0, 1), (1, +∞).

x2 1
TITIK UJI y= TANDA y
x3

x  2 y  3 / 8 -
x  1 / 2 y6 +
x  1/ 2 y  6 -
x2 y  3/8 +

 Turunan:
dy x 3 2 x   x 2  13x 2  3  x 2
 
dx x 3 2 x4
dy x 4  2 x   3  x 2 4 x 3  2x 2  6
 
dx x 4 2 x5
445

 Selang naik dan turun

     0            0     Tanda dy/dx
 3  0  3 
 

Analisa ini menyatakan bahwa titik stasioner di x   3 dan x   3

d2y
 Kecekungan: tanda
dx 2

 0           0   


Tanda d 2 y / dx 2
6 0 6
Cekung Belok Cekung Cekung belok Cekung
KeBawah KeAtas Kebawah Keatas

Analisa ini menyatakan bahwa perubahan kecekungan terjadi di asimtot


tegak x=0 dan titik-titik x   6 dan x= x  6 . Grafik terakhir yang di
lengkapi dengan titik-titik stasioner dan titik-titik belok ditunjukan pada
Gambar 5.4.6 (a)

x y = x3 – 3x + 2
5 6
 6  -2,45   -0,34 2
36
1
 6  -2,45 5 6
  -0,34
36 2 1 2
1
 6  -2,45 5 6
  -0,34 1
36
 6  -2,45 2
5 6
  -0,34
36 x 1
y
x3

(a)

Gambar 5.4.6
446

Latihan 5.4

Untuk soal 1 – 18, gunakan teknik yang diilustrasikan pada sub-bab ini untuk
membuat sketsa grafik dari polinomial yang diberikan. Tentukan titik-titik
stasioner dan titik-titik belok.

1. x2 - 2x – 3 2. 1 + x – x2 3. x3 – 3x + 1
4. 2x3 – 6x + 4 5. x3 + 3x2 + 5 6. x2 – x3
7. 2x3 – 3x2 + 12x + 9 8. x3 – 3x2 + 3 9. (x – 1)4
10. (x – 1)5 11. x4 – 2x3 – 1 12. x4 – 2x2 – 12
13. x4 – 3x3 + 3x2 + 1 14. x5 – 4x4 + 4x3 15. 3x5 – 5x3
16. 3x4 + 4x3 17. x(x – 1)3 18. x5 + 5x5

Untuk soal 19 – 24, tentukan persamaan asimtot tegak dan datar untuk grafik
fungsi rasional yang diberikan.

3x 4x  1 x3
19. 20. 21.
x2 3x  2 x2  5
3 x x2 2x2  1
22. 23. 24.
x2  1 x2  2x  3 3x 2  6 x

Untuk soal 25 – 28, tentukan semua nilai-nilai x dimana grafik yang diberikan
memotong asimtot datanya.

x2 x 3  3r  2
25. 26.
x2  2x  5 x2

x2  1 25  9 x 2
27. 28.
2x2  6x x3
447

Untuk soal 29 - 47m gunakan cara-cara yang diilustrasikan pada sub bab ini
untuk membuat sketsa grafik fungsi rasional yang diberikan. Tunjukkan
asimtot-asimtot tegak dan datar dan tentukan titik-titik stasioner, dan jika
beralasan juga titik-titik beloknya.

2x x x2
29. 30. 31.
x3 x2  1 x2  1
1 x 1
32. 33. 34. 1 
( x  1) 2
1 x 2
x
x 1 1 1
35. 36. 37. x 2 
x2 x 1
2
x
2x  1
2
1 x 8
38. 39. 40.
x 2
x 2
4  x2
x 1 8( x  2) ( x  1) 2
41. 42. 43.
x2  4 x2 x2
3 1 4 4 x 1
44. 2  3 45. 3   2 46.
x x x x x2  1
x3  1
47.
x3  1
48. Asimtot miring. Jika suatu fungsi rasional P(x)/Q(x) sedemikian hingga
derajat pembilang lebih tinggi satu banding derajat penyebut, maka grafik
P(x)/Q(x) akan mempunyai suatu asimtot miring. Untuk melihatnya
P( x) R( x)
perhatikan pembagian P(x) oleh Q(x).  (ax  b)  dengan
Q( x) Q( x )
ax+b hasil bagi dan R(x) sisa pembagian.
Gunakan fakta bahwa derajat sisa R(x) lebih kecil dari derajat pembagi
Q(x). Untuk membantu gunakan .
 P( x) 
x 
lim
  (ax  b)  0
 Q( x) 
 P( x) 
x 
lim
  (ax  b)  0
 Q( x) 
448

Hasil ini menyatakan bahwa grafik persamaan yang=P(x)/Q(x) mendekati


garis (asimtot miring) y=ax+b jika x+ atau x - (Gambar 5.4.8)

P( x)
y
Q( x)
P( x)
 (ax  b)
Q( x)

P( x) y=ax-b
(ax  b) 
Q( x)

P( x)
y
Q( x)

Gambar 5.4.8

Untuk soal 49 - 53 Buatlah sketsa grafik fungsi rasional. Tunjukkan semua


asimtot tegak, datar, dan miring.

x2  2 x2  2x  3 ( x  2)3
49. 50. 51.
x x2 x2
4  x3 1 1
52. 53. x 1  2
x2 x x

54. Tentukan semua nilai-nilai x dimana grafik


2 x3  3x  4
y
x2
memotong asimtot miring.
449

55. Andaikan f(x)=x2+1/x. Tunjukkan bahwa grafik y=f(x) mendekati kurva -


y=x2 secara asimtot dalam pengertian
x 
lim
[ f ( x)  x 2 ]  0 dan x 
lim
[ f ( x)  x 2 ]  0
Buatlah sketsa grafik y=f(x) yang menunjukkan sifat asimtot ini.

56. Andaikan f(x) = 3 – x2 + 2/x. Tunjukkan bahwa y = f(x) mendekati kurva


f(x) = 3 – x2 secara asimtotis dengan pengertian yang digambarkan pada
soal 55. Buatlah sketsa grafik y = f(x) yang menunjukkan sifat asimtotis
ini.

57. Suatu plot tanah segi empat yang dipagari sedemikian hingga luas daerah
yang tertutup 400 m2. Andaikan L panjang pagar yang diperlukan dan x
panjang salah satu sisi segiempat. Tunjukkan bahwa L = 2x + 800/x
untuk x > 0 dan buatlah sketsa grafik L terhadap x untuk x>0.

58. Suatu kotak dengan dasar bujur sangkar dan bagian atas terbuka dibuat
dari lembaran logam sedemikian hingga volumenya 500 cm3. Andaikan S
luas permukaan kotak dan x panjang suatu sisi dasar bujursangkar.
Tunjukkan bahwa S = x2 + 2000/x untuk x>0 dan buatlah sketsa grafik S
terhadap x untuk x > 0.

59. Gambar 5.4.9 menunjukkan grafik polinomial y = 0.1x5(x - 1) yang


dihasilkan komputer dengan menggunakan selang –2 < x < 2,5 dan –1 < y
< 5. Tunjukkan bahwa pilihan skala tegak menyebabkan komputer
kehilangan sifat-sifat grafik yang penting. Tentukan sifat-sifat grafik yang
hilang dan buat sendiri sketsa grafik itu yang menunjukkan sifat-sifat
yang hilang itu.

y
4

y
2 0.1
x
x -2 1
-2 2

Gambar 5.4.9 Gambar 5.4.10


450

60. Gambar 5.4.10 menunjukkan grafik polinomial y = 0.15(x + 1)2 dengan


menggunakan selang –2 < x < 1,5 dan –0,2 < y < 0,2. Tunjukkan bahwa
pilihan skala tegak menyebabkan komputer kehilangan sifat-sifat grafik
yang penting. Tentukan sifat-sifat yang hilang dan buat sketsa grafik itu
yang menunjukkan sifat-sifat yang hilang itu.

5.5. MASALAH GRAFIK YANG LAIN

Pada sub-bab ini akan diterangkan grafik berbagai fungsi kontinu yang karakteristiknya tidak
ditemukan pada grafik polinomial dan rasional.

Garis Singgung Tegak

DEFINISI 5.14 Grafik suatu fungsi f dikatakan mempunyai garis singgung


tegak di x0 jika f kontinu di x0 dan  f’(x) mendekati + bila x  x0

Empat keadaan yang lazim terjadinya garis singgung tegak diilustrasikan pada
Gambar 5.5.1. Segmen kurva pada bagian (c) dan (d) pada gambar 5.5.1
disebut patahan (cusp). Lebih tepatnya dibuat defiisi berikut.

DEFINISI 5.15 Grafik suatu fungsi f dikatakan mempunyai patahan di x0 jika


f kontinu dan f’ (x) + bila x mendekati x0 dari satu sisi dan f’(x)  - bila
x mendekati x0 dari sisi yang lain.

Contoh: Buatlah sketsa grafik y = (x – 4)2/3


451

x0 x0 x0 x0

lim f’(x) = +  lim f’(x) = -  lim f’(x) = -  lim f’(x) = + 


+ + + +
zx0 zx0 zx0 zx0
lim f’(x) = +  lim f’(x) = -  lim f’(x) = +  lim f’(x) = - 
- - - -
zx0 zx0 zx0 zx0

(a) (b) (c) (d)

Gambar 5.5.1

Penyelesaian f(x) = (x – 4)2/3


 Simetri : Tidak ada simetri terhadap sumbu koordinat atau titik asal
(periksa)
 Perpotongan dengan sumbu x:y = 0 menghasilkan perpotongan di x =
4
 Perpotongan dengan sumbu y : x = 0 menghasilkan perpotongan di
y= 3 16
 Asimtot tegak : Tak ada, karena f(x) = (x-4)2/3 fungsi kontinu
 Asimtot datar : tak ada, sebab
lim f’(x-4)2/3 = + 
x+
lim f’(x-4)2/3 = + 
x-
 Turunan
dy 2 2
 f ' ( x)  ( x  4) 1 / 3 
dx 3 3( x  4)1 / 3
d2y 2 2
 f " ( x)   ( x  4) 4 / 3  
dx 2
9 9( x  4)4 / 3
452

 Garis singgung tegak : Ada garis singgung tegak di x = 4 seperti


gambar 5.5.1(d) dikarenakan f(x) = (x-4)2/3 kontinu di x = 4 dan
2
lim f’(x) = lim  
+ 3( x  4)1 / 3
x4 +
x4

2
lim f’(x) = lim +  
x4 +
x4 3( x  4)1 / 3

 Selang naik dan turun: kecekungan; Kombinasi informasi terdahulu


dengan mengikuti analisa tanda turunan pertama dan kedua menghasilkan
grafik pada Gambar 5.5.2. Titik-titik dalam tabel menambah akurasi
penggambaran grafik.

Contoh: Buatlah sketsa grafik y = 6x1/3 + 3x4/3

       x         dy
tanda dari
dx
       x         d2y
tanda dari 2
cekung ke bawah cekung ke bawah dx

y
x y = (x-4)2/3 3
0 3
16 2,52 y = (x-4)2/3
3 1
4 0
5 1
8 3
16 2,52
x
4

Gambar 5.5.2
453

 Simetri : Tidak ada simetri terhadap sumbu koordinat atau titik asal
(periksa)
 Perpotongan dengan sumbu x : y = 3x1/3(2+x)=0 menghasilkan
perpotongan di x = 0 dan x = -2
 Perpotongan dengan sumbu y : x = 0 menghasilkan perpotongan di
y=0
 Asimtot tegak : Tak ada, karena f(x) = 6x1/3+3x4/3 kontinu
 Asimtot datar : tak ada, sebab
lim (6x1/3 + 3x4/3) = lim 3x1/3(2 + x) = + 
x+ x+
lim (6x + 3x ) = lim 3x1/3(2 + x) = + 
1/3 4/3

x- x-
 Turunan
dy 2(2 x  1)
 f ' ( x)  2 x  2 / 3  4 x1 / 3  2 x  2 / 3 (1  2 x) 
dx x2 / 3
2
d y 4 4 4 4( x  1)
2
 f "( x)   x 5 / 3  x  2 / 3  x 5 / 3 (1  x) 
dx 3 3 3 3x 5 / 3

 Garis singgung tegak : Ada garis singgung tegak di x = 0 seperti


tampak gambar 5.5.1(a) karena
2(2 x  1)
lim f’(x) = lim +  
x0 +
x0 x2 / 3
2(2 x  1)
lim f’(x) = lim-  
x0 -
x0 x2 / 3

 Selang naik dan turun: kecekungan; Kombinasi informasi terdahulu


dengan mengikuti analisa tanda turunan pertama dan kedua
menghasilkan grafik pada Gambar 5.5.3. Untuk menambah akurasi,
titik stasioner di x = - ½ dan titik belok di x = 0 dan x = 1 disertakan
dalam penggambaran.

Catatan. Titik belok di x = 1 tampak begitu halus hampir tak terlihat (Gambar
5.5.3), ini diketahui dari analisa turunan kedua.
454

     0           dy
tanda dari  2 x  2 / 3 (1  2 x)
1 dx
 0
2
         0        d2y 4
tanda dari 2  x 4 / 5 ( x  1
cek ke atas cek ke bwh cek ke atas dx 3

15

x y =6x1/3+3x4/3

-3  4,3
-½  -,6 x
1 9 -3 3
2  15,1 -5

Gambar 5.5.3

Latihan 5.5

Untuk soal 1 – 24, gunakan teknik-teknik yang diilustrasikan pada sub bab ini
untuk mensketsa grafik dari fungsi yang diberikan.

1. (x-2)1/3 2. x1/4 3. x1/5 4. x2/5


5. x4/3 6. x-1/3 7. 1 – x2/3 8. x 2
9. x2  1 10. 3
x2  4 11. 2x + 3x2/3 12. 4x – 3x4/3
8( x  1) 1 x
13. x 3  r 14. 4x1/3 – x4/3 15. 16.
x 1 x
x
17. 18. x2/3(x – 5) 19. x + sin x 20. x - cos x
x3
455

21. sin x + cos x 22. 3 cos x + sin x 23. sin2 x..0< x < 2x
 
24. x tan x, - <x< .
2 2

5.6. NILAI MAKSIMUM DAN NILAI MINIMUM FUNGSI

Permasalahan yang terkait dengan mencari cara terbaik untuk menyelesaikan masalah disebut
masalah optimasi. Kelompok besar masalah optimasi dapat direduksi menjadi permasalahan
untuk menemukan nilai terbesar atau terkecil fungsi dan menentukan dimana nilai itu terjadi.
Pada sub-bab ini dikembangkan beberapa piranti matematika untuk menyelesaikan masalah
seperti ini.

Ekstrim Absolut
Jika dibayangkan grafik suatu fungsi f berupa profil dua dimensi suatu gunung
(Gambar 5.6.1), maka puncak gunung berkaitan dengan maksimum relatif dan
dasar lembah berkaitan dengan minimum relatif. Secara geologi, ini adalah
titik-titik tinggi dan rendah dari suatu tanah lapang di sekitarnya. Tetapi, kalau
seorang ahli geologi tertarik mencari gunung tertinggi dan lembah terdalam
keseluruhan perbukitan (Gambar 5.6.1), maka matematikawan tertarik
menemukan nilai terbesar dan terkecil dari suatu fungsi dalam keseluruhan
domain.

Gunung tertinggi

Maksimum
Relatif

Minimum
Relatif

Lembah
terdalam
Gambar 5.6.1
456

Hal ini mengarah pada pendefinisian berikut.

DEFINISI 5.16. Jika f(x0) > f(x) untuk semua x pada domain f, maka f(x0)
disebut nilai maksimum absolut atau singkatnya disebut nilai maksimum f.

DEFINISI 5.17. Jika f(x0) < f(x) untuk semua x pada domain f, maka f(x0)
disebut nilai minimum absolut atau singkatnya disebut nilai minimum f.

DEFINISI 5.18. Nilai maksimum dan minimum fungsi f disebut nilai ekstrim
absolut atau nilai ekstrim. Istilah ekstrim absolut disebut juga ekstrim.

Seringkali nilai ekstrim f dicari hanya pada selang tertentu, bukan


keseluruhan domain f. Arti dari istilah itu adalah nilai maksimum f pada [a, b]
atau nilai maksimum f pada (a, b).

Contoh: Grafik fungsi f pada Gambar 5.6.2 (a) tidak mempunyai nilai
maksimum. Nilai minimumnya adalah 2 dan minimumnya terjadi di x = 3

y y
3
y=f(x)

x
-2 2
2
x
3
(a) (b)
Gambar 5.6.2

Contoh: Grafik fungsi pada gambar 5.6.2 (b) tidak mempunyai nilai
maksimum maupun nilai minimum. Tetapi pada selang (-2,2), akan
mempunyai keduanya. Nilai maksimum f(x) = 3 terjadi di x = -2. Nilai
minimum pada [-2,2] adalah f(x) = -2 terjadi di x = 1.
Gambar fungsi f(x) = 2x+1 pada gambar 5.6.3(a) mempunyai minimum tetapi
tidak mempunyai nilai maksimum pada (0,3). Nilai minimum yaitu 1 terjadi di
x = 0. Alasan mengapa f(x) tidak mempunyai maksimum tidak terlalu jelas,
457

tetapi penting untuk dimengerti. Jika selang yang diambil [0,3] bukan (0‘3),
maka f(x) mempunyai nilai maksimum 7 yang terjadi di x = 3. Akan tetapi titik
x = 3 tidak terletak pada selang [0,3], sehingga 7 bukan nilai maksimum pada
[0,3]. Tetapi tidak ada bilangan lebih kecil dari 7 yang merupakan nilai
maksimum dari f. Lebih tepat dikatakan, tidak ada M yang lebih besar dari 7
sehingga f(x) > M untuk x di dalam [0,3] (lihat gambar 5.6.3(b). Jadi f(x) =2x + 1
tidak mempunyai nilai maksimum pada [0,3].
Apabila diberikan suatu fungsi f, ada beragam pertanyaan yang dapat
diajukan sekitar masalah nilai maksimum dan minimum, misalnya :
 Apakah f(x) mempunyai nilai maksimum?
 Jika f(x) mempunyai nilai maksimum, berapa nilainya?
 Jika f(x) mempunyai nilai maksimum, dimana terjadinya?
Pertanyaan-pertanyaan yang sama, tentu saja dapat diajukan sebagai nilai
minimum f. Sekarang diperoleh beberapa hasil yang membantu menjawab
pertanyaan-pertanyaan seperti itu.

Gambar 5.63

Teorema berikut memberikan kondisi yang menjamin adanya nilai,


maksimum dan minimum fungsi yang dimaksud.

TEOREMA 5.19 (Teorema Nilai Ekstrim). Jika suatu fungsi f kontinu pada
selang tertutup [a, b] maka f mempunyai nilai maksimum dan nilai minimum
pada [a, b].

Bukti teorema ini sudah jelas, silahkan pembaca untuk membuktikan sebagai
latihan. Bagaimanapun, hasil tersebut jelas secara intuitif jika dibayangkan
gerakan partikel sepanjang grafik fungsi kontinu pada selang [a, b]; selamanya
perjalanan partikel akan melewati t