Anda di halaman 1dari 28

“TEKNIK PEMBENIHAN IKAN MAS (Cyprinus carpio)”

Oleh: Kelompok 1

Shifa Aubriana Schram (NIM. 15051102025)


Aprini L. Sedu (NIM. 15051102023)
Firgiawan Paputungan (NIM. 15051102009)

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS SAM RATULANGI
MANADO
2018

1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya kepada penulis selama menyusun dan menyelesaikan makalah ini
dengan judul: “Teknik Pembenihan Ikan Mas (Cyprinus carpio).”
Penulisan makalah ini disusun dengan maksud untuk melengkapi salah satu syarat guna
mengikuti mata kuliah Teknologi Pembenihan pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Universitas Sam Ratulangi, Manado.
Terselesainya makalah ini tidak lepas dari bantuan banyak pihak. Penulis menyadari
sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, dikarenakan keterbatasan dan
kemampuan kami. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan yang
memerlukannya.

Manado, Februari 2018

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................... 2

DAFTAR ISI.............................................................................................................................. 3

1. PENDAHULUAN .............................................................................................................. 5

1.1. Latar Belakang ............................................................................................................ 5

1.2. Tujuan.......................................................................................................................... 5

2. IKAN MAS (Cyprinus carpio) ........................................................................................... 6

2.1. Klasifikasi dan Morfologi ........................................................................................... 6

2.2. Kebiasaan Hidup ......................................................................................................... 7

2.3. Perkembangan ............................................................................................................. 7

2.4. Kebiasaan Makan ........................................................................................................ 8

3. LOKASI PEMBENIHAN .................................................................................................. 9

3.1. Persyaratan Teknis ...................................................................................................... 9

3.2. Persyaratan Sosial, Ekonomi dan Lingkungan .......................................................... 11

4. FASILITAS, TATA LETAK DAN KONSTRUKSI PEMBENIHAN ............................ 12

4.1. Sarana dan Prasarana ................................................................................................. 12

4.2. Konstruksi dan Tata Letak ........................................................................................ 13

4.3. Wadah........................................................................................................................ 14

5. PENYEDIAAN INDUK................................................................................................... 15

5.1. Sifat Warisan Induk ................................................................................................... 15

5.2. Pengadaan Induk ....................................................................................................... 15

5.3. Seleksi Induk ............................................................................................................. 17

6. PEMBENIHAN IKAN MAS ........................................................................................... 19

6.1. Kualitas Air ............................................................................................................... 19

6.2. Pematangan gonad..................................................................................................... 19

6.3. Pemijahan alami ........................................................................................................ 19

6.4. Pemijahan Buatan ...................................................................................................... 20


3
6.5. Penetasan Telur ......................................................................................................... 21

6.6. Pemeliharaan Larva ................................................................................................... 22

6.7. Kebutuhan Pakan dan Nutrisi.................................................................................... 23

6.8. Pendederan ................................................................................................................ 24

6.9. Panen ......................................................................................................................... 26

7. PENUTUP ........................................................................................................................ 27

7.1. Kesimpulan................................................................................................................ 27

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 28

4
1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Usaha pembenihan merupakan ujung tambak keberhasilan kegiatan budidaya ikan,
sebab usaha pembenihan dapat mensuplai benih terhadap usaha budidaya ikan untuk setiap
musim tanam. Dalam kegiatan budidaya pembenihan memiliki posisi sangat penting
dikarenakan kelangsungan hidup suatu benih dan keberhasilan dalam usaha pembesaran
ikan. Maka, dalam pelaksanaan usaha pembenihan ikan bukan hanya ditentukan oleh daya
ukur sumber daya hayati tetapi juga harus diimbangi dengan kemampuan pengelola.
Ikan Mas (Cyprinus carpio L) sebagai ikan konsumsi merupakan salah satu
komoditas sector perikanan air tawar yang terus berkembang pesat. Ikan Mas banyak
diminati konsumen karena rasa dagingnya yang enak dan gurih serta memiliki kandungan
protein yang cukup tinggi. Permintaan konsumsi ikan Mas dari tahun ke tahun cenderung
meningkat terutama di kota-kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Salah satu
faktor yang sangat penting dalam usaha budidaya perikanan adalah ketersediaan benih yang
berkualitas tinggi yang akan memacu perkembangan budidaya perikanan dengan cepat.
Selain itu, pembenihan ikan mas tergolong mudah karena ikan yang bernama latin
Cyprius carpio ini dapat memijah secara alami. Hal penting yang harus diperhatikan bagi
calon breeder adalah faktor kematangan gonad induknya, baik jantan maupun betina. Di
samping itu, lingkungan pemijahan harus disesuaikan dengan kebutuhan iakn mas itu
sendiri. Pada pembenihan ikan mas, dapat ditempuh dalam 5 tahap, yaitu pemeliharaan
induk, seleksi induk, pemijahan induk, penetasan dan pendederan ikan mas.

1.2. Tujuan
1. Mengetahui aspek-aspek yang diperhatikan dalam pembenihan ikan mas
2. Mengetahui persyaratan teknis yang berkaitan dengan lokasi dan fasilitas dalam
kegiatan pembenihan ikan mas
3. Mengetahui teknik pembenihan ikan mas dari penyediaan induk sampai kegiatan
pembenihan

5
2. IKAN MAS (Cyprinus carpio)

2.1. Klasifikasi dan Morfologi


Menurut Khairuman (2008), penggolongan ikan mas berdasarkan ilmu taksonomi
hewan (sistem pengelompokkan hewan berdasarkan bentuk tubuh dan sifat-sifatnya) dapat
dipaparkan sebagai berikut:
Phylum: Chordata
Subphylum: Vertebrata
Superclass: Pisces
Class: Osteichthyes
Ordo: Cypriniformes
Family: Cyprinidae
Genus: Cyprinus
Spesies: Cyprinus carpio L

Gambar 1. Morfologi Ikan Mas (Cyprinus Carpio)

Ikan mas dikenal dengan berbagai macam sebutan. Dalam bahasa Inggris, ikan mas
disebut common carp. Masyarakat di pulau Jawa menyebutnya ikan masmasan lauk mas.
Di Sumatera, ikan mas lebih dikenal dengan sebutan ikan rayo atau ikan ameh. Bentuk
tubuh ikan mas agak memanjang dan memipih tegak (compressed). Mulutnya terletak di
ujung tengah (terminal) dan dapat disembulkan (protaksil). Di bagian anterior mulut
terdapat dua pasang sungut. Di ujung dalam mulut terdapat gigi kerongkongan (pharyngeal
teeth) yang bersusun dari tiga baris gigi geraham. Hampir seluruh bagin tubuh ikan mas
ditutupi sisik, kecuali beberapa varietas yang memiliki sedikit sisik. Sisik ikan mas
berukuran relative besar dan digolongkan ke dalam sisik tipe lingkaran (sikloid).
Sirip punggung (dorsal) berukuran memanjang dan bagian belakangnya berjari
lurus. Sementara itu, sirip ketiga dan keempat bergerigi. Letak sirip punggung
berseberangan dengan permukaan sirip perut (ventral). Tipe sirip dubur (anal) mirip dengan

6
sirip punggung, yakni berjari keras dan bagian akhirnya bergerigi. Garis rusuk atau gurat
sisi (linea lateralis) pada ikan mas tergolong lengkap, berada di pertengahan tubuh
melintang dari tutup insang sampai ke ujung belakang pangkal ekor.

2.2. Kebiasaan Hidup


Ikan mas dapat hidup baik di daerah dengan ketinggian 150-600 meter di atas
permukaan laut (dpl) dan pada suhu 25-30°C. Meskipun tergolong ikan air tawar, ikan mas
terkadang ditemukan di perairan payau atau muara sungai yang bersalinitas (kadar garam)
25-30%. (Khairuman, 2008).
Berbeda dengan lele lokal (Clarias batracus), terutama pejantannya yang mempunyai
sifat mengsuh anak-anaknya. Ikan mas justru sebaliknya, ia tidak mau merawat
keturunannya. Setelah melakukan tugasnya (kawin), ia tidak menghiraukan lagi
kelangsungan hidup anak-anaknya. Maka dalam usaha budidaya ikan mas kitalah yang
harus merawat telur-telur hingga menetas menjadi benih. Tabiat atau kebiasaan lain ikan
mas di alam adalah selalu mencari tempat yang aman (terutama di tempat yang ditumbuhi
rumput) karena sifat telur ikan menempel (adhesive). Oleh sebab itu para petani ikan di
Jerman sebelum melakukan pemijahan terlebih dahulu mencari tanaman air atau
rerumputan untuk ditanam di dasar kolam. Sedangkan di negara kita (Indonesia) para petani
mempergunakan ijuk sebagai alat penempel telur yang lazim disebut kakaban. Selain ijuk
dapat pula mengguanakan bahan lain, misalnya tali rapia atau tumbuhan air eceng gondok.

2.3. Perkembangan
Siklus hidup ikan mas dimulai dari perkembangan di dalam gonat (ovarium pada ikan
betina yang menghasilkan telur dan testis pada ikan jantan yang menghasilkan sperma).
Sebenarnya pemijahan ikan mas dapat terjadi sepanjang tahun dan tidak tergantung pada
musim. Namun, di habitat aslinya ikan mas sering memijah pada awal musim hujan, karena
adanya rangsangan dari aroma tanah kering yang tergenang air.
Secara alami, pemijahan terjadi pada tengah malam sampai akhir fajar. Menjelang
memijah, induk-induk ikan mas aktif mencari tempat yang rimbun, seperti tanaman air atau
rerumputan yang menutupi permukaan air. Substrat inilah yang nantinya akan digunakan
sebagai tempat menempel telur sekaligus membantu perangsangan ketika terjadi
pemijahan.

7
2.4. Kebiasaan Makan
Ikan mas termasuk pemakan segala. Pada umur muda (ukuran 10 cm), ikan mas
senang memakan jasad hewan atau tumbuhan yang hidup di dasar perairan/kolam,
misalnya chironomidae, oligochaeta, tubificidae, epimidae, trichoptera, molusca, dan
sebagainya. Selain itu juga memakan protojoa dan zooplankton seperti copepoda dan
cladocera. Hewan-hewan kecil tersebut disedot bersama lumpurnya, diambil yang dapat
dimanfaatkan dan sisanya dikeluarkan melalui mulut.
Ikan mas sering mencari sumber makanan (jasad-jasad renik) disekililing
pematang. Oleh sebab itu pematang sering rusak dan longsor karenanya. Ikan mas juga
suka mengaduk-aduk dasar kolam untuk mencari makanan yang bisa dimanfaatkan
seperti larva insecta, cacing-cacingan dan lain sebagainya. Aktifitas ini akan membantu
kawanan benih mencari makanan, karena binatang-binatang di dasar kolam yang teraduk
keatas dapat menjadi santapan lejat bagi benih. Dengan kebiasaan seperti itu akan
mempermudah bagi kita mengetahui apa kemauan mereka.

8
3. LOKASI PEMBENIHAN

3.1. Persyaratan Teknis


Factor teknis adalah faktor-faktor yang secara langsung mempengaruhi keberhasilan
atau kegagalan terhadap kegiatan teknis budidaya ikan seperti sumber air, jenis tanah,
limbah, dan kualitas air. Pemilihan lokasi dan lahan untuk usaha pembenihan dan
pendederan ikan mas harus memenuhi beberapa kriteria, di antaranya teknis dan biologis.
3.1.1. Tanah
Tanah yang baik untuk usaha pembenihan dan pendederan ikan mas adalah liat
berpasir dengan perbandingan tanah liat dan pasir 3 : 2. Tanah jenis ini umumnya
bersifat padat (tidak mudah retak-retak ketika kering), kedap air, dan tidak bersifat
asam. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah tanah yang dipilih harus terbebas dari
bahan beracun dan tidak berpengaruh buruk terhadap kualitas air sehingga dapat
mendukung kehidupan dan pertumbuhan ikan dan biota air lainnya. Kemiringan tanah
yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5% untuk memudahkan pengairan
kolam secara gravitasi.
Jika tanah liat berpasir sulit ditemukan, bisa digunakan tanah yang porous, tetapi
perlu dilakukan usaha pelapisan terlebih dulu untuk mengurangi rembesan air.
Pelapisan dapat menggunakan tanah liat atau bentonit (mineral liat yang bersifat sangat
koloid). Pemupukan bahan organik dalam jangka panjang juga akan mengurangi
perembesan air dan mengurangi kekeruhan yang disebabkan oleh lumpur dan koloid.
Untuk mengatasi perembesan air pada usaha ikan mas skala besar, kolam harus dilapisi
dengan plastik, beton, atau aspal.
3.1.2. Air
Usaha pembenihan dan pendederan ikan mas dapat menggunakan air hujan, air
waduk, air sungai, mata air, air saluran irigasi, air permukaan, air sumur terbuka, air
sumur pantek, dan air sumur artesis. Dari berbagai sumber air tersebut, air waduk
dianggap yang terbaik karena endapannya cukup sedikit dan kandungan oksigen serta
unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan pakan alami cukup tinggi.
Sementara itu, air sumur terbuka, air sumur pantek, atau air tanah lainnya, lebih
aman dari kontaminasi biota dan penyakit, tetapi miskin oksigen (02) terlarut dan
kandungan karbondioksidanya (CO2) cukup tinggi. Air jenis ini harus mendapatkan
perlakuan aerasi terlebih dulu sebelum dipergunakan untuk pembenihan dan

9
pendederan ikan mas. Beberapa kriteria kualitas air yang harus dipenuhi dalam usaha
pembenihan ikan mas sebagai berikut.
Tabel 1. parameter kualitas air untuk pembenihan ikan mas
Parameter Kualitas Air Nilai Batas
A. Fisika
Residu padat terlarut total Maksimum 2.000 mg/I
Padatan tersuspensi Maksimum 400 mg/I
Kekeruhan Maksimum 50 JTV
Suhu 26-28° C (fluktuasi normal sekitar 4 derajat celsius)
B. Kimia
Oksigen terlarut Lebih besar dari 2 mg/I. Kandung, minimum 6 mg/I
tidak boleh terjadi selama lebih dari 8 jam berturut-
turut
Karbondioksida 0-12 mg/I
pH 6,5-8,5
Alkalinitas (CaCO3) Minimum 20 mg/I
Kesadahan total (CaCO3) Minimum 20 mg/I
Amonia total Maksimum 0,02 mg/I
Nitrit Maksimum 0,1 mg/I
Pestisida organoklor Maksimum (0,01 x LC50-96 jam) mg/I
Pestisida organofosfat Maksimum (0,01 x LC50-96 jam) mg/I dan karbonat
Kekeruhan dapat memengaruhi kegiatan budi daya ikan mas. Air keruh yang
disebabkan oleh koloid lumpur dapat mengganggu pernapasan ikan karena koloid
lumpur menempel pada insang. Koloid lumpur juga bisa menutupi permukaan telur,
sehingga telur ikan tidak akan menetas atau membusuk.
3.1.3. Jauh dari pembuangan limbah dan banjir
Faktor lain yang harus diperhatikan adalah lokasi pembenihan dan pendederan
harus aman dari kemungkinan terjadinya banjir dan daerah industri yang dapat memicu
terjadinya pencemaran. Jika faktor ini diabaikan, bukan mustahil usaha yang telah
dilakukan bertahun-tahun akan musnah begitu saja. Sumber air untuk budidaya ikan
harus memenuhi persyaratan kualitas ar yang sesuai, baik secara biologis, fisika
maupun kimia. Yaitu air harus jernih tapi kaya akan pkan alami, tidak mengandung
bahan-bahan yang beracung serta suhu, pH sesui dengan jenis ikan yang dibudidayakan.

10
3.2. Persyaratan Sosial, Ekonomi dan Lingkungan
Persyaratan social, ekonomi dan lingkungan disebut juga dengan faktor non teknis,
yaitu faktor-faktor yang tidak berpengaruh secara lagsung terhadap untung ruginya usaha
dalam budidaya ikan, factor-factor tersebut di antaranya jauh dekatnya dengan lokasi
pemasaran, sarana trasportasi, mudah tidaknya mendapatkan tenaga kerja, keamanan dan
kemuudahann memperoleh sarana produk serta kesesuaian dengan lingkungan social
budidaya setempat.
3.2.1. Dekat dengan Lokasi Pemasaran
Jauh dekatnya lokasi budidaya dengan tempat pemasaran ini penting di perhatikan
karena erat kaitannya dengan biaya yang dikeluwarkan untuk pengangkutan, yang akan
berakibat pula pada harga jual ikan yang di prokduksi dan pada akhirnya berakibat pula
pada kemampuan bersaingan di pasaran.
3.2.2. Dekat dengan sarana transportasi
Agar hasil ikan yang dibudidayakan mudah cepat dipasarkan, harus di perhatia
juga sarana trasportasi baik jalan maupun alat angkutnya, halini pula berkaian dengan
prinsip ekonomi seperti halnya jauh dekatnya lokasi pemasaran dengan lokasi budidaya
ikan ditambah dengan system pengepakan dan system pengangkutan yang arus di
gunakan.
3.2.3. Mudah mendapatkan tenaga kerja
Kemudaha dalam mendapatkan tenaga kerja pun harus di perhatikan, terutama
dalam mendapatkan tenaga kerja yang professional dalam menangani ikan serta upah
tenaga kerja yang murah,agar biaya produksi yang dikeluwarkan dapat di tekan
seminimal mungkin.
3.2.4. Mudah memperoleh sarana produksi
Agar kegiatan produksi dapat di tekan seminimal mungkin, maka memilih lokasi
usaha harus mempertimbangkan dalam kemudahan memperoleh sarana produksi baik
bibit atau benih, pakan, obat-obatan,peralatan dan lain-lain.
3.2.5. Lingkungan sosial budaya
Ligkunga social budaya pun mungkin untuk hal-hal tertentu perlu
dipertimbangkan, misalnya sesuainya komoditas yang akan di budidayakan dengan
lingkungan social budaya dan agama. Apakah tidak bertentangan dengan social budaya
dan agama di daerah yang dipilih.

11
4. FASILITAS, TATA LETAK DAN KONSTRUKSI PEMBENIHAN

4.1. Sarana dan Prasarana


Sarana pokok dalam kegiatan pembenihan adalah kolam pemijahan atau kolam
penetasan, kolam pemeliharaan induk, dan kolam penampungan benih. Sarana
penunjangnya adalah kolam pemberokan, kolam sedimentasi, kolam penyaringan, kolam
pemeliharaan ikan donor, kolam penampungan hasil, gudang pupuk, gudang pakan, gudang
kimia dan obat obatan, gudang peralatan dan bangsal pengepakan. Sarana pelengkapnya
berupa kantor, perumahan karyawan, toilet, ruang istirahat, dan rumah jaga. Sementara itu,
prasarana utama yang mutlak tersedia adalah sumber air.
Alat-alat yang biasa digunakan dalam usaha pembenihan ikan mas diantaranya adalah:
jala, waring (anco), hapa (kotak dari jaring/kelambu untuk menampung sementara induk
maupun benih), seser, ember-ember, baskom berbagai ukuran, timbangan skala kecil
(gram) dan besar (kg), cangkul, arit, pisau serta piring secchi (secchi disc) untuk mengukur
kadar kekeruhan. Sedangkan peralatan lain yang digunakan untuk memanen/menangkap
ikan mas antara lain adalah warring / scoopnet yang halus, ayakan panglembangan diameter
100 cm, ayakan penandean diameter 5 cm, tempat menyimpan ikan, keramba kemplung,
keramba kupyak, fish bus (untuk mengangkut ikan jarak dekat), kekaban (untuk tempat
penempelan telur yang bersifat melekat), hapa dari kain tricote (untuk penetasan telur
secara terkontrol) atau kadang-kadang untuk penangkapan benih, ayakan penyabetan dari
alumunium/bambu, oblok/delok (untuk pengangkut benih), sirib (untuk menangkap benih
ukuran 10 cm keatas), anco/hanco (untuk menangkap ikan), lambit dari jaring nilon (untuk
menangkap ikan konsumsi), scoopnet (untuk menangkap benih ikan yang berumur satu
minggu keatas), seser (gunanya= scoopnet, tetapi ukurannya lebih besar), jaring berbentuk
segiempat (untuk menangkap induk ikan atau ikan konsumsi).
4.1.1. Alat packing dan panen
Alat-alat untuk packing larva dalam kegiatan pemanenan juga dibutuhkan, antara
lain: plastick packing, oksigen, sendok takar, karet, ember, dan skopnet.
4.1.2. Hapa
Hapa (kantong yang terbuat dari kain tricot atau nilon untuk menampung ikan).
hapa juga digunakan pada kolam penetasan. Hapa yang biasa digunakan pada kolam
penetasn terbuat dari kain terilia berukuran 2 x 1 x 1 m, berbentuk persegi panjang
dibentangkan kurang lebih 2 m dari pintu pemasukkan. Ukuran happa yang digunakan

12
pada saat penetasan telur berukuran panjang 4 m, lebar 1,7 m dan tinggi 1
m, sedangkan tinggi airnya adalah 35 cm.
4.1.3. Kakaban
Kakaban juga diperlukan dalam kegiatan pemijahan induk ikan mas. Kakaban
dapat berupa ijuk yang dijepit bamboo dengan kuran 1,5 x 0,4 meter. Kakaban di taruh
pada hapa, untuk menaruh kakaban yang sudah berisi telur. Jumlah kakaban yang
diperlukan untuk setiap kilogram induk adalah 5-7 buah. Ukuran kolam pemijahan yang
digunakan untuk pemijahan secara alami dengan menggunakan hapa adalah 3 x 5 x 1
m. kolam tersebut diisi tiga buah hapa berukuran 1 x 1 x 1 m atau 1 x 2 x 1 m. Kakaban
pada kolam penetasan berjumlah kakabannya sebanyak 12 – 14 buah dan diletakkan
pada bagian tengah bak kemudian diberi pemberat agar pada saat diisi air, kakaban
tersebut tenggelam sekitar 5 – 10 cm dari permukaan air. Setelah semuanya
dipersiapkan, langkah selanjutnya adalah pengisian air sebanyak 0,35 meter.

4.2. Konstruksi dan Tata Letak


Lokasi kolam dicari yang dekat dengan sumber air dan bebas banjir. Kolam
dibangun di lahan yang landai dengan kemiringan 2–5% sehingga memudahkan pengairan
kolam secara gravitasi.
4.2.1. Kolam pemeliharaan induk
Luas kolam tergantung jumlah induk dan intensitas pengelolaannya. Sebagai
contoh untuk 100 kg induk memerlukan kolam seluas 500 meter persegi bila hanya
mengandalkan pakan alami dan dedak. Sedangkan bila diberi pakan pelet, maka untuk
100 kg induk memerlukan luas 150-200 meter persegi saja. Bentuk kolam sebaiknya
persegi panjang dengan dinding bisa ditembok atau kolam tanah dengan dilapisi
anyaman bambu bagian dalamnya. Pintu pemasukan air bisa dengan paralon dan
dipasang sarinya, sedangkan untuk pengeluaran air sebaiknya berbentuk monik.
4.2.2. Kolam pemijahan
Tempat pemijahan dapat berupa kolam tanah atau bak tembok. Ukuran/luas kolam
pemijahan tergantung jumlah induk yang dipijahkan dengan bentuk kolam empat
persegi panjang. Sebagai patokan bahwa untuk 1 ekor induk dengan berat 3 kg
memerlukan luas kolam sekitar 18 m² dengan 18 buah ijuk/kakaban. Dasar kolam
dibuat miring kearah pembuangan, untuk menjamin agar dasar kolam dapat
dikeringkan. Pintu pemasukan bisa dengan pralon dan pengeluarannya bisa juga
memakai pralon (kalau ukuran kolam kecil) atau pintu monik. Bentuk kolam penetasan
13
pada dasarnya sama dengan kolam pemijahan dan seringkali juga untuk penetasan
menggunakan kolam pemijahan. Pada kolam penetasan diusahakan agar air yang
masuk dapat menyebar ke daerah yang ada telurnya.
4.2.3. Kolam pendederan
Bentuk kolam pendederan yang baik adalah segi empat. Untuk kegiatan
pendederan ini biasanya ada beberapa kolam yaitu pendederan pertama dengan luas 25-
500 m 2 dan pendederan lanjutan 500-1000 m 2 per petak. Pemasukan air bisa dengan
pralon dan pengeluaran/ pembuangan dengan pintu berbentuk monik. Dasar kolam
dibuatkan kemalir (saluran dasar) dan di dekat pintu pengeluaran dibuat kubangan.
Fungsi kemalir adalah tempat berkumpulnya benih saat panen dan kubangan untuk
memudahkan penangkapan benih. dasar kolam dibuat miring ke arah pembuangan.
Petak tam bahan air yang mempunyai kekeruhan tinggi (air sungai) maka perlu dibuat
bak pengendapan dan bak penyaringan.

4.3. Wadah
Ikan mas mudah dipelihara, sehingga wadah budidayanya tidak menghendaki suatu
persyaratan konstruksi yang khusus. Intinya hanya menghendaki persyaratan kualitas air
yang layak. Ikan mas tersebut bisa dipelihara dalam wadah. wadah yang biasa digunakan
dalam kegiatan pembenihan adalah Kolam. Kolam pemeliharaan induk yang digunakan
berbentuk persegi empat dengan ukuran kolam jantan yaitu 25 × 10 × 1,5 m dan pada kolam
betina berukuran 15 × 15 × 1,5 m dengan tinggi air masing-masing 75 cm. Tiap ekor induk
memerlukan kolam penyimpanan seluas 1 m² dengan kedalaman air 0,75 m. Ada yang
memisahkan kolam induk jantan dan induk betina. Pemisahan induk jantan dan induk
betina ini bertujuan agar waktu bertemu, kedua induk tersebut lebih terangsang dan cepat
terjadi pemijahan. Akan tetapi ada juga yang mencampurkan induk jantan dan induk betina
dalam kolam penyimpanan yang sama.

14
5. PENYEDIAAN INDUK

5.1. Sifat Warisan Induk


Saat ini ikan mas mempunyai banyak ras atau stain. Perbedaan sifat dan ciri dari ras
disebabkan oleh adanya interaksi antara genotipe dan lingkungan kolam, musim dan cara
pemeliharaan yang terlihat dari penampilan bentuk fisik, bentuk tubuh dan warnanya.
Adapun ciri-ciri dari beberapa strain ikan mas adalah sebagai berikut:
a. Ikan mas punten: sisik berwarna hijau gelap; potongan badan paling pendek; bagian
punggung tinggi melebar; mata agak menonjol; gerakannya gesit; perbandingan antara
panjang badan dan tinggi badan antara 2,3:1.
b. Ikan mas majalaya: sisik berwarna hijau keabu-abuan dengan tepi sisik lebih gelap;
punggung tinggi; badannya relatif pendek; gerakannya lamban, bila diberi makanan
suka berenang di permukaan air; perbandingan panjang badan dengan tinggi badan
antara 3,2:1.
c. Ikan mas si nyonya: sisik berwarna kuning muda; badan relatif panjang; mata pada
ikan muda tidak menonjol, sedangkan ikan dewasa bermata sipit; gerakannya lamban,
lebih suka berada di permukaan air; perbandingan panjang badan dengan tinggi badan
antara 3,6:1.
d. Ikan mas taiwan: sisik berwarna hijau kekuning-kuningan; badan relatif panjang;
penampang punggung membulat; mata agak menonjol; gerakan lebih gesit dan aktif;
perbandingan panjang badan dengan tinggi badan antara 3,5:1.
e. kan mas koi: bentuk badan bulat panjang dan bersisisk penuh; warna sisik bermacam-
macam seperti putih, kuning, merah menyala, atau kombinasi dari warna-warna
tersebut. Beberapa ras koi adalah long tail Indonesian carp, long tail platinm
nishikigoi, platinum nishikigoi, long tail shusui nishikigoi, shusi nishikigoi, kohaku
hishikigoi, lonh tail hishikigoi, taishusanshoku nshikigoi dan long tail taishusanshoku
nishikigoi.
Dari sekian banyak strain ikan mas, di Jawa Barat ikan mas punten kurang
berkembang karena diduga orang Jawa Barat lebih menyukai ikan mas yang berbadan
relatif panjang. Ikan mas majalaya termasuk jenis unggul yang banyak dibudidayakan.

5.2. Pengadaan Induk


Keberhasilan usaha pembenihan ikan mas sangat ditentukan oleh kualitas induk.
Pemilihan calon induk harus mempertimbangkan ras atau varietas ikan yang akan
15
dipelihara, karena ciri-ciri calon induk yang baik berbeda-beda untuk setiap ras atau
varietas. Secara umum cirri-ciri calon induk yang baik sebagai berikut:
 Sehat, tidak cacat, dan tidak terluka
 Umur induk 1,5 – 3 tahun
 Sisik tersebar teratur dan berukuran agak besar
 Sisik tidak terluka dan tidak cacat
 Bentuk dan ukuran tubuh seimbang, tidak terlalu gemuk atau terlalu kurus
 Tubuh tidak terlalu keras atau lembek
 Perut lebar dan datar
 Ukuran tubuh relative tinggi
 Bentuk ekor normal, cepat terbuka, pangkal ekor relative lebar, dan tebal
 Kepala relative kecil dan moncongnya lancip, terutama pada induk betina. Sebab,
jumlah telur ikan mas yang berkepala kecil biasanya lebih banyak dari pada ikan yang
berkepala besar
 Jarak lubang dubur relative dekat dengan pangkal ekor.

16
Tabel 2. Perbedaan ikan mas jantan dan betina
No Jantan Betina
1 Sirip dada panjang dan jari-jari Sirip dada pendek
luarnya tebal
2 Lapisan dalam sirip dada kasar Lapisan dalam sirip dada licin
3 Badan bagian perut tidak melebar dan Badan bagian perut lebar (besar) dan
tidak lunak lunak
4 Lubang kelamin kelihatan menonjol Lubang kelamin menonjol
Sperma berwarna putih dan akan
5 keluar jika bagian perut diurut Ova jernih dan akan keluar jika begian
kebelakang perut diurut kebelakang
Tubuh lebih tipis dan ramping
6 daripada ikan mas betina pada umur Tubuh lebih tebal daripada ikan mas
sama jantan pada umur sama dan sekitar anus
berwarna kemerah-merahan
Sumber: Cahyono (2000)

5.3. Seleksi Induk


Induk jantan yang dipelihara memiliki rata-rata berat yaitu 0,8 kg/ekor dan induk
betina berjumlah 100 ekor dengan rata-rata berat 3,5 kg/ekor. Pada masa pemeliharaan,
induk diberi pakan dengan dosis 3% per bobot biomas yaitu 2,4 kg perhari pada induk
jantan dan 5,25 kg perhari pada induk betina dengan frekuensi 2 kali perhari. Akan tetapi
ada juga yang mencampurkan induk jantan dan induk betina dalam kolam penyimpanan
yang sama. Apabila tidak ada kolam khusus, penyimpanan induk dapat dilakukan di kolam
pendederan atau kolam penetasan.
Seleksi induk dilakukan secara massal, yaitu dengan cara di seser menggunakan
waring/jala. Kita bisa menyeleksi induk jantan dengan jumlah 8 ekor dengan berat induk 4
kg atau dengan rata-rata 0,5 kg/ekor dan berumur 8 - 12 bulan, panjang badan 25 cm, perut
langsing (bila distriping mengeluarkan sperma) serta pergerakannya lincah. Sedangkan
induk betina berjumlah 1 ekor dengan berat induk 4 kg dan berumur 2,5 - 3 tahun, panjang
badan 53 cm, perut buncit (bila distriping mengeluarkan telur) serta pergerakannya lamban.
Umur induk yang pantas dikawinkan berkisar antara 1,5 – 2 tahun begi betina.
Seumur ini beratnya dapat mencapai 2 kg lebih/ekor. Sedangkan ikan mas pejantan

17
mencapai matang kelamin relatif lebih muda daripada betina yaitu 8 bulan, dengan berat
badan 0,5 kg/ekor. Walaupun kedua induk beratnya telah mencapai 2 kg dan 0,5 kg per
ekor, tetapi bila umurnya masih kurang dari 1,5 – 2 tahun dan 8 bulan sebaiknya dihindari.
Sebaliknya pada umur yang sama sedangkan berat lebih dari (jantan 0,5 dan betina 2 kg)
dapat dijadikan induk (malah lebih baik).
Hal ini dipertegas oleh Santoso (1993), yang menyatakan bahwa perbedaan antara
induk ikan mas jantan dan betina adalah sebagai berikut:
Jantan Betina
Badan tampak ramping atau langsing Badan terutama bagian perut membesar
atau buncit, bila diraba terasa lembek
Gerakannya lincah dan gesit Gerakannya lamban, memberi kesan
malas bergerak
Jika bagian perut diurut (perlahan- Jika perut diurut, akan mengeluarkan
lahan) dari depan kea rah sirip ekor cairan berwarna kuning
akan mengeluarkan cairan berwarna
putih (sperma) seperti santan kelapa.
Pada malam hari biasanya meloncat-
loncat
Induk yang terseleksi untuk pemijahan kemudian dimasukkan kedalam kolam
pemberokan selama 2 hari yaitu induk tersebut tidak diberi makan sama sekali agar semua
kotoran dalam tubuh ikan tersebut keluar. Dengan demikian, pada saat memijah semua
energi digunakan untuk kegiatan tersebut dan bukan untuk aktivitas mencerna makanan.
Kolam pemberokan ini dibuat sempit, agar induk tidak leluasa bergerak. Induk jantan dan
betina diberok terpisah untuk menghindari pemijahan yang tidak diinginkan (mijah
maling). Pemberokan induk ini dilakukan selama 2 hari 2 malam dengan tidak diberi pakan.

18
6. PEMBENIHAN IKAN MAS

6.1. Kualitas Air


Temperatur air berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan ikan.
Temperatur air yang tidak cocok misalnya, misalnya terlalu tinggi atau terlalu rendah dapat
menyebabkan ikan tidak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Temperatur air yang
cocok untuk pertumbuhan ikan adalah berkisar antara 150C – 300C dan perbedaan suhu
antara siang dan malam kurang dari 50C. Perubahan suhu yang mendadak berpengaruh
buruk pada kehidupan ikan. Suhu air yang paling ideal untuk pertumbuhan ikan mas adalah
250 – 270C.
Untuk mendukung secara wajar kehidupan ikan dan plankton diperlukan pH antara 5 –
9. Sedangkan untuk mendukung secara baik kehidupan ikan yang dibudidayakan di kolam
memerlukan pH antara 6,5 – 6,8. Pada umumnya ikan air tawar masih dapat hidup pada
kisaran pH antara 4 – 11. Penentuan pH suatu perairan dapat diukur dengan berbagai cara,
yaitu dengan kertas lakmus (pH comparator tipe strip) dan larutan indikator (PP,
thymolblue, bromophenolblue) serta dengan menggunakan pH meter.

6.2. Pematangan gonad


Kegiatan pemeliharaan induk bisa juga disebut pematangan gonad induk. Kegiatan
ini terdiri atas persiapan kolam, peebaran induk dan pemberian pakan. Persiapan kolam
dimulai dari penjemuran dasar tanah selama 4-7 hari (jika menggunakan kolam tanah),
perbaikan pematang, pembuatan kemalir, dan pengairan kolam. Hal utama adalah adanya
aliran air selama ikan dipelihara di kolam ini. Aliran air akan membuat induk cepat matang
gonad.
Induk ikan mas yang dipelihara harus diberi pakan agar gonadnya cepat matang.
Yaitu 3 kali sehari pagi, siang dan sore hari. Jenis pakan berupa pakan buatan atau pelet
dengan kandungan protein 25%. Pemberian pakan dilakukan dengan cara ditabur disatu
tempat dengan jumlah pemberian 2-3% dari bobot induk.

6.3. Pemijahan alami


Pemijahan secara alami biasanya dilakukan di dalam kolam pemijahan, baik
menggunakan hapa maupun tidak menggunakan hapa. Hal yang terpenting adalah dasar
kolam tidak boleh berlumpur atau berbatu. Air kolam sebaiknya jernih atau sedikit keruh
dan mengandung cukup oksigen. Sebelum dilakukan pemijahan, kolam dikeringkan
19
terlebih dahulu selama tiga hari. Perlengkapan utama yang dibutuhkan untuk pemijahan
ikan mas adalah kakaban, yakni tempat untuk menempelkan telur.
Induk jantan dan induk betina yang terpilih yang telah matang gonad dimasukkan
ke dalam hapa pada sore hari. Perbandingan bobot induk jantan dan betina adalah 1 : 1. jika
hapa berukuran 1 x 2 x 1 m, jumlah induk yang dimasukkan seberat 4 kg (2 kg induk betina
dan 2 kg induk jantan).

Gambar 4. Bak pemijahan yang siap dipakai

Saat proses pemijahan, induk jantan dan betina saling kejar-kejaran dan sesekali
meloncat-loncat ke permukaan air. Proses pemijahan ini dilakukan pada saat malam hari
yang sepi adakalanya induk yang sudah tidak bisa menahan untuk mengeluarkan telur-
telurnya dan selang beberapa saat berlangsung kemudian dibuahi oleh cairan sperma yang
keluar dari alat kelamin induk jantan. Waktu yang tepat untuk memasukkan induk-induk
hasil seleksi ke kolam/bak pemijahan adalah antara jam 09.00 atau 10.00. pelepasan induk
pada pagi hari akan lebih cepat terangsang sehingga lebih cepat melakukan pemijahan.
Setelah proses pemijahan berakhir, sekitar pukul 05.30 induk jantan dan induk betina
tersebut dipindahkan kembali ke dalam kolam pemeliharaan induk. Induk yang belum
memijah ditunggu satu malam lagi. Namun, jika sudah dua hari tidak, induk tersebut
memang tidak mau memijah dan harus dipindahkan ke dalam kolam induk.

6.4. Pemijahan Buatan


Pemijahan ikan mas secara buatan dilakukan secara hipofisa. Hipofisasi adalah
teknik perangsangan pemijahan dengan cara menyuntikkan ekstrak kelenjar hipofisa ke
induk yang akan dipijahkan. Teknik hipofisasi dilakukan jika pemijahan secara alami sulit
dilakukan. Tujuannya adalah mempercepat terjadinya pemijahan, meyakinkan terjadinya
20
pemijahan sehingga resiko induk tidak memijah semakin berkurang, dan merancang
terjadinya pemijahan sesuai dengan waktu yang dikehendaki.
Penyuntikan induk ikan mas dapat dilakukan 1 – 2 kali dengan dosis 1 – 1,5, satu
dosis adalah berat ikan donor (ikan yang diambil kelenjar hipofisanya sama dengan berat
ikan yang akan disuntik (resipien). Dosis 1,5 artinya 1kg ikan resipien memerlukan 1,5 kg
ikan donor. Syarat ikan donor yang akan diambil kelenjar hipofisasinya harus sudah matang
kelamin. Induk matang kelamin yang sudah disuntik kemudian dimasukkan kedalam hapa
pemijahan yang sudah dipersiapkan seperti pemijahan secara alami.
Pada ikan mas, cara penyuntikan dapat dilakukan seperti pada jenis ikan laut. Ada
beberapa hal yang harus diperhatikan oleh penyuntik, yaitu jarum suntik yang digunakan
biasanya berukuran 18 mm. selain itu, dosis penyuntikan pertama ½ dosis dan penyuntikan
kedua 1 dosis untuk induk betina dengan selang waktu 4 – 6 jam. Untuk induk jantan
dilakukan satu kali penyuntikan dan waktunya bersamaan dengan penyuntikan kedua induk
betina. Induk ikan akan memijah 8 – 10 jam setelah penyuntikan kedua.

6.5. Penetasan Telur


Pembudidaya harus membantu upaya penetasan sejak telur hingga menetas menjadi
benih atau burayak ikan karena ikan mas tidak mau merawat keturunannya. Begitu proses
pemijahan berakhir antara jam 05.00 – 06.00 pagi, kakaban harus segera diangkat dan
dipindahkan ke kolam penetasan. Untuk menghindari tumbuhnya jamur (cendawan),
kakaban yang sudah berisi telur tersebut sebaiknya disendam terlebih dahulu dengan
larutan obat malachite green, dosis 1 gram/m3 air. Perendaman kakaban dalam larutan obat
ini paling lama 10 sampai 15 menit.
Pemindahan kakaban yang telah berisi telur jangan sampai terlambat, karena ada
kemungkinan induk menyantap telur-telurnya kembali sebelum sempat menetas menjadi
benih. Setelah dilakukan perendaman, kakaban dimasukkan kedalam hapa di kolam
penetasan.
Selama proses penetasan usahakan sirkulasi air berjalan dengan baik dan air yang
masuk lewat pemasukan berjalan secara perlahan. Untuk menghindari air hujan turun
sewaktu-waktu sebaiknya diberi peneduh. Biarkan sampai telur-telur ikan menetas menjadi
benih dalam waktu kurang lebih 2 – 3 hari.
Induk yang telah memijah dan mengeluarkan telur sebaiknya dipindahkan atau
dikembalikan ke dalam kolam pemeliharaan induk. Hal ini dimaksudkan agar telur tersebut
tidak dimakan oleh induknya. Sebelum dipindahkan, induk betina ditimbang untuk
21
mengetahui berat telur yang dikeluarkan pada saat pemijahan berlangsung. Hasil yang
didapat, yaitu induk betina dari berat 4 kg menjadi 3,4 kg. Kakaban yang sudah dipenuhi
telur dibiarkan selama 2-3 hari tetap dalam wadah pemijahan. Selama waktu tersebut, telur
akan menetas. Bak pemijahan juga sekaligus sebagai wadah penetasan telur. Setelah telur
menetas, kakaban diangkat perlahan-lahan dan larva dibiarkan di dalam happa di wadah
pemijahan sampai kuning telur hilang. Perlakuan tersebut biasanya memakan waktu 2 hari.
Selanjutnya, benih lepas hapa ditebar dalam kolam pendederan yang telah dipersiapkan
sebelumnya..

Gambar 6. Kakaban yang telah ditempeli telur

Proses penetasan telur yang terjadi pada saat kegiatan berlangsung sekitar 24 jam -
48 jam dan telur akan menetas keseluruhannya. Pada penetasan telur, pengecekan
dilakukan selama 3 hari, pada pagi dan sore hari. Suhu yang didapat berkisar antara 25 –
270C dan pH berkisar antara 6 – 6,5.
Agar sirkulasi air berjalan dengan lancar, maka pada saat di lapangan bak penetasan
telur dipasang aerasi. Telur-telur yang tidak terbuahi telah nampak berwarna kuning dan
agak mengembang kemudian mengendap ke dasar. Sedangkan telur yang terbuahi/menetas
kemudian menjadi larva telah nampak bergerak dan berenang aktif.

6.6. Pemeliharaan Larva


Setelah telur menetas semua dalam tempo 2 – 3 hari, maka tindakan selanjutnya
adalah sebagai berikut:
a. Ngeprik: yaitu mengangkat kakaban di dalam hapa satu per satu. Pengangkatan harus
dilakukan dengan hati-hati agar kualitas air tetap baik.
b. Pemberian pakan: larva yang baru menetas belum perlu diberi makanan, sebab masih
mempunyai cadangan makanan berupa kantong kuning telur (yolk egg). Perawatan
larva hingga benih berumur 4 – 5 hari atau paling lama 7 hari. Selanjutnya benih dapat
dilepas dari hapa. Jumlah benih lepas hapa yang dihasilkan dari 1 kg induk betina

22
mencapai 40.000 – 60.000 ekor. Sedangkan menurut Sutisna (1995), fase larva ada dua
macam, yaitu:
a. Perawatan Pro-Larva
Fase pro-larva ditandai dengan adanya kuning telur masih dalam kantongnya.
Dalam hal ini larva tidak memerlukan makanan tambahan dari luar tubuh, sehingga
dalam perawatannya diperlukan perhatian yang khusus terhadap kesehatan larva
ataupun kualitas airnya. Kesehatan larva dapat dipantau dengan mendeteksi ada dan
tidaknya hama ataupun penyakit sehingga dapat dilakukan upaya pencegahan. Agar
kualitas airnya baik, maka perlu menjaga parameter-parameter kualitas air untuk selalu
dalam keadaan optimal.
b. Perawatan Post-Larva
Fase post-larva ditandai dengan menghilangnya kantong kuning telur dan
timbul lipatan sirip serta bintik pigmen. Pada fase ini larva sudah memerlukan pakan
tambahan dari luar tubuhnya untuk mempertahankan hidupnya dan pertumbuhannya.
Agar mortalitas dapat ditekan seminimal mungkin, maka harus diketahui kapan larva
memerlukan pakan dan jenis pakan serta dosis pemberian yang tepat.

6.7. Kebutuhan Pakan dan Nutrisi


6.7.1. Pakan Alami
Setelah persediaan cadangan makanan ini habis, kawanan benih dapat diberi
makanan berupa rotifera. Pakan alami yang diberikan pada ikan Mas (Cyprinus carpio
L) dapat diperoleh dari pemupukan yang dilakukan saat persiapan kolam, Pupuknya
menggunakan pupuk organik dengan dosis 350 gr/m2.
6.7.2. Pakan Buatan
Pakan buatan adalah pakan yang dibuat menusia yang bertujuan untuk
meningkatkan kandungan gizi. Zat-zat gizi yang diperlukan oleh ikan adalah protein,
lemak, kerbohidrat, vitamin dan mineral. Kandungan protein sesuai yang diingginkan
yakni 30%, karena pakan yang mempunyai kandungan protein 30% sudah cukup baik
untuk pertumbuhan ikan Mas.
Tabel 3. Kandungan nutrisi bahan baku nabati
No. Jenis Protein Karbohidrat Lemak

23
1. Dedak padi 11,35 20,62 12,15
2. Dedak gandum 11,99 64,78 1,48
3. Tepung terigu 8,90 77,30 1,30
4. Tepung kedelai 39,6 29,50 14,30
5. Bungkil kelapa 17,09 23,77 9,44
6. Tepung jagung 7,63 74,23 4,43
7. Tepung singkong 34,21 14,69 -
Tabel 4. Kandunan nutrisi bahan baku hewani

No. Jenis Protein Karbohidrat Lemak


1. Tepung ikan import 62,65 5,81 15,38
2. Tepung mujair 59,40 3,20 3,60
3. Tepung ikan teri 63,76 3,70 4,10
4. Tepung bekicot 54,29 30,45 4,18
5. Tepung cacing tanah 12,80 0,70 11,50
6. Susu 35,60 52 1

Pakan tambahan diberikan setelah 4 hari dari penebaran benih, karena pada awal
penebaran, pakan alami masih cukup tersedia, sedangkan setelah 4 hari pakan alami
sudah mulai berkurang. Pemberiannya dilakukan 2 kali dalam sehari, yaitu pada pukul
09.00 dan pukul 15.00. Dosisnya 20 gram /100 ekor benih pada minggu pertama, 30
gram pada minggu kedua, demikian seterusnya dosis pakan tambahan ditambah sesuai
dengan kebutuhan. Pemberian pakan tambahan dilakukan dengan cara menebar
langsung ke kolam. Sedangkan untuk induk diberi pakan tambahan yaitu berupa jagung
yang sudah dimasak setengah matang dicampur dengan katul, dosisnya yaitu 4% dari
keseluruhan berat induk yang akan diberi makan.

6.8. Pendederan
Pendederan adalah kegiatan memelihara larva yang berasal dari kolam penetasan
hingga mencapai benih yang siap dijual. Pendederan atau pemeliharaan anak ikan mas
dilakukan setelah telur-telur hasil pemijahan menetas. Kegiatan ini dilakukan pada kolam
pendederan (luas 200 – 500 meter persegi) yang sudah siap menerima anak ikan dimana
kolam tersebut dikeringkan terlebih dahulu serta dibersihkan dari ikan-ikan liar. Kolam

24
diberi kapur dan dipupuk sesuai ketentuan. Begitu pula dengan pemberian pakan untuk
bibit diseuaikan dengan ketentuan. Pendederan ikan mas dilakukan dalam beberapa tahap,
yaitu:
a. Tahap I: Pendederan pertama dilakukan pada larva yang telah berumur 7 hari. Larva
dipindahkan ke kolam pendederan dari kolam penetasan telur. Pendederan bisa
dilakukan di kolam yang biasa digunakan untuk budidaya pembesaran. Kepadatan tebar
untuk pendederan pertama adalah 100-200 ekor/m2. Kedalaman air kolam diatur sekitar
60 cm. Sirkulasi air jangan terlalu deras karena benih masih kecil. Masukan dan
keluaran air diberi saringan halus. Tujuannya agar hama seperti kodok dan kecebong
tidak masuk ke dalam kolam dan bersaing dengan benih ikan. Pelepasan benih
sebaiknya dilakukan pada pagi hari. Caranya adalah benih beserta wadahnya, ember
atau baskom, dimasukkan ke dalam kolam. Kemudian miringkan wadah tersebut
sehingga benih bisa berenang keluar dari wadah. Biarkan benih keluar sendiri, jangan
dipaksa. Penebaran seperti ini berguna agar benih bisa menyesuaikan diri dengan
lingkungan kolam yang baru. Pakan yang dibutuhkan untuk pendederan tahap pertama
adalah biota air yanng ditumbuhkan dalam kolam. Pakan tersebut cukup untuk benih
yang masih kecil. Sebagai tambahan bisa diberikan pelet halus. Lama pemeliharaan
pendederan pertama sekitar 4 minggu. Dealam tempo tersebut akan dihasilkan benih
ikan berukuran 2-3 cm.
b. Tahap II: Secara teknis pendederan kedua bisa dilakukan di kolam yang sama, tidak
perlu pindah. Perbedaan antara pendederan pertama dan kedua adalah padat tebar ikan.
Padat penebaran benih ikan untuk pendederan kedua sekitar 50-75 ekor/m2. Jadi, mau
tidak mau ikan dari pendederan pertama harus dipindahkan sebagian ke kolam lain agar
padat tebarnya sesuai.
Pendederan kedua berlangsung sama dengan yang pertama yaitu 4 minggu. Benih
yang dihasilkan dari pendederan kedua berukuran sekitar 3-5 cm.
c. Tahap III: umur benih setelah tahap II selesai; jumlah benih yang disebar adalah 25 –
50 ekor/meter2; lama pemeliharaan 1 bulan sampai ukuran benih menjadi 5 – 8 cm dan
perlu penambahan makanan berupa dedak halus 3 – 5 % dari jumah bobot benih
d. Tahap IV: umur benih setelah tahap III selesai; jumlah benih yang disebar 30 – 50
ekor/m2; lama pemeliharaan 1 bulan sampai ukuran benih menjadi 8 – 12 cm dan perlu
penambahan makanan berupa dedak halus 3 – 5 % dari jumlah bobot benih

25
6.9. Panen
Sebelum dilakukan pemanenan benih ikan, terlebih dahulu dipersiapkan alat-alat
tangkap dan sarana perlengkapannya. Beberapa alat tangkap dan sarana yang disiapkan
diantaranya keramba, ember biasa, ember lebar, seser halus sebagai alat tangkap benih,
jaring atau hapa sebagai penyimpanan benih sementara, saringan yang digunakan untuk
mengeluarkan air dari kolam agar benih ikan tidak terbawa arus, dan bak-bak penampungan
yang berisi air bersih untuk penyimpanan benih hasil panen.
Panen benih ikan dimulai pagi-pagi, yaitu antara jam 04.00 - 05.00 pagi dan
sebaiknya berakhir tidak lebih dari jam 09.00 pagi. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari
terik matahari yang dapat mengganggu kesehatan benih ikan tersebut. Pemanenan
dilakukan mula-mula dengan menyurutkan air kolam pendederan sekitar pukul 04.00 atau
05.00 pagi secara perlahan-lahan agar ikan tidak stres akibat tekanan air yang berubah
secara mendadak. Setelah air surut benih mulai ditangkap dengan seser halus atau jaring
dan ditampung dalam ember atau keramba. Benih dapat dipanen setelah dipelihara selama
21 hari dari penetasan telur dengan ukuran benih antara 2 - 4 cm.
Benih ikan Mas (Cyprinus carpio L) yang sudah ditangkap dapat dipindahkan ke
dalam hapa yang ditampung dalam bak penampungan sementara. Permukaan hapa harus
cukup tinggi dari pada permukaan air untuk mencegah benih melompat keluar. Benih
dipilih yang kondisinya sehat, tidak cacat dan memiliki ukuran seragam. Apabila ikan
hendak dijual ketempat yang jauh maka sebelum diangkut ikan dipuasakan selama 1 - 2
hari. Tujuannya untuk menghindari keluarnya kotoran ikan yang berlebihan pada saat
pengangkutan.
Pengemasan dilakukan dengan cara menangkap benih dalam kolam penampungan,
lalu dibawa untuk dihitung terlebih dahulu dengan menggunakan serok dan gayung. Benih
yang sudah terhitung kemudian dimasukkan ke plastic dan ditambahkan oksigen untuk
menyuplai oksigen kedalam plastik.

26
7. PENUTUP

7.1. Kesimpulan
1. k

27
DAFTAR PUSTAKA

Agro Media. 2008. Teknis Pembenihan dan Pendederan Ikan Mas. http://agromedia.net/tekni
s-pembenihan-dan-pendederan-ikan-mas-2/. Diakses: 14/02/2018.
Alamtani. 2014. Budidaya Pembenihan Ikan Mas. https://alamtani.com/pembenihan-ikan-
mas/. Diakses: 14/02/2018.
Indo Biotech. 2016. Pembenihan Ikan Mas. http://edukasiperikanan.blogspot.co.id/2013/01/p
embenihan-ikan-mas.html. Diakses: 14/02/2018.
Infoikan.com. 2017. Cara Pembenihan Ikan Mas (Cyprinus carpio) Lengkap dan Mudah. http
s://www.infoikan.com/2017/02/cara-pembenihan-ikan-mas-cyprius-carpio.html.
Diakses: 14/02/2018.
Ismail dan Khumaidi. 2016. Teknik Pembenihan Ikan Mas (Cyprinus carpio, L) di Balai
Benih Ikan (BBI) Tenggara Bondowoso. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan. Vol. 7 No.
1. Akademi Perikanan Abrahimy. Situbondo.
Jessica, Nova. 2011. Pemilihan Lokasi Budidaya Ikan. http://novajessica.blogspot.co.id/2011/
10/pemilihan-lokasi-budidaya-ikan.html. Diakses: 14/02/2018.
Mantau. Rawung dan Sudarty. 2004. Pembenihan Ikan Mas yang Efektif dan Efisien. Balai
Pengkajian Teknolohi Pertanian Sulawesi Utara. Jurnal Litbang Pertanian. No. 23
Vol. 2. Manado.
Purnomo, Deni. 2017. Pembenihan Ikan Mas (Cyprinus carpio). http://denipurnomoblog.blog
spot.co.id/2017/06/v-behaviorurldefaultvmlo.html. Diakses: 14/02/2018.
Semuaikan.com. 2016. Teknik dan Cara Pembenihan Ikan Mas. http://www.semuaikan.com/t
eknik-dan-cara-pembenihan-ikan-mas/. Diakses: 14/02/2018.
Solvapotter. 2010. Budidaya Ikan Mas (Cyprinus carpio L). https://pinginsukses.wordpress.c
om/2009/07/23/budidaya-ikan-mas-cyprinus-carpio-l/. Diakses: 14/02/2018.

28

Anda mungkin juga menyukai