Anda di halaman 1dari 12

Daftar Pertanyaan Laporan Kasus

Peranyaan Dokter Muda


1. Maria Agavina
Perbedaan gejala bronkopneumonia oleh virus dan bakteri?
Jawab :
Secara klinis pada anak sulit membedakan pneumonia bakterial
dengan pneumonia viral. Demikian pula dari pemeriksaan radiologis dan
laboratorium tidak meunjukan adanya perbedaan nyata. Namun sebagai
pedoman dapat disebutksn bahwa pneumonia bakterial awitannya cepat
batuk produktif, pasien tampak toksik. Pada labaoratorium biasanya pada
infeksi pneumonia virus leukosit normal atau sedikit meningkat, pada
pneumonia bakterial terdapat leukositosis berkisar antara 15.000-40.000.
pada chlamydia kadang ditemukan eosinofilia.
Sumber :
Rahajoe NN, dkk. Buku Ajar Respirologi Anak. Edisi 1. Jakarta: Ikatan
Dokter Anak Indonesia. 2013.

2. Muhammad Yamin
Indikasi pulang dari pasien bronkopneumonia?
Jawab :
Indikasi pulang pada pasien rawat inap bronkopneumonia adalah:
- Apabila gejala klinis sudah membaik (tampak perbaikan klinis) seperti
pada pasien bronkopneumonia:
* Bernapas tidak cepat
* Tidak ada retraksi arau penarikan dinding dada
* Batuk sudah berkurang
* Bebas demam
- Asupan oral adekuat
- Pemberian antibiotik dapat diteruskan dirumah (per oral)
- Kondisi dirumah memungkinkan untuk perawatan lanjutan dirumah

40
Sumber:
Suraatmaja, Sudaryat. Infeksi Saluran Kemih. Dalam: Kapita Selekta.
Jakarta: Sagung Seto. 2007.

3. Puspa Negara
Indikasi rawat inap pada pasien bronkopneumonia?
Indikasi rawat inap pada bp terutama berdasarkan berat-ringannya
penyakit, apabila pasien tersebut menunjukan tanda-tanda pneumonia berat
dan atau disertai adanya komplikasi, seperti yang sudah dijelaskan, yaitu:
Pneumonia berat
Batuk dan atau kesulitan bernapas ditambah minimal salah satu hal
berikut ini:
 Kepala terangguk-angguk
 Pernapasan cuping hidung
 Tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam
 Foto dada menunjukkan gambaran pneumonia (infiltrat luas,
konsolidasi, dll.
Mempertimbangkan umur pasien  neonatus dan bayi kecil dengan
kemungkinan klinis pneumonia harus dirawat inap
Adanya penyakit lain yang mendasar
Terdapat juga indikasi pasien dirawat inap dari sumber lain, yaitu:
Untuk bayi :
- Saturasi oksigen < atau sama dengan 92 %
- Frek napas > sama dengan 60 kali permenit
- Distress pernapasan, apnue intermitten atau gruntting
- Tidak mau minum atau menetek
- Keluarga tidak bisa merawat dirumah
Untuk anak
- Saturrasi oksigen < 92 persen
- Frek napas > 50 kali/menit
- Distress pernapasan

41
- Gruntting
- Terdapat tanda dehidrasi
- Keluarga tidak dapat merawat dirumah

Sumber:
 Suraatmaja, Sudaryat. Infeksi Saluran Kemih. Dalam: Kapita
Selekta. Jakarta: Sagung Seto. 2007.
 WHO. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah
Sakit Jakarta: World Health Organization; 2009.

Pertanyaan Dokter Spesialis


dr. Ni Made Yuliari, Sp.A
1. Etiologi kasus ini apa?
Jawab:
Sesuai dengan etiologi tersering pada anak dengan pneumonia pada
usia 4 bulan-5 tahun adalah bakteri clamydia pneumonia, mycoplasma
pneumonia dan streptococcus pneumonia. Sedangkan etiologi dari virus
yang paling sering pada usia 4 bulan-5tahun adalah adenovirus, rinovirus,
influenza, dan para influenza.

4 bulan – 5 Betiologi tersering Etiologi yang jarang


tahun Clamydia pneumoniae Haemophillus influenza
tipe B
Mycoplasma Moraxella catharalis
pneumonia
Streptococcus Staphylococcus aureus
pneumonia
Virus Neisseria meningitides
Adenovirus Virus
Rinovirus Varisela Zoster
Influenza
Parainfluenza

Sumber:
Pedoman Diagnosis dan Terapi Kesehatan Anak, UNPAD, Bandung: 2005.

42
2. Pada pasien ini termasuk klasifikasi bronkopneumonia yang mana?
Jawab:
WHO memberikan pedoman klasifikasi pneumonia. Dikatakan
pneumonia berat apabila pada pasien ditemukan:
Batuk dan atau kesulitan bernapas ditambah minimal salah satu hal
berikut ini:
 Kepala terangguk-angguk
 Pernapasan cuping hidung
 Tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam
 Foto dada menunjukkan gambaran pneumonia (infiltrat luas,
konsolidasi, dll.
Pada pasien termasuk dalam bronkopneumonia berat karena pada
pasien ditemukan tanda-tanda sesuai dengan kriteria pneumonia berat, yaitu
ditemukan:
 Anamnesis: pasien datang dengan demam, batuk yang awalnya
kering menjadi produktif, dan sesak.
 Pemeriksaan fisik:
Inspeksi : ditemukan takipnue (napas cepat), retraksi dinding dada,
penggunaan otot bantu napas (adanya retraksi dan napas cuping
hidung).
Palpasi: fremitus fokal tetap normal
Perkusi: pekak perkusi/tidak terdapat kelainan
Auskultasi: Adanya ronki basah halus
 Pemeriksaan penunjang
Darah lengkap : terdapat leukositosis
Foto thorak PA: gambaran foto toraks pada pasien tampak bercak
infiltrate di kedua perihiler dan parakardial

Sumber:
WHO. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit Jakarta:
World Health Organization; 2009.

43
3. Apakah tatalaksana sudah sesuai dengan klasifikasi bronkopneumonia pada
pasien?
Jawab :
Lini pertama pengobatan pneumonia pada pasien rawat inap adalah
ampisilin 25 mg/kgBB/8 jam secara IV dan bila pasien datang dalam
keadaan klinis berat diberikan pengobatan kombinasi ampisilin-gentamisin.
Pada pasien diterapi dengan pemberian antibiotik injeksi cefotaxime 3 x 350
mg yang merupakan lini kedua pengobatan hanya berdasarkan ketersediaan
antibiotik di rumah sakit tersebut. Pada pasien ini diberikan Cefotaxime 3 x
350 mg, Gentamicin 2 x 35 mg dan Dexamethasone 3 x 1,5 mg. Injeksi
cefotaxime dan gentamisin digunakan untuk mengobati kausanya yang
disebabkan oleh bakteri. Injeksi dexamethasone untuk mengurangi
peradangan sehingga permukaan untuk menampung oksigen lebih luas.
Pada pasien ini pengobatan sudah sesuai.
Sumber :
Bertram G.Katzung. Farmakologi dasar dan klinik. 10th ed. Jakarta. EGC.
2010.

4. Prognosis pada pasien ini tergantung apa saja?


Jawab:
Bronkopneumonia biasanya sembuh total dengan pemberian
antibiotik yang tepat dan adekuat, mortalitas dapat diturunkan sampai
kurang dari 1%. Prognosis pada pasien ini adalah dubia ad bonam karena
pada pasien ini telah dilakukan pengobatan yang adekuat serta belum ada
tanda-tanda yang mengarah pada komplikasi.
Sumber :
PP IDAI UKK Pulmologi. Tatalaksana Mutakhir Penyakit Respiratorik
pada Anak. Medan: IKA FK USU/RS HAM Medan. 2003.

44
5. Tindak lanjut apa yang perlu pada pasien ini?
Jawab:
Pada pasien ini setelah diberikan antibiotik, dilakukan evaluasi,
respon pengobatan dikatakan baik, apabila gejala klinis berkurang, demam
menghilang, batuk berkurang, sesak menghilang dan nafsu makan
meningkat. Evaluasi lebih lanjut apabila tidak ditemukan perbaikan,
evaluasi kembali diagnosis, kemungkinan adanya penyakit penyerta serta
evaluasi asupan gizi.
Kriteria pulang pada pasien dengan pneumonia adalah:
 Gejala dan tanda pneumonia menghilang
 Asupan per oral adekuat
 Pemberian antibiotik dapat diteruskan di rumah (per oral)
 Keluarga mengerti dan setuju untuk pemberian terapi dan rencana
kontrol
 Kondisi rumah memungkinkan untuk perawatan lanjutan di rumah

Sumber:
WHO. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit Jakarta:
World Health Organization. 2009.

6. Nutrisi pada pasien ini diberikan dalam bentuk apa?


Jawab:
Pemberian nutrisi diperlukan mengingat nafsu makan pasien
menurun, maka dibutuhkan terapi cairan. Pada pasien ini diberikan infus D5
¼ NS karena dapat memenuhi kebutuhan cairan pasien. Kebutuhan cairan
pada pasien ini menggunakan rumus holiday segar berdasarkan berat badan
(14 kg) adalah :
* 10 kg (pertama) x 100 cc/kgBB/hari = 1000 cc/hari
* 4 kg (kedua) x 50 cc/kgBB/hari = 200 cc/hari
+
Kebutuhan cairan total 1200 cc/hari

45
* Cairan infus : 1200 cc / hari  12 tpm makro

Kebutuhan gizi pada pasien berdasarkan kebutuhan RDA


(Recommended Dietary Allowance) dapat dilihat pada tabel dibawah ini:1
Tabel 6. Recommended Dietary Allowance Table1

Berdasarkan RDA (Recommended Dietary Allowance) kebutuhan


kalori anak usia 1-3 tahun adalah 102 kkal/kgBB/hari, kebutuhan protein
berkisar 20%, kebutuhan lemak 25% dari total kalori, kebutuhan
karbohidrat 55%. Berat badan pasien saat ini merupakan berat badan anak
ideal seusianya.
 Berat badan ideal pasien adalah 14 kg.
 Kebutuhan kalori pasien 102 kkal x 14 kg = 1.428 kkal/hari
 Protein 20 % x 1428 = 285,6 kkal : 4 = 71,4 gram
 Lemak 35% x 1428 = 499,8 kkal : 9 = 55,5 gram
 Karbohidrat 55 % x 1428 = 785,4 : 4 = 196,35 gram
Walaupun pasien termasuk status gizi baik, pemantauan diet tetap
diperlukan. Nutrisi yang baik akan meningkatkan ketahanan tubuh pasien.
Pasien dengan bronkopneumonia dapat diberikan diet tinggi kalori tinggi
protein (TKTP) 3 kali sehari dalam bentuk makanan lunak mengingat
kondisi pasien yang masih lemah dan tidak nafsu makan. Untuk memenuhi
kebutuhan kalori dan protein pasien yang nafsu makannya menurun dapat
diberikan diet Tinggi Kalori Tinggi Protein.

46
Gambar. Satuan bahan penukar

47
Sesuai dengan RDA (Recommended Dietary Allowance) total
kebutuhan kalori pasien adalah 1428 kkal per hari, yang mana untuk
memenuhi kebutuhan itu pada pasien dapat diberikan:
Bahan makanan Jumlah kalori
Nasi lunak 100 kkal
Lauk dapat digunakan ikan segar 95 kkal
telur atau daging ayam.
Sayur dapat menggunakan tempe, 80 kkal
tahu, kacang hijau atau kacang
merah.
Buah dapat diberikan pisang, jeruk, 40 kkal
alpukat, apel, mangga harum
manis, papaya, melon.
Total kalori 1 kali makan 490 kkal
Total kalori per hari 490 kkal x 3 = 1470 kkal 
mencukupi kebutuhan harian
pasien

Sumber :
 Windy, dkk. Pediatrics Trainee Handbook. Jogja. 2012.
 Depkes RI., 2006. Pedoman Umum Pemberian Makanan
Pendamping Air Susu Ibu (MP- ASI) Lokal, Jakarta. diakses tanggal
17 Juni 2015 http://www.depkes/makanan pendamping ASI.com.
 Sjarif DR, dkk. Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Diagnosis, Tatalaksana dan Pencegahan Obesitas Pada Anak dan
Remaja. UKK Nutrisi dan Penyakit metabolik. 2014.

dr. Enny, SP.A


1. DD dari bronkopneumonia?
Jawab:
 Pneumonia lobaris
Biasanya pada anak yang lebih besar disertai badan menggigil
dan kejang pada bayi kecil. Suhu naik cepat sampai 39 – 40 oC dan
biasanya tipe kontinua. Terdapat sesak nafas, nafas cuping hidung,
sianosis sekitar hidung dan mulut dan nyeri dada. Anak lebih suka tidur

48
pada sisi yang terkena. Pada foto rotgen terlihat adanya konsolidasi
pada satu atau beberapa lobus.

 Bronkiolitis
Diawali infeksi saluran nafas bagian atas, subfebris, sesak nafas,
nafas cuping hidung, retraksi intercostal dan suprasternal, terdengar
wheezing, ronki nyaring halus pada auskultasi. Gambaran labarotorium
dalam batas normal, kimia darah menggambarkan asidosis respiratotik
ataupun metabolik.

 Aspirasi benda asing


Ada riwayat tersedak, stridor atau distress pernapasan tiba – tiba,
wheezing atau suara pernapasan yang menurun yang bersifat fokal.

 Tuberkulosis
Pada TB, terdapat kontak dengan pasien TB dewasa, uji
tuberkulin positif ( > 10 mm atau pada keadaan imunosupresi > 5 mm
), demam 2 minggu atau lebih, batuk 3 minggu atau lebih, pertumbuhan
buruk/kurus atau berat badan menurun, pembengkakan kelenjar limfe
leher, aksila, inguinal yang spesifik, pembengkakan tulang/sendi
punggung, panggulm lutut, dan falang, dan dapat disertai nafsu makan
menurun dan malaise yang dapat ditegakkan melalui skor TB.

 Atelektasis
Adalah pengembangan tidak sempurna atau kempisnya bagian
paru yang seharusnya mengandung udara. Dispnoe dengan pola
pernafasan cepat dan dangkal, takikardia, sianosis. Perkusi mungkin
batas jantung dan mediastinum akan bergeser dan letak diafragma
mungkin meninggi.

49
Sumber:
Wijaya, Surya. Pedoman Diagnosis Bronkiolitis Akut. Fakultas Kedokteran
Universitas Sriwijaya.

2. Apa yang harus dipantau pada pasien dengan bronkopneumonia?


Jawab:
Hal yang harus dipantau untuk pasien bronkopneumonia adalah:
- Pemantauan tanda-tanda vital yaitu :
 Suhu  apakah pasien masih mengalami demam atau tidak
 Frekuensi napas  apakah pasien masih bernafas cepat
- Pada pemeriksaan fisik:
 Apakah pasien tampak sesak
 Apakah masih terdapat penggunaan otot bantu napas (adanya
retraksi dan napas cuping hidung)
 Apakah pada auskultasi masih terdengan bunyi napas tambahan
yaitu pada pasien ronki basah halus

Sumber:
WHO. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit Jakarta:
World Health Organization. 2009.

3. Komplikasi dari bronkopneumonia?


Jawab:
Komplikasi biasanya sebagai hasil langsung dari penyebaran bakteri dalam
rongga thorax (seperti efusi pleura, empiema dan perikarditis) atau
penyebaran bakteremia dan hematologi. Meningitis, artritis supuratif, dan
osteomielitis adalah komplikasi yang jarang dari penyebaran infeksi
hematologi.

50
Sumber:
Bradley J.S., Byington C.L., Shah S.S, Alverson B., Carter E.R., Harrison
C., Kaplan S.L., et.al. 2011. The Management of Community-Acquired
Pneumonia in Infants and Children Older than 3 Months of Age : Clinical
Practice Guidelines by the Pediatric Infectious Diseases Society and the
Infectious Diseases Society of America. Clin Infect Dis. 53 (7): 617-630

4. Apa perbedaan dari bronkopneumonia dengan bronkiolitis?


Jawab:

Sumber :
Wijaya, Surya. Pedoman Diagnosis Bronkiolitis Akut. Fakultas Kedokteran
Universitas Sriwijaya.

51