Anda di halaman 1dari 92

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH


DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH MENENGAH PERTAMA
TAHUN 2016 
Petunjuk Teknis Pengembangan dan Pembinaan Sekolah Rujukan
Cetakan Pertama, 2016

Milik Negara Tidak Diperdagangkan

Tim Penyusun:
Penyunting:
Desain Visual: MS Lubis
Sumber Ilustrasi: freepik.com

Diterbitkan oleh
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama
Kompleks Kemdikbud, Gedung E, Lantai 15, 16, 17
Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta, 12070
Telepon/Faksimile: 021-5725707, 5725681
www.dit-plp.go.id

© 2016 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan


Kata Pengantar

Puji syukur dipanjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat
dan karunia-Nya sehingga Petunjuk Teknis Pengembangan dan Pembinaan Sekolah
Rujukan ini dapat diselesaikan.

Panduan ini disusun bertujuan untuk memberi informasi tentang: pertama "Pen­
dahuluan" yang meliputi Latar Belakang, Landasan Hukum, Tujuan, Sasaran Peng­
guna Panduan, Ruang Lingkup; kedua "Konsep Sekolah Rujukan" yang meliputi
Pengertian Sekolah Rujukan, Tujuan Sekolah Rujukan, Indikator Sekolah Rujukan,
Mekanisme Penetapan Sekolah Rujukan; ketiga "Pengembangan dan Pembinaan
Calon Sekolah Rujukan" yang meliputi Pengertian, Tujuan Pengembangan, Strategi
Pencapaian Indikator Sekolah Rujukan, Pengelolaan oleh Calon Sekolah Rujukan,
Pembinaan oleh Pemerintah, Provinsi, LPMP dan pemerintah kabupaten/kota; ke­
empat "Pengelolaan dan Penyelenggaraan Sekolah Rujukan" yang meliputi Peren­
canaan, Pelaksanaan, dan Monitoring dan Evaluasi.

Disadari sepenuhnya bahwa meskipun panduan ini telah disusun dengan cermat
dan dengan mempertimbangkan berbagai hal, namun diyakini masih jauh dari
sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran dari pihak-pihak terkait sangat diharap­
kan. Atas peran serta, perhatian dan kerjasama dari semua pihak disampaikan ba­
nyak terima kasih. Semoga bermanfaat dan bisa digunakan sebagaimana mestinya.

Jakarta, Juli 2016


Direktur Pembinaan SMP

iii
Daftar Isi

Kata Pengantar iii


Daftar Isi iv

1 Pendahuluan 1
A. Latar Belakang 1
B. Landasan Hukum 5
C. Tujuan 6
D. Sasaran Pengguna Panduan 6
E. Ruang Lingkup 7

2 Konsep dan Kebijakan Sekolah Rujukan 9


A. Pengertian Sekolah Rujukan 9
B. Tujuan Sekolah Rujukan 10
C. Indikator Sekolah Rujukan 11
D. Mekanisme Penetapan Sekolah Rujukan 21

3 Pengembangan dan Pembinaan Calon Sekolah Rujukan 27


A. Pengertian 27
B. Tujuan Pengembangan 27
C. Strategi Pencapaian Indikator Sekolah Rujukan 28
D. Pengelolaan oleh Calon Sekolah Rujukan 31
E. Pembinaan oleh Pemerintah, Provinsi, LPMP dan
Pemerintah Kabupaten/Kota 32

iv KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


4 Pengelolaan dan Penyelenggaraan Sekolah Rujukan 35
A. Perencanaan 35
B. Pelaksanaan 36
C. Monitoring dan Evaluasi 66

5 Penutup 67

Lampiran
Pengembangan dan Penyusunan Rencana Kerja Sekolah (RKS) dan Rencana
Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS) untuk SMP Rujukan 69
 Penyusunan Rencana Kerja Sekolah (RKS) pada SSP Rujukan 71
 Penyusunan Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS)
pada SMP Rujukan 80

PETUNJUK TEKNIS PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN Sekolah RUJUKAN v


1 Pendahuluan

A. LATAR BELAKANG
Sebagaimana diketahui dalam amanat Konstitusi pasal 28c, ayat (1), UUD 1945
menyatakan bahwa “setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan
kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari
ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas
hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia”. Pasal 31 menyatakan pemerintah
wajib memajukan pendidikan dengan mengusahakan dan menyelenggarakan satu
sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta
akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan
undang-undang, memprioritaskan anggaran pendidikan serta memajukan ilmu
pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan per­
satuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.

Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 50(2) disebutkan bahwa Pe­
merintah menentukan kebijakan nasional dan standar nasional pendidikan un­tuk
menjamin mutu pendidikan nasional. Sedangkan dalam Peraturan Pemerintah No
19 Tahun 2005 Bab XV tentang Penjaminan Mutu pasal 91 disebutkan: (1) Setiap

1
satuan pendidikan pada jalur formal dan nonformal wajib melakukan penjaminan
mutu pendidikan dan (2) Penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) bertujuan untuk memenuhi atau melampaui Standar Nasional Pen­
didikan; dan (3) Penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan secara bertahap, sistematis, dan terencana dalam suatu program penja­
minan mutu yang memiliki target dan kerangka waktu yang jelas. Sebagai acuan
mutu, satuan pendidikan dikembangkan berdasarkan SNP dan atau di atas SNP.

Namun demikian, pada kenyataannya kondisi mutu (satuan) pendidikan yang di­
ukur dari delapan SNP di seluruh Indonesia masih sangat bervariasi dan masih lebih
banyak sekolah yang belum memenuhi SNP. Beberapa kondisi indikator mutu pen­
didikan ditinjau dari SNP yaitu:

1. Pemenuhan Standar Nasional Pendidikan (SNP) ditinjau dari Nilai Akredi­


tasi dan Pencapaian SPM (Standar Pelayanan Minimal)
Di mana secara nasional, tercatat pada tahun 2013 sebanyak 68,7% SD/MI dan
62,5% SMP/MTs telah terakreditasi minimal B. Pada tahun 2015 SMP yang ter­
akreditasi B sebanyak 56,00% dan pencapaian SPM sebanyak 74,89%. Kondisi
ini menunjukkan pemenuhan SNP pada jenjang SMP masih jauh dari harapan.

2. Capaian Nilai Ujian Nasional.


Hasil Ujian Nasional tahun 2015 rerata nasional adalah 61,29 dari 52.163 sekolah,
terjadi peningkatan dari tahun sebelumnya sebesar 61,00. Sedangkan ditinjau
dari kualifikasi/kategorinya, hasil ujian nasional adalah juga masih mempriha­
tinkan, dimana rata-rata masih dalam kategori C (mutu belum baik).

Bahasa Bahasa Jumlah


NILAI UJIAN Matematika IPA
Indonesia Inggris Nilai

Kategori B C C C C

Rata-Rata 71.06 60.01 56.28 59.88 247.23

Terendah 2.0 2.0 2.5 2.5 20.0

Tertinggi 100.0 100.0 100.0 100.0 398.0

Standar
14.28 18.24 19.92 17.91 59.10
Deviasi

2 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


3. Capaian IIUN (Indeks Integritas Ujian Nasional).
Dari hasil UN SMP/ sederajat tahun 2015 menunjukkan dari total 52.163 SMP/
sederajat yang melaksanakan UN, hanya 12 persen yang memiliki nilai UN dan
IIUN tinggi, 50 persen memiliki nilai UN tinggi tetapi memiliki nilai IIUN rendah,
17 persen memiliki nilai UN rendah dan nilai IIUN tinggi, dan 22 persen sisanya
memiliki nilai UN dan IIUN rendah. Lebih lanjut secara rerata nilai UN dan IIUN
sekolah swasta lebih tinggi dari sekolah negeri. 

Gambar 1. Pencapaian Nilai UN dan IIUN Tahun 2015


(Sumber: Balitbang Kemdikbud, 2016)

4. Kondisi kompetensi guru.


Sebanyak tujuh provinsi mendapat nilai terbaik dalam penyelenggaraan uji
kompetensi guru (UKG) tahun 2015. Nilai yang diraih tersebut merupakan nilai
yang mencapai standar kompetensi minimum (SKM) yang ditargetkan secara
nasional, yaitu rata-rata 55. Tujuh provinsi tersebut adalah DI Yogyakarta (62,58),
Jawa Tengah (59,10), DKI Jakarta (58,44), Jawa Timur (56,73), Bali (56,13), Bangka
Belitung (55,13), dan Jawa Barat (55,06). Uji kompetensi guru (UKG) tahun 2015
menguji kompetensi guru untuk dua bidang yaitu pedagogik dan profesional.
Rata-rata nasional hasil UKG 2015 untuk kedua bidang kompetensi itu adalah

PETUNJUK TEKNIS PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN Sekolah RUJUKAN 3


53,02. Selain tujuh provinsi di atas yang mendapatkan nilai sesuai standar kom­
petensi minimum (SKM), ada tiga provinsi yang mendapatkan nilai di atas rata-
rata nasional, yaitu Kepulauan Riau (54,72), Sumatera Barat (54,68), dan Kali­
mantan Selatan (53,15). Hasil UKG untuk kompetensi bidang pedagogik saja,
rata-rata nasionalnya hanya 48,94, yakni berada di bawah standar kompetensi
minimal (SKM), yaitu 55.

5. Kemahiran Membaca Siswa/Literasi


Rendahnya mutu kemahiran membaca siswa di Indonesia ditunjukkan antara
lain, survei PISA Tahun 2012 dengan perolehan nilai sebesar 396. Posisi
Indonesia di bawah nilai rata-rata Malaysia(398) dan Thailand (441). Pada umum­
nya, kendala peningkatan mutu kemahiran membaca siswa dipengaruhi oleh
kompetensi pendidik, standar mutu penggunaan bahasa pembelajaran, sistem
pembelajaran, dan sumber daya pembelajaran bahasa dan sastra.

Sementara itu, dalam Penjelasan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 ten­tang


Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa terwujudnya sistem pendi­dikan
sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa memberdayakan semua warga
negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu
dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.

Untuk itu, Pemerintah telah mendesain pembangunan pendidikan jangka pan­jang


yang disebut dengan Rencana Pembangunan Pendidikan Nasional Jangka Pan­
jang (RPPNJP) 2005-2025. Dimana dalam RPJMN-III (2015-2019) berdaskan UU No
17/2007 adalah memantapkan pembangunan secara menyeluruh dengan me­ne­
kankan pembangunan keunggulan kompetitif perekonomian yang berbasis pada
SDA yang tersedia dan SDM yang berkualitas serta kemampuan IPTEK. Pada peri­
ode tahun 2015-2019 menekankan pada peningkatan daya saing regional, se­
dangkan selanjutnya pada tahun 2020-2024 menekankan peningkatan Daya Saing
Internasional.

Berdasarkan kondisi mutu dan rencana pembangunan pendidikan ke depan ter­


sebut, maka penting adanya pengembangan model pendidikan yang bermutu
minimal sesuai dengan SNP yaitu disebut dengan sekolah rujukan. Pengembangan
sekolah rujukan diharapkan menjadi salah satu solusi untuk mempercepat pen­

4 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


riyanthi.wordpress.com
capaian mutu dan pemenuhan SNP seluruh satuan pendidikan. Penyelenggaraan
pendidikan pada sekolah rujukan juga diarahkan untuk menghasilkan insan Indo­
nesia cerdas, berkarakter, berjati diri Indonesia, dan berkeunggulan komparatif dan
kompetitif secara regional dan internasional.

Dengan demikian, penyelenggaraan pendidikan dengan bentuk sekolah rujukan


merupakan salah satu upaya yang sangat penting oleh pemerintah dalam rangka
mempercepat pemerataan dan pemenuhan pencapaian standar nasional pendi­
dikan pada tiap satuan pendidikan serta pengembangannya, sehingga dapat seba­
gai contoh bagi sekolah-sekolah lainnya.

Berdasarkan kondisi, harapan, dan upaya-upaya yang akan dilakukan melalui pe­
nyelenggaraan sekolah rujukan tersebut, maka perlu disusun petunjuk teknis pe­
ngembangan dan pembinaan sekolah rujukan.

B. LANDASAN HUKUM
Pengelolaan dan penyelenggaraan sekolah rujukan didasarkan pada:

1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lem­
baran Negara Republik Indonesia Nomor 4301);

PETUNJUK TEKNIS PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN Sekolah RUJUKAN 5


2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lem­
baran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5587);
3. Peraturan Pemerintah Nomor 19/2005 tentang Standar Nasional Pendi­dikan se­
­bagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 13/2015
tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19/2005 tentang
Standar Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015
Nomor 45, Tambahan Lembaran Negara Republik Indo­nesia Nomor 5670);
4. Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 91, Tambahan Lem­
baran Negara Republik Indonesia Nomor 4864);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penye­
lenggaraan Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 No­
mor 23, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5105) seba­
gaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2010
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 112, Tambahan Lem­
baran Negara Republik Indonesia Nomor 5157);
6. Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2015 Tentang Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 15);
7. Permendiknas Nomor 63 Tahun 2009 Tentang Sistem Penjaminan Mutu Pen­
didikan
8. Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 Tentang Penumbuhan Budi Pekerti

C. TUJUAN
Tujuan penyusunan juknis ini adalah:

1. Sebagai pedoman bagi pemerintah, pemerintah daerah, pemangku kepen­


tingan lainnya dan masyarakat dalam pengembangan dan pembinaan sekolah
rujukan.
2. Sebagai pedoman bagi satuan pendidikan dalam mengelola dan menyeleng­
garakan sekolah rujukan.

D. SASARAN PENGGUNA PANDUAN


Buku ini diharapkan dapat dipergunakan sebagai acuan oleh berbagai pihak dalam
pengembangan dan pembinaan sekolah rujukan, yaitu:

6 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


1. Pemerintah Pusat (Direktorat Jenderal Dikdasmen, Direktorat PSMP, dan LPMP),
2. Pemerintah Daerah Provinsi (Dinas Pendidikan Provinsi),
3. Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota (Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota),
4. Satuan Pendidikan,
5. Dewan Pendidikan,
6. Komite Sekolah,
7. Orang tua peserta didik/masyarakat/pelaku pendidikan.

E. RUANG LINGKUP
Buku Panduan ini disusun dengan ruang lingkup unsur-unsur pokok sebagai berikut:

Bab I : Pendahuluan
Bab II : Konsep dan Kebijakan Sekolah Rujukan
Bab III : Pengembangan dan Pembinaan Sekolah Rujukan
Bab IV : Pengelolaan dan Penyelenggaraan Sekolah Rujukan
Bab V : Penutup

PETUNJUK TEKNIS PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN Sekolah RUJUKAN 7


2
Konsep dan
Kebijakan
Sekolah Rujukan

A. PENGERTIAN SEKOLAH RUJUKAN


Sekolah rujukan adalah satuan pendidikan yang telah terakreditasi A, mengem­
bangkan ekosistem pendidikan, budaya mutu, dan penumbuhan budi pekerti yang
dapat dirujuk sebagai contoh bagi sekolah-sekolah lainnya. Dengan demikian, se­
kolah rujukan adalah sekolah yang telah memenuhi Standar Nasional Pendidikan
(SNP) dan mempunyai keunggulan-keunggulan dalam penyelenggaraan pendi­
dikan yang dapat meningkatkan daya saing, berperan mengimbaskan implemen­
tasi SNP dan keung­gulannya kepada sekolah lain. Pemenuhan SNP ditandai dengan
perolehan nilai akreditasi A (Sangat Baik). Sedangkan keunggulan yang dimaksud
adalah terutama ekosis­tem pendidikan yang kondusif, budaya mutu, dan penum­
buhan budi pekerti.

Pengembangan sekolah rujukan dilandasi oleh semangat peningkatan dan peme­


rataan mutu pendidikan. Pada tataran ideal, seluruh sekolah diharapkan memenuhi
8 standar nasional pendidikan (SNP). Dalam implementasinya, upaya pemenuhan
SNP di seluruh sekolah bukan pekerjaan yang mudah dan tidak dapat dilakukan
secara cepat. Upaya pembinaan pemenuhan SNP di jenjang Sekolah Menengah

9
Pertama oleh pemerintah telah dilakukan sejak tahun 2003. Namun demikian pe­
menuhan SNP di seluruh sekolah belum mencapai target yang direncanakan.

Keberadaan sekolah rujukan diharapkan mampu membantu peningkatan dan pe­


merataan mutu pendidikan melalui kerjasama dan pengimbasan dari sekolah ru­
jukan dengan sekolah di sekitarnya. Dengan demikian sekolah rujukan harus me­
miliki kerelaan untuk berbagi keunggulan dengan sekolah lain. Sekolah seperti ini
tentu saja tidak mungkin kita dapatkan secara mudah.

B. TUJUAN SEKOLAH RUJUKAN


Tujuan sekolah rujukan yaitu untuk untuk mendorong upaya sekolah dalam meme­
nuhi standar nasional pendidikan guna peningkatan dan pemerataan mutu pendi­
dikan melalui kerjasama dan pengimbasan antara sekolah rujukan dengan sekolah-
sekolah di sekitarnya. Secara lebih rinci tujuan pengembangan sekolah rujukan
adalah sebagai berikut.

1. Mempercepat sekolah dalam memenuhi standar nasional pendidikan.


2. Mempertahankan mutu sekolah yang telah memenuhi standar nasional pendi­
dikan.
3. Meningkatkan mutu pendidikan, baik dalam skala nasional, regional maupun
internasional.
4. Mempercepat dan sekaligus meningkatkan pemerataan mutu pendidikan di
wilayah NKRI.
5. Menjadikan sekolah yang mampu mengembangkan dan mengimplementasi­
kan kerjasama dengan satuan pendidikan aliansinya.
6. Menumbuhkembangkan ekosistem pendidikan yang berdasarkan asas kego­
tongroyongan.
7. Menjadikan sekolah sebagai pusat keunggulan, yang didasarkan atas kompo­
nen-komponen standar nasional pendidikan.
8. Menjadikan sekolah yang mampu mengembangkan dan mengimplementasi­
kan budaya mutu pendidikan termasuk budaya literasi sekolah.
9. Menjadikan sekolah yang mampu mengembangkan dan mengimplementasi­
kan program pencegahan dan penanggulangan tindak kekerasan.
10. Menjadikan sekolah yang mampu mengembangkan dan mengimplementasi­
kan penumbuhan budi pekerti.

10 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


11. Menjadikan sekolah sebagai model yang baik dan dapat dirujuk sekolah lain.
12. Sebagai pusat pembelajaran yang efektif dan mampu mengimbaskan kepada
sekolah lainnya.

C. INDIKATOR SEKOLAH RUJUKAN


Indikator sekolah rujukan adalah sebagai berikut.

a. terakreditasi A.
b. memiliki ekosistem pendidikan yang kondusif.
c. memiliki budaya mutu.
d. melaksanakan program penumbuhan budi pekerti.
e. menjadi pusat keunggulan.
f. lokasi yang strategis, mudah dijangkau, dan aman.

Indikator tersebut dapat diuraikan secara lebih rinci sebagai berikut.

a. Terakreditasi A
Nilai Akhir Akreditasi (NA) sebesar 86 sampai dengan 100 (86 < NA < 100). Maknanya
adalah bahwa sekolah-sekolah tersebut minimal telah memenuhi 8 (delapan) stan­
dar nasional pendidikan, yaitu Standar Isi, Standar Proses Pembelajaran, Standar
Kompetensi Lulusan, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar Sarana
dan Prasarana, Standar Pengelolaan, Standar Pembiayaan, dan Standar Penilaian.

b. Memiliki ekosistem pendidikan yang kondusif


Ekosistem pendidikan merupakan interaksi antara komponen-komponen yang ter­
libat dalam pendidikan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Komponen-kom­
ponen tersebut antara lain kepala sekolah, guru, wali kelas, guru BK, tenaga non-
kependidikan, siswa, komite sekolah, orangtua siswa, masyarakat sekitar sekolah,
dunia usaha dan industri, dan instansi lain yang terkait dengan penyelenggaraan
pendidikan.

Ekosistem pendidikan yang kondusif dapat tercipta jika masing-masing komponen


ekosistem tersebut melakukan tugas dan fungsinya dengan baik. Lebih dari itu,
antar-komponen harus saling berinteraksi secara positif dan bersinergi satu sama
lain. Indikator ekosistem pendidikan yang kondusif meliputi hal-hal sebagai berikut.

PETUNJUK TEKNIS PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN Sekolah RUJUKAN 11


a. Terdapat kegiatan menciptakan sekolah menyenangkan, ramah, tenang, dan
nyaman:
1) Terdapat ruang terbuka hijau/taman.
2) Terdapat fasilitas pembelajaran di luar kelas sesuai dengan perkembangan
teknologi dan daya dukung yang ada.
3) Terdapat kegiatan silaturahmi antara warga sekolah secara kekeluargaan.

b. Terdapat fasilitas yang memadai untuk ajang ekspresi, kreasi, dan eksposisi.

c. Terdapat kegiatan yang dilakukan para guru dan wali kelas untuk memahami
karakteristik peserta didik:
1) Terdapat kegiatan pertemuan rutin antara guru dan wali kelas dengan pe­
serta didik.
2) Terdapat kegiatan pendokumentasian karakteristik peserta didik.
3) Terdapat dokumen lengkap tentang karakteristik peserta didik.
4) Terdapat dokumen pemetaan bakat, minat, kepribadian, dan lainnya ten­
tang peserta didik.

d. Terdapat kegiatan yang dilakukan guru untuk penyaluran bakat, minat, dan po­
tensi lain sesuai karakteristik peserta didik dalam upaya menumbuh­kembang­
kan kemampuan berfikir, bersikap, dan bertindak kritis, kreatif, dan inovatif:
1) Terdapat kegiatan AMT (achievement motivation training) secara rutin.
2) Terdapat kegiatan penugasan kerja proyek mulai perencanaan sampai de­
ngan refleksi secara rutin.
3) Terdapat kegiatan pembiasaan sikap sesuai dengan potensi dan daya du­
kung sekolah serta pihak lain.
4) Terdapat dokumen hasil-hasil karya peserta didik.

e. Terdapat kegiatan yang melibatkan orang tua peserta didik:


1) Terdapat kegiatan pertemuan rutin dengan orang tua peserta didik, baik
per kelas maupun keseluruhan.
2) Terdapat kegiatan peningkatan kompetensi peserta didik yang dilakukan
oleh orang tua peserta didik di sekolah/luar sekolah.
3) Terdapat dokumen hasil-hasil kegiatan yang melibatkan orang tua peserta
didik.

12 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


f. Terdapat kegiatan yang melibatkan masyarakat untuk peduli pendidikan:
1) Terdapat kegiatan pertemuan rutin dengan masyarakat sekitar sekolah.
2) Terdapat kegiatan peningkatan kompetensi peserta didik yang dilakukan
oleh masyarakat sekitar sekolah di sekolah/luar sekolah.
3) Terdapat dokumen hasil-hasil kegiatan yang melibatkan masyarakat seki­
tar sekolah.

g. Terdapat kegiatan yang melibatkan dunia usaha/industri dalam pendidikan:


1) Terdapat kegiatan pertemuan rutin dengan dunia usaha/industri sekitar
sekolah dan lainnya.
2) Terdapat kegiatan peningkatan kompetensi peserta didik yang dilakukan
oleh dunia usaha/industri sekitar sekolah dan lainnya di sekolah/luar sekolah.
3) Terdapat dokumen hasil-hasil kegiatan yang melibatkan dunia usaha/ in­
dustri sekitar sekolah dan lainnya.

h. Terdapat kegiatan yang melibatkan organisasi profesi dalam bidang pendidikan


dan atau lainnya:
1) Terdapat kegiatan pertemuan rutin dengan organisasi profesi dalam bi­
dang pendidikan dan atau lainnya.

wikiwand.com

PETUNJUK TEKNIS PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN Sekolah RUJUKAN 13


2) Terdapat kegiatan peningkatan kompetensi peserta didik yang dilakukan
oleh organisasi profesi dalam bidang pendidikan dan atau lainnya di seko­
lah/luar sekolah.
3) Terdapat dokumen hasil-hasil kegiatan yang melibatkan organisasi profesi
dalam bidang pendidikan dan atau lainnya.

i. Terdapat kerjasama dengan satuan pendidikan aliansinya dalam berbagai bidang:


1) Terdapat kegiatan implementasi dan pengembangan manajemen berbasis
sekolah (MBS).
2) Terdapat penyebaran inovasi pembelajaran berbasis TIK dan atau lainnya
melalui berbagai media/sarana.
3) Terdapat kegiatan untuk peningkatan kapasitas pendidik dan tenaga ke­
pendidikan.
4) Terdapat program pengembangan jejaring kerjasama dengan sekolah lain
untuk mencapai tujuan bersama.
5) Terdapat kegiatan pemanfaatan fasilitas bersama antara sekolah induk de­
ngan aliansinya.
6) Terdapat dokumen kerjasama (MoU) dengan sekolah aliansinya.

j. Memiliki kemauan untuk mengimbaskan kepada sekolah lain:


1) Terdapat program pengimbasan kepada sekolah lain.
2) Terdapat kalender pelaksanaan pengimbasan kepada sekolah lain.
3) Terdapat dokumen MoU dengan sekolah imbas.

c. Mengembangkan budaya mutu


Dalam rangka meningkatkan mutu layanannya, sekolah rujukan perlu memiliki:

a. Kegiatan penciptaan budaya belajar, antara lain:


1) pendampingan atau asistensi,
2) bimbingan terprogram,
3) regulasi layanan prima dan optimal,
4) penugasan terprogram atau tidak terprogram (mandiri/tidak terstruktur),
5) unjuk prestasi,
6) lomba akademik,
7) pemberdayaan pemangku kepentingan yang bersifat akademik,

14 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


8) program lain sesuai kondisi sekolah.

b. Kegiatan penciptaan budaya kompetitif, antara lain:


1) lomba karya tulis ilmiah,
2) lomba karya tulis non ilmiah,
3) lomba karya kreatif peserta didik,
4) lomba penelitian sederhana,
5) lomba keagamaan,
6) lomba bidang sosial kerakyatan,
7) lomba-lomba lainnya,
8) debat akademik,
9) debat keagamaan, kesosialan, ekonomi, dll,
10) pengembangan bakat minat,
11) penghargaan prestasi,
12) penanganan anak berkebutuhan khusus,
13) presentasi, eksposisi atau ajang kreasi.

c. Kegiatan penciptaan budaya kolaboratif, antara lain:


1) pembentukan organisasi-organisasi intra sekolah,
2) pembentukan kelompok belajar,
3) penyelenggaraan tutor sebaya,
4) pembentukan jaringan kerjasama antar kelompok,
5) pembentukan jalinan kerjasama dengan pihak lain di luar sekolah,
6) outbound,
7) pelibatan antar warga sekolah dalam kegiatan-kegiatan, dan
8) program penanaman kegotongroyongan.

d. Kegiatan penciptaan budaya kewirausahaan, antara lain:


1) workshop/temu usaha oleh wirausahawan tulen,
2) program pembelajaran kewirausahaan,
3) magang kewirausahaan,
4) program karya alternatif peserta didik,
5) program konsultasi usaha,
6) pendirian unit-unit usaha sekolah,
7) bermitra usaha.

PETUNJUK TEKNIS PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN Sekolah RUJUKAN 15


d. Melaksanakan program penumbuhan budi pekerti
a. Kegiatan menumbuhkan kesadaran moral dan spiritual dalam perilaku sehari-hari:
a. Guru dan peserta didik berdoa bersama sesuai dengan keyakinan masing-
masing, sebelum dan sesudah hari pembelajaran, dipimpin oleh seorang
peserta didik secara bergantian dibawah bimbingan guru.
b. Membiasakan untuk menunaikan ibadah bersama sesuai agama dan ke­
percayaannya baik dilakukan di sekolah maupun bersama masyarakat;
c. Membiasakan perayaan Hari Besar Keagamaan dengan kegiatan yang se­
derhana dan hikmat.

b. Kegiatan Menumbuhkembangkan Nilai-nilai Kebangsaan dan Kebhinnekaan


(menumbuhkan rasa cinta tanah air dan menerima keberagaman sebagai anu­
gerah untuk bangsa Indonesia.
1) Melaksanakan upacara bendera setiap hari Senin dengan mengenakan se­
ragam atau pakaian yang sesuai dengan ketetapan sekolah.
2) Melaksanakan upacara bendera pada pembukaan MOPDB dengan peserta
didik bertugas sebagai komandan dan petugas upacara serta kepala seko­
lah/wakil bertindak sebagai inspektur upacara;
3) Sesudah berdoa setiap memulai hari pembelajaran, guru dan peserta didik
menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan/atau satu lagu wajib
nasional atau satu lagu terkini yang menggambarkan semangat patriotisme
dan cinta tanah air.
4) Sebelum berdoa saat mengakhiri hari pembelajaran, guru dan peserta
didik menyanyikan satu lagu daerah (lagu-lagu daerah seluruh Nusantara).
5) Pembiasaan peringatan hari besar nasional.

c. Kegiatan Mengembangkan interaksi positif antara peserta didik dengan guru


dan orang tua. Sekolah mengadakan pertemuan dengan orangtua siswa pada
setiap tahun ajaran baru untuk mensosialisasikan: (a) visi; (b) aturan; (c) materi;
dan (d) rencana capaian belajar siswa agar orangtua turut mendukung keempat
poin tersebut.

d. Kegiatan Mengembangkan Interaksi Positif Antar Peserta Didik


Membiasakan pertemuan di lingkungan sekolah dan/atau rumah untuk belajar
kelompok yang diketahui oleh guru dan/atau orangtua.

16 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


rmolsumsel.com
e. Kegiatan Merawat Diri dan Lingkungan Sekolah
Melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan sekolah dengan membentuk
kelompok lintas kelas dan berbagi tugas sesuai usia dan kemampuan siswa.

f. Kegiatan Mengembangkan Potensi Diri Peserta Didik Secara Utuh


1) Menggunakan 15 menit sebelum hari pembelajaran untuk membaca buku
selain buku mata pelajaran (setiap hari).
2) Seluruh warga sekolah (guru, tenaga kependidikan, siswa) memanfaatkan
waktu sebelum memulai hari pembelajaran pada hari-hari tertentu untuk
kegiatan olah fisik seperti senam kesegaran jasmani, dilaksanakan secara
berkala dan rutin, sekurang-kurangnya satu kali dalam seminggu.

g. Kegiatan Pelibatan Orangtua dan Masyarakat di Sekolah


1) Mengadakan pameran karya siswa pada setiap akhir tahun ajaran dengan
mengundang orangtua dan masyarakat untuk memberi apresiasi pada siswa.
2) Masyarakat/orang tua peserta didik/komite sekolah berpartisipasi dalam
pembiayaan pendidikan dengan prinsip-prinsip MBS. Menerima sumbang­
an dari dunia usaha/industri atau pihak swasta lain dengan prinsip-prinsip
MBS. Memiliki sumber pembiayaan pendidikan dari unit usaha sekolah de­
ngan prinsip-prinsip MBS.

PETUNJUK TEKNIS PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN Sekolah RUJUKAN 17


h. Kegiatan Gerakan Literasi Sekolah untuk dapat diimplementasikan dalam pem­
belajaran dan kegiatan lain.
1) Mengadakan gerakan membaca secara rutin sebelum pelajaran dimulai
pada setiap harinya
2) Mengadakan gerakan membaca dalam bentuk penugasan sesuai dengan
bidang studi/mata pelajaran dan membuat laporan tertulis.

e. Menjadi pusat keunggulan


a. Kegiatan peningkatan mutu lulusan yang lebih dari SNP
a. Mencapai kelulusan 100% .
b. Indeks Integitas Ujian Nasional 100.
c. Sekolah mampu mencapai nilai rerata UN minimal 7,5 pada 3 tahun terakhir.
d. Meraih nilai rerata UN terbaik/tertinggi minimal tingkat kabupaten/kota­
nya.
e. Meraih minimal juara 1 - 3 di tingkat kabupaten/kotanya, misal: OSN, KIR,
peserta didik berprestasi, story telling, dll.
f. Minimal juara 1-3 di tingkat kabupaten/kotanya, misal: Bidang seni, olah­
raga, keterampilan, kepramukaan dll.

b. Kegiatan pengembangan dan implementasi kurikulum yang lebih dari SNP


1) Mengembangkan kurikulum dengan prinsip-prinsip MBS yang lebih dari
SNP, dan berbentuk digital
2) Mengembangkan dan mengimplementasikan kurikulum keunggulan lokal
3) Mengimplementasikan K-13

c. Kegiatan pengembangan dan peningkatan mutu pembelajaran yang lebih


dari SNP
1) Pembelajaran berbasis TIK untuk semua mata pelajaran, misal: pembel­
ajaran e-learning.
2) Memanfaatkan sumber belajar yang variatif, misal dari Rumah Belajar Kem­
dikbud (belajar.kemdiknas.go.id): e-liberary: e-book, dll.
3) Memanfaatkan media pembelajaran yang variatif.
4) Melaksanakan supervisi akademis.
5) Penggunaan metode pembelajaran berbasis ilmiah (saintifik), problem-
based learning, project-based learning dan inquiry learning.

18 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


d. Kegiatan pengembangan dan peningkatan sistem/proses penilaian yang lebih
dari SNP
1) Memiliki perencanaan dan pelaksanaan penilaian berbasis TIK (termasuk
penyelenggaraan UNBK).
2) Pengembangan sistem penilaian berbasis High Order Thinking Skill (HOTS),
misal PISA, dll.
3) Melaksanakan analisis, pengolahan, dan pendokumentasian penilaian ber­
basis TIK

e. Kegiatan pemenuhan dan peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga ke­


pendidikan yang lebih dari SNP.
1) Kepala sekolah: Kualifikasi pendidikan minimal S1/ D4, dan berpengalaman
(minimal 2 tahun). Memiliki sertifikat calon atau kepala sekolah dari LPPKS
Kemdikbud atau instansi yang berwenang. Kepala Sekolah memiliki kom­
petensi managerial dan leadership.
2) Guru: 100% guru lulusan S1 / D4, dan mengajar minimum 24 jam/minggu.
Guru memiliki kemampuan TIK.
3) Memiliki guru seluruh mapel lengkap 100% sesuai dengan sertifikat pendidik.
4) Sekolah memiliki kepala laboratorium yang bersertifikat, laboran, dan tek­
nisi.
5) Sekolah memiliki Kepala perpustakaan yang bersertifikat dan pustakawan.
6) Melakukan kegiatan peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kepen­
didikan melalui MGMP, lesson study, Inhouse training, Benchmarking, dan
sebagainya.

f. Kegiatan pemenuhan dan peningkatan sarana dan prasarana pendidikan yang


lebih dari SNP
1) Ruang Kelas: Dilengkapi fasilitas TIK (kelas digital), media pembelajaran,
dan lain-lain.
2) Ruang Praktik Prakarya dan kelengkapannya: Memiliki ruang dan peralatan
sesuai dengan tuntutan kurikulum sekolah (misal aspek rekayasa, kerajinan,
budidaya dan pengolahan)
3) Laboratorium IPA: Memiliki lab IPA sesuai SNP dan dilengkapi fasilitas TIK
4) Dapat memiliki Laboratorium Bahasa sesuai SNP dilengkapi fasilitas TIK;
Laboratorium Komputer yang memadai untuk UNBK; Laboratorium PTD

PETUNJUK TEKNIS PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN Sekolah RUJUKAN 19


untuk mendukung pembelajaran teknologi dan informasi serta prakarya;
Laboratorium Matematika, dan Laboratorium mata pelajaran lainnya se­
suai sumber daya yang dimiliki sekolah.
5) Ruang Multimedia: Mendukung pembelajaran dan penilaian berbasis TIK
6) Server: Memiliki server yg mendukung SIM sekolah, mis: E-learning; e-library,
e-administration, dll.
7) Ruang Kepala Sekolah: Dilengkapi dengan telpon, fax, akses internet, kom­
puter dan printer, sarana rapat, kamar kecil.
8) Ruang Guru: Sesuai standar SNP dilengkapi dengan telpon, fax, akses inter­
net, komputer dan printer, kamar kecil
9) Perpustakaan: Sesuai standar SNP dilengkapi degan akses internet, e-library,
LCD, TV, dll. Memiliki ruang baca khusus yang tidak terpisah dengan ruang
koleksi/utama.

g. Kegiatan pemenuhan beserta peningkatan pengelolaan sekolah yang lebih


dari SNP
1) Sekolah membentuk tim penyusun RKS/RKJM dan RKAS/RKT yang melibat­
kan semua warga sekolah serta stakeholder lainnya sesuai dengan prinsip
MBS, disusun berdasarkan EDS, disosialisasikan kepada warga sekolah/
stakeholder dan disahkan oleh pejabat yang berwenang (kepala dinas)
2) Sekolah memiliki program kerja/kegiatan sesuai 8 SNP dan tambahan/ pe­
ngembangannya serta diimplementasikan.
3) Sekolah memiliki panduan dan melaksanakan kegiatan: Penumbuhan Budi
Pekerti, kegiatan ekstrakurikuler (termasuk kepramukaan), pelaksanaan
kurikulum (pengembangan silabus dan RPP), pembelajaran, dan penilaian
berbasis TIK, BOS, BK, pengelolaan dan pembelajaran di laboratorium IPA,
Bahasa, dll, pengelolaan perpustakaan dengan berbasis TIK, pemanfaatan
lingkungan alam dan sekolah sebagai sumber belajar (out door), pengem­
bangan dan pemanfaatan media pembelajaran, pencegahan tindakan
kekerasan, penyalahgunaan NAPZA dan radikalisme.
4) Sekolah melakukan tindakan agar tidak terjadi perkelahian, pelecehan sek­
sual, pornografi, bullying, penyalahgunaan NAPZA dan radikalisme yang
berhubungan dengan SARA.
5) Sekolah memiliki dan mengimplementasikan panduan sistem informasi
berbasis TIK.

20 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


6) Sekolah menerapkan sistem penjaminan mutu pendidikan.
7) Mengimplementasikan pendidikan berbasis keunggulan lokal.

h. Sosialisasi dan pengembangan sekolah rujukan:


1) Terdapat kegiatan sosialisasi kepada pemangku kepentingan, sekolah ali­
ansi, sekolah imbas, dan lainnya sebagai sekolah rujukan.
2) Sosialisasi dilakukan dengan berbagai strategi.

f. Lokasi yang strategis, mudah dijangkau dan aman.


Sekolah terletak dilokasi yang strategis, mudah dan aman artinya letak sekolah
mudah di jangkau baik menggunakan transportasi umum maupun pribadi, dan se­
kolah rujukan letaknya tidak terlalu jauh dengan sekolah imbas serta berada dalam
ling­kungan yang bebas dari gangguan keamanan dan ancaman bencana alam.

Terdapat kegiatan kerjasama dengan pihak terkait untuk menciptakan kondisi yang
mendukung penyelenggaraan pendidikan/pembelajaran sehingga dalam kondisi
aman dan nyaman, seperti kepolisian, kalurahan/desa/kecamatan setempat, dll.

D. Mekanisme Penetapan Sekolah Rujukan


1. Persyaratan
Syarat sekolah untuk menjadi Calon Sekolah Rujukan dalam satu kabupaten/kota
antara lain:

a. Sekolah Negeri dan/atau Swasta yang memiliki izin operasional dan terdaftar
di Data Pokok Pendidikan Dasar dan Menengah (Dapodikdasmen);
b. Diprioritaskan yang sudah terakreditasi A;
c. Terletak di lokasi yang strategis, mudah dijangkau, dan aman.

2. Kriteria
Kriteria menjadi Calon Sekolah Rujukan dalam satu kabupaten/kota antara lain:

a. Memiliki potensi mengembangkan ekosistem pendidikan yang kondusif, an­


tara lain:
1) Terdapat ruang terbuka hijau/tamanisasi;
2) Terdapat kegiatan silaturahmi antara warga sekolah secara kekeluargaan;

PETUNJUK TEKNIS PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN Sekolah RUJUKAN 21


3) Terdapat sarana dan prasarana yang memenuhi SNP.
4) Mempunyai fasilitas yang memadai untuk ajang ekspresi, kreasi, dan eks­
posisi.
5) Terdapat keterlibatan aktif warga sekolah/komite sekolah/orang tua siswa/
masyarakat/dunia usaha dalam pelaksanaan program sekolah;
6) Memiliki RKS/RKAS yang didasarkan hasil Evaluasi Diri Sekolah (EDS).
7) Terdapat kegiatan yang dilakukan para guru dan wali kelas untuk mema­
hami karakteristik peserta didik.
8) Terdapat kegiatan yang dilakukan para guru untuk penyaluran bakat, mi­
nat, dan potensi lainnya sesuai karakteristik peserta didik dalam upaya me­
numbuhkembangkan kemampuan berfikir, bersikap, dan bertindak kritis,
kreatif, dan inovatif.
9) Terdapat kegiatan yang melibatkan organisasi profesi dalam bidang pen­
didikan dan atau lainnya.
10) Terdapat kerjasama dengan satuan pendidikan aliansinya dalam berbagai
bidang.
11) Memiliki kemauan untuk mengimbaskan kepada sekolah lain.

b. Memiliki potensi mengembangkan budaya mutu, antara lain:


1) Memiliki program ekstrakulikuler;
2) Memiliki program pengayaan dan remedial;
3) Memiliki kegiatan lomba-lomba prestasi akademik dan non-akademik;
4) Memiliki organisasi-organisasi kesiswaan, antara lain: Organisasi Siswa
Intra Sekolah (OSIS), Kader Kesehatan Remaja (KKR), Palang Merah Remaja
(PMR), dll;
5) Memiliki Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) Pengembangan Mutu;
6) Mewajibkan semua siswa menjadi anggota perpustakaan (minimal ang­
gota perpustakaan sekolah).
7) Terdapat kegiatan penciptaan budaya belajar.
8) Terdapat kegiatan penciptaan budaya kolaboratif.
9) Terdapat kegiatan penciptaan budaya kewirausahaan.

c. Melaksanakan Program Penumbuhan Budi Pekerti, antara lain:


1) Pembiasaan guru dan peserta didik berdo’a bersama sesuai dengan keya­
kinan masing-masing, sebelum dan sesudah pembelajaran;

22 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


2) Melaksanakan perayaan hari besar keagamaan;
3) Melaksanakan upacara bendera setiap hari Senin dengan mengenakan se­
ragam sekolah;
4) Memiliki kegiatan pemeliharaan lingkungan sekolah, misalnya kerja bakti
secara rutin, kegiatan bakti sosial;
5) Menggunakan 15 menit sebelum hari pembelajaran untuk membaca buku
selain buku mata pelajaran (kegiatan literasi);
6) Memiliki dan melaksanakan tata-tertib sekolah;
7) Melaksanakan Budaya “5S” (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, dan Santun).
8) Pembiasaan peringatan hari besar nasional.
9) Mengembangkan Interaksi Positif Antar-peserta Didik
10) Mengembangkan interaksi positif antara peserta didik dengan guru dan
orang tua.
11) Memiliki minimal 1 (satu) keunggulan, misalnya: keunggulan dalam bidang
Seni, Olahraga, atau Science.

3. Langkah-langkah Penetapan Sekolah Rujukan

a. Seleksi dan Penetapan Sekolah oleh Direktorat Pembinaan SMP


Dalam rangka menyeleksi Calon Sekolah Rujukan, Direktorat Pembinaan SMP harus
melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

1) Melakukan sosialisasi kepada Dinas Pendidikan Provinsi/Kab/Kota.


2) Menyiapan instrumen untuk proses seleksi sekolah sesuai dengan indikator
yang telah ditetapkan.
3) Mengidentifikasi calon sekolah berdasarkan data pendukung, misalnya data
hasil akreditasi, Dapodikdasmen, data sekunder dari Direktorat PSMP dan data
dari Dinas Pendidikan Kab/Kota.
4) Melakukan verifikasi ke sekolah.
5) Menganalisis data hasil verifikasi.
6) Menetapkan ranking sekolah calon rujukan berdasarkan hasil analisis.
7) Menetapkan Sekolah Rujukan dan/atau Sekolah Calon Rujukan yang akan di­
bina melalui Surat Keputusan (SK).
8) Menyampaikan hasil penetapan sekolah terpilih kepada Dinas Pendidikan Prov/
Kab/Kota dan Sekolah.

PETUNJUK TEKNIS PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN Sekolah RUJUKAN 23


b. Tahap Pengembangan Sekolah Calon Rujukan
Setelah ditetapkan sebagai Calon Sekolah Rujukan, sekolah harus melakukan lang­
kah-langkah sebagai berikut:

a. Membentuk Tim Pengembangan Sekolah Rujukan beserta uraian tugas dan


tanggungjawabnya.
b. Melakukan Evaluasi Diri Sekolah (EDS).
c. Melakukan pemetaan capaian mutu dan permasalahan.
d. Menyusun dan mengembangkan RKS dan RKAS berdasarkan hasil EDS untuk
pemenuhan Standar Nasional Pendidikan (SNP) menjadi Sekolah Rujukan.
e. Melakukan sosialisasi program pengembangan Sekolah Rujukan ke semua
warga sekolah (guru, komite sekolah, orang tua, dan siswa).
f. Melaksanakan program-program sesuai dengan rencana yang telah tertuang
dalam RKS/RKAS dalam rangka untuk pemenuhan syarat menjadi Sekolah Ru­
jukan, antara lain:
1) Berupaya meningkatkan status menjadi terakreditasi A (bagi Calon Sekolah
Rujukan yang belum terakreditasi A), dengan upaya pemenuhan SNP;
2) Meningkatkan ekosistem pendidikan yang kondusif sesuai indikator seba­
gai Sekolah Rujukan;
3) Mengembangkan budaya mutu untuk memenuhi indikator sebagai Seko­
lah Rujukan;

smpislamunggulan.blogspot.co.id

24 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


4) Melaksanakan program penumbuhan budi pekerti untuk memenuhi indi­
kator sebagai Sekolah Rujukan;
5) Menjadi pusat beberapa keunggulan;
g. Mengelola semua sumber pendanaan yang dikelola oleh sekolah secara akun­
table dan transparan.
h. Melakukan Monitoring dan Evaluasi terhadap pelaksanaan program peme­
nuhan Indikator Sekolah Rujukan.
i. Melakukan rencana tindak lanjut untuk peningkatan mutu pencapaian indika­
tor Sekolah Rujukan.

4. Peran Pemerintah, Pemerintah Daerah dan Masyarakat


a. Pemerintah dapat memfasilitasi pengembangan sekolah calon rujukan dalam
bentuk:
a) Menyusun petunjuk teknis
b) Melakukan seleksi sekolah dan menetapkan sekolah sasaran
c) Melakukan sosialisasi dan/atau pelatihan kepada sekolah
d) Memberikan bantuan dana maupun bantuan teknis
e) Melakukan supervisi, monitoring dan evaluasi dalam rangka untuk mem­
berikan umpan balik

b. Pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota mendorong upaya seko­


lah dalam memenuhi standar nasional pendidikan dan memfasilitasi pengem­
bangan sekolah calon rujukan dalam bentuk:
a) Melakukan seleksi sekolah calon rujukan atau membantu pemerintah da­
lam proses seleksi
b) Melakukan sosialisasi dan/atau pelatihan kepada sekolah
c) Memberikan bantuan dana maupun bantuan teknis
d) Melakukan supervisi, monitoring dan evaluasi dalam rangka untuk mem­
berikan umpan balik

c. Komite Sekolah/Orang Tua Siswa/Masyarakat dapat berperan serta dalam pe­


ngembangan sekolah rujukan dalam bentuk:
a) Membantu sekolah dalam penyusunan perencanaan.
b) Memberikan bantuan pendanaan.
c) Melakukan pengawasan.

PETUNJUK TEKNIS PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN Sekolah RUJUKAN 25


Pengembangan

3 dan Pembinaan
Calon Sekolah
Rujukan

A. Pengertian
Pengembangan merupakan upaya dalam membentuk calon sekolah rujukan dalam
pemenuhan kriteria atau indikator sekolah rujukan. Untuk memenuhi kriteria hal
tersebut perlu mengembangkan berbagai program dan kegiatan dalam pencapaian
indikator sekolah rujukan. Pengembangan calon sekolah rujukan menjadi sekolah
rujukan dimulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga tahap pembinaan
baik dari aspek supervisi, monitoring dan evaluasi.

Pembinaan diartikan sebagai upaya pendampingan, baik berupa supervisi, moni­


toring dan evaluasi. Pembinaan dilakukan dengan maksud agar program sekolah
rujukan sesuai rencana dan pelaksanaan sesuai yang diharapkan.

B. Tujuan Pengembangan
Tujuan pengembangan Calon Sekolah Rujukan adalah untuk mempersiapkan seko­
lah atau satuan pendidikan agar memenuhi semua indikator atau syarat sebagai
Sekolah Rujukan.

27
C. Strategi Pencapaian Indikator Sekolah Rujukan
Sekolah-sekolah yang telah ditetapkan calon sekolah rujukan tidak semua meme­
nuhi indikator sebagai calon sekolah rujukan, bahkan sebagain dari sekolah ter­
sebut memiliki kesenjangan yang cukup dengan indikator yang harus dipenuhi.
Berikut kegiatan yang dapat dilakukan calon sekolah rujukan dalam pemenuhan
indikator sekolah rujukan.

1. Pemenuhan akreditasi A
Untuk mencapai atau memperoleh akreditasi A sekolah perlu melakukan hal-hal
sebagai berikut.

a. Membentuk tim sistem penjaminan mutu pendidikan(SPMP) di internal sekolah.


b. Mengembangkan perangkat dan instrumen SPMP.
c. Melaksanakan pemetaan mutu untuk mengetahui positioning sekolah terhadap
komponen-komponen SNP.
d. Mengimplementasikan sistem penjaminan mutu internal sekolah.
e. Melaksanakan supervisi, monitoring, dan evaluasi (SME) di sekolah secara rutin.
f. Melakukan analisis dan melaporkan hasil-hasil SME.
g. Melakukan perencanaan dan kegiatan tindak lanjut dari hasil SME untuk melak­
sanakan perbaikan berkelanjutan.

2. Penciptaan ekosistem pendidikan yang kondusif


Upaya-upaya yang perlu dilakukan sekolah dalam membangun ekosistem pendi­
dikan yang kondusif adalah sebagai berikut.

a. Menciptakan sekolah menyenangkan, ramah, tenang, dan nyaman.


b. Melaksanakan kegiatan untuk mengembangkan interaksi positif antar peserta
didik, guru, dan lingkungan sekolah.
c. Melaksanakan kegiatan yang dilakukan para guru dan wali kelas untuk mema­
hami karakteristik peserta didik.
d. Melaksanakan kegiatan untuk penyaluran bakat, minat dan potensi lainnya se­
suai karakteristik peserta didik dalam upaya menumbuhkembangkan kemam­
puan berfikir, bersikap, dan bertindak kritis, kreatif, dan inovatif.
e. Melaksanakan kegiatan yang mampu meningkatkan hubungan kekeluargaan
antar warga sekolah, orang tua siswa dan masyarakat.

28 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


f. Melaksanakan kegiatan yang melibatkan masyarakat untuk peduli pendidikan.
g. Melaksanakan kegiatan yang melibatkan dunia usaha/industri dalam pendidikan.
h. Melaksanakan kegiatan yang melibatkan organisasi profesi dalam bidang pen­
didikan dan atau lainnya
i. Menyediakan dana pendidikan yang berasal dari APBD dan atau masyarakat
j. Melaksanakan kegiatan kerjasama dengan satuan pendidikan aliansinya dalam
berbagai bidang
k. Melaksanakan kegiatan pengimbasan kepada sekolah lain.

3. Pengembangan budaya mutu


Sebagai calon sekolah rujukan perlu mengembangkan budaya mutu yang meliputi;

a. Melaksanakan kegiatan penciptaan budaya belajar.


b. Melaksanakan kegiatan penciptaan budaya kompetitif.
c. Melaksanakan kegiatan dalam menciptakan budaya kolaboratif.
d. Melakukan kegiatan dalam mewujudkan budaya kewirausahaan.
e. Mengembangkan gerakan budaya leterasi.

4. Penumbuhan budi pekerti


Hal-hal atau upaya yang dilakukan untuk melaksanakan program penumbuhan
budi pekerti adalah sebagai berikut.

a. Melaksanakan kegiatan pembiasaan yang dapat menumbuhkan kesadaran


moral dan spiritual dalam perilaku sehari-hari.
b. Melaksanakan kegiatan dalam upaya menumbuhkembangkan nilai-nilai Ke­
bangsaan dan Kebhinnekaan (menumbuhkan rasa cinta tanah air dan mene­
rima keberagaman sebagai anugerah untuk bangsa Indonesia.
c. Melaksanakan kegiatan untuk meningkatkan interaksi positif antara peserta
didik dengan guru dan orang tua.
d. Melaksanakan kegiatan merawat diri dan lingkungan sekolah.
e. Melaksanakan kegiatan untuk mengembangakan potensi diri peserta didik se­
cara utuh.
f. Melaksanakan kegiatan yang melibatkan orangtua dan masyarakat di sekolah.
g. Melakukan Kegiatan Gerakan Literasi Sekolah baik dalam pembelajaran dan
kegiatan lainnya

PETUNJUK TEKNIS PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN Sekolah RUJUKAN 29


vcdpembelajaran.wordpress.com
5. Upaya-upaya menciptakan Sekolah sebagai pusat keunggulan
Untuk menjadi pusat unggulan sebagai indikator sekolah rujukan maka yang harus
dilakukan adalah sebagai berikut.

a. Mengembangkan keunikan sekolah atau keunggulan sekolah yang menjadi


pusat keunggulan di lingkungan sekolahnya, misalnya unggul dalam prestasi
akademis, unggul dalam prestasi non akademis.
b. Melaksanakan kegiatan peningkatan mutu lulusan yang lebih dari SNP.
c. Mengembangkan Mengimplementasikan kurikulum yang lebih dari SNP.
d. Melaksanakan pengembangan dan peningkatan mutu pembelajaran yang le­
bih dari SNP.
e. Mengembangkan proses penilaian yang lebih dari SNP
f. Mengembangkan pusat belajar dan media bekerjasama dengan puspendik dan
pustekkom.
g. Melaksanakan kegiatan pemenuhan dan peningkatan kompetensi pendidik dan
tenaga kependidikan yang lebih dari SNP
h. Melaksanakan kegiatan pemenuhan dan peningkatan sarana dan prasarana
pendidikan yang lebih dari SNP, seperti peningkatan sarana komputer untuk
pelaksanaan UNBK.

30 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


i. Melaksanakan kegiatan pemenuhan dan peningkatan standar pengelolaan se­
kolah, terutama dalam mengoptimalkan prinsip MBS, bahkan mungkin memi­
liki sistem manajemen mutu(SMM).
j. Melaksanakan kegiatan sosialisasi dan pengembangan sekolah rujukan, seperti
pengimbasan sekolah rujukan.

6. Menciptakan sekolah yang aman.


Dalam mengupayakan sekolah lokasi yang strategis, mudah dijangkau dan aman,
beberapa yang dapat dilakukan diantaranya adalah sebagai berikut.

a. melakukan kerjasama dalam pengembangan lokasi dan sarana pendidikan de­


ngan orang tua, pemerintah kota/kabupaten serta masyarakat.
b. Meningkatkan keamanan dengan kerjasama dengan warga dan pihak terkait.

D. Pengelolaan oleh Calon Sekolah Rujukan


1. Perencanaan program dan kegiatan.
a. Membentuk Tim Pengembangan Calon Sekolah Rujukan beserta uraian tugas
dan tanggungjawabnya.
b. Melakukan Evaluasi Diri Sekolah (EDS) sesuai indikator Calon Sekolah Rujukan.
c. Menyusun dan mengembangkan RKS dan RKAS berdasarkan hasil EDS untuk
pemenuhan indikator Sekolah Rujukan.
d. Membuat action plan pelaksanaan Program Pengembangan Sekolah Rujukan

2. Pelaksanaan program dan kegiatan.


a. Melakukan sosialisasi program pengembangan Sekolah Calon Rujukan ke se­
mua warga sekolah (guru, komite sekolah, orang tua, dan siswa).
b. Melaksanakan program-program sesuai dengan rencana yang telah tertuang
dalam RKS/RKAS dalam rangka untuk pemenuhan syarat menjadi Sekolah Ru­
jukan, antara lain:
c. Melaksanakan program sekolah rujukan, terutama pada pemenuhan indikator
sekolah rujukan.
d. Melakukan Monitoring, supervisi dan Evaluasi terhadap pelaksanaan program
pemenuhan Indikator Sekolah Rujukan.
e. Pengumpulan data pada saat sebelum, selama dan saat sesudah melakukan
perbaikan.

PETUNJUK TEKNIS PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN Sekolah RUJUKAN 31


f. Melakukan rencana tindak lanjut untuk peningkatan mutu pemenuhan indi­
kator Sekolah Rujukan.
g. Menstandardisasi kegiatan dan langkah perbaikan yang selanjutnya menjadi
prosedur mutu sehingga menjadi sistem atau budaya mutu.

3. Monitoring dan Evaluasi (ME)


Monitoring dan Evaluasi ini dimaksudkan untuk mengetahui tingkat keberhasilan,
dan hambatan selama proses pengembangan calon sekolah rujukan. Kegiatan yang
dilakukan antara lain;

a. Membandingkan data sebelum dan sesudah perbaikan dalam rangka peme­


nuhan standar sekolah rujukan.
b. Menggunakan hasil evaluasi untuk menentukan tindakan perbaikan dan prog­
ram tahun berikutnya.
c. ME dilakukan sebaiknya dilakukan setiap semester sekali, dan dilakukan oleh 2
pihak, yaitu tim Monev internal maupun eksternal.
d. ME eksternal dilaksanakan dari pemerintah kabupaten/kota, provinsi dan Di­
rektorat pembinaan SMP. Contoh instrumen monev bisa dilihat pada lampiran.

E. Pembinaan oleh Pemerintah, Provinsi, LPMP dan


pemerintah kabupaten/kota.
Pengembangan sekolah menuju sekolah rujukan diperlukan pembinaan baik dari
pemerintah pusat maupun pemerintah daerah baik provinsi maupun kota. Peran
masing-masing dalam pembinaan dapat dijelaskan sebagai berikut.

1. Direktorat Pembinaan SMP melakukan hal-hal sebagai berikut.


a. Menyusun petunjuk teknis
b. Menetapkan Sekolah Rujukan dan/atau Sekolah Calon Rujukan yang akan
dibina melalui Surat Keputusan (SK).
c. Mengadakan bimbingan teknis untuk calon sekolah rujukan.
d. Melakukan pembinaan dalam bentuk supervisi, monitoring dan evaluasi
dalam rangka untuk mewujudkan sekolah rujukan. Dalam melakukan SME
baik sekolah maupun pihak eksternal (pemerintah kabupaten/kota, pro­
vinsi, Direktorat) menggunakan instrumen yang sama sehingga arah pem­
binaan efektif. Contoh instrumen terdapat pada lampiran.

32 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


2. Pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota mendorong upaya seko­
lah dalam memenuhi standar nasional pendidikan dan memfasilitasi pengem­
bangan sekolah calon rujukan dalam bentuk:
a. Memberikan pembinaan, bantuan dana maupun bantuan teknis.
b. Melakukan supervisi, monitoring dan evaluasi dalam rangka untuk mem­
berikan umpan balik

PETUNJUK TEKNIS PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN Sekolah RUJUKAN 33


4
Pengelolaan dan
Penyelenggaraan
Sekolah Rujukan

Dalam pengelolaan dan penyelenggaraaan sekolah ada 4 langkah yang harus di­
lakukan, yaitu: (1) menyusun perencanaan sekolah yang dituangkan ke dalam RKS
dan RKAS; (2) melaksanakan program kegiatan sesuai dengan perencanaan; (3) me­
laksanakan monitoring dan evaluasi, untuk mengetahui ketercapaian tujuan; dan
(4) Menyusun Rencana perbaikan dan pengembangan atau rencana tindak lanjut.
Kempat hal tersebut perlu dilakukan secara sistematis, terstruktur, terprogram, dan
terimplementasi dengan jelas, efektif dan efisien. Secara Rinci masing-masing di­
uraikan sebagai berikut:

A. Perencanaan
Perencanaan sekolah meliputi, rencana kerja jangka menengah atau disebut dengan
Rencana Kerja Sekolah (RKS) dalam kurun waktu 4 tahun dan rencana kerja tahunan
yang disebut dengan Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS) yang meru­
pakan penjabaran dari RKS. Panduan Penyusunan RKS dan RKAS secara lengkap
dapat dilihat dari Buku Panduan Pengembangan Penyusunan RKS dan RKAS yang
dikeluarkan oleh Direktorat Pembinan SMP Tahun 2015. (Lampiran ...)

35
Sebagai sekolah rujukan pada Bab II di atas telah disebutkan indikator-indikator ke­
tercapaian dan aspek-espek pengembangannya, oleh karena itu dalam penyusunan
rencana kegiatan sekolah rujukan lebih fokus ditekankan pada pemenuhan indi­
kator tersebut, dengan tetap mempertahankan dan meningkatkan masing-masing
indikator setiap standar. Salah satu kewajiban sekolah rujukan adalah mampu
memberikan pengimbasan kepada sekolah-sekolah sekitarnya. Maka sekolah harus
mampu menyusun rencana kegiatan secara terprogram, terstruktur, dan sistematis
dalam melaksanakan kegiatan pengimbasan.

Sebagai langkah awal dalam menyusun perencanaan sekolah terkait dengan ba­
gaimana sekolah rujukan dapat mempertahankan dan meningkatkan kualitas indi­
kator ketercapaian, maka sekolah rujukan perlu melakukan evaluasi internal secara
komprehenship dan melakukan koordinasi internal dan eksternal, sehingga ham­
batan dan tantangan akan segera diatasi dan selanjutnya dapat dikembangkan.
Selain itu keberadaan Tim Pengembang Sekolah Rujukan (TPSR) perlu mendapat
pemahaman bagaimana mempertahankan dan meningkatkan kualitas serta dapat
melaksanakan kegiatan pengimbasan kepada sekolah sekitar.

Tim pengembang sekolah rujukan salah satu tugasnya adalah menyusun atau me­
reviu RKS dan RKAS. Dalam penyusunan perencanaan sekolah untuk mengem­
bang­kan dan meningkatkan kualitas indikator sekolah rujukan, perlu melakukan
penda­laman dan perluasan di setiap indikator pada sekolah rujukan seperti: (1) Pe­
ngembangan dan peningkatan lebih dari SNP; (2) Pengembangan budaya mutu; (3)
Pengembangan ekosistem sekolah; (4) Penumbuhan budi pekerti, termasuk literasi;
(5) Pengembangan sekolah menjadi pusat keunggulan. Dengan demikian prog­
ram, kegiatan, dan strategi yang terdapat pada prencanaan sekolah selain memuat
program pengembangan ketercapaian dari 8 (delapan) SNP dan memuat juga
program kegiatan sebagai sekolah rujukan.

B. Pelaksanaan
Dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan kualitas sekolah rujukan, tim
pengembang sekolah dan semua stakeholder perlu mendapat pemahaman yang
sama mengenai peran sekolah sebagai sekolah rujukan. Selanjutnya semua pelak­
sana program kegiatan mengetahui dan memahami pembagian tugas yang jelas
termasuk hasil yang diharapkan sesuai dengan ruang lingkup yang harus dikem­

36 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


bangkan sebagai sekolah rujukan. Selanjutnya sekolah menyusun program, kegi­
atan, dan strategi serta melaksanakannya dalam pengembangan sekolah sebagai
Sekolah Rujukan.

1. Mempertahankan dan Meningkatkan Nilai Akreditasi A


Sebagaimana kita ketahui bahwa pelaksanaan akreditasi merupakan bentuk per­
tanggungjwaban pelaksanaan sekolah berdasarkan pengembangan 8 (delapan)
SNP. Nilai yang harus dicapai sebagai sekolah rujukan mendekati nilai kesempur­
naan atau nilai optimum pada katagori A. Oleh karena itu sekolah perlu menyusun
program-program kegiatan, misalnya:

a. Optimalisasi tim penjaminan mutu di internal sekolah, dengan kegiatan:


1) Peningkatan kompetensi tim Sistem Pengawasan Mutu Internasl (SPMI);
2) Pengembangan tugas dan fungsi tiap unsur SPMI.

Strategi yang dapat dilakukan sekolah antara lain:
1) Melaksanakan workshop peningkatan kompetensi tim penjaminan mutu;
2) Menentukan tugas pokok dan fungsi setiap standar.
3) Memberdayakan berbagai komponen, seperti unsur dari Dinas Pendidikan
Kab/kota, Komite Sekolah, perwakilan orang tua siswa, Kepala Sekolah,
Guru, Tenaga Kependidikan, Perguruan Tinggi, dan stakeholder lain dalam
pelaksanaannya.

b. Program: Implementasi sistem penjaminan mutu internal (SPMI) sekolah


dengan kegiatan:
1) Pengembangan prosedur operasional standar SPMI;
2) Pengembangan pedoman SPMI;
3) Penguatan kompetensi tenaga pelaksana SPMI;
4) Penggalangan dan pemberdayaan potensi pemangku kepentingan untuk
implementasi SPMI;
5) Pengembangan rencana strategis sekolah untuk memenuhi SNP;
6) Pengembangan rencana strategis pemenuhan standar mutu di atas SNP
yang dipilihnya;
7) Pengembangan sertifikasi mutu pendidikan untuk: a). lembaganya; b). pen­
didik atau tenaga kependidikannya; dan/atau c). peserta didiknya.

PETUNJUK TEKNIS PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN Sekolah RUJUKAN 37


Untuk melakukan berbagai program tersebut di atas, sekolah bisa melakukan:
1) Kerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, LPMP, Pengawas
Pembina, Perguruan Tinggi atau lembaga lain yang memiliki keahlian di
bidangnya.
2) Sekolah dapat melakukan pelatihan, workshop atau In House Training (IHT),
Focus Group Discusstion (FGD) sesuai dengan program yang akan dicapai.
3) Melaksanakan kunjungan ke sekolah mitra dalam upaya meningkatkan
mutu sekolah.

c. Program: Pengembangan perangkat instrumen SPMI dengan kegiatan:


1) Pengembangan perangkat instrumen SPMI (supervisi, monitoring, dan
evaluasi atau SME) internal sekolah;
2) Sosialisasi kepada warga sekolah dan stakeholder tentang perangkat ins­
trumen SPMI;

Strategi yang dapat dilakukan sekolah antara lain:
1) Melaksanakan Workshop pengembangan instrumen SPMI.
2) Melaksanakan sosialisasi pada warga sekolah dan stakeholder tentang pe­
ngembangan instrumen penjaminan mutu pendidikan mengacu kepada
indikator yang dikembangkan Badan Akreditasi Nasional S-M atau lembaga
lain yang berkewengan untuk melaksanakan akreditasi/sertifikasi sekolah;
3) Melaksanakan kerjasama dengan BAN, BAP dan/atau lembaga sertifikasi
Internasional;

cmoreng.wordpress.com

38 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


d. Program: Pelaksanaan Supervisi Monitoring, dan Evaluasi (SME) di sekolah
de­ngan kegiatan:
1) Pengembangan pedoman pelaksanaan supervisi, monitoring, dan evaluasi
diri sekolah;
2) Pembentukan tim yang melaksanakan supervisi, monitoring, dan evaluasi
diri di lingkungan sekolah dan sekolah imbas;
3) Pembuatan jadwal pelaksanaan kegiatan supervisi, monitoring, dan evalu­
asi diri sekolah;
4) Penyusunan dan pendokumentasian data-data hasil supervisi, monitoring,
dan evaluasi diri sekolah.

Untuk melaksanakan kegiatan tersebut dapat dengan langkah sebagai berikut:


1) Melaksanakan workshop pengembangan pedoman pelaksanaan supervisi,
monitoring, dan evaluasi;
2) Menerbitkan surat keputusan Kepala Sekolah tentang tim SPMI;
3) Melaksanakan koordinasi dan konsolidasi tim;
4) Menyusun jadwal pelaksanaan supervisi, monitoring dan evaluasi;
5) Mempersiapkan dokumen, data-data atau fakta secara faktual semua ke­
giatan yang sudah dilaksanakan yang mendukung terhadap kebutuhan
instrumen yang dikembangkan. Tim pelaksana SME perlu memperhatikan
prinsip-prinsip pelaksanaan SME, seperti: objektivitas, kejujuran, trans­
paransi, faktual, dll, sehingga hasil SME menggambarkan kondisi riil yang
jelas dan mudah menentukan arah selanjutnya;
6) Melaksanakan, verifikasi, validasi, dan sinkronisasi.

e. Program: Pengolahan data (analisis) dan penyusunan pelaporan hasil SME.


Adapun kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan sebagai berikut:
1) Pengolahan dan analisis data hasil supervisi, monitoring, dan evaluasi diri
sekolah berbasis TIK;
2) Penyusunan dan penggandaan dokumen pelaporan hasil supervisi, mon­
itoring, dan evaluasi diri sekolah.

Strategi sekolah antara lain:
1) Menyiapkan aplikasi sistem pengolahan data hasil supervisi, monitoring
dan evaluasi;

PETUNJUK TEKNIS PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN Sekolah RUJUKAN 39


2) Menggunakan aplikasi untuk pengolahan data atau informasi dan pela­
poran;
3) Dari hasil laporan SME, sekolah akan mendapat gambaran secara objektif
tentang indikator-indikator yang perlu ditingkatkan dan dikembangkan
sesuai dengan program pengembangan sekolah rujukan. Hasil dari SME ini
dapat dijadikan sebagai bahan petimbangan dalam penyusunan program
tahun berikutnya.

f. Program: Pemetaan mutu komponen-komponen SNP di sekolah. Beberapa


kegi­atan yang dapat dilakukan:
1) Penyusunan buku pedoman pemetaan mutu;
2) Penyusunan jadwal pelaksanaan pemetaan mutu;
3) Pelaksanaan pemetaan mutu;
4) Pengolahan pemetaan mutu per standar pendidikan dan lainnya;
5) Penyusunan dokumen hasil pemetaan mutu sekolah secara keseluruhan
dan per SNP;
6) Penyusunan dokumen hasil pemetaan mutu sekolah berdasarkkan aspek
dan butir SNP;
7) Penyusunan dokumen hasil analisa terhadap butir-butir per SNP yang be­
lum memenuhi skor maksimal (4);
8) Penyusunan dokumen hasil analisa terhadap butir-butir per SNP yang telah
memenuhi skor maksimal (4);
9) Penyusunan dokumen pemetaan mutu pendidikan di atas SNP dan atau
lainnya.

Strategi yang dapat dilakukan sekolah sebagai berikut:


1) Melaksanakan workshop penyusunan pedoman pemetaan mutu;
2) Menyusun jadwal pemetaan mutu;
3) Melaksanakan kegiatan pemetaan mutu;
4) Mengolah hasil pemetaan mutu berbasis TIK;
5) Menyusun hasil pemetaan mutu;
6) Berdasar hasil pemetaan, sekolah mendapat gambaran secara utuh capai­
an setiap indikator, aspek, komponen setiap standar nasional pendidikan,
maupun indikator khusus yang dikembangkan sebagai sekolah rujukan.
Hasil pemetaan ini direkomendasikan untuk menyusunan rencana tindak

40 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


lanjut dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan kualitas sebagai
sekolah rujukan.
7) Menentukan program prioritas peningkatan mutu guna mencapai skor
maksimal (4);
8) Menentukan program unggulan yang lain, misalnya program Asian Eco
School, dll.

g. Program: Tindak lanjut dari hasil pemetaan mutu sekolah dengan kegiatan:
1) Penyusunan rencana tindak lanjut (program dan kegiatan) terhadap hasil
analisa terhadap butir-butir per SNP yang belum memenuhi skor maksimal
(4) untuk memperoleh skor 4;
2) Penyusunan rencana tindak lanjut (program dan kegiatan) terhadap hasil
analisa terhadap butir-butir per SNP yang telah memenuhi skor maksimal
(4) untuk mempertahankan skor 4;
3) Penyusunan rencana tindak lanjut (program dan kegiatan) terhadap hasil
analisa terhadap butir-butir per SNP yang telah memenuhi skor maksimal
(4) untuk dikembangkan lebih dari SNP.

Untuk melaksanakan kegiatan tersebut dapat dituangkan dalam sebuah format
dalam bentuk matrik yang memuat: a). Standar, komponen, aspek, dan indika­
tor; b). hasil perolehan skor SME; c). Program, kegiatan, dan strategi yang akan
dilakukan pada tahun berikutnya; dan d). hasil yang diharapkan. Contoh penyu­
sunan program tindak lanjut sebagai berikut:

Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan

Indikator
Kompo- Program Strategi Hasil yang
No Aspek Keter- Skor
nen Strategis Kegiatan diharapkan
capaian
Guru Kompetensi Jumlah 3 Peningkatan Kegiatan dan Strategi: Guru mam-
profesional guru yang Kompotensi Sekolah/Guru-guru pu menulis
sebagai membuat guru dalam melaksanakan kegi­ KTI minimal
agen pem- karya tulis il- penulisan atan penulisan KTI satu tahun
belajaran. miah dalam KTI; melalui Wokshop/IHT/ satu kali.
satu tahun Bimtek kerja sama
terakhir dengan Pengawas /PT/
NS lainnya (LPMP)

PETUNJUK TEKNIS PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN Sekolah RUJUKAN 41


h. Program: Pengembangan dan pembentukan sistem informasi hasil peme­
taan mutu sekolah dengan kegiatan:
1) Pembentukan/penerapan program sistem informasi mutu pendidikan ber­
basis teknologi informasi dan komunikasi;
2) Penguatan kompetensi pelaksana SIM pemetaan mutu;
3) Pemenuhan sarpras (perangkat keras dan lunak) SIM pemetaan mutu;
4) Pengembangan jejaring SIM yang menghubungkan: Dinas Pendidikan
Propinsi, Dinas Pendidikan kabupaten atau kota yang bersangkutan; LPMP,
dan lembaga lain yang relevan.

Strategi pelaksanaan yang dilakukans sekolah:
1) Menyiapkan perangkat keras dan lunak sesuai kebutuhan SIM;
2) Menerapkan SIM di sekolah;
3) Memiliki tenaga khusus IT untuk mengembangkan SIM sekolah;
4) Melakukan kerjasama dengan lembaga terkait dalam pengembangan SIM
sekolah, misalnya dalam pengembangan SIM berbasis WEB. Sehingga in­
formasi yang dikembangkan sekolah dan hasil-hasil yang telah dicapai da­
pat di update sesuai dengan kondisi sekolah saat itu. Hal ini sangat ber­
manfaat dan lebih mudah bagi sekolah imbas atau sekolah lainnya dalam
rangka mengadopsi atau mengadaptasi pengelolaan sekolah rujukan.

2. Memiliki ekosistem pendidikan yang kondusif


a. Program: Mempertahankan dan mengembangkan sekolah menyenang­
kan, ramah, tenang, nyaman dengan kegiatan:
1) Penambahan ruang terbuka hijau/tamanisasi minimal 40% dari luas area
sekolah;
2) Penambahan fasilitas pembelajaran di luar kelas yang berbasis TIK;
3) Peningkatan kualitas silaturahim antara warga sekolah secara kekeluargaan;
4) Pembenahan kondisi tentang unsur-unsur: (a) penyediaan dan penam­
pungan air bersih; (b) pengadaan dan pemeliharaan tempat pembuangan
sampah; (c) pengadaan dan pemeliharaan air limbah; (d) pemeliharaan
WC; (e) pemeliharaan kebersihan dan kerapian ruangan; (f ) pemeliharaan
kebersihan dan keindahan halaman dan kebun sekolah; (g) pengadaan dan
pemeliharaan kantin; (h) pendidikan kesehatan; (i) tamanisasi; (j) sanitasi,
(k) pengadaan dan pemeliharaan pagar sekolah; (l) penataan fisik kelas

42 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


(kebersihan, sirkulasi udara, interior; dsb.), (m) pengaturan ruangan; dan
(n) pengelolaan dan pemanfaatan sumber belajar.

Strategi yang dapat dilakukan sekolah melalui:


1) Melaksanakan kerjasama dengan Badan Lingkungan Hidup, Dinas Keber­
sihan dan Pertamanan, Dinas Komunikasi dan Informasi, dll.
2) Menambah ruang terbuka hijau;
3) Melaksanakan komunikasi secara rutin, terprogram, atau spontan dengan
warga sekolah dan warga masyarakat; memberi bantuan sesuai dengan
kebutuhan; melaksanakan kegiatan kepedualian sosial, dll.
4) Sekolah mengalokasikan dana secara khusus, atau memanfaatkan Coor­
porate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan, donatur lainnya.
5) Menata lingkungan sekolah termasuk penataan kantin , WC siswa yang le­
bih representatif, dan ruang lainnya sesuai dengan kebutuhan sis­wa serta
melakukan pengolahan sampah menjadi sesuatu yang sangat berguna.
6) Mengambangkan lingkungan sekolah sebagai pusat sumber belajar, pusat
informasi bagi peserta didik. Misalnya membuat Green House, Perpustaka­
an di luar kelas, sarana prasarana berbagai cabang olahraga, ruang praktik
kegiatan seni budaya, menyediakan fasilitas layanan yang berkebutuhan
khusus, dll.

b. Program: Peningkatan Kompetensi Kepala Sekolah dalam Kepemimpinan


Sekolah:
1) Pelatihan kepemimpinan kepala sekolah;
2) Pelatihan Kepramukaan bagi kepala sekolah;
3) Pelaksanaan program kemitraan sekolah.

Strategi untuk melaksanakan kegiatan tersebut antara lain:


1) Melaksanakan pelatihan kepemimpinan kepala sekolah berkoordinasi de­
ngan Dinas Pendidikan Kabupaten/ Kota atau MKKS;
2) Melaksanakan pelatihan kepramukaan berkoordinasi dengan Kwartir Ca­
bang Gerakan Pramuka Kabupaten/Kota dan Dinas Pendidikan Kabupaten/
Kota. Minimal kepala sekolah memiliki sertifikat Kursus Mahir Dasar (KMD);
3) Melaksanakan program kemitraan sekolah berkoordinasi dengan Dinas
pendidikan Kabupaten/ Kota dan MKKS.

PETUNJUK TEKNIS PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN Sekolah RUJUKAN 43


c. Program: Peningkatan kompetensi guru tentang pemahaman karakteristik
peserta didik dengan kegiatan
1) Pelatihan kompetensi pedagogik guru;
2) Pertemuan rutin antara wali kelas dengan peserta didik;
3) Pertemuan dengan orang tua peserta didik secara berkala atau sesuai ke­
butuhan;
4) Pendataan dan pendokumentasian karakteristik peserta didik;
5) Pemetaan bakat, minat, kepribadian, dan lainnya tentang peserta didik.

Strategi yang dilakukan sekolah antara lain:
1) Melaksanakan pelatihan kompetensi pedagogik guru dalam menumbuh­
kembangkan karakteristik peserta didik; Melaksanakan FGD dengan orang
tua peserta didik;
2) Menyusun jadwal pertemuan dengan wali kelas dan peserta didik;
3) Menyusun perangkat observasi atau daftar isian untuk melakukan peme­
taan potensi peserta didik;
4) Memberikan rekomendasi kepada wali kelas, guru BK, atau guru lainnya
untuk mengembangkan bakat dan kemampuan peserta didik;
5) Melaporkan hasil pemetaan kondisi peserta didik kepada orang tua.

d. Program: Peningkatan peran guru dalam meningkatkan bakat, minat, dan


lainnya yang dimiliki peserta didik dalam upaya menumbuhkembangkan
kekritisan, kreativitas dan inovasi dengan kegiatan:
1) Penumbuhan motivasi bagi peserta didik melalui (Achievement Motivation
Training) (AMT) secara terprogram;
2) Pemberian penugasan kerja proyek mulai perencanaan sampai dengan
refleksi secara terprogram;
3) Pemberian penugasan pembiasaan dan pengembangan diri sesuai dengan
potensi dan daya dukung sekolah serta pihak lain;
4) Refleksi dan pendokumentasian hasil-hasil karya peserta didik.

Strategi yang dapat dilakukan sekolah antara lain:


1) Mendatangkan motivator dari instansi lain, orang tua peserta di­dik, alumni;
2) Melaksanakan expo pendidikan yang menampilkan berbagai kreativitas
peserta didik secara berkala di sekolah, atau kelompok sekolah;

44 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


3) Sekolah menyusun jadwal kegiatan kompetisi internal maupun antar se­
kolah dalam berbagai bidang;
4) Melaksanakan dan mengikuti berbagai lomba terkait dengan bakat dan
minat peserta didik;
5) Sekolah dapat juga melakukan kerjasama dengan pihak-pihak lain dalam
rangka pengembangan bakat minat peserta didik pada tingkat lokal, re­
gional, nasional dan internasional.

e. Program: Pelibatan orang tua peserta didik dalam peningkatan mutu pen­
didikan dengan kegiatan:
1) Sosialisasi program sekolah kepada orang tua peserta didik dan stakeholder.
2) Pertemuan rutin dengan orang tua peserta didik, baik per kelas maupun
keseluruhan untuk menyampaikan hasil prestasi capaian program pembel­
ajaran akademis maupun non akademis, pencapaian pemenuhan fasilitas
sekolah;
3) Peningkatan kompetensi peserta didik yang dilakukan oleh orang tua pe­
serta didik di sekolah/luar sekolah.
4) Refleksi dan pendokumentasian hasil-hasil kegiatan yang melibatkan orang
tua peserta didik.

Strategi yang dilakukan sekolah antara lain:


1) Melaksanakan sosialisasi program sekolah kepada orang tua siswa dan
stakeholder;
2) Sekolah, guru, atau wali kelas melakukan identifikasi kebutuhan dalam pe­
laksanaan pendidikan yang memungkinkan adanya partisipasi dari orang
tua peserta didik untuk memberikan sumbangan baik berupa ide gagasan
ataupun finansial sesuai dengan kemampuannya secara sukarela;
3) Sekolah melibatkan orang tua siswa dalam berbagai kegiatan, misalnya
pelaksanaan expo pendidikan, kunjungan ke lembaga/instansi atau tem­
pat lainnya yang dapat meningkatkan atau mengembangkan potensi pe­
serta didik.
4) Melakukan refleksi dan pendokumentasian hasil-hasil kegiatan yang me­
libatkan orang tua peserta didik;
5) Memberikan penghargaan atas prestasi yang telah dicapai kepada warga
sekolah.

PETUNJUK TEKNIS PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN Sekolah RUJUKAN 45


f. Program: Pelibatan masyarakat untuk peduli pendidikan dengan kegiatan:
1) Sosialisasi program sekolah, misalnya terkait dengan program adiwyata,
keamanan lingkungan, lingkungan sekolah sehat, dll. kepada warga ma­
syarakat;
2) Pertemuan dengan warga masyarakat sekitar sekolah secara insidental.
3) Peningkatan kompetensi peserta didik yang dilakukan oleh masyarakat
sekitar sekolah di sekolah/luar sekolah.
4) Refleksi dan pendokumentasian hasil-hasil kegiatan yang melibatkan ma­
syarakat sekitar sekolah.

Strategi yang dilakukan sekolah antara lain:


1) Melaksanakan Sosialisasi program sekolah, misalnya terkait dengan prog­
ram adiwyata, keamanan lingkungan, lingkungan sekolah sehat, dll. kepada
warga masyarakat;
2) Berbagai potensi masyarakat yang dapat diberdayakan oleh sekolah untuk
mengembangkan mutu pendidikan. Langkah yang dapat dilakukan seko­
lah di antaranya: a) melaksanakan identifikasi potensi masyarakat sesuai
dengan kebutuhan sekolah; b) melaksanakan koordinasi dengan tokoh
masyarakat sekaligus melakukan kerjasama sesuai dengan bidang dan ke­
mampuannya; c) menyusun jadwal kegiatan dalam rangka meningkatkan
kompetensi peserta didik; d) melaksanakan kegiatan secara terprogram;
3) Memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memanfaatkan fasili­
tas sekolah dalam kegiatan kemasyarakatan sepanjang tidak mengganggu
kegiatan PBM;
4) Melaksanakan Refleksi dan pendokumentasian hasil-hasil kegiatan yang
melibatkan masyarakat sekitar sekolah.

g. Program: Pelibatan dunia usaha/industri dalam pendidikan dengan kegiatan:


1) Silaturahim dengan dunia usaha/industri sekitar sekolah dan lainnya;
2) Peningkatan kerjasama dengan dunia usaha/industri yang sesuai dengan
program sekolah dan saling menguntungkan;
3) Peningkatan kompetensi peserta didik yang dilakukan oleh dunia usaha/
industri sekitar sekolah dan lainnya di sekolah/luar sekolah;
4) Refleksi dan pendokumentasian hasil-hasil kegiatan yang melibatkan du­
nia usaha/industri sekitar sekolah dan lainnya.

46 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


theglobejournal.com
Strategi yang dapat dilakukan sekolah antara lain:
1) Melaksanakan Silaturahim dengan dunia usaha/industri sekitar sekolah dan
lainnya;
2) Melaksanakan kerjasama dengan dunia usaha/industri yang sesuai dengan
program sekolah dan saling menguntungkan, misalnya dengan alumni yang
sudah berhasil dalam dunia usaha/industri;
3) Melaksanakan kunjungan ke dunia/industri untuk dibekali pemahaman
kompetensi terkait dengan proses produksi dalam perusahaan tersebut.

h. Program: Pelibatan organisasi profesi dalam bidang pendidikan dan/atau


lainnya dengan kegiatan:
1) Sosialisasi program sekolah kepada organisasi profesi;
2) Peningkatan kerjasama dalam pelaksanaan program sekolah yang terkait
dengan profesi tertentu;
3) Peningkatan kompetensi peserta didik yang dilakukan oleh organisasi pro­
fesi dalam bidang pendidikan dan atau lainnya di sekolah/luar sekolah.
4) Refleksi dan pendokumentasian hasil-hasil kegiatan yang melibatkan or­
ganisasi profesi dalam bidang pendidikan dan atau lainnya.

Strategi yang dapat dilakukan sekolah diantaranya:


1) Melaksanakan sosialisasi program sekolah kepada organisasi profesi di se­
kolah atau mendatangi kantor organisasi;

PETUNJUK TEKNIS PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN Sekolah RUJUKAN 47


2) Melakukan kerjasama dengan organisasi profesi, misalnya: a) Pengem­
bangan program lingkungan sekolah sehat bekerjasama dengan IDI dan
Tim UKS Kabupaten, Kota atau Provinsi; b) Pengembangan program pen­
cegahan bahaya penggunaan narkoba dan kenakalan remaja bekerjasama
dengan Kepolisian; c) Untuk megembangkan bidang seni dan/atau budaya
lokal, sekolah dapat bekerjasama dengan sastrawan; d) Melakukan kerja­
sama dengan Ikatan Sarjana Phycologi Indonesia untuk meningkatkan
motivasi belajar peserta didik;
3) Melaksanakan refleksi dan pendokumentasian hasil-hasil kegiatan yang
melibatkan organisasi profesi dalam bidang pendidikan dan/atau lainnya.

i. Program: Penggalian dana pendidikan yang berasal dari APBD dan masya­
rakat dengan kegiatan:
1) Sosialisasi peserncanaan sekolah RKS dan RKAS kepada Dinas Pendidikan
Kabupaten/Kota;
2) Peningkatan konsultasi dan komunikasi dengan Dinas Pendidikan Kabu­
paten/ Kota dalam mengimplementasikan kebijakan pendidikan daerah;
3) Presentasi dan unjuk kerja dengan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota un­
tuk memperoleh alokasi tambahan anggaran dalam RAPBS;

Strategi yang dapat dilakukan sekolah diantaranya:


1) Melakukan sosialisasi, konsultasi dan komunikasi dengan Dinas Pendidikan
Kabupaten/Kota tentang program peningkatan mutu pendidikan; b)
2) Menyusun rencana program pengembangan mutu dan sarana prasarana
sekolah atau kegiatan sekolah yang berpeluang untuk didanai dari APBD;
3) Sekolah aktif dan mendukung pelaksanaan visi, misi pemerintah daerah
setempat dalam berbagai kegiatan di dalam maupun di luar sekolah.

j. Program: Penggalian dana pendidikan yang berasal dari masyarakat de­


ngan kegiatan:
1) Sosialisasi program sekolah kepada masyarakat;
2) Pertemuan dengan kelompok-kelompok masyarakat dalam penggalian
dana partisipasi pendidikan yang berasal dari masyarakat (umum) secara
rutin (tiap tahun).
3) Penggalian sumber dana pendidikan yang berasal dari masyarakat umum.

48 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


Strategi yang dapat dilakukan sekolah diantaranya:
1) Mengidentifikasi potensi masyarakat yang berpeluang dapat memberikan
partisipasi terhadap kemajuan pendidikan;
2) Mengundang tokoh masyarakat untuk mensosialisasikan atau melakukan
koordinasi tentang program peningkatan mutu pendidikan;
3) Sekolah terlibat aktif dengan masyarakat dalam berbagai kegiatan, misal­
nya kegiatan bakti sosial, atau kegaitan sosial kemasyarakatan; dll.

3. Mengembangkan budaya mutu


a. Program: Peningkatan budaya belajar dengan kegiatan:
1) Pengembangan program literasi sekolah;
2) Pengembangan pembelajaran berbasis TIK, misalnya e-learning, telecon­
ference, pemanfaatan laman rumah belajar, dll.
3) Pendampingan atau asistensi pada peserta didik;
4) Bimbingan terprogram bagi peserta didik;
5) Implementasi regulasi layanan prima dan optimal;
6) Penugasan terprogram ataupun tidak terprogram (mandiri/tidak terstruk­
tur) bagi peserta didik;
7) Unjuk prestasi peserta didik;
8) Lomba akademik dan non akademik peserta didik;
9) Pemberdayaan pemangku kepentingan yang bersifat akademik.

Strategi yang dilakukan sekolah antara lain:
1) Melaksanakan program wajib baca buku non mata pelajaran minimal 15
menit sebelum proses pembelajan;
2) Membuat tulisan tentang buku yang telah dibaca;
3) Mewajibkan peserta didik untuk membuat tulisan dalam berbagai bahasa;
4) Melaksanakan pembelajaran berbasis TIK, misalnya e-learning, telecon­
ference, pemanfaatan laman rumah belajar, komunikasi dan penugasan
peserta didik melalui email, dll.
5) Sekolah melakukan pemetaan potensi peserta didik baik potensi akade­
mik maupun non akademik;
6) Menyiapkan berbagai fasilitas belajar yang dibutuhkan peserta didik;
7) Menyusun program dan jadwal kegiatan pengembangan potensi peserta
didik;

PETUNJUK TEKNIS PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN Sekolah RUJUKAN 49


8) Melaksanakan pembinaan secara efektif dan efisien;
9) Melakukan berbagai even kegiatan untuk menumbuhkan motivasi belajar
dan sekaligus meningkatkan kompetensi peserta didik;
10) Mengembangkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar; dll.

b. Program: Peningkatan budaya kompetitif dengan kegiatan:


1) Lomba karya tulis ilmiah,
2) Lomba karya tulis non ilmiah,
3) Lomba karya kreatif peserta didik,
4) Lomba penelitian sederhana,
5) Lomba keagamaan,
6) Lomba bidang social kerakyatan,
7) Lomba -lomba lainnya,
8) Debat akademik,
9) Debat keagamaan, kesosialan, ekonomi, dll,
10) Pengembangan bakat minat,
11) Ppenghargaan prestasi,
12) Penanganan anak khusus,
13) Presentasi ajang kreasi,

Strategi yang dilakukan sekolah diantaranya:


1) Menyusun jadwal kegiatan secara sitematis disesuaikan dengan even pada
bulan-bulan tertentu, misalnya memperingati bulan bahasa yang jatuh
pada bulan Oktober, sekolah mengadakan lomba mencipta puisi, lomba
pidato dll.
2) Melakukan kerjasama dengan sekolah-sekolah Imbas atau kerjasama de­
ngan MKKS untuk mengadakan berbagai lomba;
3) Mekerjasama dengan lembaga/instansi lain melaksanakan berbagai jenis
perlombaan, misal: kerjasama dengan Kwarcab, Kwarda mengadakan lomba
kepramukaan; kerjasama dengan PMI mengadakan lomba PMR, dll.

c. Program: Peningkatan budaya kolaboratif dengan kegiatan:


1) Pengembangan organisasi-organisasi intra sekolah;
2) Pengembangan kelompok belajar;
3) Pembentukan Pusat Informasi dan Komunikasi Remaja (PIKR) di sekolah;

50 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


4) Penyelenggaraan tutor sebaya;
5) Penyelenggaraan konselor sebaya;
6) Pengembangan jaringan kerjasama antar kelompok;
7) Pengembangan jalinan kerjasama dengan pihak lain di luar sekolah;
8) Penyelenggaraan kongres pelajar tingkat kabupaten/kota, Provinsi atau
Nasional;
9) Outbound;
10) Pelibatan antar warga sekolah dalam kegiatan-kegiatan; dan
11) Program penanaman kegotongroyongan.

Strategi yang dilaksanakan sekolah antara lain:


1) Sekolah melakukan pemetaan potensi internal maupun eksternal sekolah
dan analisis kebutuhan peserta didik dalam mengembangkan bakat, ke­
mampuannya melalui kegiatan organisasi intra sekolah sesuai dengan ke­
mampuan sekolah
2) Menyediakan berbagai sarana dan prasarana organisasi intra sekolah
3) Melaksanakan pengembagnan organisasi-organisasi intra sekolah, misal­
nya: Organisasi Pusat Informasi, Komunikasi Remaja, Organisasi Pelajar
tingkat kabupaten/kota, Duta Literasi Sekolah, Kader Perpustakaan, dll.
4) Melaksanakan pengembangan kelompok belajar, misalnya: Kelompok Bel­
ajar TIK, Kelompok belajar Sience, dll.
5) Melaksanakan pembentukan Pusat Informasi dan Komunikasi Remaja (PIKR)
di sekolah;
6) Melaksanakan pemberdayaan peserta didik untuk memberikan totorial
pada bidang-bidang kegiatan tertentu;
7) Melaksanakan kegiatan konselor sebaya;
8) Melaksanakan jaringan kerjasama antar kelompok, misalnya Kader Perpus­
takaan, kader UKS, Duta Literasi, Kader Lingkungan Hidup berkolaborasi
pada kegiatan tertentu;
9) Melaksanakan kerjasama dengan pihak lain di luar sekolah, misalnya: ke­
giatan Organisasi Pelajar, dll.
10) Melaksanakan kongres pelajar tingkat kabupaten/kota, Provinsi atau Na­
sional;
11) Melaksanakan melakukan kerjasama dengan pihak lain yang lebih profe­
sional, misalnya pada kegiatan outbound, dll.

PETUNJUK TEKNIS PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN Sekolah RUJUKAN 51


12) Melibatkan antar warga sekolah dalam kegiatan-kegiatan, misalnya: bakti
sosial, lomba-lomba;
13) Melaksanakan program pengembangan kegotongroyongan.

d. Program: Peningkatan budaya kewirausahaan dengan kegiatan:


1) Workshop/temu usaha oleh wirausahawan yang sukses;
2) Program pembelajaran kewirausahaan,
3) Magang kewirausahaan,
4) Program karya alternatif peserta didik,
5) Program konsultasi usaha,
6) Pendirian unit-unit usaha sekolah,
7) Bermitra usaha.

Strategi yang dapat dilakukan sekolah diantaranya:


1) Menentukan pemetaan jenis-jenis usaha yang mungkin dapat dilakukan
sekolah;
2) Membuat nota kesepakatan dengan lembaga atau unit usaha yang me­
ngembangkan kewirausahaan sekolah;
3) Mengidentifikasi sumberdaya alam di sekitar sekolah yang dapat dijadikan
sebagi sumber dalam mengembangkan kewirausahaan;
4) Memanfaatkan bahan-bahan yang tidak terpakai menjadi sesuatu yang
bermanfaat dan memiliki nilai jual;
5) Memanfaatkan teknologi dasar dalam mengembangkan kewirausahaan,
misalnya usaha pengolahan hasil pertanian, dll.

4. Melaksanakan program penumbuhan budi pekerti


a. Program: Penumbuhan kesadaran moral dan spiritual dalam perilaku se­
hari-hari dengan kegiatan:
1) Doa bersama antara guru dan peserta didik sesuai dengan keyakinan ma­
sing-masing, sebelum dan sesudah hari pembelajaran, dipimpin oleh se­
orang peserta didik secara bergantian dibawah bimbingan guru.
2) Pembiasaan menunaikan ibadah bersama sesuai agama dan kepercaya­an­
nya baik dilakukan di sekolah maupun bersama masyarakat;
3) Pembiasaan perayaan Hari Besar Keagamaan dengan kegiatan yang seder­
hana dan hikmat.

52 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


Strategi yang dapat dilakukan sekolah antara lain:
1) Guru Pendidikan Agama dan guru lainnya menyusun rencana kegiatan dan
jadwal pembinaan termasuk kegiatan pembiasaan maupun kegitan yang
terstruktur dan terprogram;
2) Sekolah membentuk tim penumbuhan nilai-nilai spiritual yang melibatkan
komite atau masyarakat;
3) Sekolah menyediakan sarana dan prasarana untuk kegiatan keagamaan;
4) Melaksanakan kegiatan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan;
5) Bersama-sama mengimplementasikan nilai keagamaan dalam kehidupan
sehari-hari baik di lingkungan sekolah, masyarakat, dan keluarga.

b. Program: Menumbuhkembangkan Nilai-nilai Kebangsaan dan Kebhinne­


kaan (menumbuhkan rasa cinta tanah air dan menerima keberagaman
sebagai anugerah untuk bangsa Indonesia dengan kegiatan:
1) Upacara bendera setiap hari Senin dengan mengenakan seragam atau pa­
kaian yang sesuai dengan ketetapan sekolah.
2) Upacara bendera pada pembukaan MOPDB dengan peserta didik bertugas
sebagai komandan dan petugas upacara serta kepala sekolah/wakil ber­
tindak sebagai inspektur upacara;
3) Menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan/atau satu lagu wajib
nasional atau satu lagu terkini yang menggambarkan semangat patriotis­
me dan cinta tanah air ketia awal pelajaran.
4) Menyanyikan satu lagu daerah (lagu-lagu daerah seluruh Nusantara) sebe­
lum mengakhiri pelajaran.

Strategi yang dapat dilakukan sekolah diantaranya:


1) Guru Seni Budaya, atau guru PKn atau guru lainnya mengajarkan kepada
peserta didik tentang lagu-lagu daerah;
2) Menyusun jadwal pelaksanaan upacara bendera yang memuat: (1) Waktu;
(2) Petugas Upacara; (3) Pembina Upacara; (4) Judul amanat pembina upa­
cara; dan (5) jenis lagu wajib;
3) Memberdayakan pimpinan instansi/lembaga terkait untuk sesekali men­
jadi Pembina Upacara;
4) Mengikuti even-even lomba upacara bendera;
5) Mengembangkan tim khusus Paduan Suara; dll.

PETUNJUK TEKNIS PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN Sekolah RUJUKAN 53


karwapi.wordpress.com
c. Program: Mengembangkan interaksi positif antara peserta didik dengan
guru dan orang tua, dengan kegiatan:
Pertemuan rutin dengan orang tua siswa pada setiap tahun ajaran baru untuk
mensosialisasikan: 1) visi dan misi; 2) aturan; 3) materi; dan 4) rencana capaian
belajar siswa agar orang tua turut mendukung keempat poin tersebut.

Langkah-langkah yang dapat dilakukan sekolah diantaranya:
1) Setiap guru, wali kelas, dan guru BK menyusun program dan jadwal perte­
muan secara berkala maupun spontan dengan orang tua siswa dan siswa
sendiri terkait dengan penumbuhan budi pekerti;
2) Membangun kesadaran bahwa penumbuhan budi pekerti adalah tang­
gungjawab bersama antara orang tua siswa dan pihak sekolah;
3) Menjalin hubungan yang harmonis antara guru dan orang tua siswa dalam
melaksanakan berbagai kegiatan sekolah.

d. Program: Mengembangkan Interaksi Positif Antar Peserta Didik dengan


kegiatan:
Pembiasaan pertemuan di lingkungan sekolah dan/atau rumah untuk belajar
kelompok yang diketahui oleh guru dan/atau orangtua.

54 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


Strategi yang dilakukan sekolah:
1) Guru atau wali kelas memiliki catatan khusus atau jurnal terkait dengan
aktivitas siswa baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah;
2) Para siswa memiliki jurnal atau catatan kegiatan yang dilakukan baik di da­
lam maupun di luar lingkungan sekolah dan diketahui oleh orang tua siswa
dan guru.
3) Melaksanakan kegiatan peserta didik yang terintegrasi yang melibatkan
beberapa kelompok peserta didik, misal: Duta, Literasi, Kader Perpusta­
kaan, Kader UKS berinteraksi positif dan intensif pada saat pelaksanaan
lomba perpustakaan sekolah, lomba lingkungan sekolah sehat, dll.

e. Program: Merawat Diri dan Lingkungan Sekolah dengan kegiatan:


Kerja bakti membersihkan lingkungan sekolah dengan membentuk kelompok
lintas kelas dan berbagi tugas sesuai usia dan kemampuan siswa.

Langkah-langkah yang dapat dilakukan sekolah:
1) Sekolah menyusun jadwal kegiatan kebersihan baik secara berkala mau­
pun spontan;
2) Pada waktu tertentu sekolah melaksanakan lomba perawatan dan keber­
sihan lingkungan kelas/sekolah;
3) Memberikan penghargaan setiap kali mengadakan lomba perawatan dan
kebersihan;
4) Sekolah secara bersama-sama membangun karakter peduli lingkungan,
misalnya budaya membuang sampah pada tempatnya, budaya merawat
tanaman dll.;
5) Melaksanakan kerjasama dengan Puskesmas setempat untuk melakukan
pembinaan, penyuluhan tentang kesehatan dan perawatan diri;
6) Sekolah menyediakan fasilitas untuk perawatan lingkungan sekolah, dan
lain sebagainya.

f. Program: Mengembangkan Potensi Diri Peserta Didik Secara Utuh dengan


kegiatan:
1) Pembinaan nilai spiritual dan soasial;
2) Olah fisik seperti senam kesegaran jasmani, dilaksanakan secara berkala
dan rutin, sekurang-kurangnya satu kali dalam seminggu.

PETUNJUK TEKNIS PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN Sekolah RUJUKAN 55


Langkah untuk mendukung kegiatan tersebut diantaranya:
1) Melaksanaan pembinaan secara rutin, terprogram tentang nilai-nilai spiri­
tual dan sosial dan terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari, misal
kegiatan keagamaan pada pagi hari seperti, sholat dhuha, doa bersama dll,
2) Sekolah menyediakan tempat atau fasilitas untuk melaksanakan olah raga
bersama atau senam kesegaran jasmani, dll.

g. Program: Pelibatan Orangtua dan Masyarakat di Sekolah, dengan kegi­


atan:
1) Pameran karya siswa pada setiap akhir tahun ajaran dengan mengundang
orang tua dan masyarakat untuk memberi apresiasi pada siswa.
2) Penggalangan masyarakat/orang tua peserta didik/komite sekolah untuk
berpartisipasi dalam pembiayaan pendidikan dengan prinsip-prinsip MBS.

Langkah-langkah kegiatan yang dapat dilakukan sekolah di antaranya:


1) Sekolah menentukan jadwal kegiatan apresiasi seni, budaya, dan pameran
hasil karya peserta didik;
2) Melaksanakan kegiatan dengan melibatkan peran orang tua siswa;
3) Menyusun skenario penyelenggaraan kegiatan;
4) Melaksanakan Kerjasama dengan komite sekolah untuk penggalangan dana.

h. Kegiatan Gerakan Literasi Sekolah untuk dapat diimplementasikan dalam


pembelajaran dan lainnya, dengan kegiatan:
1) Program Literasi menjadi program unggulan Sekolah;
2) Literasi Sekolah menjadi budaya sekolah;
3) Pengembangan budaya menulis;
4) Pembudayaan membaca buku selain buku mata pelajaran minimal 15 me­
nit setiap hari sebelum pembelajaran;

Langkah yang dapat dilakukan sekolah di antaranya:
1) Guru mata pelajaran mengusulkan menyediakan buku bukan buku mata
pelaran melalui perpustakaan sekolah;
2) Setelah selesai siswa membaca sebuah buku, maka siswa tersebut mem­
buat rangkuman, atau pendapat tentang isi dari buku itu, atau tugas lain
yang mendorong siswa aktif dan kreatif;

56 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


3) Guru mata pelajaran menugaskan kepada peserta didik untuk membaca
buku sesuai dengan mata pelajaran;
4) Peserta didik membuat laporan, ringkasan, pendapat atau kajian dari buku
yang sudah dibacanya;

5. Menjadi pusat keunggulan


a. Program: Peningkatan mutu lulusan yang lebih dari SNP, dengan kegiatan:
1) Pembimbingan dan pendampingan intensif.
2) Penguatan integritas peserta didik dalam kerangka pemenuhan Indeks In­
tegritas Ujian Nasional (tingkat persentase jawaban siswa yang tidak me­
nunjukkan pola kecurangan): 100.
3) Pengayaan kompetensi peserta didik dalam rangka mencapai nilai rerata
UN minimal 7,5
4) Uji coba UN secara berkala untuk meraih nilai rerata UN terbaik / tertinggi
minimal tingkat kabupaten/kotanya.
5) Pembimbingan dan pelatihan OSN, KIR, story telling, dll.
6) Penguatan kompetensi peserta didik dalam rangka mencapai juara 1 - 3 di
tingkat kabupaten/kotanya, misal: Bidang seni, olahraga, keterampilan, ke­
pramukaan dll.

Langkah-langkah kegiatan yang dapat dilakukan sekolah untuk mencapai ke­
giatan tersebut diantaranya:
1) Semua guru melaksanakan proses pembelajaran secara efektif dan efisien
sesuai peraturan dan perundangan;
2) Semua stakeholder mempunyai komitmen yang sama terhadap mutu para
lulusannya;
3) Sekolah memiliki pemetaan kemampuan setiap peserta didik sehingga
dapat diberdayakan menjadi mentoring dalam pembimbingan peserta
didik sebelum pelaksanaan UN;
4) Kerjasama dengan lembaga lain atau Perguruan Tinggi dalam pelaksanaan
pembimbingan untuk mendapat prestasi bidang OSN, KIR dll.;
5) Penyusunan program dan jadwal latihan kegiatan secara sistematis, ter­
struktur, jelas langkah kegiatan dan hasil yang akan dicapainya;
6) Sekolah menyediakan fasilitas pendukung pelaksanaan kegiatan seni, olah­
raga, keterampilan, dll.

PETUNJUK TEKNIS PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN Sekolah RUJUKAN 57


b. Program: pengembangan dan implementasi kurikulum yang lebih dari
SNP, dengan kegiatan:
1) Pengembangan kurikulum dengan prinsip-prinsip MBS yang lebih dari
SNP, dan berbentuk digital;
2) Pengembangan dan mengimplementasikan kurikulum keunggulan lokal;
3) Implementasikan K-13.

Langkah-langkah yang dapat dilakukan sekolah untuk memenuhi kegiatan ter­
sebut di antaranya:
1) Sekolah bisa bekerjasama dengan beberapa sekolah yang su­dah maju un­
tuk mengadopsi atau mengadaptasi kurikulum nasional atau internasional;
2) Mengidentifikasi sumberdaya, potensi daerah sehingga menjadi bahan
pertimbangan dalam pengembangan kurikulum keunggulan lokal;
3) Melalui kegiatan MGMP guru-guru melakukan pemetaan konsep, diversi­
fikasi kurikulum, dan pendalaman dan perluasan materi bahan ajar;
4) Sekolah memfasilitasi guru-guru dalam pelaksanaan Kurikulum 2013;
5) Memberi pemahaman yang sama terhadap pelaksanaan K-13 dan per­
ubahan-perubahannya; dll.

c. Program: Pengembangan dan peningkatan mutu pembelajaran yang lebih


dari SNP, dengan kegiatan:
1) Pembelajaran berbasis TIK untuk semua mata pelajaran, misal: pembel­
ajaran e-learning;
2) Pemberdayaan sumber belajar yang variatif, misal dari Rumah Belajar Kem­
dikbud (belajar.kemdiknas.go.id): e-liberary: e-book, dll. ;
3) Supervisi akademis;
4) Implementasi metode berbasis ilmiah (saintifik) dan lainnya untuk semua
mata pelajaran.

Langkah-langkah yang dapat dilakukan sekolah diantaranya:


1) Sekolah memberikan pelatihan kepada semua guru untuk memiliki ke­
mampuan dalam menggunakan IT;
2) Memberikan pemahaman kepada guru-guru melalui workshop atau IHT
tentang berbagai metodologi pembelajaran dan mampu mernerapkannya
dalam kegiatan pembelajaran baik di dalam maupun di luar kelas;

58 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


3) Sekolah menyediakan fasilitas pendukung seperti: jaringan LAN (Local Area
Networking) dalam lingkungan sekolah, jaringan Wi-fi, dll.;
4) Menyusun program dan jadwal kegiatan supervisi akademis secara inter­
nal dan eksternal termasuk kegiatan tindak lanjutnya.

d. Program: Pengembangan dan peningkatan sistem/proses penilaian yang


lebih dari SNP, dengan kegiatan:
1) Penyusunan rencana penilaian berbasis TIK (termasuk penyelenggaraan
UNBK);
2) Pengembangan sistem penilaian berbasis High Order Thinking Skill (HOTS),
misal PISA, dll.;
3) Analisa, pengolahan, dan pendokumentasian penilaian berbasis TIK.

Strategi yang dapat dilakukan sekolah diantaranya:


1) Sekolah menyediakan perangkat selver dan komputer lainnya sesuai de­
ngan kebutuhan;
2) Kerjasama dengan lembaga lain untuk memberikan pelatihan pembuatan
perangkah soal atau instrumen penilaian berbais HOTS;
3) Melaksanakan pembiasaan penilaian hasil belajar berbasis HOTS untuk
semua mata pelajaran;
4) Sekolah melaksanakan workshop atau IHT pengolahan dan pendokumen­
tasian penilaian hasil belajar termasuk, instrumen penilaian yang sudah
dikalibrasi sebagai bank soal;

e. Program: Pengembangan dan peningkatan kompetensi pendidik dan te­


naga kependidikan yang lebih dari SNP, dengan kegiatan:
1) Peningkatan kompetensi kepala sekolah.
2) Peningkatan kompetensi pendidik
3) Peningkatan kompetensi pustakawan
4) Peningkatan kompetensi laboran
5) Peningkatan kompetensi teknisi
6) Peningkatan kompetensi tenaga administrasi

Strategi yang dapat dilakukan sekolah, misalnya:


1) Melaksanakan kerjasama dengan lembaga lain atau Perguruan Tinggi un­

PETUNJUK TEKNIS PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN Sekolah RUJUKAN 59


tuk meningkatkan kompetensi Pustakawan atau laboran, seperti untuk
meningkatkan kompetensi laboran bekerjasama dengan P4TK IPA; Pusta­
kawan bekerjasama dengan P4TK Bahasa, dll.;
2) Sekolah menugaskan tenaga pustakawan atau laboran mengikuti diklat;
3) Sekolah melaksanakan workshop meningkatkan kompetensi dalam pe­
ngelolaan sekolah bagi tenaga administrasi;
4) Memberdayakan kegiatan MGMP di tingkat sekolah atau Kabupaten/Kota
untuk meningkatkan kompetensi akademik maupun profesional pendidik;
5) Melakukan kerjasama dengan LPMP secara terprogram dan terstruktur
untuk meningkatkan kometensi pendidik;
6) Kepala Sekolah mengikuti kegiatan-kegiatan yang dilaksnakan oleh Dinas
Pendidikan Kab/Kota atau provinsi untuk meningkatkan kompetensi ke­
pala sekolah;

f. Program: Pengembangan dan peningkatan sarana dan prasarana pendi­


dikan yang lebih dari SNP, dengan kegiatan:
1) Pengembangan fasilitas Ruang Kelas: Dilengkapi fasilitas TIK, media pem­
belajaran, dll;
2) Pengembangan Ruang Praktik Prakarya dan kelengkapannya;
3) Pengembangan dan optimalisasi Laboratorium IPA;
4) Pengembangan dan optimalisasi Laboratorium Bahasa;
5) Pengembangan dan optimalisasi Laboratorium prakarya;
6) Pengembangan dan optimalisasi Laboratorium Matematika;
7) Pengembangan dan optimalisasi laboratorium mata pelajaran lainnya;
8) Pengembangan dan optimalisasi Ruang Multimedia mendukung pembel­
ajaran dan penilaian berbasis TIK;
9) Pengadaan Server: mempunyai server yang mendukung SIM sekolah, mis:
E-learning; e-leberray, e-administration, dll.;
10) Pengembangan dan optimalisasi Ruang Kepala Sekolah: Dilengkapi dengan
telpon, fax, akses internet, komputer dan printer, sarana rapat, kamar kecil;
11) Pengembangan dan optimalisasi Ruang Guru: Sesuai standar SNP dileng­
kapi dengan telpon, fax, akses internet, komputer dan printer, kamar kecil;
12) Pengembangan dan optimalisasi Perpustakaan: Sesuai standar SNP dileng­
kapi dengan akses internet, e-library, LCD, TV, dll. Memiliki ruang baca khu­
sus yang tidak terpisah dengan ruang koleksi/utama.

60 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


Strategi yang dapat dilakukan di antaranya: a) melaksanakan koordinasi dengan
pemerintah daerah kabupaten/kota atau provinsi untuk mendapatkan ban­
tuan sarana dan prasarana pendidikan sesuai kebutuhan sekolah; b) member­
dayakan peran alumni atau masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengem­
bangan mutu sekolah; c) meningkatkan efektifitas penggunaan ruang­an untuk
mendukung pelaksanaan pembelajaran; d) bekerjasama dengan lembaga ter­
kait untuk pengadaan jaringan internet atau fasilitas web sekolah sebagai alat
pembelajaran; e) optimalisasi dana bantuan operasional sekolah sesuai perun­
tukkannya, seperti pengadaan LCD, komputer, dll.; f ) memberdayakan dan me­
libatkan peran orangtua siswa dalam mendukung terhadap mutu pendidikan
dengan haparan dapat memberikan sumbangan yang tidak mengikat; dll.

g. Program: Pengembangan dan peningkatan pengelolaan sekolah yang le­


bih dari SNP, dengan kegiatan:
1) Pembentukan tim penyusun RKS/RKJM dan RKAS/RKT yang melibatkan
semua warga sekolah serta stakeholder lainnya sesuai dengan prinsip MBS,
disusun berdasarkan EDS, disosialisasikan kepada warga sekolah/stake­
holder dan disahkan oleh pejabat yang berwenang (kepala dinas)
2) Penyusunan program kerja/kegiatan sesuai 8 SNP dan tambahan/pengem­
banganya, panduan serta diimplementasikan.
3) Penyusunan panduan dan melaksanakan kegiatan: Penumbuhan Budi Pe­
kerti, kegiatan ekstrakurikuler kepramukaan, pelaksanaan kurikulum, pem­
belajaran, dan penilaian berbasis TIK, BOS, BK, pengembangan silabus dan
RPP, prakarya/keterampilan, pengelolaan dan pembelajaran di laboratori­
um IPA, Bahasa, dll, pengelolaan perpustakaan dengan berbasis TIK, pe­
manfaatan lingkungan alam dan sekolah sebagai sumber belajar (out door),
pengembangan dan pemanfaatan media pembelajaran, pencegahan tin­
dakan kekerasan, penyalahgunaan NAPZA dan radikalisme.
4) Pengelolaan Sekolah yang bebas dari (tidak terjadi) perkelahian, pelecehan
seksual, pornografi, bullying, penyalahgunaan NAPZA dan radikalisme yang
berhubungan dengan SARA .
5) Implementasi panduan sistem informasi berbasis TIK Sekolah menerapkan
sistem penjaminan mutu pendidikan, antara lain dengan menerapkan ISO
dalam manajemennya.
6) Implementasi pendidikan berbasis keunggulan lokal.

PETUNJUK TEKNIS PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN Sekolah RUJUKAN 61


Langkah-langkah yang dapat dilakukan sekolah diantaranya: a) melaksanakan
workshop penyusunan RKS dan RKAS dan mensosialisasikan kepada semua
pemangku kepentingan dalam pengembangan mutu sekolah; b) melaksana­
kan workshop atau IHT penyusunan panduan-panduan yang dibutuhkan da­
lam pengelelolaan, pengembangan sekolah, seperti Panduan kegiatan kepra­
mukaan, Panduan Manajemen Sekolah, dll.; c) melaksanakan kegiatan-kegiatan
sekolah sesuai dengan pedoman, panduan, dan RKS dan RKAS sehingga men­
dapat kejelasan tetang arah dan hasil yang akan dicapai; d) melakukan kerja
sama dengan pihak-pihak atau lembaga tertentu untuk menghindari tindak-
tindak kriminal, pornografi, NAPZA yang terjadi baik d dalam maupun di luar
lingkungan sekolah, dll.; e) sekolah membentuk sistem satuan tugas untuk me­
ngendalikan sikap dan prilaku peserta didik sesuai dengan norma hukum dan
ajaran agama yang dianutnya; f) melaksanakan kerjasama dengan lembaga lain
untuk mendapatkan sertifikat ISO dengan versi terkini dalam bidang manaje­
man atau bidang lainnya sesuai dengan kebutuhan sekolah; dll.

6. Lokasi yang strategis, mudah dijangkau dan aman.


Kerjasama dengan pihak terkait untuk menciptakan kondisi yang mendukung
penyelenggaraan pendidikan/pembelajaran sehingga dalam kondisi aman dan
nyaman, seperti dengan: pihak kepolisian, kalurahan/desa/kecamatan setem­
pat, dan lain-lain.

Strategi yang dilakukan sekolah:


1) Mengusulkan akses jalan kepada Pemerintah Kabupaten/Kota melalui Dinas
Pendidikan;
2) Mengusulkan relokasi kepada Pemerintah Kabupaten/Kota melalui Dinas
Pendidikan;

7. Pelaksanaan Pengimbasan
a. Pengertian Pengimbasan
Berdasaran konsep dan kebijakan yang ditempuh Pemerintah bahwa sekolah
rujukan sebagai sekolah yang dapat dirujuk harus mampu dan sanggup untuk
mengimbaskan kepada sekolah-sekolah lain (sekitarnya) agar memenuhi SNP
dan/atau selebihnya sesuai dengan kondisi dan potensi sekolahnya. Dengan
demikian Pengimbasan Sekolah Rujukan merupakan kegiatan bersama yang

62 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


dilakukan oleh sekolah rujukan dan sekolah imbas dalam rangka mengantar­
kan sekolah imbas mencapai sekolah standar nasional pendidikan, peningkatan
lebih dari SNP atau peningkatan keunggulan sekolah. Sesuai dengan ketentuan
bahwa ”Sekolah Rujukan wajib bekerjasama dengan sekolah lainnya sebagai se­
kolah imbas untuk mengembangkan ekosistem pendidikan yang kondusif, budaya
mutu, dan penumbuhan budi pekerti.” Pelaksanaan pengimbasan dapat melibat­
kan pihak Dinas Pendidikan setempat atau LPMP.

Gambar: Pelaksanaan Pengimbasan oleh Sekolah Rujukan

b. Tujuan Pelaksanaan Pembimbasan:


Sekolah Imbas mampu:
1) Memenuhi indikator Standar Nasional Pendidikan (SNP);
2) Mengembangkan potensi sekolah melebihi SNP;
3) Mengembangkan keunggulan-keunggulan lain sesuai potensi sekolah;

c. Sasaran
Sasaran Sekolah Pengimbasan adalah sekolah yang masih katagori Sekolah
Standar Pelayanan Minimal dan sekolah Potensial.

PETUNJUK TEKNIS PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN Sekolah RUJUKAN 63


d. Waktu dan Tempat
Pelaksanaan pengimbasan dilakukan sesuai kesepakatan sampe sekolah terse­
but mencapai sekolah standar nasional pendidikan. Tempat pelaksanaan peng­
imbasan dilaksanakan di sekolah imbas, atau di sekolah rujukan atau sesuai
kesepakatan bersama.

e. Isi atau Materi Pengimbasan


Materi pengimbasan mencakup 8 standar Nasional Pendidikan; ekosistem pen­
didikan yang kondusif; budaya mutu; penumbuhan budi pekerti; keunggulan
sekolah; MBS; Literasi; UNBK, dan Media Pembelajaran;

f. Mekanisme Pendampingan
Mekanisme pelaksanaan pengimbasan dalam satu sasaran program dilakukan
dengan pola in servis dan on servis, dengan pola minimal 2 kali pelaksanaan in
servis dan 1 kali on servis atau sesuai kesepakatan. Kegiatan pada in 1 mem­
berikan penguatan materi dan pembuatan Rencana Tindak Lanjut (RTL), pada
kegiatan on melaksanakan RTL, selanjutnya pada in 2 laporan dan refleksi pe­
laksanaan RTL.

g. Program Pengimbasan: Sekolah rujukan dan sekolah imbas melaksanakan


berbagai bidang pengembangan sekolah dengan kegiatan:
1) Sosialisasi potensi sekolah rujukan kepada sekolah lain (imbas);
2) Implementasi dan pengembangan manajemen berbasis sekolah (MBS) ke
sekolah imbas;
3) Penyebaran inovasi pembelajaran berbasis TIK dan/atau lainnya melalui
berbagai media/sarana;
4) Peningkatan kapasitas pendidik dan tenaga kependidikan;
5) Peningkatan kompetensi peserta didik;
6) Peningkatan kompetensi tenaga pustakawan dan laboran;
7) Pengembangan jejaring kerjasama untuk mencapai tujuan bersama;
8) Pemanfaatan fasilitas bersama antara sekolah rujukan dengan sekolah im­
bas dan masyarakat;

Kerjasama antara sekolah rujukan dengan sekolah imbas yang meliputi prog­
ram-program sebagaimana tersebut di atas dituangkan dalam naskah pen­

64 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


janjian kersama yang ditandatangani oleh masing-masing Kepala Sekolah dan
Dinas Pendidikan setempat.

h. Langkah-langkah dalam melaksanakan pengimbasan:


1) Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota melakukan verifikasi bersama LPMP;
2) Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota menetapkan sekolah imbas (sejumlah
sekolah secara proporsional dan bertahap, minimal 5 sekolah di sekitarnya);
3) LPMP melaksanakan fasilitasi kepada tim yang dibentuk oleh sekolah ru­
jukan sebagai tim inti pelaksana pengimbasan;
4) Tim inti melakukan pengimbasan;
5) Sekolah imbas magang di sekolah rujukan;
6) LPMP dan Pengawas Pembina Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota melak­
sanakan pendampingan dan evaluasi dalam kerangka peningkatan mutu.

Untuk melaksanakan proses pengimbasan kepada sekolah imbas dilaksanakan


oleh TPSR sesuai dengan bidang masing-masing. Tempat pelaksanaan dapat
dilakukan sesuai dengan kesepakatan bersama termasuk jadwal kegiatannya
selama tidak mengganggu tugas pokok dalam melaksanakan proses pembel­
ajaran. Perjanjian kerjasama selain mengatur aspek-aspek yang akan dikem­
bangkan juga mengatur tentang hak dan kewajiban masing-masing pihak di
antaranya terkait dengan pembiayaan.

i. Supervisi, Monitoirng, dan Evaluasi (SME)


1) Rencana pelaksanaan SME;
 Sekolah Rujukan menyusun program pelaksanaan SME;
 Menyusun Instrumen SME;
 Menentukan jadwal dan petugas SME;
2) Pelaksanaan SME;
 Melaksanakan SME sesuai program yang telah disepakati;
 Pengumpulan data dan informasi yang diperlukan dalam SME.
3) Pengolahan dan pelaporan hasil SME
 Mengolah data dan Informasi hasil SME;
 Membuat simpulan hasil SME;
 Memberikan rekomendasi kepada sekolah imbas;
 Menyusun program perbaikan atau Rencana Tindak Lanjut.

PETUNJUK TEKNIS PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN Sekolah RUJUKAN 65


C. Monitoring dan Evaluasi
Kegiatan monitoring dilakukan pada saat proses sedang berlangsung untuk me­
ngetahui tingkat keterlaksanaan dan kendala yang dihadapi sekolah. Sedangkan
Evaluasi dilakukan setelah proses kegiatan berakhir untuk mengetahui tingkat ke­
berhasilan capaian tujuan, sekaligus sebagai pengendalian mutu pendidikan pada
satuan pendidikan. Dalam pengendalian mutu pendidikan perlu dilakukan secara
intensif dan berkesinambungan oleh unsur internal dan eksternal.

1. Program kegiatan yang harus dilakukan sekolah rujukan antara lain:


a. Pengembangan instrumen monev;
b. Penyusunan jadwal monev;
c. Pelaksanaan monev;
d. Pengolahan hasil monev;
e. Penyusunan laporan dan program tindak lanjut;

2. Strategi yang dilakukan sekolah antara lain:


a. Melaksanakan penyusunan pengembangan instrumen monev;
b. Melaksanakan penyusunan jadwal monev;
c. Melaksanakan monev;
d. Melaksanakan pengolahan hasil monev;
e. Memberikan simpulan hasil monev dan rekomendasi;
f. Menyusunan laporan dan program tindak lanjut;

3. Pelaksana monitoring dan evaluasi


Sekolah rujukan, sekolah imbas bersama sama dengan Dinas Pendidikan se­
tempat dan LPMP melaksanakan monitoring dan evaluasi terhadap kinerja yang
dilakukan oleh masing-masing sekolah dalam pengeloaan sekolah rujukan.
Instrumen monitoring dan evaluasi mengembangkan dari setiap aspek dan
indikator SNP dan indikator khusus sekolah rujukan. Hasil monitoring dan eva­
luasi dapat dijadikan pertimbangan dalam pengembangan program kegiatan
selanjutnya, sekaligus sebagai bahan dalam menentukan kebijakan pemerin­
tah daerah atau provinsi.

66 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


5 Penutup

Buku Petunjuk Teknis Pengembangan dan Pembinaan Sekolah Rujukan ini disusun
berdasarkan pada kepentingan untuk memedomani bagi semua pemangku kepen­
tingan dalam pengembangan dan pembinaan bagi sekolah-sekolah rujukan, ter­
masuk sekolah rujukan itu sendiri.

Diharapkan dengan juknis ini, khususnya satuan pendidikan yang ditetapkan seba­
gai sekolah rujukan dapat menggunakan sebagai arah penyusunan program dan
kegiatan pemenuhan indikator-indikator sekolah rujukan. Demikian pula dalam hal
tanggungjawabnya untuk pengimbasan.

Bagi para pihak lain yang terkait harapannya dengan juknis ini dapat memberikan
arah dan gerakan yang sama dalam mengembangkan dan membina sekolah ru­
jukan, sehingga terjadi sinkronisasi dalam mewujudkan sekolah rujukan sesuai yang
diharapkan semua pihak. Namun demikian, masih banyak hal untuk dikoreksi dan
disempurnakan juknis ini sesuai dengan tuntutan yang seharusnya. Untuk itu, ke­
pada semua pihak diharapkan dapat memberikan masukan demi sempurnanya
juknis ini.

67
Lampiran
Pengembangan dan Penyusunan
Rencana Kerja Sekolah (RKS) dan
Rencana Kegiatan dan Anggaran
Sekolah (RKAS) untuk SMP Rujukan
Penyusunan Rencana Kerja Sekolah (RKS)
pada SSP Rujukan

Sebagaimana telah dipahami bahwa dalam kerangka pembinaan sekolah untuk


pencapaian standar nasional, maka pada jenjang SMP telah dikelompokkan dalam
sekolah standar pelayanan minimal, sekolah potensial, dan sekolah standar nasional
(SSN). Seperti yang telah disebutkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun
2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP), bahwa sekolah dikategorikan
menjadi tiga, yakni Standar Pelayanan Minimal (SPM), sekolah formal standar atau
sekolah potensial dan sekolah formal mandiri atau SSN. Pengkategorisasian sekolah
tersebut didasarkan pada tingkat pemenuhan sekolah terhadap SNP yang meliputi
SKL, SI, Standar Proses, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar Sarana
dan Prasarana, Standar Pembiayaan, Standar Pembiayaan, Standar Pengelolaan, dan
Standar Penilaian. SPM adalah sekolah yang masih banyak kekurangan untuk pe­
menuhan SNP, sekolah potensial adalah sekolah yang kurang dari 85% SNP telah
terpenuhi, dan SSN adalah sekolah yang telah memenuhi Standar Nasional Pendi­
dikan lebih dari 85%.

Sedangkan sekolah rujukan adalah satuan pendidikan yang telah terakreditasi A,


mengembangkan ekosistem pendidikan, budaya mutu, dan penumbuhan budi
pekerti yang dapat dirujuk sebagai contoh bagi sekolah lain. Dalam hal ini dapat
dimaknai bahwa sekolah rujukan yang terakreditasi dengan nilai A adalah sekolah
yang telah memenuhi SNP lebih dari 85%. Dengan demikian, sekolah rujukan me­
rupakan kelompok atau kategori yang lebih tinggi dibandingkan kategori lainnya,
sebab mampu mengembangkan ekosistem pendidikan, budaya mutu, dan penum­
buhan budi pekerti, sehingga dapat dirujuk sebagai contoh bagi sekolah lain. Bebe­
rapa indikator utama sebagai sekolah rujukan telah dijelaskan pada bab sebelum­
nya adalah: : (a) berakreditasi A, (b) memiliki ekosistem pendidikan yang kondusif,
(c) mengembangkan budaya mutu, (d) melaksanakan program penumbuhan budi
pekerti, (e) menjadi pusat keunggulan, dan (f ) lokasinya yang strategis, mudah di­
jangkau, dan aman.

PETUNJUK TEKNIS PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN Sekolah RUJUKAN 71


Untuk mewujudkan terpenuhinya berbagai indikator utama sekolah rujukan terse­
but, maka sekolah rujukan wajib melaksanakan pengelolaan dan penyelenggaraan
pendidikan yang baik, yaitu:

1. Mengembangkan dan menyusun perencanaan sekolah (Rencana Kerja Sekolah


dan Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah atau disingkat dengan RKS dan
RKAS).
2. Mengembangkan dan melaksanakan program dan kegiatan dengan berbagai
strategi untuk pemenuhan SNP dan atau selebihnya sebagaimana disusun da­
lam RKS dan RKAS.
3. Mengembangkan dan menyusun berbagai strategi untuk melaksanakan prog­
ram dan kegiatan dalam rangka pemenuhan SNP dan atau selebihnya.
4. Mengimplementasikan sistem penjaminan mutu internal (SPMI) di sekolahnya.

A. PENGERTIAN DAN PENTiNGNYA RKS DAN RKAS


Sebagaimana amanat Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 dan Permendik­
nas Nomor 19 Tahun 2007 bahwa setiap satuan pendidikan wajib mengembangkan
dan menyusun RKS dan RKAS. Oleh karena itu, sejak saat itu Direktorat Pembinaan
SMP telah menyusun sebuah panduan bagi sekolah dalam mengembangkan dan
menyusun RKS dan RKAS tersebut.

1. Pengertian
RKS adalah suatu dokumen yang memuat rencana program pengembangan seko­
lah empat tahun ke depan dengan mempertimbangkan sumberdaya yang dimiliki
untuk memenuhi Standar Nasional Pedidikan (SNP) dan atau selebihnya. RKS berisi
rangkaian rencana berbagai upaya sekolah dan pihak lain yang terkait untuk meng­
atasi berbagai persoalan sekolah yang ada saat ini untuk memenuhi Standar Na­
sional Pedidikan (SNP) dan atau selebihnya tersebut.

RKAS adalah dokumen yang berisi rencana program pengembangan sekolah satu
tahun ke depan yang disusun berdasarkan RKS untuk mengatasi ke­senjangan yang
ada antara kenyataan dengan yang diharapkan pada setiap tahun­nya. Berarti, RKS
adalah gambaran umum rencana pengembangan se­kolah empat tahunan dan
RKAS adalah jabaran rinci program sekolah tahunan yang disusun dalam bentuk
kegiatan-kegiatan oleh sekolah. RKS dan RKAS meru­pakan satu kesatuan.

72 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


2. Pentingnya RKS dan RKAS
RKS dan RKAS sangat penting bagi sekolah untuk:

a. Dijadikan dasar bagi sekolah dalam melaksanakan program-program dan kegi­


atan-kegiatan sesuai dengan visi, misi, tujuan, dan sasaran sekolah;
b. Penentuan prioritas sekolah untuk membuat target yang akan dicapai sebagai
dalam jangka pendek, menengah, dan jangka panjang;
c. Penentuan langkah-langkah strategis dari kondisi nyata sekolah yang ada se­
karang menuju kondisi sekolah yang diharapkan;
d. Pelaksanaan supervisi, monitoring, dan evaluasi keterlaksanaan program dan
hasil-hasilnya dalam kerangka memperoleh umpan balik untuk memperbaiki
RKS selanjutnya;
e. Dijadikan dasar oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Propinsi, dan Pusat
untuk melaksanakan monitoring dan evaluasi keterlaksanaan program dan hasil-
hasilnya dalam kerangka melakukan pembinaan kepada sekolah;
f. Untuk memberikan masukan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Pro­
pinsi, dan Pusat dalam kerangka pencapaian standar nasional pendidikan atau
selebihnya;
g. Untuk memberikan gambaran dan informasi kepada LPMP dalam kerangka
fasilitasi, pembinaan, dan supervisi untuk peningkatan mutu pendidikan.
h. Untuk memberikan gambaran kepada stakeholder sekolah (khususnya kepada
orang tua siswa/masyarakat) terhadap segala bentuk program sekolah yang
akan diselenggarakan, baik dalam jangka pendek, menengah maupun jangka
panjang.

B. Langkah-langkah Penyusunan RKS


RKS pada umumnya dibuat pada awal tahun pertama untuk empat tahun men­
datang yang dilakukan oleh sekolah dengan urutan seperti tertuang pada skema
berikut.

PETUNJUK TEKNIS PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN Sekolah RUJUKAN 73


Gambar 10. Pengelolaan dan Penyelenggaraan Sekolah Rujukan

74 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


1. Membentuk Tim Pengembang Sekolah Rujukan/Penyusun RKS
Pencapaian sekolah merupakan hasil kerja dari seluruh stakeholders (pemangku
kepentingan). Karena itu diharapkan setiap kegiatan harus melibatkan warga seko­
lah sehingga seluruh warga merasa bertanggung jawab terhadap program dan akan
mengawal sampai selasainya program dengan efektif dan efisian. Dalam penyu­
sunan RKS, kepala sekolah pertama kali membentuk Tim Penyusunan RKS dengan
personil yang kompeten dan dipandang menguasai permasalahanya. Tim penyu­
sun RKS ini juga merupakan tim yang akan menyusun RKAS untuk jangka waktu
satu tahunan. Kepala Sekolah menerbitkan Surat Keputusan Tim Penyusun RKS dan
melaporkan ke Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Tim penyusun RKS melakukan
koordinasi, konsolidasi dan musyawarah menyusun rincian tugas masing-masing
bagian. Contoh struktur Tim Penyusun RKS sebagai berikut:

a. Penanggung Jawab : Kepala Sekolah


b. Ketua : Wakil Kepala Sekolah
c. Sekretaris : Seorang guru
d. Anggota : terdiri dari beberapa seksi
Seksi-1 : bidang pemenuhan SNP dan selebihnya
Seksi-2 : bidang pengembangan ekosistem sekolah
Seksi-3 : bidang pengembangan budaya mutu
Seksi-4 : bidang penumbuhan budi pekerti
Seksi-5 : bidang pengembangan keunggulan sekolah
Seksi-6 : bidang sistem penjaminan mutu internal
Seksi-7 : bidang humas dan kerjasama
Seksi-8 : bidang sistem informasi
Seksi-9 : bidang kesiswaan
Seksi-10 : bidang lainnya
Catatan: khusus untuk seksi-1 diperlukan anggota yang lebih banyak dibandingkan seksi lainnya,
karena bidang tugasnya untuk pemenuhan 8 SNP dan selebihnya.

2. Melakukan Analisis Lingkungan Strategis


Dalam analisis lingkungan strategis, pihak sekolah melakukan kajian tentang fak­
tor-faktor eksternal sekolah yang perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan pen­
didikan. Berbagai faktor tersebut antara lain mencakup kondisi sosial, ekonomi
masyarakat, geografis lingkungan sekolah, demografis masyarakat sekitar, kondisi

PETUNJUK TEKNIS PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN Sekolah RUJUKAN 75


perpolitikan, kondisi keamanan lingkungan, perkembangan globalisasi, perkem­
bangan IPTEK, tuntutan masyarakat dan bangsa dan regulasi/kebijakan pemerintah
pusat dan daerah. Hasil kajian ini dapat dipergunakan untuk menentukan visi, misi
dan tujuan serta program-program pengembangan sekolah.

3. Melakukan Analisa Kondisi Pendidikan Masa depan dan Masa Kini


Analisa pendidikan masa depan adalah kajian yang dilakukan sekolah tentang cita-
cita potret pendidikan di masa datang (khususnya dalam empat tahun mendatang).
Dalam analisis ini melibatkan semua stakeholder sekolah, khususnya mereka yang
memiliki cara pandang yang visioner, sehingga dapat menentukan kondisi sekolah
yang benar-benar ideal tetapi terukur, feasible, dan rasional. Diharapkan apa yang
menjadi idealisme dalam empat tahun menda­tang merupakan ”education profile
yang ideal”, yaitu mampu sebagai sekolah ru­jukan. Hasil analisis ini selanjutnya
akan dipergunakan untuk membandingkan de­ngan kondisi sekolah saat ini.

Sedangkan analisa kondisi pendidikan masa kini adalah suatu analisis atau kajian
yang dilakukan sekolah untuk mengetahui semua unsur sekolah yang akan dan telah
mempengaruhi penyelenggaraan pendidikan dan hasil-hasilnya. Analisis ini lebih
menitikberatkan kepada analisis situasi pendidikan jenjang pendidikan dasar pada
umumnya, baik dalam skala daerah, wilayah, nasional maupun interna­sional.

4. Merumuskan Visi Sekolah


Visi adalah gambaran ideal untuk masa depan yang diinginkan oleh sekolah. Visi ini
memberikan wawasan yang menjadi sumber arahan bagi sekolah dan digunakan
untuk memandu perumusan misi sekolah. Visi adalah pandangan jauh ke depan ke
mana sekolah akan dibawa. Gambaran masa depan harus didasarkan pada landasan
yuridis, yaitu undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan menteri dan per­
aturan perundangan lainnya sesuai dengan jenjang dan jenis sekolahnya. Visi se­
kolah harus tetap dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional, tetapi sesuai de­
ngan kebutuhan sekolah untuk pelayanan masyarakat. Dengan tujuan pendidikan
nasional yang rumusannya sama, profil sekolah dan kebutuhan masyarakat yang
dilayani sekolah tidak selalu sama. Oleh karena itu, sekolah memiliki visi yang tidak
sama dengan sekolah lain, asalkan tidak keluar dari koridor tujuan pendidikan na­
sional. Untuk mencapai cita-cita di atas, visi maka diperlukan indikator-indikator
untuk mengetahui tingkat ketercapaiannya.

76 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


5. Merumuskan Misi Sekolah
Misi adalah tindakan atau upaya untuk mewujudkan visi. Jadi misi merupakan pen­
jabaran visi dalam bentuk rumusan tugas, kewajiban, dan rancangan tindakan yang
dijadikan arahan untuk mewujudkan visi. Dengan kata lain, misi adalah bentuk
layanan untuk memenuhi tuntutan sekolah dengan berbagai indikatornya. Ru­
musan misi selalu dalam bentuk kalimat yang menunjukkan “tindakan” dan bukan
kalimat yang menunjukkan “keadaan” sebagaimana pada rumusan visi. Dalam hal
ini, satu indikator visi dapat dirumuskan lebih dari satu rumusan misi. Antara indi­
kator visi dengan rumusan misi harus ada keterkaitan atau terdapat benang merah­
nya secara jelas. Dengan kata lain, misi adalah bentuk layanan untuk memenuhi
tuntutan yang dituangkan dalam visi.

Misi mengacu kepada indikator. Satu indikator bisa dicapai dengan lebih dari satu
misi, ada benang merahnya dengan misi, redaksinya operasional, terukur, meng­
gunakan kata kerja, misalnya dengan kata ‘mewujudkan’, ‘mengembangkan’, ‘me­
menuhi’, ‘meningkatkan’, ‘memberdayakan’, dan sebagainya.

6. Merumuskan Tujuan Sekolah untuk Empat Tahun ke Depan


Bertolak dari visi dan misi, selanjutnya sekolah merumuskan tujuan. Jika visi dan
misi terkait jangka waktu yang panjang, maka tujuan dirumuskan untuk jangka me­
nengah. Dengan demikian tujuan pada dasarnya merupa­kan tahapan atau langkah
untuk mewujudkan visi sekolah yang telah dicanangkan. Tujuan mengarahkan pe­
rumusan sasaran, kebijaksanaan, program dalam rangka merealisasikan misi. Pen­
capaian tujuan dapat dijadikan indikator untuk menilai ki­nerja sebuah organisasi.

Isi tujuan ini masih bersifat global, baik isi yang mengarah pada pencapaian standar
nasional pada aspek isi, proses, sarana, kelulusan, pengelolaan, pendidik dan tenaga
kependidikan, pembiayaan, maupun penilaian. Setiap aspek yang dikem­bangkan
dalam tiap tujuan dirumuskan secara relatif umum atau belum terlalu operasional.
Tujuan dibuat untuk jangka 4 tahun dan tiap misi bisa dibuat lebih dari satu tujuan.

7. Identifikasi Tantangan Nyata (Kesenjangan)


Pada bagian ini dilakukan analisis identifikasi tantangan nyata dengan memban­
dingkan antara kondisi pendidikan saat ini dengan kondisi pendidikan yang diha­
rapkan sesuai dengan indikator sekolah rujukan. Tantangan nyata setiap standar

PETUNJUK TEKNIS PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN Sekolah RUJUKAN 77


nasional pendidikan dirumuskan secara kuantitatif dan terukur. Selisih antara kon­
disi ideal tiap aspek dengan kondisi nyata tiap aspek saat ini adalah tantangan
nyata yang harus diatasi sekolah.

8. Merumuskan Program-Program Strategis


Rumusan yang dibuat oleh sekolah tentang program-program empat tahunan ber­
sifat strategis. Artinya masih utama, pokok, dan urgen. Program strategis ini harus
sesuai dengan rumusan tujuan sebelumnya. Program di sini belum operasional,
hanya garis besarnya saja.

9. Menentukan Strategi Pelaksanaan


Setelah program dirumuskan, selanjutnya adalah menentukan strategi apa yang
harus dijalankan untuk melaksanakan program tersebut secara efisien, efektif, jitu,
dan tepat. Karakteristik strategi adalah yang sesuai dengan tuntutan program. Stra­
tegi yang salah akan menyebabkan tidak tercapainya program, demikian pula se­
baliknya. Misalnya untuk pencapaian program pengembangan standar kurikulum
yang berwawasan nasional, dimungkinkan berbeda strateginya dengan strategi
untuk mencapai standar prasarana atau fasilitas pendidikan yang berstandar nasio­
nal. Oleh karena itu dalam perumusan strategi ini harus mempertimbangkan keter­
libatan pihak lain terkait dan kemampuan sekolah itu sendiri.

10. Menentukan tonggak Keberhasilan atau Hasil yang Diharapkan (milestone)


Berdasarkan pada tujuan, program dan strategi pencapaiannya di atas, maka selan­
jutnya dapat dirumuskan tentang apa-apa saja yang akan dihasilkan (sebagai out­
put), baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif dan dalam waktu kapan akan
dicapai (satu tahun, dua tahun atau empat tahun, dst). Hasil-hasil ini merupakan
terpenuhinya indikator-indikator sebagai sekolah rujukan yang hendak dicapai da­
lam waktu empat tahun ke depan. Hasil yang diharapkan juga memuat waktu dan
tahapan pencapaian. Hasil-hasil yang dirumuskan juga bisa disusun lebih rinci sama
dengan rumusan program strategis yang telah disusun di atas.

11. Menentukan langkah-langkah Sistem Penjaminan Mutu Internal (Super­


visi, Monitoring, Evaluasi)
Sebagai seolah rujukan harus merumuskan tentang sistem penjaminan mutu inter­
nal (SPMI) khususnya langkah-langkah penting yaitu rencana supervisi, monitoring

78 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


internal, dan evaluasi internal sekolahnya dalam kerangka untuk mengetahui kinerja
sekolah serta mutunya. Disini sekolah akan mengetahui kelemahan dan keberha­
silan untuk dapat ditindaklanjuti pada tahun berikutnya sampai dicapai kinerja atau
mutu pendidikan yang optimal.

12. Menyusun RAPBS Empat Tahunan


Selanjutnya menyusun anggaran biaya untuk kepentingan empat tahun. Rencana
biaya tersebut dapat dirumuskan per tahunnya, sehingga dalam waktu empat ta­
hun akan diketahui jumlah biaya yang diperlukan dan dari sumber biaya mana saja.
Untuk membantu keakuratan dalam rancangan biaya pertahunnya, maka rencana
biaya untuk tahun pertama dapat dipergunakan sebagai dasar dalam menentukan
biaya di tahun kedua, ketiga, dan keempat.

C. Sistematika Penyusunan RKS (empat tahunan)


1. Sampul Judul
2. Kata Pengantar
3. Daftar Isi
4. Latar Belakang
5. Tujuan Penyusunan Buku Panduan RKS
6. Sasaran Pengguna Buku Panduan RKS
7. Ruang Lingkup/Isi Buku Panduan RKS
8. Dasar Hukum
9. Analisis Lingkungan Strategis
10. Analisis Kondisi Pendidikan Masa Datang
11. Analisis Kondisi Pendidikan Masa Kini
12. Identifikasi Tantangan Nyata
13. Visi Sekolah
14. Misi
15. Tujuan
16. Program
17. Strategi Pencapaian
18. Hasil yang Diharapkan
19. Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI)
20. Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS)
21. Penutup

PETUNJUK TEKNIS PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN Sekolah RUJUKAN 79


Penyusunan Rencana Kegiatan dan Anggaran
Sekolah (RKAS) pada SMP Rujukan

A. Langkah-langkah Penyusunan RKAS


1. Membentuk Tim Penyusun RKAS
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa tim penyusun RKS adalah sekaligus
sebagai tim penyusun RKAS.

2. Melakukan Analisa Situasional Sekolah


Langkah ini pada prinsipnya adalah sama dengan analisis lingkungan strategis di
atas. Perbedaannya adalah untuk analisis ini lebih menitikberatkan kepada ling­
kungan sekolah saja yang cakupannya lebih sempit dan berpengaruh langsung
kepada operasional sekolah. Proses-proses ini termasuk menganalisis terhadap
kebutuhan masyarakat/ daerah setempat, potensi daerah, potensi sekolah, potensi
masyarakat sekitar, potensi geografis sekitar sekolah, potensi ekonomi masyarakat
sekitar sekolah, dan potensi lainnya. Termasuk di dalamnya juga tentang regulasi
atau kebijakan daerah dan peta perpolitikan daerah setempat. Hasil kajian ini (baik
yang bersifat kuantitas maupun kualitas) dapat dipergunakan untuk membantu
melakukan analisis pendidikan yang ada di sekolah saat sekarang ini.

3. Melakukan analisis pendidikan sekolah saat ini


Adalah suatu analisis atau kajian yang dilakukan oleh sekolah untuk mengetahui
semua unsur internal sekolah yang akan dan telah mempengaruhi penyelenggara­
an pendidikan dan hasil-hasilnya. Analisis ini lebih menitikberatkan kepada analisis
situasi pendidikan di sekolah yang bersangkutan. Aspek atau unsur-unsur sekolah
yang secara internal dapat dikaji antara lain mengenai kondisi saat ini tentang:
PBM, guru, kepala sekolah, tenaga TU, laboran, tenaga perpustakaan, fasilitas atau
sarpras, media pengajaran, buku, peserta didik, kurikulum, manajemen sekolah,
pembiayaan dan sumber dana sekolah, kelulusan, sistem penilaian/evaluasi, peran
komite sekolah, dan sebaginya. Hasil kajian ini dapat dirumuskan dalam ”school
profile” sekolahnya yang dapat dipergunakan untuk menentukan ”status” atau

80 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


potret sekolah saat ini. Hasil ini selanjutnya akan dibandingkan dengan kondisi
ideal yang diharapkan di masa satu tahun mendatang, sehingga dapat diketahui
sejauhmana kesenjangan yang terjadi.

4. Melakukan analisis pendidikan sekolah satu tahun kedepan (yang diha­


rapkan)
Pada dasarnya analisis ini sama dengan yang dilakukan untuk analisis sebelumnya
di renstra, bedanya disini untuk jangka waktu satu tahun. Sekolah melakukan suatu
kajian atau penelaahan tentang cita-cita potret sekolah yang ideal di masa datang
(khususnya dalam satu tahun mendatang). Dalam analisis ini melibatkan semua
stakeholder sekolah, khususnya mereka yang memiliki cara pandang yang visioner,
sehingga dapat menentukan kondisi sekolah yang benar-benar ideal tetapi terukur,
feasible, dan rasional.

5. Menentukan kesenjangan antara situasi sekolah saat ini dan yang diha­
rapkan satu tahun kedepan
Dalam menentukan kesenjangan ini pada dasarnya sama ketika menyusun renstra.
Berdasarkan pada hasil analisis sekolah saat ini dan analisis kondisi sekolah yang
idieal satu tahun mendatang, maka selanjutnya sekolah dapat menentukan kesen­
jangan yang terjadi antara keduanya. Kesenjangan itulah merupakan sasaran yang
harus dicapai atau diatasi dalam waktu satu tahun, sehingga apa yang diharapkan
sekolah secara ideal dapat dicapai. Dengan kata lain, kesenjangan tersebut meru­
pakan selisih antara kondisi nyata sekarang dengan kondisi idealnya satu tahun ke
depan.

6. Merumuskan tujuan sekolah selama satu tahun ke depan (disebut juga


dengan sasaran atau tujuan situasional satu tahun)
Sekolah menentukan atau merumuskan sasaran atau tujuan jangka pendek satu
tahunan. Rumusan tujuan satu tahunan ini merupakan penjabaran lebih rinci, ope­
rasional, dan terukur dari tujuan empat tahunan. Oleh karena itu, tujuan disini tidak
boleh berbeda atau menyimpang dari tujuan empat tahunan. Tujuan satu tahun
merupakan penjabaran dari tujuan sekolah yang telah dirumuskan berdasarkan pada
kesenjangan/selisih/gap yang terjadi antara kondisi sekolah saat ini dengan tujuan
sekolah untuk satu tahun ke depan. Berdasarkan pada tantangan nyata tersebut,
selanjutnya dirumuskan sasaran mutu yang akan dicapai oleh sekolah rujukan.

PETUNJUK TEKNIS PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN Sekolah RUJUKAN 81


7. Mengidentifikasi Fungsi-fungsi atau urusan-urusan sekolah untuk dikaji
tingkat kesiapannya
Setelah sasaran atau tujuan tahunan ditentukan, selanjutnya dilakukan identifikasi
fungsi-fungsi atau urusan-urusan sekolah yang diperlukan untuk mencapai sasaran
tersebut. Langkah ini harus dilakukan sebagai persiapan dalam melakukan analisis
SWOT. Fungsi-fungsi yang dimaksud, misalnya untuk meningkatkan pencapaian
ketuntasan kompetensi lulusan yang berstandar internasional adalah fungsi proses
belajar pembelajaran berstandar nasional dan pendukung pembelajaran, seperti:
ketenagaan, kesiswaan, kurikulum, perencanaan instruksional, sarana dan prasa­
rana dengan standar nasional, serta hubungan sekolah dan masyarakat. Selain itu
terdapat pula fungsi-fungsi yang tidak terkait langsung dengan proses belajar
mengajar, diantaranya pengelolaan keuangan dan pengembangan iklim akademik
sekolah.

Setelah fungsi-fungsi yang diperlukan untuk mencapai sasaran telah diidentifikasi,


maka langkah berikutnya adalah menentukan tingkat kesiapan masing-masing
fungsi beserta faktor-faktornya melalui analisis SWOT (Strength, Weakness, Oppor­
tunity, and Threat).

8. Melakukan Analisis SWOT


Analisis SWOT dilakukan dengan maksud untuk mengenali tingkat kesiapan setiap
fungsi dari keseluruhan fungsi yang diperlukan untuk mencapai sasaran yang telah
ditetapkan. Oleh karena tingkat kesiapan fungsi ditentukan oleh tingkat kesiapan
masing-masing faktor yang terlibat pada setiap fungsi, maka analisis SWOT dilaku­
kan terhadap keseluruhan faktor dalam setiap fungsi tersebut, baik faktor internal
maupun eksternal.

9. Menyusun alternatif langkah-langkah pemecahan persoalan


Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan untuk sasaran pertama, maka dapat
diidentifikasi kelemahan dan ancaman yang dihadapi oleh sekolah pada hampir
semua fungsi yang diberikan. Pada fungsi proses pembelajaran yang menjadi kele­
mahan adalah siswa kurang disiplin, guru kurang mampu memberdayakan siswa
dan umumnya tidak banyak variasi dalam memberikan bahan pelajaran di kelas
serta waktu yang digunakan kurang efektif. Sedangkan yang menjadi ancaman
adalah kurang siapnya siswa dalam menerima pelajaran, terutama pada pagi dan

82 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


siang hari menjelang pulang. Di samping itu, suasana lingkungan sekolah yang
kurang kondusif dan ramai karena berdekatan dengan pusat keramaian kota.

Selanjutnya untuk mengatasi kelemahan atau ancaman tersebut, sekolah mencari


alternatif alternatif langkah-langkah memecahkan persoalan. Dengan kata lain,
alternative pemecahan masalah pada dasarnya merupakan cara mengatasi fungsi
yang belum memenuhi kesiapan.

10. Menyusun rencana kegiatan sekolah


Sekolah yang sukses adalah sekolah yang mampu melaksanakan alternatif peme­
cahan masalah dengan inovatif maksimal dan biaya minimal. Selanjutnya, sekolah
merumuskan berbagai alternatip pemecahan persoalan dari setiap permasalahan
yang ada berdasarkan hasil analisa SWOT tersebut.

Dari alternatif-alternatif pemecahan persoalan yang ada, Kepala sekolah bersama-


sama dengan unsur Tim Pengembang RKAS serta Komite Sekolah, menyusun ren­
cana kegiatan untuk mencapai tujuan atau sasaran yang telah ditetapkan. Rencana
yang dibuat harus menjelaskan secara detail dan lugas tentang aspek-aspek yang
ingin dicapai, kegiatan yang harus dilakukan, siapa yang harus melaksanakan, kapan
dan dimana dilaksanakan, dan berapa biaya yang diperlukan. Hal itu juga diperlukan
untuk memudahkan sekolah dalam menjelaskan dan memperoleh dukungan dari
pemerintah maupun orangtua peserta didik, baik secara moral maupun finansial.

11. Menentukan Tonggak-tonggak Kunci Keberhasilan/output apa dan kapan


dicapai (milestone )
Berdasarkan pada tujuan atau sasaran satu tahunan dan program di atas, maka
selanjutnya dapat dirumuskan tentang apa-apa saja yang akan dihasilkan (sebagai
output), baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif dan dalam waktu kapan
akan dicapai dalam waktu satu tahun.

12. Menyusun rencana supervisi, pemantauan, dan evaluasi atau SPMI


Sekolah merumuskan tentang rencana supervisi, monitoring internal, dan evaluasi
internal sekolahnya oleh kepala sekolah dan tim yang dibentuk sekolah. Harus diru­
muskan rencana supervisi yang akan dilakukan sekolah ke semua unsur sekolah,
dirumuskan monitoring tiap kegiatan sekolah oleh tim, dan harus dirumuskan eva­

PETUNJUK TEKNIS PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN Sekolah RUJUKAN 83


luasi kinerja sekolah oleh tim. Oleh siapa dan kapan dilaksanakan harus dirumuskan
secara jelas selama kurun waktu satu tahun. Dengan demikian, sekolah dapat mem­
perbaiki kelemahan proses dan dapat mengetahui keberhasilan atau kegagalan
tujuan dalam kurun waktu satu tahun tersebut. Pada akhirnya sekolah akan menge­
tahui program apa yang dapat dicapai dan kapan suatu target akan dicapai dengan
pasti. Tanpa adanya langkah ini sekolah akan cenderung berjalan tanpa ada keje­
lasan dan kepastian. Lebih daripada itu, sekolah akan memiliki daya tawar dengan
pihak lain ketika berkepentingan untuk meningkatkan kemajuan sekolah.

13. Menyusun rencana biaya (besar dana, alokasi, sumber dana)


Selanjutnya sekolah merencanakan alokasi anggaran biaya untuk kepentingan satu
tahun. Dalam membuat rencana anggaran ini dari setiap besarnya alokasi dana
harus dimasukkan asal semua sumber dana, misalnya dana dari rutin atau daerah
(provinsi dan kabupaten/kota), dari pusat (BOS, block grant, dll), dari komite seko­
lah, atau dari sumber dana lainnya. Penyusunan rencana anggaran ini dituangkan
ke dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS).

Dalam penyusunannya harus memperhatikan ketentuan-ketentuan dari masing-


masing pemberi dana. Sangat dimungkinkan suatu kegiatan dibiayai dengan sub­
sidi silang dari berbagai pos atau sumber dana. Kegiatan-kegiatan yang memerlu­
kan bantuan dari pusat harus dialokasikan sumber dana dari pusat dengan sharing
dari sekolah dan komite sekolah atau bahkan daerah. Pada era otonomi daerah ini,
maka sekolah dan daerah memiliki kewajiban yang lebih besar dalam hal peme­
nuhan biaya pendidikan. Dalam penyusunan anggaran di RAPBS, maka setiap kegi­
atan harus nampak jelas, terukur, dan rinci untuk memudahkan dalam menentukan
besarnya dana yang diperlukan.

14. Membuat jadwal pelaksanaan kegiatan


Apabila kegiatan-kegiatan telah disusun dengan baik dan pasti, selanjutnya seko­
lah merencanakan alokasi waktu per mingguan atau bulanan atau triwulanan dan
seterusnya sesuai dengan karakteristik program yang bersangkutan. Fungsi utama
dengan adanya penjadwalan ini untuk pegangan bagi para pelaksana program dan
sekaligus mengontrol pelaksanaan tersebut.

84 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


B. SISTEMATIKA RKS DAN RKAS
Dalam mengembangkan dan menyusun Rencana Kerja Sekolah (RKS) dan Rencana
Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS) minimal terdiri dari unsur-unsur sebagai
berikut:

1. Sampul Judul
2. Kata Pengantar
3. Daftar Isi
4. Latar Belakang
5. Tujuan Penyusunan Buku Panduan RKAS
6. Sasaran Pengguna Buku Panduan RKAS
7. Ruang Lingkup/Isi Buku Panduan RPAS
8. Dasar Hukum
9. Analisis Lingkungan/Situasional Sekolah
10. Analisis Kondisi Sekolah satu Tahun yang akan datang
11. Analisis Kondisi Sekolah saat ini (sekarang)
12. Identifikasi Tantangan Nyata satu tahun
13. Tujuan Situasional/Sasaran satu tahun
14. Identifikasi unsur-unsur sekolah
15. Analisa SWOT
16. Alternatif-alternatif Langkah-langkah Pemecahan Persoalan
17. Rencana Kegiatan
18. Hasil yang Diharapkan satu tahun
19. Supervisi, Monitoring, dan Evaluasi (SME) sebagai SPMI
20. Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS)
21. Jadwal Kegiatan
22. Penutup
23. Lampiran

PETUNJUK TEKNIS PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN Sekolah RUJUKAN 85