Anda di halaman 1dari 22

PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)

FISIOTERAPI 2017
SPRAIN ANKLE
1. Pengertian Sprain ankle juga dikenal sebagai cidera ankle atau cidera
(Definisi) ligament ankle, pada umumnya sprain ankle ini terjdi karena
robeknya sebagian dari ligament (torn partial ligament) atau
keseluruhan dari ligament (torn ligament) dan Hampir 85% sprain
ankle terjadi pada struktur jaringan bagian lateral ankle yaitu
ligamen lateral complex. (H. Habib Nasution, 2006)
Pendrita dapat menceritakan proses cideranya yatu terjatuh
dengan posisi pergelangan kaki terputar ke dalam atau keluar.
Setelah cedera, penderita mengeluh sakit berlebihan pada aspek
anterolateral pada sendi pergelangan kaki. Perabaan di atas sakit
2. Anamnesis
tersebut hanya di bawah malleolus lateral. Dengan penyebaran
terjadi di tempat bengkak yang berlebihan daerah pergelangan
kaki sisi lateral dan anterior, persamaan tes ditunjukkan adaya
ketidakseimbangan, MRI diindikasikan tidak patah tulang.
a. Inspeksi : Lumbale lordosis atau flat back
b. Tes cepat :
 Otawa Ankle rule
 Gerak squat and bouncing terasa nyeri pada saat
bouncing
c. Tes gerak aktif : Nyeri kea rah inverse
d. Tes gerak pasif :
3. Pemeriksaan Fisik
 Nyeri pada sisi kontra lateral dari arah gerakan
 Keterbatasan gerak searah nyeri
e. Tes gerak isometric : gerak isometric negative atau kadang
nyeri
f. Tes khusus :
 Drawer sign positif
 Palpasi pada daerah nyeri
4. Penegakkan a. Activity Limitation : Adanya gangguan berlari, loncat,
Diagnosa kemampuan berjalan, keseimbangan, kontrol gerak
b. Body Structure and body function : Nyeri, oedema

1
c. Participation reastriction : Tidak dapat melakukan olahraga
dengan maksimal
d. Diagnose berdasarkan ICF : Adanya gangguan stability ankle,
adanya ketidakmampuan melakukan kordinasi gerakan ankle
Rencana Penatalaksanaan
a. Tujuan
 Mencegah malaligment
 Meningkatkan movement coordination
 Meningkatkan stabilisasi ankle
 Meningkatkan kemampuan ankle
b. Prinsip Terapi
5. Tata laksana
 Istirahat
 Aktivasi otot-otot stabilisasi
 Meningkatkan kemampuan fungsional
c. Konseling-Edukasi
 Latihan keseimbangan
 Latihan aktivitaas fungsional
d. Criteria Rujukan : Dokter, Fisioterapis
Pada umumnya sprain ankle dapat sembuh tanpa komplikasi dan
6. Prognosis
pasien dapat kembali beraktivitas sebagaimana biasanya.
7. Sarana Prasarana Wobble board, elastic bandage, taping, tera band
Nasution, Habib. Rika melianita. 2006. Pengaruh Penambahan
Terapi Ultra Sonik pada Intervensi Mwd Terhadap Penurunan
8. Kepustakaan Nyeri Akibat Sprain Ankle. avalaible at :
ejurnal.esaunggul.ac.id/index.php/Fisio/article/download/589/552
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20926721

PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)


FISIOTERAPI 2017
SHIN SPLINTS (TIBIAL STRESS SYNDROME)
1. Pengertian Shin splints adalah peradangan pada otot, tendon, dan jaringan
(Definisi) tulang di sekitar tibia akibat overuse dan cedera berulang pada
daerah postero medial dan antero medial. Nyeri biasanya terjadi
di sepanjang perbatasan bagian dalam tibia, di mana otot

2
melekat ke tulang.
Pasien mengeluh nyeri pada bagian distal dan posteromedial
2. Anamnesis tibia setelah melakukan hobinya dalam olahraga berlari. Keluhan
terjadi tanpa penyebab yang jelas
a. Inspeksi : Lumbale lordosis atau flat back
b. Tes cepat : Tidak ada tanda yang jelas
c. Tes gerak aktif : Nyeri terutama pada gerakan dorsal fleksi
ankle
3. Pemeriksaan Fisik d. Tes gerak pasif : Nyeri pasif ke arah plantar fleksi
e. Tes gerak isometric : Gerak isometric nyeri pada saat dorsal
fleksi
f. Tes khusus : Palpasi pada perios tibia ada nyeri dan high
tension
a. Activity Limitation : Berjalan, berlari
b. Body Structure and body function : Poor endurance, pain
c. Participation restriction : Tidak dapat melakukan olahraga
4. Penegakkan yang mencakup berdiri terlalu lama
Diagnosa e. Diagnosa berdasarkan ICF : Adanya gangguan stability ankle,
adanya ketidakmampuan melakukan lari dalam batas waktu
lebih lama

Rencana Penatalaksanaan
a. Tujuan : Menghilangkan/ mengurangi nyeri, pencapaian
normal ROM, adaptasi anatomi dan hipertropi otot,
berjalan dan berlari dengan seimbang.
b. Prinsip Terapi
5. Tata laksana  Stretching
 Penguatan pada invertors and evertors dari calf
c. Konseling-Edukasi
 Menjelaskan pencegahan dan kontra indikasi
 Menjelaskan dan merencanakan program dengan pasien
d. Criteria Rujukan : Dokter, Fisioterapis
Prognosis pada shin splint tergantung dari jenis dan berat
6. Prognosis ringannya gejala yang terjadi, selama fase istirahat pasien akan
mengalami pemulihan

3
7. Sarana Prasarana Bed, ice, taping
Woon, Colin 2014. Tibial Stress Syndrome (Shin Splints).
8. Kepustakaan Available at : http://www.orthobullets.com/sports/3108/tibial-
stress-syndrome-shin-splints

4
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
FISIOTERAPI 2017
TENNIS ELBOW
1. Pengertian Tennis elbow timbul karena adanya injuri pada tenno
(Definisi) periosteal yang menimbulkan inflamasi akibat trauma atau
pekerjaan atau aktivitas atau kegiatan yang melibatkan tangan dan
pergelangan tangan secara berlebihan. Umumnya pekerjaan atau
olahraga yang menyebabkan injuri pada ekstensor karpi radialis
brevis, tennis elbow ditandai nyeri siku yang terjadi ketika
ekstensi pergelangan tangan dengan posisi pronasi atau supinasi.
Klien dengan keluhan nyeri pada siku sisi lateral , nyeri
meningkat saat mengangkat beban pada posisi dorsal fleksi, nyeri
2. Anamnesis
akan bertambah setelah beraktivitas terutama dengan gerakan
menggenggam yang kuat.
a. Inspeksi : Tidak tampak kelainan
b. Tes cepat : Gerak ekstensi nyeri
c. Tes gerak pasif : Nyeri dan ROM terbatas dengan firm end
feel, sering terasa crepitasi ke arah dorsal fleksi
3. Pemeriksaan Fisik d. Tes gerak isometric : Gerak isometric nyeri kea rah dorsal
fleksi
e. Tes khusus :
 Palpasi nyeri sekitar epicondilus lateralis
 Mills Manipulation nyeri
a. Activity Limitation : Adanya gangguan menggenggam dan
mengangkat barang
b. Body Structure and body function : Inflamasi, thigtness
4. Penegakkan c. Participation restriction : Tidak dapat bermain tennis/ bulu
Diagnosa tangkis dengan teman-temannya
d. Diagnosa berdasarkan ICF : Penurunan kekuatan otot, nyeri
pada saat mengangkat barang, menggapai benda, keterbatasan
dalam olahraga seperti melempar, badminton, tenis.
5. Tata laksana Rencana Penatalaksanaan
a. Tujuan : Menghilangkan/ mengurangi nyeri dan kaku,

5
pencapaian normal ROM, elastisitas otot, adaptasi anatom
terutama pada stabilisasi.
b. Prinsip terapi:
 Eliminasi nyeri
 Meningkatkan kemampuan aktivasi stabilisasi otot
 Meningkatkan kemampuan functional
c. Konseling-edukasi :
 Menjelaskan pencegahan dan kontra indikasi
 Menjelaskan dan merencanakan program dengan pasien
d. Kriteria Rujukan : Fisioterapi
Tenis elbow yang tidak ditangani akan berlangsung hingga 6
6. Prognosis
bulan sampai 2 tahun dan rentan terhadap kekambuhan.
7. Sarana Prasarana Tennis elbow brace
Miller, John. 2015. Tennis Elbow. Available at :
http://physioworks.com.au/injuries-conditions-1/tennis-
elbowSanders TL Jr. Et al. 2015. The epidemiology and health
8. Kepustakaan
care burden of tennis elbow: a population-based study. Availabe at
:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/25656546

6
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
FISIOTERAPI 2017
SPRAIN ANTERIOR CRUCIATE LIGAMENT (ACL)
1. Pengertian Sprain ACL injury adalah robek hingga putusnya jaringan
(Definisi) ligament anterior cruciate ligament pada sendi lutut yang
menghubungkan tulang tibia dengan tulang femur. ACL adalah
salah satu ligament pada sendi lutut yang sering bermasalah pada
para pemain olahraga yang menggunakan kaki sebagai tumpuan
utama dalam permainannya, contohnya sepak bola, basket,
taekwondo dan lain-lain.
Atlet tiba-tiba berhenti, memotong atau loncat, terjadi trauma
hiperekstensi dan rotasi dan terdengar suara pop sound lalu si atlet
2. Anamnesis tidak dapat melanjutkan olah raga saat itu dan beberapa jam
kemudian terjadi bengkak pada lutut. Bila dilakukan berjalan
terasa adanya giving way
a. Inspeksi : Bengkak pada lutut
b. Tes cepat : Squat ada giving way
c. Tes gerak aktif : Nyeri dan kaku pada saat fleksi lutut
d. Tes gerak pasif : Nyeri dan ROM terbatas dengan firm end
feel, Keterbatasan gerak dalam capsular pattern
3. Pemeriksaan Fisik
e. Tes gerak isometric : Gerak isometric negative
f. Tes khusus :
 Lachman Test
 Anterior drawer test
 Pivot shift test
4. Pemeriksaan X-Ray, MRI
Penunjang
5. Penegakkan a. Activity limitation : Adanya gangguan keseimbangan saat
Diagnosa berjalan, berlari
b. Body structure and body function
 Joint line tenderness
 Bengkak, nyeri
 Instabilitas

7
c. Participation restriction : Tidak dapat melakukan olahraga
yang mencakup berlari dan koordinasi, ibadah
d. Diagnosa berdasarkan ICF : Adanya gangguan stability,
adanya gangguan koordinasi gerak.
Rencana Penatalaksanaan
a. Tujuan : Menghilangkan/ mengurangi nyeri dan bengkak,
pencapaian normal ROM, adaptasi anatomi dan hipertropi
otot, linear dan lateral stabilisasi, berjalan dan berlari dengan
seimbang, drill untuk kembali ke olah raga.
b. Prinsip terapi:
 Eliminasi nyeri dan bengkak
6. Tata laksana
 Meningkatkan aktif ROM (cascio et al 2004)
 Functional Strengthening (Gale and Richdmon 2006, Mc
carthy and bach 2005)
c. Konseling-edukasi :
 Menjelaskan pencegahan dan kontra indikasi
 Menjelaskan dan merencanakan program dengan pasien
d. Kriteria rujukan : Dokter ortopedi, Fisioterapi
Pada cedera ACL bisa dilakukan non operative treatment jika
keadaan dengan indikasi tua dan sedentary dilakukan modifikasi
7. Prognosis aktivitas sehingga mengurangi gejala-gejala yang ditimbulkan,
namun rekonstruksi acl sangat diperlukan pada atlet dan penuh
aktivitas.
8. Sarana Prasarana Bed, wobel board, ball, cone, box jump
Bernard R.Bach J, T.Provencher M: ACL Surgery: SLACK
Incorporated, 2010, pp 39-54.
H.Fu F, B.Cohen S: Current Concept in ACL Reconstruction:
SLACK Incorporated, 2008, pp 21-61.Available at :
http://orthopaeditrauma.blogspot.co.id/2015/12/cidera-lutut-
9. Kepustakaan
anterior-cruciate-ligament.html
David S, Logerstedt. Et al. Knee Stability and Movement
Coordination Impairments: Knee Ligament Sprain. 2011.
Available at
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3158982/

8
9
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
FISIOTERAPI 2017
SPRAIN MEDIAL COLLATERAL LIGAMENT (MCL)
1. Pengertian Sprain Medial Collateral Ligament (MCL) adalah robekan atau
(Definisi) putusnya ligamen pada bagian medial (dalam) aspek lutut. Bagian
dalam dari ligamentum ini melekat pada meniskus medial dan
garis lurus dengan tibialis, MCL bertindak untuk membatasi
pemisahan berlebihan dalam sendi lutut, agar tidak valgus
Atlet terjatuh dengan posisi kaki valgus/ lateral, terjadi trauma
2. Anamnesis benturan pada tibia lalu si atlet tidak dapat melanjutkan olah raga
saat itu. Pada waktu berjalan terasa lutut bergoyang
a. Tes Gerak Fungsi dasar : Gerakan ekstensi, fleksi dan
external, internal rotasi, valgus semua dalam batas normal
3. Pemeriksaan Fisik b. Tes khusus
 Valgus stress test (Jacobson KE et al, 2011)
 Palpasi pada sisi medial lutut nyeri dan trimgling
4. Pemeriksaan
X-Ray, MRI
Penunjang
a. Activity limitation : Adanya gangguan keseimbangan saat
berjalan, berlari, loncat
b. Body structure and body function
 Joint line tenderness
5. Penegakkan  Bengkak, nyeri
Diagnosa  Instabilitas kea rah valgus
c. Participation restriction: Tidak dapat melakukan olahraga
yang mencakup berlari dan koordinasi,rekreasi, ibadah
d. Diagnosa berdasarkan ICF : Adanya gangguan stability,
adanya gangguan koordinasi gerak.
6. Tata laksana Rencana Penatalaksanaan
a. Tujuan : Menghilangkan/ mengurangi nyeri dan bengkak,
pencapaian normal ROM, adaptasi anatomi dan hipertropi
otot, linear dan lateral stabilisasi, berjalan dan berlari dengan
seimbang, drill untuk kembali ke olah raga.

10
b. Prinsip Terapi :
 Eliminasi nyeri dan bengkak
 Meningkatkan aktif ROM
 Functional Strengthening
c. Konseling-Edukasi :
 Menjelaskan pencegahan dan kontra indikasi
 Menjelaskan dan merencanakan program dengan pasien
d. Criteria Rujukan : Dokter Orthopedi
Pada cedera MCL bisa dilakukan non operative treatment jika
keadaan dengan indikasi tua dan sedentary dilakukan modifikasi
7. Prognosis aktivitas sehingga mengurangi gejala-gejala yang ditimbulkan,
namun rekonstruksi MCL sangat diperlukan pada atlet dan penuh
aktivitas.
8. Sarana Prasarana Knee bracing, Bed, wobel board, ball, cone, box jump
Bernard R.Bach J, T.Provencher M: ACL Surgery: SLACK
Incorporated, 2010, pp 39-54.
H.Fu F, B.Cohen S: Current Concept in ACL Reconstruction:
SLACK Incorporated, 2008, pp 21-61.Available at :
http://orthopaeditrauma.blogspot.co.id/2015/12/cidera-lutut-
anterior-cruciate-ligament.html
9. Kepustakaan
David S, Logerstedt. Et al. Knee Stability and Movement
Coordination Impairments: Knee Ligament Sprain. 2011.
Available at
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3158982/
bestpractice.bmj.com/best-
practice/monograph/828/basics/epidemiology.html

PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)


FISIOTERAPI 2017
JUMPER’S KNEE (TENDINITIS PATELLARIS)
1. Pengertian Jumper’s knee / Tendinitis patellaris adalah peradangan pada
(Definisi) tendon patella yang disebabkan penggunaan tendon yang berlebih
selama beraktivitas. Kontraksi otot yang berulang dapat
menyebabkan ketegangan tendon sehingga tendon mengalami

11
peradangan (Darrow, 2002).
Pasien datang dan mengeluhkan nyeri pada lutut sisi depan bagian
bawah, nyeri diam saat pasien dalam posisi berdiri, nyeri tekan
2. Anamnesis pada tendon patella, nyeri gerak saat berjalan dan naik tangga,
Nyeri hilang setelah beraktifitas. Nyeri meningkat ketika
melompat
a. Nyeri pada saat tes isometric ke arah ekstensi
3. Pemeriksaan Fisik
b. Palpasi nyeri tekan pada infra patella
4. Pemeriksaan
X-Ray, MRI
Penunjang
a. Activity limitation : Adanya nyeri saat berlari, melompat,
menendang
b. Body structure and body function
 Nyeri
 Quadriceps inaktif
5. Penegakkan c. Participation restriction : Tidak dapat melakukan olahraga
Diagnosa yang mencakup berlari, melompat dan menendang
d. Diagnosa berdasarkan ICF :
 Adanya nyeri saat berlari, meloncat dan menendang.
adanya gangguan koordinasi gerak.
 Nyeri pada bagian lutut sisi depan bagian bawah,
penurunan LGS, serta penurunan kemampuan fungsional.
Rencana Penatalaksanaan
a. Tujuan : Menghilangkan/ mengurangi nyeri, pencapaian
normal ROM, adaptasi anatomi dan hipertropi otot,
stabilisasi, berjalan dan berlari dengan seimbang, latihan drill
untuk kembali ke olah raga.
b. Prinsip Terapi :

6. Tata laksana  Eliminasi nyeri


 Functional Strengthening
 Latihan eksentrik
c. Konseling-Edukasi :
 Menjelaskan pencegahan dan kontra indikasi
 Menjelaskan dan merencanakan program dengan pasien
d. Criteria Rujukan : Dokter ortopedi, Fisioterapi
12
Pada atlet dengan jumper‘s knee akan terus
7. Prognosis mengalami gejala ringan berkepanjangan setelah
karir atletiknya.
8. Sarana Prasarana Taping, Es, Bola, wobble board
Darrow, Marc. 2002. The knee sourcebook. Amarika: McGrew-
Hill Companies. NVvP. Artsenwijzer podotherapie, Jumper‘s
knee, Amersfoort 2004. Available at :
http://www.podotherapiezeeland.nl/files/podomedics/patholo
gieen_podowijzer_maart_20 15/jumpers_knee.pdf
9. Kepustakaan
David S. Logerstedt, et al. 2011. Knee Stability and
Movement Coordination Impairments: Knee Ligament
Sprain.
Available at :
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3158982/

13
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
FISIOTERAPI 2017
CONDROMALACIE PATELLA
1. Pengertian Kerusakan pada tulang rawan di bawah tempurung lutut.
(Definisi)
Pasien datang dengan nyeri daerah plutut bagian anterior biasanya
menyebabkan rasa nyeri di bagian lutut, nyeri ini bisa diperparah
2. Anamnesis
ketika berjalan naik atau turun tangga, berlutut atau jongkok,
duduk dengan lutut ditekuk untuk jangka waktu yang lama.
a. Tes gerak pasif fleksi ekstensi ROM normal
b. Kompresi tes patella nyeri
3. Pemeriksaan Fisik c. Palpasi nyeri pada medial patella
d. Tes otot kelemahan pada Vastus medialis oblique
e. Antropometri ada atropi quadriceps
a. Activity limitation : Nyeri saat berjalan, naik tangga, jongkok
duduk dengan kaki ditekuk
b. Body structure and body function
 Mal alignment gerak patella
4. Penegakkan
 Nyeri lutut depan
Diagnosa
 Knee deformity
c. Participation restriction : Olahraga, bekerja,rekreasi
d. Diagnosa berdasarkan ICF : Nyeri pada sendi anggota gerak
bagian bawah dan gangguan gerak, nyeri pada satu sendi
5. Tata laksana Rencana Penatalaksanaan
a. Tujuan : Meningkatkan kemampuan fungsional
b. Prinsip Terapi :
 Meningkatkan kekuatan otot-otot sekitar lutut akan
mengurangi tekanan pada lutut
 Memperbaiki aligment lutut
 Mengurangi nyeri
f. Konseling-Edukasi : Mengajarkan anda bisa diajarkan untuk
melakukan latihan yang memperkuat bagian dalam otot paha
depan bagian dalam

14
g. Kriteria Rujukan : Dokter, Fisioterapi
Chondromalacia dilihat sebagai cedera akibat berlebihan dalam
6. Prognosis olahraga dan memutuskan untuk istirahat dari pelatihan dapat
menghasilkan hasil yang baik.
Kim, Steven. 2016. Chondromalacia
Available at :
http://www.healthline.com/health/chondromalacia-
7. Kepustakaan patella#Treatment6
Dian Mardhiyah, 2011 ―nyeri lutut‖. available at
http://indonesia.digitaljournals.org/index.php/idnme
d/article/download/667/664

15
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
FISIOTERAPI 2017
MENISCUS TEARS
1. Pengertian Robekan pada meniscus karena gerakan fleksi, rotasi, lutut
(Definisi) terkunci
2. Anamnesis Pasien datang dengan cedera pada area lutut insiden terjadi pada
aktivitas olahraga dimana posisi lutut terpelintir dan sedikit
menekuk. Pada sata jalan sering terasa lutut terkunci
a. Tes gerak pasif terbatas pola kapsuler dan nyeri
3. Pemeriksaan Fisik
b. Tes isometric tidak ada keluhan
4. Pemeriksaan
X-Ray, MRI
Penunjang
a. Activity limitation : Nyeri fleksi maupun ekstensi, naik
tangga
b. Body structure and body function
5. Penegakkan  Nyeri
Diagnosa  Gangguan mobilisasi
c. Participation restriction : Olahraga, bekerja
d. Diagnosa berdasarkan ICF : Adanya nyeri sekitar sendi,
mobilitas single joint terbatas, gait pattern fuction
Rencana Penatalaksanaan
a. Tujuan : Meningkatkan kemampuan stabilisasi kaki dan
penguatan kaki yang lemah
b. Prinsip Terapi :
6. Tata laksana  Stabilisasi
 Strengthening
c. Konseling-Edukasi : Mengajarkan latihan strengthening,
manipulasi meniscus
d. Criteria Rujukan : Dokter, Fisioterapi
Meniscus dibagi menjadi dua area berdasarkan cara
penyembuhannya, dalam dunia medis disebut RED zone dan
7. Prognosis White zone. Pada red zone terdapat aliran darah yang mensuplay
makannan sedangkan white zone tidak ada, jadi meniscus pada
white zone tidak bisa sembuh secara alami (harus operasi).

16
8. Sarana Prasarana Knee, Support, Taping
Logerstedt, David S. 2010. Knee Pain and Mobility
Impairments: Meniscal and Articular Cartilage Lesions.
9. Kepustakaan Journal Orthop Sports PT.
Available at :
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3204363/

17
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
FISIOTERAPI 2017
ITERNAL IMPINGEMENT
1. Pengertian Abnormal kontak antara permukaan bawah rotator cuff dan sisi
(Definisi) posterosuperior glenoid, mengakibatkan robekan dari rotator cuff
dan labrum posterosuperior karena gerakan melempar posisi 90o
abduksi dan maximum external rotasi (McMahon PJ, OKU08,
2005).
Atlet baseball datang dengan mengeluh sakit dalam waktu yang
2. Anamnesis cukup lama di bagian belakang bahu, terutama ketika bahu adduksi
dan eksternal rotasi.
a. Tes cepat
 Painful Arc 600
 Internal rotation resistance
b. Tes gerak fungsi
 Pasif ada keterbatasan gerak pola capsuler
 Aktif nyeri pada gerak abduksi (Supraspinatus), Internal
rotasi (Subscapularis), Eksternal rotasi (Infraspinatus),
Fleksi siku (Biceps caput longum)
3. Pemeriksaan Fisik
 Palpasi nyeri pada bagian tertentu
c. Tes khusus
 Flexibility test
 Active compression test
 Jobe’s test
 Gross strength testing
 Apprehension test

4. Pemeriksaan
Ultrasound, MRI
Penunjang
5. Penegakkan a. Activity limitation : Memakai baju, mengangkat barang
Diagnosa b. Body structure and body function
 Nyeri
 Weakness

18
 Limitasi ROM
c. Participation restriction : Bekerja, olahraga
d. Diagnosa berdasarkan ICF : ROM terbatas saat internal rotasi
dan abduksi, nyeri pada rentang akhir gerakan aktif dan pasif,
nyeri dengan palpasi, penurunan fungsi shoulder, nyeri saat
berolahraga.
Rencana Penatalaksanaan
a. Tujuan :
 Mengurangi/ menghilangkan nyeri
 Meningkatkan ROM
 Mengembalikan kemampuan fungsional
b. Prinsip Terapi :
 Manual terapi traksi caudal
6. Tata laksana  US dan Friction
 Eccentric exercises
 Isometric exercise
 Latihan penguatan
 Latihan stabilisasi
c. Edukasi : Memberikan edukasi treatment pada pasien
terhadap indikasi dan kontra indikasi
d. Criteria Rujukan : Dokter, Fisioterapi
Baik-buruk tergaqntung tingkat injury yang diderita, Biasanya bisa
7. Prognosis kembali bermain dalam waktu tiga bulan dalam penanganan yang
tepat.
8. Kepustakaan http://eorif.com/internal-impingement-m75100-72610
Geier, David. 2011. Internal impingement of the
shoulder. Available at:
http://www.drdavidgeier.com/internal-
impingement-of-the-shoulder/
Burkhart S, Morgan C, Kibler B. The Disabled Throwing
Shoulder: Spectrum of Pathology Part I: Pathoanatomy and
Biomechanics. Journal of Arthroscopic and Related Surgery.
(2003)
Heyworth B, Williams R. Internal Impingement of the Shoulder.

19
The American Journal of Sports Medicine. (2009)

20
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
FISIOTERAPI 2017
RECTUS FEMORIS RUPTURE
1. Pengertian Ada onset akut nyeri dari robek tajam di paha anterior proksimal
(Definisi) atau menuju ujung iliac anterior selama aktivitas. Cedera ini sering
terjadi selama aktivitas intens dalam olahraga seperti tenis, squash
atau berlari dan olahraga melompat, ini biasanya putusnya
sebagian insersi atau massal pada otot proksimal rectus femoris
setelah ekstensi hip berlebihan atau kontraksi eksentrik dari
mendarat atau landing.
Pasien datang dengan kelemahan dan nyeri pada bagian paha
2. Anamnesis
depan.
a. Inspeksi : Assymetri ukuran volume paha
b. Tes gerak fungsi

3. Pemeriksaan Fisik  Isometrik tes nyeri ke arah fleksi lutut


 Pasif nyeri ke arah ekstensi dengan spriny end feel
c. Tes khusus
 Ely’s test
4. Pemeriksaan
Ultra sound muscle, MRI
Penunjang
a. Activity limitation : Nyeri saat jalan, aktivitas
b. Body structure and body function
 Nyeri
 Weakness
5. Penegakkan  Swelling
Diagnosa c. Participation restriction : Bekerja, olahraga
d. Diagnosa berdasarkan ICF : Adanya kekakuan, nyeri,
instability, voluntary movement, nyeri saat jalan, berlari,
meloncat, dan olahraga.
6. Tata laksana Rencana Penatalaksanaan
a. Tujuan :
 Mengurangi/ menghilangkan nyeri
 Mengembalikan kemampuan fungsional
b. Prinsip Terapi :
 RICE

21
 Eccentric exercises
 Latihan penguatan
 Latihan stabilisasi
c. Edukasi : Memberikan edukasi treatment pada pasien
terhadap indikasi dan kontra indikasi
d. Criteria Rujukan : Dokter, Fisioterapi
7. Prognosis Pada penanganan yang tepat pemulihan lebih cepat.
Rolf, Christer. 2007. The Sports Injuries Handbook, Diagnosis and
Management. London. A & C Black Publishers Ltd.
Kary, Joel M. "Diagnosis and management of quadriceps strains
8. Kepustakaan
and contusions." Current reviews in musculoskeletal medicine
3.1-4 (2010)
Garrett WE. Muscle strain injuries. Am J Sports Med. 1996

22

Anda mungkin juga menyukai