Anda di halaman 1dari 18

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny.

G3P2A0 H-38 MINGGU DENGAN KETUBAN PECAH DINI

DI RUANG BERSALIN RSUD Dr.SOEDIRMAN KEBUMEN

DI SUSUN OLEH :

1. Ajeng Budi Hartini (A01502011)


2. Akhmad Yuli Mulyanto (A01502012)
3. Desti Pretty Nurazah Aziz (A01502038)
4. Devi Retno Pangesti (A01502039)
5. Endra Wahyuni (A01502050)

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH GOMBONG

TAHUN 2018
LAPORAN PENDAHULUAN PERSALINAN NORMAL

DENGAN INDIKASI KETUBAN PECAH DINI (KPD)

A. Definisi
1. Persalinan

Persalinan adalah suatu proses yang dimulai dengan adanya kontraksi


uterus yang menyebabkan terjadinya dilatasi progresif dan serviks, kelahiran
bayi dan kelahiran plasenta dan proses tersebut merupakan proses alamiah.
(Rohani, dkk. 2011. Asuhan Kebidanan Masa Persalinan) Persalinan dan
kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan
cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala
yang berlangsung dalam 18 jam tanpa komplikasi baik pada ibu atau janin
(Rohani, dkk. 2011).

2. KPD

Ketuban pecah dini (KPD) adalah keadaan pecahnya selaput ketuban


sebelum persalinan. Bila ketuban pecah dini sebelum usia kehamilan 37
minggu disebut ketuban pecah dini pada kehamilan premature. Dalam keadaan
normal 8 – 10 % wanita hamil aterm akan mengalami ketuban pecah dini
(Prawirohardjo, 2010)

Ketuban pecah dini adalah pecahnya selaput ketuban sebelum adanya


tanda-tanda persalinan. Sebagian besar ketuban pecah dini terjadi diatas 37
minggu kehamilan, sedangkan dibawah 36 minggu tidak terlalu banyak
(Manuaba, 2010).
Ketuban pecah dini (KPD) adalah pecahnya/rupturnya selaput amnion
sebelum dimulainya persalinan yang sebenarnya atau pecahnya selaput
amnion sebelum usia kehamilannya mencapai 37 minggu dengan atau tanpa
kontraksi (mitayani,2011.buku keperawatan maternitas,hal:74)
Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa
Ketuban pecah dini adalah pecah/rupturnya selaput amnion sebelum
dimulainya persalinan, dan sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu,
dengan kontraksi atau tanpa kontraksi.

B. ETIOLOGI
Ketuban pecah dini disebabkan oleh kurangnya kekuatan membrane atau
meningkatnya tekanan intra uterin. (Prawirohardjo, 2010).
Adapun yang menjadi faktor resiko terjadinya ketuban pecah dini adalah :
(Prawirohardjo, 2010)
a. Infeksi (amnionitis atau korioamnionitis)
Korioamnionitis adalah keadaan pada ibu hamil dimana korion, amnion
dan cairan ketuban terkena infeksi bakteri.(Prawirohardjo, 2010).
b. Serviks yang inkompeten
Serviks yang inkompeten, kanalis servikalis yang selalu terbuka oleh
karena kelainan pada serviks uteri (akibat persalinan, curettage). Serviks yang
tidak lagi mengalami kontraksi (inkompetensia), didasarkan pada adanya
ketidakmampuan serviks uteri untuk mempertahankan kehamilan.
Inkompetensi serviks sering menyebabkan kehilangan kehamilan pada
trimester kedua.(Prawirohardjo, 2010
c. Trauma
Trauma juga diyakini berkaitan dengan terjadinya ketuban pecah dini.
Trauma yang didapat misalnya hubungan seksual saat hamil baik dari
frekuensi yang ≥4 kali seminggu, posisi koitus yaitu suami diatas dan
penetrasi penis yang sangat dalam sebesar 37,50% memicu terjadinya ketuban
pecah dini, pemeriksaan dalam, maupun amnosintesis dapat menyebabkan
terjadinya ketuban pecah dini karena biasanya disertai infeksi (Prawirohardjo,
2010).
d. Ketegangan intra uterin
Perubahan volume cairan amnion diketahui berhubungan erat dengan hasil
akhir kehamilan yang kurang bagus. Ketegangan intra uterin yang meninggi
atau meningkat secara berlebihan (overdistensi uterus) misalnya trauma,
hidramnion, gamelli (Prawirohardjo, 2010).
e. Kelainan letak
Misalnya sungsang sehingga tidak ada bagian terendah yang menutupi
pintu atas panggul serta dapat menghalangi tekanan terhadap membran bagian
bawah (Prawirohardjo, 2010).
f. Paritas
Faktor paritas, terbagi menjadi primipara dan multipara. Primipara adalah
wanita yang pernah hamil sekali dengan janin mencapai titik mampu bertahan
hidup.Multipara adalah wanita yang telah beberapa kali mengalami kehamilan
dan melahirkan anak hidup. (Prawirohardjo, 2010).
g. Usia kehamilan
Persalinan preterm terjadi tanpa diketahui penyebab yang jelas, infeksi
diyakini merupakan salah satu penyebab terjadinya KPD dan persalinan
preterm (Prawirohardjo, 2010).
h. Riwayat ketuban pecah dini sebelumnya
Riwayat KPD sebelumnya beresiko 2-4 kali mengalami KPD kembali.
Patogenesis terjadinya ketuban pecah dini secara singkat ialah akibat adanya
penurunan kandungan kolagen dalam membrane sehingga memicu terjadinya
ketuban pecah dini dan ketuban pecah dini preterm terutama pada pasien
risiko tinggi. (Prawirohardjo, 2010)

C. PATOFISIOLOGI
Mekanisme terjadinya ketuban pecah dini menurut Manuaba(2010) adalah:
Infeksi dan inflamasi dapat menyebabkan ketuban pecah dini dengan
menginduksi kontraksi uterus dan atau kelemahan fokal kulit ketuban. Banyak
mikroorganisme servikovaginal, menghasilkan fosfolipid C yang dapat
meningkatkan konsentrasi secara local asam arakidonat, dan lebih lanjut
menyebabkan pelepasan PGE2 dan PGF2 alfa dan selanjutnya menyebabkan
kontraksi miometrium . Pada infeksi juga dihasilkan produk sekresi akibat
aktivitas monosit/makrofag , yaitu sitokrin, interleukin 1 , factor nekrosis
tumor dan interleukin 6. Platelet activating factor yang diproduksi oleh paru-
paru janin dan ginjal janinyang ditemukan dalam cairan amnion , secara
sinergis juga mengaktifasi pembentukan sitokin. Endotoksin yang masuk
kedalam cairan amnion juga akan merangsang sel-sel disidua untuk
memproduksi sitokin dan kemudian prostaglandin yang menyebabkan
dimulainya persalinan (Manuaba(2010))
Adanya kelemahan local atau perubahan kulit ketuban adalah mekanisme
lain terjadinya ketuban pecah dini akibat infeksi dan inflamasi . Enzim
bacterial dan atau produk host yang disekresikan sebagai respon untuk infeksi
dapat menyebabkan kelemahan dan rupture kulit ketuban .Banyak flora
servikoginal komensal dan patogenik mempunyai kemampuan memproduksi
protease dan kolagenase yang menurunkan kekuatan tenaga kulit
ketuban.Elastase leukosit polimorfonuklear secara spesifik dapat memecah
kolagen tipe III papa manusia, membuktikan bahwa infiltrasi leukosit pada
kulit ketuban yang terjadi karena kolonisasi bakteri atau infeksi dapat
menyebabkan pengurangan kolagen tipe III dan menyebabkan ketuban pecah
dini (Manuaba(2010)).
Enzim hidrolitik lain, termasuk katepsin B, katepsin N, kolagenase yang
dihasilkan netrofil dan makrofag, nampaknya melemahkan kulit ketuban . Sel
inflamasi manusia juga menguraikan aktifator plasminogen yang mengubah
plasminogen menjadi plasmin, potensial, potensial menjasi penyebab ketuban
pecah dini (Manuaba(2010)).
D. PATHWAY
Menurut Manuba (2010)
KETUBAN PECAH
DINI
Masuk Rumah Sakit :
- Antibiotik
- Batasi Pemeriksaan Dalam
- Pemeriksaan Air Ketuban, kultur dan
bakteri
- Observasi tanda infeksi dan distress janin
HAMIL PRETERM (UK <37 MINGGU) HAMIL ATER ATERM (UK >37 MINGGU)

 Observasi :
- Tanda-tanda infeksi KELAINAN OBSTETRI : LETAK KEPALA
- Distress Janin
- Distres Janin
 Kortikostiroid INDIKASI INDUKSI:
- Letak Lintang
 Antibiotik - Infeksi
- Bed obtetic hyst
- Persalinan Obtruktif - Belum dalam
Persalinan
Belum Ada Persalinan Dalam Persalinan

GAGAL :
Terminasi Kehamilan
- Tidak ada kontraksi
- Kelainan letkep
- Fase laten dan aktif dan
memanjang
- DIstres Janin
- Ruptur uteri imminens BERHASIL :
Persalinan
KONSERVATIF : Sectio Saesarea Pervaginam
Pertahankan Kehamilan

Anxietas KALA I KALA II KALA III KALA IV


Fisik Psikologis
Kontraksi Uterus Partus Pelepasan Post
Anxietas
Plasenta Partum
Trauma Jaringan Prosedure Pembedahan
Kelelahan Nyeri Resiko Cedera
Nyeri Maternal
Trauma Jaringan Efek Anestesi

Resiko Infeksi Resiko


Kekurangan
Volume Cairan
E. TANDA DAN GEJALA
Menurut Manuaba (2010), tanda dan gejala pada kehamilan yang
mengalami KPD adalah keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina.
Aroma air ketuban berbau amis dan tidak seperti bau amoniak, mungkin
cairan tersebut masih merembes atau menetes, dengan ciri pucat dan bergaris
warna darah. Cairan ini tidak akan berhenti atau kering karena terus
diproduksi sampai kelahiran. Tetapi bila duduk/berdiri, kepala janin yang
sudah terletak di bawah biasanya mengganjal atau menyumbat kebocoran
untuk sementara. Demam, bercak vagina yang banyak, nyeri perut, denyut
jantung janin bertambah cepat merupakan tanda infeksi yang terjadi.
(Manuaba,2010)

F. KOMPLIKASI
Komplikasi yang terjadi pada KPD meliputi mudah terjadinya infeksi
intra uterin, partus prematur, dan prolaps bagian janin terutama tali pusat
(Manuaba, 2009). Terdapat tiga komplikasi utama yang terjadi pada KPD
yaitu peningkatan morbiditas neonatal oleh karena prematuritas, komplikasi
selama persalinan dan kelahiran, dan resiko infeksi baik pada ibu maupun
janin. Risiko infeksi karena ketuban yang utuh merupakan penghalang
penyebab infeksi (Prawirohardjo, 2010).
Ketuban Pecah Dini yang terjadi terlalu dini menyebabkan
pertumbuhan janin terhambat, kelainan disebabkan kompresi muka dan
anggota badan janin, serta hipoplasi pulmonal. Komplikasi akibat KPD
kepada bayi diantaranya adalah IUFD, asfiksia dan prematuritas. Sedangkan
pada ibu diantaranya adalah partus lama, infeksi intrauterin, atonia uteri,
infeksi nifas, dan perdarahan post partum (Mochtar, 2011).
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.Pemeriksaan laboratorium
Cairan yang bkeluar dari vagina perlu di periksa warna
konsentrasi,baud an PH nya.Cairan yang keluar dari vagina kecuali air
ketuban mungkin juga urine atu secret vagina,Sekret vagina ibu hamil pH
:4,5 dengan kertas nitrazin tidak berubah warna ,tetap kuning .1.a tes
lakmus (tes nitrazin),jika kertas lakmus merah berubah menjadi biru
menunjukkan adanya air ketuban (alkalis).Ph air ketuban 7-7,5 darah dan
infeksi vagina dapat menghaslkan tes yang positif palsu .1b. mikroskop
(tes pakis ),dengan meneteskan air ketuban pada gelas objek dan dibiarkan
kering.Pemeriksaan mikroskopik menunjukkan gambaran daun psikis
(Varney,2012)
2.Pemeriksaan ultrasonografi (USG)
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan ketuban
dalam kavum uteri pada kasus KPD terlihat jumlah cairan ketuban yang
sedikit .Namun sering terjadi kesalahan pada penderita
oligohidroamion.Walaupun pendekatan diagnosis KPD cukup banyak
macam dan caranya ,namun pada umunya KPD sudah bisa terdiagnosis
dengan anamnesa dan pemeriksaan sederhana.(buku asuhan patologi
kebidanan,sujiyatini,2011,hal:16-17)
3.Pemeriksaan CTG / Kesejahteraan Janin
Cardiotokografi adalah suatu metoda elektronik untuk memantau
kesejahteraan janin dalam kehamilan dan atau dalam persalinan. Hal yang
dinilai adalah gambaran denyut jantung janin (djj) dalam hubungannya
dengan gerakan atau aktivitas janin. Pada janin sehat yang bergerak aktif
dapat dilihat peningkatan frekuensi denyut jantung janin. Sebaliknya, bila
janin kurang baik, pergerakan bayi tidak diikuti oleh peningkatan
frekuensi denyut jantung janin (Friskasari dkk,2013)
H. PENATALAKSANAAN
a. Konservatif
Penatalaksanaan KPD menurut Nugroho (2012; h. 117) adalah sebagai
berikut :
- Rawat dirumah sakit.
- Beri antibiotika : bila ketuban pecah > 6 jam berupa Ampisilin 4×500
mg atau Gentamycin 1×80 mg.
- Umur kehamilan < 32-34 minggu : dirawat salama air ketuban masih
keluar atau sampai air ketuban tidak keluar lagi.
- Bila usia kehamilan masih 32-34 minggu, masih keluar air ketuban,
maka usia kehamilan 35 minggu perlu dipertimbangkan untuk
terminasi kehamilan (hal tergantung pada kemampuan perawatan bayi
premature).
- Nilai tanda-tanda infeksi (suhu, lekosit, tanda-tanda infeksi
intrauterine).
- Pada usia kehamilan 32-34 mingggu, berikan steroid untuk
kematangan paru-paru janin.
b. Pervaginam
- Kehamilan > 35 minggu : induksi oksitosin, bila gagal dilakukan
seksio sesaria
Cara induksi : 1 ampul syntosinon dalam dextrose 5%, dimulai 4
tetes/menit, tiap ¼ jam dinaikan 4 tetes/menit sampai maksimum 40
tetes/menit
- Pada keadaan CPD, letak lintang dilakukan seksio sesarea
- Bila ada tanda-tanda infeksi : beri antibiotka dosis tinggi dan
persalinan diakhiri.
- Kehamilan > 37 minggu, induksi dengan oksitosin. Bila gagal seksio
sesarea. Dapat pula diberikan misoprostol 25µg – 50µg intravaginal
tiap 6 jam maksimal 4 kali (Prawirohardjo, 2009; h. 680).
- Bila skor pelvic < 5, lakukan pematangan serviks, kemudian induksi.
Jika tidak berhasil, akhiri persalinan dengan seksio sesarea. Bila skor
pelvic > 5, induksi persalinan (Prawirohardjo, 2012; h. 680).
c. Sectio Saesarea
- Penatalaksanaan ketuban pecah dini tergantung pada umur kehamilan
dan tanda infeksi intrauterin.
- Pada umumnya lebih baik untuk membawa semua pasien dengan KPD
ke RS dan melahirkan bayi yang berumur > 37 minggu dalam 24 jam
dari pecahnya ketuban untuk memperkecil resiko infeksi intrauterin.
- Tindakan konservatif (mempertahankan kehamilan) diantaranya
pemberian antibiotik dan cegah infeksi (tidak melakukan pemeriksaan
dalam), tokolisis, pematangan paru, amnioinfusi, epitelisasi (vit C dan
trace element, masih kontroversi), fetal and maternal monitoring
- Tindakan aktif (terminasi/mengakhiri kehamilan) yaitu dengan sectio
caesarea (SC) atau pun partus pervaginam.
- Untuk usia kehamilan <37 minggu dilakukan penanganan konservatif
dengan mempertahankan kehamilan sampai usia kehamilan matur.
- Untuk usia kehamilan 37 minggu atau lebih lakukan terminasi dan
pemberian profilaksis streptokokkus grup B. Untuk kehamilan 34-36
minggu lakukan penatalaksanaan sama halnya dengan aterm
- Untuk usia kehamilan 32-33 minggu lengkap lakukan tindakan
konservatif/expectant management kecuali jika paru-paru sudah matur
(maka perlu dilakukan tes pematangan paru), profilaksis streptokokkus
grup B, pemberian kortikosteroid (belum ada konsensus namun
direkomendasikan oleh para ahli), pemberian antibiotik selama fase
laten.
- Untuk previable preterm (usia kehamilan 24-31 minggu lengkap)
lakukan tindakan konservatif, pemberian profilaksis streptokokkus
grup B, single-course kortikosteroid, tokolisis (belum ada konsensus)
dan pemberian antibiotik selama fase laten (jika tidak ada
kontraindikasi)
- Untuk non viable preterm (usia kehamilan <24 minggu), lakukan
koseling pasien dan keluarga, lakukan tindakan konservatif atau
induksi persalinan, tidak direkomendasikan profilaksis streptokokkus
grup B dan kortikosteroid, pemberian antibiotik tidak dianjurkan
karena belum ada data untuk pemberian yang lama)
- Rekomendasi klinik untuk PROM, yaitu pemberian antibiotik karena
periode fase laten yang panjang, kortikosteroid harus diberikan antara
24-32 minggu (untuk mencegah terjadinya resiko perdarahan
intraventrikuler, respiratory distress syndrome dan necrotizing
examinations),tidak boleh dilakukan digital cervical examinations jadi
pilihannya adalah dengan spekulum, tokolisis untuk jangka waktu
yang lama tidak diindikasikan sedangkan untuk jangka pendek dapat
dipertimbangkan untuk memungkinkan pemberian kortikosteroid,
antibiotik dan transportasi maternal, pemberian kortikosteroid setelah
34 minggu dan pemberian multiple course tidak direkomendasikan
- Pematangan paru dilakukan dengan pemberian kortikosteroid yaitu
deksametason 2×6 mg (2 hari) atau betametason 1×12 mg (2 hari)
- Agentokolisis yaitu B2 agonis (terbutalin, ritodrine), calsium antagonis
(nifedipine), prostaglandin sintase inhibitor (indometasin), magnesium
sulfat, oksitosin antagonis (atosiban)
- Tindakan epitelisasi masih kotroversial, walaupun vitamin C dan trace
element terbukti berhubungan dengan terjadinya ketuban pecah
terutama dalam metabolisme kolagen untuk maintenance integritas
membran korio-amniotik, namun tidak terbukti menimbulkan
epitelisasi lagi setelah terjadi PROM
- Tindakan terminasi dilakukan jika terdapat tanda-tanda
chorioamnionitis, terdapat tanda-tanda kompresi tali pusat/janin (fetal
distress) dan pertimbangan antara usia kehamilan, lamanya ketuban
pecah dan resiko menunda persalinan
- KPD pada kehamilan < 37 minggu tanpa infeksi, berikan antibiotik
eritromisin 3×250 mg, amoksisillin 3×500 mg dan kortikosteroid
- KPD pada kehamilan > 37 minggu tanpa infeksi (ketuban pecah >6
jam) berikan ampisillin 2×1 gr IV dan penisillin G 4×2 juta IU, jika
serviks matang lakukan induksi persalinan dengan oksitosin, jika
serviks tidak matang lakukan SC
- KPD dengan infeksi (kehamilan <37 ataupun > 37 minggu), berikan
antibiotik ampisillin 4×2 gr IV, gentamisin 5 mg/KgBB, jika serviks
matang lakukan induksi persalinan dengan oksitosin, jika serviks tidak
matang lakukan SC

I. FOKUS PENGKAJIAN
a. Identitas ibu
b. Riwayat penyakit
c. Riwayat kesehatan sekarang ;ibu dating dengan pecahnya ketuban
sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu dengan atau tanpa
komplikasi
d. Riwayat kesehatan dahulu
1. Adanya trauma sebelumnya akibat efek pemeriksaan amnion
2. Sintesi ,pemeriksaan pelvis dan hubungan seksual
3. Infeksi vagiana /serviks oleh kuman sterptokokus
4. Selaput amnion yang lemah/tipis
5. Posisi fetus tidak normal
6. Kelainan pada otot serviks atau genital seperti panjang serviks
yang pendek
7. Multiparitas dan peningkatan usia ibu serta defisiensi nutrisi.
e. Pemeriksaan fisik
1. Kepala dan leher
a) Mata perlu diperiksa dibagian sclera an ikterik,konjungtiva
b) Hidung ,ada atau tidaknya pembebngkakan konka nasalis .Ada
/tidaknya hipersekresi mukosa
c) Mulut :gigi karies/tidak ,mukosa mulut kering dan warna
mukosa gigi,
d) Leher berupa pemeriksaan JVP,KGB Dan tiroid.
2. Dada
a) Troraks
Jantung
I : Inspeksi, tidak tampak ictus cordis.
P : Palpasi, Ictus Cordis teraba di ICS 5.
P : Perkusi, Suara pekak.
A : Auskultasi, S1 dan S2 reguler,
Paru
I : Inspeksi, simtris tidak ada retraksi dinding dada.
P : Palpasi, Tidak ada nyeri tekan.
P : Perkusi, Sonor
A : Auskultasi, Vasikuler.
b) Payudara
Inspeksi : putting susu simetris
Palpasi : belum ada pengeluaran ASI, tidak teraba benjolan
(lesi)
3. Abdomen
Inspeksi : ada/tidak bekas operasi, stiae dan linea
Palpasi :
 Leopold I : Untuk menentukan umur kehamilan serta
bagian tubuh apa yang terdapat didalam fundus uteri.
 Leopod II : Untuk menentukan dimana punggung anak
dan dimana letak bagian-bagian kecil.
 Leopod III : Untuk mengetahui apa yang ada pada
bagian bawah dan bagian bawah sudah terpegang oleh
PAP (Pintu Atas Panggul) besar.
 Leopod IV : Guna menentukan bagian bawah dalam
Rahim dan seberapa masuknya bagian bawah tersebut
ke dalam PAP.
Auskultasi : DJJ ada/tidak
4. Genitalia
1. Inspeksi : kebersihan, ada/tidaknya tanda-tanda REEDA
(Red, Edema, Discharge, Approximately), pengeluaran air
ketuban (jumlah, warna, bau dan lendir darah)
2. Palpasi : VT : portio, pembukaan (0-10), kulit ketuban, air
ketuban (jernih/keruh)
5. Ekstrimitas :edema ,varises ad/tidak.
6. Pemeriksaan diagnostic
1. Hitung darah lengkap untuk menentukan adanya anemia,infeksi
2. Golongan darah dan faktor Rh
3. Rasio lestin terhadap spingomielin (rasio US):menentukan
maturitas janin
4. Tes ferning dan kertas nitrazine:memastikan pecah ketuban
5. Ultrasonografi ;menentukan usia gestasi ,ukuran janin ,gerakan
jantung janin dan lokasi plasenta.
6. Pelvimetri ; identifikasi posisi janin
J. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko infeksi b.d ketuban pecah dini.
2. Gangguan rasa nyaman (Nyeri) berhubungan dengan : kontraksi uterus
/ HIS
3. Cemas (Ansietas) behubungan dengan status kesehatannya (KPD)

K. INTERVENSI KEPERAWATAN
No Diagnose Tujuan dan criteria Intervensi Rasional
keperawatan hasil
1 Resiko infeksi b.d Setelah dilakukan - Kaji tanda-tanda - Untuk mengetahui
ketuban pecah tindakan keperawatan 1 infeksi . tanda-tanda infeksi
dini x 7 jam di harapkan - Pantau keadaan yang muncul.
pasien tidak umum pasien
Untuk melihat
menunjukan tanda-tanda - Bina hubungan
perkembangan
infeksi . dengan criteria saling percaya
kesehatan pasien.
hasil : melalui komunikasi
therapeutic.
Untuk memudahkan
– Tanda-tanda
- Berikan lingkungan
perawat melakukan
infeksi tidak tidak ada.
yang nyaman untuk
tindakan.
pasien.
– Tidak ada lagi
- Kolaborasi dengan Agar istirahat pasien
cairan ketuban yang
dokter untuk terpenuhi.
keluar dari pervaginaan.
memberikan obat
Untuk proses
– DJJ normal antibiotik sesuai
penyembuhan pasien
terapi.
– Leukosit pasien
- Selalu
kembali normal
memperhatikan cuci
tangan bagi petugas,
– Suhu 36-37
keluarga maupun
pasien sebelum dan
sesudah kontak
dengan pasien atau
melakukan tindakan
- Batasi VT/VT
sesuai indikasi

2 Gangguan rasa Setelah dilakukan - Kali tanda-tanda Untuk mengetahui


nyaman (Nyeri) tindakan keperawatan Vital pasien. keadaan umum
berhubungan 1x 7 jam di harapkan - Kaji skala nyeri (1- pasien.
dengan kontraksi nyeri berkurang / nyeri 10)
Untuk mengetahui
uterus / HIS hilang . dengan criteria - Ajarkan pasien
derajat nyeri pasien
hasil : teknik relaksasi
dan menentukan
- Atur posisi pasien
– Tanda-tanda tindakan yang akan
- Berikan lingkungan
vital dalam batas dilakukan.
yang nyaman dan
normal.
batasi pengunjung.
Untuk mengurangi
- Jelaskan Fisiologi
TD :120/80 mm Hg nyeri yang dirasakan
Nyeri Persalinan
pasien.
N : 60-120 X/ menit. pada pasien
Untuk memberikan
– Pasien tampak
rasa nyaman.
tenang/rileks.
Untuk mengurangi
– Pasien
tingkat stress pasien
mengatakan nyeri pada
dan pasien dapat
perut berkurang.
beristirahat.

3 Kecemas Setelah dilakukan - Kaji tingkat Mengetahui


(Ansietas) tindakan keperawatan 1 kecemasan pasien. tingkatan kecemasan
behubungan x 7 jam di harapkan - Jelaskan tentang yang dialami pasien.
dengan status ansietas pasien teratasi. hasil pemeriksaan
kesehatannya dengan criteria hasil : terhadap pasien Untuk mempercepat
(KPD) - Dorong pasien proses penyembuhan
– Pasien tidak
untuk istirahat total.
cemas lagi Untuk memberikan
- Berikan suasana
rasa nyaman dan
yang tenang dan
– Pasien sudah
menurunkan
ajarkan keluarga
mengetahui tentang
kecemasan pasien.
untuk memberikan
penyakit
dukungan
emosional pasien.
- Libatkan keluarga
atau orang terdekat
agar pasien tdk
cemas
DAFTAR PUSTAKA

Errol norwiz,2011, dan Geri morgan ,2009 anatomi dan fisiologi , obsteri dan
ginekologi panduan praktik,Jakarta EGC.

Friskasari dkk.2013.Makalah Cardiotocographi dalam Kebidanan.

Manuaba I.B.G,2010. Gawat Darurat. Obstetri Ginekologi dan Obstetri


Ginekologi Sosial Untuk profesi Bidan. Penerbit Buku Kedokteran, EGC,
Jakarta

Mansjoer, Arif , dkk.2010.Kapita Selekta Kedokteran edisi ketiga jilid I.Jakarta :


Media Aesculapius

Mitayani ,2010,Asuhan Keperawatan Maternitas,Jakarta : Salemba Medika

Prawiharjo Sarwono. 2010. Buku Ajar Keperawatan. Jakarta: Bina Pustaka

Rohani, dkk. 2011. Asuhan Kebidanan Masa Persalinan. Jakarta: Salemba Medika

Sujiyati ,2008,asuhan patologi kebidanan,jakarta ; Numed.

Varney, 2010. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal, Penerbit


Yayasan Bina Pustaka : Jakarta