Anda di halaman 1dari 14

HIPERTENSI

Hipertensi merupakan salah satu faktor resiko utama untuk penyakit jantung koroner, kejadian
stroke, gagal ginjal kronik, dan gagal jantung kongestif. Tujuan pengobatan hipertensi bukan
hanya menurunkan tekanan darah, melainkan menurunkan semua kerusakan organ target.
Untuk mencapai penurunan morbiditas dan mortalitas yang optimal terhadap penyakit-penyakit
yang berkaitan dengan hipertensi, maka harus dipikirkan pengaruh pemberian terapi anti
hipertensi terhadap patogenesis kerusakan masing-masing organ target.

PENGERTIAN
The Seventh Report of the Joint National Committee on Detection, Evaluation, and Treatment of
High Blood Pressure (JNC-VII, 2003) dan World Health Organization – International Society of
Hypertension (WHO-ISH, 1999) telah memperbaharui klasifikasi, defenisi, serta stratifikasi resiko
untuk menentukan prognosis jangka panjang. Pada tabel 1 diperlihatkan defenisi dan klasifikasi
tekanan darah dari JNC-VII 2003.

Tabel 1. Defenisi dan Klasifikasi Tekanan Darah dari JNC VII

Kategori Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg)


Normal < 120 dan < 80
Pre-hipertensi 120 - 139 atau 80 - 89
Hipertensi :
Derajat 1 140 - 159 atau 90 - 99
Derajat 2 ≥ 160 atau ≥ 100

Tabel 2. Manajemen Tekanan Darah dari JNC VII

Modifikasi Pilihan obat untuk terapi awal


Kategori Gaya Hidup
Tanpa indikasi khusus Dengan indikasi khusus
Dianjurkan
Tidak ada indikasi obat Obat untuk indikasi
Pre-hipertensi Ya
anti hipertensi khusus
Umumnya: diuretik
thiazide Obat hipertesi lainnya
Hipertensi Dipertimbangkan (diuretik, ACE-I, ARB, CCB,
Ya
Derajat 1 pemberian: ACE-I, ARB, β-Blocker) sesuai
β-Blocker, CCB, atau kebutuhan
Kombinasi
Obat anti hipertensi
Umumnya kombinasi 2
Hipertensi lainnya (diuretik, ACE-I,
Ya jenis obat (biasanya
Derajat 2 ARB, CCB, β-Blocker)
diuretik thiazide dan
sesuai kebutuhan
ACE-I atau ARB, atau β-
Blocker atau CCB)

Etiologi
Berdasarkan identifikasi penyebab hipertensi, JNC VII mengklasifikasikan penyebab sebagai
berikut :
 Sleep apnoe
 Penyalahgunaan obat-obatan dan bahan lainnya
 Penyakit ginjal kronik
 Aldosteronism primer
 Penyakit renovaskular
 Terapi steroid kronik dan sindroma Cushing
 Pheochromocytoma
 Coartasio Aorta
 Penyakit tiroid atau paratiroid

Stratifikasi faktor resiko kardiovaskuar & kerusakan organ target


Pada stratifikasi resiko terhadap prognosis jangka panjang, JNC VII memasukkan faktor-faktor
resiko kardiovaskular mayor, kerusakan organ target, serta keadaan klinis penyerta sebagai
faktor-faktor yang mempengaruhi prognosis. Kapan terapi anti hipertensi harus diberikan,
ditentukan oleh stratifikasi resiko penderita hipertensi.
Faktor resiko kardiovaskular yang perlu dinilai terdiri dari golongan yang dapat diubah
(dimodifikasi) dan yang tidak mungkin diubah (tabel 3).

Tabel 3. Faktor Resiko Utama


Dapat dimodifikasi Tidak dapat dimodifikasi
 Hipertensi  Umur (♂ > 55 thn,
 Merokok ♀ > 65 thn)
 Obesitas (BMI ≥ 30)  Riwayat keluarga dengan
 Physical Inactivity penyakit kardiovaskular
 Dislipidemia prematur (♂ < 55 thn,
 Diabetes melitus ♀ < 65 thn)
 Mikroalbuminuriua atau
GFR < 60 ml/min)

Perlu dilakukan evaluasi terhadap ada tidaknya kerusakan organ atrget akibat hipertensi serta
manifestasi klinis yang mungkin timbul (tabel 4).

Tabel 4. Kerusakan organ target


Penyakit Jantung
 Hipertrofi ventrikel kiri (LVH)
 Angina atau infark miokard sebelumnya
 Riwayat revaskularisasi
 Gagal jantung
Stroke atau TIA
Penyakit ginjal kronik
Penyakit arteri perifer
Retinopati

Pemeriksaan pada hipertensi


1. Riwayat Penyakit
 Lama dan klasifikasi hipertensi
 Pola hidup
 Faktor-faktor resiko kelainan kardiovaskular (tabel 3)
 Penyakit kardiovaskular
 Gejala-gejala yang menyertai hipertensi
 Kerusakan organ target (tabel 4)
 Obat-obatan yang sedang atau pernah digunakan
2. Pemeriksaan fisik
 Tekanan darah minimal 2 kali selang 2 menit
 Periksa tekanan darah lengan kontralateral
 Tinggi badan dan berat badan
 Pemeriksaan funduskopi
 Pemeriksaan leher, jantung, paru, abdomen dan ekstremitas
 Refleks saraf
3. Pemeriksaan laboratorium
 Urinalisa
 Darah : trombosit, fibrinogen
 Biokimia : kalium, natrium, kreatinin, GDS, profil lipid, asam urat
4. Pemeriksaan tambahan
 Foto rontgen dada
 EKG 12 lead
 Mikroalbuminuria
 Ekokardiografi

TERAPI
Penatalaksanaan
Jika modifikasi gaya hidup tidak menurunkan tekanan darah ke tingkat yang diinginkan, terapi
farmakologis harus diberikan. Pemilihan anti hipertensi lebih dianjurkan secara individual
berdasarkan patofisiologi, hemodinamik, kerusakan organ target, adanya penyakit penyerta,
demografik, efek samping obat, kepatuhan terhadap regimen pengobatan, dan biaya
pengobatan.
Terapi tekanan darah yang harus dicapai dalam mmHg:
 Hipertansi tanpa komplikasi  < 140 / 90
 DM, penyakit ginjal  < 130 / 80
 Proteinuria (> 1 gr / 24 jam)  < 125 / 75
 Aortic Disection  < 120 / 80

Tabel 5. Klasifikasi obat anti hipertensi

Dosis mg/hari
Klasifikasi Nama Obat
(frekwensi sehari)
Thiazide diuretics Chlorothiazide (Diuril) 125 – 500 (1)
Chlorthalidone 12.5 – 25 (1)
Hydrochlorothiazide 12.5 – 50 (1)
Indapamide 1.25 – 2.5 (1)
Loop diuretics Furosemide 20 – 80 (2)
Potassium-sparing diuretics Amiloride 5 – 10 (1-2)
Triamterene 50 – 100 (1-2)
Aldosterone receptor blockers Spironolactone 25 – 50 (1-2)
Beta-blockers Atenolol 25 – 100 (1)
Bisoprolol 2.5 – 10 (1)
Metoprolol 50 – 100 (1-2)
Metoprolol extend release 50 – 100 (1)
Propanolol 40 – 160 (2)
Combined alpha – and beta Carvedilol 12.5 – 50 (2)
blockers Labetalol 200 – 800 (2)
ACE-I Captopril 25 – 100 (2)
Enalapril 2.5 – 40 (1-2)
Fosinopril 10 – 40 (1)
Lisinopril 10 – 40 (1)
Perindopril 4 – 8 (1-2)
Quinapril 10 – 40 (1)
Ramipril 2.5 – 20 (1)
Trandolapril 1 – 4 (1)
Angiotensin II antagonists Candesartan 8 – 23 (1)
Irbesartan 150 – 300 (1)
Losartan 25 – 100 (1-2)
Telmisartan 20 – 80 (1)
Valsartan 80 – 320 (1)
Calcium channel blockers – Diltiazem extended release
180 – 420 (1)
non-Dihydropyridines Verapamil immediate
80 – 320 (2)
release
120 – 360 (1-2)
Verapamil long acting
120 – 360 (1)
Verapamil

Tabel 5. Lanjutan klasifikasi obat anti hipertensi

Dosis mg/hari
Klasifikasi Nama Obat
(frekwensi sehari)
Clacium channel blockers – Amlodipine 2.5 – 10 (1)
Dihydropyridines Feldipine 2.5 – 20 (1)
Nicardipine 60 – 120 (2)
Nifedipine 30 – 60 (1)
Alpha1-blockers Doxazosin 1 – 16 (1)
Prazosin 2 – 20 (2-3)
Central alpha2-agonists and Clonidine • – 0.8 (2)
other centrally acting drugs Methyldopa 250 – 1.000 (2)
Reserpine 0.05 – 0.25 (1)
Direct vasodilators Hydralazine 25 – 100 (2)

Pedoman pemilihan monoterapi atau kombinasi


Terapi monoterapi tidak tergantung jenis obat yang diberikan, biasanya hanya bisa mencapai
target tekanan darah pada jumlah pasien yang terbatas. Penggunaan lebih dari satu obat yang
diinginkan untuk mencapai target tekanan darah pada mayoritas pasien. Pemilihan monoterapi
dapat diberikan pada peningkatan tekanan darah yang ringam (derajat 1) dengan resiko
kardiovaskular yang ringan atau sedang. Pada pasien dengan tekanan darah awal derajat 2 atau
resiko kardiovaskular tinggi, maka kombinasi dua obat dengan dosis rendah lebih dianjurkan
sebagai terapi awal.
Thiazide diuretics

Angiotensin receptor
β - blockers
antagonists

α - blockers Calcium antagonists

ACE Inhibitors

Gambar 1. Kombinasi rasional obat anti hipertensi

Pedoman dasar pemberian obat pada pasien dengan indikasi khusus

Tabel 6. Obat pada kondisi khusus


Obat yang direkomendasikan
Kondisi khusus Aldosteron
Diuretik β-Blocker ACE-I ARB CCB
Antagonis
Gagal jantung + + + + +
Post Infark
+ + +
Miokard
Resiko tinggi
+ + + +
koroner
DM + + + + +
Penyakit ginjal
+ +
kronik
Pencegahan
+ +
stroke berulang

Terapi pada penderita dengan penyakit penyerta

Tabel 7. Seleksi Obat anti hipertensi


Karakteristik
Obat yang dianjurkan Obat yang kurang dianjurkan
penderita
Verapamil, β-blocker, ACE-I, α-
Usia < 50 thn -
blocker, ARB
Diuretik thiazide,
Usia > 65 thn Agonis α sentral
dihidropiridine, ACE-I, ARB
African - American Diuretik thiazide, Ca-antagonis β-blocker, ACE-I, ARB
ACE-I, Ca-antagonis, β-blocker,
Aktif Diuretik dosis tinggi
α-blocker
Menghindari sedasi - Agonis α sentral
Non-komplian Obat dosis sekali sehari Agonis α sentral
Hipertensi sistolik Diuretik thiazide, β-blocker,
-
terisolasi dihidropiridine
ACE-I, Ca-antagonis, α-blocker, β-blocker (ISA), hidralazin,
Hipertrofi ventrikel
ARB minoksidil
Dihidropiridine (kec.
Verapamil, diltiazem, ACE-I, β-
PJK Vasospasme), vasodilator
blocker (non-ISA)
langsung
Paska Infark ACE-I, β-blocker (non-ISA),
-
Miokard diuretik
Gagal jantung ACE-I, Diuretik thiazide, β-
-
kongestif blocker, α-blocker
Disfungsi sistolik
CrCl= > 30ml/mnt : loop diuretik Ca-antagonis
(EF= 35-40%)
CrCl= < 30ml/mnt : carvedilol, β-
Disfungsi diastolik Dihidropiridine, β-blocker
blocker (non-ISA), verapamil,
(EF= 35-40%) (ISA), diuretik
diltiazem
Diltiazem, Verapamil, β-blocker
SVT -
(non-ISA)
Sindroma WPW Diltiazem, Verapamil
Diltiazem, Verapamil, β-
Bradikardia (SSS)
blocker
ACE-I, Diuretik, β-blocker (ISA),
CVD Agonis α sentral
α-blocker
DM / intoleransi ACE-I, Ca-antagonis, Diuretik, α-
-
glukosa blocker
ACE-I, indapamide, Ca-
Diuretik thiazide, β-blocker
Hiperkolesterolemia antagonis, α-blocker, β-blocker
(non-ISA)
(ISA),
Diuretik thiazide, β-blocker
Hipertrigliseridemia -
(non-ISA)
Migrain Ca-antagonis, β-blocker -
Riwayat depresi - Agonis α sentral, β-blocker
Penyakit vaskular
ACE-I, Ca-antagonis, α-blocker β-blocker
perifer
Loop diuretik, Ca-antagonis,
Insufisiensi ginjal ACE-I (hati-hati), indapamide, Diuretik thiazide
metalasone, minoksidil
Ca-antagonis, ACE-I (selain
Penyakit kolagen Metildopa, hidralazine
Captopril)
Gout - Diuretik thiazide
Asma - β-blocker
Osteoporosis Diuretik thiazide -
BPH α-blocker, -
Wanita Hamil Metildopa, hidralazine ACE-I

EDUKASI

PROGNOSIS

KEPUSTAKAAN

-------------------------------
HIPERTENSI PADA KEADAAN KHUSUS

Pasien hipertensi dan disertai kelainan yang menyertainya memerlukan perhatian khusus dan
pemantauan oleh tenaga medis.

Indikasi khusus
Tabel 4 memperlihatkan indikasi khusus yang membutuhkan obat antihipertensi tertentu pada
pasien dengan resiko tinggi. Pemilihan obat pada keadaan ini berdasarkan uji klinis dengan hasil
yang terbukti baik untuk pasien. Pada beberapa keadaan, kadang diperlukan kombinasi obat. Hal
lain yang harus diperhatikan termasuk obat yang sedang digunakan, toleransi obat, dan target
tekanan darah yang diinginkan.

Penyakit Jantung Iskemik


Penyakit jantung iskemik adalah kelainan organ target yang paling sering timbul menyertai
hipertensi. Pada pasien dengan hipertensi dan angina pectoris yang stabil, pilihan pertama adalah
penyekat beta. Pilihan lainnya adalah antagonis Ca long acting. Pada pasien dengan sindroma
koroner akut (Unstable Angina Pectoris atau Acute Myocardial Infarction) penanganan hipertensi
harus dimulai dengan pemberian penyekat beta dan penghambat EKA dan dapay ditambahkan
obat lainnya untuk mengontrol tekanan darah. Pada pasien dengan Post Myocardial Infarction,
penghambat EKA, penyekat beta dan antagonis aldosteron terbukti sangat bermanfaat.
Dilakukan pengelolaan kadar lipid darah dan juga diberikan aspirin.

Gagal Jantung
Gagal jantung baik pada keadaan disfungsi ventrikel sistolik maupun diastolic, secara langsung
merupakan akibat dari hipertensi sistolik dan penyakit jantung sistemik. Kontrol tekanan darah
dan kolesterol merupakan pencegahan utama pada mereka dengan resiko tinggi untuk terjadinya
gagal jantung. Pasien asimptomatik dengan disfungsi ventrikel direkomendasikan untuk diberi
penghambat EKA dan penyakit beta. Sedangkan pasien simptomatik dengan disfungsi ventrikel
atau penyakit jantung stadium akhir direkomendasikan untuk diberi penghambat EKA, penyekat
beta, penyekat reseptor angiotensin II (ARB), penyekat aldosteron, dan loop diuretic.

Hipertensi Diabetik
Pada keadaan ini diperlukan kombinasi dari dua atau lebih obat, untuk mencapai target tekanan
darah < 130/80 mmHg. Diuretik golongan tiazide, penyekat beta, penghambat EKA, ARB, dan
penyekat antagonis Ca, bermanfaat untuk mengurangi kejadian penyakit kardiovaskular dan
stroke pada pasien diabetes. Pemberian penghambat EKA atau ARB merupakan dasar untuk
mencegah progresifitas diabetic nefropati dan mengurangi albuminuria, dan ARB terbukti
keberhasilannya untuk menurunkan makroalbuminuria.

Penyakit Ginjal Kronik


Pasien dengan penyakit gagal ginjal kronik didefinisikan memenuhi salah satu dari kriteria sbb:
 Penurunan fungsi ekskresi dengan GFR dibawah 60 ml/min per 1,73m2 (sama dengan kadar
kreatinin > 1,5 mg/dl pada ♂ atau >1,3 mg/dl pada ♀)
 Keadaan albuminuria ( >300 mg/hari atau 200 mg albumin/g kreatinin)
Tujuan pengobatan adalah untuk mencegah perburukan fungsi ginjal dan pencegahan penyakit
kardiovaskular. Umumnya pasien gagal ginjal kronik disertai hipertensi dan harus mendapatkan
pengobatan yang agresif, bahkan seringkali diberikan tiga jenis obat atau lebih unutk mencapai
TD <130/80 mmHg. Penghambat EKA dan ARB telah menunjukkan hasil yang baik pada pasien
dengan penyakit ginjal diabetik dan nondiabetik. Kenaikan kadar kreatinin serum sampai 35% di
atas kadar normal dengan pemberian penghambat EKA atau ARB masih dapat ditoleransi, dan ini
bukan alasan untuk menghentikan pengobatan kecuali pada keadaan hiperkalemi. Pada keadaan
penyakit ginjal lanjut (GFR <30 ml/menit per 1,73 m2, sesuai kadar kreatinin serum 2,5-3 mg/dl)
diperlukan peningkatan dosis dari loop diuretics yang dikombinasikan dengan obat dari kelas
lainnya.

Penyakit Cerebrovaskular
Keuntungan dan kerugian penurunan tekanan darah secara akut pada serangan stroke yang akut
masih belum jelas, mempertahankan tekanan darah pada level intermediate (sekitar 160/100
mmHg) dianjurkan sampai keadaan stabil atau lebih baik. Angka kejadian stroke berulang dapat
diturunkan dengan kombinasi penghambat EKA dan diuretic golongan thiazide

Obesitas dan Sindroma Metabolik


Obesitas (BMI ≥ 30) akan meningkatkan faktor resiko terjadinya hipertensi dan penyakit
kardiovaskular. Sindroma metabolik didefinisikan adanya tiga atau lebih keadaan sbb:
1. Obesitas abdominal (lingkar perut > 40 inci pada ♂ atau > 35 inci pada ♀)
2. Intoleransi glukosa (gula darah puasa ≥ 110 mg/dl)
3. Tekanan darah ≥ 130/85 mmHg
4. Kadar trigliserida ≥ 150 mg/dl
5. Kadar LDL < 40 mg/dl pada ♂ atau < 50 mg/dl pada ♀)
Modifikasi gaya hidup harus dilakukan pada semua pasien sindroma metabolik dan penggunaan
obat-obatan ditujukan pada masing-masing kelainannya.

Hipertrofi Ventrikel Kiri


Hipertrofi ventrikel kiri yang independent yang selanjutnya meningkatkan resiko kejadian
penyakit kardiovaskular. Perbaikan dari LVH dapat dilakukan dengan kontrol TD, penurunan BB,
restriksi garam dan pemberian semua kelas obat anti hipertensi secara tepat, kecuali vasodilator
langsung seperti hidralazine dan minoxidil.

Penyakit Arteri Perifer (PAD)


Berbagai kelas obat anti hipertensi dapat digunakan pada pasien PAD. Faktor resiko lainnya harus
ditangani secara agresif dan diberi aspirin.

Hipertensi pada Orangtua


Kejadian hipertensi terjadi pada lebih dari ⅔ populasi diatas 65 tahun. Rekomendasi pengobatan
pada orangtua dengan hipertensi termasuk didalamnya hipertensi termasuk didalamnya
hipertensi sistolik isolated, harus mengikuti pengobatan hipertensi secara umum. Pada beberapa
pasien diperlukan pemberian dosis awal yang rendah untuk menghindari gejala yang tidak
diinginkan, tetapi umumnya dosis standar dan pemberian kombinasi obat-obatan dapat
diberikan pada orangtua untuk mencapai TD yang diinginkan.

Hipotensi Postural
Penurunan SBP > 10 mmHg pada saat berdiri yang disertai pusing atau pingsan, lebih sering
terjadi pada orangtua dengan hipertensi sistolik, diabetes dan mereka yang sedang makan obat
diuretic, venodilator (seperti nitrat, penyekat alfa dan sildenafil) dari beberapa obat psikotropika.
Monitoring TD pada pasien ini harus dilakukan pada saat berdiri.

Demensia
Demensia dan gangguan kognitif umumnya terjadi pada pasien hipertensi. Gangguan kognitif ini
dapat dihambat dengan pemberian obat anti hipertensi.

Hipertensi pada Wanita


Kontrasepsi oral dapat meningkatkan TD dan lamanya pemakaian akan meningkatkan resiko
terjadi hipertensi. Diperlukan pengukuran TD secara teratur pada pengguna kontrasepsi oral.
Timbulnya hipertensi menjadi alasan untuk memilih jenis kontrasepsi yang lain. Hal yang
berbeda, penggunaan terapi hormone pengganti tidak meningkatkan TD.

Wanita yang menderita hipertensi kemudian hamil, harus di follow up secara teliti karena
meningkatnya resiko terhadap ibu dan janin. Metildopa, penyekat beta dan vasodilator
merupakan obat yang dianjurkan diberi dan aman untuk janin. Penghambat EKA dan ARB tidak
boleh diberikan selama kehamilan karena dapat menimbulkan cacat janin.

Preeklampisia terjadi setelah 20 minggu kehamilan, ditandai timbulnya atau perburukan


hipertensi, albuminuria dan hiperurisemia, juga disertai kelainan koagulasi. Keadaan
preeclampsia juga disertai dengan hipertensi urgensi atau emergensi dan memerlukan
perawatan di rumah sakit, monitoring intensif, persalinan lebih awal, pemberian anti hipertensi
dan antikonvulsan secara parenteral.

Hipertensi pada Anak & Dewasa Muda


Pada anak-anak & dewasa muda, hipertensi didefinisikan bila TD, dengan pengukuran berulang
berada pada persentil 95 atau lebih, sesuai umur, tinggi badan dan kelamin. Bunyi Korotkoff
kelima digunakan untuk menentukan DBP. Tenaga medis harus jeli mengidentifikasi penyebab
hipertensi pada anak (seperti penyakit ginjal, koartasio aorta). Modifikasi gaya hidup sangat
dianjurkan, pemberian obat anti hipertensi diberikan pada keadaan TD yang tinggi dan tidak
respon dengan modifikasi gaya hidup. Pemilihan obat anti hipertensi hampir sama pada orang
dewasa dan anak, hanya dosis efektif lebih kecil pada anak. Hipertensi tanpa komplikasi jangan
dijadikan alasan untuk mengurangi aktivitas anak, karena long term exercise dapat menurunkan
TD. Penggunaan steroid anabolic harus dihindarkan. Usaha pencegahan lainnya harus terus
dilakukan seperti modifikasi faktor resiko (missal berhenti merokok).

KEPUSTAKAAN
1. JNC 7 express. The Seventh Report of the Joint National Committee on Prevention,
Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure, Desember 2003.
2. Guideline for the management for the management of arterial hypertension, European heart
journal (2007), 28;1462-1536.
3. WHO. Clinical guidelines for the management of hypertension. Cairo. 2005
4. Standar pelayanan medik RS Jantung Harapan Kita, 2007.

HIPERTENSI KRISIS

PENGERTIAN
Krisis hipertensi adalah peningkatan tekanan darah secara akut ataupun secara tiba-tiba dengan
tekanan darah sistolik > 180/120 mmHg. Krisis hipertensi dibagi atas 2 bagian, yaitu: hipertensi
urgensi dan hipertensi emergensi. Pada hipertensi emergensi dijumpai gangguan target organ
yang akut (Cth. Encephalopathy, infark miokard akut, angina tidak stabil, edema paru, eklampsia,
stroke, trauma kepala, perdarahan arteri yang memerlukan bantuan, atau diseksi aorta),
memerlukan perawatan rumah sakit dan diberikan pengobatan secara parenteral. Hipertensi
urgensi adalah peningkatan tekanan darah secara tiba-tiba tanpa disertai gangguan pada target
organ secara akut. Biasanya tidak memerlukan perawatan rumah sakit, tetapi harus menerima
terapi kombinasi dengan menggunakan obat-obatan anti hipertensi secara oral.

ANAMNESIS
Anamnesis yang dilakukan mengarah pada ada tidaknya keterlibatan target organ sehingga dapat
mempengaruhi tatalaksana pasien apakah digolongkan pada hipertensi emergensi atau urgensi.
Pada gangguan kardiovaskular anamnesis diarahkan pada ada atau tidaknya gejala yang
mengarah pada gagal jantung atau sindroma koroner akut. Gejala lain adalah adanya nyeri dada
atau nyeri abdomen yang mengarah pada diseksi aorta.

Faktor Resiko
 Usia (laki-laki > 55 tahun; wanita > 65 tahun)
 Merokok
 Dislipidemia
 Kadar gula darah puasa (102 – 125 mg/dl)
 Kadar gula darah tes toleransi yang abnormal
 Abdominal obesitas (lingkar pinggang > 102 cm pada laki-laki; > 88 cm pada wanita)
 Riwayat kejadian kardiovaskular prematur (Laki-laki usia < 55 tahun; wanita < 65 tahun)

PEMERIKSAAN PENUNJANG
 Darah rutin
 Ureum dan kreatinin, CrCL
 Urinalisis
 Kadar gula darah sewaktu, dilanjutkan dengan kadar gula darah puasa dan 2 jam PP
 Kolesterol total, LDL HDL, Trigliserida
 Enzim jantung
 EKG
 Foto thoraks

TERAPI
Penanganan Hipertensi Urgensi
Penanganan hipertensi urgensi biasanya hanya diberikan pemberian obat anti hipertensi
kombinasi. Rekomendasi pemberian obat-obatan anti hipertensi yang bekerja jangka panjang,
dimana tujuan penurunan tekanan darah sampai mencapai normal dicapai dalam waktu 48 jam.
Obat-obatan yang bekerja cepat seperti pemberian nifedipin sublingual sudah ditinggalkan.

Tabel 1. Keadaan yang dapat menyertai hipertensi urgensi


1. Accelerated and Maliganant Hypertension
2. Hipertensi pasca bedah
3. Hipertensi yang tidak terkontrol pada penderita yang membutuhkan pembedahan akut
4. Hipertesi yang disertai penyakit jantung koroner

Tabel 2. Obat-obat anti hipertensi oral untuk penanganan hipertensi urgensi


Obat Golongan Dosis (mg) Keterangan
Captopril Penghambat EKA 25-50 Diberikan oral/sublingual. Efek
maksimal dalam 30-90 menit.
Penurunan tekanan berlebihan pada
pasien dengan status volume kurang
tidak direkomendasikan pada stenosis
arteri renalis.
Nitrogliserin Vasodilator 1,25-2,5 Sublingual. Efek maksimal dalam 15-30
menit. Direkomendasikan pada pasien
penyakit jantung iskemik.
Nikardipin Antagonis kalsium 30 Pemberian oral/sublingual. Hanya
menyebabkan sedikit peningkatan laju
jantung dan menyebabkan penurunan
tekanan darah yang lebih lambat dan
bertahan lama dibanding nifedipin.
Dapat menyebabkan hipotensi & muka
merah.
Klonidin Agonis α 0,1-0,4 Pemberian oral. Efek maksimal dalam
1-4 jam. Menyebabkan kantuk,
melayang, mulut kering dan hipertensi
akibat putus obat.
Furosemide Diuretik 40-80 Pemberian oral. Walaupun tidak
diberikan pada saat awal, biasa
diberikan setelah obat-obat anti
hipertensi lain digunakan.
Penanganan Hipertensi Emergensi
Pada hipertensi emergensi, tujuan utamanya adalah menurunkan tekanan arteri rata-rata (MAP)
sistolik 25% dalam waktu beberapa menit atau menurunkan tekanan darah sampai 160/100
mmHg dalam waktu 2 – 6 jam. Ketika tekanan darah dapat terkendali, dan keadaan akut pada
target organ dapat teratasi, pemberian obat anti hipertensi dengan oral dapat dimulai, dan dosis
obat anti hipertensi secara intravena dapat dikurangi.
Tabel 3. Keadaan yang dapat menyertai hipertensi emergensi
 Hipertensi Ensefalopati
 Kejadian Intracranial Akut
 Diseksi Aorta Akut
 Sindroma Koroner Akut (angina tidak stabil/infark miokard akut)
 Gagal Jantung Kiri Akut
 Krisis Feokromositoma
 Eklampsia

Tabel 4. Obat-obat parenteral untuk penanganan hipertensi emergensi


Onset Masa
Obat Golongan Dosis Efek samping
kerja kerja
Mual, hipotensi,
Vasodilator 1-2 menit
Sodium 0,25-10 keracunan tiosianat
arteri & Segera setelah
nitroprusid mg/kgBB/mnt dan sianida,
vena distop
methemoglobulinemia
Vasodilator
Sakit kepala, mual,
Nitrogliserin arteri & 5-100 mg/mnt 1-5 mnt 3-5 mnt
takikardi, muntah
vena
Hipotensi, takikardi,
Antagonis 5-15 30-40
Nicardipin 5-15 mg/jam mual muntah, muka
kalsium mnt mnt
merah
10-20 mg IV
Peningkatan curah
10-50 mg IM 5-30
Hidralazin Vasodilator 3-9 jam jantung & laju jantung,
ulang setiap 4-6 mnt
sakit kepala, angina.
jam

KEPUSTAKAAN
1. JNC 7 express. The Seventh Report of the Joint National Committee on Prevention, Detection,
Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure, Desember 2003.
2. Guideline for the management for the management of arterial hypertension, European heart
journal (2007), 28;1462-1536.
3. WHO. Clinical guidelines for the management of hypertension. Cairo. 2005
4. Standar pelayanan medik RS Jantung Harapan Kita, 2007.

------------------------------