Anda di halaman 1dari 5

“PRINSIP DASAR DAN PLAGIARISME DALAM PENULISAN KARYA

ILMIAH”

Oleh:
Shifa Aubriana Schram (NIM. 15051102025)
Yulia Mamesah (NIM. 16051102015)
Riky R. Tununu (NIM. 16051102007)

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS SAM RATULANGI
MANADO
2018
A. PRINIP DASAR MENULIS KARYA ILMIAH

1. Asas Ketepatan
Karangan ilmiah menjunjung tinggi keakuratan. Hasil penelitian ilmiah dan cara penyajian
hasil penelitian itu haruslah tepat/akurat. Supaya karangan ilmiah sungguh-sungguh akurat,
penulis/peneliti harus sangat cermat, sangat teliti, tidak boleh sembrono, atau main-main
dengan ilmu.
Dalam cara penyampaiannya, di dalam karangan ilmiah itu harus terwadahi butir-butir
gagasan dengan kecocokan sepenuhnya seperti yang dimaksud oleh peneliti/penulisnya.
Kualifikasi demikian itulah yang dimaksud dengan istilah efektif-sangkil.
2. Asas Keringkasan
Karangan ilmiah haruslah ringkas. Ringkas tidak sama dengan pendek. Karangan yang
tebalnya 500 halaman dapat dikatakan ringkas sejauh di dalamnya tidak terdapat bentuk-
bentuk kebahasaan yang bertele-tele, kalimat-kalimat yang bertumpukan (running-on
sentences), dan sarat dengan kemubaziran dan kerancuan. Jadi, karangan ilmiah itu tidak
boleh menghamburkan kata-kata, tidak boleh mengulang-ulang ide yang telah
diungkapkan, dan tidak berpura-pura dala mengungkapkan maksud atau gagasan.
Karangan ilmiah harus dibangun dari ide yang kaya dengan bahasa yang hemat dan
sederhana. Jadi bukan sebaliknya, ide yang miskin namun dengan bahasa yang berbunga-
bunga.
Karangan ilmiah harus ditulis dengan hati dan diteliti kembali, dibenahi kembali, diedit
kembali dengan pikiran. Jadi, peganglah prinsip ‘writing with heart, editing with brain’
da dalam praktik penulis karya ilmiah.
3. Asas kejujuran
Menuntut kesediaan ilmian atau peneliti untuk secara ikhlas mengakui jika ternyata
melakukan kekeliruan (misalnya; hasil analisis salah atau simpulan keliru dan
sebagainya). Dan juga menjadi tiang ilmu sebagai sarana mencari kebenaran.
4. Asas penghormatan
Asas ini harus timbul adanya keinginan atau sikap untuk menghormati orang lain, yaitu
menghormati pembaca dan menghormati hak-hak orang lain. Yang harus dijunjung
dalam asas penghormatan adalah:
a. Asas kejelasan
Karangan ilmiah harus konkret dan jelas. Kejelasan itu tidak saja berarti mudah
dipahami, mudah dibaca, tetapi juga harus tidak memberi ruang untuk disalahtafsirkan,
tidak boleh bersifat samar-samar, tidak boleh kabur, tidak boleh ada di wilayah abu-
abu. (Bahasa Jawa: keduh gambling wijang-wijang). Kejelasan di dalam karangan
ilmiah itu ditopang oleh hal-hal berikiut: (1) pemakaian bentuk, kebahasaan yang lebih
dikenal daripada bentuk kebahasaan yang masih harus dicari-cari dulu maknannya,
bahkan oleh penulisnya. (2) pemakaian kata-kata yang pendek, ringkas, tajam, lugas,
daripada kata-kata yang berbelit, yang panjang, yang rancu, yang boros. (3) pemakaian
kata-kata dalam bahasa sendiri daripada kata-kata dalam bahasa asing.
Kata-kata asing dapat digunakan hanya kalau memang istilah itu sangat teknis
sifatnya sehingga tidak (belum) ada istilah garing kata-kata yang pas dalam bahasa
Indonesia. Jadi, jangan sampai verbalistis.
b. Asas Pengakuan/Hak kepemilikan gagasan/ide
Jika ingin mengutip sebuah ide dari buku, atau sumber lain kita harus mengaku
bahwa ide itu milik orang lain
c. Menggunakan gaya bahas akademik
B. PLAGIARISME

Plagiat merupakan perbuatan secara sengaja atau tidak sengaja dalam memperoleh atau
mencoba memperoleh kredit atau nilai untuk suatu karya ilmiah dengan mengutip sebagian
atau seluruh karya dan/atau karya ilmiah pihak lain yang diakui sebagai karya ilmiahnya, tanpa
menyatakan sumber secara tepat dan memadai. Orang yang melakukan tindakan plagiarism
disebut plagiator. Plagiator adalah orang perseorang atau kelompok orang pelaku plagiat,
masing-masing bertindak untuk diri sendiri, untuk kelompok dan atas nama suatu badan.

1. Lingkup Plagiat
a. Mengacu dan atau mengutip istilah, kata-kata dana tau kalimat, data atau informasi dari
suatu sumber tanpa menyatakan sumber dalam catatan kutipan dan atau tanpa
menyatakan sumber secara memadai
b. Menggunakan sumber gagasan, pendapat, pandangan, atau teori tanpa menyatakan
sumber secara memadai
c. Merumuskan dengan kata-kata dan atau kalimat, gagasan, pendapat, pandangan atau
teori tanpa menyatakan sumber secara memadai
d. Menyerahkan suatu karya ilmiah yang dihasilkan dan atau telah dipublikasikan oleh
pihak lain sebagai karya ilmiahnya tanpa menyatakan sumber secara memadai.
2. Kuotasi (Kutipan Langsung)
Plagiarism kuotasi merupakan plagiarism dengan menggunakan persis sama kata-kata
orang lain. Untuk menulis kuotasi gunakanlah tanda kutip atau penulisan paragraph yang
berbeda (masuk kedalam/”indentasi”) dan menuliskan sumber referensi sesuai dengan
gaya penulisan yang diterima. Jumlah kutipan langsung (dengan “…”) maksimal
berjumlah 10% dari total kata.
3. Paraphrase
Plagiarisme ini dilakukan dengan cara mengubah kalimat dari penulis asli menjadi kalimat
baru dari pelaku plagiarisme. Jika pengutipnya jujur, seharusnya kalimat si penulis asli
tersebut akan diformulasikannya menjadi kutipan langsung dan dicantumkan referensi
tempat kutipan itu diperoleh. Namun, pelaku plagiarisme parafrasa akan melakukannya
dengan mengambil alih kutipan tadi dan menampilkannya sebagai kutipan tidak langsung,
lagi-lagi dengan tidak menyebutkan sumber rujukannya, sehingga memberi kesan bahwa
kutipan tadi orisinal berasal dari pelaku plagiarisme tersebut. Plagiarisme parafrasa juga
berlaku dalam hal tulisan asli itu diterjemahkan dari satu bahasa ke bahasa lain tanpa
menyebutkan sumber aslinya.
4. Struktur gagasan
Di antara semua jenis plagiarisme, plagiarisme struktur gagasan adalah jenis yang paling
tersembunyi dan paling sulit dilacak. Di sini pelaku plagiarisme mencontek gagasan orang
lain dan kemudian gagasan ini dituangkan kembali melalui rangkaian kalimat, dengan kata
kunci atau frasa kunci yang berbeda. Gagasan orang lain itu bisa saja berasal dari sumber
tertulis, film, atau bahkan tuturan lisan yang disampaikan melalui berbagai forum. Dalam
konteks ini, kata kunci dan frasa kunci dari si pemilik gagasan awal memang sudah tidak
lagi dipakai, tetapi struktur gagasannya masih sama.