Anda di halaman 1dari 47

Askep keluarga dengan Hipertensi

Posted by M.YUSUF. blog Tuesday, 3 September 2013 0 comments


I. Identitas Kepala Keluarga
a. Nama : Ny. S
b. Jenis kelamin : Perempuan
c. Umur : 61 tahun
d. Pendidikan : SD
e. Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
f. Alamat : Desa Karangroto Genuk
II. Susunan Anggota Keluarga
Nama Umur L/P Pekerj Agam Hub. Imunisas Pendidika Status
aaan a dgn i n kesehatan
keluarga
Ny. S 61 P IRT Islam Ibu Lupa SD 1. Hipertensi
Tn. G Tahun L Swasta Islam Anak(K Lengkap S1 2. Hipertensi
Ny. M 36 P Swasta Islam K) Lengkap SMA 3. Sehat
An. A Tahun L - Islam Istri Lengkap SD 4. Sehat
An. H 27 L - Islam Anak Lengkap PAUD 5. sehat
Tahun Anak
6 Tahun
4 Tahun
III. Genogram

a. Tipe Keluarga : extended family


b. Suku bangsa : WNI
c. Agama : Islam
d. Status sosial ekonomi keluarga
1. Peghasilan keluarga : kepala keluarga
2. Pemanfaatan dana keluarga : tidak tentu
3. Sosial keluarga : Sosial Ny. S baik
a : Ny. S pernah rekreasi, disaat punya waktu luang dan liburan.
IV. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga
a. Tahap perkembangan keluarga :
Tahap perkembangan keluarga ditentukan dengan anak tertua dari keluarga inti
Keluarga Ny. S mempunyai 2 orang anak, tinggal bersama anak ke 2.
b. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi :
- Pertahankan suasana saling menyenangkan
- Pertahankan keakraban pasangan dan orang tua
- Memperhatikan ikatan antar generasi (orang tua, anak, dan cucu, )
- Membantu orang tua baik yang sehatmaupun sakit untuk meningkatkan derajat kesehatan.
c. Riwayat keluarga inti:
Ny. S (61 th) menikah dengan Tn. M memiliki 2 orang anak, Ny. A (39 tahun) Sudah
menikah dan tinggal dengan keluarganya sendiri dan Tn G (36 tahun) sudah menikah dan
tinggal bersama Tn G.
d. Riwayat keluarga sebelumnya:
Keluarga Ny. S ada penyakit keturunan (Hipertensi)
V. Pengkajian Lingkungan
a. Karakteristik rumah :
Tipe rumah tembok permanen, lantai dari plester, atap Esbes, ukuran 6mx11m, jumlah
ruangan 2 kamar tidur,1 ruang tamu,1 kamar mandi & wc, 1 dapur.
b. Kerakteristik tetangga dan kominitas RW :
Hidup di lingkungan yang berkebiasaan buang sampah di tempat sampah dan dibakar,
bersosialisasi dengan tetangga cukup baik, dalam lingkungan terdapat berbagai agama
(kristen dan islam).
c. Mobilitas geografis keluarga :
Menetap dan tidak ada yang berpindah dalam 1 tahun ini.
d. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat:
Perkumpulan dengan keluarga baik begitu juga interaksi dengan masyarakat dan kurang
mengikuti kegiatan seperti kumpulan rutin atau pengajian rutin .

VI. Struktur Keluarga


a. Sistem pendukung keluarga : dari anak-anak Ny.S dan tetangga terdekat.
b. Pola komunikasi dengan keluarga : komunikasi terbuka
c. Struktur kekuatan keluarga : yang berpengaruh dalam keluarga ini adalah Tn.
Gunawan
d. Struktur peran : Ny. S sebagai Ibu rumah Tangga.
e. Nilai atau norma keluarga
 Keluarga saat mau pergi berpamitan
 Sebelum makan berdoa

VII. Fungsi keluarga


a. Fungsi efektif : Cukup kasih sayang antar keluarga dari anaknya.
b. Fungsi social : sosialisasi dengan keluarga dan tetangganya baik.
c. Fungsi perawatan kesehatan
1. Kemampuan keluarga mengenal masalah kesehatan :
Keluarga sudah mengetahui penyakitnya Ny. S mempunyai penyakit Hipertensi.
2. Kemampuan keluarga mengambil keputusan/tindakan kesehatan yang tepat :
Ny. S hanya tahu bahwa Ny. S mempunyai penyakit Hipertensi.
3. Kemampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit :
Ny. S merasakan sakit hanya dibuat istirahat dan mengurangi makanan yang sekiranya
memperparah keadaanya.
4. Kemampuan keluarga memelihara lingkunan yang mendukung kesehatan : Ny. S tinggal
dengan anak, Menantu dan Kedua cucu , jika Ny. S sakit diperiksakan ke puskesmas atau tim
kesehatan.
5. Kemampuan keluarga menggunakan fasilitas kesehatan yang tersedia : Ny. S diantar
anaknya pergi ke puskesmas atau tim kesehatan untuk berobat.
d. Fungsi reproduksi : Ny. S mempunyai 6 orang anak 2 laki-laki dan 4 perempuan.
e. Fungsi ekonomi : Ny. S Sebagai ibu rumah tangga.

VIII. Stress dan Koping keluarga


a. Stress jangka panjang dan pendek
1. Stress jangka pendek : Ny. S sampai sekarang hanya memikirkan bagaimana cara agar
penyakit Hipertensi bisa sembuh atau berkurang.
2. Stress jangka panjang : Ny. S memikiran bagamana caranya untuk tidak mempunyai
penyakit dan menjaga kesehatan sampai tua.
b. Kemampuan keluarga berespon terhadap situasi/stressor: Ny. S menghadapi masalah yang di
alami.
c. Strategi koping yang digunakan: strategi koping Ny. S bagus, bisa diajak
musyawarah/adaptif dengan berdoa.
d. Strategi adaptif fungsional : Ny. S dapat menjalani kehidupan seperti biasanya.
IX. Pemeriksaan fisik
Ny. S (61 tahun)
 Kepala : mesochepal, Simetris,
 Rambut : penyebaran rambut merata, putih beruban merata.
 Mata : simetris, tidak pakai kacamata, minus , tidak anemis.
 Hidung : simetris, tidak ada lesi, tidak ada serumen, tidak ada polip nasi.
 Mulut : simetris, tidak ada stomatitis, gigi bersih.
 Dada
 Pulmo
I : simetris, tidak ada lesi, tidak ada benjolan abnormal, tidak terdapat retraksi dada
Pe : sonor.
Pa :tidak ada nyeri tekan, taktil fremitus teraba.
A : tidak terdengar bunyi nafas tambahan.

 Kardio :
I : simetris, tidak ada benjolan abnormal, ictus cordis tidak tampak.
Pe : suara jantung redup.
Pa : tidak terdapat nyeri tekan.
A : S1 –S2 reguler.
 Abdomen
I : tidak ada benjolan.
A : peristaltik usus 12X/mnt.
Pa : timpani
Pe : tidak ada nyeri tekan.
 Eksremitas Atas : kanan kiri lengkap, tidak oedem, dapat bergerak aktif.
 Ekstremitas Bawah : kanan kiri lengkap, tidak ada oedem, dapat bergerak aktif.

X. HARAPAN KELUARGA
Ny. S mengharapkan dengan kedatangan perawat dapat membantu dan memberikan
informasi tentang penyakit yang di alaminya.

XI. ANALISA DATA


Nama Kepala Keluarga : Tn. G
Alamat : Ds. Karangroto 5/V Genuk, Semarang
No Data Masalah Penyebab
1 DS : Tn. G Kurang Ketidakmampuan
mengatakan pengetahuan keluarga dalam
kadang pusing, mengenal
kaku/ pegal masalah
ditengkuk apabila kesehatan yang
tekanan darah dialami Tn. G
tinggi
 Tn. G kurang
mengerti masalah
hipertensi, yang
saya tahu tekanan
darah tinggi.
DO :
TD : 150/100
mmHg
N : 90 x/ menit

2. DS : Tn. G Resti komplikasi Ketidakmampuan


mengatakan Hipertensi keluarga untuk
apabila kepala mendapat
saya pusing. Saya anggota keluarga
langsung periksa yang sakit.
kepukesmas atau
tim kesehatan.
Tn. G mengatakan
jarang berolahraga.
Tn. G mengatakan
apabila pusing saya
langsung tidur dan
mendinginkan
pikiran.
DO :
- TD : 150/100
mmHg

XII. DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Kurang pengetahuan b. D Ketidakmampuan keluarga dalam mengenal masalah
kesehatan yang dialami Tn. G
2. Resti komplikasi Hipertensi b. d Ketidakmampuan keluarga untuk mendapat anggota
keluarga yang sakit.
XIII. Skala Prioritas
NO Kriteria Nilai DX.1 DX.2 BOBOT
1. Sifat Masalah 3 1 1
- Tidak atau kurang sehat 3 1 1/3
- Ancaman kesehatan 2
- Keadaan sejahtera 1
2. Kemungkinan Masalah 1 2 2
dapat diubah 2/3 4/3
- Mudah 3
- Sebagian 2
- Tidak dapat 1

3. Potensi masalah untuk 2 3 1


dicegah 3 2/3 1
- Tinggi 2
- Cukup 1
- Rendah
4. Menonjolkan masalah 1 1 1
- Masalah berat harus 2 1/2 ½
segera ditangani
- Masalah tapi tidak perlu 1
segera ditangani
- Masalah tidak dirasakan 0

Total perhitungan : Dx1: 1 + + + = 2,83


Dx2 : + + 1 + = 3,16

XIV. PERENCANAAN ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA


Nama Kepala Keluarga : Tn. G
Alamat : Ds. Karangroto 5/V Genuk, Semarang
N Masalah Tujuan Kriteria Tinadakan
o Keperawata
n
Umum Khusus Kriteria Standar
11. Kurang Pengeta Setelah Respon 1.keluar 1.berikan
pengetahua huan dilakukan verbal ga penkes tentang
n b. D bertam pendidikan keluarga mampu definsi,gejala
Ketidakma bah kesehatan dapat menyebu hipertensi &
mpuan setelah tindakan menyebu tkan penatalaksanaa
keluarga dilakua keperawatan tkan pengerti n.
dalam n selama 1x30 definisi, an S: pendidikan
mengenal tindaka menit tanda hiperten kesehatan.
masalah n diharapkan gejala si 2. M: tingkat
kesehatan selama keluarga terjadin keluarga pengetahuan,
yang 2 hari mampu : ya mampu tingkat
dialami Ny. pada -mengenal hiperten menyebu pemahaman
S keluarg masalah si tkan A: -penyakit
. a Tn. hipertensi penyeba hipertensi -
G -keluarga b pengobatan
mapu hiperten untuk
mengambl si hipertensi.
keputusan 3. R: agar ny.n
tentang keluarga mendapatkan
masalah mampu informasi
hipertensi menyebu tentang
-dapat tka hipertensi dan
merawat tanda & memahami
anggota gejala hipertensi.
keluarga hiperten T: 1x30 menit.
dengan si 2. berikan
hipertensi, reinforcement
untuk dapat atas jawaban,
memodifikasi jelaskan &
lingkungan. tanyakan
- kembali.
mengaplikasi S: pemberian
kan relaksasi reinforcement.
M: ekspresi
wajah positif
A: ekspresi
wajah
R: untuk
meningkatkan
tingkat
kepercayaan.
T: 1x30 menit.
2 Resti Setelah Keluarga Respon 1.menye -berikan penkes
komplikasi dilakuk mampu verbal butkan 2 kepada ny.n
Hipertensi an menyebutkan keluarga dari 3 tentang definisi,
b. d pendidi kembali dapat kemung tanda gejala,
Ketidakma kan tentang menyebu kinan pencegahan.
mpuan kese kemungkinan tkan penyeba S: pendidikan
keluarga hatan penyebab penyeba b kesehatan
untuk tindaka terjadinya b dan terjadin M: tingkat
mendapat n peningkatan gejala ya pengetahuan
anggota kepera tekanan hiperten peningk A: pengertian
keluarga watan darah tinggi si atan dan etiologi
yang sakit selama - tekanan serta tanda
3x menyebutkan darah gejala
diharap akibat yang - hiipertensi
kan terjadi bila menyebu
keluarg tekanan tkan 2 R: agar pasien
a darah tidak dari 3 mendapatkan
mampu terkontrol tanda informasi &
meraw peningk memahami
at atan tentang
anggota tekanan hipertensi
keluarg darah T: 1X30 menit.
a yang
mender
ita
hiperte
nsi

XV. PELAKSANAAN ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA


Nama Kepala keluarga : Tn. G
Alamat : Ds. Karangroto 5/V Genuk, Semarang
Tanggal Masalah Implementasi Respon
keperawata
1. Kurang -memberikan DS: pasien
pengetahuan b. D penkes mengatakan
Ketidakmampuan -menanyakan bersedia untuk
keluarga dalam umpan balik pasien diberi
mengenal -memberikan pengetahuan
masalah reinforcement tentang
kesehatan yang - hipertensi
dialami Tn. G mendemonstrasikan DO: pasien
cara mengatasi kooperatif
pusing DS: pasien
mengatakan
akan menjawab
dari pertanyaan
yang diberikan
DO: pasien
tampak
menjawab
pertanyaan.
DS: pasien
mengatakn
berterima kasih
untuk
reinforcemennya
DO: pasien
tampak senang
diberikan
reinforcement
DS: Pasien
mengatakan
bersedia untuk
diberikan
demonstrasi
tentang cara
mengatasi
pusing
DO: pasien
tampak
kooperatif
2 Resti -menjelaskan DS: pasien
komplikasi kepada keluarga mengatakan
Hipertensi b. d tentang bersedia untuk
Ketidakmampuan kemungkinan menjelaskan
keluarga untuk penyebab tentang
mendapat terjadinya tekanan kemungkinan
anggota keluarga darah tinggi penyebab
yang sakit -menjelaskan terjadinya
tentang tanda & tekanan darah
gejala hipertensi tinggi
DO: pasien
tampak
menjelaskan
DS: pasien
mengatakan
bersedia untuk
menjelaskan
tentang
kemungkinan
tanda gejala
terjadinya
tekanan darah
tinggi
DO: pasien
tampak
menjelaskan

XVI. EVALUASI ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA


Nama kepala keluarga : Tn. G
Alamat : Ds. Karangroto 5/V Genuk, Semarang
Tanggal Masalah keperawatan Evaluasi
25 Mei 2013 1. Nyeri b.d Agen cidera Pasien Koperatif
fisik

25 Mei 2013 2. Ansietas b.d Pasen Koperatif


Ancaman atau
perubahan pada status
kesehatan.

PERAWATAN KELUARGA HIPERTENSI

A. Konsep Penyakit

1. Pengertian Hipertensi

Definisi atau pengertian hipertensi banyak dikemukakan oleh para ahli. WHO

mengemukakan bahwa hipertensi terjadi bila tekanan darah diatas 160/95 mmhg, sementara itu

Smelttzer & Bare (2002:896) mengemukakan bahwa hipertensi merupakan tekanan darah persisten

atau terus menerus sehingga melebihi batas normal dimana tekanan sistolik diatas 140 mmhg dan

tekanan diastole diatas 90 mmhg. Pendapat yang sama juga diutarakan oleh doenges (2000:42).

Pendapat senada juga disampaikan oleh TIM POKJA RS Harapan Kita, Jakarta (1993:199) dan Prof.

Dr. dr. Budhi Setianto (Depkes, 2007), yang menyatakan bahwa hipertensi adalah kenaikan tekanan

darah sistolik lebih dari 150 mmHg dan tekanan diastolik lebih dari 90 mmHg.

Terdapat perbedaan tentang batasan tentang hipertensi seperti diajukan oleh kaplan

(1990:205) yaitu pria, usia kurang dari 45 tahun, dikatakan hipertensi bila tekanan darah waktu

berbaring diatas atau sama dengan 130/90mmhg, sedangkan pada usia lebih dari 45 tahun dikatakan

hipertensi bila tekanan darah diatas 145/95 mmhg. Sedangkan pada wanita tekanan darah diatas

sama dengan 160/95 mmhg. Hal yang berbeda diungkapkan TIM POKJA RS Harapan Kita (1993:198)
pada usia dibawah 40 tahun dikatakan sistolik lebih dari 140 mmhg dan untuk usia antara 60-70

tahun tekanan darah sistolik 150-155 mmHg masih dianggap normal. Hipertensi pada usia lanjut

didefinisikan sebagai tekanan sistolik lebih besar dari 140 mmHg dan atau tekanan diastolik lebih

besar dari 90 mmHg ditemukan dua kali atau lebih pada dua atau lebih pemeriksaan yang berbeda.

(JNC VI, 1997).

Untuk usia kurang dari 18 tahun dikatakan hipertensi bila dua kali kunjungan yang berbeda

waktu didapatkan tekanan darah diastolik 90 mmHg atau lebih, atau apabila tekanan darah sistolik

pada beberapa pengukuran didapatkan nilai yang menetap diatas 140mmHg (R. P. Sidabutar dan

Waguno P, 1990).

Berdasarkan pengertian – pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa hipertensi

merupakan kenaikan tekanan darah dimana tekanan sistolik lebih dari 140 mmhg dan atau diastolik

lebih dari 90 mmhg.

2. Klasifikasi hipertensi

Klasifikasi hipertensi juga banyak diungkapkan oleh para ahli, diantaranya WHO menetapkan

klasifikasi hipertensi menjadi tiga tingkat yaitu tingkat I tekanan darah meningkat tanpa gejala-gejala

dari gangguan atau kerusakan sistem kardiovaskuler. Tingkat II tekanan darah dengan gejala

hipertrofi kardiovaskuler, tetapi tanpa adanya gejala-gejala kerusakan atau gangguan dari alat atau

organ lain. Tingkat III tekanan darah meningkat dengan gejala – gejala yang jelas dari kerusakan dan

gangguan faal dari target organ. Sedangkan JVC VII, Klasifikasi hipertensi adalah :

Kategori Tekanan sistolik Tekanan Diastolik (mmHg)

(mmHg)
Normal < 130 <85

Normal Tinggi 130-139 85-89

Hipertensi:

Stage I (ringan) 140-159 90-99

Stage II (sedang) 160-179 100-109

Stage III (berat) 180-209 110-120

Klasifikasi lain diutarakan oleh Prof. Dr. dr. Budhi Setianto (Depkes, 2007),

mengklasifikasikan tekanan darah tinggi menjadi 4 tingkatan yaitu normal (SBP = Sistole Blood

Pressure < 120 mm Hg dan Distole Blood Pressure = DBP < 80 mm Hg), pra hipertensi (SBP 120-139

mm Hg dan DBP 80-89 mm Hg), hipertensi tahap 1 (SBP 140-159 mm Hg dan DBP 90-99 mm Hg) dan

hipertensi tahap 2 (SBP >= 160 dan DBP >= 100. mm Hg.)

Sedangkan menurut TIM POKJA RS Harapan Kita, Jakarta, membagi hipertensi 6 tingkat yaitu

hipertensi perbatasan (borderline) yaitu tekanan darah diastolik, normal kadang 90-100mmHg.

Hipertensi ringan, tekanan darah diastolik 90-140mmHg. Hipertensi sedang, tekanan darah diastolik

105-114 mmHg. Hipertensi berat tekanan darah diastolik >115mmHg. Hipertensi maligna/ krisis

yaitu tekanan darah diastolik lebih dari 120 mmHg yang disertai gangguan fungsi target organ.

Hipertensi sistolik yaitu tekanan darah sistolik lebih dari 160 mmHg.

Pada hipertensi krisis dibagi lagi menjadi 2, menurut melalui TIM POKJA RS Harapan Kita

(2003:63) yaitu: hipertensi emergensi akut, membahayakan jiwa, hal ini terjadi karena disfungsi atau

kerusakan organ target. Yang kedua adalah hipertensi urgensi yaitu hipertensi berat tanpa ada

gangguan organ target akan tetapi tekanan darah perlu diturunkan dengan segera atau secara

bertahap dalam waktu 24-48 jam, sebab penurunan tekanan darah dengan cepat akan menimbulkan

efek ischemik pada organ target.


3. Etiologi

Penyebab terjadinya hipertensi adalah terdiri dari berbagai faktor, diantaranya Reeves&

lockhart(2001:114) mengemukakan bahwa Faktor-faktor resiko yang dapat menyebabkan hipertensi

adalah stress, kegemukan, merokok, hipernatriumia). Sedang Long (1995:660), TIM POKJA RS

Harapan Kita (2003:63) dan Yayasan jantung Indonesia (2007) menambahkan bahwa Penyebab

hipertensi dapat dibedakan menurut jenis hipertensi yaitu hipertensi primer (essensial) merupakan

tekenan darah tinggi yang disebabkan karena retensi air dan garam yang tidak normal, sensitifitas

terhadap angiotensin, obesitas, hiperkolesteroemia, emosi yang tergannggu /stress dan merokok.

Sedangkan hipertensi sekunder merupakan tekanan darah tinggi yang disebabkan karena penyakit

kelenjar adrenal, penyakit ginjal, toxemia gravidarum, peningkatan tekanan intra cranial, yang

disebabkan tumor otak, dan pengaruh obat tertentu missal obat kontrasepsi.

Dari uraian pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa penyebab hipertensi beragam

diantaranya adalah: stress, kegemukan, merokok, hipernatriumia, retensi air dan garam yang tidak

normal, sensitifitas terhadap angiotensin, obesitas, hiperkolesteroemia, penyakit kelenjar adrenal,

penyakit ginjal, toxemia gravidarum, peningkatan tekanan intra cranial, yang disebabkan tumor otak,

pengaruh obat tertentu missal obat kontrasepsi, asupan garam yang tinggi, kurang olah raga,

genetik, Obesitas, Aterosklerosis, kelainan ginjal, tetapi sebagian besar tidak diketahui penyebabnya.

4. Patofisiologi

Menurut Smeltzer & Bare (2002:898) mengatakan bahwa Mekanisme yang mengontrol

konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak di pusat vasomotor pada medulla oblongata di otak

dimana dari vasomotor ini mulai saraf simpatik yang berlanjut ke bawah korda spinalis dan keluar

dari kolomna medulla ke ganglia simpatis di torax dan abdomen, rangsangan pusat vasomotor
dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system syaraf simpatis . Pada titik

ganglion ini neuron prebanglion melepaskan asetilkolin yang merangsang serabut saraf paska

ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan melepaskannya nere frineprine mengakibatkan

konskriksi pembuluh darah.

Factor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah

terhadap rangsang vasokonstriktif yang menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah akibat aliran

darah yang ke ginjal menjadi berkurang /menurun dan berakibat diproduksinya rennin, rennin akan

merangsang pembentukan angiotensai I yang kemudian diubah menjadi angiotensis II yang

merupakan vasokonstriktoryang kuat yang merangsang sekresi aldosteron oleh cortex

adrenaldimana hormone aldosteron ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal dan

menyebabkan peningkatan volume cairan intra vaskuler yang menyebabkan hipertensi.

TIM POKJA RS Harapan Kita (2003:63) menyebutkan patofisiologis hipertensi adalah: pada

hipertensi primer perubahan patologisnya tidak jela didalam tubuh dan organ-organ. Terjadi secara

perlahan yang meluas dan mengambil tempat pada pembuluh darah besar dan pembuluh darah

kecil pada organ – organ seperti jantung, ginjal dan pembuluh darah otak. Pembuluh seperti aorta,

arteri koroner, arteri basiler yang ke otak dan pembuluh darah perifer di ekstremitas menjadi

sklerotik dan membengkak. Lumen-lumen menjepit, aliran darah ke jantung menurun, bergitu juga

ke otak dan ekstremitas bawah bisa juga terjadi kerusakan pembuluh darah besar.

5. Manifestasi Klinik

Menurut TIM POKJA RS Harapan Kita (2003:64) mengemukakan bahwa manifestasi klinik

yang sering tidak tampak. Pada beberapa pasien mengeluh sakit kepala, pusing, lemas, sesak nafas,

kelelahan, kesadaran menurun, mual, gelisah, muntah, kelemahan otot,epitaksis bahkan ada yang

mengalami perubahan mental.


Sedangkan menurut FKUI (1990:210) dan Dr. Budhi Setianto (Depkes, 2007) hipertensi

esensial kadang tampa gejala dan baru timbul gejala setelah terjadi komplikasi pada organ target

seperti pada ginjal, mata, otak dan jantung. Namun terdapat pasien yang mengalami gejala dengan

sakit kepala, epitaksis.

6. Penatalaksanaan

Terdapat 2 cara penanggulangan hipertensi menurut FKUI (1990: 214-219) yaitu dengan non

farmakologis dan dengan farmakologis. Cara non farmakologis dengan menurunkan berat badan

pada penderita yang gemuk, diet rendah garam dan rendah lemak, mengubah kebiasaan hidup, olah

raga secara teratur dan kontrol tekanan darah secara teraut. Sedangkan dengan cara farmakologis

yaitu dengan cara memberikan obat-obatan anti hipertensi seperti diuretik seperti HCT, Higroton,

Lasix. Beta bloker seperti propanolol. Alfa bloker seperti phentolamin, prozazine, nitroprusside

captapril. Simphatolitic seperti hidralazine, diazoxine. Antagonis kalsium seperti nefedipine (adalat).

Pengobatan hipertensi harus dilandasi oleh beberapa prinsip menurut FKUI (1990) yaitu

pengobatan hipertensi sekunder harus lebih mendahulukan pengobatan kausal, pengobatan

hipertensi esensial ditujukan untuk menurunkan tekanan darah dengan harapan memperpanjang

umur dan mengurangi timbulnya komplikasi, upaya menurunkan tekanan darah dicapai dengan

menggunakan obat anti hipertensi, pengobatan hipertensi adalah pengobatan jangka panjang

bahkan mungkin seumur hidup, pengobatan dengan menggunakan standard triple therapy (STT)

menjadi dasar pengobatan hipertensi.

Tujuan pengobatan dari hipertensi adalah menurunkan angka morbiditas sehingga upaya

dalam menemukan obat anti hipertensi yang memenuhi harapan terus dikembangkan.
7. Komplikasi

Adapun komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit hipertensi menurut TIM POKJA RS

Harapan Kita (2003:64) dan Dr. Budhi Setianto (Depkes, 2007) adalah diantaranya : penyakit

pembuluh darah otak seperti stroke, perdarahan otak, transient ischemic attack (TIA). Penyakit

jantung seperti gagal jantung, angina pectoris, infark miocard acut (IMA). Penyakit ginjal seperti

gagal ginjal. Penyakit mata seperti perdarahan retina, penebalan retina, oedema pupil.

8. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang menurut FKUI (2003:64) dan Dosen Fakultas kedokteran USU, Abdul

Madjid (2004), meliputi pemeriksaan laboratorium rutin yang dilakukan sebelum memulai terapi

bertujuan menentukan adanya kerusakan organ dan factor resiko lain atau mencari penyebab

hipertensi. Biasanya diperiksa urin analisa, darah perifer lengkap, kimia darah (kalium, natrium,

kreatinin, gula darah puasa, kolesterol total, HDL, LDL dan pemeriksaan EKG. sebagai tambahan

dapat dilakukan pemerisaan lain, seperti klirens kreatinin, protein, asam urat, TSH dan ekordiografi.

Pemeriksaan diagnostik meliputi BUN /creatinin (fungsi ginjal), glucose (DM) kalium serum

(meningkat menunjukkan aldosteron yang meningkat), kalsium serum (peningkatan dapat

menyebabkan hipertensi: kolesterol dan tri gliserit (indikasi pencetus hipertensi), pemeriksaan tiroid

(menyebabkan vasokonstrisi), urinanalisa protein, gula (menunjukkan disfungsi ginjal), asam urat

(factor penyebab hipertensi) EKG (pembesaran jantung, gangguan konduksi), IVP (dapat

mengidentifikasi hipertensi.

9. Pathways
PATHWAYS
10. Pengkajian Fokus

Menurut Doenges, (2004:41-42) dan mengemukakan bahwa pengkajian pasien hipertensi

meliputi:

a. Aktifitas & istirahat meliputi kelemahan, keletihan, nafas pendek, frekwensi jantung meningkat,

perubahan irama jantung,

b. Sirkulasi meliputi adanya riwayat hipertensi, penyakit jantung coroner,

episodepalpitasi, kenaikan tekanan darah, tekhicardi, kadang bunyi jantung terdengar S2 pada

dasar ,S3dan S4.

c. Integritas ego meliputi cemas, depresi, euphoria, mudah marah ,otot muka tegang, gelisah,

pernafasan menghela, peningkatan pola bicara.

d. Eliminasi meliputi Riwayat penyakit ginjal

e. Makanan /cairan meliputi makanan yang disukai terutama yang mengandung tinggi garam, linggi

lemak, dan kolesterol, mual, muntah, perubahan berat badan, riwayat penggunaan obat diuritik,

adanya edema.

f. Neurosensori meliputi keluhan kepala pusing, berdenyut , sakit kepala sub oksipital, kelemahan

pada salah satu sisi tubuh, gangguan penglihatan (diplopia, pandangan kabur) ,epitaksis.

g. Nyeri /ketidak nyamanan meliputi nyeri hilang timbul pada tungkai,sakit kepala sub oksipital berat,

nyeri abdomen, nyeri dada.

h. Pernafasan meliputi sesak nafas sehabis aktifitas, batuk dengan atau tanpa sputum, riwayat

merokok, penggunaan obat Bantu pernafasan, bunyi nafas tambahan ,sianosis


i. Keamanan meliputi gangguan cara berjalan, parestesia, hipotensi postural.

j. Pembalajaran/penyuluhan dengan adanya factor- factor resiko keluarga yaitu arteriosclerosis,

penyakit jantung, DM, penyakit ginjal.

11. Diagnosa keperawatan (Doengoes, 2004)

a. Penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload/ vasokonstriksi/ iskemi

miokard/ hipertrophi ventrikel

b. Ketidakmampuan melakukan aktifitas berhubungan dengan kelemahan menyeluruh/ suplai dan

kebutuhan oksigen tidak seimbang

c. Gangguan rasa nyaman sakit kepala berhubungan dengan kenaikan terkanan pada pembuluh darah

cerebral

d. Gangguan nutrisi lebih dari kebutuhan berhubungan dengan intake makanan berlebihan/ gaya hidup

sedentary

e. Koping pasien tidak efektif berhubungan dengan krisis situasional/ maturitas/ perubahan hidup yang

multiple/ kurang relaksasi/ tidak melakukan olah raga/ nutrisi krisis buruk/ harapan tidak tidak

terpenuhi/ beban kerja berlebihan/ persepsi tidak realistis/ metode koping tidak adekuat.

B. Konsep Keluarga
1. Pegertian Keluarga

Banyak ahli menguraikan pengertian tentang keluarga. Terdapat pengertian yang berbeda

dalam hal mendefinisikan tentang keluarga. UU. No. 10 tahun 1992 mendefinisikan keluarga adalah

unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari suami-istri, atau suami-istri dan anaknya, atau ayah

dan anaknya, atau ibu dan anaknya. Pakar konseling dari yogyakarta, Sayekti (1994) mendefinisikan

keluarga adalah suatu ikatan/ persekutuan hidup atas dasar perkawinan antar orang dewasa yang

berlainan jenis yang hidup bersama atau seorang laki-laki atau perempuan yang sudah sendirian

dengan atau tanpa anak, baik anaknya sendiri atau adopsi yang tinggal dalam sebuah rumah tangga.

Dep.Kes. RI (1988) mendefinisikan keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri

atas kepala keluarga beserta beberapa orang anggotanya yang terkumpul dan tinggal dalam satu

tempat karena pertalian darah, ikatan perkawinan, atau adopsi yang satu sama lainnya saling

tergantung dan beriteraksi. Friedman (1998) mendefinisikan keluarga adalah kumpulan dua orang

atau lebih yang hidup bersama dengan keterikatan aturan dan emosional dan individu mempunyai

peran masing-masing yang merupakan bagian dari keluarga. Bailon dan Maglaya (1989)

mendefiniskan keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan

darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam suatu rumah tangga,

berinteraksi satu sama lain dan di dalam peranannya masing- masing dan menciptakan serta

mempertahankan suatu kebudayaan. Effendy (2005), Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat

yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di

bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.

Pengertian yang disampaikan para ahli terdapat beberapa persamaan antara lain antara

Sayekti (1994), Dep. Kesehatan. RI (1988), Bailon dan Maglaya (1989) dan Effendi (2005) yaitu

keluarga tergabung karena adanya hubungan perkawinan. namun terdapat perbedaan pandangan

yaitu pandangan dari Friedman (1998) yang tidak menyebutkan secara spesifik adanya hubungan

perkawinan dalam rumah tangga, hanya menyebutkan adanya keterikatan aturan dan emosional,
tetapi pada prinsipnya sama yaitu adanya perkumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama,

adanya aturan didalamnya, dan adanya interaksi antar anggota keluarga.

Dari beberapa pengertian tentang keluarga tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa

keluarga adalah :

1) Terdiri dari dua atau lebih individu yang diikat oleh hubungan darah, perkawinan atau adopsi.

2) Anggota keluarga biasanya hidup bersama atau jika terpisah mereka tetap memperhatikan satu

sama lain.

3) Anggota keluarga berinteraksi satu sama lain dan masing-masing mempunyai peran sosial

a. Tujuan dasar keluarga

Bergabungnya dua orang atau lebih yang membentuk keluarga, mempunyai suatu tujuan.

Menurut Friedman (1998) tujuan utama keluarga adalah sebagai perantara yaitu menanggung

semua harapan dan kewajiban-kewajiban masyarakat serta membentuk dan mengubah sampai taraf

tertentu hingga dapat memenuhi kebutuhan dan kepentingan setiap individu dalam keluarga.

b. Struktur keluarga

Struktur keluarga menurut Effendy (1998:33) terdiri dari bermacam-macam, diantaranya:

patrilineal, matrilineal, matrilokal, patrilokal dan keluarga kawinan.

Patrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa

generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ayah, sedangkan matrilineal adalah sama

dengan patrilineal hanya hubungan disusun berdasarkan garis ibu. Matrilokal merupakan sepasang

suami-istri yang tinggal dengan keluarga sedarah istri berbeda dengan patrilokal merupakan

kebalikan dari matrilokal yang tinggal dengan keluarga sedarah suami. Sedangkan keluarga kawinan

adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan keluarga dan beberapa sanak saudara

yang menjadi bagian keluarga karena adanya hubungan dengan suami atau istri.
c. Ciri – ciri struktur keluarga

Struktur keluarga mempunyai ciri-ciri khusus, menurut Effendy (1998:33) yang mengutip dari

Anderson Carter, ciri-ciri struktur keluarga adalah: terorganisasi dimana antar anggota keluarga

saling ketergantungan antara anggota keluarga. Kedua, ada keterbatasan yaitu setiap anggota

memiliki kebebasan tetapi mereka juga mempunyai keterbatasan dalam menjalankan fungsi dan

tugasnya masing-masing. Kektiga. Ada perbedaan dan kekhususan yaitu setiap anggota keluarga

mempunyai peranan dan fungsinya masing-masing.

d. Type-type keluarga :

Tipe atau bentuk keluarga berbeda menurut pandangan dan keilmuan serta orang yang

mengelompokkannya. Menurut Suprajitno, SKp (2004:2), tipe keluarga dibagi menjadi 2 kelompok

yaitu : 1. kelompok tradisional, 2. Kelompok non tradisional.

Kelompok tradisional dibagi menjadi 2 yaitu : Keluarga inti (Nuclear Family) yaitu keluarga yang

hanya terdiri dari ayah, ibu dan anak yang diperoleh dari keturunannya atau diadopsi atau keduanya.

dan keluarga besar (Extendeed Family) yaitu keluarga inti ditambah anggota keluarga lain yang masih

mempunyai hubungan darah (kakek-nenek, paman-bibi).

Sedangkan kelompok kedua (Non Traditional) yaitu kelompok tradisional dengan

perkembangannya ditambah dengan kelompok lain yaitu: keluarga bentukan kembali (Dyadic

Family) yaitu keluarga baru yang terbentuk dari pasangan yang telah bercerai atau kehilangan

pasangannya, orang tua tunggal (Single Parent Family) yaitu keluarga yang terdiri dari salah satu

orang tua dengan anak-anaknya akibat perceraian atau ditinggal pasangannya, ibu dengan anak

tanpa perkawinan yang sah (The unmarried teenage mother), orang dewasa laki-laki atau

perempuan yang tinggal sendiri tanpa pernah menikah (The single adult living alone), keluarga

dengan anak tanpa pernikahan sebelumnya (The non marital heterosecual cohabiting family) dan

keluarga yang dibentuk oleh pasangan yang berjenis kelamin sama (gay and lesbian family).
Terdapat perbedaan dengan teori lain seperti yang disampaikan oleh Effendy (1998:33) yang

membagi tipe keluarga menjadi 6 tipe/ bentuk keluarga, yaitu: Keluarga inti (Nuclear family) yaitu

keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak. Keluarga besar (Exstended family) yaitu keluarga

inti ditambah dengan sanak saudara, misalnya nenek, kakek, keponakan, saudara sepupu, paman,

bibi dan sebagainya.

Berbeda dengan keluarga berantai (Serial family) yaitu keluarga yang terdiri dari wanita dan pria

yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan satu keluarga inti. Keluarga duda/janda (single

family) yaitu keluarga yang terjadi karena perceraian atau kematian, jika suami meninggal maka

yang ada adalah keluarga janda dan bila istri meninggal maka yang terbentuk adalah keluarga duda,

bila bentuk keluarga yang terjadi kerena perceraian maka akan terbentuk dua keluarga yaitu

keluarga duda dan keluarga janda. Keluarga berkomposisi (Composite) yaitu keluarga yang

perkawinannya berpoligami dan hidup secara bersama, poligami yaitu satu orang pria dengan lebih

dari satu istri dan masih hidup bersama. Keluarga kabitas (Cahabitation) yaitu dua orang menjadi

satu tanpa pernikahan tetapi membentuk suatu keluarga.

e. Tahap dan tugas perkembangan keluarga

Setiap keluarga mempunyai tahap perkembangan dan tugas perkembangan sendiri dan

mempuyai ciri yang berbeda dengan yang lain. Terdapat beberapa teori tentang tahap dan tugas

perkembangan keluarga, yaitu: menurut Carter dan McGoldrick (1989), tahap perkembangan terdiri

dari : keluarga antara masa bebas (pacaran) dewasa muda, terbentuknya keluarga baru melalui

suatu perkawinan, keluarga yang memiliki anak usia muda (anak usia bayi sampai sekolah), keluarga

yang memiliki anak dewasa, keluarga yang mulai melepaskan anaknya untuk keluar rumah, keluarga

lansia.

Sedangkan menurut Duvall (1989), tahap perkembangan keluarga dibagi dalam 8 tahap

perkembangan yaitu: keluarga baru menikah, keluarga dengan anak baru lahir (usia anak tertua
sampai 30 tahun), keluarga dengan anak prasekolah (usia anak tertua 2 ½ tahun -5 tahun), keluarga

dengan anak usia sekolah (usia anak tertua 6-12 tahun), keluarga mulai melepaskan anak sebagia

dewasa (anak-anaknya mulai meninggalkan rumah), keluarga yang hanya terdiri dari orang tua saja/

keluarga usia pertengahan (semua anak meninggalkan rumah), keluarga lansia.

Tahap perkembangan keluarga baru menikah, tahap ini dimulai dari pernikahan yang dilanjutkan

dalam membentuk rumah tangga. Dalam tahap ini keluarga mempunyai tugas perkembangan yaitu

membina hubungan intim yang memuaskan pasangannya, membina hubungan dengan keluarga lain,

teman dan keluarga sosial.

Tahap perkembangan yang kedua, keluarga keluarga dengan anak baru lahir. Yaitu ditandai

dengan kelahiran anak pertama sampai dengan 30 bulan. Tugas perkembangan keluarga ini adalah

mempersiapkan menjadi orang tua, adaptasi dengan perubahan adanya anggota keluarga, interaksi

keluarga, hubungan seksual dan kegiatan, mempertahankan hubungan dalam rangka memuaskan

pasangannya.

Tahap perkembangan selanjutnya adalah keluarga dengan anak usia pra sekolah. Pada tahap ini

mempunyai tugas perkembangan memenuhi kebutuhan anggota keluarga, misal kebutuhan tempat

tinggal, privasi dan rasa aman, membantu anak untuk bersosialisasi, beradaptasi dengan anak yang

beru lahir, sementara kebutuhan anak yang lain yang lebih tua juga harus terpenuhi,

mempertahankan hubungan yang sehat baik didalam maupun diluar keluarga, pembagian waktu

untuk individu, pasangan dan anak, pembagian tanggung jawab anggota keluarga, merencanakan

kegiatan dan waktu untuk menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan anak.

Tahap perkembangan yang keempat adalah keluarga dengan anak usia sekolah. Tugas

perkembangan pada tahap ini adalah membantu sosialisasi anak terhadap lingkungan luar rumah,

sekolah dan lingkungan lebih luas ( yang tidak diperoleh dari sekolah atau masyarakat ), tugas yang

lain adalah mempunyai keintiman pasangan, memenuhi kebutuhan yang meningkat termasuk biaya
kehidupan dan kesehatan anggota keluarga.

Tahap perkembangan selanjutnya adalah keluarga dengan anak remaja. Tugas perkembangan

pada tahap ini adalah memberikan kebebasan yang seimbang dan bertanggung jawab mengingat

anak remaja adalah sorang dewasa muda dan mulai memiliki otonomi, mempertahankan hubungan

intim dalam keluarga, mempertahankan komunikasi terbuka antara anak dan orang tua,

mempersiapkan perubahan sistem peran dan peraturan (anggota) keluarga untuk memenuhi

kebutuhan tumbuh kembang anggota keluarga.

Tahap perkembangan yang keenam adalah keluarga mulai melepaskan anak sebagai dewasa.

Tugas dalam tahap ini adalah memperluas jaringan keluarga dari keluarga inti menjelaskan keluarga

besar, mempertahankan keintiman pasangan, membantu anak untuk mandiri sebagai keluarga baru

di masyarakat, penataan kembali peran orang tua dan kegiatan dirumah.

Tahap perkembangan selanjutnya adalah keluarga dengan usia pertengahan. Pada tahap ini

mempunyai tugas perkembangan mempertahankan kesehatan individu dan pasangan usia

pertengahan, mempertahankan hubungan yang serasi dan memuaskan dengan anak-anaknya dan

sebaya, meningkatkan keakraban pasangan.

Tahap perkembangan yang terakhir atau yang kedelapan adalah keluarga usia tua. Tugas pada

perkembangan ini adalah mempertahankan suasana kehidupan rumah tangga yang saling

menyenangkan pasangan, adaptasi dengan perubahan yang akan terjadi, kehilangan pasangan,

kekuatan fisik dan penghasilan keluarga, mempertahankan keakraban pasangan dan saling merawat

dan melak life review masa lalu.

f. Pemegang kekuasaan dalam keluarga

Pemegang kekuasaan dalam tiap keluarga berbeda dalam mengatur kehidupan dalam

keluarga. Effendy (1998:34) membagi pemegang kekuasaan dalam rumah tangga atau keluarga

dengan tiga jenis yaitu keluarga patriakal, yang dominan dan memegang kekuasaan dalam keluarga
adalah pihak ayah. Sementara pada keluarga matriakal pihak ibu lebih dominan dan sebagai

pemegang kekuasaan. Dan yang ketiga adalah equalitarian yaitu keluarga yang dalam keluarga ayah

dan ibu sama-sama memegang kekuasaan.

g. Peran Keluarga

Peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal, sifat, kegiatan yang

berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu. Effendy (1998: 34) membagi

peranan keluarga dalam tiga peranan yaitu peranan ayah, peranan ibu dan juga peranan anak.

Peranan ayah adalah sebagai suami dari istri dan ayah dari anak-anak, berperan sebagai pencari

nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari

kelompok sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungan.

Peranan ibu adalah sebagai istri dari suami dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai

peranan untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya, pelindung

dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari

lingkungannya, di samping itu juga ibu dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam

keluarga, Apabila dalam keluarga sudah mempunyai anak, maka selain ada peranan ayan, peranan

ibu, juga ada peranan anak.

Sedangkan Peranan anak adalah melaksanakan peranan psiko-sosial sesuai dengan tingkat

perkembangannya baik fisik, mental, sosial dan spriritual.


h. Fungsi keluarga

Terbentuknya keluarga mempunyai berbagai fungsi dalam menunjang kehidupan dalam


Keluarganya. Beberapa ahli mempunyai perbedaan dalam menyebutkan fungsi dalam keluarga.

Friedman ( 1998:13 ) mengidentifikasikan lima fungsi dasar keluarga, yaitu: Fungsi afektif.
Fungsi afektif berhubungan erat dengan fungsi internal keluarga, yang merupakan basis kekuatan
keluarga. Fungsi afektif berguna untuk pemenuhan kebutuhan psikososial. Keberhasilan
melaksanakan fungsi afektif tampak pada kebahagiaan dan kegembiraan dari seluruh anggota
keluarga. Tiap anggota keluarga saling mempertahankan iklim yang positif. Komponen yang perlu
dipenuhi oleh keluarga dalam melaksanakan fungsi afektif adalah; saling mengasuh, cinta kasih,
kehangatan, saling menrima, saling mendukung, saling menghargai, dan ikatan antar anggota
keluarga dikembangkan melalui proses identifikasi dan penyesuaian pada berbagai aspek kehidupan
anggota keluarga.

Dari aspek fungsi afektif dapat disimpulkan bahwa fungsi afek merupakan sumber energi
yang menentukan kebahagiaan keluarga. Keretakan keluarga, kenakalan anak atau masalah keluarga
timbul karena fungsi afektif yang tidak terpenuhi.

Fungsi sosialisasi. Sosialisasi adalah proses perkembangan dan perubahan yang dilalui
individu, yang menghasilkan interaksi social dan belajar berperan dalam lingkungan social (Friedman,
1998:13). Keberhasilan perkembangan individu dan keluarga dicapai melalui interaksi atau
hubungan antar anggota keluarga yang diwujudkan dalam sosialisasi.

Fungsi Reproduksi. Keluarga berfungsi untuk meneruskan kelangsungan keturunan dan


menambah sumber daya manusia. Dengan adanya program keluarga berencana maka fugsi ini
sedikit terkontrol.

Fungsi Ekonomi. Fungsi ekonomi merupakan fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan
seluruh anggota keluarga, seperti kebutuhan akan makan, pakaian, dan tempat untuk berlindung
(rumah).

Fungsi Perawatan Kesehatan. Keluarga juga berfungsi untuk melaksanakan praktek asuhan
kesehatan yaitu untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan dan atau merawat anggota
keluarga yang sakit. Kemampuan keluarga dalam memberikan asuhan kesehatan mempengaruhai
status kesehatan keluarga. Keluarga yang dapat melaksanakan tugas kesehatan berarti sanggup
menyelesaikan masalah kesehatan keluarga.

Berdasarkan fungsi perawatan keluarga inilah yang kemudian dikembangkan menjadi tugas
keluarga dibidang kesehatan. Adapun tugas kesehatan keluarga (Friedman, 1998) adalah; mengenal
masalah kesehatan, membuat keputusan tindakan kesehatan yang tepat, memberi perawatan pada
anggota keluarga yang sakit, mempertahankan atau menciptakan suasana rumah yang sehat dan
mempertahankan hubungan dengan (menggunakan ) fasilitas kesehatan masyarakat.

Fungsi keluarga menurut ahli yang lain yaitu Effendy (1998:35), membagi fungsi keluarga
menjadi fungsi biologis, fungsi psikologis, fungsi sosialisasi, fungsi ekonomi dan fungsi pendidikan.
Fungsi biologis keluarga adalah untuk meneruskan keturunan, memelihara dan membesarkan anak.
Memenuhi kebutuhan gizi keluarga dan memelihara serta merawat anggota keluarga juga
merupakan fungsi biologis yang dapat dijalankan keluarga (Effendy, 1998:35).

Fungsi psikologis yang dapat dijalankan keluarga adalah memberikan kasih sayang dan rasa
aman, memberikan perhatian di antara anggota keluarga, membina pendewasaan kepribadian
anggota keluarga serta memberikan identitas keluarga. Adapun fungsi sosialisasi keluarga yaitu
membina sosial pada anak, membentuk norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkat
perkembangan anak dan yang krusial adalah menaruh nilai-nilai budaya keluarga (Effendy, 1998:35).

Keluarga juga mempunyai fungsi ekonomi yaitu mencari sumber-sumber penghasilan untuk
memenuhi kebutuhan keluarga dan pengaturan penggunaan penghasilan keluarga untuk memenuhi
kebutuhan keluarga. Kebutuhan keluarga tidak hanya sesaat, tetapi terus berlanjut sehingga
keluarga perlu dapat mengatur ekonomi keluarga sehingga dapat menunjang kehidupan baik
sekarang maupun yang akan datang. Untuk mempersiapkan kebutuhan yang akan datang, keluarga
dapat menabung yang berguna untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga di masa yang
akan datang, misalnya pendidikan anak-anak, jaminan hari tua dan sebagainya (Effendy, 1998:35).

Memasuki taraf anak sekolah dan dewasa, keluarga mempunyai fungsi pendidikan. Dalam
hal ini fungsi keluarga adalah menyekolahkan anak untuk memberikan pengetahuan, ketrampilan
dan membentuk perilaku anak sesuai dengan bakat dan minat yang dimiliki dan berguna untuk
mempersiapkan anak dalam memenuhi peranannya sebagai orang dewasa. Keluarga juga
melaksanaan fungsi pendidikan baik di rumah maupun diluar rumah dengan cara mendidik anak
sesuai dengan tingkat-tingkat perkembangannya (Effendy, 1998:35).

Dari berbagai fungsi di atas, Effendy (1998:36) menyebutkan tiga fungsi pokok keluarga
terhadap anggotanya yaitu asih, asuh dan asah. Asih adalah memberikan kasih sayang, perhatian,
rasa aman, kehangatan kepada anggota keluarga sehingga memungkinkan mereka tumbuh dan
berkembang sesuai usia dan kebutuhannya.

Asuh adalah memenuhi kebutuhan pemeliharaan dan perawatan anak agar kesehatannya
selalu terpelihara, sehingga diharapkan menjadikan mereka anak-anak yang sehat baik fisik, mental,
sosial dan spiritual. Sedangkan asah adalah memenuhi kebutuhan pendidikan anak, sehingga siap
menjadi manusia dewasa yang mandiri dalam mempersiapkan masa depannya, misalnya dengan
menyekolahkan anak-anak (Effendy, 1998:36).

Indonesia dalam fungsi keluarga membagi menjadi delapan (UU No. 10. tahun 1992 jo PP
No.21 tahun 1994:14) yaitu: fungsi keagamaan. Keluarga berfungsi dalam membina,
menerjemahkan, memberi contoh konkret dalam kehidupan sehari-hari, melengkapi dan menambah
proses kegiatan belajar keagamaan dan membina rasa, sikap dan praktik kehidupan keluarga
beragama. Hal ini dalam keluarga sebagai fondasi menuju keluarga kecil bahagia dan sejahtera.

Keluarga sebagai fungsi budaya yaitu membina dalam meneruskan norma dan budaya
masyarakat dan bangs, membina dalam menyaring budaya asing yang tidak sesuai, membina dalam
pemecahan masalah dari pengaruh negatif globalisasi, membina agar berperilaku positif dan
membina budaya yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia yang selaras, sesuai dan seimbang.
Dalam fungsi cinta kasih didalam keluarga, dengan menumbuhkembangkan potensi kasih
sayang, membina tingkahlaku, membina praktik kecintaan terhadap kehidupan ukhrowi dan mampu
memberi dan menerima kasih sayang sebagai pola hidup yang ideal.

Fungsi perlindungan, dengan memberi rasa aman keluarga baik fisik maupun psikis dan
menjadikan stabilitas dan keamanan keluarga. Fungsi reproduksi, membina sebagai wahana
reproduksi sehat dengan memberikan contoh kaidah – kaidah pembentukan keluarga baik yang
berkaitan dengan melahirkan, jarak anak, jumlah ideal anak dalam keluarga sebagai modal kondusif
keluarga. Fungsi sosialisasi, membina proses sosialisasi dalam meningkatkan kematangan dan
kedewasaan anak sehingga dapat bermanfaat positif.

Keluarga berfungsi ekonomi, melakukan kegiatan ekonomi, mengelola, mengatur hasil


kegiatan ekonomi sebagai modal dalam mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera. Fungsi
pelestarian lingkungan, dengan membina kesadaran, sikap, praktik perilaku pelestarian lingkungan.

Dari berbagai literatur diatas dapat disimpulkan bahwa keluarga mempunyai bermacam
fungsi yang bertujuan dalam mewujudkan keluarga yang penuh dengan sifat asah, asih dan asuh
sehingga dapat terpenuhi tujuan dalam pembentukan keluarga yang sejahtera.

i. Tugas Keluarga Dalam Bidang Kesehatan

Keluarga dalam masalah kesehatan mempunyai tugas pemeliharaan kesehatan para


anggotanya dan saling memelihara. Suprajitno (2004:16) membagi 5 tugas kesehatan yang harus
dilakukan oleh keluarga yaitu mengenal gangguan atau masalah perkembangan kesehatan setiap
anggota keluarga, setelah mengenal keluarga diharapkan mampu mengambil keputusan untuk
melakukan tindakan yang tepat. keluarga juga bertugas memberi keperawatan kepada anggota
keluarganya yang sakit dan yang tidak dapat membantu dirinya karena cacat atau usia yang terlalu
muda.

Dalam hal lingkungan untuk menjamin kesehatan, keluarga diharapkan dapat memodifikasi
lingkungan sehingga tidak terjadi dampak dari lingkungan yang tidak sehat baik didalam maupun
diluar rumah. Suprajitno (2004:18) menambahkan keluarga memannfaatkan dengan baik fasilitas-
fasilitas kesehatan dalam menjamin kondisi yang sehata didalam keluarga.

2. Proses Keperawatan Keluarga

Menurut Bailon dan Maglaya (1978:2) dalam proses keperawatan keluarga terdapat
berbagai bentuk proses keperawatan kesehatan dimana perawatan kesehatan keluarga adalah
tingkat perawatan kesehatan masyarakat yang ditujukan atau dipusatkan pada keluarga sebagai unit
terkecil d\atau satu kesatuan yang dirawat, dengan sehat sebagi tujuannya dan melalui perawatan
kesehatan sebagai sarananya. Sedangkan menurut Effendi (1998:46) Proses keperawatan adalah
metode ilmiah yang digunakan secara sistematis untuk mengkaji dan menentukan masalah
kesehatan dan keperawatan keluarga, merencanakan asuhan keperawatan dan melaksanakan
intervensi terhadap keluarga sesuai dengan rencana yang telah disusun dan mengevaluasi mutu hasil
asuhan keperawatan yang dilaksanakan terhadap keluarga.
Proses keperawatan merupakan pusat bagi semua tindakan keperawatan, yang dapat
diaplikasikan dalam situasi apa saja, dalam kerangka referensi tertentu, konsep tertentu, teori atau
falsafah (Yora & Walsh, 1979 dikutip oleh Friedman, 1998:54).

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa perawatan kesehatan keluarga dipusatkan
pada keluarga dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan keluarga dalam status kesehatan
keluarga.

Proses keperawatan keluarga terdapat beberapa langkah yang disusun secara sistematis
untuk menggambarkan perkembangan dari tahap ke tahap. Menurut Friedman (1998: 55) membagi
proses keperawatan kedalam lima tahap yang terdiri dari pengkajian terhadap keluarga, identifikasi
masalah keluarga dan individu atau diagnosa keperawatan, rencana perawatan, implemntasi
rencana pengerahan sumber-sumber dan evaluasi perawatan.

Effendi (1998:45) menambahkan, dalam melakukan asuhan keperawatan kesehatan


keluarga dengan melalui membina hubungan kerjasama yang baik dengan keluarga yaitu dengan
mengadakan kontrak dengan keluarga, menyampaikan maksud dan tujuan, serta minat untuk
membantu keluarga dalam mengatasi masalah kesehatan keluarga, menyatakan kesediaan untuk
membantu memenuhi kebutuhan – kebutuhan kesehatan yang dirasakan keluarga dan membina
komunikasi dua arah dengan keluarga.

a. Pengkajian

Pengkajian adalah suatu tahapan ketika seorang perawat mengumpulkan informasi secara

terus menerus tentang keluarga yang dibinanya (Suprajitno, 2004:29). Pengkajian merupakan

langkah awal pelaksanaan asuhan keperawatan keluarga. Agar diperoleh data pengkajian yang

akurat dan sesuai dengan keadaan keluarga, perawat diharapkan menggunakan bahasa ibu (bahasa

yang digunakan sehari-hari), lugas dan sederhana (Suprajitno: 2004).

Kegiatan yang dilakukan dalam pengkajian meliputi pengumpulan informasi dengan cara

sistematis dengan menggunakan suatu alat pengkajian keluarga, diklasifikasikan dan dianalisa

(Friendman, 1998: 56)

a.1. Pengumpulan data

1) Identitas keluarga yang dikaji adalah umur, pekerjaan, tempat tinggal, dan tipe keluarga.

Pada umumnya penderita hipertensi merupakan penyakit yang dipengaruhi oleh pola hidup

terutama pola hidup yang salah, pola hidup yang berhubungan dengan emosi yang negative seperti
emosi yang tidak terkendali atau temperamental, ambisius, pekerja kerasyang tidak tenang, takut

dan kecemasan yang berlebihan (Indomedia, 2002).

2) Latar belakang budaya /kebiasaan keluarga

a. Kebiasaan makan

Kebiasaan makan ini meliputi jenis makanan yang dikosumsi oleh Keluarga. Pada keluarga dengan

hipertensi sering dijumpai pola makan yang tidak benar seperti mengkosumsi makanan yang banyak

mengandung zat pengawet ,makanan yang asin serta emosi yang negatif

b. Pemanfaatan fasilitas kesehatan

Perilaku keluarga didalam memanfaatkan fasilitas kesehatan merupakan faktor yang penting dalam

penggelolaan penyakit hipertensi. Adanya sumber pelayanan kesehatan digunakan untuk upaya

pencegahan dan pengobatan dini karena dapat mencegah timbulnya komplikasi

(Rokhaeni,2001:115).

c. Pengobatan tradisional

Keluarga dapat mengobati hipertensi dengan pengobatan tradisional, yaitu minum sari bawang putih

yang ditumbuk halus dan diberi air secukupnya di minum pagi dan sore (Hariadi, 2001:26).

Hipertensi akan menjadi parah dan menimbulkan komplikasi bila pasien tidak memilih pengobatan

tradisional hipertensi yang benar dan tepat justru akan memperparah dan bahkan akan

menimbulkan gangguan pada organ lain seperti hati, ginjal dan lambung.

3) Status Sosial Ekonomi


a. Pendidikan

Tingkat pendidikan keluarga mempengaruhi keluarga dalam mengenal hipertensi beserta

pengelolaannya. berpengaruh pula terhadap pola pikir dan kemampuan untuk mengambil

keputusan dalam mengatasi masalah dangan tepat dan benar.

b. Pekerjaan dan Penghasilan

Penghasilan yang tidak seimbang juga berpengaruh terhadap keluarga dalam melakukan

pengobatan dan perawatan pada angota keluarga yang sakit salah satunya disebabkan karena

hipertensi. Menurut (Effendy,1998) mengemukakan bahwa ketidakmampuan keluarga dalam

merawat anggota keluarga yang sakit salah satunya disebabkan karena tidak seimbangnya sumber-

sumber yang ada pada keluarga.

4) Tingkat perkembangandan riwayat keluarga

Riwayat keluarga mulai lahir hingga saat ini. termasuk riwayat perkembangan dan kejadian

serta pengalaman kesehatan yang unik atau berkaitan dengan kesehatan yang terjadi dalam

kehidupan keluarga yang belum terpenuhi berpengaruh terhadap psikologis seseorang yang dapat

mengakibatkan cemas stres(friedmen, 1998:125).

5) Aktiftas

aktifitas fisik yang keras dapat menambah terjadinya peningkatan tekanan darah. Serangan

hipertensi dapat timbul sesudah atau waktu melakukan kegiatan fisik, seperti olah raga.

6) Data Lingkungan

a. Karakteristik rumah
Cara memodifikasikan lingkungan fisik yang baik seperti lantai rumah, penerangan dan fentilasi yang

baik dapat mengurangai factor penyebab terjadinya hipertansi dan juga ketenangan dalam rumah

tangga dapat memperkecil serangan hipertensi.

b. Karakteristik Lingkungan

Menurut (friedman,1998 :22) derajad kesehatan dipengaruhi oleh lingkungan. Ketenangan

lingkungan sangat mempengaruhi derajat kesehatan tidak terkecuali pada hipertensi

c. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat

Masalah dalam keluarga dapat menjadi salah satunya faktor pencetus terjadinya hipertensi dimana

akan menyebabkan cemas merupakan factor resiko hipertensi

7) Struktur Keluarga

a. Pola komunikasi

Menurut (Nursalam, 2001:26) Semua interaksi perawat dengan pasien adalah berdasarkan

komunikasi. Istilah komunikasi teurapetik merupakan suatu tekhnik diman usaha mengajak pasien

dan keluarga untuk bertukar pikiran dan perasaan. Tekhnik tersebut mencakup ketrampilan secara

verbal maupun non verbal, empati dan rasa kepedulian yang tinggi.

b. Struktur Kekuasaan

Kekuasaan dalam keluarga mempengaruhi dalam kondisi kesehatan, kekuasaan yang

otoriter dapat menyebabkan stress psikologik yang mempengaruhi dalam hipertensi.


c. Struktur peran

Bila anggota keluarga menerima dan konsisten terhadap peran yang dilakukan, maka ini akan

membuat anggota keluarga puas atau tidak ada konflik dalam peran, dan sebaliknya bila peran tidak

dapat diterima dan tidak sesuai dengan harapan maka akan mengakibatkan ketegangan dalam

keluarga (Friedman, 1998).

8) Fungsi Keluarga

a. Fungsi afektif

Keluarga yang tidak menghargai anggota keluarganya yang menderita

hipertensi, maka akan menimbulkan stressor tersendiri bagi penderita. Hal ini akan menimbulkan

suatu keadaan yang dapat menambah seringnya terjadi serangan hipertensi karena kurangnya

partisipasi keluarga dalam merawat anggota keluarga yang sakit (Friedman, 1998).

b. Fungsi sosialisasi .

Keluarga memberikan kebebasan bagi anggota keluarga yang menderita hipertensi dalam

bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Bila keluarga tidak memberikan kebebasan pada

anggotanya, maka akan mengakibatkan anggota keluarga menjadi sepi. Keadaan ini mengancam

status emosi menjadi labil dan mudah stress.

c. Fungsi kesehatan

Pengetahuan keluarga tentang penyakit dan penanganannya

a) Mengenal masalah kesehatan


Ketidaksanggupan keluarga mengenal masalah kesehatan pada keluarganya, salah satunya

adalah disebabkan karena kurang pengetahuan (Effendy, 1998:50). Bila keluarga tidak mampu

mengenali masalah hipertensi yang disertai anggota keluarganya, maka hipertensi akan berakibat

terjadinya komplikasi.

b) Mengambil keputusan.

Ketidaksanggupan keluarga mengambil keputusan dalam melakukan tindakan yang tepat,

disebabkan karena tidak memahami mengenai sifat, berat dan luasnya masalah tidak begitu

menonjol (Eendy, 1998:50).

c) Merawat anggota keluarga yang sakit

Ketidakmampuan merawat anggota keluarga yang sakit disebabkan karena tidak

mengetahui keadaan penyakit, misalnya komplikasi, progrfosis, cara perawatan dan sumber-sumber

yang ada dalam keluarga.

d) Memelihara lingkungan rumah yang sehat

Keluarga diharapkan mengetahui keuntungan atau manfaat pemeliharaan lingkungan yang

sehat, dan menyadarinya sebagai salah satu media perawatan bagi anggota keluarga yang sakit.

Lingkungan rumah yang berdebu dan asap rokok bisa menjadi pemicu serangan hipertensi

(Sundaru, 2001). Dengan melihat hal tersebut, keluarga harus mampu memodifikasi lingkungan yang

sehat dan nyaman bagi penderita hipertensi.

e) Menggunakan fasilitas kesehatan yang ada

Pengetahuan keluarga tentang keberadaan dan keuntungan yang didapat dari fasilitas-

fasilitas kesehatan, sangat berpengaruh terhadap penderita hipertensi. Fasilitas kesehatan di

masyarakat sangat berperan daiam hal ini, juga saat penderita hipertensi memerlukan pengobatan.
9) Pola istirahat tidur

Istirahat tidur seseorang akan terganggu manakala sedang mengalami masalah yang belum

terselesaikan. Pada penderita hipertensi, gangguan istirahat tidur sering diakibatkan oleh sesak nafas

dan batuk. Tidak terpenuhinya kebutuhan istirahat tidur beresiko memperburuk keadaan hipertensi.

10) Pemeriksaan fisik anggota keluarga

Sebagaimana prosedur pengkajian yang komprehensif, pemeriksaan fisik juga dilakukan

menyeluruh dari ujung rambut sampai kuku. Setelah ditemukan masalah kesehatan, pemeriksaan

fisik lebih difokuskan lagi pada pemeriksaan sistem pernafasan terutama pada penderita hipertensi

dikarenakan dengan adanya hipertensi dapat terjadi peningkatan tekanan intra kranial yang dapat

menyebabkan kelainan pada syaraf yang mempersyarafi pada pernafasan.

11) Koping keluarga

Bila ada stressor yang muncul dalam keluarga, sedangkan koping keluarga tidak efektif, maka

ini akan menjadi stress anggota keluarga yang berkepanjangan. Salah satu pencegahan agar

serangan hipertensi tidak sering muncul adalah dengan mencegah timbulnya stress (Tanjung, 2003).

b. Diagnosa keperawatan

Menurut pendapat Friedman (1998:59) diagnosa keperawatan keluarga merupakan

perpanjangan dari diagnosa-diagnosa keperawatan terhadap sistem keluarga dan merupakan hasil

dari pengkajian. Diagnosa keperawatan keluarga di dalamnya termasuk masalah-masalah kesehatan

yang aktual dan potensial.

Doenges (1999) mendefinisikan diagnosa keperawatan adalah cara mengidentifikasi,

memfokuskan dan mengatasi kebutuhan pasien serta respon terhadap masalah aktual dan resiko

tinggi.
Carpenito (1998:5) mendefinisikan diagnosa keperawatan sebagai berikut :

“Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang menggambarkan respon manusia (keadaan sehat
atau perubahan pola interaksi potensial dan aktual dari individu atau kelompok dimana perawat
dapat secara legal mengidentifikasi dan untuk itu pula perawat dapat menyusun intervensi-
intervensi definitif untuk mempertahankan status kesehatan atau untuk mengurangi,
menghilangkan, atau mencegah”.

Dengan pengertian diatas yang telah disampaikan para ahli, keluarga merupakan satu tipe

kelompok dimana diagnosa keperawatan dapat diberlakukan, meskipun demikian, diagnosa

keperawatan masih berorientasi pada individu. Diagnosa yang mungkin muncul dalam keluarga

dengan penyakit hipertensi menurut Doenges (2000:152) antara lain nyeri kepala, insomnia, gang

perfusi jaringan, penurunan curah jantung, intoleransi aktifitas, nyeri dada dan resti injuri (diplopia).

1) Prioritas masalah

Menurut Effendy (1998:52) hal-hal yang perlu diperhatikan dala penyusunan prioritas

masalah adalah tidak mungkin masalah-masalah kesehatan dan keperawatan yang ditemukan dalam

keluarga diselesaikan sekaligus, perlu mempertimbangkan masalah-masalah yang dapat mengancam

kesehatan seperti masalah penyakit.

Mempertimbangkan respon dan perhatian keluarga terhadap asuhan keperawatan keluarga

yang diberikan, keterlibatan anggota keluarga dalam memecahkan masalah yang mereka hadapi,

sumber daya keluarga yang dapat menunjang pemecahan masalah kesehatan atau keperawatan

keluarga serta yang tidak kalah pentingya adalah pengetahuan dan kebudayaan keluarga.

2) Kriteria prioritas masalah

penyusunann prioritas masalah kesehatan dan keperawatan keluarga, didasarkan pada

beberapa kriteria. Menurut Effendy (1998:52-54), kriteria yang menjadi dasar prioritas masalah

adalah sifat masalah, kemungkinan masalah dapat diubah, potensial masalah untuk dicegah dan

menonjolnya masalah.
Sifat masalah dikelompokkan menjadi ancaman kesehatan, tidak atau kurang sehat, dan

krisis. Dalam menentukan sifat masalah, bobot yang paling besar diberikan pada keadaan sakit atau

yang mengancam kehidupan keluarga, yaitu keadaan sakit kemudian baru diberikan kepada hal-hal

yang mengancam kesehatan keluarga dan selanjutnya pada situasi krisis dalam keluarga di mana

terjadi situasi yang menuntut penyesuaian dalam keluarga (Efiendy, 1998:54).

Sedangkan kemungkinan masalah hipertensi dapat diubah, adalah kemungkinan

keberhasilan mengurangi atau mencegah masalah yang berhubungan dengan hipertensi jika

dilakukan intervensi. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi masalah hipertensi dapat diubah

adalah faktor pengetahuan dan tindakan untuk menangani masalah hipertensi, sumber daya

keluarga, di antaranya adalah keuangan, tenaga, sarana dan prasarana. Selain itu sumber daya

perawatan, diantaranya adalah pengetahuan dan keterampilan dalam penanganan masalah

keperawatan serta waktu dan sumber daya masyarakat, dapat dalam bentuk fasilitas, organisasi

seperti posyandu, polindes, dan sebagainya juga menjadi faktor yang mempengaruhi kemungkinan

masalah hipertensi untuk diubah (Effendy, 1998:54).

Potensial masalah hipertensi untuk dicegah, adalah sifat dan beratnya masalah berhubungan

dengan hipertensi yang timbul dan dapat dikurangi atau dicegah melalui tindakan keperawatan,

misalnya dengan memberikan informasi tentang hipertensi, cara mencegah terjadinya serta

menganjurkan penderita hipertensi untuk memeriksakan kesehatannya ke tempat palayanan

kesehatan (puskesmas, rumah sakit, dan dokter).

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melihat potensi pencegahan masalah hipertensi

adalah kepelikan atau kesulitan masalah hipertensi hal ini berkaitan dengan beratnya penyakit atau

hipertensi yang dialami oleh keluarga. Kedua perhatikan tindakan yang sudah dan sedang

dilaksanakan, yaitu tindakan untuk mencegah dan mengobati masalah hipertensi dalam rangka

meningkatkan status kesehatan keluarga (Effendy, 1998:54).


Hal lain yang perlu diperhatikan dalam melihat potensi pencegahan masalah hipertensi

berhubungan dengan jangka waktu terjadinya masalah hipertensi. Keadaan ini erat hubungannya

dengan beratnya masalah hipertensi pada keluarga dan potensi masalah untuk dicegah. Dan yang

tidak kalah pentingnya adalah adanya keiompok resiko tinggi dalam keluarga atau kelompok yang

sangat peka menambah potensi untuk mencegah masalah hipertensi (Effendy, 1998:54).

Menonjolnya masalah hipertensi adalah cara keluarga melihat dan menilai masalah yang

berhubungan dengan masalah hipertensi dalam hal berat dan mendesak masalah hipertensi untuk

diatasi melalui intervensi keperawatan.

c. Rencana Asuhan Keperawatan

Effendy (1998: 54), mendefinisikan: rencana keperawatan keluarga adalah sekumpulan

tindakan yang ditentukan perawat untuk dilaksanakan, dalam memecahkan masalah kesehatan dan

keperawatan yang telah didefinisikan.

Rencana keperawatan keluarga mencakup tujuan umum dan tujuan khusus yang didasarkan

pada masalah yang dilengkapi dengan kriteria dan standar yang mengacu pada penyebab

(Suprajitno, 2004:49). Sedangkan Friedman (1998:65) menyatakan ada beberapa tingkat tujuan.

Tingkat pertama meliputi tujuan-tujuan jangka pendek yang sifatnya dapat diukur, langsung dan

spesiflk. Sedangkan tingkat kedua adalah tujuan jangka panjang yang merupakan tingkatan terakhir

yang menyatakan maksud-maksud luas yang yang diharapkan oleh perawat maupun keluarga agar

dapat tercapai.

Dalam menyusun kriteria evaluasi dan standar evaluasi, disesuaikan dengan sumber daya

yang mendasar dalam keluarga pada umumnya yaitu biaya, pengetahuan, dan sikap dari keiuarga,

sehingga dapat diangkat tiga respon yaitu respon verbal, kognitif, afektif atau perilaku, dan respon

psikomotor untuk mangatasi masalahnya. Tujuan asuhan keperawatan keluarga dengan masalah
hipertensi dapat dibedakan menjadi dua yaitu tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang

(Effendy, 1998:57).

Tujuan jangka pendek pada penderita hipertensi antara lain : setelah diberikan informasi

kepada keluarga mengenai hipertensi keluarga mampu mengambil keputusan dalam melakukan

tindakan yang tepat untuk anggota keluarga yang menderita hipertensi dengan respon verbal

keluarga mampu menyebutkan pengertian, tanda dan gejala, penyebab serta perawatan hipertensi.

Respon afektif, keluarga mampu menentukan cara penanganan atau perawatan bagi anggotanya

yang menderita hipertensi secara tepat. Sedangkan respon psikomotor, keluarga mampu

memberikan perawatan secara tepat dan memodifikasi lingkungan yang sehat dan nyaman bagi

penderita hipertensi. Standar evaluasi yang digunakan adalah pengertian, tanda dan gejala,

penyebab, perawatan, komplikasi dan pengobatan hipertensi (Effendy, 1998:57-60).

Tujuan jangka panjang yang ingin dicapai dalam perawatan hipertensi adalah masalah dalam

keluarga dapat teratasi atau dikurangi setelah dilakukan tindakan keperawatan. Tahap intervensi

diawali dengan menyelesaikan perencanaan perawatan. Seperti pendapat Friedman (1998:67)

bahwa:

“....selama pelaksanaan intervensi perawatan, data-data baru secara terus-menerus mengalir masuk.
Karena informasi ini (respon pada klien, perubahan situasi dan lain-lain) dikumpulkan, perawat perlu
cukup fleksibel dan dapat beradaptasi untuk mengkaji ulang situasi dengan keiuarga dengan
membuat modifikasi-modifikasi tanpa rencana terhadap perencanaan.”

Dalam memilih tindakan keperawatan tergantung pada sifat

masalah dan sumber-sumber yang tersedia untuk pemecahan. Intervensi keluarga dengan masalah

hipertensi menurut Doengoes (1999) antara lain mengkaji tekanan darah, menganjurkan kepada

keluarga menciptakan lingkungan yang nyaman, segar, bebas polusi pertahankan pembatasan

aktivitas, seperti istirahat di tempat tidur dan menghindari stres.


Selain itu juga perlu dikaji pemahaman klien tentang hipertensi kemudian mendiskusikan

dengan keluarga tentang hipertensi (pengertian, penyebab, tanda dan gejala, perawatan,

pengobatan, serta komplikasi hipertensi). Menganjurkan pada klien agar manghindari makan

makanan yang mengandung banyak Natrium (garam/asin). Kaji keefektifan strategi koping dengan

mengobservasi perilaku klien dan keluarga, misal kemampuan menyatakan perasaan dan perhatian,

keinginan berpartisipasi dalam rencana pengobatan. Berikan informasi tentang sumber-sumber di

masyarakat dan dukungan anggota keluarga (Doengoes, 1999).

d. Implementasi

Implementasi dapat dilakukan oleh banyak orang seperti klien (individu atau keluarga),

perawat dan anggota tim perawatan kesehatan yang lain, keluarga luas dan orang-orang lain dalam

jaringan kerja sosial keluarga (Friedman, 1998:67). Hal senada juga diutarakan Suprajitno (2004).

Implementasi terhadap keluarga dengan masalah hipertensi didasarkan kepada rencana asuhan

keperawatan yang telah disusun.

Hal yang perlu diperhatikan dalam tindakan keperawatan keluarga dengan hipertensi

menurut Effendy (1998:59) adalah sumber daya dan dana keluarga, tingkat pendidikan keluarga,

adat istiadat yang berlaku, respon dan penerimaan keluarga serta sarana dan prasarana yang ada

dalam keluarga.

Sumberdaya dan dana keluarga yang memadai diharapkan dapat menunjang proses

penyembuhan dan penatalaksanaan penyakit hipertensi menjadi lebih baik. Sedangkan tingkat

pendidikan keluarga juga mempengaruhi keluarga dalam mengenal masalah hipertensi dan dalam
mengambil keputusan mengenai tindakan kesehatan yang tepat terhadap anggota keluarga yang

terkena hipertensi.

Adat istiadat dan kebudayaan yang berlaku dalam keluarga akan mempengaruhi

pengambilan keputusan keluarga tentang pola pengobatan dan penatalaksanaan penderita

hipertensi, seperti pada suku pedalaman lebih cenderung menggunakan dukun daripada pelayanan

kesehatan.

Demikin juga respon dan penerimaan terhadap anggota keluarga yang sakit hipertensi akan

mempengaruhi keluarga dalam merawat anggota yang sakit hipertensi.

Sarana dan prasarana baik dalam keluarga atau masyarakat merupakan faktor yang penting

dalam perawatan dan pengobatan hipertensi. Sarana dalam keluarga dapat berupa kemampuan

keluarga menyediakan makanan yang sesuai dan menjaga diit atau kemampuan keluarga, mengatur

pola makan rendah garam, menciptakan suasana yang tenang dan tidak memancing kemarahan.

Sarana dari lingkungan adalah, terjangkaunya sumber-sumber makanan sehat, tempat latihan, juga

fasilitas kesehatan (Effendy, 1998:59).

e. Evaluasi

Komponen kelima dari proses keperawatan ini adalah evaluasi. Evaluasi didasarkan pada

bagaimana efektifnya tindakan keperawatan

yang dilakukan oleh keluarga, perawat, dan yang lainnya. Evaluasi merupakan proses

berkesinambungan yang terjadi setiap kali seorang perawat memperbaharui rencana asuhan

keperawatan (Friedman, 1998:7).

Evaluasi merupakan kegiatan yang membandingkan antara hasil implementasi dengan

kriteria dan standar yang telah ditetapkan untuk melihat keberhasilannya.


Evaluasi dapat dilaksanakan dengan dua cara yaitu evaluasi formatif dan evaluasi sumatif

(Suprijatno, 2004:57) yaitu dengan SOAP, dengan pengertian S adalah ungkapan perasaan dan

keluhan yang dirasakan secara subjektif oleh keluarga setelah diberikan implementasi keperawatan,

O adalah keadaan obyektif yang dapat diidentifikasi oleh perawat menggunakan penagamatan. A

adalah merupakan analisis perawat setelah mengetahui respon keluarga secara subjektif dan

objektif, P adalah perencanaan selanjutnya setelah perawat melakukan tindakan.

Dalam mengevaluasi harus melihat tujuan yang sudah dibuat sebelumnya. Bila tujuan

tersebut belum tercapai, maka dibuat rencana tindak lanjut yang masih searah dengan tujuan.

DAFTAR PUSTAKA

Doengoes. M. E, Et. All. Nursing Care Plans Guidelines for Planning and Documenting Patient Care, Edisi 3.
Alih Bahasa: I Made Kariasa, Et. All. 2000. Jakarta: EGC

Smeltzer, Suzanne, and Bare. (2001), Buku Saku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8. Jakarta: EGC

Suprajitno. (2004). Asuhan Keperawatan Keluarga. Jakata: EGC.

Carpenito, L. J. Handbook of Nursing Diagnosis. Edisi 8, Alih Bahasa Monica Ester. (2001). Jakarta: EGC

Carpenito, L. J. (1999) Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 7, Alih Bahasa Monica Ester. Jakarta: EGC

Friedman, M. M. (1998). Keperawatan Keluarga Teori dan Praktek, Edisi 3. alih Bahasa: Debora R. L & Asy. Y,
Jakarta: EGC

Effendy. N (1998). Dasar- dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat, Edisi 2. Jakarta; EGC
Long. Barbara. C. Essential of Medical Surgical Nursing, Penerjemah. Karnaen R, Et. All, Edisi ke 3. 1996.
Bandung: Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Padjajaran.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2006). Mengenal Hipertensi, (Online), (http://


depkes.co.id/stroke.html)

Tim POKJA RS Jantung Harapan Kita. (2003). Standar Asuhan Keperawatan Kardiovaskuler. Direktorat Medik
dan Pelayanan RS Jantung dan pembuluh darah Harapan kita. Jakarta

FKUI. (1990). Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Balai Penerbit FKUI. Jakarta

DIKLIT RS Jantung Harapan Kita. (1993). Dasar-dasar Keperawatan Kardiovaskuler. RS Jantung Harapan Kita.
Jakarta

(Tanpa nama). (2007).hipertensi.(online).http://www.sehat-bugar.com, diakses tanggal 31 oktober 2007,


diakses tanggal 31 Oktober 2007)

Puskesmas palaran. (2006). Hipertensi. (Online),


(http://puskesmaspalaran.wordpress.com/2006/11/05/hipertensi.html, diakses tanggal 31 Oktober
2007)

Anda mungkin juga menyukai