Anda di halaman 1dari 10

HUBUNGAN ANTARA AKTIVITAS WISATA DENGAN TINGKAT KESEHATAN PADA WISATAWAN USIA

LANJUT

DISUSUN OLEH KELOMPOK 5

PUTU GADISYA VIDADARI DEVI (1520025006)


NI PUTU SUPRIANTI (1520025016)
DESAK AYU PITRIYANI SEGENING (1520025029)
NI KADEK AYU SRINADI (1520025041)
VIKY YUDI ALVIAN (1520025051)
IDA AYU PUTU MITA DIANTARI K. (1520025061)

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2016
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pariwisata telah menjadi sector adalan dalam hal pembangunan maupun ekonomi. Terkait
dengan adanya pariwisata, tidak bisa lepas dari adanya wisatawan. Wisatawan merupakan orang
yang melakukan perjalanan ke suatu daerah wisata guna melakukan rekreasi, berlibur, maupun
bersenang-senang. Disebut wisatawan apabila tidak menetap di daerah wisata lebih dari 12 bulan.
Berdasarkan dari jenis-jenis wisatawan, ada yang disebut sebagai wisatawan usia lanjut. Wisatawan
usia lanjut yaitu wisatawan yang berusia diatas 55 tahun. Pemerintah Indonesia menganggap
wisatawan usia lanjut merupakan pangsa yang cukup penting karena mereka lebih banyak memiliki
waktu luang yang sangat panjang untuk melakukan wisata, tidak terikat oleh suatu pekerjaan karena
biasanya pada usia 55 tahun keatas, para wisatawan usia lanjut telah pension. Jelas ini sangat
menguntungkan bagi sector ekonomi karena semakin lama mereka berwisata, maka penghasilan
ekonomi juga semakin meningkat.
Karena lama berwisata yang biasa dilakukan wisatawan usia lanjut, berdampak pula pada
aktivitas fisik yang mereka lakukan selama berwisata. Hal ini tentu sangat tergantung pada aspek
kesehatan yang timbul akibat aktivitas fisik tersebut. Aktivitas fisik yang biasanya wisatawan usia
lanjut lakukan yaitu berjalan kaki yang jauh. Selain untuk menyehatkan badan, jika dilakukan
berlebihan akan berdampak negative pada kesehatan, salah satunya kelelahan yang berkepanjangan
atau juga nafas tersenggal-senggal. Maka dari itu, penulis ingin mengetahui aktivitas fisik apa saja
yang dilakukan oleh wisatawan usia lanjut dan bagaimanakah hubungan antara aktivitas fisik dengan
kesehatan dari wisatawan usia lanjut.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa sajakah aktivitas fisik yang dilakukan oleh wisatawan usia lanjut?
2. Bagaimanakah hubungan antara aktivitas fisik dengan kesehatan dari wisatawan usia lanjut?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui aktivitas fisik yang dilakukan oleh wisatawan usia lanjut.
2. Untuk mengetahui hubungan antara aktivitas fisik dengan kesehatan dari wisatawan usia lanjut.
BAB II
METODE PENULISAN
2.1. Tinjauan Pustaka
Penulis mendapatkan segala informasi, data, dan materi yang terkait dengan permasalahan yang
dibahas dalam laporan ini melalui artikel-artikel yang diterbitkan pada jurnal maupun situs web yang
terpercaya.
2.2. Analisis Data
Data yang terkumpul diseleksi dan diurutkan sesuai topik kajian. Kemudian dilakukan penyusunan
karya tulis berdasarkan data yang telah dipersiapkan secara logis dan sistematik. Teknik analisis data
bersifat deskriptif argumentatif.
2.3. Penarikan Kesimpulan
Simpulan didapatkan setelah merujuk kembali pada rumusan masalah, tujuan penulisan, serta
pembahasan. Simpulan yang ditarik merepresentasikan pokok bahasan karya tulis, serta didukung
dengan saran praktis sebagai rekomendasi lebih lanjut.
BAB III
HASIL

3.1. Aktivitas Wisatawan Lanjut Usia di Tempat Wisata

Wisatawan senior adalah wisatawan lanjut usia yang berumur 55 tahun atau lebih. Di kawasan
Asia, penduduk Jepang yang tergolong senior atau yang berumur 50 tahun ke atas pada tahun 2025
diperkirakan mendekati angka 15 juta atau 23% dari total penduduknya. Kaum senior Jepang
biasanya memiliki pendapatan yang lebih mapan dan memiliki waktu luang yang lebih banyak
sehingga memungkinkan mereka berlibur lebih lama ke luar negeri jika dibandingkan kaum mudanya
(Petterson, 2006). Lain halnya di Taiwan, saat ini penduduk senior 60 tahun ke atas telah mencapai
12% dan diperkirakan akan naik menjadi 20% pada tahun 2033.
Wisatawan senior atau disebut juga wisatawan lanjut usia dianggap meiliki pengaruh besar
terhadap dunia pariwisata. Pengaruh tersebut memicu pemerintah Indonesia memberikan
kemudahan ijin tinggal bagi para lansia yang ingin melakukan perjalanan wisata ke Indonesia sebagai
antisipasi untuk memperhatikan kebutuhan wisatawan lanjut usia. Selain itu banyak perusahaan
milik Indoensia yang mulai serius melirik pengaruh yang ditimbulkan oleh wisatawan lanjut usia.
Langkah pengantisipasian yang dilakukan pihak Indonesia menghadapi banyaknya wisatawan
lanjut usia yang melakukan perjalanan wisata ke Indonesia di masa mendatang yaitu membuat
kebijakan mengizinkan wisatawan untuk tinggal selama satu tahun dan kebijakan tersebut telah
dituangkan dalam SK Menteri Kehakiman No.M-04-12.01.02/1998. Untuk di Indonesia, yang
dikategorikan wisatawan lanjut usia atau lansia adalah mereka yang berumur 55 tahun ke atas. Bagi
Bali sebagai salah satu pulau yang cukup diminati di Indonesia, ternyata memiliki komposisi kaum
senior yang cukup besar dengan ratarata 27% pada setiap komposisi penduduknya. Jumlah warga
Jepang dalam kelompok lansia atau 65 tahun ke atas telah mencapai 29 juta orang dan 10% atau tiga
juta orang berwisata ke luar negeri. Sementara catatan BPS provinsi Bali mencatat bahwa negara
pemasok wisatawan bagi Bali adalah China, Amerika Serikat, Jepang, Rusia, Jerman, Belanda, dan
Australia.
Ditegaskan pula bahwa kebanyakan wisatawan lanjut usia memiliki karakteristik yang
cenderung berpergian lebih jauh, serta menginap lebih lama dibandingkan kelompok lain menurut
golongan usia. Ini diartikan semakin lama mereka tinggal di suatu daerah maka banyak uang yang
akan dihabiskan selama tinggal di daerah tersebut. Selain keuntugan secara ekonomi, wisatawan
lanjut usia juga memiliki karakteristik mencintai budaya serta apresiatif terhadap pariwisata di Bali.
Wei dan Milman (2002), mencatat bahwa aktivitas paling popular yang dilakukan oleh
wisatawan senior pada saat mereka berwisata adalah (89,3%) melakukan perjalanan wisata dan
berkeliling kota, mengunjungi tempat-tempat bersejarah (88,1%), makan-makan di restoran (85,7%),
dan shopping (77,4%). Sementara kegiatan yang kurang diminati oleh kaum senior adalah berburu
dan memancing (1,2%), olahraga air dan berjemur di pantai (1,2%), kemping dan mendaki (3,6%).
Jenis aktivitas yang popular dilakukan oleh wisatawan senior selama mereka berlibur berhubungan
dengan aktivitas yang membangkitkan nostalgia mereka atau yang berkaitan dengan kenangan
mereka masa lalu, melakukan interaksi social dengan sesama kaum senior, belajar tentang sesuatu
yang baru, rekreasi, petualangan, menemukan tempat baru, dan melakukan kegiatan yang
melibatkan fisik dan mental. Kegiatan interaksi sosial untuk mencari teman baru merupakan kegiatan
yang sangat berharga bagi kaum senior. Karena dengan bergaul sesama wisatawan usia lanjut akan
membuat mereka menjadi berbagi pengalaman dan lebih saling mengerti.
Perilaku wisatawan senior tersebut dapat didasarkan pada analisis hubungan antara
perbedaan budaya dan perilaku wisatawan dalam memilih aktivitas wisata, perilaku wisatawan usia
lanjut dapat juga dilihat dari konsep diri wisatawan yang turut mempengaruhi pilihan aktivitas wisata,
perilaku wisatawan usia lanjut juga dapat dilihat dari gaya hidup, dan perilaku wisatawan tersebut
dapat dihubungkan berdasarkan dimensi perbedaan budaya, dimensi sikap diri, dan dimensi gaya
hidup secara simultan.
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1. Aktivitas Yang Dilakukan Oleh Wisatawan Usia Lanjut


Menurut penelitian dilakukan oleh (Ing, 1993) menemukan bahwa pilihan berwisata bagi
golongan senior berhubungan dengan pemilihan paket wisata dan pada penelitian ini ditemukan
bahwa wisatawan senior lebih menyukai tujuan wisata ke daerah pedesaan atau countryside.
Sementara hasil penelitian lainnya menemukan jika penduduk senior lebih banyak memiliki waktu
luang untuk melakukan aktivitas leisure, seperti menonton televisi dan mendengarkan radio.
Sementara aktivitas yang berhubungan dengan olahraga program latihan jasmani lebih jarang
dilakukan (Amstrong dan Morgan, 1998). Namun seiring dengan perubahan zaman berubah pula
pilihan aktivitas leisure pada golongan senior, dimana mereka lebih cenderung menghabiskan waktu
untuk kegiatan leisure yang bersifat individu, ingin merasakan kebebasan, dan bahkan memilih
kegiatan yang beresiko sepanjang mereka dapat lakukan (McGuire et al., 2004).
Sementara Stebbins (1998) mencatat bahwa beberapa wisatawan senior lebih puas melakukan
kegiatan yang berhubungan dengan hobby, pekerjaan volunteer, melakukan kegiatan untuk
menyibukkan diri, dan mencari teman-teman baru diantara sesama senior. Selanjutnya Kelly (1992)
mengatakan bahwa, golongan senior melakukan aktivitas yang dipusatkan pada keluarga dan
biasanya mengambil tempat di sekitar rumah mereka. Kegiatan tersebut termasuk kegiatan
shopping, berkebun, berjalan santai, menonton televisi, melakukan sosialisasi bersama teman-teman
dan keluarga mereka, dan membaca (Kelly and Kelly, 1994).
Wei dan Milman (2002), mencatat bahwa aktivitas paling popular yang dilakukan oleh
wisatawan senior pada saat mereka berwisata adalah (89,3%) melakukan perjalanan wisata dan
berkeliling kota, mengunjungi tempat-tempat bersejarah (88,1%), makan-makan di restoran (85,7%),
dan shopping (77,4%). Sementara kegiatan yang kurang diminati oleh kaum senior adalah berburu
dan memancing (1,2%), olahraga air dan berjemur di pantai (1,2%), kemping dan mendaki (3,6%).
Lebih lanjut ditemukan bahwa ada hubungan positif dan signifikan antara keterlibatan wisatawan
senior terhadap pilihan jenis aktivitas leisure seperti tabel 4 berikut ini:
Jenis Aktivitas Leisure di Kalangan Usia Lanjut
Passive Active Uninterested Activities
1. Menonton televisi 1. Shopping, berbelanja di mall 1. Berburu di alam liar
2. Mendengar Radio atau di supermarket 2. Memancing
3. Kegiatan Sosial 2. City tour atau berkeliling kota 3. Berburu
4. Kegiatan yang Berhubungan 3. Mengunjungi tempat 4. Camping
dengan hobby bersejarah seperti museum 5. Tracking
5. Penyaluran bakat yang 4. Makan-makan di restoran 6. Berselancar air
berhubungan dengan 7. Berjemur di Pantai
kerajinan
6. Penyaluran bakat yang
berhubungan dengan seni
Sumber: Milman (2002), data diolah
Penelitian yang dilakukan oleh otoritas pariwisata Quensland Australia (Utama,2011 )
menemukan bahwa Sementara jenis aktivitas yang popular dilakukan oleh wisatawan senior selama
mereka berlibur berhubungan dengan aktivitas yang membangkitkan nostalgia mereka, melakukan
interaksi social dengan sesama kaum senior, belajar tentang sesuatu, rekreasi, petualangan,
menemukan tempat baru, dan melakukan kegiatan yang melibatkan fisik dan mental. Kegiatan
interaksi sosial untuk mencari teman baru merupakan kegiatan yang sangat berharga bagi kaum
senior. Kaum senior Australia memiliki kemauan keras untuk mengunjungi tempat tempat yang
mereka pernah lihat di media seperti: mengunjungi tempat-tempat bersejarah, mengunjungi daerah
pedesaan dan alam liar, berbelanja atau shopping, mengunjungi pantai, danau, dan sungai-sungai.
Berikut paket wisata yang biasanya ditawarkan untuk kaum senior di Queensland:
a. Jalan-jalan (sightseeing) 88%
b. Menonton di teater (live theatre and entertainment) 71%
c. Mengunjungi tempat bersejarah (historic areas and events) 68%
d. Mengunjungi Museum dan pameran (museums and exhibits) 68%
e. Menonton Festival (festivals and events) 65%
f. Naik perahu dan kereta (boat and train excursions) 64%
g. Menikmmati permainan (gaming trips) 58%
h. Berbelanja (shopping) 53%
i. Belajar dan cari pengalaman baru (education and learning experiences) 47%
j. Menemukan sesuatu yang alamiah dengan melakukan aktivitas outdoor (nature, eco-trips and
outdoor activities) 46%

4.2. Hubungan Antara Aktivitas Yang Dilakukan Dengan Kesehatan Dari Wisatawan Usia Lanjut
Hubungan antara aktivitas yang dilakukan dengan kesehatan dari wisatawan usia lanjut
tergantung pada aktivitas yang dilakukan oleh wisatawan tersebut. Semakin berat aktvitas yang
dilakukan oleh wisatawan tersebut, maka kemungkinan besar kesehatan wisatawan tersebut akan
menurun. Namun jika dilihat dari aktivitas yang biasa dilakukan oleh wisatawan lanjut usia jarang
memilih aktivitas yang berat, akan tetapi mereka lebih memilih aktivitas yang dapat menghilangkan
stress seperti berbelanja, menonton teater, berkunjung ke tempat yang bersejarah, mengunjungi
pameran maupun museum. Sehingga aktivitas tersebut dapat mengurangi beban pikiran mereka, dan
secara tidak langsung dapat meningkatkan tingkat kesehatan mereka.
BAB V
KESIMPULAN

1. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ing (1993), wisatawan usia lanjut lebih menyukai tujuan wisata
ke daerah pedesaan atau countryside. Sedangkan Stebbins (1998) mencatat bahwa beberapa
wisatawan usia lanjut lebih puas melakukan kegiatan yang berhubungan dengan hobby, menyibukan
diri, dan mencari teman baru sesama senior. Selanjutnya Kelly (1992) mengatakan bahwa, golongan
usia lanjut lebih melakukan aktivitasnya bersama keluarganya. Jadi, wisatawan usia lanjut pada
umumnya hanya melakukan aktivitas wisata yang tidak menguras fisik dan bertujuan untuk
memberikan kesenangan batin.
2. Aktivitas yang dilakukan oleh wisatawan usia lanjut akan mempengaruhi tingkat kesehatannya.
Semakin berat aktivitas yang dilakukan, maka kemungkinan munculnya gangguan kesehatan pada
wisatawan usia lanjut juga akan meningkat. Berdasarkan hasil studi pustaka, sebagian besar aktivitas
yang dilakukan oleh wisatawan usia lanjut cenderung aktivitas yang ringan. Oleh karena itu, dampak
buruk aktivitas wisata terhadap kesehatan wisatawan usia lanjut cenderung rendah dan justru dapat
meningkatkan kesehatannya.
DAFTAR PUSTAKA

Amstrong, G.K. and Morgan, K. 1998. Stability and change in levels of habitual physical activity in later life.
Queensland: University of Queensland
Ing, D. 1993. Potential for senior travel escalates. Hotel and Motel Management 208, pp 4-5
Kelly, J.R. 1992. Leisure In: Bogatta, E.F. ed. Encyclopedia of Sociology Vol. 3. New York: Macmillan
Kelly, J.R. and Kelly, J.R. 1994. Multiple dimensions of meaning in the domains of work, family and leisure.
Journal of Leisure Research, 26(3), pp. 250-274
McGuire, F.A., Boyd, R.K. and Tedrick, R.E. 2004. Leisure and Aging: Ulyssean Living in Later Life. Illinois:
Sagamore Publishing
Stebbins, R.A. 1998. After Work: The Search for an Optimal Leisure Lifestyle. Alberta: Brush Education Inc.
Utama, I Gusti Bagus Rai. 2015. Preferensi Wisatawan Senior Terhadap Pemilihan Aktivitas Wisata Pada
Sebuah Destinasi. Denpasar: Universitas Dhyana Pura
Wei, S. and Millman, A. 2002. The impact of participation in activities while on vacation on senior s’
psychological well-being: a path model analysis. Journal of Hospitality and Tourism Research,
26(2), pp. 175-185