Anda di halaman 1dari 2

GCG di Dunia

Sulit dipungkiri, selama sepuluh tahun terakhir ini, istilah Good Corporate Governance
(GCG) kian populer. Tak hanya populer, istilah tersebut juga ditempatkan di posisi terhormat.
Pertama, GCG merupakan salah satu kunci sukses perusahaan untuk tumbuh dan
menguntungkan dalam jangka panjang, sekaligus memenangkan persaingan bisnis global.
Kedua, krisis ekonomi di kawasan Asia dan Amerika Latin yang diyakini muncul karena
kegagalan penerapan GCG (Daniri, 2005).

GCG di Amerika Serikat

Tipikal perusahaan di Amerika Serikat kebanyakan bisnis dikelola atas arahan direksi. Dalam
praktiknya, sebagian besar direksi, yaitu direksi yang berasal dari luar perusahaan, tidak dapat
secara langsung mengelola bisnis perusahaan. Sebagai akibatnya, maka manajerlah yang
mengelola bisnis perusahaan dan peran direksi terbatas hanya untuk memberikan pengawasan
dalam urusan perusahaan.

GCG di Perancis

Manajemen pada perusahaan di Perancis berkuasa secara ekstrim. President directeur-general


(PDG) bebas melakukan pengendalian atas perusahaan. Satu orang menentukan strategi
perusahaan, menjalankannya dan mengendalikannya, tanpa adanya counter power dari dewan
direksi. Dalam pembentukan board system, terdapat aturan hukum yang kompleks yang
mempengaruhi struktur dan komposisi board. Perusahaan perancis bisa memilih diantara 2
metode board governance yaitu bisa mengambil suatu unitary boardroom structure (seperti
model anglo saxon-one tier board system) atau two tier board system seperti pada perusahaan di
Jerman. Dalam praktiknya, kebanyakan perusahaan di Perancis memilih one-tier board sytem
dalam sistem pengelolaannya.

GCG di Asia
Krisis ekonomi yang melanda Asia Timur pada akhir tahun 1997 telah memicu terjadinya
diskusi tentang pentingnya sistem tata kelola dalam suatu negara. Secara umum ada tiga
persoalan utama di Asia yang menyebabkan pelaksanaan good corporate governance masih
begitu lemah. Tiga persoalan ini antara lain:
1. Banyak perusahaan yang masih terbelakang atau belum didisain untuk memainkan peran
penting di pasar.
2. Pasarnya sendiri tidak bekerja secara optimal dan lingkungan bisnisnya tidak kompetitif.
3. Sistem hukum yang lemah dan lembaga-lembaga yang menangani dan menjalankan aturan
main itu sendiri maupun keseluruhan penegakan peraturan administratif masih lemah
termasuk didalamnya penegakan peraturan di bursa saham atau standarisasi laporan akutansi.
Hal ini berarti bahwa GCG tidak saja berakibat positif bagi pemegang saham, namun juga
bagi masyarakat yang lebih luas yang berupa pertumbuhan ekonomi nasional. Karena itulah
berbagai lembaga – lembaga ekonomi dan keuangan dunia seperti World Bank dan International
Monetary Fund sangat berkepentingan terhadap penegakan corporate governance (CG) di
negara-negara penerima dana, karena mereka menganggap bahwa corporate governance (CG)
merupakan bagian penting sistem pasar yang efisien.

GCG di Indonesia
Good Corporate Governance di Indonesia mulai ramai dikenal pada tahun 1997, saat krisis
ekonomi menerpa Indonesia. Terdapat banyak akibat buruk dari krisis tersebut, salah satunya
ialah banyaknya perusahaan yang berjatuhan karena tidak mampu bertahan, corporate
governance yang buruk disinyalir sebagai salah satu sebab terjadinya krisis ekonomi politik
Indonesia yang dimulai tahun 1997 yang efeknya masih terasa hingga saat ini.. Menyadari situasi
dan kondisi demikian, pemerintah melalui Kementerian Negara BUMN mulai memperkenalkan
konsep Good Corporate Governance ini di lingkungan BUMN, Melalui Surat Keputusan
Menteri BUMN No. Kep-117/M-MBU/2002 tanggal 1 Agustus 2002 tentang Penerapan Praktek
Good Corporate Governance pada Badan Usaha Milik Negara, menekankan kewajiban bagi
BUMN untuk menerapkan Good Corporate Governance secara konsisten dan atau menjadikan
prinsip-prinsip Good Corporate Governance sebagai landasan operasionalnya, yang pada
dasarnya bertujuan untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas perusahaan guna
mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan
kepentingan stakeholders lainnya, dan berlandaskan peraturan perundang-undangan dan nilai-
nilai etika.