Anda di halaman 1dari 14

PENDAHULUAN, LATAR BELAKANG DAN PENGERTIAN

GOOD CORPORATE GOVERNANCE (GCG)

OLEH:

KELOMPOK 1
NI PUTU INTAN PRADNYANI (1306305097)

NI LUH PUTRI SETYASTRINI (1306305104)

LUH MAS GIA APRILIANI (1306305123)

I GEDE DANY SATRIYA UPADANA (1306305125)

PANDE PUTU DITHA PURNAMASARI (1306305129)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA

2015

1
KATA PENGANTAR

Om Swastyastu

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas segala
rahmat Beliau, kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu dan sebaik
mungkin. Makalah dengan judul Pendahuluan, Latar Belakang dan Pengertian Good
Corporate Governance (GCG) ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas pada mata kuliah
Corporate Governance yang dibimbing oleh Ibu Dr. I Gusti Ayu Made Asri Dwija Putri, SE.,
MSi..

Terima kasih kami ucapkan kepada Ibu Asri Dwija selaku pemberi tugas sekaligus
pembimbing dalam meneyelesaikan tugas ini. Terima kasih pula kami ucapkan kepada
teman-teman yang bersedia membantu kami. Dan, terima kasih kepada orang tua kami yang
mendukung baik dukungan materi maupun semangat. Masih banyak pula pihak-pihak yang
telah membantu dalam penyelesaian tugas ini yang tidak dapat kami sebutkan satu-persatu.

Demikian kata pengantar kami, mohon maaf apabila banyak terdapat kesalahan dalam
pembuatan tugas ini karena tak ada gading yang tak retak. Kritik maupun saran yang
membangun untuk perbaikan makalah ini sangat diharapkan. Terima kasih.

Om Shanti, Shanti, Shanti, Om

Denpasar, September 2015

Penulis

Kelompok 1

2
DAFTAR ISI

Judul…………………………………………………………………………………...... i
Kata Pengantar………………………………………………………………………….. ii
Daftar Isi………………………………………………………………………………... iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang………………………………………………………….. 4
1.2 Rumusan Masalah………………………………………………………. 5
1.3 Tujuan Penulisan………………………………………………………... 5
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pendahuluan Good Corporate Governance (GCG) ……………………. 6
2.2 Latar Belakang Good Corporate Governance (GCG) …………………. 7
2.3 Pengertian Good Corporate Governance (GCG) ……………………… 11
BAB III PENUTUP
3.1 Simpulan.……………………………………………………………...... 13
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………... 14

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Globalisasi ekonomi yang terjadi di seluruh dunia, menuntut perusahaan tidak hanya
mengembangkan bisnisnya di kancah lokal saja. Perusahaan-perusahaan harus mulai
mengembangkan sayap untuk berkarir di kancah internasional. Munculnya banyak
perusahaan multinasional di berbagai belahan dunia, mengindikasikan bahwa globalisasi
ekonomi merupakan hal yang tidak bisa dihindari dan telah terjadi. Persaingan yang
semakin ketat antar korporat di berbagai negara menimbulkan situasi dimana perusahaan
akan saling bersaing untuk menyajikan sebuah laporan keuangan dengan kondisi
perusahaan terbaik yang bisa diberikan oleh perusahaan. Penyajian laporan keuangan ini
tentunya berfungsi untuk menarik minat investor agar mau menanamkan modal yang
dimiliki ke dalam perusahaan tersebut.
Investor sebagai salah satu stakeholder dari perusahaan tentu saja mengharapkan
return yang baik dari perusahaan yang diinvestasikannya. Oleh sebab itu, investor
mempercayai manajer-manajer perusahaan untuk melaksanakan operasional perusahaan
dengan baik sehingga nilai perusahaan mengalami peningkatan. Berbagai iming-iming
bonus kerap dilontarkan oleh board of directors jika para manajer mampu menghasilkan
kondisi perusahaan yang baik. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh beberapa pihak atau
oknum manajer, dimana karena adanya “kepentingan” untuk memperoleh iming-iming
bonus tersebut, para manajer melakukan berbagai hal agar perusahaan dapat terlihat
dalam “kondisi baik”. Perekayasaan pelaporan keuangan, manajemen laba, transaksi-
transaksi yang tidak diungkap dan teknik kecurangan lainnya sering dilakukan agar
mampu mempermak laporan keuangan menjadi terlihat “baik” dan menguntungkan
investor.
Namun layaknya pepatah yang menyatakan “sepandai-pandainya tupai melompat,
akhirnya akan jatuh juga”, maka tidak ada hal yang mampu menyembunyikan
kecurangan-kecurangan pihak manajer dalam meraih “kepentingan” yang diinginkan.
Kasus nyata dari terungkapnya kecurangan yang dilakukan oleh manajer tersebut adalah
kejatuhan Enron pada tahun 2001. Sebelum pernyataan kepailitan Enron, penjualan yang
dilakukan oleh Enron sangat tinggi. Namun penjualan tersebut hanyalah penjualan fiktif.
Kasus Enron ini tidak hanya menumbangkan perusahaan raksasa tersebut, namun juga

4
menumbangkan kantor akuntan publik yang seharusnya menjadi salah satu kunci
pengungkapan “kecurangan” pihak Enron.
Selain dari kejatuhan Enron, krisis Asia dan Amerika pada tahun 1997-1998
menyebabkan banyak perusahaan-perusahaan besar yang tumbang. Kasus ini diyakini
disebabkan oleh kurangnya penerapan Good Corporate Governance (GCG) dalam
perusahaan. Sehingga, pada tahun 2000-an GCG memiliki posisi penting bagi perusahaan
dalam rangka menghindarkan diri dari kebangkrutan seperti sebelumnya. Oleh sebab itu,
sangat penting bagi akuntan muda Indonesia untuk mengetahui berkaitan dengan
pendahuluan dari GCG, latar belakang GCG serta definisi dari GCG. Dan melalui
makalah ini, penulis ingin menyampaikan secara gamblang ketiga pokok bahasan
tersebut. Sehingga, nantinya akuntan muda Indonesia khususnya lulusan Universitas
Udayana mampu menyarankan perusahaan untuk menerapkan prinsip GCG secara baik
dan benar.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Sejalan dengan latar belakang yang telah dibuat, maka dapat ditarik beberapa
permasalahan yaitu:
1. Bagaimanakah pendahuluan Good Corporate Governance (GCG)?
2. Bagaimanakah latar belakang dari munculnya Good Corporate Governance (GCG)?
3. Apa sajakah pengertian atau definisi dari Good Corporate Governance (GCG)?

1.3 TUJUAN PENULISAN


Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui mengenai pendahuluan Good Corporate Governance (GCG).
2. Untuk mengetahui latar belakang dari munculnya Good Corporate Governance
(GCG).
3. Untuk mengetahui pengertian atau definisi dari Good Corporate Governance (GCG).

5
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 PENDAHULUAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE (GCG)


Corporate governance merupakan topik utama yang banyak diperbincangkan
khalayak ramai dalam beberapa tahun ini. Umumnya kemampuan suatu negara untuk
menarik investor tergantung pada seberapa jauh penerapan corporate governance
yang diterapkan oleh perusahaan dan sejauh mana manajemen menghormati dan
mematuhi hak-hak dari stakeholders lainnya. Para investor biasanya akan enggan
menanamkan modal pada perusahaan yang tidak menerapkan corporate governance
secara efektif. Suatu sistem corporate governance yang efektif akan mampu membuat
komisaris dan direksi menciptakan situasi dalam rangka mencapai tujuan perusahaan
dengan memperhatikan kepentingan pemegang saham dan juga corporate governance
harus mampu memfasilitasi adanya pengawasan yang efektif.
Penerapan prinsip GCG dalam dunia usaha saat ini merupakan suatu tuntutan
agar perusahaan-perusahaan tetap dapat bersaing di dunia global. Di Indonesia,
masalah aspek hukum merupakan hal yang penting dalam penerapan GCG.
Perusahaan yang dikelola dengan baik adalah perusahaan yang memiliki strategic
plan jangka panjang dan untuk itu perlu memperhatikan kepentingan berbagai pihak
yang terkait, baik secara langsung-tidak langsung maupun internal-eksternal. Dengan
adanya corporate governance maka pengelolaan perusahaan harus memenuhi standar
usaha dan memenuhi prinsip-prinsip manajemen sebagaimana seharusnya.
Penerapan corporate governance di Indonesia dibagi menjadi tiga aktivitas.
Pertama, menetapkan kebijakan nasional. Kedua, menyempurnakan kerangka
regulasi. Ketiga, membangun inisiatif sektor swasta. Perumusan kebijakan nasional
ditandai dengan pembentukan Komite Nasional Kebijakan Corporate Governance.
Komite tersebut kemudian berubah menjadi Komite Nasional Kebijakan Governance.
Komite ini beranggotakan kalangan professional baik di sektor publik, swasta,
maupun kalangan akademisi dan lembaga swadaya masyarakat. KNKG telah
menerbitkan beberapa pedoman yaitu pedoman GCG tahun 2001, Pedoman Sektoral,
Pedoman untuk Komite Audit, dan Pedoman untuk Komisaris Independen pada 2004.
GCG bukan hanya diterapkan dalam sektor swasta, namun BUMN dengan
aset lebih dari satu triliun rupiah juga harus mengimplementasikan GCG dalam
perusahaannya. Selain itu, pasar modal juga menerapkan GCG untuk perusahaan

6
publik. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan perlindungan investor, terutama
pemegang saham perusahaan terbuka. Mekanisme GCG akan mendorong tumbuhnya
mekanisme check and balance di lingkungan manajemen khususnya dalam memberi
perhatian kepada kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya.
Selain itu, diharapkan juga GCG dapat membentuk suatu transparansi dan
akuntabilitas dalam transaksi bisnis antar perusahaan satu grup yang berpotensi
menimbulkan benturan kepentingan.
Penerapan prinsip GCG di Indonesia sangat dipengaruhi baik oleh faktor
budaya maupun historis. Kedua aspek tersebut tidak dapat dipisahkan karena
memiliki elemen kemasyarakatan yang saling terkait. Faktor-faktor tersebut
memberikan kendala yang signifikan bagi pemerintah dalam memberlakukan dan
menerapkan berbagai kebijakan. Kemajemukan dan kompleksitas masyarakat
Indonesia juga merupakan faktor kesulitan lain dalam upaya menciptakan atau
menghadapi konsep-konsep manajemen atau pengelolaan yang baik. Selain itu, sistem
hukum juga memiliki kekuatan yang besar dalam optimalisasi penegakan good
governance. Jika sistem hukum lemah maka good governance akan sulit diterapkan.
Sehingga mutlak diperlukannya penguatan sistem hukum atau reformasi hukum.

2.2 LATAR BELAKANG GOOD CORPORATE GOVERNANCE (GCG)


A Davies dalam bukunya yang berjudul "Strategic Approach to Corporate
Governance" yang diterbitkan tahun 1999 menyatakan istilah governance
dipergunakan pertama kali bukanlah oleh kalangan bisnis namun terdapat dalam
berbagai peraturan gereja. Perkembangan "governance" awal mulanya hanya dikenal
melalui berbagai peraturan yang dibuat atau dikeluarkan oleh gereja. Lama kelamaan
istilah ini digunakan juga dalam konsep revolusi industri sampai dengan kapitalisme.
Sejak abad pertengahan, perdagangan mulai dikenal dan berkembang. Namun saat itu
pengaruh ajaran gereja masih kuat sehingga berpengaruh pada perdagangan.
Pedagang yang banyak mengambil keuntungan dianggap melanggar ajaran agama dan
hal ini yang menghambat aktivitas bisnis.
Menurut Gunardi Endro dalam Shalahuddin (2006) setelah revolusi industri
ada pergeseran kekuatan ekonomi menuju pelaku bisnis di kota yang pada
sebelumnya berpusat pada tuan tanah. Revolusi berhasil menciptakan teknologi-
teknologi praktis sehingga mendorong penduduk untuk melakukan urbanisasi ke kota.
Mulai saat itu kapitalisme meningkat dan berkembang hingga saat ini, serta dianggap

7
sebagai pelopor terbentuknya pasar bebas. Menurut Andre Gorz dalam Shalahuddin
(2006) berkembangnya kapitalisme tidak diikuti dengan kesejahteraan buruh atau
pekerja. Pola kapitalisme seperti ini hanya memberikan penekanan berlebihan kepada
pekerja demi meraih keuntungan bagi perusahaan dan tanpa memperhatikan nasib
kelas pekerja.
Seiring berjalannya waktu, para pekerja di abad ke-19 juga mulai memiliki
kekuatan untuk mengimbangi dominasi perusahaan. Hal ini dapat dilihat dengan
munculnya berbagai organisasi ataupun serikat pekerja yang mampu membela
eksistensi pekerja. Dan sebagai akibat dari bertambahnya kekuatan serikat pekerja
muncullah hubungan antara pemegang saham dan Board of Directors. Keseluruhan
hal ini menambah kompleksitas fenomena governance pada masa itu.
Meningkatnya kekuatan serikat pekerja berakibat pada hubungan antara
pekerja dengan pemilik perusahaan mengalami perubahan, sehingga pada akhirnya
pekerja dianggap sebagai mitra kerja pemilik. Pada saat itu pekerja mulai memiliki
kekuatan untuk negosiasi, dengan demikian pemilik atau pemegang saham
menyerahkan pengelolaan perusahaan secara sepenuhnya kepada pekerja sebagai agen
(agency). Dalam hal ini, maka terdapat kepentingan yaitu kepentingan pemilik dan
kepentingan agen.
Selain kepentingan pemegang saham serta kepentingan pekerja, pada waktu
yang bersamaan juga timbul adanya kepentingan konsumen. Tahapan ini memiliki
akibat yang baik pada perkembangan corporate governance. Konsep Good Corporate
Governance hingga abad ke-21 memiliki dua tahap perkembangan. Generasi pertama
oleh Berle dan Means (1932) menyatakan bahwa jika perusahaan berkembang
semakin besar maka pengelolaan perushaan harus diserahkan pada profesional dan
terdapat pemisahan tegas antara kepemilikan dan pengelola usaha. Dalam tahapan
perkembangan pertama ini muncul Teori Agen yang dikemukakan oleh Jansen
Meckling, dan teori inilah yang hingga saat ini menjadi landasan penerapan GCG di
dunia. Untuk perkembangan generasi kedua ditandai dengan hasil karya La-Porta dan
kolega tahun 1998. Menurut LLSV, penerapan GCG di suatu negara dipengaruhi oleh
perangkat hukum yang ada pada negara tersebut. Perangkat hukum disini berkaitan
dengan upaya perlindungan kepentingan hak-hak pemegang saham baik mayoritas
maupun minoritas.
Good Corporate Governance mencapai puncak perkembangannya saat
ambruknya beberapa perusahaan dunia seperti Enron, Worldcom di AS, HIH

8
Insurance dan One-tel di Australia pada awal dekade 2000-an mulailah perbincangan
dan perdebatan mengenai prinsip-prinsip GCG. Kejadian ambruknya beberapa
perusahaan raksasa dunia menyadarkan kalangan bisnis dan pemerintahan terutama
negara-negara maju yang terkena dampaknya mengenai betapa pentingnya penerapan
prinsip GCG dalam kegiatan bisnis.
Tak hanya populer, istilah GCG tersebut juga ditempatkan di posisi terhormat.
Pertama, GCG merupakan salah satu kunci sukses perusahaan untuk tumbuh dan
menguntungkan dalam jangka panjang, sekaligus memenangkan persaingan bisnis
global. Kedua, krisis ekonomi di kawasan Asia dan Amerika Latin yang diyakini
muncul karena kegagalan penerapan GCG (Daniri dalam Kihatu, 2006). Beberapa hal
yang menyebabkan kegagalan GCG pada saat itu yaitu diantaranya sistem hukum
yang buruk, tidak konsistensinya standar akuntansi dan audit, praktek-praktek
perbankan yang lemah serta kurangnya perhatian Board of Directors terhadap hak-
hak pemegang saham minoritas.
Survei dari Booz-Allen di Asia Timur pada tahun 1998 menunjukkan bahwa
Indonesia memiliki indeks corporate governance paling rendah dengan skor 2,88 jauh
di bawah Singapura (8,93), Malaysia (7,72) dan Thailand (4,89). Rendahnya kualitas
GCG korporasi-korporasi di Indonesia ditengarai menjadi kejatuhan perusahaan
perusahaan tersebut. Survei yang dilakukan oleh PricewaterhouseCoopers terhadap
investor-investor internasional di Asia juga menunjukkan bahwa Indonesia dinilai
sebagai salah satu negara yang terburuk dalam bidang standar-standar akuntansi dan
penataan, pertanggungjawaban terhadap pemegang saham, standar-standar
pengungkapan dan transparansi serta proses-proses kepengurusan perusahaan. Kajian
lain menunjukkan bahwa tingkat perlindungan investor di Indonesia merupakan yang
terendah di Asia Tenggara.
Konsultan manajemen McKinsey & Co, melalui penelitian pada tahun yang
sama, menemukan bahwa sebagian besar nilai pasar perusahaan-perusahaan Indonesia
yang tercatat di asar modal (sebelum krisis) ternyata overvalued. Dikemukakan
bahwa sekitar 90% nilai pasar perusahaan publik ditentukan oleh growth expectation
dan sisanya 10% baru ditentukan oleh current earning stream. Sebagai pembanding,
nilai dari perusahaan publik yang sehat di negara maju ditentukan dengan komposisi
30% dari growth expectation dan 70% dari current earning stream, yang merupakan
kinerja sebenarnya dari korporasi. Jadi, sebenarnya terdapat ”ketidakjujuran” dalam

9
permainan di pasar modal yang kemungkinan dilakukan atau diatur oleh pihak yang
sangat diuntungkan oleh kondisi tersebut.
Hal tersebut dikarenakan praktik GCG di Indonesia belum sepenuhnya belum
dilaksanakan oleh perusahaan publik. Sebagai akibatnya Indonesia mendapatkan
peringkat bawah dalam hal penerapan GCG. Faktor penyebab rendahnya kinerja
Indonesia adalah penegakan budaya hukum dan budaya corporate governance yang
masih berada di titik paling rendah di antara negara-negara lain di Asia.
Konsep GCG belakangan ini makin mendapat perhatian masyarakat
dikarenakan GCG memperjelas dan mempertegas mekanisme hubungan antar para
pemangku kepentingan di dalam suatu organisasi yang mencakup:
a. Hak-hak para pemegang saham (shareholders) dan perlindungannya,
b. Peran para karyawan dan pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders)
lainnya,
c. Pengungkapan (disclosure) yang akurat dan tepat waktu,
d. Transparansi terkait dengan struktur dan operasi perusahaan,
e. Tanggung jawab dewan komisaris dan direksi terhadap perusahaan itu sendiri,
kepada para pemegang saham dan pihak lain yang berkepentingan.
Sehingga, perusahaan di Indonesia tidak dapat menolak lagi untuk menerapkan GCG.
Apalagi perekonomian saat ini sangat tergantung pada sumber dana eksternal dan hal
ini menyebabkan GCG merupakan hal yang wajib diterapkan agar kreditor yakin
bahwa dana mereka aman dan dapat memperoleh return yang sesuai.
Pinsip GCG saat ini telah menjadi kebutuhan di dunia bisnis terutama sebagai
bahan pertimbangan investasi bagi investor. Lemahnya implementasi prinsip GCG
dapat mengakibatkan mandeknya ekspansi perusahaan. Oleh sebab itu, sangat penting
bagi Indonesia untuk menerapkan GCG meskipun kenyataannya GCG hingga saat ini
belum diterapkan sepenuhnya. Aturan GCG tidak serta merta dapat diterapkan secara
sendiri oleh perusahaan, diperlukan dukungan dari pihak regulator dalam membuat
payung hukum untuk menaungi GCG. Dan pada akhirnya diharapkan GCG dapat
menghindarkan Indonesia dari terjadinya tindakan-tindakan kecurangan dan skandal
dalam perusahaan, serta dapat membantu perusahaan keluar dari krisis ekonomi dan
bermanfaat bagi perusahaan-perusahaan Indonesia yang harus menghadapi arus
globalisasi, mengikuti perkembangan ekonomi global dan pasar dunia yang
kompetitif.

10
2.3 PENGERTIAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE (GCG)
Pengertian corporate governance menurut Turnbull Report di Inggris (April
1999) yang dikutip oleh Tsuguoki Fujinuma adalah sebagai berikut
“Corporate governance is a company’s system of internal control, which has
as its principal aim the management of risks that are significant to the
fulfillment of its business objectives, with a view to safeguarding the
company’s assets and enhancing over time the value of the shareholders
investment”.
Berdasarkan pengertian di atas, corporate governance didefinisikan sebagai
suatu sistem pengendalian internal perusahaan yang memiliki tujuan utama mengelola
risiko yang siginifikan guna memenuhi tujuan bisnisnya melalui pengamanan aset
perusahaan dan meningkatkan nilai investasi pemegang saham dalam jangka panjang.
Bank Dunia (world Bank) mendefinisikan good corporate governance (GCG)
sebagai kumpulan hukum, peraturan, dan kaidah – kaidah yang wajib dipenuhi, yang
dapat mendorong kinerja sumber – sumber perusahaan untuk berfungsi secara efisien
guna menghasilkan nilai ekonomi jangka panjang yang berkesinambungan bagi para
pemegang saham maupun masyarakat sekitar secara keseluruhan.
Lembaga Corporate Governance di Malaysia yaitu Finance Committee on
Corporate Governance (FCCG) mendefinisikan corporate governance sebagai proses
dan struktur yang digunakan untuk mengarahkan dan mengelola bisnis dan aktivitas
perusahaan ke arah peningkatan pertumbuhan bisnis dan akuntabilitas perusahaan.
Pasal 1 Surat Keputusan Menteri BUMN No. 117/M-MBU/2002: Corporate
Governance adalah proses dan struktur yang digunakan oleh organ BUMN untuk
meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas perusahaan guna mewujudkan
nilai pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap memerhatikan pemangku
kepentingan (stakeholder) lainnya, berlandaskan peraturan perundangan dan nilai-
nilai etika.
Pengamat bisnis Singapura, Lee Lam Thyee, menyatakan:
Good corporate governance is now the key word for organization as they are
expected to set high standards in meeting the demands of their shareholders.
Director are therefore subjected to higher standards which cover not the
technical efficiency of operations, but also the implementation of an efficient
management system through the use of “best practices” develop from high
ethical values.

11
Secara definitif Good Corporate Governance merupakan sistem yang
mengatur dan mengendalikan perusahaan untuk menciptakan nilai tambah untuk
semua stakeholder. Ada dua hal yang ditekankan dalam konsep ini, pertama,
pentingnya hak pemegang saham untuk memperoleh informasi dengan benar dan tepat
pada waktunya dan kedua, kewajiban perusahaan untuk melakukan pengungkapan
secara akurat, tepat waktu, dan transparan terhadap semua informasi kinerja
perusahaan, kepemilikan dan stakeholder.
Berdasarkan beberapa pengertian tersebut diatas, secara singkat GCG dapat
diartikan sebagai seperangkat sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan
untuk menciptakan nilai tambah (value added) bagi para pemangku kepentingan. Hal
ini disebabkan karena GCG dapat mendorong terbentuknya pola kerja manajemen
yang Bersih, Transparan, dan Profesional (BTP). Implementasi prinsip-prinsip GCG
secara konsisten di perusahaan akan menarik minat para investor, baik domestik
maupun asing. Hal ini sangat penting bagi perusahaan yang akan mengembangkan
usahanya, seperti melakukan investasi baru maupun proyek ekspansi.

12
BAB III

PENUTUP

3.1 SIMPULAN
Corporate governance merupakan topik utama yang banyak diperbincangkan
khalayak ramai dalam beberapa tahun ini. Umumnya kemampuan suatu negara untuk
menarik investor tergantung pada seberapa jauh penerapan corporate governance yang
diterapkan oleh perusahaan dan sejauh mana manajemen menghormati dan mematuhi
hak-hak dari stakeholders lainnya. Para investor biasanya akan enggan menanamkan
modal pada perusahaan yang tidak menerapkan corporate governance secara efektif.
Good Corporate Governance mencapai puncak perkembangannya saat
ambruknya beberapa perusahaan dunia seperti Enron, Worldcom di AS, HIH
Insurance dan One-tel di Australia pada awal dekade 2000-an mulailah perbincangan
dan perdebatan mengenai prinsip-prinsip GCG. Kejadian ambruknya beberapa
perusahaan raksasa dunia menyadarkan kalangan bisnis dan pemerintahan terutama
negara-negara maju yang terkena dampaknya mengenai betapa pentingnya penerapan
prinsip GCG dalam kegiatan bisnis.
Secara singkat GCG dapat diartikan sebagai seperangkat sistem yang
mengatur dan mengendalikan perusahaan untuk menciptakan nilai tambah (value
added) bagi para pemangku kepentingan. Hal ini disebabkan karena GCG dapat
mendorong terbentuknya pola kerja manajemen yang Bersih, Transparan, dan
Profesional (BTP). Implementasi prinsip-prinsip GCG secara konsisten di perusahaan
akan menarik minat para investor, baik domestik maupun asing. Hal ini sangat
penting bagi perusahaan yang akan mengembangkan usahanya, seperti melakukan
investasi baru maupun proyek ekspansi.

13
DAFTAR PUSTAKA

Effendi, Muh. Arief. 2008. The Power of Good Corporate Governance: Teori dan
Implementasi. Jakarta: Salemba Empat.

Khairandy, Ridwan dan Camelia Malik. 2007. Good Corporate Governance: Perkembangan
Pemikiran dan Implementasinya di Indonesia dalam Perspektif Hukum. Yogyakarta:
Penerbit Kreasi Total Media.

Moeljono, Djokosantoso. 2005. Good Corporate Culture sebagai Inti Good Corporate
Governance. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Kaihatu, Thomas S. 2006. Good Corporate Governance dan Penerapannya di Indonesia.


http://puslit2.petra.ac.id/gudangpaper/files/1957.pdf (diakses tanggal 20 September
2015)

Shalahuddin S. 2009. Good Corporate Governance dalam Penjualan Tanker VLCC


Pertamina.http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/123763-PK%20IV%202078.8166-
Good%20corporate-Literatur.pdf (diakses tanggal 23 September 2015)

http://gustiphd.blogspot.com/2011/10/sejarah-lahir-gcg-dan-perkembangannya.html (diakses
tanggal 19 September 2015)

http://onvalue.wordpress.com/2007/10/09/sejarah-timbulnya-corporate-governance/ diakses
tanggal 19 September 2015)

14