Anda di halaman 1dari 3

PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT

NOMOR : 298//Dir-SK/XII/2016
TENTANG
KEBIJAKAN TENTANG PETUGAS YANG BERWENANG MENELAAH PESANAN OBAT
(RESEP) RUMAH SAKIT
DIREKTUR RUMAH SAKIT

MENIMBANG : 1. Resep adalah permintaan tertulis dari dokter, Dokter gigi atau dokter
hewan kepada apoteker untuk membuat dan memberikan obat kepada pasien.
2. Untuk meningkatkan mutu dan keamanan pelayanan farmasi, khususnya dalam pemberian obat
kepada pasien baik di rawat jalan maupun rawat inap, maka Rumah Sakit bertanggung jawab
untuk mengidentifikasi petugas yang berkompeten atau berwenang dan juga yang diijinkan
dengan lisensi, sertifikat, hukum atau peraturan untuk menyerahkan obat.
3. Bahwa berdasarkan pertimbangan pada point 2 diatas maka Rumah Sakit perlu menerbitkan Surat
Keputusan Direktur Rumah Sakit tentang petugas yang berhak menelaah pesanan obat (resep).

MENGINGAT : 1. Undang-Undang RI Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit.


2. Undang-Undang RI Nomor 7 tahun 1963 tentang Farmasi.
3. Peraturan Pemerintah RI Nomor 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian.
4. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 72 tahun 2016 tentang Standar Pelayana Kefarmasian di
Rumah Sakit.
5. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1197 tahun 2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di
Rumah Sakit.

MEMUTUSKAN
MENETAPKAN :
KESATU : Petugas yang berwenang menelaah pesanan obat (resep) adalah orang
kompeten untuk melakukannya baik atas dasar pendidikan maupun latihan sesuai dengan
kewenangan atau telah membuktikan kompetensinya dalam proses review.

KEDUA : Penelaahan ketepatan resep tidak perlu pada keadaan darurat apabila
dokter pemesan hadir untuk pemesanan, pemberian dan monitoring pasien.

KETIGA : Tata cara telaah resep yang dilakukan sebagai berikut :


1. Setiap resep yang masuk di Instalasi Farmasi Rumah Sakit harus dilakukan telaah resep
terlebih dulu, sebelum obat diserahkan kepada pasien.
2. Telaah resep yang dilakukan meliputi:
- Tanggal resep
b. Persyaratan farmasis, meliputi:
- Kejelasan tulisan resep
- Tepat obat
- Tepat dosis
- Tepat rute
- Tepat waktu
- Duplikasi
c. Persyaratan klinis,meliputi
- Interaksi obat
- Alergi
- Berat badan untuk pasien anak
- Kontra indikasi

3. Telaah resep dilakukan oleh Apoteker.

4. Setiap pasien memiliki profil pengobatan untuk membantu proses telaah resep atau
pengobatan.

5. Telaah resep tidak perlu dilakukan pada keadaan darurat atau bila dokter pemesan hadir untuk
pemesanan, pemberian dan monitoring pasien (misal di kamar bedah atau UGD) atau dalam
tindakan radiologi intervensional atau diagnostik imajing dimana obat merupakan bagian dari
prosedur.

6. Telaah resep tetap dilakukan ketika Apoteker tidak hadir, telaah resep ketika apoteker tidak
hadir dilakukan oleh Tenaga Teknis Kefarmasian yang ditunjuk ataupun yang sudah terlatih.

7. Jika resep yang tertulis tidak memenuhi persyaratan, maka harus segera dilakukan klarifikasi
kepada dokter penulis resep sebelum diberikan kepada pasien.

8. Semua klarifikasi dan pertanyaan kepada dokter penulis resep harus dilakukan
pendokumentasian.

KEEMPAT : Kebijakan ini berlaku selama 3 tahun dan akan dilakukan evaluasi
minimal 1 tahun sekali.

KELIMA : Apabila hasil evaluasi mensyaratkan adanya perubahan, maka akan


dilakukakan perubahan dan perbaikan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di : Tangerang
Tanggal : 30Desember2016
RUMAH SAKIT TANGERANG

Direktur

TEMBUSAN Yth :
1. Wadir Pelayanan Medis
2. Komite Medis
3. Seluruh Dokter di Rumah Sakit
4. Kepala Bagian Keperawatan
5. Seluruh Kepala Ruang Keperawatan
6. Instalasi Farmasi
7. Arsip
SURAT PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT
NOMOR : 298//Dir-SK/XII/2016
TANGGAL : 30 Desember 2016

1. Pemberian obat
a. Perawat harus selalu melakukan pengecekan ganda (double-check) terhadap semua Obat dan
Alkes serta obat obat high alert medications sebelum diberikan kepada pasien.
b. Pengecekan Ganda Terhadap Obat dan Alkes serta obat obat High Alert Medications
1) Tujuan:
Identifikasi obat-obatan yang memerlukan verifikasi atau pengecekan ganda oleh petugas
kesehatan lainnya (sebagai orang kedua) sebelum memberikan obat dengan tujuan meningkatkan
keselamatan dan akurasi.
2) Kebijakan:
a) pengecekan ganda diperlukan sebelum memberikan high alert medications tertentu / spesifik dan
di saat pelaporan pergantian jaga atau saat melakukan transfer pasien.
b) Pengecekan ganda ini akan dicatat pada rekam medis pasien atau pada catatan pemberian
medikasi pasien.
c) Pengecekan pertama harus dilakukan oleh petugas yang berwenang untuk menginstruksikan,
meresepkan, atau memberikan obat-obatan, antara lain: perawat, ahli farmasi, dan dokter.
d) Pengecekan kedua akan dilakukan oleh petugas yang berwenang, teknisi, atau perawat lainnya.
(petugas tidak boleh sama dengan pengecek pertama)
e) Kebutuhan minimal untuk melakukan pengecekan ganda/verifikasi oleh orang kedua dilakukan
pada kondisi-kondisi seperti berikut:
 Setiap akan memberikan injeksi obat
 Untuk infuse:
- Saat terapi inisial
- Saat terdapat perubahan konsentrasi obat
- Saat pemberian bolus
- Saat pergantian jaga perawat atau transfer pasien
- Setiap terjadi perubahan dosis obat
f) Pengecekan tambahan dapat dilakukan sesuai dengan instruksi dari dokter.