Anda di halaman 1dari 16

TUGAS

AKUNTANSI PERBANKAN

AKUNTASI PERBANKAN SYARIAH


“ mudharabah DALAM PERBANKAN SYARIAH”

OLEH
NAMA : FEBRI ARDIANSYAH
NIMA : C1C008039

DOSEN PENGASUH

PRODY AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS JAMBI
2010

KATA PENGANTAR

Berkat rahmat ALLAH SWT , yang telah menciptakan alam semesta ini dan telah

melimpahkan karunia dan rahmatNYA . Sholawat dan salam penulis kirimkan kepada Nabi

Muhammad SAW, yang telah membimbing umat manusia dari alam jahiliah menuju alam yang penuh

ilmu pengetahuan seperti yang kita rasakan pada saat ini.

Resume berjudul “AKUNTANSI PERBANKAN SYARIAH” Tujuan kami menyusun


makalah ini untuk memenuhi nilai tugas semester ganjil pada mata kuliah akuntasi perbankan kami
menyusun makalah ini dapat bermamfaat bagi kami dan orang banyak pada umumnya

penulis menyadari sepenuhnya dalam pembuatan resume ini masih banyak terdapat

kekurangan, namun atas ketekunan dan bantuan dari referensi buku-buku yang ada serta bantuan dari

pihak lain yang namanya tidak dapat disebutkan satu-persatu, maka penulis menyampaikan ucapan

terima kasih yang sedalam-dalamnya atas segala bantuan tersebut.

Demikianlah resume ini ini saya buat, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Penulis
Pendahuluan
Latar Belakang
Ratusan tahun sudah ekonomi dunia didominasi oleh sistem bunga. Hampir semua
perjanjian di bidang ekonomi dikaitkan dengan bunga. Banyak negara yang telah dapat
mencapai kemakmurannya dengan sistem bunga ini di atas kemiskinan negara lain sehingga
terus-menerus terjadi kesenjangan. Pengalaman di bawah dominasi perekonomian dengan
sistem bunga selama ratusan tahun membuktikan ketidak mampuannya untuk menjembatani
kesenjangan ini. Di dunia, di antara negara maju dan negara berkembang kesenjangan itu
semakin lebar, sedang di dalam negara berkembang kesenjangan itupun semakin dalam.
Meskipun tidak diakui secara terus terang tetapi disadari sepenuhnya bahwa sistem
ekonomi yang berbasis kapitalis dan interest base serta menempatkan uang sebagai komoditi
yang diperdagangkan bahkan secara besar-besaran ternyata memberikan implikasi yang
serius terhadap kerusakan hubungan ekonomi yang adil dan produktif. Atorf (1999)
mengemukakan bahwa krisis nilai tukar yang terjadi pada pertengahan 1997 telah membuat
perbankan nasional mengalami kondisi yang sangat memprihatinkan. Hal tersebut ditandai
dengan besarnya hutang dalam valuta asing yang melonjak, tingginya non performing loans,
dan menurunnya permodalan bank. Kondisi tersebut diperburuk lagi dengan suku bunga yang
meningkat tajam sejalan dengan kebijakan moneter untuk meredam gejolak nilai tukar,
sehingga banyak bank yang mengalami negative spread. Kondisi perbankan yang sangat
parah tesebut terutama sebagai akibat dari pengelolaan bank yang tidak berhati-hati. Di pihak
lain terdapat pandangan dari para ahli bahwa penerapan sistem bunga telah memperparah
terpuruknya sistem perbankan nasional. Banyaknya fakta yang menggambarkan kesenjangan
yang terjadi akibat diterapkannya sistem bunga, menjadikan kita dapat berfikir bahwa sistem
bunga yang masih berlaku saat ini harus diganti dengan sistem lain yang dapat memberikan
manfaat yang lebih baik serta mempunyai kontribusi positif guna membangun perekonomian
yang sejahtera. Salah satu sistem alternatif tersebut adalah sistem perbankan berdasarkan
prinsip bagi hasil yang beroperasi berdasarkan pada prinsip-prinsip Islam.
Dasar pemikiran pengembangan bank berdasarkan prinsip bagi hasil adalah untuk
memberikan pelayanan jasa kepada sebagian masyarakat Indonesia yang tidak dapat dilayani
oleh perbankan yang sudah ada, karena bank-bank tersebut menggunakan sistem bunga.
Dalam menjalankan operasinya, bank syariah tidak mengenal konsep bunga uang dan tidak
mengenal peminjaman uang tetapi yang ada adalah kemitraan/kerjasama (mudharabah dan
musyarakah) dengan prinsip bagi hasil, sementara peminjaman uang hanya dimungkinkan
untuk tujuan sosial tanpa adanya imbalan apapun. Sehingga dalam operasinya dikenal
beberapa produkbank syariah antara lain produk dengan prinsip mudharabah dan
musyarakah. Prinsip mudharabah dilakukan dengan menyepakati nisbah bagi hasil atas
keuntungan yang akan diperoleh sedangkan kerugian yang timbul menjadi resiko pemilik
dana sepanjang tidak ada bukti bahwa pihak pengelola tidak melakukan kecurangan. Prinsip
musyarakah adalah perjanjian antar pihak untuk menyertakan modal dalam suatu
kegiatanekonomi dengan pembagian keuntungan atau kerugian sesuai nisbah yang disepakati
(Antonio, 2004).
Perkembangan lembaga keuangan yang beroperasi dengan prinsip bagi hasil tidak
terlepas dari adanya legalitas hukum dalam bentuk undang-undang perbankan no.7
tahun1992 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 10 tahun 1998. Undang-undang ini
mengizinkan lembaga perbankan menggunakan prinsip bagi hasil, bahkan
memungkinkanbank untuk beroperasi dengan dual system, yaitu beroperasi dengan sistem
bunga dan bagi hasil, sebagaimana dipraktekkan oleh beberapa bank di Indonesia. Selain
adanya beberapa peraturan yang telah ditetapkan untuk operasionalisasi bank syariah, saat ini
juga telah dibentuk seperangkat aturan yang mengatur tentang perlakuan akuntansi bagi
transaksi-transaksi khusus yang berkaitan dengan aktivitas bank syariah, yaitu dengan
diberlakukannya Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 59 tentang akuntansi
perbankan syariah.
Sebagaimana diketahui bahwa bank syariah mulai diperkenalkan di Indonesia pada tahun
1992 sejalan dengan diberlakukannya undang-undang No. 7 tahun 1992 tentang perbankan.
Bank syariah di Indonesia sebetulnya bisa dikatakan relatif masih baru dan sedang dalam
proses pemantapan diri terutama dalam aspek manajemen intern dan pembentukan image
kepada masyarakat. Karena keberadaannyayang masih baru ini, masyarakat secara umum
belum mengenal bank syariah dengan baik dan lengkap. Suryo (2003) mengemukakan
bahwa maraknya perbankan Islam di duniapun bukan tanpa kecaman. Justru kecaman itu
datang dari para ilmuan Islam sendiri. Mereka berpendapat bahwa bank-bank Islam dalam
menyelenggarakan transaksi-transaksi perbankan syariah justru telah melaksanakannya
bertentangan dengan kata-kata dan semangat dari ketentuan syariah. Penyelenggaraan
kegiatan-kegiatan usahabank-bank Islam tersebut telah menimbulkan masalah moralitas.
Sehingga yang perlu dipertanyakan apakah penyelenggaraan kegiatan-kegiatan usaha bank-
bank Islam tersebut yang notabene bermaksud untuk menghindarkan pemungutan bunga dan
bermaksud agar para pihak memikul masalah bersama, memang telah diselenggarakan sesuai
dengan tujuan tersebut ataukah dalam pelaksanaannya ternyata hanya sekedar penggantian
istilah belaka.Salah satu permasalahan mendasar yang dihadapi oleh kalangan perbankan
syariah saat ini adalah standarisasi sistem akuntansi dan audit, yang bertujuan untuk
menciptakan transparansi keuangan sekaligus memperbaiki kualitas pelayanan keuangan
kepada masyarakat. Kita mengetahui bahwa diantara kunci kesuksesan suatu bank syariah
sangat ditentukan oleh tingkat kepercayaan publik terhadap kekuatan finansial bank yang
bersangkutan, dan kepercayaan terhadap kesesuaian operasional bank dengan sistem syariah
Islam. Kepercayaan ini terutama kepercayaan yang diberikan oleh para depositor dan
investor, dimana keduanya termasuk stakeholder utama sistem perbankan di dunia ini.
Salah satu sumber utama untuk meraih kepercayaan publik adalah tingkat kualitas
informasi yang diberikan kepada publik, dimana bank syariah harus mampu meyakinkan
publik bahwa ia memiliki kemampuan dan kapasitas di dalam mencapai tujuan-tujuan
finansial maupun tujuan-tujuan yang sesuai dengan syariat Islam. Karena itu, membangun
sebuah sistem akuntansi dan audit yang bersifat standar merupakan sebuah keniscayaan dan
telah menjadi kebutuhan utama yang harus dipenuhi.
Namun yang perlu kita perhatikan, terutama pada tataran operasional, sistem akuntansi
pada perbankan syariah memiliki karakter tersendiri yang berbeda dengan sistem akuntansi
perbankan konvensional, meski pada aspek-aspek tertentu, keduanya memiliki persamaan-
persamaan. Diantara perbedaan yang sangat prinsipil adalah larangan riba / bunga dalam
praktek perbankan syariah dan differensiasi produk perbankan syariah yang lebih variatif dan
beragam bila dibandingkan dengan sistem perbankan konvensional. Sehingga konsep dan
struktur dasar investasi dan keuangan pada sistem perbankan syariah haruslah menjadi
konsideran utama didalam membangun sistem akuntansi yang kredibel.
Tujuan Umum
Untuk menjaga konsistensi, baik yang bersifat internal maupun eksternal bank, maupun
untuk menjamin kesesuaiannya dengan syariat Islam, maka kita perlu mendefinisikan tujuan
standarisasi akuntansi keuangan pada bank syariah. Hal ini juga sebagai upaya untuk
memberikan panduan umum didalam menentukan sejumlah pilihan berdasarkan alternatif-
alternatif yang ada. Adapun tujuan sistem akuntansi keuangan ini adalah pertama, untuk
menentukan hak dan kewajiban semua pihak yang berkepentingan, seperti para depositor dan
pemilik bank. Kemudian yang kedua adalah untuk menjamin keamanan dan keselamatan aset
bank syariah, termasuk menjamin hak bank yang bersangkutan dan hak stakeholder lainnya.
Yang ketiga, menjamin perbaikan manajemen dan kapabilitas produktif bank syariah agar
senantiasa selaras dengan tujuan dan kebijakan yang telah ditetapkan. Dan yang keempat

PEMBAHASAN

Mekanisme Dasar Bank Syariah


Sebagai sebuah lembaga intermediasi keuangan, mekanisme dasar bank syariah adalah
menerima deposito dari pemilik modal (depositor) pada sisi liability-nya (kewajiban) untuk
kemudian menawarkan pembiayaan kepada investor pada sisi asetnya, dengan pola atau
skema pembiayaan yang sesuai dengan syariat Islam. Pada sisi kewajiban, terdapat dua
kategori utama, yaitu interest-free current and saving accounts dan investment accounts yang
berdasarkan pada prinsip PLS (Profit and Loss Sharing) antara pihak bank dengan pihak
depositor. Sedangkan pada sisi aset, yang termasuk didalamnya adalah segala bentuk pola
pembiayaan yang bebas riba dan sesuai standar syariah, seperti mudarabah, musyarakah,
istisna, salam, dan lain-lain.
Untuk mencapai tujuan akuntansi yang bersifat standar, maka struktur dasar aktivitas
investasi dapat kita bagi kedalam dua bagian, yaitu pertama, unrestricted investment accounts
(rekening investasi tanpa batasan) dan yang kedua, yaitu restricted investment accounts
(rekening investasi dengan batasan). Adapun maksud poin yang pertama adalah bank Islam
memiliki kebebasan untuk menginvestasikan dana yang diterimanya pada berbagai kegiatan
investasi tanpa dibatasi oleh ketentuan-ketentuan tertentu, termasuk menggunakannya secara
bersama-sama dengan modal pemilik bank. Sedangkan maksud pada poin yang kedua adalah
pihak bank hanya bertindak sebagai manajer yang tidak memiliki otoritas untuk
mencampurkan dana yang diterimanya dengan modal pemilik banknya tanpa persetujuan
investor. Selain kedua hal tersebut, bank syariah juga harus merefleksikan fungsinya sebagai
pengelola dana zakat, dan dana-dana amal lainnya termasuk dana qard hasan. Sementara itu,
pada aspek pengenalan (recognition), pengukuran (measurement), dan pencatatan (recording)
setiap transaksi pada sistem akuntansi bank syariah terdapat kesamaan dengan proses-proses
yang terjadi pada sistem konvensional.
Untuk menjaga konsistensi, baik yang bersifat internal maupun eksternal bank, maupun
untuk menjamin kesesuaiannya dengan syariat Islam, maka kita perlu mendefinisikan tujuan
standarisasi akuntansi keuangan pada bank syariah. Hal ini juga sebagai upaya untuk
memberikan panduan umum didalam menentukan sejumlah pilihan berdasarkan alternatif-
alternatif yang ada. Adapun tujuan sistem akuntansi keuangan ini adalah pertama, untuk
menentukan hak dan kewajiban semua pihak yang berkepentingan, seperti para depositor dan
pemilik bank. Kemudian yang kedua adalah untuk menjamin keamanan dan keselamatan aset
bank syariah, termasuk menjamin hak bank yang bersangkutan dan hak stakeholder lainnya.
Yang ketiga, menjamin perbaikan manajemen dan kapabilitas produktif bank syariah agar
senantiasa selaras dengan tujuan dan kebijakan yang telah ditetapkan. Dan yang keempat
adalah untuk menyediakan laporan keuangan yang berguna bagi para pemakainya ¡ªseperti
pemegang saham, pemilik rekening, otoritas fiskal, dll¡ª sehingga memungkinkan mereka
untuk membuat keputusan yang legitimate didalam melakukan negosiasi dan transaksi
dengan pihak bank syariah.
Agar sebuah laporan keuangan tersebut benar-benar dapat dipertanggungjawabkan, maka
kualitas informasi yang diberikan harus memenuhi beberapa kriteria, antara lain : (i) asas
manfaat, terutama bagi pihak pemakainya; (ii) relevansi antara laporan keuangan tersebut
dengan tujuan pelaporannya; (iii) tingkat kepercayaan; (iv) komparabilitas, artinya dapat
diperbandingkan berdasarkan periode waktu tertentu; (v) konsistensi, artinya metode yang
digunakan konsisten dan tidak mudah berubah; dan (vi) mudah dipahami, serta tidak multi
interpretasi. Selain keenam hal tersebut, informasi yang diberikan juga harus mencakup
beberapa aspek. Pertama, informasi yang tersedia harus mampu menggambarkan pencapain
tujuan yang ada dan konsistensinya dengan syariat. Jika bank melakukan deal pada transaksi
yang diharamkan, misalnya terkait dengan sistem riba, maka harus dijelaskan secara detil
mengenai pemisahan pencatatan transaksi tersebut. Dan yang kedua, informasi tersebut harus
mampu membantu pihak luar bank untuk mengevaluasi rasio kecukupan modal, resiko
investasi, likuiditas, dan berbagai aspek finansial perbankan lainnya. Ini sangat penting
dilakukan, sehingga kredibilitas bank dapat dipertanggungjawabkan.
Saat ini, berbagai upaya telah dilakukan untuk membangun sistem auditing dan akuntansi
yang bersifat standar bagi kalangan perbankan syariah. Diantaranya adalah upaya yang
dilakukan oleh AAOIFI (the Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial
Institutions) yang berbasis di Bahrain. Sejak berdiri pada tahun 1991, lembaga ini telah
banyak memberikan kontribusi yang signifikan. Namun tentu saja, masih banyak hal yang
harus dikerjakan oleh para pakar dan praktisi perbankan syariah. Hal ini dikarenakan
tantangan yang semakin besar, termasuk bagaimana bersaing secara sehat dan produktif
dengan kalangan perbankan konvensional.
Diantara tantangan yang terberat kedepannya adalah bagaimana menciptakan standar
metodologi akuntansi terhadap beragam tipe pola atau skema pembiayaan perbankan syariah
yang dapat diterima secara internasional. Kemudian juga adalah tantangan regulasi yang
secara umum belum menunjukkan keberpihakan yang lebih terhadap sektor perbankan
syariah. Namun penulis berkeyakinan, bila semua pihak tetap konsisten didalam menegakkan
konsep perbankan syariah secara utuh, maka lambat laun perbankan syariah kedepannya
memiliki harapan untuk dapat menggantikan sistem perbankan konvensional.
Pendirian bank syariah pada awalnya dipicu oleh kenyataan terdapatnya sebagian
penduduk yang beragama Islam di Indonesia yang tidak bersedia memanfaatkan jasa
perbankan konvensional, disebabkan ketidaksesuaian keyakinan mereka terhadap sistem
operasional perbankan yang menggunakan instrumen bunga. Hal ini didukung temuan survai
BI yang mendapatkan 30 persen dari umat Islam yang tidak mau berhubungan dengan bunga
bank.Potensi tersembunyi dari kelompok masyarakat tersebut menurut Prabowo (2000),
tentunya menjadi kerugian negara dalam mensejahterakan umat dan menggerakkan
perekonomian nasional secara keseluruhan. Oleh karenanya, muncul pemikiran dari para
cendekiawan muslim untuk mendirikan bank alternatif (syariah) di Indonesia yang terwujud
dalam bentuk berdirinya bank syariah pertama yaitu Bank Muamalat Indonesia pada akhir
tahun1991. Bank syariah mulai diperkenalkan dan bermunculan di Indonesia sejak tahun
1992 dengan pelopor Bank Muamalat Indonesia. Sejalan dengan itu, mulailah dibuat aturan-
aturan yang terkait dengan pelaksanaan operasional bank syariah termasuk aturan tentang
akuntansi untuk perbankan syariah. Aturan ini telah ditetapkan dalam PSAK No 59 tentang
akuntansi perbankan syariah, namun dalam praktiknya, aturan-aturanyang digunakan dalam
kegiatan operasional Bank Muamalat Indonesia belum sepenuhnya menggunakan aturan-
aturan yang sesuai dengan syariah Islam, seperti konsep yadul amanah, pembagian
keuntungan, biaya pengelolaan dan mudharabah atas mudharabah. Di satu sisi, Bank
Muamalat Indonesia telah sepenuhnya melaksanakan aturan-aturan yang telah ditetapkan
oleh pemerintah terkait dengan operasionalisasi bank syariah. Jadi, Syariah: “ketentuan
hukum Islam yang mengatur aktivitas manusia yang berisi perintah dan larangan baik yang
menyangkut hubungan interaksi vertikal dengan Tuhan maupun interaksi horisontal dengan
sesama makhluk”.Transaksi Syariah: “transaksi yang dilakukan berdasarkan syariah”. Entitas
Syariah:”Entitas yang melaksanakan transaksi syariah sebagai kegiatan usaha berdasarkan
prinsip syariah yang dinyatakan dalam anggaran dasarnya”.
Ditinjau Dari PSAK
Pada 1 Mei 2002 secara resmi IAI telah menelorkan PSAK No 59. Standar ini perlu
disambut dengan gembira karena merupakan salah satu instrumen pendukung perkembangan
perbankan syariah di Indonesia. Bank Syariah pertama mulai beroperasi resmi pada 1 Mei
1992. Keberadaan Bank Syariah ini setelah beberapa tahun kemudian disambut hangat
dengan lahirnya beberapa bank lain. Menurut data BI memang pangsa pasar Bank Syariah ini
masih relatif kecil sekitar 0,025%, dengan indikator (Juni 2002) lain:
Total asset : Rp. 2.81 trilyun 0,18 % dari Total asset perbankan nasional.Pembiayaan : Rp.
2,74 trilyun 0,50 % dari Total pembiayaan perbankan nasional. Pendanaan : Rp. 2,08 trilyun
Modal : Rp. 5,456 trilyun. Bank : 2 Bank umum, 4 Bank dengan Unit Syariah dengan kantor
sebanyak 176 cabang dan 81 BPRS.
Dari antusiasme masyarakat diramalkan pangsa dan peran bank syariah ini akan semakin
meningkat.Keadaan ini berlaku juga di Malaysia dan di tingkat Internasional.
Terlepas dari kualitas dan kesempurnaannya, PSAK 59 ini perlu kita puji dan sokong. Karena
kedua standar ini sangat perlu untuk mempercepat perkembangan bank syariah di negeri ini.
Standar ini banyak mengadopsi kerangka dan standar yang dikeluarkan oleh Accounting and
Auditing Organizations for Islamic Financial Instirutions (AAOIFI, 1998) yang berpusat di
Bahrain. Sikap ini menjadi plus lagi karena hal ini akan menuju standar yang sesuai dengan
konsep internasional sehingga harmonisasi standar akuntansi bank syariah didunia Islam bisa
terwujud. Kalau kita kaji lebih dalam kedua standar ini masih beranjak dari kerangka
akuntansi konvensional. Hal ini lumrah karena disiplin akuntansi Islam sebagai ilmu belum
“terwujud” sehingga berbagai paradigma masih tetap menggunakan konsep konvensional
yang belum sepenuhnya seirama dengan sifat dan nilai nilai syariat yang kita yakini. Reaksi
sebahagian praktisi perbankan tentang prinsip “accrual basis” misalnya merupakan ekses dari
dual system ini.

PSAK 59 (khusus perbankan syariah)


Pendahuluan:
- Tujuan
- Ruang Lingkup
Pengakuan/Pengukuran
Mudh, Musy, Murab, salam, istishna, ijarah, wadiah, qardh, sharf
Penyajian LK
Neraca, L/R, AK, Dana Inv Terikat, ZIS, Lap Qard
Pengungkapan LK
Neraca, L/R, AK, Dana Inv Terikat, ZIS, Lap Qard

PSAK 101-106 (entitas syariah & non-syariah)


Kerangka Dasar Penyusunan Pelaporan Lap Keuangan Syariah
PSAK 101 Penyajian Lap Keu Syariah
PSAK 102 Ak Murabahah
PSAK 103 Akuntansi Salam
PSAK 104 Akuntansi Istishna
PSAK 105 Ak Mudharabah
PSAK 106 Ak Musyarakah
Adapun yang belum diatur dalam PSAK untuk Perbankan Syariah :
 Sukuk
 Asuransi (Takaful) dengan berbagai produknya
 Berbagai jenis Investasi seperti Reksa Dana, Discretionary Fund, Surat Berharga
Syariah, dll
 Transaksi Pasar Modal Syariah

Kerangka Dasar Penyusunan Laporan Keuangan


Kerangka dasar ini adalah menyajikan konsep yang mendasari penyusunan laporan
keuangan bagi bank syariah. Memang kerangka ini sangat dangkal sekali dan tidak cukup
dijadikan dasar sebagai kerangka yang kuat untuk melahirkan bangunan standar yang
komprehensif. Adapun isinya dapat digambarkan sebagai berikut:
 Perbedaan antara bank konvensional dan syariah.
 Para pemakai: investasi pemilik, pembayar zakat dan dewan pengawas syariah.
 Tujuan akuntansi keuangan menentukan hak dan kewajiban pihak terkait termasuk
atas transaksi yang belum selesai, memberikan informasi untuk pengambilan
keputusan, dan tentang kepatuhan terhadap prinsip syariah.
 Tujuan laporan keuangan menyajikan informasi tentang kepatuhan bank terhadap
syariah, mengevaluasi sejauhmana tanggungjawab bank terhadap amanah dalam
mengelola berbagai dana, mengenai fungsi sosial bank termasuk penyaluran zakat.
 Asumsi dasar yang dipakai, pada umumnya adalah dasar akrual kecuali dalam hal
perhitungan pendapatan untuk tujuan bagi hasil menggunakan dasar kas. Point ini
yang belakangan menjadi polemik yang sebenarnya disebabkan karena ketidak
tahuan.

Pernyataan Standar Akuntansi Perbankan


Pengakuan dan pengukuran Pengakuan dan pengukuran masing masing produk:
mudharabah, musyarakah, murabahah, salam, istisha’, ijarah, wadiah, qardh, dan transaksi
berbasis imbalan diatur. Masing masing jenis produk bank ini bisa berbeda beda dan sangat
tergantung pada sifatnya.Penyajian laporan keuangan Berbagai jenis laporan yang harus
disajikan bank syariah adalah:
1) Neraca
2) Laporan Laba Rugi
3) Laporan perubahan dana Investasi terikat
4) Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat, Infaq dan Shadaqah
5) Laporan Sumber dan Penggunaan Alqardh

Laporan 3 terakhir adalah khas bank syariah. Laporan ini harus disajikan sesuai dengan
konsep “full disclosure” dengan menjelaskan semua jenis pembiayaan yang ada, dana atau
investasi yang diterima serta sifat, hak, periode, bagi hasil yang berkaitan dengan produk
tersebut.Laporan bank syariah harus mengungkapkan informasi umum mengenai bank
syariah dan informasi tambahan:
a) Karakteristik kegiatan bank dan jasa yang diberikan.
b) Tugas dan kewenangan Dewan Pengawas Syariah
c) Tanggungjawab bank terhadap pengelolaan zakat
d) Kebijakan akuntansi, pengakuan pendapatan, penyisihan kerugian aktiva produktif,
dan konsolidasi laporan keuangan
e) Transaksi yang dilarang syariah dan menyelesaikannya.
f) Dana yang tidak terikat
g) Aktiva produktif (jenis, sektor, jumlah, yang menyangktu hubungan istimewa,
kedudukan bank, bagi hasil, klassifikasi, penyisihan kerugian, aktiva prosuktif
bermasalah)

Ketentuan masing masing Laporan:


1. Neraca mengungkapkan jumlah, jenis pembiayaan, syarat dan penyisihan kerugian.
2. Laba Rugi mengungkapkan pendapatan, beban, keuntungan, kerugian dan bagian
bank menurut jenis transaksi.
3. Perubahan dana Investasi terikat: periode laporan, saldo, keuntungan/kerugian dan
saldo akhir, sifat hubungan bank, hak dan kewajiban.
4. Sumber dan Penggunaan Dana ZIS: periode, dasar penentuan zakat, jumlah yang
diterima/disalurkan, saldo.
5. Sumber dan Penggunaan Alqardh Hasan: periode, jumlah, penyaluran, penerimaan
dan saldo.
Melihat isi dan penjelasan ini maka dapat disimpulkan bahwa sebaiknya kedua PSAK ini
harus dianggap sebagai suatu konsep temporer yang mesti disempurnakan nantinya setelah
kerangka Akuntansi Islam yang “established” lahir dari ideologi, masyarakat, sistem ekonomi
dan Akuntansi yang Islami. Sebagaimana teori Colonial Model yang dikemukakan oleh
Gambling dan Karim.
PSAK ini akan dijabarkan lagi dalam bentuk PAPI Pedoman Akuntansi Perbankan
Syariah Indonesia yang saat ini sedang dirumuskan. Didalam BI sendiri sedang dipersiapkan
format pelaporan Bank Syariah yang sangat perlu bagi semua bangk syariah dan BI dalam
pembinaan, pengawasan dan data moneter ekonomi dan perbankan di Indonesia. Lanjutan
dari PSAK ini adalah Penyusun Pedoman Auditing untuk Perbankan Syariah yang saat ini
sedang bekerja.Dalam Peraturan Bank Indonesia nomor 2/8/PBI/2000 pasal 1, Bank Syariah
adalah bank umum (sebagaimana yang dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun
1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan undang-undang Nomor 10 Tahun
1998) yang melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah, termasuk unit usaha
syariah dan kantor cabang bank asing yang melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip
syariah. Adapun unit usaha syariah adalah unit kerja di kantor pusat bank konvensional yang
berfungsi sebagai kantor induk dari kantor cabang bank syariah.
Menurut Antonio (1999) dalam Ratnawati (2000), terdapat empat perbedaan mendasar
antara bank konvensional dengan bank syariah. Pertama dari segi akad dan legalitas. Akad
yang dilakukan bank syariah memiliki konsekuensi duniawi dan ukhrawi karena akad yang
dilakukan berdasarkan hukum Islam. Kedua, mengenai struktur organisasi. Bank Syariah
dapat memiliki struktur organisasi yang sama dengan bank konvensional, tetapi unsur yang
membedakan adalah keharusan adanya Dewan Pengawas Syariah yang bertugas mengawasi
operasional bank dan produk-produknya agar sesuai dengan garis syariah. Ketiga, mengenai
bisnis dan usaha yang dibiayai. Pada Bank Syariah, bisnis dan usaha yang dilaksanakan tidak
terlepas dari saringan syariah. Keempat, mengenai lingkungan kerja dan Corporate Culture.
Sifat amanah dan shidiq harus melandasi setiap karyawan sehingga tercipta profesionalisme
yang berdasarkan Islam, dan dalam hal reward dan punishment diperlukan prinsip keadilan
yang sesuai dengan syariah.
Dari kenyataan tersebut, terlihat bahwa prinsip syariah menjadi aturan dasar yang
membentuk pola dan mengatur hubungan bank syariah baik intern (pengaturan manajemen
usaha) maupun ekstern (pengaturan hubungan dengan nasabah/masyarakat). Berkaitan
dengan pengaturan hubungan dengan nasabah terdapat terdapat lima prinsip dasar perbankan
syariah dalam melakukan transaksi yaitu prinsip titipan atau simpanan (depository), prinsip
bagi hasil (profit sharing), prinsip jual beli (sale dan purchase), prinsip sewa (operational
lease and financial lease) dan prinsip jasa (fee-based service) (Satyo dan Izza, 2000).

Beberapa Prinsip di Akuntansi Perbankan Syariah


1. Prinsip titipan atau simpanan (depository)
Prinsip ini dikenal juga dengan prinsip al wadi’ah. Nasabah menitipkan uang atau
barangnya kepada pihak bank sebagai titipan murni, dan pihak bank tidak berhak
menggunakan uang atau barang yang dititipkan. Namun demikian, pihak bank dapat saja
menggunakannya dalam aktivitas perekonomian tertentu dengan meminta izin terlebih dahulu
dari nasabah yang menitipkan tersebut. Bank dapat memanfaatkan al wadiah untuk tujuan
current account (giro) dan saving account (tabungan berjangka), dan semua keuntungan dari
dana titipan tersebut yang berupa dana bagi hasil dari user of fund menjadi milik bank.
Nasabah penitip, mendapatkan keuntungan berupa jaminan keamanan terhadap hartanya dan
fasilitas giro lainnya, serta insentif berupa bonus yang tidak dipersyaratkan sebelumnya.
2. Prinsip bagi hasil (profit sharing)
Terdapat empat akad utama bagi hasil yaitu musyakarah, mudharabah, muzara’ah dan
musaqah. Dalam musyakarah masing-masing pihak memberikan kontribusi dana atau amal
(expertise) dengan keuntungan dan risiko akan ditanggung bersama sesuai dengan
kesepakatan. Perbankan biasanya menggunakan prinsip ini dalam pembiayaan proyek
maupun modal ventura.
Dalam mudharabah, pihak pertama (shahibul maal) menyediakan keseluruhan (100 %)
modal dan pihak lainnya sebagai pengelola. Keuntungan dibagi menurut kesepakatan dalam
kontrak, sedangkan kerugian akan ditanggung pemilik modal selama kerugian bukan akibat
kelalaian pengelola. Perbankan dapat menerapkan hal ini pada tabungan berjangka untuk
tujuan khusus seperti tabungan haji, qurban, untuk deposito biasa, juga untuk pembiayaan
modal kerja. Selanjutnya, al muzara’ah adalah kerjasama pengolahan pertanian antara
pemilik lahan dengan penggarap untuk ditanami dan dipelihara dengan imbalan bagian
tertentu dari hasil panen dimana benih tanaman berasal dari pemilik lahan. Sebaliknya, al
Musaqah adalah bentuk sederhana dari al muzara’ah dimana si penggarap hanya
bertanggungjawab atas penyiraman dan pemeliharaan. Sebagai imbalannya, penggarap
berhak atas nisbah tertentu dari hasil panen.
3. Prinsip jual beli (sale dan purchase)
Terdapat tiga jenis jual beli yang dapat dikembangkan dalam pembiayaan modal kerja
dan investasi perbankan syariah yaitu bai’al murabahah, bai’as salam dan bai’al istishna.
Bai’al murabahah adalah jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang
disepakati dan penjual harus memberitahu harga produk yang dibelinya. Dalam perbankan,
umumnya diterapkan pada produk pembiayaan untuk pembelian barang-barang investasi baik
domestik maupun luar negeri, seperti melalui letter of credit (L/C). Bank Syariah
memperoleh keuntungan dari selisih harga beli dari penjual dengan harga jual kepada
nasabah. Bai’as salam merupakan pembelian barang yang diserahkan di kemudian hari
sementara pembayaran dilakukan di muka. Perbedaan dengan sistem ‘ijon’ dapat dilihat dari
sisi barang dan penetapan harga beli. Dalam bai’as salam barang harus spesifik dan dapat
ditimbang dengan jelas, serta penetapan harga beli dilakukan kedua belah pihak secara ridha.
Bai’as salam dapat dipergunakan untuk pembiayaan bagi petani dalam jangka waktu relatif
pendek, yaitu 2-6 bulan. Barang yang dibeli dapat berupa barang industri maupun barang
non-industri.
Bai’al istishna adalah kontrak penjualan antara pembeli dan pembuat barang, yang biasanya
dipergunakan di bidang manufaktur. Kedua pihak sepakat atas harga dan sistem pembayaran,
baik pembayaran dimuka, pembayaran cicilan ataupun ditangguhkan sampai pada waktu
tertentu.
4. Prinsip sewa (Operational Lease dan Financial Lease)
Terdapat prinsip sewa yaitu al ijarah yang merupakan pemindahan hak guna atas barang
atau jasa tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan atas barang tersebut, dan al ijarah al
muntahia bittamlik yaitu perjanjian sewa yang diakhiri dengan kepemilikan barang di tangan
penyewa.
5. Prinsip jasa (fee based services)
Dalam perbankan syariah prinsip jasa ini meliputi lima bentuk transaksi yaitu berupa al
wakalah yang dalam aplikasinya dapat berwujud seperti autodebet pembayaran rekening
listrik, telepon dan lainnya, al kafalah dalam bentuk penjaminan yang diberikan oleh
penanggung kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua atau yang
ditanggung, al hawalah dalam bentuk pengalihan hutang dari orang yang berhutang kepada
orang lain yang wajib menanggungnya, ar rahn yang berbentuk jaminan hutang atau gadai,
dan al qard dalam bentuk meminjamkan tanpa mengharapkan imbalan , yang umumnya
diberikan kepada nasabah yang telah terbukti loyalitas dan bonafiditasnya.
Selanjutnya, berdasarkan karakteristik usaha dan prinsip dasar transaksi bank syariah ini,
Anwari (2000) mengemukakan terdapat beberapa kepentingan dalam pengembangan bank
syariah sebagai berikut:
1. Dapat mengakomodir kebutuhan lapisan masyarakat yang berkeyakinan bahwa bunga
bank sama dengan riba, sehingga mereka tidak dapat terlayani oleh lembaga perbankan yang
ada yang menggunakan sistem bunga. Oleh karenanya dengan pengembangan Bank Syariah
diharapkan akan dapat lebih mengoptimalkan mobilisasi dana masyarakat terutama dari
segmen masyarakat yang selama ini belum tersentuh oleh sistem perbankan yang ada.
2. Pembiayaan pada bank syariah yang lebih menekankan sistem bagi hasil akan dapat
mendorong terciptanya pola hubungan kemitraan (mutual investor relationship). Pola yang
semacam ini dapat menciptakan dorongan yang sama dari pemilik dana, bank dan pengguna
dana untuk menciptakan kegiatan usaha yang menguntungkan, memperhatikan prinsip kehati-
hatian dan berupaya memperkecil resiko kegagalan usaha. Karakteristik ini diharapkan akan
mendorong terciptanya etika usaha dan integritas pemilik dan pengurus yang tinggi.
3. Adanya larangan transaksi keuangan yang bersifat spekulatif dan yang tidak
didasarkan pada kegiatan usaha riil, menyebabkan alokasi sumberdaya keuangan pada sistem
perbankan syariah merupakan respon langsung terhadap kapasitas produksi dan output sektor
riil. Secara makro karakteristik ini diharapkan dapat memberi dampak positif dalam upaya
mengatasi permasalahan inflasi dan mengurangi kondisi pertumbuhan ekonomi semu (buble
economics).

Kesimpulan
Dari beberapa Sudut pandang dan apabila dikaitkan dengan prinsipnya, maka Akuntansi
Perbankan Syariah dan Akuntansi Perbankan Konvensional sedikit berbeda dalam
pelaksanaannya,tujuan laporan keuangannya, prinsipnya dan juga bentuk laporan
keuangannya. Bisa berbeda dari pengakunan, pengukuran, penyajian, dan Lain – Lain.
Akuntansi Perbankan Syariah tidak mementingkan jumlah laba (profit) yang besar karena di
dalamnya adanya sistem bagi hasil. Sehingga ada pengunaan dana maupun biaya yang terjadi
dan lebih mengkaitkan adanya etika dalam dunia Perbankan Syariah.