Anda di halaman 1dari 11

See

discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/311042163

PERANAN PLATELET-RICH PLASMA DALAM


MANAJEMEN NYERI "The role of Platelet-rich
Plasma in Pain Management"

Conference Paper · December 2013

CITATIONS READS

0 83

1 author:

Eka Widyadharma
Udayana University
43 PUBLICATIONS 1 CITATION

SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

Headache View project

Peripheral Diabetic Neuropathy View project

All content following this page was uploaded by Eka Widyadharma on 28 November 2016.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


PERANAN PLATELET-RICH PLASMA DALAM MANAJEMEN NYERI
"The role of Platelet-rich Plasma in Pain Management"

I Putu Eka Widyadharma

Subdivisi Nyeri, Nyeri Kepala dan Neuro-emergency
Bagian/SMF Neurologi FK Udayana-RSUP Sanglah Denpasar

ABSTRAK

Platelet-rich plasma (PRP) mengacu pada konsentrasi platelet dalam plasma
lebih tinggi dari platelet normal yang beredar dalam tubuh. PRP hanya dapat
diformulasikan dari darah yang belum membeku karena pada darah yang telah
membeku, platelet tersebut akan menjadi bagian dari klot. PRP secara potensial dapat
meningkatkan proses penyembuhan dengan penghantaran berbagai jenis faktor
pertumbuhan dan sitokin dari α-granules yang terdapat dalam platelet itu sendiri.
Faktor-faktor pertumbuhan serta berbagai sitokin yang ada pada PRP memainkan
peran yang signifikan dalam upaya penyembuhan luka. Platelet dalam PRP
mengandung molekul-molekul adhesi seperti fibronektin, fibrin dan vitronektin.
Molekul-melekul adhesi sel ini memainkan peran dalam proses migrasi sel dan
dengan demikian menambah aktifitas biologis potensial dari PRP. Dalam aspek
klinisnya, PRP diketahui memberikan efek pada tulang, tendon, otot maupun jaringan
lunak. Aplikasinya pada penyakit seperti OA, disebut memberikan dampak yg
signifikan terhadap menurunnya derajat nyeri serta memperbaiki kerusakan yang
terjadi.

PENDAHULUAN
Selama ini platelet hanya dilihat dari sisi fungsinya sebagai agen hemostatik.
Bermula dari berbagai penelitian yang dilaksanakan, pemahaman akan platelet
semakin meningkat. Sekitar tahun 1980 didapatkan bahwa secara klinis platelet
memiliki fungsi dalam bidang kuratif. Dalam proses fisiologis penyembuhan luka,
platelet berfungsi sebagai sumber utama faktor biologis aktif. 1,2
Platelet dalam Platelet-rich plasma PRP mengandung molekul-molekul adhesi
seperti fibronektin, fibrin dan vitronektin. Molekul-melekul adhesi sel ini memainkan
peran dalam proses migrasi sel dan dengan demikian menambah aktifitas biologis
potensial dari PRP.3,4
PRP merupakan sebuah modalitas terapi mutakhir yang dalam dekade ini
mendapatkan atensi yang cukup besar. Secara biologis, PRP memiliki efek
penyembuhan luka dengan dimensi yang luas. PRP diketahui memiliki efek positif
pada tulang, otot, tendon maupun jaringan lunak. Mekanisme ini terjadi akibat faktor
pertumbuhan dan sitokin yang dimiliki oleh PRP yang mampu mengakselerasi proses
penyembuhan.5,6
Penelitian terkini banyak mengungkapkan potensi PRP sebagai modalitas
terapi. Sifat autolog serta non-toksin yang dimiliki PRP merupakan salah satu poin
positif pemanfaatan PRP dalam tatalaksana penyembuhan luka.7 Secara klinis PRP
banyak dimanfaatkan untuk menangani jejas ataupun trauma yang bersifat akut
maupun kronik. Luaran yang didapat selain tingginya angka penyembuhan luka, ialah
penurunan skala nyeri secara bermakna yang dapat meningkatkan kualitas hidup
seorang individu.

Disampaikan pada symposium Update in Pain management, Banda Aceh, 7 Desember 2013
Salah satu penerapan klinis dari penggunaan PRP yang menunjukkan hasil
yang memuaskan adalah pada penatalaksanaan osteoarthritis (OA). Injeksi intra-
artikuler dari PRP berkorelasi dengan penurunan intensitas nyeri yang dikeluhkan
oleh pasien. Penelitian terkait dengan metode serta fasilitas mumpuni dibutuhkan
dalam upaya meningkatkan nilai kepercayaan terhadap pemanfaatan PRP sebagai
modalitas terapi terbaru.

Anatomi dan Fungsi Platelet


Platelet merupakan salah satu jenis sel darah berbentuk diskoid berukuran 1-3
µm. Secara fisiologis jumlahnya antara 1,5 hingga 3,0 x 10-5/mL dalam sirkulasi dan
penelitian in vivo menyatakan bahwa waktu paruh hidup dari platelet sekitar 7 hari.

Gambar 1. Gambaran skematik dari platelet dalam keadaan istirahat serta platelet yang teraktivasi.
Normalnya, platelet berada dalam keadaan istirahat. Dalam keadaan teraktivasi (bisa oleh Thrombin),
platelet merubah bentuknya dengan pengembangan pseudopod untuk membantu proses agregasi dan
pelepasan konten dari granul melalui sistem kanalikuler17

Platelet terbentuk dari megakariosit dan disitesis dalam sumsum tulang


belakang. Platelet memiliki cincin kontraktil mikrotubul (sitoskleton) yang
mengelilingi sisi luarnya yang mengandung aktin dan myosin. Di dalam platelet
terdapat berbagai struktur dengan kandungan glikogen, lisosom serta dua tipe dari
granul. Granul itu dibedakan menjadi granul padat (dense granule) yang memiliki
ADP, ATP, serotonin serta kalsium, dan α-granul yang mengandung faktor
pembekuan, faktor pertumbuhan dan protein lainnya.
Struktur-struktur tersebut dilindungi oleh membran yang bersifat sangat sulit
untuk diinvaginasi yang memiliki struktur sistem kanalikuler, yang berhubungan
langsung dengan cairan ekstraseluler. Dalam keadaan fisiologis, saat istirahat, platelet
bersifat non-thrombogenik dan membutuhkan perangsangan sebelum mereka menjadi
poten dan memainkan peranan aktif dalam hemostasis dan proses penyembuhan luka.
Dalam aktivasinya oleh thrombin, platelet menstranformasi bentuknya dengan
menumbuhkan pseudopodia, yang berperan penting dalam pola agregasi platelet.

Definisi PRP
Secara sederhana, PRP merupakan sebuah plasma autolog yang memiliki
konsentrasi platelet diatas rerata. PRP mengacu pada konsentrasi platelet dalam
plasma lebih tinggi dari platelet normal yang beredar dalam tubuh. Dalam keadaan
Disampaikan pada symposium Update in Pain management, Banda Aceh, 7 Desember 2013
fisiologis, jumlah platelet dalam darah terbentang dari 150,000/µl hingga 350,000/µl.
PRP kemudian didefinisikan sebagai konsentrasi 1,000,000 platelets/µl dalam 5 ml
volume plasma.1

Dasar Penelitian In Vitro dan In Vivo Efek PRP


PRP mulai diketahui eksistensinya sejak tahun 1987. Meskipun pada
kenyataannya terdapat beragam studi kasus serta penelitian yang dilaksanakan dalam
upaya uji klinis pemanfaatan PRP sebagai modalitas terapi mutakhir, pemahaman
tentang efek yang menjadi dasar kinerja ditingkat sel masih terbatas. Namun
demikian, PRP telah dibuktikan memiliki makna berarti dalam upaya meningkatkan
proliferasi dari osteoblast dan fibroblast serta mampu meningkatkan osteocalcin
dalam sel. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Meury T KLSTAM di tahun
2007 menunjukkan bahwa terjadi diferensiasi dari Mesenchymal Stem Cells (MSC)
menjadi bone forming cells dengan administrasi dari PRP.3 Peningkatan pada
perkembangan dan diferensiasi pada sel periodontal ligamen juga muncul akibat
administrasi dari PRP. Penyelidikan lebih lanjut mengungkapkan stimulasi yang
mitogenik menjadi salah satu respon PRP pada trabekular manusia dan sumsum
tulang belakang tikus. Lippross S, et al menemukan efek yang signifikan pada
ekspansi dari endothelial progenitor cells pada pemberian platelet-released growth
factors.
Studi in vivo menunjukan hasil yang berbeda terhadap kinerja dari PRP.
Dalam sebuah studi terbaru dari Ranly DM, et al, disebutkan bahwa nampak
penurunan pada induktivitas tulang dari matriks termineralisai pada tikus.5 Beberapa
penelitian lain yang dilakukan pada beberapa jenis hewan menyebutkan tidak ada efek
positif yang signifikan atas pengunaan PRP pada usaha penyembuhan tulang atau
hanya menunjukan potensi regeneratif yang relatif rendah untuk penggunaannya yang
dikombinasikan dengan xenogenic bone grafts. Analisis mendalam dari studi diatas
menunjukan bahwa secara ilmiah hasil studi tersebut masih meragukan. Oleh karena
itu, kita tidak dapat menarik kesimpulan atas kinerja PRP pada hewan percobaan.
Sebuah meta analisis dari Carter et al, pada tahun 2011 yang bertujuan untuk
mengevaluasi kerja PRP pada penatalaksaan trauma yang dibandingkan dengan
perawatan trauma standar. Sebanyak 24 studi masuk kedalam kriteria inklusi. Analisis
sistematik ini terdiri dari 3 review sistematis, 12 randomized controlled trials, 2 studi
kohort prospektif, 3 studi prospektif komparatif dan 4 review retrospektif. Hasil dari
studi meta analisis ini menunjukkan bahwa terapi PRP memberikan dampak positif
penyembuhan luka pasca trauma dan berkaitan pula dengan berbagai faktor seperti
nyeri maupun infeksi pada luka daerah kutaneous. Limitasi dari studi menyangkut
heterogenitas populasi, kurangnya evaluasi jangka panjang dan regimen PRP yang
bervariasi membuat hasil dari meta analisis ini masih kontroversial.6

Aspek Biologis PRP


PRP secara potensial dapat meningkatkan proses penyembuhan dengan
penghantaran berbagai jenis faktor pertumbuhan dan sitokin dari α-granules yang
terdapat dalam platelet itu sendiri. Sitokin-sitokin yang terdapat dalam platelet
meliputi transforming growth factor-β (TGF-β), platelet-derived growth fator
(PDGF), insulin-like growth factor (IGF-I, IGF-II), fibroblast growth factor (FGF),
epidermal growth factor, vascular endothelial growth factor (VEGF), serta
endothelial cell growth factor. Sitokin ini memainkan peranan penting dalam

Disampaikan pada symposium Update in Pain management, Banda Aceh, 7 Desember 2013
proliferasi sel, kemotaksis, diferensiasi sel serta angiogenesis (tabel 1.) Hal yang
spesifik dari PRP adalah semua jenis sitokin-sitokin alamiah ini berada dalam rasio
biologis yang normal. Sebaliknya, sitokin-sitokin eksogen seperti bone morphogenic
protein (BMP) diproduksi melalui teknologi rekombinan dan dihantarkan dalam dosis
tinggi dengan menggunakan penghantar khusus. Karena proses penyembuhan
merupakan proses yang sangat kompleks, terdapat keterbatasan-keterbatasan yang
jelas mengenai kemampuan terapi faktor tunggal untuk optimalisasi upaya
penyembuhan jaringan.

Tabel 1. Molekul bioaktif dalam granula-α platelet

Faktor-faktor bioakftif juga terdapat dalam granula padat platelet. Granula


padat tersebut mengandung serotonin, histamin, dopamin, kalsium dan adenosin.
Faktor-faktor ini memiliki efek fundamental dalam aspek biologis penyembuhan luka.
Tiga stadium penyembuhan ialah inflamasi, proliferasi dan remodeling. Stadium
inflamasi dimulai dengan kerusakan jaringan dengan konsekuensi platelet akan
terstimulasi untuk beragregasi dan mensekresikan faktor-faktor pertumbuhan sitokin
dan faktor-faktor hemostatik yang berperan penting dalam jalur intrinsik dan
ekstrinsik kaskade pembekuan. Histamin dan serotonin dilepaskan dari platelet,
keduanya memiliki fungsi meningkatkan permeabilitas kapiler yang memberikan
akses bagi sel-sel inflamasi dan aktifasi makropag.8 Sel leukosit polimorfonuklear,
bermigrasi menuju area inflamasi dan segera berproliferasi, sementara fibroblas
membentuk substansi dasarnya. Aktivasi reseptor adenosin memodulasi proses
inflamasi dari proses penyembuhan luka.
Platelet dalam PRP mengandung molekul-molekul adhesi seperti fibronektin,
fibrin dan vitronektin. Molekul-melekul adhesi sel ini memainkan peran dalam proses
migrasi sel dan dengan demikian menambah aktifitas biologis potensial dari PRP.3,4

Disampaikan pada symposium Update in Pain management, Banda Aceh, 7 Desember 2013
Efek Fisiologis PRP
Penyembuhan luka merupakan sebuah usaha yang komplek yang melibatkan
sel dan interaksi sel dengan matrik, dimana faktor pertumbuhan berfungsi sebagai
perantara yang meregulasi berbagai proses yang terlibat. Proses penyembuhan luka
secara keseluruhan haruslah disesuaian dengan tipe lesi yang akan menentukan
derajat penyembuhan luka yang akan dicapai. Abrasi kulit yang bersifat parsial dapat
disembuhkan melalui proses epitialisasi, bertolak belakang dengan ulser dalam yang
bersifat kronis, proses penyembuhan luka akan bersifat jauh lebih kompleks, terdiri
dari sintesa matrik, angiogenesis, fibroplasia dan kontraksi luka. Fungsi signifikan
dari PDGF dalam penyembuhan luka telah dievaluasi secara luas.
Proses penyembuhan luka dimulai dengan pembentukan klot platelet, aktivasi
kaskade pembekuan dan degradasi platelet yang akan diikuti dengan sekresi faktor
pertumbuhan. Selama 2 hari pertama penyembuhan luka, proses inflamasi diinisiasi
oleh migrasi neutrofil dan makrofag pada area jejas. Aktivasi makrofag juga
berdampak pada rilisnya berbagai faktor yang terdiri dari TGF-α, TGF-β, PDGF, IL-1
serta fibroblast growth factor. Angiogenesis dan fibroplasia dimulai pada hari ketiga
diikuti dengan dimulainya sintesa kolagen pada hari 3-5. Proses selanjutnya diikuti
dengan epitealisasi dan proses remodeling.6,7,8

Gambar 3. Ilustrasi peranan dari PDGF dalam berbagai stadium penyembuhan luka17

Degranulasi Platelet: Pada kerusakan jaringan, PDGF dan FGF akan diproduksi oleh
sel yang mengalami jejas. Ketika platelet telah berkumpul pada lokasi luka ini,
platelet akan berdegranulasi dengan munculnya faktor pertumbuhan PDGF dan TGF-
β yang akan memulai kaskade penyembuhan luka. Karakteristik molekul PGF ialah
bersifat miotaktik dan mitogenik terhadap sel-sel inflamasi.

Aksi inflamasi: Penelitian dari Pierce et al menemukan bahwa aplikasi tunggal dari
PDGF yang digunakan pada luka insisi menungkatkan respon inflamasi dengan
meningkatkan influk dari neutrofil dan makrofag pada jejas.

Deposisi matriks: Dalam fase sintesis dan deposisi matriks, PGF kembali berperan
secara dominan. PDGF meningkatkan volume jaringan yang bergranulasi hingga
200% pada hari ke tujuh.
Disampaikan pada symposium Update in Pain management, Banda Aceh, 7 Desember 2013
Produksi Kolagen: Hal ini merupakan bagian penting lainnya dari penyembuhan
luka yang diinisiasi oleh aksi kemotaktik dan mitogenik dari fibroblas oleh FGF.

Epitelisasi: Penggunaan faktor pertumbuhan epidermal (EGF) secara topikal mampu


meningkatkan akselerasi proses epitelisasi. Faktor ini bersama-sama dengan FGF dan
PDGF mampu meningkatkan kontraksi dan waktu remodeling.

Formulasi dari PRP


PRP hanya dapat diformulasikan dari darah yang belum membeku karena
pada darah yang telah membeku, platelet tersebut akan menjadi bagian dari klot. PRP
juga tidak dapat dibentuk dari serum. Serum merupakan bagian cair dari darah yang
tersisa setelah sel-sel darah dan protein pembekuan dipisahkan. Hal ini menyebakan
serum mengandung platelet dalam jumlah yang sangat sedikit.7
Formulasi PRP dimulai dengan penambahan sitrat ke dalam darah untuk
mengikat ion-ion kalsium dan menghambat kaskade pembekuan. Kemudian dilakukan
satu atau dua langkah sentrifugasi. Pada tahap awal setrifugasi, memisahkan sel
eritrosit dan leukosit dari plasma dan platelet. Eritrosit ( berdiameter 7µm) dan
leukosit (7-15µm) jauh lebih besar dari pada platelet yang memiliki diameter 2 µm.
Sel-sel ini terpisah dari platelet dan plasma.1,2 Sentrifugasi tahap dua lebih lanjut
mengkonsentrasikan platelet, sehingga memproduksi PRP yang terpisah dari plasma
yang mengandung platelet dengan jumlah yang sedikit.
PRP kemudian harus dibekukan untuk mempermudah penghantarannya ke area yang
diinginkan. Beberapa sistem yang tersedia secara komersial menggunakan thrombin
bovine untuk mengaktivasi mekanisme pembekuan. Poin utamanya, pembekuan
menginduksi aktivasi platelet yang selanjutnya melepaskan faktor-faktor pertumbuhan
dari α-granule, sebuah proses yang dikenal dengan proses degranulasi. Sekitar 70%
dari faktor-faktor pertumbuhan yang tersimpan di dalam granula, akan dilepaskan
dalam 10 menit dan kira-kira faktor tersebut akan dilepaskan seutuhnya dalam 1 jam.
Sejumlah kecil dari faktor pertumbuhan masih dapat dihasilkan hingga akhir waktu
hidup dari platelet itu sendiri (8 hingga 10 hari).6

Aktivasi PRP
Granula-α dari platelet yang belum teraktivasi pada PRP mengandung PGF dalam
sediaan yang bersifat non-fungsional, karena faktor-faktor ini belum dirilis ataupun
belum berinteraksi dengan jaringan. Untuk menginisiasi rilis dari faktor pertumbuhan,
platelet harus diaktifkan. Thrombin, merupakan agen aktivator platelet yang paling
poten. Penggunaan trombin bovine untuk mengaktifasi proses pembekuan dan untuk
menginduksi aktivasi platelet dapat menyebabkan kompliksi yang berkaitan dengan
pembentukan antibodi terhadap trombin bovine. Ini merupakan salah satu komplikasi
yang dapat menyebabkan terjadinya koagulopati yang dimediasi sistem imun.4,5
Penggunaan calcium chloride dapat dipertimbangkan untuk mengkonversi
autolog thrombin menjadi prothrombin yang memiliki efek menjebak platelet dalam
matriks fibrin. Pengeluaran faktor pertumbuhan kemudian akan berlangsung secara
gradual selama 7 hari.7
Metode alternatif guna mengaktivasi platelet ialah penggunaan kolagen tipe I.
Kolagen terbukti memiliki efektifitas setara dengan thrombin dalam upaya
menstimulasi PDGF dan VEGF dalam sebuah studi yang menggambarkan kolagen
tipe 1 yang bersifat solubel yang diformulasikan dengan PRP untuk membentuk
collagen-PRP gel. Klot yang dibentuk dengan kolagen tipe 1 juga nampak memiliki

Disampaikan pada symposium Update in Pain management, Banda Aceh, 7 Desember 2013
retraksi yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan klot yang dibentuk dengan
thrombin bovine. 5

Berapakah Kuantitas Yang Dibutuhkan Untuk Mencapai Efek Positif Pada


Aplikasi PRP?
Sampai saat ini belum ada data yang jelas mengenai kuantitas pemberian PRP
guna mencapai efek terapiutik yang maksimal. Berbagai penelitan menunjukkan
bahwa jumlah platelet yang mencapai 106/µL pada PRP merupakan angka yang
paling efektif. Dalam PRP jumlah ini meningkat hingga empat sampai lima kali dari
rerata yang ada dan diharapkan adekuat untuk memberi hasil signifikan pada
pengunaan PRP.6,7,8

Aplikasi Klinis Terkini Pemanfaatan PRP pada Osteoartritis


Osteoartritis (OA) merupakan penyakit sendi degeneratif yang berkaitan
dengan keruakan kartilago sendi. Vertebra, panggul, lutut, dan pergelangan kaki
paling sering terkena OA. Prevalensi OA lutut radiologis di Indonesia cukup tinggi,
yaitu mencapai 15.5% pada pria, dan 12.7% pada wanita. Pasien OA biasanya
mengeluh nyeri pada waktu melakukan aktivitas atau jika ada pembebanan pada sendi
yang terkena. Pada derajat yang lebih berat nyeri dapat dirasakan terus menerus
sehinga sangat mengganggu mobilitas pasien. Karena prevalensi yang cukup tinggi
dan sifatnya yang kronik-progresif, OA mempunyai dampak sosio-ekonomik yang
besar, baik di negara maju maupun di negara berkembang. Diiperkirakan 1 sampai 2
juta orang lanjut usia di Indonesia menderita cacat karena OA. Pada abat mendatang
tantangan terhadap dampak OA akan lebih besar karena semakin banyaknya populasi
berumur tua.
Berdasarkan patogenesisnya OA dibedakan menjadi dua yaitu OA primer dan
OA sekunder. Osteoartritis primer disebut juga OA idiopatik yaitu OA yang kausanya
tidak diketahui dan tidak ada hubungannya dengan penyakit sistemik maupun proses
perubahan lokal pada sendi. OA sekunder adalah OA yang didasari oleh adanya
kelainan endokrin, inflamasi, metabolik, pertumbuhan, herediter, jejas mikro dan
makro serta imobilisasi yang terialu lama. Osteoartritis primer lebih sering ditemukan
dibanding OA sekunder.
Selama ini OA sering dipandang sebagai akibat dari suatu proses ketuaan yang
tidak dapat dihindari. Para pakar yang meneliti penyakit ini sekarang berpendapat
bahwa OA temyata merupakan penyakit gangguan homeostasis dad metabolisme
kartilago dengan kerusakan struktur proteoglikan kartilago yang penyebabnya belum
jelas diketahui. Jejas mekanis dan kimiawi pada sinovia sendi yang terjadi
multifaktorial antara lain karena faktor umur, sixes mekanis atau penggunaan sendi
yang beriebihan, defek anatomik, obesitas, genetik, humoral dan raktor kebudayaan.12
Jejas mekanis dan kimiawi ini diduga merupakan faktor penting yang merangsang
terbentuknya molekul abnormal dan produk degradasi kartilago didalam cairan
sinovial sendi yang mengakibatkan terjadi infiamasi sendi, kerusakan khondrosit clan
nyeri. 13Osteoartritis ditandai dengan lase hipertroli kartilago yang herhubungan
dengan suatu peningkatan terbatas dad sintesis matriks makromolekul oleh khondrosit
sebagai kompensasi perhaikan (repair). 12,13 Osteoartritis terjadi sehagai
hasilkombinasi antara degradasi rawan sendi remodeling tulang dan inflamasi cairan
sendi.14
Beberapa penelitian membuktikan bahwa rawan sendi ternyata dapat
melakukan perbaikan sendiri dimana khondrosit akan mengalami replikasi dan
memproduksi baru.11,13 Proses perbaikan ini dipengaruhi oleh faktor pertumbuhan

Disampaikan pada symposium Update in Pain management, Banda Aceh, 7 Desember 2013
suatu olipetida yang mengontrol proliferasi sel dan membantu komunikasi antar sel.
Faktor ini menginduksi khondroshit untuk mensintesis asam deoksiribonukleat
(DNA) protein seperti kolagen serta proteoglikan. Faktor pertumbuhan yang berperan
adalah insulin-like growth factor (IGF-I), growth hormon, transforming growth factor
b (TGF-b) dan coloni stimulating factors (CSFs). Faktor pertumbuhan seperti IGF-I.
2,5

Faktor pertumbuhan TGF-β mempunyai efek multipel pada matriks kartilago


yaitu merangsang sintesis kolagen dan preteoglikan serta menekan stromelisin, yaitu
enzyme yang mendegradasi proteoglikan, meningkatkan produksi prostaglandin E2
(PGE2) dan melawan efek inhibisi sintesis PGE2 oleh interleukin-1 (IL-1). Hormon
lain yang mempengaruhi sistesis komponen kartilago adalah testosterone, β-estradiol,
platelet derivate growth factor (PDGF), fibroblast growth factor dan kalsitonin.
Peningkatan degradasi kolagen akan mengubah keseimbangan metabolisme
rawan sendi. Kelebihan produk hasil degradasi matriks rawan sendi ini cenderung
berakumulasi di sendi dan menghambat fungsi rawan sendi serta mengawali suatu
respon imun yang menyebabkan inflamasi sendi. Rerata perbandingan antara sintesis
dan pemecahan matriks rawan sendi pada OA kenyataannya lebih rendah disbanding
normal yaitu 0,29 dibanding 1.
Aplikasi PRP sebagai terapi osteoartitis lutut bisa dipertimbangkan sebagai
sebuah terapi baru. Modalitas terapi ini telah memunculkan banyak penelitian dalam
beberapa tahun terakhir. Salah satu studi yang membandingkan antara efektifitas
terapi PRP dan high moleculer weight hyaluronic acid (HMWHA). Pada penelitian
ini peneliti memberikan injeksi PRP intra artikular pada 30 pasien dan 30 pasien
dengan HMWHA dosis tunggal. Hasil yang didapatkan terdapat 40 % pasien
menyatakan mengalami penurunan skala nyeri, dimana 33% diantaranya merupakan
kelompok pasien yang mendapatkan injeksi PRP intra-artikuler.
Pada penelitian lain dengan jumlah responden yang lebih besar yang juga
mebandingkan efek dari PRP dibangdingkan dengan administrasi Hyaluronic Acid,
pada 150 pasien dengan osteoartitis yang kemudian diikuti selama 6 bulan , diberikan
3 jenis terapi yakni masing – masing 50 orang dengan PRP, 50 orang dengan
LMWHA, 50 orang HMWHA. Kemudian dianalisa Visual Analog Scale dan fungsi
lutut dengan International Knee Documentaton Comitee Indexs. Pada follow up
ditemukan terdapat respon yang lebih baik pada pasien dengan PRP dibandingkan
dengan LMWHA dan HMWHA (P<0.005). Secara garis besar respon lebih baik pada
pasien dengan usia yang lebih muda dan onset osteoarthitis yang lebih akut.15
Penelitian lain yang dilkukan di Spanyol dengan 261 koresponden penderita
osteoarthitis diberikan terapi setiap 15 hari sekali dan diikuti selama 6 bulan
didapatkan peningkatan pada score womac , sf-36 laqueme dan penurunan VAS.
Kemudian 100 koresponden diikuti selama 1 tahun dan didapatkan respon yang tidak
sebaik pada 6 bulan pertama namun masih responnsif terhadap terapi.16
Uji klinis yang menguji efek injeksi PRP pada penyakit OA pada lutut saat ini
sedang dalam pengerjaan. Kon et al telah menginvestigasi 40 pasien dengan OA oada
lutut yang sembuh dengan injeksi PRP intra artikular.9 Sebanyak 3 injeksi terpisah
diberikan pada pasien tersebut. Luaran klinis yang didapatkan menunjukkan
perbaikan secara signifikan pada visual analog pain scale, International Knee
Documentation Committee scores dan evaluasi subjektif pada follow up selama 6
bulan (P <,05). Secara spesifik didapatkan bahwa pasie berusia dibawah 60 tahun
menunjukkan 85% kepuasan terhadap terapi PRP dalam penangan OA dibandingkan
dengan pasien berusia diatas 60 tahun yang hanya memiliki angka kepuasan atas
terapinya sebesar 33%.

Disampaikan pada symposium Update in Pain management, Banda Aceh, 7 Desember 2013
Interaksi dari PRP dengan kondrosit dan faktor pertumbuhan dapat membanu
tim bedah ortopedi dalam upaya meningkatkan penatalaksanaan lesi kartilage
artikuler. Studi kasus yang ada pada literatur terkini menunjukan adanya potensi yang
menjanjikan dalam penatalaksanaan lesi pada kartilage. Bagaimanapun, studi yang
lebih masif dibutuhkan dalam upaya mendapatkan bukti ilmiah yang lebih terpercaya.

Daftar Pustaka

1. Eppley BL, Woodell JE, Higgins J (2004) Platelet quantification and growth factor
analysis from platelet-rich plasma: implication for wound healing. Plast Reconstr
Surg; 114: 1502-1508.
2. A Weibrich G, Kleis WK, Hafner G, et al (2002) Growth factor level in platelet-rich
plasma and correlation with donor age, sex, and platelet count. J
CraniomaxillofacSurg; 30: 97-102.
3. Meury T KLSTAM. Effect of platelet-rich plasma on bone marrow stromal
celldifferentiation. [abstract]. ASBMR 26th annual meeting. 2007.
4. Lippross S, Verrier S, Hoffmann A, et al (2007) Platelet released growth factors
boost expansion of endothelial progenitor cells [abstract]. 53rd Annual Meeting of the
Orthopaedic Research Society; Poster No 481.
5. Boyan BD, Ranly DM, Schwart Z (2006) use of growth factors to modify
osteoinductivity of demineralized bone allografts: lessons for tissue engineering of
bone. Dent Clin North Am; 50:217-28, viii.
6. Matthew J, Matava MD. Platelet-Rich Plasma: the next big thing?: Commentary on
an article by Ujash Sheth, BHSc, et al.: “Efficacy of Autologous Platelet-Rich Plasma
Use for Orthopaedic Indications: A Meta-Analysis”. J Bone Joint Surg Am, 2012 Feb
15; 94(4): e25 1-2. Doi: 10.2106/JBJS.K.01423
7. Bennett NT, Schultz GS. Growth factors and wound healing: biochemical properties
of growth factors and their receptors. Am J Surg. 1993; 165(6): 728-737.
8. Akeda K, An HS, Okuma M, et al. Platelet-rich plasma stimulates porcine articular
chondrocyte proliferation and matrix biosynthesis. Osteoarthritis Cartilage. 2006;
14(12): 1272-80.
9. Adler SC, Kent KL. Enhancing healing with growth factors. Facial Plast Surg Clin
North Am. 2002;10(2):129-146.2.
10. Aghaloo TL, Moy PK, Freymiller EG. Evaluation of platelet-rich plasma in
combination with freeze-dried bone in rabbit cranium: a pilot study. Clin Oral
Implants Res. 2005; 16(2):250-257.
11. Anitua E, Sanchez M, Nurden AT, et al. Platelet-released growth factors enhance the
secretion of hyaluronic acid and induce hepatocyte growth factor production by
synovial fibroblasts from arthritic patients. Rheumatology (Oxford). 2007; 46(12):
1769-1772.7.
12. Aspenberg P, Virchenko O. Platelet concentrate injection improves Achilles tendon
repair in rats. Acta Orthop Scand. 2004;75(1):93-99.8
13. Barret S, Erredge S. Growth factors for chronic plantar fasciitis. Podiatry Today.
2004; 17: 37-42.
14. Barry F, Boynton RE, Liu B, Murphy JM. Chondrogenic differentiation dependent
gene expression of matrix components. Exp Cell Res. 2001; 268(2): 189-200.
15. Bennet NT, Schultz GS. Growth factors and wound healing: biochemical properties
of growth factors and their receptors. Am J Surg. 1993; 165(6): 728-37.

Disampaikan pada symposium Update in Pain management, Banda Aceh, 7 Desember 2013
16. Berg U, Bang P. Exercise and circulating insulin like growth factor-1. Horm Res.
2004; 62(suppl 1): 50-58.
17. Everts PA, Knape TA, Weibrich G, et al. Platelet-Rich Plasma and Platelet
Gel: A ReviewJECT. 2006;38:174–187

Disampaikan pada symposium Update in Pain management, Banda Aceh, 7 Desember 2013

View publication stats