Anda di halaman 1dari 16

1.

Dampak TMD

1. Permasalahan dalam proses makan


Berkurangnya kemampuan membuka mulut menyebabkan berkurangnya asupan
nutrisi penderita trismus. Penderita tidak sanggup memakan makanan dalam porsi yang biasa.
Penderita biasanya akan mengalami penurunan berat badan dan mengalami kekurangan gizi.
Hal ini perlu diperhatikan bila penderita tersebut membutuhkan suatu proses penyembuhan
setelah menjalani proses pembedahan, khemoterapi, atau radiasi. Kehilangan berat badan
sebesar 10 % dari berat badan awal memiliki indikasi terjadi intake gizi dan kalori yang
kurang pada penderita.
Masalah di atas juga timbul akibat gangguan menelan pada penderita trismus, hal
tersebut berhubungan dengan pembentukan bolus makanan yang terganggu akibat proses
salivasi dan pergerakan lidah yang tidak sempurna. Selain itu akan banyak ditemukan sisa
makanan yang tidak seluruhnya ditelan. Kombinasi dari gangguan pada otot mastikasi,
pembentukan bolus yang tidak sempurna dan peningkatan dari sisa makanan akan
menyebabkan aspirasi dari sisa makanan tersebut.
2. Permasalahan dalam kesehatan gigi dan mulut
Gangguan dalam membuka mulut akan dapat menimbulkan gangguan pada kesehatan
gigi dan mulut. Kesehatan gigi dan mulut yang jelek akan dapat menimbulkan karies yang
dapat menyebabkan terjadinya infeksi. Infeksi yang lebih lanjut terutama pada mandibula
akan menyebabkan terjadinya osteoradionekrosis. Osteoradionekrosis ini terdapat pada
penderita kanker yang menjalani terapi pada mandibula. Meskipun jarang terjadi, gangguan
ini dapat mengganggu fungsi rahang dan menjadi fatal. Hal ini terjadi akibat matinya jaringan
tulang mandibula oleh radiasi. Pada keadaan ini terapi yang dibutuhkan adalah oksigen
hiperbarik.
3. Permasalahan dalam proses menelan dan berbicara.
Kebanyakan dari penderita trismus akan mengalami gangguan menelan dan
berbicara. Berbicara akan terganggu jika mulut tidak dapat terbuka secara normal sehingga
bunyi yang dihasilkan tidak akan sempurna. Proses menelan akan terganggu jika otot
mengalami kerusakan, laring tidak akan sanggup dielevasikan secara sempurna saat bolus
makanan melaluinya.
4. Permasalahan akibat immobilasi sambungan rahang
Meskipun gejala utama trismus adalah ketidakmampuan dalam membuka mulut, hal
lain yang sangat perlu mendapat perhatian adalah permasalahan pada temporomadibular joint.
Saat temporomadibular joint mengalami immobilisasi, proses degeneratif akan timbul pada
sambungan tersebut, perubahan ini hampir mirip dengan perubahan yang terjadi pada proses
artritis, dan biasanya akan diikuti oleh nyeri dan proses inflamasi. Jika tidak ditangani segera
proses ini akan terus berlanjut dan kerusakan akan menjadi permanen. Dan juga akan dapat
timbul proses degenarasi pada otot-otot pengunyah sehingga jika terus berlanjut akan
menimbulkan atropi pada otot tersebut.

2. Gerakan TMJ secara lengkap (otot yang berperan)


PERGERAKAN PADA TMJ
Gerak mandibula melalui TMJ meliputi:6
a. Menarik ke atas/menutup mulut oleh m.maseter, m. pterigoideus medialis, dan m.temporalis (serabut vertikal).
b. Menekan ke bawah/membuka mulutoleh gaya berat, m. milohioideus, m.digastrikus venter anterior, dan
m.pterigoideus lateralis (ketika otot inimenarik kepala mandibula di atasdataran menurun tuberkulum artikularis).
c. Protusi/proyeksi ke anterior oleh m.pterigoideus lateralis (serabutpterigoideus dapat juga membantukarena
otot ini mempunyai arah anterosuperior).
d. Retraksi/gerakan ke posterior oleh m.temporalis (serabut horisontal)
Pada depresi-elevasi normal, bagian permukaan anterior gerak gigi bawah
dalam alur satu garis vertikal. Bila terjadi alur gerak C, atau L, atau S, merupakan
penyimpangan ge-rak depresi-elevasi dimana alur gerak C atau S kemungkinan besar
disebabkan oleh disfungsi diskus.
Pada saat menggigit terjadi kompresi pada kedua sisi gigi geraham sama
besar dimana pada gerak ini tekanan pada diskus sama besar. Pada saat mastikasi
(proses mengunyah) satu sisi terjadi penekanan pada sisi geraham mengunyah lebih
besar, dengan demikian bila mengunyah hanya pada satu sisi oleh penyebab asimetri
dental atau gigi tanggal atau patologi gigi lain, dapat menyebabkan kerusakan diskus
pada satu sisi. Hal ini akan diikuti disfungsi diskus.
Gerak deviasi lateral kanan-kiri yaitu gerak gigi bawah sama besar. Tidak
simetrinya gerak deviasi lateral oleh penyebab asimetri rahang, kontraktur satu sisi
kapsuloligamenter TMJ, nyeri akibat patologi satu sisi sendi TMJ, atau asimetri
bentuk gigi, menyebabkan gerak deviasi asimetri ketika proses mengunyah juga dapat
menimbulkan disfungsi satu sisi diskus.
Gerak protrusi-retruksi, yaitu gerak ra-hang bawah ke anterior-posterior, secara
fung-sional tidak tampak nyata karena lingkup yang kecil. Pada kasus crossbite (gigi bawah
didepan gigi atas) dan overbite (gigi tonggos) memiliki karakter tersendiri ketika porses
mengunyah, namun bila posisi rahang atas dan bawah simetri tidak menimbulkan masalah
dis-kus tetapi bila geraham asimetri akan menimbulkan disfungsi diskus.
Pada maximally lose pack position (MLPP) posisi kedua deret gigi atas dan bawah
renggang dan otot pengunyah dalam keadaan lemas, merupakan posisi istirahat TMJ.
Contoh posisi MLPP adalah posisi rahang ketika sese-orang tidur.
Keterbatasan gerak atau deviasi gerak rahang bawah menimbulkan keterbatasan
pada ROM mandibular joint. Rasa sakit pada otot pengunyah dapat terjadi bersamaan
dengan rasa sakit pada otot servikal juga dari sendi TMJ. Otot-otot yang menggerakkan
mandibula dan diskus untuk gerak membuka rahang bawah yang utama m. pterigoideus
lateral, m. digastrikus sedangkan m. temporalis, m. masseter, m. pterygoideus medial yang
menu-tup mandibula. Rasa sakit diperparah dengan durasi yang meningkat secara bertahap
pada daerah hidung, temporal dan daerah kepala terutama pada waktu menggigit dan
mengu-nyah. Otot masseter secara bertahap menjadi lemah yang menyebabkan
keterbatasan pem-bukaan rahang. Hal ini dapat membatasi gera-kan dalam melakukan
aktifitas kehidupan sehari-hari yang bersifat fungsional, dan akibat selanjutnya dapat
menurunkan produktifitas yang pada akhirnya berdampak pada penu-runan kualitas hidup.

3. Pergerakan patologis
 Dislokasi
 Clicking
“Clicking” adalah bunyi singkat yang terjadi pada saat membuka atau
menutup mulut, bahkan keduanya.“Clicking” dapat terjadi pada awal, pertengahan,
dan akhir membuka dan menutup mulut. Bunyi “click” yang terjadi pada akhir
membuka mulut menandakan adanya suatu pergeseran yang berat. TMJ ‘clicking’
sulit didengar karena bunyinya halus, maka dapat didengar dengan menggunakan
stetoskop.
Di antara fossa dan kondil terdapat diskus yang
berfungsi sebagai penyerap tekanan dan mencegah tulang
saling bergesekan ketika rahang bergerak. Bila diskus ini
mengalami dislokasi, dapat menyebabkan timbulnya bunyi
saat rahang bergerak.
Pada beberapa orang, terdapat pebedaan posisi salah
satu atau kedua sendi temporomandibula ketika beroklusi.
Hal ini sering sekali terjadi pada pasien yang kehilangan
gigi posteriornya. Kepala kondil (berwarna biru) bisa
saja mengalami penekanan terlalu keraas terhadap fossa
(berwarna hijau), dan menyebabkan kartilago diskusi rusak
(berwarna merah). Kemudian akan menarik ligamen terlalu
kuat (berwarna kuning). Hal ini menunjukkan, bila oklusi
terlalu kuat, akan menyebabkan stress pada kedua sendi
rahang.
Setiap kali terdapat kelainan posisi rahang yang
disertai dengan tekanan berlebihan pada sendi dan
berkepanjangan atau terus menerus, dapat menyebabkan
diskus (meniskus) robek dan mengalami dislokasi berada
didepan kondil. Dalam keadaan seperti ini, gerakan
membuka mulut menyebabkan kondil bergerak ke depan dan
mendesak diskus di depannya. Jika hal ini berkelanjutan,
kondil bisa saja melompati diskus dan benturan dengan
tulang sehingga menyebabkan bunyi berupa cliking.
 Locking

 Close lock
 Crepitasi
“Krepitus” adalah bersifat difus, yang biasanya berupa suara yang dirasakan
menyeluruh pada saat membuka atau menutup mulut bahkan keduanya. “Krepitus”
menandakan perubahan dari kontur tulang seperti pada osteoartrosis.
Das UM, Keerthi R, Ashwin DP, Venkata RS, Reddy D, Shiggaon N. Ankylosis of temporomandibular
joint in children. J Indian Soc Pedod Prevent Dent 2009:27(2):116-20.
4. Penatalaksanaan TMD
Terdapat dua kategori umum untuk penanganannya, yaitu: perawatan konservatif dan
perawatan bedah.
Perawatan konservatif meliputi cara terapi fisik, obat-obatan dan mekanis. Sedangkan
penanganan secara bedah ditujukan untuk rekonstruksi, untuk kasus trauma dan patologi
tertentu dan untuk kelainan susunan bagian dalam. Setalah dilakukan pemeriksaan dan
didapat hasil diagnosanya, maka langkah selanjutnya adalah menentukan perawatan.
Perawatan pada kasus TMD yang dapat diberikan antara lain:
- Ada Perawatan reversible dan irreversible. Perwatan reversible contohnya pasien diberitahu
kelainan reversible seperti kebiasaan buruk. Sedangkan perawatan Irreversible contohnya
pembedahan.Contoh lainnya :
- Pembedahan (ex: kondilektomi), (indikasi: terapi farma gagal

- Fisioterapi (ex: TENS)


- Terapi panas dingin untuk meringankan sakit
- Ultrasonik treatment digunakan untuk mengurangi bengkak pada interartikular
- Pada kasus nyeri ringan dilakukan massase, exercise untuk merelaksasi otot
-Peningkatan kekuatan dengan membuka menutup rahang dengan tangan untuk relaksasi otot

5. Obat analgetik apa yang bisa menurunkn nyeri


Mengurang nyeri dengan analgetik nonsteroid (NSAID) misal aspirin,
ibuproven.Terapi injeksi, Terapi injeksi jika ada spasme otot, penyuntikan diazepam 5-10mg

6. Selain night gurad alat apa yang digunakan untuk penyembuhan ?


- Bite plate (Pemandu gigitan) dipasang pada gigi, untuk menghilangkan kebiasaan buruk
misal pada penderita bruksisem.Bite plate yang digunakan selama 2-3 minggu teratur tidak

- Splint, digunakan untuk meningkatkan stabilitas sendi,


- Bite splint digunakan untuk distraksi permukaan artikulasi, untuk mengalihkan tekanan
mekanik sehingga mandibula akan istirahat
7. Discus articularis anterior, media, posterio nama lainnya adalah
Diskus tersusun dari tiga bagian, yaitu
Pita posterior(zona bilaminar).Bagian posterior dengan ketebalan 3 mm, melekat pada
jaringan ikat longgar yang mengandung saraf dan dilapisi dengan membran sinovial.
Zona intermediat atau bagian tengah adl bagian paling tipis dengan ketebalan 1 mm yg
disebut ZONA INTERMEDIATE. Pada keadaan normal, kondilus mandibula terletak pada
zona intermediate. Zona intermediate memisahkan bagian yang lebih tebal antara lain
anterior band dan posterior band. Bagian posterior zona intermediate lebih tebal dari yang
anterior.
pita anterior dengan ketebalan 2 mm.

8. Mekanisme nyeri pada bagian sinus


Persyarafan yang meregulasi pergerakan TMJ adalah Nervus
Trigeminus (N.Trigeminus). N. Trigeminus ( V ), merupakan N.Cranialis terbesar
dan hubungan perifernya mirip dengan N. Spinalis, yaitu keluar berupa radix
motorial dan sensorial yang terpisah dan radix sensorial mempunyai ganglion
yang besar. Serabut sensoriknya berhubungan dengan ujung saraf yang
berfungsi sebagai sensasi umum pada wajah, bagian depan kepala, mata,
cavum nasi, sinus paranasal, sebagian telinga luar dan membrane tymphani,
membrane mukosa cavum oris termasuk bagian anterior lingua, gigi geligi
dan struktur pendukungnya serta dura meter dari fosa cranii anterior. Saraf ini
juga mengandung serabut sensorik yang berasal dari ujung propioseptik
pada otot rahang dan capsula serta bagian posterior discus articulation
temporomandibularis. Radix motoria mempersarafi otot pengunyahan, otot
palatum molle (M. tensor veli palatine),otot telinga tengah1.

9. Gerakan TMJ (video)


Guyton & Hall. 2012.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Jakarta: EGC