Anda di halaman 1dari 6

4 prespektif dalam pengelolaan organisasi

Pengeloaan organisasi dilakukan dengan penyusunan serangkain strategi


berdasarkan keempat perpektif:

1. Strategi Finansial,

Strategi yakni strategi mengelola pertumbuhan, tingkat keuntungan, dan resiko.Ini


merupakan strategi organisasi yang dilihat dari kacamata pemilik perusahaan atau
pemegang saham. Menurut Kaplan dan Norton (2001), BSC tetap mempergunakan perspektif
keuangan karena ukuran keuangan dapat memberikan petunjuk mengenai strategi perusahaan,
implementasi dan pelaksanaannya dalam kontribusi peningkatan laba perusahaan jangka panjang.
Tujuan keuangan menjadi fokus tujuan dan ukuran di bagian hubungan sebab akibat yang pada akhirnya
dapat meningkatkan kinerja keuangan. Tujuan keuangan sangat berbeda untuk setiap siklus hidup
perusahaan. Secara sederhana, siklus hidup perusahaan dibagi menjadi tiga tahap, yaitu growth
(bertumbuh), sustain ( bertahan), dan harvest (menuai). Perusahaan yang berada pada tahap growth
memiliki produk dan pangsa pasar yang tumbuh secara nyata, sehingga strategi dan pengukuran kinerja
perusahaan dalam perspektif keuangan difokuskan pada pertumbuhan penerimaan, penghasilan/laba
positif, serta penigkatan penjualan dan pangsa pasar. Perusahaan yang berada pada tahap sustain
memiliki produk dan pangsa pasar yang bertumbuh stabil, sehingga strategi dan pengukuran kinerja
dalam perspektif keuangan dapat difokuskan pada peningkatan pendapatan operasional, peningkatan
tingkat pengembalian investasi dan pengingkatan laba kotor. Sedangkan perusahaan yang berada pada
tahap harvest memiliki produk dan pangsa pasar yang tumbuh secara lambat, sehingga dan pengukuran
dalam perspektif dapat difokuskan pada pengelolaan arus kas, nilai tambah ekonomis dan nilai tambah
kas. Ukuran kinerja finansial merupakan petunjuk apakah strategi perusahaan, implementasi, dan
pelaksanaanya memberikan kontribusi atau tidak kepada peningkatan laba perusahaan. Tujuan finansial
biasanya berhubungan dengan profitabilitas yang diukur dengan laba operasi, return on capital
employed (ROCE) atau economic value added (EVA). Tujuan financial lainya mungkin berupa
pertumbuhan penjualan yang cepat atau terciptanya arus kas (Kaplan, 1996). BSC menggariskan upaya
yang harus dilakukan untuk dapat berhasil secara keuangan dan bagaimana keuangan kita dalam
perspektif pemegang saham (Luis, 2007)
2. Strategi Pelanggan

Strategi pelanggan yaitu strategi untuk menciptakan nilai dan diferensiasi produk.
Strategi ini dilihat dari kacamata pelanggan. Filosofi manajemen terkini telah
menunjukan peningkatan pengakuan atas pentingnya customer focus dan customer
satisfaction. Perspektif ini merupakan ukuran hasil, jadi apabila pelanggan tidak
puas akan mencari produsaen lain yang sesuai dengan kebutuhannya. Kinerja yang
buruk dari perspektif ini akan menurunkan jumlah pelanggan di masa depan
meskipun saat ini kinerja keuangan terlihat baik. Menurut Kaplan dan Norton
(1996), perspektif pelamggan memiliki dua kelompok pengukuran, yaitu customer
core measurement dan customer value propositions

a) Customers Core Measurement, memiliki beberapa komponen pengukuran yaitu:


(1) Market share, pengukuran ini mencerminkan bagian yang dikuasai
perusahaan atas keseluruhan pasar yang ada meliputi jumlah pelanggan,
jumlah penjualan dan volume unit penjualan

(2) Customer retention, mengukur tingkat dimana perusahaan dapat


mempertahankan hubungan dengan konsumen.

(3) Customer acquisition, mengukur tingkat dimana suatu unit bisnis


mampu menarik pelanggan baru untuk memenangkan bisnis baru.

4) Customer satisfaction, menaksirkan tingkat kepuasan pelanggan terkait


dengan criteria kinerja spesifik dalam value proposition.
(5) Customer profitability, mengukur laba bersih dari seorang pelanggan
atau segmen setelah dikurangi biaya yang khusus diperlakukan untuk
mendukung pelanggan tersebut.

b) Customer Value Proposition, merupakan pemicu kenerja yang terdapat pada


core value proposition yang di dasarkan pada atribut berikut:

(1) Produk/Service Atribut meliputi fungsi dari produk atau jasa, harga dan
mutu. Pelanggan memiliki preferensi yang berbeda-beda atas produk yang
ditawarkan. dalam hal ini perusahaan harus mengidentifikasikan apa yang
diinginkan pelanggan atas produk yang ditawarkan. Selanjutnya pengukuran
kinerja ditetapkan berdasarkan hal tersebut.

(2) Customer relationship menyangkut perasaan pelanggan terhadap proses


pembelian produk yang ditawarkan perusahaan. Perasaan konsumen ini
sangat dipengaruhi oleh responsivitas dan komitmen perusahaan terhadap
pelanggan berkaitan dengan masalah penyampaian waktu. Waktu
merupakan komponen yang dalam persaingan perusahaan. Konsumen
biasanya menganggap penyelesaian order yang cepat dan tepat waktu
sebagai faktor yang penting bagi kepuasanya

(3) Image and reputation menggambarkan factor intangible yang menarik


seorang konsumen untuk berhubungan dengan perusahaan. Membangun
citra dan reputasi dapat dilakukan melalui iklan dan menjaga mutu seperti
yang dijanjikan.

3. Strategi Proses internal

Strategi Proses Internal yakni penentuan proses proses internal strategis, yang
mampu untuk menciptakan kepuasan pelanggan dan pemilik saham. Analisis
proses bisnis internal perusahaan dilakukan dengan menggunakan analisis rantai
nilai. Manajemen perusahaan mengidentifikasi proses bisnis internal yang kritis
yang harus diunggulkan perusahaan. Penilaian dalam perspektif ini memungkinkan
manajer untuk mengetahui seberapa baik bisnisnya berjalan dan apakah produk
dan jasanya sesuai dengan spesifikasi pelanggan. Kaplan dan Norton (1996)
membagi proses bisnis internal ke dalam tiga proses, yaitu:

a. Proses inovasi yang merupakan proses mengenali pemahaman tentang


kebutuhan dari pelanggan, serta menciptakan produk dan jasa yang dibutuhkan.

b. Proses operasi merupakan proses untuk membuat dan menyampaikan produk


atau jasa. Proses operasi terbagi menjadi dua aktivitas, yaitu proses pembuatan
produk dan penyampaian kepada konsumennya.

c. Proses pelayanan purna jual, proses ini merupakan jasa pelayanan pada
pelanggan setelah penjualan produk atau jasa tersebut dilakukan.

4. Strategi Learning and Growth,

Strategi Learning and Grwoth yakni strategi untuk menciptakan iklim yang
kondusif bagi pembelajaran organisasi, inovasi dan pertumbuhan. Menurut
Yuwono (2002), proses pertumbuhan dan pembelajaran ini bersumber dari faktor
sumber daya manusia (SDM), sistem dan prosedur organisasi (Gambar 6). Dalam
perspektif ini adalah pelatihan pegawai dan budaya perusahaan yang berhubungan
dengan perbaikan individu dan organisasi. Hasil dari perspektif sebelumnya dapat
menunjukan kesenjangan yang besar antara kemampuan orang, system dan
prosedur perusahaan pada saat ini dengan yang dibutuhkan untuk mencapai kinerja
yang diinginkan.
menurut Kaplan dan Norton (1996) pada perspektif ini terdapat empat tolak ukur
dalam perusahaan, yaitu:

a. Employee capabilities, dimana kemampuan karyawan dalam organisasi dengan


perencanaan dan upaya implementasi reskilling pegawai yang menjamin
kecerdasan dan kreativitasnya dapat dimobilisasi untuk mencapai tujuan organisasi
b. Informasi system capabilities. Diperlukan informasi-informasi terbaik untuk
pencapaian tujuan perusahaan pada karyawan. Dengan kemampuan system
informasi yang memadai, kebutuhan seluruh tingkatan manajemen dan pegawai
atas informasi yang akurat dan tepat waktu dapat dipenuhi dengan sebaik-baiknya.
c. Motivation, empowerment, and alignment. Tingkat motivasi karyawan dapat
diukur melalui banyaknya sasaran yang diberikan per pekerja. jumlah sasaran yang
dilaksanakan dan mutu saran yang diajukan. Jumlah saran yang berhasil
diimplementasikan merupakan indikator tercapainya keselarasan tujuan perusahaan
maupun perorangan.

Dengan empat perspektif yang dijalankan secara seimbang itu, organisasi dapat
mengejar berbagai sasaran jangka pendek tanpa mengabaikan tujuan jangka
panjang. Juga Dengan merangkai keempat perspektif secara seimbang dan
selanjutnya diterjemahkan secara konsisten dalam aktivitas-aktivitas organisasi
(bahkan sampai pada level inisiatif personal masing-masing individu dari anggota
organisasi), pencapaian efektivitas organisasi dapat memenuhi tuntutan dari pihak
konsumen, pemegang saham, dan pekerja/anggota organisasi sendiri, sekaligus
memenuhi tuntutan internal organisasi itu sendiri untuk berkembang melalui
proses-proses operasional yang efektif.

strategi FINANSIAL “untuk berhasil secara financial, apa yang harus kita lakukan kepada para pemegang
saham kita?” VISI dan STRATEGI PROSES BISNIS INTERNAL “Untuk menyenangkan para pemegang saham
& pelanggan kita, proses bisnis apa yang harus kita kuasai dengan baik
PELANGGAN “Untuk mewujudkan visi kita, apa yang harus kita perlihatkan kepada para pelanggan
kita?”

PERTUMBUHAN & PEMBELAJARAN “Untuk mewujudkan visi kita, bagaimana kita memelihara
kemampuan kita untuk berubah dan meningkatkan diri?”