Anda di halaman 1dari 10

Makalah

PELAKSANAAN
PENGEMBANGAN DAN
PERBERDAYAAN MASYARAKAT
DI SEKITAR WILAYAH IZIN
USAHA PERTAMBANGAN
Pertemuan Teknis Pelaksanaan Pengembangan dan Pemberdayaan
Masyarakat – oleh: Dinas Pertambangan dan Energi Kalimantan
Selatan
SYAHRITUAH SIREGAR

2012
PELAKSANAAN PENGEMBANGAN DAN PERBERDAYAAN MASYARAKAT DI
SEKITAR WILAYAH IZIN USAHA PERTAMBANGAN

(PERSPEKTIF AKADEMISI)

Oleh :

Syahrituah Siregar

1. URGENSI SUBSTANSIAL
KONSTITUSI : UUD 45, HAK ECOSOB, MDGs

Sistem Ekonomi yang dengannya akan terlahir keputusan politik dan


kebijakan ekonomi tidak akan terlepas dari sifat ideologi bangsa Indonesia
Pancasila. Oleh karena itu, dasar SEI adalah Pancasila beserta Hierarki
perundang-undangan yang ada di bawahnya. Karenanya, SEI sering juga
disebut Sistem Ekonomi Pancasila atau Demokasi Ekonomi. Dasar-dasar yang
menunjukan keberpihakan kepada rakyat begitu jelas sehingga muncul pula
istilah Ekonomi Kerakyatan.
Dasar-dasar SEI
- Pancasila
- Pembukaan UUD ’45
- UUD ’45 beserta penjelasannya khususnya:
 Pasal 33*) ayat 1,2, dan 3
 Pasal 27 ayat 2
 Pasal 34*)
 GBHN dan Tap MPR No.XVI/1998 tentang Politik Ekonomi Bagi
Demokrasi Ekonomi **)
Dalam skema Soetrisno (1983) tentang falsafah kelembagaan ekonomi
Pancasila dengan swing of pendulumn, terlihat wilayah aplikatif yang bebas dari
setiap ekstrem. SEI diarahkan untuk mencapai keserasian, keseimbangan, dan
keselarasan dengan diakuinya keberadaan:
1. Pelaku : swasta—koperasi—negara
2. Sistem : Pasar – Planning
3. Kepemilikan : Pribadi – Masyarakat – Negara
4. Orientasi produksi : Profit – Pemenuhan Hajat hidup/kebutuhan rakyat.

Hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya yang dijamin dalam kovenan ini meliputi
hak atas pekerjaan (Pasal 6), hak untuk menikmati kondisi kerja yang adil dan
menyenangkan (Pasal 7), hak untuk membentuk dan ikut serikat buruh (Pasal 8),
hak atas jaminan sosial, termasuk asuransi sosial (Pasal 9), hak atas
perlindungan dan bantuan yang seluas mungkin bagi keluarga, ibu, anak, dan
orang muda (Pasal 10), hak atas standar kehidupan yang memadai (Pasal 11),
hak untuk menikmati standar kesehatan fisik dan mental yang tertinggi yang
dapat dicapai (Pasal 12), hak atas pendidikan (Pasal 13 dan 14), dan hak untuk
ikut serta dalam kehidupan budaya (Pasal 15).

Dalam rangka Millenium Development Goals (MDGs), UNDP mencanangkan


perbaikan indikator kesejahteraan bagi masyarakat, meliputi:
1. Eradicate Extreme Poverty and Hunger
2. Achieve Universal Primary Education
3. Promote Gender Equality and Empower Women
4. Reduce Child Mortality
5. Improve Maternal Health
6. Combat HIV/AIDS, Malaria, and Other Diseases
7. Ensure Environmental Sustainability
8. Develop a Global Partnership for Development
Akan tetapi jika kita kembali pada basis konstitusi maka semuanya sudah kita
miliki sebagai acuan tujuan berbangsa dan bernegara. Jadi Kovenan hak Ekosob
dan MDGSb agi bangsa Indonesia merdeka lebih sekedar membantu secara
teknis dalam penjabarannya.

TANGGUNG JAWAB SOSIAL DAN LINGKUNGAN : UU NO 40/2007 PS 74

UU No. 40/2007 mengatur secara khusus tentang Tanggung jawab sosial dan
lingkungan. Pasal 74 UU No. 40/2007 menegaskan bahwa ―Perseroan yang
menjalankan kegiatan di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam
wajib untuk melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan―.
Mengenai hal tersebut beberapa kali di tanyakan oleh peserta seminar
khususnya mengenai apakah kriteria suatu perusahaan yang berkewajiban
untuk melaksanakan tanggung jawab sosial tersebut. Mengenai hal tersebut,
sepanjang yang saya tahu, belum ada aturan pelaksanaan (sebagaimana yang
dijanjikan dalam pasal 74 ayat 4) yang menetapkan kriteria secara detail
mengenai jenis perusahaan yang seperti apa
yang memiliki kewajiban untuk melaksanakan tanggung jawab sosial tersebut.

2. URGENSI TEKNIS
MODERN BISNIS CORPORATE
SUSTAINABILITY
Wibisono (2007) mengemukaan 3 alasan perusahaan harus merespon CSR:
1. Perusahaan adalah bagian dari masyarakat (pen.:dorongan
exsistence)
2. Persahaan perlu membangun hubungan mutualisme (pen.:dorongan
inclusive )
3. Untuk meredam ataupun menghindari konfliks social (pen.: dorongan
security)

Eksistensi perusahaan menimbulkan dampak-dampak social, budaya, dan


lingkungan.

TRENDS: Extraction
Kecendrungan eksploitasi SDA sangat massive dan dijual sebagai komoditas
ekstraktif. Hal ini tergambar dari perkembangan struktur ekonomi di Kalimantan
dan Kalsel pada khususnya yang tidak mengalami kemajuan dalam sector
pengolahan/manufacture.

Economic Structural Change

Terjadi perambahan hutan yang mengkhawatirkan.


TRENDS:
Deforestation

Dari Community Development menuju Corporate Social Responsibility


CSR bentuk paling muthakhir untuk menjawab tantangan tanggung jawab
tersebut.

World Business Council for Sustainable Development (WBSD) menyatakan:


CSR merupakan suatu komitmen berkelanjutan oleh dunia usaha untuk
bertindak etis dan memberikan kontribusi kepada pengembangan ekonomi dan
komunitas setempat ataupun masyarakat luas, bersamaan dengan peningkatan
taraf hidup pekerjanya beserta seluruh keluarganya.

Heal, 2004:
CSR dapat digunakan untuk meminimalkan “distributional conflicts”

Warta Ekonomi dari hasil survey The Eonomist Intelligence Unit:


85% eksekutif senior dan investordari berbagai macam organisasi menjadikan
CSR sebagai pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan.
3. PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

ADA KETIDAKJELASAN WEWENANG DAERAH DALAM PENGENDALIAN


CSR
???
CSR merupakan domain pemerintah pusat sedangkan pemerintah daerah
sebatas melakukan monitoring dengan perangakat AMDALSO serta mengkaji
kemanfaatannya bagi stakeholders/masyarakat local???
Ada positif dan negatifnya masing-masing.
Belajar dari pengalaman, perlu adanya re-desain yang serius dalam
bentuk implementasi
Stakeholders suatu perusahaan bukan hanya persahaan itu sendiri tapi banyak
pihak.

Tanari, 2009: Stakeholders adalah kelompok-kelompok yang mempengaruhi


dan/atau dipengaruhi oleh adanya suatu organisasi sebagai dampak dari
aktifitas-aktifitasnya. Contohnya; Pelanggan, Masyarakat, Pekerja, Pemegang
Saham, Pemerintah, LSM, dll.

Stakeholders wajib dirangkul dan diibatkan baik dalam tahap perencanaan,


implementasi, dan evaluasi.
Intensitas paritispasi dan tingkat keterbukaan akses sangat menentukan dan
mengandung seni yan akan menentukan efektifitas pengembangan dan
pemberdayaan masyarakat.

Pengembangan Masyarakat:
Pengembangan kapasitas dan kapabilitasnya dalam lingkup
Pemberdayaan :
Harus memegang prinsip keberdayaan masyarakat dengan modal sosialnya
(social capital) yang tetap hidup berkembang.

Kegiatan semestinya tidak menggunakan pendekatan proyek atau asal jalan dan
tuntas administratif.

Pemberdayaan masyarakat tidak lain adalah usaha memotivasi dan memberi


dorongan kepada masyarakat agar mampu menggali potensi dirinya dan berani
bertindak memperbaiki kualitas hidupnya, melalui ..... (Ravik Karsidi, 2001).

Implementasi Pengembangan dan


Pemberdayaan Masyarakat

•PERENCANAAN
•IMPLEMENTASI •EVALUASI

INTEGRASI

•INKLUSIF DALAM PJMD DAN


•BUSINESS PLAN PERUSAHAAN

Apa Ciri Khas Masyarakat Berdaya ?


 Mampu mengidentifikasi permasalahn yang dihadapi, merumuskan serta
menetapkan prioritasnya
 Mampu merumuskan alternatif jalan keluar untuk mengatasi
permasalahan tersebut
 Mampu mengorganisasikan diri, sebagai salah satu cara penanggulangan
secara bersama
 Mampu mengembangkan aturan main, nilai, norma yang disusun,
disepakati serta dipatuhi bersama
 Mampu memperluas kerjasama serta mampu menjalin ‘kemitraan’ yang
setara

Dari sisi perencanaan: inklusif dengan perencanaan jangka menengah daerah


Perusahaan harus menyiapkannya dalam Business Plan.
Daftar Pustaka

Heal, Geoffrey M., 2004. Corporate Social Responsibility: An Economic and Fincancial
Framework. (SSRN: http://ssrn.com/abstract=642762 or
http://dx.doi.org/10.2139/ssrn.642762)

Karsidi, Ravik, 2001. Paradigma Baru Penyuluhan Pembangunan dan Pemberdayaan


Masyarakat. MEDIATOR, Vol. 124 2 No.1 2001

Sutrisno, P.H. 1983. Kapita Selekta Ekonomi Indonesia (Suatu Studi), Andi Offset,
Jogjakarta

Wibisono, Yusuf, 2007. Membedah Konsep dan Aplikasi CSR. Pascho Publishing, Gresik