Anda di halaman 1dari 7

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

DIFTERI

Topik : Penyakit Difteri


Sub Topik : Perawatan dan Pencegahan Difteri
Hari/ Tanggal :
Waktu :
Tempat : Sekretariat Rw. 08
Sasaran : Warga RW. 08

A. LATAR BELAKANG
Difteri adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium
diphtheriae yang dapat menyebabkan sakit tenggorokan, demam, kelenjar bengkak,
dan lemas. Dalam tahap lanjut, difteri bisa menyebabkan kerusakan pada jantung,
ginjal dan sistem saraf yang berakibat fatal dan berujung pada kematian. Penyakit
difteri sangat rentan menyerang bayi mulai umur 2 bulan.
Temuan dilapangan, penyakit difteri yang menyerang anak-anak di Jatim baik
yang ditemukan tanpa gejala maupun sampai fatal. Kondisi yang sangat fatal,
penderita mengalami sesak nafas dan tidak bisa bernafas. Penderita yang ditemukan
kebanyakan anak-anak, dari usia 4 tahun sampai 12 tahun. Hal ini disebabkan sistem
kekebalan tubuh mereka belum terbentuk sempurna. Penderita juga bisa terserang
dengan gejala mata berdarah dan menyerang kulit. Untuk menangani kasus difteri ini,
pemerintah telah menyediakan sebanyak 40 ribu vaksin dan telah disalurkan kepada
seluruh puskesmas dan posyandu.
Penyakit difteri bisa dicegah sejak dini. Upaya pencegahan bagi serangan Difteri
ini dilakukan secara dini kepada anak-anak atau balita dengan mendapatkan imunisasi
DPT pada usia 2 bulan ke atas. Biasanya vaksin DPT diberikan pada kegiatan bulan
imunisasi di sekolah kepada anak SD kelas 1. Pencegahan penyebaran penyakit Difteri
juga dilakukan dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat atau PHBS yang harus
terus dilakukan seperti mencuci tangan sebelum makan. Tujuan PHBS salah satunya
agar penyebaran penyakit menular itu bisa ditangkal. Lain lainnya adalah
memperhatikan asupan makanan yang bergizi dan seimbang juga harus terus dijaga.
B. TUJUAN
1. Tujuan Instruksional Umum
Setelah diberikan materi, peserta /sasaran mampu memahami tentang penyakit
Difteri
2. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah penyampaian materi, peserta / sasaran mampu:
a. Menyebutkan pengertian Difteri
b. Menyebutkan cara penularan Difteri
c. Menyebutkan tanda dan gejala Difteri
d. Menyebutkan cara mencegah terjadinya Difteri

C. METODE
1. Ceramah
2. Tanya jawab

D. MEDIA
1. Leaflet
2. Power point

E. KEGIATAN PEMBELAJARAN
No Tahap Waktu Kegiatan Kegiatan Sasaran
1 Pembukaan 5 menit a. Memberi salam Mendengarkan dan
b. Memberi pertanyaan memperhatikan
apersepsi
c. Menjelaskan tujuan
penyuluhan
d. Menyebutkan
materi/pokok bahasan
yang akan
disampaikan
2 Pelaksanaan 20 menit Menjelaskan materi Mendengarkan dan
penyuluhan secara menyimak
berurutan dan teratur
Materi:
a. Pengertian Difteri
b. Cara penularan
Difteri
c. Tanda dan gejala
d. Cara pencegahan dan
penanggulangan
3 Evaluasi 5 menit a. Menyimpulkan inti - Peserta bertanya
penyuluhan mengenai
b. Menyampaikan secara masalah yang
singkat materi belum dipahami
penyuluhan - Peserta
c. Memberi kesempatan menjawab
kepada keluarga untuk pertanyaan
bertanya
d. Memberi kesempatan
kepada keluarga untuk
menjawab pertanyaan
yang dilontarkan

4 Penutup 5 menit a. Menyimpulkan materi Memperhatikan dan


penyuluhan yang telah menjawab salam
disampaikan
b. Menyampaikan terima
kasih atas perhatian
dan waktu yang telah
di berikan kepada
peserta
c. Mengucap salam

F. EVALUASI
1. Evaluasi struktur:
- Klien ikut dalam kegiatan penyuluhan.
- Penyelenggaraan penyuluhan dilakukan di sekretariat RW. 08
2. Evaluasi proses :
- Klien antusias terhadap materi penyuluhan.
- Klien terlibat langsung dalam kegiatan penyuluhan (diskusi).
3. Evaluasi Hasil
- Jelaskan pengertian Difteri
- Jelaskan cara penularan Difteri
- Sebutkan tanda dan gejala Difteri
- Sebutkan cara mencegah terjadinya Difteri

G. LAMPIRAN MATERI
Terlampir
H. REFERENSI
Arvin, Behrman Klirgman. 2000. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: EGC.
Cooper, Robert B. 1996. Segala Sesuatu yang Perlu Anda Ketahui “Penyakit”.
Jakarta: Gramedia
Khomsun A. S. Halinawati. 2008. Terapi Jus untuk rematik dan Asam Urat, Cetakan
V. Jakarta : Puspa Swara, Anggota IKAPI
Maksum, Radji dan Harmita. 2008. Analisis Hayati. Jakarta: Gramedia
Suharjo, J.B dan B. Cahyono. 2010. Vaksinasi. Jakarta: Kanisius
Suryana. 1996. Keperawatan Anak Untuk Siswa SPK. Jakarta: EGC.
MATERI PENYULUHAN DIFTERI

A. PENGERTIAN DIFTERI
Difteri adalah infeksi bakteri yang bersumber dari Corynebacterium diphtheriae, yang
biasanya mempengaruhi selaput lendir dan tenggorokan. Difteri umumnya
menyebabkan sakit tenggorokan, demam, kelenjar tonsil (amandel) bengkak, dan
lemas. Dalam tahap lanjut, difteri bisa menyebabkan kerusakan pada jantung, ginjal
dan sistem saraf. Kondisi seperti itu pada akhirnya bisa berakibat sangat fatal dan
berujung pada kematian. karena bakteri mengeluarkan racun yang mengganggu fungsi
organ-organ yang mengalami kerusakan tersebut. manusia yang kurang memilki
sistem kekebalan tubuh terutama yang tidak mendapatkan suntikan imunisasi lengkap
saat masih kecil atau kanak-kanak mudah terserang bakteri ini.

B. GEJALA/TANDA DIFTERI
Tanda dan gejala difteri meliputi, sakit tenggorokan dan suara serak, nyeri saat
menelan, pembengkakan kelenjar (kelenjar getah bening membesar) di leher, dan
terbentuknya sebuah membran tebal abu-abu menutupi tenggorokan dan amandel,
sulit bernapas atau napas cepat, demam, dan menggigil. Tanda dan gejala biasanya
mulai muncul 2-5 hari setelah seseorang menjadi terinfeksi. Orang yang terinfeksi C.
Diphtheria seringkali tidak merasakan sesuatu atau tidak ada tanda-tanda dan gejala
sama sekali.
Orang yang terinfeksi namun tidak menyadarinya dikenal sebagai carier
(pembawa) difteri. Sumber penularan penyakit difteri ini adalah manusia, baik sebagai
penderita maupun sebagai carier.
Tipe kedua dari difteri dapat mempengaruhi kulit, menyebabkan nyeri kemerahan,
dan bengkak yang khas terkait dengan infeksi bakteri kulit lainnya. Sementara itu pada
kasus yang jarang, infeksi difteri juga mempengaruhi mata.

C. CARA PENULARAN DIFTERI


Bakteri C.diphtheriae dapat menyebar melalui tiga rute:
1. Bersin: Ketika orang yang terinfeksi bersin atau batuk, mereka akan melepaskan
uap air yang terkontaminasi dan memungkinkan orang di sekitarnya terpapar
bakteri tersebut.
2. Kontaminasi barang pribadi: Penularan difteri bisa berasal dari barang-barang
pribadi seperti gelas yang belum dicuci.
3. Barang rumah tangga: Dalam kasus yang jarang, difteri menyebar melalui barang-
barang rumah tangga yang biasanya dipakai secara bersamaan, seperti handuk
atau mainan.
4. Selain itu, Anda juga dapat terkontaminasi bakteri berbahaya tersebut apabila
menyentuh luka orang yang sudah terinfeksi. Orang yang telah terinfeksi bakteri
difteri dan belum diobati dapat menginfeksi orang nonimmunized selama enam
minggu - bahkan jika mereka tidak menunjukkan gejala apapun.

Faktor risiko:
Orang-orang yang berada pada risiko tertular difteri meliputi:
1. Anak-anak dan orang dewasa yang tidak mendapatkan imunisasi terbaru
2. Orang yang hidup dalam kondisi tempat tingal penuh sesak atau tidak sehat
3. Orang yang memiliki gangguan sistem kekebalan.
4. Siapapun yang bepergian ke tempat atau daerah endemik difteri

D. CARA PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN


Jika Anda telah terpapar orang yang terinfeksi difteri, segeralah pergi ke dokter
untuk mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan. Dokter mungkin akan memberi
Anda resep antibiotik untuk mencegah infeksi penyakit itu. Di samping juga
pemberian vaksin difteri dengan dosis yang lebih banyak. Pemberian antibiotik juga
diperlukan bagi mereka yang diketahui sebagai carrier (pembawa) difteri.
Difteri adalah penyakit yang umum pada anak-anak. Penyakit ini tidak hanya
dapat diobati tetapi juga dapat dicegah dengan vaksin. Vaksin difteri biasanya
dikombinasikan dengan vaksin untuk tetanus dan pertusis, yang dikenal sebagai
vaksin difteri, tetanus dan pertusis (DTP).Versi terbaru dari vaksin ini dikenal
sebagai vaksin DTP untuk anak-anak dan vaksin Tdap untuk remaja dan dewasa.
Pemberian vaksinasi sudah dapat dilakukan saat masih bayi dengan lima tahapan
yakni, 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 12-18 bulan dan 4-6 tahun.
Vaksin difteri sangat efektif untuk mencegah difteri. Tapi pada beberapa anak
mungkin akan mengalami efek samping seperti demam, rewel, mengantuk atau nyeri
pasca pemberian vaksin. Pemberian vaksin DTP pada anak jarang menyebabkan
komplikasi serius, seperti reaksi alergi (gatal-gatal atau ruam berkembang hanya
dalam beberapa menit pasca injeksi), kejang atau shock. Untuk beberapa anak
dengan gangguan otak progresif - tidak dapat menerima vaksin DTP.
Imunisasi DPT adalah upaya untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit
Diferi, Pertusis, Tetanus dengan cara memasukkan kuman difteri, pertusis, tetanus
yang telah dilemahkan dan dimatikan kedalam tubuh sehingga tubuh dapat
menghasilkan zat anti yang pada saatnya nanti digunakan tubuh untuk melawan
kuman atau bibit ketiga penyakit tersebut.

Manfaat Imunisasi DPT Dasar


Salah satu upaya agar anak-anak jangan sampai menderita suatu penyakit
adalah dengan jalan memberikan imunisasi. Dengan imunisasi ini tubuh akan
membuat zat anti dalam jumlah banyak, sehingga anak tersebut kebal terhadap
penyakit. Jadi tujuan imunisasi DPT adalah membuat anak kebal terhadap penyakit
Difteri, Pertusis, Tetanus. Selain itu manfaat pemberian imunisasi DPT adalah :
1. Untuk menimbulkan kekebalan aktif dalam waktu yang bersamaan terhadap
penyakit difteri, pertusis (batuk rejan), tetanus.
2. Apabila terjadi penyakit tersebut, akan jauh lebih ringan dibanding terkena
penyakit secara alami.