Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sebagai falsafah negara, tentu Pancasila ada yang merumuskannya.
Pancasila memang merupakan karunia terbesar dari Allah SWT dan ternyata
merupakan light-star bagi segenap bangsa Indonesia di masa-masa
selanjutnya, baik sebagai pedoman dalam memperjuangkan kemerdekaan,
juga sebagai alat pemersatu dalam kehidupan berbangsa, serta sebagai
pandangan hidup untuk kehidupan manusia Indonesia sehari-hari. Pancasila
lahir 1 Juni 1945, ditetapkan pada 18 Agustus 1945 bersama-sama dengan
UUD 1945. Sejarah Indonesia telah mencatat bahwa di antara tokoh perumus
Pancasila itu ialah, Mr. Mohammad Yamin, Prof. Mr. Soepomo, dan Ir.
Soekarno. Dapat dikemukakan mengapa Pancasila itu sakti dan selalu dapat
bertahan dari guncangan kisruh politik di negara ini. Pertama ialah karena
secara intrinsik dalam Pancasila itu mengandung toleransi, dan siapa yang
menantang Pancasila berarti dia menentang toleransi. Pancasila sebagai dasar
falsafah negara Indonesia yang harus diketahui oleh seluruh warga negara
Indonesia agar menghormati, menghargai, menjaga dan menjalankan apa-apa
yang telah dilakukan oleh para pahlawan khususnya pahlawan proklamasi
yang telah berjuang untuk kemerdekaan negara Indonesia ini. Sehingga baik
golongan muda maupun tua tetap meyakini

Pengetahuan Pancasila sebagai salah satu bidang ilmu yang


menganalisis Pancasila melalui penalaran dan analisis yang mendalam
terhadap nilai-nilai Pancasila itu sendiri. Seperti berbagai ilmu yang lain
pengetahuan Pancasila juga bersifat ilmiah. Pancasila itu dapat kita sebut
sebagai pengetahuan yang bersifat ilmiah jika memenuhi syarat-syarat ilmiah
yakni berobjek, bermetode, bersistem, dan bersifat universal. Sebagai sebuah
ideologi, pancasila tidak bersifat tertutup (statis) terhadap berbagai perubahan
atau pemikiran –pemikiran baru namun Pancasila bersifat terbuka (dinamis)
yang mempunyai keluwesan untuk menerima perkembangan pemikiran-
pemikiran baru yang relevan dengan dirinya, tanpa menghilangkan hakekat

1
atau jati diri yang terkandung dalam nilai dasarnya. Sebagai suatu ideologi
yang menjadi pengawal dan pengarah perjalanan hidup bangsa Negara
Republik Indonesia. Pancasila tentu tidak boleh berubah jati dirinya menjadi
sebuah ideologi yang bersifat tertutup yaitu seperti agama karena sangat
membahayakan bangsa dan negara. Oleh karena itulah, ideologi Pancasila
harus tetap menjadi suatu ideologi yang bersifat terbuka dan dinamis.

Suatu ideologi dikatakan terbuka dan dinamis yaitu


apabila suatu ideologi tersebutbisa dan dapat menerima dan mengembangkan
pemikiran-pemikiran baru atau dengan kata lain dapat menerima penafsiran
baru tanpa harus takut kehilangan jati dirinya. Pancasila yang diterima dan
ditetapkan sabagai dasar Negara seperti yang tercantum dalam pembukaan
UUD 1945 merupakan kepribadian dan pandangan hidup bangsa serta mampu
menjadi sebagai pedoman untuk melaksanakan pendidikan nasional.
Pembelajaran pancasila menjadi sangat penting, karena mengingat pancasila
merupakan jiwa dari seluruh rakyat Indonesia. Hal ini mengandung makna
bahwa di dalam pancasila mengandung jiwa yang luhur, nilai-nilai yang luhur
dan sarat dengan ajaran moralitas. Dalam karya tulis ilmiah ini penulis akan
membahas pancasila dari segi kajian ilmiah dan filosofis, pancasila sebagai
ideologi terbuka, dan yang terakhir kajian mengenai nilai pancasila yang
bersifat statis dan dinamis.

2
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana kajian Pancasila dari segi ilmiah dan filosofis?
2. Bagaimana hakikat Pancasila sebagai ideologi terbuka?
3. Bagaimana kajian nilai Pancasila dilihat dari segi nilai statis dan dinamis?

1.3. Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui bagaimana kajian Pancasila dari segi ilmiah dan
filosofis.
2. Untuk mengetahui bagaimana hakikat Pancasila sebagai ideologi terbuka.
3. Untuk mengetahui bagaimana kajian nilai Pancasila dilihat dari segi nilai
statis dan dinamis.

1.4. Manfaat Penulisan


1. Bagi dosen, sebagai tolak ukur atau penilaian terhadap mahasiswa dalam
memahami Pancasila sebagai sistem filsafat.
2. Bagi penulis, sebagai sarana yang bermanfaat untuk memperoleh
keterampilan dalam melakukan penulisan dan perbendaharaan
pengetahuan tentang pancasila sebagai sistem filsafat.

3
BAB II
METODE PENULISAN

Dalam penulisan karya tulis ini, penulis menggunakan metode deskriptif


kualitatif. Menurut Dwiyanto (2003:2), metode deskriptif kualitatif biasanya
menggunakan literatur review dimana data diambil dari data tertulis seperti
dokumen, laporan tahunan, undang-undang, jurnal, sertifikat, dan lain-lain.
Sumber data ini bisa dari data primer atau data sekunder. (Dwiyanto, 2003:2).
2.1. Sumber Data
1. Sumber data primer didapatkan dengan melakukan wawancara dengan
mahasiswa dan pelajar sekolah
2. Sumber data sekunder didapatkan dari pengumpulan buku, jurnal, DAN
laporan penelitian.
2.2. Teknik Pengumpulan data
1. Penyebaran angket / kuisioner
Dilakukan penyebaran angket dengan sampel para mahasiswa dan pelajar
Sekolah Menengah Atas dan pada mahasiswa di Perguruan Tinggi di Kota
Jambi.
2. Dokumentasi
Pengumpulan data dilakukan dengan cara dokumentasi yaitu
mengumpulkan data-data yang sudah ada sebelumnya. Baik itu melalui
buku, jurnal, dan internet.
2.3 Teknik Analis Data
Data yang diperoleh dalam karya tulis ini dikumpulkan dengan cara :
1. Studi pustaka mempelajari informasi dari berbagai macam sumber pustaka
kemudian membuat gabungan informasi secara sistematis dan lengkap.
2. Dokumentasi
Data yang di peroleh kemudian diolah melalui tahapan-tahapan
sebagai berikut:
a. Klasifikasi data, yaitu dari data yang telah terseleksi selanjutnya di
kelompokkan sesuai dengan pokok bahasan yang akan dibahas.

4
b. Mengedit data, yaitu memperbaiki kualitas serta menghilangkan
keraguan data.
c. Penyusunan data, yaitu menyusun data secara sistematis menurut tata
urutan dalam pokok bahasan yang telah ditentukan dengan maksud
untuk memudahkan dalam menganalisis data.
d. Data yang diperoleh dari pengisian kuesioner, ditabulasi, dan diurut
serta dipersetasekan berdasarkan jumlah terbesar sampai yang terkecil.
Kemudian data-data tersebut dianalisis dengan cara
menarasikannya ke dalam kalimat-kalimat yang tersusun secara sistematis,
sehingga dapat diperoleh suatu kesimpulan.

5
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Kajian Pancasila dari Segi Ilmiah dan Filosofis


3.1.1. Kajian Pancasila dari Segi Ilmiah
Pengetahuan Pancasila sebagai salah satu bidang ilmu yang
menganalisis Pancasila melalui penalaran dan analisis yang mendalam
terhadap nilai-nilai Pancasila itu sendiri. Seperti berbagai ilmu yang lain
pengetahuan Pancasila juga bersifat ilmiah. Pancasila itu dapat kita
sebut sebagai pengetahuan yang bersifat ilmiah jika memenuhi syarat-
syarat ilmiah yakni berobjek, bermetode, bersistem, dan bersifat
universal.
1. Berobjek
Suatu objek dari ilmu pengetahuan terbagi dua yakni objek
material dan objek formal. Objek material berarti memiliki sasaran yang
dikaji, disebut juga pokok soal (subject matter) merupakan sesuatu yang
dituju atau dijadikan bahan untuk diselidiki. Obyek material Pancasila
adalah suatu obyek yang merupakan sasaran pembahasan dan
pengkajian Pancasila baik yang bersifat empiris maupun non empiris.
Bangsa Indonesia sebagai kausa material (asal mula nilai-nilai
Pancasila), maka obyek material pembahasan Pancasila adalah bangsa
Indonesia dengan segala aspek budaya dalam bermayarakat, berbangsa
dan bernegara. Obyek material empiris berupa lembaran sejarah, bukti-
bukti sejarah, benda-benda sejarah dan budaya, Lembaran Negara,
naskah-naskah kenegaraan, dsb. Obyek material non empiris meliputi
nilai-nilai budaya, nilai-nilai moral, nilai-nilai religius yang tercermin
dalam kepribadian, sifat, karakter dan pola-pola budaya.
Sedangkan objek formal adalah titik perhatian tertentu (focus of
interest, point of view) merupakan titik pusat perhatian pada segi-segi
tertentu sesuai dengan ilmu yangbersangkutan.Obyek formal Pancasila
adalah suatu sudut pandang tertentu dalam pembahasan Pancasila.

6
Pancasila dapat dilihat dari berbagai sudut pandang misalnya : Moral
(moral Pancasila), Ekonomi (ekonomi Pancasila), Pers(Pers Pancasila),
Filsafat (filsafat Pancasila), dsb.
2. Bermetode
Bermetode atau mempunyai metode berarti memiliki
seperangkat pendekatan sesuai dengan aturan-aturan yang logis dimana
metode itu sendiri merupakan cara bertindak menurut aturan tertentu.
Metode dalam pembahasan Pancasila sangat tergantung pada
karakteristik obyek formal dan material Pancasila. Salah satu metode
adalah “analitico syntetic” yaitu suatu perpaduan metode analisis dan
sintesa. Oleh karena obyek Pancasila banyak berkaitan dengan hasil-
hasil budaya dan obyek sejarah maka sering digunakan metode
“hermeneutika” yaitu suatu metode untuk menemukan makna dibalik
obyek, demikian juga metode “koherensi historis” serta metode
“pemahaman penafsiran” dan interpretasi. Metode-metode tersebut
senantiasa didasarkan atas hukum-hukum logika dalam suatu penarikan
kesimpulan.
3. Bersistem
Bersifat atau bersifat sistematis bermakna memiliki kebulatan
dan keutuhan yang bagian-bagiannya merupakan satu kesatuan yang
yang saling berhubungan dan tidak berkontradiksi sehingga membentuk
kesatuan keseluruhan. Suatu pengetahuan ilmiah harus merupakan
sesuatu yang bulat dan utuh. Bagian-bagian dari pengetahuan ilmiah
harus merupakan suatu kesatuan antara bagian-bagian saling
berhubungan baik hubungan interelasi saling hubungan maupun
interdependensi (saling ketergantungan). Pembahasan Pancasila secara
ilmiah harus merupakan suatu kesatuan dan keutuhan (majemuk
tunggal) yaitu ke lima sila baik rumusan, inti dan isi dari sila-sila
Pancasila merupakan kesatuan dan kebulatan.
4. Bersifat universal
Bersifat universal atau dapat dikatakan bersifat objektif, dalam
arti bahwa penelusuran kebenaran tidak didasarkan oleh alasan rasa

7
senang atau tidak senang, setuju atau tidak setuju, melainkan karena
alasan yang dapat diterima oleh akal.. Kebenaran suatu pengetahuan
ilmiah harus bersifat universal artinya kebenarannya tidak terbatas oleh
waktu, keadaan, situasi, kondisi maupun jumlah. Nilai-nilai Pancasila
bersifat universal atau dengan kata lain intisari,esensi atau makna yang
terdalam dari sila-sila Pancasila pada hakekatnya bersifat universal.
Berdasarkan berbagai ciri-ciri pengetahuan ilmiah tersebut maka dapat
kita ketahui bahwa Pancasila telah memiliki dan memenuhi syarat-
syarat sebagai pengetahuan ilmiah sehingga dapat dipelajari secara
ilmiah.
Namun selain itu masih ada beberapa bukti lagi yaitu
1. Memiliki kausa
Pengetahuan pancasila mengandung beberapa kausa atau sebab
musabab, dalam teori ini di jelaskan bahwa pengetahuan pancasila
terdiri dari causa, yang paling pas mencirikan bahwa pengetahuan
pancasila ilmiah adalah Causa Formalis karena causa ini menjelaskan
bahwa pancasila ialah formulasi dari pemikiran dari anggota BPUPKI,
jadi tentu pemikiran ini di dasarkan atas analisis seperti ilmu-ilmu yang
mengandung unsur ilmiah. Dengan demikian kita sebagai mahasiswa
juga harus tetap menggali dan menganalisis bagaimana Pancasila
tersebut.
2. Mengandung kebenaran
Sesuatu hal yang bersifat ilmiah pasti akan mengandung sebuah
kebenaran karena merupakan hasil penelitian dan kebenaran. Dalam hal
pengetahuan Pancasila analisis dikhususkan untuk mencari sebuah
kebenaran, dari lima prinsip hidup manusia. Namun kebenaran ini
harus tetap kita uji dengan berbagai metode ilmiah sehingga dapat
dicapai kebenaran yang mendekati mutlak.
3. Berangkat dari hipotesis
Bukti selanjutnya bahwa pengetahuan pancasila berangkat dari
dari sebuah hipotesis atau sebuah teori yang mesti harus di kaji lagi.
Teori-teori lain seperti teori-teori pengetahuan alampun mengkaji teori

8
yang ada dalam kebatangan ilmunya. Sifat ilmu dikatakan ilmiah yaitu
bagaimana ilmu tersebut dalam kajianya menganalisis teori yang ada,
meneliti kembali teori tersebut, hal-hal tersebut ada dalam pengetahuan
pancasila. Dalam pengetahuan pancasila yang mesti di kaji lagi teorinya
adalah makna dari sila-sila pancasila. Dengan dibuktikannya
pengetahuan Pancasila sebagai salah satu pengetahuan ilmiah melalui
analisis syarat suatu ilmu maupun berbagai tambahan buktinya maka
dapat disimpulkan bahwa penegtahuan Pancasila tersebut memang
bersifat ilmiah. Oleh sebab itu kita dalam mempelajarinya haruslah
dengan cara-cara ilmiah sehingga Pancasila dapat secara penuh menjadi
suatu pengetahuan ilmiah yang benar-benar ilmiah.
3.1.2. Fungsi Utama Filsafat Pancasila Bagi Bangsa dan Negara
Indonesia
Keberadaan Pancasila telah terbukti mampu mempersatukan
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari perpecahan. Dengan
konsep Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila menjadi nilai rujukan
kebersamaan atas beragam budaya dan etnis dari Sabang sampai
Merauke. Dari kenyataan inilah maka fungsi dan peranan Pancasila
meliputi:

a. Pancasila sebagai jiwa bangsa Indonesia


b. Pancasila sebagai kepribadian bangsa Indonesia
c. Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia
d. Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum di Indonesia
e. Pancasila sebagai perjanjian luhur Indonesia
f. Pancasila sebagai pandangan hidup yang mempersatukan bangsa
Indonesia
g. Pancasila sebagai cita-cita dan tujuan bangsa Indonesia
h. Pancasila sebagai moral pembangunan
i. Pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila

9
Filsafat Pancasila Sebagai Pandangan Hidup Bangsa Indonesia
adalah kristalisasi dari nilai-nilai yang dimiliki bangsa itu sendiri, yang
diyakini kebenarannya dan menimbulkan tekad pada bangsa itu untuk
mewujudkannya menjadi negara yang sejahtera (Wellfare State).
3.1.3. Pancasila Sebagai Filsafat Hidup Bangsa
Secara etimologis istilah “filsafat” atau bahasa Inggrisnya disebut
“philosophi” berasal dari bahasa Yunani “philien” (cinta) dan “sophos”
(hikmah/kearifan) atau bisa juga diartikan “cinta kebijaksanaan”. Filsuf
adalah pencinta pandangan tentang kebenaran (vision of truth). Dalam
pencarian dan menangkap pengetahuan mengenai ide yang abadi dan
tak berubah. peninjauan dalam diri yang bersifat reflektif atau berupa
perenungan terhadap azas-azas dari kehidupan adil dan bahagia.
Pancasila adalah dasar Filsafat Negara Republik Indonesia yang secara
resmi disahkan oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 dan tercantum
dalam UUD 1945, dundangkan dalam Berita Negara Republik
Indonesia tahun II No. 7 bersama dengan UUD 1945.
Pancasila adalah jiwa dan seluruh rakyat Indonesia, kepribadian
bangsa Indonesia, pandangan bangsa Indonesia dan dasar negara. Di
samping menjadi tujuan hidup bangsa Indonesia, pancasila juga
merupakan kebudayaan yang mengajarkan bahwa hidup manusia akan
mencapai puncak kebahagian jika dapat dikembangkan keselarasan dan
keseimbangan, baik dalam hidup manusia sebagai pribadi, sebagai
makhluk sosial dalam mengejar hubungan dengan masyarakat, alam,
Tuhannya maupun dalam mengejar kemajuan lahiriah dan kebahagiaan
rohaniah. Oleh karena itu, kita perlu memahami, mengahyati dan
mengamalkan pancasila dalam segi kehidupan. Tanpa upaya itu,
Pancasila hanya akan menjadi rangkaian kata-kata indah rumusan yang
beku dan mati serta tidak mempunyai arti bagi kehidupan bangsa kita.
Pancasila yang dimaksud disini adalah pancasila yang dirumuskan
dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang terdiri dari 5 sila
dan penjabarannya tidak dapat dipahmi secara terpisah melainkan satu
kesatuan.

10
Sangatlah wajar jika pancasila dikatakan sebagai filsafat hidup
bangsa kerena
1. Kesadaran ketuhanan dan kesadaran keagamaan secar sederhana.
2. Kesadaran kekeluargaan, dimana cinta dan keluarga sebagai dasar
dan kodrat terbentuknya masyarakat dan sinambungnya generasi.
3. Kesadaran musyawarah mufakat dalam menetapkan kehendak
bersama.
4. Kesadaran gotong royong, tolong mtnolong.
5. Kesadaran tenggang rasa, atau tepa selira, sebagai semangat
kekeluargaan dan kebersamaan, hormat dan memelihara kesatuan,
saling pengertian demi keutuhan, kerukunan dan kekeluargaan
dalam kebersamaan.
Itulah yang termaktub dalam Pancasila dengan 36 butir-butirnya.
Dengan begitu, pada dasarnya Indonesia telah melaksanakan Pancasila,
walaupun sifatnya masih merupakan kebudayaan. Nilai-nilai yang
terkandung dalam Pancasila tersebut sudah abad-abad lamanya
mengakar pada kehidupan bangsa indonesia, kerena itu pancasila
dijadikan serbagai falsafah hidup bangsa.
3.2 Hakikat Pancasila Sebagai Ideologi Terbuka
Sebagai suatu ideologi yang menjadi pengawal dan pengarah perjalanan
hidup bangsa Negara Republik Indonesia. Pancasila tentu tidak boleh berubah
jati dirinya menjadi sebuah ideologi yang bersifat tertutup yaitu seperti agama
karena sangat membahayakan bangsa dan negara. Oleh karena itulah, ideologi
Pancasila harus tetap menjadi suatu ideologi yang bersifat terbuka dan
dinamis.
Suatu ideologi dikatakan terbuka dan dinamis yaitu apabila suatu
ideologi tersebut bisa dan dapat menerima dan mengembangkan pemikiran-
pemikiran baru atau dengan kata lain dapat menerima penafsiran baru tanpa
harus takut kehilangan jati dirinya. Pemikiran-pemikiran baru tersebut tentu
harus tetap berada dalam koridor serta tidak bertentangan dengan nilai
dasarnya. Ideologi yang seperti inilah yang dapat kita sebut sebagai ideologi
yang bersifat demokratis. Dalam kedudukannya sebagai ideologi yang

11
bersifat demokratis, Pancasila tentu harus bisa menerima pemikiran atau
penafsiran baru dalam rangka pengembangannya agar nilai-nilai dasar yang
terkandung di dalamnya agar bisa terwujud secara optimal. Pancasila
disamping menerima penafsiran atau pemikiran baru, tentu juga harus mampu
mendorong penafsiran-penafsiran atau pemikiran baru agar selalu terjaga
kerelevanannya dengan perkembangan zaman. Karena apabila suatu ideologi
tidak dapat menerima atau mendorong suatu pemikiran atau penafsiran baru,
maka ideologi yang seperti itulah disebut sebagai ideologi tertutup.
Sebagai ideologi yang bersifat terbuka dan dinamis, nilai-nilai dasar
yang terkandung dalam Pancasila tentu bersifat abadi, tetapi dalam
pengaplikasian atau penjabarannya harus bersifat dinamis sesuai dengan
perkembangan dan dinamika masyarakat Indonesia. Pancasila sebagai
ideologi yang bersifat terbuka dan dinamis tentu bisa menerima atau
mengakomodasi pemikiran/penafsiran yang berasal dari luar sepanjang tidak
bertentangan dengan nilai dasarnya tersebut karena hal itu dapat memperkaya
tata kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara.
1. Asal Mula Pancasila sebagai Ideologi Terbuka dan Dinamis
Pada berbagai kesempatan tentu kita bertanya-tanya darimana Istilah
Pancasila sebagai ideologi terbuka itu muncul?. Istilah Pancasila sebagai
ideologi terbuka muncul dari:
a. Penjelasan Umum UUD 1945
1. Terutama bagi negara baru dan negara muda, lebih baik hukum dasar
yang tertulis itu hanya memuat aturan-aturan pokok, sedang aturan-
aturan yang menyelenggarakan aturan pokok itu diserahkan kepada
Undang-Undang yang lebih mudah caranya membuat, mengubah
dan mencabut.
2. Yang sangat penting dalam pemerintahan dan dalam hidup negara
ialah semangat, semangat para penyelenggara negara, semangat para
pemimpin pemerintahan”.
b. Dikemukakan oleh Presiden Soeharto
1. Pada tanggal 10 Nopember 1986 dalam acara pembukaan Penataran
Calon Manggala BP-7 Pusat.

12
2. Pada tanggal 16 Agustus 1989 dalam pidato kenegaraan 1989
sebagai berikut:
Itulah sebabnya, beberapa tahun lalu saya kemukakan, bahwa
pancasila adalah ideologi terbuka, maka kita dalam mengembangkan
pemikiran baru yang tegar dan kreatif untuk mengamalkan Pancasila
dalam menjawab perubahan dan tantangan zaman yang terus
bergerak dinamis, yakni:
(1) Nilai-Nilai dasar Pancasila tidak boleh berubah.
(2) Pelaksanaannya kita sesuaikan dengan kebutuhan dan tantangan
nyata yang kita hadapi dalam tiap kurun waktu.
2. Ciri-Ciri Pancasila Sebagai Ideologi Terbuka dan Dinamis
Sebagai ideologi yang bersifat terbuka dan dinamis, Pancasila jelas
memiliki berbagai ciri-ciri sehingga ia dikatakan sebagai ideologi terbuka dan
dinamis. Ciri-ciri tersebut antara lain:
a) Bahwa nilai-nilai dan cita-citanya tidak berasal dari luar melainkan digali
dan diambil dari moral dan budaya masyarakat itu sendiri.
b) Dasarnya bukan keyakinan ideologis sekelompok orang melainkan hasil
musyawarah dari konsensus masyarakat tersebut.
c) Bahwa ideologi itu tidak diciptakan oleh negara melainkan digali dan
ditemukan dalam masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu masyarakatlah
yang memiliki ideologi Pancasila.
3. Faktor yang Mendorong Pemikiran Mengenai Keterbukaan dan Kedinamisan
Ideologi Pancasila
Menurut Moerdiono, terdapat beberapa faktor yang mendorong
pemikiran mengenai keterbukaan ideologi Pancasila. Faktor-faktor tersebut
antara lain sebagai berikut :
a Dalam proses pembangunan nasional berencana, dinamika masyarakat
Indonesia berkembang amat cepat. Dengan demikian tidak semua persoalan
hidup dapat ditemukan jawabannya secara ideologis dalam pemikiran
ideologi-ideologi sebelumnya.
b Kenyataan bangkrutnya ideologi tertutup seperti Marxisme-
Leninisme/Komunisme. Dewasa ini kubu Komunisme dihadapkan pada

13
pilihan yang amat berat, menjadi suatu ideologi terbuka atau tetap
mempertahankan ideologi lama.
c Pengalaman sejarah politik kita sendiri dengan pengaruh Komunisme sangat
penting. Karena pengaruh ideologi Komunisme yang pada dasarnya bersifat
tertutup, Pancasila pernah merosot menjadi ancaman dogma yang kaku.
Pancasila tidak lagi tampil sebagai acuan bersama, melainkan sebagai
senjata konseptual untuk menyerang lawan-lawan politik. Kebijaksanaan
pemerintah pada saat itu menjadi absolut. Konsekuensinya, perbedaan-
perbedaan menjadi alasan untuk secara langsung dicap sebagai anti
Pancasila.
d Tekad kita untuk menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sebagai catatan, istilah
Pancasila sebagai satu-satunya asas telah dicabut berdasarkan Ketetapan
MPR tahun 1999. Namun, pencabutan ini kita artikan sebagai pengembalian
fungsi utama Pancasila sebagai dasar negara. Dalam kedudukannya sebagai
dasar negara, Pancasila harus dijadikan jiwa bangsa Indonesia dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama dalam pengembangan
Pancasila sebagai ideologi terbuka. Di samping itu, ada faktor lain, yaitu
tekad bangsa Indonesia untuk menjadikan Pancasila sebagai alternatif
ideologi dunia.
4. Nilai-Nilai yang Terdapat Dalam Pancasila Sebagai Ideologi Terbuka dan
Dinamis
Sebagai ideologi terbuka dan dinamis, Pancasila jelas mampu
menyelesaikan berbagai masalah yang melanda bangsa ini. Namun
bagaimanapun baiknya atau mampunya ideologi menyelesaikan berbagai
masalah tersebut tanpa didukung sumber daya yang memiliki keinginan, baik
pemerintah beserta rakyat maka hal tersebut hanya menjadi angan-angan saja.
Penjabaran ideologi Pancasila ini jelas bersifat fleksibel dan bukan
bersifat doktrin seperti yang terjadi pada zaman Orde Baru. Hal ini ditunjang
oleh eksistensi ideologi Pancasila yang memang sejak dahulu digulirkan oleh
para pendiri bangsa dan telah melalui pemikiran-pemikiran yang mendalam

14
sebagai hasil kristalisasi dari nilai-nilai bangsa Indonesia sendiri. Fleksibilitas
ideologi Pancasila ini ada karena mengandung nilai-nilai sebagai berikut:
1) Nilai-nilai Dasar
Nilai dasar yang dimaksud disini yaitu nilai yang terkandung dalam
kelima butir sila yang ada dalam Pancasila. Nilai dasar ini merupakan suatu
hakikat dari sila-sila Pancasila yang bersifat universal yang didalam nilai
tersebut mengandung tujuan, cita-cita dan nilai yang baik dan benar. Nilai-
nilai ini sebagaimana kita ketahui jelas tertuang dalam Pembukaan UUD
1945. Jadi tidaklah keliru Pembukaan UUD 1945 merupakan suatu norma
dasar yang menjadi sumber hukum tertinggi dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara. Nilai-nilaiyang terdapat dalam Pembukaan UUD 1945 itulah
kemudian dijabarkan dalam berbagai Pasal-pasal UUD 1945 yang mengatur
lembaga-lembaga negara, hubungan antar penyelenggara negara disertai tugas
dan wewenangnya.
2) Nilai Instrumental
Nilai ini merupakan suatu bentuk penjabaran lebih lanjut dari nilai-nilai
dasar Ideologi Pancasila agar lebih bersifat kekinian dan sesuai dengan
tuntutan zaman. Bentuk-bentuk penjabaran nilai ini adalah dalam bentuk
kebijakan, arahan, strategi, ssasaran serta lembaga pelaksanaannya. Contoh
nilai ini yaitu: Undang-Undang, Keppres, Peraturan Pemerintah dll.
3) Nilai Praksis
Nilai praksis ini merupakan penjabaran nilai instrumental secara lebih
konkret dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan adanya
pengamatan praksis ini maka akan diketahui apakah penjabaran nilai
Pancasila ini sudah sesuai atau tidak dengan perkembangan zaman, IPTEK
dan dinamika masyarakat.
Walaupun ideologi Pancasila bersifat terbuka dan dinamis, tentu ada
beberapa hal atau batas-batas yang tidak boleh dilanggar antara lain:
a. Stabilitas nasional yang dinamis.
b. Larangan terhadap Ideologi Marxisme, Leninisme, Komunisme.
c. Mencegah berkembangnya paham liberal.
d. Paham Atheisme.

15
e. Larangan terhadap pandangan ekstrim yang menggelisahkan masyarakat
f. Penciptaan norma-norma baru yang harus melalui konsensus di
masyarakat.
5. Dimensi-Dimensi Pancasila Sebagai Ideologi Terbuka dan Dinamis
Dalam ideologi tertutup, cita-cita merupakan kehendak sekelompok
orang saja, dipaksakan, bersifattotaliter, serta meniadakan pluralisme. Isi
ideologi tertutup tidak hanya nilai-nilai dan cita-cita saja, tetapi juga tuntutan
konkret dan operasional yang kurang mutlak. Menurut Alfian, Pancasila
memenuhi syarat sebagai ideologi terbuka dan dinamis sebab nilai-nilai
yang terkandung dalam Pancasila mengandungtiga dimensi. Ketiga dimensi
dalam Pancasila adalah sebagai berikut :
1. Dimensi Realitas
Bahwa nilai-nilai ideologi itu bersumber dari nilai-nilai riil yang
hidup didalam masyarakat Indonesia. Nilai-nilai itu benar-benar telah
dijalankan, diamalkan, dan dihayati sebagai nilai dasar bersama. Kelima
nilai dasar Pancasila itu kita temukan dalam suasana atau pengamalan
kehidupan masyarakat bangsa kita yang bersifat kekeluargaan,
kegotongroyongan, atau kebersamaan.
2. Dimensi Idealitas
Bahwa suatu ideologi perlu mengandung cita-cita yang ingin
dicapai dalam berbagai bidang kehidupan. Ideologi tidak sekedar
mendeskripsikan atau menggambarkan hakikat manusia dan
kehidupannya, namun juga memberi gambaran ideal masyarakat sekaligus
memberi arah pedoman yang ingin dituju oleh masyarakat tersebut.
3. Dimensi Fleksibilitas
Bahwa ideologi memiliki keluwesan yang memungkinkan untuk
pengembangan pemikiran-pemikiran baru yang relevan tentang dirinya
tanpa menghilangkan atau mengingkari hakikat dan jati diri yang
terkandung dalam nilai-nilai dasarnya. Dimensi fleksibilitas suatu ideologi
hanya mungkin dimiliki oleh ideologi terbuka ‘demokratis’ karena
disinilah relevansi kelebihannya untuk mengembangkan pemikiran-
pemikiran baru yang terkandung dalam nilai-nilai dasar. Pancasila adalah

16
fleksibel karena dapat dikembangkan dan disesuaikan dengan tuntutan
perubahan.
Dari uraian tersebut, ada beberapa ciri-ciri yang membedakan
antara ideologi terbuka dan tertutup, yakni:
No. Ideologi Terbuka Ideologi Tertutup
1 Nilai dan cita-cita sudah Nilai dan cita-cita
hidup dalam masyarakat sekelompok orang yang
mendasari niat dan tujuan
kelompoknya
2 Hasil musyawarah dan Harus ada yang dikorbankan
konsensus rakyatnya demi ideologi sekelompok
orang
3 Milik seluruh rakyat Loyalitas ideologi yang
sekaligus menjiwai ke kaku
dalam kepribadian
masyarakat
4 Isinya tidak operasional Terdiri atas tuntutan konkret
kecuali diwujudkan dalam dan operasional yang
konstitusi diajukan mutlak
5 Dinamis dan reformis Ketaatan yang mutlak,
kadang bahkan
menggunakan kekuatan dan
kekuasaan

3.3 Kajian Nilai Pancasila Dilihat dari Segi Nilai Statis dan Dinamis
3.3.1. Kajian Nilai Pancasila dari Segi Nilai Statis
Nilai Pancasila yang dipandang sebagai nilai statis dalam hal ini
dapat dimasudkan ke dalam nilai fundamental. Pancasila yang
ditetapkan oleh para pendiri negara memuat nilai-nilai luhur dan
mendalam, yang menjadi pandangan hidup dan dan dasar negara.
Nilai-nilai Pancasila secara bertahap harus benar-benar diwujudkan
dalam perilaku kehidupan negara dan masyarakat.
Di dalam tatanan nilai kehidupan bernegara, ada yang disebut sebagai
nilai dasar, nilai instrumental dan nilai praksis.
Hubungan ketiga nilai tersebut dapat dideskripsikan sebagai berikut:
nilai dasar yang merupakan nilai objektif, positif, intrinsik, dan
transenden itu dikonkretkan menjadi nilai instrumental. Selanjutnya
nilai instrumental diimplementasikan lebih lanjut dalam wujud yang
lebih konkret dan menjadi nilai praksis. Dengan demikian, nilai

17
instrumental dapat dikatakan sebagai dasar perwujudan suatu praksis.
Dalam kehidupan bangsa yang mengacu kepada Pancasila ada
beberapa nilai fundamental yang terkandung di dalamnya seperti; nilai
ideal, nilai material, nilai spiritual, nilai pragmatis, nilai positif, nilai
logis, nilai etis, nilai estetis, nilai sosial dan nilai religius atau
keagamaan. Apabila dari nilai-nilai tersebut dijabarkan ke dalam
rumusan yang terkandung dalam Pancasila, maka dapat dijelaskan
sebagai berikut:
1. Dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa terkandung nilai-nilai religius
antara lain:
a. Keyakinan terhadap adanya Tuhan Yang Maha Esa dengan sifat-
sifatnya Yang Sempurna, yakni Maha Kasih, Maha Kuasa, Maha
Adil, Maha Bijaksana, dan sifat suci lain sebagainya.
b. Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yakni menjalankan
semua perintahNya dan menjauhi segala larangan-Nya.
c. Nilai Sila I ini juga meliputi dan menjiwai sila-sila II, III, IV dan
2. Dalam sila Kemanusiaan yang adil dan beradab terkandung nilai-nilai
kemanusiaan antara lain:
a. Pengakuan terhadap adanya martabat manusia
b. Perlakuan yang adil terhadap sesama manusia
c. Pengertian manusia yang beradab yang memiliki daya cipta, rasa,
dan karsa dan keyakinan sehingga jelas adanya perbedaan antara
manusia dan hewan.
d. Nilai sila II meliputi dan menjiwai sila III, IV dan V.
3. Dalam sila Persatuan Indonesia terkandung nilai persatuan bangsa
antara lain:
a. Persatuan Indonesia adalah persatuan bangsa yang mencakup
seluruh wilayah Indonesia.
b. Persatuan Indonesia adalah persatuan suku-suku bangsa yang
mendiami wilayah Indonesia.

18
c. Pengakuan terhadap ke-“Bhineka Tunggal Ika”-an suku bangsa
(berbeda-beda namun satu jiwa) yang memberikan arah
pembinaan kesatuan bangsa.
d. Nilai sila III meliputi dan menjiwai sila IV dan V.
4. Dalam Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusyarawatan/keadilan terkandung nilai kerakyatan antara
lain:
a. Kedaulatan negara adalah ditangan rakyat
Pemimpin kerakyatan adalah hikmat kebijaksanaan yang
dilandasi oleh akal sehat.
b. Manusia Indonesia sebagai warga negara dan warga masyarakat
Indonesia mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama
Musyawarah dan mufakat dicapai dalam permusyawaratan wakil-
wakil rakyat.
c. Nilai sila IV meliputi dan menjiwai sila V
5. Dalam Sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia terkandung
nilai keadilan sosial antara lain:
a. Perwujudan keadilan sosial dalam kehidupan sosial atau
kemasyarakatan meliputi seluruh rakyat Indonesia
Keadilan dalam kehidupan sosial terutama meliputi bidang-
bidang politik, ideologi, ekonomi, sosial, kebudayaan, dan
pertahanan keamanan nasional
b. Cita-cita masyarakat adil dan makmur secara material dan
spiritual yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia
Keseimbangan antara hak dan kewajiban dan menghormati hak
orang lain
c. Cinta akan kemajuan dan pembangunan
Nilai sila V ini diliputi dan dijiwai sila I,II,III dan IV.

19
3.3.2. Kajian Nilai Pancasila dari Segi Nilai Dinamis
Nilai Pancasila yang dipandang sebagai nilai dinamis dalam hal ini
dapat dimasudkan ke dalam nilai instrumental. Nilai dasar tidak berubah
dan tidak boleh diubah lagi. Betapapun pentingnya nilai dasar yang
tercantum dalam pembukaan UUD 1945 itu, sifatnya belum operasional.
Artinya kita belum dapat menjabarkannya secara langsung dalam
kehidupan sehari-hari. Penjelasan UUD 1945 sendiri menunjuk adanya
undang-undang sebagai pelaksanaan hukum dasar tertulis itu. Nilai-nilai
dasar yang terkandung dalam pembukaan UUD 1945 itu memerlukan
penjabaran lebih lanjut. Penjabaran itu sebagai arahan untuk kehidupan
nyata. Penjabaran itu kemudian dinamakan Nilai Instrumental.
Nilai Instrumental harus tetap mengacu kepada nilai-nilai dasar yang
dijabarkannya Penjabaran itu bisa dilakukan secara kreatif dan dinamis
dalam bentuk-bentuk baru untuk mewujudkan semangat yang sama dan
dalam batas-batas yang dimungkinkan oleh nilai dasar itu. Berikut adalah
contoh dari nilai instrumental beserta pasal-pasal yang mendukung:
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
Pasal 29
a. Negara Berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa.
b. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk
agamanya masing-masing untuk beribadat menurut agamanya dan
kepercayaannya itu.
Contoh : Indonesia beragam macam kepercayaan namun saling
toleransi antar umat beragama.
2. Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab
Pasal 26
a. Yang menjadi warga Negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli
dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang
sebagai warga Negara.
b. Penduduk ialah warga Negara Indonesia yang bertempat tinggal di
Indonesia
c. Hal-hal yang mengenai warga Negara dan penduduk diatur dengan
undang-undang.

20
Pasal 27
a. Segala warga Negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan
peerintahan dan wajib mejunjung hukum dan pemerintahan itu tidak
ada kecualinya.
b. Tiap-tiap warga Negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang
layak bagi kemanusiaan.
c. Setiap warga Negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya
pembelaan hukum.
Pasal 28

Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan


lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan Undang-Undang.
Pasal 30
a. Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha
pertahanan dan keamanan negara.
b. Usaha pertahanan dan keamanan negara dilaksanakan melalui sistem
pertahanan dan keamanan rakyat semesta oleh Tentara Nasional
Indonesia dan Kepolitikisian Negara Republik Indonesia, sebagai
kekuatan utama, dan rakyat, sebagai kekuatan pendukung.
c. Tentara Nasional Indonesia terdiri atas Angkatan Darat, Angkatan Laut,
dan Angkatan Udara sebagai alat negara bertugas mempertahankan,
melindungi, dan memelihara keutuhan dan kedaulatan negara.
d. Kepolitikisian Negara Republik Indonesia sebagai alat negara yang
menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat bertugas melindungi,
mengayomi, melayani masyarakat, serta menegaraakkan hukum.
Pasal 31

a. Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.


b. Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah
wajib membiayainya.
c. Pemerintah mengusahakan dan menegaraakkan satu sistem pendidikan
nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak
mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur

21
dengan undang-undang.
d. Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua
puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari
anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan
penyelenggaraan pendidikan nasional.
e. Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan
menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk
kemajuan peradaban serta kesatuanejahteraan umat manusia.
Contoh :

1. Kesejahteraan rakyat terjamin oleh pemerintah sehingga tak ada kalimat


“yang kaya semakin kaya yang miskin semakin miskin”. Semisal dana
bantuan langsung tunai harusnya pembagiannya pun sama rata dan
tidak adanya “salah alamat” maksudnya yang mendapatkan dana ini
pun masyarakat yang memang benar-benar harus mendapatkan.
2. Pendidikan yang harus dipenuhi sekarang menjadi tntangan tersendiri
bagi bangsa ini. Di daerah dalam-dalam seperti NTT harus diperhatikan
dunia kependidikannya. Tidak hanya dikota saja yang direalisasikan
namun di dalam pedesaan pun harus ada kemajuan.
3. Persatuan Indonesia
Pasal 1
a. Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan, yang berbentuk Republik.
b. Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-
Undang Dasar
c. Negara Indonesia adalah negara hukum.
Pasal 32
Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban
dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan
mengembangkan nilai-nilai budayanya.
Pasal 35
Bendera Negara Indonesia ialah Sang Merah Putih.
Pasal 36
Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia.

22
Pasal 36A
Lambang Negara ialah Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka
Tunggal Ika.
Pasal 36B
Lagu Kebangsaan ialah Indonesia Raya.
Pasal 36C
Ketentuan lebih lanjut mengenai Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara,
serta Lagu Kebangsaan diatur dengan undang-undang.
Contoh :
1. Nasionalisme yang tercipta di setiap individu atau personality akan
membuka pintu kesatuan bagi bangsa Indonesia dan terhindar dari
perpecahan.
2. Gotong royong antar warga dapat meningkatkan rasa solidaritas
maupun rasa nasionalisme secara otomatis.
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebikjasanaan dalam
permusyawaratan perwakilan
Pasal 1: 2
Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-
Undang Dasar.
Pasal 5
Presiden berhak mengajukan rancangan undang-undang kepada Dewan
Perwakilan Rakyat.
Presiden menetapkan peraturan pemerintah untuk menjalankan undang-
undang sebagaimana mestinya.
Contoh :
Rakyat yang berdaulat adil dan makmur akan terlaksana jika perundang-
undangan di Indonesia pun berjalan sesuai ranahnya. Sehingga
penempatan “Wakil Rakat” pun tepat pada sasaran. Maksutnya memang
mereka pada ranah untuk kesejahteraan rakyat bukan dari diri sendiri
untuk diri sendiri tetapi dsri diri sendiri untuk rakyat Indonesia.

23
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Pasal 27

a. Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan


pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan
tidak ada kecualinya.
b. Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak
bagi kemanusiaan.
c. Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan
negara.
Pasal 34

a. Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara.


b. Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan
memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan
martabat kemanusiaan.
c. Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan
dan fasilitas pelayanan umum yang layak.
d. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam
undang-undang.
Contoh :

1. Keadilan yang merata bagi rakyat


2. Fasilitas kesehatan yang memadai
3. Fasilitas pelayanan umum memadai

24
BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
1. Seperti berbagai ilmu yang lain pengetahuan Pancasila juga bersifat ilmiah.
Pancasila itu dapat kita sebut sebagai pengetahuan yang bersifat ilmiah jika
memenuhi syarat-syarat ilmiah yakni berobjek, bermetode, bersistem, dan
bersifat universal. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila tersebut
sudah abad-abad lamanya mengakar pada kehidupan bangsa Indonesia,
kerena itu pancasila dijadikan serbagai falsafah hidup bangsa.
2. Pancasila sebagai Ideologi terbuka artinya Pancasila senantiasa mampu
berinteraksi secara dinamis, dengan nilai-nilai yang telah berubah, namun
pelaksanaannya disesuaikan dengan kebutuhan dan tantangan nyata yang
kita hadapi dalam setiap waktu, hal ini dimaksudkan untuk menegaskan
bahwa ideologi bersifat aktual, dinamis, antisifatif dan senantiasa mampu
menyesuaikan diri dengan perkembangan Zaman, ilmu pengetahuan dan
teknologi serta dinamika perkembangan aspirasi masyarakat.
3. Pancasila sebagai ideologi negara Indonesia tentu bersifat terbuka dan
dinamis yaitu membuka diri dengan caramenerima pemikiran atau
penafsiran baru sepanjang tidak bertentangan dengan nilai dasarnya agar
selalu terjaga kerelevanannya dengan perkembangan bangsa dan negara
Indonesia. Keterbukaan dan kedinamisan ideologi Pancasila ini ditandai
dengan : (1)Bahwa nilai-nilai dan cita-citanya tidak berasal dari luar
melainkan digali dan diambil dari moral dan budaya masyarakat itu sendiri,
(2) Dasarnya bukan keyakinan ideologis sekelompok orang melainkan
hasil musyawarah dari konsensus masyarakat tersebut (3)Bahwa ideologi itu
tidak diciptakan oleh negara melainkan digali dan ditemukan dalam
masyarakat itu sendiri.

25
DAFTAR PUSTAKA

Arry, Andik. 2014. Pancasila Sebagai Filsafat Hidup Bangsa & Sebagai Filsafat
Pendidikan Nasional. (Diakses dari
http://andicvantastic.blogspot.com/2013/10/makalah-pancasila-sebagai-
filsafat.html, pada 26 Januari 2015).

Aula, Harfian Ahdi. 2012. Pancasila Sebagai Ideologi Terbuka Dan Dinamis.
(Diakses dari http://harfian17.blogspot.com/2012/04/normal-0-false-false-
false-en-us-x-none.html, pada 27 Januari 2015).

Bambang Priyo Sukonto.(2006). Panduan Belajar Kewarganegaraan untuk SMA


kelas 12. Jogyakarta: Primagama.

Fina. (2006). Pendidikan Kewarganegaraan untuk SMK Kelas


3.solo:Putra Kertonatan.

Rinida. 2013. Nilai Dasar Pncasila. (Diakses dari


http://rininda.blogspot.com/2013/03/nilai-dasar-pancasila.html, pada 28
Januari 2015).

Rochimudin. 2014. Perbedaan Ideologi Terbuka dan Ideologi Tertutup. (Diakses


dari http://belajarnegara.blogspot.com/2013/03/perbedaan-ideologi-terbuka-
dan-ideologi_2996.html, pada 27 Januari 2015).

Saputra, G. P. Wira. 2011. Pengetahuan Pancasila adalah Pengetahuan Ilmiah. (Diakses


dari https://wirasaputra.wordpress.com/2011/04/26/pengetahuan-pancasila-
adalah-pengetahuan-ilmiah/, pada 26 Januari 2015).

Suprapto.(2005). Kewarganegaraan untuk SMA Kelas XI. Jakarta: Bumi Aksara.

26