Anda di halaman 1dari 29

TEKNIK DAN SISTEM SILVIKULTUR

DALAM PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI

A. PENDAHULUAN

Dalam beberapa dasawarsa terakhir terjadi perubahan besar dalam perkembangan profesi
kehutanan. Hal ini terutama disebabkan oleh perubahan dalam pandangan masyarakat
kehutanan terutama institusi yang berwenang, lembaga-lembaga non profit yang peduli
pada kelestarian lingkungan maupun para pelaku bisnis kehutanan, yang memasuki era
baru dalam menyusun maupun mengaplikasikan visi dan misi pengelolaan hutan.

Beberapa tahun terakhir telah lahir suatu pemahaman yang lebih serius bahwa hutan
sebagai salah satu sumber daya alam, tidak hanya berfungsi produksi, tetapi juga memiliki
fungsi konservasi maupun fungsi lindung, yang harus dikelola secara lestari. Dengan
demikian telah muncul paradigma baru bahwasanya pengelolaan hutan sebagai
sumberdaya alam harus dilakukan secara “bijaksana”.

Perubahan paradigma ini merupakan suatu perkembangan yang sangat menggembirakan


di tengah kondisi hutan yang sudah semakin menurun kualitas maupun kuantitasnya.
Keadaan ini memerlukan generasi silvikulturis baru yang berpengetahuan luas dan terampil
dalam berbagai hal, yang dapat menduga dengan cermat kemungkinan hasil dari berbagai
alternative perlakuan tegakan dan yang dapat mengembangkan kaidah-kaidah silvikultur
yang selaras dengan kendala-kendala fisiologis, ekologis, pengelolaan dan sosial, maupun
langkah-langkah pengawasan dan pengendaliannya. Hal ini hanya dapat dikerjakan oleh
personil-personil yang menguasai prinsip-prinsip silvikultur dengan baik.

Sesuai dengan ketentuan yang berlaku, telah diatur bahwa kawasan hutan di Indonesia
terbagi sesuai fungsinya, yaitu hutan konservasi, hutan lindung dan hutan produksi.

Menyesuaikan dengan pertimbangan Kepala Pusat Pendidikan Pelatihan Kehutanan dalam


Keputusan nomor SK.43/Dik-2/2009 bahwasanya pelatihan ini dipersiapkan untuk
peningkatan kemampuan para tenaga pengawas pembinaan pemanfaatan hutan produksi,
maka materi pelatihan Mata Pelajaran Teknik dan Sistem Silvikultur ini lebih difokuskan
pada teknik dan sistem silvikultur pada Hutan Produksi.

Page 1 of 29
B. DEFINISI / PENGERTIAN

1. Silvikultur

Secara umum, silvikultur dapat diartikan sebagai suatu ilmu dan seni untuk mengelola
tegakan hutan melalui kegiatan yang berhubungan dengan aktifitas pembangunan dan
pengendalian pertumbuhan, struktur dan komposisi serta kualitas tegakan sesuai
dengan tujuan pengelolaan hutan yang ditetapkan.

Secara ringkas, silvikultur dapat diartikan sebagai :


- Seni untuk membangun hutan
- Penerapan pengetahuan dan perlakuan silvika terhadap hutan
- Teori dan praktek pengendalian dalam pembangunan hutan

Berdasarkan pengertian tersebut, maka peran manusia dalam kegiatan pengelolaan


hutan melalui tindakan silvikultur akan sangat besar pengaruhnya untuk membentuk
dan mengarahkan tujuan pengelolaan hutan sehingga hutan dapat memberikan hasil
yang maksimal berdasarkan fungsinya, baik fungsi konservasi, fungsi lindung maupun
fungsi produksi. Banyak bidang ilmu yang terlibat dalam seni membangun hutan,
misalnya ilmu budidaya, tanah, pemuliaan, fisiologi, konservasi, hama penyakit dan
sebagainya. Disiplin ilmu lain juga memegang peran penting, diantaranya adalah
perencanaan, ekonomi dan manajemen hutan.

2. Sistem Silvikultur

Sistem silvikultur merupakan suatu proses dan kaidah dalam membangun hutan yang
merupakan suatu siklus yang terdiri dari rangkaian kegiatan yang berurutan dan saling
berkaitan antara satu dengan lainnya (penyiapan lahan, penanaman, pemeliharaan,
penjarangan, pemanenan dll.) untuk mencapai tujuan tertentu dalam pengelolaan
hutan.

Society of American Foresters dalam Suhendang (2008) mendefinisikan bahwa sistem


silvikultur sebagai suatu rangkaian perlakuan yang terencana terdiri atas
pemeliharaan, pemanenan, dan pembangunan kembali dari suatu tegakan.

Page 2 of 29
Di dalam Pedoman dan Petunjuk Teknis Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI)
sebagaimana tertuang dalam Keputusan Direktur Jenderal Pengusahaan Hutan
Nomor 151/Kpts/IV-BPHH/1993, sistem silvikultur diartikan sebagai kegiatan
berencana mengenai pengelolaan hutan yang meliputi penebangan, peremajaan dan
pemeliharaan tegakan hutan guna menjamin kelestarian produksi kayu atau hasil
hutan lainnya. Sementara itu, dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor
P.11/Menhut-II/2009 tentang Sistem Silvikutlur dalam Areal Ijin Usaha Pemanfaatan
Kayu pada Hutan Produksi, sistem silvikultur didefinisikan sebagai sistem pemanenan
menurut tapak/tempat tumbuh berdasarkan formasi terbentuknya hutan, yaitu proses
klimatis dan edaphis dan tipe-tipe hutan yang terbentuk dalam rangka pengelolaan
hutan lestari atau sistem teknik bercocok tanaman hutan mulai dari memilih benih
atau bibit, menyemai, menanam, memelihara tanaman dan memanen.

Dengan penjelasan tersebut, maka dapat diartikan bahwa sistem silvikultur merupakan
salah satu bagian yang memegang peran penting (sub sistem) dalam sistem
pengelolaan hutan.

Sistem silvikultur dapat dibedakan berdasarkan siklus, klas umur, metode regenerasi
serta sistem pemanenannya (Manan, 1995), dengan perincian sebagai berikut :

a. Menurut siklus penebangannya, yaitu :


1) Sistem Polycyclic yaitu jumlah penebangan yang lebih dari satu kali selama
rotasi, contohnya sistem TPTI.
2) Sistem Monocyclic yaitu jumlah penebangan yang hanya sekali dalam satu
rotasi, contohnya sistem THPB dan sistem THPA.

b.Menurut banyaknya klas umur tegakan, yaitu :


1) Even-age
2) Uneven-age

c. Menurut metoda regenerasi tegakannya, yaitu :


1) Clear cutting seed tree
2) Shelter wood
3) Selection
4) Coppice

Page 3 of 29
d. Menurut sistem pemanenannya, yaitu :
1) Tebang pilih
2) Tebang habis
3) Tebang rumpang
4) Tebang jalur

C. PRINSIP-PRINSIP, ASPEK TEKNIS DAN PERENCANAAN SILVIKULTUR

Tujuan pemilihan dan penerapan sistem silvikultur pada hutan produksi adalah
diperolehnya hutan yang secara ekologis sehat dengan struktur tegakan yang stabil, agar
dapat menghasilkan produktivitas hutan yang tinggi, baik kuantitas maupun kualitasnya
secara berkelanjutan, dengan mempertimbangkan fungsi perlindungan dan sosial yang
optimal sesuai kebutuhan masyarakat, modal kapital dan tenaga kerja.

Sistem silvikultur yang dipilih dan diterapkan harus memenuhi 4 (empat) prinsip yang
merupakan satu kesatuan utuh, meliputi :

1. Kesesuaian dengan karakteristik sumberdaya hutan dan lingkungannya


2. Pertimbangan yang lengkap dan menyeluruh terhadap nilai-nilai sumberdaya hutan
3. Pertimbangan biaya dan manfaat ekonomi
4. Kesesuaian dengan tujuan pengelolaan sumberdaya hutan

Yang dimaksud dengan teknik silvikultur adalah teknik atau perlakuan yang diterapkan
tehadap hutan yang bertujuan untuk mempertahankan dan meningkatkan produktifitas
hutan. Perlakuan-perlakuan silvikultur tersebut dapat dilakukan pada berbagai aktifitas
pengelolaan hutan, misalnya pada kegiatan permudaan, pemeliharaan, penjarangan, serta
pemanenan hasil.

Dalam Soekotjo (2009), dijelaskan bahwa tujuan teknik silvikultur dapat digolongkan ke
dalam 3 program, sbb. :

a. Program pengendalian yang mencakup pengendalian struktur, kerapatan, pertumbuhan


dan rotasi serta kombinasi dari 3 (tiga) elemen silvikultur (spesies dengan pemuliaan,
manipulasi lingkungan dan pengendalian hama terpadu).

Page 4 of 29
b. Program proteksi yang mencakup : 1) Proteksi tempat tumbuh – yang mengupayakan
agar tanah selalu tertutup oleh vegetasi, tanah tetap stabil, dan kesuburan lahan dapat
dipertahankan; 2) Proteksi pohon dari serangan hama, penyakit dan kerusakan
mekanis.

c. Program pelayanan meliputi : pemungutan,pengelolaan dan pemanfaatan.

Secara terperinci, teknik silvikultur dapat diterapkan dalam berbagai tahap kegiatan,
diantaranya :
a. Pemilihan jenis tanaman
b. Perbenihan
c. Persemaian (Nursery)
d. Seleksi dan pengangkutan bibit
e. Penyiapan lahan
f. Penanaman
g. Pemeliharaan tanaman
h. Pemberantasan gulma
i. Pemupukan
j. Seleksi dan Penjarangan
k. Pengendalian hama dan penyakit
l. Perlindungan tanaman

Persyaratan-persyaratan dalam memilih teknik silvikultur menurut Sabarnurdin, Budiadi


dan Widiyatno (2008), didasarkan pada hal-hal sebagai berikut:
a. Persyaratan ekologi jenis tanaman
b. Kondisi sumber benih alamiah
c. Pengaruh pemanenan terhadap fauna dan flora
d. Tipe dan kedalaman lapisan tanah
e. Aspek kelerengan
f. Sumber dan potensi penyebab kerusakan hutan
g. Harapan masyarakat tentang manfaat yang diperoleh dari hutan
h. Aspek Ekonomi
i. Tujuan pengelolaan jangka panjang

Page 5 of 29
Perlakuan teknik silvikultur yang akan diterapkan, sangat tergantung dari sistem silvikultur
yang dipergunakan dan tujuan pengelolan hutan yang akan dicapai, sehingga teknik
silvikultur dari suatu sistem silvikultur akan berbeda, baik sebagian atau seluruhnya,
dengan teknik silvikultur pada suatu sistem silvikultur lainnya.

Dalam menetapkan sistem silvikultur mana yang akan dipilih, terlebih dahulu harus
dipahami bahwa kondisi hutan alam produksi yang dikelola adalah berbeda-beda, antara
lain berupa : areal hutan perawan ( virgin forest), areal hutan bekas tebangan (logged over
area), areal hutan bekas kebakaran, areal hutan bekas pencurian dan areal hutan
perladangan.

Dengan kata lain, penetapan sistem silvikultur harus didasarkan pada hasil risalah hutan,
yang saat ini sesuai dengan peraturan yang berlaku dikenal sebagai Inventarisasi Hutan
Menyeluruh Berkala (IHMB). Penetapan sistem silvikultur juga harus memperhatikan asas
kelestarian hutan yang mencakup kelangsungan produksi, penyelamatan tanah dan air,
perlindungan alam dan mempertimbangkan pula kondisi lingkungan, keadaan lapangan,
komposisi dari struktur hutan, sifat tumbuh jenis-jenis pohon serta pertimbangan
pengusahaan yang menguntungkan.

Dengan berbekal pemahaman bahwa kondisi hutan alam produksi adalah berbeda-beda
seperti tersebut di atas, kondisi tapak lahan yang berbeda-beda serta prinsip-prinsip yang
harus dipenuhi dalam penetapan sistem silvikultur guna mencapai tujuan pengelolaan
hutan itu sendiri, maka dalam satu areal ijin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu pada
hutan produksi dimungkinkan terdapat beberapa sistem silvikultur yang diterapkan.

D. BEBERAPA PERATURAN TERKAIT PENERAPAN SISTEM SILVIKULTUR DI


INDONESIA

Di Indonesia, sistem silvikultur yang diterapkan mengacu kepada peraturan yang


diterbitkan pemerintah, dalam hal ini Departemen Kehutanan. Beberapa keputusan atau
peraturan yang mengatur tentang penerapan sistem silvikultur, baik yang pernah berlaku
maupun penggantinya yang masih berlaku antara lain :

1. Keputusan Direktur Jenderal Kehutanan No 35/Kpts/DD/1/1972 tentang


Pedoman Tebang Pilih Indonesia, Tebang Habis dengan Penanaman, Tebang
Habis dengan Permudaan Alam dan Pedoman-Pedoman Pengawasannya .

Page 6 of 29
Berdasarkan peraturan dimaksud, sistem silvikultur yang berlaku di Indonesia saat itu
dibagi menjadi :
a. Tebang Pilih Indonesia
b. Tebang Habis dengan Penanaman
c. Tebang Habis Permudaan Alam

2. Keputusan Direktur Jenderal Kehutanan Departemen Pertanian


Nomor 60/Kpts/Dj/I/1978 tentang Pedoman Sistem Silvikultur Hutan Payau

Berdasarkan Pedoman Sistem Silvikultur tersebut, tidak disebutkan secara tegas


urutan waktu kegiatan silvikultur dan petunjuk pelaksanaan kegiatan penjarangan dan
pemanfaatan kayunya, sehingga hal ini mengakibatkan pengelola HPH Hutan payau
selalu berpedoman pada tahapan kegiatan silvikultur hutan darat, yang tidak cocok
dengan kondisi hutan payau.

Adapun tahapan kegiatannya adalah sebagai berikut :

a. Persiapan Sebelum Penebangan


Termasuk didalamnya kegiatan Inventarisasi, Penataan Hutan, Penyusunan
Rencana Kerja dan penunjukkan pohon induk. Tidak disebutkan waktu kegiatan.

b. Penebangan Pohon dan Pengeluaran Kayu


Termasuk didalamnya penentuan batas diameter (10 cm – up), penentuan lebar
jalur hijau (10 m dari sungai dan 50 m dari pantai, jalur hijau ini boleh dibuka
sepanjang untuk TPn/TPK seluas 0,1 ha setiap 10 ha tebangan atau % dari luas
tebangan), penentuan peralatan dan siklus tebang, sistem penebangan dan usaha
pencegahan kerusakan hutan.

c. Pemeliharaan Bekas Tebangan


Termasuk didalamnya kegiatan : Penjarangan (Et + 15, 20), Pembebasan dari
tumbuhan pengganggu (Et + 15, 20), Penanaman tambahan (Et + 2). Untuk
Page 7 of 29
kegiatan penjarangan, tidak disebutkan tatacara pelaksanaannya dan
pemanfaatan kayu hasil penjarangan.

d. Perlindungan Hutan

Direktorat Jenderal Pengusahaan Hutan Produksi sudah menyelenggarakan


konsinyasi selama 2 hari di Bogor, untuk penyempurnaan Pedoman Sistem
Silvikultur Hutan Payau nomor 60 tahun 1978 yang sampai saat ini masih dipakai
sebagai pedoman, dengan kesimpulan tahapan kegiatannya sebagai berikut :

a. Penataan Areal Kerja (PAK) Et – 2


b. Inventarisasi Tegakan Sebelum Penebangan ( ITSP ) Et – 1
c. Penebangan Et
d. Pengayaan Areal Bekas Tebangan ( PABT ) Et + 2
e. Pemeliharaan Tanaman Et + 3, 4
f. Penjarangan Et + 15
g. Perlindungan dan Pengamanan

3. Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 485/Kpts-II/1989 tentang Sistem


Silvikultur Pengelolaan Hutan Alam Produksi di Indonesia.

Keputusan Menhut nomor 485 tahun 1989 ditindaklanjuti dengan Keputusan Dirjen
Pengusahaan Hutan Nomor 564/Kpts/IV-BPHH/1989 tentang Pedoman Tebang Pilih
Tanam Indonesia, yang kemudian disempurnakan dengan Keputusan Dirjen
Pengusahaan Hutan Nomor 151/Kpts/IV-BPHH/1993 tentang Pedoman Tebang Pilih
Tanam Indonesia.

Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 485/Kpts-II/1989, sistem silvikultur


yang diterapkan dalam pengelolaan hutan di Indonesia adalah :

a. Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI)


b. Tebang Habis Permudaan Buatan (THPB)

Page 8 of 29
c. Tebang Habis Permudaan Alam (THPA)

4. Keputusan Direktur Jenderal Pengusahaan Hutan nomor 40/Kpts/IV-


BPHH/1993 tentang Pedoman Pelaksanaan Uji Coba Tebang Jalur Tanam
Indonesia (TJTI)

Sasaran lokasi uji coba sistem silvikultur tebang jalur adalah pada hutan bekas
penebangan Tebang Pilih Tanam Indonesia yang kondisinya telah rusak, yang rawan
terhadap perambahan, yang tidak cocok untuk sistem THPB dan hutan primer.

5. Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 625/Kpts-II/1998 tentang Sistem


Silvikultur Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) dalam Pengelolaan Hutan di
Indonesia.

Pada intinya Keputusan ini mengatur tentang sistem silvikultur hutan tanah kering
dataran rendah yang meliputi cara tebang pilih dengan batas diameter minimal 40 cm
diikuti dengan permudaan buatan dalam jalur.

6. Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 309/Kpts-II/1999


tentang Sistem Silvikultur dan Daur Tanaman Pokok dalam Hutan Produksi .

Dalam Keputusan Menhutbun nomor 309 tahun 1999, pengelolaan hutan produksi
dilaksanakan pada hutan alam dan hutan tanaman dengan sistem sivikultur :
a. Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI)
b. Tebang Habis dengan Permudaan Buatan (THPB)
c. Tebang Habis dengan Permudaan alam (THPA), dan
d. Tebang Pilih Tanam dalam Jalur (TPTJ)

Daur untuk hutan alam ditetapkan berdasarkan siklus tebangan sedangkan daur untuk
hutan tanaman ditetapkan berdasarkan umur masak tebang. Dalam hal ini umur
masak tebang pengelolaan hutan tanaman ditetapkan berdasarkan kelas perusahaan
atau jenis tanaman pokok dan tujuan akhir pengelolaan (kayu serat atau kayu
perkakas).

Pembatasan / limit diameter tebang pada hutan alam dan siklusnya adalah sebagai
berikut :

Page 9 of 29
Jenis Hutan Alam Siklus Tebangan Limit Diameter
HP : 50 cm up
Darat / Tanah Kering 35 Tahun
HPT : 60 cm up
Rawa 40 Tahun 40 cm up
BBS : 20 Tahun
Payau / Mangrove 10 cm up
Arang : 30 Tahun

7. Keputusan Dirjen Bina Produksi Kehutanan Nomor SK. 226/VI-BPHA/2005


tentang Sistem Silvikultur Tebang Pilih Tanam Indonesia Intensif (TPTII)
dalam Pengelolaan Hutan di Indonesia.

Dalam pelaksanaannya, sistem silvikultur TPTII hanya berlaku bagi pemegang


IUPHHK pada hutan alam yang telah ditunjuk sebagai model TPTII oleh Direktur
Jenderal Bina Produksi Kehutanan. Dalam TPTII diharuskan adanya tanam
pengkayaan pada areal pasca penebangan secara jalur, yaitu 20 m jalur antara dan 3
m dalam jalur tanam, yang dimaksudkan untuk menjamin kelestarian produksi pada
rotasi berikutnya.

8. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.30/Menhut-II/2005 tentang Standar


Sistem Silvikultur pada Hutan Alam Tanah Kering atau Hutan Alam Tanah
Basah/Rawa dalam Pengelolaan Hutan Rawa ( wetland ) di Indonesia.

Penetapan standar sistem silvikultur tersebut di atas dimaksudkan untuk mendorong


pengelola KPHP dan atau pemegang IUPHHK pada hutan alam untuk dapat
melaksanakan kegiatan pengelolaan sumberdaya hutan sesuai dengan karakteristik
sumbedaya hutan dan lingkungannya serta berbasis kinerja.

9. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.11/Menhut-II/2009 tentang Sistem


Silvikultur dalam Areal Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan
Produksi.

Page 10 of 29
Peraturan Menhut nomor P.11 tahun 2009 dimaksudkan untuk mengakomodir
Peraturan Pemerintah nomor 6 tahun 2007 jo nomor 3 tahun 2008, bahwasanya
dalam areal IUPHHK-HA, restorasi ekositem/IUPHHK-RE dan IUPHHK-HT pada
hutan produksi dapat dilakukan dengan satu atau lebih sistem silvikultur, sesuai
dengan karakteristik sumber daya hutan dan lingkungannya. Sistem sivikultur yang
dapat diterapkan dengan konsep multi sistem terdiri dari THPB, THPA, TPTI, Tebang
Rumpang (TR) dan TPTJ.

E. PENERAPAN SISTEM SILVIKULTUR DI INDONESIA

1. Sistem Tebang Pilih

a. Tebang Pilih Indonesia (TPI)

TPI adalah sistem silvikultur yang mengatur tentang cara penebangan dan
permudaan hutan, dan merupakan perpaduan antara :

a. Tebang pilih dengan limit diameter.


b. Tebang pilih Philipina (Selective logging).
c. Penyempurnaan hutan dengan penanaman sulaman (Enrichment planting).
d. Pembinaan permudaan dengan pembebasan dari tumbuhan pengganggu.

Dalam pelaksanaannya, kondisi pengusahaan hutan pada periode tahun 1970-


an titik beratnya pada upaya mendukung Pemerintah dalam usaha
mengumpulkan penerimaan negara dan devisa untuk keperluan Pembangunan
Nasional, dengan orientasi pada kegiatan ekspor kayu bulat sebanyak-
banyaknya.

Pada periode saat itu juga diberlakukan Keputusan Presiden nomor 35 tahun
1980 tenang Dana Jaminan Reboisasi dan Permudaan Hutan areal HPH, yang
pada dasarnya menetapkan bahwa setiap perusahaan HPH wajib melaksanakan
reboisasi dan permudaan hutan pada areal hutannya. Pada periode tersebut
tidak nampak adanya aktivitas yang nyata di lapangan pada masing-masing
HPH dalam pelaksanaan TPI secara benar dan lengkap karena adanya persepsi
pemegang HPH bahwa dengan telah menyetor Dana Jaminan Reboisasi (DJR)

Page 11 of 29
yang pada waktu itu sebesar USD 4 per m3, maka pemegang HPH menganggap
tugas pembinaan tegakan sisa menjadi kewajiban Pemerintah.

b. Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI)

Sistem TPTI merupakan penyempurnaan dari sistem TPI, yang terdiri dari
beberapa tahapan, yaitu Penataan Areal Kerja (PAK), Inventarisasi Tegakan
Sebelum Penebangan (ITSP), Pembukaan Wilayah Hutan (PWH), Penebangan,
Inventarisasi Tegakan Tinggal (ITT), Pembebasan, Penjarangan, Pemeliharaan,
Pengadaan Bibit/Persemaian, Penanaman/Pengayaan, Perlindungan. Sistem
silvikultur TPTI memiliki beberapa unsur pokok yaitu inventarisasi tegakan,
pembatasan diameter dan pembinaan tegakan tinggal.

Pelaksanaan silvikultur TPTI dalam pengusahaan hutan dimaksudkan untuk


mengatur kegiatan penebangan dan pembinaan hutan alam produksi yang
mempunyai jumlah pohon inti minimal 25 pohon per hektar. Pohon inti yang
ditunjuk diutamakan terdiri dari pohon-pohon komersial yang sama dengan
pohon yang ditebang dan berdiameter minimal 20 cm. Seandainya jumlahnya
masih kurang dari 25 pohon per hektar, dapat ditambah dari jenis kayu lain.

Etat tebangan pada sistem silvikultur TPTI disesuaikan dengan rotasi tebang
dan volume cadangan tegakan.

Pada suatu unit kesatuan pengusahaan hutan alam produksi, yang mempunyai
komposisi jenis dan struktur tegakan yang khusus, dapat diadakan penyesuaian
sistem silvikultur TPTI sebagai berikut :

1) Pada hutan Payau, pedoman sistem silvikultur yang dipergunakan tetap


berdasarkan pada Keputusan Direktur Jenderal Kehutanan nomor
60/Kpts/DJ/I/1978.

2) Pada hutan rawa dengan komposisi hutan terdiri dari jenis komersial khusus,
misalnya jenis ramin, perupuk dan jenis komersial lainnya, maka pada saat
pemegang HPH tidak sanggup / sulit melaksanakan kegiatan

Page 12 of 29
penanaman/pengayaan, maka hanya diijinkan menebang pohon sebanyak-
banyaknya 2/3 dari jumlah pohon, sesuai dengan komposisi jenisnya.

3) Pada kondisi hutan rawa yang tidak ditemukan pohon berdiameter 50 cm ke


atas dalam jumlah yang cukup, misalnya pada hutan ramin campuran, maka
khusus untuk jenis ramin dapat dilakukan penurunan batas diameter pohon
yang boleh ditebang menjadi 35 cm, dengan jumlah pohon inti paling sedikit
25 pohon per hektar, berdiameter 15 cm ke atas, sedangkan rotasi tebang
dapat ditetapkan 25 tahun. Pengaturan pohon yang dapat ditebang
mengikuti ketentuan pada butir (b) tersebut.

4) Pada kondisi hutan dengan jumlah pohon muda yang berdiameter 20-49 cm
yang dapat ditunjuk sebagai pohon inti kurang dari 25 pohon per hektar,
maka kekurangannya harus ditambah dengan pohon jenis komersial lain,
yang berdiameter di atas 50 cm, dan berfungsi pula sebagai pohon induk.
Batas diameter batang yang boleh ditebang adalah 50 cm, dengan jumlah
pohon inti paling sedikit 25 pohon per hektar, sedangkan rotasi tebang
ditetapkan 35 tahun.

5) Pada kondisi hutan yang terdiri dari jenis-jenis komersial, yang memiliki
pertumbuhan lambat dan sulit ditemukan pohon-pohon berdiameter 50 cm
ke atas, seperti pada hutan eboni campuran, maka khusus untuk jenis eboni
dapat dilakukan penurunan batas diameter pohon yang boleh ditebang
menjadi 35 cm, dengan jumlah pohon inti paling sedikit 25 pohon per hektar,
berdiameter 15 cm ke atas. Sedangkan rotasi tebang ditetapkan 45 tahun.

Dibandingkan dengan peraturan sebelumnya (Keputusan Dirjen Kehutanan


nomor 35 tahun 1972), maka Keputusan Menteri Kehutanan nomor 485 tahun
1989 memperlihatkan adanya penyempurnaan maupun pengaturan yang lebih
tegas dalam pembinaan hutan, dibandingkan dengan peraturan tentang TPI,
terutama dalam hal :

 Adanya keharusan dilaksanakannya kegiatan penanaman dalam bentuk


pengayaan apabila tidak terdapat cukup jenis kayu komersial pada areal
bekas pembalakan.

Page 13 of 29
 Adanya tata waktu masing-masing kegiatan dan kelengkapan petunjuk
teknisnya yang menegaskan keharusan pengelolaan tegakan sisa.
 Keharusan adanya organisasi pelaksanaan pembinaan hutan yang terpisah
dari operasi pembalakan disertai penyediaan tenaga teknis yang memadai.
 Adanya insentif dan disinsentif dalam rangka pengurusan ijin penebangan
tahun berikutnya, dikaitkan dengan prestasi perusahaan melaksanakan TPTI
dengan benar dan lengkap pada tahun sebelumnya.

2. Sistem Tebang Habis

a. Tebang Habis Permudaan Alam (THPA)

Karena komposisi struktur dan keadaan ekologi hutan-hutan alam berbeda-beda,


maka sustu sistem silvikultur tertentu tidak dapat digunakan dengan baik hasilnya
untuk semua tipe hutan. Pada hutan alam maupun hutan tanaman yang
mempunyai struktur yang mendekati keadaan hutan sama umur dan didominasi oleh
jenis tertentu, terdapat kemungkinan penggunaan sistem THPA sejauh keadaan
lapangan memungkinkan (rata-rata kelerengan di bawah 40%, tanahnya cukup
subur/kandungan liat tidak kurang dari 10% dan terdapat potensi sumber
permudaan alami yang baik/tinggi). Sampai dengan tahun 1991, belum terdapat
HPH di Indonesia yang mempergunakan sistem silvikultur THPA.

Berdasarkan Peraturan Menhut nomor 11 tahun 2009, sistem silvikultur THPA dapat
diterapkan pada hutan bekas tebangan (logged over area) atau pada hutan tanaman
melalui trubusan (coppice sistem) dan atau generative pada hutan produksi biasa
atau hutan produksi yang dapat dikonversi.

b. Tebang Habis Permudaan Buatan (THPB)

Sistem silvikultur THPB dapat dipergunakan untuk membangun hutan buatan, baik
untuk keperluan rehabilitasi tanah kritis maupun untuk membangun hutan tanaman
industri. Contoh penggunaannya antara lain dalam kegiatan konversi hutan alam
menjadi hutan tanaman. Misalnya hutan jenis kayu rimba di Jawa yang dikonversi
menjadi hutan pinus, agathis, jati dll. Sedangkan di luar Jawa banyak
dikembangkan tanaman-tanaman jenis industri untuk mendukung industri pulp dan
plywood, seperti jenis Acacia mangium, Eucalyptus, dll.

Page 14 of 29
Pemilihan jenis pohon yang sesuai dengan keadaan tapak/tempat tumbuh di
lapangan adalah sangat penting. Hanya jenis pionir yang intoleran dan butuh
cahaya matahari penuh, yang mampu tumbuh di tempat terbuka, dan tanah kurang
subur. Untuk maksud tersebut, digunakan jenis-jenis pohon yang riapnya tinggi,
baik riap diameter maupun riap volumenya, sehingga daur atau rotasi dapat
dipersingkat, misalnya antara 5 – 15 tahun. Tujuan pembuatan hutan buatan ialah
menghasilkan produk kayu untuk bahan pembuatan pulp dan kertas, rayon, kayu
bakar untuk energi, dan juga kayu gergajian maupun kayu lapis.

Hutan buatan pada umumnya terdiri dari satu jenis yang murni dan berjarak tanam
yang teratur serta berumur sama, karena ditanam pada saat yang sama. Kegiatan
penyiapan lahan dapat dilakukan secara manual maupun mekanis (mempergunakan
alat berat). Jarak tanam pada hutan buatan dapat diatur sesuai dengan tujuan
akhir produk dan kondisi kesuburan tapak lahan. Untuk tujuan kayu perkakas,
dimana diperlukan produk kayu berdiameter besar dengan bebas cabang yang
tinggi, maka jarak tanam diatur agak berjauhan. Sementara itu untuk kayu serat,
yang tidak terlalu menuntut diameter, jarak tanam bisa menjadi lebih rapat.

Penggunaan bibit unggul hasil kegiatan pemuliaan pohon, pemupukan dan obat-
obatan pembasmi hama dan penyakit maupun herbisida dalam rangka
pengendalian gulma, perlindungan terhadap bahaya kebakaran di musim kemarau,
menyebabkan hutan tanaman industri harus dikelola secara intensif dan profesional.

Dari segi ekologi, sebaiknya minimal 20% dari areal hutan buatan tersebut,
hendaknya ditanami dengan jenis-jenis pohon pencampur yang berlainan dengan
jenis pohon utama yang ditanam. Campuran jenis dapat dilakukan secara pohon
demi pohon/larikan maupun berkelompok (single dan group mixture), dan
dilaksanakan secara berlapis vertikal maupun menurut strata.

3. Sistem Tebang Jalur

Page 15 of 29
Definisi sistem Silvikultur Tebang Jalur adalah suatu sistem silvikultur yang dilakukan
dengan cara membuka areal selebar tertentu dalam bentuk jalur dengan menebang
pohon yang berdiameter 20 cm ke atas, sehingga sinar matahari dapat mencapai
permukaan tanah.

a. Tebang Jalur Tanam Indonesia (TJTI)

Sistem ini dirancang untuk diterapkan dalam skala uji coba pada areal bekas
tebangan (LOA) yang telah rusak dan rawan perambahan. Kelestarian produksi
hutannya didasarkan pada keberhasilan permudaan buatan atau alam.

1) Tebang Jalur dengan Permudaan Buatan :

a) Luas blok areal yang dibutuhkan maksimum 500 hektar dan minimum 100
hektar, untuk hutan bekas tebangan dan hutan primer
b) Lebar jalur yang ditebang sebagai perlakuan dalam percobaan terdiri atas 50
m, 100 m dan 200 m. Arah jalur penebangan Utara-Selatan.
c) Jenis pohon yang digunakan dalam penanaman adalah jenis pohon meranti
lokal bernilai tinggi yang sudah dikuasai teknologi budidayanya dan benih
tersedia, atau jenis non timber product, misalnya Tengkawang, Jelutung dan
Damar Mata Kucing
d) Larikan tanaman searah dilakukan pada jalur tebang. Larikan tanaman yang
dibersihkan selebar 1 (satu) meter. Jarak antar larikan 5 m, sehingga jarak
tanam menjadi 5 x 5 m.
e) Penanaman dilakukan pada permulaan musim hujan satu tahun setelah
penebangan
f) Inventarisasi Tegakan Sebelum Penebangan (ITSP) dilakukan 1 (satu) tahun
sebelum penebangan
g) Pengadaan bibit dilakukan satu tahun sebelum penebangan
h) Penyulaman tanaman dilakukan 2-3 bulan sesudah penanaman, pada waktu
musim hujan pada tahun pertama dan kedua
i) Pemeliharan tanaman

2) Tebang Jalur dengan Permudaan Alam

Page 16 of 29
a) Luas blok areal yang dibutuhkan maksimum 500 hektar dan minimum 100
hektar, untuk hutan bekas tebangan dan hutan primer
b) Lebar jalur yang ditebang sebagai perlakuan dalam percobaan terdiri atas 50
m, 100 m dan 200 m. Arah jalur penebangan memotong arah angin.
c) Jenis permudaan alam yang dipelihara dalam jalur bekas tebangan adalah
permudaan alam dari jenis Dipterocarpaceae lokal bernilai tinggi.
d) Inventarisasi Tegakan Sebelum Penebangan (ITSP), dilakukan satu tahun
sebelum penebangan.

Sistem TJTI pernah diterapkan dalam skala uji coba di beberapa HPH. Beberapa
hasil penelitian atas sistem TJTI adalah sbb. :

1) Pemanenan kayu dengan sistem TJTI pada uji coba TJTI ini sebenarnya
merupakan persiapan pembuatan jalur tanam pada hutan alam yang akan
dikelola dengan sistem TJTI. Kayu yang dipanen merupakan hasil sampingan,
jadi bukan merupakan tujuan utama. Yang menjadi tujuan utama adalah
pembentukan tegakan baru berkualitas tinggi pada daur tebang TJTI.

2) Dilema yang dihadapi di lapangan adalah kesalahan pengertian terhadap sistem


silvikultur TJTI, yang dianggap sama dengan TPTI (hanya limit diameter pohon
yang ditebang). Padahal sistem pemanenan kayu untuk TPTI dan TJTI sangat
berbeda, dimana pada TPTI merupakan polycyclic logging, sedangkan TJTI
merupakan monocyclic logging.

3) Sistem pemanenan kayu yang dipakai dalam uji coba TJTI pada umumnya
belum sesuai dengan keadaan lapangan dan produksi yang ingin dihasilkan
(pada umumnya menggunakan sistem pemanenan kayu yang dipakai di dalam
TPTI). Ketidak sesuaian pemilihan sistem pemananen kayu mengakibatkan
kerusakan akibat pemanenan yang dapat mempengaruhi keberhasilan TJTI,
terutama adalah pemadatan dan keterbukaan tanah serta erosi yang tinggi di
jalan sarad.

4) Untuk mengatasi kerusakan lingkungan yang berat akibat pemanenan kayu


dengan sistem TJTI, perlu diupayakan a.l. tindakan sebagai berikut :

Page 17 of 29
a) Penyempurnaan sistem pemanenan kayu dengan sistem TJTI agar sesuai
dengan keadaan lapangan dan produk yang akan dihasilkan
b) Penyempurnaan design petak dan jalur tebang / konservasi TJTI
c) Perhatian serius pada aspek :
i) Perencanaan sebelum pemanenan kayu
ii) Pembukaan wilayah hutan
iii) Operasi penebangan
iv) Operasi penyaradan
v) Operasi pengangkutan
vi) Rencana dan pelaksanaan pencegahan kerusakan lebih lanjut setelah
pemanenan kayu.

5) Kesiapan pasar dan pabrik pengolahan kayu untuk menerima kayu berukuran
kecil dan kurang / tidak komersil dengan harga yang pantas masih perlu
ditingkatkan. Disamping itu diperlukan kebijaksanaan Departemen Kehutanan
RI untuk mempertimbangkan penyesuaian tarif DR dan PSDH terhadap kayu
berukuran kecil (Ø ≤ 40 cm) dari hasil pemanenen kayu dengan sistem TJTI
pada tahap persiapan pembuatan jalur tanam di hutan alam yang juga harus
diimbangi dengan kesadaran para pengusaha untuk tidak mencari keuntungan
pada tahap tersebut.

Namun demikian, beberapa kajian tentang hasil uji coba TJTI juga menunjukkan
bahwa sistem TJTI dapat digunakan sebagai suplemen dari sistem silvikultur TPTI
dalam bentuk hutan seumur untuk penghasil kayu pertukangan dan rehabilitasi areal
non produktif. Selanjutnya, berdasarkan pertimbangan ekologis dan ekonomis,
lebar jalur konservasi dan jalur produksi yang dianjurkan adalah 100 m dan 200 m.

Dalam perkembangan selanjutnya, uji coba tersebut belum dilanjutkan lagi dalam
skala yang lebih luas.

b. Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ)

Page 18 of 29
TPTJ adalah sistem silvikultur dengan menebang pohon sebagai tebang persiapan,
pada areal LOA, dengan limit diameter 40 cm, diikuti dengan pembuatan jalur bersih
selebar 3 meter dan lebar jalur kotor 22 m. Pada poros jalur bersih dilakukan
penanaman jenis-jenis pohon komersial, dengan jarak tanam 5 m, sehingga jarak
tanam total 5 x 25 m. Bibit yang digunakan dapat berasal dari biji/benih (biji dan
cabutan anakan alam) serta dari stek, baik stek pucuk jenis-jenis pohon dari famili
Dipterocarpaceae maupun Sungkai (Peronema canescen).

c. Tebang Pilih Tanam Indonesia Intensif (TPTII) atau Silvikultur Intensif


(SILIN)

TPTII lahir karena terjadinya fragmentasi hutan alam primer menjadi berbagai
penutupan lahan dan habitat, sebagai akibat dari penebangan, ilegal logging, illegal
mining, kebakaran hutan, okupasi masyarakat dan perladangan liar ( Shifting
cultifation). Sistem silvikultur TPTII dilakukan dengan menerapkan silvikultur intensif
(SILIN).

Silvikultur Intensif bukanlah sistem atau regime silvikultur, namun merupakan teknik
silvikultur. Dalam kaitannya dengan silvikultur intensif, silin adalah teknik silvikultur
yang memadukan tiga elemen utama agar mampu menaikkan produktivitas, seperti
terlihat pada gambar di bawah ini.

Manipulasi
lingkungan

/Jenis Pengendalian
pemuliaan hama terpadu

Silvikultur Intensif

Sumber Soekotjo, 2009

Mengacu pada Pedoman TPTII (2005), sistem TPTII adalah sistem silvikultur hutan
alam yang mengharuskan adanya tanaman pengkayaan yang dilaksanakan secara

Page 19 of 29
jalur pada areal pasca penebangan tebang pilih, tanpa memperhatikan cukup
tidaknya semai dari permudaan alami yang tersedia dalam tegakan tinggal.

Tegakan tinggal yang dikelola dengan sistem TPTII dibangun berdasarkan 4 pilar
utama, yaitu:
1) Target jenis unggul
2) Pemuliaan genetik
3) Manipulasi lingkungan
4) Pemberantasan hama dan penyakit terpadu

Tahap-tahap kegiatan dalam pelaksanaan sistem silvikultur TPTII terdiri dari :


1) Pengadaan Bibit
 Sumber bibit (kebun/tegakan benih, semai alami, kebun pangkas)
 Persemaian
2) Penyiapan Lahan
 Pembuatan jalur tanam
 Pembuatan dan pemasangan ajir
 Pembuatan lubang tanam
3) Penanaman
 Pengangkutan bibit
 Penampungan bibit di lapangan
 Penanaman bibit
4) Pemeliharaan Tanaman Muda
 Penyiangan dan pemulsaan
 Pembebasan vertikal
 Penyulaman
5) Penjarangan
6) Perlindungan Tanaman
 Perlindungan terhadap kebakaran hutan
 Perlindungan terhadap gulma dan hama penyakit
 Perlindungan terhadap perambahan hutan
7) Pemanenan

Teknik silvikultur TPTII merupakan pengembangan dari sistem Tebang Pilih Tanam
Jalur (TPTJ) dan penanaman pengkayaan (Enrichment Planting) dari sistem TPTI.

Page 20 of 29
Sistem TPTII mempunyai siklus tebang 30 tahun. Jarak antar jalur tanam adalah
20 m dan lebar jalur tanam 3 m. Jarak tanaman dalam jalur 2,5 m, sehingga jumlah
bibit yang diperlukan adalah 200 pohon/ha. Jenis-jenis yang ditanam adalah
kelompok Dipterocarpaceae (jenis-jenis meranti) komersial dan jenis unggulan lokal
komersial yang cepat tumbuh.

Berdasarkan hasil uji jenis dan teknik silvikultur, maka jenis-jenis Dipterocapaceae
unggulan yang disarankan digunakan untuk kegiatan penanaman dengan teknik
TPTII adalah Shorea leprosula, S. parvifolia, S. johoreensis, S. smithiana, S. ovalis,
S. platyclados, S. selanica, S. macrophylla, S. javanica, dan Dryobalanops sp.
(Soekotjo, Subiakto dan Warsito, 2005).

Penerapan TPTII atau silvikultur intensif, harus diusahakan pada lokasi hutan alam
yang tepat, yaitu areal yang memenuhi kriteria sbb :
 Areal yang aksesibilitasnya baik
 Areal yang relatif subur
 Areal yang topografinya datar sampai sedang
 Areal yang letaknya di bagian tengah sampai hilir dalam suatu daerah aliran
sungai (DAS)
 Areal yang sifat tanahnya tidak mudah tererosi (sensitifitas erosinya rendah)
 Areal hutan yang potensinya rendah sampai sedang, terutama disarankan pada
areal bekas tebangan dan hutan rawang.

Penerapan silvikultur intensif di areal yang sensitif terhadap kerusakan lingkungan


(areal curam, curah hujan tinggi) harus dihindarkan. Hal ini terkait dengan fakta
bahwa pada umumnya penerapan silvikultur intensif akan menyebabkan
keterbukaan tanah yang cukup besar dan kerusakan tegakan tinggal yang cukup
berat pada saat pelaksanaan persiapan lahan, pembuatan jalur tanam dan
pelebaran jalur tanam dalam rangka memperoleh intensitas sinar matahari yang
lebih banyak, pada saat pembebasan horizontal dan vertikal, pada saat
penjarangan, dan pada saat pemanenan akhir kayu.

TPTII sebaiknya dilaksanakan pada areal hutan bekas illegal loging dan pada hutan
rawang, baik di daerah dataran rendah maupun dataran tinggi, sedangkan pada
hutan yang potensinya masih baik (hutan primer dan LOA), terutama di hulu
sungai/DAS, sistem TPTI lebih cocok diterapkan karena masih mampu
Page 21 of 29
mempertahankan fungsi ekologi, hidrologi, orologi serta perlindungan alam
lingkungan.

Berdasarkan SK Dirjen BPK Nomor 77/VI-BPHA/2005 tanggal 03 Mei 2005, telah


diputuskan 6 pemegang IUPHHK hutan alam sebagai model sistem silvikultur TPTII,
yaitu : PT. Sari Bumi Kusuma, PT. Erna Djuliawati, PT. Sarpatim (Kalteng),
PT. Suka Jaya Makmur (Kalbar), PT. BFI dan PT. IKANI (Kaltim). Selanjutnya,
berdasarkan SK Dirjen BPK Nomor SK. 41/VI-BPHA/2007 tanggal 10 April 2007,
tentang penunjukkan pemegang IUPHHK HA sebagai model pembangunan
Silvikultur TPTII yang meliputi 25 IUPHHK HA, yang berasal dari Kaltim (8), Kalteng
(8), Kalbar (1), Sumbar (1), Riau (1), Papua (2), Papua Barat (3) dan Maluku Utara
(1).

Kelebihan sistem TPTII dibandingkan sistem TPTI adalah :


 Pada sistem TPTII terdapat kewajiban untuk melaksanakan kegiatan
enrichment planting dengan segera setelah dilakukannya kegiatan pemanenan
kayu (penebangan) yaitu pada LOA ET+0, sehingga akan memudahkan
kegiatan monitoring/pengawasan.
 Pada sistem TPTI, enrichment planting dilaksanakan pada areal LOA setelah 3
tahun (ET+3), apabila permudaan tingkat semai mempunyai frekwensi atau
penyebarannya kurang dari 40 %, dan tidak mudah dikontrol.

Sedangkan kelemahan sistem TPTII dibandingkan sistem TPTI adalah TPTII tidak
memperhatikan siklus tebang yang dipersyaratkan dalam pedoman TPTI pada saat
TPTII dilaksanakan pada LOA areal bekas tebangan TPTI, yang mempunyai siklus
tebang 35 tahun. Dalam hal ini LOA dimaksud kemungkinan belum mencapai
siklusnya kembali.

Layout jarak antar jalur tanam, Lebar jalur tanam dan Jarak tanaman dalam Jalur
tanam pada pengelolaan dengan Sistem TPTII, dapat digambarkan sebagai berikut:
3m
1.5 m 17 m
Jalur Kotor
Tanam
(Jarak
2.5 m

Jalur)
dlm

Arah Rebah Arah 1.5Arah


m
Rebah Rebah
Page 22 of 29

20 m
Jarak Antar Jalur
Sumber Pedoman TPTII, 2005

Menurut Sukoco (2008), riap pohon unggulan yang ditanam dari semai di hutan alam
dengan teknik silvikultur intensif (SILIN) adalah sebesar 1,67 m3/ha/tahun. Hasil
penelitian mengenai jenis-jenis unggulan meranti menunjukkan hasil yang baik seperti
disajikan dalam Tabel berikut :

Hasil Penelitian Jenis Unggulan Meranti


N Species Riap Diameter (cm/th)
o
S. johorensis 3,21
S. dasyphylla 2,44
S. fallax 2,33
Sumber Sukoco, 2008

Tabel Diameter Jenis Unggulan Meranti Umur 40 Tahun


N Species Diameter Batang Umur 40 Tahun
o
S. parvifolia 107, 5 Cm
S. leprosula 73,6 Cm
S. resinosa 67,9 Cm
S. macrophylla 97,0 Cm
S. accuminata 71,1 Cm
S. talura 65,5 Cm
Sumber : Appanah dan Weinland dalam Sukoco, 2008

Page 23 of 29
Berdasarkan hasil penelitian, apabila pohon unggulan (kelompok jenis meranti) dalam
tegakan tinggal dibebaskan secara vertikal dan horizontal secara teratur dan intensif,
dapat diharapkan pertumbuhan rata-rata diameternya mencapai 1,5 cm/th, sehingga
riap rata-rata hutan alamnya mencapai 10 m³/ha/th. Harapan tersebut diperkuat dengan
hasil penelitian dan praktek sistem Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ).

Pertumbuhan tanaman selama 5 tahun di areal PT Sari Bumi Kusuma pada jalur tanam
dari Shorea parvivolia 1,67 cm/th, S. leprosula 1,25 cm/th dan S. johorensis 1,04 cm/th.
Sedangkan hasil rekapitulasi pertumbuhan 10 jenis tanaman TPTJ di PT. Sari Bumi
Kusma (PT. SBK) dapat dilihat dalam tabel berikut .
Hasil Rekapitulasi Pertumbuhan 10 Jenis Tanaman TPTJ

Rata-rata Rata-rata
Tanaman Pertbhn/tahun
Umur
No Jenis Tanaman Diame
(th) Tinggi Diame Tinggi
ter
(m) ter (cm) (m)
(cm)
1 Shorea leprosula 4,50 9,06 7,62 2,01 1,69
2 Shorea johorensis 4,50 8,69 7,54 1,93 1,68
3 Shorea parvifolia 4,50 8,42 7,07 1,87 1,57
4 Shorea compresa 4,50 7,61 6,29 1,69 1,40
5 Shorea seminis 5,50 5,98 4,17 1,33 0,93
6 Shorea virescens 3,30 4,38 3,67 1,33 1,11
7 Shorea fallax 4,50 5,46 4,45 1,21 0,99
8 Shorea macroptera 3,28 3,25 3,22 0,99 0,98
9 Hovea mangerawan 3,23 2,25 2,98 0,70 0,92
10 Shorea leavis 3,42 2,19 2,79 0,64 0,82
Sumber: PT. SBK Tahun 2004

Sesuai dengan RKT dari IUPHHKHA Model TPTII, rencana penanaman sampai tahun
2008 adalah seluas 69.292,00 ha, dan realisasi penanaman sampai dengan November
2008 adalah seluas 50.748,83 ha, atau 73,24 % dari luas rencana penanamannya. Luas
dan sebaran lokasi penanaman pelaksanaan TPTII disajikan dalam tabel di bawah ini .

Realisasi Penamanan Pelaksanaan TPTII s/ d Tahun 2008


Nomo Provinsi Jumlah IUPHHKHA Realisasi Luas
r Model TPTII Tanaman TPTII

Page 24 of 29
(ha)
1 Kalimantan Tengah 8 41. 084,42
2 Kalimantan Barat 1 2. 096,65
3 Kalimantan Timur 8 5. 839,42
4 Maluku Utara 1 500,00
5 Papua 2 894,34
6 Papua Barat 3 250,00
7 Sumatera Barat 1 84,00
8 Riau 1 0,00
Jumlah 25 50. 748,83

4. Sistem Tebang Rumpang

Pelaksanaan tebang rumpang di lokasi Hutan Kintap (Kalimantan Selatan) dilakukan


pada anak petak tebangan dengan diameter 1 – 1,5 tinggi pohon dengan jarak ploting
rumpang + 100 m dan jumlah pohon yang ditebang 3 – 8 pohon dan atau seluruh pohon
dengan diameter 20 cm up.

Penebangan dengan sistem rumpang diharapkan akan memberi ruang tumbuh dan
sinar matahari sehingga dapat memicu pertumbuhan semai dorman yang banyak
terdapat pada lapisan bawah (stratum D). Secara alami rumpang akan terbentuk akibat
pohon tua yang rebah. Adopsi rumpang menjadi suatu sistem penebangan diharapkan
agar kondisi ekologi tidak berubah secara drastis pada seluruh areal penebangan dan
ekosistem hutan tetap terjaga. Siklus pada lokasi rumpang adalah 70 tahun, sementara
siklus pada tegakan utuh pada anak petak yang sama adalah 35 tahun. Siklus ini akan
memberikan kesempatan tumbuh pada tegakan sisa sesuai dengan riapnya.

Penebangan dengan sistem tebang rumpang di lokasi Hutan Kintap dilaksanakan pada
lokasi ploting rumpang yang telah ditentukan dalam kawasan produksi pada anak petak.
Luas ploting rumpang adalah 40-50 % dari luas hamparan kawasan produksi, sebesar
40-60 % dari blok tebangan. Dengan demikian, luas total rumpang dalam blok
tebangan adalah 16-30 % dari luas total blok tebangan.

Meskipun penebangan dilakukan terhadap seluruh vegetasi dengan diameter 20 cm up


pada lokasi rumpang yang telah ditentukan dengan diameter 1-1,5 tinggi pohon, namun
secara ekonomis hasil tebang rumpang masih terasa kurang menguntungkan. Sebagai
ilustrasi, hutan dengan potensi sebesar 50 m3/ha, pada blok tebangan seluas 100 ha,

Page 25 of 29
maka total potensinya adalah 5.000 m3, namun yang dapat dipanen hanya sebesar
800-1.500 m3.

Sistem tebang rumpang menuntut suatu perencanaan teknis yang cermat dengan
mempertimbangkan berbagai aspek ekologi dan karakteristik hutan setempat. Dalam
pelaksanaan teknis di lapangan, operator diharapkan mengikuti perencanaan yang telah
ditentukan. Peralatan eksploitasi yang digunakan hendaknya yang ramah lingkungan.

Berdasarkan hasil analisa terhadap sistem tebang rumpang, ternyata sistem ini menitik
beratkan pada aspek ekologi. Aspek ekonomi dan teknis kurang diperhatikan,
sementara aspek sosial budaya masyarakat tidak diperhatikan.

5. Multisistem Silvikultur

Multisistem silvikultur adalah sistem pengelolaan hutan produksi lestari yang terdiri dari
dua atau lebih sistem silvilkultur yang diterapkan pada suatu IUPHHK dan merupakan
multi usaha dengan tujuan : mempertahankan dan meningkatkan produksi kayu dan
hasil hutan lainnya serta dapat mempertahankan kepastian kawasan hutan produksi.

Multisistem silvikultur merupakan model pengelolaan yang diharapkan akan dapat


mengakomodir berbagai tipe habitat yang telah terfragmentasi, sehingga mempunyai
tipe penutupan lahan yang berbeda-beda, yaitu: areal hutan primer, areal hutan bekas
penebangan (LOA), areal hutan rawang (tidak produktif), bekas ilegal logging, areal
bekas kebakaran, semak belukar dan padang alang-alang. Menurut Kaban (2008),
multisistem silvikultur merupakan multi sistem tanaman dan multi daur pada satu areal
IUPHHK.

Multisistem silvikultur harus diterapkan dalam pengusahaan hutan di Indonesia saat ini,
karena areal hutan dan kondisi hutan di Indonesia telah mengalami perubahan yang
besar, yakni menjadi sangat beragam, umumnya mengalami perubahan potensi dan
ekologi. Sistem silvikultur yang dapat dilaksanakan dalam kegiatan pengusahaan hutan
dengan mengacu pada konsep multisistem silvikultur, adalah dengan menggabungkan
lebih dari satu sistem silvikultur, yaitu TPTI, TPTJ, THPB, THPA dan Tebang Rumpang.

Dengan sistem silvikulur TPTI, hutan produksi alam akan menghasilkan berbagai jenis
kayu yang mempunyai nilai kompetisi yang tinggi dan sangat aman dari sisi ekologi.

Page 26 of 29
Produksi kayu dari sistem silvikultur TPTI merupakan hasil yang dapat diperoleh dalam
jangka panjang.

Dengan sistem silvikultur THPB, hutan yang terdegradasi atau rusak dapat direhabilitasi
dan ditingkatkan produktifitasnya. Produksi kayu dari sistem silvikultur THPB merupakan
hasil yang dapat diperoleh dalam jangka pendek.

Dengan sistem silvikultur TPTJ, hutan alam bekas tebangan yang memiliki potensi
sangat rendah nantinya akan menghasilkan kayu yang lebih produktif dan bernilai tinggi
terutama dari hasil tanaman di jalur antara, dan cukup aman dari aspek ekologi.
Produksi kayu dari sistem silvikultur TPTJ merupakan hasil yang dapat diperoleh dalam
jangka waktu menengah atau sedang.

Penerapan multisistem silvikultur merupakan upaya optimalisasi pemanfaatan areal


kerja, sehingga seluruh bagian areal hutan produksi, baik yang berupa hutan alam yang
masih potensial maupun hutan yang sudah terdegradasi atau rusak, dapat dikelola
sesuai dengan sistem silvikultur yang tepat. Kombinasi beberapa sistem silvikultur ini
akan mempunyai beberapa kelebihan.

Secara ringkas, penetapan sistem silvikultur berdasarkan kondisi asal penutupan


lahan/vegetasi sebagaimana diatur dalam Peraturan Menhut nomor 11 tahun 2009
adalah sbb.

DASAR KRITERIA SISTEM


LOA
THPB
HT pada HP atau HPK
Seumur LOA
THPA
HT trubusan, HP/HPK : generatif
Umur Tegakan
HA Regenerasi alami TPTI
VF & LOA ;Tebang Pilih Individu TPTI
Tidak Seumur VF & LOA ;Tebang Pilih Kelompok TR
LOA; Tebang Pilih Jalur TPTJ
Tebang Pilih
Sistem Panen
Tebang Habis

Sedangkan pembatasan / limit diameter tebang pada hutan alam dan siklusnya
berdasarkan Peraturan Menhut nomor 11 tahun 2009 adalah sebagai berikut :

Page 27 of 29
Jenis Hutan Alam Siklus Tebangan Limit Diameter
HP/HPK : 40 cm up
30 Tahun, TPTI /TR
HPT : 50 cm up
Darat / Tanah Kering
Jalur tanam (3 m) : tebang habis
25 Tahun, TPTJ
Antara jalur : 40 cm up
Rawa 40 Tahun 30 cm up
BBS : 20 Tahun
Payau / Mangrove 10 cm up
Arang : 30 Tahun

DAFTAR PUSTAKA

Alrsjid, Harun. 1998. Konsepsi TJTI sebagai Salah Satu Alternatif Sistem Silvikultur untuk
Pengelolaan Hutan Produksi. Prosiding Panel Pakar TJTI dan Ekspose
Pemantapan Tebang Jalur. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan
Koservasi Alam. BKSDA. Bogor.

Direktur Bina Pengembangan Hutan Tanaman Direktorat Jenderal Bina Produksi Kehutanan
Departemen Kehutanan. 2008. Kebijakan Penerapan Multi Sistem Silvikultur
pada Hutan Produksi di Indonesia. Seminar Lokakarya Silvikultur. IPB. Bogor

Page 28 of 29
Departemen Kehutanan, Derektorat Jenderal Bina Produksi Kehutanan, Direktorat Bina
Pengembangan Hutan Alam. 2005. Pedoman Tebang Pilih Tanam Indonesia
Intensif/TPTII (Silvikultur Intensif). Departemen Kehutanan. Jakarta

Ellias. Teknik dan Sistem Silvikultur. Fakultas Kehutanan IPB, Bogor.

Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman. 1996. Kajian Tebang Jalur Tanam Indonesia
sebagai Sistem Silvikultur Alternatif di Propinsi Kalimantan Timur. Ekspose
Hasil-Hasil Penelitian. Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen
Kehutanan Jakarta. Jakarta.

Indrawan, A. 2008. Sejarah Perkembangan Sistem Silvikultur di Indonesia . Seminar Lokakarya


Silvikultur. IPB. Bogor

Moh.Sambas Sabarnurdin, Budiadi dan Widiyanto 2008. Kebijakan Penerapan Multi Sistem
Silvikultur pada Areal Hutan Produksi (IUPHHK). Seminar Lokakarya
Silvikultur. IPB. Bogor

Pasaribu S, Hadi. 2008. Kebijakan Penerapan Lebih dari Satu Sistem Silvikultur pada Areal
IUPHHK Indonesia. Seminar Lokakarya Silvikultur. IPB. Bogor

Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P. 11/Menhut-II/2009 tentang Sistem Silvikultur dalam


Areal IUPHHK pada Hutan Alam

Soekotjo, A.Subiakto dan S.Warsito.2005. Project Completion Report ITTO.PD 41. Faculty of
Forestry. Gadjah Mada University. Yogyakarta.

Soekotjo.2009. Teknik Silvikultur Intensif. Gadjah Mada University Press.

Page 29 of 29