Anda di halaman 1dari 13

4.

4 TINGKAT ENERGI
Foton dipancarkan bila elektron melompat dari suatu tingkat energi ke tingkat energi lebih
rendah.

Berbagai orbit yang diijinkan berkaitan dengan energielektron yang berbeda-beda. Energi
elektron En dinyatakan dalam jari-jari orbit rn diberikan dalam persamaan (4.5) sebagai berikut :

Substitusikan rn dari persamaan (4.13), kita lihat bahwa

Energi yang ditentukan oleh persamaan (4.15) disebut tingkat energi dari atom hidrogen dan
diplot dalam gambar 4.15. tingkat energi ini semuanya negatif, hal ini menyatakan bahwa
elektron tidak memiliki energi yang cukup untuk melarikan diri dari inti. Sebuah elektron atomik
dapat hanya mempunyai energi ini dan bukan yang lainnya. Sebuah analogi mungkin berupa
pribadi pada sebuah jenjang yang dapat berdiri diatas satu kakinya dan bukan pada kedua
kakinya.
Tingkat energi yang terendah E1 disebut keadaan dasar (status dasar) dari atom itu dan tingkat
energi lebih tinggi E2, E3, E4, ... disebut keadaan eksitasi (status eksitasi). Ketika bilangan
kuantum n bertambah, energi En yang bersesuaian mendekati nol. Dalam limit n = ∞, E∞ = 0 dan
elektronnya tidak lagi terikat pada inti untuk membentuk atom. Energi positif untuk kombinasi
inti elektron berarti bahwa elektronnya tidak terikat pada inti dan tidak ada syarat kuantum yang
harus dipenuhinya; kombinasi seperti itu tidak membentuk atom.
Kerja yangdibutuhkan untuk membebaskan elektron dari atom dalam keadaan dasarnya disebut
energi ionisasi. Energi ionisasi tadi biasanya sama dengan –E1, yang harus dilengkapi agar
menurunkan sebuah elektron dari keadaan dasarnya menjadi E = 0, ketika elektron itu bebas.
Dalam kasus hidrogen, energi ionisasi adalah 13,6 eV karena energi status dasar atom hidrogen
adalah -13,6 eV. Gambar 7.10 memperlihatkan energi ionisasi dari unsur-unsur tersebut.
CONTOH 4.2
An electron collides with a hydrogen atom in its ground state and excites it to a state of n
=3. How much energy was given to the hydrogen atom in this inelastic (KE not conserved)
collision?
Jawab :
From Eq. (4.15) the energy change of a hydrogen atom that goes from an initial state of quantum
number ni to a final state of quantum number nf is

Origin of Line Spectra


kini sifat itu kita perlukan untuk menghadapkan persamaan tersebut agar kita mempunyai
pengembangan bagi eksperimen kita. Sebuah eksperimen mencolok tertentu akan menghasilkan
bahwa atom akan menunjukkan spektrum baris baik dalam pancaran maupun absorpsi
(penyerapan). Apakah spektrum ini mengikuti model diatas?
Kehadiran tingkat energi diskrit tertentu dalam atom hidrogen menyarankan adanya hubungan
dengan spektrum garis. Anggaplah jika sebuah elektron pada tingkat eksitasi jatuh ketingkat
yang lebih rendah, kehilangan energinya dipancarkan sebagai foton cahaya tunggal. Menurut
model kita, elektron tidak mungkin ada dalam atom kecuali jika elektron itu memiliki tingkat
energi tertentu. Loncatan sebuah elektron dari suatu tingkat ke tingkat lain, dengan perbedaan
energi antara tingkat itu dilepas sekaligus berbagai sebuah foton ketimbang sebagai sesuatu yang
gradual, cocok dengan model ini.

Quantization in the Atomic World


Deretan tingkat energi merupakan karakteristik semua atom, bukan hanya hidrogen. Seperti
dalam kasus partikel dalam kotak, pembatasan elektron dalam satu daerah ruang menimbulkan
pembatasan pada fungsi gelombang yang diperbolehkan, sehingga membatasi energi yang
diijinkan hanya pada energi tertentu saja. Terdapatnya tingkat energi atomik merupakan contoh
lebih lanjut dari kuatisasi, atau kecatuan dari kuantitas fisis dalam skala mikroskopik.
Dalam dunia kita sehari-hari, materi, muatan listrik, energi dan sebagainya kelihatannya
kontinu.dalam dunia atom, materi terdiri dari partikel elementer yang memiliki massa-diam
tertentu; muatan selalu merupakan kelipatan bilangan bulat dari +e atau –e; gelombang
elektromagnetik dengan frekuensi v muncul sebagai arus foton, masing-masing dengan energi
hv; dan sistem partikel yang mantap seperti atom, hanya dapat memiliki energi tertentu. Seperti
yang akan kita dapati kemudian, kuantitas lain dalam alam juga terkuantisasi, dan kuantisasi ini
memasuki segala bagaimana elektron, proton, dan neutron berinteraksi membentuk materi yang
ada disekeliling kita (dan yang membentuk kita) dengan sifat-sifat yang kita kenal.
Jika bilangan kuantum keadaan awal (energi lebih tinggi) ialah ni dan bilangan kuantum keadaan
akhir (energi lebih rendah) ialah nf, kita nyatakan bahwa
Energi awal – energi akhir = energi foton

Dengan v menyatakan frekuensi foton yang dipancarkan. Dari persamaan (4.15) kita peroleh

Kita ingat bahwa sebelumnya E1 adalah bilangan negatif (-13,6 eV), sehingga –E1 adalah
bilangan positif. Frekuensi foton yang dipancarkan dalam transisi ini ialah

Karena 𝜆 = c/v, 1/ 𝜆 = v/c dan

Persamaan (4.18) menyatakan bahwa radiasi yang dipancarkan oleh atom hidrogen yang
tereksitasi hanya mengandung panjang-gelombang tertentu saja. Panjang-gelombang ini, jatuh
pada deret tertentu yang bergantung dari bilangan kuantum nf dari tingkat akhir elektron (gambar
4.16). Karena bilangan kuantum awal ni > nf, supaya terdapat kelebihan energi yang dilepas
sebagai foton, rumus perhitungan untuk lima deret yang pertama ialah
Deret ini bentuknya sama dengan deret spektral empiris yang telah dibahas sebelumnya. Deret
Lyman bersesuaian dengan nf = 1; Deret Balmer bersesuaian dengan nf = 2; Deret Paschen
bersesuaian dengan nf = 3; Deret Brackett bersesuaian dengan nf = 4; dan Deret Pfund
bersesuaian dengan nf = 5.
Langkah terakhir ialah membandingkan harga tetapan dalam persamaan diatasdengan tetapan
Rydberg R dari persamaan empiris (4.6) ke (4.10). harga tetapan ini ialah

Yang ternyata sama dengan R. Teori atom Bohr adalah sama dengan data spektral.
CONTOH 4.4
Find the longest wavelength present in the Balmer series of hydrogen, corresponding to the H
line.
Jawab :
In the Balmer series the quantum number of the final state is nf = 2. The longest wavelength in
this series corresponds to the smallest energy difference between energy levels. Hence the initial
state must be ni = 3 and

This wavelength is near the red end of the visible spectrum.

4.6 PRINSIP KORESPONDENSI


Lebih besar bilangan kuantum, lebih dekat pula fisika kuntum pada fisika klasik.

Prinsip fisika kuantum demikian berbeda dengan fisika klasik dalam dunia mikroskopik yang
terletak diluat jangkauan indera kita, namun harus menghasilkan ramalan yang sama dengan
fisika kalsik dalam daerah dimana eksperimen menunjukkan bahwa fisika klasik berlaku. Kita
telah melihat bahwa syarat pokok ini dipenuhi oleh teori relativitas, teori kuantum radiasi, dan
teori gelombang materi; sekarang kita akan mendapatkan bahwa syarat ini dipenuhi juga oleh
teori atom Bohr.
Menurut teori elektromagnetik, elektron bergerak dalam orbit lingkaran memancarkan
gelombang elektromagnetik yang frekuensinya sama dengan frekuensi perputaran dan harmonik
(yaitu, kelipatan bilangan bulat) dari frekuensi itu. Dalam atom hidrogen kelajuan elektronialah

Menurut persamaan (4.4) dengan r menyatakan jari-jari orbit. Jadi frekuensi perputaran f dari
elektron itu ialah

Jari-jari rn dari orbit mantap dinyatakan dalam bilangan kuantum terdapat persamaan (4.13)

Sehingga frekuensi perputaran sama dengan

CONTOH 4.5
(a) Find the frequencies of revolution of electrons in n = 1 and n = 2 Bohr orbits. (b) What is
the frequency of the photon emitted when an electron in an n = 2 orbit drops to an n = 1 orbit?
(c) An electron typically spends about 10-8 s in an excited state before it drops to a lower
state by emitting a photon. How many revolutions does an electron in an n = 2 Bohr orbit make
in 1.00x10-8s?
jawab :
(a) Persamaan dari (4.19)

(b) Persamaan dari (4.17)

(c) The number of revolutions the electron makes is

The earth takes 8.23 million y to make this many revolutions around the sun.
Dalam kondisi apakah atom Bohr akan berlakusecara klasik? Jika orbit elektron demikian
besarsehingga kita dapat mengharapkan untuk mampu mengukurnya secara langsung, maka efek
kuantum akan tersembunyi. Orbit berdiameter 0,01 mm, misalnya, memenuhi spesifikasi tersebut
diatas. Kita lihat contoh 4,.3, bilangan kuantumnya n = 435.
Apakah ramalan teori atom Bohr mengenai radiasi yang terjadi pada atom seperti itu? Menurut
persamaan (4.17), atom hidrogen yang jatuh dari tingkat energi ke ni ke tingkat energi ke nf
memancarkan foton berfrekuensi

Marilah kita tulis n untuk bilangan kuantum awal ni dan n-p (dengan p = 1, 2, 3, ...) untuk
bilangan kuantum akhir nf. Dengan substitusi ini

Sekarang bila ni dan nf keduanya sangat besar, maka n jauh lebih besar dari p, dan

Sehingga

Bila p = 1, frekuensi radiasi v tepat sama dengan frekunsi perputaran f dari elektron orbital
seperti dalam persamaan (4.19). harmonik dari frekuensi ini dipancarkan ketika p = 2, 3, 4, ...
Jadi kedua gambaran kuantum dan gambaran klasik atom hidrogen membuat ramalan yang sam
dalam limit bilangan kuantum yang sangat besar. Jika n = 2, persamaan (4.19) meramalkan
frekuensi radiasi yang berbeda dengan yang diberikan dalam persamaan (4.20) dengan faktor
hampir 300 persen, namun bila n = 10.000, penyimpangan hanya 0,01 persen.
Persyaratan bahwa fisika kuantum memberi hasil yang sama dengan fisika klasik dalam limit
bilangan kuantum besar disebut prinsip korespondensi Bohr. Persamaan itu telah memainkan
peranan yang penting dalam perkembangan teori kuantum materi.
Bohr himself used the correspondence principle in reverse, so to speak, to look for
the condition for orbit stability. Starting from Eq. (4.19) he was able to show that stable
orbits must have electron orbital angular momenta of

Since the de Broglie electron wavelength is 𝜆 = h/mv, Eq. (4.21) is the same as
Eq. (4.12), n 𝜆 = 2𝜋r, which states that an electron orbit must contain an integral number
of wavelengths.

4.7 GERAK INTI


Massa inti mempengaruhi panjang gelombang garis spektral.

Dalam analisis yang lalu, inti hidrogen (sebuah proton) dianggap tetap diam ketika elektron
berputar mengelilinginya. Apa yang sebenarnya terjadi, tentu saja, inti dan elektron berputar
disekeliling pusat massanya yang terletak sangat dekat inti karena massa inti jauh lebih besar dari
elektron (gambar 4.17).

Sistem seperti ini ekivalen dengan partikel tunggal bermassa m’ yang berputar disekeliling
partikel yang lebih berat (ekivalen ini ditunjukkan dalam buku mekanika; lihat pasal 8.6). Jika m
menyatakan massa elektron dan M massa inti, maka m’ dinyatakan oleh

Kuantitas m’ disebut massa tereduksi dari elektron karena harganya lebih kecil dari m.
Untuk memperhitungkan gerak inti dalam atom hidrogen, kita perlu membayangkan bahwa
elektronnya diganti oleh partikel yang bermassa m’. Tingkat energi atom menjadi
Karena gerak inti, semua tingkat energi hidrogen berubah dengan fraksi

Ini menunjukkan kenaikan sebesar 0,055 persen, mengingat energinya En, lebih kecil harga
mutlaknya, sehingga kurang negatifnya.
Pemakaian persamaan (4.23) sebagai pengganti persamaan (4.15) meniadakan penyimpngan
kecil tetapi tertentu antara panjang-gelombang yang diramalkan dari berbagai garis spektral
hidrogen dan eksperimen yang sebenarnya. Harga tetapan Rydberg R sampai delapan angka
signifikan (penting) tanpa memberi koreksi pada gerak inti ialah 1,0973731x107 m-1; koreksi ini
mengecilkannya menjadi 1,0967758x107 m-1.
Gerak massa tereduksi memainkan peranan penting dalam penemuan deutrium, isotop hidrogen
yang massa atomiknya hampir dua kali hidrogen yang biasa, karena kehadiran neutron dan
proton dalam inti. Sekitar satu atom hidrogen dalam 6000 merupakan atom deutrium. Karena
massa intinya yang lebih besar garis spektral deutrium tergeser sedikit ke panjang-gelombang
kecil dibandingkan dengan garis yang bersesuaian dalam spektral hidrogen biasa. Garis H𝛼 dari
deutrium yang ditimbulkan oleh transisi dari tingkat energi dengan n = 3 ke n = 2, terjadi pada
panjang gelombang 656,1 nm, sedangkan garis hidrogen H𝛼 terjadi pada 656,3 nm. Perbedaan
kecil dalam panjang gelombang ini merupakan faktor penting dalam identifisikasi deutrium
dalam tahun 1932 oleh Harold Urey.
CONTOH 4.6
A positronium “atom” is a system that consists of a positron and an electron that orbit each
other. Compare the wavelengths of the spectral lines of positronium with those of ordinary
hydrogen.
Jawab :
Here the two particles have the same mass m, so the reduced mass is

where m is the electron mass. From Eq. (4.23) the energy levels of a positronium “atom” are

This means that the Rydberg constant—the constant term in Eq. (4.18)—for positronium is half
as large as it is for ordinary hydrogen. As a result the wavelengths in the positronium spectral
lines are all twice those of the corresponding lines in the hydrogen spectrum.

4.8 EKSITASI ATOMIK


Bagaimana atom menguap dan memancarkan energi.

Terdapat dua mekanisme utama yang dapat mengeksitasikan sebuat atom ketingkat energi diatas
tingkat dasar, sehingga dapat menyebabkan atom itu memancarkan radiasi. Salah satu
mekanisme ialah tumbukan dengan partikel lain, pada waktu itu sebagian dari energi kinetik
bersamnya diserap oleh atom. Atom yang tereksitasi dengan cara ini akan kembali ketingkat
dasar dalam waktu rata-rata 10-8 s dengan memancarkan satu atau lebih foton (gambar 4.18).

Cara lain ialah dengan menimbulkan lucutan listrik dalam gas bertekanan rendah, sehingga
timbul medan listrik yang mempercepat elektron dan ion atomik sampai energi kinetiknya cukup
untuk mengeksitasikan atom ketika terjadi tumbukan. Karena transfek energi maksimum jika
partikel yang bertumbukan mempunyai massa yang sama (lihat gambar 12.22), elektron dalam
pelucutan listrik semacam itu jauh lebih efektif daripada ion dalam pemberian energi pada
elektron atomik. Lampu neon dan uap air raksa merupakan contoh yang biasa dijumpai dari
mekanisme bagaimana medan listrik kuat yang dipasang antara elektrode dalam tabung berisi gas
menimbulkan emisi radiasi spektral karakteristik dari gas itu yang ternyata merupakan cahaya
berwarna kemerah-merahan dalam kasus neon dan cahaya kebiru-biruan dalam kasus uap air-
raksa.
Mekanisme eksitasi yang berbeda terpaut jika sebuah atom menyerap sebuah foton cahaya yang
energinya cukup untuk menaikkan atom itu ke tingkat energi lebih tinggi. Sebagai contoh,
sebuah foton dengan panjang gelombang 121,7 nm dipancarkan bila atom hidrogen dalam
tingkat keadaan n = 2 jatuh ke keadaan n = 1; penyerapan (absopsi) foton dengan panjang
gelombang 121,7 nm oleh atom hidrogen yang mula-mula dalam keadaan n = 1 akan
membawanya ke keadaan n = 2 (gambar 4.19). proses ini menerangkan asal dari spektrum
absorpsi.
Jika cahaya putih yang mengandung semua panjang gelombang dilewatkan melalui gas hidrogen,
foton dengan panjang gelombang yang bersesuaian dengan transisi antara tingkat energi yang
bersangkutan akan diserap. Atom hidrogen tereksitasi yang ditimbulkannya akan memancarkan
kembali energi eksitasinya hampir ketika itu juga, tetapi foton keluar dalam arah rambang
dengan hanya beberapa saja yang berarah sama dengan berkas semula dari cahaya putih itu
(gambar 4.20). jadi garis gelap dalam spektrum absorpsi tidak seratus persen hitam, dan hanya
terlihat hitam karena terjadi kontrast dengan latar belakang yang terang. Kita harapkan garis
dalam spektrum absorpsi setiap unsur bersesuaian dengan garis pada spektrum emisi yang
menyatakan ke tingkat dasar yang cocok dengan hasil eksperimen (lihat gambar 4.9).

Franck-Hertz Experiment
Spektrum atomik bukanlah satu-satunya cara untuk menyelidiki terdapatnya tingkat energi
diskrit dalam atom. Sederetan eksperimen yang berdasarkan pada tumbukan dilakukan oleh
Franck dan Hertz yang dimulainya pada tahun 1914. Eksperimen ini menunjukkan secara
langsung bahwa tingkat energi atomik memang ada dana tingkat-tingkat ini sama dengan tingkat-
tingkat yang terdapat pada spektrum garis.
Franck dan Hertz menembaki uap berbagai unsur dengan elektron yang energinya diketahui
dengan memakai alat seperti yang terlihat dalam gambar 4.21. perbedaan potensial kecil V0
dipasang diantara kisi dan keping pengumpul, sehingga setiap elektron yang mempunyai energi
lebih besar dari harga minimum tertentu memberi konstribusi (sumbangan) pada arus I yang
melalui ammeter. Ketika potensial pemercepat V bertambah elektron yang datang pada keping
bertambah banyak dan arus I naik (gambar 4.22).

Jika energi kinetik kekal dalam tumbukan antara elektron dan sebuah atom uap itu, elektronnya
hanya terpental dalam arah yang berbeda dengan arah datangnya. Karena atom itu jauh lebih
massif dari elektron, atom hampir tidak kehilangan energi dalam proses itu. Setelah suatu energi
kritis tercapai, ternyata arus keping menurun secara tiba-tiba. Tafsiran dari efek ini adalah bahwa
elektron yang bertumbukan dengan atom memberikan sebagian atau seluruh energi kinetiknya
untuk mengeksitasi atom ke tingkat energi diatas tingkat dasar. Tumbukan semacam ini disebut
tak elastik (tak-lenting), sebagai lawan dari tumbukan elastik (lenting) yang berlangsung dengan
energi kinetik kekal. Energi kritis elektron bersesuaian dengan energi yang diperlukan untuk
menaikkan atom ke tingkateksitasi terendah.
Kemudian, ketika potensial pemercepat V bertambah naik, arus keping bertambah lagi, karena
elektronnya sekarang mempunyai cukup besar energi yang tertinggal setelah mengalami
tumbukan tak elastik untuk sampai pada keping. Akhirnya penurunan arus keping I yang sangat
tajam terjadi lagi yang ditafsirkan timbul dan eksitasi tingkat energi yang sama pada atom lain.
Seperti ditunjukkan dalam gambar 4.22, sederetan potensial kritis untuk atom tertentu didapatkan
dengan cara seperti diatas. Jadi potensial yang tertinggi diperoleh dari beberapa kali tumbukan
kelipatan dari yang terendah.
Untuk memeriksa tafsiran mengenai potensial kritis yang ditimbulkan oleh tingkat energi atomik
diskirt, Franck dan Hertz mengamati spektrum emisi uap ketika ditembaki elektron. Dalam hal
uap air raksa, misalnya, mereka mendapatkan bahwa energi elektron minimum 4,9 eV diperlukan
untuk mengeksitasi garis spektral air raksa 253,6 nm foton cahaya 253,6 nm berenergi tepat 4,9
eV. Eksperimen Franck-Hertz dilakukan dalam waktu singkat setelah Bohr mengumumkan
teorinya mengenai atom hidrogen, dan eksperimen itu memberikan bukti bebas tentang gagasan
dasar Bohr.