Anda di halaman 1dari 15

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Gunung Agung


Peristiwa Gunung Merapi di Yogyakarta meletus 2010 lalu menyisakan kisah pilu
karena Sang Juru Kunci, Mbah Marijan ikut meninggal dunia karena memilih tidak ikut
dievakuasi tengah bencana alam tersebut. Sebagian orang mungkin tak menyangka jika
sesungguhnya sejarah letusan Gunung Agung 1963 lebih pilu dari itu. Bukan hanya juru
kuncinya, namun seluruh penduduk di kaki gunung suci umat Hindu Bali tersebut
'menerima' tumpahan lahar panas yang melaluinya.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebut Gunung
Agung adalah gunung berapi paling eksplosif di Indonesia, mengalahkan Gunung Merapi
di Yogyakarta dan Gunung Sinabung di Sumatra Utara. Catatan sejarah tentang letusan
Gunung Agung yang diketahui sebanyak empat kali, salah satu informasinya dari Kama
Kusumadinata (1979) dalam bukunya yang berjudul 'Data Dasar Gunung Api Indonesia'.
Berikut hasil dari penelusuran-penelusuran dari berbagai sumber mengenai
informasi tersebut:
1. Letusan 1808
Gunung Agung meletus disertai uap dan abu vulkanik. Gunung ini melontarkan abu
dan batu apung dalam jumlah luar biasa. Jejak sejarahnya adalah bukit-bukit batu yang
mendominasi topografi Kabupaten Karangasem saat ini.
2. Letusan 1821
Ini merupakan kelanjutan aktivitas Gunung Agung sejak 1808. Sayangnya sejarah
letusan 1821 tidak terdokumentasikan dengan baik. Letusan yang berlangsung saat ini
adalah letusan normal.
3. Letusan 1843
Letusan 1843 didahului serangkaian aktivitas kegempaan. Gunung Agung kembali
memuntahkan material abu, pasir, dan batu apung. Pada 1908, 1915, dan 1917 di
berbagai tempat di dasar kawah dan pematang Gunung Agung tampak tembusan
fumarola.
4. Letusan 1963
Letusan dimulai 18 Februari 1963 dan baru berakhir 27 Januari 1964. Letusan dahsyat
ini mencatat korban 1.148 orang meninggal dunia dan 296 orang luka. Mayoritas
korban berjatuhan karena awan panas letusan yang melanda tanah lebih dari 70
kilometer per segi.
Letusan 1963 diawali gempa bumi ringan yang dirasakan penghuni Kampung Yeh
Kori. Sehari kemudian terasa kembali gempa bumi di Kampung Kubu, di pantai timur laut
kaki Gunung Agung, sekitar 11 kilometer dari lubang kepundannya. Pada tanggal 18
Februari 1963, sekitar pukul 23.00 WITA di pantai utara terdengar suara gemuruh dalam
tanah. 19 Februari 1963, pukul 01.00 WITA terlihat gumpalan asap dan bau gas belerang,
disusul awan mengembus dari kepundan pukul 03.00 WITA. Dua jam kemudian terdengar
dentuman perdana, disusul semburan batu-batu kecil hingga besar dan diakhiri semburan
asap kelabu hingga kehitaman.
Lalu, pada 20 Februari 1963, letusan Gunung Agung kembali bergemuruh dengan
lemparan bola api lebih besar. Penduduk Desa Kubu mulai panik dan mengungsi. 21
Februari 1963, asap tebal terus mengepul dari kawah. Letusan api dan suara gemuruh terus
terdengar hingga 22 Februari 1963. Wilayah Pura Besakih, Rendang, dan Selat dihujani
batu-batu kecil dan tajam, pasir, dan hujan abu pada 23 Februari 1963. Hujan lumpur lebat
turun di Besakih sehari kemudian, mengakibatkan bangunan-bangunan di sana roboh.
Awan panas muncul.
Pada tanggal 25 Februari 1963, awan panas terus turun. Hujan lahar di Tukad Daya
memutuskan akses wilayah Kubu dan Tianyar. 16 Februari 1963, lava dan hujan lahar
mengalir hingga Desa Sogra, Sangkan Kuasa, Badegdukuh, dan Badegtengah. Seluruh
penduduknya mengungsi ke selatan. Lalu, pada tanggal 17 Maret 1963 merupakan puncak
dari kegentingan tersebut. Suara letusan berkurang dan hilang. Sisanya adalah aliran lahar
ke wilayah-wilayah di bawahnya. Aktivitas Gunung Agung benar-benar berhenti 27
Januari 1964.
Kusumadinata yang merupakan ahli vulkanologi di Direktorat Geologi Bandung
menemukan sebagian masyarakat Bali percaya bahwa penyebab letusan Gunung Agung
1963 bersifat spritual. Ini yang membuat arahan dari pihak yang berkompeten terkait
gunung ini diabaikan. Masyarakat padahal sudah diingatkan akan zona bahaya radius lima
kilometer dari puncak. Laporannya yang berjudul 'Kegiatan Gunung Agung' pada 1963
menyebutkan anggapan masyarakat Bali bahwa 'Bathara Gunung Agung marah dan
mengancam akan meletus jika dalam jangka waktu satu pekan tidak dilaksanakan sesajen
dan permintaan lain yang dikemukakan orang-orang yang kerasukan roh suci.' Masyarakat
Bali bahkan menyiapkan perayaan Eka Dasa Rudra pada 8 Maret 1963 di Pura Besakih,
sekitar 6,5 km dari puncak Gunung Agung atau menjelang titik kritis letusan. David J
Stuart Fox dalam bukunya 'Pura Besakih: Pura, Agama, dan Masyarakat Bali' (2010)
menuliskan lebih kurang 10 ribu orang menghadiri upacara tersebut, termasuk gubernur,
kepala pemerintahan daerag, dan tokoh-tokoh terkemuka Bali.
Eka Rudra merupakan upacara agama terbesar umat Hindu Bal yang
diselenggarakan di pura terbesar, Pura Besakih. Sejumlah alasan yang disampaikan para
ahli gunung berapi belum mampu meyakinkan masyarakat untuk mengosongkan Besakih.
Setelah Eka Rudra dilaksanakan, beberapa hari setelahnya masih berdatangan lima ribu
orang ke Pura Besakih di tengah hujan debu dan kerikil. Ritual di Besakih terus digelar
hingga 15 Maret 1963, dua hari hari sebelum letusan besar pertama terjadi. Pura Besakih
sepanjang masa letusan hanya mengalami kerusakan kecil. Pura ini rusak parah justru
karena gempa tektonik berkekuatan enam skala richter yang mengguncang Bali pada 18
Mei 1963.
Kini, setelah tertidur 54 tahun kemudian, Gunung Agung kembali menunjukkan
peningkatan aktivitas. Gunung ini sudah berstatus awas atau level empat. Masyarakat di
kaki Gunung Agung memiliki kesadaran tinggi untuk mengevakuasi diri dan keluarganya
secara mandiri. Jumlah pengungsi Gunung Agung menurut data terakhir yang dikeluarkan
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencapai 15.142 jiwa. Mereka
tersebar di 125 titik di tujuh kabupaten, meliputi Kabupaten Badung (lima titik), Bangli
(17 titik), Buleleng (10 titik), Denpasar (enam titik), Gianyar (sembilan titik), karangasem
(54 titik), Klungkung (21 titik), dan Tabanan (tiga titik). Pemerintah daerah jauh lebih siap
menghadapi kemungkinan terburuk sekalipun. Gubernur Bali, Made Mangku Pastika
menyatakan pemerintah provinsi, daerah, dan lintas sektoral berkomitmen menekan
dampak negatif dari peristiwa ini seminimal mungkin

2.2 Tempat Wisata Daerah Badung


Kabupaten Badung merupakan kabupaten yang memiliki destinasi wisata yang
sangat banyak dan sudah terkenal hingga ke mancanegara. Adapun tempat wisata yang ada
di kabupaten Badung yang terbagi menjadi beberapa kategori.
Yang pertama yaitu wisata bahari. Kabupetan Badung yang berada di pulau Bali
bagian selatan ini, memiliki garis pantai cukup panjang bahkan hampir setengah garis
pantainya berpasir putih. Adapun tempat wisata bahari yang ada di kabupetan badung
yaitu: Pantai Mengening, Pantai Munggu, Pantai Club Med, Pantai Jerman, Pantai
Suluban, Pantai Melasti, Pantai Nikko, Pantai Mengiat, Pantai Segara Samuh, Pantai
Geger, Pantai Batu Pageh, Pantai Tegal Wangi, Pantai Gunung Payung, Pantai Kelan,
Pantai Balangan, Pantai Dreamland, Pantai Kuta, Pantai Pandawa, Pantai Padang-Padang
(Labuan Sait), Pantai Nusa Dua, Pantai Muaya, Pantai Cemongkak, Pantai Kedonganan,
Pantai Cangu, Pantai Seseh, Pantai Batu Bolong, Pantai Berawa, Pantai Batu Mejan (Echo
Beach), Pantai Batu Belig, Pantai Kayu Putih, Pantai Karma Kandara, Pantai Petitenget,
Pantai Nyang-Nyang, Pantai Bingin, Water Blow Nusa Dua, dan Watersport Tanjung.
Selain wisata bahari yang berupa pantai, kabupetan Bandung juga memiliki tempat
wisata air terjun dan beberapa sungai. Adapun objek wisata air terjun dan sungai yang ada
di kabupaten Badung yaitu: Air terjun Nungnung dan Air Terjun Bidadari
Lalu yang kedua yaitu wisata alam pegunungan. Selain memiliki garis pantai yang
eksotis dan berpasir putih, bagian utara kabupaten Badung merupakan daerah pegunungan
dengan hawa udara yang sangat sejuk. Adapun objek wisata alam pegunungan yang ada
di kabupaten Badung yaitu: Puncak Tedung dan Tanah Wuk
Yang ketiga yaitu wisata seni dan tradisi. Adapun tempat wisata yang tergolong seni
dan tradisi yang ada di Badung yaitu adalah Mekotek, Perang Ketupat, dan Meleladan di
Puri Ageng Mengwi
Keempat, di Kabupaten Badung ini mempunyai wisata desa yang dapat kita
kunjungi. Adapun desa wisata yang ada di kabupaten Badung yakni: Desa Petang, Desa
Munggu, Desa Bongkasa, Desa Mengwi, Desa Sangeh, Desa Kapal, dan Desa Baha
Kategori kelima yaitu kategori wisata buatan. Wisata buatan ini meliputi taman,
monumen, museum dan patung. Wisata buatan yang terdapa di Kabupaten Badung ini
yaitu: Patung Kuda (Satrya Gatotkaca), Patung Dewa Ruci, Taman Budaya GWK, Pesawat
Parkir dekat Pantai Pandawa, Monumen Perjuangan Mumbul, Jembatan Tukad Bangkung,
dan Jalan Tol Bali Mandara
Lalu yang kelima, di Kabupaten Badung juga terdapat wisata tempat suci yang dapat
dikunjungi. Tempat suci di kabupetan Badung yang dapat dijadikan tujuan wisata religi
yakni: Pura Taman Ayun, Pura Puncak Tedung, Pura Peti Tenget, Taman Mumbul Sangeh,
dan Alas Pala Sangeh (Monkey Forest Sangeh)
Selain tempat wisata yang disebutkan berdasarkan kategori di atas, Kabupaten
Badung juga memiliki tempat wisata lainnya seperti: Pulau Nusa Dharma, Pulau
Peninsula, dan Festival Nusa dua Fiesta

2.3 Pantai Suluban (Blue Point Beach)


Pantai Suluban merupakan salah satu objek wisata yang menjadi primadona
dikalangan para peselancar, karena gelombang laut dipantai ini cukup menantang. Jika
cuaca dalam keadaan cerah, hampir setiap hari ada saja peselancar yang mencoba menjajal
ombak di pantai ini, baik yang sudah profesional maupun masih pemula.
Tempat wisata Pantai Suluban atau Blue Point Beach berada di Jalan Pantai Suluban,
Desa Pecatu, Kuta Selatan, Badung, Bali. Dari denpasar hanya berjarak 31 km atau waktu
tempuh kira-kira 67 menit dengan kendaraan bermotor. Dari Pura Luhur Uluwatu hanya
berjarak 3 km, sedangkan dari pantai Labuan Sait (Pantai Padang Padang) hanya berjarak
2,2 km. Jika Anda datang dari Bandara Ngurah Rai hanya memerlukan waktu tempuh kira-
kira 49 menit atau menempuh jarak 22,7 km.
Adapun rute menuju Pantai Suluban dari Bandara Ngurah Rai sebagai berikut. Dari
Bandara Ngurah Rai arahkan kendaraan Anda ke Jimbaran melalui jalan By Pass I Gusti
Ngurah Rai, setelah sampai di perempatan Jimbaran (KFC Jimbaran) belok ke kanan
menuju Jalan Uluwatu. Ikuti jalan tersebut hingga melewati kampus UNUD dan Cultur
Park (GWK). Tepat pertigaan di depan kantor kepala Desa Pecatu belok ke kanan menuju
jalan Labuan Sait. Masih di jalan Labuan Sait Anda akan menemukan kawasan objek
wisata pantai Padang-padang (Labuan Sait), dari sini lurus lagi hingga ujung jalan labuan
sait akan bertemu pertigaan. Jika lurus akan menuju jalan Mamo sedangkan jika belok ke
kiri akan menuju jalan Pantai Padang-Padang. Nah di ujung jalan Pantai Padang-padang
belok ke kanan menuju jalan Pantai Suluban hingga ke area parkir. Untuk jalan alternatif
lain ke pantai suluban kita bisa menyusuri Jalan Uluwatu hingga mentok (ada gerbang
menuju ke objek wisata pura luhur uluwatu dengan beberapa petugas). Tepat sebelum
memasuki gerbang kawasan objek wisata uluwatu ada pertigaan maka belok ke kanan
menuju Jalan Pantai Suluban hingga ke area parkir. Jalan alternatif ini lebih mudah untuk
mengakses Pantai Suluban tetapi memerlukan waktu yang lumayan lama.
Tidak hanya menawarkan gelombang laut yang sangat menantang, Pantai Suluban
juga menawarkan keindahan pantai dengan pasir putih yang sungguh menawan dikelilingi
oleh batu karang yang menjulang tinggi. Karena pantai ini dikelilingi oleh tebing karang
maka pengunjung yang ingin menikmati keindahan pantainya harus memasuki celah-celah
tebing yang tergolong sempit yang dalam bahasa bali diartikan sebagai “mesulub”. Karena
pengunjung untuk mencapai pantai harus “mesulub” maka pantai ini bernama pantai
Suluban. Ada juga pengunjung menyebut pantai ini dengan nama Pantai Suluban Uluwatu
karena tidak jauh dari lokasi ini ada objek wisata uluwatu yang sudah terkenal akan
keindahanya. Wisatawan asing lebih mengenal pantai ini dengan nama Pantai Blue Point
(Blue Point Beach) karena tidak jauh dari pantai itu ada sebuah hotel yang bernama Blue
Point.
Sebelum memasuki celah karang yang sempit, kita harus menuruni anak tangga yang
lumayan banyak. Begitu sampai diujung anak tangga paling bawah kita akan disuguhkan
pemandangan di dalam gua karang. Jika air laut sedang pasang atau gelombang laut sangat
tinggi, air laut akan memasuki gua tersebut.
Begitu Anda keluar dengan cara “mesulub” dicelah-celah tebing karang,
pemandangan yang indah dengan deburan ombaknya akan menyambut Anda di pantai ini.
Siang hari pantai ini diserbu oleh wisatawan mancanegara yang ingin merasakan
panasanya terik matahari Pantai Suluban dengan cara berbaring di pasir putih yang bersih.
Momen-momen ini dimanfaatkan oleh penduduk sekitar untuk menawarkan jasa pijat
kepada wisatawan asing tersebut.
Sedangkan wisatawan lokal yang tidak ingin terbakar kulitnya oleh panasanya terik
matahari mencoba untuk berteduh di dalam gua yang ada di pingir pantai sambil
menyaksikan indahnya Samudra Indonesia. Sore hari pantai ini menjadi spot untuk
menyaksikan fenomena matahari tenggelam (sunset). Momen-momen ini dimanfaatkan
oleh para fotografer untuk mengambil gambar pas sang surya tenggelam di balik
cakrawala.
Saking begitu terkenalnya pantai ini, maka banyak orang memanfaatkan hal ini
dengan membuat restoran atau cafe disekitar pantai ini. Jangan heran jika Anda
mengunjungi pantai ini akan melihat banyak hotel maupun restoran yang dibangun tepat
di atas tebing karang di sekitar pantai ini. Sambil menikmati kuliner di sana kita bisa
menyaksikan keindahan laut sambil menunggu fenomena sunset bersama orang-orang
yang Anda sayangi.
Aktivitas yang mungkin dilakukan di Pantai Suluban selain bermain surfing yakni
nongkrong (duduk santai) menikmati suasana pantai dan tebing, berfoto ria dan menunggu
sunset, dan mandi.

2.4 Lembah Tanah Wuk Sangeh


Bali memang terkenal akan keindahan alamnya. Keindahan alam pulau yang
mendapat julukan “Paradise of Island” ini tidak bisa lepas dari peran adat dan budayanya
yang adi luhung yang sangat mendukung proses pelestarian alam. Alam dengan
pemandangan yang hijau dan menyejukkan masih bisa kita jumpai dengan mudah di Pulau
Dewata ini. Salah satunya adalah tempat wisata lembah Tanah Wuk Sangeh.
Tempat wisata Tanah Wuk merupakan objek wisata alam yang terletak di lembah
sungai Tukad Penet yang menghijau dan asri. Objek wisata ini dapat dijadikan pilihan
alternatif jika anda kebetulan berlibur ke objek wisata Alas Pala Sangeh (hutan monyet
sangeh) atau ke Taman Mumbul Sangeh. Berlibur di sini sangat cocok untuk yang ingin
mencari ketenangan dari rutinitas kita setiap hari, karena lokasinya jauh dari jalan utama
dan tersembunyi di balik persawahan yang luas dan menghijau.
Lokasi tempat wisata lembah Tanah Wuk berada di Banjar Gerana, Desa Sangeh,
Kecamatan Abiansemal, Badung, Bali. Dari objek wisata Alas Pala Sangeh hanya
menempuh jarak 1,6 km (5 menit perjalanan), dari objek wisata taman Mumbul hanya
menempuh jarak 1,9 km (6 menit perjalanan), dari pusat kota Denpasar hanya berjarak
23,3 km (48 menit perjalanan) dan dari Bandara Ngurah Rai hanya berjarak 36,2 km (72
menit perjalanan).
Berikut cara mengakses tempat wisata lembah Tanah Wuk Sangeh Bali dari Bandara
Ngurah Rai. Begitu keluar dari kawasan bandara, ambil jalan ke By Pass Ngurah Rai
menuju tempat wisata Patung Dewa Ruci di Simpang Siur lalu ke jalan Sunset Road lalu
ke Jalan Raya Kerobokan kemudian ke Jalan Raya Padang Luwih kemudian ke Jalan Raya
Penarungan terus ke Jalan Ciung Wanara. Ketika bertemu perempatan jalan yang terdapat
petunjuk arah menuju tempat wisata sangeh, ambilah jalan lurus kira-kira menempuh jarak
lagi 1,3 km lagi tepat di sebelah kiri jalan raya akan ada petunjuk arah menuju tempat
wisata tanah wuk. Lalu belok kiri dan ikuti jalan tersebut maka Anda akan sampai di
tempat tujuan anda.
Di tempat wisata lembah Tanah Wuk, kita dapat menyaksikan keindahan lembah
ngarai yang hijau dan mempesona dengan keadaan lingkungan yang sangat tenang, barisan
perbukitan yang menghijau dengan nyiur yang melambai-lambai, hamparan sawah yang
berundak, dan perkebunan kopi milik masyarakat setempat yang menambah keindahan
alam tersebut. Selain sebagai tempat rekreasi keluarga,tempat wisata ini juga sangat tepat
digunakan sebagai tempat outbound yang sangat asik.
Untuk menunjang kegiatan pariwisata dan kenyaman pengunjung, di tempat wisata
lembah tanah wuk sudah tersedia fasilitas pendukung seperti seperti gazebo tempat
nongkrong yang asik dan area parkir luas yang mampu menampung beberapa mobil dan
bus. Selain itu, tempat ini juga meneydiakan restoran yang siap memanjakan perut
kerocongan anda dengan aneka menu khas Balinya. Dengan kenyaman seperti ini,
tentunya tempat ini tidak pernah sepi dari pengunjung. Kebanyakan pengunjung ke lokasi
ini merupakan wisatawan lokal dan wisatawan Nusantara yang kebetulan berlibur ke Pulau
Bali.
Selain tersedia gazebo sabagai tempat duduk, di sini juga tersedia anjungan untuk
menyaksikan keindahan alam sekitar dengan bentuk unik seperti anjungan jukung. Bentuk
anjungan di tanah wuk mirip seperti yang ada di Anjungan Tukad Melangit Jehem. Hanya
saja anjungan di Tanah Wuk sudah terbuat dari besi, jadi lebih kelihatan kokoh di
bandingan di anjungan Tukad Melangit yang terbuat dari kayu. Dari anjungan ini kita bisa
melihat indahnya alam sekitar dan juga terlihat sebuah jembatan penghubung menuju
kabupaten tabanan yang melengkapi uniknya kawasan ini. Begitu naik keanjungan ini,
jangan lupa gunakan kamera atau ponsel yang ada kameranya untuk mengabadikan
momen-momen indah ke tempat ini ataupun bersefi ria.

2.5 Garuda Wisnu Kencana (GWK)


Bali tidak hanya terkenal akan wisata alamnya yang mempesona seperti alam
pegunungan yang asri dan pantainya yang eksotis. Tetapi juga memiliki objek wisata
buatan yang tidak kalah indahnya dengan objek wisata buatan lainnya. Bahkan ada salah
satu objek buatan yang dijadikan ikon dari pariwisata provinsi Bali yakni Patung Garuda
Wisnu Kencana atau disingkat dengan GWK.
Patung Garuda Wisnu Kencana berada di Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana
merupakan karya pematung terkenal Bali, I Nyoman Nuarta. Untuk mengakses lokasi ini
sangatlah mudah karena lokasinya sangat strategis dan satu jalur dengan objek wisata
Uluwatu, Pantai Pandawa, Pantai Balangan, Pantai Dreamland, dan Pantai Padang-padang.
Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana berlokasi di Bukit Unggasan, Jimbaran, Badung,
Bali. Untuk menuju lokasi ini kira-kira menempuh jarak 40 kilometer dari Kota Denpasar.
Hampir setiap hari ada pengunjung yang mengunjungi lokasi ini. Rata-rata ada 2.000
sampai 3.000 wisatawan berkunjung ke GWK tiap harinya. Ada beberapa tempat yang
menarik di Taman Budaya Garuda Wisnu diantaranya:
a. Wisnu Plaza
Wisnu Plaza merupakan tempat paling tinggi dan berada di ketinggian 263 meter dari
atas permukaan laut. Di Wisnu Plaza terdapat patung Wisnu yang belum rampung
yang memiliki tinggi 18 meter. Dari Wisnu Plaza Anda dapat menyaksikan keindahan
panorama sekitarnya. Patung Wisnu dikelilingi oleh air mancur. Di samping patung
tersebut ada sebuah tempat suci yang bernama Parahyangan Somaka Giri dan air
sumur yang konon katanya tidak pernah kering bahkan pada musim kemarau.
b. Street Theater
Jika Anda ingin masuk ke kawasan Taman Budaya GWK terlebih dahulu harus
membeli tiket masuk, untuk wisatawan domestik dewasa sebesar Rp50.000,00,
sedangkan wisatawan asing Rp100.000,00. Street Theater adalah titik awal dan akhir
kunjungan ke Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana. Di sini kita dapat menemukan
banyak toko yang menjual souvenir Bali dan merchandise GWK dan restoran.
c. Lotus Pond
Lotus Pond adalah tempat yang tepat dan hanya untuk mengadakan acara outdoor
skala besar karena lokasinya yang santa luas dan mampu menampung ribuan
pengunjung sehingga sangat cocok mengadakan kegiatan skala besar seperti konser
musik, pertemuan internasional, maupun pertemuan partai besar.
d. Indraloka Garden
Taman ini diberi nama Taman Indraloka atau istana dari Dewa Indra karena memiliki
view yang sangat indah. Kita bisa melihat pemandangan alam Bali dari atas Indraloka
Garden
e. Amphitheatre
Amphitheatre adalah tempat di luar ruangan untuk pertunjukan khusus dengan akustik
yang dirancang dengan baik. Setiap sore Anda bisa menonton tari Kecak yang terkenal
dan gratis yaitu sekitar pukul 18.30 s/d 19.30 WITA. Bahkan Tari Kecak ini dapat
dikolaborasikan dengan tarian daerah lainnya.
f. Tirta Agung
Tirta Agung adalah ruang luar yang sempurna untuk acara menengah. Anda juga dapat
mengunjungi patung Tangan Wisnu, bagian dari patung Garuda Wisnu Kencana yang
terletak di dekatnya.

Jika patung GWK tersebut selesai dibangun maka akan berwujud Dewa Wisnu yang
sedang mengendarai burung Garuda dengan tinggi mencapai 75 meter sehingga akan dapat
kita lihat dari dari Kuta, Sanur, Nusa Dua hingga Tanah Lot. Patung ini terbuat dari
campuran tembaga dan baja seberat 4 ribu ton, dengan tinggi 75 meter dan lebar 60 meter.
Jika pembangunannya selesai, patung ini akan menjadi patung terbesar di dunia dan
mengalahkan Patung Liberty.

2.6 Alas Pala Sangeh


Badung tidak hanya terkenal dengan keindahan tempat wisata pantainya seperti
pantai kuta, pantai Nusa Dua dan pantai Dreamland. Tetapi, juga memiliki tempat wisata
alam hutan yang asri dan unik. Adapun tempat wisata yang unik dan menyenangkan untuk
dikunjungi di Badung yakni tempat wisata Alas Pala Sangeh Bali. Wisatawan asing
mengenal tempat wisata ini dengan nama Sangeh Monkey Forest.
Lokasi tempat wisata Alas Pala Sangeh berada di Jalan Brahmana, Banjar Brahmana,
Desa Sangeh, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali. Dari pusat kota Denpasar
hanya berjarak 23,9 km (48 menit perjalanan) dan dari Bandara Ngurah Rai hanya berjarak
35,7 km (70 menit perjalanan).
Akses menuju tempat wisata Alas Pala Sangeh Bali sangatlah mudah karena jalan
untuk sudah diaspal dengan sangat baik sekali. Berikut cara mengakses tempat wisata Alas
Pala Sangeh dari Bandara Ngurah Rai. Begitu keluar dari kawasan bandara, ambil jalan ke
By Pass Ngurah Rai menuju tempat wisata Patung Dewa Ruci di Simpang Siur lalu ke
jalan Sunset Road lalu ke Jalan Raya Kerobokan kemudian ke Jalan Raya Padang Luwih
kemudian ke Jalan Raya Penarungan terus ke Jalan Ciung Wanara. Tepat sebelah kiri jalan
raya akan terdapat petunjuk arah menuju tempat wisata sangeh. Ikuti petunjuk arah
tersebut maka akan diarahkan menuju tempat parkir yang sebelumnya harus membayar
tiket masuk terlebih dahulu.
Tempat wisata alas pala sangeh merupakan tempat wisata berupa hutan homogen
yang luasnya mencapai 10 hektar yang ditumbuhi oleh pohon pala dan disucikan oleh
warga setempat. Pohon pala (Dipterocarpus trinervis) ini sudah berumur ratusan tahun.
Uniknya, hutan (alas) di sini dihuni oleh ratusan ekor kera abu ekor panjang (Macaca
fascicularis). Pengunjung bisa berinteraksi dengan kera-kera yang yang jinak di hutan ini.
Tidak hanya dihuni oleh ratusan kera, di hutan pala ini juga terdapat beberapa tempat suci
yakni Pura Melanting, Pura Tirta, Pura Anyar dan Pura Bukit Sari.
Kera penghuni di hutan pala sangeh ini terbagi menjadi tiga kelompok atau banjar
versi masyarakat Bali yakni kelompok Banjar Timur, Banjar Tengah dan Banjar Barat.
Setiap banjar atau kelompok memiliki pemimpin kelompok. Walaupun kera di sini
dikatakan jinak, kita harus tetap berhati-hati karena bisa saja kera-kera di sini merebut
barang bawaan kita. Pada saat admin berkunjung ke tempat wisata ini, minuman berupa
air mineral yang admin bawa direbut oleh seekor kera. Tidak hanya minuman, makanan
berupa kacang juga direbut oleh seekor kera. Disarankan pada saat membawa minuman
atau makanan sebaiknya sembunyikan supaya tidak terlihat oleh kawanan monyet di hutan
ini. Kalaupun ingin memberikan makan para kera, sebaiknya lakukan secara sembunyi-
sembunyi.
Begitu kita akan memasuki kawasan hutan terdapat sebuah papan pengumuman
yang berbahasa Inggris dan Indonesia. Di mana pengunjung atau wisatawan wanita
dilarang memasuki kawasan hutan jika dalam keadaan sedang haid. Berpakaian soapan
dan rapi saat memasuki kawasan suci. Tidak memegang atau mempermainkan monyet di
hutan ini. Satu hal yang paling penting, jangan membuang sampah sembarangan demi
menjaga kebersihan hutan ini. Hal tersebut untuk menjaga kesucian pura yang dijunjung
tinggi oleh masyarakat Sangeh.
Tempat wisata alas pala sangeh ini juga digunakan sebagai tempat sesi foto
praweding. Pada saat berkunjung, admin melihat ada yang melakukan sesi foto praweding
di tengah hutan di bawah pohon pala yang menjulang tinggi, kemudian di depan pura
dengan dikerumuni oleh puluhan monyet jinak. Sungguh pemandangan yang sangat unik
dan langka.
Tidak hanya dikunjungi oleh wisatawan domestik, tempat wisata sangeh bali juga
dikunjungi oleh wisatawan mancanegara. Hampir setiap hari ada saja wisatawan yang
berkunjung di hutan pala ini untuk melihat keindahan dan keunikannya. Jika anda ingin
berfoto supaya monyet berada di pundak kita, bisa meminta kepada petugas di sana. Nanti
beliau akan membatu kita untuk membuat monyet naik ke pundak kita dengan cara
memancingnya dengan makanan ringan. Disarankan jangan melakukannya sendiri dan
harus memerlukan bantuan petugas di sana. Untuk menikmati keindahan dan keunikan
hutan pala sangeh ini kita harus membayar biaya masuk sebesar Rp. 10.000 per orang
untuk wisatawan domestik.

2.7 Festival Nusa Dua Fiesta


Pulau Bali meruapakan daerah tujuan pariwisata internasional, karena selain
keramah tamahan penduduknya, Pulau Bali juga memiliki budaya sangat unik. Untuk
mempromosikan budaya tersebut maka pemerintah bali gencar-gencarnya mengadakan
event-event yang mampu menarik kunjungan wisatawan baik itu wisatawan nusantara
maupun mancanegara.
Salah satu event yang dilakukan oleh pemerintah Bali yakni Nusa Dua Fiesta. Event
ini diadakan di Pulau Peninsula (Peninsula Island) kawasan Bali Tourism Development
Center (BDTC), Nusa Dua, Bali. Nusa Dua Fiesta meruapakan kegiatan pameran seni,
budaya dan wisata yang diadakan sekitar bulan Oktober tiap tahunnya. Event Nusa Dua
Fiesta ini bertujuan untuk mempromosikan kekayaan budaya Indonesia yang beraneka
ragam lewat pertunjukan, eksibisi seni kerajinan yang digelar oleh provinsi dan kabupaten
dari seluruh Indonesia.
Selain itu, di Nusa Dua Fiesta juga diadakan berbagai macam kompetisi yang sangat
menarik, seperti melukis, lomba make up, memasak makanan khas Bali, lomba fotografi,
dan lomba yang lainnya. Juga diadakan kegiatan pameran seperti pameran motor antik,
pameran tanaman bonsai dan pameran yang lain. Untuk memeriahkan acara tersebut juga
diadakan atraksi mengarak ogoh-ogoh dan atraksi tari-tarian.
Tujuan utama dari event Nusa Dua Fiesta yakni untuk menarik kunjungan
wisatawan, sehingga tiap event ini digelar ribuan wisatawan memadati Pulau Peninsula
ini. Selain bisa menyaksikan event Nusa Dua Fiesta pengunjung juga bisa menyaksikan
keindahan pantai nusa dua dan batu karang water blow. Dikawasan Pulau Peninsula juga
tersedia area jogging track, bagi yang suka olahraga lari-lari kawasan ini sangat cocok
untuk memeras keringat Anda tiap pagi dan sore hari. Di Pulau Peninsula juga terdapat
sebuah kawasan suci yang namanya Pura Bias Tugel.

2.8 Dampak Erupsi Gunung Agung Terhadap Pariwisata di Badung


Erupsi Gunung Agung berpengaruh signifikan terhadap iklim pariwisata di
Kabupaten Badung. Bahkan Dinas Pariwisata (Dispar) setempat tidak berani memastikan
target kunjungan yang ditetapkan di 2017 tercapai. Pasalnya, sejak aktivitas Gunung
Agung meningkat, banyak wisatawan menyatakan batal berkunjung ke Pulau Dewata.
Bahkan diprediksi mendekati angka 14 hingga 15 ribu wisatawan yang batal untuk ke Bali.
Kepala Dispar Badung Ir. Made Badra MM mengaku belum berani memastikan
target kunjungan 5.850.000 wisatawan pada tahun ini tercapai. Mengingat masih ada sisa
waktu untuk mencapai angka yang sudah ditargetkan. Namun, sementara ini untuk target
pencapaian wisatawan belum bisa diprediksi yang dikarenakan adanya juga penutupan
bandara.
Birokrat asal Kuta ini memprediksi terjadi pembatalan kunjungan 14 hingga 15 ribu
wisatawan jika penutupan bandara I Gusti Ngurah Rai berlanjut. Jika penutupan bandara
berlangsung lama, maka akan lebih sulit dalam memfokuskan pemulihan keadaan pasar.
Atas dasar itu, pihaknya tengah berkoordinasi dengan pihak terkait, seperti PHRI,
BPPD dan Dinas Pariwisata Bali guna mengantisipasi adanya penurunan kunjungan akibat
erupsi Gunung Agung. Salah satu hal yang terpenting juga yaitu bagaimana menangani
wisatawan yang tidak bisa balik ke negara atau tempat asalnya yang dikarenakan bandara
ditutup.
Karena itu, pihaknya mengimbau kepada pelaku industri pariwisata di Bali,
khususnya di Kabupaten Badung untuk memberikan service menginap gratis selama
semalam hingga penerbangan dibuka kembali. Pihaknya mengimbau kepada pelaku
industri pariwisata untuk memberikan one nite free kepada wisatawan yang tidak bisa balik
ke negaranya akibat bandara ditutup. Dengan layanan tersebut, Made Badra berharap
wisatawan tetap merasa nyaman selama berlibur di Pulau Dewata.
Selain berdampak bagi pariwisata dan wisatan yang berkunjung, erupsi Gunung
Agung juga memberikan dampak yang besar bagi para karyawan yang bekerja di daerah
perhotelan maupun di tempat wisata. Dampak yang dirasakan yaitu:
1. Adanya Pemotongan Jam Kerja Karyawan
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, Tjokorda Oka Artha
Ardhana Sukawati membenarkan adanya pemotongan jam kerja karyawan di hotel-
hotel. Menurutnya ini lebih baik daripada harus PHK. Setidaknya kini sudah ada
sekitar 1.000 hotel di Bali yang melakukannya
2. Uang Servis Karyawan Dikurangi
Adanya pengurangan jam kerja berdampak pada uang servis karyawan. Pemotongan
ini berupa hari kerja yang sebelumnya 6 hari seminggu menjadi hanya 3 hari kerja
sehingga uang servis pun berkurang. Yang paling terkena dampaknya adalah
karyawan kontrak dan tenaga training.
3. Bandara Ditutup Okupansi Hotel Anjlok
Ketika Gunung Agung erupsi yang berdampak pada penutupan bandara beberapa hari,
sehingga sejumlah hotel langsung anjlok tingkat okupansinya. Seperti yang dijelaskan
sebelumnya, karena banyaknya wisatawan yang membatalkan perjalanan menuju Bali
sehingga merugikan berbagai pihak salah satunya pihak hotel yang memfasilitasi
tempat tinggal sementara bagi wisatawan.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, Tjokorda Oka Artha
Ardhana Sukawati berharap hotel-hotel baik yang tergabung PHRI atau tidak untuk tidak
panik agar tidak memberikan kesan kurang baik bahwa pariwisata Bali terpuruk. Selain
itu, ia juga berharap dengan kejadian ini tidak ada karyawan yang di PHK karena
menurutnya jika melakukan PHK itu terlalu prematur dan erupsi Gunung Agung juga
belum begitu lama.
Ketua PHRI ini mengatakan juga bahwa dalam kondisi seperti ini sebaiknya hotel
melakukan renovasi propertinya. Menurutnya hal ini kedepannya bisa menjadi promosi
baru ketika situasi sudah mulai normal kembali.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
3.2 Saran