Anda di halaman 1dari 40

KEJANGGALAN-KEJANGGALAN PADA KOPERASI

http://nasional.kontan.co.id/news/ada-kejanggalan-dalam-penahanan-pengurus-
koperasi

JAKARTA. Kasus pelaporan pengurus Koperasi Cipaganti Karya Guna Persada di Polda
Jawa Barat (Jabar) mencurigakan. Kasus ini aneh, karena latar belakang pelapor yang
mengaku sebagai investor koperasi janggal. Ada dugaan, pelaporan yang berujung pada
penahan pengurus koperasi itu sebagai strategi menggagalkan proses penundaan
kewajiban pembayaran utang (PKPU).

Seperti diketahui, Koperasi Cipaganti sedang dalam PKPU karena gagal membayar imbal
hasil ke investor sejak Maret 2014 hingga sekarang. Dengan PKPU, koperasi yang
bermarkas di Bandung ini harus mengembalikan dana nasabah pada periode tertentu,
sesuai kesepakatan. Dana investor yang menurut catatan koperasi berjumlah 8.113 orang
sangat besar, lebih dari Rp 3 triliun.

Nah, dengan penahanan pengurus koperasi, bisa saja menganggu proses PKPU. Jika PKPU
gagal, jalan terakhirnya adalah kepailitan. Dengan cara ini, dana nasabah bisa dikembalikan
setelah menjual aset-aset koperasi. Dengan demikian pendiri koperasi, Andianto Setiabudi
dkk tak perlu lagi memikirkan pengembalian dana nasabah. Perusahaan Andianto di
Cipaganti Group juga akan aman karena berbeda hukum.

Kecurigaan bertambah karena enam pelapornya, yakni Agah Sonjaya, Mulyasa, Marlina,
Retno dan Rabecca Sitanggang, tidak tercatat oleh pengurus PKPU. Padahal, bila investor
ingin mendapatkan dananya kembali, mereka seharusnya melapor ke pengurus PKPU.
"Hingga 25 Juni, tidak ada nama-nama itu," kata pengurus PKPU Andreas Sukmana, Kamis
(26/6).

Namun, Polda Jabar mencatat, keenam pelapor itu adalah investor Koperasi Cipaganti.
Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat Kombes Martinus Sitompul, bilang setiap pelapor
punya tagihan minimal ke koperasi sekitar Rp 100 juta.
Hal itu sudah menjadi dasar bagi polisi mengusutnya. Menurut Martinus, penyelidikan
kasus ini terus berjalan. Sekarang, polisi fokus meneliti dokumen-dokumen hasil
penggeledahan kantor Koperasi Cipaganti.

Dari hasil penyelidikan sementara, kepolisian menemukan pengurus koperasi mengalirkan


dana mitra ke tiga perusahaan milik Andianto yakni PT CCG sebesar Rp 200 miliar, PT CGT
Rp 500 miliar dan PT CGP Rp 885 miliar. "Koperasi memberikan bagi hasil kepada mitra
sebesar 1,5% hingga 1,75% per bulan," tambah Martinus.

http://www.kompasiana.com/fharefa/tac-koperasi-tempat-aman-menitip-uang-
haram_54f9031da3331104468b4913

Tulisan sederhana ini terinspirasi dari komentar Kompasianer M. Edy Sunarto pada tulisan
saya sebelumnya berjudul Koperasi, Bukan "Kuperasi". Bunyi komentar beliau langsung
saya copas di sini:

"Koperasi, satu di antara tiga soko guru ekonomi. Di negara maju, di antaranya macam
Perancis dan Swiss, koperasi didengar suaranya oleh negara untuk merumuskan kebijakan
ekonomi dan keuangan. Di NKRI koperasi lemah, puskud dan inkud diperkuat oleh adanya
oknum dan vested interest untuk ajang bagi2 kue haram. Di mana salah arahnya bermula?
Silakan dirunut".

Pada tulisan ini, saya tidak akan merunut asal-usul kesalahan arah dalam Koperasi. Saya
masih tetap berharap bahwa akan ada tokoh-tokoh yang memiliki pisau analisa tajam
tentang kejanggalan ini. Di sini, saya tetap konsisten pada keberadaan saya sebagai
watchdog yang sedang menonton kejanggalan-kejanggalan yang terjadi dalam Koperasi.
Belajar dari Credit Union Tahun 1996 yang lalu, saya mengenal seorang Biarawati dari
Belanda, Fr. Amator, CMM yang waktu itu bertugas di Gunung Sitoli (NIAS).

Waktu itu beliau memperkenalkan Credit Union (CU) sebagai Lembaga Keuangan Berbasis
Masyarakat. CU mengutamakan pendidikan sebagai pilar utama. Materi perdana adalah
mengarahkan masyarakat untuk membangun kejujuran dalam mengelola keuangan,
membangun kepercayaan antar sesama anggota dan membangun keyakinan bahwa CU
mampu memberi perubahan. Dulu saya sempat bertanya-tanya soal materi ini, koq materi
pendidikannya bukan berbicara terutama soal bagaimana menghasilkan uang yang banyak
dan bagaimana cara menabung supaya dapat keuntungan. Jawabannya saya pahami
sekarang. Faktor utama dan penentu adalah manusianya, bukan uangnya. Manusianya
harus jujur, saling percaya dan punya harapan.

Sekarang, CU yang saya kenal dulu bernaung di bawah payung hukum Koperasi. Ada yang
berbentuk Koperasi Simpan Pinjam (KSP), ada juga yang berbentuk Koperasi Kredit
(KOPDIT). Jadi kalau sekarang banyak kita dengar lembaga berlabel Credit Union, yang
ternyata sudah besar di Indonesia, lembaga itu adalah LKNB yang beda label dari Koperasi
tapi prinsip sama. Kekuasaan Tertinggi Pada RAT Kalau kita melihat struktur organisasi
Koperasi, pemegang kekuasaan tertinggi adalah RAT.

Bagaimana kalau anggotanya mayoritas "masyarakat mengengah ke bawah" seperti saya


tuturkan pada tulisan sebelumnya? Pengawas, Pengurus, dan Pengelola yang berasal
dari anggota memainkan peranan penting. Kalau nilai-nilai kejujuran, kepercayaan dan
berpegang teguh pada amanat anggota, saya kira Koperasi itu bisa berjalan dengan baik.
Namun, siapa yang mampu menjamin bahwa Pengawas, Pengurus dan Pengelola adalah
orang-orang yang bersih. Pengemban Fungsi ini dipilih dari anggota berdasarkan standar
kualifikasi. Kita pastikan bahwa mereka adalah orang-orang yang cerdas, pintar dan
mampu di antara anggota-anggota lainnya. Kenyataan sekarang, banyak Koperasi yang
tidak melaksanakan RAT.

Segala laporan keuangan direkayasa seenaknya berbekal ilmu hitung-hitung yang


lazim bagi pengelola keuangan. Pertanggungjawaban kepada anggota tidak masuk
prioritas. Tidak melaksanakan RAT, berarti mengkhianati anggota, berkhianat pada
kejujuran dan kepercayaan tadi. Yang banyak sekarang adalah bagaimana
mempertanggungjawabkan keuangan kepada pihak lain, yang bukan anggota. Siapa pihak
lain ini? Pintu Masuk Uang Haram Saya tidak membangun apriori terhadap bantuan modal,
baik berupa hibah maupun dana bergulir yang merupakan program pemerintah. Tapi
berdasarkan pengalaman saya, terdapat banyak sekali kejanggalan dalam hal ini. Saya
langsung pada contoh saja. Misalkan, Koperasi dianjurkan untuk membuat proposal
permohonan bantuan modal. Angka rupiah yang dijanjikan adalah 50 juta. Setelah proposal
di serahkan, diproses dan diverifikasi, permohonan itu terkabul. Dana 50 juta cair secara
administratif, lengkap dengan laporan-laporannya. Tapi secara fisik, uang tersebut
diterima oleh koperasi 25 jt s.d 35 jt. Kakurangan dari 50 juta ini, saya sebut Uang Haram
bagi yang menerimanya. Itu masih di angka 50 juta.

Coba kita pikirkan kalau angkanya berada pada kisaran 500 juta sampai 1 M. Atas dasar itu,
saya melihat bahwa lebih banyak peluang kesalahan Koperasi disebabkan oleh bimbingan
dan pengarahan yang salah, plus intervensi dari pihak ketiga yang menunggangi modus
bantuan modal. Berdasarkan UU Koperasi, Koperasi diberi kebebasan untuk
menghimpun dana dari masyarakat melalui Simpanan. Di sisi lain, masih diatur bahwa
satu-satunya Lembaga Keuangan Non Bank (LKNB) yang tidak masuk dalam pengawasan
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga saat ini adalah Koperasi.

Koperasi berada di bawah pengawasan Dinas Koperasi. Saya melihat bahwa dengan
pengawasan yang sangat lemah, Koperasi hampir tak tersentuh PPATK seperti yang kita
kenal saat ini. Kalau demikian, dapatkah ditemukan tokoh-tokoh yang menitip modal
dalam bentuk simpanan di Koperasi, bila kita kaitkan dengan istilah Rekening Gendut yang
sedang trend saat ini? Barangkali, hal di atas adalah indikasi yang dapat digunakan sebagai
dasar penelitian. Silahkan bagi mereka yang berminat untuk melakukan verifikasi.

Jangan tanya saya soal bukti karena saya sendiri pun sedang mengumpulkannya. Saya
hanya punya keyakinan bahwa bila negeri ini konsisten dengan usaha pemberantasan
korupsi, suatu saat, upaya itu akan mendarat juga pada lembaga yang namanya Koperasi.
Uang Haram Untuk Membeli Kue Haram Kembali kepada pertanyaan Kompasianer M. Edy
Sunarto, saya menjawab begini: Kesalahan arah ini tidak bisa dirunut dari asal-mula dia
berasal. Ada semacam lingkaran setan juga yang menimbulkan kekaburan dalam tubuh
Koperasi. Koperasi terkenal dengan jati dirinya yakni 'anggota', dan jati diri itu
dinomorduakan pada UU No. 17 Tahun 2012 yang telah di batalkan oleh MK. Substansi
Koperasi menurut UU No. 25 Tahun 1992 adalah "Kumpulan Orang (Anggota)".
Sedangkan pada UU No. 17 Tahun 2012, substansinya berubah menjadi "Kumpulan
Modal (Uang)". Dari sini, kita bisa melihat bahwa ada begitu banyak pihak yang
memanfaatkan Koperasi untuk memperoleh keuntungan pribadi. Kelembagaan Koperasi
saat ini pun sedang serba tidak teratur. Dasar Hukum yang dipakai tidak mampu
mendefinisikan koperasi seperti yang dulu dicita-citakan oleh M. Hatta sebagai Bapak
Koperasi Indonesia. Dan tentu saja, jawaban yang masih dapat dipakai sebagai rujukan
utama adalah Sumber Daya Manusia yang sangat kurang.

http://lisahuang.com/mengapa-sistem-manajemen-koperasi-diperlukan.html

SISTEM INFORMASI KOPERASI INDONESIA

Sistem Informasi Koperasi Indonesia adalah solusi atas kebutuhan koperasi untuk
melakukan pengelolaan sumber daya koperasi yang semakin kompleks dalam memberikan
pelayanan kepada anggotanya.

Koperasi dalam perkembangannya telah menjadi sektor bisnis yang penting dalam
masyarakat, seiring dengan tingginya tuntutan atas kualitas pelayanan dan lingkup layanan
koperasi tidak hanya menyangkut masalah keanggotaan tapi telah meluas sampai
pengelolaan tabungan, simpan pinjam, penjualan outlet / toko,pencatatan stok gudang
(inventory) bahkan sampai dengan pengelolaan kantin, armada.

Sehingga sangat diperlukan suatu sistem informasi yang dapat melakukan


pencatatan dan penghitungan atas transaksi yang ada pada setiap unit kerja dan
sanggup memberikan laporan yang akurat disamping laporan keuangan yang tepat.

Berikut adalah beberapa pola menajemen koperasi yang akan membantu koperasi dalam
mencapai tujuannya :

Perencanaan

Perencanaan merupakan sebuah proses dasar manajemen. Dalam perencanaan, manajer


memutuskan hal-hal yang harus dilakukan. Setiap organisasi membutuhkan perencanaan,
baik organisasi kecil maupun besar. Perencanaan yang baik adalah perencanaan yang
bersifat fleksibel karena perencanaan akan berbeda dalam situasi dan kondisi yang
berubah ubah pada waktu yang akan datang. Jika diperlukan, dalam pelaksanaan sebuah
rencana diadakan perencanaan kembali sehingga semakin cepat tujuan itu tercapai.

Pengorganisasian

Pengorganisasian adalah suatu proses untuk merancang struktul formal, mengelompokkan,


dan mengatur serta membagi tugas-tugas atau pekerjaan diantara anggota organisasi. Hal
ini dilakukan agar tujuan organisasi bisa dicapai secara efisien. Pelaksanaan
pengorganisasian akan mencerminkan struktur organisasi yang mencakup beberapa aspek
penting, seperti pembagian kerja, depetementasi, bagan organisasi, rantai perintah dan
kesatuan perintah, tingkat hierarki manajemen, dan saluran komunikasi.

Pengawasan

Pengawasan merupakan usaha sistematik untuk membuat segala kegiatan perusahaan


sesuai dengan rencana. Proses pengawasan bisa dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu
menetapkan standar, membandingkan kegiatan yang dilaksanakan dengan standar yang
telah ditetapkan, mengukur penyimpangan-penyimpangan yang terjadi, lalu mengambil
tindakan evaluasi jika diperlukan. Setiap perusahaan melakukan pengawasan dengan
tujuan agar pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.

Koperasi merupakan suatu organisasi nirlaba yang cukup kompleks karena menjalankan
beberapa unit usaha yang dikelola dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan anggota
koperasi dan masyarakat. Dengan semakin pesatnya perkembangan organisasi ini, sudah
saatnya memanfaatkan kemajuan teknologi informasi yang ada sehingga proses
pengelolaannya bisa transparan, akurat serta dapat dipertanggung jawabkan secara lebih
baik kepada anggota dan pimpinan perusahaan. Pemanfaatan teknologi informasi yang
dimaksud adalah dengan menggunakan sistem komputerisasi pada setiap aspek
operasional pengelolaan organisasi dan unit-unit usaha yang dimiliki, sehingga dapat
meningkatkan kepercayaan anggota, staf administrasi dan operator. Sistem manajemen
koperasi adalah sebuah aplikasi yang berguna untuk menunjang produktifitas bisnis suatu
perusahaan, karena sistem ini dapat meminimalisir kesalahan.
Kesalahan yang mungkin terjadi secara manual seperti pada daftar peminjaman dan daftar
pembayaran. Sistem ini juga berfungsi sebagai pelindung proses bisnis sebuah perusahaan,
dimana pada sistem manual sering terjadi kesalahan dalam memasukan data,
membutuhkan banyak waktu dan tenaga serta adanya data yang terselip karena kurang
terjaminnya keamanan data. Oleh karena itu diperlukan sistem manajemen yang baik
untuk mengatasi masalah tersebut, salah satu cara yang tepat adalah dengan menggunakan
sistem informasi manajemen koperasi. Penggunaan sistem manajemen koperasi tentunya
dapat meringankan tugas seorang pemimpin, staf administrasi dan keuangan dalam
menyelesaikan masalah pada transaksi setoran, penarikan, bunga dan biaya admin serta
meningkatkan sistem keamanan data perusahaan. Sistem manajemen koperasi ini
diharapkan dapat menghasilkan data yang lebih cepat, akurat dan efisien (waktu, tenaga
dan biaya).

Pembuatan aplikasi sistem manajemen koperasi bertujuan untuk menerapkan sistem


teknologi informasi di dunia usaha simpan pinjam atau koperasi, untuk mengurangi
penyalahgunaan wewenang kerja karyawan, kesalahan sistem manual, adanya data yang
terselip dan waktu yang banyak terbuang. Maka dari itu dengan adanya Sistem
komputerisasi koperasi ini diharapkan memaksimalkan pekerjaan koperasi. Dan
meminimalkan penyalahgunaan di dalam koperasi.

Penyebab Melemahnya Sistem Dan Keuangan Koperasi

Permasalahan permodalan dalam gerakan koperasi sudah menjadi masalah klasik dari
masa ke masa yang sepertinya benang kusut dalam pengembangan koperasi. Berbagai
usaha telah dilakukan pemerintah, untuk memajukan koperasi. Namun yang dihasilkan
dirasakan belumlah sepadan dengan apa yang diharapkan dari besarnya dana yang
dikucurkan tersebut.

Sebenarnya, yang menjadi masalah dari koperasi, untuk berkembang, adalah pada system
keuangan koperasi yang dijalankan. Pada koperasi, terdapat yang disebut sebagai
intermediasi keuangan. Yang artinya proses pembelian dana dari unit surplus (penabung)
untuk selanjutnya disalurkan kembali kepada unit defisit (peminjam), yang bisa terdiri dari
unit usaha, pemerintah dan juga rumah tangga. Dengan kata lain, intermediasi keuangan
merupakan kegiatan pengalihan/penyaluran dana dari penabung (kelebihan dana) kepada
peminjam (kekurangan dana), yang dilakukan oleh lembaga keuangan sebagai mediator.

Uang beredar di dalam gerakan koperasi yang status kepemilikannya masih “abu abu”,
dengan nama “dana bergulir” (seperti pada Program kompensasi pengurangan subsidi
bahan bakar minyak (PKPS BBM) untuk masyarakat yang disalurkan melalui koperasi
dimulai pada tahun anggaran 2000). Jumlahnya sangat besar, dan jika dikelola dengan baik
akan menghasilkan kapitalisasi dana yang sangat besar. Namun pengelolaan dana tersebut
dalam suatu “system” yang terpadu, dengan jaringan intermediasi keuangan yang tersebar,
dan dengan dipandu oleh suatu sistem prosedur pengelolaan keuangan yang baik yang
dikeluarkan oleh sebuah lembaga yang kredibel, sampai saat ini belum terwujud. Sudah
saatnya kita membangun system kelembagaan keuangan koperasi yang kuat.

Cara Membangun Sistem dan Keuangan Koperasi.

Dalam Manajemen Koperasi “Perencanaan strategis” adalah pengambilan keputusan saat


ini untuk koperasi yang akan dilakukan pada masa datang. Pengambilan keputusan dalam
organisasi Koperasi Indonesia harus mempertimbangkan Sumber daya, kondisi saat ini
serta peramalan terhadap keadaan yang mempengaruhi koperasi dimasa yang akan datang.

Untuk melakukan perencanaan Strategis dalam koperasi maka pengurus koperasi harus
memperhatikan 4 aspek penting yaitu masa depan dan peramalanya, aspek lingkungan
baik internal atau eksternal, target kedepan dan terakhir strategi untuk pencapaian target.
Organisasi Koperasi seacara kelembagaan harus mempunyai perangkat organisasi koperasi
yang menjadi sarana dalam pencapaian tujuan koperasi. Perangkat fundamental dalam
perencanaan strategis yang kemudian menjadi kelengkapan organisasi yang wajib ada
adalah parameter-parameter idialisme dasar seperti; visi, misi, goal, objektif.

Untuk mempercepat percapaian Renstra (Perencanaan Strategi) koperasi diperlukan:

– Spesific ( kekhususan)

– Measurable ( Terukur)

– Achieveable ( Dapat dicapai)

– Rationable ( Rasional, dapat dipahami)

– Timebound ( Ada limit/batas waktu)

System koperasi erat hubungannya dengan manajemen koperasi. Jadi, hal utama yang
harus dilakukan dalam manajemen koperasi, diantaranya:

Dari anggota. Dalam manajemen harus direalisasikan melalui berbagai cara antara lain :

 Dengan penuh tanggung jawab melaksanakan anggaran dasar dan keputusan


rapat anggota.
 Memberikan suara persetujuan dan pro terhadap sesuatu yang membaikkan suatu
koperasi, seperti meminta atau mengusulkan pemeriksaan terhadap keuangan yang
ada dalam koperasi, andai kata, anggota merasa ada kejanggalan.
 Membantu permodalan koperasi sesuai dengan kemampuan masing – masing dan
memenuhi kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan, dalam hal simpanan wajib
dan lain-lain.

Dari pengurus. Dalam manajemen harus direalisasikan melalui berbagai cara antara lain :
 Mengelola koperasi dan usaha yang berhubungan dengan maju mundurnya
koperasi dengan memanfaatkan semua sumber daya yang ada. Tidak merasa ingin
mengambil keuntungan pribadi dalam menjalankan tugas.

Mengajukan (a) rencana pendapatan, dan (c) rencana pendapatan (c) rencana biaya,
dengan rasional.

Apabila koperasi semakin besar maka diperlukan karyawan, sehingga pengurus dapat di
bantu oleh para karyawan. Dalam hal ini, pengurus jangan merasa dirinya disingkirkan,
atau pun merasa dirinya mampu melaksanakan semua tugas.

Dari Pengelola harus melayani anggota secara efisien, ramah dan mampu bersaing.

Selain itu, tambahan pula, Manajemen koperasi harus dapat mengantisipasi perubahan
dengan melakukan perbaikan dan penyesuaian seperti:

Melakukan diversifikasi usaha.

Memperbaiki struktur keanggotaan agar lebih responsif terhadap kebutuhan anggota.

 Mengadakan partisipasi anggota secara demokratis dalam proses manajemen,


sehingga perencanaan pendidikan anggota dapat terwujud.

Mengadakan penelitian, analisis, diskusi, dan penggalian segala aspek yang berkaitan yang
akan memungkinkan dilakukannya penggabungan gerakan kelembagaan.

Mempunyai niat yang lebih serius dan lebih jernih dari semua lapisan yang terkait kepada
koperasi untuk benar – benar mengembangkan koperasi Indonesia sebagai srana untuk
kesejahteraan.

Mempercepat proses pendidikan kader – kader koperasi, baik dari pemerintah maupun
dari masyarakat.
Sekarang Koperasi dituntut untuk dapat dikelola dengan lebih efektif dan efisien lagi. Hal
ini sekaligus dapat meningkatkan kinerja koperasi khususnya pada pengolahan data
transaksi, sehingga dalam pengolahan data tidak akan ada data yang rangkap atau keliru
dalam pencatatan dan dapat mempermudah penyajian data transaksi serta mempermudah
pencarian.

SOLUSI

Penggunaan aplikasi sistem manajemen koperasi adalah salah satu cara yang tepat untuk
mengatasi masalah-masalah manajemen keuangan, karena didalam sistem yang sudah
terkomputerisasi, segala hal yang berhubungan dengan proses bisnis akan dicatat dan
disimpan dalam sebuah database yang dapat dilihat setiap saat oleh pemilik usaha atau
pimpinan perusahaan. Selain itu, sistem manajemen ini bisa digunakan sebagai acuan
dalam pengambilan keputusan yang tepat untuk produktifitas dan kekuatan bisnis
perusahaan dimasa depan.

http://medan.tribunnews.com/2014/10/24/majelis-hakim-melihat-kejanggalan-di-
koperasi-maro-mardongan

Laporan Wartawan Tribun Medan / Tatang Sinaga

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Sahata Butarbutar yang menjabat sebagai Ketua Koperasi


Maro Mardongan menjadi saksi di ruang Cakra I Pengadilan Tindak Pidana Korupsi
(Tipikor) Medan, Jumat (24/10/2014). Sahata menjadi saksi dugaan korupsi di Dinas
Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Perindakop) Kabupaten Tobasa pada tahun
2007.

Kasus ini menyeret eks Bendahara Perindakop Tobasa Melky Lumbangaol menjadi
terdakwa. Diperkirakan kerugian negara mencapai Rp 900 juta dari total anggaran Rp 1,6
miliar.
Majelis Hakim kemudian juga mempertanyakan keberadaan koperasi tersebut sehingga
dipastikan bukan koperasi fiktif.

"Koperasi anda benar-benar ada kan. Masa berdirinya pada tahun 1999 tapi baru
beroperasi pada 2004. Jadi selama lima tahun itu apa aktivitas koperasinya," tanya hakim.

Kemudian Sahata menjawab bahwa koperasi tersebut tidak fiktif. "Koperasi ini benar ada
yang mulia. Saya juga termasuk yang mendirikannya. Beroperasi pada tahun 2004 karena
kami menunggu bantuan modal," jelasnya.

Majelis hakim juga melihat kejanggalan pada proses pembayaran cicilan oleh koperasi
tersebut. "Dana ini dicairkan pada awal Januari 2015. Tapi kemudian anda langsung
membayarnya pada akhir Januari untuk jangka waktu tiga bulan. Bisa anda jelaskan ini,"
ujar majelis.

Mendengar pertanyaan ini Sahata tak mengeluarkan separta kata pun. Majelis hakim
kemudian menunda persidangan hingga pekan depan.

(tas/tribun-medan.com)

Editor: Sofyan Akbar

Sumber: Tribun Medan

http://www.kabarbromoterkini.com/2016/02/28/salah-gunakan-uang-kpri/

Salah Gunakan Uang KPRI?

FEB 28, 2016by ROSSIin HUKUM

Pengurus Sebut Jual Tanah untuk Lunasi Utang

PROBOLINGGO – Laporan pertanggung jawaban (LPJ) Koperasi Pegawai Republik


Indonesia (KPRI) Eka Kapti Kota Probolinggo dinilai janggal oleh sejumlah anggotanya.
Diduga, ada penyalahgunaan keuangan koperasi periode 2013-2014 bernilai
miliaran rupiah.
Dugaan itu bermula saat penyampaian LPJ koperasi periode 2013-2014 dalam Rapat Akhir
Tahun (RAT) 2016, Rabu (24/2). Ditemukan perbedaan jumlah piutang pada LPJ periode
2013-2014 sebesar Rp 1.010.358.000. Juga ditemukan perbedaan nilai aset tanah sebesar
Rp 1.258.220.000.

Dugaan itu salah satunya disampaikan oleh H. Slamet, guru SD Negeri Triwung Kidul 3,
Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo yang juga anggota KPR Eka Kapti. Ada beberapa
poin yang saya pertanyakan di laporan pertanggung jawaban keuangan ini.

Ada perbedaan angka serta ada bagian yang sengaja dihilangkan oleh pengurus
koperasi dalam laporan pertanggung jawaban keuangan,” ujar Slamet, saat ditemui
harian ini SD Negeri Triwung Kidul 3. Perbedaan itu diketahui dari perbandingan LPJ
periode 31 Desember 2013 dan 31 Desember 2014.

Pada LPJ periode 31 Desember 2013, tertulis piutang uang sebesar Rp 3.418.410.300 per
31/12/2013. Sedangkan pada LPJ periode 31 Desember 2014, piutang uang per
31/12/2013 tertulis 2.408.052.300. Perbedaan itu terlihat jelas pada foto copy dua lembar
LPJ koperasi. Yaitu, periode 31 Desember 2013 dan periode 31 Desember 2014.

“Ada selisih Rp 1.010.358.000. Padahal laporan pertanggung jawaban tersebut tutup akhir
tahunnya sama yaitu per 31/12/2013. Tapi angkanya beda. Kok bisa? Seharusnya kan
sama?” ujar Slamet. Foto copy itu sendiri diperoleh dari pengurus koperasi saat RAT
digelar.

Menurut Slamet, semua peserta RAT dapat foto copy tersebut. Karena perbedaan itu,
bahkan pelaksanaan RAT sampai ricuh. Penyebabnya, saat itu banyak peserta RAT yang
mempertanyakan perbedaan tersebut. Saat itu, sebenarnya pengurus yang diwakili
bendahara koperasi sudah memberikan penjelasan pada anggota. Namun, anggota merasa
tidak puas.

Tidak hanya itu yang dipersoalkan. Kondisi serupa juga terjadi pada nilai tanah pada
kolom aktiva tetap. “Nilai tanah pada lampiran laporan pertanggung jawaban 31 Desember
2013 tercatat Rp 368.880.000. Namun pada lampiran laporan pertanggung jawaban per
31 Desember 2014 mencapai Rp 1.627.100.000. Kok bisa setinggi itu. Padahal seharusnya
nilai aset sama. Sebab, tanggalnya juga sama,” jelasnya.

Diduga, saat laporan pertanggung jawaban 31 Desember 2013, tanah aset koperasi masih
ada dan dinilai seharga Rp 368.880.000. Namun, saat ini tanah yang dimaksud diduga
dijual senilai Rp 1.627.100.000. Hasil penjualan inilah yang kemudian dimasukkan dalam
laporan pertanggung jawaban 31 Desember 2014.

Kejanggalan yang lain yaitu, laporan pertanggung jawaban 31 Desember 2014, NJOP (nilai
jual objek pajak) tidak ada. Pada laporan pertanggung jawaban 31 Desember 2013, NJOP
tertulis sebesar Rp 308.035.826. Namun, laporan pertanggung jawaban 31 Desember
2014, NJOP dihilangkan.

“Seharusnya jika nilai aset (tanah) meningkat, NJOP tanah juga bertambah. Ini justru
dihilangkan. Kalau dihilangkan artinya kan koperasi sudah tidak punya aset lagi. Lantas
kemana aset tanah ini kalau NJOP dihilangkan dari laporan pertanggung jawaban.
Makanya ada dugaan tanah aset koperasi dijual,” tuturnya.

Dia menegaskan, aset Koperasi itu bukan semata milik pengurus. Namun, milik semua
anggota. “Itu jelas ditekankan kepala Dinas Pendidikan saat RAT Rabu lalu,” ungkapnya.
Sementara itu Zainul, bendahara KPRI Eka Kapti mengungkapkan, laporan keuangan
itu dibuat pada tahun 2013-2014. Sementara dirinya baru menjabat pada tahun 2015.

“Namun berdasarkan Laporan pertanggung jawaban pengurus sebelumnya, aset yang


dimiliki koperasi berupa tanah dan bangunan sudah tidak ada lagi. Karena untuk
mengganti kerugian koperasi sebesar Rp 1,6 Miliar,” ujar Zainul.

Namun, Zainul juga mengakui jika ada kejanggalan dalam laporan tersebut.
Penyusutan dalam anggaran terlalu besar. “Penyusutan dalam usaha dan koperasi setiap
tahun selalu ada, karena memang penyusutan setiap tahun terjadi. Namun esarnya kisaran
5 sampai 10 persen. Sedangkan ini jumlahnya cukup besar. Ini masih perlu ditelusuri lagi
kepada pengurus lama untuk memastikan kenapa ada perubahan yang signifikan,”
jelasnya.
Zainul menegaskan dengan hilangnya NJOP, jelas artinya KPRI Eka Kapti sudah tidak lagi
memiliki aset berupa tanah dan bangunan. “Sedangkan data angka Rp 1,6 miliar itu bukan
lagi berupa aset. Bisa berupa uang yang tak tahu ada di mana,” ujar Zainul.

Sementara itu Ketua KPRI Eka Kapti, Abdul Azis saat ditelpon tidak merespon panggilan
harian ini. Bahkan pesan singkat dari wartawan koran ini pun tidak dibalas. Menurut
informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Bromo, Abdul Azis sedang ada acara di Jember.
(radar)

http://binpers.com/2016/10/anggota-koperasi-pamalianbauntung-pidanakan-
ketua-dan-pengurusnya/

Anggota Koperasi Pamalianbauntung Pidanakan Ketua Dan Pengurusnya

Added by binpers on 6 Oktober 2016.


Saved under Hukum & Kriminal, Kalteng, Lintas Daerah

KOTIM-KALTENG-BINPERS.COM, Kesabaran Anggota Koperasi Pamalian Bauntung hampir


habis terkait dengan ketidak transparannya atau tidak terbukanya Ketua Koperasi
beserta Pengurusnya selama lima tahun lebih bekangan ini dalam mengelola uang
koperasi yang bermitra dengan PT.Makin Group dalam usaha Kebun Plasma Kelapa
Sawit.

Informasi yang berhasil dihimpun Wartawan Berita Investigasi Nasional Binpers,com


bahwa : Selama Lima tahun lebih Koperasi ini tidak pernah melaksanakan kewajiban
nya untuk melaksanakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) sebagai wadah Pengurus dan
Ketua Koperasi menyampaikan Pertanggung Jawaban nya selama menjabat Kepada
Anggota Koperasi , baik melaporkan pertanggung jawaban keuangan maupun melaporkan
perkembangan kemajuan dan kemunduran Koperasi dengan harapan bisa mencari solusi
yang terbaik jika Koperasi ini mengalami masalah.
Informasinya beberapa orang perwakilan dari Anggota Koperasi akan membetuk Tim
verivikasi untuk monitoring, meneliti dan mengumpulkan data terkait berapa jumlah dana
Keuangan Koperasi selama ini yang dikelola oleh Ketua merangkap bendahara ,kemana
saja uang itu dipergunakan, karena selama ini tidak pernah dilaporkan, dan diduga banyak
penyimpangan.

Dengan dibentuknya Tim ini nanti harapannya akan meneliti dan mengoreksi laporan
pertanggung jawaban Ketua Koperasi saat melakukan Rapat Anggota Tahunan.

Untuk diketahui dan dapat disimpulkan bahwa selama ini banyak sekali kejanggalan –
kejanggalan yang terjadi di Badan Koperasi ini diantaranya sbb :

1. Selama lima tahun lebih Koperasi ini tidak pernah melakukan Rapat Anggota Tahunan.
2. Koperasi ini tidak ada keterbukaan dengan anggota.
3. Secara Kasat mata Administrasi Koperasi ini tidak Jelas.
4. Jumlah Anggota Koperasi juga tidak jelas berapa selalu saja bertambah tanpa adanya
persetujuan dari Anggota, penggelembungan jumlah anggota ini diduga kuat modus
untuk melakukan korupsi karena anggotanya tidak jelas siapa ?
5. Semula jumlah Anggota Koperasi hanya berjumlah 446 orang sekarang menurut
informasi sudah mencapai 1550 orang.
6. Pembagian uang SHK diperkirakan tidak sesuai dengan ketentuan dan diduga kuat dibagi
semaunya oleh ketua.
7. Selama ini Buku tabungan Simpanan Pokok dan Simpanan Wajib Anggota Koperasi tidak
pernah diperlihatkan dengan anggota, sementara penghasilan SHK seluruh anggota
dipotong saat penerimaan ,pertanyaan nya dikemanakan uang Simpanan pokok dan
simpanan wajib anggota itu, mana uangnya ?dan jumlahnya sampai saat ini berapa ?
8. Posisi Kantor Koperasi selama ini dirumah Ketua Koperasi di Kelurahan Baamang Hulu
bukan di Pamalian, banyak keluhan dari anggota kantornya jarang dibuka.
9. Tugas Bendahara selama ini diambil alih oleh Ketua Koperasi lalu dialihkan kepada
Rosnah SPd anak kandungnya sendiri, hal ini sudah jelas menyalahi aturandan perlu
diprotes, kalau perlu dilaporkan kepihak yang berwenang.
10. Seluruh anggota Koperasi tidak pernah tau berapa jumlah uang yang diterima dari
perusahaan, karena tidak ada keterbukaan.
11. Aset Koperasi berupa mobil dll banyak digunakan untuk kepentingan Ketua dan
keluarganya sendiri secara pribadi
12. Selama ini Koperasi Pamalian Bauntung diduga belum melaksanakan kewajiban Pajak.
13. Yang tidak kalah pentingnya Harta kekayaan ketua dan keluarganya ( Rosnah anak
kandungnya pemegang uang koperasi ) perlu dipertanyakan darimana asalnya, diduga
kuat banyak menggunakan uang koperasi yang mungkin tidak bisa dipertanggung
jawabkan jika ditelisik, informasinya ketua koperasi ini banyak memiliki kebun dan juga
memiliki rumah di Banjarmasin Kalimantan Selatan.
Sampai berita ini diturunkan Klarivikasi jawaban dari Ketua Koperasi dan Pengurus
Koperasi belum diterima, sementara itu Salah seorang Anggota Koperasi sudah tidak sabar
lagi menunggu Rapat Anggota Tahunan (RAT) yang dijadwalkan Pengurus pada 18
Desember mendatang,.

Informasinya Anggota Koperasi tersebut sudah melaporkan Ketua dan Pengurus Koperasi
Pamalian Bauntung ke Pihak yang berwajib dalam” DUGAAN PENGGELAPAN DAN
PENCUCIAN UANG KOPERASI”. ( Penulis : Misnato Koordinator Kalimantan Tengah pada
Tabloid Berita Investigasi Nasional)

http://nasional.kontan.co.id/news/duh-kejahatan-berkedok-koperasi-kembali-
terungkap

Duh, kejahatan berkedok koperasi kembali terungkap


Minggu, 12 Agustus 2012 / 18:32 WIB


Ada 324 investor Koperasi Langit Biru yang melapor

JAKARTA. Kasus penipuan berkedok investasi seakan tidak ada habisnya. Dalam sepekan
saja, dua kasus investasi abal-abal ini berhasil diaungkap Kepolisian RI. Yang terakhir,
Polisi berhasil mengungkap penipuan yang dilakukan oleh Koperasi Putra Pandawa, yang
berlokasi di daerah Keramat Jati, Jakarta Timur.

Menurut Kepala Bidang Humas Polda Metro jaya, Rikwanto, Putra Pandawa diduga telah
menipu masyarakat agar mau menyimpan dananya. Ia menjelaskan, Putra Pandawa
menawarkan jasa simpan pinjam. "Mereka menjanjikan akan memberikan keuntungan
hingga 50% kepada masyarakat," kata Rikwanto.

Bahkan, koperasi itu juga memberikan garansi kepada nasabahnya, kalau semua uang yang
mereka simpan bisa diambil kapan pun dibutuhkan. Namun, janji itu rupanya palsu.

Rikwanto bilang, kasus ini bermula ketika pada hari Jumat (10/8) lalu, sejumlah orang
mendatangi kantor Koperasi Putra Pandawa. Orang-orang tersebut merupakan nasabah
koperasi tersebut. Para nasabah tersebut mengaku tidak bisa mengambil dana miliknya
yang disimpan.

Padahal, uang tersebut akan mereka gunakan untuk keperluan Hari Raya. Untuk
mengendalikan situasinya, Polisi kemudian melakukan pengamanan di area Tempat
Kejadian Perkara (TKP).

Polisi kemudian melakukan penggeledahan, yang disusul dengan penyegelan kantor. Dari
penggeledahan tersebut, Polisi berhasil mengamankan sejumlah barang bukti berupa
dokumen-dokumen dan inventaris kantor. Polisi juga mengaku langsung menahan dua
orang yang diduga terlibat dalam kasus ini.

Mereka yang ditahan polisi itu diantaranya Ketua Putra Pandawa, berinisial DR, dan
Wakilnya DM. Keduanya merupakan pasangan suami-isteri. Saat ini Polisi masih
melakukan pemeriksaaan secara intensif terhadap keduanya. Keduanya masih berstatus
sebagai saksi dalam perkara ini. Saat ini Kepolisian masih mendalami temuan-temuan
mereka.

Dari hasil penyelidikan diketahui kalau Koperasi itu memiliki sekitar 1.300 anggota,
dengan jumlah dana kelolaan mencapai Rp 600 juta. Rikwanto juga bilang, kalau Putera
Pandawa rupanya tidak memiliki izin untuk mengelola dana masyarakat.

http://www.pipnews.co.id/daerah/waspada-masih-ada-rentenir-berkedok-
koperasi-di-kendal/

Waspada ! Masih Ada Rentenir Berkedok Koperasi di Kendal

30 Mei 2016 2:00 PM Kurniawan Daerah 0

Rapat Kerja Daerah Dewan Kerja Koperasi Indonesia Daerah (dekopinda) Kabupaten
Kendal, di Gedung Dekopinda, Rabu (25/06/2016

PIPnews.co.id | Kendal – Kejahatan bisnis dengan berkedok koperasi menyebar hingga ke


kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Banyak rentenir di Kendal menjalankan bisnis yang
merugikan masyarakat dengan berkedok koperasi.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Kendal, Sutiyono, mengungkapkan hal
tersebut dalam sambutannya pada pembukaan Rapat Kerja Daerah Dewan Kerja Koperasi
Indonesia Daerah (Dekopinda) Kabupaten Kendal, di Gedung Dekopinda, Rabu
(25/6/2016).

Menurut Sutiyono, Bupati Mirna Annisa ingin agar koperasi dijalankan oleh kepengurusan
yang sehat. “Jika memang ingin membawa kermajuan, koperasi harus jelas
keanggotaannya, jelas asetnya, dan jelas sistemnya,” tegas Sutiyono seperti
diberitakan Tribunejateng.com, Rabu (25/5/2016) .
Menghadapi tantangan dalam pasar tunggal Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) saat ini,
koperasi disebut Sutiyono harus mampu berperan dalam mengatasi masalah
perekonomian masyarakat, termasuk dalam mengurangi jumlah pengangguran.

Koperasi juga dituntut untuk tetap menjaga kualitas Sumber Daya Manusia (SDM),
termasuk menjalin kerjasama dengan berbagai pihak demi percepatan perkembangan
koperasi.

Sementara terkait peran Dekopinda, Sutiyono ingin agar bisa menjadi wadah bagi seluruh
koperasi yang ada. Hal ini mengingat selama ini Dekopinda baru diisi oleh sepertiga
koperasi di seluruh Kabupaten Kendal. Saat ini, dari sekitar 589 koperasi di Kendal, baru
188 yang tergabung dalam Dekopinda Kendal.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Dekopinda, Sugiyarto, berjanji akan terus menggiatkan
pembinaan terhadap anggotanya, dengan tujuan untuk mencetak koperasi-koperasi yang
sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip dasar sebagai jatidiri koperasi. Menurutnya,
selama ini Dekopinda selaku palang pintu bagi koperasi telah mengarahkan anggotanya,
untuk berpraktek sesuai dengan ketentuan yang ada.

“Termasuk bagi koperasi-koperasi yang menyimpang, akan kami arahkan sesuai nilai-nilai
dan prinsip-prinsip koperasi,” demikian Sugiyarto. (ayu)

https://m.tempo.co/read/news/2016/05/28/083774832/bank-keliling-berkedok-
koperasi-resahkan-warga-depok

Bank Keliling Berkedok Koperasi Resahkan Warga Depok

SABTU, 28 MEI 2016 | 13:50 WIB

Ilustrasi mata uang rupiah. REUTERS/Beawiharta


TEMPO.CO, Depok - Ketua Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Depok
Muhamad H.B. mengatakan banyak bank keliling berkedok koperasi yang bunganya
mencekik warga Depok. Tak tanggung-tanggung, para lintah darat yang menawarkan
pinjaman itu mematok bunga sebesar 20 persen setiap bulan.

Ia menuturkan bank keliling menjamur di semua kecamatan yang ada di Depok. Modus
mereka berkedok sebagai koperasi simpan pinjam. Para rentenir meminjamkan uang
dengan iming-iming proses mudah dan mendatangi rumah-rumah warga. "Sudah marak
sekali bank keliling di Depok. Dewan sudah mendapatkan puluhan keluhan warga yang
menjadi korban," kata Muhamad, Kamis, 26 Mei 2016.

Muhamad mengatakan mayoritas korban merupakan ibu rumah tangga. Mereka mudah
mendapatkan uang tunai karena ketika akad kredit tak perlu diketahui suami. Karena
proses peminjaman dari bank keliling yang mudah, banyak ibu rumah tangga yang terlilit
utang. Bunganya pun selalu naik 20 persen setiap bulan.

Muhamad mencontohkan, bila berutang Rp 1 juta, kreditor harus membayar Rp 1,2 juta
dalam sebulan. "Artinya, cicilan sebesar Rp 40 ribu sebulan. Kalau dua bulan cicilan,
kreditor harus bayar Rp 1,4 juta. Semakin lama cicilan bunga semakin besar," ujarnya.

Menurut Muhamad, sistem pengawasan yang dilakukan Pemerintah Kota Depok terhadap
bank-bank keliling itu masih lemah. Bahkan Depok terkesan tidak tegas membubarkan
bank keliling yang berkedok koperasi. "Harusnya di-monitoring. Sebab, korbannya sudah
banyak," tuturnya.

Ia memperkirakan ada puluhan koperasi yang menjadi rentenir. Dari puluhan koperasi
tersebut, masing-masing mempunyai anak usaha yang tersebar di setiap kecamatan.

Dampak dari maraknya bank keliling ini, menurut Muhamad, cukup besar. Bahkan ada
seorang suami yang marah besar karena istrinya terlilit utang dengan bunga besar dari
bank keliling. "Sampai mau diceraikan," ucap Muhamad.
Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2013 tentang koperasi, di Depok hanya
diperbolehkan bunga pinjaman tidak lebih dari 3 persen. Namun yang dilakukan bank
keliling berkedok koperasi sudah kelewat batas. "Mereka harus dibubarkan," kata
Muhamad.

IMAM HAMDI

http://nasional.sindonews.com/read/991383/162/dari-koperasi-langit-biru-
hingga-mmm-1429495116

Dari Koperasi Langit Biru hingga MMM


Koran SINDO
Senin, 20 April 2015 − 08:58 WIB

A+ A-
Aksi penipuan terhadap masyarakat terkait investasi bodong setiap tahunnya masih saja
terjadi. Pelakunya berasal dari koperasi hingga perusahaan investasi terkenal .

Sebagian ada yang ditindak dan diburu. Sebagian lagi masih dalam tahap pengejaran aparat
hukum. Sebut saja Koperasi Langit Biru dan Koperasi Cipaganti Karya Guna Persada
(KCKGP). Belakangan di Tanah Air juga sedang marak masuknya perusahaan investasi dari
luar negeri bernama Mavrodi Mondial Moneybook atau Manusia Membantu Manusia
(MMM).

Kendati belum terbukti sebagai perusahaan investasi yang memainkan money games,
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah meminta kepada masyarakat berhati-hati berinvestasi
di perusahaan tersebut. MMM merupakan perusahaan asal Rusia. Aksinya tidak sekadar
menyasar masyarakat di Indonesia belaka, tidak sedikit juga orang kaya di luar negeri juga
menjadi targetnya untuk diperdayai.

Dalam sistem MMM ini, setiap anggota membuat akun di laman MMM dengan paket dana
sesuai keinginan, yakni minimal Rp1-10 juta. Bentuklembagakeuanganyangmelakukan
investasi bodong lainnya adalah Koperasi Langit Biru (KLB). Modus penipuan investasi ini
berkedok lembaga koperasi. Pengelola investasi di koperasi ini menghimpun dana dari
masyarakat.

Pengelola yang juga pimpinan KLB, Jaya Komara, berlindung dari tampilannya yang sehari-
hari sebagai tokoh agama dan dimanfaatkan memperdayai masyarakat untuk ditipu
dengan tawaran investasi. Lembaga keuangan investasi itu menjanjikan nasabah dengan
keuntungan 30-40% dari modal yang disetorkan. Alhasil dari 140.000 nasabahnya waktu
itu, Jaya Komara berhasil meraup dana Rp6 triliun.

Semua itu hasil dari aksi tipu daya yang dilakukan selama satu setengah tahun sejak 2011.
Pengembalian modal dan keuntungan yang dijanjikan tak mampu dipenuhi oleh Jaya
Komara. Hingga pada akhirnya, dia dibekuk aparat kepolisian. MMM dan KLB bukanlah
yang pertama. Skema investasi seperti arisan berantai sebetulnya sudah lama silih berganti
menimbulkan keresahan dikalangan masyarakat.

Skema investasi lainnya seperti multilevel marketing (MLM) investasi emas, koperasi,
sampai yang bermodus agamais. Ciri utamanya, pengumpulan dana nasabah dengan
janjijanji keuntungan fantastis. Khusus untuk MMM, operandinya luar biasa karena
beriklan di media massa nasional. Kasus penipuan berkedok investasi juga terjadi di luar
negeri.

Mungkin kita masih ingat perusahaan bernama Bernard L Madoff Investment Securities
LLC yang melakukan semacam Skema Ponzi. Inimerujukpada pemberiankeuntungan
kepada investor yang masuk lebih awal dari dana-dana investasi yang disetor para investor
yang masuk belakangan.

Saat puncak krisis ekonomi AS pada 2008, perusahaan tidak lagi bisa memberikan
keuntungan. Total dana investasi yang lenyap lebih dari USD65 miliar, ribuan investor
harus gigit jari termasuk BNP Paribas, Kingate Global Fund, sutradara Steven Spielberg,
dan raja real estate Mort Zuckerman. Akibat kejahatannya tersebut, Madoff diganjar 150
tahun penjara. Ini merupakan kasus terlama untuk kategori kejahatan kerah putih dalam
sejarah pengadilan di Manhattan, AS.

Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bidang Edukasi dan
Perlindungan Konsumen Kusumaningtuti Sandriharmy Soetiono mengatakan, lembaga
investasi ilegal saat ini berkembang tidak hanya menyasar Indonesia. ”Di luar negeri, aksi
seperti itu juga meresahkan. Padahal, tingkat pendidikan warga luar negeri seperti Eropa
dan Amerika cukup tinggi,” jelas Kusumaningtuti.
https://lovelycimutz.wordpress.com/2010/10/02/koperasikasus-koperasi-dan-
cara-penyelesaiannya/

KASUS KOPERASI DAN CARA PENYELESAIANNYA


1. Kasus koperasi ini merupakan kejadian yang dialami sendiri oleh orangtua saya. Saya
bertempat tinggal di daerah BJI Bekasi Timur, di lingkungan tempat tinggal saya terdapat
Koperasi Simpan Pinjam di mana orangtua saya termasuk anggota koperasi. Berdasarkan
informasi, simpanan wajib yang harus dibayarkan oleh orangtua saya setiap bulannya
sebesar Rp. 5000. Dalam koperasi simpan pinjam ini apabila meminjam, bunga yang harus
dibayarkan sebesar 1,5 %. Menurut kesepakatan setiap akhir tahun anggota koperasi akan
mendapat bingkisan Hari Raya dari SHU masing-masing anggota. Yang menjadi masalah di
sini, bukan hanya anggota koperasi saja yang mendapat bingkisan dari SHU masing-masing,
namun semua warga lingkungan RT mendapatkannya termasuk yang bukan anggota
koperasi. Dengan kata lain SHU anggota dibagi sama rata dengan warga masyarakat RT,
tidak berdasarkan besarnya masing-masing SHU anggota. Akibat hal tersebut, orangtua
saya akhirnya keluar dari keanggotaan koperasi simpan pinjam RT.
Cara Penyelesaiannya :
Menurut saya pembagian SHU sama rata tersebut sangatlah tidak adil dan tidak sesuai
dengan ketentuan yang ada. Karena seharusnya anggota koperasi akan mendapatkan SHU
berdasarkan pinjaman serta bunga yang dibayarkan. Tidak dibagi sama rata seperti itu,
apalagi ada warga RT yang bukan anggota koperasi namun mendapatkan bingkisan yang
berasal dari SHU anggota koperasi. SHU seharusnya dibagi sesuai dengan transaksi
pinjaman dan jasa modal yang dilakukan oleh masing-masing anggota koperasi. Apabila
pihak pengurus koperasi ingin membagikan SHU seharusnya sesuai dengan besarnya SHU
masing-masing anggota. Sebaiknya berupa uang tunai sehingga mudah untuk
pembagiannya. Jika pengurus koperasi (yaitu pengurus RT juga) ingin membagikan
bingkisan hari raya secara merata ke semua warga RT, sebaiknya dana yang digunakan
berasal dari kas RT sendiri bukan dari SHU anggota koperasi.
2. Puluhan nasabah Koperasi Serba Usaha (KSU) Binar Sejahtera, Kabupaten Sragen, Jawa
Tengah, menjadi korban penipuan ketua koperasi tersebut. Salah satu korban penipuan
menjelaskan sudah empat tahun ini, sejumlah surat berharga milik anggota koperasi,
seperti Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB) dan surat sertifikat tanah dilarikan oleh
Kepala KSU Bina Sejahtera. Surat-surat berharga tersebut merupakan jaminan atas
pinjaman kredit yang dilakukan oleh para nasabah. Padahal para korban telah melunasi
uang pinjaman pada koperasi. Sebelumnya arogansi dari manajemen koperasi tersebut
juga telah ditunjukkan dengan dilakukannya penyitaan pada benda-benda milik para
nasabah, seperti televisi, jika para nasabah terlambat membayar angsuran pelunasan
pinjaman tersebut. Seorang korban lainnya mengatakan, akibat sertifikat tanahnya tidak
segera dikembalikan oleh ketua koperasi tersebut, dirinya harus menunda kepentingan
dirinya, seperti melakukan pinjaman lain. Oleh karena itu, kalangan nasabah korban
penipuan tersebut menuntut pengembalian surat-surat berharga milik para nasabah yang
sebelumnya menjadi jaminan sesegera mungkin. Jika dalam batas waktu dua minggu tidak
ada pengembalian dari pihak KSU Bina Sejahtera, lanjutnya, para nasabah akan
melaporkan kasus tersebut ke Kepolisian Resor Sragen.
Cara Penyelesaiannya :
Menurut saya kasus puluhan nasabah Koperasi Serba Usaha (KSU) Binar Sejahtera sudah
mencapai tahap yang rumit di mana pengurus koperasi tidak mau mengembalikan barang
jaminan pinjaman anggota sedangkan pinjaman anggota semua sudah dikembalikan.
Namun sikap yang harus dicontoh dari para anggota koperasi, mereka masih memiliki niat
untuk menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan dengan memberi waktu selama 2
minggu kepada pengurus koperasi. Hal ini sesuai dengan salah satu asas koperasi yaitu
kekeluargaan. Menurut saya sebaiknya diadakan pertemuan terlebih dahulu antara
pengurus dengan para anggota agar dapat menemukan kesepakatan bagaimana masalah
ini dapat segera diselesaikan secara adil. Apabila pihak pengurus tetap tidak memiliki
itikad baik untuk menyelesaikan masalah, maka sebaiknya para anggota melaporkan
masalah ini ke pihak yang berwajib karena ada ketidakadilan yang terjadi pada mereka.
Harapannya agar pihak berwajib dapat menyelesaikan masalah ini secara hukum agar
anggota masyarakat mendapat keadilan. Untuk anggota koperasi agar hal ini tidak terjadi
lagi sebaiknya sebelum masuk ke dalam anggota koperasi, harus melihat secara lebih
dalam apakah pengurus koperasi dapat dipercaya karena ini berurusan dengan masalah
uang.
http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt521edcb8e4a01/jalan-berliku-
koperasi-pegawai

Pidato Hatta di depan Senat Guru Besar Universitas Indonesia pada 30 Agustus 1975
‘Menuju Negara Hukum’ telah mengantarkan mantan Wakil Presiden itu meraih
gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang hukum. Kegigihannya memperjuangkan jiwa
Pasal 33 UUD 1945 terutama koperasi mendapat acungan jempol dari kalangan akademisi
dan praktisi, sehingga ia mendapat sebutan Bapak Koperasi Indonesia. Pandangan-
pandangannya menjadi roh koperasiIndonesia.
“Sistem yang cocok dengan penghidupan mereka dan tidak bertentangan dengan cita-cita
kita ialah badan koperasi ekonomi. Bukan koperasi yang bersemangat NV, dan berdasarkan
individualisme dan mencari untung seperti banyak kelihatan sekarang, melainkan koperasi
untuk pembela kepentingan umum”. Ini adalah penggalan tulisan Hatta di Daulat
Rakyat edisi 10 Juli 1933, yang dikutip promotor pemberian gelar itu, Padmo Wahyono.
Puluhan tahun berlalu, kekhawatiran Hatta masih relevan untuk direnungkan. Perjalanan
badan usaha koperasi di Indonesia terkatung-katung, atau kalau boleh dibilang bagaikan
kerakap di atas batu, hidup segan mati tak mau. Jangankan menjadi besar dan menguasai
pasar, koperasi justru kurang dilirik, termasuk para pengambil kebijakan. Watak
perekonomian yang dibuat Founding Fathers dalam Pasal 33 UUD 1945 cenderung makin
ditinggalkan.
Asumsi itu mungkin saja terbalik jika dilihat dari jumlah badan usaha koperasi dan jumlah
anggota koperasi. Data Kementerian Koperasi Usaha Kecil dan Menengah menunjukkan
pada 2009 hanya ada 170.411 koperasi di seluruh Indonesia, hingga Juni 2013 sudah
mencapai 200.808 unit usaha koperasi. Jumlah anggotanya pun kini sudah mencapai
34.685.145 orang, naik dibanding tahun 2009 yang berjumlah 29.240.271 orang. Angka-
angka ini juga disinggung Menteri Koperasi dan UKM Syarief Hasan saat peringatan Hari
Koperasi Nasional ke-66 di Mataram, Nusa Tenggara Barat, 12 Juli lalu.
Koperasi sebenarnya badan usaha yang sangat dikenal karena tersebar hingga ke
pedesaan. Puluhan tahun program Koperasi Unit Desa (KUD) diperkenalkan. Malahan,
nama koperasi sering dipakai untuk bisnis investasi yang rawan penyimpangan. Anda
masih ingat kasus Koperasi Langit Biru di Depok? Pengurus koperasi ini telah
mengumpulkan uang dari anggota dengan iming-iming imbalan besar. Hasilnya, uang
anggota raib, dan pengurus koperasi itu, Jaya Komara, akhirnya meninggal dalam status
tahanan polisi.
Bentuk usaha koperasi bahkan menjadi pilihan para pegawai negeri di banyak lembaga
pemerintahan, termasuk lembaga yang bersinggungan dengan hukum semisal Kejaksaan,
Kepolisian, Komnas HAM, DPR, BPK, Mahkamah Konstitusi dan Mahkamah Agung.
Penelusuran yang dilakukan hukumonline memperlihatkan warna warni koperasi di
lembaga-lembaga tersebut. Ada yang berkembang dengan dana miliaran rupiah, ada pula
yang hidup biasa-biasa saja. Koperasi Pengayoman, misalnya. Omzet koperasi para pegawai
di Kementerian Hukum dan HAM ini puluhan miliar per tahun. Kantor koperasinya malah
berada di luar gedung Kementerian, dan punya bisnis seperti SPBU di daerah Tangerang.
Koperasi simpan pinjam pegawai bekerjasama dengan BNI, setiap pegawai bisa meminjam
maksimal Rp20 juta dengan masa tenor lima tahun.
Sayang, nama koperasi ini sempat terseret kasus korupsi Sisminbakum. Pengurusnya pun
harus bolak balik diperiksa Kejaksaan Agung. Pengalaman tak mengenakkan itu melecut
Koperasi Pengayoman untuk berbenah. Meski tak tahu persis kasus Sisminbakum 2010
silam, Erwin Azis, Ketua Koperasi Pengayoman sekarang, mengatakan akan fokus pada
pengelolaan aset koperasi. Koperasi lain, Primer Koperasi Kepolisian (Primkoppol), juga
terseret dalam kasus simulator SIM yang kini sedang disidangkan di Pengadilan Tipikor
Jakarta.
Melangkah memperbaiki diri setelah terseret kasus menjadi jalan keluar bagi pengurus
koperasi. Koperasi pegawai Mahkamah Konstitusi, misalnya, telah berkembang. Kini,
pengurus koperasi berusaha meningkatkan pengawasan agar tak lagi terjadi
penyimpangan. Sisa Hasil Usaha (SHU) yang bisa dibagikan bisa mencapai 200 jutaan per
tahun.
Koperasi karyawan Komnas HAM terbilang sederhana. Punya usaha jual beli barang
kebutuhan karyawan, koperasi ini hanya punya etalase kecil di bawah tangga. Rupanya,
kata Jahani, Ketua Koperasi Pegawai Komnas, usaha yang lebih diminati karyawan adalah
simpan pinjam. Omzetnya pun jauh lebih kecil dibanding Primkoppol atau Koperasi
Pengayoman.
Kecil atau besar omzetnya, koperasi adalah usaha yang selalu berusaha dilindungi
pemerintah. Karena itu, banyak program yang digulirkan untuk stimulus bagi koperasi.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah mempermudah pendirian koperasi. UU No. 17
Tahun 2012 tentang Perkoperasian dibuat antara lain untuk memenuhi keinginan tersebut,
sekaligus memberikan kepastian status koperasi sebagai badan hukum. Koperasi,
menurut Wet pengganti UU No. 25 Tahun 1992 ini, adalah badan hukum yang didirikan
oleh orang perseorangan atau badan hukum koperasi dengan pemisahan kekayaan para
anggotanya sebagai modal menjalankan usaha.
Salah satu filosofis yang selalu ditekankan adalah kesejahteraan anggota koperasi. Lewat
koperasi, seluruh anggota bisa menikmati berbagai kemudahan membeli barang,
meminjam uang, atau mendapatkan SHU pada akhir tahun berjalan. Intinya, kesejahteraan
anggota menjadi prioritas dalam usaha koperasi. Koperasi pegawai BPK, sekadar contoh,
mencoba memfasilitasi anggotanya yang hendak bepergian ke luar kota atau menunaikan
umroh dan ibadah haji bagi yang beragama Islam.
Tetapi apakah koperasi karyawan bisa melakukan kegiatan yang menyimpang agar
mendapatkan keuntungan lebih? Koperasi karyawan yang ikut tender di lembaga tempat
karyawan itu, atau koperasi yang berperan menentukan pemenang lelang, adalah bentuk
penyimpangan yang terjadi. Penyimpangan yang terjadi tak lepas dari kesalahan
pemahaman masyarakat atau kekurangtahuan terhadap roh koperasi yang digagas Hatta
puluhan tahun silam. Mengejar keuntungan sebesar-besarnya untuk kemakmuran
segelintir pengurus jelas bukan roh koperasi. “Kita saja masyarakat awam yang kurang
memahami,” kata dosen Fakultas Hukum UGM, Fajrul Falaakh.
Idealnya, koperasi lebih menitikberatkan pada keadilan dan pemerataan semua anggota.
Presiden Susilo Bambany Yudhoyono juga menyadari pentingnya prinsip koperasi itu di
tengah persaingan ekonomi global. “Dengan koperasilah, ekonomi akan tumbuh lebih
berkeadilan dan lebih merata,” ucapnya saat memberikan pidato pada Peringatan Hari
Koperasi di Mataram (12/7).
Tinggal bagaimana pengurus koperasi pegawai di semua lembaga mencari jalan legal
menyejahterakan anggota, seperti yang dicita-citakan Hatta.

http://www.koperasi.net/2016/06/koperasi-pandawa.html

Perihal Koperasi Pandawa ditanyakan oleh Bu Netty dari Serang. Secara pribadi saya
belum pernah berdiskusi dengan pengurus Koperasi simpan Pinjam Pandawa dan tentu
saya tidak memiliki kopentensi untuk mengatakan aapakah koperasi dengan
perkembangan anggota yang luar biasa ini masuk kategori yang bagus atau perlu
pencermatan lebih lanjut. Beberapa hal yang perlu di ketahui tentang praktek koperasi
yang sudah memiliki cabang di beberapa kota ini adalah sebagai berikut.

Kemenkop Menyatakan Ada Penyimpangan Praktek Koperasi Pandawa

Kementerian Koperasi telah menyatakana menemukan praktek menympang di koperasi


Pandawa seperti di rilis olehantaranews beberapa alasan kenapa Koperasi Pandawa
Menyimpang karena menurut Kemenkop karena koperasi ini lebih banyak melayani non
anggota daripada anggota.

Point kedua yang menjadi sorotan kemenkop adalah. Koperasi Pandawa Depok sesuai
dengan yang tertulis di web nya memberikan "bagi hasil" 10% selama 1 bulan. angka yang
sangat menarik tetapi juga memunculkan pertanyaan, apa bisnis yang di dijalankan KSP
Pandawa sehingga bisa memberikan sharing profit sebesar itu? Adminkoperasi.net saat ini
sedang berusaha menghubungi pihak ksp pandawa untuk meminta klarifikasi tentatang hal
ini.

Ksp seperti yang sudah saya tulis dalam posting koperasi simpan pinjam adalah sebuah
bisnis yang selalu menarik apalagi jika ada tawaran keuntungan yang tinggi. Untuk
menjalankan sebuah ksp diperlukan seperangkat sistem yang baku untuk menjamin
keamanan dan kredibilitas koperasinya.

Opini Kami Terhadap Koperasi Pandawa


Perlu kami tekankan bahwa sampai post ini kami buat, Kami telah menghubungi ojk dan
juga admin web koperasi Pandawa untuk meminta informasi tetapi belum memperoleh
balasan, maka apa yang kami post disini adalah murni opini pribadi.

Pihak Ksp Pandawa menyatakan bahwa operasional mereka berbada dengan Koperasi
Cipaganti yang juga menggunakan sistem bagi hasil. Sebagai pengingat koperasi cipaganti
juga menghimpun dana dari anggotanya dengan janji bagi hasil 1,6 % sd 1,9 % perbulan.
Saya membuat perbadingan sederhana keduanya

Saya perlu sampaikan kembali bahwa manajemen pandawa mengatakan bahwa sistem
mereka berbeda dengan Cipaganti, jadi gambar diatas saya gunakan untuk merangkum
beberapa point yang sama saja. OJK dalam beberapa kesempatan mengingatkan
masyarakat untuk mengetahui secara detail tentang skema investasi yang akan di ikuti
apalagi jika tawaran keuntunganya sangat tinggi.

Saran kami bagi anda yang tertarik dengan skema bisnis Koperasi Pandawa pastikan
terlebih dahulu uang anda di investasikan kedalam usaha apa, dan jika anda berharap
mendapat bagi hasil 10% maka anda harus bisa memastikan bahwa bisnis yang dijalankan
memang bisa menghasilkan keuntungan lebih dari 20% sebulan.
Bagi hasil koperasi pandawa disebutkan mencapai 10 % sd 15 % tetapi pengurusnya
melalui kuasa hukum membantahnya mereka menyebutkan bahwa bagi hasil anggota
berbeda2, kebetulan ada yang sampai 10%. Untuk mengetahui kebenaranya memang harus
ditentukan oleh otoritas yang berwenang.

Sebagai perbandingan biasanya sistem profit share di lakukan oleh koperasi simpan pinjam
syariah, metode perhitungan profit share yang umum dilakukan adalah ( jml deposit/ jml
total dana ) x keuntungan x % bagi hasil, nah anda harus mengetahui bagaimana sistem
perhitungan bagi hasil yang diterapkan.

Prissip dasar dalam konsep bagi hasil profit share adalah laba bersih, artinya dalam hal ini
jika anda memasukan dana 100 juta kemudian anda investasikan di koperasi maka
koperasi harus memutar dana tersebut untuk usaha yang menghasulkan profit bersih
minimal 10 juta/bulan atau 120 juta pertahun.

Admin koperasi.net juga memiliki beberapa bisnis dan beberapa kali mendapatkan profit
lebih dari 10% tetapi dalam skala yang tidak terlalu besar makajika ada enis usaha yang
bisa memberikan keuntungan sedemikian tinggi, kontinyu dan konsisten maka akan sangat
menarik untuk di diskusikan.

Kami membuat tulisan ini sabagai respon atas pertanyaan visitor, apa yang kami
sampaikan berdasarkan sumber2 online yang juga bisa anda klarifikasi keberadaanya.
Kenali dengan baik investasi anda, begitu pula jika anda ingin berinvetasi di koperasi
pandawa.

http://vaniaputriajah.blogspot.co.id/2010/10/kasus-koperasi.html

Contoh-contoh kasus yang berhubungan dengan koperasi beserta cara


penyelesaiannya

1) Kasus Koperasi SS

Pengurus Harus Bertanggung Jawab

SEMARANG- Pengurus Koperasi Sembilan Sejati (SS) tidak dapat begitu saja melepaskan
diri dari tanggung jawab atas kerugian koperasi tersebut. Indardi SH dari Divisi
Investigasi Semarang Coruption Watch (SCW) menduga, laporan oleh sesama pengurus
itu sebagai upaya pelepasan tanggung jawab berkaitan dengan tuntutan
deposan/masyarakat atas simpanannya.

Di kantornya, Indardi tidak dapat menyembunyikan keheranannya mengapa hanya


Hendrawan (Ketua I Koperasi SS) yang dijadikan tersangka. Menurut dia, sebagian
pengurus pun diduga juga pernah mengucurkan pinjaman tanpa prosedur senilai
miliaran rupiah. ''Rekening para pengurus yang digunakan untuk transaksi koperasi itu
pun semestinya juga disita,'' tandas dia.

Menurutnya, korban yakni para deposan harus dijadikan saksi. Mengingat koperasi
tersebut diduga telah menerbitkan surat simpanan berjangka dengan total nilai hampir
Rp 100 miliar, maka hal tersebut merupakan tindak pidana perbankan melanggar Pasal
46 jo 16 UU No 10 Tahun 1998 tentang perubahan atas UU No 7 Tahun 1992.

Seperti diberitakan, Hendrawan diduga memberikan pinjaman kepada seorang


pengusaha bernama Wijaya di luar prosedur. Akibat perbuatan tersebut, koperasi yang
memiliki kantor di Semarang, Juwana, dan Solo itu rugi Rp 55 miliar. Baik Hendrawan
maupun Wijaya yang dijerat dengan Pasal 374 KUHP tentang Penggelapan saat ini
berstatus sebagai tanahan Polda Jateng. Sejak berdiri 3 tahun silam, koperasi tersebut
diduga berhasil menghimpun dana masyarakat Rp 200 miliar.

Indardi menekankan pentingnya menghadirkan saksi ahli dari Bank Indonesia dan dari
Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Provinsi Jawa Tengah atas kegiatan Koperasi
Sembilan Sejati.

Hal senada juga diungkapkan praktisi hukum, A Dani Sriyanto SH. Dani yang juga
menerima laporan dari para deposan mengkhawatirkan, jika penanganan kasus tersebut
tidak dikembangkan, nasabah tak dapat mengajukan tuntutan pada pengurus koperasi
berkaitan dengan pengembalian dana.

Jika penyidikan dikembangkan dari delik penggelapan menjadi delik perbankan,


sambung Dani, maka para pendiri dan pengurus koperasi itu dapat dimintai
pertanggungjawaban. Dani menduga pendirian Koperasi SS telah menyimpang dari
tujuan dan semangat atas keberadaan sebuah koperasi. (H11-29t)

Sumber : http://www.suaramerdeka.com/harian/0512/19/nas20.htm

 Cara penyelesaian :
Menurut saya kasus koperasi seperti yang dikemukakan di atas harus diusut secara
tuntas sebelum para deposan akan membludak menuntut hak mereka. Dalam hal ini
inti permasalahannya ada di Hendrawan (Ketua I Koperasi SS) yang meminjamkan
uang simpanan para deposan kepada seorang pengusaha yang bernama Wijaya di
luar prosedur dan menyebabkan kerugian hingga miliaran rupiah bagi koperasi
sembilan sejati itu sendiri. Lebih baik kasus seperti ini perkaranya di buat BAP
kepada KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) Indonesia, karena tindakan seperti itu
dapat digolongkan ke dalam tindakan korupsi. Dengan KPK yang bertindak mengusut
kasus ini diharapkan dapat mengusut segala aliran penggelapan uang para deposan
dan dapat menguak dan mengevaluasi seluruh kinerja koperasi Sembilan Sejati
apakah banyak yang melanggar hukum atau tidak. Di dalam kasus ini sebaiknya tidak
hanya mengusut ketua Koperasi Sembilan Sejati tersebut tetapi juga harus dilakukan
pengecekan kepada seluruh pengurus koperasi tersebut termasuk arsip-arsip yang
ada di dalam koperasi tersebut guna dijadikan bahan bukti agar transparan. Pada
akhirnya para deposan harus menerima pengembalian atas dana simpanannya yang
telah disalahgunakan oleh pengurus koperasi sembilan sejati minimal 50%.Dan dana
pengembalian 50% itu berasal dari ganti rugi Hendrawan atas dana pinjaman yang
digelapkan kepada Wijaya (pengusaha).Dengan demikian para deposan mendapat
haknya dan dapat di lakukan hukuman terhadap pelakunya. Indonesia adalah Negara
hukum oleh karena itu perbuatan yang melanggar undang-undang harus ditindak
lanjuti dengan hukum yang tegas.

2) Kasus Koperasi NPI


Ditemukan 47.926 rekening nasabah

BANJARNEGARA - Macetnya dana masyarakat yang dihimpun Koperasi Simpan Pinjam


(KSP) Nuansa Pelangi Indonesia (NPI) Banjarnegara, mendapat perhatian Polres
Banjarnegara. Untuk mengusut itu, Polres membentuk tim khusus. Hingga kemarin, tim
menemukan 47.926 rekening milik nasabah.

Rekening tersebut meliputi deposito investasi berjangka, tabungan menjelang hari raya
(tamara) dan tabungan harian sigap.

Kapolres Banjarnegara AKBP Sutekad Muji Raharjo melalui Kasat Reskrim AKP A
Sambodo kepada para wartawan Senin (3/3), mengatakan, dari hasil pemeriksaan
sementara terhadap Ketua Koperasi NPI, Ahmad Hidayatulloh, koperasi tersebut
menghimpun dana masyarakat senilai Rp 20,469 miliar lebih.
Diperoleh informasi, jumlah dana tersebut diperoleh penyidik dari hardisk komputer
yang disita sebagai barang bukti. Sedangkan data jumlah kredit yang disalurkan, hingga
kini masih dicari oleh penyidik. Menurut Sambodo, kemungkinan jumlah tersangka
masih bisa bertambah.

"Kami masih terus menggali keterangan dari saksi-saksi, termasuk beberapa kepala
kantor unit dan pegawainya," katanya sambil menambahkan, kemungkinan di antara
mereka ada yang bisa diseret jadi tersangka.

Kelima kepala kantor unit koperasi tersebut, masing-masing unit Banjarnegara,


Purworeja Klampok, Sigaluh, Banjarmangu dan Rakit.

Bentuk Tim

Lebih jauh Sambodo mengatakan, untuk mengungkap kasus ini pihaknya membentuk
tim khusus yang terdiri dari beberapa unit.

Selain itu, pihaknya juga akan mendatangkan beberapa pakar untuk dimintai
keterangannya. Ketiga orang yang akan dijadikan saksi ahli berasal dari Bank Indonesia
(BI), pakar ekonomi Unsoed dan Dinas Koperasi (Dinas Industri, Perdagangan dan
Koperasi).

"Rencananya Kamis (6/3) besok, undangan sudah kami kirimkan," kata Sambodo.
Seperti diberitakan sebelumnya, ribuan nasabah koperasi simpan pinjam NPI
Banjarnegara resah akibat tak dapat menarik kembali uang milik mereka.

Ketua KSP NPI Ahmad Hidayatulloh ditahan dengan tuduhan melanggar Undang-Undang
Perbankan dan melakukan penipuan. Ia ditahan sejak Rabu pekan lalu (26/2).

Penyidik Polres menjerat tersangka Ahmad Hidayatulloh dengan beberapa pasal


Undang- Undang Nomor 7 Tahun 1992 juncto Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998
tentang Perbankan juncto pasal 372 juncto pasal 378 KUHP tentang penipuan dan
penggelapan.

Awal beroperasinya NPI hanya melakukan simpan pinjam khusus untuk kalangan
anggota. Tapi sejak beberapa tahun terakhir, koperasi NPI juga berpraktik layaknya
bank, yaitu menghimun dana masyarakat dengan produk deposito, tabungan dan kredit
umum dengan tingkat suku bunga lebih tinggi dibanding bank umum.
Bunga tabungan mencapai 3 persen/bulan, sedangkan bunga pinjaman 3 persen/bulan.
Mulai pertengahan 2006 terjadi terjadi kredit macet lebih dari Rp 5 miliar. Sejak itu,
nasabah mulai kesulitan mengambil uangnya. ito/Pr

Sumber :
http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1
9671&Itemid=53

 Cara penyelesaian :
Kasus koperasi yang dikemukakan di atas jelas melanggar undang-undang karena koperasi
NPI tersebut telah dialihfungsikan dari koperasi menjadi layaknya bank secara fungsional.
Ditambah lagi dengan bunga-bunga yang menjanjikan. Nasabah yang berharap
tabungannya mendapatkan bunga malah menjadi merasa tertipu karena imbalan bunga
tersebut tak kunjung ada dikarenakan kredit macet mulai pertengahan 2006. Bagaimana
sebaiknya penggantian tabungan nasabah tersebut? Menurut saya koperasi tersebut harus
mengendalikan arus kasnya baik arus kas masuk maupun arus kas keluar guna
menstabilkan kredit macet atau kalau perlu jika pihak koperasi NPI belum menemukan
solusi juga tentang bagaimana menangani kredit macet tersebut, pihak koperasi NPI perlu
melakukan konsultasi terhadap pihak Bank Indonesia sekaligus pihak Bank Indonesia
menjadi saksi ahli dalam kasus tersebut. Sebenarnya dalam kasus ini koperasi NPI tidak
melakukan penipuan terhadap nasabahnya, hal ini lebih dikarenakan salah persepsi yaitu
kredit macet yang menyebabkan tabungan nasabah tersendat untuk dicairkan bunganya.
Sehingga para nasabah merasa tertipu. Berarti pihak koperasi NPI telah mengambil
langkah yang salah, karena sebenarnya mereka tidak mampu memanage tabungan nasabah
layaknya bank sebab dari awalnya NPI memang merupakan lembaga koperasi dan bukan
bank.Sehingga pihak koperasi NPI tidak dapat menjalankan aturan perbankan dengan
benar. Jika kredit macet tersebut dalam jangka waktu 3 bulan tidak juga terselesaikan
maka pihak koperasi NPI harus memberikan pengembalian tabungan nasabah minimal
50% melalui cara apapun asalkan tabungan nasabah kembali.

Diposkan oleh hy welcome to vania putri's blog ^_^ di 09.47

http://lacusza.blogspot.co.id/2012/10/penyalahgunaan-koperasi.html

Saat ini di Indonesia ada banyak koperasi yang sudah tidak aktif . Hal ini sangat bertimpang sekali
dengan kenyataan bahwa koperasi mempunyai peran yang sangat penting dalam perkembangan
ekonomi di Indonesia. Saat ini ada banyak kasus penipuan yang mengatas namakan koperasi . Salah
satunya kasus koperasi Langit Biru yang terjadi baru-baru ini.
Dari informasi yang beredar di kalangan nasabah KLB, Jaya menawarkan dua paket investasi, yakni
investasi paket kecil dan investasi paket besar. Investasi paket kecil bernilai Rp 385.000 atau setara
dengan harga 5 kilogram daging. Sedagkan investasi paket besar dengan nilai Rp 9,2 juta atau sama
dengan 100 kilogram daging sapi.
Profit yang didapat pada investasi paket kecil yang ditawarkan KLB adalah Rp 10.000 per hari. Angka
itu akan dibagi kepada perusahaan Rp 9.000, sementara investor Rp 1.000. Dengan demikian, dalam
satu bulan, investor mendapat profit sebesar Rp 150.000.
Adapun investasi paket besar dibagi lagi ke dalam dua pilihan, yakni investasi non-Bonus Kredit Sepeda
Motor (BKSM) yang bonusnya senilai Rp 1,7 juta per bulan (dari bulan ke-1 sampai ke-9). Memasuki
bulan ke-10, investor akan langsung mendapat bonus Rp 12 juta. Pada bulan ke-24, investor juga
dijanjikan akan mendapat keuntungan Rp 31,2 juta.
http://www.jpnn.com/read/2012/07/28/135126/Jaya-Komara-Pikat-Korban-Lewat-Pengajian-

Hal ini tentu saja sangat menggiurkan, dengan modal yang sedikit kita bisa mendapatkan keuntungan
yang besar. Apalagi metode yang digunakan tersangka dalam mencari nasabah yaitu melalui pengajian
di kampung-kampung. Nasabah yang menjadi korban sangat banyak dan sebagian besar mereka berasal
dari kalangan ekonomi menengah kebawah.
Selain itu, saat ini ada 20 persen dari sekitar 139 ribu koperasi yang yang mengantongi izin berada
dalam kondisi mati suri atau tidak melakukan kegiatannya. Hal ini dikarenakan beberapa koperasi ada
yang ditinggalkan anggotanya dan bahkan hilangnya manajemen koperasi. Sebenarnya ini disebabkan
turunnya kepercayaan masyarakat terhadap koperasi dan buruknya pengelolaan koperasi. Kebanyakan
dari mereka melenceng dari prinsip yang seharusnya menjadi landasan menjalankan koperasi. Prinsip
ini tertera pada UU No. 25 tahun 1992, yaitu :

 Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka,


 Pengelolaan dilakukan secara demokrasi,
 Pembagian SHU dilakukan secara adil sesuai dengan jasa usaha masing-masing anggota,
 Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal,
 Kemandirian,
 Pendidikan perkoperasian,
 Kerjasama antar koperasi.

Menurut Undang-undang No. 25 tahun 1992 Pasal 4 dijelaskan bahwa koperasi memiliki fungsi dan
peranan antara lain yaitu :

1. Mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota dan masyarakat,


2. Berupaya mempertinggi kualitas kehidupan manusia,
3. Memperkokoh perekonomian rakyat,
4. Mengembangkan perekonomian nasional,
5. Serta mengembangkan kreativitas dan jiwa berorganisasi bagi pelajar bangsa.

Maka dari itu sebaiknya pemerintah bisa segera memperbaiki wajah koperasi. Karena koperasi adalah
salah satu lembaga keuangan yang berperan besar dalam perkembangan ekonomi Indonesia. Ada
banyak lapangan kerja yang tercipta dan kebanyakan pembangunan di pedesaan berasal dari koperasi.
Karena koperasi lebih disukai oleh masyarakat pedesaan yang masih memegang teguh asas
kekeluargaan dan kebersamaan. Dengan adanya revisi RUU Koperasi No. 25 tahun 1992 Yang
mewajibkan unit simpan pinjam berubah menjadi koperasi simpan pinjam. Draf revisi UU Koperasi itu
berisi antara lain pengurangan jenis koperasi yang selama ini sebanyak lima menjadi empat. Jenis
koperasi yang dikurangi adalah unit simpan pinjam (USP) karena dinilai memiliki persamaan dengan
koperasi simpan pinjam. Adapun empat jenis koperasi yang tetap dipertahankan adalah koperasi
konsumen, produsen, jasa dan simpan pinjam. Koperasi saat ini membutuhkan lembaga yang bisa
menjamin simpanan para anggota dan lembaga pengawas selain dari Kementerian Koperasi UMKM.
Selain itu juga diperlukannya penyuluhan atau pengajaran mengenai pengelolaan koperasi yang baik
agar manajemen koperasi bisa berjalan lancar kepada para pengelola. Serta penyuluhan kepada
masyarakat agar lebih bijak memilih dan tidak mudah tergiur akan keuntungan yang didapat namun
sebenarnya tidak masuk akal.

Sumber :
http://www.depkop.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1041:unit-simpan-pinjam-
dihapus-dalam-ruu-koperasi&catid=54:bind-berita-kementerian&Itemid=98
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=312052

http://www.pipnews.co.id/daerah/koperasi-kembali-tercoreng-penyalahgunaan-dana-
bergulir/

Koperasi Kembali Tercoreng Penyalahgunaan Dana Bergulir.

PIPnews.co.id | Makassar – Seperti tidak ada habisnya praktek penyalahgunaan koperasi untuk menarik
bantuan pemerintah melalui suntikan modal yang seharusnya digulirkan kepada satu koperasi ke
koperasi lainnya setelah membantu anggota tetapi justeru dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi.

Dana bergulir yang dikelola di bawah Kementrian Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (KUKM) untuk
kepentingan modal usaha bagi anggota-anggota koperasi di Sulawesi Selatan, terindikasi ada dugaan
penyalahgunaan.

Kasus tersebut saat ini diusut terus oleh bidang tindak pidana khusus (Pidsus) Kejaksaan Tinggi (Kejati)
Sulselbar dengan surat perintah penyelidikan.

Hingga pekan ini, jaksa yang telah ditunjuk untuk melakukan penyelidikan kasus tersebut terus berusaha
dengan memanggil oknum yang dianggap mengetahui aliran dana koperasi yang diduga salah sasaran
tersebut.

Penyidik dari Kejati Sulselbar telah mengambil keterangan dari empat orang yang berasal dari koperasi-
koperasi penerima dana bergulir di Sulawesi Selatan sebagai bahan analisa oleh penyelidik yang akan
menjadi pendukung alat bukti bila ditemukan benar ada dugaan penyalahgunaan wewenang.

Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasipenkum) Kejati Sulselbar, Salahuddin membeberkan bahwa
minggu lalu (2/5/2016) telah dilakukan pemanggilan kepada beberapa pengelola dari dana bergulir
koperasi.

Sehari sebelumnya Kasipenkum mengatakan kasus koperasi di Kejati terus berjalan, dan besok ada
agenda untuk permintaan keterangan, hanya saja ia tidak mengetahui siapa nama oknum yang dipanggil.

“Tetapi untuk nama koperasi nanti kita lihat,” ungkap Salahuddin.

Dikonfirmasi terkait nama-nama yang sudah diambil keterangannya, Salahuddin tidak mengelak,
“Koperasi yang sudah dipanggil saya lupa datanya, tapi ada dari Koperasi Syariah dan Koperasi
Multiguna, ada sekitar empat orang yang sudah dipanggil,” jelasnya.

Ini akan terus bergulir sesuai dengan kebutuhan tim, dalam penyelidikan ini, “Tim yang diturunkan, saya
tidak terlalu tau persis, namun ada beberapa tim yang diturunkan,” ungkapnya.
Salahuddin menambahkan bahwa pengambilan keterangan kepada pihak terkait yang dianggap
mengetahui aliran dana koperasi akan terus dilakukan, beberapa pihak lain juga akan dijadwalkan
diperiksa pada hari Senin depan.

Diketahui bahwa awal diusutnya kasus ini adalah adanya perbedaan data 20 koperasi di Makassar
dengan data koperasi yang menerima dana bergulir sehingga diduga terlibat dalam kasus
penyalahgunaan anggaran kepada koperasi yang berbau ‘fiktif’.

Dalam pengusutan, pihak Kejati katanya menemukan dugaan pada dua Koperasi Multiguna dan
Hokipratama Syariah dengan data-data yang tidak valid.

Hingga saat ini dari pihak koperasi yang bersangkutan belum dapat dimintai konfirmasi terkait kasus ini.
Pihak Dekopinwil Sulawesi selatan masih menghimpun data-data tentang kasus ini. (ilh-bui)

Bagikan ini: