Anda di halaman 1dari 2

Indonesia Rumah Kita

Dies Sekolah Santa Maria Pekanbaru

Pertemuan Dies Natalis sekolah Santa Maria Pekanbaru kembali di gelar pada sore tanggal 18
Agustus 2017 ini. Suasana kemerdekaan masih mewarnai acara Dies Natalis sore ini. Indonesia
sebagai bangsa yang merdeka telah berusia 72 tahun, jika usia ini diukurkan untuk manusia maka ia
sudah ada pada kematangan pribadi. Namun perlu disadari bahwa saat ini masih ada kelompok
masyarakat yang belum bisa menghidupi rasa keindonesiaan, rasa persatuan tanpa membedakan
suku dan agama. Rasa kesukuan, kedaerahan sudah dilebur dalam rasa keindonesiaan sejak
diikrarkan dalam sumpah pemuda.

Hal ini pulalah yang membuat yang Sekolah-sekolah Santa Maria yang bernaung di bawah Yayasan
Prayoga Riau (YPR) tahun ini kembali merayakan semester Dies Natalis. Acara yang digelar untuk
memperingati dies tahun ini dibagi menjadi dua jenis yaitu acara diskusi akademik dan juga pentas
seni. Perayaan Dies Natalis Sekolah Santa Maria ini dimulai pada bulan Mei dan diakhiri pada bulan
Oktober. Perayaan dies kali ini mengambil tema “Damai di Indonesia, Damai di dunia”; tema besar
ini kemudian dibagi dalam lima sub tema yang kemudian di bahas setiap bulan. Sub tema yang telah
dibahas dalam pertemuan sebelumnya yaitu: Damai di Dunia, Damai Di Indonesia; Kehadiran ku
menjadi berkat bagimu, bijak dalam berpikir, santun dalam bertindak; dan pada pertemuan bulan
Agustus ini sup tema yang akan dibahas yaitu Indonesia rumah kita.
Sub tema “Indonesia Rumah Kita” menjadi fokus diskusi pada bulan Agustus ini mengingat pada
bulan ini kita merayakan hari kemerdekaan negara kita. Ada tiga orang pendidik yang mempelajari,
mendalami kemudian mempresentasikan tema ini di depan seluruh pendidik dan tenaga
kependidikan yang ada di Pekanbaru. Pemateri pertama ialah Bapak Jonner Silalahi, S.Pd yang
memaparkan soal sejarah nama Indonesia dan tonggak-tonggak perjuangan bangsa; pemateri dua
Katarina Setiawati, S.E yang memaparkan tentang lahirnya Pancasila para masa pembentukan NKRI
dan bagaimana Pancasila itu kemudian diterapkan pada masa-masa pemerintahan selanjutnya mulai
dari orde lama sampai sekarang; pemateri ketiga ialah Ibu Maria Irene Endah Titisari, S.Pd yang
memaparkan para pahlawan yang berjuang untuk memerdekakan negara kita. Para pahlawan itu
berasal dari berbagai macam suku dan agama dan saat berperang mereka tidak memikirkan suku
atau agama mereka namun mereka berpikir tentang kesatuan Indonesia.
Romo Anton Konseng, Pr selaku ketua Yayasan Prayoga Riau dalam sesi peneguhan menegaskan
kembali pentingnya Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Pancasila harus menjadi pedoman
hidup (way of live) bagi semua orang. Pancasila yang menjadi dasar negara Indonesia harus
menjadikan Indonesia sebagai rumah yang aman dan nyaman untuk ditinggali semua warga negara
Indonesia. Dalam acara ini juga ditampilkan Tari-tarian dari beberapa daerah Indonesia. Tarian ini
merupakan simbol kekayaan budaya Indonesia.