Anda di halaman 1dari 8

Truk Sampah DKI Terguling di Bantargebang,

Pekerja Tewas
SENIN, 16 JANUARI 2017 | 23:00 WIB

Truk sampah menunggu giliran bongkar muatan sampah di Tempat Pengelolaan Sampah
Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, 5 November 2015. Penghadangan terhadap
truk-truk sampah DKI Jakarta yang hendak melewati kawasan Cileungsi, mengakibatkan
terlambatnya waktu tiba truk di Bantargebang, Bekasi. TEMPO/Subekti
TEMPO.CO, Bekasi - Seorang pekerja, Sandi, 25 tahun, tewas setelah tertimbun
sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) milik DKI Jakarta di Bantergebang,
Kota Bekasi, Ahad petang, 15 Januari 2017. Korban tertimbun ketika mobil sampah terbalik
ketika hendak membuang sampah.

Kepala Unit Pelaksana Teknis TPST Bantargebang Dinas Kebersihan DKI Jakarta, Asep
Kuswanto, mengatakan, korban merupakan warga setempat yang bekerja membuka terpal truk
sampah di TPST. “Dia bukan pegawai lepas DKI,” kata Asep, Senin, 16 Januari 2017.

Menurut Asep, peristiwa itu bermula ketika truk sampah dari Jakarta yang dikemudikan
oleh AB (27) tiba di TPST, Ahad, pukul 16.00 WIB. Saat sampai di timbangan, kendali truk
diambil alih oleh DS (22). Saat bersamaan, Sandi naik ke atas truk. DS lalu melanjutkan
perjalanan menuju zona 4.

Namun, di tengah gunungan sampah di zona 4, truk yang dikemudikan DS tergelincir dan
terguling ke sebelah kanan. Penyebabnya, DS tak dapat mengendalikan kendaraannya ketika ada
truk lain melintas dari arah berlawanan. Sandi yang berada di atas truk ikut terjatuh bersama
dengan sampah seberat 4 ton. “DS bukan melapor ke petugas, tapi malah melapor ke sopir
aslinya,” ujar Asep

Asep menyayangkan tindakan sopir tersebut, karena pihaknya sudah membina sopir
untuk tidak menggunakan jasa orang lain di luar petugas setempat. Sebab, kata Asep, gaji para
sopir resmi sebesar Rp 5 juta per bulan, sudah termasuk membuka terpal sampai ke zona
pembuangan. “Kalau merasa lelah, sebaiknya minta tolong ke petugas resmi di UPT setempat,”
kata Asep.

Menurut Asep, kedua sopir tersebut, AB dan DS, telah diberi sanksi berat berupa
pemecatan, karena perbuatannya sangat membahayakan dan merugikan orang lain. “Mereka
sudah dipecat hari ini karena lalai dalam bekerja,” kata Asep.

Kepala Kepolisian Sektor Bantargebang, Komisaris Parjana, mengatakan, pihaknya telah


melimpahkan kasus itu ke Unit Kecelakaan Lalu Lintas Kepolisian Resor Metro Bekasi, karena
masukan kecelakaan. “Sopir truk masih diperiksa penyidik,” ujar Parjana.

KOMENTAR :

Seperti yang dikatakan Asep, seharusnya sopir tidak menggunakan jasa diluar petugas
dari TPS tersebut. Apalagi saat orang tersebut naik diatas truk berisi tumpukan sampah adalah
hal yang membahayan. Lebih baik, daripada ikut naik ke atas truk, petugas pembuka terpal
sampah seharusnya menunggu di tempat dimana terpal sampah tersebut dibuka, sehiingga
kecelakaan seperti diatas tidak terulang lagi.
Tertimpa Bongkahan
Beton Buruh Bangunan
Tewas Seketika
Kis Kertasari
Minggu, 19 Februari 2017 − 19:26 WIB

Ilustrasi/SINDOnews
GIANYAR - Nahas menimpa buruh bangunan bernama Supri (27) yang tertimpa
bongkahan beton gapura hingga tewas di Banjar Banda, Desa Saba, Blahbatuh, Gianyar, Minggu
(19/2/2017).
Berdasarkan data yang dihimpun peristiwa itu terjadi ketika pukul 08.00 Wita, Supri
bersama temannya Yudi bekerja membongkar gapura yang terbuat dari beton, di lokasi tanah
milik I Made Suraja.
Pekerjaaan tersebut diawali dengan membongkar bagian atas gapura. Namun tiba-tiba
gapura tersebut ambruk. Saat itu Supri dan Yudi yang tengah bekerja di atasnya pun terjatuh.
Sudah terjatuh, kepala Supri malah tertimpa reruntuhan gapura dan mengalami luka berat di
belakang kepalanya, hingga tewas di tempat. Posisi Supri tersungkur di tanah dan kepalanya
tertimbun reruntuhan beton. Sementara Yudi meringis kesakitan karena reruntuhan itu menjepit
kakinya.
Peristiwa ini dibenarkan oleh Kapolsek Blahbatuh, Kompol Abdus Salim. "Satu orang
tewas di tempat karena kepala bagian belakangnya terbentur beton yang roboh," katanya.
Sementara itu Yudi harus dilarikan ke rumah sakit, karena kakinya luka-luka akibat terjepit
beton. "Kecelakaan kerja itu terjadi karena kelalaian korban. Korban tidak memastikan kondisi
pondasi gapura yang tidak kuat saat dibongkar dari atas," pungkasnya.

KOMENTAR :
Kecelakaan tersebut disebabkan oleh kelalaian pekerja. Dari sumber lain dikatakan
bahwa keduanya tidak memastikan apakah gapura bagian bawah masih cukup kuat atau tidak
untuk mereka naiki. Tetapi mengabaikan hal tersebut, mereka malah menaiki gapura tersebut
sehingga terjadi kecelakaan seperti yang disebutkan.

Seharusnya memastikan bagaimana keadaan bangunan, khususnya gapura dalam hal ini
sebelum mengambil tindakan terhadap bangunan tersebut. selain itu, memakai peralatan
pelindung diri seperti helm safety juga diperlukan agar kepala terhindar dari benturan dan
semacamnya.
Terperosok saat menggali batu,
Herman diduga tenggelam
Rabu, 15 Februari 2017 10:49Reporter : Gede Nadi Jaya

Ilustrasi Orang Tenggelam. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Seorang buruh batu cadas asal Jawa Timur, Herman, terperosok ke
dalam lubang galian dan tenggelam saat sedang menggali di Desa Kelatingan, Karambitan,
Tabanan, Bali sekitar pukul 10.30 WITA. Hingga kini dia masih dicari oleh tim penyelamat.
Kepala SAR Bali, Didi Hamzar mengatakan, Herman saat itu sedang bekerja di galian C
milik I Gede Sudika atau disapa Pak Moyo. Dia sedang mengumpulkan batu cadas di bawah
tebing dengan kedalaman sekitar 30 meter, dengan ketinggian air dari dasar galian hampir 15
meter.
"Saat itu korban bersama dua temannya. Tetapi dua temannya bisa selamat dengan
berusaha naik ke celah-celah tebing lewat beberapa tangga yang digunakan semula untuk turun,"
kata Didi, Rabu (15/2). Didi mengatakan, saat Herman dan dua temannya menggali, seketika
dinding tebing longsor dan air menyembur.
"Saat longsor, ketiga pekerja itu jatuh ke dalam dasar galian berisi penuh air," ujar Didi.
Menurut Didi, saat terjatuh Herman diperkirakan cedera sehingga tidak bisa berenang
bahkan diduga tertimbun reruntuhan tebing. Hingga saat ini korban belum ditemukan. Time
penyelamat masih memompa air menggunakan sepuluh mesin.

KOMENTAR :
Pekerja yang menjadi korban tersebut bisa jatuh karena tidak ada tali pelindung yang
digunakan. Padahal lokasi yang digunakan untuk mengumpulkan batu cadas adalah di tebing dan
dibawahnya ada air setinggi 15 meter.

Sebelum bekerja, pekerja juga seharusnya melakukan cek, apakan tebing cukup kuat atau tebing
yang rentan runtuh dan longsor. Pihak pemerintah juga harus memperhatikan para pekerja yang
bekerja dengan pekerjaan seperti yang disebutkan dalam berita. Peran pemerintah bisa berupa
sosialisasi bagaimana bekerja di lubang galian dengan baik dengan meminimalkan kecelakaan
kerja.
Mesin fogging meledak, wajah
hingga dada Siswanto terbakar
Senin, 30 Januari 2017 14:58Reporter : Gede Nadi Jaya

Korban ledakan mesin fogging di Denpasar. ©2017 merdeka.com/gede nadi jaya

Merdeka.com - Siswanto (35), seorang petugas fogging masih tergolek lemas di UGD
RDUP Sanglah Denpasar, Bali, dengan kondisi sebagian badannya dibalut perban akibat luka
bakar. Itu setelah dia terkena ledakan mesin fogging saat melakukan penyemprotan atau
pembasmian jentik nyamuk penyebab penyakit demam berdarah di kawasan Perumahan bukit
Ungasan Kuta Selatan, Bali, Senin (30/1) pagi.
Saat itu, pria asal Surabaya ini baru hendak menghidupkan mesin fogging yang akan
digunakannya untuk menyemprot nyamuk aedes aegypti.Namun saat dihidupkan mesin tersebut
tidak berfungsi. Itu setelah dia melakukan penyemprotan kedua di gang sebelumnya. Entah
kenapa mesin tersebut tiba-tiba meledak. Akibat ledakan itu, hampir sebagian tubuh Siswanto
mengalami luka bakar yang cukup serius. "Dia mengalami lukar bakar di bagian wajah, tangan
kanan dan kiri serta badan bagian depan. Kira-kira luka bakarnya mencapai 43 persen," kata
Toni (38), kakak kandung korban di IGD RSUP Sanglah.Beruntungnya, warga yang ada di
lokasi kejadian segera melarikan Siswanto ke RS Kasih Ibu, Kedonganan, Kuta Selatan,
Badung. Namun karena luka bakarnya cukup serius, Siswanto kemudian dirujuk ke RSUP
Sanglah untuk mendapat penanganan yang lebih intensif. "Dia baru tiba di sini (RSUP Sanglah)
pada pukul 13.00 Wita dan langsung mendapatkan penanganan medis," katanya.

KOMENTAR :
Kecelakaan tersebut disebabkan oleh pekerja yang tidak memastikan apakah alat yang
digunakan dalam keadaan baik atau tidak. Dari pihak yang memperkerjakan pekerja tersebut
juga seharusnya ada pengecekan rutin terhadap alat sehingga tidak membahayakan pekerja dan
menimbulkan kerugian, baik di piha pekerja maupun di pihak yang mempekerjakan.