Anda di halaman 1dari 52

2016

Melejitkan Daya Literasi Indonesia:


Sebuah Kajian Pendahuluan

i Bambang Trim
Melejitkan Daya Literasi Indonesia: Sebuah Kajian Pendahuluan

©2016 oleh Bambang Trim

Cetakan I, Agustus 2016

Diterbitkan oleh Institut Penulis Indonesia.

Jalan Kramat Raya, No. 5-H, Kompleks Ruko Maya Indah

Jakarta

ii
Prakata

Kata ‘literasi’ belum menjadi lema di dalam Kamus Besar Bahasa


Indonesia (KBBI) yang disusun oleh Badan Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa. Namun, pada lema ‘aksara’, kita dapat
menemukan kata ‘keberaksaraan’ yang sama maknanya dengan
literasi yaitu kemampuan membaca dan menulis. Makna tersebut
adalah makna umum dari ‘literasi’ yang selama ini kita kenal.
Adapun secara luas, literasi mencakup literasi dasar, literasi
perpustakaan, literasi teknologi, literasi media, dan literasi visual
yang disebut sebagai literasi informasi. Literasi informasi
didefinisikan sebagai berikut.

“Literasi informasi meliputi pengetahuan tentang per-


hatian seseorang terhadap informasi dan kebutuhannya,
serta kemampuan untuk mengidentifikasi , menemukan ,
mengevaluasi, mengatur sekaligus efektif membuat,
menggunakan, dan mengomunikasikan informasi untuk
mengenali dan mengatasi masalah yang dihadapi; hal itu
merupakan prasyarat untuk berpartisipasi dalam
Masyarakat Informasi, dan merupakan bagian dari hak
asasi belajar sepanjang hayat. "1

1 NFIL, NCLIS & Unesco, The Prague Declaration (2003)

iii
Literasi dasar terbagi lagi atas beberapa kemampuan, yaitu
membaca, menyimak, berbicara, menulis; berhitung dan mem-
perhitungkan; mengamati dan menggambar. Jadi, sedemikian
luas makna literasi maka sejatinya tidaklah mudah untuk
menguraikan semua aspek literasi dalam suatu hasil kajian tanpa
dilakukan melalui riset mendalam.
Untuk itu, menyambut tugas dari Pusat Kurikulum dan
Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud, kami mencoba membuat
kajian pendahuluan berdasarkan studi pustaka terkait dengan
keliterasian Indonesia dibandingkan negara lain. Kajian ini tidak
lain didorong oleh program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang
telah dicanangkan Kemendikbud pada awal 2016 dan juga
sebuah laporan dari Central Connecticut State University (CCSU)
di New Britain, Connecticut, AS, yang menempatkan Indonesia
pada peringkat ke-60 dari 61 negara paling literat.
Peringkat paling “buntut” itu menyentakkan kita semua
mengingat bahwa kompetensi literasi menjadi salah satu
indikator bagi individu suatu bangsa untuk memainkan
peranannya dalam kancah ekonomi berbasis ilmu pengetahuan
sehingga menjadi penentu masa depan kita secara global, seperti
diungkap John Miller, President of Central Connecticut State
University (CCSU). Oleh sebab itu, daya literasi tidak dapat
diabaikan dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
Kajian pendahuluan ini menitikberatkan perbandingan
antara Indonesia dan Finlandia sebagai negara terbaik dalam hal
pendidikan dan keliterasian serta perbandingan antara
Indonesia dan negara ASEAN yang masuk ke dalam peringkat
CCSU tersebut. Dari kajian ini akan ditemukan fakta-fakta

iv
keliterasian yang harus ditingkatkan demi melejitkan daya
literasi masyarakat Indonesia.
Kami mengucapkan syukur ke hadirat Ilahi Rabbi yang
menuntun dan memudahkan kami dalam penyusunan kajian
dalam bentuk buku kecil ini. Semoga karya kecil ini bermanfaat
dalam menuntun langkah-langkah perbaikan untuk masa
mendatang bagi para pemangku kepentingan keliterasian,
khususnya Pemerintah, pendidik, penerbit, penulis, dan orangtua
(keluarga).

Jakarta, Agustus 2016

Bambang Trim

v
Daftar Isi

Prakata ..................................................................................................................iii

Daftar Isi ............................................................................................................... vi

Prolog ..................................................................................................................... 1

Keunggulan Finlandia, Kekalahan AS, dan Keterpurukan


Indonesia ............................................................................................................... 8

Fenomena Literasi di Finlandia...................................................... 21

Indonesia di antara Singapura, Malaysia, dan Thailand ............... 28

Singapura ................................................................................................. 29

Malaysia .................................................................................................... 30

ITBM Malaysia ....................................................................................... 31

Thailand .................................................................................................... 33

Indonesia (Harus) Berkaca .............................................................. 34

Epilog ................................................................................................................... 42

Daftar Pustaka ................................................................................................. 44

Tentang Penulis .............................................................................................. 46

vi
Prolog

Selang sebulan setelah Kemendikbud RI meluncurkan program


Gerakan Literasi Sekolah (GLS) pada Februari 2016, John Miller,
President of Central Connecticut State University (CCSU) di New
Britain, Connecticut, AS, seperti dikutip banyak media dunia
menyampaikan hasil risetnya tentang peringkat negara di dunia
terkait tren perilaku membaca dan keliterasian. Miller sendiri
telah menghabiskan masa selama 40 tahun terakhir untuk
mengkaji perihal keberaksaraan (literasi). Pada tahun 2003, ia
bekerja sama dengan Center for Public Policy and Social Research
di universitasnya menerbitkan laporan tahunan bertajuk
America’s Most Literate Cities.
Dorongan bagi Miller untuk meluaskan kajiannya di luar AS
tidaklah mengherankan mengingat terdapat 781 juta orang buta
huruf (di atas usia 15 tahun) di seluruh dunia berdasarkan data
PBB2. Miller dan timnya mulai mengkaji data dari 200 negara
demi mengidentifikasi peringkat keliterasian sebuah negara,
tetapi mereka hanya menemukan informasi dan data yang dapat
dipercaya pada 61 negara yang kemudian ditampilkan di dalam
hasil penelitiannya. Ke-61 negara itu termasuk juga Indonesia.

2United Nations, The World’s Women 2015 Education,


http://unstats.un.org/unsd/gender/chapter3/chapter3.html,
(2015)

1
Adalah sangat memprihatinkan bahwa Indonesia ternyata
menempati posisi 60 dari 61 negara yang dinilai. Artinya,
Indonesia adalah negara terburuk kedua dalam soal perilaku
membaca dan keliterasian—satu tingkat berada di bawah
Thailand dan di atas Botswana. Hal ini memang sudah lama
menjadi persoalan yang mengemuka bahwa selalu ditengarai
minat membaca dan minat menulis bangsa Indonesia sangatlah
rendah.
Negara-negara Nordic (Norwegia, Denmark, Islandia, dan
Swedia) menurut kajian tersebut menjadi negara-negara terbaik
dalam soal perilaku membaca dan keliterasian, sedangkan
negara-negara Barat lainnya mengalami kemunduran, termasuk
negara adidaya Amerika Serikat. Botswana menempati peringkat
terakhir bersama empat negara lainnya berturut-turut dari
bawah adalah Indonesia, Thailand, Maroko, dan Kolombia.
Berikut daftar lengkap peringkat negara paling literat yang
didata CCSU.3

3John W. Miller and Michael C. McKenna, World Literacy: How


Country Rank and Why it Matters, (2015, Connecticut: …)

2
Negara Peringkat Negara Peringkat Negara Peringkat
Finlandia 1 Malta 21 Rumania 41
Norwegia 2 Korea 22 Portugis 42
Selatan
Islandia 3 Republik 23 Brasil 43
Chech
Denmark 4 Irlandia 24 Kroasia 44
Swedia 5 Italia 25 Qatar 45
Swiss 6 Austria 26 Kosta Rika 46
Amerika 7 Rusia 27 Argentina 47
Serikat
Jerman 8 Slovenia 28 Mauritius 48
Latvia 9 Hongaria 29 Serbia 49
Belanda 10 Republik 30 Turki 50
Slowakia
Kanada 11 Lithuania 31 Georgia 51
Prancis 12 Jepang 32 Tunisia 52
Luemburg 13 Siprus 33 Malaysia 53
Estonia 14 Bulgaria 34 Albania 54
Selandia 15 Spanyol 35 Panama 55
Baru
Australia 16 Singapura 36 Afrika 56
Selatan
Inggris 17 Chili 37 Kolombia 57
Belgia 18 Meksiko 38 Maroko 58
Israel 19 China 39 Thailand 59
Polandia 20 Yunani 40 Indonesia 60
Botswana 61
Tabel 1 Peringkat Negara Paling Literat (Sumber: John Miller dan
Michael C. McKenna)

Pada daftar tersebut dapat dilihat bahwa Indonesia masih


kalah jika dibandingkan tiga negara ASEAN lainnya yaitu
Singapura (36), Malaysia (53), dan Thailand (59). Tentu hal ini
perlu menjadi bahan kajian bagi pemangku kepentingan literasi

3
di Indonesia, khususnya Pemerintah. Walaupun demikian,
literasi sejatinya adalah persoalan seluruh bangsa, bukan parsial
pada penulis, penerbit, ataupun pemangku kepentingan per-
bukuan.
Miller mengungkapkan, "Faktor-faktor yang kami dalami
menyajikan potret yang sangat kompleks dan bernuansa vitalitas
budaya suatu bangsa."
Miller melanjutkan, "Apa yang ditampilkan oleh pe-
meringkatan ini terkait keliterasian dunia sangat menyarankan
dan menunjukkan bahwa berbagai jenis perilaku literasi sangat
penting bagi keberhasilan individu suatu bangsa dalam ekonomi
berbasis ilmu pengetahuan yang menentukan masa depan global
kita."4
Atas dasar kajian yang dilakukan Miller beserta uraian
kepentingannya terungkaplah bahwa keandalan literasi sangat
menentukan sukses individu suatu bangsa, apalagi dalam
menghadapi tantangan global masa depan. Untuk itu, sebuah
kajian pendahuluan disampaikan melalui buku ini guna mem-
bandingkan usaha-usaha berbagai negara dalam “perjuangan
keliterasian”.
Kajian Miller menggunakan beberapa variabel, utamanya
statistik tes prestasi membaca dari PIRLS (Progress in
International Reading Literacy Study) dan PISA (Program for
International Student Assessment) yang disokong Unesco.
Variabel lain yang menjadi pertimbangan mencakup sumber
perpustakaan pada suatu negara, sirkulasi dan pembaca surat

4 Liz Dwyer, The 10 Most Literate Countries in the World (Nope:


the U.S. Is’nt Number One), http://www.takepart.com, 9 Maret
2016.

4
kabar, jumlah toko buku, sistem pendidikan, ketersediaan
komputer, dan ukuran populasi. Secara umum kajian Miller
melihat dua aspek yaitu perilaku membaca dan aspek pendukung
tumbuhnya perilaku tersebut.
Kajian ini menjadi menarik karena baru kali pertama
dilakukan di dunia dengan sejumlah variabel. Hal ini berbeda
dengan pemeringkatan PISA yang hanya mendasarkan pada
literasi membaca, literasi matematika, dan literasi sains tanpa
mempertimbangkan aspek lain. Walaupun demikian, peringkat
Indonesia dalam daftar PISA tidaklah lebih baik dari daftar yang
dikeluarkan berdasarkan kajian Miller di CCSU.
Dalam variabel-variabel tertentu, beberapa negara
menempati prestasi terbaik. Sebagai contoh negara-negara
Pasifik (Pasific Rim) menempati posisi tertinggi dalam tes
membaca yang hanya mampu disaingi oleh Finlandia.
Miller menyebutkan, “"Negara-negara Pasifik, yaitu
Singapura, Korea Selatan, Jepang dan China, akan berada pada
daftar teratas jika kinerja tes adalah satu-satunya ukuran.
Finlandia akan menjadi satu-satunya negara non-Pacific Rim
untuk peringkat tertinggi. Ketika faktor-faktor seperti ukuran
perpustakaan dan aksesibilitas ditambahkan ke dalam (peme-
ringkatan), negara-negara Pasifik turun drastis. "
Berikut ini adalah lima besar negara dalam peringkat
tertinggi berdasarkan variabel tertentu. Dalam daftar ini tampak
bahwa Finlandia sebagai negara paling literat justru hanya
menempati peringkat lima besar pada dua variabel. Dalam
peringkat berdasarkan nilai tes membaca, Finlandia menempati
posisi kedua setelah Singapura dan dalam hal pembaca surat
kabar, Finlandia menempati posisi pertama. Dari semua variabel,

5
hanya Finlandia, Islandia, dan Norwegia yang muncul pada lebih
dari satu variabel yang masuk peringkat lima besar.

Investasi Nilai Tes Fasilitas


Pendidikan Membaca Perpustakaan
1. Brasil 1. Singapura 1. Estonia
2. Israel 2. Finlandia 2. Latvia
3. Meksiko 3. Korea Selatan 3. Norwegia
4. Belgia 4. Jepang 4. Islandia
5. Argentina 5. China 5. Polandia

Pembaca Surat Pengguna


Kabar Komputer
1. Finlandia 1. Belanda
2. Norwegia 2. Islandia
3. Jerman 3. Denmark
4. Swiss 4. Luksemburg
5. Republik 5. Norwegia
Ceko

Table 2 Lima besar negara dalam variabel tertentu. (Sumber: John Miller
dan Michael C. McKenna)

Indonesia dalam tes membaca hanya menempati peringkat


#45, sedangkan dalam ketersediaan perpustakaan atau
infrastruktur membaca, Indonesia berada pada peringkat #36—
lebih baik daripada Korea Selatan, Malaysia, Jerman, Belanda, dan
Singapura. Tentu hal ini dapat dilihat juga dari luasnya wilayah
Indonesia dan bagaimana perpustakaan dibangun di mana-mana.
Akan tetapi, seperti disampaikan mantan Mendikbud, Anies

6
Baswedan, dalam suatu kesempatan, ’Ini artinya Indonesia rajin
membangun proyek perpustakaan. Tetapi tidak difungsikan
dengan optimal.’’
Buku ini menjadi kajian pendahuluan terhadap negara lain
dalam dua hal yaitu terhadap Finlandia sebagai negara dengan
peringkat nomor satu dan terhadap negara-negara ASEAN yang
lebih baik dibandingkan Indonesia. Sebagai kajian pendahuluan,
penyusun berharap adanya upaya untuk melakukan kajian lebih
mendalam guna mendorong peningkatan prestasi keliterasian di
Indonesia, paling tidak di antara negara-negara ASEAN. Upaya ke
arah itu telah dirintis oleh Pemerintah melalui Kemendikbud
lewat Gerakan Literasi Sekolah yang telah dicanangkan pada
2016 dengan salah satu programnya adalah pembiasaan
membaca buku selama lima belas menit sebelum pemelajaran
dimulai.

7
Keunggulan Finlandia,
Kekalahan AS, dan
Keterpurukan Indonesia

Dalam dunia pendidikan global, Finlandia adalah sebuah


keajaiban seperti yang diungkapkan Barbara Bruns di dalam blog
World Bank. Pada satu dekade terakhir, Finlandia tercatat
sebagai negara peringkat kelima dalam ilmu dan keenam dalam
membaca pada penilaian 2012 PISA, peringkat kedua pada 2012
PIAAC (uji OECD pada melek huruf orang dewasa), dan secara
rutin menempati urutan lima teratas pada hampir setiap
peringkat internasional lainnya di bidang mutu pendidikan.
Tahun 2015, Finlandia menempati urutan ketiga setelah
Shanghai-China dan Korea dalam hal skala membaca (PISA).5
Pemeringkatan PISA disebut-sebut sebagai hadiah
reformasi pendidikan yang telah dilakukan Finlandia sejak 1970.
Keajaiban pendidikan Finlandia itu sering kemudian dibanding
dengan posisi Amerika Serikat sebagai negara adidaya yang
semestinya lebih unggul atau menempati peringkat nomor 1.
Bahkan, Indonesia pun sering berkiblat pada Amerika dalam soal
pendidikan. Namun, pada kenyataannya, AS pun terkalahkan.

5 Barbara Bruns, The Magic Education in Finland,


http://blogs.worldbank.org/education/magic-education-
finland, 26 Oktober 2015.

8
Struktur sistem pendidikan di Finlandia memungkinkan
siswa selalu dapat melanjutkan ke tingkat atas pendidikan,
terlepas dari pilihan yang mereka tentukan. Misalnya, baik ijazah
SMA ataupun SMK memberikan kesempatan lulusannya untuk
melanjutkan ke pendidikan tinggi.

Gambar 1 Sistem pendidikan di Finlandia (Sumber: The Finnish National


Board of Education)

9
Paparan ini setidaknya menjadi fondasi pemikiran mengapa
Finlandia ditetapkan sebagai negara paling literat sejagat ini.
Dalam hal ini tentu saja keliterasian tidak dapat dipisahkan dari
praktik pendidikan di suatu negara.
Keluarbiasaan atau keajaiban Finlandia ini dapat dilihat dari
sepuluh fakta berikut seperti yang dituliskan Andrew Freeman
sebagai hal yang tidak dapat diabaikan oleh negara adidaya
Amerika Serikat.6 AS sendiri merupakan negara dengan populasi
lebih dari 58 kali Finlandia. Dalam peringkat PISA tahun 2015, AS
hanya menempati urutan ke-17.

1. Sekolah Tidak Dimulai Lebih Dini

Anak-anak di Finlandia (Finnish) tidak mulai bersekolah sampai


usia tujuh tahun. Namun, hal itu bukan berarti mereka tidak
dididik sejak dini. Finlandia memberi subsidi sangat besar pada
program penitipan anak (daycare), dan 97% anak-anak Finlandia
masuk ke prasekolah, yang dimulai pada usia lima tahun dengan
penekanan pada bermain dan bersosialisasi.

Di Amerika: Empat juta anak setiap tahun mulai dimasukkan ke


dalam program prasekolah. Prasekolah dianggap sebagai basis
untuk kesuksesan akademik pada siswa menempuh pendidikan
dasar dan menengah karena didorong oleh sejumlah penelitian
terkait masa-masa emas pendidikan anak usia dini. Amerika

6 Andrew Freeman, Finland’s Education System: 10 Surprising


Facts That’s Americans Shouldn’t Ignore,
http://www.takepart.com/photos/ten-surprising-facts-
finlands-education-system-americans-should-not-
ignore/finland-knows-what-s-best, 14 Agustus 2012.

10
masih menghadapi tantangan partisipasi untuk PAUD yaitu 59%
anak usia 4 tahun—atau enam dari setiap 10 anak—tidak
terdaftar dalam program prasekolah yang didanai publik melalui
program prasekolah negara.

Di Indonesia: Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yaitu kelompok


bermain dan TK telah mendapat perhatian meskipun tingkat
partisipasi rata-rata di 24 provinsi (dari 34 provinsi) baru 65%.7
Namun dalam praktiknya, banyak terjadi salah kaprah dalam
pelaksanaan PAUD yang justru menggegas anak-anak pada
kelompok usia ini untuk belajar layaknya anak-anak SD, terutama
dalam hal calistung. Beberapa TK malah menerapkan sistem tes
untuk dapat menerima siswa baru. Hal ini menyebabkan anak-
anak usia dini kehilangan kesempatan bermain dan
mengembangkan kemampuannya bersosialisasi.

Gambar 2 Buku persiapan masuk TK yang salah kaprah. (Sumber:


https://pbs.twimg.com/media/BLgJ-sYCAAAlLbC.jpg)

7 OECD/Asian Development Bank. Education in Indonesia: Rising


to the Challenge, (2015, Paris: OECD Publishing), hlm. 88.

11
2. Lebih Banyak Jam Istirahat

Anak-anak Finlandia mendapatkan 75 menit waktu istirahat


dalam sehari. Mereka menerima 15 menit istirahat setiap guru
menyampaikan 45 menit jam pelajaran dan hal ini dilindungi oleh
hukum negara tersebut. Aktivitas fisik di luar ruangan sangat
didorong dan beberapa pelajaran diajarkan di luar ruang, bahkan
saat musim dingin.

Di Amerika: Siswa hanya mendapatkan 27 menit waktu istirahat


dan sedikit kesempatan untuk bermain.

Gambar 3 Finlandia vs Amerika Serikat dalam hal waktu istirahat.


(Sumber: onlineclass.org)

12
Di Indonesia: Rata-rata istirahat yang diberikan adalah 30 menit
dengan dua kali istirahat yaitu 15 menit pada istirahat kedua dan
15 menit pada istirahat kedua. Artinya, dalam soal ini Indonesia
hampir sama dengan Amerika. Waktu istirahat lebih banyak
dipergunakan anak untuk bermain, makan, bersosialisasi dengan
teman-teman, dan sedikit yang memanfaatkan untuk membaca
buku atau bahan bacaan lainnya.

3. Hanya Ada Satu Ujian Kelulusan

Hampir tidak ada ujian kelulusan di Finlandia. Jika pun ada, hanya
ujian wajib yang dilakukan pada akhir SMA sebagai ujian tunggal
(National Matriculation Examination), sedangkan pada tingkat SD
dan SMP tidak ada sama sekali. Ujian tingkat SMA itu dinilai
langsung oleh para guru, bukan komputer.
Kari Louhivuori, seorang kepala sekolah dan guru di Finlandia
berkomentar, “Ini (ujian) adalah omong kosong. Kami tahu lebih
tentang anak-anak daripada tes yang memberi tahu kami.”
Begitupun PR di sekolah sedikit sekali. Berdasarkan penelitian
OECD (Organisation for Economic Co-operation and Deve-
lopment) pada 2014, siswa Finlandia menghabiskan 2,8 jam
seminggu untuk mengerjakan PR.

Di Amerika: Ujian kelulusan secara nasional masih


diberlakukan. Berdasarkan mandat No Child Left Behind and
Common Core. Siswa kelas VIII harus melewati tes setiap
tahunnya untuk mengukur tingkat keberhasilan pemelajaran
mereka. Hal ini pula yang menjadi alasan Pemerintah Indonesia

13
untuk tetap memberlakukan UN karena membandingkan dengan
Negara Adidaya itu. Dalam soal PR, berdasarkan riset OECD,
siswa di Amerika menghabiskan 6,1 jam per minggu untuk
mengerjakan PR.

Di Indonesia: Ujian kelulusan sudah berlaku sejak 1965 dengan


berbagai bentuknya.

Jenis ujian Masa tahun


Ujian Negara 1965-1971
Ujian Sekolah 1972-1979
Evaluasi Belajar Tahap Nasional 1980-2002
Ujian Akhir Nasional 2003-2004
Ujian Nasional 2005-sekarang

Pada tahun 2015, Kemendikbud membuat terobosan dengan


menghapus UN SD menjadi ujian sekolah (US) yang tidak lagi
menjadi penentu kelulusan. Adapun untuk sekolah menengah
masih diberlakukan. Meskipun demikian, siswa sekolah
menengah tetap diberi kesempatan untuk lulus dengan UNP
(ujian nasional perbaikan). Tekanan yang dihadapi para siswa di
Indonesia tidak lebih baik dari yang dialami siswa di Amerika,
terutama terkait beban PR yang harus mereka selesaikan di
rumah. Siswa banyak berkutat dengan soal-soal ujian. Itu
sebabnya penjualan buku-buku soal mulai tingkat pendidikan
dasar hingga menengah tampak laris manis. Siswa tidak ada lagi
waktu untuk membaca secara menyenangkan, tetapi harus

14
membaca buku pelajaran, buku latihan soal, dan mengambil les
privat tambahan di luar jam sekolah demi lulus ujian.

4. Guru Ekstra untuk Siswa Khusus

Jumlah siswa rata-rata per kelas di Finlandia adalah 20 siswa.


Tidak ada pencirian atau pemisahan siswa berdasarkan
kemampuan. Mereka semua diajarkan di kelas yang sama. Untuk
memastikan bahwa anak-anak berkebutuhan khusus, atau
imigran dapat mengikuti pelajaran dengan baik, atau mengatasi
ketertinggalan mereka, sekolah mempekerjakan guru ekstra atau
guru bantu demi menjalani tahun tambahan pendidikan untuk
anak-anak tersebut.

Di Indonesia: Banyak sekolah umum yang tidak mau menerima


siswa berkebutuhan khusus atau melakukan diskriminasi
terhadap siswa dengan kemampuan tertentu.

5. Belajar Multibahasa

Pendidikan bahasa di Finlandia dimulai pada hari pertama


sekolah. Pada usia sembilan tahun, siswa mulai berbahasa
Swedia (bahasa resmi kedua Finlandia), dan pada usia 11 tahun,
mereka mulai belajar bahasa ketiga, biasanya bahasa Inggris.
Banyak siswa, bahkan mengambil bahasa keempat sekira usia 13
tahun. Siswa diuji pada dua bahasa pertama mereka dalam ujian
matrikulasi untuk penempatannya di perguruan tinggi.

15
Di Indonesia: Kemampuan berbahasa kedua (bahasa asing)
tidak terlalu mendapat perhatian khusus pada banyak sekolah
sehingga kemampuan berbahasa asing, khususnya bahasa
Inggris sangat rendah pada lulusan SMA/SMK di Indonesia.

6. Pedoman Mengajar Tanpa Detail Cara

Guru diberikan pedoman atas apa yang mereka harus ajarkan,


tetapi mereka tidak diberikan cara yang detail atau kiat untuk
mengajarkannya. Hal ini memungkinkan para guru sangat
terlatih mengembangkan kurikulum yang diarahkan demi
mengajar suatu kelompok unik siswa. Misalnya, Timo Heikkinen,
kepala sekolah Kallahti, menerapkan program ilmu lingkungan
baru kepada peserta didiknya yang berorientasi pada hutan di
sebelah sekolah mereka.

Di Indonesia: Guru-guru sebagian besar masih terbiasa


mengharapkan kemudahan. Bahkan, beberapa penerbit buku
juga menawarkan sebuah paket kemudahan untuk menyusun
RPP bagi para guru yang “malas” untuk melakukannya.
Kurikulum tidak dikembangkan secara domestik, padahal
Indonesia memiliki karakteristik daerah dan budaya yang sangat
kaya.

7. Pengajaran yang Minim

Seorang guru di Finlandia hanya mengajar selama empat jam per


hari di sekolah, menghabiskan setidaknya dua jam untuk
meninjau struktur kurikulum dan menilai kemajuan siswa.

16
Dengan jam mengajar yang lebih sedikit, siswa tidak kewalahan
dengan kelas, dan guru punya banyak kesempatan mem-
persiapkan pengembangan pemelajaran yang berkualitas.

Di Amerika: Pendapatan guru di Amerika menurut OECD adalah


$41.000 per tahun—lebih kecil sedikit dibandingkan Finlandia
yaitu $43.000 per tahun. Namun, guru di Amerika bekerja dengan
jam lebih panjang daripada negara lainnya (lihat data OECD).

17
Gambar 4 Banyak jam yang dihabiskan guru di beberapa negara per
tahun. (Sumber: OECD, 2012).

Di Indonesia: Guru-guru di Indonesia termasuk yang


menghabiskan banyak jam untuk memberikan pemelajaran di

18
sekolah. Guru tidak memiliki waktu yang cukup untuk
mempersiapkan pemelajaran.

8. Guru yang Profesional

Jika Anda seorang guru, Anda membutuhkan lebih dari gelar


sarjana dan sertifikasi guru di Finlandia—Anda harus bergelar
master. Guru boleh mendapatkan gelar master mereka di salah
satu dari delapan perguruan tinggi nasional. Biaya sepenuhnya
disubsidi oleh pemerintah, tetapi tempatnya sangat terbatas.
Kompetisi untuk menjadi guru berlangsung sengit: Peserta yang
dibolehkan melamar harus merupakan 10% dari peringkat
teratas lulusan perguruan tinggi. Pada tahun 2010, 6.600 peserta
melamar untuk 600 penempatan.
Guru di Finlandia benar-benar diperlakukan seperti halnya
profesor di perguruan tinggi.

Di Amerika: Standar pendidikan untuk guru adalah sarjana


tanpa harus mengambil master.

Di Indonesia: Standar pendidikan untuk guru pendidikan dasar


dan menengah adalah S1 dan untuk PAUDNI adalah D1.

9. Guru Melekat dengan Siswa

Di Finlandia, guru cenderung melekat dengan kelompok siswa


yang sama selama lima tahun. Dengan penerapan ini, bukan
hanya guru memiliki kesempatan yang lebih baik untuk
membentuk hubungan dengan siswa mereka, melainkan mereka

19
juga memiliki kesempatan yang lebih baik untuk mengenal siswa
sebagai peserta didik.

Di Amerika: Guru untuk siswa dapat berganti setiap tahun.

Di Indonesia: Guru untuk siswa dapat berganti setiap tahun.

10. 43% Masuk ke SMK

Pada usia 16 tahun, siswa di Finlandia dapat memutuskan apakah


mereka ingin masuk SMA atau SMK untuk mempersiapkan diri
mereka untuk ke universitas atau masuk ke pelatihan kejuruan.
Siswa yang memilih SMK dapat masuk ke universitas asalkan
mereka meraih nilai yang tinggi pada ujian matrikulasi. Pada
kenyataannya, 43% siswa memilih melanjutkan ke pendidikan
vokasional.

Di Indonesia: Pendidikan vokasional masih dianggap pen-


didikan “kelas dua” meskipun Pemerintah lewat Kemendikbud
telah berupaya menaikkan pamor SMK. Bahkan, Presiden Jokowi
telah menginstruksikan kepada Mendikbud untuk mem-
perbanyak SMK di seluruh Indonesia.

***
Finlandia lebih kita kenal sebagai negara produsen ponsel merek
Nokia di Indonesia daripada negara yang unggul dalam hal
pendidikan sampai kemudian negara ini melejit secara
mencengangkan. Pada tahun 1971, sebuah komisi di negara itu
mengusulkan program modernisasi ekonomi dengan cara

20
meningkatkan kualitas sekolah karena negara ini miskin sumber
daya alam. Oleh karena itu, pemerintah Finlandia kemudian
menaikkan gaji guru, mengurangi jumlah siswa per kelas, dan
mewajibkan pada 1979 guru mengambil gelar master.
Sistem pendidikan yang dikembangkan ini tidak pelak lagi
menjadikan Finlandia sebagai surga pendidikan bagi para guru
dan siswa. Mereka memiliki waktu lebih banyak untuk mengem-
bangkan diri, termasuk dalam hal keliterasian. Peringkat terbaik
yang mereka capai kini adalah bonus dari perjuangan mereka
lebih dari dua dekade.

Fenomena Literasi di Finlandia

Sebuah laporan terbaru tahun 2015 yang disusun oleh European


Literacy Policy Network (ELINET) bertajuk Literacy in Finland:
Country Report Children and Adolescent menyajikan data bahwa
44% anak-anak di Finlandia menyatakan menikmati kegiatan
membaca. Oleh sebab itu, ada relasi kuat antara kegemaran
membaca dan performa pendidikan di Finlandia. 8
Riset lain bertajuk Towards Future Literacy Pedagogies
(2006–2009) yang diketuai oleh Professor Minna-Riitta Luukka
serta didanai oleh Academy of Finland and University of
Jyväskylä mencoba mencari tahu materi tertulis apa yang dibaca
oleh siswa remaja di luar pelajaran sekolah. Fakta menunjukkan
bahwa remaja masih tertarik untuk membaca koran dan majalah,
tetapi mereka mulai kehilangan minat membaca “buku

8 Christine Garbe, dkk. Literacy in Finland: Country Report


Children and Adolescent, Draft September 2015, (Cologne:
ELINET), hlm. 11

21
tradisional. 9 Adapun yang paling sering dibaca setiap hari adalah
pesan teks, pos-el, dan media digital lainnya. Dari sisi gender,
remaja perempuan lebih tertarik membaca daripada remaja pria.
Terkait dengan peringkat PISA, skor siswa di Finlandia yang
menikmati kegiatan membaca masih lebih baik daripada skor
rata-rata siswa di negara Eropa lainnya. Angka-angka itu juga
menunjukkan bahwa ada keterkaitan antara menikmati kegiatan
membaca dan unjuk kinerja (performa) dalam prestasi belajar
bahwa siswa-siswa yang menikmati kegiatan membaca dapat
menjalankan strategi membaca yang efektif, terutama untuk
meringkas bahan bacaan.
Terkait laporan tersebut, EU High Level Group of Experts on
Literacy memberikan rekomendasi untuk menciptakan ling-
kungan yang literat sebagai berikut.

“Creating a more literate environment will help stimulate


a culture of reading, i.e. where reading for pleasure is seen
as the norm for all children and adults. Such a culture will
fuel reading motivation and reading achievement: people
who like to read, read more. Because they read more, they
read better, and because they read better they read more:
a virtuous circle which benefits individuals, families and
society as a whole.” (HLG report 2012, p. 41)

"Menciptakan lingkungan yang lebih literat akan mem-


bantu merangsang budaya membaca, yaitu dalam hal ini
membaca untuk kesenangan dipandang sebagai norma
untuk semua anak-anak dan orang dewasa. Seperti halnya
budaya akan membakar motivasi membaca dan prestasi
membaca: orang-orang yang suka membaca, membaca
lebih banyak. Karena mereka membaca lebih banyak,
mereka membaca lebih baik, dan karena mereka membaca

9 Ibid.

22
lebih baik, mereka membaca lebih jauh: lingkaran berbudi
luhur yang memberi manfaat untuk individu, keluarga,
dan masyarakat secara keseluruhan. (HLG report 2012, p.
41)

Orang tua memainkan peran sentral dalam pengembangan


munculnya kemampuan literasi pada anak-anak. Para orangtua
menjadi guru pertama yang mempertajam kemampuan anak-
anak dalam berbahasa dan berkomunikasi dan sikap untuk
membaca dengan menjadi tokoh anutan dalam membaca,
menyediakan bahan bacaan, dan membacakan (bahan bacaan)
untuk anak.
Sekolah memainkan peran penting dalam menawarkan
lingkungan yang literat bagi siswa. Sekolah dapat menumbuhkan
motivasi membaca dan membaca untuk kesenangan dengan
mendirikan perpustakan sekolah dan perpustakaan kelas,
menawarkan berbagai macam buku dan bahan bacaan lainnya
dalam berbagai genre, menyediakan tempat terlindung dan
ruang yang nyaman untuk kegiatan membaca secara individu
(seperti membaca klub), dan tidak memaksa anak-anak
untuk mengungkapkan dan menggantikan pengalaman membaca
mereka yang sangat pribadi.
Perhatian lebih serius perlu ditujukan kepada anak-anak
remaja yang tengah mengalami fase penting di dalam
kehidupannya yaitu mencari identitas diri dan konsep diri.
Karena itu, sangat penting bagi keluarga, sekolah, dan
masyarakat menawarkan kesempatan yang lebih kaya dalam
membaca serta mengembangkan konsep diri yang lebih stabil
melalui kegiatan membaca dan menulis agar menjadi bagian dari
budaya sastra. Hal ini termasuk memberi akses yang luas kepada

23
mereka mendapatkan lebih banyak bahan bacaan, baik cetak
maupun digital. Begitu juga termasuk kegiatan memberi peluang
kepada mereka untuk aktif berkomunikasi dan bertukar ide-ide
tentang teks dengan teman sebaya, guru, ataupun orangtua.
Data menarik lainnya disajikan oleh PIRLS 2011 tentang
jumlah buku anak yang dilaporkan oleh orangtua anak di
Finlandia sebagai berikut:10
 0-10 : 2.6 % (EU average 11.8%)
 11-25 : 9.6 % (EU average 19.7%)
 26-50 : 28.8 % (EU average 29.4%)
 51-100 : 32.9% (EU average 23.4%)
 >100 : 26.1% (EU average 15.7%).
Data menunjukkan sangat banyak orangtua atau keluarga
yang menyediakan lebih dari 26 judul buku anak di rumahnya.
Bahkan, persentase tertinggi adalah orangtua yang menyediakan
51-100 judul buku anak di rumah mereka.
Jika berdasarkan laporan anak 5% dari siswa melaporkan
memiliki 10 atau lebih sedikit buku di rumah. Siswa lainnya di
Finlandia (16%) dilaporkan memiliki lebih dari 200 buku
(ELINET PIRLS Lampiran C, Tabel E1). Nilai rata-rata siswa di
Finlandia dengan 10 atau lebih sedikit buku 67 poin lebih rendah
daripada siswa yang memiliki lebih dari 200 buku.
Dalam hal skala kegiatan literasi awal yang dilaporkan
PIRLS 2011 berdasarkan data para orangtua siswa di Finlandia
diperoleh data berikut:
 Sering: 27,1%
 Kadang-kadang: 72,0%

10 Ibid.

24
 Jarang atau hampir tidak pernah: 0,8%.
Disebutkan ada 9 kegiatan yang termasuk pengenalan
literasi awal, yaitu membaca buku, bercerita, menyanyikan lagu-
lagu, bermain dengan mainan alfabet, berbicara tentang hal-hal
yang dilakukan, berbicara tentang bacaan, bermain permainan
kata, menulis surat atau kata-kata, membaca tanda-tanda dan
label secara nyaring.
Dibanding dengan negara Eropa pada umumnya, orangtua
di Finlandia lebih sering membacakan buku untuk anak-anak
mereka. Orangtua di Finlandia juga sedikit lebih tinggi dalam
proporsi mendongeng atau bercerita untuk anak mereka
dibandingkan orangtua di negara Eropa lainnya. Namun, anak-
anak Finlandia tidak lebih sering dinyanyikan lagu-lagu
dibandingkan teman-teman seusia mereka di negara Eropa
lainnya. Begitupun dengan pengenalan variasi permainan, anak-
anak Finlandia tidak terlalu mendapatkannya dari orangtua
mereka.11
Tantangan yang kini dihadapi Finlandia seperti dirilis PIRLS
dalam rentang 2000-2009 terdapat penurunan drastis anak-anak
di atas 15 tahun dalam hal membaca untuk kesenangan. Pada
PISA 2000 sekitar 22% dari siswa Finlandia melaporkan bahwa
mereka tidak pernah membaca untuk kesenangan di luar
sekolah. Adapun PISA 2009, melaporkan bahwa 33% dari anak
usia 15 tahun melaporkan tidak membaca untuk kesenangan di
luar sekolah. (OECD, 2010b.)
Tantangan lain dalam membaca untuk kesenangan adalah
penggunaan buku itu sendiri. Buku pelajaran dan buku kerja
masih mendominasi sebagai buku bacaan di sekolah walaupun

11 Ibid.

25
buku-buku anak tetap disediakan sebagai suplemen. Akses ke
perpustakaan kelas masih rendah sehingga diperlukan investasi
pada perpustakaan kelas dengan bahan bacaan yang lebih
beragam.
Dari fenomena di Finlandia tersebut, Indonesia sejatinya
dapat belajar banyak hal sebagai berikut.
 Rumah menjadi lingkungan literat pertama yang dapat
dibangun oleh orangtua untuk menciptakan generasi yang
literat. Orangtua harus berupaya menyediakan buku di
rumah untuk anak-anak lebih dari 20 judul atau
mengusahakan sampai lebih dari 50 judul. Upaya ini juga
dapat didukung dengan menjadi anggota perpustakaan di
daerah sehingga dapat meminjam buku. Upaya lain adalah
keterjangkauan buku, baik dari sisi harga maupun dari sisi
ragamnya bagi para orangtua yang dapat digalang oleh
penerbit, terutama Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) melalui
program pamerannya.
 Orangtua harus lebih banyak terlibat dalam kegiatan literasi
sebelum anak masuk ke sekolah, terutama dalam hal
membacakan buku, mendongeng, dan menstimulus anak
untuk bercerita. Dalam hal ini, ketersediaan buku di rumah
menjadi sangat penting.
 Orangtua harus menyediakan waktu bermain dengan anak
dalam hal permainan verbal seperti permainan kata-kata
ataupun bentuk.
 Sekolah menjadi tempat kedua setelah rumah untuk
membangun lingkungan yang literat. Sekolah perlu
mengembangkan perpustakaan kelas (sudut baca kelas)

26
yang leibh mudah diakses daripada perpustakaan sekolah
atau perpustakaan umum.
 Sekolah harus memberi kesempatan yang lebih banyak pada
kegiatan membaca untuk kesenangan dengan juga menye-
diakan bahan bacaan yang lebih beragam. Karena itu, buku
pelajaran bukan menjadi satu-satunya buku bacaan utama
bagi anak-anak.
 Pemerintah perlu mendukung program penyediaan bacaan
anak-remaja yang berkualitas, baik secara cetak maupun
digital untuk menyongsong lahirnya Generasi Z. Bahan
bacaan yang disediakan haruslah mengikuti semangat zaman
sehingga menjadi pilihan bagi anak.
 Tantangan ke depan untuk menanamkan minat baca pada
Generasi Z sangatlah berat mengingat negara seperti
Finlandia juga mengalami penurunan minat baca pada anak-
anak dalam kelompok usia di atas 15 tahun. Anak-anak mulai
cenderung meninggalkan “buku tradisional” dan beralih
kepada media digital yang terinstal di dalam gawai mereka.

27
Indonesia di antara
Singapura, Malaysia, dan
Thailand

Indonesia telah berpartisipasi secara aktif dalam riset yang


dilakukan PISA, yaitu dalam hal literasi membaca, literasi
matematika, dan literasi sains sejak tahun 2000. Tingkat melek
huruf masyarakat Indonesia (usia ≥ 15 tahun) termasuk tinggi
karena telah mencapai lebih dari 93,88% walaupun masih lebih
rendah jika dibandingkan Singapura (96.76%), Thailand (96,
67%), dan Malaysia (94.64). Nilai tersebut tentu juga berkorelasi
dengan tingkat populasi Indonesia yang sangat tinggi. 12
Pada tahun 2000 dalam hal literasi membaca, Indonesia
menempati peringkat 39 dari 41 negara; tahun 2003 peringkat
39 dari 40 negara; tahun 2006 peringkat 48 dari 56 negara; tahun
2009 peringkat 57 dari 65 negara; tahun 2015 peringkat 69 dari
76 negara.
Indonesia selalu terpaut beberapa peringkat di bawah
Thailand yang sama-sama menjadi peserta riset PISA dan terpaut
jauh dari Malaysia dan Singapura. Tiga negara ini memang selalu
menunjukkan ambisinya sebagai negara ASEAN terdepan dalam
soal minat membaca dan pembangunan perbukuan.

12OECD/Asian Development Bank. 2015. Education in Indonesia:


Rising to the Challenge, (Paris: OECD Publishing), hlm. 61

28
Walapun demikian, sejarah telah mencatat bahwa pada
tahun 2015, Indonesia-lah negara ASEAN pertama yang
mendapat kehormatan menjadi Guest of Honour pada perhelatan
Frankurt Book Fair. Semestinya momentum tersebut mampu
melejitkan potensi daya literasi bangsa Indonesia, terutama
dalam hal membaca dan menulis untuk tahun-tahun ke depan.
Indonesia memiliki segala hal yang memungkinkan
bangkitnya daya literasi dalam hal membaca dan menulis,
termasuk kekayaan budaya luhur sebagai warisan tidak ternilai.
Dari sisi kreativitas, bangsa Indonesia sudah terkenal sejak
zaman dahulu, bahkan mampu menghasilkan berbagai maha-
karya, termasuk dalam bidang sastra.
Untuk itu, adalah suatu pertanyaan yang menggugat jika kini
Indonesia tidak lebih baik dari tiga negara ASEAN lainnya, yaitu
Singapura, Malaysia, dan Thailand dalam soal keliterasian.
Mengapa hal ini dapat terjadi?
Kami mengajak Anda untuk menyelisik keandalan literasi
tiga negara tersebut sebagai bahan perbandingan. Dengan
demikian, setidaknya dapatlah diketahui strategi negara-negara
tersebut mengembangkan daya literasi masyarakat negaranya.

Singapura

Dalam soal pendidikan dan keliterasian, Singapura memang


menjadi negara ASEAN terdepan. Singapura telah mengambil
posisi sebagai juru kampanye setia ASEAN untuk kebiasaan
membaca. Negara ini memiliki program bernama READ! Yang
dicanangkan pada 2011.

29
Direktur Reading Initiatives, The Singapore National
Library Board, Kiang-Koh Lai Lin, menyebutkan bahwa kata
‘perpustakaan’ telah diasosiasikan sebagai tempat suci bagi
semua warga Singapura, terlepas dari usia, ras, bahasa,
pekerjaan, tingkat pendidikan, ataupun agama. Berdasarkan hasil
survei, total ada sekira 37 juta pengunjung ke perpustakaan di
Singapura per tahun dan ada peningkatan yang stabil dalam hal
pinjaman buku.
Dengan visi (readers for life) dan misi (literacy skill
empowerment) yang jelas, Singapura telah berhasil menciptakan
sebuah citra perpustakaan tidak hanya sebagai tempat untuk
kemajuan akademis dan akses ke pengetahuan, tetapi juga pusat
budaya serta tempat yang aman dan terpercaya.
Singapura juga merupakan salah satu dari negara ASEAN
yang memiliki badan perbukuan nasional yaitu National Book
Development Council of Singapore (NBDCS). NBDCS berdiri sejak
tahun 1968 sebagai badan independen untuk mempromosikan
minat membaca, minat menulis, bercerita, dan juga penerbitan.
Kegiatan NBDCS di antaranya mengadakan berbagai festival
literasi tahunan dan memberi penghargaan literasi.

Malaysia

Indonesia harus “iri” kepada Malaysia karena selain memiliki


badan perbukuan bernama Majlis Buku Kebangsaan Malaysia
(MBKM) yang berdiri tahun 1968, Malaysia juga memiliki badan
independen lainnya bernama Institut Terjemahan Buku Malaysia
(ITBM) dan Kota Buku.

30
ITBM didirikan demi memberi akses penerjemahan karya-
karya penulis Malaysia ke dalam bahasa lain, begitu pula
sebaliknya menerjemahkan karya-karya berkualitas dari
berbagai negara ke dalam bahasa Malaysia.

ITBM Malaysia

Berbicara soal Malaysia, negara ini telah memiliki lembaga


penerjemahan karya-karya penulis lokalnya ke bahasa lain 18
tahun yang lalu (14 September 1993). Pada akhir tahun 2011,
lembaga yang semula bernama Institut Terjemahan Negara
Malaysia (ITNM) diubah menjadi Institut Terjemahan dan
Buku Malaysia yang juga memiliki wewenang menerbitkan
buku sendiri seperti yang ditetapkan oleh Perdana Menteri
Malaysia, Najib Tun Rajak. Perubahan ini didasari oleh
perluasan peran dari awalnya sebagai lead agency
penerjemahan karya-karya terpilih, kemudian ditingkatkan
juga menjadi penerbitan buku-buku hasil terjemahan karya-
karya terpilih. ITBM pun menjadi semacam badan usaha milik
negara dengan key performance indicator tersendiri yaitu
harus menghasilkan profit dari usaha-usahanya.
Walaupun demikian, pihak Kerajaan Malaysia
menggelontorkan RM5 juta sejak tahun 2002 setara dengan
Rp16 M yang disalurkan secara bertahap selama dua tahun
untuk membantu penerbitan buku, terutama karya penulis
muda dalam semua genre. Jumlah yang tidak sedikit untuk
sebuah dukungan terhadap literasi serta penerbitan.

31
Sokongan pemerintah yang besar membuat ITBM mampu
berkiprah mengalihbahasakan karya penulis lokalnya ke
dalam berbagai bahasa, seperti Inggris, Jerman, Spanyol,
Mandarin, Korea, Jepang, dan Arab. Sebaliknya, juga mereka
mampu memainkan peranannya menerjemahkan karya-karya
asing dan melakukan kerja sama penerbitan (co-publishing).
Selain itu, ITBM juga aktif mengirimkan utusan penulis untuk
menghadiri berbagai event-event perbukuan internasional di
berbagai negara.
ITBM juga berkembang menjadi lembaga yang sangat
kuat dan memiliki reputasi di bidang alih bahasa,
penyuntingan, serta pengembangan literature ke dalam
berbagai bahasa dunia.

Berbeda halnya dengan Kota Buku yang didirikan untuk


tujuan persiapan Malayasia mengadopsi teknologi digital di
dalam dunia perbukuan demi menyiapkan buku masa depan
untuk Generasi Z. Program yang baru saja mereka luncurkan
adalah layanan unduh gratis buku digital di Kuala Lumpur
International Airport. Mereka yang membawa tablet dapat
mengunduh berbagai buku digital secara gratis.
Jadi, negara tetangga kita ini begitu banyak memiliki badan
yang mengurusi masalah keliterasian dan perbukuan, di luar
asosiasi penerbit. Selain itu, penyelenggaran Kuala Lumpur
International Book Fair (KLIBF) sangat profesional.
KLIBF diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan
Malaysia yang menunjuk MBKM sebagai penanggung jawab.
Tahun 2015, KLIBF telah mencapai penyelenggaraan yang ke-34.

32
Thailand

Thailand telah mengambil posisi strategis dalam bidang minat


baca dan perbukuan di antara negara-negara ASEAN lainnya.
Pada tahun 2011, Thailand menjadi tuan rumah konferensi
tentang promosi minat baca untuk masyarakat ASEAN yang
disponsori Thailand Knowledge (TK) Park, Office of Knowledge
Management and Development. Hadir dalam konferensi itu
perwakilan dari enam negara ASEAN, yaitu Thailand, Singapura,
Indonesia, Filipina, Vietnam, dan Laos. 13
TK Park menginisiasi program tersebut dengan filosofi
“Towards ASEAN citizenship with books and reading”.
Konferensi bertujuan menjalin kemitraan akademis di antara
negara-negara ASEAN dalam pengembangan sumberdaya
pemelajaran dan membaca demi mempersiapkan masyarakat
berdaya saing tinggi bagi Komunitas ASEAN pada tahun 2015.
Dalam hal ketersediaan buku dan mempromosikan
komitmen untuk membaca, Pemerintah Thailand, telah
mencanangkan agenda nasional membaca bahwa 2009-2018
dinyatakan sebagai dekade untuk mempromosikan membaca.
Selain itu, penunjukan Bangkok sebagai World Book Capital 2013
oleh UNESCO telah mendorong pemerintah Thailand untuk
mengembangkan dan meningkatkan perpustakaan umum,
perpustakaan sekolah, dan perpustakaan di perguruan tinggi dan
institusi lainnya.
Bahkan, perpustakaan 3D dan perpustakaan elektronik
telah dibangun dan digunakan warga Thailand. Fasilitas ini terus-

13Setiono Sugiharto, Reading Habit a Challenge for ASEAN,


http://www.thejakartapost.com, 10 September 2011.

33
menerus diperluas untuk menjangkau daerah-daerah terpencil di
Thailand.
Asosiasi penerbit di Thailand juga sangat aktif
menyelenggarakan pameran buku bertaraf internasional.
Penyelenggaraan pameran di Bangkok, Thailand sudah
memasuki usia 43 tahun pada 2015. Adapun Bangkok
International Book Fair telah berusia 13 tahun. BKKIBF diklaim
sebagai the hub of book markets di Asia Tenggara dan juga disebut
sebagai gerbang pameran buku untuk negara-negara Asia.
Interaksi antara penerbit dari Eropa, Asia, dan Amerika Utara
terjadi di sini.

Indonesia (Harus) Berkaca

Apa yang dilakukan oleh tiga negara ASEAN tersebut serta ambisi
mereka untuk menjadi Pusat Buku ASEAN patut menjadi cermin
bagi kita dalam menerapkan strategi keliterasian bukan semata
demi menaikkan peringkat Indonesia dalam soal keliterasian,
melainkan lebih jauh lagi mempersiapkan generasi Indonesia
memiliki keandalan daya literasi untuk bertahan dan melejit di
dalam masyarakat informasi. Informasi adalah oksigen bagi
ekosistem pendidikan di Indonesia dan informasi itu dipasok
melalui bahan bacaan.
Oleh karena itu, akses terhadap bahan bacaan bermutu
dihadirkan oleh Negara dengan tidak menumpukan semata pada
pemangku kepentingan lain di luar pemerintahan, seperti penu-
lis, editor, desainer, penerbit, toko buku, taman bacaan, atau
media massa. Negara harus mampu hadir menjadi lokomotif
gerakan reformasi keliterasian.

34
Berikut ini adalah empat hal yang perlu menjadi perhatian
dalam peningkatan daya literasi bangsa setelah kita berkaca
dengan apa yang telah dilakukan negara lain.

1. Mutu Bahan Bacaan

Bahan bacaan bermutu untuk semua jenjang pendidikan,


terutama dalam bentuk buku, mutlak disediakan Pemerintah
ataupun masyarakat (swasta), baik itu buku pelajaran maupun
buku penunjang, terutama untuk kegiatan membaca secara
menyenangkan. Saat ini tercatat ada 711 penerbit aktif anggota
Ikapi (Ikatan Penerbit Indonesia) dan 1.437 penerbit non-Ikapi.
Jumlah judul buku yang diterbitkan per tahun mencapai 30.000
judul. Pangsa pasar buku umum (tidak termasuk buku pelajaran)
mencapai 14,01 T.14
Artinya, masyarakat Indonesia adalah pasar yang luas untuk
buku. Menimbang telah munculnya generasi baru yaitu Gen Z,
para pegiat perbukuan harus melakukan riset tema dan konten
yang diperlukan oleh Gen Z dan bagaimana penyajiannya dapat
menarik hati mereka. Pengembangan penerbitan digital tidaklah
dapat dihindarkan meskipun buku-buku kertas (buku tra-
disional) masihlah diperlukan dan juga serta merta ditinggalkan
anak-anak.
Dalam buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah, Direktorat
Pendidikan Dasar dan Menengah, Kemendikbud telah menya-
jikan ragam bacaan berdasarkan jenjang pendidikan yang dapat
digunakan untuk merangsang minat membaca peserta didik.

14Ikapi, Industri Perbukuan Indonesia dalam Data dan Fakta,


(2015, Jakarta: Ikapi), hlm. 37.

35
Jika meninjau dari sisi pemeringkatan buku berdasarkan
usia yang dilakukan negara lain, dapat dilihat contoh berikut ini.

Tingkatan Usia Jenis Buku Penyajian Konten


(Bahasa)

Batita (Toddler) 1–3 Buku Bergambar Tanpa kata; satu kata


tahun
Balita 3–5 tahun ke Buku Bergambar Satu kata; satu kalimat
atas
6–7 tahun Buku Pembaca Mula Satu paragraf pendek; satu
cerita utuh
8–9 tahun Buku Bab/Pembaca Satu cerita/materi utuh
Tingkat Peralihan yang terbagi atas bab-bab
≥9 tahun Buku Pembaca Satu cerita/materi utuh
Menengah yang terbagi atas bab-bab

≥12 tahun Buku Pembaca ABG Satu cerita/materi utuh


yang terbagi atas bab-bab

Pengembangan bahan bacaan harus menjangkau ragam


ranah induk (fiksi, nonfiksi, dan faksi) dan ranah turunannya,
baik karya penulis lokal Indonesia maupun karya terjemahan.

Buku

Fiksi Nonfiksi Faksi

Buku Referens Buku Autobiog


Puisi Cerpen Novel Drama Biografi Memoar
Pendidikan i Umum rafi

36
2. Akses dan Keterjangkauan Buku di Seluruh Indonesia

Berdasarkan data kini ada 302.812 perpustakaan di Indonesia


yang terdiri atas, 1 perpustakaan nasional, 23.777 perpustakaan
umum, 2.743 perpustakaan khusus, 259.766 perpustakaan
sekolah, 1.525 perpustakaan perguruan tinggi, dan 15.000
perpustakaan komunitas.15
Ketersediaan infrastruktur perpustakaan ini tidak serta
merta meningkatkan perilaku membaca karena pada kenya-
taannya banyak perpustakaan yang “merana” alias tidak pernah
dikunjungi. Artinya, perpustakan dituntut tidak hanya mampu
mempromosikan minat membaca, tetapi juga mempromosikan
“dirinya sendiri” agar dikunjungi.
Untuk mengantisipasi kurangnya kunjungan ke perpus-
takan karena mungkin keterbatasan waktu atau terkendala jarak
bagi peserta didik, salah satu upaya yang dilakukan adalah
dengan mengadakan sudut baca di kelas atau disebut juga
perpustakaan kelas.
Dalam hal di tempat-tempat umum, Pemerintah dan masya-
rakat juga dapat mengadakan sudut baca (reading corner) seperti
di mal ataupun ruang publik lainnya. Apa yang dilakukan oleh
Kota Buku Malaysia dengan menyediakan akses mengunduh
buku digital gratis di bandar patut untuk dicontoh oleh para
penerbit.
Hal lain yang perlu menjadi perhatian pemerintah adalah
keberadaan toko-toko buku yang hingga dewasa ini mengalami
penurunan drastis, terutama justru terjadi di kota-kota besar.

15 Ibid., hlm. 34.

37
Hanya ada segelintir toko buku yang masih bertahan, sedangkan
lainnya diberitakan telah tutup.
Melalui pengaturan tata kelola perbukuan, diharapkan toko-
toko buku, baik modern maupun tradisional dapat dihidupkan
kembali karena toko buku dapat menjadi alternatif tujuan wisata
keluarga pada saat akhir pekan. Selain toko buku, pameran-
pameran buku di daerah juga perlu digalakkan.
Saat ini Pemerintah lewat Kemendikbud juga telah
menyokong penyelenggaraan Indonesia International Book Fair
yang diinisiasi Ikapi. Tahun lalu Korea Selatan telah menjadi
tamu kehormatan dan tahun ini (2016) Malaysia akan menjadi
tamu kehormatan. Indonesia sedikit banyak dapat melihat
kemajuan literasi Malayasia pada bulan September 2016 ketika
mereka akan unjuk gigi sebagai tamu kehormatan.

3. Program Literasi Nasional

Semua negara ASEAN yang disebutkan di atas memiliki program


nasional dan strategi yang jelas untuk meningkatkan minat
membaca dan minta menulis. Mereka juga memiliki
badan/institusi yang langsung di bawah pemerintah ataupun
independen untuk mengurusi masalah keliterasian dan
perbukuan, bahkan di dalam satu negara terdapat lebih dari satu
institusi seperti di Malaysia.
Pencanganan program nasional yang bernama menjadi
penting, bukan penamaan sebagai proyek seperti yang pernah
dilakukan Pemerintah Indonesia pada akhir tahun 1960-an yaitu
proyek buku bacaan atau lebih dikenal dengan Proyek Inpres.
Penamaan (branding) program telah dimulai sejak 2016 yaitu

38
dicanangkannya Gerakan Literasi Sekolah (GLS) pada masa
Mendikbud Anies Baswedan. Harapannya GLS dapat diteruskan
sebagai program nasional bernama yang menjangkau seluruh
anak atau peserta didik di Indonesia.
Salah satu misi dari GLS adalah terciptanya lingkungan
sekolah yang literat dengan ciri berikut:
a. menyenangkan dan ramah anak sehingga menumbuhkan
semangat warganya dalam belajar;
b. semua warganya menunjukkan empati, peduli, dan meng-
hargai sesama;
c. menumbuhkan semangat ingin tahu dan cinta pengetahuan;
d. memampukan warganya cakap berkomunikasi dan dapat
berkontribusi pada lingkungan sosialnya;
e. mengakomodasi partisipasi seluruh warga dan lingkungan
eksternal sekolah. (Kemdikbud, 2016)
Secara khusus ekosistem yang diharapkan pada setiap
jenjang seperti tertuang dalam tabel berikut (Kemdikbud, 2016).

SD Ekosistem SD yang literat adalah kondisi yang menanamkan


dasar-dasar sikap dan perilaku empati sosial dan cinta
kepada pengetahuan.

SMP Ekosistem SMP yang literat adalah kondisi yang


memungkinkan pengembangan sikap kreatif, inovatif,
perilaku empati sosial, dan cinta kepada pengetahuan.

SMA Ekosistem SMA yang literat adalah kondisi yang


memungkinkan pengembangan sikap dan perilaku kritis dan
ilmiah.
SMK Ekosistem SMK yang literat adalah kondisi yang
memungkinkan pengembangan sikap kritis, kreatif, inovatif,
berjiwa wirausaha, dan cinta kepada pengetahuan.

39
SLB Ekosistem SLB yang literat adalah kondisi yang
memungkinkan pengembangan sikap dan perilaku yang
baik, berempati sosial, mandiri, dan terampil.

Tabel 2 Ekosistem yang literat per jenjang pendidikan (Sumber:


Kemendikbud, 2016)

Namun, GLS dapat lebih diluaskan juga menyasar pada


keluarga untuk berperan dalam Gerakan Literasi Rumah. Seperti
halnya yang dilakukan Finlandia, anak-anak usia dini harus
menjadi target pembiasaan membaca di rumah dengan
melibatkan secara aktif peran orangtua.

4. Tata Kelola Perbukuan

Angin segar terkait tata kelola perbukuan sebenarnya telah


berembus ketika Pemerintah dan DPR menggodok RUU Sistem
Perbukuan (Sisbuk) yang ditargetkan selesai pada 2016. RUU ini
jelas mengatur tata kelola perbukuan secara nasional yang turut
mendorong daya literasi, termasuk memastikan kehadiran
Negara dalam konteks keliterasian bersama-sama dengan
pemangku kepentingan dunia perbukuan.
Kita menyadari bersama bahwa tata kelola perbukuan
Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Jumlah toko buku
menurun drastis sejak dua dekade yang lalu. Tata niaga buku
pelajaran menjadi kacau ketika satuan pendidikan terlibat dalam
“bisnis” buku pelajaran. Begitu juga banyak penerbit yang
akhirnya gulung tikar karena minat membeli buku pada
masyarakat menurun karena waktu baca mulai tergeser dengan
akses internet yang memang tinggi di dalam masyarakat
Indonesia.

40
Walaupun demikian, semestinya penetrasi internet dan
penerbitan digital semestinya dapat dimanfaatkan oleh para
pemangku kepentingan perbukuan untuk kembali mengajak
masyarakat membaca buku meskipun buku telah berubah rupa.
Karena itu, jika RUU Sisbuk akan diundangkan tentu harus
memuat antisipasi terjadinya perubahan pada dunia buku yang
sejatinya hanya berubah bentuk dan kemampuan—dapat
mengandung audio, video, animasi, atau gabungan kesemuanya.

***
Keempat isu literasi yang perlu menjadi perhatian dalam upaya
melejitkan daya literasi bangsa seperti dipaparkan masih
memerlukan kajian lebih lanjut. Data-data yang tersedia pada
negara lain perlu menjadi rujukan. Dalam hal ini, patut
diapresiasi apa yang telah dilakukan Pemerintah Indonesia yang
mengusahakan Indonesia menjadi tamu kehormatan Frankfurt
Book Fair 2015 dan mengusahakan kehadiran Indonesia pada
event-event perbukuan dunia.
Hal tersebut setidaknya memberi pengalaman kepada
Indonesia untuk melihat gerakan-gerakan literasi yang dirancang
negara-negara besar dunia. Sebelumnya Indonesia tidak pernah
membuka booth di arena Frankfurt Book Fair. Namun, sejak 2010
tradisi itu dimulai mengikuti tiga negara ASEAN yang sudah lebih
dulu eksis, yaitu Singapura, Malaysia, dan Thailand.

41
Epilog

Sejatinya peningkatan daya literasi bangsa harus menjadi grand


design sebuah bangsa dan tentu tidak dapat dilakukan secara
parsial. Keliterasian dibangun dari ekosistem pendidikan yang
mewadahi interaksi antara Pemerintah, masyarakat, serta pegiat
literasi sebagai pelaku untuk menyiapkan sumber-sumber
informasi dan konten informasi sebagai bahan bacaan.

Sistem
Ekosistem Sumber Bahan
Pendidikan Informasi Bacaan
Pelaku

Fokus peningkatan daya literasi adalah anak-anak kita


sekarang yang masuk kategori Gen Z—mereka yang lahir pada
tahun 2000-an. Bonus demografi yang akan kita tuai pada tahun
2020 justru akan menjadi bumerang manakala generasi muda
Indonesia lemah dalam literasi. Keliterasian atau daya literasi
seperti diungkapkan John Miller menunjukkan vitalitas sebuah
bangsa dan juga menjadi faktor penentu keberhasilan individu
suatu bangsa dalam memainkan peran global pada ekonomi
berbasis ilmu pengetahuan.

42
Kita memang harus mengakui ada masalah dalam hal daya
literasi bangsa Indonesia. Secara gamblang kita dapat melihat
penggunaan media sosial yang sangat tinggi di Indonesia, tetapi
juga rentan digunakan untuk kegiatan-kegiatan negatif karena
memanfaatkan rendahnya daya literasi masyarakat. Masyarakat
Indonesia dalam arus informasi menjadi masyarakat informasi
yang kehilangan wawas diri karena tidak dapat lagi membedakan
teks-teks fitnah, bohong, dan berbahaya lainnya.
Di sisi lain, kita semakin tidak mampu mengakses sumber
informasi dan bahan informasi yang sesungguhnya berguna
karena keengganan membaca dan memperdalam bacaan.
Perilaku menginginkan hal instan menjadi kebiasaan sehingga
merendahkan minat membaca dan minat menulis secara serius
pada masyarakat.
Walaupun demkian, kita tetap harus optimistis mem-
perbaiki keadaan dan memperjuangkan keandalan daya literasi
bangsa dengan berbagai upaya yang kini dimulai melalui Gerakan
Literasi Sekolah. Para pendidik harus dibangunkan, para
orangtua harus disadarkan, dan para peserta didik harus
dirangkul dengan kehangatan bahwa daya dan energi literasi
adalah matahari untuk kehidupan mereka.

43
Daftar Pustaka

Amoss, Berthe dan Eric Saben. 1997. Ten Steps to Publishing


Children’s Books, Cincinnati: Writer’s Digest Book.
Andrew Freeman, “Finland’s Education System: 10 Surprising
Facts That’s Americans Shouldn’t Ignore”, TakePart.com, 14
Agustus 2012, dilihat pada 26 Agustus 2016
<http://www.takepart.com/photos/ten-surprising-facts-
finlands-education-system-americans-should-not-
ignore/finland-knows-what-s-best>
Bolton, Lesley. 2003. The Everything Guide to Writing Children’s
Book, Avon: Adams Media.
Bruns, Barbara. “The Magic Education in Finland”, World Bank,
26 Oktober 2015, dilihat 6 Agustus 2016 <2http://
blogs.worldbank.org/education/magic-education-finland>
Christine Garbe, dkk. “Literacy in Finland: Country Report
Children and Adolescent”, Draft September 2015, Cologne:
ELINET.
Cullinan, Bernice E. dan Diane G. Person (ed.). 2005. The
Continuum Encyclopedia Children’s Literature, London: The
Contnuum Publishing Group.
Dikdasmen. 2016. Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah
Dasar. Jakarta: Kemdikbud.
Ikatan Penerbit Indonesia. 2015. Industri Penerbitan Buku
Indonesia dalam Data dan Fakta. Jakarta: Ikapi.

44
Miller, John W. and Michael C. McKenna. 2015. World Literacy:
How Country Rank and Why it Matters, Connecticut:
OECD/Asian Development Bank. 2015, Education in Indonesia:
Rising to the Challenge, Paris: OECD Publishing.
Sugiharto, Setiono. “Reading Habit a Challenge for ASEAN”.
JakartaPost.com, 10 September 2011, dilihat pada 26
Agustus 2016 <http://www.thejakartapost.com>.
Taryadi, Alfons (ed.). 1999. Buku dalam Indonesia Baru. Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia.
Trim, Bambang. 2012. Apa dan Bagaimana Menerbitkan Buku:
Sebuah Pengalaman Bersama Ikapi. Jakarta: Ikapi.
United Nations, “The World’s Women 2015 Education”, 2015,
dilihat 26 Agustus 2016 <http://unstats.un.org/
unsd/gender/chapter3/chapter3.html>

45
Tentang Penulis

Bambang Trim, S.S. bernama lengkap Bambang Trimansyah adalah


praktisi penulisan-penerbitan yang telah berpengalaman lebih dari 20
tahun. Bambang Trim menempuh pendidikan khusus penerbitan di
Prodi D3 Editing Unpad dan S1 Sastra Indonesia. Ia juga pernah menjadi
dosen di Prodi D3 Editing Unpad, Jurusan Penerbitan Politeknik Negeri
Jakarta, dan Jurusan Penerbitan Politeknik Negeri Media Kreatif.
Bambang Trim telah menulis lebih dari 160 judul buku. Skripsinya
tentang kajian sastra anak diterbitkan menjadi buku dalam Program
Pustaka I Ford Foundation dan Adikarya Ikapi. Kini Bambang Trim
menjadi Pendiri dan Direktur Institut Penulis Indonesia serta konsultan
bidang penerbitan-perbukuan. Ia telah berbicara di depan ribuan
audiens di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di negara jiran
Malaysia saat menyampaikan makalah tentang editor. Untuk mengenal
lebih jauh silakan mengakses laman www.bambangtrim.com.

46