Anda di halaman 1dari 22

BAB III

LANDASAN TEORI

A. Metode USLE

Metode Universal Soil Loss Equation (USLE) merupakan model empiris yang dikembangkan
di Pusat Data Aliran Permukaan dan Erosi Nasional, Dinas Penelitian Pertanian, Departemen
Pertanian Amerika Serikat (USDA) bekerja sama dengan Universitas Purdue pada tahun 1954
(Kurnia, 1997).

Secara deskriptif model tersebut diformulasikan sebagai berikut

(Suripin, 2004) :

Ea = R × K × LS × CP ............................................................. (3.1)

Dimana :

Ea = Banyaknya tanah tererosi per satuan luas waktu

(ton/ha/tahun)

R = Faktor erosivitas hujan dan aliran permukaan

K = Faktor erodibilitas tanah

LS = Faktor panjang dan kemiringan lereng

CP = Faktor pengelolaan tanaman dan konsevasi tanah

Pada awalnya model penduga erosi USLE dikembangkan sebagai alat bantu para ahli
konservasi tanah untuk merencanakan kegiatan usaha tani pada suatu landscape (skala usaha
tani). Akan tetapi mulai tahun 1970, model ini menjadi sangat populer sebagai penduga erosi
lembar

23
24

(sheet erosion) dan erosi alur (rill erosion) dalam rangka mengaplikasikan

kebijakan konservasi tanah. Model ini juga pada awalnya digunakan untuk

menduga erosi dari lahan-lahan pertanian, tetapi kemudian digunakan pada

daerah-daerah penggembalaan, hutan, pemukiman, tempat rekreasi, erosi

tebing jalan tol, daerah pertambangan dan lain-lain Wischmeier (1976)

dalam Komariah (2014).


1.
Faktor Erosivitas Hujan (R)

Faktor erosivitas hujan di definisikan sebagai jumlah satuan indeks

erosi hujan dalam setahun. Nilai R yang merupakan daya rusak hujan,

dapat ditentukan dengan persamaan yang dilaporkan oleh pada penelitian

Bols pada tahun 1978 untuk menentukan besarnya erosivitas hujan

berdasarkan penelitian di Pulau Jawa dan Madura (Suripin, 2004),

didapatkan persamaan sebagai berikut:

1,21 -0,47 0,53


EI30 = 6,12 (Rain )× Days × (MaxP )......................... (3.2)

Dimana :

E130
=
indeks erosi hujan

Rain
=
curah hujan tahunan (cm)

Days
=
jumlah hari hujan rata-rata pertahun (hari)

MaxP
=
jumlah hujan maxsimal rata-rata dalam 24 jam
2.
Faktor Erodibilitas Tanah (K)

Erodibilitas Tanah adalah sifat tanah yang menyatakan mudah atau

tidaknya suatu

tanah tererosi atau dengan kata lain erodibilitas


25

menunjukkan nilai kepekaan suatu jenis tanah terhadap daya penghancur dan penghanyut air
hujan Santoso, A (2009).

Faktor erodibilitas tanah (K) atau faktor kepekaan erosi tanah merupakan daya tahan baik
terhadap pelepasan maupun pengangkutan, terutama tergantung pada sifat-sifat tanah, seperti
tekstur, stabilitas agregat, kekuatan geser, kapasitas infiltrasi, kandungan bahan organik dan
kimiawi. Di samping itu juga tergantung pada posisi topografi, kemiringan lereng, dan
gangguan oleh manusia. Faktor erodibilitas tanah dapat diestimasikan dengan nomograf K
seperti pada Gambar 3.1 dibawah ini.

Gambar 3.1 Nomograf K (Sumber Asdak, 2007)


26

Tabel 3.1 Penilaian Struktur Tanah

Tipe Struktur Tanah (diameter)


Kode Penilaian

Granular sangat halus (< 1 mm)


1
Granular halus (1 – 2 mm)
2
Granular sedang dan besar (2 – 10 mm)
3
Berbentuk gumpal, lempeng, pejal
4

(Sumber : Suripin, 2004)

Tabel 3.2 Klasifikasi Butir-Butir Primer Tanah

Fraksi Tanah
Diameter (mm)

Kerikil
>2

Pasir Kasar
2,0 – 0,2

Pasir Halus
0,2 – 0,02

Debu
0,002 – 0,02
Liat
< 0,002

(Sumber : Roth, 1994)

Tabel 3.3 Penilaian Permeabilitas Tanah

Kelas Permeabiltas Tanah (kecepatan)


Kode Penilaian

Sangat Lambat (< 0,5 cm/jam)

>2

Lambat (0,5 – 2,0 cm/jam)

2,0 – 0,2
Lambat Sampai Sedang (2,0 – 6,3 cm/jam)
0,2 – 0,02
Sedang (6,3 – 12,7 cm/jam)

0,002 – 0,02
Sedang Sampai Cepat (12,7 – 25,4 cm/jam)
< 0,002
Cepat (> 25,4 cm/jam)

(Sumber : Suripin, 2004)

Sebagai keterangan untuk menghitung nilai K dengan nomograf, di

atas adalah tabel pelengkapnya yaitu tipe Struktur Tanah pada Tabel 3.1,
27

Klasifikasi Butir-Butir Primer Tanah pada Tabel 3.2, dan Permeabilitas Tanah pada Tabel 3.3.

Faktor erodibilitas tanah menggunakan prakiraan besarnya nilai K untuk jenis tanah di DTA
(Lembaga Ekologi : 1979) dapat dilihat pada tabel 3.4 dibawah ini :

Tabel 3.4 Faktor Erodibilitas Tanah (K)

No
Jenis Klasifikasi Tanah
K

a.
Latosol
0.31

b.
Regosol
0.12

c.
Lithosol
0.16
d.
Grumosol
0.21

e.
Hydromof abu-abu
0.20

(Sumber : Hidrologi dan Pengelolaan DAS, 2014)

3. Faktor Panjang Dan Kemiringan Lereng (LS)

Faktor LS, kombinasi antara faktor panjang lereng (L) dan kemiringan (S) merupakan nisbah
besarnya erosi dari suatu lereng dengan panjang dan kemiringan tertentu terhadap besarnya
erosi dari plot lahan dengan panjang 22,13 m dan kemiringan 9 %. Nilai LS untuk sembarang
panjang dan dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut :
LS =
1

(0,00138S 2 + 0,00965S + 0,0138) ..........................


(3.3)

2
28

Dimana :

= panjang lerang (m) yang berlaku diukur dari tempat mulai terjadinya aliran air di atas
permukaan tanah sampai tempat

mulai terjadinya pengendapan.

= kemiringan lereng %

Faktor LS dapat juga diperoleh dengan menggunakan nomograf seperti terlihat pada Gambar
3.2 (Suripin, 2004).

Gambar 3.2 Nomograf untuk menghitung Faktor LS


29

Faktor LS juga dapat diperoleh melalui tabel dibawah ini :

Tabel 3.5 Faktor LS berdasarkan Kemiringan Lereng

No
Kemiringan Lereng (%)
Faktor LS

1.
0-5
0.25

2.
5-15
1.20

3.
15-35
4.25
4.
35-50
7.50

5.
˃50
12.00

(Sumber : RLKT (Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah), Buku II 1986)

4. Faktor Tanaman Penutup Lahan Dan Manajemen Tanaman (C)

Faktor C merupakan faktor yang menunjukan keseluruhan pengaruh dari faktor vegetasi,
seresah, kondisi permukaan tanah, dan pengolahan lahan terhadap besarnya tanah yang hilang
(erosi).

Faktor ini mengukur kombinasi pengaruh tanaman dan pengelolaannya. Penentuan nilai C
sangat sulit, dikarenakan banyaknya ragam cara bercocok tanam untuk suatu jenis tanaman
tertentu dalam lokasi tertentu. Berhubung berbagai lokasi tersebut memiliki iklim yang
berbeda dengan berbagai ragam cara bercocok tanam sehingga penentuan nilai C diperlukan
banyak data. Besarnya nilai C tidak selalu sama dalam waktu satu tahun (Asdak, Chay, 2002).

Nilai faktor C untuk berbagai pengelolan tanaman disajikan dalam Tabel 3.6 dibawah ini.
30

Tabel 3.6 Nilai Faktor C (Pengelolaan Tanaman)

Jenis Tanaman/tata guna lahan


Nilai C

Tanaman rumput (Bracharta sp)


0,290

Tanaman kacang jogo


0,161

Tanaman gandum
0,242

Tanaman ubi kayu


0,363

Tanaman kedelai
0,399

Tanaman serai wangi


0,434

Tanaman padi lahan kering


0,560

Tanaman padi lahan basah


0,010

Tanaman jagung
0,637

Tanaman jahe, cabe


0,900
Tanaman kentang ditanam searah kontur
0,350

Pola tanam tumpang gilir + mulsa sisa tanaman


0,357

Kebun campuran
0,200

Ladang berpindah
0,400

Tanah kosong diolah


1,000

Tanah kosong tidak diolah


0,950

Hutan tidak terganggu


0,001

Semak tidak terganggu


0,010

Alang-alang permanen
0,020

Alang-alang dibakar
0,700

Sengon disertai semak


0,012

Sengon tidak disertai semak dan tanpa seresah


1,000

Pohon tanpa semak


0,320

Tanaman kentang ditanam searah lereng


1,000

Pola tanam tumpang gilir + mulsa jerami (6 ton/ha/th)


0,079

Pola tanam berurutan + mulsa sisa tanam


0,347

Pola tanam berurutan


0,398

(Sumber : Arsyad 1989 dalam Suripin, 2004)


31

5. Faktor Konservasi Praktis (P)

Nilai faktor tindakan manusia dalam konservasi tanah (P) adalah nisbah antara besarnya erosi
dari lahan dengan suatu tindakan konservasi tertentu terhadap besarnya erosi pada lahan
tanpa tindakan konservasi. Nilai dasar P = 1 yang diberikan untuk lahan tanpa tindakan
konservasi.

Beberapa nilai faktor P untuk berbagai tindakan konservasi

disajikan pada Tabel 3.7.

Table 3.7 Nilai Faktor P pada Beberapa Teknik Konservasi Tanah.

Teknik Konservasi Tanah


Nilai P

Teras bangku

a.
Baik
0,20
b.
Jelek
0,35

Teras bangku : jagung-ubi kayu/kedelai


0,06

Teras bangku sorghum-sorghum


0,02

Teras tradisional
0,40

Teras gulud: padi-jagung


0,01

Teras gulud: ketela pohon


0,06
Teras gulud: jagung-kacang + mulsa sisa tanaman
0,01

Teras gulud: kacang kedelai


0,11

Tanaman dalam kontur

a.
kemiringan 0-8%
0,50
b.
kemiringan 9-20%
0,75
c.
kemiringan >20%
0,90

Tanaman perkebunan :

a.
disertai penutup tanah rapat
0,10
b.
disertai penutup tanah sedang
0,50

Tanaman dalam jalu-jalur : jagung – kacang tanah + mulsa


0,05

(Sumber : Asdak Chay, 1995)


32

Jika faktor nilai C dan P digabungkan maka kriteria penggunaan lahan dan besarnya nilai CP
dapat dilihat pada tabel 3.8 sampai 3.9.

Tabel 3.8 Faktor konservasi dan penggunaan tanaman.

Konservasi dan Pengolahan Tanaman


CP

Hutan :

a.
Tak terganggu
0,01
b.
Tanpa tumbuhan bawah, disertai seresah
0,05
c.
Tanpa tumbuhan bawah, tanpa seresah
0,50

Semak :

a.
Tak terganggu
0,01
b.
Sebagian berumput
0,10

Kebun :

a.
Kebun-talun
0,02
b.
Kebun-perkarangan
0,20

Perkebunan :
a.
Penutupan tanah sempurna
0,01
b.
Penutupan tanah sebagian
0,07

Perumputan :

a.
Penutupan tanah sempurna
0,01
b.
Penutupan tanah sebagian; ditumbuhi alang-alang
0,02
c.
Alang-alang; pembakaran sekali setahun
0,06
d.
Serai wangi
0,65

Tanaman Pertanian :

a.
Umbi-umbian
0,51
b.
Biji-bijian
0,51
c.
Kacang-kacangan
0,36
d.
Campuran
0,43
e.
Padi irigasi
0,02
33

Konservasi dan Pengolahan Tanaman


CP

Perladangan :

a.
1 tahun tanam – 1 tahun bero
0,28
b.
1 tahun tanam – 2 tahun bero
0,19

Pertanian dengan konservasi :

a.
Mulsa
0,14
b.
Teras bangku
0,04
c.
Contour cropping
0,14

(Sumber : Asdak, Chay, 2002)

Tabel 3.9 Faktor Penggunaan Lahan dan Pengolahan Tanah (CP)

No
Kelas Penutupan Lahan
Faktor CP

1
Air Tawar
0

2
Belukar/Semak
0,30

3
Gedung
0

4
Pasir Darat
0,75

5
Kebun
0,30

6
Pemukiman
0

7
Rumput
0,7

8
Sawah Irigasi
0,05

9
Sawah Tadah Hujan
0,05

10
Tegalan
0,75
Sumber : RKLT (Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah), Buku II, 1986