Anda di halaman 1dari 8

Pre-Test Mini Hospital

Nama : Ghina Athirah


NRP : 1310211193

1. Sebutkan dan jelaskan Alvarado Scrore !


Jawab :
Skor Alvarado atau Alvarado score adalah sistem kriteria skoring yang dibuat untuk
mendiagnosis apendisitis akut. Penilaian sistem scoring ini dilakukan berdasarkan pada
gejala, tanda dan pemeriksaan laboratorium yang dilakukan kepada pasien yang dicurigai
menderita apendisitis akut. Skor tersebut terdiri atas :

 Skor Alvarado ≤ 3, kemungkinan bukan apendisitis (unlikely appendicitis).


 Skor Alvarado 4-6, mungkin apendisitis (possible appendicitis).
 Skor Alvarado 6-8, kemungkinan besar apendisitis (probable/likely appendicitis).
 Skor Alvarado 9-10, pasti apendisitis (definite appendicitis)

2. Sebutkan dan jelaskan APGAR Score!


Jawab :
APGAR Score merupakan sebuah metode penilaian cepat untuk menilai keadaan klinis
bayi baru lahir pada usia 1 menit atau dapat dilakukan langsung setelah bayi lahir. Penilaian
APGAR Score terdiri atas 5 komponen, yaitu warna kulit (appearance), frekuensi jantung
(pulse), refleks pada ransangan (grimace), tonus otot (activity) dan usaha nafas
(respiration). Komponen tersebut terdiri atas :
Interpretasi atas penilaian tersebut adalah :
7 – 10 : Asfiksia ringan / tanpa asfiksia
4 – 6 : Asfiksia sedang
0 – 3 : Asfiksia berat

3. Sebutkan dan jelaskan komponen GCS!


Jawab :
Glasgow Coma Scale (GCS) merupakan skala untuk menentukan/menilai tingkat
kesadaran pasien, mulai dari sadar sepenuhnya sampai keadaan koma. Teknik penilaian
dengan ini terdiri dari tiga penilaian terhadap respon yang ditunjukkan oleh pasien setelah
diberi stimulus tertentu, yakni respon buka mata, respon motorik terbaik, dan respon verbal.
Setiap penilaian mencakup poin-poin, di mana total poin tertinggi bernilai 15.

Jenis Pemeriksaan Nilai


Respon buka mata (Eye Opening, E)
· Respon spontan (tanpa stimulus/rangsang) 4
· Respon terhadap suara (suruh buka mata) 3
· Respon terhadap nyeri (dicubit) 2
· Tida ada respon (meski dicubit) 1
Respon verbal (V)
· Berorientasi baik 5
· Berbicara mengacau (bingung) 4
· Kata-kata tidak teratur (kata-kata jelas dengan substansi tidak jelas 3
dan non-kalimat, misalnya, “aduh… bapak..”)
· Suara tidak jelas (tanpa arti, mengerang) 2
· Tidak ada suara 1
Respon motorik terbaik (M)
· Ikut perintah 6
· Melokalisir nyeri (menjangkau & menjauhkan stimulus saat diberi 5
rangsang nyeri) 4
· Fleksi normal (menarik anggota yang dirangsang) 3
· Fleksi abnormal (dekortikasi: tangan satu atau keduanya posisi kaku
diatas dada & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri) 2
· Ekstensi abnormal (deserebrasi: tangan satu atau keduanya extensi di
sisi tubuh, dengan jari mengepal & kaki extensi saat diberi rangsang 1
nyeri)
· Tidak ada

Berdasarkan buku Advanced Trauma Life Support, GCS berguna untuk menentukan
derajat trauma/cedera kepala (trauma capitis).

Derajat cedera kepala berdasarkan GCS:


GCS : 14-15 = CKR (cedera kepala ringan)
GCS : 9-13 = CKS (cedera kepala sedang)
GCS : 3-8 = CKB (cedera kepala berat)

4. Sebutkan dan jelaskan Tata Laksana Kejang Demam pada anak!


Jawab :
Tatalaksana anak kejang :
a. Bila berada di RS :
Berikan diazepam intravena dengan dosis 0,2 – 0,5 mg/kg, perlahan – lahan
dengan kecepatan 2 mg/ menit atau dalam waktu 3 – 5 menit dengan dosis
maksimal 10 mg.
b. Bila berada di rumah :
Diazepam rektal 0,5 – 0,75 mg/kg atau diazepam rektal 5 mg untuk anak dengan
BB < 12 kg / 10 mg untuk anak dengan BB> 12kg.
Bila setelah pemberian diazepam rektal belum berhenti, dapat diulangi dengan
cara dan dosis yang sama dengan interval waktu 5 menit. Bila setelah pemberian 2
kali diazepam rektal masing kejang, dianjurkan di bawa ke rumah sakit untuk di
berikan diazepam secara intravena.
Tatalaksana anak demam :
Paracetamol dengan dosis 10 – 15 mg/kg/kali diberikan 4 – 6 jam.
Atau
Ibuprofen 5 – 10 mg/kg/kali diberikan 3 – 4 kali sehari.

5. Sebutkan dan jelaskan klasifikasi stroke!


Jawab :
Secara garis besar stroke dibagi menjadi 2 golongan yaitu stroke yang terjadi karena
pembuluh darah di otak pecah yang disebut stroke perdarahan dan stroke yang paling
banyak dijumpai yaitu stroke non hemoragik disebut stroke iskemik.
a. Stroke Iskemik
Sekitar 80% sampai 85% stroke adalah stroke iskemik, yang terjadi akibat obstruksi
atau bekuan di satu atau lebih arteri besar pada sirkulasi serebrum.
Klasifikasi stroke iskemik berdasarkan waktunya terdiri atas:
1. Transient Ischaemic Attack (TIA): defisit neurologis membaik dalam waktu
kurang dari 30 menit,
2. Reversible Ischaemic Neurological Deficit (RIND): defisit neurologis membaik
kurang dari 1 minggu,
3. Stroke In Evolution (SIE)/Progressing Stroke,
4. Completed Stroke.

Beberapa penyebab stroke iskemik meliputi:


- Trombosis Aterosklerosis (tersering)
- Vaskulitis: arteritis temporalis, poliarteritis nodosa
- Robeknya arteri: karotis, vertebralis (spontan atau traumatik)
- Gangguan darah: polisitemia, hemoglobinopati (penyakit sel sabit).
- Embolisme Sumber di jantung: fibrilasi atrium (tersering), infark miokardium,
penyakit jantung rematik, penyakit katup jantung, katup prostetik, kardiomiopati
iskemik

b. Stroke Hemoragik
Stroke hemoragik, yang merupakan sekitar 15% sampai 20% dari semua stroke, dapat
terjadi apabila lesi vaskular intraserebrum mengalami ruptur sehingga terjadi
perdarahan ke dalam ruang subarakhnoid atau langsung ke dalam jaringan otak.

Beberapa penyebab perdarahan intraserebrum: perdarahan intraserebrum hipertensif;


perdarahan subarakhnoid (PSA) pada ruptura aneurisma sakular (Berry), ruptura
malformasi arteriovena 11 (MAV), trauma; penyalahgunaan kokain, amfetamin;
perdarahan akibat tumor otak; infark hemoragik; penyakit perdarahan sistemik
termasuk terapi antikoagulan.

6. Jelaskan pemeriksaan fisik umum!


Jawab :
I. Persiapan
Mempersiapkan pasien agar senyaman mungkin selama proses pemeriksaan.
Memberikan penjelasan singkat dan jelas kepada pasien tentang proses
pemeriksaan.
II. Pemeriksaan :
a. Keadaan Umum : dilihat status kesehatan yang terlihat jelas, tampak sakit
ringan/sedang/berat.
b. Menilai tingkat kesadaran pasien : CM, Apatis, Somnolen, Sopor, Soporcoma,
Coma
c. Menilai ada tidaknya tanda – tanda distress.
d. Menilai Tanda Vital : T, HR, RR, N
e. Menilai Head to Toe pasien ada atau tidaknya kelainan yang ditemukan.

7. Jelaskan komponen BTLS!


Jawab :
PRIMARY SURVEY

DANGER
Gunakan PPE, Sarung tangan karet, kacamata safety dan apron. Periksa lingkungan
sekitar, kebakaran, chemical, listrik, benda jatuh, dll.

RESPON
Periksa kesadaran korban, jika tidak sadar coba rangsang dengan nyeri. Panggil bantuan
(Aktifkan Emergency Respon)

AIRWAY
Pastikan saluran nafas korban bebas dari benda asing dengan melakukan head tilt chin lift
atau jaw thrust.

BREATHING
Periksa pernafasan korban dengan cara LOOK – FEEL – LISTEN.
Inspeksi = pergerakan dada simetris kanan/kiri, adanya memar atau luka tembus.
Palpasi = adanya pembengkakan, iga yang patah ?
Perkusi = Suara normal (Sonor), udara (Hipersonor), cairan/darah (Redup/Dull).
Auskultasi = Suara nafas kanan / kiri; vesikuler atau menjauh.

CIRCULATION
Kontrol perdarahan dan tanda-tanda syok, cek nadi, perfusi kapiler dan akral.

DISABILITY
Menggunakan AVPU (Alert, Verbal, Pain, Unresponsive) atau GCS (Glasgow Coma
Scale)

EXPOSURE
Buka pakaian korban dan periksa keseluruhan tubuh secara cepat, atasi jika ada cidera.
Perdarahan segera dihentikan dan bila fraktur segera dipasang spalk/bidai.
SECONDARY SURVEY
Pemeriksaan dari kepala hingga jari kaki (Head to Toe) dengan Inspeksi, Auskultasi,
Palpasi dan Perkusi.

8. Jelaskan resusitasi neonates!


Jawab :
Bayi baru lahir

Cukup bulan ?

Menangis / bernapas?

Tonus otot naik / tidak?


Ya Tidak

Perawatan rutin : Buka jalan napas, reposisi ,


bersihkan jalan napas, beri
Beri kehangatan,
kehangatan, keringkan,
Keringkan,
beri rangsangan
bersihkan jalan
napas, nilai warna

*Normal Apneu, FJ <100 :

Kembali ke Berikan VTP 6 L + PIP


perawatan rutin + PEEP 5 mmHG

Setelah 30 dt, penilaian


ulang Saturasi oksigen
dan denyut jantung

Bila membaik, kembali ke *

Bila tidak membaik, periksa kembali sungkup,


posisi, lender dan open mouth neonatus

Bila masih belum membaik,


lakukan pemasangan ETT dan
lakukan RJP
9. Jelaskan zona – zona kamar operasi !
Jawab :

Keterangan :
1. Zona tingkat resiko rendah (normal)
2. Zona tingkat resiko sedang (normal dengan pre-filter)
3. Zona resiko tinggi (semi filter dan medium filter)
4. Zona resiko sangat tinggi (steril dengan prefilter, medium filter dan heap filter)
5. Area Nuklei Steril (Meja operasi)

(1) Zona 1, Tingkat Resiko Rendah (Normal)


Zona ini terdiri dari area resepsionis (ruang administrasi dan pendaftaran), ruang
tunggu keluarga pasien, janitor dan ruang utilitas kotor.
Zona ini mempunyai jumlah partikel debu per m3 > 3.520.000 partikel dengan
diameter 0,5 μm (ISO 8 - ISO 14644-1 cleanroom standards Tahun 1999).

(2) Zona 2, Tingkat Resiko Sedang (Normal dengan Pre Filter)


Zona ini terdiri dari ruang istirahat dokter dan perawat, ruang plester, pantri petugas,
ruang tunggu pasien (holding), ruang transfer dan ruang loker (ruang ganti pakaian
dokter dan perawat) merupakan area transisi antara zona 1 dengan zone 2.
Zone ini mempunyai jumlah maksimal partikel debu per m3 3.520.000 partikel
dengan dia. 0,5 μm (ISO 8 - ISO 14644-1 cleanroom standards Tahun 1999).

(3) Zona 3, Tingkat Resiko Tinggi (Semi Steril dengan Medium Filter)
Zona ini meliputi kompleks ruang operasi, yang terdiri dari ruang persiapan
(preparation), peralatan/instrument steril, ruang induksi, area scrub up, ruang
pemulihan (recovery), ruang linen, ruang pelaporan bedah, ruang penyimpanan
perlengkapan bedah, ruang penyimpanan peralatan anastesi, implant orthopedi dan
emergensi serta koridor-koridor di dalam kompleks ruang operasi.
Zone ini mempunyai jumlah maksimal partikel debu per m3 adalah 352.000 partikel
dengan dia. 0,5 μm (ISO 8 - ISO 14644-1 cleanroom standards Tahun 1999).

(4) Zona 4, Tingkat Resiko Sangat Tinggi (Steril dengan Pre Filter, Medium
Filter, Hepa Filter)
Zona ini adalah ruang operasi, dengan tekanan udara positif. Zone ini mempunyai
jumlah maksimal partikel debu per m3 adalah 35.200 partikel dengan dia. 0,5 μm
(ISO 7 - ISO 14644-1 cleanroom standards Tahun 1999).

(5) Area Nuklei Steril


Area ini terletak dibawah area aliran udara kebawah (;laminair air flow) dimana
bedah dilakukan. Area ini mempunyai jumlah maksimal partikel debu per m3 adalah
3.520 partikel dengan dia. 0,5 μm (ISO 5 s/d ISO 6 - ISO 14644-1 cleanroom
standards Tahun 1999).

10. Jelaskan triage kegawatdaruratan!


Jawab :
1. Prioritas Nol (Hitam)

Pasien meninggal atau cedera Parah yang jelas tidak mungkin untuk
diselamatkan. pengelompokan label Triase

2. Prioritas Pertama (Merah)

Penderita Cedera berat dan memerlukan penilaian cepat dan tindakan medik atau transport
segera untuk menyelamatkan hidupnya. Misalnya penderita gagal nafas, henti jantung,
Luka bakar berat, pendarahan parah dan cedera kepala berat.

3. Prioritas kedua (kuning)


Pasien memerlukan bantuan, namun dengan cedera dan tingkat yang kurang berat dan
dipastikan tidak akan mengalami ancaman jiwa dalam waktu dekat. misalnya cedera
abdomen tanpa shok, Luka bakar ringan, Fraktur atau patah tulang tanpa Shok dan jenis-
jenis penyakit lain.

4. Prioritas Ketiga (Hijau)

Pasien dengan cedera minor dan tingkat penyakit yang tidak membutuhkan pertolongan
segera serta tidak mengancam nyawa dan tidak menimbulkan kecacatan. Nah mungkin
anda masuk dalam kategori yang ini, jadi Jangan marah-marah dan jangan heran kenapa
anda tidak langsung mendapatkan perawatan di Ruang UGD sementara mereka harus
menolong pasien lain yang lebih parah.