Anda di halaman 1dari 71

STRUKTUR BAJA II

OLEH :
EKA FAISAL NUR HIDAYATULLAH, S.T.,M.T

PERTEMUAN KE-1
Mata Kuliah : Struktur Baja II
Pengampu : Eka Faisal Nurhidatayatullah, S.T., M.T.
Semester :V
Bobot SKS : 2 SKS
Kelas :
Hari/Jam :
Ruang Kelas :
Kontrak Belajar

• 2 sks, 14 minggu.
• Midtest (UTS) : 30 %
• Final Test (UAS) : 30 %
• Tugas : 20 %
• Presensi : 10 %
• Keaktifan Kelas : 10 %
• Kehadiran minimal : 75 %
Kriteria Penilaian

• Nilai A : 81 – 100
• Nilai B : 61 – 80
• Nilai C : 41 – 60
• Nilai D : 31 – 40
• Nilai E : < 30
STRUKTUR BAJA

Pre
Baja
Baja Ringan Engineered
Konvensional
Building
BAJA RINGAN

“DIGUNAKAN UNTUK STRUKTUR RANGKA ATAP BANGUNAN DENGAN BENTANGAN


MAKSIMUM 15-20 METER”
PRE ENGINEERED BUILDING

PRE ENGINEERING BUILDING DIGUNAKAN UNTUK :


-WAREHOUSE
-LAPANGAN FUTSAL
-LOS PASAR
-KANDANG AYAM
-HANGGAR BANDARA
-BANGUNAN RUMAH TINGGAL DLL

DENGAN KETINGGIAN MAKSIMUM BANGUNAN 12-15 M (3 LANTAI) DAN BENTANGAN MAKSIMUM 30 M


Cold Roll Forming Machine Cold Form

Material Thickness
Code
C100 1 mm, 1.5 mm, 1.9 mm, 2.4 mm

C140 1.5 mm, 1.9 mm, 2.4 mm ‘’MAKSIMUM PROFIL 250 MM KETEBALAN 2,4 MM
C200 1.5 mm, 1.9 mm, 2.4 mm

C250 1.5 mm, 1.9 mm, 2.4 mm


BAJA KONVENSIONAL

Hot Roll Forming Machine

‘’Maksimum profil 600 mm


Ketebalan 2,4 mm’’
Keunggulan Baja Sebagai Material Konstruksi
1. Mempunyai kekuatan tinggi (mengurangi dimensi dan berat struktur bangunan)
2. Keseragaman (Homogen) dan keawetan tinggi
3. Sifat elastis baja
4. Daktilitas baja cukup tinggi
5. Kemudahan penyambungan antar elemen satu dengan yang lain menggunakan alat sambung las
atau baut

Material Baja

Sifat mekanis baja


Klasifikasi Baja
Baja yang biasa digunakan untuk keperluan struktur adalah dari jenis:

baja mutu tinggi (fy= 275 - 480 MPa)


−menunjukkan titik peralihan leleh yang tegas.
−didapat dengan menambahkan unsur aloi (chromium, nickel, vanadium,dll) kedalam baja karbon untuk
mendapatkan bentuk mikrostruktur yanglebih halus.

baja aloi (fy= 550∼760 MPa)


−tidak menunjukkan titik peralihan leleh yang tegas.
−titik peralihan leleh ditentukan menggunakan metode tangens 2% atau metode regangan 5%
Sifat-sifat mekanis lainnya
Sifat-sifat mekanis lainnya baja struktural untuk maksud perencanaanditetapkan sebagai berikut:
Modulus elastisitas (E)= 200.000 MPa
Modulus geser : (G) = 80.000 MPa
Nisbah poisson : (μ) = 0,3
Koefisien pemuaian : (α) = 12 x 10-6 /oC
Perencanaan Struktur Baja
Tujuan perencanaan struktur adalah untuk menghasilkan suatu struktur yang stabil,
cukup kuat, mampu-layan, awet, dan memenuhi tujuan-tujuan lainnya seperti
ekonomis dan kemudahan pelaksanaan.

Struktur optimum dicirikan sebagai berikut:


a. biaya minimum
b. bobot minimum
c. periode konstruksi minimum,
d. kebutuhan tenaga kerja minimum,
e. biaya manufaktur minimum,
f. manfaat maksimum pada saat layan.
Kerangka perencanaan struktur adalah proses penentuan jenis struktur dan
pendimensian komponen struktur demikian sehingga beban kerja dapat dipikul secara
aman, dan perpindahan (displacement) yang terjadi dapat ditolerir oleh syarat-syarat
yang berlaku.

Prosedur perencanaan secara iterasi dilakukan sebagai berikut:


1. Perancanga dan penetapan fungsi-fungsi struktur dan kriteria keberhasilan yang
optimum.
2. Penetapan konfigurasi struktur preliminari berdasarkan Step 1.
3. Penetapan beban-beban kerja yang harus dipikul.
4. Pemilihan tipe dan ukuran preliminari komponen-komponen struktur berdasarkan
Step 1, 2, 3.
5. Analisis struktur untuk menetapkan gaya-gaya-dalam dan perpindahan.
6. Evaluasi perancangan struktur optimum.
7. Perencanaan ulang dari Step 1 s/d 6
8. Perencanaan akhir untuk menguji Step 1 s/d 7
Konsep Dasar LRFD

Perencanaan Tegangan Kerja / Allowable Stress Design (ASD)

Elemen struktur direncanakan sedemikian rupa sehingga tegangan yang timbul akibat beban
kerja/layan tidak melampaui tegangan ijin yang telah ditetapkan.

σmaks ≤ σijin
σmaks = Tegangan Luar
σijin = Tegangan Ijin Bahan
Metode LRFD dalam perencanaan struktur Baja diatur dalam SNI 03-1729-2002.

Faktor reduksi (φ) untuk keadaan kekuatan batas.

Ø = Faktor tahanan
Rn =Tahanan Nominal
ɣi = Faktor Beban
Qi = Beban
Beban-beban Metode LRFD
Perencanaan suatu struktur untuk keadaan-keadaan stabil batas, kekuatan batas, dan
kemampuan-layan batas harus memperhitungkan pengaruh-pengaruh dari aksi
sebagai akibat dari beban-beban berikut ini:
1) beban hidup dan mati seperti disyaratkan pada SNI 03-1727-2013
2) untuk perencanaan keran (alat pengangkat), semua beban yang relevan yang
disyaratkan pada SNI 03-1727-2013, atau penggantinya;
3) untuk perencanaan pelataran tetap, lorong pejalan kaki, tangga, semua beban yang
relevan yang disyaratkan pada SNI 03-1727-2013, atau penggantinya;
4) untuk perencanaan lift, semua beban yang relevan yang disyaratkan pada SNI 03-
1727-2013, atau penggantinya;
5) pembebanan gempa sesuai dengan SNI 03-1726-2013, atau penggantinya;
6) beban-beban khusus lainnya, sesuai dengan kebutuhan.
Kombinasi pembebanan Metode LRFD
Berdasarkan beban-beban tersebut di atas maka struktur baja harus mampu memikul semua kombinasi
pembebanan di bawah ini:
1,4D
1,2D + 1,6 L + 0,5 (La atau H)
1,2D + 1,6 (La atau H) + (γ L L atau 0,8W)
1,2D + 1,3 W + γ L L + 0,5 (La atau H)
1,2D ± 1,0E + γ L L
0,9D ± (1,3W atau 1,0E)
Keterangan:
D adalah beban mati yang diakibatkan oleh berat konstruksi permanen, termasuk dinding, lantai, atap, plafon, partisi teta
tangga, dan peralatan layan tetap
L adalah beban hidup yang ditimbulkan oleh penggunaan gedung, termasuk kejut, tetapi tidak termasuk beban
lingkungan seperti angin, hujan, dan lain-lain
La adalah beban hidup di atap yang ditimbulkan selama perawatan oleh pekerja, peralatan, dan material, atau selama
penggunaan biasa oleh orang dan benda bergerak
H adalah beban hujan, tidak termasuk yang diakibatkan genangan air
W adalah beban angin
E adalah beban gempa, yang ditentukan menurut SNI 03–1726– 2012, atau penggantinya
dengan,
γ L = 0,5 bila L< 5 kPa, dan γ L = 1 bila L≥ 5 kPa.
STRUKTUR BAJA
Kombinasi
Batang tarik Batang Tekan Sambungan Elemen Batang Tekan Portal
Baut dan Las Terlentur dan Lentur

Portal
Bergoyang

Portal Tak
Bergoyang
STRUKTUR BAJA II
OLEH :

EKA FAISAL NUR HIDAYATULLAH, S.T.,M.T

PERTEMUAN KE-2
Mata Kuliah : Struktur Baja II
Pengampu : Eka Faisal Nurhidatayatullah, S.T., M.T.
Semester :V
Bobot SKS : 2 SKS
Kelas :
Hari/Jam :
Ruang Kelas :
KOMPONEN STRUKTUR LENTUR
Komponen struktur terlentur atau biasa disebut
dengan balok adalah suatu komponen struktur
yang memikul beban–beban gravitasi (beban mati
dan beban hidup) baik berupa beban terdistribusi
merata (distributed load) maupun beban titik (point
load).

Komponen struktur yang mengalami lentur banyak


dijumpai sebagai gelagar (girder), balok lantai
Gambar 01. Bridge’s girder Gambar 02. Floor beam and joist
(floor beam), balok anak (joist), gording dan
lainnya.

Komponen struktur balok merupakam kombinasi dari elemen tekan


dan Tarik, sehingga konsep dari komponen struktur Tarik dan tekan
yang sudah dipelajari pada struktur baja 1 akan dikombinasikan pada
struktur baja 2.
Gambar 03. Gording
 Sebagai contoh struktur yang mengalami lentur adalah balok sederhana (simple beam) yang
menerima beban transversal terdistribusi merata sesuai gambar (a).

 Akibat beban tersebut kemudian timbul momen (Bending Momen Diagram/BMD) dan gaya geser
(Shear Force Diagram/SFD).

Tegangan Tekan

Tegangan Tarik

Momen (Bending Momen Diagram/BMD)

Gaya geser (Shear Force Diagram/SFD).

Gambar 04. BMD dan SFD Balok Sederhana


Tegangan Tekan

Tegangan Tarik

Momen (Bending Momen Diagram/BMD)

Gaya geser (Shear Force Diagram/SFD).

Gambar 04. BMD dan SFD Balok Sederhana

Akibat momen, penampang balok mengalami tegangan lentur (bending stress), akibat gaya geser
penampang balok mengalami tegangan geser (shear stress).
 Tegangan lentur (Bending stress) pada penampang profil yang mempunyai minimal satu sumbu simetri
dan dibebani pada pusat gesernya, dapat dihitung dari persamaan :

Mx My
f  (  )
Sx Sy

Mx.cy My.cx
f  (  )
Ix Iy
Dengan,
f = Tegangan lentur Tarik (+) dan Tegangan lentur Desak (-)
Mx,My = Momen lentur arah x dan arah y
Sx,Sy = Modulus penampang arah x dan arah y
Ix,Iy = Momen inersia arah X dan arah Y
Gambar 05. Modulus Penampang Profil IWF dan Profil C
Cx,Cy = Jarak dari titik berat ke tepi serat arah X dan arah Y
 Balok terlentur mengalami tarik dan tekan, oleh karena itu balok dapat dipandang sebagai gabungan komponen
tarik dan komponen tekan.
 Pada bagian serat tekan balok akan mengalami lateral-torsional buckling (tekuk lateral-puntir) seperti yang dapat
dilihat pada gambar.

d q

(a) (b) (c)

Gambar 06. Lateral-Torsional Buckling


 Disamping itu dapat juga mengalami local buckling
(tekuk lokal) pada badan profil.

Lokal buckling pada balok (a) sayap tertekan (b) badan tertekan
Gambar 07. Vertikal Web Buckling Gambar 08. Local buckling in top flange
Perilaku Balok Terkekang Lateral
Distribusi tegangan pada sebuah penampang WF akibat momen lentur :

Gambar 09. Tegangan Desak dan Tegangan Tarik penampang Balok IWF
Diagram Tegangan – Regangan Material Baja

Tegangan (MPa)

Regangan (%)

Gambar 10. Grafik Tegangan dan Regangan Material Baja


Elastis dan Plastis
Benda elastis : benda yang dapat kembali ke bentuk awal, setelah gaya yang diberikan pada benda dihilangkan
Benda plastis: benda yang tidak dapat kembali ke bentuk (keadaan) awalnya, setelah gaya dihilangkan.

Keterangan :
fy : Tegangan leleh baja (MPa)
εy : Regagan leleh baja (%)
ε‘ : Regangan plastis baja (%)
Kondisi tegangan pada balok dengan tingkat beban yang berbeda

Keterangan : Gambar 11. Kondisi Tegangan Balok pada Tingkat Beban yang Berbeda
σ : Tegangan akibat beban luar pada balok (MPa)
fy : Tegangan leleh baja (MPa)
εy : Regagan leleh baja (%)
ε : Regangan plastis baja (%)
M : Momen yang terjadi akibat beban luar bekerja pada balok (Nmm)
Myx : Momen pada kondisis leleh baja (Nmm)
Mp : Momen pada konsisi plastis baja (Nmm)
Kondisi tegangan pada balok dengan tingkat beban yang berbeda

Gambar 11. Kondisi Tegangan Balok pada Tingkat Beban yang Berbeda
 Kondisi (a)
1. Balok diberikan beban yang relative kecil,
2. Tegangan akibat beban luar pada balok (σ) lebih kecil dari tegangan leleh baja (fy), σ < fy
3. Momen yang terjadi akibat beban luar (M) tersebut lebih kecil dari momen pada kondisi leleh (Myx), M < Myx
4. Regangan yang terjadi akibat beban yang bekerja (ε) lebih kecil dari regagan leleh baja (εy), ε < εy
Kondisi tegangan pada balok dengan tingkat beban yang berbeda

Gambar 11. Kondisi Tegangan Balok pada Tingkat Beban yang Berbeda
 Kondisi (b)
1. Balok diberikan beban yang relative sedang,
2. Tegangan akibat beban luar pada balok (σ) sama dengan tegangan leleh baja (fy), σ = fy
3. Momen yang terjadi akibat beban luar (M) tersebut sama dengan momen pada kondisi leleh (Myx), M = Myx
4. Regangan yang terjadi akibat beban yang bekerja (ε) sama dengan regagan leleh baja (εy), ε = εy
Kondisi tegangan pada balok dengan tingkat beban yang berbeda

Gambar 11. Kondisi Tegangan Balok pada Tingkat Beban yang Berbeda
 Kondisi (c)
1. Balok diberikan beban yang relative besar,
2. Tegangan akibat beban luar pada balok (σ) sama dengan tegangan leleh baja (fy), σ = fy
3. Momen yang terjadi akibat beban luar (M) sudah lebih besar dari momen pada kondisi leleh baja (Myx)
namun masih lebih kecil dari momen pada kondisi plastis (Mp), Myx < M< Mp
4. Regangan yang terjadi akibat beban yang bekerja (ε) lebih besar dari regagan leleh baja (εy), ε > εy
Kondisi tegangan pada balok dengan tingkat beban yang berbeda

Gambar 11. Kondisi Tegangan Balok pada Tingkat Beban yang Berbeda

 Kondisi (d)
1. Balok diberikan beban yang relative sangat besar,
2. Momen yang terjadi akibat beban luar (M) sama dengan momen pada kondisi plastis (Mp), M = Mp
3. Regangan yang terjadi akibat beban yang bekerja (ε) lebih besar dari regagan leleh baja (εy), ε >> εy
 Ketika kuat leleh tercapai pada serat terluar balok, tahanan momen nominal balok sama dengan
momen leleh (Myx)

Mn = Myx = Sx. fy
Keterangan :
fy : Tegangan leleh baja (MPa)
Myx : Momen pada kondisis leleh baja (Nmm)
Mn : Momen nominal yang dapat dikerahkan oleh balok (Nmm)
Sx : Modulus penampang arah X balok (mm3)
 Keadaan pada saat semua serat pada penampang melampau regangan leleh balok (εy), disebut
sebagai kondisi plastis.
 Tahanan momen nominal dalam kondisi ini dinamakan “Momen Plastis (Mp)”, yang besarnya :

Mn = MP = fy.Z
Keterangan :
fy : Tegangan leleh baja (MPa)
MP : Momen pada kondisi plastis (Nmm)
Mn : Momen nominal yang dapat dikerahkan oleh balok (Nmm)
Z : Modulus plastis balok (mm3)
Modulus Plastis (Z) dan Modulus Penampang Elastis (S)

 Section modulus is a geometric property for a given cross-section used in the design of beams or flexural
member.

 There are two types of section modulus, the elastic section modulus (S) and the plastic section modulus (Z).

Modulus Elastis : Elastic section modulus (S)

 For general design, the elastic section modulus is used, applying up to the yield point for most metals
and other common materials.

 The elastic section modulus is defined as S = I / y, where I is moment of inertia and y is the distance
from the neutral axis to any given fibre. It is often reported using y = c, where c is the distance from the
neutral axis to the most extreme fibre
Modulus Plastis : Plastic section modulus (Z)
 The plastic section modulus is used for materials where elastic yielding is acceptable and plastic
behavior is assumed to be an acceptable limit.

 The plastic section modulus is the sum of the areas of the cross section on each side of the PNA (which
may or may not be equal) multiplied by the distance from the local centroids of the two areas to the PNA:

Z =Ac. Yc + AT. YT

Dengan,
AT = Tension Area - Luas Tarik (mm2)
Ac = Compression Area – Luas penampang desak (mm2)
Yc = Jarak pusat Luas penampang (mm)

Rectangular section
Faktor Bentuk (Shape Factor)

Shape Factor (SF) merupakan perbandingan antara modulus plastis dengan modulus penampang balok.

Keterangan :
SF : Faktor Bentuk
Z : Modulus plastis balok (mm3)
S : Modulus penampang balok (mm3)
My : Momen pada kondisis leleh baja (Nmm)
Mp : Momen pada konsisi plastis baja (Nmm)
Contoh Soal 1 !

Tentukanlah modulus plastis (Z) , modulus elastis penampang (S) dan Shape Factor (SF) profil persegi
panjang sebagai berikut !
Contoh Soal 2!

Tentukanlah modulus plastis (Z), modulus elastis penampang (S) dan Shape Factor (SF) profil IWF
100.50.5.7 sebagai berikut !
Latihan !

Tentukanlah modulus plastis (Z), modulus elastis penampang (S) dan Shape Factor (SF) profil IWF
400.200.8.13 sebagai berikut !

Dengan,
h = 400mm
bf = 200mm
tw = 8mm
tf = 13mm
Tugas !

Tentukanlah modulus plastis (Z), modulus elastis penampang (S) dan Shape Factor (SF) profil IWF 400
sebagai berikut !

Profil IWF 1
h = 300 mm
bf = 150 mm
tw = 6,5 mm
tf = 9,0 mm

Profil IWF 2
h = 350 mm
bf = 175 mm
tw = 7,0 Mm
tf = 11,0 mm
Desain Balok Terkekang Lateral

Momen Lentur Terhadap Sumbu Kuat


Suatu komponen struktur yang memikul lentur terhadap sumbu kuat (sumbu-x) harus memenuhi :

Mux ≤ φ Mnx
Keterangan:
Mux adalah momen lentur terfaktor terhadap sumbu-x (Nmm)
φ adalah faktor reduksi = 0,9
MnX adalah kuat nominal dari momen lentur penampang sumbu-X (Nmm)

Gambar Sumbu Penampang Balok IWF


Desain Balok Terkekang Lateral

Momen Lentur Terhadap Sumbu Lemah


Suatu komponen struktur yang memikul lentur terhadap sumbu lemah (sumbu-y) harus memenuhi :

Muy ≤ φ Mny
Keterangan:
Muy adalah momen lentur terfaktor terhadap sumbu-Y (Nmm)
φ adalah faktor reduksi = 0,9
MnY adalah kuat nominal dari momen lentur penampang Sumbu-Y(Nmm)

Gambar Sumbu Penampang Balok IWF


Desain Balok Terkekang Lateral
Penampang Kompak, Tak Kompak dan Penampang Lansing
The flexural capacity of an adequately braced beam depends on the
slenderness ratio of the compression flange and the web.

 Compact Section (Penampang kompak)


When the slenderness ratios are sufficiently small, the beam can
attain its full plastic moment and the cross section is classified as
compact. λ ≤ λp (the section is compact).

 Non Compact Section (Penampang Tak-kompak)


When the slenderness ratios are larger, the compression flange or
the web may buckle locally before a full plastic moment is attained
Keterangan :
and the cross section is classified as noncompact. λp < λ ≤ λr (the
λ = Perbandingan Lebar dengan Tebal
section is non-compact)
( Bergantung pada jenis profil dan elemen penampang profil )

 Slender (Penampang Langsing) λp = Batas rasio kekompakan penampang

When the slenderness ratios are sufficiently large, local buckling will λr = Batas rasio ketidak kompakan penampang

occur before the yield stress of the material is reached and the cross Mp = Tahanan momen nominal pada kondisi plastis (Nmm)
section is classified as slender. λr < λ (the section is slender) Mr = Tahanan momen nominal pada kondisi sebelum leleh (Nmm)
Tabel Batasan Penampang Kompak dan Tak Kompak

Penampang balok langsing (slender) apabila nilai λ= Lk/r > 200.

Keterangan :
λ = Perbandingan Lebar dengan Tebal
L = Panjang Balok (mm)
k = Kekakuan balok
r = Jari-jari girasi penampang balok
Soal !
Cek kekompakan profil IWF 350.350.12.19 dan IWF 300.300.10.15 ,
250.250.9.14 IWF 200.100.5,5.8,0 IWF 300.150.6,5.9,0 dengan tegangan
leleh baja (fy =390 MPa) !
“Penampang IWF 350.350.12.19 kompak baik flens maupun web “
Penampang Kompak

Untuk penampang-penampang yang memenuhi λ ≤ λp , kuat lentur nominal penampang


adalah :

Mn = Mp = Z.fy

Dengan,
Mn = Momen nominal (Nmm)
Mp = Tahanan momen plastis (Nmm)
Z = Modulus Plastis Penampang (mm3)
fy = Tegangan leleh baja (MPa)
Penampang Tak-Kompak
Untuk penampang yang memenuhi λp < λ ≤ λr , kuat lentur nominal penampang ditentukan sebagai berikut:

Dengan,
Mp = Momen plastis = Z.fy (Nmm)
Mr = (fy – fr).S (Nmm)
λ = Kelangsingan Penampang balok (flens = bf/2tf atau web = h/tw)
λp = Batas rasio kekompakan penampang
λr = Batas rasio tak-kompak penampang

Untuk penampang yang memenuhi λ = λr , kuat lentur nominal penampang adalah :

Mn = Mr = (fy – fr).S
Dengan,
Mn = Momen nominal (Nmm)
S = Modulus Elastis Penampang (mm³)
fy = Tegangan leleh baja (MPa)
fr = Tegangan sisa baja (70 MPa)
Desain Penampang Kompak

Contoh Soal !
Rencanakan balok IWF untuk memikul beban mati, qd = 350 kg/m dan beban hidup,
ql = 1500 kg/m. Bentang balok, L = 12 m. Sisi tekan flens terkekang lateral.
Gunakan profil baja IWF 350.350.12.19 dengan fy = 240 MPa ! (Muy=1/3.Mux)
Latihan Soal !
Rencanakan balok IWF untuk memikul beban mati, qd = 350 kg/m
dan beban hidup ql = 1500 kg/m. Bentang balok, L = 8 m , Sisi tekan
flens terkekang lateral. Gunakan profil baja IWF 300.300.10.15
dengan fy = 240 MPa ! (Muy=1/3.Mux)
Desain Penampang Tak- Kompak

Contoh Soal !
Rencanakan balok IWF untuk memikul beban mati, qd = 350 kg/m dan beban hidup,
ql = 1500 kg/m. Bentang balok, L = 12 m. Sisi tekan flens terkekang lateral.
Gunakan profil baja IWF 300.300.10.15 dengan fy = 450 MPa !
Latihan !
Rencanakan balok IWF untuk memikul beban mati, qd = 200 kg/m dan beban hidup,
ql = 1000 kg/m. Bentang balok, L = 10 m. Sisi tekan flens terkekang lateral.
Gunakan profil baja IWF 250.250.9.14 dengan fy = 450 MPa !