Anda di halaman 1dari 6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Proses Pengolahan Kelapa Sawit


Proses produksi pengolahan kelapa sawit (PKS) setiap pabrik rata-rata 60-90 ton
tandan buah segar (TBS) per jam dengan lama pengolahan 20 jam/hari, sehingga kelapa sawit
yang diolah sekitar 1.200-1800 ton TBS per hari. Pabrik pengolahan kelapa sawit
menghasilkan CPO dan PKO, namun ada juga yang hanya menghasilkan CPO sedangkan
kernel yang dihasilkan dijual. Pabrik Kelapa sawit mengolah buah sawit untuk menghasilkan
CPO (Crude Palm Oil) dan PK (Palm Kernel) yang berkualitas dan kuantitas sesuai dengan
target perusahaan dan dengan tingkat kehilangan produksi dibawah target perusahaan.
Pengolahan dimulai dari stasiun loading ramp, sterilizer, threshing, digester & press,
klarifikasi serta kernel plant. Setiap stasiun mempunyai proses dan peralatan yang berbeda.
Dan dalam proses pengolahan juga terdapat beberapa by-produk (produk sampingan), yaitu
janjangan kosong, fiber, cangkang, sludge dan solid (bagi pabrik menggunakan decanter) dan
dimasing-masing aliran ini masih terikut CPO, PK atau kedua-duanya (PK dan CPO). Pada
proses pengolahan kelapa sawit terdapat nut and kernel Station. Nut and kernel station
merupakan proses pemisahan campuran ampas dan nut yang keluar dari screw press diproses
untuk menghasilkan cangkang (shell) dan fibre sebagai bahan bakar boiler serta inti sawit
(kernel) sebagai hasil produksi yang siap dipasarkan dan juga ada yang mengolahnya
langsung untuk mendapatkan minyak inti dari sawit (PKO). Alur proses pada stasiun nut dan
kernel dapat dilihat pada Gambar 2.6.

2.2. Jenis Buah Kelapa Sawit


Kelapa sawit mempunyai daun yang berwarna hijau tua dan pelepah berwarna sedikit
lebih muda. Buah sawit mempunyai warna bervariasi dari hitam, ungu, hingga merah
tergantung bibit yang digunakan. Buahnya bergerombol dalam tandan yang muncul dari tiap
pelapah. Minyak dihasilkan oleh buah. Kandungan minyak bertambah sesuai kematangan
buah. Setelah melewati fase matang, kandungan asam lemak bebas (FFA, free fatty acid)
akan meningkat dan buah akan rontok dengan sendirinya. Bagian-bagian yang terdapat pada
buah kelapa sawit dapat terlihat dari gambar dibawah ini, diantaranya sebagai berikut :
1. Exocarp
2. Mesocarp (daging buah)
3. Endocarp (cangkang)
4
4. Kernel

sumber : Ari Edoyanto, 2011. Morphologi Penampang Kelapa Sawit (online)


Gambar 2.1. Penampang Kelapa Sawit

Pada saat ini dikenal tiga macam jenis dari buah kelapa sawit, yaitu :
1. Dura
2. Pisifera
3. Tenera

1. Dura
Dura merupakan sawit yang buahnya memiliki cangkang yang tebal dan daging yang
relatif lebih sedikit jika dibandingkan dengan jenis buah yang lain sehingga dianggap dapat
memperpendek umur mesin pengolah namun biasanya tandan buahnya besar-besar dan
kandungan minyak per tandannya berkisar 18%.

sumber : Ari Edoyanto, 2011. Morphologi Penampang Kelapa Sawit (online)


Gambar 2.2. Kelapa Sawit Jenis Dura
2. Pisifera
5
Pisifera buahnya tidak memiliki cangkang, sehingga tidak memiliki inti (kernel) yang
menghasilkan minyak ekonomis dan bunga betinanya steril sehingga sangat jarang
menghasilkan buah. Kelemahan pisifera secara umum adalah tandannya kecil-kecil dan
mengalami aborsi/gugur pada awal perkembangannya.

sumber : Ari Edoyanto, 2011. Morphologi Penampang Kelapa Sawit (online)


Gambar 2.3. Kelapa Sawit Jenis Pisifera
3. Tenera
Tenera adalah persilangan antara induk Dura dan jantan Pisifera. Jenis ini dianggap
bibit unggul sebab melengkapi kekurangan masing-masing induk dengan sifat cangkang buah
tipis namun bunga betinanya tetap fertil. Beberapa tenera unggul memiliki persentase daging
per buahnya mencapai 90% dan kandungan minyak per tandannya dapat mencapai 28%.

sumber : Ari Edoyanto, 2011. Morphologi Penampang Kelapa Sawit (online)


Gambar 2.4. Kelapa Sawit Jenis Tenera

Panen kelapa sawit dilakukan berdasarkan pada saat kadar minyak mesocarp
mencapai maksimum dan kandungan asam lemak bebas minimum, yaitu pada saat buah
mencapai tingkat kematangan tertentu (ripe). Kriteria kematangan yang tepat ini dapat dilihat
dari warna kulit buah (warna daging buah adalah putih kuning diwaktu masih muda dan
berwarna jingga setelah buah menjadi matang) dan jumlah buah yang rontok pada tiap
tandan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memanen kelapa sawit adalah penentuan
tingkat kematangan yang tepat, biaya panen, cara panen, frekuensi panen, dan sistem
pengangkutan yang digunakan.
6
sumber : Ari Edoyanto, 2011. Morphologi Penampang Kelapa Sawit (online)
Gambar 2.5. Perbedaan Jenis Dari Kelapa Sawit

2.3. Stasiun Nut dan Kernel


Stasiun nut dan kernel merupakan stasiun akhir untuk memperoleh inti sawit. Nut
yang didapat dari pemisahan nut dan ampas (depericarper) dikirim ke stasiun ini untuk
diperam, dipecah, dipisahkan antara inti dan cangkang. Inti dikeringkan sampai batas yang
ditentukan, dan cangkang dikirim kepusat pembangkit tenaga sebagai bahan bakar. Proses
pemecahan nut pada pabrik kelapa sawit merupakan suatu proses yang sangat berpengaruh
untuk keberhasilan pengolahan inti pada pabrik kelapa sawit. Ripple mill adalah alat untuk
memecahkan nut, pada ripple mill terdapat rotor bagian yang berputar dan stator bagian yang
diam, nut masuk diantara rotor dan stator.
Nut dari nut silo masuk ke ripple mill untuk dipecah sehingga inti terpisah dari
cangkang. Cangkang dan inti yang sudah terpisah diangkut oleh cracked mixture conveyor
lalu cracked mixture elevator dan diolah untuk proses berikutnya untuk mendapatkan inti
kelapa sawit. Bahan yang akan masuk ke ripple mill adalah nut (nut), yang berada di nut
hopper lalu akan masuk ke ripple mill diantara rotor bar dan stator, karena putaran maka nut
akan pecah. Hasil pemecahan ripple mill disebut cracked mixture, cracked mixture terdiri dari
material berat yaitu kernel dan whole nut, material sedang yaitu broken kernel dan half nut,
serta material ringan yaitu shell.

7
Gambar 2.6. Alur Stasiun Nut dan Kernel

8
2.4. Ripple Mill
Ripple mill adalah alat pemecah nut sehingga kernel terpisah dari cangkangnya.
Ripple mill terdiri dari rotor bar dan stator. Nut akan masuk ke ripple mill di atara rotor dan
stator, karena putaran, maka nut akan pecah. Hal-hal yang perlu diperhatikan :
a. Jarak antara stator dan rotor. Apabila jarak tidak diatur maka nut yang masuk akan
tidak terpecahkan karena nut yang berukuran kecil akan memasuki ruang besar pada
ripple mill dan sebaliknya nut besar memasuki ruang yang kecil sehingga banyak
terjadi broken kernel dan terhisap di winnower.
b. Kecepatan rotor. Kecepatan putaran berpengaruh terhadap hasil pemecahan nut.
Semakin tinggi putaran, semakin tinggi kapasitas, tetapi semakin tinggi pul broken
kernel.
c. Kondisi awal nut. Kondisi ukuran dari nut, kadar kekeringan nut kebersihan dari fibre
yang mengikut nut.
d. Kondisi sterilizer, dimana sterilisasi yang tidak baik mengakibatka kernel tidaklekang
dari nutnya.